Anda di halaman 1dari 10

Sistem Sensor Wildian

Bab 1

Sensor dan Sistem Akuisisi Data


1.1 Transduser, Sensor, dan Aktuator Transduser = piranti (device) yang mengonversi energi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Contoh: Thermometer air raksa mengonversi energy termal/panas yang diterimanya menjadi perubahan ketinggian kolom air raksa yang terdapat di dalam tabung kaca thermometer tersebut.

Berdasarkan fungsinya dalam suatu sistem elektronik, transduser dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: sensor dan actuator.

Sensor (kadang disebut juga detektor) = transduser masukan yang berfungsi menerima suatu bentuk energy (biasanya berupa besaran fisis) dan mengonversinya menjadi sinyal elektris. Contoh: mikrofon Mikrofon berfungsi mengonversi gelombang bunyi menjadi sinyal elektris. Disebut sensor karena piranti ini berfungsi mengindera (sense) atau mendeteksi (detect) suatu bentuk energy atau fenomena/besaran fisis.

Aktuator = transduser keluaran yang berfungsi mengonversi sinyal elektris menjadi energy non-elektris. Contoh: loudspeaker Loudspeaker mengonversi sinyal elektris menjadi medan magnetik yang dapat berubah-ubah sehingga menyebabkan membrannya bergetar dan menghasilkan gelombang bunyi/ akustik. Contoh lain: motor listrik Motor listrik mengonversi energy listrik menjadi energy gerak (mekanis).

Jurusan Fisika Universitas Andalas

Sistem Sensor Wildian

Disebut aktuator (actuator) karena fungsi piranti ini pada akhirnya adalah untuk menghasilkan suatu aksi, tindakan, atau gerak. Sinyal elektris (electrical signal) = sinyal yang dapat disalurkan (channeled), dikuatkan (amplified) , dan dimodifikasi (modified) oleh piranti-piranti elektronik. Sinyal elektris dapat berupa tegangan, arus, atau muatan listrik. Besaran-besaran elektris ini dapat pula dideskripsikan lebih jauh dalam terminologi amplitude, frekuensi, fasa, atau kode digital (Fraden, 2004).

Sensor langsung dan sensor kompleks Sensor langsung (direct sensor) = sensor yang terdiri hanya sebuah elemen sensor yang akan mengonversi langsung besaran fisis yang diinderanya menjadi sinyal elektris. Contoh: Sensor kompleks (complex sensor) = sensor yang terdiri dari paling sedikit sebuah sensor langsung dan beberapa transduser. Contoh: sensor kimia (chemical sensor) yang terdiri dari sebuah transduser yang mengonversi suatu reaksi kimia menjadi panas dan sebuah sensor yang mengonversi langsung panas tersebut menjadi suatu sinyal elektris.

Gambar 1.1: Diagram blok sensor kompleks yang terdiri dari dua buah transduser dan sebuah sensor langsung.

1.2Sistem Akuisisi Data Sebuah sensor tidaklah berarti apa-apa tanpa didukung oleh komponen atau piranti lainnya. Dengan kata lain, sensor selalu merupakan bagian dari
Jurusan Fisika Universitas Andalas

Sistem Sensor Wildian

suatu sistem yang lebih besar, yang di dalamnya mungkin terdapat pengondisi sinyal, pemeroses sinyal, piranti memori, perekam data, dan aktuator. Sistem yang mampu mengindera perubahan besaran fisis dan menampilkannya menjadi data yang bermanfaat bagi pengguna disebut sistem akuisisi data (data acquisition system), seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.2.

Eksitasi (jika diperlukan)

Rangsangan (Besaran fisis)

Sensor

Pengondisi sinyal

Pemeroses sinyal

Pengguna (User)

Gambar 1.2: Diagram blok sistem instrumen elektronik (yang disederhanakan). Pada Gambar 1.1 tampak bahwa sensor berada di bagian terdepanoleh sebab itu disebut ujung tombakdalam suatu sistem instrumen elektronik. Dalam sistem tersebut sensor menerima rangsangan berupa besaran fisis dan kemudian mengubahnya menjadi sinyal elektris. Sinyal elektris keluaran sensor ini biasanya belum bisa diproses langsung oleh bagian pemeroses (mikropossor atau mikrokontroler) karena mungkin sangat lemah (sehingga perlu dikuatkan) atau mengandung noise yang cukup mengganggu (sehingga perlu ditapis). Dengan kata lain, sinyal dari besaran fisis ini perlu dikondisikan terlebih dahulu sebelum diproses lebih lanjut. Jika pemerosesan sinyal dilakukan secara digital, maka sinyal elektris yang umumnya bertipe analog ini harus diubah dulu ke bentuk digital dengan menggunakan ADC (analog-todigital converter). Pengguna (user) pada diagram blok di atas adalah manusia. Oleh sebab itu, keluaran sistem instrumen biasanya merupakan suatu tampilan visual, seperti skala meteran atau gambar pada CRT (cathode ray tube); atau bisa juga dalam bentuk audio seperti alarm, dan lain sebagainya. Sistem instrumentasi yang lebih besar biasanya memiliki sensor/transduser yang lebih banyak. Contoh: sistem akuisisi data dan kontrol yang diagram blok-nya ditunjukkan pada Gambar 1.3.

