Anda di halaman 1dari 96

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA INFEKSI KECACINGAN DENGAN ANEMIA DAN STATUS GIZI PADA SISWA SDN PURWOSARI I.

1 KECAMATAN TAMBAN KABUPATEN BARITO KUALA TAHUN 2010

Oleh : SRI YANI WIJIANINGSIH NIM : 08S1AJ0014

PROGRAM STUDI S1 GIZI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA BORNEO BANJARBARU TAHUN 2011

HUBUNGAN ANTARA INFEKSI KECACINGAN DENGAN ANEMIA DAN STATUS GIZI PADA SISWA SDN PURWOSARI I.1 KECAMATAN TAMBAN KABUPATEN BARITO KUALA TAHUN 2010

Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Gizi (S.Gz)

Oleh : SRI YANI WIJIANINGSIH NIM : 08S1AJ0014

PROGRAM STUDI S1 GIZI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA BORNEO BANJARBARU TAHUN 2011

HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama NIM Program Studi Judul Skripsi : Sri Yani Wijianingsih : 08S1AJ0014 : Gizi : Hubungan Antara Infeksi Kecacingan dan Anemia dengan Status Gizi Pada Murid SD di SDN Purwosari I.I Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010

Dengan ini saya menyatakan bahwa hasil penulisan skripsi yang telah saya buat ini merupakan hasil karya saya sendiri dan tidak melakukan pelanggaran sebagai berikut : Plagiasi tulisan maupun gagasan Rekaya data dan manipulasi data Meminta tolong atau membayar orang lain untuk meneliti Mengajukan sebagian atau seluruh karya ilmiah untuk publikasi atau untuk memperoleh tempat lain gelar atau sertifikat atau pengakuan akademik atau profesi di

Apabila terbukti saya melakukan pelanggaran tersebut di atas, maka saya bersedia menerima sanksi berupa pencabutan gelar akademik.

Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak dipaksakan.

Penulis,

(Sri Yani Wijianingsih)

HALAMAN PERSETUJUAN

Nama NIM

: Sri Yani Wijianingsih : 08S1AJ0014

Skripsi ini telah disetujui untuk di sidangkan

Banjarbaru, 28 Januari 2011

Pembimbing Utama,

Rusman Efendi, SKM, M.Si NIDN : 121 804 7801

Pembimbing Pendamping,

Muhamad Rayhan, S.Pi NIDN : 111 003 8601

HALAMAN PENGESAHAN
Nama NIM : Sri Yani Wijianingsih : 08S1AJ0014

Skripsi ini telah di pertahankan di depan dewan penguji dan disetujui Pada tanggal : 18 Maret 2011

Penguji 1 (Ketua),

Rusman Efendi, SKM, M.si NIDN : 121 804 7801

Penguji 2 (Anggota)

Penguji 3 (Anggota)

Muhamad Rayhan, S.Psi NIDN : 111 003 8601 Diketahui :

Ahmad Mahyuni, S.Sos, MPH NIDN : 111 010 6502

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Borneo Banjarbaru

Ketua Program Studi SI Gizi

Rusman Efendi, SKM, M.si NIDN : 121 804 7801

Norhasanah, S.Gz NIDN : 111 909 8402

Tanggal lulus :

ABSTRAK

SRI YANI WIJIANINGSIH : 08S1AJ0014 HUBUNGAN ANTARA INFEKSI KECACINGAN DENGAN ANEMIA DAN STATUS GIZI PADA SISWA SDN PURWOSARI I.1 KECAMATAN TAMBAN KABUPATEN BARITO KUALA TAHUN 2010 Skripsi. Program Studi Gizi. 2011 (xiv + 86 hal + Lampiran)

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa sebagian anak SD dan MI masih mengalami masalah gizi yang cukup serius. Hasil kegiatan Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah (TBABS) tahun 2005 menunjukan bahwa 37,8% anak SD dan MI yang baru masuk sekolah menderita KEP, Gaky yang di tandai dengan adanya pembesaran gondok masih diderita oleh 11,1% anak SD dan MI (2002) dan hasil survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2005 menunjukan bahwa 47,3 anak usia sekolah menderita anemia gizi. Tujuan penelitian Ingin mengetahui hubungan infeksi kecacingan dengan anemia dan status gizi pada siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010.Jenis penelitian ini adalah dekriptif analitik dengan pendekatan Cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas I, II, III ,IV sejumlah 115 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling kemudian besar sampel diperoleh 100 siswa sebagai sampel. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) uji laboratorium, (2) timbangan injak, dan (3) mikrotoa. Data diperoleh (1) uji laboratorium, (2) pengukuran status gizi. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan rumus statistik uji Chisquare dengan derajat kemaknaan (= 0,05). Hasil penelitian mendapatkan tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan anemia, dengan p > alfa yaitu 0,559 > 0,05 demikian pula pada penelitian ini tidak terdapat hubungan bermakna antara infeksi kecacingan dengan status gizi p lebih besar dari alfa yaitu 0,466 Kata Kunci: Infeksi Kecacingan, Anemia , Status Gizi, Anak SD

ABSTRACT

SRI YANI WIJIANINGSIH : 08S1AJ0014 THE CORRELATION BETWEEN KECACINGAN'S INFECTIONWITH ANAEMIA AND NUTRIENT STATE ON SDN PURWOSARI I.1'S STUDENT TAMBAN'S DISTRICT BARITO'S REGENCY CONFLUENCE YEAR 2010 Paper. Studis Program Nutrient.2011 (xiv + 86 thing + Attachments)

Of many Tujuan penelitian Ingin mengetahui hubungan infeksi kecacingan dengan anemia dan status gizi pada siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010research are known that plays favorites SD's child and MI is still experience nutrient problem that adequately serious. Usufruct Bodies Tall activity New Child Come In School (TBABS) year 2005 menunjukan that 37,8% SD's childs and MI a new one school input suffers To Go To p, Gaky that at marks by mark sense thyroid amplification be still to be suffered by 11,1% SD's child and MI (2002) and survey's result Family health (SKRT) year 2005 menunjukan that 47,3 child school age suffer nutrient anaemias. This observational type is dekriptif analytic with approaching Cross sectional . Population in observational it is i. class student, II., III.,Iv. a number 115 students. Samples taking tech utilize Purposive is sampling then outgrows acquired sample 100 students as sample. Instrument that is utilized in this research is (1 ) quizs laboratory, (2 ) timbangan steps on, and (3 ) mikrotoa. Acquired data (1 ) laboratory quizs, (2 ) nutrient state measurements. Data that gotten in this research dianalisis utilizes statistic formula test Chisquare with kemaknaan's degree( = 0,05). Observational result get no relationship which wherewith among nutrient state with anaemia, with p> alpha which is 0,559> 0,05 such too on this research has no relationship wherewith among kecacingan's infection with nutrient state p greater of alpha which is 0,466 Key word: kecacingan's infection, Anaemia, Nutrient state, SD's child

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah syukur kehadirat Allah SWT, atas taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S1 Gizi Kesehatan Stikes Husada Borneo Banjar Baru. Judul Skripsi adalah

Hubungan Antara Infeksi Kecacingan Dengan Anemia Dan Status Gizi Pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini, khususnya kepada: 1. Bapak Rusman Efendi, SKM, Msi selaku Ketua Stikes Husada Borneo Banjarbaru sekaligus pembimbing utama yang telah memberikan petunjuk dan bimbingannya dalam penyelesaian skripsi ini. 2. Ibu Norhasanah, S.Gz selaku Ketua Program Studi S1 Gizi Kesehatan Stikes Husada Borneo Banjar Baru. 3. Bapak Muhamad Rayhan, S.Pi selaku Pembimbing Pendamping yang dengan sabar dan teliti membantu terselesaikannya skripsi ini. 4. Bapak Bupati Kabupaten barito Kuala yang telah memberikan ijin belajar di Stikes Husada Borneo Banjarbaru. 5. Bapak Kepala BKD Kabupaten barito Kuala yang telah memberikan

kesempatan untuk melanjutkan sekolah di Stikes Husada Borneo Banjarbaru. 6. Dosen dan staf Program Studi S1 Gizi Kesehatan Stikes Husada Borneo yang turut membantu dan memberi dorongan dalam penyusunan skripsi ini. 7. Kepala Dinas Pendidikan Kecamatan Tamban yang telah memberikan ijin tempat penelitian. 8. Kepala Sekolah SDN Purwosari I.1 dan staff yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam kelancaran proses penelitian.

9.

Orang tua tersayang, juga Kakakku yang selalu memberikan doa dan dorongan yang tulus serta penuh kasih sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan dan penyusunan skripsi ini.

10. Suami dan anakku tercinta, yang telah sabar dan penuh pengertian selalu memberikan dukungan moril, materiil serta doa yang tulus sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan dan penyusunan skripsi ini. 11. Seluruh rekan-rekan mahasiswa Program Studi S1 Gizi Alih Jenjang Stikes Husada Borneo, semoga kekompakan dan kebersamaan kita tetap terjalin. 12. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Penulis menyadari bahwa proposal ini masih mempunyai banyak kekurangan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Akhirnya semoga penelitian ini dapat bermanfaat.

Banjarmasin, Pebruari 2011

Penulis

DAFTAR ISI HALAMAN COVER .................................................................................... HALAMAN JUDUL ..................................................................................... HALAMAN PERNYATAAN ...................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ............................................................. ......... ABSTRAK ................................................................................................... i ii iii iv v vi

ABSTRACT .................................................................................................. vii KATA PENGANTAR .................................................................................. viii DAFTAR ISI ................................................................................................. x

DAFTAR TABEL .................................................................................. ...... xii DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xiv

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 5 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................... 6 1.4 Manfaat Penelitian ......................................................................... 6 1.5 Keaslian Penelitian ........................................................................ 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teori ............................................................................... 8 2.2 Landasan Teori .............................................................................. 36 2.3 Kerangka Konsep Penelitian.......................................................... 56 2.4 Hipotesis ........................................................................................ 57

10

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ................................................................. 58

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................ 58 3.3 Subjek Penelitian ........................................................................ 3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ............................ 3.5 Instrumen Penelitian ................................................................... 3.6 Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 3.7 Teknik Analisa Data ................................................................... 3.8 Prosedur Penelitian ..................................................................... 58 58 60 60 62 64

3.9 Keterbatasan Penelitian ............................................................... 65 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 4.2 Hasil Penelitian ..................................................................... 66 Pembahasan ........................................................................... 72

BAB V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan ................................................................................ 81 5.2 Saran ......................................................................................... 82

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 83 LAMPIRAN

11

DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 2.1 3.4 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 Penggolongan Keadaan Gizi menurut Indeks Antropometri.......................... 28 Definisi Operasional....................................................................................... 55 Keadaan Siswa SDN Purwosari I.1................................................................ 62 Distribusi Responden Menurut Umur Siswa.................................................. 62 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin Sisw...................................... 63 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan Orang Tua.................................... 63 Distribusi Responden Berdasarkan Infeksi Kecacingan................................. 64 Distribusi Responden Berdasarkan Anemia Gizi........................................... 64 Distribusi Responden berdasarkan Status Gizi Siswa.................................... 64 Distribusi Responden berdasarkan Infeksi Kecacingan deangan Anemia..... 64 Distribusi Responden berdasarkan Anemia dengan Status Gizi.................... 65

4.10 Distribusi Responden berdasarkan Infeksi Kecacingan dengan Status Gizi.. 65

12

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 2.2 2.3 2.4 Halaman 9 13 16 52

Siklus hidup Cacing Gelang..................................................................... Siklus hidup Cacing Tambang................................................................ Siklus hidup Cacing Gelang .................................................................... Kerangka Konsep Penelitian ...................................................................

13

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Gambar Alat-alat Penelitian 2. Tabel IMT anak usia 2 20 tahun 3. Tabel Hasil Penelitian 4. Analisis Data dengan Uji Chi Square dengan SPSS

14

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya peningkatan kualitas SDM dimulai dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang anak sejak pembuahan sampai mencapai dewasa muda. Pada masa tumbuh kembang ini, pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti perawatan dan makanan bergizi yang diberikan dengan penuh kasih sayang dapat membentuk SDM yang sehat ,cerdas dan produktif. (Depkes RI,2002) Kesehatan , kemampuan, kondisi fisik dan mental serta konsentrasi belajar antara lain dipengaruhi oleh makanan yang di makan atau masukan zat gizi. Masukkan zat gizi yang cukup diperlukan agar sesorang mampu menyelesaikan tugas-tugasnya secara baik dan tepat. Masa sekolah adalah masa pertumbuhan anak yang cepat dan dalam masa kegiatan fisik yang aktif. Seorang anak dalam masa ini memerlukan pengarahan dan teladan yang baik serta tepat dalam pengaturan makanan yang harus dikonsumsi. (Forum Koor. PMT-AS Tk. Pusat ,1997) Sampai saat ini di Indonesia masih menghadapi masalah gizi seperti Kurang Energi Protein (KEP) , Kurang Vitamin A (KVA) , Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) dan Anemia Gizi. Selain diderita oleh anak balita dan ibu

15

menyusui serta golongan masyarakat berpenghasilan rendah, masalah tersebut juga ditemui pada anak usia sekolah. Kebiasaan hidup kurang higienis menyebabkan angka terjadinya penyakit masih cukup tinggi. Infeksi parasit terutama parasit cacing merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit infeksi ini bisa menyebabkan morbiditas. Salah satunya banyak terjadi pada anak usia anak sekolah yang berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan mereka. Infeksi cacingan yang sering adalah Soil Transmitted Helminths(STH) yang merupakan infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah atau dikenal sebagai penyakit cacingan. Spesiescacingan STH antara lain Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), Ancylostoma duodenale dan Necator americanus ( cacing tambang) (Srisasi Ganda Husada, 2000). Penyakit cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di

perkotaan.Angka infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi (jumlah cacing dalam perut)berbeda. Hasil survei cacingan di Sekolah Dasar di beberapa propinsi pada tahun 1986-1991 menunjukkan prevalensi sekitar 60%-80%, sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40%-60%. Hasil Survei Subdit Diare pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi berkisar antara 2,2%96,3% (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.424/MENKES/VI, 2006). Daerah endemi dengan insiden Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura tinggi salah satunya di daerah kumuh kota Jakarta, infeksi Ascaris trichiura dan Trichuris trichiura sudah di temukan pada bayi yang berumur kurang dari satu tahun. Pada umur satu tahun Ascaris lumbricoides dapat ditemukan pada 80-100% di antara kelompok-kelompok anak tersebut, untuk Trichuris trichiura angkanya

