Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Peranan plak gigi terhadap terjadinya kelainan periodontal sudah dikenal selama hampir 80 tahun. Kelainan periodontal yang lanjut biasanya ditandai dengan adanya radang jaringan lunak, kerusakan mcmbran periodontal, kerusakan tulang serta bergeraknya epithelial attachment ke arah apikal. Sebelum ditemukan bahan-bahan kimia khususnya antiseptik yang dapat menghambat pertumbuhan plak gigi, usaha untuk mengurangi/mencegah pertumbuhan plak dilakukan secara mekanis dengan memakai sikat gigi. Cara ini ternyata kurang efektif, karena hanya berperan terhadap plak gigi yang supragingival. Di samping itu cara ini tidak mungkin dilakukan secara sempurna pada tiap individu karena adanya beberapa faktor misalnya letak gigi yang berjejal. Untuk mencegah ter- jadinya plak yang merupakan kumpulan mikroorganisme secara sempurna, maka para pakar di bidang periodontologi mengadakan penelitian-penelitian menggunakan antiseptik yang mempunyai sifat antibakteri. Kebanyakan antiseptic dikemas dalam bentuk obat kumur, walaupun ada beberapa yang dikemas dalam bentuk gel/pasta gigi. Pemakaian antiseptik sebagai obat kumur mempunyai peran ganda yaitu sebagai pencegahan langsung pertumbuhan plak gigi supragingiva dan sebagai terapi langsung terhadap plak gigi subgingiva. Sampai sekarang kontrol plak secara kimia dengan menggunakan antiseptik sebagai obat kumur berkembang dengan pesat baik dilingkungan dokter gigi maupun di kalangan masyarakat. Pada makalah ini akan dibahas peran beberapa macam antiseptik yang merupakan bahan dasar obat kumur dalam upaya mencegah atau mengurangi terjadinya kelainan periodontal termasuk radang gusi. Tujuan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Sebagai bentuk penyelesaian tugas mata kuliah periodonsia II 2. Agar mahasiswa FKG dapat memahami tentang macam-macam antimikroba dan antiplak yang tersedia dalam berbagai bentuk sediaan

BAB II PEMBAHASAN
Antiseptik merupakan suatu senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan atau perkembangan mikroorganisme tanpa merusak secara keseluruhan. Sebagai antibakteri, pemakaian antiseptik sebagai obat kumur bertujuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri plak. Karena bakteri plak merupakan penyebab kelainan periodontal maka diharapkan pemakaian obat kumur akan dapat mengurangi terjadinya kelainan periodontal. Para dokter gigi yang bekerja di klinik ternyata mendukung pendapat beberapa peneliti bahwa kontrol plak secara kimia dengan menggunakan antiseptic sangat membantu kontrol plak secara mekanis. Bentuk bahan antiplak yang berkembang saat ini sangat bervariasi. Untuk tujuan kontrol plak supraginngival, bahan antiplak yang digunakan bisa berbentuk cairan atau pasta. Sedangkan untuk tujuan control plak subgingival , bentuk bahan antiplak yang digunakan pada umumnya adalah berbentuk cairan atau jel. OBAT KUMUR Cara pemakaian bahan antiplak juga bervariasi tergantung bentuk bahannya. Bahan antiplak yang berupa cairan dapat digunakan dengan cara : 1. Berkumur-kumur Bahan yang digunakan dikemas dalam bentuk obat kumur. Obat kumur dapat dibedakan atas : a. Obat kumur biasa Merupakan obat kumur yang biasa digunakan setelah menyikat gigi pada kesempatan lain yang tidak bersamaan dengan watu penyikatan gigi. b. Obat kumur prapenyikatan Merupakan obat kumur yang penggunaannya sesaat sebelum menyikat gigi (prebrushing rinse). Dasr pemikiran bagi penggunaan obat kumur prapenyikatan adalah untuk melonggarkan perlekatan plak sehingga lebih mudah tersingkirkan pada waktu penyikatan gigi. Mengenai manfaat obat kumur prapenyikatan, tampak masih controversial namun demikian ada kesan bahwa hasil penelitian mengenai efektivitas

