Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Kebutuhan air saat ini mengalami peningkatan dengan berkembangnya industri dan kebutuhan domestik. Jumlah industri yang terus bertambah, membutuhkan air untuk produksi. Saat ini, masalah utama yang dihadapi adalah kuantitas air bersih yang kurang mampu memenuhi kebutuhan industri dan domestik yang meningkat dan kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin menurun. Pada umumnya sumber air yang banyak digunakan penduduk untuk kebutuhan domestik adalah air tanah berupa sumur-sumur gali yang dimanfaatkan untuk mandi, mencuci dan air minum. Air tanah menempati suatu formasi geologi mampu menyimpan air. Formasi geologi yang mampu menyimpan dan sekaligus meloloskan air disebut sebagai lapisan pembawa air (akifer). Seperti halnya air permukaan, air tanah yang berada di bawah muka tanah itu pun bergerak, baik ke arah vertikal maupun horisontal. kota pada umumnya. Berbagai keperluan belum dapat dipenuhi oleh penyediaan air melalui jaringan distribusi air perkotaan, sehingga terpaksa harus dipenuhi dengan pengambilan air tanah. Ketergantungan terhadap air tanah di beberapa daerah masih tinggi, karena pasokan air dari sumber air permukaan tidak dapat memenuhi keburuhan.\ Limbah adalah suatu benda atau zat yang dapat mengandung berbagai bahan yang membahayakan kehidupan manusia, hewan, serta makhluk hidup lainnya. Banyak limbah dihasilkan dari aktivitas manusia, termasuk industri dan kegiatan rumah tangga. Masuknya limbah rumah tangga dan industri ke dalam sungai menyebabkan pencemaran atau polusi air sungai. Pencemaran adalah perubahan keadaan lingkungan, baik secara fisik, kimia, atau pun biologi, meliputi udara, daratan, dan air yang tidak diinginkan. Bahan beracun dan berbahaya ini banyak dijumpai sehari-hari, baik sebagai keperluan rumah tangga maupun industri yang tersimpan, diproses, diperdagangkan, diangkut dan lain-lain. Melihat pada sifat-sifat limbah, karakteristik dan akibat yang ditimbulkan pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang diperlukan langkah pencegahan, penanggulangan dan pengelolaan.

1.2 Tujuan

Mengetahui kondisi air tanah di daerah Perumahan Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat Mengetahui dampak ekonomi dan ekologi dari pengaruh limbah industri yang ada di daerah Perumahan Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimana Kualitas air tanah di daerah Perumahan Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat ? Apa dampak ekonomi dan ekologi dari pengaruh limbah industri yang ada di daerah Perumahan Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat ?

1.4 Manfaat observasi Manfaat dari observasi ini adalah untuk mengetahui kondisi air tanah di Perumahan Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat dan mengetahui dampaknya terhadap kehidupan dari segi ekonomi dan ekologinya.

BAB II LANDASAN TEORI


Air merupakan sumberdaya yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia maupun makhluk hidup lain. Boleh dikatakan tidak ada kehidupan di muka bumi ini yang dapat berlangsung tanpa air, khususnya manusia. Namun demikian perlu disadan bahwa keberadaan air di muka bumi ini terbatas menurut ruang dan waktu baik secara kuantitas maupun kualitas. Keberadaannya yang dekat dengan sumber pencemaran membuatnya semakin menurun dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Hal tersebut sebagian besar diakibatkan oleh ulah manusia yang kurang arif terhadap lingkungan sehingga berpengaruh terhadap sumberdaya air, bahkan akhirnya berdampak negatif terhadap manusia sendiri. Pembangunan industri pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di segala bidang yang menyangkut kehidupan manusia. Industri dalam prosesnya tidak terlepas dari penggunaan sumberdaya alam, baik sumberdaya alam yang terbarukan maupun sumberdaya alam tak terbarukan. Dalam proses produksinya, industri menghasilkan suatu bahan akhir yang berupa limbah, yang dimana kerap kali mencemari lingkungan dan akhirnya memberikan dampak terhadap sumber daya alam. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan terlepas dari kebutuhan akan air, jadi di dalam hal ini manusia dan aktivitasnya dipengaruhi oleh keberadaan sumberdaya air, baik kuantitas maupun kualitasnya. Sebaliknya, manusia dengan segala aktivitasnya dapat juga berpengaruh terhadap sumberdaya air. Sumberdaya air dapat terkena dampak dari limbah industri itu sendiri. Perubahan kondisi lingkungan yang diakibatkan oleh pembuangan limbah ini dapat berdampak pada sumberdaya air baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan kualitas air yang semakin menurun ini dapat terlihat dari air yang mudah kotor dalam waktu yang cukup singkat. Pencemaran pada air sungai dan air tanah yang sering terjadi juga merupakan dampak dari limbah juga. Dengan memperhatikan daur hidrologi serta proses hidrologi yang mengalami perubahan dapat dikaji dampak-dampak negatif yang mungkin timbul yang disebabkan oleh limbah industri.

