Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Pemanasan global dewasa ini menjadi masalah yang harus dihadapi oleh
setiap orang di dunia ini. Pemanasan global diartikan sebagai Ienomena
peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya eIek rumah
kaca (greenhouse effect yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas
seperti karbondioksida (CO
2
metana (CH
4
dinitrooksida (N
2
O dan CFC
sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosIer bumi. Temperatur yang
selalu mengalami peningkatan dari tahun tahun adalah masalah besar bagi
sistem planet ini. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global
termasuk Indonesia terjadi pada kisaran 14
0
Celcius pada akhir abad 21.
EIek pemanasan global tidak hanya sampai disitu saja. Tiga puluh persen
air dibumi berada dalam bentuk es dikarenakan suhu yang selalu meningkat maka
es tersebut akan dengan mudah mencair. Air yang berasal dari mencairnya es
tersebut akan membuat menaikan muka air laut hingga mencapai 40 meter dan
mampu menenggelamkan gugusan kecil dari benua besar misalnya Australia
Amerika Utara Amerika Selatan Eropa atau Asia dan yang paling ekstrim adalah
menyapu habis negara-negara kepulauan seperti Maladewa Kepulauan Fiji
Madagaskar hingga Indonesia. Suatu peristiwa alam akan saling mengait satu
sama lainnya. Dan jika bencana peneggelaman masal itu terjadi sudah tentu akan
timbul juga eeIek berantai lainnya yang mungkin saja hingga saat ini belum dapat
kita ketahui.
Agar ancaman tersebut tak terjadi maka diperlukan kesadaran dan
komitmen yang besar dari seluruh manusia yang ada dibumi ini. Tanggung jawab
akan bumi ini adalah milik kita semua. Pemikaran semangat daya dan upaya
yang gigih adalah harga untuk menebus segala kerusakan yang telah ada. Untuk
itu melalui makalah ini tim penulis berupaya menuangkan ide dan gagasan yang
kiranya dapat menggugah kesadaran kita pribadi sebagai seorang individu yang
selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya dan juga sebagai bagian dari
masyarakat global yang hidup pada satu bumi yang sama. Semoga melalui
makalah sederhana ini akan ada lebih banyak lagi gebrakan yang mampu
dimunculkan demi menyelamatkan bumi kita ini.

1.2anfaat Dan Tujuan
1.2.1 anfaat
ManIaat dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Agar setiap orang mengetahui dengan pasti bahaya pemanasan global
sehingga timbul kesadaran untuk mengurangi pemanasan global
2. Agar masyarakat mau berperan dalam mengurangi bahkan mencegah
terjadinya pemanasan global
3. Meningkatkan kesadaran para mahasiswa di teknik sipil sebagai seorang
calon insinyur sipil agar mau ikut serta dalam melindungi keselamatan
lingkungan dan secara luas mengajak masyarakat sebagai bagian dari
program penyelamatan lingkungan.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan bahaya global
2. Menjelaskan dampak negatiI dari pemanasan global
3. Menjelaskan cara mengurangi pemanasan global

1.3 Pembatasan asalah
Karena luasnya kajian mengenai pemanasan global maka pada makalah
ini permasalahan yang kami kaji hanya akan membahas tentang peranan individu
dan masyarakat dalam mengatasi dampak pemanasan global.



BAB II
LANDASAN TEORI


2.1. Pemanasan Global
Pengertian 'global berarti keseluruhan bagian bumi dan 'warming
berarti pemanasan yang disebabkan peningkatan suhu rata-rata di berbagai tempat
di permukaan bumi. Pemanasan global (global warming pada dasarnya
merupakan Ienomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena
terjadinya eIek rumah kaca (greenhouse effect yang disebabkan oleh
meningkatnya emisi gas buang dan karbon.

2.2 Penyebab Dan Gejala Pemanasan Global
2.2.1 Penyebab Pemanasan Global
2.2.1.1 Efek Rumah Kaca
Pada dasarnya eIek rumah kaca menyebabkan atmosIir bumi menjadi
hangat dan membuat bumi dapat ditinggali oleh makhluk hidup. Tanpa eIek
rumah kaca bumi akan menjadi planet yang amat dingin. Sayangnya eIek rumah
kaca tersebut mengalami peningkatan beberapa dekade belakangan ini. Itulah inti
permasalahan global warming yang sedang digembar-gemborkan akhir-akhir ini.
Adapun contoh gas-gas yang dapat menyebabkan eIek rumah kaca ialah CO
2