Jurusan Fisika Universitas Andalas

Sistem Sensor Wildian

Gambar 1.3: Posisi sensor di dalam suatu sistem akuisisi data dan kontrol (Fraden, 2004) Pada Gambar 1.3, sensor 1 merupakan sensor non-kontak, sensor 2 dan sensor 3 merupakan sensor pasif, sensor 4 merupakan sensor aktif, dan sensor 5 merupakan sensor internal system akuisisi data (fungsinya memonitor kondisi internal sistem akuisisi data tersebut).

1.3

Klasifikasi Sensor

a. Berdasarkan kebutuhan energy untuk membangkitkan sinyal elektris pada keluarannya, sensor dapat dibedakan atas dua macam: sensor aktif dan sensor pasif. Sensor aktif = sensor yang memerlukan sumber listrik (ac atau dc) untuk mengoperasikannya. Contoh:
Jurusan Fisika Universitas Andalas

Sistem Sensor Wildian

Strain gauge sensor regangan yang bersifat resistif; perubahan regangan pada elemen sensor akan menyebabkan perubahan resistansi elemen sensor tersebut. Perubahan resistansi ini dimanfaatkan untuk menghasilkan perubahan tegangan dengan cara menempatkan sensor tersebut pada rangkaian jembatan Wheatstone yang kedua ujungnya diberi catudaya (sumber tegangan eksternal), yaitu tegangan dc +7,5 V. LDR (light dependent resistor) sensor peka cahaya ini bersifat resistif; perubahan intensitas cahaya menyebabkan perubahan resistansi sensor. Perubahan resistansi ini dimanfaatkan untuk menghasilkan perubahan tegangan dengan cara menempatkan sensor tersebut pada rangkaian pembagi tegangan (voltage divider) yang kedua ujungnya diberi catudaya (sumber tegangan eksternal), yaitu tegangan dc +5 V. Termistor sensor temperatur, juga bersifat resistif dan biasanya ditempatkan dalam rangkaian pembagi tegangan dengan catudaya +5V. Piezoresistif tekanan yang diterima sensor ini diubah menjadi perubahan resistansi

Sensor-sensor tersebut di atas tidak mampu menghasilkan sinyal keluaran bila tidak diberi potensial eksitasi eksternal alias catudaya.

Sensor pasif = sensor yang tidak memerlukan sumber listrik (ac atau dc) untuk mengoperasikannya. Contoh: - Termokopel Sensor ini terdiri dari dua jenis logam yang salah satu ujungnya saling terhubung satu sama lain. Perubahan temperature pada bagian ujung yang terhubung akan menimbulkan tegangan (beda potensial) pada kedua ujung yang terbuka (tak terhubung). - Piezoelektrik tekanan yang diterima sensor ini diubah langsung menjadi tegangan - Fotovoltaik intensitas cahaya yang diterima sensor ini diubah langsung menjadi tegangan.
Jurusan Fisika Universitas Andalas

Sistem Sensor Wildian

Jadi, sensor ini langsung menghasilkan tegangan pada keluarannya tanpa harus diberi catudaya sama sekali.

b. Berdasarkan tipe energy yang dideteksinya, sensor dapat dibedakan atas 6 (enam) jenis, seperti ditunjukkan pada Tabel 1.1. Tabel 1.1: Klasifikasi sensor berdasarkan tipe energi yang dideteksinya (Buchla, 1996) Jenis Contoh Sensor Keterangan sensor Mekanik Strain gauge Regangan sebanding dengan perubahan resistansi Magnetik Sensor Efek Hall Arus yang mengalir di dalam konduktor piranti Efek Hall menghasilkan tegangan. Radiasi Antena penerima Mengubah energi elektromagnetik elektromagn gelombang radio menjadi energi etik listrik. Radiasi Kamar Ionisasi Arus listrik di antara elektrodanuklir (Ionization elektrodanya sebanding dengan chamber) radiasi pengionan (ionizing radiation). Panas Termokopel Tegangan keluarannya sebanding dengan selisih temperatur kedua kawat logam yang digabungkan pada salah satu ujungnya. Kimia Sensor pH Ukuran konsentrasi ion hidrogen di dalam suatu larutan. c. Berdasarkan efek kelistrikan pada elemen sensornya, sensor dapat dibedakan menjadi beberapa macam: sensor resistif, sensor induktif, dan sensor kapasitif. Sensor resistif = sensor yang resistansinya berubah ketika menerima pengaruh/perubahan kondisi eksternal tertentu. Contoh: Termistor resistansinya berubah dengan berubahnya temperatur Piezoresistif resistansinya berubah dengan berubahnya tekanan

