Anda di halaman 1dari 30

Kompleksometri

INTISARI
Analisa kompleksometri merupakan salah satu analisa titrasi volumetrik melibatkan pembentukan kompleks dengan menggunakan indicator EBT (Erhiocrom Black T). Tujuan percobaan ini adalah untuk menganalisa kesadahan sementara, kesadahan tetap, dan kesadahan total suatu sampel dan untuk menganalisa kandungan CaO di dalam batu kapur. Kompleksometri adalah suatu jenis analisa kimia kuantitatif yang digunakan sebagai penentuan titrimetri yang melibatkan pembentukan suatu kompleks atau ion kompleks yang dapat larut tapi sedikit terionisasi. Larutan standar yang digunakan adalah EDTA dan indikator yang digunakan adalah EBT. Alat dan bahan yang digunakan adalah buret, statif, klem, beaker glass, Erlenmeyer, tabung reaksi, pipet tetes, corong, pengaduk, cawan porselin, dan labu takar. Sedangkan sampel yang digunakan adalah air paragon dan air minum Club, batu kapur. Reagen yang digunakan antaralain HCl pekat, KOH, indikator EBT, larutan buffer, Na2EDTA 0,01 N, dan MgEDTA 0,01 N. Langkah percobaan yang kami lakukan adalah menentukan kesadahan total, kesadahan tetap, kesadahan sementara pada 2 sampel air. Yang terakhir adalah penentuan kadar CaO pada sampel batu kapur. Hasil percobaan yang kami lakukan, kesadahan tetap air paragon adalah 20 ppm, kesadahan totalnya 210 ppm, kesadahan sementaranya 190 ppm. Sedangkan kesadahan tetap air minum Club adalah 12 ppm, kesadahan totalnya 140 ppm, kesadahan sementaranya 128 ppm. Kedua sampel air ini layak minum karena kesadahan sementara kedua sampel ini di bawah 500 ppm. Sementara itu kadar CaO yang kami temukan dalam batu kapur adalah 644 mgr, lebih kecil dari kadar aslinya yaitu 776,72 mgr, dengan persen error sebesar 17%. Hal ini deisebabkan oleh pengaruh pH yang berdampak pada perubahan warna EBT dan penambahan volume MgEDTA. Kesimpulan yang kami dapat adalah baik air paragon maupun air minum Club layak untuk diminum karena kesadahan sementaranya berada di bawah batas tingkat kesadahan dari pemerintah (di bawah 500 ppm) dan kadar CaO yang kami temukan (644 mgr), lebih kecil dari kadar asli (776,7 2mgr). Dari percobaan ini, saran kami adalah agar lebih teliti dalam mengamati perubahan warna pada saat penitrasian karena akan menentukan hasil percobaan. Penambahan indikator EBT dan MgEDTA secukupnya. Pada saat mengatur pH harus tepat 10, jangan sampai melebihi ataupun kurang dari 10 karena akan mempengaruhi kesetimbangan reaksi yang terjadi dan banyaknya titran.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Sarjana Teknik Kimia memiliki peranan penting untuk menganalisa kandungan logam berat, kesadahan dan CaO di dalam suatu bahan sampel dengan menggunakan metode analisa kompleksometri. Analisa diperlukan untuk mempersiapkan suatu bahan sebelum bahan tersebut diproses lebih lanjut. Banyak industri yang menggunakan metode analisa kompleksometri seperti industri semen, industri yang menggunakan steam (uap), industri air minum kemasan, dan lain sebagainya. Analisa kompleksometri merupakan salah satu analisa titrasi volumetrik melibatkan pembentukan kompleks dengan menggunakan indikator EBT (Erhiocrom Black T). Titik akhir titrasi ditandai oleh perubahan warna sampel dari warna biru menjadi warna merah. Terjadi substitusi antara logam berat dengan titran NaEDTA sehingga akan diketahui berapa kandungan logam tersebut dalam sampel. I.3 Tujuan Percobaan 1. Menganalisa kesadahan sementara, kesadahan tetap, dan kesadahan total 2. Menganalisa kandungan CaO didalam batu kapur I.4 Manfaat Percobaan 1. Mahasiswa mampu untuk menganalisa kesadahan sementara, tetap dan total dalam suatu sampel 2. Mahasiswa mampu menganalisa kandungan CaO dalam batu kapur.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II .1 Pengertian Kompleksometri Kompleksometri adalah salah satu jenis analisa kimia kuantitatif yang digunakan sebagai penentuan titrimetri yang melibatkan pembentukan suatu kompleks atau ion kompleks yang dapat larut tapi sedikit terionisasi. Larutan standart yang digunakan adalah EDTA dan indikator yang digunakan adalah EBT. Senyawa kompleks terbentuk dari suatu reaksi ion logam sebagai kation dengan suatu anion atau molekul netral. Ion logam dalam molekul kompleks disebut atom pusat sedangkan ion atau gugus atom yang memberikan pasangan electron disebut ligan. Reaksi yang membentuk kompleks ini dapat disebut sebagai reaksi asam basa Lewis, yang mana ligan bertindak sebagai basa dan kation dari logam sebagai asam.

