Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Akhlak tasawuI memiliki peranan penting bagi perjalanan hidup manusia,
dimana akhlak tasawuI merupakan salah satu khazanah intelektual muslim yang
kehadirannya hingga kini makin dirasakan dan memandu perjalanan hidup
manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Tidak berlebihan jika misi utama
kerasulan Muhammad SAW. adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia, dan
sejarah mencatat bahwa Iaktor pendukung keberhasilan dakwah beliau antara lain
adalah akhlaknya yang mulia. Perhatian tentang pentingnya akhlak tasawuI
muncul kembali disaat manusia di zaman modern yang dihadapkan pada berbagai
masalah. Praktek menyimpang dan penyalahgunaan kesempatan dengan
mengambil bentuk perbuatan yang merugikan orang kian tumbuh di wilayah yang
tak berakhlak dan bertasawuI.
Kepada umat manussia khususnya yang beriman kepada Allah SWT.
diminta agar akhlak dan keluhuran budi Nabi Muhammad SAW. Dijadikan
contoh dalam kehidupan di berbagai bidang. Ajaran tasawuI merupakan salah satu
dasar pemikiran yang sering menjadi sasaran kritik yang sangat tajam. Salah satu
kritik yang datang dari orang-orang suIi yang sudah meninggalkan ibadah rutin
dan ungkapan-ungkapan mereka banyak menyesatkan orang-orang awam.
Tidak heran jika kemudian timbul tuduhan kaIir kepada mereka. Kajian
tasawuI sangat dibutuhkan untuk merespon dan memprediksi masa depan tasawuI.
Maka dari itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang pengertian akhlak,
pengertian tasawuI, dasar-dasar tasawuI dalam al-Qur`an dan hadis. Kajian ini
setidaknya memberikan pandangan objektiI terhadap tasawuI. Jika berbicara
tentang pengertian tasawuI akan ditemukan banyak sekali pengertian yang
berbeda-beda dikaalangan para ulama. Secara singkat bahwa ilmu tasawuI adalah
ilmu yang mwempelajari usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa
naIsu, mencari jalan kesucian dengan ma`riIat menuju keabadian, serta berpegang
teguh pada janji Allah dan mengikuti syariat Rasulullah dalam mendekatkan diri
dan mencapai keridlaan-Nya.

B. Identifikasi Masalah
Pembahasan masalah akhlak dan tasawuI sebetulnya merupakan satu
bahasan yang sama, keduanya megemukakan perilaku manusia dalam keseharian
(hubungan dengan manusia) serta perilku manusia sebagai hamba terhadap Allah
sebagai tuhannya. Perilaku manusia yang merupakan deIinisi dari kata akhlak itu
sendri, jika dikaitkan dengan tasawuI (orang-orang suIi) akan memiliki kesamaan
tujuan yaitu menyediakan manusia yang berakhlak suIi.
Untuk mempersempit pembahasan dalam makalah ini uraian akan
diIokuskan kepada wawasan tentang akhlak, wawasan tentang tasawuI serta
akhlak kaum suIi (tasawuI).

. #:2:san Masalah
erdasarkan identiIikasi dan Latar belakang masalah, maka penulisan
makalah ini dirumuskan sebagai berikut;
1. Apa deIinisi dari Akhlak?
2. Apa yang menjadi sumber dari akhlak, serta macam-macam dari akhlak?
3. Apa tujuan dari adanya ilmu tentang Akhlak?
4. Apa yang maksud dengan tasawuI?
5. agaimana keterkaitan antara ilmu Akhlak dan TasawuI?

D. T::an Peny:s:nan
Ada pun yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk;
1. Mengetahui deIinisi Akhlak.
2. Memahami yang menjadi sumber dari akhlak, serta macam-macam akhlak.
3. Mengetahui tujuan dari adanya ilmu tentang Akhlak.
4. Mengetahui yang dimaksud dengan tasawuI.
5. Memahami keterkaitan antara ilmu Akhlak dan TasawuI.








BAB II
KA1IAN PUSTAKA


A. Akhlak
1. Definisi Akhlak
Dalam Kamus esar ahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai
budi pekerti atau kelakuan. Secara etimologis berasal dari bahasa Arab ( ' = '
) bentuk jamak dari muIrodnya ( =) yang berarti udi Pekerti. Sinonimnya
etika dan moral. Etika dari bahasa latin etos yang berarti kebiasaan. Dan moral
berasal dari bahasa latin juga. Mores berarti 'kebiasaan.
Dalam kamus ilmiah, akhlak diartikan budi pekerti, tingkah laku atau
perangai seseorang. Ismail Thaib mengatakan bahwa dalam pengertian sehari-
hari perkataan 'akhlak umumnya disamakan dengan sopan santun atau
kesusilaan.
Di dalam Ensyiklopedia ritannica: 'Ethis is the syistimatic study oI the
nature oI value concept, good.
'bad, 'ought, 'right, 'wrong, etc. and oI the general principles
which justiIy us inappliying them to anything; also called 'moral
philosophy. Artinya: 'Ilmu akhlak adalah studi yang sistematik
tentang tabi`at dari pengertian-pengertian nilai 'baik, 'buruk,
'seharusnya, 'benar, 'salah, dan sebagainya dan tentang prinsip-
prinsip yang umum yang membenarkan kita dalam mempergunakannya
terhadap sesuatu; ini juga disebut 'IilsaIat moral.

