Anda di halaman 1dari 8

BAB 8

TEORI PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

8.1. TOPIK 12 TEORI PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

8.1.1. PENDAHULUAN Dasar hukum Pasal 4 ayat (1),(2) UU No.7 Tahun 1991 Penghasilan adalah : Setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh oleh wajib pajak dari manapun asalnya ( baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia ) yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun. Pengelompokan penghasilan berdasarkan aliran tambahan kemampuan ekonomis dibagi menjadi :

penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. penghasilan dari usaha dan kegiatan. penghasilan dari modal, yang berupa harta bergerak maupun harta tak bergerak. penghasilan lain-lain, seperti hadiah, pembebasan utang, keuntungan selisih kurs, selisih lebih karena penilaian kembali aktiva tetap dll

8.1.2. PENGHASILAN YANG TERMASUK OBJEK PAJAK : 1. penggantian/imbalan berkenaan dengan pekerjaan/jasa yang diterima/diperoleh termasuk gaji, upah, komisi, bonus, tunjangan, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, misalnya : honor koreksi ujian, uang lembur dan lain-lain. 2. hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan pekerjaan. 3. laba usaha. 4. keuntungan karena penjualan/ pengalihan harta 5. penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya. 6. bunga termasuk premium, diskonto, imbalan karena jaminan pengembalian utang. 7. dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun. 8. royalti. 9. sewa dan penghasilan lain sehubungan penggunaan harta. 10. penerimaan/perolehan pembayaran berkala. 11. keuntungan karena pembebasan utang. 12. keuntungan karena selisih kurs. 13. selisih lebih karena penilaian kembali aktiva. 14. premi asuransi. 15. iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas, sepanjang iuran tersebut ditentukan berdasarkan volume kegiatan usaha atau pekerjaan bebas anggotanya. 16. tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.

138

8.1.3. PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK : bantuan/sumbangan/harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan/ pendidikan / sosial /pengusaha kecil/koperasi yang ditetapkan Menkeu. sepanjang tidak ada hubungan-nya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. 2. warisan. 3. harta/setoran tunai sbg. pengganti saham / penyertaan modal. 4. penggantian/imbalan pekerjaan dalam bentuk natura/kenikmatan. 5. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan asuransi kesehatan/kecelakaan/jiwa / dwiguna/beasiswa. 6. dividen/bagian laba yang diterima PT / Koperasi /Yayasan/ BUMN/BUMD dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di indonesia 7. iuran yang diterima dana pensiun yang pendiriannya disahkan Menkeu., dan penghasilan dana pensiun tersebut dari modal yang ditanamkan dalam bidang tertentu yang ditetapkan menkeu. 8. bagian laba yang diterima anggota perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham/persekutuan/ perkumpulan/firma/kongsi 9. bunga obligasi yang diperoleh perusahaan reksa dana 10. penghasilan yang diterima perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha di Indonesia, dengan syarat merupakan perusahaan kecil/ menengah/menjalankan kegiatan dalam sektor usaha yang ditetapkan oleh Menkeu. serta sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia 1.

8.1.4. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK ( PTKP ) Dasar Hukum Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 7 UU No. 10 tahun 1994 1. 2. Untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP) bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Besarnya PTKP bagi Wajib Pajak Orang Pribadi berdasarkan status Wajib Pajak yang bersangkutan. Sedang status Wajib Pajak ditentukan menurut keadaan pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun pajak.

Untuk memperjelas ciri-ciri bahwa pajak penghasilan Orang Pribadi adalah merupakan pajak subjektif personal, pasal 7 UU PPh memberikan keringanan berupa penghasilan tidak kena pajak (PTKP) yang dihubungkan dengan keadaan pribadi Wajib Pajak (Keluarga dan tanggungan )

8.1.5. STATUS WAJIB PAJAK 1. Status Wajib Pajak terdiri dari : a) Tidak Kawin (TK) beserta tanggungannya. Misal TK/1 : tidak kawin dengan satu tanggungan, TK/2, TK/3, dan TK/0. b) Kawin beserta tanggungannya. Misal : kawin tampa tanggungan (K/0), kawin dengan satu tanggungan (K/1), (K/2), (K/3). Wajib Pajak untuk status seperti ini berarti WP kawin, istrinya tidak mempunyai penghasilan atau istrinya mempunyai penghasilan tetapi tidak perlu digabung dengan penghasilan suaminya di SPT PPh Orang Pribadi. c) Kawin, istri punya penghasilan dan digabungkan dengan penghasilan suaminya,serta jumlah tanggungannya, disngkat K/I/. Misal : K/I/0 artinya WP

