Anda di halaman 1dari 37

No.

13,1978
Cermin
Dunia
Kedokteran
lnternational Standard Serial Number : 0125 — 913X

Majalah triwulan
diterbitkan oleh :
Pusat Penelitian dan Pengembangan P.T. Kalbe Farma dan
dipersembahkan secara cuma-cuma

Daftar isi

4 EDITORIAL

ARTIKEL

5 KORTIKOSTEROID DAN KELAINAN MATA


8 GONOBLENNORRHEA NEONATORUM

13 CORPUS ALIENUM INTRA OCULI


15 KOMPLIKASI OFTALMOLOGIK DARI MENINGITIS
19 HERPES ZOSTER OPHTHALMICUS

21 EKSTRAKSI CATARACT

24 CARCINOMA COLON DI R S SUMBER WARAS

28 KERACUNAN Pb.
Pcmeriksaan mata dengan slit-lamp.

34 PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN DIFICIENCY VITAMIN A.

36 RESENSI BUKU
37 HUMOR ILMU KEDOKTERAN
38 CATATAN SINGKAT
41 RUANG PENYEGAR DAN PENAMBAH ILMU KE-
DOKTERAN
42 PENGALAMAN PRAKTEK
43 KAMI TELAH MEMBACA UNTUK ANDA : ABSTRAK—ABSTRAK
45 UNIVERSITARIA
Penglibatan yang cukup jelas merupakan unsur mutlak untuk kehidupan yang nor-
mal. Kekurangan penglihatan atau kehilangan indera ini akan mengakibatkan derita yang
besar sekali. Kebutaan oleh kekurangan vitamin dan/atau infeksi masih sering ditemukan
ditanah air kita.
Sesungguhnya banyak yang dapat dilaksanakan oleh dokter yang berpraktek umum
dalam usaha ikut mengurangi bahaya kebutaan.
Sebagai pos terdepan pelayanan kesehatan, seperti di Pusat Kesehatan Masyarakat,
kelainan-kelainan pada mata paling dini dapat dijumpai untuk mana dapat diberikan pe-
tunjuk-petunjuk dan/atau pengobatan yang cepat dan tepat.
Dengan tidak mengirim tiap penderita sakit mata ke dokter ahli mata ia akan ikut
meringankan biaya pengobatan dan juga mengurangi kehilangan waktu untuk penderita-
penderita tadi. Sekaligus ia akan mengurangi kepadatan pengunjung Bagian Ilmu Penyakit
Mata di rumah sakit.
Tentunya semua ini perlu disertai dengan sikap mawas diri agar tindakan-tindakan ta-
di justru tidak merugikan penderita-penderita penyakit mata.
Dalam nomor ini telah kami sajikan naskah-naskah yang mudah-mudahan dapat mem-
bantu teman-teman sejawat dalam melakukan tugas mulia ini.

Redaksi.

4 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


KORTIKOSTEROID & KELAINAN MATA

dr Tjahjo Nugroho
Bagian Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang

PENDAHULUAN nyai efek yang lebih kuat.


Sekitar tahun 1950 Kortikosteroid mulai dikenal oleh dunia WARNER dan HANSEN menggunakan preparatbetamethasone
kedokteran. Preparat Kortikosteroid (K S) terus dikembang- valerate dalam konsentrasi 0, 1% dan 1% sebagai obat kulit,
ternyata tidak ada perbedaan respons pada pengobatan
kan, banyak modifikasi dan sintesa baru dari preparat ini,
Discoid Lupus Erythematosus.
sehingga saat ini K S bukan merupakan obat baru lagi. Ma-
ALLAN KUPFERMAN dan HOWARD M LElBOWIIZ dalam
lah ada yang menganggap bahwa K S pada keadaan tertentu
penyelidikannya dengan prednisolone acetate 0,125% dan
merupakan "a life saving drug". Memang tidak perlu disang-
1 % sebagai tetes mata. Hasilnya tidak ada perbedaan yang
kal lagi, misalnya menghadapi suatu anaphylaktik shock,
serangan asma yang berat dan sebagainya preparat K S ini bermakna dari konsentrasi kedua preparat tersebut pada
sangat berguna sekali. cornea maupun dalam cairan humor. Juga tidak ada perbedaan
Dalam dunia farmasi preparat K S dikenal sebagai tablet, yang bermakna mengenai kemampuan untuk menekan infla-
masi pada cornea.
spray, suntikan,supositoria, salep dan obat tetes.
Pada korteks Adrenal disintesa tiga macam steroid yaitu :
( i ) Oestrogen steroid ( ii ) Androgen steroid ( iii ) Untuk mengetahui obat-obat mata yang berisi K S dibawah ini
Kortikosteroid. Yang terakhir ini mencakup : tercantum beberapa nama salep mata atau tetes mata.
(1) Hydrocortison (cortisol) yang berfungsi sebagai
glucocorticoid dan mempunyai peran dalam mengatur me- Salep mata : Tetes mata :
tabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Cetapred (Alcon) Adremycin (Organon )
(2) Aldosteron yang berfungsi sebagai mineralocorticoid Cortamycin (Dupa) Cendocorton ( cendo)
Cortimycin (Medial) Cclestone (Schering U S A)
dan mempunyai peran dalam mengatur metabolisme air dan Dellamicos (Dupa) Cendoxitrol (Cendo)
garam-garam. Enpicortin (Nicholas) Decadron ( M S D)
Kerja K S pada pemakaian topikal umumnya adalah sebagai Kaltetracort (Kalbe) Neocortcf (Upjohn)
berikut : Kemicort (C Erba) Sofradex ( Roussel)
Maxitrol (Alcon) Sterofrin ( Alcon )
• anti inflamasi. Scheroson F (Schering A G) dan lain-lain.
• menghambat reaksi allergi. Terracortil (Pfizer)
• mengurangi/membatasi permeabilitas membran. Ultralan (Schering A G)
• menekan terjadinya jaringan granulasi dengan jalan
mencegah proliferasi sel.
Pemakaian K S secara sistemik umumnya dimulai dengan
• mengakibatkan vasokonstriksi, sehingga ektravasasi se-
dosis yang tinggi, kemudian secara bertahap dosis diturunkan
rum dicegah dan mengurangi oedem serta rasa gatal.
sampai mencapai dosis yang menetap dan optimal atau do-
Pada pengamatan telah diketahui bahwa efek K S topikal sis diturunkan kemudian terapi dihentikan. Alasan ini meng-
akan menurun bila dipergunakan dalam jangka lama (beberapa ingat adanya efek-efek atau komplikasi-komplikasi yang tidak
minggu). Tetapi efek ini akan segera muncul kembali bila menguntungkan. Bila terjadi keracunan K S keadaan ini dise-
digunakan preparat K S yang lain atau bila aplikasi K S but Hypercorticisme atau manifestasi Cushingoid (KORST ).
dihentikan sementara untuk kemudian dipakai lagi. Gejala Saat ini telah banyak beredar macam-macam modifikasi
toleransi yang muncul kembali ini disebut Tachyphylaxis. dari preparat K S yang tentunya dengan sifat-sifat farmakologis
Mengingat adanya gelaja tersebut maka K S topikal sebaiknya yang berbeda-beda. Adapun perbedaan ini terutama ditekankan
digunakan secara periodik dari pada dipakai secara kontinyu. pada efek anti-inflamasi dan efek retensi natrium. Untuk
Bagaimana tentang konsentrasi suatu preparat K S pada mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari perbedaan efek
pemakaian topikal ? Pada umumnya dianggap bahwa preparat ini dikutipkan tabel dari preparat-preparat K S dibandingkan
dengan konsentrasi tinggi akan bekerja lebih baik dan mempu- dengan Hydrokortison ( PEARN).

Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978 5


RELATIVE ANTI RELATIVE SODIUM q Lues, Tbc, Lepra. – Manifestasi pada mata sebagai kerati-
PREPARAT
INFLAMATORY INDEX RETAINING INDEX
tis profunda atau Uveitis. Pada keadaan ini K S dapat menekan
Hydrocortison 1 1 inflamasi, mengurangi oedem,menyembuhkan infiltrat cornea
Cortisone 0,8 0,8 dan mencegah terjadinya jaringan parut pada cornea.
Prednisone 4 0,8 q Syndroma arteritiscranialis, syndroma arteritis temporalis,
Prednisolone 3,5 0,8 Giant cell arteritis.– Penyakit ini kebanyakan dijumpai pa-
Methyl Prednisolone 5 0
Triamcinolone 5 da orang tua sekitar umur 50 tahun. Arteria temporalis me-
0
Betamethasone 25 0 nebal, berbenjol-benjol dan tidak berdenyut. Dapat menye-
Dexamethasone 25 0 babkan kebutaan yang permanen karena terjadinya thrombosis
Fludrocortisone 15 125 arteria centralis retinae. Disini preparat K S perlu diberikan
segera untuk mencegah kebutaan.
Dibawah ini disusun beberapa macam tablet/injeksi K S yang ada dalam
q Neuritis Optica. – K S pada keadaan ini cepat mengembali-
pasaran
( 1 ) Prednisone 5 mg/Prednisolone 5 mg : kan visus yang menurun dengan jalan mengurangi oedema dan
Prednison ( Soho ) menekan proses inflamasi pada nervus opticus.
Dellacorta ( Dupa ) q Ocular Myasthenia. – Kasus ini sering sukar sembuh dengan
Hostacortin ( Hoeschst ) anti-cholinesterase. Dengan preparat K S gejala diplopia dapat
Pehacort ( Phapros )
pelan-pelan hilang dan kadang-kadang parese/paralyse otot-otot
( 2) Cortisone acetat 25 mg/ml : Cortone injeksi ( MSD )
( 3) Betamethasone 0,5 mg : Celestone ( Schering USA) mata dapat disembuhkan. (GIBBERD dkk 1971, FISCHER
( 4) Triamcinolone4 mg : Drenacort ( Dupa ) & SCHWARTZMAN 1974 ).
Kenacort ( Squibb) q Pseudo tumor orbitae. – Suatu proses yang membutuhkan
( 5 ) Fluocortolone : Ultralan ( Schering A G)
ruangan di dalam orbita dan berakibat exophthalmus. Hal ini
( 6) Dexamethasone 0,5 mg : Cetadexon ( Soho )
Corsona ( Phapros ) tidak termasuk neoplasma, haematoma, granulasi spesifik
Cortoral ( Konimex ) maupun banal dan endokrin exophthalmus. Banyak kasus-
Decadron ( MSD ) kasus ini berhasil baik dengan terapi Prednison. Proptosis dapat
Decilon—C ( Westmont ) kembali, perbaikan pergerakan bola mata, kenaikan visus dan
Deltafluorene ( Lepetit ) perbaikan keadaan fundus mata ( JE L L IN E K 1969 ). Teta-
Dexanel ( Nelco )
pi...................................pseudo tumor orbitae ini sukar didiagnosa.
Dexa—M ( Dexa )
Dexascheroson ( Schering A G ) Perlu difikirkan diferensial diagnosa yang luas antara lain :
Kalmethason ( Kalbe ) thyreotoxicosis, reticulosis, tumor nasopharynx, tumor orbitae,
Oradexon ( Organon ) tumor cranium bagian depan.
dan lain-lain.
KOMPLIKASI MATA PADA PENGOBATAN DENGAN
KELAINAN MATA YANG MERUPAKAN KONTRA INDI - KORTIKOSTEROID
KASI PEMBERIAN KORTIKOSTEROID q Nephrotic Syndrome. – Pengobatan penyakit ini pada anak-
q Trachoma.–Preparat K S akan mengakibatkan Trachoma anak berhasil baik dengan K S. Tetapi dibalik keberhasilan ini
yang sudah tenang menjadi aktip kembali. kerapkali timbul reaksi sampingan berupa posterior subcapsular
q Herpes Corneae. –Penyakit ini disebabkan oleh virus Herpes manifestasi
cataract. Terutama pada anak-anak dengan
Simplex dan K S merupakan kontra indikasi. Cushingoid.
q Semua kelainan cornea dimana Test Fluorescein hasilnya BLACK R L( 1960 ) meyakinkan adanya hubungan
positip.– Ini berarti ada kerusakan epitel cornea. Karena K S yang pasti antara Posterior subcapsular cataract dengan K S.
akan menghambat epitelisasi akibatnya kerusakan cornea akan LORETO dkk mendapatkan 16 kasus cataract tersebut dari
menjadi lebih parah. 48 penderita Nephrotic Syndrome yang mendapat pengobatan
q Glaucoma.– Pemberian K S pada kasus suspek glaucoma dengan K S.
simplex akan jelas menaikan tekanan intra okuler. Akibatnya
q Pseudo tumor cerebri. – ( Meningkatnya tekanan intrakranial
saraf optikus akan mengalami kerusakan dan penglihatan
yang benigna ). Dijumpai pada anak-anak dengan terapi K S
menjadi kabur. Pada 92% kasus glaucoma simplex ternyata
yang lama, kira-kira setahun dimana setelah itu terapi dihenti-
sangat sensitip terhadap pemberian K S topikal ini.
kan. Gejala yang timbul adalah : sakit kepala, penglihatan
JOHN F BIGGER dkk memberikan K S topikal pada populasi
kabur, bendungan papila N II dan kadang-kadang diplopia ka-
normal untuk beberapa minggu dan didapatkan perubahan-
rena terjadi parase saraf Abducens.
perubahan tekanan intra okuler sebagai berikut :
q Exophthalmus.– Keadaan ini terjadi pada pemakaian K S
• kenaikan minimal 58 %.
yang bertahun-tahun lamanya ( HENKES 1968 ).
•kenaikan sedang 36 %.
• kenaikan maksimal 6 %. q Alopecia areata.– Kelainanini yang diobati dengan suntikan
suspensi K S intradermal setempat dapat menyebabkan ke-
KELAINAN MATA YANG MERUPAKAN INDIKASI PEM- butaan karena timbulnya emboli pada fundus mata. Dijumpai
BERIAN KORTIKOSTEROID tiga kasus wanita yang mendadak kabur penglihatannya
q Juvenile Rheumatoid Arthritis.– Penyakit ini sering mem- pada satu mata yang homolateral dengan tempat suntikan. Dua
berikan komplikasi Iridocyclitis/Uveitis. Efek K S pada ke- wanita tadi akhirnya menderita kebutaan permanen, sedang
adaan ini baik sekali. wanita lain visus perlahan-lahan dapat kembali lagi (DEBRA

6 Cermin Dunia Kedokteran No. 13 1978


RICCIATTI & ROBERT S LESTER ). KEPUSTAKAAN
1. BIGGER et al : Correlation responsc with primary open angle
glaucoma and ocular corticostcroid scnsitivity. Am J Oph 79
KESIMPULAN ( 1 ), Jarr 1975.
Jelas sudah bahwa K S merupakan obat yang tidak boleh 2. COST W S: Toepassing en complicaties van corticosteroid
therapie. Ned T V G. No : 39 1508, 1977.
diabaikan. Tetapi betapapun baiknya efek K S bagi sesuatu
3. FORMAN et al : Reversibility of corticosteroid associated
penyakit, masih perlu juga diperhatikan adanya kontra indikasi cataract in children with the nephrotic syndrome. Am JOph 84
pada saat K S mutlak diperlukan. Karena yang dihadap bukan ( 1):75,1977.
saja satu organ tertentu, tetapi manusia secara keseluruhan. 4. Indonesia Index of Medical Specialties. 5 ( 3 ) : 97 - 188, 191,
Misalnya untuk mengobati penyakit mata dengan K S perlu Oct 1976.

diteliti lebih dahulu apakah penderita menderita hypertensi, 5. KORST J K : De toepassing van corticostcroiden in de
rheumatologie. Ned T V G. 40 : 1554, Okt 1977,
diabetes mellitus, ulcus ventrikuli, tuberculosis, radang ginjal 6. KUPFERMAN
ophtalmic et al : Biological cquivalence of
yang berat, infeksi virus yang akut, gangguan psyche, epilepsi, prednisolone acetate suspensions. Am J Oph 82 ( 1) : 109,
osteoporosis dan sebagainya ............ dan sebagainya. Akhirnya July 1976.
pada penggunaan K S perlu diusahakan : 7. PEARN J H: Use of corticosteroids in chlidhood discase.
Med Progr 3 (11) : 23, Nov 1976.
•jangka pengobatan yang pendek. 8. RICCIATTI et al : Topical corticosteroid therapy. Mod Med of A.
14 ( 1 ) : 11, Jan 1978.
•dosis terapi yang rendah. 9. SNEDDON I B : Clinical use of topical corticostcroids.
•frekwensi terapi yang jarang. Med Progr 3 ( 9 ) : 39, Sept 1976.
10. STAAL A : Corticosteroiden in de neuralogie. Ned T V G 18 :
•mengingat kontra indikasi. 786, Mei 1976.