Dalam sebuah perumahan, biasa menggunakan sumber air dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) atau dari air tanah. Konsisi keduanya dapat tercemar oleh kehadiran limbahlimbah ini, terutama air tanah. Limbah yang dibuang begitu saja dapat merembes hingga lapisan tertentu dimana terdapat air tanah yang biasa digunakan oleh masyarakat.
2.1 Air Tanah

Air tanah menempati suatu formasi geologi mampu menyimpan air. Formasi geologi yang mampu menyimpan dan sekaligus meloloskan air disebut sebagai lapisan pembawa air (akifer). Seperti halnya air permukaan, air tanah yang berada di bawah muka tanah itu pun bergerak, baik ke arah vertikal maupun horisontal. kota pada umumnya. Berbagai keperluan belum dapat dipenuhi oleh penyediaan air melalui jaringan distribusi air perkotaan, sehingga terpaksa harus dipenuhi dengan pengambilan air tanah. Ketergantungan terhadap air tanah di beberapa daerah masih tinggi, karena pasokan air dari sumber air permukaan tidak dapat memenuhi keburuhan. Di berbagai daerah di Indonesia terutama di kota-kota besan penyediaan air mulai menjadi masalah yang serius. Ketika penyediaan air yang berasal dari air permukaan dengan pengolahan menjadi semakin sulit, maka air tanah menjadi alternatif lain. Namun airtanah pun makin sulit didapat, karena terus menurunnya permukaan air tanah. Selain karena menurunnya lapisan tanah sehingga menyebabkan air tanah semakin sulit didapat, permasalahan lain yang ada saat ini adalah kualitas air tanah itu sendiri yang semakin buruk dikarenakan tercemar oleh limbah industri yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Keadaan ini semakin memprihatinkan ketika suatu perumahan yang banyak dikelilingi oleh pabrik industri dimana kualitas air disana menurun diakibatkan oleh pencemaran limbah tersebut.
2.2 Kualitas Air

1. Pengertian Umum Pengertian tentang kualitas air (mutu air) sangat penting, karena merupakan dasar dan pedoman unruk mancapai tujuan pengelolaan air sesuai dengan peruntukkannya. Studi dan pembahasan tentang air pada dasarnya menyangkut tentang dua hal, yaitu kuantitas dan kualitasnya. Hal ini penting unruk menentukan permasalahan berada di mana, dalam lingkungan apa, kualitas air yang bagaimana, sehingga dapat dengan tepat menentukan

strategi pengelolaannya. Perlu keyakinan variabel mana yang keadaannya sangat mendesak unruk penanganan dan mana yang sudah baik untuk dapat dipertahankan. Unruk keperluan tersebut perlu adanya suatu baku mutu air, yakni keadaan ideal yang ingin dicapai, keadaan maksimum yang boleh ditoleransi sesuai dengan peruntukannya. Kualitas air dapat diartikan sebagai kondisi kualitatif yang dicerminkan oleh kategori, parameter: organik, anorganik, fisik, biologik, radiologik dalam hubungannyna dengan kehidupan. Dari hal tersebut di atas terlihat bahwa makin tinggi derajat hidup dalam suatu lingkungan air dan perairan tertentu, makin tinggi pula derajat kualitas lingkungan perairan tersebut dan sebaliknya.Salah satu dampak limbah industri adalah perubahan kondisi fisik dari air itu sendiri. Dapat terlihat dari keadaannya yang mudah kotor karena mungkin ada unsur-unsur tertentu yang ikut terlarut didalamnya. Selain itu dampak yang lebih lanjut dapat menyebabkan suatu organisme mati. Dampak pencemaran itu bila tidak dicegah atau ditanggulangi akan merugikan kehidupan manusia sendiri, baik terhadap kesehatan maupun sosial ekonominya. Pencemaran tidak selalu berasal dari satu sumber, tetapi dapat dari kegiatan-kegiatan dalam daerah (DAS) tersebut. Berkaitan dengan masalah kualitas air. berikut ini dikemukakan istilah-istilah yang sering digunakan.