II .2 Larutan Standar EDTA (Etilen Diamin Tetra Asetat) EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi dapat berkoordinasi dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empat gugus EDTA bebas sering disingkat H2Y2-. EDTA merupakan larutan penetrasi pembentuk khelat yang dapat digunkan untuk analisa kimia dari berbagai logam. Titrasi ion logam dengan pembentukan khelat ini disebut titrasi khelometrik

II .3 EBT (Eriochrom Black T) EBT ( Eriochrom Black T ) adalah salah satu indikator ion logam yang dipakai dalam analisa kompleksometri dengan rumus bagan dapat dinyatakan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

sebagai H2ln. OH N=N O3S

NO2 Perubahan EBT pada macam-macam pH : H2lnmerah Hln2+ biru ln3+ orange pH 10,5-12,5 (Hln2+)

pH 5,3-7,3 (H2ln-)

II .4 Larutan Buffer Larutan buffer adalah suatu campuran asam / basa lemah dari garamnya. Sifat larutan buffer : 1. pH dianggap tidak berubah jika larutan diencerkan. 2. pH dianggap tidak berubah jika ditambah sedikit asam / basa.

II .5 Teori Kesadahan Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium disebut sebagai air sadah, atau air yang sukar dipakai mencuci. Senyawa kalsium dan magnesium bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah terjadinya basa dalam air. Oleh karena senyawa-senyawa kalsium dan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

magnesium relative sukar larut dalam air, maka senyawa-senyawa itu cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan yang akhirnya menjadi kerak. Kesadahan dibagi 2 : 1. Kesadahan sementara Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam bikarbonat , seperti Ca(HCO3)2, Mg(HCO3)2. Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan pemanasan. 2. Kesadahan tetap Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam klorida, sulfat, dan karbonat, missal CaSO4, MgSO4, CaCO2, MgCl2. Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan menambah soda atau proses zeolit. Cara melunakkan air sadah : a. b. Kesadahan sementara dengan pendidihan Ca(HCO3)2 CaCl2 + Na2CO3 MgSO4 + Na2CO3 CaCO3 putih + H2O (l) + CO2 (g) Kesadahan tetap dengan soda CaCO3 + 2NaCl MgCO3 + Na2SO4

Air sadah yang mengandung garam ini disaring dengan saringan zeolitan, sehingga anion SO42- yang terdapat dalam air akan terserap akhirnya menjadi lunak. 2SiO2AlO2Na2O +Ca(HCO3)2 c. Dengan resin damar sintesis 2R SO3H + Ca2+ R(SO3)2Ca + 2H+ Resin ada 2 macam : - Resin karionik untuk penukar kation Damar yang mengandung gugus COOH / SO3H 2SiO2Al2O3CaO + 2NaHCO3

