Anda di halaman 1dari 20

ISSN 2088-3153

TINJAUAN EKONOMI DAN KEUANGAN


MENSINERGIKAN PEMBANGUNAN EKONOMI
Volume 1 Nomor 11 - Nopember 2011 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

SINERGI PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MINERAL


Inisiatif Transparansi Penerimaan Negara di Sektor Industri Ekstraktif
16

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

Membangun Sinergi Menghadapi Tantangan Gejolak Ekonomi Global

LIPUTAN: PT. PERTAMINA

Liputan: PT. Pertamina

TINJAUAN EKONOMI DAN KEUANGAN


KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN VOLUME 1 NOMOR 11 - NOPEMBER 2011 DAFTAR ISI
Editorial Perkembangan Ekonomi Makro
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2011 Perkembangan Ekspor Impor Perkembangan Inflasi Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan III-2011 Tingkat Pengangguran Menurun Pada Agustus 2011 2 3 4 4 5 1 REDAKSI Pembina
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian

Pengarah
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Deputi Ekonomi Makro dan Keuangan

Perkembangan Ekonomi Internasional


Laporan dari OECD Seminar: Financial Education for All 6

Koordinator
Bobby H. Rafinus

Perkembangan APBN
Menuju APBN yang Mensejahterakan Rakyat 7

Kontributor Tetap
Edi Prio Pambudi M. Edy Yusuf Mamay Sukaesih Tri Kurnia Ayu Rista Amallia Windy Pradipta Arin Puspa Nugrahani Ruth Nikijuluw Akbar Suwardi Ahmad Fikri Aulia Alexcius Winang Andi Komite Kebijakan KUR

Perkembangan Kebijakan dan Regulasi Ekonomi


Inisiatif Transparansi Penerimaan Negara di Sektor Industri Ekstraktif EITI Indonesia: Tantangan dan Manfaat Penerapannya Bagi Keuangan Negara Liputan Wawancara: Komitmen PT Pertamina dalam Mendukung EITI Membangun Sinergi Menghadapi Tantangan Gejolak Ekonomi Global 8 10 11 12

Perkembangan Sektor Keuangan


Liputan: First Microinsurance Marketplace in Indonesia Perkembangan Realisasi KUR per 31 Oktober 2011 Tinjauan Ekonomi Regional Triwulan III-2011 14 15 16

Perkembangan Penyaluran KUR

Kontributor Edisi Ini


Ambarsari Dwi Cahyani PT. Pertamina

Perkembangan Ekonomi dan Keuangan Daerah

Daftar Istilah

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan dapat didownload pada website www.ekon.go.id

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan diterbitkan dalam rangka meningkatkan pemahaman pimpinan daerah terhadap perkembangan indikator ekonomi makro dan APBN, sebagai salah satu Direktif Presiden pada retreat di Bogor, Agustus 2010

EDITORIAL
Professor Joseph E. Stiglitz mengungkapkan bahwa ia tertarik pada masalah ekonomi informasi diawali oleh kegundahan saat mengamati perkembangan kota Gary, di negara bagian Indiana Amerika Serikat di awal tahun 1960-an. Dalam pengamatannya, kota yang dibangun pada tahun 1906 oleh perusahaan US Steel, masih dihadapkan pada masalah kemiskinan, pengangguran berkala, dan rasilialisme yang masif di tengah kejayaan industri baja di Amerika Serikat pada waktu itu. Ketimpangan kemajuan ekonomi dengan kesejahteraan masyarakat juga ditemui Stiglitz di Kenya pada akhir tahun 1960-an. Cerita kedua pengamatan tersebut disampaikan pada awal makalahnya yang berjudul Information and the Change in the Paradigm of Economics (2001). Makalah ini membedah pengaruh faktor ketidaksempurnaan informasi di antara pelaku ekonomi dalam ekonomi pasar (market economics) dan ekonomi politik (political economy). Mereduksi asimetri informasi semakin disadari penting setelah melihat dampak krisis ekonomi dan keuangan global yang begitu dahsyat terhadap kesejahteraan masyarakat dalam dekade terakhir ini. Banyak negara mulai memberikan perhatian khusus pada pendidikan keuangan dan perlindungan konsumen agar masyarakat semakin mengetahui produk dan layanan lembaga keuangan yang terbaik bagi kebutuhannya. Gerakan serupa juga digalakkan di sektor produksi yaitu berupa inisiatif membangun transparansi penerimaan di sektor pertambangan dan migas yang dikenal dengan Extractive Industries Transparency Initiative (EITI). Melalui inisiatif EITI ini diharapkan terbangun kepercayaan antara masyarakat, pemerintah, dan industri migas dan tambang mengenai penerimaan yang diperoleh dari hasil pengolahan industri tersebut. Langkah Langkah ini penting bagi negara yang sedang dalam upaya meningkatkan penerimaan negara dari sektor tersebut, seperti Indonesia. Dalam sepuluh tahun terakhir kontribusi sektor pertambangan menurun tajam dalam Produk Domestik Bruto dari 13,78% tahun 2000 menjadi 11,2% tahun 2010. Iklim usaha di sektor ini, khususnya migas, kurang menarik akibat ketidakpastian peraturan yang didorong oleh ketidakpercayaan terhadap besaran penerimaan industri dan bagian dari penerimaan tersebut yang diberikan kepada pemerintah. Disamping itu juga menyangkut ketidakpuasan pemanfaatan penerimaan tersebut terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya yang bermukim di sekitar wilayah eksplorasi. Sebagai negara yang masuk dalam kategori kandidat EITI sejak Oktober 2010, Indonesia memiliki waktu 2,5 tahun hingga April 2013 untuk menunjukkan kepatuhannya membangun transparansi pelaporan penerimaan oleh industri maupun pemerintah. Lembaga masyarakat berperan memastikan bahwa publikasi laporan kedua belah pihak sesuai ketentuan yang ada. Saat ini sudah terdaftar 62 perusahaan yang terdiri 129 unit produksi migas dan tambang, serta 88 mitra perusahaan migas yang wajib mengisi template pelaporan untuk penerimaan tahun 2009. Sementara itu, instansi Pemerintah yang akan melapor, yaitu BPMIGAS, Ditjen Migas, Ditjen Anggaran, Ditjen Minerba, dan Ditjen Pajak. Penerapan EITI diyakini akan meningkatkan daya tarik investasi di sektor migas dan tambang, sebagaimana telah dialami Nigeria. Faktor luas wilayah dan keragaman sumber tambang kiranya bukan halangan untuk menerapkan EITI jika ada sinergi mengerjakannya. (Ayo) Indonesia bisa. (BHR).

Indikator Ekonomi
Indikator Inflasi (% yoy) Indeks Harga Saham Gabungan Harga Minyak ICP (USD per barel) Indeks Harga Perdagangan Besar Cadangan Devisa* (USD milyar) Nilai Tukar Petani Nilai Tukar (Rp/USD) Pertumbuhan Ekonomi Tw.III-2011 (%) Tingkat Pengangguran (Aug. 2011) (%)
*kumulatif, NPI : Neraca Pembayaran Indonesia,

Okt 2011

Sept 2011

Indikator Utang Pemerintah* (USD milyar) Ekspor (USD juta) Impor (USD juta) Wisatawan Mancanegara (ribu orang) Suku Bunga Kredit Modal Kerja Bank (%) Realisasi Belanja APBN s.d 30 Sept 2011 (Rp. Tr)* Realisasi Pendapatan APBN s.d 30 Sept2011 (Rp. Tr)* PDB Nominal Tw III-2011 (Rp. Triliun) Defisit NPI Tw III-2011 (USD miliar)

Sept 2011 198,90

Aug 2011 203,35

4,42% 3.569,78 109,25 184,64 $113,96 105,51 8835


6,50 6,56

4,61% 3.549,03 111,00 184,27 $114,50 105,17 8.823

$17,82 $15,10
650,1 12,39 773,6 820,3 1.923,6 3,96

$18,81 $15,05
621,08 12,50

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | November 2011

Perkembangan Ekonomi Makro

PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN III-2011


Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2011 sebesar 3,5% qtq atau sebesar 6,5% yoy dengan nilai PDB nominal sebesar Rp 1.923,6 triliun. Pencapaian ini mengindikasikan bahwa dampak gejolak ekonomi global terhadap perekonomian domestik belum signifikan. Pertumbuhan ekonomi masih mengandalkan perekonomian domestik. Kontribusi PDB pada triwulan III-2011 terbesar berasal dari konsumsi rumah tangga sebesar 54,2%. Pertumbuhan ekonomi triwulan III-2011 juga dipengaruhi oleh faktor musiman, seperti tahun ajaran baru, puasa dan lebaran. Ekspor dan konsumsi yang cukup tinggi mendorong pertumbuhan ekonomi triwulan III-2011. Net ekspor menjadi sumber pertumbuhan tertinggi, yakni 3,3% dan diikuti oleh konsumsi masyarakat sebesar 2,7%. Pertumbuhan ekspor mencapai 18,5% yoy lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 17,4% yoy. Kontribusi net ekspor yang tinggi ini dipengaruhi antara lain oleh kenaikan permintaan ekspor dari Cina dan pemulihan ekonomi Jepang pasca tsunami Maret lalu. Sedangkan konsumsi masyarakat tetap tinggi akibat faktor musiman (tahun ajaran baru, puasa dan lebaran) dan peningkatan pendapatan masyarakat. Hal ini tercermin dari indeks tendensi konsumen triwulan III-2011. Investasi PMTB juga menjadi sumber pertumbuhan yang cukup besar, yakni 1,7%.
PDB Menurut Penggunaan

pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak berasal dari sektor yang berbasis pasar dalam negeri (nontradable goods) sebesar 4,3% dari 6,5% atau sekitar 66% dari PDB. Secara tahunan (% yoy), pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 10,1% yoy lebih tinggi dibandingkan dengan Q3-2011. Sementara secara quartal (% qtq), pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan sebesar 5% qtq. Pertumbuhan sektor ini cukup tinggi karena permintaan komoditas terus meningkat karena pertumbuhan ekonomi negara-negara mitra utama seperti Cina. Tingkat optimisme para pelaku bisnis meningkat sepanjang triwulan III-2011 terlihat dari indeks tendensi bisnis yang naik di semua sektor. Kondisi bisnis pada Triwulan III-2011 meningkat karena adanya peningkatan pendapatan usaha, penggunaan kapasitas produksi, dan rata-rata jam kerja. Spasial pertumbuhan ekonomi triwulan III-2011 masih didominasi oleh Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 57,7% kemudian Pulau Sumatera sebesar 23,6%. (MS)
Perkembangan Net Ekspor