Mutu air adalah karakteristik mutit yang dibutuhkan untuk pemanfaatan tertentu dari sumber air. karaktenstik mutu air merupakan sitatu dasar untuk baku mutu air di sampingfaktor-faktor lain.

Baku mutu air adalah persyaratan mutu air yang disiapkan oleh suatu negara atau daerah yang bersangkutan. Baku mutu air yang berlaku harus dapat dilaksanakan semaksimal mungkin melindungi lingkungan, tetapi cukup memberi toleransi bagi pembangiman industri atau bentuk pembangunan tertentu dan saran pengendalian pencemaran yang ekonomis. Dalam pengelolaan mutu air dikenal dua baku mutu air dalam sumber air yaitu: Stream Standard dan Effluent Standard (Badruddin Mahbub, 1982).

Stream standard adalah persyaratan mutu air bagi sumber air seperti: sungai, danau, air tanah yang disusun dengan mempertimbangkan pemanfaat sumber air tersebut, kemampuan mengencerkan dan membersihkan diri terhadap beban pencemaran dan faktor ekonomis.

Effuent standard adalah persyaratan mutu air limbah yang dialirkan ke sumber air, sawah, tanah dan tempat-tempat lain dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumber air yang bersangkutan dan faktor ekonomis pengelolaan air buangannya (untuk daerah industri atau daerah pengembangan industri). Kriteria mutu air diterapkan untuk menentukan kebijaksanaan perlindungan

sumberdaya air dalam jangka panjang, sedangkan baku mutu air limbah (effuent standard) dipergunakan untuk perencanaan, perizinan dan pengawasan mutu air limbah dari berbagai sektor seperti pertambangan dan lain-lain. Kriteria kualitas sumber air di Indonesia ditetapkan berdasarkan pemanfaatan sumber-sumber air tersebut dan mutu yang disyaratkan, sedang baku mutu air limbah ditetapkan berdasarkan karakteristik suatu sumber air penamping buangan tersebut dan pemanfaatannya. Sehubungan dengan hal tersebut di atas diperlukan suatu pengelolaan dan penanganan air dengan maksud antara lain: 1) mendapatkan air yang terjamin kualitas kesehatannya; 2) mendapatkan air yang bebas dari kekeruhan, warna dan bau; 3) menyediakan produk air yang sehat dan nyaman; dan 4) menjaga kebutuhan air konsumen Berdasarkan pemanfaatan dan hubungan dengan kriteria air, di Indonesia ada empat golongan kelas (MenLH, 2001)

Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasaranasarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, petemakan, air untuk mengairi pertanaman. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

2. Pencemaran Air a. Air hujan Air hujan bukan lagi merupakan air murni dengan susunan kimia sebagai H2O. Berbagai proses alam maupun berbagai kegiatan manusia yang menghasilkan limbah baik gas maupun zat padat berupa debu dapat berpengaruh terhadap kualitas air hujan. Proses terjadinya hujan yang dimulai dengan terbentuknya uap air karena pendinginan, terbentuknya titik-titik air karena adanya inti kondensasi yang berupa debu mateorik maupun garam sudah memasukkan zat lain ke dalam titik air sehingga komposisinya bukan lagi mumi H2O. Di atmosfer terdapat berbagai macam gas. Nitrogen, SOX, CO2, oksigen dan lain sebagainya. Ketika titik-titik air tersebut cukup besar dan jatuh ke permukaan bumi, selama proses jatuhnya terlarut gas-gas yang terdapat di atmosfer. Di atmosfer terdapat pula debu, baik yang dikeluarkan melalui proses alam maupun oleh aktivitas manusia (dari pabrik misalnya). Debu tersebut dapat terbawa jatuh oleh air hujan, dan beberapa bagian daripadanya akan larut dalam air hujan yang menyebabkan berubahnya komposisi air hujan tersebut. Aktivitas vulkanisme yang menghasilkan gas sulfatar (SO2) menyebabkan hujan yang jatuh di daerah gunung api aktif mempunyai komposisi yang kaya akan kadar SO4. Presipitasi yang mencapai permukaan tanah hanya mengandung sejumlah kecil zat terlarut. Air hujan tersebut bereaksi dengan mineral tanah dan batuan yang konyak dengannya. Jumlah dan jenis mineral yang terlarut di dalamnya tergantung dari susunan kimiawi dan sifat fisik batuan, demikian pula tergantung pada pH dan redoks potensial (Eh) air. Larutan garam yang berasal dari proses pelapukan tanah dan pelarutan batuan oleh hujan menambah tinggi kadar zat kimia yang terlarut dalam air tanah. Aktivitas manusia dalam bidang industri, yang pada akhirnya menghasilkan gas buangan (emisi) menyebabkan udara tercemar, dan selanjutnya pula gas pencemar ini akan terbawa oleh air hujan ini ketika jatuh, sehingga komposisi air hujan tersebut juga berpengaruhi oleh kegiatan industri. Contoh-contoh semacam ini dapat terlihat ada air hujan yang jatuh di daerah-daerah industri dan sekitarnya. Kegiatan kota, termasuk lalu lintas kendaraan yang mengeluarkan gas buang melalui knalpotnya akan berpengaruh

