Anda di halaman 1dari 4

Lindungi Ibu dan Bayi

Pemeriksaan selama kehamilan, selain untuk memastikan bayi bu berkembang sehat dan
normal, juga untuk mengetahui kelainan yang mungkin terjadi. Semakin awal kelainan
terdeteksi, semakin mudah mengatasinya. Beberapa pemeriksaan berikut adalah yang
biasanya dilakukan:

Tes Amniosintesis

Amniosintesis adalah tes untuk mengetahui gangguan genetik pada bayi dengan memeriksa
cairan ketuban atau cairan amnion

Cairan yang mengandung sel dan bahan tertentu ini mencerminkan kesehatan bayi, diambilnya
dengan cara menusukkan jarum ke arah kantung ketuban melalui perut bu. Tes ini biasanya
dilakukan antara minggu 15 dan 20 kehamilan tapi bisa juga di usia kehamilan yang lebih tua.

Tes ini diutamakan untuk wanita hamil yang berisiko tinggi, yaitu :
O Wanita yang mempunyai riwayat keluarga dengan gangguan genetik.
O Wanita berusia di atas 35 tahun.
O Wanita yang memiliki hasil tes yang abnormal terhadap sindrom down pada trimester pertama
kehamilan.
O Wanita dengan kelainan pada pemeriksaan USG
O Wanita dengan sensitisasi Rh.
Melalui tes ini, kita akan mengetahui bila ada kelainan janin, kelainan bawaan, jenis kelamin
bayi, tingkat kematangan paru janin, dan mengetahui ada tidaknya infeksi cairan amnion
(korioamnionitis).


Chorionic viIIus sampIing (CVS)
ampir sama dengan Amniosintesis, Chorionic villus sampling (CVS) adalah tes yang dilakukan
pada awal kehamilan untuk melihat masalah pada perkembangan bayi dari bu yang memiliki
riwayat masalah genetik. Apalagi bila bu berusia 35 tahun atau lebih saat hamil.

Tapi proses pemeriksaan ini dilakuakn pada awal kehamilan dengan mengambil jaringan pada
plasenta dari dalam rahim melalui pembedahan serviks selama setengah jam.

Sebelum melakukan tes ini, konsultasikan pada dokter bersama suami. Karena sekecil apapun,
resiko keguguran bias terjadi. Cari informasi sebanyak mungkin dan siapkan mental bu untuk
menjalaninya.

Bila sudah siap, cobalah rileks beberapa hari sebelum pemeriksaan.

Tes toIeransi guIa darah / GIucose toIerance tests

Tes ini berguna untuk mengetahui apakah bu mengalami diabetes atau tidak. bu hamil juga
memiliki kemungkinan mengalami Diabetes Melitus atau pada ibu hamil disebut Diabetes
Melitus Gestasional.

bu yang berusia di atas 35 tahun, gemuk sekali, dan pernah mengalami pada kehamilan
sebelumnya disarankan untuk melakukan pemeriksaan ini.

Kalau diyantakan postif diabetes, bu wajib menjalankan diet diabetes dan minum anti-diabetis
oral. Kalau kadar gula darah terlalu tinggi, mungkin bu perlu dirawat untuk diberikan suntikan
insulin.

Bila pada pemeriksaan berat badan bayi besar sekali, maka perlu dilakukan induksi pada
kehamilan minggu ke 36 sampai 38 agar tidak terjadi komplikasi saat persalinan.

Setelah bayi lahir , umumnya kadar gula darah akan kembali normal.Tapi bila tidak, perlu
dilanjutkan pemberian antidiabetes oral sampai jangka waktu tertentu.
Tes Darah

Selama hamil, mungkin bu perlu melakukan pemeriksaan darah beberapa kali. Jangan
khawatir, pemeriksaan ini tidak beresiko terhadap bayi.