obat kumur prapenyikatan adalah lebih disebabkan perbedaan aktivitas bahan deteren yang digunakan dalam melonggarkan perlekatan plak. 2. Disemprotkan Bahan yang digunakan dikemas dalam bentuk bahan semprot (spray). Bahan antiplak berupa semprotan ini dikembangkan dengan pertimbangan agar bahan antiplak lebih mudah mencapai semua daerah di rongga mulut, terutama bagi mereka yang karena keaddaan fisiknya tidak dapat berkumur-kumur dengan baik. 3. Diirigasiakan ke daerah subgingival. Untuk mengirigasikan bahan anti plak berupa cairan ke darerah subginngival dipergunakan alat irigasi mulai alat yang sederhana berupa alat suntik biasa yang jarumnya dibengkokkan dan ujunhnya ditumpulkan, sampai alat untuk irigasi khusus yang diproduksi pabrik. Irigasi subgingival tidak saja dilakukan oleh dokter gigi di klinik tetapi juga bias dilakukan pasien sehari-hari di rumah. Dasar pemikiran bagi irigasi subgingival adalah bahwa car berkumur-kumur atau semprotan tidak efektif mencapai subgingival. Pada kasusu-kasus periodontitis justru mikroorganisme subgingival yang harus disingkirkan dalam rangka mengontrol inflamasi yang terjadi masih terus dilakukan penelitian, namun ada kesan sementara bahwa irigasi subgingival ini akan sangat bermanfaat bagi perawatan periodontal. BAHAN ANTI PLAK OBAT KUMUR Bahan antiplak berupa obat kumur yang dapat diperoleh di pasaran pada saat ini dapat digolongkan atas beberapa golongan yaitu : 1. Bisguanida 2. Campuran fenol minyak essensial 3. Campuran amoniak kuartenary 4. Golongan lain Dari berbagai golongan golongan obat kumur tersebut baru dua jenis obat kumur yang telah mendapat rekomendasi dari American Dental Association yaitu campuran fenol minyak eukaliptol dan golongan klorheksidin dari golongan bisguanida.

1. Golongan Bisguanida Obat kumur antiplak yang termasuk dalam golongan bisguanida (bisguanides) yang dapt diperoleh dipasaran adalah obat kumur yang mengandung klorheksidin glukonat 0,2 % (minosep). Banyak penelitian yang menunjukkan efektivitas klorheksidin menghambat pembentukkan plak dan mencegah terjadinya gingivitis. Behubung karena adanya efek smping dari pemakaian chlorheksidin, belakangan ini di beberapa Negara telah dipasarkan obatkumur yang mengaandunh klorheksidin glukonat 0,12 % (misanya paridex dan periogard). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan konsentrasi tersebut mengurangi efektivitas obat kumurnya. Chlorhexidine Chlorhexidine merupakan derivat bisquanid dan yang umumnya digunakan dalam bentuk glukonatnya. Mempunyai antibakteri dengan spektrum luas, efektif terhadap Gram positif dan Gram negatif meskipun untuk jenis yang terakhir efektivitasnya sedikit lebih rendah. Chlorhexidine sangat efektif mengurangi radang gingiva dan akumulasi p1ak, pendapat ini sesuai pendapat bahwa larutan chlorhexidine sangat efektif digunakan untuk plak kontrol pada perawatan radang gingival (gingivitis). Efek anti plak chlorhexidine tidak hanya bakteriostatik tetapi juga mempunyai daya lekat yang lama pada permukaan gigi sehingga memungkinkan efek bakterisid. Dengan demikian akumulasi plak dapatdicegah, sehingga mengurangi terjadinya giggivitis. Berbagai percobaan klinis menggunakan obat kumur mengandung chlorhexidine telah banyak dilakukan dan ternyata chlorhexidine berpengaruh terhadap gingivitis dan periodontitis. Pengaruh ini pertama kali dilaporkan oleh Loe dan Schiottpada golongan Aarthus bahwa chlorhexidine dapat menghambat pertumbuhan plak dan mencegah terjadinya radang gingiva. Pembentukan plak dapat dicegah dengan kumur-kumur larutan chlorhexidine 0,2%,dan tidak tampak tanda-tanda radang gingiva setelah beberapa minggu walaupun tanpa membersihkan mulut secara mekanis. Dinyatakan pula bahwa perawatan radang gingival dapat dilakukan dengan menggunakan obat kumur chlorhexidine. Pernyataan ini menguatkan percobaan yang telah dilakukan di beberapa negara, bahwa chlorhexidine dapat menghainbat pertumbuhan plak dan mencegah terjadinya radang gingival (gingivitis).

