Anda di halaman 1dari 4

SYEKH PU1I DAN PEDOFILIA

Oleh:
Novi Arianti
0800281

A. Kasus Syekh Puji
Syekh Puji atau nama aslinya Pujiono Cahyo Widiyanto ialah sosok kyai
milyarder yang beberapa waktu lalu menjadi perbincangan karena ulahnya yang
menikahi gadis dibawah umur. Pria yang berusia 43 tahun ini, menikahi gadis
yang bernama LutIiana UlIa, seorang gadis belia berusia 12 tahun yang baru saja
lulus dari bagku SD dan baru beberapa bulan mengenyam bangku SMP. UlIa
adalah putri dari pasangan Suroso dan Siti Hurairah. Gadis ini dijadikan istri
kedua Syekh Puji.
Selain menikahi UlIa, Syekh Puji juga berniat untuk menikahi gadis yang
masih belia juga yaitu umur 7 tahun dan 10 tahun. Hal itu menurut Syekh Puji
bertujuan untuk menggenapkan istrinya menjadi 4 orang. Menurut keterangan
warga dan kalangan dekat Syekh Puji, LutIiana UlIa dinikah siri pada 8 Agustus
2008. Sementara dua bocah lainnya, akan dinikahi dalam waktu dekat ini.
Sebelum Syekh Puji menikahi wanita yang umurnya jauh lebih muda dengan
dirinya , Syekh Puji sudah berkali-berkali kawin cerai.
Syekh Puji punya alasan mengapa ia berhasrat menikahi gadis-gadis belia.
"Saya ini memang sukanya yang kecil," kata pendiri dan pengasuh Pondok
Pesantren MiItakhul Jannah, Semarang, Jawa Tengah, ini.
Menurut Puji, dirinya memang suka dengan wanita yang masih kecil
supaya ia bisa dengan mudah mendidik pasangannya agar menjadi orang hebat.
Menurut Puji, ketiga istri ciliknya tersebut bakal diminta mengurus sejumlah
perusahaannya.
Syekh Puji beralasan pernikahan tersebut ia lakukan berdasarkan ajaran
agama. "Saya punya dasar agama juga. Enggak ngawur," katanya. Syekh Puji
mengatakan, dia mengikuti Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah, gadis
berumur 7 tahun. Namun, Rasulullah tidak bercampur dengan Aisyah hingga si
gadis akil baliq. Syekh Puji pun tidak akan bercampur dengan istri-istri ciliknya
sebelum mereka akil baliq.
"Saya sesuai ajaran kanjeng nabi. Kalau menikah dengan yang umurnya 7
tahun boleh saja. Kalau urusan campur, itu baru dilakukan setelah dia mens,"
ujarnya. Menurut Syekh, LutIiana UlIa sudah akil baliq atau dengan kata lain
sudah haid.

