Anda di halaman 1dari 19

Informasi yang menciptakan nilai Refleksi diri: 1. Mahasiswa mencari informasi apa saja sebanyak mungkin. 2.

Mahasiswa memilah informasi yang dapat ditindaklanjuti dan yang tidak dapat ditindaklanjuti. 3. Informasi yang tidak dapat ditindaklanjuti dibiarkan, sementara informasi yang dapat ditindaklanjuti dipilah lagi menjadi informasi yang memberikan dampak ekonomis dan yang tidak memberikan dampak ekonomis. 4. Buatlah kembali daftar informasi yang memberikan dampak ekonomi bagi saudara. Refleksi Kelompok dan diskusi 1. Mahasiswa dipersilakan untuk bergabung dalam kelompoknya. 2. Masing-masing mahasiswa sharing tentang informasi yang memberikan dampak ekonomi bagi saudara pada anggota kelompok. 3. Masing-masing kelompok membahas informasi tersebut dan menentukan mana yang dapat dilakukan/dikerjakan dalam kelompok. 4. Bagaimana operasionalisasi pelaksanaan informasi tersebut. 5. Masing-masing kelompok membuat kesimpulan diskusi: a. informasi apa yang dipilih, harus feasible. b. alasan informasi tersebut dipilih c. keuntungan yang diperoleh. d. Kendala-kendala yang dihadapi 6. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya 7. Kesimpulan dari dosen Dari kegiatan tersebut di atas, mahasiswa dapat menyimpulkan bahwa 1. informasi memegang peranan yang penting dalam kehidupan perusahaan. Perusahaan selalu mengembangkan sistem informasi agar perusahaan dapat survive. Perusahaan berusaha mencari informasi. Oleh karena itu perusahaan berusaha untuk mendekatkan diri pada kekuasaan, karena perusahaan yang dekat dengan kekuasaan akan mendapatkan informasi yang lebih cepat.

2. informasi yang dibutuhkan oleh masing-masing jenjang manajerial (top management,


3. 4. middle management, lower management) berbeda-beda. Informasi berbeda dengan data, berita, isu. Terkadang informasi dari perusahaan yang satu akan menjadi data bagi perusahaan yang lain. Selain itu informasi terkadang dicampuradukan dengan berita. Informasi yang dibutuhkan oleh manajemen tidak hanya bersifat finansial tetapi juga non finansial. Perusahaan berusaha untuk mengembangkan sistem informasi bagi manajemen. Sistem tersebut dikenal dengan sistem informasi akuntansi manajemen. Sistem informasi akuntansi manajemen sangat fleksibel dan sangat bergantung pada lingkungan di dalam perusahaan dan di luar perusahaan. Lingkungan tersebut adalah: a. Perkembangan teknologi b. Lingkungan perusahaan berubah c. Kesadaran konsumen akan mutu d. dst Mahasiswa juga dapat membedakan bahwa akuntansi manajemen berbeda dengan akuntansi keuangan. Apa bedanya? Akuntan manajemen harus bertindak etis. Akuntan manajemen memegang kunci keberhasilan perusahaan. Tindakan tersebut antara lain tidak membocorkan rahasia Banyak perusahaan yang bertindak tidak etis dengan membajak karyawan, mencuri teknologi dan sebagainya. Lepas dari itu semua terkadang ada pebisnis yang menggantungkan pada hokki, nasib, naluri dsb. Hal tersebut tidak ilmiah dan sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun demikian bisnis mereka sukses.

5. 6.

7.

Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 1

BAB I INFORMASI YANG MENCIPTAKAN NILAI Tujuan Pembelajaran


Menjelaskan peranan penting bahwa informasi akuntansi manajemen dalam organisasi baik manufaktur, jasa, non profit maupun pemerintahan. Menjelaskan perbedaan akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan Menjelaskan informasi akutansi manajemen bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi Menggambarkan proses akuntansi manajemen menciptakan nilai bagi organisasi dan menjelaskan bagaimana proses tersebut berkaitan dengan operasi, pemasaran dan strategi. Menjelaskan isu perilaku dan etika yang dihadapi oleh akuntan manajemen.

Tujuan Pembelajaran 1 Menjelaskan peranan penting bahwa informasi akuntansi manajemen dalam organisasi baik manufaktur, jasa, non profit maupun pemerintahan.
1. Data dan Informasi a. Data Manajemen bergulat dengan data-data. Data-data tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Manajemen modern tidak dapat mengandalkan paranormal, klenik, kejawen, dan sebagainya yang bersifat irasional. Walaupun beberapa orang mengakui bahwa hal-hal yang bersifat irasional berpengaruh pada keberhasilan perusahaan. Namun demikian, dalam ilmu manajemen modern hal tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Manajemen modern menuntut para manajer berpikir secara rasional. Oleh karena itu, manajemen perlu berhubungan dengan data dalam membuat suatu keputusan. b. Informasi Informasi adalah data yang sudah diolah, atau dengan kata lain hasil olahan data yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi ini berbeda dengan berita atau isu. Pemerolehan informasi dapat dari berbagai sumber baik eksternal maupun internal. Kadang perusahaan Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 2

dalam mengambil keputusan tidak berdasarkan data dan informasi, namun lebih menggunakan intuisi. Pengambilan keputusahan manajemen harus rasional dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah daripada irrasional (dukun, klenik, fengsui, hongsui, naga dina, intuisi, dsb)

