Anda di halaman 1dari 70

PERCOBAAN 1 PEMURNIAN GARAM DAPUR ( NaCl ) MELALUI REKRISTALISASI

1.1.

TUJUAN Setelah melakukan percobaan dan melakukan pengamatan pemurnian

garam dapur dengan cara rekristalisasi pada praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat melakukan pemurnian garam dapur dengan cara rekristalisasi melalui pengendapan dan pengkristalan . 1.2. LANDASAN TEORI Garam merupakan salah satu kebutuhan yang merupakan pelengkap dari kebutuhan pangan dan merupakan sumber elektrolit bagi tubuh manusia. Walaupun Indonesia termasuk negara maritim, namun usaha meningkatkan produksi garam belum diminati, termasuk dalam usaha meningkatkan kualitasnya. Di lain pihak untuk kebutuhan garam dengan kualitas baik ( kandungan kalsium dan magnesium kurang ) banyak diimpor dari luar negeri, terutama dalam hal ini garam beryodium serta garam industry . Kristal adalah benda padat yang mempunyai permukaan- permukaan datar. Karena banyak zat padat seperti garam, kuarsa, dan salju ada dalam bentukbentuk yang jelas simetris, telah lama para ilmuan menduga bahwa atom, ion ataupun molekul zat padat ini juga tersusun secara simetris . Kita tak boleh menyimpulkan begitu saja penataan partikel dalam sebuah kristal besar, semata- mata dari penampilan luarnya. Bila suatu zat dalam keadaan cair atau larutan mengkristal, kristal dapat terbentuk dengan tumbuh lebih ke satu arah daripada ke lain arah. Sebagaimana sebuah kubus kecil dapat berkembang menjadi salah satu dari tiga bentuk yang mungkin sebuah kubus besar, sebuah lempeng datar atau struktur panjang mirip jarum. Ketiga zat padat ini mempunyai struktur kristal kubik yang sama, namun bentuk keseluruhannya berbeda . 1

Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat-zat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu di kala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impuriti biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impuriti yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap . Kemudahan suatu endapan dapat disaring dan dicuci tergantung sebagian besar pada struktur morfologi endapan, yaitu bentuk dan ukuran-ukuran kristalnya. Semakin besar kristal-kristal yang terbentuk selama berlangsungnya pengendapan, makin mudah mereka dapat disaring dan mungkin sekali ( meski tak harus ) makin cepat kristal-kristal itu akan turun keluar dari larutan, yang lagilagi akan membantu penyaringan. Bentuk kristal juga penting. Struktur yang sederhana seperti kubus, oktahedron, atau jarum-jarum sangat menguntungkan, karena mudah dicuci setelah disaring. Kristal dengan struktur yang lebih kompleks, yang mengandung lekuk-lekuk dan lubang-lubang, akan menahan cairan induk ( mother liquid ), bahkan setelah dicuci dengan seksama. Dengan endapan yang terdiri dari kristal-kristal demikian, pemisahan kuantitatif lebih kecil kemungkinannya bisa tercapai . Peristiwa rekristalisasi berhubungan dengan reaksi pengendapan. Endapan merupakan zat yang memisah dari satu fase padat dan keluar ke dalam larutannya. Endapan terbentuk jika larutan bersifat terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan merupakan konsentrasi molal dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung dari suhu, tekanan, konsentrasi bahan lain yang terkandung dalam larutan dan komposisi pelarutnya.

Dua zat yang mempunyai struktur kristal yang sama disebut isomorfik (sama bentuk ), contohnya NaF dengan MgO, K2SO4 dengan K2SeO4, dan Cr2O3 dengan Fe2O3. Zat isomorfik tidak selalu dapat mengkristal bersama secara homogen. Artinya satu partikel tidak dapat menggantikan kedudukan partikel lain. Contohnya, Na+ tidak dapat menggantikan K+ dalam KCl, walaupun bentuk kristal NaCl sama dengan KCl. Suatu zat yang mempunyai dua kristal atau lebih disebut polimorfik ( banyak bentuk ), contohnya karbon dan belerang. Karbon mempunyai struktur grafit dan intan, belerang dapat berstruktur rombohedarl dan monoklin . Selama pengendapan ukuran kristal yang terbentuk, tergantung terutama pada dua faktor penting yaitu laju pembentukan inti ( nukleasi ) dan laju pertumbuhan kristal. Jika laju pembentukan inti tinggi, banyak sekali kristal akan terbentuk, dan terbentuk endapan yang terdiri dari partikel-partikel kecil. Laju pembentukan inti tergantung pada derajat lewat jenuh dari larutan. Makin tinggi derajat lewat jenuh, makin besarlah kemungkinan untuk membentuk inti baru, jadi makin besarlah laju pembentukan inti . Garam dapur atau natrium klorida atau NaCl. Zat padat berwarna putih yang dapat diperoleh dengan menguapkan dan memurnikan air laut. Juga dapat dengan netralisasi HCl dengan NaOH berair. NaCl nyaris tak dapat larut dalam alkohol , tetapi larut dalam air sambil menyedot panas, perubahan kelarutannya sangat kecil dengan suhu. Garam normal, suatu garam yang tak mengandung hidrogen atau gugus hidroksida yang dapat digusur. Larutan-larutan berair dari garam normal tidak selalu netral terhadap indikator semisal lakmus. Garam rangkap; yang terbentuk lewat kristalisasi dari larutan campuran sejumlah ekivalen dua atau lebih garam tertentu. Misalnya: FeSO4(NH4)2SO4.6H2O dan K2SO4Al4(SO4)3.24H2O. Dalam larutan, garam ini merupakan campuran rupa-rupa ion sederhana yang akan mengion jika dilarutkan lagi. Jadi, jelas berbeda dengan garam kompleks yang menghasilkan ion-ion kompleks dalam larutan.

1.3.

ALAT DAN BAHAN

1.3.1. Alat- alat yang diperlukan dalam percobaan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Timbangan Pemanas listrik / Spiritus Beaker glass 100 ml Labu takar 100 ml Gelas ukur 50 ml Pengaduk gelas Corong gelas Kertas saring Pipet tetes

1.3.2. Bahan- bahan yang diperlukan dalam percobaan: 1. Garam dapur kasar 2. Serbuk kapur CaO 3. Larutan barium hidroksida encer Ba(OH)2 4. Larutan asam sulfat pekat H2SO4 5. Larutan ammonium karbonat (NH4)2CO3 6. Larutan asam klorida encer HCl 7. Kertas lakmus 8. Akuades

1.4.

PROSEDUR PERCOBAAN 1. 25 ml akuades dipanaskan ( diukur dengan labu ukur ) dalam gelas beaker yang telah ditimbang terlebih dahulu, sampai mendidih. 2. 8 gram garam dapur ditimbang. 3. Masukkan kedalam air panas sambil diaduk. 4. Dipanaskan lagi sampai mendidih. 5. Disaring dan larutan dibagi menjadi dua bagian untuk dilakukan kristalisasi menurut prosedur dibawah ini.

1.4.1. Perlakuan Awal Proses Rekristalisasi

1.4.2. Proses Rekristalisasi Melalui Penguapan 1. Bagian pertama dari larutan yang telah diperoleh diatas, tambahkan sekitar 0,4 gram serbuk kapur CaO. 2. Larutan Ba(OH)2 encer ditambahkan tetes demi tetes sampai tetes berakhir tidak membetuk endapan lagi. 3. Selanjutnya, tambahkan secara bertetes tetes sambil diaduk larutan 30

gram

litel

(NH4)2CO3, hingga berlebih.

4. Saring larutan tersebut, kemudian filtratnya dinetralkan dengan lautan HCl 0,1 M. 5. Larutan tersebut di tes kenetralannya dengan kertas lakmus. 6. Uapkan larutan sampai kering, sehingga akan diperoleh Kristal NaCl yang bewarna lebih putih daripada garam dapur asal. 7. Kristal tersebut ditimbang, kemudian hitung rendemen rekristalisasi NaCl yang telah dilakukan. 1.4.3. Rekristalisasi melalui pengendapan 1. Larutkan bagian yang kedua, jenuhi dengan gas HCl yang dapat dibuat dengan cara mereaksikan garam dapur dengan asam sulfat pekat, penambahan gas dihentikan bila tidak menghasilkan endapan lagi. 2. Ambil Kristal yang diperoleh, keringkan dengan cara pemanasan. 3. Kemudian bandingkan kenampakan fisik Kristal dan diperoleh melalui penguapan.

1.5.

HASIL PENGAMATAN

Table 1.1. Prosedur Awal Proses Rekristalisasi No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Larutan bening. Massa Garam melarut dan sedikit mengendap. Filtr at bening.

1. Diambil 25 mL akuades yang telah beker 2. Dimasukkan 8 gram garam dapur ke dalam gelas beker tersebut, sambil diaduk dan dipanaskan kembali. 3. Disaring dengan kertas saring Table 1.2. Proses Rekristalisasi Melalui Penguapan No Prosedur Percobaan dari hasil percobaan. 2. Ditambahkan Ba(OH)2 encer sampai tidak ada endapan lagi.

dipanaskan dan dimasukkan ke dalam gelas gelas beker = 101,88 gram

Hasil Pengamatan keruh atau putih susu. Diperlukan sekitar 50 tetes Ba(OH)2 sampai tidak ada endapan V = 5 ml Larutan menjadi jernih.