Sambungan dari halaman .................. 46


kin dilakukan. dalam pengobatan tuberkulosis paru, bukan saja lebih murah
Banyak lagi topik-topik menarik yang dibicarakan selama dibanding pemeriksaan radiologik tetapi juga lebih bersifat
dua hari symposium tersebut. Sebagian besar membahas seca- informatif dalam segi diagnostik ; penentuan prognosa serta
ra umum keadaan darurat yang perlu diketahui oleh dokter- penentuan gagal atau kambuhnya penyakit. Selanjutnya dika-
dokter umum dalam tugasnya sehari-hari. takan oleh pembicara bahwa evaluasi radiologi dapat me-
Nampaknya Panitia cukup berhasil dalam penyelenggaraan, nyesatkan pengobatan, sehingga pengobatan yang berlebihan
hal ini terbukti dari hasil questionair yang berhasil dikumpul- atau salah pengobatan dapat terjadi. q
kan serta langsung disajikan pada seluruh peserta waktu pe-
nutupan symposium. Dikatakan oleh Panitia kemung-
kinan dalam waktu dekat akan diadakan symposium serupa
yang akan membahas topik-topik kedaruratan, berhubung
luasnya bidang dan besarnya minat. q
DOKTER BARU FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PAJAJARAN
SYMPOSIUM TUBERKULOSA MASA KINI
Pada tanggal 11 Juli 1978, Fakultas Kedokteran
Universitas Pajajaran Bandung telah melantik 12 dok-
Pada 23 September 1978 di Surabaya telah berlang- ter baru lulusan periode 1I-1978. Kedua belas dokter
sung symposium Tuberkulosa Masa Kini. Symposium yang di- baru tersebut adalah :
selenggarakan oleh Ikatan Dokter Ahli Paru Indonesia Cabang
Surabaya ini diikuti oleh kurang lebih 150 peserta terutama dr Diding Sjamsudin
datang dari kota kota sekitar Surabaya, serta beberapa peserta dr Chusnan Dasuki
dari Jakarta. dr Kriswandi Kaswanda
Pada Symposium tersebut dibahas 19 naskah kerja yang di- dr Subagdja Nata'atmadja
bawakan oleh pembicara dari Surabaya, Yogyakarta, Jakarta dr Suparman Gagan
dan seorang pembicara dari Perancis. Masalah yang dibahas dr Abdul Bachruman Sjukur
seluruhnya berkaitan dengan Tuberkulosis. Mulai dari Program dr Maria Ulfah Asmuni
pemberantasan tuberkulosis di Jawa Timur, Reaksi Tuberkulin, dr Ny Lyna Soertidewi N K
Isolasi kuman tbc, Aspek pathologik anatomik, Pengelolaan dr Ny Mathilda Ivonne I K
penderita, Pengalaman penggunaan berbagai jenis tuberkulos- dr Agustine Poernomowati
tatika, serta berbagai aspek dari beberapa cabang ilmu kedok- dr Herman Wihandojo
teran yang mempunyai kaitan dengan tuberkulosa. dr Eddy Suhardi Sarim
Hal yang cukup menarik yang dibawakan oleh seorang pem- Dengan demikian jumlah dokter yang telah dihasil-
bicara dari Jakarta adalah, antara lain dikatakan bahwa peme- kan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran
riksaan bakteriologik lebih sensitif dari pada radiologik. sejak berdirinya tahun 1957 sampai periode 11-1978
Dimana pemeriksaan bakteriologik merupakan sarana penting adalah 986 dokter. q

Cermin Dunia Kedoktcran No. 13. 1978 7


GONOBLENNORREA NEONATORUM

dr Siti Tjahjono, dr Widagdo


Bagian Mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/
R S Dr Kariadi
Semarang

merupakan komplikasi terberat.


PENDAHULUAN. Pada stadium ini pemeriksaan preparat hapus sekret mata
Sampai saat ini Gonorrhea masih merupakan problem di akan dijumpai kuman N gonorrhoeae serta leucocyt p m n.
seluruh dunia, bahkan di negara-negara yang sudah sangat maju
q Stadium penyembuhan.— Pembengkakan mulai berkurang,
sekalipun. Suburnya prostitusi, kurangnya kesadaran berobat
sampai sembuh; kurangnya pengertian masyarakat serta nyeri berkurang, discharge akan menghilang dalam waktu
adanya phenomena pingpong mempersulit pemberantasan dua sampai tiga minggu akan tetapi cornea sudah mengalami
gonorrhea. Malangnya penyakit ini bisa menyebar ke mata, kehancuran total dan timbul jaringan parut sedangkan con-
junctiva tetap merah dan tebal sampai beberapa minggu.
bahkan juga mengenai mata bayi-bayi yang baru lahir.
Diagnosa gonoblenorrhea neonatorum ditegakkan dengan
Penyakit ini termasuk golongan oculo-genital disease
adanya gejala klinik yang tersebut diatas dan pemeriksaan
yakni penyakit dari tractus genitalis yang dapat menyebar
preparat hapus sekret mata yang mengandung kuman N
ke mata. Lebih lanjut dapat merusak cornea dan lebih ke gonorrhoeae.
dalam lagi menyebar ke rongga orbita berakibat menurunnya
visus bahkan kebutaan total. DIFFERENTTAL DIAGNOSA
Berbagai usaha telah diambil guna melindungi mata bayi- q Inclusion conjunctivitis. — Suatu conjunctivitis purulenta
bayi yang baru dilahirkan dari penyakit ini, namun masih yang disebabkan oleh Chlamidya oculo-genitale. Radang ini
didapatkan beberapa kegagalan. sering menyerang bayi-bayi yang lahir dari ibu yang men-
derita urethritis nonspecificans. Keadaan penyakitnya tidak
GEJALA KLINIK sehebat gonoblenorrhea. Terjadi conjunctivitis yang diffus
Gonoblennorrhea neonatorum adalah conjunctivitis puru- dan dapat sembuh sendiri tanpa jaringan parut atau rusaknya
lenta yang disebabkan Neisseriagonorrhoeae. Kuman-kuman cornea. Masa inkubasi adalah sekitar tujuh hari dan peme-
yang berada pada jalan lahir menyebabkan infeksi pada mata riksaan hapus sekret mata tidak ditemukan kuman gono-
bayi yang baru dilahirkan. Masa inkubasi menurut MAY adalah coccus. Pada pemeriksaan scraping epithel conjunctiva di-
12 jam sampai tiga hari, sedang menurut DUKE ELDER dapatkan inclusion bodies.
adalah satu sampai tiga hari.
qDacryostenosis/dacryocystitis. Pada kelainan ini yang
Pada penyakit ini dikenal beberapa stadium :
menonjol adalah keluarnya sekret serous (D D dengan gono-
q Stadium infiltrasi. — Setelah masa inkubasi, mata terlihat
blenorrhea stadium infiltrasi). Mata nrocos terus menerus
bengkak dan merah, palpebra sangat oedematous dan tegang.
dan terlihat kotor. Keadaan ini juga sering mengenai bayi.
Untuk dapat melakukan pemeriksaan sering mata harus kita
Pada pemeriksaan hapus sekret mata tidak ditemukan kuman
buka dengan spatula. Dari rima palpebra keluar sekret se-
gonococcus, pada spoeling canalis lacrimalis hasilnya buntu.
rous/sero-sanguinus, sedikit purulent. Kelenjar lymphe preau-
riculair dapat pula membengkak, bahkan dapat sampai timbul KOMPLIKASI
supurasi. Suhu tubuh naik. Pada preparat hapus sekret mata q Ulkul cornea. — Letak ulkus umumnya di marginal, akan
yang dicat dengan pewarnaan Gram, didapatkan kuman N tetapi dapat juga disentral. Ulkus corneae sentralis inilah yang
gonorrhoeae dan erythrocyt.
paling cepat mengalami nekrosis dan terjadi perforasi.
q Stadium blennorrhea . — Setelah lima hari supurasi makin
menghebat dan sekret menjadi purulent. Pada saat ini mudah
timbul ulkus cornea karena epitel cornea rusak disana-sini q Endophthalmitis , Panophthalmitis. Kedua hal ini dapat ber-
disertai tanda-tanda nekrosis. Bila keadaan ini dibiarkan tanpa akhir dengan kebutaan total.
pengobatan, terjadilah ulkus cornea perforatus dan kuman
mulai masuk ke dalam bola mata dan mengakibatkan endoph- PROGNOSA
thalmitis. Kuman bahkan dapat menjalar ke jaringan rongga Apabila penderita mendapat pengobatan yang baik pada
orbita dan menimbulkan tanda-tanda panophthalmitis. Ini minggu pertama(masih dalam stadium infiltrasi), biasanya akan

8 Cermin Dunia Kedokteran No. 1 3. 1978


sembuh sempurna tanpa bekas. Sedangkan bila pengobatan anjuran pemakaian 10 ml larutan AgNO 3 dalam flexiole.
pada minggu kedua maka penyembuhannya akan disertai Larutan ini tidak akan mengendap pada dinding dan dapat
leucoma atau leucoma adhaerens. Apabila pengobatan baru disimpan selama setengah tahun.
diberikan pada minggu ketiga, maka walaupun dapat sembuh q Prophylaxis dengan antibiotika. Drug of choice adalah
akan disertai kebutaan total akibat terjadinya phthisis bulbi. penisilin, walaupun pemakaian tetes penisilin banyak yang
Untunglah pada umumnya penderita-penderita gonoblen- menentangnya. Pada percobaan-percobaan dikatakan hasil-
norrhea neonatorum datang berobat pada minggu pertama, nya cukup baik namun sering menimbulkan hypersensitivity
sebab perhatian orang tua terhadap bayi biasanya cukup baik dan mata menjadi kemerahan. Juga dilakukan percobaan
sehingga cepat mencari pengobatan. percobaan dengan erythromycin (WOCHTER dan PENNO-
YER, 1956) dengan hasil baik. MARGILETH (1757) men-
PENGOBATAN coba memakai bacitracin, sedangkan MARTINEZ dkk (1952)
Gonoblennorrhea neonatorum stadium infiltrasi dan mencoba efek pemakaian Terramycin dengan hasil baik.
stadium blennorrhea sangat infeksius, sehingga perlu di Menurut MASSEY dkk (1976) pemakaian tetracyclin H Cl
rawat dan diisolasi. Sekret harus selalu dibersihkan dari per- topikal pada mata hanya mempunyai efek bakteriostatik.
mukaan mata. Dalam bentuk salep 1 — 2%, efek bakteriostatiknya hanya
Topikal diberikan tetes mata, umumnya tetes antibiotika sekitar enam jam.
seperti Neosporin; Statrol; Soframycin atau Sodium penicil- Bentuk-bentuk lain lebih singkat lagi, dalam bentuk oli
lin yang dibuat tetes mata 10.000 IU/cc. Pemberian harus 1 % efeknya kurang dari dua jam. Sedangkan larutan dalam
sesering mungkin, dapat 15 menit, 30 menit atau tiap jam air 1% atau 2% efek bakteriostatiknya kurang dari 20 menit.
tergantung hebatnya proses. Pengobatan dihentikan sampai Hasil penyelidikan ini sesuai dengan pendapat BARSAM
pemeriksaan sekret mata tidak ditemukan N gonorrhoeae dkk yang berpendapat bahwa pencegahan dengan AgNO 3
lagi. Juga diberikan antibiotika secara sistemik. 1 % (yang mempunyai efek bakterisid) hasilnya lebih baik
bila dibandingkan dengan cara-cara yang lain.
PENCEGAHAN
Yang paling utama adalah pengobatan terhadap ibu bayi. DATA YANG DAPAT DIKUMPULKAN DI BAGIAN MATA
Sedang terhadap bayinya dikenal berbagai macam cara pen- FK-UNDIP/RSDK
cegahan/prophylaxis. Angka-angka gonoblennorrhea neonatorum di Indonesia
kurang kami ketahui, juga jenis prophylaxis apa yang diguna-
q Prophylaxis secara CREDE. Usaha pencegahan ini dicetus kan di kota-kota lain di Indonesia ini. Sebagai ilustrasi kami
kan pada tahun 1881 oleh CARL SIEGMUND FRANC CRE- laporkan kasus-kasus gonoblennorrhea neonatorum yang
DE (1879). PadE metoda ini dipakai AgNO 3 2% satu tetes berobat dibagian mata F K-UNDIP/RSDK Semarang selama
pada mata bayi-bayi yang baru dilahirkan. AgNO 3 mempu- empat tahun (1974 — 1977).
nyai daya bakterisid terhadap kuman gonococcus. Cara ini
ternyata sangat efektif, dimana timbulnya ophthalmia neo- TABEL 1 : JUMLAH PENDERITA GONOBLENNORRHEA
YANG BEROBAT DI BAGIAN MATA F K-UNDIP/
natorum diklinik obstetri CREDE di Leipzig ini berhasil RS DR KARIADI, SEMARANG (1974-1977).
diturunkan dari 7,8% menjadi hanya 0,17%.
Di Amerika, BARSAM (1958) menyelidiki jumlah kebuta- Gonoblennorrhea Gonoblennorrhea
an akibat gonoblennorrhea neonatorum pada anak-anak Neonatorum Anak & Dewasa Juml se-
sekolah. Angka ini dibandingkan dengan jumlah bayi-bayi Th
luruhnya
Pria Wanita Jumlah % Pria Wnt Jumlh
yang mendapat prophylaxis CREDE pada tahun anak-anak
tersebut dilahirkan. Ternyata pada tahun 1958 didapatkan 1974 16 17 33 (76,9%) 3 7 10 43
angka 0,3%. 1975 13 10 23 (56,1%) 8 10 18 41
Silver Conjunctivitis atau chemical conjunctivitis sering 1976 14 20 34 ( 61,8%) 14 7 21 55
terjadi pada pencegahan secara CREDE ini. Tetapi keadaan 1977 15 22 37 ( 49,3%) 24 14 38 75
ini menjadi jauh berkurang setelah digunakan konsentrasi 58 69 127 (59,4%) 49 38 87 214
AgNO 3 yang lebih encer, yaitu 1%. Tetapi disini pelaksanaan-
nya menjadi kurang praktis sebab AgNO 3 inipun sering ber- Dari kedua tabel 1 dan 2 terlihat jelas bahwa penderi-
ubah konsentrasinya. Apabila mengalami evaporasi dan de- ta-penderita gonoblennorrhea neonatorum baik yang ber-
komposisi oleh cahaya, konsentrasi menjadi lebih pekat dan obat maupun yang dirawat, selalu lebih banyak dibandingkan
ini bisa menimbulkan silver conjunctivitis lagi. Kekurang- penderita-penderita dewasa dan anak-anak. Prosentase rata-
praktisan dan mudah berubahnya konsentrasi AgNO 3 1 % rata penderita neonatus yang berobat = 59,4% sedangkan yang
ini, menyebabkan pemakaian AgNO 3 1 % kurang disukai. dirawat = 72,9% dari seluruh penderita. Ini menunjukkan
Untuk mengatasi ini semua telah dilakukan berbagai usa- perhatian orang tua terhadap penyakit bayinya jauh lebih
ha. Di negara Belanda diusahakan larutan AgNO 3 yang di besar dibandingkan penderita-penderita yang lebih dewasa,
masukkan dalam ampul untuk pemakaian satu kali. Namun dimana pengobatannya selalu ditunda-tunda atau bahkan tidak
perlu juga berhati-hati terhadap kemungkinan masuknya berobat sama sekali. Kemungkinan lain adalah jumlah kasus
bagian-bagian kecil gelas ke dalam mata. dewasa dan anak-anak memang lebih sedikit dibanding neo-
Pada tahun 1976 LOENDERSLOOT mengutarakan adanya natus.