139

kawin, istrinya punya penghasilan dan digabungkan dengan penghasilan suaminya di SPT dan tampa tanggungan. d) PH : status WP adalah melakukan perjanjian tertulis untuk pisah harta dan penghasilan. e) HB : hidup berpisah. 2 Yang boleh menjadi tanggungan adalah anggota keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus yang menjadi tanggungan sepenuhnya seperti orang tua lurus ke atas dan anak lurus ke bawah, dan keluarga semenda dalam garis lurus yang menjadi tanggungan sepenuhnya seperti mertua, serta anak angkat. Yang boleh menjadi tanggungan paling banyak adalah 3 (tiga) orang. Yang dimaksud menjadi tanggungan sepenuhnya adalah anggota keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh Wajib Pajak.

8.1.6. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK (PTKP) UU PPh menganut Pendekatan tarif seragam. Tarif PPh (Pasal 17 UU PPh) berlaku baik terhadap Orang Pribadi maupun Badan. Besarnya PTKP adalah : (sesuai Keputusan Menteri Keuangan No 361/KMK.04/1998 tgl 27 Juli 1998 mulai berlaku tahun pajak 1999) a) Rp 2.880.000,00 (dua juta delapan ratus delapan puluh ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak sendiri; b) Rp 1.440.000,00 (satu juta empat ratus empat puluh ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin; c) Rp 2.880.000,00 (dua juta delapan ratus delapan puluh ribu rupiah) tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami. d) Rp 1.440.000,00 (satu juta empat ratus empat puluh ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga. Kemungkinan PTKP yang dipakai dalam pengisian SPT Masa / tahunan wajib pajak PPh Pasal 21 : TK/0 Tidak Kawin Tampa Tanggungan Rp. 2.880.000/tahun TK/1 Tidak Kawin 1 Tanggungan Rp. 4.320.000/tahun TK/2 Tidak Kawin 2 Tanggungan Rp. 5.760.000/tahun TK/3 Tidak Kawin 3 Tanggungan Rp. 7.200.000/tahun K/0 Kawin Tampa Tanggungan Rp. 4.320.000/tahun K/1 Kawin 1 Tanggungan Rp. 5.760.000/tahun K/2 Kawin 2 Tanggungan Rp. 7.200.000/tahun K/3 Kawin 3 Tanggungan Rp. 8.640.000/tahun Contoh : Wajib Pajak Status K/I/3 maka besarnya PTKP : Untuk WP sendiri Status kawin

: Rp 2.880.000,00 : Rp 1.440.000,00

Tambahan untuk istri karena penghasilannya digabung : Rp 2.880.000,00 Tanggungan : 3 x Rp 1.440.000,00 Jumlah PTKP : Rp 4.320.000,00 : Rp 11.520.000,00

140

8.1.7. PENDAHULUAN Dasar Hukum Pasal 16 UU No. 10 Tahun 1994. Penghasilan Kena Pajak merupakan dasar penghitungan untuk menentukan besarnya pajak penghasilan yang terutang. Dalam undang-undang ini dikenal dua golongan Wajib Pajak yaitu Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib luar negeri. Bagi Wajib Pajak dalam negeri pada dasarnya terdapat dua cara untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak yaitu : dengan cara perhitungan biasa dan penghitungan dengan menggunakan Norma penghitungan.

8.1.8. Penghasilan Kena Pajak 1. Wajib Pajak Dalam Negeri Yang Menyelenggarakan Pembukuan. Pada umumnya pembukuan diselenggarakan berdasarkan prektek akuntansi yang diterima umum (misalnya sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan) kecuali diatur lain dalam ketentuan perpajakan. Beberapa persyaratan penyelenggarakan pembukuan antara lain : di selenggarakan dengan itikad baik dan mencerminkan keadaan usaha dan kegiatan yang sebenarnya. sekurang-kurangnya terdiri dari catatan tentang harta, utang, modal penghasilan dan biaya diselenggarakan di Indonesia. dokumen pendukung disimpan selama 10 tahun.