Adapun pengertian akhlak menurut terminology (istilah) dapat
disebutkan berikut beberapa pengertian dari pada ahli ilmu.
a. Menurut Imam Ghazali



Artinya: 'Sifat yang tertanam dalam fiwa yang menimbulkan macam-
macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangan.

b. Menurut Ibrahim Anis





Artinya: 'Sifat yang tertanam dalam fiwa yang dengannya lahirlah
macam-macam perbuatan, baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran
dan pertimbangan.
c. Ibnu Maskawaih merumuskan akhlak adalah keadaan jiwa yang
mendorong untuk melakukan suatu perbuatan tanpa dipikir dan diteliti.
d. Ahmad Amin menyebutkan bahwa : 'Setengah dari mereka
mengartikan akhlak ialah kebiasaan kehendak. erarti kehendak itu
apabila membiasakan sesuatu maka disebut akhlak.
e. ProI. Dr. Ahmad Amin; bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak
yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu,
kebiasaan itu dinamakan akhlak.

Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab (yang biasa
berartikan tabiat, perangai kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu
tidak ditemukan dalam Al-Quran. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata
tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4.
Ayat tersebut dinilai sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw.
sebagai Rasul,
f, P[V VC1 6@
Artinya : 'Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang
agung (QS Al-Qalam |68|: 4).
Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi Saw., dan salah
satunya yang paling populer adalah, 'Aku hanya diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia.

. S:2-er Akhlak

Persoalan "akhlak" didalam Islam banyak dibicarakan dan dimuat


dalam al Hadits sumber tersebut merupakan batasan-batasan dalam tindakan
sehari-hari bagi manusia ada yang menjelaskan arti baik dan buruk. Memberi
inIormasi kepada umat, apa yang mestinya harus diperbuat dan bagaimana harus
bertindak. Sehingga dengan mudah dapat diketahui, apakah perbuatan itu terpuji
atau tercela, benar atau salah.
Kita telah mengetahui bahwa akhlak Islam adalah merupakan sistem
moral atau akhlak yang berdasarkan Islam, yakni bertititk tolak dari aqidah
yang diwahyukan Allah kepada Nabi atau Rasul-Nya yang kemudian agar
disampaikan kepada umatnya.
Pribadi Nabi Muhammad adalah contoh yang paling tepat untuk
dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian. egitu juga sahabat-sahabat
eliau yang selalu berpedoman kepada al-Qur'an dan as-Sunah dalam
kesehariannya.
eliau bersabda:



Artinya : 'Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Nabi saw bersabda,"
telah ku tinggalkan atas kamu sekalian dua perkara, yang apabila
kamu berpegang kepada keduanya, maka tidak akan tersesat, yaitu
Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.
Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa segala perbuatan atau
tindakan manusia apapun bentuknya pada hakekatnya adalah bermaksud
mencapai kebahagiaan, sedangkan untuk mencapai kebahagiaan menurut
sistem moral atau akhlak yang agamis (Islam) dapat dicapai dengan jalan
menuruti perintah Allah yakni dengan menjauhi segala larangan-Nya dan
mengerjakan segala perintah-Nya, sebagaimana yang tertera dalam pedoman
dasar hidup bagi setiap muslim yakni al-Qur'an dan al-Hadits.



. Maca22aca2 Akhlak

a. khlak l-Karimah
Akhlak Al-karimah atau akhlak yang mulia sangat amat jumlahnya,
namun dilihat dari segi hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia
dengan manusia, akhlak yang mulia itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1) Akhlak Terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada
Tuhan selain Allah. Dia memiliki siIat-siIat terpuji demikian Agung
siIat itu, yang jangankan manusia, malaikatpun tidak akan menjangkau
hakekatnya.
2) Akhlak terhadap Diri Sendiri
Akhlak yang baik terhadap diri sendiri dapat diartikan menghargai,
menghormati, menyayangi dan menjaga diri sendiri dengan sebaik-
baiknya, karena sadar bahwa dirinya itu sebgai ciptaan dan amanah Allah
yang harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.
Contohnya: Menghindari minuman yang beralkohol, menjaga kesucian
jiwa, hidup sederhana serta jujur dan hindarkan perbuatan yang tercela.
3) Akhlak terhadap sesama manusia
Manusia adalah makhluk social yang kelanjutan eksistensinya secara
Iungsional dan optimal banyak bergantung pada orang lain, untuk itu,
ia perlu bekerjasama dan saling tolong-menolong dengan orang lain.
Islam menganjurkan berakhlak yang baik kepada saudara, Karena ia
berjasa dalam ikut serta mendewasaan kita, dan merupakan orang yang
paling dekat dengan kita. Caranya dapat dilakukan dengan
memuliakannya, memberikan bantuan, pertolongan dan menghargainya.
Jadi, manusia menyaksikan dan menyadari bahwa Allah telah
mengaruniakan kepadanya keutamaan yang tidak dapat terbilang dan karunia
kenikmatan yang tidak bisa dihitung banyaknya, semua itu perlu disyukurinya
dengan berupa berzikir dengan hatinya. Sebaiknya dalm kehidupannya
senantiasa berlaku hidup sopan dan santun menjaga jiwanya agar selalu
bersih, dapt tyerhindar dari perbuatan dosa, maksiat, sebab jiwa adalah yang
terpenting dan pertama yang harus dijaga dan dipelihara dari hal-hal yang dapat
mengotori dan merusaknya. Karena manusia adalah makhluk sosial maka ia

perlu menciptakan suasana yang baik, satu dengan yang lainnya saling
berakhlak yang baik.