16

lebih rendah sedikit, yaitu 70%. Usia anak yang termuda mendapat infeksi Ascaris lumbricoides adalah 16 minggu, sedangkan untuk Trichuris trichiura adalah 41 minggu. Ini terjadi di lingkungan tempat kelompok anak berdefekasi di saluran air terbuka dan di halaman sekitar rumah (door yard infection). Karena kebiasaan seperti defekasi sekitar rumah, makan tanpa cuci tangan, bermain-main di tanah di sekitar rumah, maka khususnya anak balita terus menerus mendapatkan reinfeksi ( Srisasi Gandahusada, 2000 ). Menurut Data kunjungan pasien Puskesmas Tamban menerangkan bahwa jumlah kasus kecacingan dari tahun 2005 2010 sebanyak 20 kasus dan yang terbanyak adalah anak sekolah yaitu 40%. Menurut D.B. Jellife (1994) meski anak-anak sekolah tidak mencatat angka kematian yang tinggi pada usia muda, mereka juga mempunyai masalah khusus seperti halnya kesempatan yang harus mereka miliki keadaan yang sering di jumpai mencakup malnutrisi sedang, penyakit infeksi (seperti campak), penyakit cacingan di saluran pencernaan, serangan malaria dan penyakit kulit. Pada kasus-kasus perdarahan kronis yang disebabkan oleh parasit seperti cacing tambang, cacing cambuk dan mungkin cacing gelang menyebabkan kebutuhan akan zat besi meningkat. Cacingan tersebut menenpel pada diding usus dan memakan darah. Darah yang hilang bervariasi dari 2 100 cc perhari, tergantung pada beratnya infeksi. Sebagian zat besi dalam darah yang dialirkan oleh cacing di dalam usus akan diserap kembali di saluran gastrointestinal yang lebih bawah, sedang sisanya terbuang melalui tinja (Maeyer, 1995). Kekurangan zat besi (Anemia) dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pertumbuhan, baik pada sel tubuh maupun sel otak sehingga anak yang anemia

17

akan mengalami gangguan pertumbuhan, tidak dapat mencapai tinggi yang optimal, anak menjadi kurang cerdas, daya tahan tubuh menurun akibatnya mudah terkena penyalit infeksi (Depkes RI,1999). Akibat penghisapan zat-zat makanan dan menghisap darah oleh cacing, semakin lama tubuh akan kekurangan zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh sehingga menyebabkan tubuh penderita menjadi kurus dan status gizinya menurun (Brown, 1989). Permasalahan gizi yang menonjol pada anak SD adalah kekurang zat besi mencakup sekitar 25-40%. Kondisi ini menurunkan daya tahan , siswa cepat lelah, lamban geraknya, kurang gairah belajar dan tidak cepat tanggap. Hal ini diperburuk lagi dengan dijumpainya gangguan infeksi kecacingan yaitu sebesar 40 70 % merupakan angka yang cukup tinggi . Apabila keadaan ini berlangsung lama akan memberi dampak terhadap status gizi anak (Forum Koordinasi PMT-AS Tingkat Pusat , 1997) Berdasarkan data TBABS Puskesmas Tamban tahun 2009 SDN Purwosari I.1 diperoleh 2 orang siswa dengan kategori sangat pendek , 5 orang siswa pendek dan siswa dengan status gizi normal sebanyak 21 orang Dari beberapa penelitian diketahui bahwa sebagian anak SD dan MI masih mengalami masalah gizi yang cukup serius. Hasil kegiatan Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah (TBABS) tahun 2005 menunjukan bahwa 37,8% anak SD dan MI yang baru masuk sekolah menderita KEP, Gaky yang di tandai dengan adanya pembesaran gondok masih diderita oleh 11,1% anak SD dan MI (2002) dan hasil survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2005 menunjukan bahwa 47,3 anak usia sekolah menderita anemia gizi.

18

Karena masih tingginya angka penderita anemia dan infeksi cacingan pada anak usia sekolah maka peneliti tertarik untuk meneliti dan menghubungkan antara kedua penyakit tersebut dengan status gizi anak sekolah.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah adakah hubungan infeksi cacingan dengan anemia dan status gizi pada siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Ingin mengetahui hubungan infeksi kecacingan dan anemia dengan status gizi pada siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010. 1.3.2 Tujuan Khusus 1). Mengidentifikasi jenis cacing dan besarnya infeksi kecacingan pada siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010. 2) Mengidentifikasi besarnya Anemia pada siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010. 3) Menilai status gizi siswa SDN Purwosai I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010.

19

4) Menganalisa hubungan infeksi kecacingan dengan anemia siswa SDN Purwosai I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010. 5) Menganalisa hubungan anemia dengan status gizi siswa SDN Purwosai I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010. 6) Menganalisa hubungan infeksi cacingan dengan status gizi siswa SDN Purwosai I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010.

1.4 Manfaat Hasil Penelitian 1.4.1 Puskesmas Sebagai tambahan informasi dan bahan masukan dalam usaha pencegahan dan cara pengobatan dari permasalahan kesehatan yang terjadi yang berhubungan dengan penyakit cacingan dan anemia serta keadaan gizi anak sekolah. 1.4.2 Masyarakat Menambah pengetahuan dalam usaha pencegahan maupun pengobatan serta melaksanakan berbagai program pemberantasan penyakit cacingan , dan anemia serta mengetahui status gizi terutama pada siswa Sekolah Dasar. 1.4.3 Peneliti Menambah pengetahuan dalam melaksanakan penelitian khususnya tentang hubungan penyakit cacingan dan anemia dengan status gizi pada siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010.

1.5 Keaslian Penelitian Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya, terdapat perbedaan dengan penelitian ini perbedaan tersebut yaitu tempat dan waktu penelitian, populasi, serta variabel .

20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori 2.1.1. Penyakit Cacingan Cacingan merupakan parasit manusia dan hewan yang sifatnya merugikan, manusia merupakan hospes beberapa nematoda usus. Sebagian besar daripada nematoda ini menyebabkan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diantara nematoda usus tedapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah dan disebut Soil Transmitted Helmints yang terpenting adalah Ascaris lumbricoides,Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Trichuris trichiura (Srisasi Gandahusada, 2000:8). 2.1.1 Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides) 2.1.1.1 Morfologi dan Daur Hidup Manusia merupakan satu-satunya hospes cacing ini. Cacing jantan berukuran 10-30 cm, sedangkan betina 22-35 cm, pada stadium dewasa hidup dirongga usus halus, cacing betina dapat bertelur sampai 100.000-200.000 butirsehari, terdiri dari telur yang dibuahi dan telur yang tidak dibuahi. Dalam

21

lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan manusia, akan menetas menjadi larva di usus halus, larva tersebut menembus dinding usus menuju pembuluh darah atau saluran limfa dan di alirkan ke jantung lalu mengikuti aliran darah ke paru-paru menembus dinding pembuluh darah, lalu melalui dinding alveolus masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trachea melalui bronchiolus dan broncus. Dari trachea larva menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan batuk, kemudian tertelan masuk ke dalam esofagus lalu menuju ke usus halus, tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses tersebut memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan sejak tertelan sampai menjadi cacing dewasa (Srisasi Gandahusada, 2000:10) Gambar 1.
LINGKARAN HIDUP CACING GELANG ( Ascaris lumbricoides ) 1)

22

(Sumber: Surat Keputusan Menteri Kesehatan : 424/MENKES/SK/VI/, 2006:12).

2.1.1.2 Patofisiologi Menurut Effendy yang dikutip Surat Keputusan Menteri Kesehatan (2006:7) disamping itu gangguan dapat disebabkan oleh larva yang masuk ke paru-paru sehingga dapat menyebabkan perdarahan pada dinding alveolus yang disebut Sindroma loeffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare dan konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi gangguan penyerapan makanan (Malabsorbtion). Keadaan yang serius, bila cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada usus (Ileus obstructive) (Effendy,1997). 2.1.1.3 Gejala Klinis dan Diagnosis Gejala penyakit cacingan memang tidak nyata dan sering dikacaukan dengan penyakit-penyakit lain. Pada permulaan mungkin ada batuk-batuk dan eosinofelia. Orang (anak) yang menderita cacingan biasanya lesu, tidak bergairah, dan konsentrasi belajar kurang. Pada anak-anak yang menderita Ascariasis lumbricoides perutnya nampak buncit (karena jumlah cacing dan perut kembung), biasanya matanya pucat dan kotor seperti sakit mata (rembes), dan seperti batuk pilek. Perut sering sakit, diare, dan nafsu makan kurang. Karena orang (anak) masih dapat berjalan dan sekolah atau bekerja, sering kali

23

tidak dianggap sakit, sehingga terjadi salah diagnosis dan salah pengobatan. Padahal secara ekonomis sudah menunjukkan kerugian yaitu menurunkan produktifitas kerja dan mengurangi kemampuan belajar. Karena gejala klinik yang tidak khas, perlu diadakan pemeriksaan tinja untuk membuat diagnosis yang tepat, yaitu dengan menemukan telur-telur cacing di dalam tinja tersebut. Jumlah telur juga dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan beratnya infeksi (dengan cara menghitung jumlah telur cacing) (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI/, 2006:7). 2.1.1.4 Epidemiologi Telur cacing gelang keluar bersama tinja pada tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari, telur tersebut tumbuh menjadi infektif. Infeksi cacing gelang terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman dan dapat pula melalui tangan yang kotor (tercemar tanah dengan telur cacing) (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI/, 2006:7). 2.1.1.5 Pengobatan Pengobatan dapat dilakukan secara individu atau masal pada masyarakat. Pengobatan individu dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya Preparat piperasin, Pyrantel pamoate, Albendazole atau Mebendazole. Pemilihan obat cacing untuk pengobatan massal harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu: mudah diterima di masyarakat, mempunyai efek samping yang minimum, bersifat polivalen sehingga dapat berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing, harganya murah (terjangkau) (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI/, 2006:7).

24

2.1.2 Cacing Tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) 2.1.2.1 Morfologi dan Daur Hidup Hospes parasit ini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut : telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kirakira 60x40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel, larva rabditiform panjangnya kurang lebih 250 mikron, sedangkan larva filriform panjangnya kurang lebih 600 mikron. Setelah menembus kulit, larva ikut aliran darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paruparu menembus pembuluh darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No:

424/MENKES/SK/VI/, 2006:10)

Gambar 2. LINGKARAN HIDUP CACING TAMBANG ( Necator americanus ) 3) 25

(Sumber: Surat Keputusan Menteri KesehataNo:424/MENKES/SK/VI/, 2006:12). 2.1.2.2 Patofisiologi Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas. Tetapi kekurangan darah (anemia) ini biasanya

26

tidak dianggap sebagai cacingan karena kekurangan darah bisa terjadi oleh banyak sebab (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI/, 2006:11). 2.1.2.3 Gejala Klinik dan Diagnosis Gejala klinik karena infeksi cacing tambang antara lain lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit, prestasi kerja menurun, dan anemia (anemia hipokrom micrositer). Di samping itu juga terdapat eosinofilia (Surat Keputusan Menteri Kesehatan

No:424/MENKES/SK/VI, 2006:11). 2.1.2.4 Epidemiologi Kejadian penyakit (Incidens) ini di Indonesia sering ditemukan pada penduduk yang bertempat tinggal di pegunungan, terutama di daerah pedesaan, khususnya di perkebunan atau pertambangan. Cacing ini menghisap darah hanya sedikit namun luka-luka gigitan yang berdarah akan berlangsung lama, setelah gigitan dilepaskan dapat menyebabkan anemia yang lebih berat. Kebiasaan buang air besar di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun sangat penting dalam penyebaran infeksi penyakit ini (Srisasi Gandahusada 2000:15). Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimum 32 0C - 38 0C. Untuk menghindari infeksi dapat dicegah dengan memakai sandal atau sepatu bila keluar rumah.

2.1.3 Cacing Cambuk (Trichuris trichiura) 2.1.3.1 Morfologi dan Daur Hidup

27

Manusia merupakan hospes cacing ini. Cacing betina panjangnya sekitar 5 cm dan yang jantan sekitar 4 cm. Cacing dewasa hidup di kolon asendens dengan bagian anteriornya masuk ke dalam mukosa usus. Satu ekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur sehari sekitar 3.000-5.000 butir. Telur berukuran 50-54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian di dalamnya jernih. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja, telur menjadi matang (berisi larva dan infektif) dalam waktu 36 minggu di dalam tanah yang lembab dan teduh. Telur matang ialah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif. Cara infeksi langsung terjadi bila telur yang matang tertelan oleh manusia (hospes), kemudian larva akan keluar dari dinding telur dan masuk ke dalam usus halus sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke kolon asendens dan sekum. Masa pertumbuhan mulai tertelan sampai menjadi cacing dewasa betina dan siap bertelur sekitar 30-90 hari (Srisasi Gandahusada, 2000:17). 2.1.3.2 Patofisiologi Cacing cambuk pada manusia terutama hidup di sekum dapat juga ditemukan di dalam kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak cacing ini tersebar diseluruh kolon dan rektum, kadang-kadang terlihat pada mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita sewaktu defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat pelekatannya dapat menimbulkan perdarahan. Disamping itu cacing

28

ini menghisap darah hospesnya sehingga dapat menyebabkan anemia (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI/, 2006:9) Gambar 3. LINGKARAN HIDUP CACING CAMBUK ( Trichuris trichiura ) 2)

(Sumber: Surat Keputusan Menteri Nomor: 424/MENKES/SK/VI/2006:10).

2.1.3.3 Gejala Klinik dan Diagnosis Infeksi cacing cambuk yang ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Sedangkan infeksi cacing cambuk yang berat dan menahun terutama pada anak menimbulkan gejala seperti diare,

29

disenteri, anemia, berat badan menurun dan kadang-kadang terjadi prolapsus rektum. Infeksi cacing cambuk yang berat juga sering disertai dengan infeksi cacing lainnya atau protozoa. Diagnosa dibuat dengan menemukan telur di dalam tinja (Srisasi Gandahusada, 2000:19). 2.1.3.4 Epidemiologi Yang penting untuk penyebaran penyakit adalah kontaminasi tanah dengan tinja. Telur tumbuh di tanah liat, tempat lembab, dan teduh dengan suhu optimum kira 30 derajat celcius. Di berbagai negeri pemakaian tinja sebagi pupuk kebun merupakan sumber infeksi. Frekuensi di Indonesia masih sangat tinggi. Di beberapa daerah pedesaan di Indonesia frekuensinya berkisar antara 30-90 %. Di daerah yang sangat endemik infeksi dapat dicegah dengan pengobatan penderita trikuriasis, pembuatan jamban yang baik dan pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan perorangan, terutama anak. Mencuci tangan sebelum makan, mencuci dengan baik sayuran yang dimakan mentah adalah penting apalagi di negera-negera yang memakai tinja sebagai pupuk (Srisasi Gandahusada, 2000:19). Dahulu infeksi cacing cambuk sulit sekali diobati. Obat seperti tiabendazol dan ditiazanin tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pengobatan yang dilakukan untuk infeksi yang disebabkan oleh cacing cambuk (Trichuris trichiura) adalah Albendazole/ Mebendazole dan Oksantel pamoate (Srisasi Gandahusada, 2000:19). JENIS TELUR CACING YANG DITULARKAN MELALUI TANAH
NO. SPECIES UKURAN BENTUK WARNA KETERANGAN LAINNYA

30

1.