Penghasilan Kena Pajak (PKP) dihitung berdasarkan Penghasilan yang merupakan Obyek Pajak sesuai Pasal 4 ayat (1) UU No. 10 tahun 1994 dikurangi dengan penguranganpengurangan sebagai berikut : a) b) c) 2. biaya-biaya yang diperkenankan (deductible expenses) termasuk kompensasi kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 10 Tahun 1994. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) bagi Wajib Pajak Orang Pribadi seperti dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) UU No. 10 Tahun 1994. Pengurangan-pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, dan huruf e UU No. 10 Tahun 1994

Wajib Pajak Dalam Negeri Yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Pasal 14 UU No.10 Tahun 1994. 1) Yang boleh menggunakan Norma Penghitungan untuk menghitung penghasilan netonya hanyalah Wajib Pajak Orang Pribadi yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah). Dapat tidak menyelenggarakan pembukuan dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak (melalui Kepala kantor pelayanan pajak), dengan menggunakan formulir yang ada, dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dalam tahun pajak yang bersangkutan. Jika WP tidak memberitahukan sesuai ketentuan maka dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan

141

2) Wajib Pajak yang menghitung penghasilan netonya dengan menggunakan Norma Penghitungan, diwajibkan untuk melakukan pencatatan terhadap peredaran brutonya sesuai dengan UU KUP. 3) Bagi WP yang memilih menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, Penghasilan Netonya dihitung dengan cara mengalikan suatu persentase tertentu terhadap peredaran brutonya dalam satu tahun. Besarnya persentase tersebut ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak berdasarkan jenis usaha dan lokasi usaha, yaitu dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Kep 01/PJ/1991. 4) Bagi WP yang wajib menyelenggarakan pembukuan atau menyelenggarakan pencatatan, yang ternyata tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan peredaran bruto atau tidak memperlihatkan pembukuan atau pencatatan peredaran bruto atau bukti-bukti pendukungnya, sehingga tidak diketahui peredaran bruto sebenarnya, maka peredaran bruto dan penghasilan netonya dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Peredaran Bruto dan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. 5) Selain itu Norma Penghitungan Penghasilan Neto dapat diterapkan terhadap WP yang : a) wajib menyelenggarakan pembukuan tetapi tidak atau tidak sepenuhnya meyelenggarakan pembukuan atau tidak memperlihatkan pembukuan atau buktibuktinya, namun peredaran brutonya dapat diketahui. dianggap menyelenggarakan pembukuan, yaitu WP yang tidak memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk menghitung Penghasilan Netonya dengan Norma Penghitungan sesuai jangka waktu yang telah ditentukan, tetapi tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan pembukuan atau tidak memperlihatkan pembukuan atau bukti-buktinya, namun peredaran brutonya dapat diketahui.

b)

6)

Wajib Pajak Luar Negeri Yang Menjalankan Usaha Melalui BUT Bagi WP luar negeri yang menjalankan usaha melalui BUT di Indonesia, cara menghitung penghasilan kena pajaknya hampir sama dengan WP dalam negeri yang menyelenggarakan pembukuan. Penghasilan Kena Pajak BUT berdasarkan penghasilan berdasarkan Pasal 5 ayat (1) dengan memperhatikan penghasilan berdasar Pasal 4 ayat (1) dikurangi dengan : a) pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) b) pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) c) pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, dan huruf e UU No. 10 Tahun 1994.

8.1.9. PAJAK YANG DIPOTONG ATAU DIPUNGUT OLEH PIHAK LAIN DAN PAJAK YANG DIBAYAR/DIPOTONG/TERUTANG DI LUAR NEGERI I.1 PPh Pasal 21 PPh Pasal 21 adalah pajak yang dipotong oleh pihak lain atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 UU No.10 Tahun 1994. PPh Pasal 21 yang dipotong oleh pihak lain tersebut sepanjang tidak bersifat final dapat dikreditkan oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri terhadap PPh yang terutang pada akhir tahun pajak yang bersangkutan. Adapun Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang semata-mata hanya memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja dan atas penghasilan tersebut telah dipotong PPh Pasal 21 secara benar dan PPh Pasal 21 tersebut telah disetorkan oleh pemberi kerja maka Wajib Pajak tersebut tidak lagi diwajibkan menyampaikan SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi dan