pula terhadap komposisi air hujan yang jatuh di daerah kota dan sekitarnya. Pencemaran terhadap air hujan dapat lebih jelas diamati pada fenomena hujan asam. b. Air permukaan/sungai Kegiatan yang berkaitan dengan rumah tangga dan industri, termasuk pariwisata dapat menghasilkan berbagai macam limbah yang dibuang ke dalam air permukaan. Tubuh air tawar dapat mentolerir buangan limbah yang dibuang ke dalamnya dalam batas tertentu tanpa menimbulkan efek yang serius, karena pengaruh siklus biologi yang menyesuaikan dengan bahan makanannya serta kondisi yang lain untuk menopang kehidupannya. Dalam sungai yang mempunyai kandungan zat organik yang rendah hanya terdapat sedikit makanan untuk menopang kehidupannya, sehingga walaupun terdapat beragam organisme di dalamnya, namun populasinya sedikit. Dalam sungai yang kaya akan bahan organik kondisinya tidak menguntungkan bagi binatang maupun tumbuhan, sehingga dalam kondisi ini populasi bakteri sangat dominan. Self purification dapat menstabilkan zat organik dan memungkinkan untuk menyeimbangkan kembali komunitas organisme. Dalam mempelajari pencemaran air yang penting untuk diperhatikan adalah: 1. Zat beracun yang menyebabkan rusaknya atau hilangnya aktivitas biologi di dalam air. Sebagian besar zat racun ini berasal dari limbah industri termasuk logam berat dari perlapisan logam, phenol dari gas dan industri pengolahan pestisida dan radioisotop. Pertumbuhan ganggang kadang-kadang menjadi sebab zat beracun dalam air, sehingga tidak lagi dapat digunakan untuk minum temak. 2. Material yang mempengaruhi keseimbangan oksigen di dalam air. Zat yang mengkonsumsi oksigen terlarut (DO), ini dapat berupa zat organik yang terdegradasi secara biologi dan menimbulkan BOD atau bentuk reduksi dari zat anorganik. Zat yang menghalangi reoksigenasi, DO dalam air diperoleh dari perpindahan oksigen di atmosfer. Material seperti minyak, detergen dan sebagainya dapat membentuk lapisan (film) pelindung pada permukaan air yang dapat mengurangi laju perpindahan oksigen dan memperbanyak efek substansi yang menggunakan oksigen. Aliran buangan yang panas dapat merubah kesetimbangan oksigen karena konsentrasi jenuh DO berkurang dengan bertambahnya temperatur.