1. Ditambahkan dengan 0,4 g CaO pada filtrat Larutan menjadi putih

3. Ditambahkan 30 gram/liter (NH4)2CO3. 4. Disaring dengan kertas saring.

Diperlukan beberapa ml HCl 0,1 M sampai filtrat menjadi netral. Terbentuk kristal NaCl

5.

Dinetralkan filtrat dengan menambahkan HCl 0,1 M.

yang berwarna putih bersih.

Diuapkan Massa gelas beker + 6. larutan sampai kering kristal = 109,88g Massa kristal NaCl= 4g 7. Ditimbang berat kristal yang diperoleh

1.6.

PEMBAHASAN Dalam tahap ini dilakukan proses pelarutan garam dapur cap kapal yang

1.6.1. Perlakuan Awal Proses Rekristalisasi berbentuk padatan menjadi suatu larutan. Akuades yang digunakan untuk melarutkan garam ini adalah akuades yang panas. Hal ini ditujukan agar garam yang dilarutkan dapat melarut dengan sempurna. Garam dapur yang dilarutkan dalam akuades panas tersebut terurai menjadi ion-ionnya yakni, ion natrium (Na +) dan ion klorida (Cl-). Garam dapur yang digunakan dalam percobaan ini merupakan garam yang belum murni. Karena itulah dalam percobaan ini dilakukan pemurnian terhadap garam dapur tersebut yang bebas dari zat pengotor. Garam dapur yang telah dilarutkan dalam akuades tersebut, dipanaskan sampai mendidih, setelah itu disaring dengan menggunakan kertas saring. Filtrat hasil penyaringan tersebut akan digunakan untuk proses kristalisasi pada tahap berikutnya. 1.6.2. Proses Rekristalisasi Melalui Penguapan Filtrat yang diperoleh dari tahap pertama, ditambahkan 0,1 gram kalsium oksida (CaO). Fungsi dari penambahan kalsium oksida ini adalah untuk mengendapkan zat-zat pengotor seperti zat pengotor yang di dalamnya mengandung ion Ca2+, Fe3+, dan Mg2+ yang terdapat dalam garam dapur cap kapal. Cara kerja kalsium oksida ini pada prinsipnya sama dengan tawas yakni sebagai kougulan. Pada akhirnya nanti diharapkan larutan yang diperoleh lebih murni dari garam yang semulanya belum dimurnikan. Selanjutnya ke dalam filtrat tadi juga ditambahkan larutan barium hidroksida Ba(OH)2. Penambahan ini bertujuan untuk menghilangkan endapan atau mencegah terbentuknya endapan lagi, akibat penambahan kalsium oksida tadi. Pada filtrat tadi juga ditambahkan amonium karbonat (NH4)2CO3. Penambahan ini ditujukan agar larutan tersebut menjadi jenuh. Tahap berikutnya adalah dilakukan penyaringan untuk memisahkan endapan yang merupakan zat pengotor yang terdapat dalam larutan tersebut. Kemudian filtrat yang diperoleh (bersifat basa), dinetralisasi dengan larutan yang bersifat asam yaitu HCl encer.

Setelah larutan tersebut netral, maka pada larutan itu dilakukan penguapan atau pemanasan hingga terbentuk kristal garam dapur kembali (rekristalisasi). Bentuk kristal garam dapur setelah dilakukannya proses rekristalisasi adalah strukturnya lebih lembut dan warnanya putih bersih. Kristal yang diperoleh ini kemudian ditimbang. Dari hasil penimbangan diperoleh berat kristal sebesar 4 gram. Sedangkan rendemen yang diperoleh dari percobaan ini memiliki nilai sebesar 50 %. 1.6.3. Reaksi-reaksi : Hasil reaksi rekristalisasi melalui penguapan: NaCl (aq) + CaO (s) CaCl (aq) + NaO (aq) 2 NaCl (aq) + Ba(OH)2 (aq) BaCl2 (aq) + 2 NaOH (s) 2 NaOH (s) + (NH4)2CO3 (aq) 2 NH4OH (aq) + Na2CO3 (s) Na2CO3 (s) + 2 HCl (aq) H2CO3 (aq) + 2 NaCl (s) Hasil reaksi rekristalisasi melalui pengendapan: 2 NaCl (aq) + H2SO4 (aq) Na2SO4 (aq) + 2 HCl (g) NaCl (aq) + HCl (g) NaCl (s) + HCl (aq)

1.7.

PERHITUNGAN Membuat larutan asam klorida HCl 0,1 M dari 2 M. : Volume HCl yang diinginkan Molaritas HCl yang tersedia Molaritas HCl yang diinginkan = 100 ml = 2M = 0,1 M

Diketahui

Ditanya

: Volume HCl yang di butuhkan....? Pengenceran: M1x V1 = M2 x V2 2 x V1 = 0,1 x 100 V1 =


1 0 2

V1 = 5 ml Jadi volume HCl yang dibutuhkan 5 ml untuk membuat larutan HCl 0,1 M dengan volume 100 ml dari larutan HCl 2 M. Hasil rekristalisasi garam dapur yang telah diperoleh ditimbang lalu dihitung rendemennya dengan perhitungan sebagai berikut . Rendemen garam dapur = Beratgaram dapurmula mula Diketahui : masssa kristal = 4 g massa garam dapur = 8 g Ditanya : rendemen ? Jawab : 8 gram = 0.5 atau = 50 %
4 gram Beratgaram hasilrekri stalisasi

1.8.

PERTANYAAN 1. Jelaskan fungsi penambahan masing masing zat tersebut diatas ? 2. Ramalkan pengotor apa saja yang ada dalam Kristal NaCl hasil rekristalisasi ? Jawaban; 1. Fungsi dari penambahan : a. Serbuk kapur CaO adalah untuk mengendapkan zat- zat pengotor . b. Larutan Ba(OH)2 adalah untuk menghilangkan endapan atau mencegah terbentuknya endapan lagi, akibat penambahan serbuk kapur CaO tadi . c. Larutan (NH4)2CO3 adalah agar larutan tersebut menjadi jenuh . d. Larutan HCl 0,1 M untuk menetralkan larutan tersebut, yang filtratnya diperoleh tadi ( bersifat basa ), maka dinetralisasi dengan larutan yang bersifat asam yaitu HCl 0,1 M . 2. Zat pengotor yang di dalamnya mengandung ion Ca2+, Fe3+, Mg2+ yang terdapat dalam garam dapur NaCl .

10

1.9.

PENUTUP

1.9.1. Kesimpulan Kesimpulan dari percobaan ini adalah bahwa garam dapur yang dimurnikan pada percobaan ini, menggunakan prinsip rekristalisasi dengan penguapan, rekristalisasi adalah metode pemurnian bahan dalam hal ini adalah garam dapur dengan pembentukan kristal kembali guna menghilangkan zat pengotor, daya larut dari zat yang akan dimurnikan dengan pelarutnya akan mempengaruhi proses rekristalisasi ketika suhu dinaikkan atau ditambahkan kalor/panas, garam dapur cap kapal yang direkristalisasi menghasilkan kristal yang berwarna putih bersih dan strukturnya lebih halus/lembut dari semula, garam dapur cap kapal hasil rekristalisasi yang diperoleh sebesar 4 gram dan rendemennya sebesar 50 %. 1.9.2. Saran Kami selaku praktikan menyarankan agar peninbangan kristal dilakukan secara teliti dan tepat dengan menggunakan neraca analitik, dan penambahan larutan dan gas dihentikan setelah kristal benar-benar tidak terbentuk lagi, agar diperoleh hasil yang tepat.

11

DAFTAR PUSTAKA Day, R.A dan Underwood. 1987. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta. Keenan, C.W. 1999. Kimia untuk Universitas Jilid 2. Erlangga. Jakarta. Bird, Tony. 1987. Kimia Fisika untuk Universitas. Gramedia. Jakarta. Sukamat dan Ersam. 2006. Dua Senyawa Santon Dari Kayu Batang Mundu Garcinia Dulcis (Roxb.) Kurz. Sebagai Antioksidan. ITS. Surabaya. Arsyad, M.N. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia. Jakarta. Svehla, S. 1985. Buku Ajar Vogel: Analisis Anorganik Kuantitatif Makro dan Semimikro. Jilid I. PT Kalman Media Pusaka. Jakarta.

12

PERCOBAAN 2
INDIKATOR ASAM BASA DARI BERBAGAI ZAT WARNA PADA TUMBUHAN

2.1.

TUJUAN 1. Untuk menentukan asam- basa suatu senyawa atau zat dengan menggunakan indikator dari alam. 2. Menjelaskan indikator asam- basa dari berbagai zat warna pada tumbuhan yang baik berdasarkan perubahan warna indicator.

2.2.

LANDASAN TEORI Setiap zat atau senyawa mempunyai sifat asam, basa atau netral. Kita dapat menentukan apakah zat atau senyawa itu asam, basa atau netral dengan menggunakan indikator. Indikator ini dapat berupa lakmus merah- lakmus biru yang dibuat di laboratorium, atau juga dapat menggunakan indikator asam- basa dengan bahan dari alam. indikator asam- basa alami menggunakan bahan- bahan dari alam seperti bunga sepatu, bunga kertas, kunyit dan beberapa jenis tumbuhan lainnya. Indikator asam- basa yang baik adalah zat warna yang memberi warna berbeda dalam larutan asam dan larutan basa.