Percobaan terhadap sekelompok anggota militer menggunakan obat kumur chlorhexidine dua kali sehari untuk membantu melakukan kebersihan mulut selama 4 (empat) bulan, hasilnya menunjukkan penurunan pertumbuhan plak. Namun di regio yang terdapat poket dengan kedalaman 3 mm penurunan indeks keradangan kurang bermakna. Dapat disimpulkan bahwa pengaruh chlorhexidine terhadap plak subgingival berkurang dibandingkan dengan plak supra- gingival. Untuk meningkatkan pengaruh chlorhexidine terhadap radang jaringan periodonsium yang mengandung poket perlu dilakukan skeling. Cara pemberian, frekuensi pemakaian serta konsentrasi chlorhexidine ternyata mempunyai pengaruh. Aplikasi 0,2% larutan chlorhexidine dibandingkan dengan kumur-kumur memberikan hasil yang sama efektif. Cara aplikasi ini tidak selalu dapat dilakukan di tiap individu, tergantung dari keadaan klinis penderita. Untuk hasil yang baik dari menyikat gigi 2 kali sehari menggunakan 1% chlorhexidine gel di daerah dengan pembentukan poket perlu dilakukan skeling. Aplikasi pasta chlorhexidine pada sekelompok anak-anak muda sekali sehari menghasilkan penurunan indeks baik plak maupun radang gingiva, tetapi kurang baik bila dibandingkan dengan pemberian 2 (dua) kali sehari. Pemakaian chlorhexidine pada anak-anak yang terbelakang (mentally retarded) juga memberikan hasil yang kurang memuaskan walaupun ada penurunan indeks plak dan radang gingiva. Penelitian lain menyatakan bahwa ada pertumbuhan plak pada pemakaian chlorhexidine dengan konsentrasi yang rendah, walaupun tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi radang gingiva. Percobaan yang dilakukan terhadap mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi di Norwegia selama 2 tahun menunjukkan perbedaan yang kurang bermakna antara grup kontrol yang melakukan penyikatan gigi dengan baik dibandingkan kelompok percobaan yang mcnggunakan obat kumur chlorhexidine 0,2%. Hasil ini menunjukkan bahwa kontrol plak secara khemis pada penderita dengan kebersihan mulut yang baik, tidak mempengaruhi kondisi gingiva secara nyata. Mekanisme Kerja Chlorhexidine Seperti telah disebutkan di atas chlorhexidine mempunyai pengaruh yang luas terutama untuk bakteri Gram positif dan Gram negatif, bakteri ragi juga jamur. Pada pH fisiologis