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

Rumus : RCOOH / R(SO3H) - Resin amoniak untuk penukar kation Damar yang mengandung gugus NH2 Rumus : R (NH2)2 d. Ion Exchanger Dilakukan setengah umpan untuk mecegah kesalahan dengan pertukaran ion lain. Air yang akan diionisasi dilewatkan melalui resin penukar sampai resin menjadi jenuh. Contoh : kapur menurunkan kesadahan karbonat, mengaktifkan garam Ca dan Mg.

II .5 Penggunaan Komplelsometri Dalam Industri 1. 2. 3. 4. menentukan kadar CaO dalam semen menentukan kadar CaO dalam baja menentukan kadar logam Al, Ca, Mg, Zn, Pb, Cu, Co, Fe, Ni, Pb mengetahui tingkat kesadahan air karena air sadah dapat menimbulkan kerak yang dapat menyumbat pipa saluran air panas seperti radiator yang digunakan dalam mesin-mesin pertanian 5. dipakai dalam industri air minum untuk mengetahui air yang memenuhi syarat air minum

II.6 Fungsi Reagen 1. HCl = melarutkan kapur agar kotoran juga larut 2. KOH = membuat larutan basa (pH=10) agar indikator berjalan baik 3. KCN = membuat kompleks dengan bahan pengganggu sebab kation dapat bereaksi dengan EDTA

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

4. EDTA = larutan standard titrasi 5. Buffer = mempertahankan pH 6. EBT = indikator untk menunjukkan perubahan TAT pada titrasi 7. Na2 MgEDTA = mencegah TAT timbul lebih awal dalam campuran Mg dan Ca sehingga meningkatkan selektivitas terhadap pembentukan kompleks Ca dan EDTA

II.7 Fisis danChemist Reagen


1. HCl Fisis :
-

BM = 36,47 TD = -85,50 C TL = -1110 C BJ = 1,268 gram/cc tidak berwarna kelarutan dalam 100 bagian air : panas = 82,3 dingin = 56,1

Chemist
- dalam keadaan pekat mereduksi kromat bila dipanaskan dan dihasilkan ion

chrom,reaksi: 2KcrO4 + 10HCl Hg2+ + 2Cl2Cr3+ + 8Cl2 + 2K+ + 8H2O Hg2Cl2


- dalam keadaan encer mengendapkan mercuri sebagai kallome

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

2. KOH Fisis :
-

BM = 50,1 TD = 15200 C TL = 3800 C Warna putih kelarutan dalam 100 bagian air : panas = 126 dingin = 97

Chemist :
-

merupakan basa kuat yang dalam air terionisasi sebagai berikut : KOH K+ + OHK2CO3 + H2O Membirukan lakmus merah menyerap CO2 dengan reaksi = CO2 + 2K+ + 2OH-

3. KCN Fisis :
-

BM = -65,11 BJ = 1,529 gram/cc TL = 6,3450 C Warna jernih kelarutan dalam 100 bagian air panas = 122,2 bentuk kristal kalsite merupakan garam dapat membentuk senyawa kompleks dengan logamyang dari golongan transisi

Chemist :
-

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

misal : 6CN- + Fe2+

[Fe(CN)6]4-

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III. 1 Bahan Yang Digunakan 1. HCl (p) 2. KOH 3. EDTA 4. Indikaor EBT 5. Larutan Buffer 6. Na2EDTA 0,01 N 7. MgEDTA 0,01 N

III .2 Alat Yang Digunakan 1,2,3. Buret, Statif, Klem 4. Beaker glass 5. Erlenmeyer 6. Gelas ukur 7. Pipet tetes 8. Corong 9. Pipet volume 10. Pengaduk 11. Cawan porselen 12. Labu takar