c. Siklus Informasi

diamati

dicatat

Kejadian

Fakta

Data

diolah

Implementasi
diekseku si

Keputusan
digunak an

Informasi

d. Syarat Informasi Sebagai ilustrasi: Seseorang yang mengalami sakit perut mendatangi dokter untuk berobat. Langkah pertama yang dilakukan oleh dokter adalah melakukan wawancara dengan pasien terkait dengan keluhan yang diderita oleh pasien. Setelah itu, dokter melakukan mendiagnosa dan melakukan pemeriksaan. Langkah selanjutnya, dokter melakukan analisis terkait dengan sakit yang diderita pasien. Dalam dunia kesehatan, sakit perut disebabkan oleh banyak hal beberapa di antaranya, sakit perut karena terkena bakteri, sakit perut karena maag, sakit perut karena menstruasi (bagi wanita), sakit perut karena virus, sakit perut karena kanker, dan sebagainya. Dokter harus berhati-hati dalam melakukan analisis dan akurat. Keakuratan analisis diperlukan untuk memberikan penanganan pada pasien dengan tepat, termasuk juga keamanan selama dan setelah pasien mengkonsumsi obat. Salah dalam memberikan analisis akan membahayakan diri pasien. Menurut Suwardjono, nilai informasi ada tiga yaitu menambah pengetahuan, menambah keyakinan dan mengubah keputusan. Di samping itu, Suwarjono mendefinisikan kualitas informasi sebagai Karakteristik yang melekat pada informasi sehingga informasi bermakna Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 3

bagi pemakai dan memberi keyakinan kepada pemakai sehingga bermanfaat dalam keputusan. Dengan demikian sesuatu dikatakan sebagai informasi apabila bermakna, memberi keyakinan dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan. Agar informasi berkualitas, maka informasi tersebut harus memenuhi beberapa karakteristik sebagai berikut: 1) Tepat waktu Informasi harus tepat waktu, apabila informasi datang terlambat maka informasi tersebut tidak berguna lagi. Ketepatan waktu sangat dibutuhkan manajemen dalam persaingan global. Agar informasi dapat tepat waktu, perusahaan perlu menyusun sistem informasi sedemikian rupa sehingga informasi tersebut dapat diakses dengan cepat, dari manapun, namun aman (kerahasiaan informasi dapat dijaga dengan baik). 2) Relevan Yang dimaksud dengan relevan adalah kesesuaian informasi tersebut dengan kebutuhan manajemen. Informasi yang relevan akan sangat mendukung manajemen dalam pengambilan keputusan. Manajemen dapat mengambil keputusan dengan tepat tanpa bias. 3) Akurat Sistem informasi memiliki karakteristik akurat (tepat). informasi yang akurat akan menjamin ketepatan dalam pengambilan keputusan manajemen. Semakin tepat suatu informasi, maka informasi tersebut semakin dapat membimbing dan mengarahkan manajemen untuk membuat keputusan yang paling tepat dan baik untuk kemajuan organisasi. 4) Broadscope Yang dimaksud broadscope adalah keluasan informasi. Informasi yang diberikan kepada manajemen harus luas (kompleks). Dengan informasi yang luas, manajemen dapat meminimisir risiko yang mungkin timbul dari keputusan yang dibuat. Penyedia informasi dalam perusahaan adalah Unit Sistem Informasi. Unit ini bertanggungjawab atas data-data dan pengolahan data, baik data finansial maupun non finansial. Unit Sistem informasi pada saat ini memainkan peran yang amat strategis bagi kemajuan perusahaan. e. Manfaat Informasi 1) Membantu manajemen untuk mengenali lingkungan internal maupun eksternal 2) Mendorong manajemen untuk bertindak lebih baik 3) Membantu perencanaan manajemen 4) Membantu manajemen dalam penilaian kinerja 5) Memotivasi manajemen 6) Membantu manajemen dalam pengambilan keputusan f. Informasi Akuntansi Manajemen Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 4

Informasi akuntansi manajemen mengacu pada proses perbaikan nilai secara terus menerus untuk menambah nilai produk atau jasa yang berkaitan dengan rencana, desain, ukuran dan operasi sistem informasi finansial dan nonfinansial yang membimbing dan mengarahkan tindakan manajemen, memotivasi perilaku, dan mendukung serta menciptakan nilai budaya yang diperlukan untuk mencapai sasaran organisasi. 2. Informasi Akuntansi Manajemen a. Apakah informasi akuntansi manajemen? Informasi akuntansi manajemen adalah sebuah proses penambahan nilai dari perencanaan, pendesainan, pengukuran, operasi non finansial maupun finansial sistem informasi yang memberikan arah (membimbing) tindakan manajemen. Informasi Akuntansi Manajemen
Operational and Financial Data

Processing

Actions

b. Beberapa contoh informasi akuntansi manajemen: 1) Laporan pengeluaran dari sebuah departemen operasi 2) Perhitungan kos dalam memproduksi sebuah produk 3) Pengukuran kinerja ekonomis

Tujuan Pembelajaran 2
Perbedaan antara akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan Perbedaan Akuntansi Manajemen dan Akuntansi Keuangan dapat dilihat pada tabel berikut ini. Keterangan Audience Akuntansi Keuangan Eksternal Akuntansi Manajemen Internal

Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 5

Keterangan Tujuan

Akuntansi Keuangan Melaporkan kinerja masa lalu pada pihak eksternal Terlambat, historis Regulasi, dikendalikan oleh aturan-aturan standar keuangan Hanya mengukur keuangan Objektif, dapat diaudit, reliabel, konsisten, dan tepat Laporan organisasi keseluruhan

Akuntansi Manajemen Memberitahukan pembuatan keputusan internal oleh tenaga kerja dan manajer, umpan balik dan pengendalian kinerja operasi Saat ini, orientasi masa yang akan datang Tidak ada regulasi, sistem dan informasi ditentukan oleh manajemen untuk mempertemukan kebutuhan stratejik dan operasional Keuangan dan operasional dan pengukuran fisik proses, teknologi, supplier, pelanggan, dan kompetitor Lebih subjektif dan dengan pertimbangan, valid, relevan dan akurat Memberitahukan keputusan dan tindakan

Waktu Batasan

Tipe informasi Sifat informasi Cakupan

Tujuan Pembelajaran 3 Informasi Akuntansi Manajemen bagi Pihak-pihak yang berkepentingan dalam Organisasi
Secara hirarki, manajemen dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu manajemen atas (senior executive), manajemen menengah (middle management), dan manajemen bawah (operational level). Masing-masing tingkatan manajemen ini membutuhkan informasi akuntansi yang berbedabeda. Perbedaan ini lebih menitikberatkan pada beban tugas, wewenang dan tanggung jawab pada masing-masing tingkatan manajemen. Contoh yang paling sederhana adalah pada organisasi bengkel. Pada sebuah bengkel, supervisor merupakan manajemen tingkat bawah (operational level). Tugas supervisor adalah memeriksa sepeda motor atau mobil yang sudah selesai diperbaiki. Informasi yang dibutuhkan pada level ini adalah jumlah kerusakan, keseringan kerusakan, perbaikan terakhir, jumlah komponen yang dibutuhkan dan sebagainya. Pada intinya, informasi yang dibutuhkan adalah informasi yang mendukung tugas operasional montir. Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 6