b. khlak l-Ma:mumah
Akhlak Al-mazmumah (akhlak yang tercela) adalah sebagai lawan
atau kebalikan dari akhlak yang baik seagaimana tersebut di atas. Dalam ajaran
Islam tetap membicarakan secara terperinci dengan tujuan agar dapat
dipahami dengan benar, dan dapat diketahui cara-cara menjauhinya.
erdasarkan petunjuk ajaran Islam dijumpai berbagai macam akhlak yang
tercela, di antaranya:
1) erbohong, Ialah memberikan atau menyampaikan inIormasi yang
tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
2) Takabur (sombong), Ialah merasa atau mengaku dirinya besar, tinggi,
mulia, melebihi orang lain. Pendek kata merasa dirinya lebih hebat.
3) Dengki, Ialah rasa atau sikap tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh
orang lain.
4) akhil atau kikir, Ialah sukar baginya mengurangi sebagian dari apa
yang dimilikinya itu untuk orang lain.
Sebagaimana diuraikan di atas maka akhlak dalam wujud
pengamalannya di bedakan menjadi dua: akhlak terpuji dan akhlak yang
tercela. Jika sesuai dengan perintah Allah dan rasul-Nya yang kemudian
melahirkan perbuatan yang baik, maka itulah yang dinamakan akhlak yang
terpuji, sedangkan jika ia sesuai dengan apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-
Nya dan melahirkan perbuatan-perbuatan yang buruk, maka itulah yang
dinamakan akhlak yang tercela.

. T::an Akhlak
Tujuan dari pendidikan akhlak dalam Islam adalah untuk membentuk
manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan
perbuatan, mulia dalam tingkah laku perangai, bersiIat bijaksana, sempurna,
sopan dan beradab, ikhlas, jujur dan suci. Dengan kata lain pendidikan akhlak
bertujuan untuk melahirkan manusia yang memiliki keutamaan (al-Iadhilah).
erdasarkan tujuan ini, maka setiap saat, keadaan, pelajaran, aktiIitas,

merupakan sarana pendidikan akhlak. Dan setiap pendidik harus memelihara


akhlak dan memperhatikan akhlak di atas segala-galanya.
armawie Umary dalam bukunya materi akhlak menyebutkan bahwa
tujuan berakhlak adalah hubungan umat Islam dengan Allah SWT dan
sesama makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonis.
Sedangkan Omar M. M.Al-Toumy Al-syaibany, tujuan akhlak adalah
menciptakan kebahagian dunia dan akhirat, kesempurnaan bagi individu dan
menciptakan kebahagian, kemajuan, kekuataan dan keteguhan bagi masyarakat.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan akhlak pada
prisnsipnya adalah untuk mencapai kebahagian dan keharmonisan dalam
berhubungan dengan Allah SWT, di samping berhubungan dengan sesama
makhluk dan juga alam sekitar, hendak menciptakan manusia sebagai makhluk
yang tinggi dan sempurna serta lebih dari makhluk lainnya.
Pendidikan agama berkaitan erat dengan pendidikan akhlak, tidak
berlebihan apabila dikatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pengertian
Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama.
Sebab yang baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang buruk
adalah apa yang dianggap buruk oleh agama. SEhingga nilai-nilai akhlak,
keutamaan akhlak dalam masyarakat Islam adalah akhlak dan keutamaan yang
diajarkan oleh agama.

B. Tasaw:f
1. Definisi Tasaw:f
Tasaw:f (Tasaww:f) atau S:fis2e (bahasa arab: ~;~ , ) adalah ilmu
untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq,
membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi.
TasawuI pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam
Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat
(pelbagai aliran dalam SuIi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang
Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran SuIi muncul di
Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh
belahan dunia.

a. Eti24l4gi
Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata "SuIi". Pandangan yang
umum adalah kata itu berasal dari SuI (--), bahasa Arab untuk wol, merujuk
kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak
semua SuIi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain
menyatakan bahwa akar kata dari SuIi adalah SaIa ('--), yang berarti kemurnian.
Hal ini menaruh penekanan pada SuIisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori
lain mengatakan bahwa tasawuI berasal dari kata Yunani theosoIie artinya ilmu
ketuhanan.
Yang lain menyarankan bahwa etimologi dari SuIi berasal dari "Ashab al-
SuIIa" ("Sahabat eranda") atau "Ahl al-SuIIa" ("Orang orang beranda"), yang
mana dalah sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang
menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya
untuk berdoa.
b. Be-erapa definisi s:fis2e:
O Yaitu paham mistik dalam agama Islam sebagaimana Taoisme di
Tiongkok dan ajaran Yoga di India (Mr. G..J Hiltermann &
ProI.Dr.P.Van De Woestijne).
O Yaitu aliran kerohanian mistik (mystiek geestroming) dalam agama Islam
(Dr. C.. Van Haeringen).