A. lumbricoides (tidak dibuahi)

60-90 x 4060 (micron)

Memanjang ellipsoidal

Coklat sampai coklat tua

Lebih ramping daripada telur yang dibuahi, bagian luar mempunyai tonjlan kasar dan lapisan albuminoid. Pada bagian dalam penuh berisi granul. Bentuk hampir menyerupai telur cacing tambang, tapi dindingnya tebal.

2.

A. lumbricoides (dibuahi), tanpa lapisan albumin (decorticated) A. lumbricoides (dibuahi, dengan lapisan albumin.

45-70 x 3550 (micron)

Oval

Jernih

3.

50-70 x 4050 (micron)

Lonjong atau membulat.

Kuning kecoklatan sampai coklat tua.

Dinding tebal dan menunjukkan beberapa lapisan pada pembesaran tinggi. Bagian luar dilapisi oleh lapisan yang bertonjol-tonjol, bergelombang dan berwarna tengguli. Pada kedua kutubnya mempunyai sumbat. Bila baru dikeluarkan melalui tinja tidak membelah. Dinding telur satu lapis. Bila baru dikeluarkan melalui tinja intinya terdiri dari 4-8 sel.

4.

T. trichiura

50-54 x 2223 (micron)

Seperti tempayan/ tong.

Cokat sampai coklat tua

5.

Cacing Tambang

55-75 x 3546 (micron)

Oval atau ellipsoidal

Jernih

Yang penting untuk penyebaran penyakit adalah kontaminasi tanah dengan tinja. Telur tumbuh di tanah liat, tempat lembab, dan teduh dengan suhu optimum kira 30 derajat celcius. Di berbagai negeri pemakaian tinja sebagi pupuk kebun merupakan sumber infeksi. Frekuensi di Indonesia masih sangat tinggi. Dibeberapa daerah pedesaan di Indonesia frekuensinya berkisar antara

31

30-90 %. Di daerah yang sangat endemik infeksi dapat dicegah dengan pengobatan penderita trikuriasis, pembuatan jamban yang baik dan pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan perorangan, terutama anak. Mencuci tangan sebelum makan, mencuci dengan baik sayuran yang dimakan mentah adalah penting apalagi di negera-negera yang memakai tinja sebagai pupuk (Srisasi Gandahusada, 2000:19). Dahulu infeksi cacing cambuk sulit sekali diobati. Obat seperti tiabendazoldan ditiazanin tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pengobatan yang dilakukan untuk infeksi yang disebabkan oleh cacing cambuk (Trichuris trichiura) adalah Albendazole/ Mebendazole dan Oksantel pamoate (SrisasiGandahusada, 2000:19). 2.1.4 Penyakit Cacing Kremi 2.1.4.1 Daur hidup Manusia merupakan hospes cacing ini. Cacing betina panjangnya sekitar 8 - 13 cm dan yang jantan sekitar 2 - 5 cm. Cacing dewasa hidup di sekum, usus besar dan di usus halus yang berdekatan dengan sekum. Mereka memakan isi usus manusia. Perkawinan cacing jantan dan betina kemungkinan terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah kawin dan cacing betina mati setelah bertelur. Cacing betina yang mengandung 11.000 15.000 butir telur akan bermigrasi ke daerah sekitar anal untuk bertelur. Telur akan matang dalam waktu sekitar 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu tubuh. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari. 2.1.4.2 Penyebab

32

Cacing Enterobius vermicularis infeksi biasanya terjadi melalui 2 tahap. Pertama, telur cacing pindah dari daerah sekitar anus penderita ke pakaian, seprei atau mainan. Kemudian melalui jari-jari tangan, telur cacing pindah ke mulut anak yang lainnya dan akhirnya tertelan. Telur cacing juga dapat terhirup dari udara kemudian tertelan. Setelah telur cacing tertelan, lalu larvanya menetas di dalam usus kecil dan tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam usus besar (proses pematangan ini memakan waktu 2-6 minggu). Cacing dewasa betina

bergerak ke daerah di sekitar anus (biasanya pada malam hari) untuk menyimpan telurnya di dalam lipatan kulit anus penderita. Telur tersimpan dalam suatu bahan yang lengket. Bahan ini dan gerakan dari cacing betina inilah yang menyebabkan gatal-gatal. Telur dapat bertahan hidup diluar tubuh manusia selama 3 minggu pada suhu ruangan yang normal. Tetapi telur bisa menetas lebih cepat dan cacing muda dapat masuk kembali ke dalam rektum dan usus bagian bawah.

2.1.4.3 Gejala Gejalanya berupa: a. rasa gatal hebat di sekitar anus. b. rewel ( karena rasa gatal dan tidurnya pada malam hari terganggu ) c. kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari ketika cacing betina dewasa bergerak ke daerah anus dan menyimpan telurnya disana ). d. nafsu makan berkurang, berat badan menurun ( jarang terjadi, tetapi bisa terjadi pada infeksi yang berat ) e. rasa gatal atau iritasi vagina ( pada anak perempuan, jika cacing dewasa masuk ke dalam vagina )

33

e. kulit di sekitar anus menjadi lecet atau kasar atau terjadi infeksi ( akibat penggarukan ).

2.1.4.4 Komplikasi - Salpingitis (peradangan saluran indung telur) - Vaginitis (peradangan vagina) - Infeksi ulang. 2.1.4.5. Diagnosa Cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita, terutama dalam waktu 1-2 jam setelah anak tertidur pada malam hari. Cacing kremi berwarna putih dan setipis rambut, mereka aktif bergerak. Telur maupun cacingnya bisa didapat dengan cara menempelkan selotip di lipatan kulit di sekitar anus, pada pagi hari sebelum anak terbangun. Kemudian selotip tersebut ditempelkan pada kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop.

2.1.4.6 Pengobatan Infeksi cacing kremi dapat disembuhkan melalui pemberian dosis tunggal obat anti-parasit mebendazole, albendazole atau pirantel pamoat. Seluruh anggota keluarga dalam satu rumah harus meminum obat tersebut karena infeksi ulang bisa menyebar dari satu orang kepada yang lainnya. Untuk mengurangi rasa gatal, bisa dioleskan krim atau salep anti gatal ke daerah sekitar anus sebanyak 2-3 kali/hari Meskipun telah diobati, sering terjadi infeksi ulang karena telur yang masih hidup terus dibuang ke dalam tinja selama seminggu setelah pengobatan. Pakaian, seprei dan mainan anak sebaiknya sering dicuci untuk memusnahkan telur cacing yang tersisa.

34

Langkah-langkah umum yang dapat dilakukan untuk mengendalikan infeksi cacing kremi adalah: 1. Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar 2. Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku 3. Mencuci seprei minimal 2 kali/ming 4. Mencuci jamban setiap hari 5. Menghindari penggarukan daerah anus karena bisa mencemari jari-jari tangan dan setiap benda yang dipegang/disentuhnya 6. Menjauhkan tangan dan jari tangan dari hidung dan mulut. 2.1.4.7 Pencegahan Sangat penting untuk menjaga kebersihan pribadi, dengan menitikberatkan kepada mencuci tangan setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan. Pakaian dalam dan seprei penderita sebaiknya dicuci sesering mungkin.

2.1.5 ANEMIA Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41% pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht < 37% pada wanita. Gejala-gejala umum anemia antara lain cepat lelah, takikardi, palpitasi dan takipnea pada latihan fisik. Patofisiologi anemia terdiri dari : 1. Penurunan produksi : anemia defisiensi, anemia aplastik, dll. 2. Peningkatan penghancuran : anemia karena perdarahan, anemia hemolitik, dll.

35

Beberapa jenis anemia dan penyebab fisologisnya adalah sebagai berikut : 1. Anemia kehilangan darah. Setelah perdarahan yang cepat tubuh mengganti plasmanya dalam satu atau dua hari, tetapi konsentrasi sel darah merahnya rendah. Bila perdarahan yang kedua terjadi , konsentrasi sel darah merah kembali normal dalam tiga sampai empat minggu. Pada kehilangan darah kronik orang seringkali tidak dapat mengabsorpsi besi dalam jumlah cukup dari usus untuk membentuk hemoglobin secepat kehilangannya. Oleh karena itu, sel darah merah seringkali dibentuk dalam jumlah yang terlalu sedikit dan terlalu sedikit hemoglobin di dalamnya, menimbulkan anemia mikrositik hipokromik. 2. Anemia Aplastik Aplasia sumsum tulang berarti fungsi sumsum tulang berkurang. Misalnya, orang yang terkena penyinaran sinar gamma dari ledakan bom nuklir biasanya menderita destruksi lengkap dari sumsum tulangnya yang dalam beberapa minggu diikuti oleh anemia yang mematikan. Hal yang sama, pengobatan sinar x yang berlebihan , zat kimia industri tertentu, dan malahan obat-obatan dimana orang tersebut mungkin menjadi sensitive dapat menyebabkan efek yang sama. 3. Anemia Makrositi ( kegagalan pematangan) . Disebabkan oleh kehilangan Vitamin B 12 , asam folat , dan factor intrinsic dari mukosa lambung. Kehilangan salah satu factor ini dapat menyebabkan kegagalan pematangan sel darah merah. Jadi atrofi mukosa lambung, seperti yang terdapat pada anemia pernisiosa, atau kehilangan seluruh lambung sebagai akibat gastrektomi total dapat mengakibatkan kegagalan

36

pematangan. Juga penderita yang menderita sprue usus, dimana asam folat, B12, dan senyawa vitamin B lainnya diabsorpsi dengan tidak baik, sering menimbulkan kegagalan pematangan. Karena sumsum tulang pada kegagalan pematangan tidak dapat berproliferasi dengan cukup cepat untuk membentuk sel darah merah dalam jumlah normal, sel yang dibentuk ukuranya lebih besar, bentuknya aneh dan mempunyai membrane yang rapuh. Oleh karena itu, sel mudah pecah, mengakibatkan orang sangat membutuhkan jumlah sel darah merah yang adekuat. 4. Anemia Hemolitik Berbagai kelainan sel darah merah yang sebagian besar diperoleh secara herediter sel-sel sangat rapuh sehingga mereka pecah dengan mudah waktu mereka melalui kapiler, khususnya melalui limpa. Oleh karena itu, walaupun jumlah sel darah merah yang dibentuk normal, masa hidup sel darah merah yang dibentuk normal. Masa hidup sel darah merah demikian pendek sehingga mengakibatkan anemia yang berbahaya . Beberapa jenis anemia ini adalah sebagai berikut : - Sferositosis herediter sel darah merah sangat kecil ukurannya, dan mereka bentuknya sangat sferis bukan lempeng bikonkaf. Sel-sel ini tidak dapat di tekan karena mereka tidak mempunyai struktur membrane lempeng bikonkaf sel normal yang menyerupai kantong yang longgar . Oleh karena itu , waktu melalui kapiler yang kecil mereka dengan mudah pecah meskipun hanya dengan sedikit penekanan. - Pada sickle cell anemia yang terdapat pada sekitar 0,3% Negara Afrika Barat dan Negro Amerika, sel mengandung Hb abnormal yang disebut HbS ,yang

37

disebabkan oleh susunan abnormal dari lalobin Hb. Bila Hb ini terkena oksigen konsentrasi rendah, ia mengalami presipitasi menjadi kristal-kristal panjang di dalam sel darah merah. Kristal ini menjangkau sel mengalami prepitasi juga merusak membrane sel memberikan bentuk sickle . Hb yang mengalami prepitasi juga merusak membrane sel sangat rapuh, mengakibatkan anemia yang berbahaya. - Talasemia, yang juga dikenal sebagai Cooleys anemia atau anemia Mediterania adalah jenis anemia hemolitik herediter lain di mana selnya kecil dan mempunyai membrane yang rapuh.Disini sekali lagi sel mudah pecah waktu melalui jaringan. - Eritroblastosis Fetalis, sel darah merah Rh positif dan Fetus diserang oleh anti body dari ibu dengan Rh negative . Anti bodi ini membuat sel rapuh dan menyebabkan bayi yang dilahirkan menderita anemia berat. - Hemolisis juga kadang-kadang akibat dari reaksi transfuse, malaria, reaksi obat tertentu dengan sebagai proses autoimin. 5. Anemia Mikrositik hipokrom a. Anemia defisensi besi Kebutuhan Fe dalam makanan sekitar 20 mg sehari, dari jumlah ini hanya kira-kira 2 mg yang diserap. Jumlah total Fe dalam tubuh berkisar 2-4 gr. Kira-kira 50 mg/kg BB pada pria dan 35 mg/kgBB pada wanita. sehingga sel menjadi

Umumnya akan terjadi anemia dimorfik, karena selain kekurangan Fe juga terdapat kekurangan asam folat. Etiologi

38

Anemia ini umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik. Di Indonesdia paling banyak disebabkan oleh cacing tambang (ankilostomiasis). Infestasi cacing tambang pada seseorang dengan makanan yang baik tidak akan menimbulkan anemia. Bila disertai malnutrisi, baru akan terjadi anemia. Penyeban lain dari anemia defisiensi adalah ; Diet yang tidak mencukupi Absorpsi yang menurun Kebutuhan yang meningkat pada kehamilan, laktasi. Perdarahan pada saluran cerna,menstruasi, donor darah. Hemoglobinuria Penyimpanan besi yang berkurang, seperti pada hemosiderosis paru. Gejala klinis : selain gejala-gejala umum anemia, defisiensi Fe yang berat akan mengakibatkan perubahan kulit dan mukosa yang progresif seperti lidah yang halus, keilosis dan sebagainya.didapatkan tanda-tanda malnutrisi.

2.1.6 STATUS GIZI Status gizi menurut Soekirman (1991) adalah suatu keadaan kesehatan akibat interaksi antara makanan tubuh manusia dan lingkungan hidup. Ketiga unsur tersebut merupakan penggambaran dari konsep hubungan antara host agent environment. Menurut Soeharjo (1989) status gizi adalah keadaan sehat individuindividu atau kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi dan zat-zat lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri.