Melalui pemeriksaan darah, bisa diketahui:
O Kadar zat besi dalam darah. Bila rendah, bu akan merasa mudah lelah dan lesu. Masih ingat
kan, makanan sumber zat besi yang perlu bu konsumsi? Bayam dan daging merah. Bila kadar
zat besi bu berubah-ubah selama kehamilan, jangan ragu melakukan tes lagi di kehamilan 28
minggu.
O Golongan darah dan faktor Rhesus bu. Dokter harus mengetahui golongan darah bu, apakah
darah bu Rhesus positive (R) atau Rhesus negative (R-). Bila darah bu R- dan bu
mengandung bayi dengan R, tubuh bu akan memproduksi antibodi untuk
melawan/menentang sel-sel darah R . ni berbahaya bagi bayi bu. Kalau dokter sudah
mengetahui golongan darah bu, kemungkinan yang akan terjadi bisa diatasi.
O nfeksi akibat virus Toxoplasma, Rubella, dan Cytomegalovirus yang berbahaya bagi
kesehatan bayi, pemeriksaan yang sering disebut pemeriksaan TORC ini perlu untuk melihat
adanya antibodi dalam darah bu.
O Penyakit lain seperti V B, Syphilis, bahkan V/ADS.

Tes Urin

Tes urin tidak hanya dilakukan saat memastikan kehamilan. Setelah hamil, tes urin juga perlu
dilakukan untuk mengetahui apakah bu terpapar obat-obatan tertentu, alkohol, bahkan
narkotika.

Efek penggunaan obat tertentu berdampak buruk bagi perkembangan otak bayi. Penggunaan
terus menerus, terutama pada awal kehamilan, bisa mengacaukan sistem syaraf bayi.

Selain itu, tes urine juga berguna untuk menghindari:
O nfeksi Saluran kencing. Protein dalam urin bisa menjadi tanda adanya.
O Diabetes karena glukosa dalam urin dapat mengindikasikan tingginya kadar gula.
!emeriksaan kehamiIan merupakan salah satu tahapan penting menuju kehamilan yang sehat. Boleh
dikatakan pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para ibu hamil. Pemeriksaan
kehamilan dapat dilakukan melalui dokter kandungan atau bidan dengan minimal pemeriksaan 3 kali
selama kehamilan yaitu pada usia kehamilan trimester pertama, trimester kedua dan pada kehamilan
trimester ke tiga, itupun jika kehamilan normal. Namun ada baiknya pemeriksaan kehamilan dilakukan
sebulan sekali hingga usia 6 bulan, sebulan dua kali pada usia 7 - 8 bulan dan seminggu sekali ketika
usia kandungan menginjak 9 bulan.

Kenapa pemeriksaan kehamilan begitu penting yang wajib dilakukan oleh para ibu hamiI? karena dalam
pemeriksaan tersebut dilakukan monitoring secara menyeluruh baik mengenai kondisi ibu
maupun janinyang sedang dikandungnya. Dengan pemeriksaan kehamilan kita dapat mengetahui
perkembangan kehamilan, tingkat kesehatan kandungan, kondisi janin, dan bahkan penyakit atau
kelainan pada kandungan yang diharapkan dapat dilakukan penanganan secara dini.

Berikut diterangkan mengenai hal apa saja yang dilakukan dalam pemeriksaan kehamilan, sebagai
bahan pengetahuan bagi para ibu hamil agar menuju kehamilan yang sehat dan keluarga yang
berkualitas.

!emeriksaan Berat Badan
Pemeriksaan berat badan dilakukan setiap kali ibu hamil memeriksakan kandungannya, hal ini dilakukan
untuk mengetahui pertambahan berat badan, serta apakah pertambahan berat badan yang dialami
termasuk normal atau tidak. Pertambahan berat badan yang normal akan sangat baik bagi kondisi ibu
maupun janin. Sebaliknya, jika pertambahan berat yang dialami tidak normal, akan menimbulkan resiko
pada ibu dan janin. Bagi ibu hami yang mengalami pertambahan berat badan yang tidak normal, dokter
atau bidan akan memberikan saran yang sebaiknya dilakukan agar ibu hamil memperoleh pertambahan
berat badan yang normal.