chlorhexidine mengikat bakteri di permukaan rongga mulut; tergantung konsentrasinya, dapat bersifat bakteriostatik atau bakterisid. Sifat bakteriostatik bila konsentrasi antara 432 ug/ m1; konsentrasi yang lebih tinggi akan menyebabkan efek bakterisid, karena terjadinya presipitasi protein sitoplasma. Efek bakterisid kurang penting dibandingkan dengan efek bakteriostatik. Hambatan pertumbuhan plak oleh chlorhexidine dihubungkan dengan sifat chlorhexidine untuk membentuk ikatan dengan komponen-komponen pada permukaan gigi. Ikatan tersebut terjadi 1530 detik setelah kumur dan lebih dari 1/3 bagian chlorhexidine diserap dan melekat, namun jumlah pe-lekatan sebanding dengan konsentrasinya. Penelitian menun- jukkan bahwa pelekatan akan terjadi sampai 24 jam, yang berarti sebanding dengan efek bakteriostatik terhadap bakteri. Dasar yang kuat untuk mencegah terbentuknya plak adalah terjadinya ikatan antara chlorhexidine dengan molekul-molekul permukaan gigi antara lain polisakarida, protein, glikoprotein dan saliva, pelikel, mukosa serta permukaan dari hidroxiapatit. Akibat terjadinya ikatanikatan tersebut maka pembentukan plak yang merupakan penyebab utama dan radang gingiva dihambat . Penelitian menunjukkan bahwa larutan 0,2% chlorhexidine sebagai obat kumur selama 1 minggu menurunkan indeks plak sebanyak 72% pada hari ke 3 dan 85% pada hari ke 7, dan terjadipenurunan indeks radang gingiva sebanyak 32% pada hari ke 3 dan 77% pada hari ke 7 Tabel penurunan indeks plak dan indeks radang gingiva dari beberapa antiseptik dibandingkan dengan plasebo/air Antiseptik (obat kumur) Listerin Povidone Iodine (Betadine(&) Hexetidine (Bactidol ) Hidrogen Peroksidase 1 bulan 3 bulan 6 bulan 9 bulan 10 hari 3 hari 7 hari Lama Pemakaian Penurunan Indeks plak (dalam %) 15,5 20,9 23,7 19,5* Kurang bermakna 25 52* Penurunan Indeks ginggivitis( %) 5,1 9 20,8 23,9* Kurang bermakna 24 37

(H2O23%) Chlorhexidine Gluconate 0,2% (Minosep) Keterangan : * Bermakna

14 hari 14 hari 3 hari 7 hari

50* 72* 85*

58* 22* 32 77*

Secara ringkas mekanisme penghmbatan olak oleh klorheksidin adalah sebagai berikut : a) Mengikat kelompok asam anionic dari glikoprotein saliva sehingga pembentukan pelikel akuid terhambat. Hal ini menghambat kolonisasi bakteri plak. b) Mengikat plasma polisakarida yang menyelubungi bakteri atau langsung berikatan dengan dinding sel bakteri. Ikatan dengan lapisan poliakarida yang menyelubungi bakteri akan menghambat adsorbsi bakteri ke permukaan gigi atau pelikel akuid. Sebaliknya ikatan klorheksidin lansung dengan sel bakteri menyebabkan perubahan strukter permukaannya yang pada akhirnya menyebabkan perubahan struktur permukaannya yang pada akhirnya menyebabkan pecahnya membrane sitoplasma bakteri c) Mengendapkan faktor-faktor aglutinasi asam dalam saliva dan menggantikan kalsium yang berperan merekatkan bakteri membentuk massa plak. Dengan mekanisme demikian, klorheksidin bukan saja bersifat bakteriostatis tetapi juga bersifat substantivitas. Dengan sifat substantivitas dimaksudkan kemampuan untuk menabsorbsi ke permukaan gigi atau mukosa, untuk kemudian dilepas dalam level terapeutik sehingga lebih efektif dalam mengontrol pertumbuhan plak bakteri. Meskipun klorheksidin dinilai efektif sebagai bahan antiplak, tetapi bahan ini mempunyai kelemahan berupa pembentukan stein pada permukaan gigi maupun mukosa serta gannguan pengecapan secara temporer. Oleh sebab itu, penggunaannya hanya diindikasikan untuk jangka pendek (sampai 2 minggu).