13

Indicator alam merupakan bahan alam yang dapat berubah warnanya dalam larutan yang bersifat, asam, basa atau netral. Indikator alam yang biasa digunakan untuk pengujian asam basa adalah bunga- bungaan, umbi, kulit buah dan daun yang berwarna. Perubahan warna indicator bergantung pada warna jenis tanamannya, misalnya kembang sepatu merah di dalam asam berwarna merah dan didalam basa berwarna hijau, kunyit dalam asam berwarna kuning dalam basa berwarna orange. Untuk memperoleh indicator alam ini sangat sederhana, caranya adalah dengan menumbuk satu macam kelopak bunga sampai halus. Tambahkan + 10 ml aquades, aduk campuran, diamkan sebentar kemudian pisahkan larutan ekstrak bunga yang akan digunakan sebagai indicator. Untuk melihat perubahan warna indicator tersebut siapkan tiga larutan yang bersifat asam, basa dan netral; misalny asam klorida HCl, natrium hidroksida NaOH dan air murni. Teteskan larutan indicator yang dibuat, amati warna indicator pada larutan tersebut. Warna yang timbul dicatat dan gunakan sebagai warna standar jika indicator tersebut akan digunakan untuk menguji larutan yang akan diuji sifatnya.

14

2.3.

ALAT DAN BAHAN 2.3.1. Alat alat yang digunakan dalam percobaan asam- basa : 1. Plat tetes 2. Pipet tetes 3. Lakmus Merah 4. Lakmus Biru 5. Tabung reaksi 6. Lumpang- Alu 7. Gelas ukur 8. Erlenmeyer glass 9. Kertas saring 10. Corong 2.3.2. Bahan bahan yang digunakan dalam percobaan asam- basa : 1. Larutan HCl 2 M 10 ml 2. Larutan NaOH 10 gram 5 ml 3. Aquades 4. Bunga Sepatu 5. Bunga Kertas 6. Kunyit

15

2.4.

PROSEDUR PERCOBAAN 1. 2. 3. Siapkan alat dan bahan. Larutkan HCl 2 M 10 ml dengan 50 ml aquades dalam wadah A Larutkan NaOH massa 10 gram, volume 5 ml dengan 50 ml

aquades dalam wadah B. 4. Ambil masing- masing larutan sebanyak 2- 3 tetes dan masukkan

pada lekukan plat tetes. 5. 6. Ujilah dengan kertas lakmus merah dan biru. Setelah didapatkan yang tergolong larutan asam, basa, dan netral,

ujilah larutan tersebut dengan berbagai indicator alami; yaitu dengan cara: a. Gerus bunga sepatu ( bagian mahkota bunganya saja yang digunakan ) dengan menggunakan lumpang-alu. b. Setelah bunga sepatu cukup halus, tambahkan aquades sebanyak 10 ml kemudian gerus kembali sampai cairan dari gerusan bunga sepatu tersebut keluar. c. Ambil dan saringlah ekstrak cairan dari bunga sepatu tersebut pada tabung reaksi. d. Masukkan kedalam 3 lubang plat tetes masing-masing 2- 3 tetes ekstrak bunga sepatu pada masing-masing larutan HCl dan NaOH yang berbeda, serta teteskan pada aquades e. Amati dan catat perubahan warna zat setelah ditetesi dengan ekstrak dari kembang sepatu. f. Ulangi langkah ( a ) sampai ( e ) dengan menggunakan bunga

kertas dan kunyit secara bergantian.

16

2.5.

HASIL PENGAMATAN Tabel 2.1. Perubahan warna dari ekstrak tanaman dalam larutan asam- basa. Perubahan Warna + H2O(aq) + HCl(aq) + NaOH(aq) Merah Merah Hijau Merah Ungu Kuning Kuning Kuning Orange

No. 1 2 3 2.6.

Bagian Tanaman Bunga Sepatu Bunga Kertas Kunyit

PEMBAHASAN Sifat suatu larutan dapat ditunjukkan dengan menggunakan indikator asam- basa, yaitu zat-zat warna yang warnanya berbeda dalam larutan asam, basa dan netral. Untuk mengidentifikasi sifat dari asam, basa dan netral dapat menggunakan indikator alami. Berbagai bahan tumbuhan yang berwarna, seperti bunga sepatu, bunga kertas, dan kunyit juga dapat digunakan sebagai indikator asam- basa. Ekstrak bahan- bahan ini dapat memberikan warna yang berbeda dalam larutan asam dan basa. Pengujian larutan Asam dan Basa menggunakan indicator bahan- bahan dari tumbuhan membuktikan jenis larutan yang di uji. Sehingga pengujian dapat dilakukan dengan cara sederhana tanpa harus mencoba rasa larutan. Membuat indikator alami dari ekstrak tanaman, tidak terlalu sulit menemukan jenis tanaman untuk digunakan sebagai indikator. Indikator seperti bunga sepatu, bunga kertas, dan kunyit dapat diperoleh di pasar atau lingkungan sekitar. Dengan melakukan percobaan mahasiswa diharapkan mudah mengerti definisi indikator. Indikator alami : indikator yang berasal dari bahan- bahan alami, cara memperolehnya dengan mengekstrak.

2.7.

PERHITUNGAN

17

2.7.1. Molaritas asam klorida HCl dalam 50 ml aquadest. Diketahui : Volume HCl yang tersedia Molaritas HCl yang tersedia Volume aquadest Ditanya : Molaritas HCl dalam 50 ml aquadest....? Pengenceran: M1x V1 = M2 x V2 2 x 10 = M2 x 50 M2 =
20 50

= 10 ml = 2M = 50 ml

M2 = 0,4 M 2.7.2. Pengenceren Larutan NaOH(aq) dalam 50 ml aquadest. Diketahui : Massa NaOH(s) Volume NaOH(aq) Volume aquadest Mr NaOH = 10 gram = 5 ml = 50 ml = 40

18

Ditanya

: Molaritas NaOH(aq) dalam 50 ml aquadest...?


M = massa 1000 x Mr volume
10 1000 x 40 5

M =

M = 50 Molar Pengenceran: M1x V1 = M2 x V2 50 x 5 = M2 x 50 M2 =


250 50

M2 = 5 M

19

2.8.

PERTANYAAN Zat warna pada tanaman mana yang paling cocok digunakan sebagai indicator asam, basa! Mengapa demikian.? Jawaban; Bunga sepatu Karena Larutan indikator bunga sepatu lebih memberikan warna mencolok, memiliki sifat yang berbeda pada kedua suasana tersebut, merah pada larutan asam, dan bewarna hijau pada larutan basa. Bahan alami lain yang dapat digunakan sebagai indikator adalah kunyit dan bunga kertas, namun dari pengalaman, beberapa bahan seperti bunga terompet dan wortel memberikan perbedaan warna yang hampir sama, sehingga cukup sulit bagi mahasiswa untuk membedakan dalam uji larutan. Prinsip indikator adalah bahan yang memberikan warna berbeda pada lingkungan asam dan basa. Pada umumnya bahan yang memiliki warna menyolok memiliki sifat memberikan warna yang berbeda pada kedua suasana tersebut.

20

2.9.

PENUTUP 2.9.1. Kesimpulan Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa bahan alami berupa bunga sepatu, bunga kertas dan kunyit dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan asam- basa dari suatu larutan. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan perubahan warna dari larutan asam, basa dan netral yang ditetesi oleh indikator alam. Seperti contoh dengan menggunakan indikator bunga sepatu antara larutan asam dan larutan basa menghasilkan perubahan warna yang berbeda pada saat ditetesi oleh indikator alam. Larutan HCl yang bersifat asam berubah warna menjadi merah, NaOH yang bersifat basa menjadi Hijau dan aquades yang bersifat netral berwarna bening keruh. 2.9.2. Saran 1. Tambahkan alcohol untuk melarutkan zat- zat warna pada tumbuhan yang tidak bias larut dalam air. 2. Dalam pengamatan amati pada perlakuan 3. Perhatikan dan bandingkan perubahan warna yang berubah dari setiap larutan berbeda dengan cermat. 4. Utamakan penggunaan alkohol dibandingkan dengan aquades untuk melarutkan gerusan bahan alami. Hal ini bertujuan alkohol yang berasal dari bahan organik lebih mudah untuk melarutkan warna dari bahan alami yang bersifat organik.

21

DAFTAR PUSTAKA Syukri.1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung. Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara: Jakarta Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia: Jakarta. Drago, R. S.,A Modern Approach to Acid- Base Chemistry, J. Chem. Educ., 51,300 (1974) http://bowodita.blogspot.com/2010/01/hasil-percobaan-pengujian-asam-basa.html http://simpangmahar.blogspot.com/2009/02/membuat-indikator-asam-basa-daribahan.html#ixzz1H75U5urr

22

PERCOBAAN 3
MENENTUKAN KADAR ASAM DALAM ASAM CUKA DAN ASPIRIN

3.1.