Sementara manajer bengkel merupakan tingkatan manajemen menengah. Pada tingkatan ini informasi yang dibutuhkan berbeda dengan tingkatan operasional. Tingkatan manajemen membutuhkan informasi yang berkaitan dengan cara meningkatkan pendapatan (laba) perusahaan. Manajemen tingkat menengah ini lebih terfokus pada cara atau strategi yang dapat meningkatkan laba perusahaan. Dengan demikian kebutuhan informasi manajemen menengah lebih pada jumlah penjualan bengkel, produk, pelayanan, pelanggan, jumlah pemesanan sparepart yang dibutuhkan, jumlah karyawan, gaji karyawan, pajak perusahaan, pajak perorangan dan sebagainya. Pemilik atau jajaran direksi merupakan contoh dari manajemen atas (senior executive). Manajemen pada tingkatan ini membutuhkan informasi untuk menyusun strategi mempertahankan market share bengkel, memperbesar omset perusahaan, diversifikasi perusahaan, loyalitas dan kepuasan pelanggan, differensiasi usaha, harvest, divest, benchmarking dan sebagainya. Tampak jelas pada contoh di atas bahwa masing-masing tingkatan manajemen pada sebuah perusahaan bengkel berbeda satu dengan yang lainnya. Tentu saja kekerapan kebutuhan informasi dan cakupan informasi untuk masing-masing level juga berbeda. Semakin rendah tingkatan manajemen, kebutuhan informasi semakin detail dan semakin sering. Demikian pula sebaliknya.

Tujuan Pembelajaran 4
Pembuatan Keputusan dan Informasi Pembuatan keputusan adalah proses pemilihan alternatif yang paling tepat di antara beberapa alternatif yang ada. Hampir setiap orang selalu dihadapkan pada pemilihan alternatif. Oleh karenanya dia harus membuat keputusan untuk menentukan alternatif mana yang harus dipilih. Seorang manajer yang berdomisili di Yogyakarta, yang akan pergi untuk menandatangani nota kesepahaman di Bali harus menentukan kendaraan apa yang akan digunakan untuk berangkat ke Bali dari Yogyakarta. Manajer tersebut harus memutuskan apakah dia akan menggunakan kereta, bis atau pesawat. Kekeliruan pembuatan keputusan akan berakibat kerugian bahkan mungkin malapetaka. Apabila manajer keliru membuat keputusan, bisa terjadi dia terlambat dalam penandatanganan nota kesepahaman tersebut. Dengan demikian ia akan gagal dalam memperoleh kesempatan pendapatan. Ketepatan pembuatan keputusan akan menghasilkan keuntungan bagi si manajer tersebut. Apabila keputusan yang dibuat tidak tepat maka dampak yang lebih jauh yang dihadapi perusahaan adalah pertaruhan kelangsungan Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 7

hidup perusahaan. Operasional perusahaan dapat terganggu, omset perusahaan akan menurun, Manajer akan tepat membuat keputusan dengan apa dia akan ke airport apabila ia memiliki informasi tentang jadwal penerbangan pesawat, rute yang dilalui bis atau taxi, daerah macet, lama perjalanan dari hotel ke airport. Informasi-informasi tersebut dapat mengurangi ketidakpastian. Pembuatan keputusan akan baik dan tepat apabila manajer atau pembuat keputusan memiliki informasi yang mendukung keputusannya. Makin lengkap, relevan, akurat maka makin baik keputusan yang diambilnya.

Tujuan Pembelajaran 5 Perilaku Etis Akuntan Manajemen


Perilaku etis melibatkan pemilihan tindakan-tindakan yang benar dan sesuai serta tepat. tingkah laku kita mungkin benar atau salah; sesuai atau menyimpang; dan keputusan yang kita buat dapat adil atau berat sebelah. Orang sering berbeda pandangan terhadap arti istilah etis; tatapi tampaknya terdapat suatu prinsip umum yang mendasari semua sistem etika. Prisnsip ini diekspresikan oleh keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab untuk kebaikan anggota lainnya. Keinginan untuk berkorban demi kebaikan kelompoknya merupakan inti dari tindakan yang etis. Ada sepuluh nilai inti yang diidentifikasi menghasilkan prinsip-prinsip yang melukiskan benar dan salah dalam kerangka umum. Sepuluh nilai tersebut adalah: 1. Kejujuran (honesty) 2. Integritas (integrity) 3. Memegang janji (promise keeping) 4. Kesetiaan (fidelity) 5. Keadilan (fairness) 6. Kepedulian terhadap sesama (caring for others) 7. Penghargaan kepada orang lain (respect for others) 8. Kewarganegaraan yang bertanggung jawab (responsible citizenship) 9. Pencapaian kesempurnaan (pursuit of excellence) 10.Akuntabilitas (accountibility) IMA (Institute of Management Accountants) mengeluarkan suatu pernyataan yang menguraikan tentang standar perilakuk etis akuntan manajemen. Akuntan manajemen tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan standar ini atau mereka tidak akan menerima pelaksanaan tindakan-tindakan tersebut oleh orang lain dalam organisasi mereka. Standar tersebut adalah sebagai berikut. 1. Kompetensi akuntan manajemen bertanggung jawab untuk Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 8