2. Campuran fenol- minyak esensial Obat kumur yang mengandung campuran fenol-minyak essensial (Listerine) mengandung bahan aktif berupa timol dan eukaliptol. Efektivitas campuran fenol minyak eukaliptol adalah lebih rendah dibandingkan dengan klorheksidine namun, bahan ini tidak menimbulkan stein disamping terasa lebih segar dan nyaman di mulut karena kandungan mentol dan metal salisilatnya. Mekanisme kerja timol adalah menghancurkan dan mengendapkan dinding sel bakteri. Sebaliknya minyak eukaliptol bekerja dengan jalan menghambat perlekatan bakteri ke permukaan gigi. Listerine Listerin dipasarkan dengan merek dagang Listerin, merupakan antiseptik yang efektif sebagai anti plak. Uji coba klinis antara 760 hari menunjukkan adanya hambatan pembentukan plak dan radang gingiva bila digunakan untuk membantu kontrol plak secara mekan. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Lamser dkk. selama 6 bulan, yang menunjukkan bahwa listerin dapat mengurangi penimbunan plak dan menurunkan derajat keradangan gingiva. Gordon dkk.melakukan penelitian untuk membuktikan pengaruh listerin terhadap pembentukan plak dan gingivitis. Pada penelitian ini dilibatkan 144 mahasiswa kedokteran gigi dan staf Fakultas Kedokteran Gigi di Dickinson, umur antara 18-54 tahun. Orang percobaan kumur-kumur dengan larutan listerin 2 kali sehari sebanyak 20 ml tiap kali kumur selama 30detik. Selama 6 bulan penggunaan obat kumur diawasi oleh petugas kecuali hari libur dan 3 bulan terakhir. Evaluasi dilakukan pada bulan 1, 3,6,9. Hasilnya menunjukkan penurunan skor plak yang bermakna pada bulan 1, 3 dan 6 bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) sebesar 12,1%, 18,3%, 18% pada bulan 1, 3 dan 6. Pada 3 bulan terakhir hanya 85 orang percobaan dievaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya penurunan indeks plak yang bermakna yaitu sebanyak 15,5%, 20,9%, 23,7% dan 19,5% pada bulan 1, 3, 6 dan 9. Terhadap radang gingiva, didapat penurunan indeks radang sebanyak 0,9%, 7,9%, 10,4% pada bulan 1, 3 dan 6. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) maka penurunan indeks radang ini tidak bermakna. Pada bulan ke 9, 85 orang dan 144 orang percobaan dievaluasi perubahan indeks ginggivitisnya; hasilnya didapat penurunan indeks radang gingiva sebanyak 5,1%, 9,0%, 20,8% dan 23,9% pada bulan 1,3, 6, dan 9.

Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) hasil ini menunjukkan perbedaan yang bermakna. Penelitian 1ain melibatkan 131 orang percobaan yang pada akhir percobaan tinggal 103 orang. Orang percobaan dibagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok I kumur dengan listerin 4 kali sehari. kelompok II kumur dengan listerin 2 kali sehari dan kelompok III kumur dengan air/plasebo 2 kali sehari. Penelitian dilakukan selama 2 minggu dan menunjukkan hasil sebagai berikut: Pada kelompok kumur 4 kali sehari terjadi penurunan indeks plak sebanyak 48,2%, kelompok 2 kali kumur sebanyak 38,8%. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol didapatkan perbedaan yang bermakna. Hasil evaluasi radang gingiva mendapatkan penurunan indeks radang gingiva sebanyak 59,6% pada kelompok kumur 4 kali sehari dan 56,4% pada kelompok kumur 2 kali sehari. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol maka didapatkan perbedaan yang bermakna; namun bila kelompok kumur 4 kali sehari dibandingkan dengan kelompok kumur 2 kali sehari tidak didapatkan perbedaan yang bermakna. percobaan menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna dari indeks plak antara kedua kelompok, namun didapatkan penurunan jumlah bakteri dalam ludah sebanyak 39,2% bakteri aerob dan 31,3% bakteri anaerob. Penurunan terjadi 12 jam setelah kumur-kumur. Bila dibandingkan dengan chlorhexidine penu-runan jumlah bakteri jauh berkurang. Penelitian menyimpulkan bahwa povidon iodin tidak dianjurkan untuk membantu kebersihan mulut dan perawatan gingivitis karena tidak dapat menurunkan terjadinya penumpukan plak sehingga radang gusi akan terus berlansung. 3. Bahan Oksigenasi Salah satu bahan oksigenasi yang paling banyak digunakan adalah larutan oksigen peroksida (perhidrol/H2O2) 3%. Pada saat ini di Indonesia belum ada dipasarkan obat kumur dari bahan oksigenasi yang dipatenkan. Hidrogen peroksida (H,0 merupakan antiseptik karena dapat melepaskan oksigen sebagai zat aktif. Sebagai obat kumur biasanya dipakai konsentrasi 3%. Pemakaian hidrogen peroksida sebagai obat kumur dapat mencegah/menghambat pertumbuhan bakteri plak. Hambatan ini dimungkinkan karena oksigen yang dilepaskan oleh hidrogen peroksida akan mengoksidasi protein kuman sehingga enzim kuman sebagai penyebab gingivitis menjadi tidak aktif. Hampir

