Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Penelitian adalah suatu proses mencari tahu sesuatu secara sistematis dalam waktu yang relatif lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturanaturan yang berlaku. Supaya proses penelitian akan berjalan lancar, maka peneliti ditekankan untuk membuat rancangan penelitian. Dalam menentukan rancangan penelitian, hal yang perlu selalu diingat adalah seluruh komponen penelitian itu harus terjalin secara serasi dan tertib. Salah satu komponen penelitian yang mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan proses studi secara komprehensif adalah komponen metodelogi . Pada komponen ini, metode yang digunakan oleh peneliti dalam mencri dan memecahkan masalah diuraikan secar jelas, agar para peneliti mendapat gambaran yang sistematis dan terencana tentang apa yang hendak mereka lakukan. Ada beberapa istlah atau batasan yang berkaitan dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek dan objek yang hendak diteliti. Istilah penting tersebut diantaranya adalah populasi penelitian, jumlah subjek yang diperlukan dalam penelitian (sampel), dan teknik pemilihan subjek (teknik sampling). Istilahistilah ini harus dipahami dan dimengerti betul oleh peneliti sehingga mendukung tercapainya proses pengumpulan data. Data-data yang sudah diperoleh dipelajari, dianalisis, dan membuat kesimpulan untuk menjawab masalah yang diteliti itu. B. Tujuan Berdasarkan latar belakang di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji tentang populasi, sampel, cara menentukan besar sampel, dan teknik sampling, di mana istilah=istilah ini merupakan dasar untuk memperoleh data di lapangan.

BAB II TEKNIK SAMPLING A. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terditi atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek/benda-bend dan peristiwa alam yang menjadi interes penliti. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dipelajari oleh objek atau subjek itu. Menurut Babbie (1983), populasi adalah elemen yang hidup dan tinggal bersama-sama dan secara teoritis menjadi target hasil penelitian. Selanjutnya menurut Sukardi (2008: 53), populasi adalah semua anggota kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu penelitian. Populasi dapat berupa guru, siswa, kurikulum, fasilitas, lembaga sekolah, hubungan sekolah dan masyarakat, karyawan perusahaan, jenis tanaman hutan, jenis padi, kegiatan marketing, hasil produksi dan sebagainya. Jika yang ingin diteliti faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru SMP sekabupaten Bantul, maka populasinya adalah seluruh guru SMP di Kabupaten Bantul, atau ingin meneliti tentang sikap konsumen terhadap produk tertentu, maka populasinya adalah seluruh konsumen produk tersebut. Jika yang ingin diteliti adalah motivasi pegawai di departemen A, maka populasinya adalah seluruh pegawai di depertemen A. Populasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu populasi target dan populasi akses. Populasi target adalah populasi yang direncanakan dalam suatu penelitian. Populasi taget ini dapat berupa jumlah guru atau jumlah objek yang ditetapkan oleh peneliti atau yang berada secara pasti di suatu wilayah. Orangorang atau benda yang dapat ditemui ketika dalam penentuan jumlah populasi berdasarkan keadaan yang ada disebut populasi akses atau populasi yang dapat

ditemui. Populasi target dan populasi akses yang paling baik adalah sama besar, tetapi peneliti juga dapat mencapai hasil baik, jika populasi akses yang dicari mencapai 80% sampai 100% dari populasi target. B. Sampel Sampel atau cuplikan adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tertentu.. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Memang salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah bahwa sampel harus diambil dari populasi. Yang dapat diambil sebagai sampel dalam hal ini adalah populasi akses, yaitu jumlah anggota kelompok yang ditemui dilapangan. Syarat yang paling penting untuk diperhatikan dalam mengambil sampel ada dua macam, yaitu: jumlah sampel yang mencukupi dan profil sampel yang dipilih harus mewakili (representatif). Untuk itu perlu ada cara pemilihan yang benarbenar mewakili semua populasi yang ada. Subjek/objek pada sampel diteliti, hasilnya dianalisis, disimpulkan, dan kesimpulan itu berlaku untuk seluruh populasi (populasi target dan populasi akses). Berikut ini adalah gambar diagram alur pemikiran antara populasi dengan sampel (gambar 2.1).

Sampel

Populasi akses

Populasi target

Data dianalisis Gambar 2.1 Hubungan populasi dan sampel.

