Anda di halaman 1dari 6

Pelabuhan Karangantu, Banten, sudah menjadi bandar internasional sejak abad-15 silam.

Karangantu berperan sebagai penyangga perdagangan di Kesultanan Banten. Namun, seiring dengan suramnya masa kejayaan Kesultanan Banten, Pelabuhan Karangantu juga meredup peranannya dalam sistem pelayaran nasional. Sampai saat ini, Karangantu berperan tidak lebih sebagai tempat bersandar para nelayan lokal. Akibatnya, dari tahun ke tahun Pelabuhan Karangantu tidak berperan dalam meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Padahal, pelabuhan ini mengandung potensi yang besar, baik sektor perikanan, pariwisata, maupun sektor lainnya. Untuk itu, terbersit rencana untuk mengembalikan kejayaan pelabuhan tempat bangsa Portugis menginjakkan kakinya di Pulau Jawa. Rencana tersebut datang dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Tangkap Departemen Perikanan dan Kelautan (DKP) Republik Indonesia. Untuk menggolkan rencana itu, tanggal 11 Juni lalu, Sekretaris Ditjen Perikanan Tangkap DKP, Dr. Deddy H. Sutisna menemui Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah di Pendopo Gubernur Banten. Dalam kesempatan tersebut Sesditjen itu mengungkapkan rencana dimaksud. Pelabuhan Karangantu akan ditingkatkan statusnya dari Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara, katanya dihadapan Gubernur. Saat ini, Pelabuhan Karangantu masih berstatus sebagai pelabuhan perikanan pantai. Padahal potensi perikanan yang ada di laut banten sangatlah luar biasa. Peningkatan status dari pelabuhan perikanan pantai menjadi pelabuhan perikanan nusantara akan berdampak pada meningkatnya derajat perekonomian masyarakat, kata Dedi. Dedy juga mengungkapkan, semua persiapan peningkatan status dilaksanakan. Untuk peningkatan status tersebut hanya tinggal menunggu surat dukungan dari Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kota Serang. Sedangkan untuk naskah akademis sudah dipersiapkan, tandasnya. Untuk peningkatan status tersebut lanjut Dedi diperlukan berbagai hal yang perlu disiapkan. Dokumen yang diperlukan adalah naskah akademis mengenai pelabuhan bersangkutan, kemudian juga surat dukungan dari Gubernur Banten bahwa Pelabuhan Karangantu sudah disetujui untuk ditingkatkan statusnya, ia menjelaskan. Hal lain yang perlu disiapkan juga kata Dedi adalah penyediaan lahan minimal 15 hektar yang akan dibiayai oleh APBN, peningkatan status struktural pengelola pelabuhan dari eselon IV menjadi eselon III dan penambahan SDM. Selain itu juga penyediaan sarana dan prasarana seperti air, listrik dan akses jalan.

