Anda di halaman 1dari 16

ABSTRACT

PARENTS` ACCEPTANCES TO THEIR AUTISM CHILDREN


CONDITION
(Case Study on Parents who Has Twin Children with Autism)
Intan Permata Sari'
M. Sugiarmin
Yuyus Suherman

Parents are the most aIIected part by the condition oI their child who is
autistic. But, there is less attention to their psychological condition and responses.
ThereIore, this study Iocuses on 'How is parents`s acceptance to their children
with autism?. By qualitative approach and case study method to parents who
have twin children with autism. To conclude, there are 5 phases oI response
pattern to parents who has children with autism; (1) denial, (2) depression, (3)
anger & guilty, (4) bargaining and (5) acceptance. But in this case, we Iound that
there are a couple oI response pattern that the parents skip over the pattern. And
beside, there are diIIerence response between mother and Iather in denial phases
and anger & guilty phase.
Kata Kunci : Parents` acceptance, children with autism
A. Latar Belakang Permasalahan
Setiap orang tua pasti memiliki keinginan serta harapan yang besar bahwa
anaknya dapat bertumbuh kembang dengan sempurna. Akan tetapi, tidak semua
anak dapat melewati tahap perkembangan dengan kondisi ideal seperti yang
diharapkan oleh orang tua. Sering terjadi keadaan di mana anak memperlihatkan
gejala masalah perkembangan sejak usia dini. Salah satu bentuk masalah
perkembangan pada anak adalah autisme.

Memiliki anak yang berbeda dengan kebanyakan anak lainnya tentu saja
memberikan dampak psikologis terhadap orang tua. Akan tetapi, orang tua
memiliki tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi anak mereka.
Terlepas dari kondisi yang dimiliki oleh anak autis, perlu disadari semua orang
memiliki hak yang sama untuk hidup, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan
yang kondusiI dan suportiI. Hal ini selaras dengan yang diungkapkan oleh Glenn
Doman dalam salah satu bukunya bahwa ' Orang tua bukan masalah bagi anak-
anaknya, tapi mereka adalah jawaban.
Walaupun anak autis memiliki perbedaan dengan anak-anak yang lain, tapi
anak autis memiliki kemampuan yang dapat dioptimalkan. Untuk melihat serta
mengoptimalkan kemampuan anak ini dibutuhkan penerimaan orang tua terhadap
kondisi anak terlebih dahulu, agar nantinya orang tua dapat bersikap lebih objektiI
dalam memberikan penanganan terhadap anaknya. Selain itu, masih menurut
Glenn Doman, penerimaan orang tua terhadap kondisi anak serta peran aktiI dalam
terapi yang diberikan kepada anak akan memberikan dampak positiI terhadap
perkembangan anak yang mengalami cedera otak dan juga autisme.
Selama ini, autisme telah menjadi bahan pembelajaran yang hangat di
masyarakat kita. Akan tetapi, masih sedikit sekali perhatian yang diberikan kepada
orang tua para anak autis ini. Disadari ataupun tidak para orangtua ini adalah pihak
yang mengalami imbas paling besar dan sekaligus sebagai Iaktor terpenting dalam
mencapai optimalitas anak autis. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui pola penerimaan orang tua terhadap anak mereka yang autis.
B. Fokus Penelitian
Yang menjadi Iokus dari penelitian ini adalah
'Bagaimana penerimaan orangtua terhadap kondisi dan perkembangan anak
mereka yang autis?





3

C. Rumusan Masalah
Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini dirumuskan dalam
beberapa pertanyaan berikut ini :
1. Apakah orang tua melakukan pengingkaran (denial) terhadap kondisi anak
mereka yang autis?
2. Apakah orang tua mengalami depresi (depression) menghadapi kondisi
bahwa anak mereka autis?
3. Apakah muncul rasa marah dan bersalah (Anger & Guilty) dalam diri
orang tua karena kondisi anak mereka?
4. Apakah orang tua melakukan penawaran (bargaining) terhadap kondisi
anak mereka?
5. Kapan orang tua dapat melakukan penerimaan (acceptance) terhadap
kondisi anak mereka?