a. Menjaga tingkat kompetensi profesional yang diperlukan dengan terus menerus mengembangkan pengetahuan dan keahliannya b. Melakukan tugas-tugas profesionalnya sesuai dengan hukum, peraturan, dan standar teknis yang berlaku c. Menyusun laporan dan rekomendasi yang lengkat serta jelas setelah melakukan analisis yang benar terhadap informasi yang relevan dan dapat dipercaya 2. Kerahasiaan Akuntan manajemen bertanggun jawab untuk: a. Menahan diri untuk tidak mengungkapkan tanpa ijin informasi rahasia berkenaan dengan tugas-tugasnya, kecuali diharuskan secara hukum b. Memberitahu bawahan seperlunya kerahasiaan dari informasi yang berkenaan dengan tugas-tugasnya dan memonitor aktivitas mereka untuk menjaga kerahasiaan tersebut c. Menahan diri dari penggunaan informasi rahasia yang berkaitan dengan tugas-tugasnya untuk tujuan tidak etis dan sah baik secara pribadi maupun melalui pihak ketiga. 3. Integritas Akuntan manajemen bertanggung jawab untuk: a. Menghindari konflik kepentingan aktual atau terlihat nyata dan mengingatkan semua pihak terhadap potensi konflik b. Menahan diri dari keterlibatan berbagai aktivitas yang akan menimbulkan kecurigaan terhadap kemampuan mereka untuk melakukan tugasnya secara etis c. Menolak pemberian, penghargaan, dan keramah-tamahan yang dapat mempengaruhi mereka dalam bertugas d. Menahan diri untuk tidak melakukian penggerogotan terhadap legitimasi organisasi dan tujuan-tujuan etis, baik secara pasif maupun aktif e. Mengenali dan mengkomunikasikan berbagai batasan profesional atau kendala lainnya yang akan menghalangi munculnya penilaian yang bertanggung jawab atau kinerja sukses dari suatu aktivitas f. Mengkomunikasikan informasi yang baik atau buruk dan penilaian atau opini profesional g. Menahan diri dari keterlibatan dalam aktivitas yang merugikan profesi 4. Objektivitas Akuntan manajemen bertanggung jawab untuk a. Mengkomunikasikan informasi dengan adil dan objektif b. Mengungkapkan semua informasi relevan yang dapat diharapkan mempengaruhi pemahaman pengguna terhadap laporan, komentar, dan rekomendasi yang dikeluarkan 5. Resolusi konfik etika Dalam pelaksanaan standar perilaku etis, akuntan manajemen mungkin menghadapi masalah dalam mengidentifikasi perilaku yang tidak etis, atau dalam meyelesaikan konflik etika. Ketika menghadapi isu-isu etika yang penting, akuntan manajemen harus mengiuti kebijakan yang ditetapkan organisasidalam mengatasi konflik. Jika kebijakan ini tidak menyelesaikan Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 9

Sumber: statement on managemen accounting No 1C, Standards of Ethical Conduct for Management Accountants hak cipta @1983, Institute of Management Accountants, 10 Paragon Drive, Montvale, NJ. Diambil dari Hansen Mowen hal 22 23.

konflik etika, akuntan manajemen harus mempertimbangkan tindakan berikut ini: a. Mendiskusikan masalah tersebut dengan supervisor kecuali jika masalah itu melibatkan atasannya. Dalam kasus ini, masalah tersebut harus dilaporkan secepatnya kepada jenjang yang lebih tinggi berikutnya. Jika resolusi akhir yang memuaskan tidak dapat dicapai pada saat masalah diungkapkan, sampaikan masalah tersebut manajemen jenjang yang lebih tinggi. b. Jika atasan langsung merupakan kepala eksekutif pelaksana (CEO), atau setingkat wewenang untuk mengatasi mungkin berada di tangan suatu kelompok seperti komite audit, komite eksekutif, dewan direksi, dewan perwalian, atau pemilik. Berhubungan dengan jenjang di atas atasan langsung sebaiknya dilakukan dengan sepengetahuan atasan. c. Menjelaskan konsep-konsep yang relevan melalui diskusi rahasia dengan seorang penasihat yang objektif untuk mencapai pemahanan terhadap tindakan yang mungkin dilakukan d. Jika konflik ektika masih ada setelah dilakukan tinjauan terhadapa semua jenjang, akuntan manajemen mungkin tidak mempunyai jalan lain kecuali mengundurkan diri dari organisasi dan memberikan memo yang informatif kepada perwakilan organisasi yang ditunjuk. e. Kecuali jika diperintah secara hukum, mengkomunikasikan masalah tersebut kepada berbagai otoritas atau individu yang tidak ada hubungan dengan organisasi bukanlah pertimbangan yang tepat.

Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 10

Yogyakarta Tidak Lagi Murah Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0408/24/utama/1224070.htm MARLINA, mahasiswi Universitas Gadjah Mada angkatan 2003, sudah hampir satu jam berjalan di sekitar Dusun Deresan, lebih kurang dua kilometer dari Kampus UGM. Hari itu adalah hari ketujuh Marlina mencari tempat kos di tengah udara panas Yogyakarta. DENGAN wajah berkeringat, Marlina masuk ke halaman sebuah rumah yang pada gerbangnya tergantung papan bertulisan "MENERIMA KOST PUTRA/ PUTRI". Setelah meminta izin kepada petugas keamanan berseragam putih biru yang menjaga tempat kos itu, ia pun bertemu dengan pengelola kos, Yati namanya. "Masih ada kamar kosong Mbak?" tanya Marlina kepada Yati. Alangkah senang Marlina mendengar jawaban bahwa masih ada satu kamar yang kosong. Segurat senyum menghiasi bibirnya yang kering dan pecah. Akan tetapi, senyum itu segera hilang ketika Marlina mendengar tarif kos di rumah itu Rp 1 juta-Rp 1,2 juta per bulan. "Mahal sekali Mbak. Saya kira untuk setahun atau untuk enam bulan," ucap Marlina kelu. "Kalau enggak cocok, enggak apa-apa kok," kata Yati sekenanya. Walaupun mahal, lanjut Yati, tempat kosnya selalu penuh. Buktinya, dari 36 kamar, hanya satu yang kosong. Fasilitas yang ditawarkan kos mewah itu memang menggiurkan. Kamarnya luas, sekitar 4 x 6 meter. Di dalamnya ada penyejuk ruangan, televisi 21 inci, kulkas, spring bed, dan pesawat telepon. Tersedia juga kamar mandi berukuran sekitar 2 x 2 meter, dilengkapi dengan bath tub dan air panas. Mencari tempat kos yang menawarkan fasilitas seperti itu di Yogyakarta saat ini ternyata lebih mudah daripada mencari tempat kos yang murah. Puluhan tempat kos yang ditemui Marlina tarifnya Rp 300.000-Rp 1 juta per bulan. Bahkan, asrama mahasiswa yang menjadi ikon pondokan murah juga sudah berubah konsep. Asrama mahasiswa sebuah program studi pascasarjana yang cukup bergengsi di Universitas Gadjah Mada (UGM) mematok harga sewa satu kamar Rp 750.000Rp 1 juta per bulan. Padahal, fasilitas yang ditawarkan tidak selengkap dan semewah tempat kos yang dikelola Yati. Beberapa alumnus program pascasarjana mengaku tidak habis pikir mengapa pengelolanya membangun asrama yang hanya bisa disentuh orang-orang berduit, padahal tidak semua mahasiswa berasal dari orang berada. Seperti Marlina, kedua orangtuanya hanyalah guru sekolah dasar dan hanya mampu memberi uang kos Rp 150.000 per bulan. Uang sebesar itu hanya cukup untuk menyewa tempat kos di daerah pinggiran, yang berjarak 8-10 kilometer dari Kampus UGM. Fasilitasnya tidak ada, hanya kamar kosong yang berukuran sekitar 3 x 3 meter. Semua anak kos yang tinggal di tempat Yati memang berasal dari keluarga kaya, seperti anak direktur utama sebuah bank milik pemerintah dan anak Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 11