C. Menentukan Ukuran Sampel Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang diharapkan 100% mewakili populasi adalah sama dengan anggota populasi itu sendiri. Jadi dimisalkan jumlah populasi 1.000 dan hasil penelitian itu akan diberlakukan untuk 1.000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut yaitu 1.000 orang. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi maka makin besar kesalahan generalisasi. Jika jumlah populasi terlalu besar, maka peneliti dapat mengambil sebagian dari jumlah total populasi. Sedangkan untuk jumlah populasi kecil, sebaiknya seluruh populasi digunakan sebagai sumber pengambilan data. Sebagian dari populasi yang terpilih untuk penelitian, jumlahnya harus memenuhi syarat mewakili populasi yang ada. Berapa jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam penelitian? Jawabannya bahwa ada hukum statistika dalam menentukan jumlah subjek penelitian. Hukum tersebut adalah semakin besar jumlah sampel yang digunakan dalam studi/penelitian semakin kuat dan merefleksikan keadaan populasi yang ada. Jika keadaan populasi homogen atau mempunyai karakteristik sama maka jumlah sampel dapat lebih kecil. Sebagai contoh dalam penelitian eksperimen, seorang mahsiswa fisika dapat mengambil beberapa bahan seperti kuningan, aluminium, atau besi sebagai sampel penelitian. Mereka dapat mengambil beberapa potong saja karena sudah ketentuan bahwa bahan adalah homogen untuk satu jenis material sehingga syarat representatif terhadap populasi sudah dapat dipenuhi. Untuk penelitian sosial, pendidikan, politik yang berkaitan dengan masyarakat yang mempunyai karakteristik heterogen, pengambilan sampel harus

memenuhi dua syarat yaitu besar/jumlah (keterwakilan).

sampel dan

representativenes

Walaupun pemakaian jumlah subjek yang besar itu sangat dianjurkan, namun seorang peneliti mempunyai tiga faktor keterbatasan yaitu waktu yang sempit, kemampuan menganalisis terbatas, dan keterbatasan biaya guna menyelasaikan proses penelitian secara komprehensif. Kondisi yang demikian cendrung memotivasi peneliti untuk mencari alternatif lain, agar penelitian tetap dilakukan dan aturan statistika tetap dapat dipenuhi. Berikut ini adalah beberapa cara untuk menentukan jumlah subjek penelitian sekecil mungkin, tetapi masih dalam kerangka statistika yang diizinkan, yaitu: 1. Sekedar ancer-ancer, apabila subjeknya kurang dari 100, sebaiknya diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi atau sensus. Tetapi jika jumlah subjeknya (populasi) besar, jumlah sampel dapat ditentukan dengan persentase, seperti 10%, 15%, 20%, 25% atau lebih. Pilihan ini sangat tergantung dari: 1) kemampuan peneliti (waktu, tenaga, dan biaya), 2) sempit dan luasnya wilayah pengamatan, karena menyangkut banyak sedikitnya data yang diperoleh, 3) besar kecilnya resiko yang ditanggung peneliti (Suharsimi Arikonto, 2006: 134). 2. Dengan teori Jacob Cohen dan tabel L (1977: 439- 442) N= L
f
2

+ u +1,

dengan

N : ukuran/jumlah sampel f2 : effect size u : banyaknya ubahan yang terkait dalam penelitian. L : fungsi power dari u, diperoleh dari tabel t.s : 1%, 5%, atau 10% Contoh populasi 300 orang, berapa sampelnya? Misalnya : Power (p) = 0,95 dan effect size (f2) = 0,1 Harga L dalam tabel t.s 5%, power 0,95 dan u = 5 adalah 19,78 Maka dengan rumus di atas diperoleh jumlah sampel:

N=

1 ,7 9 8 +5 +1 = 203,8 deibulatkan 204 0,1

3. Dengan tabel yang dikembangkan oleh Isac dan Michael (1981: 192). Isac dan Michael mengembangkan tabel penentual jumlah sampel dari populasi tertentu dengan tingkat kesalahan 1%, 5%, dan 10%. Formula yang dianjurkan, untuk menentukan ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya adalah:

2 NP (1 P ) s = d 2 ( N 1) + 2 P (1 P )
s : jumlah sampel N : jumlah populasi akses

dengan

P : proporsi dalam populasi. Nilai P = 0,5 d : derajat ketepatan/ketelitian. Nilai d = 0,05


2 : haraga tabel chi- kuadrat untuk = 1% atau 5% atau10%.