D. Tinjauan Teoritis
Perkembangan Anak Autis
Pengertian autisme menurut Budiman (2000) adalah gangguan
perkembangan yang sangat kompleks dan berat menyangkut komunikasi,
interaksi sosial dan aktivitas imajinasi serta gejala-gejala ini muncul sebelum
anak berusia 3 tahun. Anak autis mengalami kesulitan dalam memaknai dan
memahami hal atau kejadian yang mereka lihat, hal ini tercermin dalam ciri-
ciri utama autisme berupa gangguan kualitatiI dalam aspek-aspek berikut:
1. Komunikasi dan bahasa
Salah satu gangguan komunikasi yang dimiliki oleh anak autis
adalah echolalia. Echolalia adalah pengulangan kata atau Irase yang
diucapkan oleh orang lain. Akan tetapi, echolalia bukan merupakan ciri
yang penting karena perkembangan bahasa yang normal semua anak
menunjukkan bentuk-bentuk echolalia. Bila echolalia hanya dikaitkan
dengan keterlambatan (aspek kuantitatiI) dalam perkembangan, ini
4

bukanlah gejala autisme. Echolalia hanya bisa dianggap suatu ciri autisme
jika muncul pada usia mental yang lebih tinggi.
2. Interaksi sosial
Anak-anak autis memiliki kelemahan dalam menjalin relasi sosial.
Banyak anak autis yang menarik diri dari kontak sosial bahkan sampai
pada tingkatan yang disebut dengan extreme autistic aloneness.
Gould & Wing (Alloy, Riskind, & Manos, 2005) menyatakan
bahwa bentuk relasi sosial yang dilakukan anak-anak autis dapat
dikategorikan ke dalam 3 sub kelompok, yaitu :
a. AlooI type
Anak dengan tipe ini sangat jarang melakukan pendekatan sosial yang
siIatnya spontan. Mereka akan melakukan pendekatan sosial atau kontak
sosial hanya untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan dan
menolak pendekatan dari orang lain. Berikut ciri-cirinya : (1) Menyendiri
dan tidak peduli dalam sebagian besar situasi (kecuali ada kebutuhan yang
terpenuhi), (2) Interaksi terutama dengan orang dewasa dilakukan secara
Iisik (mencolek, eksplorasi Iisik), (3) Minat yang rendah dalam kontak
sosial, (4) Hanya ada sedikit pertanda dalam komunikasi verbal maupun
non-verbal secara timbal balik, (5) Hanya ada sedikit pertanda dalam
kegiatan bersama atau saling memperhatikan, (6) Kontak mata yang
rendah, enggan bertatapan, (7) Kemungkinan adanya perilaku repetitiI dan
stereotip, (8) Mungkin lupa akan perbuatan di sekitarnya (misalnya orang
yang memasuki ruangan), (9) DeIisiensi kognitiI (kurangnya kesadaran)
tingkat sedang sampai berat.
b. Passive type
Anak dengan tipe ini tidak akan mau untuk memulai kontak sosial tapi
dia akan memberikan respon jika ada orang lain yang membuat kontak
sosial dalam interaksi. Jadi tipe ini hanya memberikan respon terhadap
stimulus yang berasal dari orang lain. Berikut ciri-ciri dari tipe ini : (1)
3