Cermin Dunia Kedokteran No. 1 3. 1978 11


TABEL 2 :JUMLAH PENDERITA GONOBLENNORRHEA pai sembuh sudah semakin tinggi walaupun belum memuas-
YANG BEROBAT DI BAGIAN MATA F K-UNDIP/ kan benar. Namun harus diingat kemungkinan penuhnya
RS DR KARIADI, SEMARANG (1974-1977). tempat dimana penderita sementara terpaksa berobat jalan.
Dengan penerangan yang lebih intensif dan kesadaran ber-
Th Gonoblennorrhea Gonoblennorrhea Jumlh se- obat yang makin tinggi, diharapkan di tahun-tahun men-
Neonatorum Anak & Dewasa luruhnya
datang tidak ada penderita gonoblennorrhea yang menolak
Pria Wanita Jumlah % Pria Wnt Jumlh untuk dirawat.
KEPUSTAKAAN
1974 3 2 5 (62,5%) 3 — 3 8
1975 13 10 23 (77,0%) 4 2 6 29 1. BARSAM P C: Specific prophylaxis of gonorrheal ophthalmia
1976 12 15 27 (70,1%) 10 1 11 38 neonatorum. New Engl JMed 274:731-734, 1966.
1977 10 21 31 (72,1%) 4 8 12 43 2. CREDE: Report from the obstetrical clinic in Leipzig, Preven-
tion of eye inflamation in the newborn.AmJDisChild 121:3-5,
38 48 86 (72,9%) 21 11 32 118 1971.
3. DUKE ELDER S: System of ophthalmology Vol-lll, part-1.
Apabila kedua tabel tersebut kita perhatikan, tampak London. Henry Kimpton, 1965.
bahwa penderita-penderita yang menolak untuk dirawat se- 4. FORBES G B AND FORBES G M: Silver nitrate and the
makin sedikit. (Perlu diingat bahwa penderita-penderita neo- eyes of the newborn. Am JDis Child
121:1-3, 1971.
natus umumnya berobat pada stadium awal, jadi harus di 5. HEIDE JVD: Blennorrheae neonatorum. Ned T Geneesk
rawat). Pada tahun 1974 terdapat 33 penderita neonatus 121:1190, 1977.
yang berobat. Dari jumlah ini hanya lima penderita yang 6. MASSEY et al: Effect of drug vehicie on human ocular retention
mau dirawat. Dalam tahun 1975 semua penderita neonatus of topically applied tetracycline. Am J of Opht 81 (2):
bersedia dirawat (23 penderita). Sedangkan pada tahun 1976 151-156, 1976.
dan 1977 masih ada tujuh dan enam penderita yang menolak 7. PERRERA C A: May 's manual of the disease of the e ye. 21 th
dirawat. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran berobat sam- ed. Baltimore. William and Wilkins Coy, 1957.

DON'T RISK YOUR GOOD MEDICAL REPUTATION !


Always have a few ampoules of K A L M E T H A S O N E ® ready to save life in
emergency cases :
o ANAPHYLACTIC SHOCK
STATUS ASTHMATICUS
HEPATIC COMA
• PEMPHIGUS VULGARIS
COMPOSITION :
each ampoule contains Dexamethasone Sodium Phosphate
equivalent to Dexamethasone Phosphate ..................... 4.0 mg
DOSAGE:
I.V. or I.M. dose ranges from 4 to 20 mg depending on
the severity of the disease.

PRESENTATION:
Boxes of 3 ampoules of 1 ml KALMETHASONE ® injections.

12 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


CORPUS ALIENUM INTRA O CULI

dr M Sitepu, dr Chairul Bahri A D, dr Mohd D Mahmud


Bagian Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara
Medan.

bola mata dibuka ternyata terdapat corpus alienum di dalam corpus


PENDAHULUAN.
vitreus. Penderita kami beri antlbiotika per injeksi selama lima
Corpus alienum intra oculi adalah suatu kasus emergency, hari dilanjutkan dengan per os selama tujuh hari.
keadaan terdapatnya benda asing di dalam bola mata yang ber-
asal dari luar. Pada keadaan ini harus secepatnya diberikan per- TINJAUAN KEPUSTAKAAN
tolongan untuk mengeluarkan corpus alienum tersebut. Bila
tidak maka dalam beberapa hari saja sudah terjadi perobahan- Apabila suatu corpus alienum masuk kedalam bola mata,
perobahan di dalam bola mata, sehingga kebutaan timbul maka biasanya terjadi reaksi infeksi yang hebat serta timbul
dengan cepat. Penyakit ini jarang kita jumpai di Bagian Pe- k erusakan dari isi bola mata danterjadi iridocyclitis serta pano-
nyakit Mata FK-USU/RSUPP, Medan. Yang sering kita jumpai phthalmitis. Karena itu perlu cepat mengenali benda asing
adalah corpus alienum extra oculi misalnya di cornea dan tersebut dan menentukan lokalisasinya di dalam bola mata
conjunctiva. untuk kemudian mengeluarkannya.
Beratnya kerusakan pada organ-organ di dalam bola mata
KASUS tergantung dari besarnya corpus alienum; kecepatannya ma-
suk; ada atau tidaknya proses infeksi dan jenis bendanya
Seorang laki-laki 39 tahun, pekerjaan supir, telah datang sendiri. Bila benda ini berada pada segmen depan dari bola ma-
ke Bagian Mata RSUPP dengan anamnesa sebagai berikut :
ta hal ini kurang berbahaya jika dibandingkan dengan bila
Mata kanan sakit sejak dua hari yang lalu, hal ini disebabkan waktu
benda ini terdapat di dalam segmen belakang.
pasien memukul besi dengan martil maka pecahan besi masuk ke
dalam mata kanan. Sesudah kejadian (tanggal 24-4-1978) pasien Jika suatu benda masuk ke dalam bola mata, maka akan ter-
langsung berobat ke R S Ballge. Luka tempat masuk benda dijahit jadi salah satu dari ketiga perobahan berikut :
dan tidak nampak adanya benda asing di dalam mata tetapi pada
foto nampak adanya benda asing. Di R S Balige penderita telah di- (1) Mechanical effect
beri suntikan ATS serta antibiotika dan analgetika , lokal diberl (2) Permulaan terjadinya proses infeksi
salep mata (menurut surat pengantar dokter). Pada saat itu peng- (3) Terjadinya perobahan-perobahan spesifik pada jaring-
lihatan masih baik. Kemudian penderita dikirim ke Bagian Mata an mata karena proses kimiawi (reaction of ocular
RSUPP Medan. Pasien datang berobat tanggal 26-4-1978 pada waktu tissue).
diperiksa ternyata penderlta hanya dapat melihat cahaya tetapi
arah cahaya tidak dapat ditentukan. qMechanical effect. — Benda yang masuk ke dalam bola mata
Pada pemeriksaan didapatkan visus mata kanan seper tak terhingga dapat melalui cornea ataupun sclera. Setelah benda ini me-
dengan proyeksi cahaya negatip. Tensi mata kanan secara digital nembus cornea maka ia masuk kedalam kamera oculi ante-
meninggi, kedudukan mata kanan menonjol serta pergerakan ter-
rior dan mengendap kedasar. Bila kecil sekali dapat mengendap
batas. Dldapatkan oedema palpebra superlor dan inferior mata
kanan dengan hyperemi dan oedem dari conjunctiva tarsalis supe- di dalam sudut bilik mata. Bila benda ini terus, maka ia akan
rior dan inferior. Pada conjunctiva bulbi bagian temporal terdapat menembus iris dan kalau mengenai lensa mata akan terjadi
luka yang sudah dijahit disertai dengan oedema dan hyperemi. cataract traumatica. Benda ini bisa juga tinggal di dalam cor-
Pada sclera terdapat luka yang telah dijahit dengan dua jahitan, pus vitreus. Bila benda ini melekat di retina, biasanya kelihat-
nampak adanya ciliar injeksi. Terlihat adanya dilatasi pupil mata
kanan dengan reflek cahaya yang negatip serta tepi yang irreguler. an sebagai bagian yang di kelilingi oleh eksudat yang berwarna
Iris nampak coklat dan kurang berkilat. Lensa mata kanan nampak putih serta adanya endapan sel-sel darah merah, akhirnya
keruh dan corpus vitreus tak dapat dilihat : Fundus oculi tak dapat terjadi degenerasi retina.
dilihat, fundus reflek negatip serta placido test irreguler.
q Infeksi. — Dengan masuknya benda asing ke dalam bola
q Diagnosa. Dari hasil pemeriksaan tersebut diatas kami berkesim- mata, maka kemungkinan akan timbul infeksi. Corpus vi-
pulan bahwa penderita menderita Uveitis anterior mata kanan de- treus dan lensa dapat merupakan media yang baik untuk per-
ngan corpus allenum intra oculi. tumbuhan kuman sehingga sering timbul infeksi supuratip.
Juga kita tidak boleh melupakan infeksi dengan kuman tetanus
q Pengobatan. Penderita kami rawat dan dilakukan enukleasi
mata kanan pada tanggal 27-6-1978. Pada waktu operasi, setelah dan gas gangren.

Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978 13


Reaction of ocular tissue. Reaksi bola mata terhadap corpus lagi pengeluaran corpus alienum dengan ekstraksi tapi terus
alienum adalah bermacam-macam dan ini ditentukan oleh dilakukan enukleasi.
sifat kimia dari benda tersebut. Non organized material dapat
menimbulkan proliferasi dan infeksi dengan pembentukan KESIMPULAN
jaringan granulasi. (1) Corpus alienum intra oculi jarang dijumpai di Bagian
Mata FK-USU/RSUPP, Medan
DISKUSI (2) Corpus alienum harus secepatnya dikenali dan diketahui
Setelah dilakukan enukleasi maka didapat adanya corpus lokalisasinya untuk secepatnya mengeluarkan corpus
alienum (besi) di dalam corpus vitreus. Suatu benda yang alienum tersebut.
masuk ke dalam corpus vitreus dapat melalui beberapa jalan : (3) Pada pasien ini kalau secepatnya datang ke R S Mata
(1) Melalui cornea —> iris —►lensa — ►corpus vitreus. dimana fasilitas cukup lengkap kemungkinan dapat di
(2) Melalui cornea —► pupil —►lensa —► corpus vitreus. tolong tanpa mengadakan enukleasi.
(3) Melalui cornea—> iris —►. zonula Zinii —► corpus
(4) Semua pekerja yang waktu melakukan pekerjaan di
vitreus
(4) Melalui sclera mana kemungkinan benda asing dapat mengenai mata,
corpus vitreus.
harus memakai kaca pelindung mata.
Yang sering dijumpai adalah cara (1) dan (3). Pada kasus
(5) Untuk menegakkan diagnosa corpus alienum intra oculi
ini benda tersebut masuk dengan cara (4).
perlu dilakukan :
Benda asing yang masuk ke dalam corpus vitreus akan • Anamnesa yang baik
mengendap kedasar dan menimbulkan perobahan-perobahan • Pemeriksaan klinis
degenerasi sehingga corpus vitreus akan menjadi encer. Oleh • Fundus copi
karena benda ini besi, maka akan terjadi dissosiasi elektrolit • Rontgen foto
dengan corpus vitreus, dimana metal akan disebarkan ke • Pemeriksaan dengan magnit.
dalam jaringan dan akan bereaksi dengan protein sel, memati-
kan sel dan terjadi atrophy. Keadaan ini disebut siderosis. KEPUSTAKAAN
Pada pasien ini juga terjadi proses infeksi karena kuman 1. DUKE ELDER S : Parsons ' Diseases of the eye. 15th ed J A
turut masuk dan corpus vitreus merupakan media yang baik Churchill ltd London 1970
untuk pertumbuhan kuman. Oleh sebab itu corpus alienum 2. PERRERA C A : May's manual of the diseases of the eye. 24th ed.
perlu dikeluarkan secepatnya. Pengeluaran corpus alienum dari Williams Wilkins Co. Baltimore, 1965.
corpus vitreus dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : (i) 3. DANIEL VAUGHAN : General ophthalmology. 6th ed Lange med
Ekstraksi melalui anterior route. (ii) Ekstraksi melalui poste- Public. San Franscisco 1975.
rior route.Oleh karena pada penderita ini sudah terjadi iri- 4. FRANCIS HEED ADLER : Textbook of ophthalmology. 7th ed.
docyclitis dan visus yang sangat jelek maka tidak dilakukan W B Saunders, Philadelphia 1962.

UNTUK MENGURANGI DERITA DAN KELUARNYA AIR


Tahukah anda bahwa..................???????? MATA

Bila saudara pernah terluka pada ujung jari tangan atau kaki,
akihat terpukul/terjepit sehingga timbul memar dari jari tersehut
Ethambutol dapat menimbulkan toxic amblyopia.
Gejalanya dimulai dengan gangguan visus axial atau para axial. disertai terkupasnya kuku, maka saudara tentu dapat memba-
Oleh sebab itu sangat dianjurkan sebelum pengobatan penderita yangkan betapa sakitnya hila luka tadi tersentuh atau terinjak.
tuberkulosis dengan Ethambutol dilakukan pemeriksaan mata. Nah! Untuk mengurangi derita dan mengalirnya air mata aki-
Juga dilakukan pemeriksaan mata ulangan setiap bulan. Bila bat rasa sakit yang timhul karena sentuhan tadi, dihawah ini
toxic amblyopia pada pengobatan ethambutol terjadi seyogya- disampaikan suatu cara yang cukup mudah dan murah.
nya segera menghentikan pemakaiannya. Setelah ujung jari tadi diohati dan dibalut, huatlah sebuah
tabung dari bahan karton yang cukup tehal untuk menutupi
jari tadi. Ukuran panjang tahung dibuat sedikit lebih panjang
dari jari yang luka.
Symposium tbc masa kini, Surabaya Sept 1978.
OLH

14 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


KOMPLIKASI OFTALMOLOGIK DARI

MENINGITIS

dr Wilardjo, dr Pramanawati
Bagian Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/R S Dr Kariadi
Semarang