Berdasarkan rumus tersebut dapat dihitung jumlah sampel dari populasi mulai dari 10 sampai 1.000.000. Tabel 2.1 makin besar taraf kesalahan di halaman 9, terlihat bahwa ukuran sampel. maka akan semakin kecil

Sebagai contoh (lihat tabel) untuk populasi 1.000, pada taraf kesalahan 1% jumlah sampelnya 399, untuk taraf kesalahan 5%, jumlah sampelnya 258, dan untuk taraf kesalahan 10%, jumlah sampelnya 213. dari tabel 2.1 juga terlihat bahwa bila jumlah populasi tak terhingga maka jumlah anggota sampelnya berturut-turut untuk kesalahan 1% = 664, untuk kesalahan 5% = 349, dan untuk kesalahan 10% = 272. Demikian pula untuk jumlah populasi 10, jumlah anggota sampel sebanyak 9,56 dan dibulatkan menjadi 10. Cara menentukan ukuran sampel seperti ini, didasarkan atas asumsi bahwa sampel berdistribusi normal (populasi heterogen). dipakai. Bila sampel tidak berdistribusi normal atau populasi homogen maka cara tersebut tidak perlu Misalnya untuk benda (logam) homogen, ukuran sampel sekecil apapun sudah bisa mewakili.

Contoh menentukan ukuran sampel, adapun penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui tanggapan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul. Kelompok masyarakat itu terdiri 1.000 orang, yang dapat dikelompokan berdasarkan jenjang pendidikan yaitu: lulusan S1 = 50 orang, Diploma = 300 orang, SMA/SMK = 500 orang, SMP = 100 orang, dan SD = 50 orang (populasi berstrata). Dengan menggunakan tabel 2.1, bila jumlah populasi 1.000 orang, kesalahan yang dipilih 5%, maka jumlah sampel pendidikan. Dengan demikian masing-masing 258. Karena Populasi sampel untuk tingkat berstrata maka sampel juga berstrata. Stratanya ditentukan menurut jenjang pendidikan harus proporsional sesuai dengan populasi. Jadi ukuran sampel dapat ditentukan sebagai berikut: S1 = 50/1000 x 258 = 12,90 dibulatkan = 13 = 129 Diploma = 300/1000 x 258 = 77,40 dibulatkan = 78 SMA/SMK= 500/1000 x 258 = 129,0 SMP SD = 100/1000 x 258 = = 50/1000 x 258 = 25,80 dibulatkan = 26 12,90 dibulatkan = 13

Jadi ukuran sampelnya adalah 12,90 + 77,40 + 129,0 + 25,80 + 12,90 = 258. Jumlah yang pecahannya dibulatkan ke atas, maka ukuran sampelnya mnjadi: 13 + 78 + 129 + 26 + 13 = 259. 4. Dengan Nomogram Herry King. Dalam Nomogram Herry King, jumlah populasi maksimum 2.000, dengan taraf kesalahan yang bervariasi, mulai 0.3% sampai dengan 15%, dan faktor pengali yang disesuaikan dengan taraf kesalahan yang ditentukan (lihat grafik). Dalam nomogram terlihat confident interval (interval kepercayaan) untuk 80% faktor pengali 0,780; untuk 85% faktor pengali 0,785; untuk 95% faktor pengali 1,195; dan untuk 99% faktor pengali 1,573. Contoh jika populasi berjumlah 200, dan dikehendaki tingkat kepercayaan sampel terhadap populasi 95% atau tingkat kesalahan 5%, maka

jumlah/ukuran sampel yang diambil adalah 0,58 x 200 x 1,195 = 19,12 orang atau dibulatkan 20 orang. Untuk lebih jelas, lihat grafik nomogram Herry King.

Gambar 2.2 Nomogram Harry King

Sumber : (Sugiono, 2008 : Metode Penelitia Pendidikan).

Tabel. 2.1 Penentuan Jumlah Sampel Dari Populasi Dengan Taraf Kesalahan 1%, 5 %, dan 10 %

Sumber : (Sugiono, 2008 : Metode Penelitia Pendidikan

D. Teknik Sampling Teknik sampling adalah merupakan cara pengambilan sampel dari populasi. Untuk menentukan jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompok menjadi dua yaitu: Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. 1. Probability Sampling Ada empat macam teknik pengambilan sampel dengan probability sampling (probabilitas sampling). Keempat teknik pengambilan sampel tersebut yaitu: cara acak, stratifikasi, klaster, dan sistematis. a. Sampling Acak (Random Sampling) Pada random sampling ini, secara teoritis semua anggota dalam populasi mempunyai probabilitas atau kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Untuk mendapat responden yang hendak dijadikan sampel, satu hal yang harus diketahui oleh para peneliti adalah jumlah responden yang ada dalam populasi. Pengambilan anggota sampel dari populasi secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Cara ini dilakukan dengan menganggap anggota populasi adalah homogen/relatif homogen (lihat gambar 2.3)