39

Pengertian status gizi menurut Abas Basuni (2003) adalah keadaan keseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh untuk berbagai keperluan proses biologi. Keseimbangan zat gizi mempengaruhi : 1. Pertumbuhan 2. Perkembangan 3. Kecerdasan 4. Pemeliharaan kesehatan 5. Aktivitas dan lain-lain (Abas Basuni , 2003). Pertumbuhan adalah perubahan fisik dari waktu ke waktu , baik dari segi dimensi, proporsi maupun komposisi tubuh. Pada manusia , ukuran fisik (tubuh) disebut juga istilah Antropometri. Antropometri berasal dari kata Antropos artinya manusia dan Metric artinya ukuran. Jadi Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Perubahan pertumbuhan dapat diukur secara kuantitatif (contoh : dari 5 kg menjadi 6 kg , dari 54 cm menjadi 60 cm) (Abas Basuni , 2003). Perkembangan adalah perubahan kemampuan anak dalam gerakan motorik kasar atau halus, kecerdasan, mental, perilaku dari waktu ke waktu. Perubahannya hanya dapat diukur secara kualitatif (contoh : dari dapat merangkap menjadi berdiri, dari tidak dapat bicara menjadi dapat bicara dan sebagainya (Abas Basuni, 2003). Pertumbuhan terbagi menjadi 2 yaitu : 1. Pertumbuhan linear Bentuk adari ukuran linear adalah ukuran yang berhubungan dengan panjang . Contoh ukuran linear adalah panjang badan, lingkar dada, lingkar kepala

40

. Ukuran linear yang rendah biasanya menunjukkan keadaan gizi yang kurang akibat kekurangan enrgi proten yang diderita waktu lampau. Ukuran linear yang paling sering digunakan adalah tinggi badan atau panjang badan (Supariasa dkk, 2002). 2. Pertumbuhan Massa Jaringan Bentuk dan ukuran massa jaringan adalah massa tubuh. Contoh ukuran massa jaringan adalah berat badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak bawah kulit. Apabila ukuran ini rendah atau kecil, menunujukkan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan. Ukuran massa jaringan yang paling sering digunakan adalah berat badan (Suparisa dkk , 2002). Status gizi seseorang dipengaruhi oleh faktor penyebab langsung dan faktor tidak langsung. Penyebab langsung yaitu makanan yang dikonsumsi seharihari dan penyakit infeksi yang diderita. Timbulnya KEP tidak hanya karena makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit yang diderita anak. Anak yang mendapat makanan yang cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam akhirnya menderita KEP. Sebaliknya anak yang makan tidak cukup, daya tahan tubuhnya dapat melemah dalam keadaan demikian anak mudah diserang penyakit infeksi (Soekirman, 2000). Kekurangan gizi dianggap masalah karena dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, terganggunya pertumbuhan, menurunnya daya kerja, gangguan perkembangan mental dan kecerdasan . Penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Ketahanan

41

pangan di keluarga adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam jumlah cukup. Konsumsi zat gizi seharihari dipengaruhi oleh ketersediaan pangan dalam keluarga yang cukup. Ketersediaan pangan tergantung dari daya beli keluarga, ketersediaan bahan pangan di pasaran dan produksi. Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : 1. Secara langsung : a. Antropometri b. Biokimia c. Klinis d. Biofisika 2. Secara tidak langsung a. Survei konsumsi b. Status vital c. Faktor Ekologi (Supariasa, 2002) A. Penilaian Status Gizi Secara Antropometri Penilaian status gizi yang dilakukan secara langsung yaitu dengan menggunakan ukuran ukuran tubuh Antropometri. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi dan kombinasi antara beberapa parameter disebut Indeks Antropometri. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia antara lain : umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada , lingkar pinggul dan tebal lemak bawah kulit (Supariasa dkk, 2002). Di Indonesia ukuran baku manusia atau dikenal istilah

42

hasil pengukuran menggunakan baku HARVARD yang disesuaikan untuk Indonesia (100% baku Indonesia = 50 persentil baku Harvard). Tabel 1. Penggolongan Keadaan Gizi menurut Indeks Antropometri Ambang batas baku berdasarkan indeks STATUS GIZI Gizi Baik Gizi Kurang Gizi Buruk BB/U 80% 61 80% 60% TB/U 85% 71 85% 70% BB/TB > 90% 81 90% 80%

Sumber : Buku Penilaian Status gizi karangan Supariasa, dkk 1. Berat badan menurut Umur (BB/U) Kelebihannya : a. b. c. d. e. Lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum Baik untuk mengukur status gizi akut dan kronis Berat badan dapat berfluktuasi Sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil Dapat mendeteksi kegemukan (overweigt). (Supariasa dkk, 2002).

Kekurangan : a. Dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat odema maupun asites. b. Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan tradisional, umur sulit di taksir secara tepat karena pencatatan umur yang belum baik. c. Memerlukan data umur akurat terutama untuk kelompok anak usia di bawah 5 thun (Balita)

43

d. Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, seperti pengaruh pakaian atau gerakan anak pada saat penimbangan. e. Secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat (Supariasa dkk, 2002) 2. Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Kelebihan : a. Baik untuk penilaian status gizi masa lampau. b. Ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa (Supariasa dkk,2002) Kekurangan : a. Tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun b. Pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehingga diperlukan dua orang untuk melakukannya. c. Ketepatan umur sulit didapat (Supariasa dkk, 2002) 3. Lingkar Lengan Atas menurut Umur (LILA/U)

Kelebihan : a. Indikator yang baik untuk menilai KEP berat. b. Alat ukur murah, sangat ringan dan dapat dibuat sendiri. c. Alat dapat diberi code warna untuk menentukan tingkat keadaaan gizi sehingga dapat digunakan oleh yang tidak dapat membaca dan menulis (Supariasa dkk, 2002) Kekurangan :

44

a. Hanya dapat mengidentifikasi anak yang KEP berat b. Sulit menentukan ambang batas. c. Sulit digunakan untuk melihat pertumbuhan anak terutama anak usia 2 sampai 5 tahun yang perubahnnya tidak nampak nyata (Supariasa dkk, 2002) 4. Berat badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) Kelebihan : a. Tidak memerlukan data umur b. Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal dan kurus) (Supariasa dkk, 2002). Kekurangan : a. Tidak dapat memberi gambaran apakah anak tersebut pendek , cukup tinggi badann atu kelebihan tinggi badan, karena faktor umur tidak dipertimbangkan. b. Dalam praktek sering mengalami kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang atau tinggi badan anak pada kelompok balita. c. Membutuhkan dua macam al;at ukur d. Pengukuran relatif lebih lama e. Membutuhkan dua orang untuk melakukannya f. Sering terjadi kesalahan dalam membaca angka hasil pengukuran , terutama bila dilakukan oleh kelompok non profesional (Supariasa dkk, 2002). 5. Body Mass Indek (BMI) /Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus perhitungan IMT adalah :

45

BB (Kg) IMT = ---------------------------TB (M) X TB (M) IMT = Berat Badan (dalam Kg) di bagi Kuadrat Tinggi Badan (dalam meter) (Supariasa dkk, 2002). IMT/U adalah salah satu indikator cara cepat untuk menghitung status gizi bagi anak-anak dan remaja mulai usia 2 20 tahun dan seringkali digunakan untuk mengindentifikasi permasalahan pada anak-anak. Kategori untuk IMT/U menurut WHO CDC tahun 2000 adalah : a. Kurus b. Baik c. Overweight d. Obes : < 18 : 18 25 : > 25 : 10% Overweight (www.cdc.gov) atau

B. Pemeriksaan klinis Tanda-tanda klinis gizi kurang dapat merupakan indikator untuk menduga defisiensi gizi tetapi indikator ini tidak spesifik karena ada beberapa penyakit yang mempunyai gejala yang sama, tetapi penyebabnya berbeda. Untuk itu pemeriksaan klinis harus dipadukan dengan pemeriksaan lain seperti

antropometri dan loboratorium. Pemeriksaan klinis secara umum dibedakan terdiri dari : 1. Medical history (riwayat medis) yaitu catatan mengenai perkembangan penyakit.

46

2. Pemeriksaan fisik, yaitu melihat dan mengamati gejala gangguan gizi baik sign (gejala yang dapat diamati) dan symptom ( gejala yang tidak dapat diamati, tetapi dirasakan oleh penderita gangguan gizi) (Supariasa, 2002). C. Pemeriksaan biokimia Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil yang lebih tepat dan objektif. Pemeriksaan yang sering digunakan adalah teknik pengukuran kandungan berbagai zat gizi dan substansi kimia lain dalam darah dan urine. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan standar normal yang telah ditetapkan (Supariasa, 2002). D. Survei konsumsi makanan Survei konsumsi makanan adalah metode penilaian status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi dengan maksud untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makananan dan zat gizi pada tingkat kelompok, rumah tangga dan perorangan serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut. Metode yang biasa digunakan adalah dengan recall 24 jam dan food record (Supariasa, 2002).

2.2. LANDASAN TEORI 2.2.1 ANAK SEKOLAH Kebanyakan dari anak-anak berumur antara 6 12 tahun sedang dalam puncak perkembangan. Pada tingkat ini anak bukan lagi seorang bayi, sementara imbalan serta tuntutan kehidupan orang dewasa masih jauh. Selagi ia tumbuh dari 6 12 tahun biasanya hidupnya dan hidup ortu tidak seluruhnya diliputi cinta dan

47

ketenangan. Ia gemar berpetualang dan sering menemukan bahwa masih banyak yang harus diketahuinya dan yang mencemaskannya (Depkes RI, 1989). Pada awal usia 6 tahun anak mulai masuk sekolah , dengan demikian anakanak ini mulai masuk ke dalam dunia baru. Dimana dia mulai banyak berhubungan dengan orang-orang di luar keluarganya, dan dia berkenalan pula dengan suasana dan lingkungan baru dalam kehidupannya .(Moehji , 2003) Ketika seorang anak pertama kali pergi kesekolah maka anak ini menemui kenyatan bahwa kebiasan maka teman teman berbeda dengan kebiasaan makan di rumah, sehingga anak akan belajar membandingkan makanan yang disukainya dan di makan oleh temannya dengan makanan di rumah. Hal ini mungkin membuat seorang anak tidak menyukai makanan tertentu di rumah . (Damayanti, 1996) Anak usia sekolah mudah terkena stres yang berdampak kepada nafsu makannya, sedangkan di pihak lain kebutuhan tubuh akan energi dan zat gizi meningkat. Stress emosi dapat berasal dari banyaknya pekerjaan rumah. Kompetensi dengan teman dan ketidakseimbangan antara aktifitas dan istirahat. (Damayanti, 1996) Dari berbagai penelitian yang pernah di lakukan terhadap anak-anak sekolah baik di perkotaaan maupun pedesaan di Indonesia, didapatkan kenyataan bahwa pada umumnya berat dan tinggi badan rata-rata anak sekolah dasar ini berada dibawah ukuran normal, tidak jarang pula pada anak anak ditemukan tanda tanda penyakit gangguan gizi baik dalam bentuk ringan , maupun dalam bentuk yang agak berat (Moehji, 2003).

48

Pada umumnya kelompok anak sekolah ini mempunyai kesehatan yang lebih baik di banding dengan kesehatan anaka balita. Masalah-masalah yang timbul pada kelompok ini antara lain : berat badan rendah, defisiensi Fe (kurang darah), defisiensi vitamin E. Masalah ini timbul karena pada umur ini anak anak sangat aktif bermain dan banyak kegiatan baik disekolah maupun di lingkungan rumah tangga. Di pihak lian anak kelompok ini kadang-kadang nafsu makan menurun, sehingga konsumsi makanan tidak seimbang dengan kalori yang diperlukan (Notoadmojo , 2003). Gizi dan kesehatan anak sekolah baru mendapat perhatian pada akhir

akhir ini saja. Hal ini karena masa lampau ada asumsi bahwa seorang anak usia sekolah sudah dapat bertahan hidup (Survive) melewati periode kritis, sehingga dianggap tidak rawan lagi. Tetapi ternyata banyak penyakit infeksi masih di derita oleh anak sekolah . Sebelumnya data status gizi anak sekolah tidak dikumpulkan secara rutin, meskipun beberapa epidensi membuktikan bahwa : 1. Malnutrisi menyebar luas pada anak sekolah 2. Masalah gizi tersebut berdampak negatif terhadap pembelajaran, penampilan dan ketidakhadiran di sekolah (Riyadi , 2001) Pertumbuhan fisik pada usia anak 6 9 tahun merupakan hasil dari faktor lingkungan dan genetik , dan interaksi antara keduanya. Pada penduduk miskin faktor utama yang mempengaruihi pertumbuhan fisisk anak usia sekolah adalah faktor lingkungan yang mereka alami sebelum pubertas. Faktor lingkungan ini termasuk pola konsumsi pangan , angka kesakitan , keterbatasan sanitasi , serta praktek higiene dan kesehatan yang buruk. Potensi untuk mengejar ketinggalan pertumbuhan pada anak yang Stunted sangat terbatas setelah anak berusia lebih

49

dari 2 tahun terutama apabila anak tersebut masih tinggal di lingkungan yang jelek (Riyadi, 2001). Karakteristik Anak Usia Sekolah : 1. Berusia 7 12 tahun. 2. Pertumbuhan relatif lebih lambat dari anak balita . penambahan BB 1,8 3,1 Kg per tahun.. 3. Nafsu makan relatif lebih baik daripada anak balita. 4. Aktifitas fisik tinggi , sehingga membutuhkan energi untuk bergerak , olah raga dan lain-lain. 5. Mulai tidak tergantung terhadap orang tua (Damayanti , 1996) Pengelompokkan usia pada masa sekolah menurut : 1. WHO , usia 7 15 tahun. 2. Jellife , usia 5 15 tahun 3. Indonesia , usia 7 12 tahun ( Depkes RI , 1990). 2.2.2 ANEMIA ANAK SEKOLAH Merupakan suatu kondisi pada anak SD dan MI dengan kadar

haemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal ( kurang dari 12 gr%). Kebutuhan Fe dalam makanan sekitar 20 mg sehari, dari jumlah ini hanya kira-kira 2 mg yang diserap. Jumlah total Fe dalam tubuh berkisar 2-4 gr. Kira-kira 50 mg/kg BB pada pria dan 35 mg/kgBB pada wanita. Etiologi Anemia ini umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik. Di Indonesdia paling banyak disebabkan oleh cacing tambang (ankilostomiasis). Infestasi cacing tambang pada seseorang dengan makanan yang baik tidak akan menimbulkan

50

anemia. Bila disertai malnutrisi, baru akan terjadi anemia. Penyebab lain dari anemia defisiensi besi adalah kadar hemoglobin berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin yaitu : 1. Anak balita 2. Anak usia sekolah 3. Wanita dewasa 4. Laki-laki dewasa 5. Ibu hamil 6. Ibu menyusui > 3 bulan : 11 gr% : 12 gr% : 12 gr% : 13 gr% : 12 gr% : 12 gr% (Depkes RI. 1999).