PENDAHULUAN q Keratitis dan ulkus cornea. Atas dasar akibat dari adanya
Meningen merupakan jaringan yang terdiri dari tiga la- lagophthalmus dan juga bilamana proses sampai menyangkut
pisan yaitu durameter, arachnoid dan piameter yang me- N Trigeminus dan cabang-cabangnya.
lindungi otak dan medula spinalis. Peradangan dari meningen;
q Iritis dan i ridocyclitis. Peradangan bagian ini dapat dengan
meningitis dapat terjadi karena berbagai etiologi, antara lain:
produk eksudat serous sampai purulen. Akibat peradangan da-
meningococcus meningitis; tuberculous meningitis; purulent
pat serius sampai terjadi kebutaan.
meningitis dan acute serous meningitis. Untuk mendiagnose
adanya meningitis umumnya cukup berdasarkan adanya q Endophthalmitis dan panophthalmitis.Dapat terjadi aki-
tanda-tanda klinik seperti suhu yang meningkat, adanya Ker- bat perluasan radang dengan eksudat purulen (purulen meni-
nig sign, Brudzinski sign, epistotonus dan lain-lain. Keluh ngitis) sampai ke bulbus oculi.
kesah cephalgia umumnya bersifat difus, akan tetapi kadang-
kadang mempunyai lokalisasi tertentu misalnya diregio fron- PEMERIKSAAN FUNDUSKOPI
talis, regio occipitalis yang menjalar ke tengkuk dan sebagai-
nya. Cephalgia ini sering disertai dizziness dan vomiting. q Papilia nervi optici. Dapat, dijumpai adanya ( i) Papil oe-
Punksi lumbal sangat penting pada penyakit ini karena dema (choked disk), ini jarang terjadi. (ii) Optic neuritis, mu-
dapat dipakai untuk menegakkan diagnosa ataupun untuk dah dimengerti pathogenesanya. Dan (iii) Optic atropi. Semua
pengobatan. kelainan ini dapat terjadi unilateral maupun bilateral.
q Retina. Dapat dijumpai adanya gambaran chorioretinitis;
KOMPLIKASI OFTALMOLOGIK gambaran perdarahan retina yang disebabkan oleh oblitera-
Sejak saat awal dari penyakit ini pemeriksaan mata ada- ting end arteritis atau dapat pula disebabkan oleh throm-
lah suatu hal yang sangat penting. Bila timbul phenomena bosis vena.
motor irritative dengan gejala bermacam-macam spasme dan
TINJAUAN KASUS
tetani maka dapat nampak pada mata adanya blepharospas-
mus. Pada tahun 1977 (selama satu tahun) berhasil kami kum-
Oleh karena proses peradangan segera menyangkut nervi pulkan 94 kasus meningitis yang terdiri dari : 48 kasus ber-
craniales pada basis otak, maka tanda-tanda irritasi yang macam-macam meningitis dan 46 kasus Meningoencephalitis.
pendek segera disusul dengan bermacam-macam gejala para- Di mana semua penderita adalah golongan bayi dan anak-anak
lyse. Bentuk pupil menjadi irreguler dan mydriasis , refleks yang berumur antara 16 bulan sampai 14 tahun.
lambat sampai negatip serta pupilary border memberi kesan Pada seorang penderita mungkin terdapat lebih dari satu
kaku (rigid). macam komplikasi.
Cabang-cabang nervi craniales banyak memberi inervasi ke
otot-otot mata sehingga efek paralyse saraf tampak sebagai Kelainan oftalmologik yang dijumpai pada 48 kasus Meningitis.
blepharospasmus paralyticus, kadang-kadang berakibat nys-
tagmus. Pasangan bola mata yang tidak lurus dapat menimbul-
kan keluhan binoculer diplopia dan hal ini dapat juga menjadi Tidak ada kelainan oftalmologik 21
Kelainan pupil 23
penyebab cephalgia.
Lagophthalmus 3
Bermacam-macam peradangan mata yang dapat timbul : Conjunctivitis akut 2
q Dermatitis. — Kulit palpebra dapat timbul bentukan- Keratitis 4
Kelainan motilitas mata 14
bentukan vesiculae yang mirip dengan vesikel Herpes Zoster.
Opticus atrophi 9
Vesikel ini mudah mengering dalam beberapa hari. Optic neuritis 2
Maculopathia 5
q Conjunctivitis. Dasar-dasar pathogenesa belum jelas.

Ccrmin Dunia Kedokteran No. 13. 1978 15


Kelainan oftalmologlk yang dijumpal pada 46 kasus Meningo-ence- lebih opticus atrophi yang sudah lanjut berarti akan mem-
phalitis.
bawa akibat kebutaan dengan visus nol untuk selamanya.
Pada hal penderita masih anak-anak yang jangka waktu hidup-
Ti dak ada kelainan oftalmologik 24
Kelainan pupil nya masih jauh. Walaupun tidak buta mungkin juga terjadi
16
Lagophthalmus 4 kelainan kosmetik yang sulit diatasi seperti blepharoptosis,
Keraritis 4 strabismus dan sebagainya.
Kelainan motilitas 11 Di samping itu komplikasi yang berupa peradangan mata
Opticus atrophi 6 berat seperti ulkus cornea luas, uveitis, endopthalmi dan
Choked disk 1
Perdarahan retina panophthalmi akan menyebabkan penderitaan yang berupa
2
Macul opathi a 4 mengempesnya bola mata.
Maka sangat penting mengenal gejala-gejala klinik dari
PENGOBATAN DAN TINDAKAN meningitis agar dapat mendiagnosa penyakit itu sedini mung-
Sampai saat ini pemberian pengobatan symptomatis ma- kin serta memberikan pengobatan yang terarah sehingga tidak
sih sering dilakukan. Bila dapat ditemukan mikro organisme terjadi komplikasi.
dalam liquor cerebrospinalis, maka pemberian obat dapat
lebih terarah. KESIMPULAN
Tindakan operasi Craniotomi telah pemah dilakukan di Penderita Meningitis sebagai penyakit peradangan atas
Jepang, bertujuan membebaskan gangguan disekitar chiasma dasar adanya infeksi kuman masih banyak jumlahnya pada
opticum. Hal ini adalah untuk mencegah terjadinya opticus anak-anak.
atropi. Komplikasi oftalmologik dapat terjadi mulai dari yang
PEMBICARAAN ringan sampai berat berupa peradangan, paralyse dari yang
Meningitis banyak dijumpai pada anak-anak, pada uraian ringan sampai yang berat serta atropi organ-organ di dalam
diatas terkumpul 94 kasus selama satu tahun. Hal ini ber- ruang orbita dan bola mata.
arti kira-kira delapan anak dalam sebulan. Dapat dibayang-
kan, misalkan di dalam Bagian Kesehatan Anak dari suatu KEPUSTAKAAN
rumah sakit yang mempunyai 30 tempat tidur untuk penya- 1. HEDGES T R Jr et al : Metastatic endophthalmitis as a compli-
cation of meningococcic meningitis. Arch Ophthal 55 : 503-
kit-penyakit infeksi, berarti hampir 1/3 dari jumlah tempat
505, 1956.
tidur dipergunakan penderita Meningitis. Dari jumlah ter-
2. IMACHI J, TOSHIKAZU I: A case of cryptococcal meningitis
sebut kira-kira 50% mengalami komplikasi o ftalmologik,
treated with craniotomy. Japanese J of Ophthal 16:51-56, 1972.
umumnya karena terlambat pemberian pengobatan.
3. RANSOM S W, CLARK S L : The anatomy of the nervus system.
Seperti diketahui sebagian besar komplikasi oftalmologik 9th ed. W B Saunders Co Philadelphia, 1957.
adalah akibat dari terkenanya saraf otak. Regenerasi kelainan- 4. WECHSLER I S : A textbook of clinical neurology. 8th ed. W B
kelainan yang mengenai saraf apapun umumnya sukar. Lebih- Saunders Co. Philadelphia, 1958 .

16 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


HERPES Z O STER OPHTHALMICUS

dr Broto Parwoto, dr Ny Norma D Handoyo


Bagian Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang.

PENDAHULUAN papulla akan bersatu membentuk vesikel yang mula-mula


Herpes zoster ophthalmicus merupakan penyakit yang berisi cairan yang jernih untuk kemudian cepat menjadi ke-
ruh. Vesikel ini akan pecah, terjadi crusta yang bila tidak
kadang-kadang dijumpai di praktek umum. Penyakit ini cukup
berbahaya karena dapat menimbulkan penurunan visus. ada sekunder infeksi akan lepas dan meninggalkan bekas yang
Seperti herpes zoster dibagian tubuh yang lain maka daerah tipis. Bila disertai dengan sekunder infeksi maka akan me-
yang terkena juga bersifat unilateral. Virus merupakan etio- ninggalkan bekas yang dalam dan menetap cukup lama (10),
logi dari penyakit ini , beberapa ahli telah memastikan bahwa (12).
varicella dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama
dan disebut varicella zoster virus (5) (9). Sedangkan BATE- DIAGNOSA
M A N menganggap timbulnya zoster karena reaktivasi dari vi- Untuk menentukan diagnosa biasanya mudah oleh karena
rus varicella beberapa tahun kemudian (3). gejala-gejalanya jelas dan khas. Tetapi sebelum timbul vesi-
Virus ini setelah menimbulkan gejala varicella yang spesifik kel gejalanya dapat dikelirukan dengan kelainan saraf yang
akan meng-infeksi serabut saraf sensoris kulit dan menjalar lain. Adanya penurunan sensibilitas comea dapat menyokong
keatas sampai ganglion. Disini akan menjadi inaktif karena perkiraan adanya herpes zoster ophthalmicus. Pada permulaan
adanya antibody. Apabila daya tahan tubuh menurun di penyakit dapat juga dengan erysipelas, karena adanya kulit
bawah titik kritik, gejala klinik akan timbul karena virus yang erythematous dan membengkak (1), (2), (9), (10).
berkembang biak dan menjalar melalui saraf sensoris kekulit Yang perlu diperhatikan adalah kelainan di mata yang apabila
serta menimbulkan laesi zoster yang khas. Walaupun penu- tidak segera diatasi dapat menimbulkan penurunan visus.
laran secara kontak person jarang terjadi, oleh DA N I E L
dilaporkan satu kasus timbulnya herpes zoster setelah sese-
orang tertusuk jarum yang mengandung virus tersebut (4). KOMPLIKASI

GEJALA-GEJALA q Myelitis. Merupakan komplikasi di luar mata yang pernah


Penyakit ini selalu terbatas pada sebelah muka dengan dilaporkan oleh GORDON dan TUCKER, demikian juga en-
tanda khas batas yang tegas ditengah-tengah muka sepanjang cephalitis dan hemiplegi walaupun jarang ditemukan tetapi
dahi hidung dan mulut. Virus akan menyerang ganglion Gasseri pernah dilaporkan. Hal ini diperkirakan karena penjalaran
yang mempunyai tiga cabang utama. Cabang . yang paling se- virus ke otak (8), (10).
ring terkena adalah ramus ophthalmicus yang mengenai
q Conjunctiva. Pada mata komplikasi yang dapat timbul
daerah dahi dan sekitar mata.. Urutan yang kedua adalah ramus
adalah chemosis yang ada hubungannya dengan pembeng-
maxillaris, sedang yang jarang terkena adalah ramus mandi-
kakan palpebra. Pada saat ini biasanya disertai dengan pe-
bularis. Kadang-kadang ketiga ramus tersebut dapat terkena
nurunan sensibilitas cornea dan kadang-kadang oedema cornea
sekaligus yang biasanya disertai dengan zoster pada ganglion
yang ringan. Dapat juga timbul vesikel-vesikel di conjunctiva
Geniculatum (1),(10). Pada hari-hari pertama akan timbul pe-
tetapi jarang terjadi ulserasi. Pernah dilaporkan adanya canali-
rasaan sakit dan panas yang kadang-kadang hebat, disertai de-
culitis yang ada hubungannya dengan zoster.
ngan hyperaesthesi di daerah saraf yang terkena selama satu
sampai tiga hari. Bahkan kadang-kadang ada yang mengeluh q Cornea. Bila comea terkena maka akan timbul infil-
bila rambutnya tersentuh akan terasa sakit. Pada saat ini dapat trat yang berbentuk tidak khas dengan batas yang tidak te-
timbul demam ataupun tanda-tanda iritasi meningeal yang gas (10), tetapi kadang-kadang infiltratnya dapat menyerupai
berupa kaku kuduk. Sering pula disertai dengan photophobi herpes simplex (7). Proses yang terjadi pada dasamya berupa
dan lacrimasi pada mata sisi yang terkena serta timbul regional keratitis profunda yang bersifat khronis dan dapat bertahan
lymphadenopathy (1), (2), (3), (9), (10). Kemudian akan tim- beberapa minggu setelah kelainan kulit sembuh. Akibat
bul papulla pada dasar kulit yang erythematous. Beberapa kekeruhan comea yang terjadi maka visus akan menurun.

Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978 19


q Iris.Adanya laesi diujung hidung sangat penting untuk mata yang terkena diberi antibiotika dan kortikosteroid lo-
diperhatikan karena kemungkinan besar iris akan ikut terke- kal, kecuali bila ada keratitis, kortikosteroid merupakan kon
na mengingat n. nasociliaris merupakan cabang dari n.oph- traindikasi . Mata perlu diistirahatkan dengan ditutup. Perlu
thalmicus yang juga menginervasi daerah iris, corpus ciliaze juga diberikan atropin sebagai mydriaticum bila terlihat tanda
dan cornea. Iritis/iridocyclitis dapat merupakan penjalaran tanda keratitis dan iridocyclitis (1),(10).
dari keratitis ataupun berdiri sendiri. Iritis biasanya ringan, Pemberian kortikosteroid sistemik masih diperdebatkan.
jarang menimbulkan eksudat, pada yang berat kadang-kadang Beberapa penyelidik membuktikan pemberian kortikosteroid
disertai dengan hypopion atau secundair glaucoma (10). per oral dapat memperberat dan memperluas penyakitnya,
Akibat dari iritis ini sering timbul sequele berupa iris atropi sedang BAT E M A N(3) menganjurkan pemberian prednisolon
yang biasanya sektoral. Pada beberapa kasus dapat disertai dosis tinggi yaitu 60 mg sehari pada minggu-I, kemudian di
massive iris atropi dengan kerusakan sphincter pupillae (8). turunkan sampai 15 mg sehari pada minggu ke-II. Cara ini
khusus untuk penderita dengan umur 60 tahun ke atas. Untuk
q Sclem. Scleritis merupakan komplikasi yang jarang ditemu penderita dengan umur 40 tahun sampai 60 tahun dianjurkan
kan, biasanya merupakan lanjutan dari iridocyclitis. Pada scle- untuk memberikan terapi diathermis dengan UKG, sedang
ra akan terlihat nodulus dengan injeksi lokal yang dapat tim- untuk penderita dengan umur kurang daii 40 tahun biasanya
bul beberapa bulan sesudah sembuhnya laesi di kulit. Nodu- hanya memerlukan analgetika saja. Selain itu dapat pula di
lusnya bersifat khronis, dapat bertahan beberapa bulan, berikan antibiotika sistemis dan obat-obatan neurotropik.
bila sembuh akan meninggalkan sikatrik dengan hyperpig- Pengobatan dengan cara lain misalnya dengan gamma globu-
mentasi. Scleritis ini dapat kambuh lagi. Iin ataupun cytarabine tidak kami bahas mengingat obat-obat
q Ocular palsy. Dapat timbul bila mengenai N III, N IV, tersebut sukar didapat di Indonesia. Prognosa biasanya baik,
N V1, N III dan N IV dapat sekaligus terkena. Pernah pula dila- kecuali bila cornea atau bagian yang lebih dalam lagi ter-
porkan timbulnya ophthalmoplegi totalis dua bulan setelah kena (10).
menderita herpes zoster ophthalmicus. Paralyse dari otot- POST HERPETIC TRIGEMINAL NEURALGIA
otot extra-oculer ini mungkin karena perluasan peradangan
dari N Trigeminus di daerah sinus cavemosus. Timbulnya Ini merupakan keluhan yang sangat dikhawatirkan ka-
paralyse biasanya dua sampai tiga minggu setelah gejala permu- rena menimbulkan penderitaan yang hebat terutama pada
laan dari zoster dirasakan, walaupun ada juga yang timbul penderita yang telah tua. Nyeri neuralgik dapat menetap ber-
sebelumnya. Prognosa otot-otot yang pazalyse pada umum- bulan-bulan setelah serangan akut untuk pencegahan pemberi-
nya baik dan akan kembali normal kira-kira dua bulan kemu- an kortikosteroid per oral akan sangat membantu.
dian. Pengobatan dapat dilakukan beberapa cara :
•obat-obatan lokal yang mengandung camphor atau menthol
q Retina. Kelainan retina yang ada hubungannya dengan (2).
zoster jarang ditemukan. Kelainan tersebut berupa choroi- •suntikan larutan triamcinolon 2% dalam garam fisiologis
ditis dan perdazahan retina, yang umumnya disebabkan ada- secara subcutan di daerah yang terkena (3),(5).
nya retinal vasculitis (6). •infus larutan 50 cc procain 1% dalam NaCl 500 cc dengan
kecepatan 40 sampai 60 tetes per menit (5).
q Optic neuritis . Optic neuritis juga jazang ditemukan; te- •suntikan alkohol pada ganglion Gasseri (10).
tapi bila ada dapat menyebabkan kebutaan karena timbul-
KEPUSTAKAAN
nya atropi n. opticus. Gejalanya berupa scotoma sentral
1. ADLER F H: Textbook of ophthalmology. 7th ed. Phila-
yang dalam beberapa minggu akan terjadi penurunan visus
delphia. Saunders, 1964.
sampai menjadi buta (10).
2. ANDREWS G C: Disease of the skin. 4th ed. Philadelphia,
Saunders, 1961.
PENGOBATAN
3. BATEMAN P P: Treatment of herpes zoster. Med Prog 4
Tidak ada pengobatan yang spesifik. Pengobatan hanya (3): 25-32, 1977.
bersifat simptomatik untuk mengurangi rasa nyeri, pence- 4. DANIEL W P et al: Herpes zoster, case report of possible acci-
gahan sekunder infeksi dan menekan peradangan. Bila masih dental inocculation. ArchofDermatol 102:1755-1756, 1976.
stadium akut sebaiknya penderita istirahat di tempat tidur. 5. ERVIN EPSTEIN: Treatment of zoster and post zoster neuralgia
(2) ,(9) , (10). Untuk kulitnya agar diusahakan supaya ve- by the intra lesional injection of triamcinolone.
sikel jangan sampai pecah dan dilindungi dari sekunder infeksi eI1
nrtemrJaoftoDl 5 (10): 762-769, 1976.
dengan cream antibiotika yang mengandung kortikosteroid . 6. HESSE J R: Herpes zoster ophthalmicus: AmJofOpthal
Dapat ditambahkan taburan bedak untuk mengurangi rasa 84 (3): 329-331, 1977.
gatal diatas cream terse.but. Setelah pemberian terapi lokal 7. FORREST W M& KAUFMAN H E: Zosteriform herpes
seperti diatas, sedapat mungkin dijaga agar jangan kena air simplex. Am J of Ophthal 81 (1) : 86-88, 1976.
sampai crusta lepas dengan sendirinya. Beberapa penulis meng- 8. MARS R J: Iritis and iris atrophy in herpes zoster ophthalmicus.
anjurkan pemberian collodion yang mengandung 10% ich- Am JOf Ophthai 78 (2):255-260, 1974.
tyol dan calamin lotion. Tetapi bahan ini bila kering akan me- 9. RHODES & VAN ROYEN: Virus disease of man. , 4th ed,
nyebabkan crusta yang melekat dengan kulit sehingga pelepas- New York Nelson & Sons, 1948.
annya akan menimbulkan rasa sakit (2) ,(3), (9), (10). Untuk 10. WALS F B: Clinical newo ophthalmology. 3th ed