PDB Menurut Lapangan Usaha

Menurut lapangan usaha (secara sektoral), sumber pertumbuhan terbesar berasal dari sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,7%. Sektor lain yang mengikuti adalah sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 0,9%. Dari ke-9 lapangan usaha yang dihitung dalam PDB, sumber pertum

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

Perkembangan Ekonomi Makro

PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR


Meskipun kondisi global tengah dalam ketidakpastian, neraca perdagangan Indonesia masih tumbuh positif hingga September 2011. Dari Januari hingga September 2011 perdagangan Indonesia tercatat surplus sebesar US$22,5 miliar disumbang oleh non-migas sebesar US$21,1 miliar dan migas sebesar US$1,5 miliar. Kinerja ekspor Indonesia hingga September 2011 juga masih terlihat penguatan. Hal ini menguatkan optimisme bakal tercapai target total ekspor 2011 sebesar US$200 miliar. Dalam kurun waktu Januari-September 2011, ekspor sudah mencapai US$153 miliar atau tumbuh 37,5% (yoy) di mana ekspor non-migas tumbuh sebesar 31,7% (yoy) dan ekspor migas tumbuh lebih besar lagi, yaitu 65,5% (yoy). Sayangnya, dibandingkan dengan bulan sebelumnya, total ekspor mengalami penurunan sebesar 4,5% (mtm), dari US$18,6 miliar pada Agustus menjadi US$17,8 miliar pada September. Penurunan ekspor terjadi pada komoditas non-migas sebesar 6,2% (mtm). Barang-barang industri masih mendominasi ekspor nonmigas (grafik 4). Walaupun semua sektor menyumbang peningkatan ekspor non-migas periode JanuariSeptember 2011, pertumbuhan ekspor tertinggi terjadi di sektor industri sebesar 33,4% (yoy), diikuti oleh sektor pertambangan 30,3% (yoy) dan sektor pertanian 5,6% (yoy). Akan tetapi, pertumbuhan ekspor masing-masing sektor non-migas hingga September tahun ini ternyata masih lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor masing-masing sektor non-migas pada periode yang sama tahun 2010. Terutama untuk sektor pertanian dan pertambangan. Berdasarkan jenis komoditas, nilai ekspor dari 10 komoditas utama non-migas mengalami peningkatan. Komoditas yang mengalami pertumbuhan nilai ekspor terbesar adalah berbagai produk kimia, yaitu 125,2% (yoy). Sementara komoditas non-migas dengan nilai ekspor terbesar antara lain bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, serta karet dan barang dari karet. Pada sisi impor, bahan baku/penolong masih mendominasi impor (grafik 2). Selama Januari-September 2011, impor bahan baku/penolong mencapai US$97 miliar atau naik 37,1% (yoy). Impor barang modal dan konsumsi juga mengalami peningkatan masing-masing 18,4% dan 38,5% (yoy). Namun demikian, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, kenaikan impor ketiga barang tersebut di tahun 2011 ternyata lebih rendah. Berdasarkan transaksi perdagangan dengan negara mitra dagang, pertumbuhan ekspor Indonesia ke Amerika dan Eropa lebih rendah bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor ke Cina. Perlambatan perekonomian a

Amerika akibat krisis berpengaruh pada kinerja ekspor non-migas Indonesia ke Amerika. Hingga September 2011, ekspor ke Amerika masih tumbuh positif 22,3% (yoy) atau mencapai US$11,8 miliar. Begitu pun ekspor ke negara zona Eropa yang juga mengalami krisis seperti Jerman, Perancis dan Inggris,masing-masing hanya naik 16,9%, 17,9%, dan 1,5% (yoy). Ekspor non-migas Indonesia ke Jepang tercatat masih tumbuh positif 15,8% (yoy). Kenaikan signifikan terjadi pada ekspor Indonesia ke Cina hingga 60% (yoy) dan mencapai US$14,9 miliar. Dengan demikian pangsa ekspor ke Cina hingga September 2011 menjadi sebesar 12,3%. Lain halnya dengan pangsa ekspor ke Jepang dan Amerika justru menurun, masing-masing menjadi 11,3% dan 9,8%. Peningkatan ekspor ke Cina yang signifikan inidapat memperkecil defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Cina. Jika defisit perdagangan Indonesia dengan Cina selama Januari-September 2010 sebesar US$ 4,9 miliar, defisit tersebut mengecil menjadi US$ 3,7 miliar pada periode yang sama tahun 2011. Saat ini perlu tetap waspada tidak hanya pada dampak langsung krisis Amerika dan negara kawasan Eropa pada perlambatan perdagangan ekspor tetapi juga pada risiko dampak tidak langsung krisis terhadap kinerja ekspor. Cina adalah salah satu negara mitra dagang utama Amerika. Krisis yang terjadi di Amerika tentu akan mempengaruhi kegiatan perdagangan dan produksi Cina. Indonesia yang lebih banyak mengekspor bahan baku kegiatan produksi ke Cina berpotensi menghadapi risiko bila ekspor Cina ke Amerika terganggu. (TKA)

5 Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

Perkembangan Ekonomi Makro

PERKEMBANGAN INFLASI
Pada Oktober 2011 mengalami deflasi sebesar -0,12% mtm, terutama disebabkan oleh deflasi pada komponen inti (core inflation) dan komponen barang bergejolak (volatile food). Sepanjang tahun 2011 ini telah terjadi deflasi dua kali, yakni Maret dan Oktober 2011. Oleh karena itu, secara tahunan, inflasi pada Oktober 2011 sebesar 4,42% yoy, lebih rendah bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya (4,61% yoy). Selama Januari Oktober, inflasi relatif rendah, yakni 2,85%. Dari angka tersebut berarti hanya tersisa 2,45% terhadap target inflasi APBN-P tahun 2011 sebesar 5,3%. Inflasi tahun 2011 diperkirakan akan menuju batas bawah sasaran inflasi yang ditetapkan sebesar 5% 1% setelah mempertimbangkan berbagai resiko ke depan. Deflasi komponen inti pada Oktober 2011 tercatat sebesar -0,12% mtm lebih dipengaruhi oleh penurunan harga emas internasional dan ekspektasi inflasi yang terus membaik. Deflasi komponen inti ini merupakan yang kedua kalinya sejak April 2009 setelah dampak lanjutan dari penurunan harga BBM bersubsidi. Namun, deflasi komponen inti cenderung bersifat temporer karena faktor penyebab berasal dari penurunan harga emas dan koreksi tarif angkutan yang masih tersisa pasca hari raya. Secara tahunan, core inflation pada Oktober 2011 tercatat sebesar 4,43% yoy lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (4,93% yoy). Komponen volatile food juga mengalami deflasi sebesar 0,37% mtm pada Oktober 2011. Koreksi harga masih berlanjut pada sebagian besar komoditas pangan kecuali beras dan cabe merah. Secara tahunan, inflasi volatile food tercatat sebesar 5,78% yoy. Setelah sempat mencapai level yang cukup tinggi pada awal tahun 2011 yaitu 18,25% yoy, inflasi volatile food dalam 10 bulan terakhir terus menurun. Tingkat inflasi volatile foods yang rendah tersebut terjadi karena kondisi pasokan yang memadai (produksi bahan pangan dan impor) serta distribusi yang semakin lancar. Dari sisi spasial, koreksi tajam harga bahan makanan terutama terjadi di Kawasan Timur Indonesia dan DKI Jakarta menyebabkan deflasi volatile food secara nasional.
Perkembangan Inflasi

Untuk inflasi komponen yang harganya diatur pemerintah (administered prices) masih cukup terjaga sebesar 0.16% mtm atau 2.91% yoy pada Oktober 2011. Kebijakan Pemerintah berupa kenaikan tarif tol hanyak berdampak minimal terhadap inflasi administered prices, yaitu kurang dari 0,01%. Sumbangan inflasi terutama berasal dari komoditas rokok kretek (0,03%) dan bensin (0,01%) Menurut data per kota secara bulanan (% mtm) , dari 66 kota terjadi deflasi di 34 kota sementara 32 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kendari sebesar -2,98% sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Bima sebesar 0,96% yoy. (MS) 7

Inflasi Menurut Komponen

PERKEMBANGAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA TRIWULAN III-2011


Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan III 2011 mengalami defisit sebesar US$ -3,96 miliar. Defisit NPI ini terutama disebabkan oleh defisit neraca modal dan finansial sebesar US$ -3,39 miliar yang bersumber dari defisit investasi portofolio sebesar US$ -4,7 miliar. Sedangkan transaksi berjalan masih surplus sebesar US$ 0,2 miliar. Akibatnya, cadangan devisa turun menjadi US$ 114,5 miliar pada akhir September 2011. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 6,6 bulan. Transaksi modal dan finansial mengalami defisit akibat arus keluar modal sebagian investor asing dari pasar surat utang negara dan pasar saham domestik juga karena jumlah SBI milik investor asing yang jatuh tempo. Pembalikan arus modal asing (capital reversal) mencapai US$ -4,8 miliar dipicu oleh sentimen negatif atas kondisi zona Eropa. Yunani belum memenuhi target disiplin anggaran sebagaimana yang ditetapkan dalam kewajiban untuk mendapat dana talangan. Pada saat yang bersamaan, salah satu bank milik Perancis di Belgia yaitu Bank Dexia mengalami kebangkrutan dan harus dibail-out. Meskipun terjadi outflow secara kumulatif Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011 4