Peningkatan status tersebut, menurut Dedi, Pelabuhan Perikanan berperan seKarangantu Bakal Jadi Pelabuhan Perikanan Nasional bagai agent development atau sebagai pusat pengembangan usaha perikanan dan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan. Menurutnya, potensi lestari sumberdaya ikan relatif besarmencapai 6,4 juta ton per tahun yang merupakan peluang bagi pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dedi juga menambahkan dampak yang timbul pada peningkatan klas PPP Karangantu yaitu mengakomodir kapal-kapal tuna long line yang beroperasi di ZEEI Samudera Hindia yang tidak tertampung di PPS Nizam Zachman Jakarta dan PPS Cilacap. Selain itu juga akan berkembangnya usaha atau industri perikanan di Provinsi Banten. A p a l a g i , tambahnya, Banten masuk kedalam salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki Sumber daya laut melimpah. Termasuk diantaranya di bidang perikanan. Saat ini potensi kelautan Indonesia mencapai 6,4 juta ton per tahun. Tetapi yang tergarap baru 80 persen, ujarnya. Gayung bersambut. Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengaku akan serius melakukan persiapan untuk peningkatan status Pelabuhan Karangantu. Kami akan segera membentuk tim untuk pembebasan lahan. Tetapi tupoksinya disesuaikan dengan kewenangan yang dimiliki daerah masing-masing. Provinsi akan melakukan peningkatan kualitas jalan sementara kota sesuai dengan fungsinya, tutur Gubernur. Atut mengakui bahwa sekitar 2,1 juta masyarakan di Banten adalah nelayan atau yang hidup di daerah pesisir. Untuk itu, peningkatan ekonomi dari sisi perikanan mutlak harus dilakukan, ujarnya. Untuk itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten, Suyitno, bertekad mengggolkan rencana tersebut. Bahkan, pihaknya mentargetkan pencanangan Pelabuhan Karangantu sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara harus terlaksana tahun ini. Kita ingin bertahap. Tahun ini statusnya dulu menjadi pelabuhan nusantara, berikutnya pembangunan sarana, ungkapnya. Saat ini, kata Suyitno, pihaknya tengah mengupayakan sertifikasi sekira 6.000 meter lahan yang ada di areal Pelabuhan Karangantu. Nanti akan tambah lagi lahannya, sesuai dengan yang disyaratkan, tambahnya. DKP tidak juga tidak sekedar berusaha meningkatkan status Pelabuhan Karangantu. Bahkan, kalau memungkinkan mengambil alih pengelolaan pelabuhan tersebut. Saat ini, katanya, Pelabuhan Karangantu berada dalam pengelolaan unit pelaksana teknis Departemen Kelautan

dan Perikanan. Dan pusat juga tidak akan keberatan. Hanya perlu kajian dulu, ujarnya.*** (kusma)

Rencana pemerintah meningkatkan status Pelabuhan Karangantu menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara disambut gembira pemerintah dan masyarakat Banten. Maklum, peningkatan status itu diharapkan akan meningkatkan derajat perekonomian masyarakat. Status peningkatan ini akan membawa dampak yang sangat baik kepada masyarakat Banten, sehingga akan tercipta pembangunan multiplyer effect, ujar Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah, SE. Pernyataan senada dilontarkan Sesditjen Perikanan Tangkap Departemen Kelautan Republik Indonesia. Menurutnya, peningkatan status pelabuhan perikanan pantai menjadi pelabuhan perikanan nusantara dipastikan bakal mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Banten, khususnya masyarakat di sekitar pelabuhan tersebut. Apalagi Banten merupakan salah satu provinsi yang memiliki sumber daya laut yang melimpah. Saat ini potensi kelautan Indonesia mencapai 6,4 juta ton per tahun. Tapi yang baru tergarap 80%, ungkapnya. Masyarakat menyambut antusias rencana ini. Karuna (48 th), warga Kampung Bugis, Kasemen mengungkapkan dukungan rencana menjadikan Karangantu sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara. Setuju sekali. Kan nanti Karangantu raStatus Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat ramai dan warga akan diuntungkan, ujarnya seperti dikutif Harian Radar Banten. Dukungan itu dibarengi rasa optimisme. Kalau pemerintah sudah merencanakan, pasti pembangunan pelabuhan nusantara tersebut terjadi, ujarnya,