Konsentrasi yang tinggi dan zat tersuspensi atau zat terlarut, dapat menutupi dasar sungai yang mencegah pertumbuhan makanan ikan dan memusnahkan ikan sebagai akibat keracunan. Buangan limbah pertambangan yang asam dapat menyisakan sungai yang airnya tidak dapat digunakan untuk bahan penyediaan air di bagian hilir. Penyesuaian zat organik di dalam permukaan merupakan aktivitas yang bersifat alami yang bahkan dapat memberikan akibat yang menguntungkan bagi perikanan. Ini dapat terjadi apabila kapasitas self purification dari air terlampaui dari gangguan yang terjadi. Self purification meliputi salah satu atau lebih dari proses berikut: Sedimentasi yang dibantu oleh flokulasi secara biologi maupun mekanik. Proses ini di lain pihak menghasilkan lapisan endapan pada dasar sungai yang bersifat anaerobik, yang apabila tersuspensi lagi dapat menyebabkan kebutuhan oksigen yang tinggi; 1. Oksidasi kimiawi dari zat tereduksi; 2. Matinya bakteri yang disebabkan oleh ketidaksesuaian kondisi lingkungan tempat tinggalnya, urnumnya ditandai dengan cepatnya mati dari bakteri dan organisme patogen; 3. Oksidasi biokimiawi, yang merupakan proses paling banyak terjadi. Untuk mencegah pencemaran yang serius, sangat utama untuk mempertahankan kondisi aerobik, artinya kadar DO dalam air menjadi sangat penting. Apabila air sungai mula-mula jenuh akan oksigen terlarut, biasanya kadar BOD kecil (rendah). Begitu limbah dibuang ke dalam sungai maka terjadi proses perombakan zat organik yang mengkonsumsi oksigen terlarut. sehingga mulai titik limbah dibuang maka BOD bertambah tinggi. Sebagai akibatnya kadar oksigen berangsur turun. Apabila kadar pencemaran cukup tinggi dan melampaui kapasitas air sungai menyediakan oksigen. maka penurunan kadar oksigen dapat mencapai nol. Kadar oksigen terlarut yang mencapai nol dapat mencapai jarak yang cukup jauh. Selama proses aliran sungai terjadi reoksigenasi air dengan masuknya oksigen dari atmosfer, sehingga pada jarak tertentu setelah zat organik semua juga teroksidasi maka oksigen dalam air berangsur menjadi bertambah tinggi kadarnya. Apabila kondisinya memungkinkan maka oksigen terlarut dapat mencapai kadar seperti semula, ketika air sungai belum mendapatkan pencemaran. Kadar oksigen yang

berubah-ubah menurut jarak tersebut dapat membentuk zone (mintakat) yang dapat dibagi menjadi: 1. Mintakat bersih (clean-one), yaitu mintakat sebelum air sungai mendapat pencemar, ditandai dengan tingginya kadar DO dan rendahnya BOD. 2. Mintakat dekomposisi (decomposition -one}, yaitu mintakat dimulai air sungai mendapat pencemaran limbah sampai kadar oksigen mencapai nol. Mintakat ini ditandai dengan turunnya kadar DO dan naiknya kadar BOD. 3. Mintakat septik (septic zone) yaitu mintakat di mana kadar oksigen mempunyai nilai nol. Pada mintakat ini hampir tidak ada kehidupan, kalaupun ada berisi organisme yang aerobik. 4. Mintakat pemulihan (recovery zone), yaitu mintakat ketika oksigen mulai naik kadarnya sehingga mencapai keadaan semula seperti sebelum mendapat pencemar. Pada mintakat ini kadar DO berangsur mulai naik dan BOD turun. Berangsur terdapat kehidupan akuatik, organisme dan ikan. 5. Mintakat bersih (clean zone), pada mintakat ini keadaan seperti sebelum sungai mengalami pencemaran, jadi kadar DO tinggi dan BOD rendah. Pembuangan limbah ke dalam sungai tidak selalu berlangsung secara terus-menerus sepanjang hari. Limbah yang dibuang baik jumlahnya, kualitasnya maupun waktu pembuangannya berkaitan erat dengan kegiatan yang dilakukan, baik dalam rumah tangga secara individu, tempat-tempat pelayanan dan fasilitas umum. maupun oleh pabrik yang menghasilkan limbah tersebut. Dari sektor rumah tangga dapat diketahui bahwa limbah pada umumnya dibuang pada pagi hingga sore hari. dan mencapai puncaknya pada sekitar pukul 07.00-10.00 pagi dan 16.00-20.00 sore. Debit buangan limbah dan kaitannya dengan kadar pencemar dari waktu ke waktu selama sehari. sedangkan pola debit buangan limbah selama satu minggu. hal yang serupa terjadi pada pembuangan limbah dari kegiatan industri. Pola pembuangan limbah berdasarkan waktu dan debitnya, akan sangat menentukan dalam pengambilan sampel air maupun sampel air limbah, karena kondisi limbah baik kuantitas maupun kualitasnya tidak akan konstan sepanjang waktu. Dari sektor rumah tangga sebesar kira-kira 60-80% dari total air yang digunakan dibuang sebagai limbah cair, dan limbah ini baik langsung maupun tidak langsung akan mencapai tubuh