Perkembangan Ekonomi Makro


kumulatif dari triwulan I sampai dengan triwulan III-2011, aliran modal asing netto masih positif sebesar US$ 4,39 miliar. Investasi langsung juga mengalami surplus sebesar US$2,39 miliar. Minat investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia masih tetap tinggi karena iklim investasi yang kian kondusif dan stabilitas perekonomian domestik terjaga baik. Aliran masuk PMA mencapai US$3,7 miliar pada triwulan III-2011. Namun, surplus transaksi berjalan pada triwulan III-2011 semakin kecil menjadi US$ 0,2 miliar. Hal tersebut terjadi karena defisit pada neraca pendapatan sebesar US$ 7,59 miliar. Neraca pendapatan ini adalah keuntungan investasi di Indonesia. Kenaikan defisit neraca pendapatan bersumber dari kenaikan pembayaran pendapatan investasi portofolio berupa deviden dan bunga atas kepemilikan surat-surat berharga oleh non residen.Selain neraca pendapatan, juga terdapat defisit neraca jasa-jasa sebesar US$ -2,8 miliar. Selain kedua komponen tersebut, neraca transaksi berjalan juga dibentuk dari neraca perdagangan (kegiatan ekspor-impor) yang tercatat surplus sebesar US$ 9,56 miliar. Ekspor yang menguat terlihat dari kinerja ekspor non-migas dan migas triwulan III yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya. Defisit neraca perdagangan minyak berkurang karena kenaikan produksi minyak, sementara impor minyak turun sejalan dengan perkembangan harga minyak yang cenderung menurun. (MS) 8 Begitu pula dengan jumlah angkatan kerja yang menurun sebesar 2,03 juta orang. Penurunan angkatan kerja ini disebabkan oleh pekerja di sektor pertanian yang mempensiunkan diri akibat musim kemarau panjang tahun ini. Penurunan jumlah angkatan kerja telah menurunkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Agustus 2011 sebesar 1,62% dari Februari 2011. Tingkat penyerapan tenaga kerja terbesar selama Februari-Agustus 2011 terjadi pada sektor industri dan sektor konstruksi, masing-masing sebesar 840 ribu orang (6,13%) dan 750 ribu orang (13,42%). Sementara tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian turun akibat musim kemarau panjang. Begitu pula dengan sektor pergudangan (karena kuli gudang tidak bekerja saat libur puasa) dan sektor komunikasi (karena pensiun dini di PT Telkom). Penyerapan tenaga kerja dalam enam bulan (FebruariAgustus 2011) masih didominasi oleh pekerja yang berpendidikan rendah. Hal tersebut memberi indikasi bahwa kualitas pekerja Indonesia masih tergolong rendah. Hampir 50% pekerja Indonesia berpendidikan SD ke bawah menurut laporan Agustus 2011. Menurut kegiatan formal-non formal, sekitar 41,5 juta orang (37,83%) bekerja pada kegiatan formal dan 68,2 juta orang (62,17%) bekerja pada kegiatan informal pada Agustus 2011. Adapun menurut jumlah kerja, sekitar 1,4 juta orang yang bekerja kurang dari 8 jam per minggu (sekitar 1,31% dari total penduduk yang bekerja). Tingkat pengangguran terbuka menurut pendidikan didominasi oleh lulusan SMA dan SMK, masing-masing sebesar 10,66% dan 10,43%. Selama Februari-Agustus 2011 tingkat pengangguran terbuka lulusan SMA, diploma dan universitas mengalami penurunan, masing-masing sebesar 10,66%, 7,16% dan 8,02% pada Agustus 2011. (MS) Perkembangan Pengangguran 9

Perkembangan Neraca Pembayaran

TINGKAT PENGANGGURAN MENURUN 0,24% SELAMA FEBRUARI - AGUSTUS 2011


Dari bulan Februari sampai Agustus 2011, tingkat pengangguran terbuka turun sebesar 0,24% atau berkurang sebanyak 420.000 orang. Pada Agustus 2011, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 6,56% lebih rendah sedikit dibandingkan kondisi Februari 2011 sebesar 6,80%. Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

Perkembangan Ekonomi Internasional

LAPORAN DARI OECD SEMINAR: FINANCIAL EDUCATION FOR ALL


Krisis ekonomi 2011 saat ini memberikan pelajaran mengenai pentingnya perilaku masyarakat yang sedang bekerja untuk mulai mempersiapkan tabungan untuk hari tua. Jika kultur ini diabaikan maka akan ada resiko yang besar yaitu berlebihnya ketergantungan kepada negara pada masa usia lanjut mereka. Ketergantungan tersebut mendorong berlebihnya utang pemerintah untuk membiayai program jaminan sosial dan selanjutnya kegagalan membayar kewajiban utang. Demikian butir akhir dari sambutan Wakil Menteri Keuangan Afrika Selatan pada OECD/IOPS Global Forum on Private Pensions di Cape Town pada tanggal 25 Oktober 2011. Sebagai kelanjutan forum tersebut, maka pada salah satu acara Workshop Financial Education for ALL tanggal 2627 Oktober 2011 dibahas mengenai pendidikan keuangan yang terkait dengan produk dana pensiun. Survey mendalam (in-depth survey) di beberapa negara OECD pada tahun 2004-2005 menunjukkan masyarakat negara maju pun masih rendah pengetahuan keuangannya (financial literate) khususnya terhadap produk dana pensiun. Hal ini antara lain tercermin dari rendahnya minat menabung untuk mendapatkan dana pensiun yang memadai. Hanya empat dari sepuluh pekerja di Amerika Serikat yang menyisihkan tabungan untuk pensiun. Sementara di Selandia Baru masih sekitar 30% masyarakat yang tidak mau menabung untuk dana pensiun dan cenderung belanja yang berlebih. Di Irlandia sekitar 52% pekerjanya melakukan investasi untuk pensiun. Survey juga menunjukkan diantara masyarakat yang sudah menabung, sebagian besar belum bijak dalam memilih piranti investasi untuk dana pensiun dengan skema kontribusi pasti (define contribution). Dalam skema ini dana pensiun yang akan dinikmati seseorang nantinya tergantung pada besaran tabungan dan hasil akumulasi pendapatan dari investasi portofolio pilihannya, seperti obligasi dan saham. Hasil survey di Inggeris, Jepang, dan Australia menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui perhitungan dana pensiun dengan benar sehingga kurang cermat dalam memilih piranti investasi. Hasil survey tersebut menyarankan diperlukannya pendidikan keuangan agar dana pensiun bermanfaat optimal. Dana pensiun memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk keuangan lain karena merupakan tabungan berjangka panjang dan mencakup masyarakat luas termasuk yang kurang berpendidikan dan berpendapatan rendah. Selain itu hasil produk ini elatif sulit dipahami karena menyangkut aspek perpajakan, penghasilan jangka panjang, serta valuasi aktiva

aktiva dan pasiva. Ketimpangan pemahaman akan berbagai aspek tersebut merupakan penyebab asimetri informasi antara penyelenggara dana pensiun dengan calon nasabahnya. Indonesia akan memasuki periode pelaksanaan jaminan sosial yang universal dengan ditetapkannya UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial pada akhir Oktober 2011 yang lalu. Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun akan diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial II. Transformasi perusahaan yang menyelenggarakan jaminan tersebut, yaitu Jamsostek dan Taspen direncanakan berakhir 1 Januari 2014. Sedangkan operasionalisasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial II ditetapkan Juli 2015. Dalam UU nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, diwajibkan kepada pekerja dan pemberi kerja menjadi peserta jaminan sosial secara bertahap. Dengan arahan UU 40/2004 tersebut dan sudah adanya kejelasan jadwal operasionalisasi BPJS , maka pendidikan keuangan tentang dana pensiun kepada masyarakat perlu segera dilakukan. Pemerintah bersama penyelenggara dana pensiun seyogyanya mulai menyusun materi pendidikan keuangan untuk beberapa skema dana pensiun, seperti manfaat pasti (define benefit) dan kontribusi pasti (define contribution). (BHR)

OECD/IOPS Global Forum on Private Pensions di Cape Town

Sambungan Halaman 7: Menuju APBN yang Mensejahterakan Rakyat Kedua, banyak pekerjaan yang dibatalkan karena waktu yang terlalu sempit untuk melakukan lelang. Inilah yang menyebabkan inefisiensi anggaran yang semestinya dapat disalurkan secara timely. Ketua Kaukus Ekonomi Konstitusi DPR RI, Arif Budimanta, sebagai pembicara berpendapat bahwa optimalisasi penyerapan anggaran perlu dilakukan sejak triwulan I. Ia pun menyoroti program kemiskinan yang sebaiknya dibuat lebih banyak pada program produktif agar rakyat miskin dapat dientaskan dari kemiskinan secara permanen. (TKA) Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

Perkembangan APBN

MENUJU APBN YANG MENSEJAHTERAKAN RAKYAT


APBN menjadi panduan keberlangsungan negara selama periode satu tahun anggaran. APBN juga menjadi cerminan sebesar apa tanggung jawab negara mensejahterakan rakyat. Oleh karena itu, pengelolaan Keuangan Negara harus dilaksanakan secara profesional, terbuka dan bertanggung jawab demi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat yang diwujudkan secara kuantitatif dalam postur APBN. Pada bulan Oktober 2011 lalu, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) dalam rangka memperingati Hari Keuangan menggelar seminar nasional mengambil tajuk Menuju APBN yang Mensejahterakan Rakyat. Pada seminar ini, Kepala BKF, Bambang P.S. Brodjonegoro menjelaskan arah kebijakan fiskal dalam upaya menjaga kesinambungan fiskal dan mencapai sasaran pembangunan jangka pendek dan jangka panjang bersandar pada 4 pilar, yaitu pro-growth, pro-job, pro-poor, pro-environment. Dalam mengendalikan kesinambungan fiskal, sejumlah strategi telah disiapkan oleh Pemerintah, antara lain: (1) optimalisasi pendapatan negara dengan mempertimbangkan iklim dunia usaha, (2) meningkatkan efisiensi dan efektifitas belanja negara melalui peningkatan quality spending. Dalam hal ini, peningkatan belanja infrastruktur harus diikuti dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi, penurunan pengangguran dan pengentasan kemiskinan. (3) mengendalikan defisit dalam batas aman, yaitu di bawah 3%, dan (4) mengurangi utang secara bertahap dan mencari sumber pembiayaan yang rendah risiko. Terkait peningkatan dan perluasan program pro rakyat, Pemerintah telah mengalokasikan sejumlah anggaran program yang termasuk dalam klaster Master Plan Ekonomi di antaranya untuk program Jamkesmas, PKH, BOS, Raskin, BLT, PNPM, dan KUR. Bambang juga menjelaskan adanya dukungan penguatan program pro rakyat (klaster 4) dalam kebijakan belanja pemerintah pusat tahun 2012. Sejumlah program yang termasuk dalam klaster 4 ini, antara lain: program rumah sangat murah, kendaraan angkutan umum murah, air bersih untuk rakyat, listrik murah dan hemat, peningkatan taraf hidup nelayan, dan peningkatan kehidupan masyarakat pinggir. Sejumlah pembicara yang hadir dalam seminar ini memandang penting bagi Pemerintah untuk melakukan pengelolaan APBN secara lebih efisien dan efektif dengan mempertimbangkan berbagai persoalan pengelolaan yang terjadi selama ini. Menurut Ketua Badan Anggaran DPR RI, Melchias Markus Mekeng, dibutuhkan beberapa perubahan mendasar pada APBN untuk mencapai tujuan kesejahteraan rakyat.