Karuna beralasan, jika sudah berstatus sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara maka Karangantu akan dikunjungi oleh masyarakat dari luar daerah yang membeli ikan segar, bukan hanya dikuasai oleh pembeli lokal. Kalau ramai dikunjungi tamu maka perputaran uang akan cepat dan banyak, dan itu akan menguntungkan warga sekitar. Tenaga kerja juga akan banyak terserap, ujarnya. Ungkapan senada dilontarkan Yuma (40 th). Ia mengatakan, fenomena sekarang, jika ikan sedikit harga mahal. Namun jika ikan banyak, harga murah. Jika sudah menjadi Pelabuhan Nusantara, mungkin yang beli ikan akan banyak dari luar daerah. Karena itu, pembeli akan selalu ada. Dan, harga stabil, ujarnya. Semua optimis, peningkatan status Pelabuhan Karangantu membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Maklum, Indonesia memiliki kekayaan ikan yang cukup besar. Dan, Banten merupakan salah satu daerah yang sumber daya ikannya melimpah. Banten memiliki luas wilayah 8.800,83 Km2 dan garis pantai 501 km. Kalangan DPRD Banten juga mendukung penuh peningkatan status tersebut. Anggota Komisi II DPRD Provinsi Banten Mediawarman mengatakan bahwa luas Pelabuhan Karangantu saat ini hanya berkisar 2,5 hektar, akan tetapi kapal-kapal nelayan yang singgah di pelabuhan tersebut, baik dari Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa per tahunnya mencapai 20 ribu kapal. Apalagi statusnya ditingkatkan menjadi PPN, selain luasnya bertambah secara otomatis kapal-kapal yang singgah pun akan lebih banyak lagi. Ini baik untuk perekonomin Banten, ujar Media. Peningkatan status itu akan meningkatkan produksi ikan di Banten. Potensi sumberdaya perikanan tangkap di Banten saat ini baru dimanfaatkan 117.170 ton/tahun. Pada akhir 2008, produksi ikan Banten naik sekitar 3.000 ton menjadi 65 ribu ton, sedangkan tahun sebelumnya hanya 62 ribu ton. Kenaikan ini menandakan potensi kelautan di Banten masih sangat tinggi dan bisa dioptimalkan. Pertumbuhan ekonomi akibat peningkatan status Pelabuhan Karangantu tidak terpaku hanya pada ikan. Sejarah Masa itu Malaka telah jatuh ke tangan Portugis. Hal ini menyebabkan para pedagang muslim yang sedang bermusuhan dengan Portugis segan singgah di Malaka dan mencari pelabuhan lain yang dikuasai Islam sehingga mereka mengalihkan jalur perdagangan ke Selat Sunda. Banten saat itu memegang peranan penting khususnya di bidang perdagangan. Bandar Banten merupakan bandar internasional dan dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Arab, Persi, Gujarat, Birma, Tiongkok, Perancis, Inggris dan Belanda. Tome Pires pada tahun 1523 mengunjungi pelabuhan Banten, Pires menyebutkan bahwa Banten telah menjadi pelabuhan kedua terpenting setelah Kalapa. Banten telah menjadi pelabuhan

pengeksporberas dan lada. Dari pelabuhan Banten tiap tahun telah diekspor lada sebanyak seribu bahar. Pengaruh perdagangan internasional agaknya tidak menyebabkan penduduk kota menjadi masyarakat konsumtif. Gejala ini dapat dibuktikan melalui data arkeologis yang berhasil dikumpulkan sejak tahun 1976 di situs Banten Lama. Beberapa situs arkeologis yang ditemukan antara lain berkenaan dengan kegiatan produksi, tempat penyimpanan dan komoditi dari situs tersebut berbagai artefak ditemukan. Dapat dibayangkan betapa besar dan ramainya pasar Banten saat itu. Tiap tahun banyak perahu Cina yang berlabuh di Banten. Mereka datang untuk berdagang dan melakukan perdagangan dengan cara barter dengan lada sebagai bahan utamanya. Tahun 1614 di Banten ada 4 buah perahu Cina yang rata-rata berukuran 300 ton. J.P.Coen mempunyai catatan bahwa 6 buah perahu Cina membawa barang dagangan bernilai 300.000 real. Selain sebagai pedagang, orang- orang Cina datang di Banten sebagai imigran. Cina etnis pedagang yang paling berperan di Banten, terutama sebagai pembeli dan pegangkut lada untuk didistribusikan. Orang-orang Gujarat juga membawa bahan-bahan pakaian untuk ditukar dengan lada di Banten. Tetapi di penghujung abad XVI terdapat catatan bahwa volume angkut para pedagang Asia Barat dari Banten lebih kecil dari yang bisa dilakukan oleh para pedagang Cina. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1598 sebanyak 18.000 karung lada telah dinaikkan ke 5 kapal Cina, dibandingkan pada tahun yang sama para pedagang Gujarat mengangkut 3.000 karung dan VOC tak lebih dari 9.000 karung. Menurut sumber Belanda kapal-kapal Cina yang datang ke Banten pada setiap tahunnya antara 8- 10 kapal yang masing-masing berdaya angkut maksimum 50 ton. Pada lain laporan disebutkan 5-8 kapal Cina bertonase sampai 100 ton datang setiap tahunnya. Sementara itu catatan dari pelaut Prancis menyatakan 9-10 kapal besar, sedangkan sumber Inggris menyebutkan 3- 6 kapal Cina yang seluruhnya bertonase sampai 300 ton. Lebih jauh catatan J.P. Coen (1614) menyebutkan tak kurang dari 6 kapal Cina tiba di Banten setiap tahunnya dan membawa kembali kargo barangsenilai 300.000 real.