TUJUAN 1. 2. Menentukan kadar asam asetat CH3COOH dalam cuka makan Menentukan kadar asam asetil salisilat (ASA)

komersial. CH3COOC6H4COOH dalam tablet aspirin. 3.2. LANDASAN TEORI Prinsip : Asam asetat CH3COOH sebagai larutan berasam satu dapat distandarisasi dengan larutan NaOH ( BE asam asetat = BM asam asetat ) NaOH + HOAc

NaOAc + H2O

Asam asetil salisilat (ASA) dengan rumus molekul CH3COOC6H4COOH.

Aspirin dikenal dengan nama asam asetil salisiat (disingkat ASA), merupakan suatu senyawa salisilat berkhasiat obat yang biasa dipakai sebagai

23

analgesik untuk meredakan nyeri, antipiretik untuk menurunkan demam, dan pengobatan antiinflamasi.

Pengenceran asam - basa dengan netralisasi ( M1 . V1 = M2 . V2 ) Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat

yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam mana solute terlarut (Baroroh, 2004). Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuan- satuan konsentrasi, yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm serta ditambah dengan persen massa dan persen volume (Baroroh, 2004). Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu harus diperhatikan: 1. 2. Apabila dari padatan, pahami terlebih dahulu satuan yang Apabila larutan yang lebih pekat, satuan konsentrasi larutan yang diinginkan. Berapa volum atau massa larutan yang akan dibuat. diketahui dengan satuan yang diinginkan harus disesuaikan. Jumlah zat terlarut sebelum dan sesudah pengenceran adalah sama, dan memenuhi persamaan : M1 . V1 = M2 . V2 M1 : Konsentrasi larutan sebelum diencerkan V1 : Volume larutan atau massa sebelum diencerkan M2 : Konsentrasi larutan setelah diencerkan V2 : Volume larutan atau massa setelah diencerkan 24

3.

Pembuatan Larutan dengan Cara Mengencerkan

Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadangkadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (Brady, 1999). Konsentrasi asam basa - basa lemah menggunakan cara titrasi, Asam Lemah
H+ = Ka .Ma
+ 2

Basa Lemah
OH

Kb .Ma
2

[H ] Ma =
Ka

[OH ] Mb =
Kb

Titrasi asam basa yaitu sebagai berikut: 1. Titrasi asam kuat dengan basa kuat Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat. Misal : Asam klorida dengan NaOH 2. HCl + NaOH NaCl + H2O Titrasi asam lemah dan basa kuat

Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat. Misal : Asam asetat dengan NaOH 3. CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Titrasi basa lemah dan asam kuat

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat. Misal : NH4OH dan HCl NH4OH + HCl NH4Cl + H2O

25

4.

Titrasi asam lemah dan basa lemah

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah. Misal : Asam asetat dan NH4OH CH3COOH + NH4OH CH3COONH4 + H2O pH larutan tergantung dari harga Ka dan Kb Bila Ka > Kb larutan bersifat asam Bila Kb < Ka larutan bersifat basa (Sukmariah, 1990). Molaritas ( M ) Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan mudah digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitaif. Kuantitas zat terlarut dalam suatu volume larutan itu, di mana volume itu diukur dengan teliti, dapat diketahui dengan tepat dari hubungan dasar berikut ini.
M = massa 1000 x Mr volume

Mol = liter x konsentrasi molar atau mmol = mL x konsentrasi molar. Volumetri atau tirimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisis ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat yang kita cari dapat dihitung (Syukri, 1999). Pada analisis volumetri diperlukan larutan standar. Proses penentuan konsentrasi larutan satandar disebut menstandarkan atau membakukan. Larutan standar adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada analisis volumetri. Ada dua cara menstandarkan larutan yaitu: Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standar primer, sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian melarutkannya untuk memperoleh volume tertentu, tetapi dapat distandartkan dengan larutan standar primer, disebut larutan standar skunder.

26

Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisis tirimetri apabila memenuhi persyaratan berikut : Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraan yang pasti dari reaktan. Reaksi harus berlangsung secara sempurna. Mempunyai massa ekuivalen yang besar Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990). Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah. Jika menggunakan pipet tetes maka harus mengkalibrasi pipet terlebih dahulu. Cara mengkalibrasi pipet tetes :
1. Isi pipet dengan cairan. 2. Hitung jumlah tetesan yang diperlukan untuk mengisi wadah

sebesar 5 ml ( gelas ukur ). Misalnya sebanyak 98 tetesan. 27

3.

Rumus menghitung :

Jumlah tetesan tiap 1 ml =

volum (ml ) e

tetesan

tiap 1 ml =

98 5

= 19,6 tetesan = 20 tetesan 3.3. ALAT DAN BAHAN 3.3.1. Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Gelas arloji, Neraca analitik Pengaduk kaca, Pipet tetes, Erlenmeyer 250 mL, Gelas ukur 100 mL, Lumpang dan Alu porselin.

3.3.2. Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini meliputi: 1. Larutan standart NaOH 0,1 M, 2. Larutan NH4OH 0,5 M, 3. Akuades, 4. Cuka makan komersial, 5. Aspirin 6. dan indikator fenophtalein. 3.4. PROSEDUR PERCOBAAN I 3.4.1. Pengenceren Larutan Standar NaOH 0,1 M.

28

Diketahui

: Volume akuades yang di inginkan Molaritas NaOH(aq) Mr NaOH = 250 ml = 0,1 M = 40

Ditanya

: Massa NaOH(s) yang di perlukan...?


M = massa 1000 x Mr volume
massa 1000 x 40 250

4 = massa x 4

0,1M =

Massa = 1 gram

1. 2. 3.

Sebanyak 1 gram NaOH(s) ditimbang dengan menggunakan gelas arolji dan neraca analitik. Akuades dimasukan ke dalam gelas ukur hingga tepat tanda batas 250 ml. Larutkan 1 gram NaOH(s) tersebut dengan menambahkan akuades hingga volume mencapai 250 mL, aduk hingga larutan homogen. 3.4.2. Cara kerja penggunaan pipet tetes.

1. Tuangkan 10 mL NaOH(aq) 0,1 M kedalam gelas ukur 100 mL. 2. Gunakan pipet tetes yang bersih yang kita gunakan kalibrasi tadi untuk meneteskan NaOH(aq) 0,1 M kedalam larutan cuka pada indikator fenophtalein. 3. Lakukan penetesan NaOH(aq) 0,1 M tepat akan mulai berwarna merah muda. 4. Catat banyaknya tetesan NaOH(aq) 0,1 M. Cara mengkalibrasi pipet tetes :
1. Isi pipet dengan cairan.

29

2. Hitung jumlah tetesan yang diperlukan untuk mengisi wadah

sebesar 10 ml ( gelas ukur ).


3. Ternyata dalam 10 ml akuades terdapat 200 tetesan.

4.

Rumus menghitung :

Jumlah tetesan tiap 1 ml =

volum (ml ) e

tetesan

tiap 1 ml =

200 10

= 20 tetesan

3.5.

PROSEDUR PERCOBAAN II 3.5.1. Menentukan kadar asam asetat CH3COOH dalam cuka makan Komersial. 1. 2. 3. Ambil 2 mL asam cuka komersial dituangkan kedalam gelas ukur Encerkan cuka tersebut dengan menambahkan air hingga volume Ambil 25 mL asam cuka yang telah diencerkan dimasukkan ke 100 ml. mencapai 100 ml, aduk hingga larutan homogen. dalam erlenmeyer 250 mL, kemudian sebanyak 2 - 3 tetes indikator fenophtalein ditambahkan kedalam larutan tersebut. 4. Larutan asam cuka encer dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 M dalam pipet tetes yang sudah di kalibrasi sambil digoyanggoyang. 5. 6. Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan dan Ulangi langkah 1 5 hingga diperoleh volume NaOH hingga tepat dicatat berapa tetesan NaOH yang digunakan. atau selisih lebih kecil.

30

7.

Dilakukan kembali titrasi sebanyak empat kali dan dihitung

volume rata-rata yang digunakan saat titrasi. 3.5.2. Menentukan kadar asam asetil salisilat C9H8O4 dalam tablet aspirin. 1. Gerus tablet aspirin yang akan diuji dengan lumpang porselin, 2. Timbang 1 gram serbuk aspirin dengan menggunakan gelas alroji dan masukkan ke Erlenmeyer, 3. Tambahkan 50 mL akuades dalam serbuk aspirin, aduk hingga homogen. 4. Ambil larutan aspirin dimasukan ke dalam gelas ukur hingga tepat tanda batas 10 ml tuangkan dalam erlenmeyer, kemudian sebanyak 2 - 3 tetes indikator fenophtalein ditambahkan kedalam larutan tersebut. 5. Titrasi larutan aspirin tersebut kedalam larutan NH4OH 0,1 M dalam pipet tetes yang sudah di kalibrasi sambil digoyang- goyang. 6. Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan dan dicatat berapa tetesan NH4OH yang digunakan. 7. Ulagi langkah 1 6 hingga diperoleh volume NH4OH hingga tepat atau selisih lebih kecil dan lakukan kembali titrasi sebanyak empat kali dan dihitung volume rata-rata yang digunakan saat titrasi. 3.6. HASIL PENGAMATAN 3.6.1. Hasil Pengamatan Kadar Asam Asetat CH3COOH. Tabel 3.1 Pengamatan asam asetat CH3COOH : Merk Cuka Titrasi Ke 1 2 3 Volume Larutan Cuka 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml Volume Larutan NaOH 0,1 M. 170,00 tetes = 8,50 ml 180,00 tetes = 9,00 ml 165,00 tetes = 8,25 ml 180,00 tetes = 9,00 ml 173,75 tetes = 8,69 ml Tabel 3.2 Keterangan Rata -asetat CH3COOH: asam rata

Cap lombok

31

No. 1.