Populasi homogen/elatif homogen

diambil secara random

Sampel yang represen tatif

Gambar 2.3 Sampling Acak

10

Teknik pemilihan secara acak (random sampling) dapat dilakukan dengan manual atau tradisional dan dengan menggunakan tabel random. . 1. Cara tradisional Teknik ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagi berikut: indentifikasi jumlah total populasi tentukan jumlah respoden/sampel dari populasi yang dapat ditemui daftar senua anggota dalam popoulasi masukan dalam kotak yang telah diberi lubang penarikan. kocok kotak dan keluarkan lewat lubang nomor anggota yang keluar adalah mereka yang ditunjuk sebagai sampel dalam penelitian lakukan terus sampai jumlah yang diinginkan tercapai. 2. Menggunakan Tabel Random Proses pemilihan subjek dilakukan dengan menggunakan tabel acak (random) yang telah diakui manfaatnya dalam teori penelitian. Tabel itu umumnya terdiri dari kolom dan baris dengan angka lima digit yang secara acak dihasilkan oleh komputer. Cara ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagi berikut: indentifikasi jumlah total populasi tentukan jumlah sampel yang diinginkan daftar semua anggota yang masuk sebagai populasi berikan semua anggota dengan nomor kode yang diminta, pilih secara acak (misalkan tutup mata) dengan misalnya 000 299 untuk populasi yang berjumlah 300. menggunakan petunjuk yang ada pada tabel sesuai dengan kesepakatan. pada angka-angka yang tepilih, lihat hanya angka digit yang tepat yang dipilih. Jika populasi 300 maka hanya 3 digit dari akhir saja.

11

angka terpilih untuk individu dalam populasi menjadi

individu dalam sampel. Misalnya populasi berjumlah 300, maka angka terpilih 278 masuk sebagai individu sampel, sedang angka 375 tidak masuk sebagai individu sampel. gerakan petunjuk dalam kolom pada angka yang lain ulangi langka 9 sampai jumlah sampel yang diinginkan tercapai.

b. Sampling Stratifikasi (Stratified Sampling) Dalam penelitian pendidikan maupun penelitian sosial lainnya, seringkali ditemui kondisi populasi yang ada terdiri dari beberapa lapisan atau strata dengan karakteristik yang berbeda. Di masyarakat populasi berupa kelompok masyarakat yang terdiri dari petani, pedagang, tukang, pegawai negeri, pegawai swasta, dan lain sebagainya. Keadaan populasi yang demikian akan tidak tepat dan tidak terwakili, jika digunakan teknik acak. Teknik yang paling tepat dan mempunyai akurasi tinggi adalah teknik sampling dengan cara stratifikasi. Teknik stratifikasi ini harus digunakan sejak awal peneliti mengetahui bahwa kondisi populasi terdiri atas beberapa anggota yang memiliki stratifikasi atau lapisan yang berbeda antara satu dengan lainnya.Teknik stratifikasi mempunyai langkah-langkah untuk menentukan sampel yang diinginkan yaitu: indentifikasi jumlah total populasi tentukan jumlah sampel yang diinginkan daftar semua anggota yang termasuk sebagi populasi pisahkan anggota populasi sesuai dengan karakteristik strata yang dimiliki. pilih sampel dengan menggunakan prinsip acak seperti yang diketahui pada random sampling.

12

lakukan langkah pemilihan pada setiap lapisan/strata yang ada, sampai jumlah sampel tercapai.

c. Sampling Klaster (Cluster Sampling) Teknik klaster/area ini memiliki sampel bukan didasarkan pada individu tetapi lebih didasarkan pada kelompok, daerah, atau kelompok subjek yang secara alami berkumpul bersama. Teknik klaster sering digunakan oleh peneliti di lapangan yang wilayah penelitiannya sangat luas. Teknik sampling area ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang/subjek-subjek yang ada pada daerah itu secara acak. Teknik klaster mempunyai beberapa langkah sebagai berikut: indentifikasi populasi yang hendak digunakan dalam penelitian tentukan besar sampel yang diinginkan tentukan dasar logika untuk menentukan klaster perkirakan jumlah rata-rata subjek yang ada pada setiap klaster daftar semua subjek dalam setiap klaster dengan membagi antara jumlah sampel dengan klaster yang ada. secara random pilih jumlah anggota sampel yang diinginkan untuk setiap klaster jumlah sampel adalah jumlah klaster dikalikan jumlah anggota populasi per klaster. d. Sampling Sistematis (Systematic Sampling) Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 40 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 40. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu. Misalnya kelipatan bilangan tiga, maka sampel yang diambil adalah nomor 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, 30, 33, 36, dan 39. 2. Nonprobability Sampling