Terbatasnya pendekatan sosial secara spontan, (2) Menerima pendekatan


orang lain, (3) KepasiIan mungkin mendorong terjadinya interaksi dari
anak-anak lain, (4) Sedikit kesenangan yang berasal dari kontak sosial tapi
jarang terjadi pengingkaran secara aktiI, (5) Mungkin berkomunikasi
secara verbal atau non-verbal, (6) Echolalia yang segera, lebih umum
terjadi dibanding aecholalia yang tertunda, (7) Berbagai tingkat
kekurangan kognitiI.
c. Active odd type
Anak dengan tipe ini akan melakukan pendekatan kepada orang
lain dengan cara yang aneh / janggal, naiI dan bentuk komunikasi yang
terjadi adalah komunikasi satu arah saja yaitu hanya dari dirinya saja.
Berikut ciri-ciri anak autis dengan tipe ini : (1) Kelihatan adanya
pendekatan sosial secara spontan, seperti paling sering dengan orang
dewasa dan kurang dengan anak-anak lainnya, (2) Interaksi mugkin
melibatkan keasyikan yang bersiIat repetitiI dan idionsinkratik (aneh),
seperti tak henti-hentinya bertanya dan rutinitas verbal, (3) Bahasa
mungkin bersiIat komunikatiI atau nonkomunikatiI (jika verbal), echolalia
yang segera atau tertunda, (4) Kemampuan mengambil peran yang sangat
rendah, seperti : persepsi yang rendah terhadap kebutuhan pendengar,
tidak ada modiIikasi kerumitan atau jenis bahasa dan bermasalah dalam
penggantian topik pembicaraan, (5) Minat terhadap rutinitas interaksi yang
lebih besar terhadap isi, (6) Mungkin sangat waspada terhadap reaksi
orang lain (terutama reaksi yang ekstrim), (7) Kurang bisa diterima secara
sosial dibanding kelompok pasiI (pelanggaran secara aktiI terhadap aturan-
aturan sosial yang telah.
3. Masalah imajinasi
Anak autis melakukan tindakan atau perilaku yang repetitiI, hal ini
mereka lakukan sebagai bentuk pemahaman dan respon mereka terhadap
hidup yang mungkin bagi mereka terasa rumit. Anak autisik memiliki
kesulitan dalam memahami tentang situasi yang terjadi, tapi mereka
6

mempelajari dunia 'dengan menghaIal dengan begitu mereka dapat


menemukan dunia yang dapat diprediksi / diduga sehingga memberikan
rasa aman kepada mereka. Oleh karena mereka sulit untuk memahami
aturan yang ada di dunia / lingkungan maka mereka membuat aturannya
sendiri dan anak autis adalah perIeksionis di mana segala hal harus benar.
Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa anak autis akan mengalami
kesulitan apabila aturan tersebut diganggu sehingga memicu kemarahan
dari mereka.
Penerimaan Orang Tua Terhadap Anaknya Yang Autis
Ketika orang tua mengetahui keadaan anaknya yang mengalami gangguan
perkembangan atau memiliki kebutuhan khusus seperti salah satunya adalah
autismee, kebanyakan dari orang tua mengeluarkan respon berupa
keterkejutan, ketidakpercayaan atau menimbulkan rasa kehampaan yang
teramat sangat (Power, 1992). Selain itu, Foster dan Berger (Smith, Ittenbach
&Patton, 2002) juga melaporkan bahwa berita atau diagnosa mengenai anak
yang mengalami gangguan perkembangan akan mengganggu keseimbangan
keluarga serta menghancurkan sistem nilai yang telah dibangun dalam
keluarga tersebut sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya akan
menyebabkan stagnansi keluarga pada siklus perkembangan tersebut.
Batshaw, Perret and Trachtenberg (Smith, Ittenbach &Patton, 2002) telah
mengurutkan respon yang biasanya ditunjukkan oleh orangtua mengenai
kondisi anak mereka hingga kepada penerimaan mereka terhadap kondisi anak
tersebut, yaitu:
a. Denial (Pengingkaran)
Ini adalah respon awal yang biasa diberikan oleh orangtua ketika
mengetahui kondisi anaknya. Berdasarkan DSM IV-TR (American
Psychiatric Association, 1994) yang dimaksud dengan denial adalah suatu
bentuk pertahanan diri yang dilakukan dengan bentuk penolakan atau
pengingakaran terhadap permasalahan yang dihadapi.
7