gubernur salah satu provinsi di Kalimantan. "Uang kosnya saja sudah Rp 1 juta, apalagi kirimannya," kata Yati. Marlina sendiri hanya mendapat kiriman Rp 700.000 per bulan, sudah termasuk uang kos. Itu pun kadang masih susah dipenuhi orangtuanya. "Yogya sudah mahal. Bukan hanya kos-kosan. Makan, biaya kuliah, transportasi, semuanya mahal," katanya. Data Kopertis Wilayah V Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat, jumlah mahasiswa di DIY tahun 2003 sebanyak 290.529 orang. Jika 20 persen saja mahasiswa di Yogyakarta berasal dari masyarakat yang status sosialnya menengah ke bawah, berarti ada 58.105 orang yang seperti Marlina. MENURUT laporan Bank Indonesia (BI) Yogyakarta tahun 2003, biaya hidup mahasiswa di Yogyakarta rata-rata naik 8,78 persen per tahun. Tahun 2003 diperkirakan naik 9,12 persen. Dengan demikian, biaya hidup mahasiswa dari Rp 8,83 juta per tahun pada tahun 2002 menjadi Rp 9,63 juta pada tahun 2003. Itu berarti, kenaikan kebutuhan hidup mereka naik Rp 802.549 per bulan. Orangtua yang berpenghasilan pas-pasan tentu tidak mampu menyekolahkan anaknya ke sekolah atau perguruan tinggi di Yogyakarta. Penelitian BI Yogyakarta itu lebih lanjut menunjukkan, komponen terbesar yang mengakibatkan kenaikan biaya hidup tahun 2003 itu adalah meningkatnya biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri. Di UGM, misalnya, uang kuliah mahasiswa teknik arsitektur angkatan 1993 masih Rp 200.000, angkatan 1995 masih Rp 250.000, dan angkatan 1999 masih 500.000 per semester. Namun, tahun 2003 melonjak di atas Rp 1 juta, dan mahasiswa UGM angkatan 2004 harus menyediakan uang masuk Rp 5 jutaRp 50 juta serta uang kuliah Rp 1,9 juta-Rp 2,3 juta per semester. Wajar jika kebijakan itu mendapat protes keras dari beberapa dosen dan aktivis mahasiswa UGM. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Teknik UGM, April 2004, memprotesnya dengan memasang baliho yang bertulisan: "Dijual UGM dengan harga SPP Rp 500.000, BOP Rp 75.000/SKS, dan SPMA Rp 5 juta-50 juta". Menanggapi protes itu, Ketua Panitia Ujian Masuk UGM Dr Toni Atyanto Dharoko mengatakan, UGM tidak pernah memaksa calon mahasiswa untuk mendaftar ke universitas tertua di Indonesia itu. "Kalau merasa terlalu mahal, ya jangan mendaftar. Kalau merasa cocok, baru mendaftar," katanya. "MEMANG, peluang orang miskin untuk mengubah nasib di Yogyakarta semakin sempit," kata sosiolog UGM, Dr Heru Nugroho, menanggapi kondisi Yogyakarta yang demikian. Atau, seperti sebuah judul buku yang dikarang Eko Prasetyo, Orang Miskin Dilarang Sekolah. Padahal, melalui pendidikan, dulu Yogyakarta terkenal sebagai tempat untuk mengubah nasib masyarakat lapis bawah, yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Di perguruan tinggi swasta (PTS) pun sudah sejak dulu orang-orang ekonomi lemah tidak mendapatkan jatah di sana. Di salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi (STIE), umpamanya, tahun 1993 rata-rata mahasiswa membayar uang gedung Rp 3 juta-Rp 5 juta dan uang kuliah Rp 600.000-Rp 800.000 per Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 12