20 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


EKSTRAKSI CATARACT

dr Aslim D Sihotang, dr H T Adnin


Bagian Penyakit Mata
Fakuitas Kedokteran Universitas Sumatra Utara/
Rumah Sakit Umum Pusat Profinsi
Medan.

PENDAHULUAN ( 3) Tidak ada infeksi pada mata.


Cataract ialah suatu pengeruhan lensa crystalina yang ( 4) Tensi oculi normal ( sampai dengan 25 mm ).
( 5) Tensi sanguinis normal ( sekitar 160/80).
datangnya seiring dengan datangnya ketuaan. Hal ini sebenar-
nya merupakan salah satu tanda bahwa seseorang telah men- ( 6) Tidak dijumpai KP yang aktif.
jadi tua sama seperti datangnya uban di kepala. Tetapi cataract ( 7) Anel test tidak dijumpai sumbatan.
dijumpai juga pada umur yang lebih muda bahkan pada bayi- ( 8) Pada penderita DM, reduksi urine sudah negatif.
bayi yang baru lahir. Sehari sebelum operasi penderita harus tinggal dirumah sakit
Sebenarnya belum ditemukan tindakan pencegahan terha- untuk persiapan operasi dan pemberian premedikasi. Premedi-
dap cataract tetapi pada taraf permulaan sering bisa diatasi kasi yang diberikan pada cataract senilis ialah cocktail yang
dengan mengoreksi visus menggunakan kaca mata. Namun terdiri dari campuran phenobarbital 100 mg, pethidin 50 mg
akhirnya perlu juga dilakukan tindakan yang optimal untuk dan largactil 25 mg. Bila tensi oculi sedikit meninggi diberi
seterusnya mencegah terjadinya kebutaan yaitu dengan mela- Diamox 3 x 250 mg. Selanjutnya bagi penderita cataract
kukan operasi pengeluaran lensa yang telah mengeruh itu congenitalis sebagai anestesi diberi Ketalar 2mg/kg BB. Demi-
( Cataract extraction). kian juga pada sebagian penderita cataract juvenilis.
Kemajuan-kemajuan yang penting telah didapat pada abad Sementara itu pada penderita cataract senilis setelah diberi
terakhir ini sehingga hasil ekstraksi cataract menjadi lebih cocktail, diberi juga retro bulbair Novocain 4% dan sub cutan
baik dan ini menimbulkan keyakinan pada penderita bahwa Novocain 2%.
tindakan operasi akan sangat menolong penglihatannya. Fiksasi bola mata dilakukan dengan benang pada sclera sebelah
Akan tetapi tidak selalu didapat hasil yang memuaskan. temporal bagi mata kanan dan sebelah nasal pada mata kiri.
Masih dapat terjadi komplikasi-komplikasi yang menyebabkan Adakalanya dilakukan fiksasi dengan pincet saja. Sebelum
penglihatan penderita tidak seterang yang diharapkan, terutama dimulai membuka cornea dilakukan massage pada bola mata
pada penderita cataract yang berpenyakit lain seperti Diabetes, sampai tensi oculi menunjukan skala 10 pada tonometer
trauma dan sebagainya. Schiotz.
Pada tulisan ini akan kami sampaikan hasil-hasil ekstraksi Untuk lapangan operasi pada cataract congenitalis biasanya
cataract di bagian penyakit Mata FK—USU / RSUPP Medan dipakai eye speculum sedang pada cataract juvenilis dan senilis
dengan segala komplikasi yang ditemukan serta hasil akhir se- dipakai benang pada margin palpebra superior dan inferior
telah diberi kaca mata. disamping simpul pada tendon musculus rectus superior.
BAHAN PENYELIDIKAN DAN CARA KERJA Cornea dibuka pada cataract congenitalis dengan discici
sedang pada cataract juvenilis dilakukan dengan metoda
Kasus-kasus dalam tulisan ini diambil dari penderita-pen-
VON GRAEFES dan McLEAN dengan variasi-variasinya yang
derita cataract yang berkunjung ke Bagian Penyakit Mata tergantung dari kondisi camera oculi anterior, seluas 150-J80 0 .
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara selama kurang Selanjutnya dilakukan penjahitan cornea sclera dengan tiga
lebih tiga tahun ( Januari 1974 sampai Januari 1977). atau lima ikatan silk 6/0. Kemudian dilakukan iridectomi,
Yang dimaksud dengan cataract pada tulisan ini adalah biasanya mulai dengan basal (perifer), apabila didapat kesulitan
cataract congenitalis (dari lahir sampai umur 20 tahun) pada pengeluaran lensa maka diteruskan dengan Key Hole
cataract juvenilis (dari umur 20 tahun sampai 40 tahun) atau total iridectomi. Iridectomi ini biasanya dilakukan satu
cataract senilis yang terjadi pada umur 40 tahun keatas dan yaitu pada jam 12.
cataract traumatica yang terjadi karena trauma. Setelah benang cornea sclera dilonggarkan maka lensa dike-
Ekstraksi cataract dilakukan setelah indikasi dipenuhi, yaitu luarkan dengan Hook dan pincet atau dengan kryophak. Apabi
( 1 ) Visus satu perenam puluh dengan proyeksi cahaya la terdapat kesulitan pada pengeluaran lensa, biasanya diberi-
positif. kan chemotripsin lebih dahulu atau dipakai spatel untuk mem-
( 2 ) Fundus reflex negatif. bebaskan bagian-bagian yang lengket.

Cermin Dunia Kedokteran No. 13.1978 21


Setelah lensa dikeluarkan iris direposisi dan benang cornea Hal ini terjadi karena cataract yang terbanyak adalah cataract
sclera dikuatkan. Untuk metoda McLEAN conjunctiva dijahit senilis dan disini terbanyak pada wanita sedang cataract
kontinu dengan silk 6/0. congenitalis justru laki-laki 71,6%. Sedang cataract juvenilis
Sebelum mata ditutup dilakukan spooling camera oculi seimbang. Cataract traumatica terdapat seluruhnya pada laki-
anterior dengan SBSS atau aqua bidest dan apabila camera laki, hal ini terjadi karena sebagian besar pekerja adalah laki-
oculi anterior dangkal dimasukan udara. Mata dibersihkan laki. Perbandingan yang terdapat pada data diatas hampir sama
lalu ditetesi pilocarpin 2% dan dioleskan salep anti biotika, dengan perbandingan yang terdapat pada orang Thai tetapi
kemudian ditutup dengan kasa dan dop yang dibuka setiap ha- terbalik pada orang Cina dan India seperti yang digambarkan
ri untuk mengganti kasa dan sekaligus melihat hasil perkem- oleh H S HALEVI dkk.
bangan sementara. Untuk pemeriksaan ini dipakai ukuran
KOMPLIKASI
penghitungan jari sampai jarak satu meter.
Selanjutnya hari ke IV pasien duduk, hari ke V—VI jalan, Komplikasi-komplikasi yang terjadi dapat dilihat pada tabel
bila tak dijumpai komplikasi hari ke-X pasien dipulangkan III.
setelah dilakukan pemeriksaan funduskopi dan benang cornea q COA yang dangkal.Camera oculi yang dangkal terjadi pada
sclera dibuka setelah seminggu kemudian.Kaca mata diberikan 62 penderita dan 50 penderita diantaranya terjadi pada waktu
setelah tiga bulan post ekstraksi. operasi sedang sisanya terjadi pada hari I—V. Komplikasi C O A
yang dangkal ini bila terjadi waktu operasi maka diinjeksikan
Tabel I: Jumlah penderita cataract.
SBSS dan bila tak berhasil diberi udara. Sementara yang terja-
di pada hari I—V biasanya diberi Acetasolamide ( Diamox )
Wanita Pria Jumlah 2 x 250 mg dan dua atau tiga hari setelah pemberian tersebut
Cataract congenital 5 13 18
kita lihat C O A telah membaik kembali.
Cataract juvcnilis 11 I2 23 q Prolapsus vitreus. Terjadi pada 3I penderita (9,4%). Sebagian
Cataract senilis 170 112 282 besar terjadi ketika operasi dan enam diantaranya sesudah hari
Cataract traumatica – 5 5 I—V. Kejadian ini biasanya disebabkan oleh penjahitan cornea
Jumlah 186 I42 328
sclera yang kurang kuat serta pasien yang batuk-batuk dan ge-
Tabel II : Jumlah penderita cataract uni dan bilateral. lisah. Untuk menghindari ini dianjurkan pada pasien yang
gelisah diberikan obat penenang. Angka ini dibandingkan
Uni lateral Bilateral Jumlah Tabe III : Komplikasi-komplikasi operasi cataract.

Cataract congenital 1 2 3
Cataract juvenilis Komplikasi Jumlah Waktu operasi hari I–V hari V–X
5 9 14
Cataract senilis 89 103 192
Prolapsus vitreus 31 25 6
Cataract traumatica 5 – 5
Hyphaemia I1 – 11
Jumlah 100 I14 214
C O A dangkal 62 50 I2 –
Dari tabel I dan II terlihat bahwa dari seluruh jumlah pen- Infeksi intra oculi 5 4 1
Butir-butir Elshing– – 5
derita cataract ternyata cataract senilis mencapai I92 dari 214 Iris prolaps 6 5 1
penderita(89,7%). Cataract juvenilis hanya 6,5% dan cataract Gluacoma 3 3
traumatica 2,3% serta cataract congenital hanya 1,5%. Ablatio retinae – – –
Perbandingan cataract uni lateral dan bilateral tidak begitu Nastar 80 – 70 I0
menyolok yaitu 46,7% dan 53,3%. Perbandingan yang menyo- dengan yang didapat oleh F I CAIRD dkk cukup besar (lihat
lok terdapat pada cataract traumatica dimana unilateral sam- tabel V) dimana mereka hanya mencatat 26 pasien dari 1141
pai 100% sedang pada cataract juvenilis 38,4% berbanding atau 2,3%. Hal ini mungkin disebabkan anestesi yang baik
61,6%. Pada cataract congenitalis unilateral 33,3% sedang (anestesi umum) serta jahitan cornea sclera yang lebih banyak
yang bilateral 66,7%. (5—8 simpul).
Dari tabel II dapat dilihat bahwa perbandingan cataract q Hyphaemia, juga merupakan komplikasi yang terjadi pada
pada pria dan wanita adalah 186:142 berarti 56,7% dan 43,3%. 11 penderita dan semuanya terjadi pada hari I—VI (3,3%),
Cataract cases in two hospital in Bangkok by community, age and sex angka ini dibanding dengan yang didapat oleh F I CAIRD
1957 — I959 ( H S HALEVI ) cukup kecil yaitu 207 dari II41 penderita (19%), sedang DE
VOE mendapat 21%, NUTT 0%, TOWNES dan CASEY 10,5%
sedang GRAEVES 24%.
Community Thai Chinese Indian q Iris prolaps. Terjadi pada enam orang, berarti 1,8%. Dimana
lima diantaranya terjadi pada hari I—V sedang yang seorang
male fcmale male female male female
lagi terjadi pada hari V—X. Angka ini hampir serupa dengan
I6
yang didapat oleh F I CAIRD yaitu 1,8% atau 2I dari II41
40 – 49 64 57 18 1 1
50–59 147 184 50 46 7 – penderita.
60 – 69 218 219 79 52 8 5 q Infeksi intra ocuii (Uveitis). Terjadi pada lima penderita
70 + 146 151 43 28 4 – (I,5%). Empat diantaranya terjadi pada hari 1—V sedang
Total 575 629 188 144 20 6 yang seorang lagi pada hari V—X. Juga angka ini hampir sama