b. Depression
Berdasarkan DSM-IV-TR (American Psychiatric Association,1994),
depression adalah sebuah kondisi over pessimistic tentang keadaan dirinya
sehingga menunjukkan rasa sedih yang teramat sangat dan tidak sebanding
(tidak adekuat) dengan Iaktor / situasi, yang menyebabkan menurunnya
aktivitas dan putus asa. Berikut simptom-simptom (1) berkurangnya
ketertarikan pada aktivitas sosial, (2) Berkurangnya keinginan untuk
melakukan kegiatan sehari-hari.
d. Anger & Guilty (Kemarahan dan Rasa Bersalah)
Merupakan Iase di mana orang tua merasakan adanya amarah dan
perasaan bersalah terhadap diri mereka sendiri di karenakan kondisi anak
mereka. Kemudian rasa marah ini biasanya disalurkan dengan cara
mencari inIormasi mengenai kondisi anak mereka secara mem-babibuta
dengan kamampuan mereka sendiri dan bukan kepada tenaga proIessional.
e. Bargaining (Menawar)
Adalah sebuah proses yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dalam
rangka member dan menerima di mana terjadi transaksi di antara mereka.
(Reber, 1985). Di mana pada kondisi ini orang tua menyadari peran
mereka dalam perkembangan anak mereka yang autis dan mereka mencari
penguatan-penguatan yang bertujuan sebagai kontrol terhadap diri mereka.
I. Acceptance (Penerimaan)
Menerima kenyataan terhadap situasi yang tidak diharapkan dan tidak
mengenakkan merupakan hal yang sangat sulit. Akan tetapi, sekalinya
orang tua dapat menerima kondisi ini maka ia dapat menjalani hidupnya
seperti sebelum masalah ini timbul. Selain itu, apabila orangtua sudah
mencapai Iase ini maka ia akan dapat melakukan penyesuaian kebutuhan
terhadap anaknya yang mengalami gangguan / berkebutuhan khusus.


8

Stress dan Coping


Stress menurut Dictionary oI Psychology (Reber, 1985) adalah
suatu kondisi di mana terdapat tekanan yang menyebabkan terjadinya
perubahan pada suatu sistem dalam kehidupan individu atau situasi / kondisi
yang tidak biasa.
Coping menurut Lazarus (Lazarus, 1976) adalah suatu bentuk
penyesuian diri yang lebih spesiIik, yaitu kepada bagaimana cara individu
untuk mengendalikan stres dan juga merupakan cara untuk
merasionalisasikan perasaan cemas yang ia miliki.
Coping dapat dibagi ke dalam 2 bentuk yaitu :
1. Direct action
Merupakan tingkah laku individu yang berusaha untuk menghadapi
masalah atau ancaman yang ia rasakan. Empat bentuk direct action :
a) Preparing against harm
Yaitu kondisi di mana individu telah mempersiapkan dirinya untuk
menghadapi bahaya atau bentuk-bentuk ketidaknyamanan yang
mungkin akan dirasakannya.
b) Agresi atau menyerang
Yaitu sebuah kondisi di mana individu menerobos atau menyerang
hambatan atau barrier yang menyebabkan ia tidak dapat meraih goal /
tujuan yang ia inginkan.
c) Menolak
Perilaku ini muncul diawali dengan adanya rasa takut, tapi keadaan
atau kondisi tidak memungkinkan individu tersebut untuk lari dari
rasa takut tersebut. Sehingga menimbulkan penolakan bukan karena
rasa takut. Penolakan ini merupakan bentuk perlawanan individu
terhadap hambatan yang menyebabkan ia tidak dapat meraih
tujuannya.
9