semester. Untuk tahun akademik 2004/2005, STIE ini menetapkan uang gedung minimal Rp 7 juta dan uang kuliah selama dua semester Rp 4,59 juta. Dalam artikelnya di harian Kompas (5/4), Adde Marup Wirasenjaya berpendapat, harga kursi perguruan tinggi yang semakin mahal membuat mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta harus berasal dari golongan menengah ke atas. Pantas saja, kata Adde, jika penampilan mahasiswa Yogyakarta saat ini semakin necis dan gaul, seperti kehidupan mahasiswa di sinetron televisi. Ini barangkali memang cerita sebagian-entah besar entah kecil-mahasiswa. Mahasiswa Yogyakarta yang dulu lebih senang mengikuti kegiatan-kegiatan diskusi, seni, dan budaya, sekarang sudah lebih memilih kafe dan mal untuk menghabiskan waktu luangnya. Untuk meminum secangkir kopi pun tidak lagi di warung bubur kacang hijau atau di warung kucingan, melainkan di kedai kopi Excelso, yang harga minumannya 20 kali lipat dari warung kaki lima itu. Bahkan, untuk sekadar bertemu teman, mereka sudah lebih memilih mal daripada perpustakaan atau gelanggang mahasiswa. Perubahan pola hidup mahasiswa Yogyakarta itu pun sepertinya didukung Pemerintah Provinsi DIY. Sampai tahun 2003, di Yogyakarta hanya ada dua mal. Namun, tahun 2004 Pemerintah Provinsi DIY merencanakan pembangunan 12 mal baru, di antaranya Jogjatronic, Plaza Ambarrukmo, dan Saphir Square. Masih menurut catatan BI Yogyakarta, dari tahun 1993 sampai 2004 terjadi lonjakan harga lebih dari 700 persen di Yogyakarta. Segelas es teh manis dari Rp 100 menjadi Rp 1.000. Nasi ayam dari Rp 750- Rp 1.000 menjadi Rp 5.000Rp 8.000. Sewa kos yang sebelumnya Rp 300.000-Rp 400.000 per tahun, sekarang harga itu berlaku untuk satu bulan. Mahalnya harga-harga kebutuhan hidup di Yogyakarta tak hanya di tempat-tempat mewah, tetapi hampir di semua tempat dan sektor. Retribusi parkir mobil di sekitar Jalan Malioboro dan Jalan Solo pun Rp 2.000. Padahal, di Jakarta masih ada yang Rp 1.000. Argo taksi minimal Rp 10.000 walau jarak yang ditempuh hanya satu kilometer. Yang lebih dahsyat lagi, setiap tahun harga tanah di Yogyakarta meningkat sekitar 20 persen, bahkan di beberapa tempat bisa sampai 30 persen. Dari beberapa pejabat pembuat akta tanah (PPAT), pengembang, petugas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan pegawai kelurahan, juga diketahui bahwa sebagian besar pemilik tanah dan rumah di Yogyakarta adalah orang-orang Jakarta, Surabaya, Sumatera, dan Kalimantan. SEKALI lagi, Yogyakarta tidak lagi murah! Ini menjadi fenomena baru yang sebelumnya tidak diduga banyak orang. Banyak yang mengatakan Yogyakarta memiliki daya tarik yang begitu kuat sehingga setiap orang ingin mengunjungi bahkan tinggal di "kota gudeg" itu. Selain sebagai kota wisata, pendidikan, dan budaya, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota yang berhati nyaman, singkatan dari bersih, sehat, indah, dan nyaman. Kalau boleh menambahkan, dulu Yogyakarta juga dikenal dengan Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 13

kota yang bersahaja, tetapi sekarang mungkin telah berubah menjadi kota metropolitan di pedalaman. (REINHARD NAINGGOLAN)

MANAJEMEN/No. 156/AGUSTUS 2001

Quo Vadis Akuntansi Manajemen: Belajar dari Krisis.


Akuntasi manajemen itu tidaklah bersifat teknis semata, tetapi sesuai dengan namanya, akuntansi manajemen lebih banyak bertitik berat kepada aspek manajerial. Oleh: Bambang S. Felling, hokki, hong-sui, feng-sui atau klenik dan loby dengan pejabat adalah kata-kata yang sering kita dengar akhir-akhir ini, bahkan ada kecenderungan sangat nge-trend dikalangan manajerial dan businessman. Semakin kuatnya pengaruh felling tersebut sehingga rata-rata diantara mereka cenderung lebih percaya informasi yang sifatnya menonjolkan nuansa non ilmiah tersebut. Bahkan banyak tulisan dan media massa yang memuat artikel-artikel yang mengisahkan seseorang yang sukses sebagai manajer atau businessman dengan mengandalkan bekal intuisi dan bekal pendidikan formal yang sangat minim. Contoh yang sangat ekstrim, sebutlah seorang yang bernama Sudomo Salim alias Om Liem adalah seorang pengusaha sukses dan konglomerat paling berhasil di Indonesia di era orde baru. Kalau kita pikir sepintas apakah sosok seperti Om Liem pernah belajar ilmu ekonomi secara formal?, bahkan tersiar kabar bahwa pengusaha sukses tersebut hanya lulusan SD, namun demikian Om Liem dapat menjadi seorang businessman yang sukses dan termasuk salah satu orang terkaya di Asia dengan memiliki semua perusahaan dengan nama depan Indo. Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 14

Contoh lain, adalah Mochtar Riady, seorang manajer yang pernah kita kenal, yang sekarang sukses sebagai pemilik Bank Lippo, dulunya adalah seorang manajer andalan grup BCA yang dikenal oleh kalangan bisnis sebagai seorang yang berlatar belakang pendidikan formal sangat minim, toh akhirnya juga bisa sukses sebagai manajer yang mengendalikan BCA sampai akhirnya mendirikan usaha sendiri dengan nama Lippo Group, ada lagi seperti misalnya Subronto Laras Top Manajer Indomobil, Halim pendiri pabrik Gudang-Garam, Kediri dan Tirto Utomo pendiri Aqua, juga masih banyak lagi yang menjalankan roda bisnisnya lebih banyak proporsinya atas dasar intuisi dibandingkan dengan pengelolaan usaha secara ilmiah (Science Business). Masih banyak lagi para praktisi bisnis baik skala besar maupun skala menengah dan kecil yang bekerja atas dasar intuisi dan pengalaman pribadi dan sangat sedikit yang memanfaatkan informasi ilmu ekonomi sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Akhirnya, kita pun bertanya-tanya perlukah kita mengelola bisnis dengan ilmu bisnis secara formal?