. Searah paha2
anyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal-usul ajaran tasawuI,
apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. erbagai sumber
mengatakan bahwa ilmu tasauI sangat lah membingungkan.
Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuI merupakan paham
yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah. Dan
orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang
sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau
menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap
memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan
keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya,

yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri


terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu
termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang
masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-
penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut
paham suIi, suIisme atau paham tasawuI. Sementara itu, orang yang penganut
paham tersebut disebut orang suIi.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuI
berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. erasal dari kata "beranda" (suIIa),
dan pelakunya disebut dengan ahl al-suIIa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka
dianggap sebagai penanam benih paham tasawuI yang berasal dari pengetahuan
Nabi Muhammad.
Pendapat lain menyebutkan tasawuI muncul ketika pertikaian antar umat
Islam di zaman KhaliIah Utsman bin AIIan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya
karena Iaktor politik.Pertikaian antar umat Islam karena karena Iaktor politik dan
perebutan kekuasaan ini terus berlangsung dimasa khaliIah-khaliIah sesudah
Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal ini. Mereka
menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan
busuk. Mereka melakukan gerakan u:lah , yaitu menarik diri dari hingar-bingar
masalah duniawi yang seringkali menipu dan menjerumuskan. Lalu munculah
gerakan tasawuI yang di pelopori oleh Hasan Al-ashiri pada abad kedua
Hijriyah. Kemudian diikuti oleh Iigur-Iigaur lain seperti ShaIyan al-Tsauri dan
Rabi`ah al-Adawiyah.

a. Pendapat yang 2engatakan -ahwa s:fis2e/tasaw:f -erasal dari dala2
aga2a Isla2:
O Asal-usul ajaran suIi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan
untuk bersungguh-sungguh terhadap Allah merupakan aturan di antara
para muslim awal, yang bagi mereka adalah sebuah keadaan yang tak
bernama, kemudian menjadi disiplin tersendiri ketika mayoritas
masyarakat mulai menyimpang dan berubah dari keadaan ini. (Nuh Ha
Mim Keller, 1995)

O Seorang penulis dari mazhab Maliki, Abd al-Wahhab al-Sha'rani


mendeIinisikan SuIisme sebagai berikut: "Jalan para suIi dibangun dari
Qur'an dan Sunnah, dan didasarkan pada cara hidup berdasarkan moral
para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila
melanggar pernyataan eksplisit dari Qur'an, sunnah, atau ijma." |11.
Sha'rani, al-Tabaqat al-Kubra (Kairo, 1374), I, 4.|

-. Pendapat yang 2engatakan -ahwa tasaw:f -erasal dari l:ar aga2a
Isla2:
O SuIisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol
pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari
kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh
Persi dan India ikut menentukan paham tasawuI sebagai arah asketis-
mistis dalam ajaran Islam (Mr. G..J Hiltermann & ProI.Dr.P.Van De
Woestijne).
O (SuIisme)yaitu ajaran mistik (mystieke leer) yang dianut sekelompok
kepercayaan di Timur terutama Persi dan India yang mengajarkan bahwa
semua yang muncul di dunia ini sebagai sesuatu yang khayali (als idealish
verschifnt), manusia sebagai pancaran (uitvloeisel) dari Tuhan selalu
berusaha untuk kembali bersatu dengan DIA (J. Kramers Jz).
O Al Quran pada permulaan Islam diajarkan cukup menuntun kehidupan
batin umat Muslimin yang saat itu terbatas jumlahnya. Lambat laun
dengan bertambah luasnya daerah dan pemeluknya, Islam kemudian
menampung perasaan-perasaan dari luar, dari pemeluk-pemeluk yang
sebelum masuk Islam sudah menganut agama-agama yang kuat ajaran
kebatinannya dan telah mengikuti ajaran mistik, keyakinan mencari-cari
hubungan perseorangan dengan ketuhanan dalam berbagai bentuk dan
corak yang ditentukan agama masing-masing. Perasaan mistik yang ada
pada kaum Muslim abad 2 Hijriyah (yang sebagian diantaranya
sebelumnya menganut agama Non Islam, semisal orang India yang
sebelumnya beragama Hindu, orang-orang Persi yang sebelumnya
beragama Zoroaster atau orang Siria yang sebelumnya beragama Masehi)
tidak ketahuan masuk dalam kehidupan kaum Muslim karena pada mereka