d) Apatis
Merupakan kondisi di mana individu bersikap pasrah dan tidak
melakukan usaha apapun untuk menghadapi masalah tengah ia alami.
Sehingga mereka berada pada keputusasaan dan kebanyakan mereka
tidak mengerti dengan baik mengenai kondisi yang mereka alami.
2. Palliative Iorm
Individu menghadapi stresnya dengan cara mengeliminasi, mereduksi dan
mentolerasi stressor yang ada, pada bentuk ini individu berusaha mencari
kenyamanan bagi diri mereka sendiri. Adapun bentuk tingkah laku dari
palliative Iorm adalah mekanisme pertahanan diri. Berikut macam-macam
bentuk mekanisme pertahanan diri :
a) IdentiIikasi
Yaitu bentuk pertahan diri dengan cara meniru orang lain yang ada di
sekitarnya. Hal ini merupakan hal yang terpenting meurut Freud
(Lazarus, 1976) dalam perkembangan kepribadian yang sehat dan juga
dalam proses sosialisasi di mana individu mengadopsi nilai-nilai dari
budayanya.
b) Displacement
Berdasarkan Dictionary oI Psychology (Reber, 1985), yang dimaksud
dengan displacement adalah sebuah bentuk pertahanan diri individu
dengan cara mengganti suatu tujuan kepada tujuan yang lain,
dikarenakan tujuan awal tersebut tidak dapat dicapai.
c) Repression
Merupakan bentuk pertahanan diri di mana individu menekan atau me-
repress keinginan, perasaan, ide dan lain sebagainya sehingga tidak
muncul pada alam sadarnya.


10

10

d) Denial
Penolakan atau denial ini mirip dengan repression di mana individu
berusaha mempertahankan rasa amannya dengan cara menolak atau
mengingkari kondisi yang tengah ia rasakan.
e) Reaction Formation
Merupakan bentuk pertahan diri dari keinginan diri yang
membahayakan dirinya bila diekspresikan dan juga tidak dapat
diterima oleh lingkungan, penolakan individu terhadap keinginan yang
ia miliki menyebabkan terjadinya sebuah reaksi di mana individu
bertingkah laku atau bersikap secara bertolak belakang dengan
keinginan yang ia miliki.
I) Proyeksi
Mekanisme pertahanan diri yang ini sering kali dipergunakan individu
di masa kanak-kanak. Di mana individu memindahkan atau
memproyeksikan kesalahan atau masalah yang ia miliki kepada
individu yang lain.
Mekanisme Kompensasi
Menurut AlIred Adler (Reber, 1985), kompensasi adalah tingkah laku /
aktivitas yang dilakukan untuk menutup-nutupi kelemahan diri / kegagalan
diri dengan menonjolkan kelebihan diri atau mengimbangi kegagalan tersebut
dengan hal di bidang lain secara berlebihan.
Kompensasi dibagi ke dalam beberapa bentuk, yaitu :
a. Direct compensation
Kompensasi langsung, di mana individu yang merasa lemah langsung
melakukan hal yang dapat mengurangi kelemahannya tersebut.
b. Indirect compensation
Kompensasi secara tidak langsung, di mana individu menutupi
kelemahannya dengan berkarya di bidang lain.
11

11

c. Desirable compensation
Kompensasi yang dilakukan oleh individu dengan cara mencari kepuasan
bagi dirinya sehingga nantinya individu tersebut dapat melakukan
penyesuaian diri secara sosial.
d. Over compensation
Di mana individu melakukan kompensasi secara berlebihan, berusaha
menarik perhatian orang lain, misalnya dengan perilaku yang mencolok.
E. Tujuan Penelitian
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan gambaran nyata
tentang sikap dan proses penerimaan orang tua terhadap kondisi anak
mereka yang autis.
2. Kontribusi Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
pengembangan ilmu pengetahuan serta dapat dijadikan dasar dalam
merancang langkah dalam membantu mengoptimalkan perkembangan
anak autis, terutama dengan menciptakan lingkungan keluarga yang
kondusiI dan penuh dukungan bagi kelancaran proses belajar mereka
sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal.

F. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kualitatiI dan metode
studi kasus.
1. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan wawancara,
observasi dan studi dokumentasi.
2. Metode Analisis data
Analisi data pada penelitian ini bersiIat induktiI, yang dibagi ke dalam 2
tahap yaitu (1) analisis sebelum di lapangan yang merupakan studi
pendahuluan untuk menentukan Iokus penelitian; (2) analisis selama di
1

lapangan yang dibagi ke dalam 3 tahapan yaitu data reduction, data display
dan conclusion drawing / veriIication.
. Hasil & Pembahasan
Penerimaan orang tua terhadap anak mereka yang autis
Terdapat 5 Iase pola respon yang ditunjukkan oleh orang tua terhadap
kondisi anak mereka yang autis yaitu (1) denial (2) depression (3) anger &
guity (4) bargaining (5) acceptance
Fase Respon S1 (Istri) S2 (Suami)
Denial Mengalamai penolakan,
tapi S1 tidak lama berada
dalam Iase ini dan juga
sikap-sikap penolakan
yang ditunjukkan oleh S1
tidak muncul terus menerus
hanya dalam waktu-waktu
tertentu. Hal ini
dikarenakan ketidaktahuan
S1 mengenai autisme
sehingga S1 menjadi
bingung terhadap kondisi
anak kembarnya dan juga
S1 menghadapi kondisi
tersebut seorang diri,
dikarenakan sang suami
(S2) sedang bertugas di
luar negeri.

Tidak mengalami penolakan,
karena S2 tidak secara
langsung menangani dan
mendidik anak kembarnya.
Sehingga walaupun S2
mengalami kebingungan yang
sama dengan S1 karena
ketidaktahuannya mengenai
autism, tapi karena tidak
berhadapan dengan langsung
dengan anak kembarnya.
Depression Mengalami rasa sedih dan tertekan dengan kondisi anak-
anak mereka. Tapi rasa sedih tersebut hanya muncul pada
saat tertentu dan tidak berlarut-larut.
13

13

Selain itu, tidak menunjukkan adanya simptom-simptom


depresi. Sehingga dapat dikatakan bahwa pasangan orang tua
ini tidak mengalami depresi.
Dapat dilihat bahwa pasangan ini masih dapat mengurus
dirinya sendiri dengan baik, bahkan mereka dapat menjalin
relasi sosial dengan baik dengan lingkungan serta
menjalankan rutinitas sosialnya seperti bekerja.
Hal ini dikarenakan, S1 dan S2 merupakan orang yang dekat
dengan agama. Selain itu, pasangan suami istri ini juga selalu
saling mendukung dan menyemangati.
Anger &
Guilty
Tidak mengalami fase ini,
karena S1 medidik dan
mengasuh anak kembarnya
sendiri tanpa bantuan
secara langsung dari
suaminya. Sehingga rasa
bersalah dan marah
terkompensasikan dengan
kegiatan tersebut. Dimana
S1 lebih Iokus kepada
kegiatan mendidik dan
membesarkan anak
kembarnya.
Mengalami fase ini, karena ia
tidak bisa ikut mendidik dan
mengurus anak kembarnya
secara langsung, bahkan
istrinya seorang diri yang
mengurus anak-anak mereka
tanpa adanya turun tangan
langsung sang suami (S2).
Sehingga rasa marah dan
bersalah yang dirasakannya,
disalurkan/dialihkan dengan
cara mengumpulkan inIormasi
mengenai autisme dari
berbagai sumber. Selain itu, S2
juga sering kali membeli
banyak buku serta mainan
edukasi untuk dikirim ke
Indonesia.