CH
4
NOx SOx SF
6
H
2
O dan PFC.
Peneliti lingkungan dan sains berpendapat bahwa manusia ialah penyebab
utama global warming. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen
antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosIer jauh lebih
tinggi dari kandungan alaminya dalam 60 ribu tahun terakhir. Rata-rata
temperatur global telah naik 13 derajat Fahrenheit (setara 072 derat Celcius
dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 017
centimeter setiap tahun sejak 1961. Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-
tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 27 derajat Fahrenheit
(setara 1 derajat Celcius. Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius
40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah. \
Meski negara-negara miskin yang akan merasakan dampak sangat buruk
perubahan iklim juga melanda negara maju. Pada 2020 7 juta hingga 20 juta
penduduk AIrika akan kekurangan sumber air penduduk kota-kota besar di Asia
akan berisiko terlanda banjir. Di Eropa kepunahan spesies akan ekstensiI.
Sementara di Amerika Utara gelombang panas makin lama dan menyengat
sehingga perebutan sumber air akan semakin tinggi. Kondisi cuaca ektrim akan
menjadi peristiwa rutin. Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin besar
intensitasnya. Gelombang panas dan hujan lebat akan melanda area yang lebih
luas. Resiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat.
Sementara itu kekeringan akan menurunkan produktivitas lahan dan kualitas air.
Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas mengasinkan air tawar
dan menggerus kawasan pesisir.

2.2.1.2 Efek Umpan Balik
Analisis penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai
proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan
air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO
2

pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap
ke atmosIer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca pemanasan akan
terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu
kesetimbangan konsentrasi uap air.
EIek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh
akibat gas CO
2
sendiri. Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan
karena CO
2
memiliki usia yang panjang di atmosIer. EIek umpan balik karena
pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah
awan akan memantulkan kembali radiasi inIra merah ke permukaan sehingga
akan meningkatkan eIek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas awan
tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi inIra merah ke angkasa
sehingga meningkatkan eIek pendinginan. Apakah eIek netto-nya menghasilkan
pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu
seperti tipe dan ketinggian awan tersebut.

2.2.1.3 Variasi atahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari dengan
kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan dapat memberi kontribusi
dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan
akibat eIek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan
memanaskan stratosIer sebaliknya eIek rumah kaca akan mendinginkan stratosIer.
Pendinginan stratosIer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960
yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama
pemanasan saat ini. Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas
gunung berapi mungkin telah memberikan eIek pemanasan dari masa pra-industri
hingga tahun 190 serta eIek pendinginan sejak tahun 190.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi
Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari
uke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi
terhadap 4-0 peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-
2000 dan sekitar 2-3 antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya
mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat
estimasi berlebihan terhadap eIek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan
pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa eIek pendinginan dari
debu vulkanik dan aerosol sulIat juga telah dipandang remeh.
Terlepas dari itu semua pada tahun 2006 sebuah tim ilmuan dari Amerika
Serikat Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya
peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini.
Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 007 dalam tingkat
"keterangannya" selama 30 tahun terakhir. EIek ini terlalu kecil untuk
berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan
Frhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan
variasi Matahari sejak tahun 198 baik melalui variasi dari output Matahari
maupun variasi dalam sinar kosmis.



2.2.1.4 Peternakan (Konsumsi Daging)
Dalam laporan terbaru Fourth Assessment Report yang dikeluarkan oleh
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC satu badan PBB yang terdiri
dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia terungkap bahwa 90 aktivitas manusia
selama 20 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sejak
Revolusi Industri tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm
menjadi 379 ppm dalam 10 tahun terakhir. Tidak main-main peningkatan
konsentrasi CO
2
di atmosIer Bumi itu tertinggi sejak 60.000 tahun terakhir.
Menurut Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang peternakan dan
lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa "industri
peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18 jumlah
ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di
seluruh dunia (13. " Hampir seperlima (20 persen dari emisi karbon berasal
dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi gabungan yang berasal dari
semua kendaraan di dunia. Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen karbon
dioksida 37 persen gas metana (mempunyai eIek pemanasan 72 kali lebih kuat
dari CO
2
dalam jangka 20 tahun dan 23 kali dalam jangka 100 tahun serta 6
persen dinitrogen oksida (mempunyai eIek pemanasan 296 kali lebih lebih kuat
dari CO
2
. Lebih jauh peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari
kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan menggunakan 30 persen dari
permukaan tanah di Bumi dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang
digunakan untuk menanam makanan ternak. Menurut laporan Bapak SteinIeld
pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian kira-kira 70 persen dari
bekas hutan di Amazon telah dialihIungsikan menjadi ladang ternak. Selain itu
ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari
padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan
pemadatan dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan
polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikattrilyunan gallon air irigasi
digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 8 persen dari
sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga
menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.

2.2.2 Gejala Pemanasan Global
2.2.2.1 Kebakaran Hutan Besar-Besaran
Bukan hanya di Indonesia sejumlah hutan di Amerika Serikat juga ikut
terbakar ludes. Dalam beberapa dekade ini kebakaran hutan meluluhlantakan
lebih banyak area dalam tempo yang lebih lama juga. Ilmuwan mengaitkan
kebakaran yang merajalela ini dengan temperatur yang kian panas dan salju yang
meleleh lebih cepat. Musim semi datang lebih awal sehingga salju meleleh lebih
awal juga. Area hutan lebih kering dari biasanya dan lebih mudah terbakar.