Percobaan Ditambahkan 3 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi NaOH 0,1 Molar. Perubahan warna. Larutan asam cuka didalam gelas ukur. Diencerkan asam cuka didalam gelas ukur dengan akuades. Ditambahkan 3 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi asam cuka encer. Dititrasi larutan asam cuka encer dengan larutan standar NaOH 0,1 M didalam pipet kalibrasi.

Pengamatan Volume NaOH = 10 mL bening menjadi bening Volume = 25 mL V olume = 100 mL V olume = 25 mL

2. 3. 4. 5.

6.

Volume rata- rata titrasi = 8,69 mL bening menjadi merah muda

7.

Perubahan warna yang terjadi.

3.6.2. Hasil Pengamatan Kadar Asam Asetil salisilat C9H8O4 dalam Aspirin. Tabel 3.3 Pengamatan asam asetil salisilat CH3COOC6H4COOH Jenis Obat Titrasi Ke 1 2 Massa Aspirin Tiap 10 ml 0,20 gram 0,20 gram 0,20 gram 0,20 gram Volume Larutan NH4OH 0,1 M. 160,00 tetes = 8,00 ml 165,00 tetes = 8,25 ml 170,00 tetes = 8,50 ml 180,00 tetes = 9,00 ml 168,75 tetes = 8,44 ml

ASPIRIN Produksi Bayer

3 4

Tabel 3.4 Keterangan Rata -asetil salisilat CH3COOC6H4COOH asam rata No. 1. Percobaan Pengamatan Ditambahkan 3 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi NH4OH 2. 0,1 Molar. Perubahan warna. Volume NH4OH = 10 ml bening menjadi bening 32

3. 4. 5.

Larutan aspirin didalam gelas ukur. Dilarutkannya aspirin didalam gelas ukur dengan akuades. Ditambahkan 3 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi larutan aspirin encer. Dititrasi larutan asam cuka encer dengan larutan standar NH4OH 0,1 M didalam pipet kalibrasi.

Massa = 0.25 gram Volume = 50 ml Volume = 10 ml

6.

Volume rata- rata titrasi = 8,44 ml putih menjadi merah muda

7.

Perubahan warna yang terjadi.

3.7.

PEMBAHASAN 3.7.1. Kadar Asam Asetat CH3COOH. Pada percobaan kali ini kita melakukan analisis kuantitatif untuk menentukan kadar asam asetat dalam asam cuka komersial dan kadar asam asetil salisilat pada tablet aspirin, yang beredar di pasaran. Di mana pada percobaan ini digunakan asam cuka botol cap lombok dan aspirin produksi bayer. Analisis yang dilakukan adalah analisis tirimetri karena kadar komposisi ditetapkan berdasarkan volum pereaksi (konsentrasi diketahui). Penggunaan analisi tirimetri ini menggunakan larutan NaOH 0,1 M untuk penentuan kadar asam asetat sebagai larutan standarnya dan larutan NH4OH 0,5 M untuk penentuan kadar asam asetil salisilat. Pada penentuan Konsentrasi asam asetat terjadi reaksi antara asam lemah (CH3COOH) dengan basa kuat (NaOH). Sebelum dititrasi, asam asetat telah diencerkan terlebih dahulu. Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat sebesar 1 ek/mol. Reaksi yang terjadi pada saat penitrasian adalah : CH3COOH + NaOH

CH3COONa + H2O
33

Pada proses penitrasian antara asam asetat dengan larutan standar NaOH 0,1 M terjadi perubahan warna dimana setelah ditetesi indikator fenophtalein sebanyak 3 tetes warna yang terjadi yaitu bening menjadi berwarna merah muda. Seperti halnya dengan titrasi di atas, perubahan warna ini terjadi pada pH dengan kisaran 7 - 10. Penyebab perubahan warna ini karena telah terjadi pencapaian titik ekuivalen. Volume rata- rata NaOH yang diperlukan pada saat titrasi sebanyak 8,69 ml. Sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat molaritas asetat sebesar 3,8 M. Konsentrasi asam asetat yang dinyatakan dalam persentase sebesar 23,1 %.

3.7.2. Kadar Asam Asetil salisilat CH3COOC6H4COOH Dan penentuan konsentrasi asam asetil salisilat terjadi reaksi antara asam kuat (CH3COOC6H4COOH) dengan basa lemah (NH4OH). Sebelum dititrasi, asam asetil salisilat telah diencerkan terlebih dahulu. Reaksi yang terjadi pada saat penitrasian adalah : CH3COOC6H4COOH + NH4OH

CH3COOC6H4COONH4 + H2O

Pada proses penitrasian antara asam asetil salisilat dengan larutan NH4OH 0,5 M terjadi perubahan warna dimana setelah ditetesi indikator fenophtalein sebanyak 3 tetes warna yang terjadi yaitu bening menjadi berwarna merah muda. Seperti halnya dengan titrasi di atas, perubahan warna ini terjadi pada pH dengan kisaran 6 - 10. Penyebab perubahan warna ini karena telah terjadi pencapaian titik ekuivalen. Volume rata- rata NH4OH yang diperlukan pada saat titrasi sebanyak 8,44 ml. Sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetil salisilat dalam aspirin didapat molaritas asetat sebesar 0,111 M. Konsentrasi asam asetat yang dinyatakan dalam persentase sebesar 1 %.

34

3.8.

PERHITUNGAN 3.8.1. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka komersial. Ditinjau dari literatur yang terdapat pada etiket cuka, tiap botol

asam cuka cap lombok. Diketahui : Volume CH3COOH Massa CH3COOH = 110 ml = 25 gram

Kadar asam asetat pada cuka adalah 25% CH3COOH. Ditanya


M =

: Molaritas CH3COOH....? Mr CH3COOH :....?

massa 1000 x Mr volume

M =

25 1000 x 60 110

C = 12, H = 1, O = 16 C2O2H4 = ( 12x2 ) + ( 16x2 ) + ( 1x4 ) 35

= 0,42 x 9,09

= 3,79 Molar

= 60

Hanya digunakan sebagai acuan dalam menentuka kadar asam asetat pada cuka makan komersial.

Dari hasil praktikum.

Molaritas asam asetat dalam erlenmeyer : Volume CH3COOH yang dititrasi Volume rata rata NaOH untuk titrasi = 25 ml = 8,69 ml

Diketahui

Molaritas NaOH yang digunakan untuk titrasi = 0,1 M Ditanya : Molaritas CH3COOH yang dititrasi....? Pada saat titik ekivalen titrasi jumlah ekuivalen asam = jumlah ekuivalen basa Pengenceran: Asam Basa

Masetat x Vasetat = MNaOH x VNaOH

36

Masetat x 25 = 0,1 x 8,69 Masetat =


0,869 25

Masetat = 0,035 M

pH asam cuka saat titik ekuivalen volume NaOH = 8,69 ml : Ka CH3COOH Molaritas CH3COOH = 10-5 = 0,035 = 3,5.10-2 Molar

Diketahui

Maka

: mol CH3COOH = M x V = 0,035 x 25 = 0,875 mol

mol NaOH

=MxV = 0,1 x 8,69 = 0,869 mol

Ditanya

: pH CH3COOH saat titik ekuivalen volume NaOH = 8,69 ml...?

37

Persamaan Reaksi : CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(aq) mol mula mula : mol terurai mal terbentuk : : 0,875 0,869 0,006 0,869 0,869 0,869 0,869 0,869 0,869

Titik ekuivalen .
mol asam [ H ] = Ka mol [ [garam] ]
+

pH = - log [H + ]

[H ] =10
+

0,006 0,869

pH = - log 6,9.10-8 pH = 8 log 6,9 pH = 8 0,839 pH = 7,161

[H ] =10
+ +

x6,9.10 3
5 3

[H ] = 6,9.10
[H ] = 6,9.10
+

Molaritas asam asetat CH3COOH dalam botol cuka cap lombok. ( M x V )sebelum diencerkan = ( M x V )sesudah diencerkan M x 1 = 0,035 x 100 M = 3,5 Molar

Maka massa asam asetat pada tiap botol cuka cap lombok 110 ml adalah =...?
M = massa 1000 x Mr volume
Massa = 210 9,09

38

3,5 =

massa 1000 x 60 110

Massa = 23,102 gram

Jadi konsentrasi asam asetat dinyatakan dalam persentase ( b/v ) % CH3COOH ( b/v ) =
3,5 x60 x110 % 1000

M (asetat) x Mr (asetat) x V (asetat) 1000

= 23,1 % pH asam cuka saat volume NaOH = 0 ml : Ka CH3COOH Molaritas cuka Ditanya = 10-5 = 0,035 = 3,5.10-2 Molar

Diketahui

: pH CH3COOH saat NaOH = 0 ml....?