Praktisi Bisnis di Era Reformasi Jaman telah berubah, kebijaksanaan di seluruh sektor pemerintah baik bidang ekonomi maupun non ekonomi telah berubah, dan rezim orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun tumbang, diganti dengan orde reformasi, penghapusan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) sangat berpengaruh besar terhadap kondisi bisnis di Indonesia. Profesionalisme telah berubah menjadi suatu tuntutan yang nyata dan bukan sekedar kata-kata yang enak untuk diucapkan. Profesionalisme sangat diperlukan di dunia bisnis terutama dalam menangani manajemen berskala menengah ke atas. Manajer harus mengambil keputusan bisnis setiap saat, oleh karena itu diperlukan data yang mendukung sebagai dasar pengambilan keputusan tersebut, misalnya seorang manajer keuangan maka yang bersangkutan harus menentukan kapan dan bagaimana perusahaan harus membiayai kebutuhan modal kerja perusahaannya, bagaimana menentukan struktur modal yang optimal, bagaimana menentukan struktur financial, bagaimana menanamkan kelebihan dana yang dimiliki perusahaan, apakah harus dalam dollar atau rupiah, sampai kepada investasi apa yang paling menguntungkan. Demikian juga dalam sektor produksi dan pemasaran, seorang manajer dihadapkan dalam pengambilan keputusan yang sifatnya fungsional strategis seperti menentukan harga pokok produksi sampai dengan penentuan harga produk sebelum produk dipasarkan. Setiap keputusan harus diambil secara cepat dan akurat sehingga diharapkan dapat melebihi kecepatan keputusan yang diambil oleh pesaing. Faktor-faktor yang dijadikan dasar keputusan sudah mulai mengarah kepada hal-hal yang sifatnya lebih ilmiah, sedangkan dasar keputusan yang sifatnya felling dan intuisi sedikit demi sedikit sudah mulai ditinggalkan. Namun Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 15

demikian, faktor yang paling dominan adalah pertimbangan ekonomi makro, termasuk aspek keamanan atau pun risiko yang sifatnya politis (country risk suatu negara). Lalu bagaimana dengan keputusan yang berbasis informasi akuntansi..?, apakah dianggap terlalu bertele-tele dan memakan banyak waktu untuk menyiapkan datanya sampai analisanya. Seorang manajer di era informasi pernah berkata dalam suatu seminar bahwa informasi yang dihasilkan oleh informasi akuntansi manajemen itu terlalu membutuhkan waktu dan tidak efektif untuk diterapkan di perusahaan dengan persaingan yang ketat, yang tentu saja membutuhkan waktu pengambilan keputusan dalam hitungan menit. Misalnya dalam menentukan harga, apakah manajer harus memperoleh informasi dari akuntansi manajemen metode penentuan harga lebih dahulu sebelum memutuskan untuk memasarkan produk, pasti manajer tersebut mengatakan tidak perlu, tetapi cukup dengan melihat trend harga di pasar, harga yang ditawarkan pesaing atau harga sesuai dengan prediksi ekonomi. Pendeknya, informasi akuntansi manajemen seolah-olah hanya ditemukan di text book saja, tidak pernah diterapkan oleh dunia bisnis di Indonesia. Para manajer dan praktisi bisnis Indonesia enggan menerapkan konsep dan teknik akuntansi manajemen yang terkesan sangat lambat dalam menyediakan informasi walaupun informasinya mungkin lebih akurat namun sudah tidak up to date lagi. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita (praktisi bisnis) perlu mendalami ilmu akuntansi manajemen yang mungkin dibenak kita sangat rumit itu. Apakah kita akan mengikuti trend yang terjadi bahwa keputusan bisnis akan diambil atas dasar faktor ekonomi makro dan pertimbangan keamanan safety dalam investasi. Informasi Akuntansi Awalnya, akuntansi merupakan seni dalam hal catat-mencatat transaksi yang dilakukan perusahaan agar menghasilkan suatu bentuk laporan yang berguna bagi pihak-pihak yang berhubungan dengan perusahaan, tetapi seiring perkembangan jaman dan teknologi, ilmu akuntansi pun berupaya menyesuaikan diri dengan kemajuan perkembangan yang telah tercatat, mulai dari sistem manual sampai penggunaan teknologi komputer paling terkini. Akuntansi Manajemen adalah salah satu cabang ilmu akuntansi yang banyak membahas metode untuk menghasilkan laporan keuangan yang berguna bagi manajemen dan pengambil keputusan di lingkungan intern perusahaan, berbeda dengan akuntansi keuangan yang lebih banyak membahas metode pelaporan yang berguna bagi pihak-pihak extern perusahaan. Seperti tulisan Hansen or Mowen dalam bukunya Management Accounting yang menggambarkan perbedaan secara jelas antara akuntansi manajemen dengan akuntansi keuangan. Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 16