!emeriksaan Tinggi Badan
Pemeriksaan tinggi badan juga dilakukan saat pertama kali ibu melakukan pemeriksaan. Mengetahui
tinggi badan sangat penting untuk mengetahui ukuran panggul si ibu. Mengetahui ukuran panggul ibu
hamil sangat penting untuk mengetahui apakah persalinan dapat dilakukan secara normal atau tidak.
Karena jika diketahui bahwa tinggi badan ibu dianggap terlalu pendek, dikhawatirkan memiliki panggul
yang sempit dan juga dikhawatirkan proses persalinan tidak dapat dilakukan secara normal, dan hal ini
harus dilakukan secara caesar. Dengan diketahuinya hal ini secara dini, maka ibu hamil diaharapkan
segera menyiapkan diri baik dari segi materi dan mental untuk menghadapi persalinan dengan caesar.

!emeriksaan Urin
Pemeriksaan urin dilakukan untuk memastikan kehamilan. Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan untuk
mengetahui fungsi ginjal ibu hamil, ada tidaknya protein dalam urin, dan juga mengetahui kadar gula
dalam darah. Adanya protein dalam urin mengarah pada pre-eklampsia. Sedangkan kadar gula darah
dapat menunjukkan apakah ibu hamil mengalami diabetes melitus atau tidak.

!emeriksaa Detak Jantung
Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui apakah janin dalam berada dalam kondisi sehat dan baik.
Permeriksaan detak jantung ini biasanya menggunakan Teknik Doopler sehingga ibu hamil dapat
mendengarkan detak janin yang dikandungnya.

!emeriksaan DaIam
Dilakukan untuk mengtahui ada tidaknya kehamilan, memeriksa apakah terdapat tumor, memeriksa
kondisi abnormal di dalam rongga panggul, mendiagnosis adanya bisul atau erosi pada mulut rahim,
melakukan pengambilan lendir mulut rahim (5,5820,7), mengetahui ada tidaknya penyakit kehamilan,
mengetahui letak janin, dan untuk mengetahui ukuran rongga panggul sebagai jalan lahir bayi. Biasanya
pemeriksaan ini dilakukan di awal kehamilan.

!emeriksaan !erut
Dilakukan untuk melihat posisi atas rahim, mengukur pertumbuhan janin, dan mengetahui posisi janin.
Pemeriksaan ini harus dilakukan secara rutin setiap kali dilakukan pemeriksaan dengan dokter
kandungan atau bidan.

!emeriksaan Kaki
Dilakukan untuk mengetahui adanya pembengkakan (oedema) dan kemungkinan varises.
Pembengkakan yang terjadi di minggu-minggu akhir kehamilan adalah normal, namun pembengkakan
yang berlebihan menandakan pre-eklampsia,

!emeriksaan Darah
Pemeriksaan darah bertujuan untuk mengetahui kesehatan umum ibu hamil. Pemeriksaan darah juga
dapat dilakukan dengan pemeriksaan AFP (alpha fetoprotein). Pemeriksaan ini bertujuan untuk
mengetahui kemungkinan gangguan saluran saraf tulang belakang dan untuk mendeteksi otak janin.
Kadar AFP yang rendah menunjukkan adanya kemungkinan down sindorm pada janin. Biasanya
pemeriksaan AFP dilakukan pada usia kehamilan sekitar 15-20 minggu.

Uji TORCH (Toksoplasma Rubella Cytomegalovirus Herpesimpleks)
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi parasit seperti TORC di dalam tubuh ibu hamil. nfeksi
TORC biasanya menyebabkan bayi terlahir dengan kondisi cacat atau mengalami kematian.
Pemeriksaan TORC dilakukan dengan menganalisis kadar imunogloblin G (gG) dan imunoglobin M
(gM) dalam serum darah ibu hamil. Kedua zat ini termasuk ke dalam sistem kekebalan tubuh. Jika ada
zat asing atau kuman yang menginfeksi tubuh, maka tubuh akan memproduksi gG dan gM untuk
melindungi tubuh. Banyak sedikitnya gG dan gM dalam serum darah mengindikasikan ada tidaknya
infeksi serta besar kecilnya infeksi. Jika hasil gG negatif, berarti infeksi terjadi pada masa lalu dan kini
sudah tidak aktif lagi. Jika hasil gM positif, berarti infeksi masih berlangsung aktif dan ibu hamil
memerlukan pengobatan agar janin dalam kandungan yang terinfeksi dapat segera ditangani sehingga
infeksi tidak semakin buruk.