Ka .Ma
1 0
5

[H ] =
+

pH = - log [H + ] pH = - log 5,9.10-4 pH = 4 log 5,9 pH = 4 0,771 pH = 3,229

[H ] =
+

x3,5.10 2

[H ] =
+

3,5.10 52 3,5.10 7
4

[H ] =
+

[H ] = 5,9.10
+

3.8.2. Penentuan Konsentrasi Asam Asetil salisilat dalam Aspirin Diketahui : Volume H2O yang dibutuhkan Massa CH3COOC6H4COOH = 50 ml = 1 gram

39

Ditanya
M =

: Molaritas....? Mr CH3COOC6H4COOH:....? C = 12, H = 1, O = 16 C9H8O4 = ( 12x9 ) + ( 1x8 ) + ( 16x4 ) = 180 gram/mol

massa 1000 x Mr volume


1 1000 x 180 50

M =

2 180

= 0,111 Molar

Jadi massa aspirin jika dilarutkan dalam akuades 10 ml adalah:..?


M = massa 1000 x Mr volume

10 massa = 18 x 0,111
1,998 10

0,111 =

1 1000 x 180 10

massa massa

= 0,2 gram

Konsentrasi asam asetil salisilat dinyatakan dalam persentase ( b/v ) % C9H8O4 (b/v ) =
MxMrxV % 1000

0,111 x180 x50 % 1000

= 0,999 % = 1 % ( b/v ) Jadi konsentrasi asam asetil salisilat adalah 1 gram dlm volume 50 ml pelarut air. pH asam asetil salisilat saat volume NH4OH = 0 ml : 40

Diketahui

Ka CH3COOC6H4COOH

= 10-5

Molaritas CH3COOC6H4COOH = 0,111 Molar Molaritas NH4OH Volume CH3COOC6H4COOH = 0,5 Molar = 10 ml

Ditanya : pH CH3COOC6H4COOH saat NH4OH = 0 ml....?

[H ] =
+

Ka .Ma
10 5 x 0,111

pH = - log [H + ] pH = - log 1,05.10-3 pH = 3 log 1,05 pH = 3 0,021 pH = 2,979

[H ] =
+

[H ] =
+

1,1.1 0

5 1

[H ] =
+

1,1.10 6

[H ] = 1,05 .10
+

pH asam asetil salisilat saat volume NH4OH = 8,44 ml : Ka CH3COOC6H4COOH = 10-5

Diketahui

Molaritas CH3COOC6H4COOH = 0,111 Molar Molaritas NH4OH Volume CH3COOC6H4COOH Volume NH4OH Maka : = 0,5 Molar = 10 ml = 8,44 ml

41

mol CH3COOC6H4COOH

=MxV = 0,111 x 10 = 1,111 mol

mol NH4OH

=MxV = 0,1 x 8,44 = 0,844 mol

Ditanya : pH C9H8O4 saat titik ekuivalen volume NH4OH = 8,44 ml...? Persamaan Reaksi : CH3COOC6H4COOH(aq) + NH4OH(aq) CH3COOC6H4COONH4(aq) + H2O(aq) mol mula mula : 1,111 mol terurai mal terbentuk Titik ekuivalen :
mol asam [ H ] = Ka mol [ [garam] ]
+

0,844 0,844 0,844 0,844 0,844 0,844

: 0,844 : 0,267

pH = - log [H + ]

[H ] =10
+

0,267 0,844

pH = - log 3,2.10-7

[H ] =10
+ +

x3,2.10 2
5 2

pH = 7 log 3,2 pH = 7 0,505 pH = 6,495

[H ] = 3,2.10
[ H ] = 3,2.10
+

42

3.9.

PERTANYAAN 1. Mengapa pada titrasi ini digunakan indikator PP? 2. Hitunglah konsentrsai ( mol/liter ), molaritas CH3COOH dalam cuka makan komersial pada percobaan pertama? 3. Hitunglah kadar asam asetil salisilat dalam tablet aspitin pada percobaan ke dua? 4. Tuliskan persamaan reaksi yang terjadi pada titrasi : a. Percobaan yang pertama? b. Percobaan yang ke dua? Jawaban..! 1. Karena Fenolphtalein (phenolphthalein) atau biasa disingkat sebagai pp adalah suatu senyawa organik dengan rumus C20H14O4 dan biasa dipakai sebagai indikator untuk titrasi asam basa. Tidak bewarna dalam larutan asam dan berwarna fuksia (pink) bila dalam larutan basa. Bentuk terkonjugasi pp dapat ditulis dalam reaksi berikut ini:

43

2. Pada percobaan pertama : Dari hasil praktikum. Molaritas asam asetat dalam erlenmeyer : Volume CH3COOH yang dititrasi Volume NaOH untuk titrasi Pertama = 25 ml = 8,50 ml

Diketahui

Molaritas NaOH yang digunakan untuk titrasi = 0,1 M Ditanya : Molaritas CH3COOH yang dititrasi....? jumlah ekuivalen asam = jumlah ekuivalen basa Pengenceran: Asam Basa

44

Masetat x Vasetat = MNaOH x VNaOH Masetat x 25 = 0,1 x 8,50 Masetat =


0,850 25

Masetat = 0,034 M

pH asam cuka saat percobaan pertama volume NaOH = 8,50 ml : Ka CH3COOH Molaritas CH3COOH = 10-5 = 0,034 = 3,4.10-2 Molar

Diketahui

Maka

: mol CH3COOH = M x V = 0,034 x 25 = 0,850 mol

mol NaOH

=MxV = 0,1 x 8,50 = 0,850 mol

Ditanya

: pH CH3COOH saat titik ekuivalen volume NaOH = 8,50 ml...? 45

Persamaan Reaksi : CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(aq) mol mula mula : mol terurai mal terbentuk : : 0,850 0,850 0,850 0,850 0,850 0,850 pOH = - log [OH

0,850 0,850

[CH 3 COONa ] = 0,850


13 ,7

= 0,062

pOH = - log 7,9.10-6

[OH ] =

Kw x[ garam Ka

pOH = 6 log 7,9

[OH ] =

10

14

10 5

x0,062

pOH = 6 0,898

[OH ] =

0,062 x10 9 6,2 x10 9 2 6,2 x10 11


6

pOH = 5,102 pH = 14 pOH pH = 14 5,102 pH = 8,898

[OH ] =

[OH ] =

[OH ] = 7,874 x10

3. kadar asam asetil salisilat dalam tablet aspirin pada percobaan kedua. Diketahui : Volume H2O yang dibutuhkan Massa CH3COOC6H4COOH Ditanya : Molaritas....? = 50 ml = 1 gram

46

M =

massa 1000 x Mr volume


1 1000 x 180 50

Mr CH3COOC6H4COOH:....?

M =

C = 12, H = 1, O = 16

2 180

C9H8O4 = ( 12x9 ) + ( 1x8 ) + ( 16x4 ) = 180 gram/mol

= 0,111 Molar

Jadi massa aspirin jika dilarutkan dalam akuades 10 ml adalah:..?


M = massa 1000 x Mr volume

10 massa = 18 x 0,111
1,998 10

0,111 =

1 1000 x 180 10

massa massa

= 0,2 gram

Konsentrasi asam asetil salisilat dinyatakan dalam persentase ( b/v ) % C9H8O4 (b/v ) =
MxMrxV % 1000 0,111 x180 x50 % 1000

= 0,999 % = 1 % ( b/v ) Jadi konsentrasi asam asetil salisilat adalah 1 gram dalam 50 ml pelarut air. pH asam asetil salisilat saat volume NH4OH = 0 ml : Ka CH3COOC6H4COOH = 10-5

Diketahui

47

Molaritas CH3COOC6H4COOH = 0,111 Molar Molaritas NH4OH Volume CH3COOC6H4COOH = 0,5 Molar = 10 ml

Volume NH4OH pada titrasi ke2 = 8,25 ml Maka :

mol CH3COOC6H4COOH

=MxV = 0,111 x 10 = 1,111 mol

mol NH4OH

=MxV = 0,1 x 8,25 = 0,825 mol

Ditanya : pH C9H8O4 saat titik ekuivalen volume NH4OH = 8,25 ml...? Persamaan Reaksi : CH3COOC6H4COOH(aq) + NH4OH(aq) CH3COOC6H4COONH4(aq) + H2O(aq) mol mula mula : 1,111 mol terurai mal terbentuk Titik ekuivalen : : 0,825 : 0,286 0,825 0,825 0,825 0,825 0,825 0,825

48

mol asam [ H ] = Ka mol [ [garam] ]


+

pH = - log [H + ]

[H ] =10
+

0,286 0,825

pH = - log 3,5.10-7

[H ] =10
+ +

x3,5.10 2
5 2

pH = 7 log 3,5 pH = 7 0,544 pH = 6,456

[H ] = 3,5.10 [H ] = 3,5.10
+

4. Persamaan reaksi yang terjadi pada titrasi : a. Percobaan yang pertama? Persamaan Reaksi Asam asetat dalam asam cuka : Diketahui : Molaritas CH3COOH Volume CH3COOH yang dititrasi Volume NaOH untuk titrasi Pertama Molaritas NaOH untuk titrasi Maka : mol CH3COOH = M x V = 0,034 x 25 = 0,850 mol mol NaOH =MxV = 0,1 x 8,50 49 = 0,034 = 3,4.10-2 Molar = 25 ml = 8,50 ml = 0,1 M