50% mikroorganisme anaerob terdapat pada ginggivitis dan sangat sensitif terhadap oksigen. Penggunaan larutan hidrogen peroksida 3% sebagai obat kumur 3 kali sehari selama 2 minggu dapat menurunkan pembentukan plak sebanyak 50% dan menurunkan indeks radang gingiva sebanyak 22%. Pemakaian hidrogen peroksida 1% selama 5 hari juga dapat mengurangi terjadinya radang gingiva dan menghambat pembentukan plak. Penggunaan larutan hidrogen peroksida 3% sebagai obat kumur selama 4 hari menunjukkan penurunan indeks plak sebanyak 34% dan mengurangi terjadinya radang gingiva. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa hidrogen peroksida sangat membantu kontrol plak secara mekanis 4. Bahan Antiplak Golongan Lain Dua contoh obat kumur golongan lain adalah : a. Obat kumur yang mengandung povidon iodine diodida (Betadine, isodine, septadine, dan sejenisnya) b. Obat kumur yang mengandung heksetidine (bactidol, hexadol, dan sejenisnya). Povidon Iodine Povidone Iodine 1 % sebagai obat kumur yang dipasarkan dengan merek dagang Betadine (untuk selanjutnya kami sebut betadine) sebagai antiseptik mempunyai sifat antibakteri. Obat kumur ini dapat dipakai untuk mengurangi bakteremia setelah pencabutan gigi atau setelah perawatan bedah. Efek betadine terhadap bakteri rongga mulut sangat cepat dan pada konsentrasi yang tinggi dapat mematikan bakteri rongga mulut. Bila dibandingkan dengan chlorhexidine, betadine hanya sedikit mempunyai sifat anti p1ak. Addy dkk.mengadakan penelitian untuk membuktikan pengaruh povidone iodine (Betadin) terhadap pembentukan plak dan jumlah bakteri dalam ludah. Penelitian dilakukan terhadap 18 orang percobaan yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang kumur dengan betadin dan kelompok lain kumur dengan plasebo/air. Masing-masing orang percobaan kumur-kumur dengan betadine/plasebo 2 kali sehari sebanyak 10 ml tiap kali kumur selama 1 menit. Percobaan dilakukan selama 10 hari dengan kontrol pada hari 2,4,5,6,9. Hasil evaluasi sampai akhir percobaan

menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna dari indeks plak antara kedua kelompok, namun didapatkan penurunan jumlah bakteri dalam ludah sebanyak 39,2% bakteri aerob dan 31,3% bakteri anaerob. Penurunan terjadi 12 jam setelah kumur-kumur. Bila dibandingkan dengan chlorhexidine penurunan jumlah bakteri jauh berkurang. Penelitian menyimpulkan bahwa povidon iodin tidak dianjurkan untuk membantu kebersihan mulut dan perawatan gingivitis karena tidak dapat menurunkan terjadinya penumpukan plak sehingga radang gusi akan terus berlangsung Hexetidine Hexetidine sebagai obat kumur dipasarkan dengan merek dagang Bactidol termasuk golongan antiseptik dan merupakan derivat piridin. Mempunyai sifat antibakteri, bermanfaat untuk bakteri Gram positif dan Gram negatif, dan dapat digunakan untuk mengurangi terjadinya keradangan. Hexetidine merupakan antibakteri dengan spektrum luas dengan konsentrasi rendah bermanfaat untuk mikroorganisme rongga mu1ut. Hexetidine dapat digunakan pada penderita dengan radang rongga mulut dan nasopharynx. Pernyataan ini dibuktikan pada percobaan dengan larutan 0,1 % hexetidine sebagai obat kumur pada orang-orang Anglo di Amerika yang menderita radang rongga mulut; ternyata radang dapat sembuh dengan baik. Hal ini berarti hexetidine akan bermanfaat untuk penderita dengan kelainan periodontal yang disebabkan oleh mikroorganisme. Penelitian 1ain membuktikan bahwa hexetidine dapat mengikat protein mukosa mulut sehingga dapat menguntungkan hexetidine sebagai antibakteri. Pendapat ini diperkuat oleh Bourgonet yang mengatakan bahwa hexetidine dapat memperpanjang efek antibakteri karena adanya ikatan dengan protein mukosa. Ikatan protein tersebut akan menghambat metabolisme mikroorganisme yang berada pada permukaan mukosa dan plak. Ikatan dengan mukosa dan plak ini terjadi selama 7 jam setelah kumur. Penelitian menggunakan larutan 0,1% hexetidine sebagai obat kumur pada orang-orang percobaan selama 14 hari dapat menurunkan radang gingiva sampai 34% pada hari ke 7 dan 38% pada hari ke 15, tergantung dari keparahan keradangan maka rata-rata akan sembuh selama 4 minggu. Hexetidine juga dapat menghambat pertumbuhan plak, tetapi kurang efektif bila dibandingkan dengan chlorhexidine. Penelitian dengan menggunakan

larutan 0,1% hexetidine sebagai obat kumur yang dipakai 2 kali sehari sebanyak 10 ml tiap kali kumur selama 3060 detik, menyebabkan penurunan indeks plak sebanyak 25% pada hari ke 3 dan 52% pada hari ke 7. PASTA GIGI Pasta gigi yang banyak digunakan untuk menjaga kesehatan gigi dan jaringa periodontal pada umunya mengandung bahan antiplak dan anti desensitisasi. Bahan Antiplak a. Sodium Klorida dan Sodium Bikarbonat Bahan yang dapat digunakan sebagai antiplak yang terkandung dalam pasta gigi adalah sodium karbonat dan sodium klorida. Telah dilaporkan bahwa penyebab dan keradangan jaringan periodonsium adalah bakteri plak. Peran bakteri yang spesi-fik terhadap keradangan belum diketahui dengan jelas. Aktinomises viscosis dan Aneslundi telah ditemukan pada permulaan terjadinya kelainan periodontal pada manusia. Bakteri lain dalam plak subgingiva yaitu Bakteroides melanogenikus, Bakteroides gingivalis, Fusobakterium Nukleatum Kapnositopaga dan Aktinobasilus aktinomisetemkomitan (A.A.). Dengan mengetahui bakteri yang paling dominan pada radang gingiva, maka perawatan akan dapat dilakukan dengan baik dan efisien. Secara mikroskopis dibuktikan bahwa bakteri plak pada radang gingiva didominasi oleh bakteri spirokheta Larutan garam anorganik ternyata dapat menghambat petumbuhan dan pergerakan dan bakteri spirokheta. Hasil penelitian membuktikan bahwa sodium klorida dan sodium bikarbonat dengan konsentrasi 0,5 M dapat menghambat pertumbuhan dan pergerakan bakteri sprirokheta secara total pada periode 96 jam. Sodium klorida dan sodium bikarbonat dapat menghambat pertumbuhan bakteri melalui beberapa macam mekanisme. Oleh karena itu mempunyai nilai sebagai bahan per atau terapi terhadap mikroorganisme pada poket yang dalam dan kelainan periodontal. Konsentrasi minimum larutan garam anorganik ini perlu ditentukan untuk beberapa bakteri subgingiva. Dari apa yang dikemukakan di atas didapat teori-teori yang mendasari penelitian ini yaitu: Radang gingiva disebabkan oleh bakteri plak.