masih terdapat kehidupan batin yang ingin mencari kedekatan diri pribadi
dengan Tuhan. Keyakinan dan gerak-gerik (akibat paham mistik) ini
makin hari makin luas mendapat sambutan dari kaum Muslim, meski
mendapat tantangan dari ahli-ahli dan guru agamanya. Maka dengan jalan
demikian berbagai aliran mistik ini yang pada permulaannya ada yang
berasal dari aliran mistik Masehi, Platonisme, Persi dan India perlahan-
lahan memengaruhi aliran-aliran di dalam Islam (ProI.Dr.H.Abubakar
Aceh).
O Paham tasawuI terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan
yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama
Islam,(2) Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari
agama-agama non Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya,
paham tasawuI itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung
unsur-unsur ajaran Islam. Dengan kata lain, dalam agama Islam tidak ada
paham TasawuI walaupun tidak sedikit jumlah orang Islam yang
menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980).
O TasawuI dan suIi berasal dari kota ashrah di negeri Irak. Dan karena
suka mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (ShuuI), maka
mereka disebut dengan "SuIi". Soal hakikat TasawuI, hal itu bukanlah
ajaran Rasulullah SAW dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi
Thalib Radiyallahu anhu. Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir
rahimahullah berkata: 'Tatkala kita telusuri ajaran SuIi periode pertama
dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari
lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini
mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur`an dan As Sunnah.
Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran SuIi ini di dalam sejarah
pemimpin umat manusia Muhammad SAW, dan juga dalam sejarah para
shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta`ala di
alam semesta ini. ahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran SuIi ini
diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, rahma Hindu, ibadah
Yahudi dan zuhud uddha" - At TashawwuI Al Mansya` Wal Mashadir,
hal. 28.(RuwaiIi` bin Sulaimi, Lc).

. Ked:d:kan syariat dala2 e2pat tingkatan spirit:al



Empat tingkatan kedalaman beragama
Syari'at dalam perspektiI Iaham tasawuI ada yang menggambarkannya dalam
bagan mpat Tingkatan Spiritual Umum dalam Islam, syariat, tariqah atau tarekat,
hakikat. Tingkatan keempat, ma'riIat, yang 'tak terlihat', sebenarnya adalah inti
dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari kempat tingkatan spiritual tersebut.
Sebuah tingkatan menjadi Iondasi bagi tingkatan selanjutnya, maka mustahil
mencapai tingkatan berikutnya dengan meninggalkan tingkatan sebelumnya.
Sebagai contoh, jika seseorang telah mulai masuk ke tingkatan (kedalaman
beragama) tarekat, hal ini tidak berarti bahwa ia bisa meninggalkan syari'at. Yang
mulai memahami hakikat, maka ia tetap melaksanakan hukum-hukum maupun
ketentuan syariat dan tarekat.

. Tasaw:f dan il2: pengetah:an
Ilmu pengetahuan yang di zaman Yunani kuno diberi citra, bahkan diidentikkan
dengan IilsaIat. TasawuI sebagai ilmu juga diarahkan untuk kepentingan agama
(Kristiani), baru memperoleh siIat kemandiriannya semenjak adanya gerakan
Renaissance dan AuIklarung. Semenjak itu pula manusia merasa bebas, tidak
mempunyai komitmen dengan apa atau siapapun (agama, tradisi, sistem
pemerintahan, otoritas politik dan lain sebagainya) selain komitmen dengan
dirinya sendiri untuk mempertahankan kebebasannya dalam menentukan cara dan
sarana menuju kehidupan yang hendak dicapai.

. Kesenian s:fi
SuIisme telah menyumbang cukup banyak puisi dalam ahasa Arab, ahasa
Turki, ahasa Farsi, ahasa Kurdi, ahasa Urdu, ahasa Punjab, ahasa Sindhi,
yang paling dikenal mencakup karya dari Jalal al-Din Muhammad Rumi, Abdul
Qader edil, ulleh Shah, Amir Khusro, Shah Abdul LatiI hittai, Sachal
Sarmast, Sultan ahu, tradisi-tradisi dan tarian persembahan seperti Sama dan
musik seperti Qawalli.
































BAB III
PEMBAHASAN

A. H:-:ngan antara akhlak dan tasaw:f
Ilmu tasawwuf pada umumnya dibagi menjadi tiga, pertama tasawwuf
falsafi, yakni tasawwuf yang menggunakan pendekatan rasio atau akal pikiran,
tasawwuf model ini menggunakan bahan bahan kajian atau pemikiran dari para
tasawwuf, baik menyangkut IilsaIat tentang Tuhan manusia dan sebagainnya.
Kedua, tasawwuf akhlaki, yakni tasawwuf yang menggunakan pendekatan akhlak.
Tahapan tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang
buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan tafalli (terbukanya
dinding penghalang |hijab| yang membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur
Illahi tampak jelas padanya). Dan ketiga, tasawwuf amali, yakni tasawwuI yang
menggunakan pendekatan amaliyah atau wirid, kemudian hal itu muncul dalam
tharikat.
Sebenarnya, tiga macam tasawwuI tadi punya tujuan yang sama, yaitu
sama sama mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari
perbuatan yang tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji (al-
akhlaq al-mahmudah), karena itu untuk menuju wilayah tasawwuf, seseorang
harus mempunyai akhlak yang mulia berdasarkan kesadarannya sendiri.
Bertasawwuf pada hakekatnya adalah melakukan serangkaian ibadah untuk
mendekatkan diri kepada Allah swt. Ibadah itu sendiri sangat berkaitan erat
dengan akhlak. Menurut Harun Nasution, mempelajari tasawwuI sangat erat
kaitannya dengan Al-Quran dan Al-Sunnah yang mementingkan akhlak. Cara
beribadah kaum suIi biasanya berimplikasi kepada pembinaan akhlak yang mulia,
baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Di kalangan kaum suIi dikenal istilah
altakhalluq bi akhlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau
juga istilah al-ittishaf bi sifatillah, yaitu mensiIati diri dengan siIat siIat yang
dimiliki oleh Allah.
Jadi akhlak merupakan bagian dari tasawwuI akhlaqi, yang merupakan
salah satu ajaran dari tasawwuI, dan yang terpenting dari ajaran tasawwuI akhlaki
adalah mengisi kalbu (hati) dengan siIat khauf yaitu merasa khawatir terhadap

siksaan Allah. Kemudian, dilihat dari amalan serta jenis ilmu yang dipelajari
dalam tasawwuf amali, ada dua macam hal yang disebut ilmu lahir dan ilmu batin
yang terdiri dari empat kelompok, yaitu syariat, tharikat, hakikat, dan ma`rifat.