Pertama, struktur APBN perlu dirubah secara mendasar dengan mengurangi subsidi BBM pada sasaran yang tepat. Ia lalu menjelaskan bahwa dari hasil paparan Kementerian ESDM (2011), 25% kelompok rumah tangga (RT) dengan penghasilan per bulan tertinggi menerima alokasi subsidi sebesar 77%. Sementara 25% kelompok RT dengan penghasilan per bulan terendah hanya menerima subsidi sebesar 15%. Soal subsidi, Bambang menjelaskan bahwa porsi belanja subsidi memang masih cukup besar. Namun, porsi subsidi ini sudah menurun dari 33,4% pada 2005 menjadi 21,3% pada 2012. Hal ini sejalan dengan upaya mengalokasikan subsidi lebih tepat sasaran. Perubahan mendasar kedua adalah pembatasan jumlah pegawai yang terukur dengan kinerja. Hal ini dilakukan karena ruang gerak fiskal masih terbatas dimana belanja pusat lebih banyak digunakan untuk belanja rutin, terutama belanja pegawai. Pada RAPBN 2012, alokasi anggaran untuk belanja pegawai memiliki porsi paling besar yaitu 22,6%. Untuk itu, perbaikan mekanisme rekruitmen pegawai dan fungsi-fungsi pelayanan masyarakat harus ditingkatkan. Peningkatan belanja modal menjadi perubahan dasar lainnya yang perlu diperhatikan Pemerintah. Tidak hanya pada daerah-daerah yang selama ini tertinggal dalam pembangunan infrastruktur fisik, namun juga pada sektorsektor yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat, khususnya sektor pertanian dan industri pengolahan. Secara khusus anggaran harus menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru pada daerah-daerah yang selama ini miskin maupun tertinggal. Soal belanja modal ini, Bambang memberi fakta bahwa belanja modal terus mengalami peningkatan, misalnya 9,1% pada 2005 menjadi 17,6% pada 2012. Peningkatan ini bukti bahwa pemerintah terus mendukung percepatan pembangunan infrastruktur. Persoalan lama APBN adalah penyerapan anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) yang selalu menumpuk di akhir tahun anggaran dan menjadi penyebab lain inefisiensi. Dalam enam tahun terakhir, penyerapan anggaran rata-rata triwulan I sebesar 11,13%, triwulan II sebesar 21,40%, triwulan III sebesar 24,46% dan pada triwulan IV sebesar 43,01%. Secara keseluruhan, ratarata penyerapan belanja K/L berkisar 87,7%, indikasi bahwa penyerapan belum optimal. Menurut Bambang, penyebab utama adalah mekanisme pengadaan, masalah internal K/L, mekanisme revisi, dan masalah lain (iklim, geografis dan faktor kehati-hatian serta keterbatasan kapasitas pihak ketiga di daerah). Sebagai konsekuensi, antara lain: pertama, kualitas output tidak terjaga karena waktu pekerjaan, khususnya proyek fisik menjadi terlalu singkat. (Bersambung ke halaman 6 TKA) Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

Perkembangan Kebijakan dan Regulasi Ekonomi

INISIATIF TRANSPARANSI PENERIMAAN NEGARA DI SEKTOR INDUSTRI EKSTRAKTIF


Penerimaan negara dari sektor industri ekstraktif migas dan tambang berfluktuasi pada persentase 21%-30% sejak tahun 2008 dan cenderung menurun. Item penerimaan industri ekstraktif yang dimaksud ini meliputi pajak penghasilan migas dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari migas dan tambang (lihat tabel 1). Kontribusi industri tambang pada PNBP sendiri hanya berkisar pada 1%-1,3%. Pada tabel yang sama, pajak penerimaan non-migas berkontribusi antara 25%-31,6%, di mana di dalamnya termasuk pajak dari industri tambang mineral dan batubara. Item pajak penghasilan tambang ini tergabung dalam pajak penerimaan non-migas, sehingga kontribusinya terhadap penerimaan negara kurang dapat tergambar dengan jelas.
Tabel 1. Penerimaan Negara dari Industri Ekstraktif

tidak sebanding dengan 30% ekspor timah atau dengan 30% - 40% ekspor batubara ke pasar dunia. Kondisi ini mengundang pertanyaan seberapa cukup memadai penerimaan negara dari sektor industri ekstraktif. Permasalahan di Industri Ekstraktif Rantai permasalahan pada industri ekstraktif bermula sejak disepakatinya kontrak eksplorasi, eksploitasi, produksi, hingga penerimaan negara. Penerimaan negara adalah kontribusi yang diberikan dari perusahaan migas dan tambang kepada pemerintah. Secara ideal berdasarkan pada pasal 33 UUD 1945, penerimaan negara dari perusahaan migas dan tambang digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, termasuk di dalamnya adalah mengatasi kerusakan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan bagi bangsa Indonesia. Di Indonesia, terdapat lebih dari 6000 ijin eksploitasi tambang mineral dan batubara. Bukan rahasia, pengelolaan tambang di Indonesia rentan diikuti kerusakan lingkungan. Jumlah ijin yang sangat besar mendorong kerusakan lingkungan yang semakin massif. Hal ini kontras dengan tingkat penerimaan negara yang tidak memadai seperti dijelaskan di atas. Di sisi lain, tingkat kemiskinan di daerah penghasil tambang masih cukup kentara. Menyebut contoh, di Kutai Kartanegara, kabupaten penghasil migas dan batubara yang cukup besar, masih terdapat lebih dari 10% penduduk miskin. Demikian pula misalnya di Bangka yang memiliki lebih dari 250 Ijin Usaha Pertambangan timah, masih tercatat tak kurang dari 10% penduduk di bawah garis kemiskinan. Nilai kapitalisasi industri batubara yang sangat besar, kontras dengan kondisi kemiskinan yang dialami masyarakat sekitar tambang, serta kondisi kemiskinan yang masih disandang Indonesia. Tak pelak kondisi ini mendorong munculnya kebutuhan akan transparansi tentang seberapa besar penerimaan negara yang seharusnya dapat diperoleh dari sektor industri ekstraktif. Upaya ini kemudian disuarakan dengan cukup lantang oleh kelompok masyarakat sipil yang dimotori oleh koalisi PWYP (Publish What You Pay) Indonesia. Gelombang Kebutuhan Transparansi Sektor Industri Ekstraktif Di dunia internasional, gelombang untuk menuntut transparansi di sektor industri ekstraktif dimulai pada Desember 1999. Saat itu Global Witness mempublikasi laporan berjudul A Crude Awakening, yang mengangkat tentang konflik yang terjadi di Angola dalam masa 40 tahun perang sipil. Laporan itu menjelaskan bagaimana perusahaan minyak dan bank multinasional menolak memberikan informasi keuangan terkait pendapatan minyak dari negara tersebut. Di sisi lain, mis-manajemen dan Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011 8

Sumber: dimodifikasi dan diolah dari Budget Statistics 2006-2012, Ministry of Finance.

Potensi industri ekstraktif di Indonesia tersebar dalam komoditas yang sangat bervariasi, mulai dari minyak, gas, batubara, dan mineral seperti timah, nikel, emas, tembaga, perak, pasir besi, mangan, dll. Sebagai contoh, untuk mineral timah Indonesia adalah produsen terbesar di dunia, setelah Cina, menyumbang sekitar 30% - 40% dari produksi dunia. Tahun 2010, Indonesia memproduksi 92.500 ton timah, dengan angka ekspor dari Provinsi Bangka Belitung mencapai 27% dari suplai dunia. Untuk batubara, Indonesia adalah eksportir batubara termal terbesar di dunia, mengekspor 50% lebih dari Australia dan dua kali lipat Rusia, eksportir batubara termal kedua dan ketiga terbesar di dunia, secara berurutan. Tiga puluh persen dari 40 orang pria dan wanita terkaya di Indonesia telah menghasilkan sebagian besar uang mereka dari sektor batubara. Delapan belas persen dari kapitalisasi pasar saham nasional adalah berasal dari perusahaan batubara. Membandingkan kontribusi ekspor mineral dan batubara Indonesia di pasar dunia dengan penerimaan dari sektor tambang, agaknya angka ini tidak cukup memadai. Satu hingga 1,3 persen kontribusi PNBP sektor pertambangan tidak