= 0,850 mol Persamaan Reaksi. CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(aq) mol mula mula : mol terurai mal terbentuk : : 0,850 0,850 0,850 0,850 0,850 0,850 0,850 0,850

Persamaan Reaksi Asam asetil salisilat dalam aspirin : Diketahui : Molaritas CH3COOC6H4COOH = 0,111 Molar Molaritas NH4OH Volume CH3COOC6H4COOH Volume NH4OH Maka : mol CH3COOC6H4COOH =MxV = 0,111 x 10 = 1,111 mol mol NH4OH =MxV = 0,1 x 8,00 = 0,800 mol Persamaan Reaksi. = 0,5 Molar = 10 ml = 8,00 ml

50

CH3COOC6H4COOH(aq) + NH4OH(aq) CH3COOC6H4COONH4(aq) + H2O(aq) mol mula mula : 1,111 mol terurai mal terbentuk : 0,800 : 0,311 0,800 0,800 0,800 0,800 0,800 0,800

b. Percobaan yang ke dua? Persamaan Reaksi Asam asetat dalam asam cuka : Diketahui : Molaritas CH3COOH Volume CH3COOH yang dititrasi Volume NaOH untuk titrasi Pertama Molaritas NaOH untuk titrasi Maka : mol CH3COOH = M x V = 0,034 x 25 = 0,850 mol mol NaOH =MxV = 0,1 x 9,00 51 = 0,034 = 3,4.10-2 Molar = 25 ml = 9,00 ml = 0,1 M

= 0,900 mol Persamaan Reaksi. CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(aq) mol mula mula : mol terurai mal terbentuk : : 0,850 0,850 0,900 0,850 0,050 0,850 0,850 0,850 0,850

Persamaan Reaksi Asam asetil salisilat dalam aspirin : Diketahui : Molaritas CH3COOC6H4COOH = 0,111 Molar Molaritas NH4OH Volume CH3COOC6H4COOH Volume NH4OH Maka : mol CH3COOC6H4COOH =MxV = 0,111 x 10 = 1,111 mol mol NH4OH =MxV = 0,1 x 8,25 = 0,825 mol Persamaan Reaksi. 52 = 0,5 Molar = 10 ml = 8,25 ml

CH3COOC6H4COOH(aq) + NH4OH(aq) CH3COOC6H4COONH4(aq) + H2O(aq) mol mula mula : 1,111 mol terurai mal terbentuk : 0,825 : 0,286 0,825 0,825 0,825 0,825 0,825 0,825

3.10.

PENUTUP 3.10.1. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut : 1. Pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat molaritas asetat sebesar 3,8 M. 2. Persentase asam asetat cap lombok sebesar 23,1 %. 3. Pada penentuan konsentrasi asam asetil salisilat dalam aspirin didapat molaritas asetat sebesar 0,111 M. 4. Persentase asam asetil salisilat dalam aspirin sebesar 1 %. 5. Titrasi asam basa pada asam asetat melibatkan reaksi antara asam lemah dengan basa kuat. 6. Titrasi asam basa pada asam asetil salisilat melibatkan reaksi antara asam kuat dengan basa lemah. 7. Analisis kuantitatif memberikan informasi mengenai berapa banyak komposisi suatu komponen dalam sampel. 3.10.2. Saran 1. Hendaknya setiap pelaksanaan praktikum alat yang dipakai harus diperiksa dahulu ketelitian dan kelayakannya.

53

2. Mahasiswa lebih teliti terutama dalam pengambilan data. 3. Mahasiswa dalam pengerjaannya lebih serius. 4. Mahasiswa lebih tepat waktu.
5. Mengapa pada titrasi ke empat terjadi perubahan yang sitnifikan.

DAFTAR PUSTAKA Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Bina Rupa Aksara, Jakarta. Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran edisi 2. Bina Rupa Aksara, Jakarta. Day, RA dan Underwood. 1986. Analisis Kimia kuantitatif. Edisi Kelima: Erlangga.Jakarta Syukri.1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung. Anonim.2009 c. Titrasi Asam Basa. http://belajarkimia.com26 agustus 2009 Anonim.2009 d. Analisis Volumetri atau Titrimetri. http://belajarkimia.com26 agustus 2009

54

PERCOBAAN 4 UJI REAKSI REDOKS CuSO4

4.1.

TUJUAN Mengetahui reaksi redoks yang terjadi pada larutan CuSO4

4.2.

LANDASAN TEORI Reaksi reduksi- oksidasi ( Redoks ) banyak di tentukan dalam kehidupan

sehari- hari misalnya saja perkaratan yang terjadi pada logam besi ( Fe ) serta apel yang dikupas menjadi kecokelatan ketika dibiarkan pada udara terbuka. Phenomena ini merupakan akibat dari reaksi redoks. Reaksi redok adalah reaksi yang di dalamnya terjadi perpindahan electron secara berurutan dari satu spesies kimia ke spesies kimia lainnya yang sesungguhnya terdiri atau dua reaksi yang berbeda : yaitu oksidasi ( kehilangan electron ) dan reduksi ( memperoleh electron ).

55

Reaksi redoks dapat ditinjau dari 3 sisi yaitu : 1. 2. 3. Berdasarkan penggabungan dan pelepasan oksigen. Berdasarkan serah terima electron. Berdasarkan perubahan bilangan oksidasi.

Jika ditinjau dari peristiwa penggabungan dan pelepasan electron. Oksidasi didefinisikan sebagai reaksi yang terjadi antara suatu zat dengan oksigen sehingga membentuk senyawa yang mengandung oksigen. Sedangkan reduksi pada konsep ini didefinisikan sebagai pelepasan oksigen dari suatu zat yang mengandung oksigen. Jika ditinjau dari peristiwa serah terima electron, reaksi oksidasi didefinisikan sebagai peristiwa penyerahan electron, sedangkan reduksi didefinisikan sebagai peristiwa penerimaan electron. Jika ditinjau dari proses perubahan bilangan oksidasi ( biloks ), maka reaksi oksidasi didefinisikan sebagai peristiwa naiknya bilangan oksidasi dan reduksi peristiwa penurunan bilangan oksidasi . biloks adalah bilangan yang menyatakan tingkat oksidasi yang merupakan muatan atom dalam suatu molekul atau ion.

56

4.3.

ALAT DAN BAHAN 4.3.1. Alat- alat yang digunakan dalam percobaan : 1. Neraca analitik. 2. Kaca arloji. 3. Pengaduk kaca. 4. Gelas kimia. 5. Gelas ukur 100 ml. 4.3.2. Bahan- bahan yang digunakan dalam percobaan : 1. Larutan CuSO4 0,1 M 2. Larutan CuSO4 Pekat 3. Fe ( logam paku ) 4. Zn ( logam seng )

57

4.4.

PROSEDUR PERCOBAAN I 4.4.1. Membuat larutan CuSO4(aq) 0,1 M 1. 2. 3. Sebanyak 1,6 gram CuSO4(s) ditimbang dengan menggunakan gelas Akuades dimasukan ke dalam gelas ukur hingga tepat tanda batas Larutkan 1,6 gram CuSO4(s) tersebut dengan menambahkan

arolji dan neraca analitik. 100 ml. akuades hingga volume mencapai 100 mL, aduk hingga larutan homogen. 4.4.2. Membuat larutan CuSO4(aq) 0,5 M ( Pekat ) 1. Sebanyak 8 gram CuSO4(s) ditimbang dengan menggunakan gelas arolji dan neraca analitik. 2. Akuades dimasukan ke dalam gelas ukur hingga tepat tanda batas 100 ml. 3. Larutkan 8 gram CuSO4(s) tersebut dengan menambahkan akuades hingga volume mencapai 100 mL, aduk hingga larutan homogen. 4.5. PROSEDUR PERCOBAAN II 58

1. Logam ( Fe ) dan ( Zn ) dibersihkan. 2. Masukkan larutan CuSO4 0,1 M kedalam gelas kimia 100 ml. 3. Masukkan logam ( Fe ) dan ( Zn ) kedalam masing- masing gelas kimia yang berisi larutan CuSO4 0,1 M secara bersamaan. 4. Kemudian amati warna kedua larutan sebelum dan sesudah di celupkan logam ( Fe ) dan ( Zn ). 5. Ulangi lagi perlakuaan yang sama untuk larutan CuSO4 pekat.

4.6.