B. Tasaw:f dala2 Meningkatkan Akhlak M:lia
agi orang yang belum mengenal apa itu Ilmu TasawuI atau suIi tentu
akan merasa asing untuk keduanya, karena tidak tahu orang cendrung untuk
menjauhi atau enggan untuk mempelajarinya bahkan sampai mengejeknya. Hal ini
serupa dengan awal kedatangan Islam tempo dulu, sebagaimana sabda Nabi
Muhammad SAW, "Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula,
maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing (orang-orang Islam)." (HR
Muslim)
Kaum SuIi bukanlah sekelompok aliran bid'ah yang ajarannya masih saja
diperdebatkan, namun dalam memahami Ilmu kesuIian hati perlu benar-benar
bersih dan jeli untuk menangkap doktrin-doktrin yang diajarkan dalam suIi itu
sendiri dengan catatan tidak melenceng dari Islam. Tanpa didampingi ilmu
sebagai manusia terlalu gampang untuk mencoreng, mencela dan berprasangka
buruk terhadap sesama. Dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda, "Hati-hatilah
kalian terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu merupakan
perkataan yang paling dusta." (HR ukhari-Muslim)
Ilmu kesuIian atau Ilmu TasawuI adalah ilmu yang didasari oleh Al-Qur'an
dan hadits dengan tujuan utamanya amar makruI nahi munkar. Sejak jaman
sahabat Nabi SAW, tanda-tanda suIi dan ilmu kesuIian sudah ada. Namun nama
suIi dan ilmu tersebut belum muncul, sebagaimana ilmu-ilmu lain seperti Ilmu
Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu TaIsir, Ilmu Fiqh dan lain sebagainya. arulah pada
tahun 150 H atau abad ke-8 M Ilmu SuIi atau Ilmu TasawuI ini berdiri sebagai
ilmu yang berdiri sendiri yang bersiIat kerohanian.
Kontribusi Ilmu TasawuI ini banyak dibukukan oleh kalangan orang-orang
suIi sendiri seperti Hasan Al-ashri, Abu Hasyim ShuIi Al-KuIi, Al-Hallaj bin
Muhammad Al-aidhawi, SuIyan ibn Sa'id Ats-Tsauri, Abu Sulaiman Ad-Darani,
Abu HaIs Al-Haddad, Sahl At-Tustari, Al-Qusyairi, Ad-Dailami, YusuI ibn
Asybat, asyir Al-Haris, As-Suhrawardi, Ain Qudhat Al-Hamadhani dan masih
banyak yang lainnya hingga kini terus berkembang.

Dalam praktek realisasi ilmu suIi, khususnya tempo dulu, mutasawwif


(orang suIi) memerlukan adaptasi yang amat sangat. Hal ini agar mampu untuk
menarik orang-orang yang belum masuk muslim dengan jalan tanpa kekerasan
dan paksaan, dengan kata lain berdakwah yang tidak keluar dari tujuan utama
yang membuktikan akan cintanya kepada Maha Pencipta yakni Allah SWT.
Di sisi lain orang-orang suIi menjauhkan diri dari hal keduniaan yang
dapat menghijab antara hamba-Nya dengan Allah SWT dalam beribadah. Di
sinilah SuIi mulai mengembangkan metode-metode bagaimana cara untuk
membersihkan jiwa, pembinaan lahir batin, berdzikir, mendekatkan diri pada
Allah, membangun jiwa mulia dalam mengenal Allah atau berma'riIat. Selain itu
berintrospeksi diri, siapa diri ini sebenarnya, sesuai dengan hadits Nabi SAW,
"Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu, (arang siapa yang mengenal dirinya,
maka ia akan mengenal Tuhannya)."
Jelas bahwa Ilmu TasawuI dan suIi adalah merupakan salah satu ilmu
dalam Agama Islam yang sangat halus dan mendalam yang mampu menembus
alam batin serta sulit sekali untuk diilmiahkan dan diterangkan secara konkret.
Hal ini bukan berarti tidak dapat dibuktikan secara ilmiah namun seseorang yang
memiliki kebersihan hati dan kecerdasan yang luar biasa yang mampu
mecahkannya. Sebab "l-Islaamu ilmiyyun wa amaliyyun, (Islam adalah ilmiah
dan amaliah)" (HR ukhari)
Karena halusnya ilmu ini, persoalan-persoalan di dalamnya bagi orang
awam dapat menimbulkan khilaIiyah (perbedaan) dan pertentangan-pertentangan.
Tapi inilah keindahan Islam, berlomba dalam kebaikan selama tidak menyimpang
dari aturan Islam.
Dalam kitab Tayad l-Haqiqtul liyya hal. 57, salah seorang ulama Iiqh
dan ahli taIsir, Jalaluddin As-Suyuthi berkata, "TasawuI dalam diri mereka adalah
ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti sunnah
Nabi dan meninggalkan bid'ah."
Sedangkan Al-Junaid, seorang pimpinan tokoh suIi mazhab moderat yang
berasal dari aghdad, menyatakan tentang ilmu kesuIian dalam syairnya, "Ilmu
suIi (tasawuI) adalah benar-benar ilmu, yang tidak seorang pun dapat
memperolehnya, kecuali dia yang dikarunia kecerdasan alami, dan berbakat untuk