Bargaining Pasangan orang tua ini mengalami fase ini, di mana mereka
14

14

melakukan berbagai macam pemeriksaan terhadap kondisi


anak-anak mereka baik secara psikologis maupun medis.
Selain itu, mereka juga mendatangi berbagai macam tempat
terapi sampai akhirnya mereka mendirikan rumah terapi
sendiri untuk anak-anak mereka.
Walaupun S2 berada jauh dari keluarga, tapi S2 memiliki
peran yang sangat besar dalam Iase ini. Karena S2-lah yang
memberi arahan kepada S1 untuk melakukan doctor
shopping
Terpengaruh oleh semangat suaminya dan rasa saying
terhadap anak, maka S1 pun mengikuti dan mencari para ahli
untuk anak-anaknya.
Acceptance Pasangan ini, sudah mencapai Iase ini ketika penelitian
dilakukan, dan Iase ini tidak dicapai dalam waktu yang
singkat.
Walaupun berdasarkan hasil wawancara S1 mengungkapkan
bahwa ia telah menerima kondisi anak-anaknya dalam waktu
6 bulan setelah pemeriksaan, tapi hal tersebut bertentangan
dengan hasil wawancara yang lainnya. Ini membuktikan
bahwa S1 membutuhkan waktu lebih dari 6 bulan untuk
dapat menerima kondisi anak-anaknya.
Kemungkinan S1 mencapai Iase ini bersamaan dengan sang
suami (S2) yang baru mencapai Iase ini setelah 4 tahun
mengetahui kondisi anak-anaknya.
Hal ini ditunjukkan dengan lebih terarahnya terapi yang
mereka programkan untuk anak-anak mereka, melalui
lembaga terapi yang mereka dirikan sendiri untuk anak-anak
mereka.


13

13

H. Simpulan
1. Hanya salah satu dari sepasang orang tua ini yaitu ibu yang mengalami
pengingkaran terhadap kondisi anak mereka.
2. Tidak satu orang pun dari sepasang orang tua ini yang mengalami depresi
menghadapi kondisi anak mereka yang autis.
3. Hanya satu pihak yaitu pihak ayah yang merasa marah dan bersalah
kepada dirinya dalam menghadapi kondisi anak mereka yang autis.
4. Pasangan orang tua ini melakukan penawaran atau menawar kondisi anak
mereka dengan cara melakukan doctor shopping dan therapy shopping.
5. Pasangan orang tua ini baru dapat menerima kondisi anak mereka yang
autis sejak 3 tahun yang lalu atau setelah 4 tahun anak mereka di diagnosa
autis oleh dokter.
DAFTAR PUSTAKA
Alloy, L.B, Riskind, J.H, dan Manos, M.J. (2005). Abnormal Psychology
(Curent Perspectives). New York. McGraw Hill Companies.
American Psychiatric Association.(1994). Diagnostic And Statistical Manual
OI Mental Disorder Fourth Edition, Washington DC.
Doman, Glenn. (2003). Apa Yang Dapat Dilakukan Pada Anak Anda Yang
Cedera Otak Atau Kerusakan Otak, Keterbelakangan Mental. DeIinisi
Mental, Palsi Serebral, Epilepsi, Autisme, Atetosis, HiperaktiI,
Gangguan Pemusatan Perhatian, Kelambatan Perkembangan, Sindroma
Down. Jakarta. P.T. Tiga Satria Tbk.
Hadi, ProI. Drs. Sutrisno, MA. (2004). Metodologi Research Jil.2. Yogyakarta.
Penerbit Andi.
Lazarus, Richard. (1976). 'Pattern oI Adjusment. London. McGraw-Hill Inc.
Peeters, Theo. (2004). Autisme :Hubungan Pengetahuan Teoritis Dan
Intervensi Pendidikan Bagi Penyandang Autis. Jakarta. Dian Rakyat.
16

16

Reber, Arthur S. (1985). Dictionary OI Psychology.England. Pinguin


ReIerence.
Santrock, John W. (1995). LiIe Span Development : Perkembangan Masa
Hidup Jil. II Edisi Kelima. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Smith, M.B., Ittenbach, R.F., Patton, J.R..(2002). Mental Retardation Sixth
Edition.New Jersey. Merrill Prentice Hall.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan KuantitatiI,
KualitatiI dan R&D. Bandung. Penerbit AlIabet.