22 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


dengan yang didapat oleh F I CAIRD tetapi TOWNES dan ra lain :
CASEY mendapatkan 5% sedang NUTT 12%; BECKET dan • Oleh karena komplikasi operasi 1,0 %
HOOBS 1,5% serta KIRMANI mendapat angka yang tinggi • Penyakit mata lainnya 2,3 %
yaitu 17%. • Penyakit-penyakit lain 0,4 %
q Glaucoma. Merupakan komplikasi yang paling sedikit kami • Tidak diketahui 1,2 %
jumpai yaitu hanya tiga penderita atau tidak sampai 1%, sedang
F I CAIRD mendapatkan I,3%. Komplikasi-komplikasi lain ti KESIMPULAN
dak tercatat dalam status.yang dibuat. q Cataract yang paling banyak dijumpai adalah cataract
Komplikasi operasi cataract ektraksi yang dijumpai oleh senilis yaitu 89,7% diikuti oleh cataract juvenilis 6,5% ;
Tabel V
F I CAIRD. Jumlah operasi 1141. cataract traumatica 2,3% dan cataract congenitalis 1,5%.
q Perbandingan cataract unilateralis dan bilateralis adalah
Early post operative 46,7% berbanding 53,3%.
Jcnis komplikasi Jumlah penderita Prosen q Ratio cataract pada wanita dan pria adalah 56,7% berban-
ding 43,3%.
Prolapsus vitreus 26 2,3 % q Komplikasi yang terbanyak adalah Nastar sebesar 24,5%
Hyphaema 207 19 %
1,8 % dan komplikasi yang paling sedikit terjadi adalah Glaucoma
Iris prolaps 21
Choroidal dctachement 31 2,7 % yaitu I,3%. Sedang komplikasi lain adalah C O A yang dangkal
%
Dclaycd healling 5 0,4 % 19,6% ; Prolapsus vitreus 9,4%;Hyphaema 3,3% ; Iris prolaps
lritis 19 1,7 1,8%, dan infeksi intra oculi (Uveitis) 5%.
q Hasil operasi yang didapat berturut-turut adalah visus
antara 6/18 dan 6/60 sebanyak 56,7% ; visus 6/12 atau lebih
late post operative
30,I% dan visus kurang dari 6/60 sebanyak 14,2%.
Jenis komplikasi Jumlah pcnderita Proscn
KEPUSTAKAAN
Glaucoma 15 1,3 %
1. ARRUGA H : Ocular Surgery. 3th ed Mc Grow Hill Co. New
Retinal detachement 11 1%
York, 1962.
Pcrdarahan corpus vitrcus 2 0,2 %
2. ALEXANDER A : Stcrility of thc aqueous humor following
Corneal dystrophy 6 0,6 %
cataract surgcry. Am J of Ophthal 74 (1): 49, 1972.
epithelial downgrowth 6 0,6 %
3. ADLER FRANCIS HEED : Texthook of ophthalmology. 7th
Ophthahnia sympathica 3 0,3 %
cd. W B Saunders. Philadelphia, 1962.
4. ALLEN JAMES H : May 's manual diseases of the eye 24th
Tabel V1 : Frekwensi hyphaema dan iritis menurut beberapa peneliti. cd. The Williams Wilkins Co. Baltimore, 1968.
5. BEASLEY F J : Iris Rctraction by suture during cryo extraction.
Arch J of Ophthal 81 (5):653, 1969.
Nama peneliti Jumlah operasi hyphacma lritis 6 BERENS : The eye and its diseases. Sec ed. W B Saundcrs Co.
dalatn prosen dalam proscn Philadelphia, 1962.
7. CAIRD F I: Cataract extraction and diabetes. British J of
Dc Voe (1942) 413 21 Ophthal 49:461, 1965.
NUTT (I953) 50 112 8. DUKE ELDER S : Parsons diseases of the eye. 15th ed. J A
TOWNES dan CASEY Churchill Ltd London, 1970.
(1955) 1844 10,5 5 9. FLUSEL J T Limbal wound healing after cataract extracrion.
BECKETT dan HOBES Arch J of Ophthal 81 (5) : 653, 1969.
(I96I) I35 6 1,5 10. HALVI H S : Hospitalized senilis cataract in different Jcwish
GREAVES (1962) 130 24 4 community in Isracl. British J of Ophthal 46:285,1962.
KIRMANI (I964) I00 13 17 11. JARDINE P : Simultan bilateral cataract extraction. British
F I CAIRD (I965) 1141 19 1,7 % JofOphthal49 (7) : 337-392, I965.
12. PAUL A C et al : Gonioscopy during surgery for aphakic eyes.
Tabel Vll : Visus setelah operasi dan setelah diberi kaca mata. Am Jof Ophthal 74(4):571,1972.
13. PATEN DAVID : Clinical Symposia 26(3), 1974.
Visus Jumlah Prosen 14. SIHOTA G S : Scleral ledge in cataract incission. Am J of Oph-
thal 47(9):567,1959.
15. VAUGHAN D et al: General Ophthalmology . 6th ed. Lange
6/12 atau lebih 97 30,1 %
med Publications. Co Ltd. San Francisco, 1975.
6118 sampai 6/60 195 56,7 %
kurang dari 6/60 53 1 4,2

HASIL
Dari tabel VII terlihat bahwa akhir dari operasi cataract
menunjukan 56,7% dari seluruh penderita mempunyai visus
mohon perhatian !!
antara 6/60 sampai 6/ I8 sedang yang mempunyai visus 6/ 12
atau lebih hanya 30,1%. Dan penderita dengan visus 6/60 Beritahukanlah kepada kami bila anda pindah alamat!!!
atau kurang adalah 14,2%. Mengapa visus hanya sampai 6/60 Dan jangan lupa memberikan juga alamat lama anda.
atau kurang ? Belum didapat jawaban yang pasti. Menurut
beberapa penulis hal ini disebabkan oleh berbagai faktor anta-

Cermin Dunia Kedokteran No. I3. 1978 23


CARCINOMA COLON

DI R S SUMBER WARAS

dr C Tjiptiadhi
Bagian Bedah R S Sumber Waras
Jakarta

PENDAHULUAN Jelas bahwa angka-angka tersebut di atas tidak dapat di


Carcinoma colon masih merupakan salah satu carcinoma pakai sebagai gambaran sebenarnya tentang ke lima tumor
yang banyak terdapat di negara kita ini . Bahkan merupakan ganas yang kami sebut baik di Jakarta apalagi di lndonesia.
salah satu dari tiga jenis tumor ganas yang banyak terdapat, Akan tetapi tampak bahwa carcinoma colon selama kira-kira
yaitu carcinoma mammae, carcinoma uteri dan carcinoma lima setengah tahun di RSSW merupakan tumor ganas yang
colon. Sayang angka-angka pasti tentang carcinoma colon terbanyak.
di negara kita ini tidak dapat dijumpai dalam kepustakaan.
BE R M A N S j A H telah melaporkan tentang carcinoma colon JENIS KELAMIN
dan rectum di RSCM sejak tahun 1960-1966 dan selama Carcinoma colon dijumpai pada laki-laki maupun wanita
tahun-tahun tersebut didapatkan 93 penderita carcinoma co- dalam frekwensi yang hampir sama (lihat tabel 3).
lon sebagai bahan penyelidikan.
Tabel 3 : Pembagian carcinoma menurut jenis kelamin• di RSSW
Di Amerika diperkirakan setiap tahun terdapat 73.000
penderita carcinoma colon dan 43.000 orang meninggal kare- Tahun
na penyakit ini. jenis kelamin jumlah
69 70 71 72 73 74 75
Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan data-data
klinik dari carcinoma colon di RSSW serta membandingkan Laki-laki 2 2 4 1 3 5 8 43
data dari klinik lain. Sebagai bahan diambil 8I penderita Wanita 3 7 6 4 8 10 38
carcinoma colon yang terdapat di RSSW sejak April I969
sampai dengan Desember 1975. Di bawah ini kami kemuka- jumlah 2 5 11 15 17 1 3 18 81
kan angka-angka dari tumor ganas yang terdapat di RSSW dan
sebagai perbandingan kami kemukakan angka-angka dari Laki-laki : Wanita = 43:38 atau 1,1 3:1

Amerika. Perbandingan ini juga hampir sesuai dengan yang didapat di


Tabel I : Jumlah penderita berbagai carcinoma di RSSW dari klinik lain. BE R M A N S J A H di RSCM Jakarta mendapat angka
tahun 1969 — I 975 perbandingan laki-laki : wanita = 1:1 dari sejumlah 93 pen-
derita, selama enam tahun (1960-1966). COHN dkk selama
Tahun
jenis Carcinoma jumlah 15 tahun (1948-I963), dari sejumlah 1887 penderita yang di
69 70 71 72 73 74 75 selidiki didapat angka perbandingan laki-laki: wanita =1 : 1,3
FA H L dkk di Mayo klinik mendapat angka perbanding-
Ca Thyroid — — 4 5 4 13 an laki-laki : wanita = 2,2 : 1.
Ca Mammae I 6 6 11 9 11 19 63
Tumor paru 4 12 12 1 3 11 5 10 67
3 5 8 Tabel 4 Perbandingan jenis kelamin penderita carcinoma colon
Ca Uteri 3 6 8 — 33
1 7 18 diberbagai klinik.
Ca Colon 2 5 11 15 1 3 81

Laki-laki Wanita
Tabel 2 : Jumlah penderita berbagai carcinoma di Amerika selama
tahun 197I
R S S W 1,1
BERMANSjAH 1
Lokalisasi Ca Kasus baru Kematian COHN dkk 1,3
1
FAHL dkk 2,2
Kulit 115.000 5.200
Colon 75.000 46.000 Umur
Paru 71.000 64.000
Mammae 69.000 30.750 Carcinoma colon biasanya dijumpai pada umur yang agak
Uterus 42.000 12.700 lanjut, meskipun kadang-kadang juga terdapat pada usia muda.

24 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


Dari 81 penderita yang ditemukan di RSSW kami dapatkan 38,6 minggu atau sembilan setengah bulan. Di Mayo clinic
pembagian menurut umur sebagai berikut : didapatkan rata-rata 6,8 bulan sejak keluhan pertama hingga
penderita berobat. Tentu saja anamnesa keluhan-keluhan ini
sukar dapat dipercaya sepenuhnya. Keluhan yang paling dini
Golongan umur Jumlah penderita
adalah satu minggu (?) dan keluhan yang paling lama adalah
15 tahun (?). Yang terakhir ini adalah seorang laki-laki ber
20 — 29 tahun 6
umur 62 tahun dengan keluhan sejak 15 tahun adanya lubang-
30 — 39 tahun 7
40 — 49 tahun 16 lubang kecil di sekitar dubur yang selalu mengeluarkan cair-
50 — 59 tahun 17 an. Pada pemeriksaan terdapat multiple fistulae ani dan rec-
60 — 69 tahun 20 tal taucher terdapat carcinoma recti yang inoperable. Pen-
70 — 79 tahun 11
derita datang pada tahun 1973.
80 — 89 tahun 4
Setelah dilakukan biopsi dan pemeriksaan pathologi anatomi
penderita minta pulang paksa. Menurut keluarganya penderita
Umur termuda yang kami dapatkan adalah 23 tahun dan yang meninggal pada bulan Februari 1975.
tertua adalah 63 tahun. Umur rata-rata pada penderita laki-
LOKALISASI
laki maupun wanita adalah 55 tahun. Frekwensi terbanyak
kami dapatkan pada umur 60 — 69 tahun dan peak incidence Dari 81 penderita carcinoma colon yang kami rawat di
ini juga didapat oleh J W DUTTON. dapat lokalisasi seperti yang terlihat pada tabel 7. Sebagai
Tabel 5 : Umur rata-rata penderita carcinoma colon di Amerika perbandingan kami ketengahkan angka-angka dari JAC KM AN
R J. Angka-angka ini menunjukkan persesuaian, dimana le-
bih dari 50% carcinoma colon berada didaerah rectosigmoid.
Kami mendapatkan kira-kira 64% berlokalisasi didaerah recto-
sigmoid; JACKMAN dalam serinya mendapatkan 77%; CH RIS-
TOPHER mendapatkan 77%. Jadi lebih dari 50% penderita
carcinoma colon berlokalisasi di daerah sigmoid sampai rec-
tum. Suatu daerah yang mudah dicapai dengan rectal taucher
dan rectosigmoidoscopy.

Tabel 7 : Lokalisasi tumor pada penderita di RSSW.

Lokalisasi Jumlah Dalam %

caecum 4 5 %
colon ascendens 6 7,5%
flexura hepatica 6 7,5%
colon transversum 3 3,75%
6 : Umur rata-rata penderita carcinoma colon di RSWW flexura lienalis 4 5%
Tabel
colon ascendens 1 1,25%
sigmoid 10 12,5%
rectosigmoid 19 23,75%

Tabel 8 : Lokalisasi tumor menurut JACKMAN R J

Lokalisasi Jumlah dalam %

caecum 4, 2 %
3 7
colon ascendens , %
2 , 3%
flexura hepatica
colon transversum 4,1%
flexura lienalis 2,8%
colon descendens 5,4%
sigmoid 17,1 %
rectosigmoid 10,6%
rectum 50%

GEJALA
KELUHAN Berhubung dengan colon sebelah kiri mempunyai lumen
Pada umumnya penderita-penderita datang dalam keadaan yang relatip lebih kecil dari colon sebelah kanan dan isi colon
yang sudah lanjut. Masa sejak penderita merasa ada keluhan sebelah kiri merupakan faeces yang sudah padat sedang isi
sampai penderita pertama kali datang dibagian kami rata-rata colon sebelah kanan masih merupakan faeces yang cair, maka

Cermin Dunia Kedokteran No. 13. I978 25


tergantung pada lokalisasi tersebut. Maka dapat dikatakan q Penurunan beratbadan. Juga banyak penderita tidak memberi
bahwa pada carcinoma colon sebelah kanan terutama akan kan gambaran yang jelas tentang ada atau tidak adanya pe-
memberikan gejala-gejala perubahan dalam kebiasaan defe- nurunan berat badan karena tidak biasa menimbang berat
kasi. Adanya occult blood dalam faeces, rasa lemas dan adanya badannya.
palpable mass di perut sebelah kanan. Sedang carcinoma colon
q Perasaan lemah. Tidak jelas kapan dimulainya.
sebelah kiri terutama akan memberi gejala-gejala perubahan
dalam kebiasaan defekasi, adanya lendir dan darah dalam fae-
PEMERIKSAAN RADIOLOGIK.
ces serta gejala-gejala obstruksi usus dan kadang-kadang
juga teraba tumor massa di daerah perut sebelah kiri. Pemeriksaan radiologik dengan barium enema tidak dapat
q Obstruksi. Tanda obstruksi usus merupakan tanda lanjut dilakukan pada semua penderita. Hal ini disebabkan penolak-
(late sign) dari carcinoma colon. Dengan obstruksi usus ini an dari sebagian penderita dan sebagian lagi datang dalam
kami maksudkan obstruksi usus mekanik total yang tidak keadaan obstruksi usus total, sehingga memerlukan tindakan
dapat ditolong dengan cara pemasangan tube lambung, puasa operatif segera. Pada 18 penderita hanya dilakukan plain film
dan infus. Akan tetapi harus segera ditolong dengan operasi dari abdomen berhubung adanya gejala-gejala obstruksi total.
(laparotomia). Pada 43 penderita dilakukan pemeriksaan barium enema de-
Dari 81 penderita tersebut kami dapatkan 26 penderita ngan hasil positif. Empat penderita tidak dapat menahan
yang datang dengan obstruksi usus total (32%) atau satu di barium enema tersebut dan pemeriksaan gagal meskipun su-
antara tiga penderita . Lima diantara 26 penderita tadi me- dah diulang. Enam belas penderita tidak dilakukan peme-
nolak operasi dan minta pulang paksa, 12 penderita pada wak- riksaan radiologik karena alasan ekonomi akan tetapi pada
tu operasi ternyata inoperabel dan hanya sembilan yang ma- penderita-penderita ini diagnosa sudah dapat ditegakkan hanya
dengan pemeriksaan rectal taucher/rectosigmoidoscopy serta
sih operable (dalam arti resectable). Lokalisasi carcinoma co-
biopsi.
lon yang menimbulkan obstruksi tadi dapat dilihat pada tabel
9.
PENGOBATAN
Tabel 9 Lokalisasi tumor yang menimbulkan obstruksi
Pengobatan yang akan dibahas di bawah ini adalah peng-
Lokalisasi obstruksi Jumlah penderita obatan secara operasi yang dilakukan di RSSW. Dari 8I pen-
derita tersebut di atas, 37 penderita menolak operasi dan
caecum pulang paksa (45,7%). Dua penderita dalam keadaan cachexia
colon ascendens
dan inoperabel, jadi tidak di operasi. Yang mengalami operasi
flexura hepatica
adalah 42 penderita, ternyata pada 13 penderita pada waktu
colon transversum
Flexura lienalis laparotomia keadaan carcinomanya sudah demikian meluas
colon descendens sehingga hanya dapat dilakukan by pass atau colostomia saja.
sigmoi d Jadi yang inoperable adalah 18,5%. Sisanya 29 penderita
rectosigmoid
(35,8%) masih operable.
rectum