Sistem informasi akuntansi manajemen (management accounting information system) adalah sistem informasi yang menghasilkan keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan memprosesnya untuk mencapai tujuan khusus manajemen. Proses adalah inti dari suatu sistem informasi akuntansi manajemen dan digunakan untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang memenuhi tujuan suatu sistem. Suatu proses dapat dijelaskan oleh aktifitas seperti pengumpulan (collecting), pengukuran (measuring), penyimpanan (storing), analisis (analysis), pelaporan (reporting) dan pengolahan (managing) informasi. Secara teoritis pengeluaran dapat berupa laporan khusus, biaya produk, biaya pelanggan, anggaran, laporan kinerja dan bahkan komunikasi personal. Model akuntansi manajemen sebagai suatu pendekatan berdasar input proses-output : Sekarang bagaimanakah penerapan atau pengaruh informasi akuntansi dalam praktik bisnis sehari-hari sehubungan dengan pengambilan keputusan bisnis yang harus diambil oleh manajer atau decision maker lainnya, beberapa penelitian yang telah dilakukan akan kita kutip untuk mulai mencoba melihat peranan akuntansi di dunia bisnis nyata. Penelitian yang dilakukan Suad Husnan, Mamduh M. Hanafi dan Amin Wibowo dalam jurnalnya yang berjudul Dampak Pengumuman Laporan Keuangan Terhadap Kegiatan Perdagangan Saham dan Variabilitas Tingkat Keuntungan menyimpulkan bahwa laporan keuangan tampaknya digunakan investor untuk kegiatan perdagangan di bursa. Kegiatan perdagangan relatif pada hari pengumuman laporan keuangan lebih tinggi dibandingkan dengan kegiatan di luar pengumuman laporan keuangan. Penelitian selanjutnya oleh Mamduh Hanafi yang ditulis dalam jurnal yang berjudul Informasi Laporan Keuangan yang juga ingin mengetahui dampak pengumuman laporan keuangan terhadap kegiatan perdagangan saham di pasar modal (BEJ), menunjukkan hasil yang tidak signifikan seperti yang diharapkan. Hipotesa yang menyatakan bahwa laporan keuangan berpengaruh terhadap kegiatan perdagangan saham tidak dapat dibuktikan, dan berarti bahwa laporan keuangan yang diumumkan perusahaan di media massa tidak banyak mempengaruhi keputusan yang diambil para investor dan fund manager. Chalimah dalam jurnalnya Pengaruh Informasi Keuangan Yang Dipublikasikan Terhadap Fluktuasi Harga saham mengambil kesimpulan bahwa berdasarkan interpretasi secara grafik dan uji beda dengan uji t diperoleh hasil bahwa dari 23 perusahaan ternyata 14 perusahaan menunjukkan adanya perbedaan harga saham antara sebelum dan sesudah dipublikasikan laporan keuangan. Artinya informasi laporan keuangan masih banyak diperhitungkan dan berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan untuk membeli saham perusahaan yang bersangkutan. Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 17

Agustina Tiurna Simanjuntak pada tahun 1999 membuat suatu penelitian yang dituangkan dalam tesis Magister Manajemen Universitas Diponegoro yang berjudul Analisis Kebutuhan Informasi Akuntansi dan Informasi Bukan Akuntansi dalam Pengambilan Keputusan Kredit (Studi Kasus Perbankan di Kotamadya Semarang). Dari hasil penelitiannya penulis mengambil kesimpulan bahwa informasi bukan akuntansi adalah lebih penting dibandingkan dengan informasi akuntansi (jaminan kredit dan bonafiditas perusahaan secara umum), artinya para analis kredit itu lebih mengutamakan berapa besar jaminan kredit yang diagunkan ke bank dalam mengambil keputusan untuk memberi atau menolak sebuah permohonan kredit. Demikian beberapa penelitian yang telah dilakukan, sampai dengan saat ini pun kita belum mengetahui bagaimana sebenarnya pengaruh informasi keuangan terhadap keputusan berkaitan yang harus diambil, sudah menjadi rahasia umum bahwa para pengambil keputusan di Indonesia itu selalu menghindari perhitungan yang terkesan rumit. Perusahaan Multinasional VS Perusahaan Domestik Sebuah penelitian telah dilakukan oleh Majalah Manajemen dan Usahawan Indonesia yang membuktikan bahwa perusahaan Multinational Company lebih dapat bertahan dalam menghadapi krisis dari pada perusahaan domestik, kalau kita lihat perusahaan yang bertahan sampai sekarang di Indonesai tanpa campur tangan pemerintah sehubungan badai krisis adalah perusahaan multinasional sebutlah PT.Unilever, Citi Bank, Trakindo, IBM, Sony, Standard Chartered Bank, Hongkong Shanghai Bank Corporation dan masih banyak lagi perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia yang mempunyai kinerja baik pada saat krisis moneter terjadi. Berbeda dengan perusahaan domestik yang banyak mengalami kebangkrutan pada saat krisis moneter sebagian bisa bertahan dengan campur tangan pemerintah melalui BPPN dan sebagian lagi telah dinyatakan likuidasi, sebutlah misalnya Tirtamas (Semen Cibinong Group), Kiani Kertas, Humpus, Bimantara, Bank Harapan Sentosa, Bank Modern, Bank Bali, PT. Barito Pasific Timber dan masih banyak lagi contoh perusahaan domestik yang mempunyai kenerja buruk setelah terkena dampak krisis moneter. Mengambil pelajaran tersebut, sebenarnya kita (bangsa Indonesia) harus dapat mengambil pelajaran dari krisis dan mulai meniru operasional perusahaan multinasional. Perusahaan multinasional biasanya dioperasikan dengan menggunakan teknologi tinggi dan pengambilan keputusan didasarkan atas dasar basis informasi akuntansi yang benar, para manajer di perusahaan multinasional disamping menguasai pasar dan teknologi juga menguasai metode-metode akuntansi manajemen yang dipercaya dapat membantu perusahaan dalam upaya efisiensi biaya, beberapa metode yang biasa diterapkan misalnya JIT (Just in Time), ABC (Activity-Based Responsibility Accounting System), Computer Integrated Manufacturing dan masih banyak Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 18

metode lain. Metode tersebut berbasis pengetahuan akuntansi, oleh karena itu para manajer perusahaan asing biasanya pengetahuan tentang akuntansinya juga sangat mendukung sehingga aplikasi metode seperti JIT dapat terlaksana secara efektif di perusahaan. Oleh karena itu, membuka wacana kita dan belajar dari krisis yang pernah dialami, hendaknya pemanfaatan informasi akuntansi manajemen benar-benar optimal. Akuntansi manajemen itu tidaklah bersifat teknis semata tetapi sesuai dengan namanya akuntansi manajemen lebih banyak bertitik berat kepada aspek manajerial. Lebih jauh lagi akuntansi manajemen tidak berdiri sebagai ilmu sendiri tetapi berkaitan dengan ilmu-ilmu lain termasuk teknologi, budaya dan psikologi dalam realitanya, seperti yang disampaikan oleh C. Edward Arrington dan Jere R. Francis we believe accounting has the capacity to construct realities in a manner that dictates the conditions of human life . yang dikutip dari tulisan Mustakim di majalah Manajemen dan Usahawan No. 08 Th XXVI Agustus 1997. Penulis adalah Praktisi dan Mahasiswa S2 UNDIP Majalah Manajemen Forum Diskusi Manajemen Seminar Manajemen

Bab I: Informasi yang Menciptakan Nilai 19