Sebagian besar penyebab anemia di Indonesia adalah kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin (Hb)sehingga desebut Anemia Kekurangan Besi atau Anemia Gizi Besi . (Depkes RI, 1999). Garam besi merupakan unsur yang sangat penting untuk membentuk Hb , yaitu suatu zat warna yang terdapat dalam darah merah yang berguna untuk mengikat Oksigen (O2) dan Karbondioksida ( CO2 ) dalam tubuh . Hemoglobin adalah ikatan antara protein, garam besi dan zat warna. 60 % dari garam besi yang ada di dalam tubuh manusia terdapat dalam hemoglobin ini (Moehji, 2002) Faktor- faktor yang mempengaruhi rendahnya kadar besi di dalam tubuh adalah : 1. Makanan sehari-hari umumnya sedikit mengandung zat besi 2. Persentase banyaknya besi yang dapat diserap dari makanan 3. Adanya zat-zat penghambat yang dapat mengahambat penyerapan besi, yaitu asam fitat , asam oksalat dan tanin.

4. Adanya gangguan perut yang berakibat diare

51

5. Adanya parasit di dalam tubuh seperti cacing pita, cacing tambang dan lain-lain.

6. Kehilangan darah yang cukup banyak, misalnya pada saat kecelakaan, operasi, perdarahan dan sebagainya (Muchtadi dkk, 1993) Penyerapan zat besi di pengaruhi oleh banyak faktor yaitu : 1. Kebutuhan tubuh akan besi, tubuh akan menyerap sebanyak yang dibutuhkan. 2. Rendahnya penyerapan. 3. Adanya vitamin C . Gugus SH (Sulfidri) dan asam amino Sulfur dapat meningkatkan penyerapan karena dapat mereduksi dalam bentuk ferri menjadi ferro. 4. Kelebihan fosfat di dalam usus dapat menyebabkan terbentuknya kompleks besi- folat yang tidak dapat diserap. 5. Adanya fitat juga akan menurunkan ketersediaan Fe. 6. Protein hewani dapat meningkatkan penyerapan Fe. 7. Fungsi usus yang terganggu, misalnya diare dapat menurunkan penyerapan Fe. 8. Penyakit infeksi juga dapat menurunkan penyerapan Fe dkk, 1993). Anemia Gizi Besi pada anak sekolah disebabkan oleh : 1. Kebiasaan kurang makan sayur terbawa pada usia sekolah . 2. Makanan jajanan yang dibeli anak kurang mengandung zat gizi untuk ( Muchtadi asam klorida pada lambung dapat menurunkan

52

membentuk darah. 3. Anak sering bermain ditempat - tempat yang kurang bersih seperti tanah, sehingga banyak kemungkinan terkena penyakit cacingan. 4. Kebutuhan zat gizi yang meningkat pada anak sekolah ( Puslitbang Gizi Bogor , 1990). Akibat akibat defisiensi zat besi , trutama anemia defiseinsi zat besi adalah : 1. Bayi dan Anak a. Gangguan perkembangan motorik dan kordinasi b. Gangguan perkembangan bahasa dan kemajuan belajar c. Pengaruh pada psikologis dan perilaku d. Penurunan aktivitas fisik 2. Orang dewsa pria dan wanita a. Penurunan kerja fisik dan daya pendapatan b. Penurunan daya tahan terhadap keletihan. 3. Wanita Hamil a. Peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu b. Peningkatan angka kesakitan dan kematian janin c. Peningkatan resiko berat badan lahir rendah (Maeyer, 1995). Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi anemia akibat kekurangan zat besi adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan konsumsi zat besi dari sumber alami melalui penyuluhan, terutama makanan sumber hewani (heme-iron) yang mudah di serap seperti : ikan , daging dan lain-lain. Selain itu perlu ditingkatkan juga makanan yang banyak mengandung vitamin C dan vitamin A seperti buah-buahan dan sayur-sayuran

53

untuk membantu penyerapan zat besi dan membantu proses pembentukan hemoglobin. 2. Fortifikasi bahan makanan. Menambahkan zat besi , asam folat,vitamin A dan asam amino esensial pada bahan makanan secara luas oleh kelompok sasaran. Terutama pada bahan makanan hasil produksi industri pangan. 3. Suplementasi besi-folat secara rutin selama jangka wakt tertentu adalah untuk meningkatkan kadar Hb secara cepat, dengan demikian suplementasi zat besi hanya merupakan salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan anemia yang perlu diikuti dengan cara lainnya. 4. Pada balita dan anak sekolah serta WUS yang diduga menderita kecacinganan , selain suplementasi tablet besi-folat dan sirup besi , juga dianjurkan agar diberikan obat cacing (Depkes RI, 1999). Pemberian Suplementasi besi-folat untuk mencegah sekolah adalah sebagai berikut : 1. Dosis pencegahan 1 tablet tiap minggu (60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat ) selama 3 bulan. 2. Dosis pengobatan Bila kadar Hb < 12 gr% , pemberian menjadi 1 x 1 tablet per hari selama 1 bulan (kadar Hb diperiksa ulang setelah pemeberian 1 bulan), Bila belum mencapai > 12 gr% dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut (Depkes, 1999). Dalam penelitian ini untuk menentukan kadar Hb yaitu dengan menggunakan metode Sahli. Pemeriksan Hb dengan metode ini berdasarkan pada pembentukan Hematin asam dan tidak semua jenis Hb bisa diubah menjadi hematin asam seperti Anemia Besi pada anak

54

karboksihemoglobin, methamoglobin dan Sulthemoglobin (Praktikum Biokimia , 2004). Adapun dasar reaksinya adalah membandingkan warna asam dengan hematin yang telah di ubah dari Hb dengan asam kloroda (HCl) 0,1 N dengan warna standart yang terdapat pada alat Hemoglobinometer (Praktikum Biokimia , 2004) 2.2.3 Infeksi kecacingan Kecacingan adalah penyakit dimana seseorang mempunyai cacing dalam ususnya dan menimbulkan gejala atau tanpa gejala. Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius terutama untuk daerah tropis karena cukup banyak penduduk menderita kecacingan. Kecacingan menyebabkan turunnya daya tahan tubuh, terhambatnya tumbuh kembang anak, kurang gizi dan zat besi yang mengakibatkan anemia. Gejala-gejala : Mengeluarkan cacing pada saat buang air besar atau muntah Badan kurus dan perut buncit Kehilangan nafsu makan, lemas, lelah, pusing, nyeri kepala, gelisah dan suka tidur. Gatal - gatal disekitar dubur terutama malam hari ( cacing kremi ) Pada jenis cacing yang menghisap darah (cacing pita, cacing tambang, cacing cambuk) dapat terjadi anemia. Gejala spesifik untuk setiap jenis cacing adalah : Cacing kremi ( Oxyuris / Enteribius Vermicularis ) adalah rasa gatal sekitar anus terutama malam hari, gelisah dan susah tidur. Cacing gelang ( Ascariasis ) adalah gangguan lambung, kejang

55

perut diselingi diare, kehilangan berat badan dan demam. Cacing Tambang (Necatoriasis/ Ankilostomiasis) adalah gangguan saluran

cerna (mual, muntah, diare dan nyeri ulu hati), pusing nyeri kepala, lemah dan lelah, anemia, gatal di daerah masuknya cacing. Penyebab kecacingan adalah : Cacing penyebab penyakit pada manusia terdiri dari : - Cacing gelang (Ascariasis lumbriocoides) - Cacing cambuk (Tricularis sp) - Cacing kremi (Enterobius vermicularis) - Cacing tambang (Necatoria dan ankilostomia) - Cacing pita ( Taenia sp) - Trematoda Cacing masuk tubuh manusia dengan berbagai cara yaitu : Telur cacing tertelan sewaktu makan makanan yang terkontaminasi oleh kotoran. Sedang larva cacing tambang hidup di tanah dan masuk lewat kulit yang menyebabkan infeksi. Cacing pita dan trematoda sebagian besar siklus hidupnya berada pada binatang dan masuk tubuh manusia karena makan daging/ikan mentah atau setengah matang. Di Indonesia masalah cacing masih merupakan masalah kesehatan umum, yang paling sering ditemukan adalah cacing gelang dan cacing kremi. Cacing kremi bertelur di sekitar dubur. Telur akan matang dalam waktu sekitar 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu tubuh. Telur yang matang akan menetas di usus 12 jari . Telur-telur ini terbawa oleh jari-jari bila penderita menggaruk, kemudian bila tidak dicuci kedua tangan tersebut maka bisa menularkan keorang lain. Dalam keadaan

56

lembab telur dapat hidup sampai 13 hari .Penyebab kecacingan juga biasanya karena makanan dan minuman serta lingkungan yang tidak bersih . Pada umumnya terjadi melalui makanan dan melalui kulit. Hal yang perlu dilakukan agar terhindar dari kecacingan adalah : 1. Menjaga kebersihan diri dengan memotong kuku, menggunakan sabun pada waktu mencuci tangan sebelum makan, setelah buang air besar dan pada waktu mandi. 2. Menghindari makanan yang telah dihinggapi lalat dan cuci bersih bahan makanan untuk menghindari telur cacing yang mungkin ada serta biasakan memasak makanan dan minuman. 3. Menggunakan karbol di kamar mandi 4. Menggunakan alas kaki untuk menghindari sentuhan langsung dengan tanah saat bekerja di halaman, perkebunan, pertanian, pertambangan ,dan lain-lain. Obat yang dapat digunakan : 1. Pirantel Pamoat a. Kegunaan obat : Pengobatan askariasis, oksiuriasis, ankilostomiasis dan nekatoriasis b. Hal yang perlu diperhatikan : Aturan pakai harus dibaca dan di patuhi c. Kontra indikasi Penderita gangguan fungsi hati Anak di bawah umur 2 tahun Ibu hamil

d. Efek samping

57

Nafsu makan hilang (anoreksia) , mual, muntah, diare, kram lambung, meningkatnya SGOT, sakit kepala, pusing, mengantuk, ruam kulit. e. Bentuk sediaan Tablet 125 mg Tablet 250 mg

f. Aturan pemakaian Tablet 125 mg 1-5 tahun : 1 tablet 5-9 tahun : 2 tablet 10-15 tahun : 3 tablet Diatas 15 tahun dan dewasa : 4 tablet

Tablet 250 mg 1- 5 tahun : 1/2 tablet 5-9 tahun : 1 tablet 10-15 tahun : 1 tablet Diatas 15 tahun dan dewasa : 2 tablet

3. Mebendasol a. Kegunaan obat Pengobatan Ascariasis, trikuriasis, enterobiasis, ankilostomiasis,

nekatoriasis dan infeksi campuran. b.Hal yang diperhatikan - Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita diabet dan ibu menyusui.

58

- Penggunaan jangka panjang dengan dosis besar dapat menimbulkan penurunan sel darah putih (neutropenia) kembali ke normal bila obat dihentikan. c. Kontra indikasi Anak balita dan ibu hamil akan mengakibatkan pembentukan sel yang tidak normal (teratogenik) d. Efek samping Nyeri pada lambung , diare e. Bentuk sediaan

Tablet 100 mg f. Aturan Pemakaian Untuk cacing kremi : 1 tablet sehari Untuk cacing cambuk : 1 tablet setiap pagi dan 1 tablet setiap malam selama 3 hari berturut-turut. Untuk cacing gelang : 1 tablet setiap pagi dan 1 tablet setiap malam selama 3 hari berturut-turut. 4. Piperazin a. Kegunaan obat Pengobatan askariasis, oksiuriasis atau enterobiasis b. Hal-hal yang perlu diperhatikan Aturan pakai harus dibaca dan dipatuhi c. Kontra indikasi o Penderita epilepsi o Alergi terhadap pipirasin

59

o Gangguan fungsi hati dan ginjal d. Efek samping Mual , muntah, gangguan pada fokus mata, dermatitis, diare dan reaksi alergi. e. Bentuk sediaan - Sirup peperasin sitrat 1 g/5 ml (kemasan sirup 15 ml) - Sirup piperasin heksahidrat 1 g/5 ml (kemasan sirup 15 ml) f. Aturan pemakaian * Askariasis (cacing gelang) Dosis tunggal : bayi : 2,5 ml

1-2 tahun : 5 ml 3-5 tahun : 10 ml Lebih dari 6 tahun dan dewasa : 15 ml Di minum selama 2 hari berturut-turut. * Oksiurasis Diminum setelah makan, selama 4 hari berturut-turut Bayi : 1 kali sehari, 2,5 ml 1-2 tahun : 2 kali sehari 2-5 ml 3-5 tahun : 2 kali sehari 5 ml Diatas 6 tahun dan dewasa : 3 kali sehari ,5 ml

1. HUBUNGAN INFEKSI KECACINGAN DENGAN ANEMIA

60

Pada kasus-kasus perdarahan kronis yang disebabkan oleh parasit, seperti cacing tambang, cacing cambuk dan mungkin cacing gelang menyebabkan kebutuhan akan zat besi menjadi meningkat. Cacing tersebut menempel pada dinding usus dan memakan darah. Darah yang hilang bervariasi dari 2 sampai 100 cc setiap hari, tergantung pada beratnya infeksi . Sebagian zat besi dalam darah yang dialirkan oleh cacing di dalam usus akan diserap kembali di saluran gastrointestinal yang lebih bawah. Sedang sisanya akan terbuang melalui tinja. Zat besi yang hilang per 1.000 telur per gram tinja diperkirakan sekitar 0,8 mg per hari oleh Necator americanus dan 1,2 oleh Ancylostoma duodenale.(Maeyer,1995) Infeksi mengganggu masukan makanan, penyerapan, penyimpanan serta penggunaan berbagai zat gizi, termasuk zat besi. Pada banyak masyarakat pedesaan dan daerah urban yang kumuh dimana sanitasi lingkungan buruk, angka kesakitan akibat infeksi virus, kecacingan dan bakteri tinggi. Dalam masyarakat tersebut, makanan yang sering dimakan mengandung sangat sedikit energi. Kalau keseimbangan zat besi goyah, episode infeksi yang berulang-ulang dapat menyebabkan terjadinya anemia. (Maeyer,1995) Anemia bisa disebabkan bukan hanya oleh difisiensi zat besi (atau lebih jarng lagi zat-zat gizi lain) tetapi juga oleh kondisi-kondisi lain. Penyakit malaria, cacing tambang (ancylostomiasis atau necatoriasis), schistomosiasis dan infeksiinfeksi lain berperan penting di daerah-daerah yang beriklim tropis. (Maeyer.1995) Kehilangan zat besi yang berlebihan pada pendarahan termasuk haid yang berlebihan, sering melahirkan dan pada infeksi cacing dimana cacing menyebabkan banyak darah yang keluar, sehingga mengganggu keseimbngan zat