Jadi lokalisasi obstruksi tadi pada delapan penderita ter- Jenis operasi yang dilakukan di RSSW adalah sebagai berikut :
letak di colon sebelah kanan atau kira-kira 30% sedang 18 decompresi colostomi dilakukan pada 9 penderita
terletak di colon sebelah kiri atau kira-kira 70%. by pass dilakukan pada 4 penderita
q Lendir/darah dalam faeces. Adanya lendir dan darah se- reseksi-anastomose dilakukan pada 10 penderita
cara makroskopik dalam faeces kami dapatkan pada 56 pen- hemicolectomi dilakukan pada 8 penderita
derita atau kira-kira 69%. Sepuluh penderita ternyata tumor reseksi anterior dilakukan pada 2 penderita
terletak di colon sebelah kanan dan 46 penderita tumornya operasi secara Miles dilakukan pada 9 penderita
terletak di colon sebelah kiri. Dari 46 penderita ini 42 ter-
letak di daerah sigmoid-rectum. PROGNOSA DAN SURVIVAL RATE
q Abdominai mass. Dari 19 penderita carcinoma colon sebelah FLOYD dkk menyelidiki 1687 penderita dengan carci-
kanan kami jumpai sembilan penderita (47%) teraba tumor noma colon dan mendapatkan grafik .
massa dari luar. Sedang dari 62 penderita carcinoma colon Dari grafik tersebut dapat kita ketahui bahwa :
sebelah kiri hanya sembilan penderita(14%), yang teraba ada- (1) Survival rate untuk penderita yang mengalami operasi
nya tumor massa. Memang dikatakan bahwa carcinoma colon dibanding penderita seluruhnya menunjukkan hasil yang
sebelah kanan lebih sering teraba tumor massa dari luar di memuaskan.
banding yang sebelah kiri. JA C K M A N& BE A H R S mengatakan (2) Survival rate untuk seluruh penderita menurun dengan
bahwa 50% dari carcinoma colon sebelah kanan teraba tumor tajam dalam tahun pertama sesudah diagnosa ditegakkan.
massa dari luar sedang yang sebelah kiri hanya 10% saja. Dan hanya tinggal kira-kira 45% yang hidup setelah satu tahun
q Gejala-gejala lain. Perubahan-perubahan dalam kebiasaan de- serta 25% sesudah lima tahun.
fekasi seperti obstipasi atau diarrhea merupakan gejala per- (3) Penderita dengan operasi palliatif yang masih hidup dalam
mulaan. Akan tetapi sukar sekali untuk mendapatkan ke- tiga tahun tinggal kira-kira 8% dan kurang dari dua prosen
terangan yang jelas. setelah lima tahun.

26 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


grafik dari FLOYD 5. JOHN CLARK, ANDREW W H,A RAHIM MOOSA : Treatment
of obstructing cancer of the colon and rectum. Surg Gyn &
Obstetrics III : 541—544, 1975.
6.SHEKEEB SUFLAN, T MATSUMOTO : Intestinal obstruction.
TheAm J ofSurg 130:9—14, 1975.
7.WARREN E : Carcinoma of the colon a d rectum. Surg clin of
North Am 56 (1) : 175—187, 1976.
8.ANDREW W H,A R MOOSA & G E BLOCK :Controversies in the
treatment of colorectal cancer. Surg Clin of North Am 56 (1):
189—197, 1976.
9. RICHARD A : Practical aspects of investigation and treatment of
colorectal cancer. Med Clin of North Am 56 (3): 665—675, 1972.

10.J W DUTTON, A H RENO, L G HAMPSON : Mortality and progno-


sis of obstructing carcinoma of the large bowel. The Am J of Surg
131 : 36—41, 1976.

kalender kegiatan ilmiah


(4) Penderita yang mendapat operasi dekompresi saja dan ma-
sih hidup dalam satu tahun hanya tinggal 4% saja.
25—27 November 1978
Bagaimana dengan hasil di RSSW? Bila kita tinjau kembali pen-
Koperensi Rcgional Dermatologi ke 11I
derita-penderita carcinoma colon dari tahun 1969 sampai di Bali
Desember 1971 dimana lima tahun telah lewat maka didapat- Sekretariat
kan angka-angka sebagai berikut : dr A Kosasih, Bagian Penyakit Kulit Kclamin
Fakultas Kedokteran Universitas 1 ndonesia
Selama jangka waktu tersebut ditemukan 18 penderita dimana J1 Diponegoro 71
pada sepuluh penderita dilakukan operasi sedang delapan Jakarta
penderita menolak operasi. Dari jumlah tersebut empat pen- 23—27 Januari I979
derita (dua menolak dioperasi dan dua di operasi), tidak dapat Kursus Penyegar dan Penambah Il mu Kcdokteran F K U 1 ke X
diketahui lagi alamatnya sedang 14 penderita lainnya telah di Jakarta
meninggal dalam jangka waktu satu sampai tiga tahun. Perlu Sekretariat
kami tekankan bahwa pada penderita-penderita yang me- Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
JI Salemba 6, P O Box 358
ninggal tersebut tidak dilakukan autopsi sehingga sebab kemati Jakarta
an tidak jelas. Tapi jelas five year survival rate tidak dapat di
10-15 Juni I979
capai. Dan jelas pula bahwa sebab dari keadaan ini adalah ter- Kongres Obstetri Ginekologi lndonesia kc 1V
lambatnya , penderita datang berobat. di Yogyakarta
Sedang dalam tahun 1972 terdapat 15 penderita dengan Sekretariat
carcinoma colon yang dirawat di RSSW. Dimana empat pen- Bagian Obstetri Ginekologi
derita tidak dapat diketahui alamatnya lagi. Sampai bulan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada
R S Mangkuyudan P O Box 60
Oktober 1976 masih hidup tiga penderita atau setelah empat Tilpun 3331
tahun masih hidup 20%. Yogyakarta
Kami menilai bahwa penderita-penderita carcinoma colon 25—27 Juni I979
pada umumnya datang berobat dalam keadaan terlambat ke ru Pertemuan Regional Ahli Farmakologi Asia dan Pasifik Barat
mah sakit kami sehingga bila hasil pengobatan yang kami ke II
di Yogyakarta
dapatkan dimasukkan dalam grafik dari FLOY D dkk maka
Sekretariat
grafiknya akan terletak diantara garis semua penderita (all dr R H Yudono Bagian Fartnakologi
patients) dan garis palliative saja. Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada
Sekip Utara
KEPUSTAKAAN Yogyakarta.
6-7 Juli 1979
1.DAVIS CHRISTHOPHER : Textbook of surgery. 7th ed. W B
Seminar Nasional ke II Ikatan Ahli Radiologi Indonesia
Saunders Co. Philadelphia, 1972.
di Semarang
2.JACKMAN & BEARS : Tumors of the large bowel. 4 th ed. W B Sekretariat :
Saunders Co Philadelphia, 1969. Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Dipone-
3.TILDEN C EVERSON, WARREN H COLE : Cancer of the diges- goro/R S Dr Kariadi
tive tract. 5th ed Meredith Corp. New York 1969. JI Dr Soetomo 16
Semarang
4.BERMANSJAH : Colorectal carcinoma di RSCM 1960—1966.
Jakarta 1969.

Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978 27


KERACUNAN Pb

dr U Sjamsudin, dr F D Suyatna
Bagian Farmakologi
Fakuitas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta

PENDAHULUAN angin pada waktu musim dingin. Intake rata-rata melalui res-
pirasi ialah 0,33 mg/hari, dengan kadar maksimal yang di
Intoksidasi Pb sudah dikenal sejak lebih dari 2000 tahun anjurkan 10 ug/m 3 (the American Hygiene Association).
yang lalu, berupa kolik yang ditemukan oleh dokter diber- Para penyelidik menghubungkan keadaan polusi ini dengan
bagai negara Yunani dan Arab. Pada tahun 100 — 200, penggunaan bahan bakar.
DIOSCORIDES mengemukakan bahwa kolik usus yang ter- Pb tetraetil (TEL) merupakan campuran bahan bakar untuk
jadi disebabkan Pb yang termakan dan debu Pb yang diinhala- antiknock (menaikkan bilangan oktan), bersama-sama dengan
si. Sebab banyak alat-alat rumah tangga terbuat dari Pb yang Pb tetrametil. Konsentrasi maksimal yang dianjurkan berbeda
dapat menimbulkan keracunan. Sekitar tahun 1831 dan 1839 di tiap negara, biasanya tidak melebihi 1,12 g/l. Di Indonesia
tidak kurang dari 1217 kasus plumbism pekerja industri Pb, di untuk campuran bensin hingga memenuhi persaratan premium
laporkan pada rumah sakit di Perancis. (bilangan oktan 87) dan super (bilangan oktan 98), berturut-
Keracunan Pb pada orang dewasa sering terjadi dalam turut dipergunakan TEL maximum 2,5 ml dan 3 ml per gallon
pabrik cat. Kira-kira 50 tahun yang lalu, keracunan Pb pa- Amerika.
da anak jarang terjadi. Tetapi sekitar tahun 1960 ditemukan Sebagian besar sample udara mengandung partikel Pb ber-
intoksikasi Pb pada anak dengan sosial-ekonomi rendah, karena ukuran dibawah 1,0 u, yang merupakan batas ukuran partikel
inhalasi atau menelan cat dari rumah yang rusak. Kebiasaan yang dapat diabsorbsi per inhalasi. Di Amerika lebih daripada
memasukkan benda kedalam mulut dan pika sering dihubung- 2 x 108 kg Pb dibakar sebagai campuran antiknock per-
kan dengan intoksikasi Pb. Keadaan sosial-ekonomi mempe- tahun. Dikatakan bahwa lebih daripada 98% hasil pembakaran
ngaruhi insidens. Tetapi keracunan Pb dari tahun ke tahun Pb berasal dari bensin. Surveykasus keracunan yang dirawat
terus meningkat, walaupun tahap sosial ekonomi semakin baik. di rumah sakit—rumah sakit Jakarta sejak tahun 1971 belum
Di luar negeri dikhawatirkan peningkatan konsumsi Pb me- pernah dilaporkan adanya keracunan Pb. Hal ini mungkin di
lalui air minum dan polusi udara, yang diduga dapat me- sebabkan karena kasus memang tidak ada atau diagnosa tidak
nimbulkan cacad mental pada bayi baru lahir, karena ibunya dapat ditegakkan. Berdasarkan adanya polusi Pb udara, ke-
exposed terhadap Pb, disamping kemungkinan terjadinya mungkinan intoksikasi Pb pada orang-orang yang exposed,
abortus spontan. Terdapat korelasi positip antara kadar Pb terutama di kota besar makin banyak.
darah ibu dan bayi yang diukur pada tali pusat.
KINETIKA TIMBAL
Problema intoksikasi Pb yang lebih luas ialah kadar Pb
yang terdapat dalam udara yang dapat diabsorbsi melalui Setelah diabsorbsi, Pb didistribusi kejaringan lunak seperti
paru dengan baik. Menurut KEHOE, kurang dari 10% Pb otak, paru, hati, limpa dan sumsum tulang sebagai Pb di-
dalam makanan yang diabsorbsi melalui usus, tetapi 25 — fosfat, kemudian mengalami redistribusi dan disimpan da-
50% Pb yang diinhalasi akan diabsorbsi. Walaupun semua se- lam tulang sebagai Pb trifosfat yang sukar sekali larut. Proses
nyawa Pb bersifat racun, tetapi toksisitas tergantung dari ini berlangsung beberapa bulan bila penderita tidak diobati.
pada daya larut dan ukuran partikel. Semakin kecil ukuran Pb disimpan dan dimobilisasi dari tulang sama seperti kalsium.
partikel, semakin mudah diabsorbsi. Umpama Pb asetat yang Dalam keadaan terikat pada tulang ini dianggap tidak toksik
kurang menimbulkan bahaya intoksikasi (kecuali bila ter- dan toksisitas timbul jika berada dalam keadaan bebas. Pem-
makan) oleh karena tidak berbentuk debu, dilain pihak Pb berian banyak kalsium dan keadaan asidosis akan membebas-
suboksida sangat toksik karena dapat menyublim. kan Pb dari tulang rimenuju jaringan lunak. Intake fosfat tinggi
Kadar Pb udara berbeda-beda ditiap tempat. Dari penyelidikan mempermudah penimbunan Pb dalam tulang dan mengurangi
yang dilakukan, disimpulkan bahwa urutan daerah yang Pb dalam jaringan lunak, sedangkan intake fosfat rendah
mempunyai kadar paling rendah hingga berkadar tinggi mulai akan mempermudah mobilisasi Pb dari tulang dan menambah
dari tengah lautan — pegunungan — pantai — suburban — urban. Pb dalam jaringan lunak. Pb diekskresi bersama urin, tinja dan
Sewaktu musim dingin kadar Pb lebih tinggi daripada musim keringat (sedikit). Ekskresi Pb ditingkatkan dengan pemberian
panas, sebab polusi Pb kurang dapat dieliminasi oleh aliran CaNa 2 EDTA atau penisilamin dan dimerkaprol.