memahaminya. Tak seorang pun dapat berpura menjadi suIi, kecuali dia yang
melihat rahasia nuraninya."
Ilmu TasawuI dan suIi adakalanya orang mencap sebagai ilmu kolot,
ketinggalan jaman, usang, bahkan disebut aneh. Akan tetapi di balik itu semua
bahwa Ilmu TasawuI memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa untuk lebih
mengenal Tuhan serta membangun mental dan akhlak yang mulia. Yang perlu
diperhatikan kenapa orang dapat menjadi sesat dan madlarat dalam mempelajari
dan mengamalkan Ilmu TasawuI. Sehingga ia menjadi orang yang apatis atau
mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat dan keluarga, meninggalkan
keduniaan yang padahal di dunia ini adalah sebagai ladang amal dalam berbuat
kebajikan untuk bekal di hari kemudian. Hal demikian dapat terjadi kesesatan
pada diri seseorang dengan mempelajari ilmu TasawuI tetapi tanpa didampingi
dengan Ilmu Kalam (Ushuluddin) dan Ilmu Fiqh.
Menurut Imam Malik (94-179 H/716-795 M), "Man tassawaffa wa lam
yatafaqah faqad ta:andaqa, wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat,
wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq, (arangsiapa
mempelajari/mengamalkan tasawuI tanpa Iiqh maka dia telah zindik, dan
barangsiapa mempelajari Iiqh tanpa tasawuI dia tersesat, dan siapa yang
mempelari tasawuI dan Iiqh dia meraih kebenaran)." Dengan demikian bahwa
Ilmu TasawuI dan Ilmu Fiqh umpama dua jemari yang tak dapat dipisahkan, dan
tidak untuk diabaikan dimana keduanya sama-sama penting suatu perpaduan
antara akal dan hati.
Jadi dengan Ilmu Kalam (Ushuluddin) atau Ilmu Tauhid, bahwa Allah
SWT itu ada dan memercayainya sebagai Tuhan yang wajib disembah. Ilmu
Kalam ini adalah Ilmu pokok-pokok kepercayaan dalam agama Islam. Selain itu
pula untuk menghindari dari kemusyrikan serta memperkuat akan tauhidullah
sebagai esensi akidah Islam. Ilmu Fiqh, pemahaman tentang syariat-syariat Islam
berdasarkan Al-Qur'an dan as-Sunnah yang merupakan lautan ilmu yang meluas
secara horizontal. Sedangkan dalam Ilmu TasawuI adalah mengatur
kesempurnaan hubungan dengan Allah dan juga sebagai ilmu yang mampu
menembus vertikal kedalam. Dengan mempelajari ketiganya maka akan kuatlah

Iman, Islam dan Ihsan kita yang merupakan kesempurnaan dalam Islam, sebagai
wujud mempelajari Ilmu Tauhid, Fiqh dan TasawuI.
Cintanya orang orang-orang SuIi terhadap Tuhan, bagi mereka adalah
suatu kenikmatan tersendiri dalam bertasawuI, cara ini mampu membersihkan
jiwa akan penyakit-penyakit hati (bathiniyah). Tapi penyelewengan dalam dunia
suIi pun dapat saja terjadi seperti halnya Al-Hallaj yang mengakuinya dirinya
sebagai Allah, dengan teorinya wahdat al-wujud atau pantheisme (Penyatuan
Wujud) dan teori Al-Hulul atau penitisan (penjelmaan Tuhan dalam diri
Manusia).
Perkataan dan perbuatan Al-Hallaj ini membuat marah para ahli Kalam
(Tauhid), Fiqh dan masyarakat Islam, sehingga ia di hukum mati pada tahun 309
H. Di Indonesia dulu terjadi penyimpangan oleh seorang waliyullah yaitu Syeikh
Siti Jenar yang mirip dengan teori Al-Hallaj, ia di hukum mati oleh mahkamah
para wali di Jawa. Namun hanya Allah-lah Yang Maha Tahu akan maksud dan
hati seseorang.
Keunggulan umat Islam salah satunya adalah Ilmu TasawuI ini. Dengan
bertasawuI yang merupakan suatu kekuatan batin untuk mempertebal iman,
tauhid, ladang amal, pembersih jiwa, serta untuk memperkuat Ihsan suatu cara
untuk lebih mengenal Allah dan mencari keridhaan-Nya semata maka secara
otomatis akan meningkatkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia).
Menurut ProI DR Hamka, tasawuI Islam telah timbul sejak timbulnya
agama Islam itu sendiri. ertumbuh di dalam jiwa pendiri Islam itu sendiri yaitu
Nabi Muhammad Saw. Disauk airnya dari Qur'an sendiri. (Perkembangan
TasawuI dari Abad ke Abad).
Adapun ciri suIi menurut Imam Nawawi (620-676 H/1223-1278 M) dalam
risalahnya l-Maqasid t-Tawhid ada lima, yaitu: (1) menjaga kehadiran Allah
dalam hati pada waktu ramai dan sendiri, (2) mengikuti sunnah Rasulullah SAW
dengan perbuatan dan kata, (3) menghindari ketergantungan kepada orang lain,
(4) bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit, (5) selalu merujuk masalah
kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, Ilmu TasawuI khususnya di Indonesia, haruslah mendapat
perhatian penuh dari para alim ulama, sarjana, dan para cendekiawan Muslim