Perkembangan Kebijakan dan Regulasi Ekonomi


dan penggelapan penerimaan dari minyak dilakukan oleh elit di negara tersebut. Human Right Watch juga mempublikasikan laporan mengenai CSR dan pelanggaran HAM di Nigeria berjudul The Price of Oil. Kemudian, atas tekanan dari masyarakat sipil dunia, Presiden Bank Dunia Wolfensohn menyetujui untuk meninjau kembali praktek-praktek Bank Dunia terhadap industri ekstraktif. Tak adanya transparansi sektor industri ekstraktif terutama yang menimpa negara miskin pemilik sumber daya alam, mendorong beberapa lembaga internasional pada bulan Juni 2002 membentuk kampanye bersama yang dinamakan Publish What You Pay (PWYP). Kampanye ini mengajak semua perusahaan di industri ekstraktif untuk membuka pembayaran mereka kepada pemerintah di mana mereka beroperasi. Desakan ini pada akhirnya mendorong Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengumumkan dibentuknya prakarsa transparansi sektor industri ekstraktif (Extractive Industry Transparency Initiative - EITI) pada September 2002 pada World Summit for Sustainable Development di Johannesburg. Berurutan dari itu, pada bulan Juni 2003, G-8 menerbitkan Fighting Corruption and Improving Transparency, suatu deklarasi yang memprioritaskan transparansi pada industri ekstraktif. EITI Standar Global Inisiatif Transparansi Industri Ekstraktif EITI, Extractive Industry Transparency Initiative atau Inisiatif Transparansi Industri Ekstraktif adalah sebuah standar global bagi transparansi di sektor ekstraktif. Standar ini berpusat pada rekonsiliasi antara pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan industri ekstraktif dengan pendapatan yang diterima oleh Pemerintah. Pelaksanaan EITI dilakukan oleh kelompok multi-pihak (Multi Stakeholder Group - MSG). Proses rekonsiliasi dilakukan oleh rekonsiliator independen dan diawasi oleh MSG. Hasil rekonsiliasi ini kemudian menjadi laporan yang wajib untuk dipublikasi. EITI bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan kesenjangan antara pembayaran dan penerimaan di sektor ekstraktif. Laporan EITI dapat digunakan untuk menginvestigasi dan mengatasi masalah pada aliran penerimaan negara. Mekanisme pelaksanaan EITI diatur dalam Aturan EITI (terbaru ditetapkan pada April 2011). Setiap program EITI harus mengikuti Prinsip-Prinsip dan Kriteria EITI, dan harus memenuhi 21 langkah persyaratan. Namun demikian, penerapan EITI ini bersifat fleksibel di setiap negara. Dalam kesertaan EITI, untuk menjadi negara kandidat (candidate country), pertama kali Pemerintah harus memberikan komitmen dan memenuhi empat langkah awal. Begitu sebuah negara menjadi kandidat dan menerapkan EITI secara penuh, negara kandidat akan menja menjalani proses validasi. Lolos validasi, negara tersebut berubah status menjadi negara patuh (compliant). Dengan berlanjutnya program EITI, validasi dilakukan setiap dua tahun. Negara-negara pendukung EITI Hingga saat ini terdapat 35 negara yang telah tergabung dalam EITI, 23 berstatus negara kandidat dan 12 negara telah berstatus negara patuh (compliant) di antaranya Norwegia. Di negara maju Amerika Serikat, Presiden Barack Obama sendiri telah menyatakan dukungannya untuk EITI. Pada Juli 2010 di Amerika Serikat telah disahkan undang-undang baru mengenai ini, yaitu Security Exchange Commission and Consumer Protection Act atau dikenal sebagai legislasi Dodd-Frank. Ketentuan ini mengatur bahwa perusahaan industri ekstraktif yang berada di bawah yurisdiksi SEC untuk mengungkapkan semua pembayaran yang mereka buat di setiap negara dari operasi mereka. Baru-baru ini (Oktober 2011) Komisi Eropa, Australia, dan pemimpin negara-negara persemakmuran telah menyatakan keinginannya untuk memperkuat dan mendorong EITI. Bahkan Australia akan segera memulai untuk mengimplementasi EITI. Dalam deklarasi G20 Summit di Cannes, Prancis yang baru saja berlangsung menyatakan dukungan kuat untuk penerapan EITI. Pemimpin G20 menyatakan bahwa korupsi adalah rintangan utama dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, dan bahwa dengan membuka informasi pembayaran dan penerimaan tersebut adalah salah satu cara untuk memberdayakan masyarakat dan akan memberikan kontribusi pada mengurangi kemiskinan. Inisiatif Transparansi Industri Ekstraktif di Indonesia Inisiatif transparansi penerimaan dari industri ekstraktif di Indonesia telah dimulai sejak tahun 2007. Pada saat itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyampaikan dukungan untuk melaksanaan inisiatif ini kepada perwakilan dari Transparency International Indonesia, Todung Mulya Lubis. Di tahun berikutnya Rapat Koordinasi pertama kali membahas inisiatif ini, dipimpin oleh Menko Bidang Perekonomian Boediono. Rakor menghasilkan kesepakatan akan dibentuk Tim Pengarah atas persetujuan Presiden. Hingga awal tahun 2010 proses konsultasi antar-departemen dilakukan dengan sangat intensif, di mana Tim Koordinasi melakukan revisi dan perbaikan Rancangan Peraturan Presiden. Pada akhirnya, pada bulan April 2010, Presiden Republik Indonesia menandatangani Peraturan Presiden No 26 Tahun 2010 tentang Transparansi Pendapatan Negara dan Pendapatan Daerah yang diperoleh dari Industri Ekstraktif. Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

Perkembangan Kebijakan dan Regulasi Ekonomi


Amanat Perpes No 26 Tahun 2010, menyebutkan bahwa Tim Transparansi Indonesia tersusun atas Tim Pengarah dan Tim Pelaksana. Tim Pengarah diketuai oleh Menko Bidang Perekonomian dengan anggota terdiri dari Menteri ESDM, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, Kepala BPKP, dan Prof. Dr. Emil Salim sebagai wakil masyarakat sipil. Tim Pengarah berkewajiban menyampaikan laporan kepada Presiden minimal satu kali dalam satu tahun. Untuk memenuhi persyaratan 21 langkah EITI, maka selanjutnya pelaksanaan EITI Indonesia berfokus pada proses mempersiapkan pelaporan pertama, Hingga Juli 2011 telah dilakukan kegiatan-kegiatan untuk menyusun ruang lingkup dan template (format) pelaporan pertama EITI Indonesia. Terdapat 62 perusahaan yang terdiri 103 unit produksi migas dan tambang, serta 81 mitra perusahaan migas yang wajib mengisi template pelaporan. Terdapat 62 perusahaan yang terdiri 103 unit produksi migas dan tambang, serta 81 mitra perusahaan migas yang wajib mengisi template pelaporan. Instansi Pemerintah yang akan melapor, yaitu BPMIGAS, Ditjen Migas, Ditjen Anggaran, Ditjen Minerba, dan Ditjen Pajak. Pelaksanaan kegiatan EITI Indonesia saat ini dikoordinasikan di bawah kantor Deputi ESDM dan Kehutanan, Kementerian Koordinator Perekonomian. (ADC) Secara ringkas, untuk dapat mencapai standar EITI dilalui dengan mekanisme seperti pada gambar berikut, yakni: 1) perusahaan melaporkan pembayaran yang telah dibayarkan ke pemerintah; 2) pemerintah mempersiapkan laporan penerimaan negara dari bagi hasil pajak perusahaan ekstraktif; 3) kedua laporan tersebut direkonsiliasi oleh rekonsiliator independen, dan proses pelaporan dan rekonsiliasi diawasi oleh pemerintah, industri dan masyarakat sipil. Dengan mekanisme yang transparan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat serta memperbaiki tata kelola pemerintahan khususnya di bidang industri ekstraktif. Hal ini didasarkan pada temuan dari 2 studi, yakni: 1) Studi tahunan PWC ditemukan bahwa iklim peraturan di Indonesia merupakan satu dari lima besar kritik perusahaan migas yang terus berulang yang menyebabkan swasta tidak memahami sistem pendapatan minyak dan gas. 2) Studi Prof. Emil Salim ditemukan fenomena dimana negara-negara yang kaya akan sumber daya alam pada umumnya lebih lemah dalam hal akuntabilitas, tata kelola pemerintahan, dan dalam hal peraturan. Pengelolaan pemerintah untuk bidang industri ekstraktif yang lebih baik dapat menjadi stimulan bagi investor untuk meningkatkan investasi di sektor migas dan pertambangan. Seiring dengan bertambah besarnya investasi di industri ekstraktif diharapkan dapat meningkatkan eksplorasi dan produksi nasional, yang pada akhirnya akan menambah pendapatan pemerintah. Namun demikian, masih banyak hal yang menjadi tantangan dan pekerjaan rumah bagi tim transparansi EITI. Hal ini terungkap pada sesi tanya jawab, antara lain: 1) bagaimana selanjutnya mengembangkan sektor lain (non-SDA) setelah transparansi sudah tercapai; 2) bagaimana mendapatkan nama/pemilik perusahaan ekstraktif yang illegal, karena cukup besar potensi (terutama perusahaan batubara) yang belum diketahui pemiliknya;

EITI Indonesia: Tantangan dan Manfaat Penerapannya Bagi Keuangan Negara


Rabu 16 November 2011, bertempat di Ruang Serayu Gedung A.A Maramis, berlangsung acara Economist Talk dengan topik pembahasan tentang Tantangan dan Manfaat Penerapan EITI Bagi Keuangan Negara. Chandra Kirana dari Revenue Watch Institute yang sekaligus merupakan anggota tim formatur EITI Indonesia, hadir sebagai narasumber dalam acara ini. EITI (Extractive Industries Transparency Initiative) merupakan standar yang dikembangkan secara global untuk mendorong upaya transparansi pendapatan negara dari minyak, gas, dan pertambangan. Indonesia menjadi negara kandidat EITI sejak Oktober 2010. Agar menjadi negara pelaksana EITI, Indonesia harus menjalankan 21 langkah penyusunan laporan pendapatan minyak, gas, dan tambang oleh pemerintah dan perusahaan di sektor tersebut. Untuk itu Indonesia diberi waktu 2,5 tahun hingga April 2013. Berhubung penyusunan laporan tersebut menyangkut berbagai pihak maka diterbitkan Peraturan Presiden No.26/2010 tentang Transparansi Pendapatan Negara dan Pendapatan Daerah dari Industri Ekstraktif.