61

besi, dimana zat besi yang dikeluarkan lebih banyak dari zat besi yang masuk menyebabkan seseorang mengalami anemia berat (kadar Hb < 8 gr%). Sehingga upaya pencegahan dan penanggulangan selain pada anemianya, harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit yang melatarbelakangi terjadinya anemia (Depkes RI,1999 Dari hasil penelitian permasalahan gizi yang menonjol pada anak SD adalah kekurang zat besi mencakup sekitar 25-40%. Kondisi ini menurunkan daya tahan , siswa cepat lelah, lamban geraknya, kurang gairah belajar dan tidak cepat tanggap. Hal ini diperburuk lagi dengan dijumpainya gangguan infeksi kecacingan yaitu sebesar 40 70 % merupakan angka yang cukup tinggi . Apabila keadaan ini berlangsung lama akan memberi dampak terhadap status gizi anak (Forum Koordinasi PMT-AS Tingkat Pusat J, 1997) 6. HUBUNGAN ANEMIA DENGAN STATUS GIZI Untuk menjaga badan supaya tidak anemia, maka keseimbangan zat besi di dalam badan perlu dipertahankan. Keseimbangan disini diaertikan bahwa jumlah zat besi yang dikeluarkan dari badan sama dengan jumlah zat besi yang diperoleh badan dari makanan (Mahidin dkk, 1999). Anak mengalami masa pertumbuhan yang cepat, maka kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan perlu ditambahkan kepada jumlah zat besi yang dikeluarkan lewat bassal. Selain itu anak membutuhkan zat besu untuk menambah massa sel darah merah dan pertumbuhan jaringan tubuh. Sel-sel darah merah berumur 120 hari, jadi sesuadah 120 harise-sel darah merah mati dan diganti dengan yang baru. Apabila dalam makanan tidak terdapat zat besi yang cukup maka pembentukan

62

sel-sel darah merah dan pertumbuhan jaringan tubuh anak akan terganggu, yang memberi dampak pada status gizi anak (Mahidi dkk,1999). Kekurangan hemoglobin dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang di transport ke sel tubuh maupun otak. Anemia sedang dan ringan dapat menimbulkan gejala- gejala 5 L yaitu: letih, lesu, lemah , lelalh dan lalai

disamping itu seringkali disertai keluhan pusing dan mata berkunang-kunang dan penderita anemia akan turun daya tahan tubuhnya, akibatnya mudah terkena penyakit infeksi yang bila terjadi pada anak sekolah akan mengurangi kapasitas dan menurunkan kemampuan atau prestasi belajar. Hal ini tentunya sangat merugikan dalam upaya pengembangan sumber daya manusia (Depkes RI, 1999). Anemia pada anak dapat menimbulkan gangguan hambatan pada pertumbuhan , baik pada sel tubuh maupun sel otak, sehingga anak yang anemia akan mengalami gangguan pertumbuhan , tidak dapat mencapai tinggi yang optimal, anak menjadi kurang cerdas , daya tahan tubuh menurun akibatnya mudah terkena penyakit infeksi (Depkes RI, 1999). Anak sekolah mempunyai aktifitas yang cukup tinggi dan masih dalam proses belajar. Pada saat belajar anak sekolah memerlukan tenaga yang banyak karena kekurangan darah (anemia) tenaga yang diperlukan untuk belajar

berkurang sehingga anak cepat lelah dan mengantuk pada waktu belajar. Hal ini tidak hanya di alami di kelas namun juga terjadi di rumah akhirnya anak menjadi bodoh (Puslitbang Gizi Bogor, 1990). Pada anak sekolah prestasi belajar rendah kalau anak menderita difesiensi besi , selain itu anak yanganemia kurang besi mempunyai kesulitan dalamberfikir secara logika dan berfikir secara analog, serta menurunnya kemampuan konsentrasi dalam

63

menyelesaikan tugas. Keadaan ini dapat diprbaiki dengan terapi besi (Fe). Dalam mencapai hasil yang optimal dari suatu sistem pendidikan, maka anak-anak didik harus tidak menderita kurang besi (Mahidin dkk, 1999). 7. HUBUNGAN INFEKSI KECACINGAN DENGAN STATUS GIZI Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh. Antara gizi buruk dan penyakit infeksi sesungguhnya mempunyai hubungan timbal balik yang sangat erat, sehingga sering sukar untuk mengidentifikasi mana dari kedua keadaan itu yang datang lebih dulu. Dalam banyak kejadian terjadi synergisitas antara gizi buruk dan penyakit infeksi dan akibat yang terjadi tentu saja sangat fatal (Moehji, 2003). Gizi buruk akan menyebabkan terganggunya sistem pertahanan tubuh. Perubahan morfologis yang terjadi pada jaringan limphoid yang berperan dalam sistem kekebalan akibat gizi buruk, menyebabkan pertahanan tubuh menjadi lemah, kekebalan seluler yang dimungkinkan oleh berfungsinya kelenjar thymus berkurang karena kelenjar thymus mengecil akbat kekurangan gizi. Produksi berbagai

antibodies juga berkurang disamping terjadi atropi pada dinding usus menyebabkan berkurangnya sekresi berbagai enzim sehingga memudahkan masuknya bibit penyakit. Kedalam tubuh. Keseluruhan gangguan pada sistem pertahanan tubuh itu berlangsung serentak pada penderita gizi buruk sehingga menjadi penderita gizi buruk sanat mudah terserang penyakit lebih-lebih jika lingkungan anak tidak mendukung (Moehji, 2003). Sebaliknya penyakit infeksi seperti kecacingan yang menyerang anak menyebabkan gizi anak menjadi buruk. Memburuknya keadaan gizi anak akibat penyakit infeksi adalah akibat beberapa hal antara lain :

64

1. Turunnya nafsu makan anak akibat rasa tidak nyaman yang di alami, sehingga masukan zat gizi berkurang padahal anak justru memerlukan zat gizi yang lebih banyak terutama untuk mengganti jaringan tubuhnya yang rusak akibat bibit penyakit itu. 2. Penyakit infeksi sering dibarengi oleh diare dan muntah yang menyebabkan penderita kehilangan cairan dan sepuluh zat gizi seperti berbagai mineral dan sebagainya, dan danya diare menyebabkan penyerapan zat gizi dari makanan juga terganggu , sehingga secara keseluruhan mendorong terjadinya gizi buruk. 3. Naiknya metabolisme basal akibat demam menyebabkan termobilisasinya cadangan energi dalam tubuh . Penghancuran jaringan tubuh oleh bibit penyakit juga akan semakin banyak dan untuk menggantinya diperlukan masukan protein yang lebih banyak (moehji, 2003). Status gizi kurang atau buruk dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit infeksi dan memperberat infeksi tersebut juga penyakit infeksi akan memperburuk status gizinya (Rudiansyah, 2000). Infeksi dan demam dapat menyebabkan merosotnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan. Parasit dalam usus seperti cacing gelang dan sebagainya bersaing dengan tubuh dalam memperoleh makanan dan dengan demikian menghalangi zat gizi ke dalam arus darah, keadaan yang demikian membantu terjadinya kurang gizi .(Suhardjo, 1996) Akibat penghisapan zat zat makanan dan darah oleh cacing , semakin lama tubuh akan kekurngan zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh sehingga menyebabkan tubuh penderita menjadi kurus dan status gizinya menurun. (Harold. Brown, 1989)

65

2.3. Kerangka Konsep Penelitian


Faktor yang mempengaruhi : - Zat besi dari Asupan makanan kurang Sumber hewani Sumber nabati

Meningkatkan kebutuhan tubuh akan zat besi Masa pertumbuhan Masa kehamilan Infeksi penyakit kronis : TBC Anemia

Meningkatnya pengeluaran zat besi Penderita Cacingan Malaria Menstruasi

66

Perdarahan Status Gizi

Diteliti

Tidak diteliti :

Gambar 2.4 Bagan kerangka konsep

2.4. Hipotesa 2.4.1 Ada hubungan antara infeksi kecacingan dengan anemia pada anak sekolah dasar di SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala tahun 2010. 2.4.2 Ada hubungan antara anemia dengan status gizi pada anak sekolah dasar di SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala tahun 2010. 2.4.3 Ada hubungan antara infeksi kecacingan dengan status gizi pada anak sekolah dasar di SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala tahun 2010.

67

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian penelitian ini merupakan penelitian Observasional analitik, dengan menggunakan rancangan cross sectional untuk melihat hubungan antara infeksi Kecacingan dengan Anemia dan status gizi pada anak Sekolah Dasar di SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala. 3.2. Lokasi dan waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010. Penelitian dilakukan pada bulan September 2010 3.3. Subjek Penelitian 3.3.1 Populasi

68

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 1 sampai kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010. 3.3.2. Sampel Sampel yang diteliti adalah siswa kelas 1 sampai kelas 4 didapatkan jumlah sampel adalah 100 siswa 3.4. Variabel penelitian dan definisi Operasional 3.4.1 Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah : a. Variabel bebas adalah Infeksi kecacingan b. Variabel terikat adalah status gizi pada siswa c. Variabel antara adalah anemia

3.4.2. Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Alat dan cara mengukur 1 Variabel Antara Anemia : suatu kondisi pada anak SD dan MI dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal ( kurang dari 12 gr%) Metode Sahli Pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb) Nominal Dikatakan anemia bila Hb <12 gr% Normal > 12 gr% Positif = ada telur cacing atau cacing Negatif = tidak Ada telur cacing atau cacing Antropometri Menggunakan Nominal Kurus , Normal Skala Hasil

Variabel bebas

Infeksi Cacing : Parasit manusia dan hewan yang sifatnya merugikan dimana manusia merupakan hospes beberapa nematode usus yang diantara sejumlah spesiesnya ditularkan melalui tanah. Status gizi : keadaan sehat individu-individu

Mikroskop Pemeriksaan Feces

Nominal

3.

Variabel terikat

69

atau kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi dan zat-zat lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri.

Indeks Massa Tubuh (IMT)

berdasarkan tabel IMT anak usia 2 20 tahun (lampiran 2)

3.5. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat yang akan digunakan untuk memperoleh data penelitian, instrumen dalam penelitian ini yaitu uji laboratorium, (Notoatmodjo, 2002:48).

Alat yang diperlukan untuk pemeriksaan cacing adalah : 1) Mikroskop 2) objek glass 3). Dek glass 4). Lidi Bahan : lugol atau NaCl 0,9 % Alat dan bahan yang diperlukan untuk uji Hb darah adalah : 1) Henometer Sahli 2) reagen HCl 0,1 N 3) Pipet Hb Sahli 4) Darah 5) Aquadest

70

3.6. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka pencapaian tujuan. Pengumpulan data dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.

3.6.1 Data Primer Data primer dalam penelitian ini adalah Anemia dan Kecacingan serta status gizi anak SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala. Metode pengambilan data : dengan uji laboratorium

Uji Laboratorium 3.6.1.1 Pemeriksaan cacing Pemeriksaan feses untuk mengetahui telur cacing secara mikroskopis adalah sebagai berikut : * Preparat kering, dengan lidi feses digosokan pada object gelas secara merata , tunggu dulu sampai kering, baru diberi + 5 tetes paraffin liquidum sampai rata dan dilihat dengan mikroskop. Tampak warna Ascaris lumbricuides dan Trichusris trichiura berwarna kekuningan, sedangkan telur Ancylostoma duodenale berwarna putih.

3.6.1.2. Pemeriksaan Hemoglobin (Hb)

71

Pemeriksaan Hb untuk mendapatkan hasil yang cepat maka di gunakan alat Hemotest. Adapun langkah-langkah yang di lakukan : 1. Masukan HCl 0,1 N ke dalam tabung pengencer henometer sampai pada angka 2 2. Isap darah dengan pipet hemoglobin sampai garis tanda 0,02 ml 3. Bersihkan darah yang melekat pada ujung pipet 4. Alirkan darah dari pipet ke dasar tabung pengencer yang tadi berisi HCl, hati-hati jangan sampai timbul gelembung udara. 5. Bilas sisa darah yang menempel pada pipet dengan cara mengisap HCl yang ada dalam tabung tersebut, ditiup lagi dan lakukan 2 3 kali 6. Campur isi tabung sampai homogen, masukkan dalam alat pembanding dan diamkan selama 5 menit untuk pembentukan hematin asam. 7. Tambahkan aquades tetes demi tetes sambil diaduk, sampai warna larutan sama dengan warna gelas dari alat pembanding. 8. Baca skala pada tabung yang menunjukan kadar Hb. (Praktikum Biokimia , 2004)

3.6.1.3 Status gizi Data status gizi diperoleh dengan menggunakan indeks BB/TB dengan standar WHO NCHS 1) Berat Badan Diperoleh dengan cara penimbangan berat badan dengan menggunakan timbangan injak dengan ketelitian 0,1 Kg yang telah dikalibrasi. Pengukuran berat badan dilakukan tanpa menggunakan alas kaki, dan pakaian seminimal mungkin.

72

2) Tinggi Badan Tinggi badan dilakukan dengan menggunakan alat Microtoise, yaitu dengan memilih lantai yang rata dan tegak lurus dengan dinding 90 C kemudian pita ditarik sampai tepat angka nol (0) lalu di ujung pita dipaku pada tempat yang disediakan dengan kuat.

Data Sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah data jumlah anak sekolah dan lain-lain.

3.7. Teknik analisa data 3.7.1. Pengolahan Data Dalam proses pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa langkah yang harus ditempuh, diantaranya: 1. Editing Memeriksa kembali data - data yang telah dikumpulkan apakah ada kesalahan atau tidak. 2. Coding Pemberian nomor-nomor kode atau bobot pada jawaban yang bersifat kategori. 3. Tabulating Penyusunan / perhitungan data berdasarkan variable yang diteliti.

73

4. Cleaning Membersihkan data dan melihat variable yang digunakan apakah datanya sudah benar atau belum 5. Describing Menerangkan hasil penelitian dari rekapan data. Teknik pengolahan data

penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data hasil pengamatan yang telah diuji di laboratorium.