Pada radang gingiva, bakteri yang paling dominan dalam plak baik yang supra gingival maupun subgingiva adalah bakteri spirokheta. Larutan garam anorganik dapat mempengaruhi pertumbuhan dan pergerakan bakteri. Larutan garam sodium kiorida dan sodium bikarbonat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan pergerakan bakteri spirokheta.

b. Triklosan (Pepsodent) Selain sodium klorida dan sodium bikarbonat bahan lain yang digunakan sebagai anti plak adalah triklosan. Pada saat ini beberapa pasta gigi komersil telah menggunakan bahan antiplak triklosan sebagai bahan aktifnya. Triklosan (2,4 trikloro-2- hidroksidifenil eter) adalah suatu antimikroba anionic dengan spectrum luas (dengan minimal inhibitory concentration atau konsentrasi penghambat minimal terhadap banyak bakteri oral kurang 10/g terhadap kebanyakan bakteri membentuk plak. Antimikroba ini terabsorbsi ke permukaan oral tetapi tidak menimbulkan stein. Namun, karena efek antiplaknya relative lemah, berbagai usaha telah dicoba untuk meningkatkannya, yaitu dengan menggunakan kombinasi triklosan dengan berbagai bahan lain seperti : Kopolimer dari polivinil metil eter asam maleat (dikenal denagan merk dagang Gantrez) Pirofosfat, yaitu suatu bahan yang dapat menghambat mineralisasi plak menjadi kalkulus. Sitrat seng, suatu antimikroba lainnya. Pasta gigi komersil yang mengandung kombinasi di atas saat ini telah diproduksi, namun yang dipasarkan di Indonesia baru berupa kombinasi triklosan dengan sitrat seng (pepsodent). Dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kombinasi triklosan dengan sitrat sengadalah lebih efektif dalam menghambat pembentukan plak dan gingivitis dibandingkan dengan kombinasi lainnya. Triklosan mempunyai efek penghambat yang sedang terutama terhadap anaerob negative, sedangkan sitrat seng tidak begitu efektif. Namun kombinasi antara triklosan dengan sitrat seng memberikan efek antibakteri yang lebih kuat, diduga karena triklosan akan memperkuat efek dari sitrat seng dengan jalan mengurangi absorbsi membuka sisi baru untuk mengikat kation. atau dengan

Bahan Desensitisasi Ada berbagai pasta gigi yang digunakan untuk desensitisasi, berupa : 1. Pasta gigi denagn kerja menyumbat tubulus dentin Beberapa pasta gigi khusus telah dipasarkan untuk desensitisasi oleh pasien sendiri. Bahan desensitisasi yang terkandung dalam pasta tersebut ada yang mengandung stronsium klorida (sensodyne), natrium monofluorofosfat (colgate) dan formaldehyde ( thermodent) 2. Pasta gigi dengan kerja mengurangi eksitabilitas saraf. Pasta gigi khusus denagan aksi mengurangi eksitabilitas syaraf yang mengandung kalium nitrat (denguel) 3.Pasta gigi dengan aksi ganda Karena seringnya desensitisasi dengan bahan yang mempunayai aksi tunggal (menyumbat tubulus dentin saja atau mengurangi eksitabilitas saraf saja) tidak berhasil mengurangi hipersensitivitas, belakangan ini dipasarkan pula pasta desensitisasi dengan aksi ganda. Salah satu pasta dengan aksi ganda mengandung kalium nitrat dan natrium monofluorofosfat (Sensodyne-f). Pasata desensitisasi yang ada di pasarkan di kota-kota besar di Indonesia saat ini adalah sensodyne dan sensodyne F.