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

10

Perkembangan Kebijakan dan Regulasi Ekonomi


3) bagaimana menjembatani pemerintah agar bersedia memberikan laporan penerimaan pendapatan bukan pajak sektor SDA dengan persetujuan dari pembayar pajak; 4) bentuk insentif apa yang disediakan EITI untuk karyawan perusahaan di industri ekstraktif bila kemudian ada opini bahwa EITI dapat menurunkan profit perusahaan sehingga dapat menurunkan penghasilan karyawan. Perkembangan EITI hingga triwulan kedua tahun 2011 ini, Tim Formatur Kesekretariatan (TFK) EITI yang diketuai Erry Riyana Hardjapamekas telah menyelesaikan pembahasan template pelaporan dan mengadakan workshop pengisian template pelaporan. Selanjutnya laporan pertama EITI akan mencakup perusahaanperusahaan migas yang menyetor bagian migas pemerintah lebih dari USD 10 juta dan perusahaan perusahaan mineral yang menyetor royalti lebih dari USD 1 juta di tahun 2009. (APN)

EITI telah menjadi komitmen nasional Pemerintah Indonesia berdasarkan Perpres No. 26 Tahun 2010. Dan sejak dinyatakan sebagai negara kandidat, Indonesia berusaha untuk mencapai status compliant dengan target April 2013. Untuk itu Indonesia harus memenuhi 21 langkah persyaratan. Menurut Husen, bukanlah hal yang mudah untuk memenuhi keseluruhan persyaratan hingga target waktu yang ditetapkan. Hingga saat ini Indonesia telah melalui 10 langkah pertama. Menurutnya Indonesia memiliki kesulitan yang berbeda jika dibandingkan dengan Norwegia yang telah menjadi negara compliant EITI. Perusahaan tambang di Indonesia yang banyak dan tersebar membuat pelaksanaan EITI ini menjadi lebih kompleks. Bagi PT. Pertamina, tantangan yang saat ini dihadapi terkait pelaksanaan EITI adalah sosialisasi dan komunikasi internal tentang EITI kepada unit-unit perusahaan PT. Pertamina yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun demikian, Husen menyatakan bahwa PT. Pertamina telah berkomitmen dalam mendukung pelaksanaan EITI. Transparansi akan dibentuk melalui sejumlah mekanisme yang disinergikan dengan mekanisme yang telah ditetapkan oleh Sekretariat EITI, yaitu melalui BP MIGAS. Mekanisme internal yang dilakukan adalah dengan meminta dan melakukan endorsement pada anak perusahaan untuk mendukung kegiatan transparansi ini, dengan mengisi template pelaporan yang dibagikan oleh Sekretariat EITI melalui BP MIGAS. Selanjutnya template pelaporan tersebut dikembalikan ke Sekretariat EITI untuk dicocokkan dengan laporan dari Kementerian Keuangan. Komitmen dan peran PT. Pertamina sebagai perusahaan leader dalam mendukung pelaksanaan EITI di Indonesia akan memberikan dampak signifikan pada perusahaanperusahaan migas dan perusahaan industri ekstraktif lainnya. Terkait kemungkinan terjadi perbedaan laporan yang signifikan antara Perusahaan dan Pemerintah, Husen menjelaskan PT. Pertamina tidak akan melakukan perubahan atau perbaikan atas data yang telah dikirimkan. Esensi dari transparansi ini adalah apa yang dilaporkan adalah angka pendapatan yang diserahkan pada Pemerintah. Tugas PT. Pertamina hanya melaporkan angka-angka yang dimintakan dalam template pelaporan. Dan merupakan tugas rekonsiliator untuk mencari tahu sebab perbedaan tersebut. Rekonsiliator akan memeriksa dan menelusuri kembali dari data Perusahaan dan juga data yang dilaporkan Pemerintah. Keberhasilan tujuan EITI ini dapat terwujud karena mekanisme yang dibentuk dalam pelaksanaannya melibatkan beberapa pemangku kepentingan (multistakeh Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

LIPUTAN WAWANCARA: KOMITMEN PT. PERTAMINA DALAM MENDUKUNG EITI


Pada tanggal 22 Oktober 2010, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengumumkan bahwa Indonesia telah diterima secara resmi sebagai kandidat Extractive Industries Transparency Initiative (EITI). EITI adalah standar transparansi global tentang pendapatan negara dari sektor minyak, gas dan pertambangan. Dengan pernyataan tersebut, maka pemerintah harus mempublikasikan penerimaan dari perusahaanperusahaan terbesar di sektor minyak, gas dan pertambangan. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan tersebut melaporkan jumlah pendapatan negara dari pajak dan bukan pajak yang disampaikan kepada Pemerintah. Termasuk PT. Pertamina yang merupakan perusahaan nasional yang bergerak di sektor minyak, gas dan pertambangan. Dari hasil wawancara dengan Direktur Operasional PT. Pertamina, Muhamad Husen, inisiatif EITI ini akan membentuk transparansi yang menumbuhkan kepercayaan publik terhadap satu perusahaan. Ia mencontohkan salah satu perusahaan besar dan go public bernama Enron yang ternyata runtuh setelah diketahui ada ketidaktransparanan pada laporan keuangan. Yang terjadi selanjutnya adalah seluruh stakeholder menarik investasi hingga mengakibatkan kepailitan. Dengan demikian, transparansi menjadi salah satu komponen penting dalam mengurangi risiko investasi. Ia juga menyatakan bahwa transparansi ini penting untuk meningkatkan peringkat perusahaan, termasuk PT. Pertamina yang sedang menuju go public.

11

17

Perkembangan Kebijakan dan Regulasi Ekonomi


Terdapat 5 hal pokok yang menjadi kekhawatiran global, yaitu: i) potensi menjalarnya krisis Eropa dan AS; ii) proses penanganan krisis yang menimbulkan sentimensentimen negatif seperti pergerakan arus modal; iii) permasalahan bencana dan cuaca yang mempengaruhi jumlah pasokan komoditas dunia; iv) tingginya potensi krisis akibat gejolak politik di Timur Tengah; dan v) peningkatan harga komoditas meskipun perekonomian dunia melambat. Saat ini ekonomi Indonesia belum merasakan dampak yang signifikan dari krisis, sebaliknya justru menunjukkan performa yang lebih baik dari perkiraan. Nilai tukar Rupiah melemah akibat capital outflow, tetapi masih ada gap positif antara ekspor dan impor akibat peningkatan harga komoditas dunia. Neraca pembayaran Indonesia masih aman meskipun terjadi penurunan cadangan devisa USD 10 miliar. Dari sisi penanaman modal, belum terlihat dampak krisis. Dominasi asing di pasar modal mulai berkurang tampak dari nilai PMA yang turun. Sebaliknya investor domestik semakin percaya diri yang tampak dari nilai PMDN yang meningkat tinggi. Dari sektor riil, kinerja industri menunjukkan adanya indikasi bahwa industri telah menemukan momentum pertumbuhannya. Pertumbuhan industri non migas lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Di sektor pertanian, mengacu pada data tahun 2011, harga beras dan kebutuhan pangan lain cenderung stabil. Namun yang perlu diperhatikan adalah margin antara harga produsen dan konsumen yang cukup tinggi. Di sektor perdagangan sejauh ini masih menunjukkan kinerja positif, walaupun masih terkendala perbedaan kebijakan tarif. Negara-negara berkembang secara berangsur telah menghapuskan tariff, sebaliknya negaranegara maju seperti AS dan Eropa justru menciptakan hambatan bagi negara-negara berkembang. Pada sektor migas, target lifting minyak tahun ini menghadapi kendala karena produktivitas sumur tua yang rendah tetapi mengeluarkan biaya yang mahal. Cara yang digunakan untuk meningkatkan lifting minyak adalah intensifikasi dan ekstensifikasi. Untuk pendistribusian energi, dibangun FSRU (terminal gas) untuk menyalurkan gas ke daerah-daerah pengguna gas. Untuk tahun 2012, pertumbuhan ekonomi dalam asumsi makro APBN 2012 sebesar 6,7%. Sedangkan Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2012 antara 6,3-6,7%. Pendapatan dan defisit negara pada APBN tahun 2012 dianggarkan masing-masing Rp 1,300 triliun dan Rp 124 triliun (1,53% PDB). Selain proyeksi dari pihak pemerintah, optimisme atas perekonomian Indonesia datang dari pelaku ekonomi nam Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011 12

stakeholder) yang memiliki kesetaraan dalam wewenang, diantaranya Pemerintah, Perusahaan industri ekstraktif dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). LSM sebagai pihak netral akan mengawasi proses pelaporan Perusahaan dan Pemerintah. Dalam mekanisme multi-stakeholder ini, Pemerintah Daerah dan sejumlah instansi lain turut dilibatkan. Saat ini perwakilan dari Pemerintah Daerah yang telah tergabung bersama tim pelaksana diantaranya Sekda Jawa Timur, Sekda Kalimantan Timur dan Sekda Riau. Sedangkan instansi terkait lainnya diwakili oleh Direktur Jenderal ESDM dan Indonesia Petroleum Association (IPA) dari sisi industri. Dan sebagai perusahaan nasional, PT. Pertamina mengambil peran penting dalam proses pelaksanaan transparansi bersama multistakeholder lainnya, berkoordinasi dan saling mendukung kelancaran pelaksanaan inisiatif ini. Selain itu, diperlukan komitmen berkelanjutan dari Pemerintah dalam hal ini Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebagai pemegang mandat Perpres No. 26 Tahun 2010 tentang pelaksanaan kegiatan transparansi pendapatan yang diperoleh dari industri ekstraktif dan tentunya juga komitmen politis Pemerintah Pusat untuk terus mendukung pelaksanaan EITI. (TKA)

MEMBANGUN SINERGI MENGHADAPI TANTANGAN GEJOLAK EKONOMI GLOBAL


Gejolak perekonomian global yang intensitasnya meningkat akhir-akhir ini perlu diantisipasi dengan memperkuat koordinasi dan sinergi pembangunan nasional. Atas pertimbangan tersebut pada tanggal 17 November 2011, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bekerjasama dengan Bank Indonesia menyelenggarakan Indonesia Economic Observation 2011-2012. Para pejabat yang bertugas dalam bidang analisa kebijakan dari Kementerian Keuangan, Bappenas, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM berpartisipasi dalam acara tersebut sebagai pembicara. Sedangkan pembahas merupakan kalangan profesional seperti Dr. Lana Soelistianingsih, Dr. Iman Sugema dan Dr. Ninasapti Triaswati. Selain pemaparan mengenai proyeksi perekonomian global dan nasional, juga disampaikan strategi pembangunan sektor masingmasing untuk tahun 2012. Krisis di Eropa dan AS berdampak pada perlambatan ekonomi global. Berbagai negara termasuk negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia merevisi tingkat pertumbuhan ekonomi menjadi lebih rendah.