142

PPh Pasal 21 yang dipotong oleh pemberi kerja tersebut merupakan pelunasan pajak yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan (sudah final). I.2 Siapa saja yang ditunjuk sebagai pemotongan PPh Pasal 21? Ditunjuk sebagai pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah:

a. pemberi kerja terdiri dari orang pribadi dan badan, termasuk bentuk usaha tetap, baik
merupakan induk maupun cabang, perwakilan atau unit, yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apa pun, sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai; b. bendaharawan pemerintah termasuk bendaharawan pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga- lembaga negara lainnya dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apa pun sehubungan dengan pekerjaan/ jabatan, jasa, dan kegiatan; dana pensiun, PT Taspen, PT Jamsostek, badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja lainnya, serta badan-badan lain yang membayar uang pensiun, Tabungan Hari Tua atau Tunjangan Hari Tua (THT); perusahaan, badan dan bentuk usaha tetap, yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan kegiatan dan jasa, termasuk jasa tenaga ahli dengan status Wajib Pajak dalam negeri yang melakukan pekerjaan bebas; yayasan (termasuk yayasan di bidang kesejahteraan, rumah sakit, pendidikan, kesenian, olah raga, kebudayaan), lembaga, kepanitiaan, asosiasi, perkumpulan, dan organisasi dalam bentuk apapun dalam segala bidang kegiatan sebagai pembayar gaji, upah, honorarium, atau imbalan dengan nama apa pun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi; perusahaan, badan termasuk bentuk usaha tetap, yang membayarkan honorarium atau imbalan lain kepada peserta pendidikan, pelatihan, dan pemagangan.

I.3. Penerima Penghasilan yang dipotong PPH Pasal 21 : a. Pejabat negara, yaitu: Presiden dan Wakil Presiden; Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota DPR/MPR, DPRD I, DPRD II; Ketua dan Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan; Ketua, Wakil Ketua, Ketua Muda, dan Hakim Mahkamah Agung; Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung; Menteri dan Menteri Negara; Jaksa Agung; Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Tingkat I; Walikotamadya dan Wakil Walikotamadya Tingkat II.

b.

Pegawai Negeri Sipil (PNS), yaitu PNS Pusat, PNS Daerah, dan PNS lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah sebagaimana diatur di dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 Pegawai adalah setiap orang pribadi yang melakukan pekerjaan berdasarkan perjanjian atau kesepakatan kerja baik tertulis maupun tidak tertulis, termasuk yang melakukan pekerjaan dalam jabatan negeri atau badan milik negara atau badan usaha milik daerah. Pegawai Tetap adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja yang menerima atau memperoleh gaji dalam jumlah tertentu secara berkala, termasuk anggota dewan komisaris dan anggota dewan pengawas yang secara teratur terus menerus ikut mengelola kegiatan perusahaan secara langsung. Pegawai Lepas adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja hanya menerima imbalan apabila orang pribadi yang bersangkutan bekerja. Pegawai dengan status Wajib Pajak Luar Negeri adalah orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12

143

bulan yang menerima atau memperoleh gaji, honorarium dan atau imbalan lain sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan. Penerima Pensiun adalah orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima atau memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan dimasa lalu, termasuk orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima Tabungan Hari Tua, Tunjangan Hati Tua. Penerima Honorarium orang pribadi yang menerima atau memproleh imbalan sehubungan dengan jasa, jabatan atau kegiatan yang dilakukannya. Penerima Upah adalah orang pribadi yang menerima upah harian, upah mingguan, upah borongan atau upah satuan. Upah Harian adalah upah yang terutang atau dibayarkan atas dasar jumlah hari kerja. Upah Mingguan adalah upah yang terutang atau dibayarkan secara mingguan. Upah Borongan adalah upah yang terutang atau dibayarkan atas dasar penyelesaian pekerjaan tertentu. Upah Satuan adalah upah yang terutang atau dibyarkan atas dasar banyaknya satuan yang dihasilkan. Honorarium adalah imbalan atas jasa, jabatan atau kegiatan yang dilakukan. Hadiah Undian adalah hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh orang pribadi yang pemberiannya melalui cara undian. Hadiah dan penghargaan perlombaan adalah hadiah atau penghargaan yang diberikan melalui suatu perlombaan atau adu ketangkasan. Magang adalah aktivitas untuk memperoleh pengalaman dan atau ketrampilan dan atau keahlian sehubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Bea Siswa adalah pembayaran kepada pegawai tetap, tidak tetap dan calon pegawai, yang ditugaskan oleh pemberi kerja untuk mengikuti program pendidikan yang ditetapkan oleh pemberi kerja atau pembayaran yang dilakukan oleh suatu institusi kepada orang pribadi yang tidak mempunyai ikatan kontrak atau perjanjian kerja untuk mengikuti suatu program pendidikan. Kegiatan adalah keikutsertaan dalam suatu rangkaian tindakan termasuk mengikuti rapat, sidang, seminar, workshop, pendidikan, petunjukkan dan olahraga.