2.2.2.2 Situs Purbakala Cepat Rusak
Akibat alam yang tak bersahabat sejumlah kuil situs bersejarah candi
dan arteIak lain lebih cepat rusak dibandingkan beberapa waktu silam. banjir
suhu yang ekstrim dan pasang laut menyebabkan itu semua. Situs bersejarah
berusia 600 tahun di Thailand Sukhotai sudah rusak akibat banjir besar belum
lama ini.

2.2.2.3 Ketinggian Gunung Berkurang
Tanpa disadari banyak orang pegunungan Alpen mengalami penyusutan
ketinggian. Ini diakibatkan melelehnya es di puncaknya. Selama ratusan tahun
bobot lapisan es telah mendorong permukaan bumi akibat tekanannya. Saat
lapisan es meleleh bobot ini terangkat dan permukaan perlahan terangkat
kembali.

2.2.2.4 Satelit Bergerak Lebih Cepat
Emisi karbon dioksida membuat planet lebih cepat panas bahkan
berimbas ke ruang angkasa. Udara di bagian terluat atmosIer sangat tipis tapi
dengan jumah karbondioksida yang bertambah maka molekul di atmosIer bagian
atas menyatu lebih lambat dan cenderung memancarkan energi dan
mendinginkan udara sekitarnya. Makin banyak karbondioksida di atas sana maka
atmosIer menciptakan lebih banyak dorongan dan satelit bergerak lebih cepat.


2.2.2.5 Pelelehan Besar-besaran
Bukan hanya temperatur planet yang memicu pelelehan gunung es tapi
juga semua lapisan tanah yang selama ini membeku. Pelelehan ini memicu dasar
tanah mengkerut tak menentu sehingga menimbulkan lubang-lubang dan merusak
struktur seperti jalur kereta api jalan raya dan rumah-rumah. Imbas dari
ketidakstabilan ini pada dataran tinggi seperti pegunungan bahkan bias
menyebabkan keruntuhan batuan.

2.2.2.6 Habitat akhluk Hidup Pindah ke Dataran Lebih Tinggi
Sejak awal dekade 1900-an manusia harus mendaki lebihtinggi demi
menemukan tupai berang-berang atau tikus hutan. Ilmuwan menemukan bahwa
hewan-hewan ini telah pindah ke dataran lebih tinggi akibat pemanasan global.
Perpindahan habitat ini mengancam habitat beruang kutub juga sebab es tempat
dimana mereka tinggal juga mencair.

2.2.2.7 Peningkatan Kasus Alergi
Sering mengalami serangan bersin-bersin dan gatal di matasaat musim
semi maka salahkanlah pemanasan global. Beberapa dekade terakhir kasus alergi
dan asma di kalangan orang Amerika alami peningkatan. Pola hidupdan polusi
dianggap pemicunya. Studi para ilmuwan memperlihatkan bahwa tingginya level
karbondioksida dan temperatur belakangan inilah pemicunya.

2.3 Dampak Pemanasan Global
Dampak yang terjadi merupakan sebuah eIek domino. Karena kadar CO
2

meningkat panas matahari terperangkap di bumi mengakibatkan suhu udara
semakin meningkat. Karena panas suhu air laut menjadi lebih hangat. Hal ini
menyebabkan biota laut mati. Suhu air laut yang meningkat membuat es di kedua
kutub mencair. Es abadi yang ada di puncak-puncak gunung juga mencair.
Pencairan es ini membuat ketinggian air laut meningkat alias kita semakin
tenggelam. Panasnya suhu juga membuat tingkat penguapan tinggi. Tidak hanya
di laut tetapi juga di darat. Maka terjadilah kekeringan. Kadar uap air yang tinggi
di atmosIer meningkatkan potensi terjadinya badai.
BAB III
PEBAHASAN


3.1 Peranan Individu Dalam engatasi Pemanasan Global
Sebagaimana kita ketahui pemanasan global merupakan sebuah Ienomena
yang diakibatkan sebagai dampak akibat upaya-upaya pemenuhan kebutuhan
manusia. Pemanasan global atau dapat kita sebut dengan global warming terjadi
karena adanya Iaktor ketidak-mampuan lagi oleh alam dalam mengatasi berbagai
pencemaran yang terjadi padanya. Lebih dari itu laju kerusakan ini juga semakin
diperparah tanpa adanya upaya yang berarti oleh manusia dalam mengatasi akibat
dari pemanasan global ini.
Sebagai individu yang merupakan bagian dari sebuah sistem mata rantai
yang tak terputus perlahan kita harus menyadari bahwa sesungguhnya bumi ini
tengah kolaps. Jika kita terus acuh dalam melakukan suatu tidakan apalagi hanya
berpangku tangan akan masalah pemanasan global ini tentu akan semakin banyak
timbul kekecauanb z
Matikan listrik apabila tidak diperlukan
2. Ganti bola lampu yang hemat.
3. Apabila memakai pendingin AC maka tutup lah rumah serta jendela dengan
rapat agar pendingin AC tidak sampai ke udara.
4. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
. Tanam kan dari dini menanamkan pohon.

Mungkin ini langkah atau kebijakan yang tepat untuk menyelamatkan bumi agar
bisa dinikmati oleh anak cucu kita .