air (air tanah, sungai, danau), dengan demikian maka badan air penerima limbah tersebut akan terpengaruhi kualitasnya. c. Air tanah Mekanisme terjadinya pencemaran antara air tanah dan air sungai atau air permukaan berbeda. Karena lebih terbuka, air permukaan lebih mudah mengalami oerubahan kualitas, termasuk pencemaran daripada.air tanah. Oleh karena itu orang cenderung untuk menggunakan air tanah sebagai sumber untuk keperluan sehari-hari, termasuk untuk air minum karena relatif lebih aman. Dibandingkan air permukaan maka air tanah akan: 1. Kualitasnya (terutama fisik dan biologis) lebih baik daripada air permukaan; 2. Kesinambungan ketersediaannya lebih stabil berbanding dengan air permukaan. Air tanah hingga saat ini masih merupakan sumber air minum maupun untuk berbagai keperluan bagi penduduk Indonesia, baik di daerah pedesaan maupun daerah perkotaan. Dalam penyediaannya, air diambil dengan berbagai cara. Di Indonesia berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan air minum, baik yang berasal dari air tanah, mata air, sungai maupun dari sumber lain. Sebagai air yang digunakan untuk rumah tangga khususnya sebagai bahan baku air minum, air tanah memeiliki beberapa keuntungan. Keuntungan penggunaan air tanah sebagai sumber air minum adalah: 1. Variasi kualitas air dan waktu ke waktu relatif kecil; 2. Air tanah mempunyai kualitas yang baik, menyebabkan biaya pengolahan murah; 3. Agihan dan luasan wilavah air tanah lebih besar berbandins denean air permukaan. sehingga jangan transmisi dengan pembiayaan yang mahal untuk mendistribusikan air dapat dikurangi; 4. Dengan cara yang tepat, lahan di atas akifer yang mengandung air tanah masih dapat digunakan untuk industri, perumahan. pertanian dan rekreasi: 5. Akifer mengandung air tanah dan menyimpan dalam jumlah yang besar sekali, sehingga untuk menyimpan air tanah tidak periu dibuat waduk sebagai penyimpan air seperti yang dilakukan pada air permukaan, lagi pula terhindar dari masalah evaporasi.

Disamping keuntungan yang disebutkan di depan, terdapat pula kerugian-kerugian dalam pelaksanaan pemanfaatan air tanah sebagai sumber air minum. Kerugian dan kelemahannya adalah seperti berikut:
1. Air tanah yang diambil melalui sumur dalam mengandung konsentrasi ion-ion tertentu

seperti Ca, Mg, Mn, dan Fe datam jumlah yang cukup tinggi. Ion-ion H2S, S, SO4 dan Cl mungkin terdapat dalam kadar yang tinggi, demikian juga F. Kadar ion yang tinggi tersebut dapat mengganggu kesehatan. Contoh kadar ion F yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan gigi yang disebut dental mottling. Kadar ion Fe yang tinggi dapat mengakibatkan rusaknya alat rumah tangga dan alat sanitasi, contohnya terjadinya warna coklat pada porselin yang terkena air tanah tersebut. 2. Dekomposisi anaerobik dari zat organik yang, tertimbun dapat mencemari air tanah dengan menghasilkan gas, seperti methane, ammonia, dan hidrogen sulfida. 3. Air tanah di daerah pantai dapat mengalami intrusi air asin. 4. Hal yang sangat penting untuk dipahami yaitu sekali akifer air tanah tercemar, sangat sukar atau hampir tidak mungkin untuk dibersihkan kembali. Air tanah yang mengalir melalui batuan vulkanik hanya melarutkan sejumlah kecil zat/mineral, karena mineral yang menyusun batuan beku pada umumnya relatif tidak mudah larut dalam air. Air hujan yang mengandung karbon dioksida yang berasal dari atmosfer menambah besar daya larut air hujan tersebut terhadap batuan. Batuan sedimen yang relatif lebih mudah larut dan terdapat hampir di mana-mana di kulit bumi, merupakan sebagian besar sumber zat terlarut di dalam air tanah. Kadar zat kimia yang rendah dalam suatu tempat di daerah vulkan dapat berubah, tetapi perubahan kimia air tanah ke arah yang lebih jelek belum tentu disebabkan oleh batuan di daerah yang bersangkutan. Dengan demikian, di daerah vulkan faktor-faktor lain di luar faktor batuan merupakan hal yang penting dalam mempelajari perubahan sifat kimiawi air tanah. Berbagai macam tindakan manusia yang mengakibatkan perubahan kimiawi air tanah dapat berasal dari berbagai sumber kegiatan. Perubahan kimiawi air tanah dapat mengarah kepada penurunan kualitas air tanah, atau pada tingkat yang lebih berat lagi yaitu pencemaran air tanah. Hal ini menyebabkan perubahan sifat-sifat fisik, kimiawi, dan biologi air tanah tersebut. Sumber penurunan kualitas air tanah tidak terbatas jumlah dan macamnya, namun