Jurusan Fisika Universitas Andalas

Sistem Sensor Wildian

GMR (giant magneto resistif) resistansinya berubah dengan berubahnya medan magnetik eksternal

Sensor induktif = sensor yang induktansinya berubah ketika menerima pengaruh/perubahan kondisi eksternal tertentu Contoh: LVDT (Linear Variable Differential Transformer) induktansinya berubah dengan berubahnya posisi inti besi di dalam transformator/trafo.

Sensor kapasitif = sensor yang kapasitansinya berubah ketika menerima pengaruh/perubahan kondisi eksternal tertentu. Contoh: Mikrofon kapasitor (condenser microphone) kapasitansinya berubah dengan berubahnya jarak antara kedua plat kapasitor di dalam mikrofon akibat tekanan gelombang akustik/bunyi yang diterimanya. Sensor kelembaban udara kapasitansinya berubah dengan berubahnya konstanta dielektrik kapasitor akibat perubahan jumlah material (uap air) yang mengisi celah antara kedua plat kapasitor itu.

d. Berdasarkan bentuk sinyal keluarannya, sensor dapat dibagi menjadi 2 jenis: sensor analog dan sensor digital. Sensor analog = sensor yang menghasilkan sinyal/tegangan keluaran kontinu dan umumnya sebanding dengan besaran yang sedang diukur. Contoh: Termokopel

Jurusan Fisika Universitas Andalas

Sistem Sensor Wildian

Gambar 1.4: Termokopel sebagai sensor temperatur dan sinyal keluarannya.

Sensor digital = sensor yang menghasilkan sinyal/tegangan keluaran diskrit (tidak kontinu, melainkan dalam bentuk biner). Sinyal digital dapat dikeluarkan dalam bentuk urutan bit tunggal (pada transmisi serial) atau dalam bentuk gabungan 8 bit sekaligus untuk menghasilkan sebuah keluaran byte (pada transmisi parallel). Contoh: Sistem sensor kecepatan putaran (terdiri dari LED sebagai pemancar) dan fototransistor sebagai penerima)

Jurusan Fisika Universitas Andalas

Sistem Sensor Wildian

Gambar 1.5: Sistem sensor kecepatan putaran

e. Berdasarkan fenomena alam atau besaran fisis yang diinderanya, sensor dapat dibedakan menjadi : sensor cahaya (optik) , sensor temperatur, sensor bunyi, sensor magnetik, sensor jarak/posisi/ketinggian, sensor gaya/tekanan, sensor kecepatan/percepatan, sensor aliran, dan sensor kimia.

1.4

Tugas Mandiri-1

1. Tulislah nama besaran masukan dan besaran keluaran sensor/transduser pada tabel di bawah ini. No. Nama Besaran Besaran Sensor/transduser masukan keluaran
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Termokopel Termistor RTD LDR LED Fotodioda Sel surya (solar cell) Mikrofon Loudspeaker Load Cell Strain Gauge Piezo-electric crystal GMR LVDT Accelerometer

2. Kelompokkanlah sensor-sensor/transduser-transduser berikut ini ke dalam salah satu dari keenam jenis sensor/transduser berdasarkan energi di atas: LDR, fotosel (photocell), fotodioda (photodiode), fototransistor (phototransistors), tabung fotolistrik (photo-electric tube), CCD (chargecoupled device), mikrofon (microphones), hidrofon (hydrophones), sensor seismik termometer (thermometers), termokopel (thermocouple), resistor peka cahaya (temperature sensitive resistors, disingkat: thermistor), termometer bi-metal, termostat, bolometer, kalorimeter, dosimeter, scintillometer, cloud chamber, bubble chamber, ohmmeter, galvanometer, ammeter, leaf electroscope, voltmeter, watt hour meter, magnetic compass, flux gate compass, magnetometer, barometer, barograph,
Jurusan Fisika Universitas Andalas

Sistem Sensor Wildian

pressure gauge, air speed indicator, rate of climb indicator, variometer, flow sensor, anemometer, ion-selective electrodes, pH glass electrodes, redox electrodes, speedometer, tachometer, odometer, turn coordinator, gyroscope, selsyn, switch, Sonar (Sound Navigation And Ranging), RADAR (Radio Detection And Ranging), dan LIDAR (Light Detection And Ranging). [Lihat situs Wikipedia tentang sensor/transducer!]

Jurusan Fisika Universitas Andalas

10