lainnya untuk diselidiki dan dikupas secara luas, agar dapat menciptakan mental
yang islami dan pemahaman spriritual Islam yang jauh dari siIat-siIat tercela dan
munaIik.

. Akhlak ka:2 S:fi
Seperti yang kita ketahui tokoh-tokoh kaum suIi memiliki keluhuran
akhlak yang sangat mulia. Kehati-hatian dalam bertindak, tutur kata yang soIan,
kerendahan hati, keta`atan terhadap Allah SWT, serta siIat-siIat mulia lainya
merupakan ciri khas dari akhlak mereka.
Kedekatan mereka dengan sang Khalik membuat mereka lebih hati-hati
dalam bertindak. Mereka sangat yakin bahwa tuhan selalu ada dan
memperhatikan semua tikah laku manusia, mereka sangat rido dengan semua
perintah sang pencipta. Hanya Allah yang mereka jadikan sumber pertolongan
sehingga mereka selalu berada dalam nur illahi yang senantiasa menuntun jalan
hidupnya.

Bb @[L, CBb Fb_1b,
. 61Bb
[Lf ;_qBb F CBb,
FbAAH B,@0
_Bb _ .
;_qBb [Lf 61Bb N
00 10 ;BqBb F
B@ ,Bb
Artinya : 'Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka
dari kegelapan (kekaIiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang
kaIir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan
mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekaIiran). mereka itu
adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
erdasarkan ayat di atas jelas bahwa dengan cara menjadikan Allah
sebagai sumber pertolongan (pelindung) maka kita akan berada dalam cahaya
kebenaran (iman). anyak ayat Al-Qur`an yang melukiskan jika kita senantiasa
berada dalam cahaya keimanan (petunjuk agama) maka tidak akan ada keburukan
apapun yang mempengaruhi kita.

B)0 CBb Fb_1b,


N@1 N@0 F N
H@ V@ b[f
J)JBb P [Lf Bb
N Bq@o
N=1,1@ B J1H
_1V
Artinya : 'Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang
sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah
mendapat petunjuk. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya,
Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan.
Jelas berdasarkan ayat tersebut, orang-orang suIi memiliki keluhuran
Akhlak karena selalu tunduk dan patuh terhadap tuhan pencipta alam semesta
serta hanya menjadikan petunjuk-Nya dalam menjalani kehidupan di Dunia ini.


















BAB IV
PENUTUP

A. Kesi2p:lan
Akhlak yang merupakan tabiat kebiasaan manusia sangat berkaitan
dengan ilmu tasawuI yang membahas siIat serta keluhuran akhlak orang-orang
suIi. Kedekatan orang suIi terhadap tuhan-Nya serta kebersihan hati mereka telah
mengantarkan mereka memiliki akhlak yang terpuji dan terjauh dari semua siIat
buruk (akhlak buruk).
erdasarkan uraian makalah ini jelas bahwa kajian antara ilmu Akhlak dan
tasawuI sangat berkaitan. edanya dalam ilmu akhlak yang dipelajari wawasan
dan hakekat dari akhlak itusendiri, sedangkan dalam tasawuI memberikan contoh
orang-orang suIi yang memiliki keluhuran akhlak yang mulia.

B. Saran
Sebagai penutup dari penulisan makalah ini, kami sebagai penyusun hanya
menyarankan bagi kita semua untuk senantiasa hanya menjadikan Allah tuhan kita
sebagai satu-satunya yang dijadikan tempat memohon dan berlindung, serta
jadikan hidayah-Nya (cahaya iman) sebagai petunjuk hidup di Dunia ini agar kita
semua terjauh dari siIat buruk yang akan membawa kemudharatan (Qs. 5:105).
Demikian uraian singkat dari kami, mudah-mudahan ada manIaatnya agar kita
semua selalu berusaha untuk berakhlak yang mulia.









DAFTA# PUSTAKA


Al-Ghazali. hklak Seorang Muslm. 1985. Semarang: Wicaksana

Anis, Ibrahim. l-Muifam l-Wasith. 1972. andung : Gramedia

Djatmika, Rahmat. Sistem thika Islam.1996.Jakarta: Pustaka Panjimas

Dr. M. Quraish Shihab, M.A. Wawasan l-Quran. 2004. andung : Gramedia

Moh. Ardani, ProI. Dr. H.. khlak Tasawuf. 2005. andung : Gramedia.

Pius A Partanto, et.el., Kamus Ilmiah Populer. 1994. Surabaya: Arkola

Thaib, Ismail. Risalah khlak. 1984. Yogyakarta: CV. ina Usaha