yang diperkirakan merupakan sumber dan penyebab utama dari penurunan ini adalah dampak penggunaan air. Sumber dan penyebab utama tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu kegiatan kota, industri, pertanian dan kelompok lain di luar ketiga kelompok tersebut. Sebagian besar pencemaran air tanah berkaitan erat dengan cara pembuangan limbah di atas permukaan tanah atau ke dalam tanah. Berdasarkan geometrinya, semua sumber pencemar dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu: 1. 2. 3. Sumber pencemar titik; Sumber penemar garis dan Sumber pencemar bidang.

Sumber pencemar titik berasal dari sumber pencemar yang merupakan titik lokasi. Sumber pencemar garis merupakan deretan dari sumber pencemar yang berupa titik sehingga membentuk suatu garis, sedang sumber pencemar bidang adalah sumber pencemar yang meliputi daerah yang luas, yang dapat atau tidak dapat ditentukan batasnya. Masuknya pencemar ke dalam akifer tak tertekan terjadi dengan cara perkolasi dari permukaan tanah, melalui sumur, dari air permukaan dan dari instrusi air asin. Penyebaran pencemar di dalam air tanah dari sumber pencemar yang berasal dari sumber titik berkurang dengan bergeraknya pencemar tersebut menjauhi sumbernya, sampai pada tingkat kadar yang tidak membahayakan atau pada tingkat kadar yang sangat rendah. Untuk berbagai macam pencemar, penurunan kadar pencemar di atas mintakat permukaan air tanah umumnya berlangsung paling efektif. Penurunan yang paling baik memerlukan jarak dari muka air tanah yang cukup dalam dan terdapatnya material batuan yang berbutir halus, seperti lempung dan geluh. Tanpa hal-hal tersebut di atas, pencemar akan langsung mencapai mintakat jenuh (saturated zone). Bila dibandingkan dengan penurunan kadar pencemar di atas mintakat muka air tanah, penurunan di bawah mintakat muka air tanah berlangsung lebih lambat. Faktor kondisi fisik erat kaitannya dengan kemungkinan terjadinya pencemaran air tanah. LeGrand dalam Todd (1983), mengevaluasi potensi pencemaran pada air tanah dengan mendasarkan atas kedalaman sumber pencemar dari permukaan air tanah, penyerapan oleh material pada mintakat di atas muka air tanah, permeabilitas akifer, gradien muka air tanah dan jarak horisontal antara sumur (titik observasi) dengan sumber pencemar. Konsep yang

dikemukakan ini diteraplcan dalam hubungan antara tempat pembuangan limbah dan sumur sebagai titik pemantau. Makin dekat jarak vertikal antara sumber pencemar dengan muka air tanah makin besar kemungkinan air tanah tersebut mengalami pencemaran. Ukuran butir berpengaruh terhadap penyerapan pencemar. Makin halus butir material batuan pada mintakat di atas muka air tanah, makin besar daya serapnya terhadap pencemar. Sebagai lapisan pembawa air, akifer menentukan pula terhadap penyebaran pencemar. Akifer dengan permeabilitas tinggi memungkinkan pencemar untuk menvebar dengan cepat dan jauh. Gradien muka air tanah berpengaruh terhadap kecepatan aliran air tanah; dengan demikian berpengaruh pula terhadap gerak dan penyebaran pencemar yang terdapat di dalamnya. Makin besar gradien muka air tanah akan makin besar kemungkinan pencemar di dalamnya menyebar lebih cepat dan lebih jauh. Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah jarak horisontal antara sumur dengan sumber pencemar. Makin dekat jarak antara sumur dengan sumber pencemar makin besar kemungkinan air tanah dalam sumur mengalami pencemaran. Walaupun demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa faktor lain seperti vegetasi yang mati dan membusuk dapat memberikan pencemar ke dalam air tanah. Nitrat dan kalium adalah contoh hasil pembusukan yang dapat mempakan pencemar dalam air tanah. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut di atas, LeGrand membuat nilai skala untuk setiap faktor. Skala yang rendah diberikan bagi keadaan yang memberi kemungkinan terjadinya pencemaran yang terburuk. Nomogram untuk menentukan skala atau skor tersebut di atas. Dengan menjumlahkan nilai skor yang diperoleh dari setiap faktor, tingkat kemungkinan air tanah terkena pencemaran dapat ditentukan. Kemungkinan terbesar air tanah terkena pencemaran ditunjukkan oleh skala 0-4; sedangkan 4-8 menunjukkan kemungkinan besar terjadi pencemaran; 8-12 memberi indikasi terjadinya pencemaran, ada kemungkinan tetapi, belum tentu, nilai 12-25 menunjukkan keraguan terjadinya pencemaran dan nilai 25-35 diberikan pada kondisi tidak mungkin terjadinya pencemaran terhadap air tanah. Secara hipotetik, penyebaran sumber pencemar dapat digambarkan sebagai tabung (flume). Bentuk dan ukuran tabung tersebut tergantung dari kondisi geologi setempat, aliran