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

III.3 Gambar Alat

1,2,3

10

11

12

III .4 Keterangan 1,2,3. Buret, Statif, Klem 4. Beaker glass 5. Erlenmeyer 6. Gelas ukur 7. Pipet tetes 8. Corong 9. Pipet volume 10. Pengaduk 11. Cawan porselin = untuk titrasi = untuk wadah larutan saat penyaringan = tempat sampel untuk titrasi = mengambil larutan dalam jumlah besar = mengambil zat cair skala tetes = alat bantu menuangkan cairan = mengukur volume zat yang akan diambil = alat untuk mengaduk zat = wadah suatu zat
10

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

Kompleksometri

12. Labu takar

= tempat mengencerkan suatu larutan

III .5 Cara Kerja 1. Penetapan Kesadahan Total Ambil 10 ml sampel,atur pH sampai 10 dengan KOH Tambah 1 ml buffer,11 ml KCN dan sedikit indikator EBT Titrasi dengan Na2EDTA sampai warna merah anggur menjadi biru terang Catat voume titran yang diperlukan Kesadahan total ( . ) T . CaC 3.1 yang dititrasi ppm

2. Penetapan Kesadahan Tetap Ambil 100 ml sampel,masukkan dalam beaker glass,didihkan sampai 20-30 menit Sampel didinginkan ,saring,kertas saring tidak perlu dicuci Encerkan filtrate sampai 100 ml dalam labu taker Ambil 10 ml filtrate yang diencerkan ,atur pH sampai 10 dengan KOH Tambah 1ml buffer ,1 ml KCN dan sedikit indikator EBT Titrasi dengan Na2EDTA sampai warna merah anggur menjadi biru terang Catat voume titran yang diperlukan Kesadahan tetap ( . ) T . CaC 3.1 yang dititrasi ppm

Kesadahan sementara= kesadahan total-kesadahan tetap (ppm) 3. Penetapan kadar CaO dalam batu kapur Masukkan 3 gram sampel dalam beaker glass pyrex 250 ml, larutkan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

11

Kompleksometri

dengan 10ml HCl (p) Setelah larut ,uapkan sampai kering dengan kompor listrik Setelah kering,residu dilarutkan dengan HCl pekat secukupnya (25 ml) Encerkan dengan akuadest 100 ml ,panaskan sampai 15 menit Larutan dipindahkan ke labu taker 250 ml.Encerkan dengan akuadest sampai tanda batas Ambil 20 ml dan masukkan dalam labu taker 100 ml .Encerkan dengan akuadest sampai tanda batas Ambil 10 ml larutan yang telah diencerkan ,atur pH sampai 10 dengan KOH Tambah 1 ml buffer,1 ml KCN,2-3 tetes MgEDTA dan sedikit indikator EBT Titrasi dengan Na2EDTA sampai warna merah anggur menjadi biru terang Catat voume titran yang diperlukan Kadar CaO ( . ) T . CaO. total. pengenceran ppm yang diencerkan. yang dititrasi

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

12

Kompleksometri

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


IV .1 Hasil Percobaan a. Menghitung Kesadahan Sampel Air Paragon Sampel Air Minum Club b. Kadar CaO dalam Batu Kapur Kadar CaO yang ditemukan 644 mgr = 0,644 gr Kadar CaO asli 776,72 mgr = 0,77672 gr % error 17 % 140 ppm 12 ppm 128 ppm Kesadahan Total 210 ppm Kesadahan Tetap 20 ppm Kesadahan Sementara 190 ppm