Perkembangan Kebijakan dan Regulasi Ekonomi

dalam dan luar negeri. Berikut proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 dari berbagai sumber. Tabel 2. Perkiraan Perekonomian Indonesia 2012 Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi 2012 Asumsi Makro APBN RPJM 2010-2014 Bank Indonesia Oxford Economic Forecast BPS 6.7 6.4 - 6.9 6.3 - 6.7 6.4 6.7

Sedangkan Kemenakertrans mencanangkan berbagai program untuk mendukung kesiapan tenaga kerja menghadapi tantangan gejolak perekonomian. Strategi sektor tenaga kerja tahun 2012 mencakup program peningkatan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja; program penempatan dan perluasan kesempatan kerja; dan program pengembangan hubungan industrial dan peningkatan jaminan sosial tenaga kerja. Ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Ninasapti Triaswati menambahkan Indonesia dapat mengadopsi sistem insentif di Inggris yang dikenal sebagai unemployment benefit untuk memperbaiki database pengangguran. Hal ini menurutnya karena gejolak ekonomi global saat ini sebenarnya sangat berdampak besar bagi tenaga kerja yang bekerja di sektor hilir. Namun demikian dampak ini tidak terlihat jelas akibat adanya kendala dalam ketersediaan data pengangguran di Indonesia. Permasalahan lain dalam sektor ketenagakerjaan yang memerlukan tindak lanjut antara lain angka pengangguran yang persisten baik secara absolut maupun relatif, permasalahan underemployment dimana sekitar 15% pekerja di Indonesia tidak mendapat upah dan tingginya pengangguran di rentang usia muda. Selain itu, Indonesia dapat mencontoh implementasi labor market flexibility (outsourcing) di Eropa, tenaga kerja memperoleh transfer ilmu dan pengetahuan dari perusahaan untuk membangun usaha. Gejolak ekonomi global merupakan tantangan atas kekuatan perekonomian nasional. Melalui sinergi dengan berbagai pihak, pemerintah Indonesia berharap dapat menjawab tantangan ekonomi global untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. (AFA/RN/APN)

Sebagai upaya mengantisipasi menjalarnya dampak krisis global, pemerintah telah mempersiapkan strategi yang relevan. Bappenas menekankan perlunya meningkatkan ekspor, menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi, serta memaksimalkan belanja fiskal. Kemenkeu menambahkan, strategi dalam menghadapi krisis dengan meningkatkan belanja modal dan belanja sosial (subsidi) untuk menjaga daya beli karena ekonomi ditopang oleh konsumsi. Sementara itu, Pemerintah sudah mempersiapkan cadangan fiskal di dalam APBN untuk antisipasi jika kondisi Eropa semakin memburuk. Dari sisi moneter, BI akan memperkuat Protokol Manajemen Krisis. Kementerian Perdagangan mencanangkan 4 pilar arah kebijakan perdagangan, yakni: i) penguatan pasar dalam negeri dengan menjadikan pasar domestik sebagai guaranteed market bagi produk dalam negeri; ii) menjaga pertumbuhan ekspor melalui strategi diversifikasi pasar eskpor, optimalisasi peran perwakilan perdagangan di luar dan kemampuan komunikasi aparat; iii) stabilisasi pasokan dan harga barang pokok; dan iv) penguatan organisasi. Kebijakan tersebut sebagai tindak lanjuti tren ekspor yang terjadi. Saat ini, ekspor ke negara emerging markets dan 10 negara di luar C5 tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor ke negara C5 (China, AS, Jepang, Singapura, dan Malaysia). Kementerian ESDM mentargetkan adanya penurunan beban subsidi BBM di tahun 2012. Subsidi BBM masih didominasi oleh pengguna kendaraan pribadi di pulau Jawa dan Bali. Subsidi BBM akan dikurangi melalui program pembatasan volume BBM. Selain itu kenaikan TDL yang direncanakan per 1 April 2012 juga akan mengurangi beban subsidi energi. Kementerian Perindustrian merencanakan mendorong penyebaran industri ke daerah melalui pemberian insentif. Hal ini dikarenakan saat ini PMA didominasi oleh industri mineral dan non logam, sedangkan PMDN didominasi oleh industri makanan. Pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal tinggi dan ini berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi.

Seminar Indonesia Economic Observation 2011-2012, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

13

Perkembangan Sektor Keuangan

LIPUTAN: FIRST MICROINSURANCE MARKETPLACE IN INDONESIA


The World Bank Jakarta bekerjasama dengan Dewan Asuransi Indonesia menyelenggarakan seminar dua hari dengan tema First Microinsurance Marketplace in Indonesia pada tanggal 26-27 Oktober 2011 di Grand Hyatt Hotel Jakarta. Pada hari pertama, para pembicara menyampaikan pengertian dan karakteristik microinsurance atau asuransi mikro, permasalahan dan tantangan, serta pelajaran dari pengalaman internasional untuk penerapan asuransi mikro di Indonesia. Sedangkan pada hari kedua, para pembicara menyampaikan pelajaran dari pengalaman pelaksanaan asuransi mikro berbagai lembaga lokal dan internasional. Asuransi mikro merupakan asuransi bagi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah yang bersifat komersial untuk menjamin keberlangsungannya. Berikut perbandingan antara asuransi mikro dan asuransi konvensional lainnya.
Asuransi Konvensional Polis dokumen yang komplek dengan standar pengecualian Penjualan kepada individu Pembayaran premi teratur seperti transaksi perbankan Periode minimum sekitar 12 bulan Persyaratan mencakup dokumen kesehatan Asuransi skala kecil dan besar Tingkat harga berdasarkan usia/risiko spesifik Agen dan broker bertanggungjawab atas penjualan Pasar telah terbiasa dan memahami produk asuransi Asuransi Mikro Polis dokumen mudah dipahami dengan pengecualian minimum Penjualan kepada kelompok Pembayaran premi tidak teratur dan dibayar tunai Periode minimum sekitar 4 bulan Persyaratan cukup dengan surat pernyataan dalam keadaan sehat Asuransi skala kecil Tingkat harga disesuaikan dengan tingkat kemampuan Penjualan mengutamakan jalinan hubungan dengan pelanggan Pasar belum terbiasa dan memahami produk asuransi

kesehatan yang tinggi maka produk asuransi yang paling dibutuhkan adalah asuransi sektor pertanian dan asuransi kesehatan. Namun produk asuransi yang paling dibutuhkan tersebut justru yang paling jarang tersedia. Peter Wrede (ILO) menyampaikan ironi dalam produk asuransi mikro sebagai berikut. Asuransi jiwa Asuransi pemakaman Asuransi jiwa berjangka Asuransi kecelakaan Asuransi pendidikan Asuransi untuk aset Asuransi sektor pertanian Asuransi kesehatan Tingkat Kesulitan Tingkat Keberhasilan

Berdasarkan diagram di atas tampak bahwa, produk asuransi yang paling dibutuhkan seperti asuransi pertanian dan asuransi kesehatan memiliki tingkat kesulitan tinggi dan tingkat keberhasilan yang rendah. Meskipun demikian, keberhasilan produk asuransi mikro sektor pertanian dan kesehatan tidaklah mustahil. Berbagai negara telah sukses menerapkan produk asuransi mikro dengan berbagai model seperti: Model berbasis masyarakat yaitu dimiliki dan dikelola oleh masyarakat. Contoh: UPLIFT, India Model penjaminan, Lembaga Keuangan Finansial (LKM) atau LSM menjadi penjamin dan pemilik klinik kesehatan. Contoh: Grameen, Bangladesh Model Mitra-Agen, LKM atau LSM menjual dan melayani asuransi mikro. Contoh: AIG-FINCA, Uganda Model penjaminan penuh, LKM atau LSM menjadi penjamin. Contoh: Delta Life, Bangladesh Model PPP. Contoh: Pemerintah Pakistan- perusahaan asuransi komersial-LKM; Lembaga donor-perusahaan asuransi komersial. Dari berbagai pengalaman di atas, Moslehuddin Ahmed (CEO Mincroinsurance Research Centre, UK) menyampaikan beberapa pelajaran dalam menjalankan asuransi mikro. Pertama, perhatian atas besarnya potensi pasar dan jumlah penduduk miskin yang belum memperoleh akses finansial namun bersedia membayar untuk mendapatkan akses atas produk dan jasa yang tepat. Kedua, pengelola asuransi mikro merupakan lembaga yang berpengalaman dan terpercaya. Ketiga, pemasaran produk asuransi mikro harus mampu menyediakan informasi yang lengkap dan bersifat mendidik. Keempat, asuransi mikro dirancang dengan perspektif jangka panjang dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Dengan demikian, produk asuransi mikro diharapkan dapat membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat. (RA) Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

Berdasarkan karakteristik asuransi mikro di atas, beberapa syarat utama produk asuransi mikro diantaranya: Terjangkau Sederhana dan mudah dipahami Meminimalkan atau menghapuskan pengecualian Inklusif Tidak ada syarat tambahan Pembayaran premi yang fleksibel Klaim yang mudah dan cepat Produk dirancang berdasarkan penelitian pasar Mengingat sebagian besar masyarakat menengah ke bawah di Indonesia bekerja di sektor pertanian yang meng menghadapi risiko anomali iklim dan risiko kesehatan

Permintaan

14

Perkembangan Penyaluran KUR

REALISASI PENYALURAN KUR PER 31 OKTOBER 2011


Kinerja penyaluran KUR tahun 2011 tergolong memuaskan. Realisasi penyaluran KUR selama tahun 2011 sekitar Rp 24,4 triliun. Sehingga,realisasi penyaluran KUR tahun 2011 telah mencapai 122% dari target tahun 2011 yang ditetapkan Rp 20 triliun. Sedangkan total realisasi penyaluran KUR sejak diluncurkan tahun 2007 hingga 31 Oktober 2011 tercatat Rp 58,8 triliun. Dana KUR tersebut disalurkan kepada 5.439.016 debitur dengan rata-rata kredit Rp 10,8 juta/debitur. Sedangkan tingkat NPL tercatat 2,43%. Enam Bank Pelaksana yang terdiri atas BRI, BNI, Bank Mandiri, BTN, BUKOPIN, dan Bank Syariah Mandiri menyalurkan 90,8% KUR setara Rp 53,4 triliun. Dana KUR tersebut disalurkan kepada 5.371.177 debitur. Ratarata kredit Rp 9,9 juta/debitur dengan dengan NPL 2,35%. Sedangkan 13 BPD menyalurkan 9,2% dana KUR setara Rp 5,4 triliun. Sebanyak 67.839 debitur memperoleh dana KUR melalui 13 BPD. Sehingga hanya 1,24% dari total debitur KUR yang memperoleh dana KUR dari 13 BPD. Rata-rata kredit melalui 13 BPD Rp 79,4 juta dengan tingkat NPL yang lebih tinggi yaitu 2,9%. Sehingga tampak bahwa sebagian besar skema KUR melalui BPD merupakan KUR ritel. Di sisi lain, sebagian besar skema KUR melalui enam Bank Pelaksana khususnya BRI merupakan KUR mikro.
Plafon dan Debitur KUR Per 31 Oktober 2011
30000000 25000000 20000000 15000000 10000000 5000000 0 6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0