air tanah, jenis dan kadar pencemar, kesinambungan dari limbah yang dibuang dan aktivitas manusia yang dapat merubah atau memodifikasi sistem air tanah. Kadar pencemar di dalam air tanah cenderung menurun sejalan dengan waktu dan jarak yang dilaluinya. Penurunan kadar pencemar tersebut melibatkan banyak mekanisme di dalamnya, termasuk penyaringan (filtrasi), penyerapan (sorption), proses-proses kimia, dekomposisi oleh mikrobiologi dan pengenceran (dillution). Laju penurunan kadar pencemar tersebut tergantung pula dari jenis pencemar dan kondisi hidrogeologi setempat. Jenis dan besaran kadar pencemar akan berpengaruh terhadap kualitas ainanah yang terkena pencemar tersebut. Telah dikemukakan bahwa kadar pencemar akan makin bertambah rendah dengan bertambah jauhnya air tanah dari sumber pencemar. Jenis pencemar dan sumber pencemar beraneka. Telah disebutkan bahwa berdasarkan sumber pencemarnya ada empat sumber pencemar utama. yaitu sumber pencemar dari tempat permukiman. dan industri, dari pertanian dan sumber pencemar lain di luar ketiga sumber pencemar tersebut. Dispersi pencemar erat pula kaitannya dengan sifat aliran air tanah yang bersifat laminer. Telah dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa kadar pencemar dalam air tanah akan makin bertambah rendah dengan bertambah jauhnya air tanah dari sumber pencemar. Jenis pencemar dan sumbernya sangat beraneka. Sifat batuan terutama permeabilitas dan porositasnya sangat menentukan difusi, adveksi, dan dispersi bahan pencemar dalam air tanah. Menunjukkan faktor-faktor yang berkaitan dengan sifat batuan yang mempengaruhi dispersi pencemar dalam air tanah. Contoh hipotetik penyebaran pencemar dari sumber pencemar, yaitu searah dengan aliran air tanah, baik untuk pencemar yang bersifat kontinu (a) maupun yang hanya bersifat sesaat (b). Makin jauh dari sumber pencemar, kadar pencemar tersebut akan makin bertambah rendah. Aliran pencemar tidak hanya terjadi pada arah horisontal, tetapi juga ke arah vertikal. Tentu saja aliran zat pencemar akan sejalan dengan aliran air tanah, baik pada arah vertikal maupun pada arah horisontal. Persebaran pencemar air tanah dapat berlangsung dalam jarak yang sangat jauh dan dalam waktu yang relatif lama. Sifat batuan sangat menentukan penyebaran bahan pencemar dalam air tanah. Merupakan salah satu contoh penyebaran pencemar dalam dua jenis batuan yang berbeda permeabilitasnya.

Pada batuan yang lebih permeabel bentuk dari persebaran pencemar dalam air tanah cenderung lebih memanjang daripada yang terjadi pada batuan yang kurang permeabel. Dalam contoh tersebut diambil gravel yang merupakan batuan permeabel dibandingkan pasir. Pencemar yang berupa klorida dapat menempuh jarak 5 mil selama 16 tahun pada batuan pasir, sedangkan pencemar kromium dapat mencapai jarak 4000 kaki dalam waktu 13 tahun.

BAB III METODOLOGI OBSERVASI


3.1 Tempat dan Waktu Observasi

Observasi mulai dilaksanakan pada bulan November sampai dengan bulan Desember di Komplek Perumahan Perumahan Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

3.2 Metode Observasi Metode yang digunakan dalam penilitian ini diantaranya sebagai berikut: Studi pustaka dari buku-buku dan browsing internet. Wawancara, dilakukan terhadap dua warga di lokasi. Penyebaran kuisioner, dilakukan kepada 20 warga di lokasi.

Beri Nilai