Karangantu merupakan tempat yang memegang peranan, baik sebagai pelabuhan sekaligus sebagai pasar untuk usaha meningkatkan jual beli barang dagangan, seperti tekstil dan keperluan sehari-hari lainnya. Di kota Banten ada beberapa macam tipe jual beli sesuai dengan fungsi pasar di Banten Lama seperti yang tertulis dalam babad Banten.

Menjadi Pelabuhan Nusantara Hal utama yang melatarbelakangi perubahan PPP Karangantu menjadi PPN adalah mewujudkan pelabuhan perikanan yang akan berperan sebagai pusat pengembangan usaha perikanan dan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan. Kondisi saat ini luas pelabuhan Karangantu hanya berkisar 2,5 Ha, akan tetapi kapal-kapal nelayan yang singgah di pelabuhan tersebut baik dari Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa pertahunnya mencapai 20 ribu kapal. Dengan statusnya yang akan ditingkatkan menjadi PPN, luas pelabuhan harus ditambah untuk mengantisipasi kapal-kapal yang singgah yang akan datang lebih banyak lagi. Dibutuhkan lahan seluas 15ha untuk memenuhi persyaratan menjadi pelabuhan nusantara. Selain akan dibangun dermaga besar, di pelabuhan Karangantu ini akan dijadikan kawasan terpadu sebagai kawasan pengolahan ikan. Saat ini, Pemerintah Provinsi Banten sedang mengupayakan sertifikasi tanah sekitar 6.000 meter persegi lahan yang ada di areal Pelabuhan Karangantu. Melalui perubahan status pelabuhan tersebut Pemerintah Provinsi Banten berharap akan meningkatkan perekonomian masyarakat, baik sekitar pelabuhan maupun masyarakat Banten pada umumnya, karena tidak hanya pasar lokal saja yang akan membeli ikan dari Banten. Potensi lestari sumberdaya ikan relatif besar sekitar 6,4 juta ton/thn yang merupakan peluang bagi pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan status PPP menjadi PPN akan berorientasi pada tiga pilar kebijakan nasional yaitu kebijakan untuk mengurangi kemiskinan (Pro Poor), Kebijakan menciptakan lapangan pekerjaan (Pro Job), kebijakan meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Pro Growth). Setelah terjadi peningkatan status Pelabuhan Karangantuharus mampu mengakomodir kapal-kapal tuna long line yang beroperasi di Zona Economy Exclusive (ZEE) Samudera Hindia yang saat ini keberadaan kapal-kapal tersebut sudah tidak tertampung lagi di PPS Nizam Zachman Jakarta dan PPS Cilacap.