Kesadahan Total

Kesadahan Tetap

Kesadahan Sementara

IV .2 Pembahasan 1. Kesadahan Air Layak Minum

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

13

Kompleksometri

Kesadahan air adalah kandungan mineral tertentu dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Air sadah memiliki kadar mineral yang tinggi. Pada peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, kesadahan maksimum yang boleh dimiliki oleh air layak minum adalah sebesar 500 ppm, kita dapat menurunkan kadarnya menjadi air di bawah 500 ppm dengan cara pemanasan untuk air sadah sementara dan cara mereaksikan dengan zat-zat kimia tertentu (larutan karbonat) (Wikipedia.org/wiki/kesadahan_air) (digilib.its.ac.id/public/its_master_13490_3308201014_chapter1.pdf) 2. a. Air Paragon Dari hasil percobaan kami, kesadahan sementara air paragon adalah sebesar 190 ppm, kesadahan tetap 20 ppm, dan kesadahan total 210 ppm. Karena standar kesadahan baku air yang layak minum kurang dari 500 ppm, sedangkan kesadahan sementara air paragon adalah 190 ppm sehingga air paragon kami layak minum walaupun belum dipanaskan. (Wikipedia.org/wiki/kesadahan_air) b. ir inum Club ir minum Club memiliki tingkat kesadahan sementara sebesar 128 ppm. Tingkat kesadahan air minum Club yang kami gunakan layak untuk dikonsumsi. Hal ini mengacu pada peraturan PMK no. 492 yaitu maksimal tingkat kesadahan sebesar 500 ppm. Kesadahan total air minum Club ini sebesar 14 ppm. Jadi air minum club sangat layak untuk dikonsumsi. (Wikipedia.org/wiki/kesadahan_air)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

14

Kompleksometri

c. Perbandingan Kedua Sampel Dari sampel 1 (air paragon) dan sampel 2 (air minum Club) dapat dibandingkan bahwa sampel 2 memiliki kesadahan lebih kecil (128 ppm) dari pada sampel 1 (190 ppm). Karena kesadahan sampel 2 lebih kecil, maka sampel 2 menjadi air layak minum lebih baik dari sampel 1. (digilib.its.ac.id/public/its_master_13490_3308201014_chapter1.pdf) 3. Pengaruh pH 10 Jika pH berada pada range 7-11, larutan ion Mg2+ dan ion Ca
2+

dititran secara kompleksometri dengan larutan EDTA dan digunakan petunjuk EBT, pertama-tama EDTA akan bereaksi dengan ion Ca2+, kemudian dengan ion Mg2+ dan akhirnya dengan senyawa rangkai Mg EBT yang berwarna merah anggun. Titik akhir pada pH 7-11 dengan adanya perubahan warna dari merah anggur menjadi biru berasal dari larutan penunjuk yang beku. Jika pH berada di bawah 7, EBT tidak bereaksi dengan sempurna. Hal ini dikarenakan EBT hanya bereaksi dengan sempurna apabila larutan tersebut bersifat basa. Ketika EBT ditambahkan kelarutan tersebut, pada saat TAT larutan akan berwarna merah. (Underwood 216) 4. a. Kadar CaO

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

15

Kompleksometri

Dari percobaan yang kami lakukan, kadar CaO yang kami temukan adalah 644 mgr, lebih kecil dari kadar aslinya yaitu 776,72 mgr. Sehingga %error kami dalam percobaan ini adalah 17%. Hal ini disebabkan karena pengaruh pH. Pada percobaan kami, pH larutan yang kita uji tidak tepat 10 melainkan 11. Hal ini dikarenakan semakin tinggi pH, endapan yang dihasilkan lebih banyak dan yang bereaksi dengan Y4 lebih sedikit karena hidrolisis ekstensif yang menyebabkan berkurangnya ion HPO3+ di dalam larutan sehingga konsentrasi ion OH- meningkat dan pH lebih dari 10 dan mengarah pada percepatan pembentukan endapan hidrolisa yang lambat bereaksi dengan EDTA maka volume titran yang dibutuhkan lebih kecil dari yang seharusnya. Hal ini menyebabkan kadar CaO yang kami temukan lebih kecil dari kadar asli CaO dalam sampel. 2Ca2+ + Y4 Ca2Y (Vogel 202) b. Fungsi Penambahan MgEDTA pada CaO MgEDTA berperan untuk mencegah pembentukan TAT timbul lebih awal, kompleks anion Ca2+ dan indicator sangat lemah untuk menimbulkan perubahan warna yang benar, maka dari itu Mg2+ menggantikan Ca2+ untuk digabungkan dengan EDTA. Setelah digabungkan dengan EDTA menjadi MgEDTA, 2-3 tetes MgEDTA dicampurkan ke larutan dengan pH 10 bersamaan dengan 1ml buffer dan sedikit EBT agar dihasilkan warna merah anggur pada larutan. Sedangkan pada percobaan kami, EDTA yang kami tambahkan terlalu sedikit sehingga kadar yang kami temukan lebih kecil (644 mgr) dari kadar asli (776,72 mgr). Hal itu dikarenakan penambahan EDTA berepengaruh pada kadar. Berikut adalah perhitungannya: mol CaO = mol MgEDTA