3.7.2 Teknik Analisa Data Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : a. Analisis Univariat Dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan proporsi dari masing masing variabel independent /bebas (data infeksi kecacingan) dengan anemia dan status gizi sebagai variabel dependen ( terikat ) b. Analisis Bivariat Untuk menguji hipotesis hubungan antara variabel bebas (infeksi kecacingan) dengan variabel terikat (anemia dan status gizi). Uji yang digunakan adalah uji statistic berupa Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (alfa 0,05)

3.8.1 Prosedur Penelitian Penelitian ini memiliki 3 tahapan yaitu tahap persiapan, tahap penelitian, tahap perhitungan. Penjelasan lebih lengkapnya yaitu sebagai berikut : I. Tahap Persiapan

74

Dalam pengamatan dan pengukuran ini peneliti dibantu oleh seorang teknisi dari Laboratorium Puskesmas Tamban. Langkah-langkah dalam persiapan, yaitu : 1. Meregister data murid SD yang diambil sampel 2. Menyiapkan alat alat yang diperlukan untuk penelitian seperti Habenosahli set , timbangan dewasa, microtoice. 3. Menyiapkan alat-alat tulis untuk pencatatan hasil II. Tahap Penelitian 1. Pengambilan data sampel feces murid untuk pemeriksaan cacing 2. Pengambilan data sampel darah murid untuk pemeriksaan Hb. 3. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan untuk Hb dilakukan di tempat

penelitian sedangkan feces dilakukan pemeriksaan di laboratorium Puskesmas Tamban 4. Hasil yang di dapat dicatat dengan membuat Tabel data untuk

mempermudah melihat hasil pemeriksaan. III. Tahap Perhitungan Tahap ini dilakukan setelah diperoleh data status gizi, Hb dan Cacing siswa SD. Selanjutnya dilakukan perhitungan SPSS pada computer. 3.9. Keterbatasan Penelitian Peneliti menyadari ada beberapa keterbatasan dalam melakukan penelitian . Antara lain : 1.Sampel penelitian terbatas jumlahnya, dikarenakan oleh berbagai faktor luar sehingga hasil dirasa kurang maksimal. dengan menggunakan Program

75

2.Instrumen atau kurangnya fasilitas alat penunjang penelitian yang memadai .

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Data SDN Purwosari I.1 berada di ibukota kecamatan Tamban merupakan salah satu sekolah dasar negeri dari 32 SD yang ada di Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala. Dengan jumlah murid 150 orang dan 9 orang guru termasuk kepala sekolah

Tabel 1 Keadaan Siswa SDN Purwosari I.1 Tahun Ajaran 2009/2010 KELAS L I II III IV V VI JUMLAH 17 17 14 13 12 6 79 JUMLAH SISWA P 11 16 13 14 13 14 71 JUMLAH 28 33 27 27 25 20 150

76

4.1.2 Distribusi Responden berdasarkan Umur Anak SD Tabel. 2 Distribusi Responden menurut Umur Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah Umur 6 7 8 9 10 11 12 Frekuensi 15 10 23 26 6 2 8 100 Persentase (%) 15 % 10 % 23 % 26 % 6% 2% 8% 100 %

Berdasarkan hasil penelitian didapat Frekuensi umur dari 100 siswa kelas I, II, III Sekolah Dasar Negeri Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010 yang berumur 6 tahun berjumlah 15 siswa (15%) , berumur 7 tahun berjumlah 23 siswa (23 %), berumur 8 tahun berjumlah 23 siswa (23%), berumur 9 tahun berjumlah 26 siswa (26 %) dan berumur 10 tahun 6 siswa (6%), berumur 11 berjumlah 2 siswa dan 12 tahun 8 siswa berjumlah 8 siswa(Tabel. 2)

4.1.3 Distribusi Responden menurut Jenis Kelamin Tabel.3 .Distribusi Responden menurut Jenis Kelamin Siswa No 1 Jenis Kelamin Laki-laki Frekuensi 48 Persentase (%) 48 %

77

Perempuan Jumlah

52 100

52 % 100 %

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa frekuensi siswa yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 48 siswa ( 48 %) dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 52 siswa (52 % )

4.1.4 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan Orang Tua Siswa Tabel. 4 Distribusi Responden berdasarkan Pekerjaan Orang Tua Siswa No 1 2 3 4 5 Pekerjaan PNS Buruh tani Petani Wiraswasta Pedagang Jumlah Frekuensi 10 15 65 5 5 100 Persentase (%) 10 % 15 % 65 % 5,0 % 5,0 % 100 %

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan frekuensi orang tua siswa yang bekerja sebagai petani sebanyak 65 siswa (65%) , orang tua siswa yang bekerja sebagai pedagang sebanyak 5 siswa (5%) , orang %tua siswa yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 2 orang (5%), orang tua siswa yang bekerja sebagai buruh tani 15 siswa (15) dan orang tua siswa yang bekerja sebagai PNS sebanyak 10 orang (10 %).

4.1.4 Distribusi Kejadian Penyakit Cacingan Tabel. 5 No 1 2 Distribusi Responden berdasarkan Infeksi Kecacingan Frekuensi 8 82 Persentase (%) 8% 82 %

Infeks Cacing Positif Negatif

78

Jumlah

100

100%

Berdasarkan hasil penelitian frekuensi siwa yang positif cacingan yaitu terinfeksi cacing kremi (Enterobius vermicularis) sebanyak 8 siswa dan negatif cacingan sebanyak 82 siswa . Siswa sebagian besar 82 % tidak terinfeksi cacingan ini

dikarenakan sebagian besar orang tua siswa sudah memberikan obat cacing kepada anaknya sebelum pelaksanaan penelitian.

4.1.5 Distribusi Kejadian Anemia Tabel. 6 Distribusi Responden berdasarkan Status Anemia No 1 2 Kejadian Penyakit Anemia Anemia Tidak Anemia Jumlah Frekuensi 16 84 100 Persentase (%) 16% 84 % 100 %

Berdasarkan hasil penelitian frekuensi siswa yang Anemia sebanyak 6 siswa dan yang tidak Anemia sebanyak 34 siswa . Sebagian besar siswa tidak anemia karena beberapa orang tua siswa sudah memberikan suplemen makanan seperti Curcuma Plus, Biolysin dan lain-lain.

4.1.6 Distribusi berdasarkan status Gizi Tabel. 7 No 1 2 Distribusi Responden berdasarkan Status Gizi Frekuensi 16 84 100 Persentase (%) 16 % 84 % 100 %

Status Gizi kurus normal Jumlah

79

Berdasarkan hasil penelitian

frekuensi siswa dengan status gizi

kurus

sebanyak 16 siswa (16 %) dan yang normal sebanyak 84 siswa (84%)

4.1.7 Distribusi Responden berdasarkan Infeksi Kecacingan dengan Anemia Tabel. 8 Distribusi Responden berdasarkan Infeksi Kecacingan dengan Anemia No Infeksi cacing Status anemia Positif 1 2 Positif Negatif Jumlah 5 8 13 Negatif 3 84 87 8 92 100 0,004 14,38 Jumlah p X2

Tabel 8 menunjukan bahwa siswa SD yang anemia dan positif terinfeksi cacing sebanyak 5 siswa (5%), siswa SD yang Anemia dan negatife terinfeksi cacing sebanyak 8 siswa (8 %) , sedangkan siswa SD yang tidak anemia tetapi positif terinfeksi cacing sebanyak 8 siswa (8 %) , siswa SD yang tidak anemia dan tidak terinfeksi cacing sebanyak 92 siswa (92 %). Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan uji Fishers exact test dengan nilai p = 0,004 dibawah nilai (0,05) maka nilai p < . Interprestasi hasil uji statistic adalah Ho ditolak artinya terdapat hubungan yang bermakna antara infeksi kecacingan dengan anemia.

4.1.8 Distribusi Responden berdasarkan Anemia dan Status Gizi

80

Tabel. 9 No

Distribusi Responden berdasarkan Anemia dan Status Gizi Anemia Status gizi Kurus Normal 12 47 59 18 74 100 0,599 0,99 Jumlah p X2

1 2

Positif Negatif Jumlah

6 35 41

Tabel 9 menunjukkan bahwa siswa SD yang mempunyai status gizi kurus dengan anemia sebanyak 6 siswa (6 %), siswa SD dengan status gizi normal yang anemia sebanyak 12 siswa (12 %) , siswa SD yang status gizinya kurus dan tidak anemia sebanyak 35 siswa (35 %) dan siswa dengan status gizi normal yang tidak anemia sebanyak 59 siswa (59 %). Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan uji Fishers exact dengan nilai p = 0,0599 diatas nilai = 0,05 maka p> . Interpretasi hasil uji statistik adalah tidak ada hubungan bermakna antara anemia dengan status gizi.

4.1.9 Distribusi Responden berdasarkan Infeksi Cacing dengan Status Gizi Tabel. 10 Distribusi Responden berdasarkan Infeksi Cacing dengan Status Gizi No Infeksi cacing Kurus 1 2 Positif Negatif Jumlah 2 39 41 Normal 6 53 59 8 92 100 0,466 1,31 Status gizi Jumlah p X2

Tabel 10 menunjukkan bahwa siswa SD yang positif terinfeksi cacing dengan status gizi kurus sebanyak 2 siswa (2 %), siswa yang positif terinfeksi cacingan dengan status gizi normal sebanyak 6 siswa (6 %), siswa yang tidak terinfeksi

81

cacing dengan status gizi kurus sebanyak 39 siswa

(39 %) dan siswa yang tidak

terinfeksi cacing dan status gizinya normal sebanyak 53 siswa (53 %). Berdasarkan uji statistic dengan Fishers exact dengan nilai p = 0,456 diatas nilai = 0,05 maka nilai p > berarti Ho diterima artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi kecacingan dengan status gizi.

B. Pembahasan 3. Tingkat Kejadian Penyakit Cacingan Infeksi Cacingan merupakan salah satu penyebab terjadinya Anemia dan kekurangan status gizi pada anak-anak. Dampak dari penyakit cacingan sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas mutu intelegensia anak. Penyakit cacingan lebih banyak menyerang pada anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah di karenakan aktifitas mereka yang lebih banyak berhubungan dengan tanah. Diantara cacing tanah yang ada yang sering menyerang adalah Cacing Tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator Americanus),Cacing Cambuk (Trichuris trichihura) dan Cacing Kremi (Enterobius Vermicularis). Cacing sebagai parasit tidak saja mengambil zat-zat gizi dalam usus anak, tetapi juga merusak dinding usus sehingga mengganggu penyerapan zat-zat gizi tersebut. Anak yang terinfeksi cacingan biasanya mengalami lesu, pucat atau anemia, berat badan menurun, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, kadang disertai batuk-batuk. Berdasarkan tabel 5 terlihat bahwa siswa sebagian besar 82 % tidak terinfeksi cacingan ini dikarenakan sebagian besar orang tua siswa sudah

memberikan obat cacing kepada anaknya sebelum pelaksanaan penelitian. Siswa yang positif terinfeksi cacingan (Cacing Kremi) sebanyak 8 orang (8%).

82

Dihubungkan dengan konsep dan teori tentang infeksi cacingan pada anak sekolah dasar di harapkan relevan dengan fakta yang ada bahwa semakin sering anak main dengan tanah dan tidak menjaga higiene dan sanitasi maka akan mudah terinfeksi cacingan, oleh sebab itu perlu adanya pengawasan dan pemeriksaan kesehatan rutin. 2. Tingkat Kejadian Anemia Anak Sekolah Hasil penelitian dari 100 anak sekolah dasar menunjukkan bahwa anak sekolah sebagian besar tidak mengalami (84 %) , sedangkan 16 orang mengalami anemia (16 %). Hal ini dikarenakan sebagian besar dari anak sekolah dasar sudah mengkonsumsi makanan dengan gizi yang baik dan tidak terinfeksi cacingan. Selain itu adanya pemberian suplemen oleh orang tua siswa semakin menambah tingkat kesehatan siswa lebih baik. Sedangkan pada 16 orang siswa yang mengalami anemia resiko anemia pada siswa perempuan lebih tinggi dibanding siswa laki-laki karena pada siswa perempuan mengalami masa menstruasi pada usia remaja, sehingga perdarahan yang keluar jika terlalu banyak dapat menyebabkan anemia. Oleh sebab itulah mengapa pada anak siswa perempuan atau remaja putri dianjurkan mengkonsumsi tablet tambah darah sebagai langkah pencegahan anemia. Karena pada masa ini kebutuhan akan zat besi meningkat dari biasanya dan tidak hanya cukup dari makan saja. Di Indonesia prevalensi anemia pada anak sekolah berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukan 47,3% dan sebagian besar penyebabnya karena kekurangan zat besi mencakup sekitar 25 40 % . Kondisi ini menurunkan daya tahan siswa cepat lelah, lamban geraknya, kurang gairah belajar dan tidak cepat tanggap.

83

3. Tingkat Status Gizi Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan hasil penelitian 100 anak menunjukan bahwa siswa sekolah dasar sebagian besar mempunyai status gizi normal sebanyak 84 siswa (84 %) . ini menunjukan bahwa tingkat status gizi siswa baik yaitu antara asupan zat gizi dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh untuk berbagai keperluan proses biologi adalah seimbang. Keseimbangan zat gizi dapat mempengaruhi pertumbuhan,

perkembangan, kecerdasan, pemeliharaan kesehatan, aktivitas dan lain lain (Abas Basuni, 2003). Sedangkan 16 orang siswa mengalami status gizi kurus (16 %) penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi dan tinggi aktifitas siswa (main), kondisi ini harus segera di tangani menurut Soeharjo (1989) status gizi adalah sehat individuindividu atau kelompok yang ditentrukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri. Berdasarkan hasil penelitian bahwa sebagian anak Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah masih mengalami masalah gizi yang serius. Hasil kegiatan Pengukuran Tinggi Badan Anak Baru Sekolah tahun 1998 menunjukan bahwa 37,8 % anak Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang baru masuk sekolah menderita Kurang Energi Protein (KEP). Hal ini perlu adanya pengawasan dan konseling gizi kepada siswa dan juga orang tua siswa. 4. Hubungan Infeksi Cacing dengan Anemia Berdasarkan hasil penelitian pada siswa Sekolah Dasar yang positif terinfeksi cacing tetapi tidak anemia sebanyak 3 orang (3 %). Ini berarti siswa yang terinfeksi cacing tidak mengalami anemia ini bisa terjadi karena jenis cacing yang