13

Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik pemilihan sampel ini meliputi: sampling kuota, sampling aksidental, sampling purposive, dan sampling snowball. 1. Sampling Kuota Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan Ijin Mendirikan Bangunan. Misalnya jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Bila pengumpulan data belum sampai 500 orang, maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota yang ditentukan. Sampling kuota ini banyak digunakan dalam dunia pers, seperti mereka ingin mendapatkan tingkat popularitas seorang pemimpin, atau mereka ingin mengetahui kinerja suatu badan yang dibentuk oleh pemerintah, dan sebagainya. 2. Sampling aksidental Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan atau accidental sampling. Siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang/subjek itu cocok sebagai sumber data. Misalnya seorang peneliti berdiri di pintu gerbang utama kampus, dan menanyakan setiap mahasiswa yang kebetulan lewat dipintu gerbang tersebut dari jam 8.00 sampai jam 10.00 pagi. Pekerjaan itu diulangi beberapa hari dengan waktu dan tempat yang sama sampai informasi yang dicari dirasakan telah menjawab permasalahan penelitian yang direncanakan. 3. Sampling Purposive Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel berdasarkan pada tujuan tertentu. Sebagai contoh peneliti memilih guru SMK untuk

14

memperoleh infotrmasi tentang efektivitas praktek di sekolahnya. Sampel ini lebih cocok digunakan pada penelitian kualitatif, atau penelitian yang tidak melakukan generalisasi. 4. Sampling Snowball Sampling snowball adalah teknik penentuan sampel yang mulamula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih seseorang menjadi anggota sampel, misalnya responden A dan dijadikan sebagai narasumber. Setelah selesai ditanya, responden A merekomendasi B dan C, B ditanya oleh peneliti kemudian merekomendasi D, E. Sedang responden C, memberikan rekomendasi kepada F, G. Begitu seterusnya sehingga peneliti memperoleh jumlah sampel sesuai dengan yang direncanakan. Gambar 2. 4 berikut ini adalah bagan snowball sampling:

A B C E

G O

Gambar 2.4. Snowball Sampling

15

BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian pada bab dua, dapat ditarik kesimpuln sebagai berikut: 1. Populasi penelitian adalah ditetapkan oleh peneliti wilayah generalisasi yang terditi atas untuk dipelajari dan kemudian ditarik objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang kesimpulannya. Populasi penelitian dapat bervariasi termasuk manusia, benda, dan peristiwa alam yang menjadi interes peneliti. Populasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu populasi target dan populasi akses. 2. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang diambil peneliti untuk mewakili populasi yang ada. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu, asalkan memenuhi dua syarat yaitu jumlah dan representatif.

16

3. Penentuan ukuran/jumlah sampel dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti: 1) menggunakan prosentase 10%, 15%, 20%, 25%, atau lebih untuk seluruh populasi, 2) dengan teori Jacob Cohen dan tabel L, 3) dengan tabel dari Isac & Michael, 4) dengan Nomogram Herry King. 4. Secara umum ada dua macam klasifikasi teknik sampling yaitu: sampling probabilitas dan sampling nonprobabilitas. 5. Sampling probabilitas mempunyai empat macam teknik pengambilan nonprobabilitas juga sampel yaitu: sampling acak, sampling stratifikasi, sampilng klaster, dan sampling sistematis. Sedangkan dalam sampling mempunyai empat macam teknik yaitu: sampling kuota, sampling

aksidental,sampling purposive, dan sampling snowball. DAFTAR PUSTAKA

Arikonto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. (Ed.i rev.VI). Jakarta: Rineka Cipta. Cohen, Jacob. (1977). Statistical power analysis for the behavioral sciences. (Rev. Ed.). New York: Academic Press. Sugiyono. (2008). Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif,dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukardi. (2008). Metodelogi penelitian pendidikan kompetensi dan praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara. Suparmo, Paul. (2007). Metode penelitian pendidikan fisika. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Wiersma,William. (1995). Research methods in education: an introduction. Boston: Allyn and Bacon.

17