I.4. Tidak termasuk dalam pengertian penerima penghasilan yang dikenakan PPh Pasal 21 adalah: a. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing, dan orangorang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka, dengan syarat: - Bukan Warga Negara Indonesia, - Tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatannya di Indonesia, dan - Negara asing yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik.

b. Pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana di maksud dalam Keputusan


Menteri Keuangan Nomor: 611/KMK.04/1994 tanggal 23 Desember 1994 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 314/KMK.04/1998 tanggal 15 Juni 1998, sepanjang bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan di Indonesia. I.5. Penghasilan Yang Merupakan Objek Pemotongan PPh Pasal 21! Penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 21 adalah:

144

1.

penghasilan yang diterima atau diperoleh secara teratur berupa gaji, uang pensiun bulanan, upah, honorarium (termasuk honorarium anggota dewan komisaris atau anggota dewan pengawas), premi bulanan, uang lembur, uang sokongan, uang tunggu, uang ganti rugi, tunjangan teratur, beasiswa, hadiah, premi asuransi yang dibayar pemberi kerja dan penghasilan teratur lainnya dengan nama apa pun; penghasilan yang diterima atau diperoleh secara tidak teratur berupa jasa produksi, tantiem, gratifikasi, tunjangan cuti, tunjangan hari raya, tunjangan tahun baru, bonus, premi tahunan, dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak tetap dan yang biasanya dibayarkan sekali dalam setahun; upah harian, upah mingguan, upah satuan, dan upah borongan; uang tebusan pensiun, uang Tabungan Hari Tua atau Tunjangan Hari Tua (THT), uang pesangon, dan pembayaran lain sejenis; honorarium, uang saku, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun, komisi, bea siswa, dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak dalam negeri, termasuk tenaga ahli, pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, olahragawan, penasehat, pengajar, pelatih, penceramah, moderator, pengarang, peneliti, pemberi jasa di bidang teknik, kolportir iklan, pengawas, pengelola proyek, pembawa pesanan atau yang menemukan langganan, peserta perlombaan, petugas penjaja barang dagangan, petugas dinas luar asuransi, peserta pendidikan, pelatihan, dan pemagangan;

2.

3. 4. 5.

6.

Gaji kehormatan, tunjangan-tunjangan lain yang terkait dengan gaji yang diterima oleh Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil serta uang pensiun dan tunjangan-tunjangan lain yang sifatnya terkait dengan uang pensiun yang diterima oleh pensiunan termasuk janda atau duda dan atau anak-anaknya. penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan dengan nama apa pun yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak.

7.

I.6. Penghasilan yang bukan merupakan objek pemotogan PPh Pasal 21 Penghasilan yang tidak termasuk objek pemotongan PPh Pasal 21 adalah:

a. pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi


jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;

b. penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apapun kecuali
yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak;

c. iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pen diriannya telah disahkan
Menteri Keuangan dan penyelenggara Taspen serta THT kepada badan penyelenggara Taspen dan Jamsostek yang dibayar oleh pemberi kerja; d. penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apa pun yang diberikan oleh Pemerintah; e. kenikmatan berupa pajak yang ditanggung oleh pemberi kerja f. Pembayaran THT Taspen dan THT Asabri dari PT Taspen kepada para pensiunan yang berhak menerimanya.

145