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

16

Kompleksometri

= V MgEDTA = = =

N MgEDTA . V MgEDTA
( , ( )( , ) )(. )

1,15 ml

Kadar Asli: mol CaO = = V MgEDTA = = = mol MgEDTA N MgEDTA . V MgEDTA


( , ( )( , ) )( )

1,387 ml

Dari perhitungan di atas volume MgEDTA pada percobaan kami lebih kecil dari volume MgEDTA asli yang harusnya ditambahkan. Sehingga CaO yang kami temukan lebih kecil dari kadar asli. (Underwood 219)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

17

Kompleksometri

GRAFIK Hubungan Volume EDTA vs pCa

5 4.5 4 perubahan pCa 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 0 3 6 9.2 penambahan EDTA (ml) pCa percobaan pCa sampel asli

Grafik Perbandingan Perubahan pCa Percobaan dan Sampel Asli Terhadap Penambahan EDTA
Laboratorium Dasar Teknik Kimia I
18

Kompleksometri

BAB V PENUTUP
V. a. b. c. 1. Kesimpulan Kesadahan maksimum yang diperbolehkan untuk air layak minum sebesar 500 ppm. Pada sampel air paragon, kesadahan totalnya adalah 210 ppm, kesadahan tetapnya adalah 20 ppm, dan kesadahan sementaranya adalah 190 ppm. Pada sampel air minum Club, kesadahan totalnya adalah 14 ppm. d. Kedua sampel yang digunakan pada percobaan ini (air paragon dan air minum Club) layak minum karena kesadahan sementaranya kurang dari 500 ppm. e. Kadar CaO yang ditemukan dalam percobaan kami adalah sebesar 644 mgr, lebih kecil dari kadar aslinya yaitu 776,72 mgr. Persen error percobaan ini adalah 17%. V. 2. Saran ppm, kesadahan tetapnya 12 ppm, dan kesadahan sementaranya adalah 128

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

19

Kompleksometri

a. Usahakan pH larutan uji diatur sampai tepat 10 dengan KOH. b. Pada saat melakukan percobaan, lebih baik dilakukan pembagian tugas sehingga waktu yang terpakai bias lebih efektif. c. Penambaahan indicator EBT secukupnya, jangan terlalu sedikit dan terlalu banyak, sehingga perubahan TAT dapat diamati dengan baik d. Pada saat melakukan titrasi, dilakukan dengan cermat. e. Lakukan percobaan penentuan kadar CaO dalam batu kapur di ruang asam, agar uap dari pemanasan larutan tidak menyebar ke seluruh ruangan laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

R. Sundaro, 1986, Analisa Kimia Kuantitatif, edisi ke-4, Jakarta: Erlangga Underwood, A.I. and Day R.A, 1983, Analisa Kimia Kuantitatif 5th edition. Diterjemahkan oleh R. Soendoro. Jakarta:Erlangga Vogel, A. I. Buku Teks Organik Kuantitatif Makro dan Semi Makro. Diterjemahkan oleh Ir. Sutiono dan Dr. A. Hadyono Pudjaatmadja.Jakarta: Penerbit P.T. Kalman Media Pustaka. (http://www.Wikipedia.org/wiki/kesadahan_air) (http://www.digilib.its.ac.id/public/its_master13490_3308201014_chapter1.pd f)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