HASIL PENGAMATAN

Tabel 4.1 Pengamatan perubahan warna pada logam dan larutan CuSO4 No. 1. 2. 3. 4. Nama Larutan / logam CuSO4 0,1 M CuSO4 Pekat Fe Zn Pengamatan Sebelum CuSO4 0,1 M CuSO4 Pekat Biru Muda Biru Tua Putih Hitam Hitam Putih Hitam Hitam Endapan Ada -

Tabel 4.2 Pengamatan pada reaksi redoks No. 1. 2. 3. 4. Reaksi Fe + CuSO4 0,1 M Fe + CuSO4 Pekat Zn + CuSO4 0,1 M Zn + CuSO4 Pekat Hasil Reaksi FeSO4 + Cu FeSO4 + Cu ZnSO4 + Cu ZnSO4 + Cu 59 Ditandai dengan perubahan warna / endapan Pengamatan

Logam ( Fe ) dan ( Zn ) yang berada di dalam larutan CuSO4 berubah menjadi berkorosi akan tetapi logam ( Zn ) lebih cepat mengalami korosi dan tidak ada endapan, sedangkan logam ( Fe ) menghasilkan endapan. Dari hasil percobaan antara logam ( Fe ) dan ( Zn ) dalam larutan CuSO4 dengan konsentrasi yang berbeda antara 0,1 M dangan 0,5 M sangat bepengaruh, larutan CuSO4 0,5 M dengan waktu 0,5 detik sedangkan CuSO4 0,1 M dengan waktu 1,50 detik. Jadi larutan CuSO4 0,5 M lebih cepat mengalami reaksi terhadap logam ( Fe ) maupun ( Zn ).

4.7.

PEMBAHASAN Dari percobaan dapat terlihat bahwa terjadi reaksi kimia antara larutan

tembaga (II) sulfat CUSO4 dengan logam Fe maupun Zn. Hal ini dibuktikan dengan timbulnya korosi pada logam Fe maupun Zn. Dan terdapat padatan Cu. Reaksi ini merupakan reaksi redoks, dimana dapat ditulis sebagai berikut : Persamaan reaksi I Fe + 0 CuSO4 +2 FeSO4 +2 + Cu 0

( oksidasi ) ( reduksi ) Persamaan reaksi II Zn 0 + CuSO4 +2 ZnSO4 +2 + Cu 0

( oksidasi ) ( reduksi )

60

Pada reaksi diatas, logam Zn mengalami oksidasi denganmelepar electron, sedangkan ion Cu mengalami reduksi, hal ini dapat ditulis sebagai berikut. Oksidasi Zn Zn+2 + 2eReduksi Cu+2 + 2e- Cu Begitu pula dengan logam Fe ketika logam dicelupkan kedalam larutan CuSO4 yang berwarna biru, logam Fe menjadi terlapisi oleh logam Cu yang berwarna hitam. Pada reaksi diatas, logam Fe mengalami oksidasi dengan melepaskan electron, sedangkan ion Cu mengalami reduksi dengan menangkap electron, dalam setengah reaksi. Hal ini dapat ditulis sebagai berikut: Oksidasi Fe Fe+2 + 2eReduksi Cu+2 + 2e- Cu 4.8. PERHITUNGAN 4.8.1. Membuat larutan CuSO4(aq) 0,1 M Diketahui : Volume akuades yang di inginkan Molaritas CuSO4(aq) Mr CuSO4(aq) Ditanya : Massa CuSO4(s) yang di perlukan...?
M = massa 1000 x Mr volume
massa 1000 x 159 ,5 100
15 ,95 = m assa

= 100 ml = 0,1 M = 159,5

x 10

0,1M =

Massa = 1,595 gram

4.8.2. Membuat larutan CuSO4(aq) 0,5 M ( Pekat ) Diketahui :

61

Volume akuades yang di inginkan Molaritas CuSO4(aq) Mr CuSO4(aq) Ditanya : Massa CuSO4(s) yang di perlukan...?
M = massa 1000 x Mr volume
massa 1000 x 159 ,5 100

= 100 ml = 0,5 M = 159,5

79 ,75 = massa

x 10

0,5M =

Massa = 7,975 gram

4.9.

PERTANYAAN 1. Tentukan bilangan oksidasi atom di bawa ini : a. Fe b. Zn c. Cu dalam CuSO4 d. S dalam CuSO4 2. Tulislah persamaan reaksi redoks pada percobaan diatas? 3. Tentukan dalam reaksi redoks tersebut yang termasuk oksidator dan reduktor? 4. Bagaimana pengaruh jenis logam terhadap perubahan yang terjadi pada konsentrasi CuSO4 sama? 5. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan CuSO4 terhadap perubahan yang terjadi pada logam yang sama?

Jawaban: 1. Bilangan Oksidasi :

62

a. Fe = 0 b. Zn = 0 c. Cu dalam CuSO4 = +2 Cu+2SO4-2 d. S dalam CuSO4 = +6 SO4-2 SO4 = -2 S( -2x4 ) = -2 S( -8 ) = -2 S = -2 + 8 S = +6 2. Persamaan reaksi redoks. Persamaan reaksi I Fe + 0 CuSO4 +2 FeSO4 +2 + Cu 0

( oksidasi ) ( reduksi ) Persamaan reaksi II Zn 0 + CuSO4 +2 ZnSO4 +2 + Cu 0

( oksidasi ) ( reduksi )

3. Oksidator adalah suatu peristiwa redoks yang mengalami reduksi Oksidator Cu

63

Reduktor adalah suatu peristiwa redoks yang mengalami oksidasi Reduktor Fe dan Zn 4. Sangat perpengaruh, Zn lebih cepat mengalami perubahan dibandingkan Fe karena Zn lebih cepat terjadinya reaksi redoks. 5. Semakin tinggi konsentrasi terjadinya reaksi redoks. larutan CuSO4 maka akan semakin cepat

4.10.

PENUTUP 4.10.1. Kesimpulan 1. 2. CuSO4. 3. Reaksi redoks terjadi apabila pada reaksi terjadi pelepasan electron. 4.10.2. Saran Pada saat melakukan reaksi dengan CuSO4 logam Fe dan Zn maka logam Fe maupun Zn harus pada kondisi yang sama. Jadi reaksi redoks pada logam Fe dan Zn denga larutab CuSO4 Perubahan warna disebabkan oksidasi antara Fe dan Zn oleh

terjadi perubahan warna pada Logam Fe dan Zn,

64

DAFTAR PUSTAKA Wismono. Jakarta 2004. Kimia dan Kecakapan Hidup. Jakarta : Ganeca Exact. Sunaryani. Indah dkk. Bulletin Kimia. Semarang. Day,R.A. dan A.L. Underwood. 1993. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi ke-4. Jakarta : Erlangga http://www.scribd.com/doc/11369465/REAKSI-REDOKS http://id.wikipedia.org/wiki/Redoks

65

UNIVERSITAS BAKTI INDONESIA FAKULTAS MIPA JURUSAN KIMIA 2011

LEMBAR ASISTENSI PEMURNIAN GARAM DAPUR ( NaCl ) MELALUI REKRISTALISASI

Mata Kuliah Dosen Pembimbing Praktikan I Praktikan II Praktikan III Dekan FMIPA

: Kimia Anorganik II : Imam Nursamsudin, S.T : Fina Kurnia Sari : Ika Fatmawati ( 0947201001 ) ( 0947201002 )

: Muhammad Nur Kholis ( 0947201003 ) : Novita Ratnaningtiyas, S.Pd.

66

No. 1 2 3 4 5

Tanggal

Keterangan

Ttd

Mengetahui Dosen Pembimbing

Imam Nursamsudin S.T. NIDN:

UNIVERSITAS BAKTI INDONESIA FAKULTAS MIPA JURUSAN KIMIA 2011

LEMBAR ASISTENSI INDIKATOR ASAM BASA DARI BERBAGAI ZAT WARNA PADA TUMBUHAN

Mata Kuliah Dosen Pembimbing Praktikan I Praktikan II Praktikan III Dekan FMIPA No. Tanggal

: Kimia Anorganik II : Imam Nursamsudin, S.T : Fina Kurnia Sari : Ika Fatmawati ( 0947201001 ) ( 0947201002 )

: Muhammad Nur Kholis ( 0947201003 ) : Novita Ratnaningtiyas, S.Pd. Keterangan Ttd 67

1 2 3 4 5

Mengetahui Dosen Pembimbing

Imam Nursamsudin S.T. NIDN:

UNIVERSITAS BAKTI INDONESIA FAKULTAS MIPA JURUSAN KIMIA 2011

LEMBAR ASISTENSI MENENTUKAN KADAR ASAM DALAM ASAM CUKA DAN ASPIRIN

Mata Kuliah Dosen Pembimbing Praktikan I Praktikan II Praktikan III Dekan FMIPA No. 1 2 Tanggal

: Kimia Anorganik II : Imam Nursamsudin, S.T : Fina Kurnia Sari : Ika Fatmawati ( 0947201001 ) ( 0947201002 )

: Muhammad Nur Kholis ( 0947201003 ) : Novita Ratnaningtiyas, S.Pd. Keterangan Ttd

68

3 4 5

Mengetahui Dosen Pembimbing

Imam Nursamsudin S.T. NIDN:

UNIVERSITAS BAKTI INDONESIA FAKULTAS MIPA JURUSAN KIMIA 2011

LEMBAR ASISTENSI UJI REAKSI REDOKS CuSO4

Mata Kuliah Dosen Pembimbing Praktikan I Praktikan II Praktikan III Dekan FMIPA No. 1 2 3 4 Tanggal

: Kimia Anorganik II : Imam Nursamsudin, S.T : Fina Kurnia Sari : Ika Fatmawati ( 0947201001 ) ( 0947201002 )

: Muhammad Nur Kholis ( 0947201003 ) : Novita Ratnaningtiyas, S.Pd. Keterangan Ttd

69

Mengetahui Dosen Pembimbing

Imam Nursamsudin S.T. NIDN:

70