84

terdeteksi adalah karena cacing kremi, karena infeksi cacing ini relatif tidak berbahaya .Gejala klinis yang menonjol disebabkan iritasi disekitar anus, perinium dan vagina karena cacing betina yang mau bertelur biasanya bermigrasi di daerah ini. Penderita juga sering menggaruk daerah anusnya, dan biasanya pada malam hari sehingga terganggu tidurnya dan menjadi lemah . cacing kremi dapat sembuh sendiri jika tak ada pengobatan pun infeksi dapat berakhir. Cara yang dilakukan adalah dengan memutus mata rantai cacing kremi tersebut yaitu dengan melakukan pencegahan infeksi dan peningkatan kebersihan. Misalnya kuku selalu dipotong pendek, tangan dicuci sebelum makan. Siswa yang positif anemia tetapi tidak terinfeksi cacing sebanyak 8 orang (8 %). Ini berarti anemia yang dialami siswa sekolah dasar di tempat penelitian bukan disebabkan karena penyakit cacingan, melainkan mungkin disebabkan faktor lain . Sedangkan siswa yang terinfeksi cacing dengan anemia ada 5 orang (5%) . Infeksi cacingan mengganggu masukan makan, penyerapan, penyimpanan serta penggunaan berbagai zat gizi, termasuk zat besi. Pada masyarakat pedesaan dan daerah urban yang kumuh dimana sanitasi lingkungan buruk, angka kesakitan akibat infeksi virus, kecacingan dan bakteri tinggi. Dalam masyarakat tersebut makanan yang sering di makan mengandung sangat sedikit energi. Kalau keseimbangan zat besi goyah , episode infeksi yang berulang-ulang dapat menyebabkan terjadinya anemia (Maeyer, 1995). Anemia bisa disebabkan bukan hanya oleh defisiensi zat besi tetapi juga oleh kondisi-kondisi lain seperti penyakit Malaria, Cacing Tambang (Ancylostomiasis atau Necatoriasis), Schistomosiasis dan infeksi infeksi lain berperan penting di daerah daerah yang beriklim tropis (Maeyer, 1995). Kelebihan zat besi yang berlebihan pada

85

pendarahan termasuk haid yang berlebihan, sering melahirkan dan pada infeksi cacing dimana cacing menyebabkan banyak darah yang keluar, sehingga mengganggu keseimbangan zat besi dimana zat besi yang dikeluarkan lebih banyak dari zat besi yang masuk menyebabkan seseorang mengalami anemia berat (kadar Hb < 8 gr%). Upaya pencegahan dan penanggulangan selain pada anemianya, harus di lakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit yang melatarbelakangi terjadinya anemia (Depkes RI, 1999). Dari hasil beberapa penelitian permasalahan gizi yang menonjol pada anak sekolah dasar adalah kekurangan zat besi mencakup sekitar 25 40 %. Kondisi ini dapat menurunkan daya tahan, siswa cepat lelah, lamban geraknya, kurang gairah belajar dan tidak cepat tanggap. Hal ini diperburuk lagi dengan di jumpainya gangguan infeksi kecacingan yaitu sebesar 40-70% merupakan angka yang cukup tinggi. Apabila keadaan ini berlangsung lama akan memberi dampak terhadap status gizi anak (Forum Koordinasi PMT-AS Tingkat Pusat , 1997). 5. Hubungan Anemia dengan Status Gizi Berdasarkan tabel 8 siswa dengan anemia dan status gizi kurus sebanyak 6 orang (6%). Hal ini dikarenakan anak mengalami masa pertumbuhan yang cepat, maka kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan perlu di tambahakan kepada jumlah zat besi yang dikeluarkan lewat bassal. Selain itu anak membutuhkan zat besi untuk menambah massa sel darah merah dan pertumbuhan jaringan tubuh. Sel sel darah berumur 120 hari, jadi sesudah 120 hari sel-sel darah merah mati dan diganti dengan yang baru. Apabila dalam makanan tidak terdapat zat besi yang cukup maka pembentukan sel-sel darah merah dan pertumbuhan jaringan tubuh

86

anak akan terganggu , yang memberi dampak pada status gizi anak (Mahdi dkk, 1999). Kekurangan Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang di transport ke sel tubuh maupun otak. Anemia sedang dan ringan dapat menimbulkan gejala 5 L yaitu letih, lesu, lemah, lelah dan lalai, samping itu seringkali disertai keluhan pusing dan mata berkunang-kunang dan penderita anemia akan menurunkan kemampuan atau prestasi belajar. Hal ini tentu saja sangat merugikan dalam upaya pengembangan sumber daya manusia (Depkes RI, 1999). Anemia pada anak dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik pada sel tubuh maupun sel otak, sehingga anak yang anemia akan mengalami gangguan pertumbuhan, tidak dapat mencapai tinggi yang optimal, anak menjadi kurang cerdas, daya tahan tubuh menurun akibatnya mudah terkena penyakit infeksi (Depkes RI, 1999). Siswa yang tidak mengalami anemia tetapi dengan status gizi kurus sebanyak 35 orang(35%). Ini menunjukan bahwa sebagian besar siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban adalah sehat tetapi karena asupan makan yang kurang menyebabkan status gizinya menjadi kurang. Keadaan ini dapat diatasi dengan mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh siswa. 6. Hubungan Infeksi Kecacingan dengan Status Gizi Berdasarkan hasil penelitian 100 siswa yang terinfeksi cacing dengan status gizi kurus sebanyak 2 siswa (2%). Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam

87

tubuh. Antara gizi buruk dan penyakit infeksi sesungguhnya mempunyai timbal balik yang sangat erat, sehingga sering sukar untuk mengidentifikasi mana dari kedua keadaan itu yang datang lebih dulu. Dalam banyak kejadian terjadi sinergisitas antara gizi buruk dan penyakit infeksi dan akibat yang terjadi tentu saja sangat fatal (Moehji, 2003). Gizi buruk akan menyebabkan terganggunya sistem pertahanan tubuh. Perubahan morfologis yang terjadi pada jaringan limphoid yang berperan dalam sistem kekebalan akibat gizi buruk, menyebabkan pertahanan tubuh menjadi lemah, kekebalan seluler yang dimungkinkan oleh berfungsinya kelenjar thymus berkurang karena kelenjar thymus mengecil akibat kekurangan gizi. Produksi berbagai antibodies juga berkurang disamping terjadi atropi pada dinding usus menyebabkan berkurangnya sekresi berbagai enzim sehingga memudahkan masuknya bibit penyakit kedalam tubuh. Keseluruhan gangguan pada sistem pertahanan tubuh itu berlangsung serentak pada penderita gizi buruk sangat mudah terserang penyakit lebih-lebih jika lingkungan anak tidak mendukung (Moehji, 2003). Sebaliknya penyakit infeksi seperti kecacingan yang menyerang anak menyebabkan gizi anak menjadi buruk . Memburuknya keadaan gizi anak akibat penyakit infeksi adalah akibat beberapa hal antara lain : Turunnya nafsu makan anak akibat rasa tidak nyaman yang dialami, sehingga masukan zat gizi berkurang padahal anak justru memerlukan zat gizi yang lebih banyak terutama untuk mengganti jaringan tubuhnya yang rusak akibat bibit penyakit itu , penyakit infeksi sering dibarengi oleh diare dan muntah yang menyebabkan penderita kehilangan cairan dan sepuluh zat gizi seperti berbagai mineral dan sebagainya, dan adanya

88

diare menyebabkan penyerapan zat gizi dari makanan juga terganggu, sehingga keseluruhan mendorong terjadinya gizi buruk, naiknya metabolisme basal akibat demam dapat menyebab termobilisasinya cadangan energi dalam tubuh. Penghancuran jaringan tubuh oleh bibit penyakit juga akan semakin banyak dan untuk menggantinya diperlukan masukan protein yang lebih banyak (Moehji, 2003). Status gizi kurang atau buruk dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit infeksi dan memperberat infeksi tersebut juga penyakit infeksi akan memperburuk status gizinya (Rudiansyah, 2000). Infeksi dan demam dapat menyebabkan merosotnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan. Parasit dalam usus seperti cacing gelang dan sebagainya bersaing dengan tubuh dalam memperoleh makanan dan dengan demikian menghalangi zat gizi ke dalam arus darah, keadaan yang demikian membantu terjadinya kurang gizi (Suhardjo, 1996). Akibat penghisapan zat zat makanan dan darah oleh cacing , semakin lama tubuh akan kekurangan zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh sehingga menyebabkan tubuh penderita menjadi kurus dan status gizinya menurun ( Brown, 1989) .

89

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Jumlah yang terinfeksi cacing adalah sebanyak 8 siswa dengan jenis cacing yang ditemukan dari hasil penelitian adalah cacing kremi (Enterobius Vermicularis). 2. Jumlah yang positif anemia adalah sebanyak 16 siswa (16 %) sedangkan yang tidak anemia sebanyak 84 siswa (84 %). 3. Jumlah siswa dengan status gizi kurus sebanyak 16 orang (16 %) sedangkan siswa dengan status gizi normal sebanyak 84 orang atau 84 % dari total sampel yang diteliti. 4. Jumlah siswa yang positif terinfeksi kecacingan dengan anemia adalah 5 orang (5 %) , negatif terinfeksi cacingan dengan anemia 8 orang (8 %), positif

terinfeksi cacingan dan tidak anemia sebanyak 3 orang (3 %) sedangkan yang tidak terinfeksi cacingan dan tidak anemia sebanyak 84 orang atau 84 % dari

90

total sampel yang diteliti dengan hasil uji statistik terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian infeksi kecacingan dengan anemia. 5. Jumlah siswa yang anemia dengan status gizi kurus sebanyak 6 orang (6 %), tidak anemia dengan status gizi kurus sebanyak 35 orang (35 %), siswa

yang anemia dengan status gizi normal sebanyak 12 orang sedangkan yang tidak anemia dan status gizinya normal sebanyak 47 orang atau 47 % dari total sampel yang diteliti. dengan hasil uji statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan anemia. 6. Jumlah siswa yang terinfeksi cacingan dengan status gizi kurus sebanyak 1 orang (1 %) , Positif terinfeksi cacingan dengan status gizi normal sebanyak 3 orang (3 %), tidak terinfeksi cacingan dengan status gizi kurus sebanyak 39

orang (39 %) sedangan yang tidak terinfeksi cacingan dan status gizinya normal sebanyak 57 orang atau 57 % dari total sampel yang diteliti. dengan hasil uji statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan infeksi kecacingan.

B. Saran 1. Adanya kebijaksanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala mengenai program pencegahan dan pengobatan penyakit cacingan. 2). Meningkatkan kerjasama antara kepala sekolah dan guru untuk memberi bimbingan, pengarahan tentang higiene perorangan dan sanitasi lingkungan kepada siswa dalam upaya menurunkan prevalensi penyakit cacingan. 3). Diharapkan ada peran serta orang tua dalam usaha pencegahan dan pengobatan penyakit cacingan dan anemia

91

DAFTAR PUSTAKA

Abas Basuni, Jahari (2003). Pemantauan pertumbuhan balita, pusat penelitian dan pengembangan gizi dan makanan . Jakarta; Pusat Penelitian dan pengembangan kesehatan; 1-3

Almatsier ,Sunita (2002). Prinsif Dasar Ilmu Gizi. Jakarta; PT. Gramedia Utama,

Pustaka

Damayanti, Didit (1996). Modul Kuliah Ilmu Gizi Dalam Daur Kehidupan . Jakarta : Akademi Gizi Jakarta : 16

Depkes RI (2006) Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 424 / MENKES / SK/VI, Pedoman Pengendalian Cacingan, Jakarta.

Effendi, Oeswari, 1991, Penyakit dan Penanggulangannya, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Depkes RI(1991)Parasitologi Medik Helmintologi. Pendidikan Tenaga Kesehatan : 18, 33 37

Depkes RI (1990) Pedoman Pemberian Tablet Besi-Folat dan Sirup Besi Bagi Petugas. Jakarta; Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat

Direktorat Bina Gizi Masyarakat; 2 6, 14 -15

92

Depkes RI,(1989) Anak Anda Pada Umur 6 12 Tahun. Jakarta; Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan; 1 ,1989

Direktorat Gizi Masyarakat (2005). Pedoman Perbaikan Gizi Anak Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta : Depkes RI ,

Depkes RI (1996) , 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang . Jakarta, Direktorat bina gizi masarakat

Direktorat Gizi Masyarakat.(2005) Anemia Gizi dan Tablet Tambah Darah (TTD) untuk Wanita Usia Subur. Jakarta : Depkes RI,

Forum Koordinasi PMT-AS Tingkat Pusat,(1997). Pedoman Pelatihan Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) Tingkat Desa/Kelurahan, Jakarta.

Herdinaman T. Pohan .(2007 Penyakit Cacing yang ditularkan melalui Tanah Hal.1764 1766.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III E) Edisi IV .Jakarta : FKUI,

Hardiman T. Pohan .(2007) Pendekatan Terhadap Pasien Anemia Hal 622 658 Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV .Jakarta : FKUI.

Harold W Brown,(1989).Dasar Parasitologi Klinis , Jakarta; Gramedia

HKI Indonesia (1997) Di sampaikan pada Sosial Marketing Sumber Vitamin A Alami di Banjarmasin :1 5

Maeyer, De E.M,(1995) Pencegahan dan Pengawasan Anemia Difisiensi Bes. Jakarta, Widya Medika ; 4 5, 9 10.

Muchtadi, Deddy dkk, 1993 Metabolisme Zat Besi, Sumber, Fungsi dan Kebutuhan bagi Tubuh Manusi. Jakarta, Pustaka Sinar Harapan; 154 -155

93

Mahtadin, A.Husaini dkk (1999) Anemia Gizi : Suatu Studi Kompilasi Informasi Dalam Menunjang Kebijaksanaan Nasional dan Pengembangan Program Jakarta , Kerjasama Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes dengan Pusat Penelitian dan pengembangan Gizi : 17, 37, 59, 114

Moehji, Sjahmien (2003) Ilmu Gizi 2, Penanggulangan Gizi Buruk. Jakarta : Papas Sinar Sianati :73, 93 Notoadmojo,Syamien (1993), Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta, Rineka Cipta:121

Notoatodjo ,Soekidjo, 2002, Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatodjo ,Soekidjo, 2003 Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsif prinsif Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Peter J. Hotes, 2003, Soil Transmitted Helminth infection: The Nature, Causes and Burden of the condition, WHO: Departemen of Mikrobiologi and Tropical Medicine The George Washington University.

Praktikum Biokimia Gizi (2004) Laporan Praktikum Biokimia Gizi Politeknik Kesehatan Banjarmasin : 18. Banjarmasin

Puslitbang Gizi Bogor (1990)

Penelitian Sistem Distribusi Preparat Besi Pada

Wanita Hamil dan Anak Pra Sekolah Untuk Mengatasi Anemia : 18, 25.Buku Ajar untuk Kader Gizi Tentang Anemia atau Kurang Darah.

Riyadi, Hadi. (2001) Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. Bogor : Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor :3,5 6

94

Rudiansyah (2000) Makalah Pengantar Epidemiologi Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru

Fakultas Kedokteran

Srisasi Gandahusada, 2000, Parasitologi Kedokteran edisi ke 3. Jakarta: EGC

Supariasa,I Dawa Nyoman dkk.(2002), Penilaian Status Gizi. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran

Tan Huan Tjay dkk.(2002) Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya .Jakarta: PT. Elex Med

UP. KTI, 2010 ,Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Edisi ke Banjarbaru : STIKES Husada Borneo

95

LAMPIRAN

96