. Analisis Kasus
Itulah sekelumit kasus yang menjadi kontroversi di kalangan masyarakat,
beberapa waktu yang lalu. Kasus ini, memang menjadi perbincangan, karena hal
tersebut adalah hal yang tidak biasa terjadi dalam masyarakat kita atau bisa
disebut sebagai perilaku abnormal. Para ahli kesehatan mental menggunakan
berbagai kriteria dalam membuat keputusan tentang apakah suatu perilaku
abnormal atau tidak. Kriteria yang paling umum digunakan adalah:
1. Perilaku yang tidak biasa.
2. Perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial atau melanggar norma
sosial.
3. Persepsi yang salah terhadap realitas.
4. Perilaku yang maladaptiI atau self-defeating.
5. Perlaku yang berbahaya bagi diri sendiri ataupun orang lain.
Tindakan Syekh Puji yang sering kawin cerai hingga akhirnya
memutuskan untuk menikah lagi dengan beberapa wanita yang dari segi usia bisa
terbilang masih anak-anak, termasuk sebagai perilaku abnormal. Ini berdasar dari
kesesuaian dengan beberapa kriteria yang dipakai para ahli psikologi dalam
menggolongkan suatu kasus sebagai perilaku abnormal. Meskipun mungkin tidak
sepenuhnya sesuai menurut orang lain, tapi tindakan Syekh Puji ini masuk kriteria
pada butir ke 1,2 dan 5.
Jika ditinjau dari ilmu psikiatri atau gangguan kejiwaan yang dialami
Syekh Puji, apakah Syekh Puji pedoIilia atau tidak, ini masih menjadi kontroversi
dan memerlukan kajian yang lebih mendalam. Namun, berdasar pada ulasan kisah
di atas, Syekh Puji bisa dikatakan sebagai pengidap pedoIilia.
Perlu digaris bawahi bahwa alasan Syekh Puji mempersunting wanita yang
berusia anak-anak yang dimaksudkan untuk mendidik mereka agar menjadi orang
hebat, bukanlah alasan yang dapat langsung diterima begitu saja. Kalau memang
alasannya murni seperti itu, kenapa Syekh Puji tidak mengangkat mereka sebagai
anak asuh, bukan dijadikan sebagai istri. Saya kira itu hanyalah tameng berkedok
agama untuk menutupi gangguan seksual yang ada pada dirinya.
Istilah pedoIilia berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata,
yakni pedo (anak) dan Iilia (cinta). PedoIilia adalah siIat kejiwaan manusia yang
mempunyai ketertarikan kepada anak di bawah umur.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mereka yang dapat
dikategorikan penderita pedoIilia, umurnya harus di atas 16 tahun, baik pria
maupun wanita, sedangkan anak yang menjadi korban berumur 13 tahun atau
lebih muda (anak prepubertas).
Sementara itu, Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) dalam buku iagnostic
and Statistical Manual of Mental isorders 4th Edition menyebutkan, diagnosis
pedoIilia dapat ditegakkan dengan tiga kriteria, yakni:
1. Selama masa sedikitnya enam bulan terjadi rangsangan, dorongan yang
berulang-ulang untuk melakukan seks dengan anak-anak (umumnya
berusia 13 tahun atau lebih muda).
2. Seseorang berbuat atas dorongan seksual ini atau dorongan ini
menimbukan tekanan atau gangguan kepribadian interpersonal.
3. Berusia sedikitnya 16 tahun atau setidaknya lima tahun lebih tua
ketimbang anak pada kriteria 1.
Dari ciri-ciri tersebut Syekh Puji bisa dibilang masuk dalam kriteria
pedoIilia. Sebut saja selisih usianya dengan Ummu Hani, istri pertamanya. Usia
Syekh Puji saat ini menginjak 43 tahun. Sedangkan Ummu Hani baru berusia 26
tahun. Jadi usia Syekh Puji dan Ummu Hani berjarak 17 tahun. Dan sekarang ia
ingin menikahi gadis berusia 12, 9, dan 7 tahun.
Dan tentu saja atas tindakan Syekh Puji ini, bisa menimbulkan tekanan
terhadap istri-istri ciliknya. Tekanan tersebut bisa berupa tekanan Iisik maupun
psikologis. LutIiana UlIa dan teman-teman sebayanya lainnya yang hendak
diperistri syeh Puji ini tergolong masih usia anak-anak, dimana organ reproduksi
mereka belum terbentuk secara matang. Selain itu, tekanan psikologis kerap akan
menghampiri mereka. Dengan usia seperti itu bisa dipastikan mereka akan
mengalami banyak konIlik kepribadian maupun konIlik batin lainnya jika dipaksa
menjadi dewasa tanpa melewati masa remaja. Mereka harus menjadi seorang istri
yang melayani dan mengurus suami, padahal mereka sendiri belum mampu untuk
mengurus dirinya sendiri. Masa kanak-kanak mereka akan hilang dimana waktu
bermain mereka terampas oleh tindakan Syekh Puji ini.
Hingga saat ini, belum diketahui penyebab pasti pedoIilia. Namun,
pedoIilia sering kali menandakan ketidakmampuan berhubungan dengan sesama
orang dewasa. Jadi, bisa dikatakan sebagai suatu kompensasi dari penyaluran
naIsu seksual yang tidak dapat disalurkan kepada orang dewasa.
Menurut buku iagnostic And Statistical Manual Of Mental isorders
(SM), Fourth Edition, yang dibuat oleh APA, gangguan seksual satu ini
berhubungan dengan educational value yang diperoleh saat seseorang masih kecil
atau Iaktor trauma/Iaktor lingkungan.
Dalam hal ini, mungkin saja perceraian Syekh Puji bukan semata-semata
karena ketidakikhlasan istri-istrinya dipoligami, namun bisa jadi karena alasan
ketidakmampuan Syekh Puji dalam berhubungan seks dengan sesama orang
dewasa. Dan sebagai kompensasinya, Syekh Puji melakukan hal tersebut kepada
anak-anak dengan jalan menikahinya.
Jika dikaitkan dengan trauma masa lalu, kawin cerai yang dialami Syekh
Puji bisa mempengaruhi kondisi psikologisnya sehingga ia merasa taruma dengan
wanita dewasa, meskipun hal ini mungkin tidak disadarinya. Terbukti setelah
perceraiannya itu Syekh Puji lebih memilih wanita yang masih berusia anak-anak
untuk kemudian dinikahinya.