20

Kompleksometri

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

21

Kompleksometri

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

22

Kompleksometri

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

23

Kompleksometri

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

24

Kompleksometri

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

25

Kompleksometri

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

26

Kompleksometri

LAPORAN SEMENTARA

PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA I


Materi : (KOMPLEKSOMETRI)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

27

Kompleksometri

GROUP ANGGOTA

: VII / Jumat Siang : Winda Tria Meiliana Fauzan Irfandy Anggun Kurniawan NIM:21030111130078 NIM:21030111130082 NIM:21030111130093

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA I TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

I.

TUJUAN PERCOBAAN 1. Menganalisa kesadahan sementara, kesadahan tetap, dan kesadahan total) 2. Menganalisa kandungan CaO didalam batu kapur

II.

PERCOBAAN 1.1 Bahan Yang Digunakan 1. HCl (p) 2. KOH 3. EDTA 4. Indikaor EBT 5. Larutan Buffer 6. Na2EDTA 0,01 N 7. MgEDTA 0,01 N

1.2 Alat Yang Digunakan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

28

Kompleksometri

1. Statif 2. Klem 3. Buret 4. Beaker glass 5. Erlenmeyer 6. Gelas ukur 2.3 Cara Kerja 1. Penetapan Kesadahan Total

7. Pipet tetes 8. Corong 9. Pipet volume 10. Pengaduk 11. Cawan porselen 12. Labu takar

Ambil 10 ml sampel,atur pH sampai 10 dengan KOH Tambah 1 ml buffer,11 ml KCN dan sedikit indikator EBT Titrasi dengan Na2EDTA sampai warna merah anggur menjadi biru terang Catat voume titran yang diperlukan Kesadahan total Penetapan Kesadahan Tetap Ambil 100 ml sampel,masukkan dalam beaker glass,didihkan sampai 20-30 menit Sampel didinginkan ,saring,kertas saring tidak perlu dicuci Encerkan filtrate sampai 100 ml dalam labu taker Ambil 10 ml filtrate yang diencerkan ,atur pH sampai 10 dengan KOH Tambah 1ml buffer ,1 ml KCN dan sedikit indikator EBT Titrasi dengan Na2EDTA sampai warna merah anggur menjadi biru terang Catat voume titran yang diperlukan ( . ) T . CaC 3.1 yang dititrasi ppm

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

29

Kompleksometri

Kesadahan tetap

( . )

T . CaC 3.1 yang dititrasi

ppm

Kesadahan sementara= kesadahan total-kesadahan tetap (ppm) 2. Penetapan kadar CaO dalam batu kapur Masukkan sampel dalam beaker glass pyrex 250 ml, larutkan dengan 10ml HCl (p) Setelah larut ,uapkan sampai kering dengan kompor listrik Setelah kering,residu dilarutkan dengan HCl pekat secukupnya (25 ml) Encerkan dengan akuadest 100 ml ,panaskan sampai 15 menit Larutan dipindahkan ke labu taker 250 ml.Encerkan dengan akuadest sampai tanda batas Ambil 20 ml dan masukkan dalam labu taker 100 ml .Encerkan dengan akuadest sampai tanda batas Ambil 10 ml larutan yang telah diencerkan ,atur pH sampai 10 dengan KOH Tambah 1 ml buffer,1 ml KCN,2-3 tetes MgEDTA dan sedikit indikator EBT Titrasi dengan Na2EDTA sampai warna merah anggur menjadi biru terang Catat voume titran yang diperlukan Kadar CaO ( . ) T . CaO. total. pengenceran ppm yang diencerkan. yang dititrasi

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

30