Secara sektoral, sebagian besar dana KUR diserap sektor hilir seperti sektor perdagangan besar dan eceran. Total plafon sektor tersebut hingga 31 Oktober 2011 mencapai Rp 35,6 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 3.985.297. Sedangkan rata-rata kredit sektor tersebut adalah sebesar Rp 9 juta/debitur. Dengan demikian sebagian besar KUR pada sektor perdagangan merupakan KUR mikro. Sektor dengan penyaluran KUR terbesar kedua adalah sektor pertanian, perburuan dan kehutanan. Namun, selisih realisasi plafon KUR sektor perdagangan besar dan eceran dengan sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sangat besar. Sehingga penyaluran KUR pada sektor hulu yang merupakan prioritas KUR, masih dapat dioptimalkan. Realisasi penyaluran KUR pada sektor pertanian, perburuan dan kehutanan hingga 31 Oktober 2011 mencapai Rp 9,9 triliun yang disalurkan kepada 720.201 debitur.

11
Sumber: Komite Kebijakan KUR

10
Plafon (Rp Juta) Sumber: Komite Kebijakan KUR Debitur

Dari keenam Bank Pelaksana, BRI merupakan Bank penyalur KUR terbesar. BRI telah menyalurkan Rp 36,7 triliun dana KUR kepada sekitar 5.121.945 debitur. Sebagian besar dana KUR tersebut merupakan KUR Mikro senilai Rp 27,7 triliun. KUR Mikro BRI disalurkan kepada 5.060.153 debitur. Sehingga rata-rata kredit KUR Mikro BRI Rp 5,48 juta dengan NPL 2,21%. Sedangkan KUR Ritel BRI sekitar Rp 9 triliun. Dana KUR Ritel tersebut disalurkan kepada 61.792 debitur. Sehingga rata-rata kredit Rp 145,88 juta dengan NPL 3,4%.

Penyaluran KUR secara geografis masih terkonsentrasi pada pulau Jawa. Realisasi penyaluran KUR pada lima provinsi di Pulau Jawa mencapai Rp 30,5 triliun ( 51,8% dari total plafon KUR) dengan jumlah debitur pada kelima provinsi tersebut sebanyak 3.316.188 (61% dari total debitur). Dari 33 provinsi, Jawa Timur tetap merupakan provinsi dengan plafon KUR terbesar senilai Rp 9,1 triliun dengan jumlah debitur 946.240. Sedangkan jumlah debitur terbanyak juga tetap berada di provinsi Jawa Tengah yang mencapai 1.243.749 debitur. Di sisi lain, realisasi plafon KUR pada provinsi-provinsi di luar pula Jawa masih belum optimal. Provinsi dengan penyaluran KUR terendah diantaranya Bangka Belitung dan Maluku Utara masing-masing Rp 150 miliar dan Rp 257 miliar. Kedepan, partisipasi BPD dalam program KUR diharapkan dapat mendorong optimalisasi penyaluran KUR secara lebih merata. (RA) Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

15

Perkembangan Ekonomi & Keuangan Daerah

TINJAUAN EKONOMI REGIONAL TRIWULAN III-2011


Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berbagai daerah selama Tw.III 2011 sejalan dengan prakiraan tren pertumbuhan nasional yang tumbuh di atas 6%. Pencapaian ini terutama didukung oleh kinerja ekonomi Jawa dan Jakarta. Pertumbuhan sebesar 7% diperkirakan terjadi di propinsi DKI Jakarta selama Tw.III 2011 dan Jawa diperkirakan akan tumbuh sebesar 6,7%. Kawasan Timur Indonesia (KTI) juga diperkirakan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, yaitu 5,7%. Meningkatnya pertumbuhan KTI ini disebabkan oleh kinerja Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) yang juga tetap tinggi. Satu satunya kawasan yang mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya adalah Sumatera yang tumbuh pada kisaran 5,8%, lebih lambat dari pertumbuhan triwulan II sebesar 6,1%.
Tabel 3. Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Untuk KTI, peningkatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi, di sisi penggunaan didorong oleh konsumsi, investasi dengan proyek berbagai pembangunan infrastruktur jalan, bandara, properti, pembangkit listrik dan perbaikan ekspor, serta di sisi sektoral didukung juga oleh sektor perdagangan, PHR, pertanian, pengangkutan dan komunikasi. Sedangkan untuk kawasan Sumatera, perlambatan pertumbuhan kawasan ini terutama dipengaruhi oleh penurunan kinerja sektor pertanian serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Selain itu, produksi perkebunan akibat kemarau yang cukup panjang menyebabkan ekspor mengalami perlambatan. Namun, konsumsi rumah tangga diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan daya beli yang membaik. Pertumbuhan perekonomian daerah selama Tw. III 2011 juga disertai dengan laju inflasi daerah yang rendah, kecuali di kawasan Sumatera yang mencatat angka inflasi lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yaitu sebesar 6,12%. Di kawasan ini, inflasi tertinggi berasal dari kelompok bahan sandang dan bahan makanan yang dipicu oleh naiknya harga komoditas emas, bahan pangan, dan harga beras. Sedangkan untuk kawasan lain, yaitu Jakarta, Jawa dan KTI, ketiganya mengalami perlambatan tingkat inflasi masing masing sebesar 4,61%, 4% dan 4,64%. Perlambatan ini disebabkan oleh terjadinya koreksi harga pada beberapa komoditas pangan, seperti aneka bumbu, daging dan ikan ikanan dan harga beras yang berpotensi meningkat. Salah satu tantangan pada perekonomian daerah di akhir tahun 2011 ini ialah dampak melemahnya prospek ekonomi global terhadap kinerja ekspor daerah. Namun hingga akhir triwulan ketiga, kinerja ekspor di seluruh kawasan masih cukup baik. Baik kawasan Sumatera dan KTI yang terkonsentrasi pada komoditas Sumber Daya Alam (SDA) maupun kawasan Jawa dan Jakarta yang didominasi oleh barang manufaktur, sama sama memiliki tujuang utama ekspor pasar Asia. Hal ini yang diperkirakan menjadi faktor pendorong kinerja yang tetap terjaga. Pada akhirnya, prospek kinerja pertumbuhan ekonomi di triwulan IV-2011 diperkirakan akan tetap tinggi sehingga dapat mengkonfirmasi pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap berada di atas 6%. Demikian juga dengan tingkat inflasi di berbagai daerah yang diperkirakan akan tetap terkendali hingga akhir tahun seiring dengan ekspektasi inflasi masyarakat yang membaik dan kenaikan harga komoditas di pasar global yang mereda.
(WP dan RN, disarikan dari Tinjauan Ekonomi Regional BI)

Sumber: Bank Indonesia

Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di seluruh kawasan pada triwulan ini secara umum ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Angka pertumbuhan yang tinggi di Jakarta didorong oleh adanya peningkatan penghasilan konsumen dan diikuti pembelian barang tahan lama (mobil dan alat rumah tangga) yang meningkat. Demikian juga untuk kawasan Jawa dengan tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi karena didukung oleh realisasi Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji pegawai ke-13 bagi PNS, masa libur dalam rangka liburan sekolah , tahun ajaran baru dan bulan puasa. Dari sektor penawaran, membaiknya kinerja sektor industri manufaktur dengan pasokan bahan baku yang terjaga meningkatkan kinerja perekonomian di kedua kawasan ini. Khusus untuk Jakarta, peningkatan signifikan juga terjadi di sektor konstruksi. Maraknya pembangunan gedung perkantoran dan infrastruktur dalam rangka SEA Games XXVI yang dilangsungkan November 2011 membuat pemerintah provinsi DKI Jakarta selaku salah satu tuan rumah penyelenggara terus mempercepat penyelesaian pembangunan.

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan | Nopember 2011

16

DAFTAR ISTILAH

Barang Modal adalah barang yang digunakan untuk modal usaha seperti mesin, suku cadang, komputer, pesawat terbang, dan alat-alat berat Devisa adalah merupakan masuknya uang asing ke negara kita dapat digunakan untuk membayaran pembelian atas impor dan jasa luar negeri Ekspor adalah kegiatan menjual barang dan jasa ke luar negeri Impor adalah kegiatan membeli barang dan jasa dari luar negeri Industri Ekstraktif adalah industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitar Neraca Pembayaran adalah catatan dari semua transaksi ekonomi internasional yang meliputi perdagangan, keuangan dan moneter antara penduduk dalam negeri dengan penduduk luar negeri selama periode waktu tertentu, biasanya satu tahun atau dikatakan sebagai laporan arus pembayaran (keluar dan masuk) untuk suatu negara Neraca perdagangan adalah Neraca pembayaran dapat dipecah ke dalam beberapa kategori yaitu; transaksi berjalan (current account), neraca modal (capital account), dan cadangan devisa negara (official reserves account) Neraca Modal merupakan bagian dari neraca pembayaran yang mencerminkan perubahanperubahan dalam kepemilikan aset jangka pendek dan jangka panjang (seperti saham, obligasi dan real estate) suatu negara, Yang meliputi : a. Arus modal masuk tercatat sebagai kredit karena suatu Negara menjual aset berharga kepada pihak asing untuk memperoleh uang tunai.

Untuk Informasi Lebih Lanjut Hubungi : Redaksi Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Gedung Sjafruddin Prawiranegara (d.h. Gd. PAIK II) Lantai 4 Jalan Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta, 10710 Telepon. 021-3521843, Fax. 021-3521836 Email : tinjauan.ekon@gmail.com
Tinjauan Ekonomi dan Keuangan dapat didownload pada website www.ekon.go.id

ISSN 2088-3153