28 Cermin Dunia Kedokteran No. I3. I978


INTOKSIKASI PB DAN PENGOBATANNYA SKEMA SINTESA HEME
Saluran pencernaan, susunan saraf, sistim hemopoietik glisin suksinil CoA
dan ginjal merupakan alat-alat tubuh yang paling sensitif ALA sintetase (I)
terhadap efek toksik Pb. piridoksal dan asam pantotenat
q Intoksikasi Pb akut. Intoksikasi Pb akut jarang terjadi, biasa-
delta amino laevuliniv acid
nya bersifat accidental poisoning yaitu termakannya senyawa (delta ALA)
Pb akut yang mengenai saluran pencernaan dapat berupa
haus, nausea, vomitus, diare, konstipasi, sakit perut dan rasa ALA dehidratase (2)
logam (metallic taste). Sedangkan gejala yang berhubungan
dengan susunan saraf pusat berupa insomnia, tremor, halusina- portobilinogen
si dan gejala pada anak yang menonjol yaitu ataxia, kon-
vulsi, koma dan ensefalopati. Gejala intoksikasi Pb terhadap uroporfirinbgen III
susunan saraf perifer dapat berupa parestesi perasaan, sakit UP III (—H 2 )
dan lemah pada otot terutama kaki. Anemia hemolitik berat
kadang-kadang terjadi pada intoksikasi Pb akut. Hal ini diduga koproporfirinogen III
karena Pb merusak membran sel eritrosit muda dan dewasa
pada sumsum tulang serta darah tepi. CP III (—H2 ) koproporfirinogen dekarboksilase (3)
Anak-anak dan orang dewasa dengan keracunan Pb akut
dapat menderita disfungsi tubuli proximal dengan gejala- protoporfirin IX
gejala seperti sindroma de Toni Fanconi (aminoasiduria, ++ .
Fe + hemesintetase (ferokhelatase) (4)
glikosuria, hiperfosfaturia). Mungkin hal ini disebabkan oleh + glutation
gangguan enzim tubuli atau defek fungsi mitokhondria yang + asam askorbat
dapat kembali normal sesudah diobati dengan chelating agent.
globin+ vit. A?
Intoksikasi Pb khronik. Intoksikasi Pb khronik didapatkan
melalui exposed terhadap Pb secara terus menerus sehingga hemoglotiin
kumulasi Pb makin meningkat dalam jaringan, suatu saat me-
Iampaui safety level dan menimbulkan keluhan dan gejala Koproporfirin dekarboksilase dihambat lebih ringan dibanding
intoksikasi. kan yang lain.
Adanya deposit Pb abnormal terlihat pada gambaran radio- Ferokhelatase yaitu suatu enzim mitokhondria yang tidak
logi tulang panjang, dimana terdapat penambahan densitas ada pada eritrosit dewasa karena sel ini tidak mempunyai
ujung metafisis dan garis Pb pada gingiva. mitokhondria. Kenaikan protoporfirin eritrosit (PP eritrosit)
Pada keadaan lanjut terlihat kelumpuhan (radial palsy, wrist menunjukkan hambatan ferokhelatase terjadi dini pada pre-
drop, foot drop dan sebagainya) yang diduga disebabkan oleh kursor seri eritrosit dalam sumsum tulang, sehingga PP dan
efek toksik prekursor porfirin, kelainan metabolisme heme beberapa prekursornya meningkat dalam sumsum tulang, da-
dalam saraf atau mekanisme lain yang belum jelas. rah dan ekskreta.
Anemia merupakan tanda lanjut dan paling sering terjadi pa- ALA serum (serum delta amino laevulinic acid) bertambah tak
da orang dewasa, biasanya ringan serta selalu hipokrom. Hal ini sebanyak PP eritrosit, ALA ini meningkat pada serum dan urin.
menunjukkan salah penggunaan Fe dalam sumsum tulang, In vivo porfobilinogen (PBG) urin meningkat lebih sedikit di
sehingga Fe ' darah meningkat. Pada penelitian ternyata ter- bandingkan yang terjadi in vitro.
dapat pengurangan inkorporasi Fe kedalam eritrosit dan pe- Perhatian utama ditujukan pada penentuan proporfirin eri-
nimbunan Fe berlebih-lebihan dalam mitokhondria prekursor trosit, ALA urin dan CP urin; dimana kadarnya meningkat
eritrosit. Anemia yang terjadi digolongkan sebagai anemia bersamaan dengan munculnya sel bertitik basofil yang pertama
sideroblastik. Pembentukan heme terganggu pada tingkatan dalam sumsum tulang. Untuk kasus ringan dan keperluan pro-
mitokhondria yang didapat sebagai perubahan yang paling filaksis dapat dilakukan pemeriksaan ALA urin saja. CP urin
dini, atau langsung terhadap sintesa ribosom dan atau soluble normal pada anak dengan berat dibawah 80 lb kurang lebih
RNA, terutama pada sumsum tulang dan hati. 0 — 75 ug/24 jam.
Dengan cheiating agent, ALA dan CP urin ini mula-mula
Menurut AL B A H A R Y, hambatan terjadi pada enzim-enzim menurun dengan cepat dan selanjutnya berlangsung lebih lam-
(1), (2) dan (4). Sedangkan menurut AN DE R S O N, terhadap bat. Penurunan PP eritrosit kadang-kadang makan waktu lebih
enzim-enzim (2), (3) dan (4). lama, hal ini disebabkan karena PP eritrosit yang berlebihan
Pb sebagai racun bekerja terhadap enzim-enzim yang kaya membentuk kompleks dengan Zn dalam sel dan waktu paruh
akan gugus sulfhidril (SH) seperti ALA dehidratase (ALA-D) eritrosit yang cukup panjang. Peninggian PP eritrosit ini tidak
dan dalam mitokhondria yaitu ALA sintetase dan hemesinte- spesifik untuk intoksikasi Pb. Hal ini dapat pula terjadi pada
tase. Hambatan ini bersifat nonkompetitif, tetapi aktivitas anemia defisiensi Fe dan porfiria herediter. Sedangkan CP
enzim ini dapat dikembalikan in vitro dengan menambah di urin juga meninggi pada demam rematik, poliomielitis, anemia
thiothreitol, yaitu suatu reagen yang melindungi gugus SH. defisiensi Fe, alkoholisme dan cirrhosis hepatis. Kelainan me-

Cermin Dunia Kedokteran No. I3. 1978 29


tabolisme porfirin ini harus diperhatikan juga pada jaringan- 306/HGA/72).
jaringan selain darah, mengingat jumlah koproporfirin yang Cara pertama berdasarkan reaksi antara diphenylthiocarbazone
dikeluarkan melalui urin;seperti hepar dan ginjal. Kecuali itu dengan Pb, sehingga membentuk Pb dithizonate yang dapat di
terjadi perubahan proporsi normal HbA, HbF dan HbA 2 yang ekstraksi dengan chloroform. Kepekaan dapat dicapai hingga
mirip dengan thallasemia. 0,3 mikrogram. Sarana yang tersedia memungkinkan untuk
Pengobatan bertujuan mengurangi konsentrasi Pb bebas da- dapat dilakukan di Indonesia.
lam darah dan cairan tubuh, hal ini dilakukan dengan berbagai Tanda dan gejala keracunan Pb biasanya terjadi pada kadar 0,8
cara antara lain : ug/ml darah atau lebih sedangkan ensefalopati terjadi pada
(1) Mencegah absorbsi Pb melalui usus dan paru. kadar 1 — 2 ug/ml atau lebih.
(2) Memperlancar pengeluaran Pb dalam urin dan empedu Hubungan antara diet dan sumber Pb udara dan bahayanya
tanpa merusak alat-alat ekskresi. terhadap kesehatan dapat dilihat pada tabel I.
Untuk mengobati keracunan Pb akut dilakukan hal-hal sebagai
berikut : TABEL I . Hubungan diet dan sumber Pb di udara
(1) Cuci lambung dengan MgSO 4 I %.
Pemberian 30 g MgS04 dianggap sebagai tindakan perta- Udara Absorbsi mcg/hari IPerkiraan kadar
mcg/ Keadaan - dalam darah
ma yang penting, jika terdapat Pb dalam usus. Bila diberi m3 Udara Diet Total (mcg/ml)
kan edathamil terlebih dahulu (peroral atau parenteral)
sangat berbahaya karena mempercepat absorbsi dan 0,0005 Udara bersih — — — —
transport ke otak. 2 14 30 44 0,21
(2) Berikan putih telur, susu atau tannin untuk mengikat Pb. 2—5 Udara kota Kadar antara
10 Ekskresi ALA
(3) Berikan atropin atau morfin untuk menghilangkan sa- mulai mening-
kit perut. kat 69 30 99 0,40
(4) Berikan CaC1 2 10%, 5 ml atau Ca glukonat 10%, 10 ml 50 Terjadi in-
intravena untuk menghilangkan kolik Pb. Dosis dapat di toksikasi 345 30 375 0,72
ulangi tiap 4 — 6 jam.
(5) Pasang infus garam fisiologis. Menurut B ROOKES, kadar Pb 0,015 ppm umumnya diterima
(6) Berikan chelating agent yang biasa dipakai ialah eda- sebagai batas maksimum Pb udara dalam ruangan kerja.
thamil (calcium disodium versenate, CaNa 2 EDTA). Cara lain untuk menentukan adanya peninggian absorbsi Pb se-
A L B A H A R Y menganjurkan dosis harian 0,5 — I,0 g da- awal mungkin ialah dengan mengukur :
pat diberikan intravena, intramuskulus atau per infus, selama q Kadar koproporfirin urin (Cp urine). Cara untuk menentu-
4 — 5 hari. Pemberian parenteral dapat diulangi setiap dua atau kan kadar Cp urin dikenal sebagai metode AS K E V O L D.
tiga hari sesudah jadwal terapi selesai. Penentuan ini dilakukan dengan cara ekstraksi dan menggu-
Untuk infus dibuat larutan 3% dengan melarutkan 5 ml (1 gram) nakan fluorimeter dan spektrofotometer.
edathamil dalam 33 ml NaC1 isotonis dan 5% dextrose. Kecepat q Kadar delta ALA urin. Kadar delta ALA urin ditentukan
an: 0,17 g/jam/4 ½ kg BB dan maksimal lima — tujuh hari dengan menggunakan metode :(i) G R A B E C K I dan (ii) DAVI S
(dosis maksimal 2,5 g/4½ kg BB). ALA test.
Menurut . BY ER S dan MALOOF, untuk anak diberikan 65 ak- q Aktivitas deltaALA dehidratase dalam darah. Penetapan
mg/kg BB/hari intravena (1 g/I5 kg/hari) dosis dibagi dua da- tivitas delta-aminolaevulinic acid dehidratase (ALA-D) darah
lam 100 — 200 ml dextrose. Jadwal terapi biasanya 3 hari dan berdasarkan penetapan porfobilinogen yang dibentuk dari ALA
dapat diulangi hingga dua atau tiga kali selang tiga sampai em-
oleh ALA-D dengan kolorimetri. Harga normal: 80 — 120 U/ml
pat hari. eritrosit.
Penisilamin dan BAL (British Anti Lewisite) dipandang sebagai
chelating agent yang kurang; poten dibandingkan edathamil. q Banyaknya selbertitikbasofil dalam darah perifer. Karena Pb
Pengobatan intoksikasi Pb khronis sama seperti keracunan normal terdapat dalam makanan sehari-hari, maka biasanya
akut, ditambah dengan pemberian barbiturat dan urea intra- didapatkan eritrosit bertitik basofil sekitar 3 — 4 x 10 3 /mm 3
vena untuk menghilangkan udema otak atau menurunkan darah. Bila terdapat lebih dari 50 x 10 5 eritrosit bertitik basofil
tekanan intrakranial yang tinggi. dalam I mm3 darah, jika bukan karena anemia mungkin di
Akhirnya penting diperhatikan untuk mencegah kemungkinan sebabkan oleh karena intoksikasi Pb.
exposed yang kedua kalinya. Beberapa nilai MAC (maximal allowable concentration) yang
Peranan laboratorium dianjurkan dapat dilihat pada tabel II dan III .
Akhir-akhir ini cara mendeteksi kadar sesuatu zat dalam
tubuh mengalami kemajuan, sehingga peka untuk mengukur Kesimpulan
kwantitas yang kecil sekali. Telah dibicarakan mengenai intoksikasi timbal dan cara
Beberapa cara untuk mengtikur kadar Pb dalam udara, darah mengobatinya. Intoksikasi timbai dinegeri kita (terutama di
atau urin ialah dengan : kota-kota besar seperti Jakarta) mungkin ada dan akan ber-
(1) Double Extraction, Mixed Color, Dithizone Method tambah karena penggunaan timbal diindustri atau sebagai polu-
(2) Atomic absorption spectrophotometry (PE R K I N E L M E R si semakin meningkat. Asumsi ini baru dapat dibuktikan

30 Cermin Dunia Kedokteran No. 13 I978


kebenarannya setelah mengadakan suivey di tempat-tempat sember 1974.


yang relatif sumber timbalnya tinggi dihubungkan dengan 8. DAVID D J & HOFFMAN S: Blood lead and metal retardation.
keluhan, gejala intoksikasi Pb, kadar Pb darah, kadar PB — CP Lancet 23: 906, I977.
dan delta ALA dalam urin (case finding approach). Dari 9. Determination of lead in air and in biological materials: The
pemeriksaan laboratorium dapat diketahui apakah kadar zat USPHS double extraction, mixed color dithizone method.Manual
of analytical methods, pp 1—I8, 1958.
zat tersebut diatas sudah melampaui safety level atau belum. Hal
ini penting, karena akan merupakan "early warning " supaya 10. DREISBACH R H: Handbookofpoisoning. Diagnosis and
treatment. Sec ed Lange Medical Publ, California, 1959.
tidak terjadi tragedi seperti keracunan air raksa (Minamata
disease) di Jepang. 11. FISCHBEIN A: Lead poisoning from cocktail glasses. JAMA
187:703, 1964.
TABEL 11 : KADAR Pb MAXIMAL YANG DIPERBOLEHKAN
12. GLEASON M N et al: Clinical toxicology of commercial pro-
Pb urin 0,2 mg/24 jam ducts. Acute poisoning. 3rd ed The William and Willkins Co.
Baltimore, 1969.

ALA urin 3,0 mg/24 jam 13. GOLDSMITH J R and HEXTER A C: Respiratory exposure
to lead: Epidemiological and experimental dose response re-
lationship. Science 158: 132, 1967.
CP urin 0,2 mg/24 jam
14. GOLDSTEIN A, ARONOW L and KALMAN S M: Principle
ofdrugaction. The basis of Pharmacology. seced A Wiley Bio-
ALA darah 40 ug% medical Health Publication, John Wiley & Sons. New York,
1974.
PP eritrosit 60 ug% 15. GODMAN L S and GILMAN A:The pharmacological Basis of
therapeutics. 5th ed Mac Millan Publis Co, Inc. 1975.
PP faeces 40 ug/gm dry weight 16. GOYER R A: Lead toxicity, A problem in environmental
patho-Iogy.AmJ Pathol 64:167-179, I971.
CP faeces 20 ug/gm dry weight 17. GRIGGS R C et al: Environmental factors in childhood lead
poisoning. JAMA 187:703, 1964.
HAMILTON A and HARDY H L:Industrial toxicology . sec
TABEL 111 18.
HUBUNGAN KADAR ALA URIN DENGAN DERAJAT
ed Paul B hoeber Inc. Medical book department of Harper &
EXPOSED Brothers, New York, 1959.
19. KEHDE R: Lead, alkyl compounds. International labour office.
ALA mg/1 Derajat "exposed" terhadap Keterangan Encyclapedia of occupationalhealth and safety. I LO, Geneva,
1972.
0—6 tidak ada normal 20. LIGHTFOOTE J et al: Lead intoxication in an adult caused
by Chinese herbal medication. JAMA 238:1539, I977.
6,1 — 10 ringan "trace " 21. LIVESLY B and SISSONS C E: Chronic lead intoxication
mimicking motor neuron disease. Brith Med J 4: 387-388, 1968.
10,1 — 20 sedang + 22. MOORE M R et al: A retrospective analysis of blood lead in
mentally retarded children. Lancet 2: 7I7, 1977.
20,1 — 40 berat ++ 23. MOORE et al: Contribution of lead in drinking water to blood
lead. Lancet 24: 661, 1977.
Lebih dari 40,1 sangat berat +++ 24. PERLSTEIN M A and ATTALA R: Neurologic seqdellae bf
plumbism in children. Clin Pediat 5: 292-298, I966.
KEPUSTAKAAN: 25. Pertamina. Komunikasi pribadi, 1978.
1. ALBAHARY C : Leadandhemopolsis. The mechanism and 26. PUESCHEL S M et al: Children with an increased lead burden.
consequences of the erythropathy of occupational lead poisoning. A screening and follow up study.JAMA 222: 462, 1972.
Am I Med 52: 367-378, 1972. 27. SCHEIDERMAN M A et al: Reports, toxicity. Thetherapeutic
2. ANDERSON K E et al: Plubism from airborne lead in a firing index and the ranking of drugs. Science 144: 1212, 1964.
range. An anusual exposure to a toxic heavy metal. Am J med
28. STANKVIC M et al: Manual of methods. lnternational training
63: 306-3II, 1977.
course in applied toxicology. lnstitute of occupational and radio-
3. BROOKES V J & JACOBS M B : Poison. second ed D van Nos- logical health, Belgrade, Deligradka 29, Jugoslavia 1975 and
trans Co, Inc. Princeton, 1958. 1977.
4. BYERS R K : Lead poisoning. Review of the literature and 29. WILSON V K, THOMSON M L and DENT C E: Amino-
report on 45 cases.Pediatrics 23: 585-602, 1959. aciduria in lead poisoning: A case in childhood. Lancet 265:
5. CHOW T J & EARL J L : Reports, lead in aerosols in the atmos- 66-68, 1953.
Science
phere: lncreasing concentration. 169: 577, 1970. 30. ZETTERLUND B et al: Lead in umbilical cord correlated with
6. CROSSBY W H : Editorials. Lead contaminated health food: the blood lead of the mother in areas with low, median or high
The tip of an iceberg.JAMA 238:1544, 1977. atmosphere pollution. Acta Paediatr Scand 66: 169-175, I977.

7. DARMANSJAH I, HANDOKO T and SINTASARI M: Poisoning 31. ZIELHUIS R L: Lead, alloys and compounds. lnternational
admissions in Jakarta hospitals during 1971 and 1972. Kongres Labour Office. Encyclopaedia of occupational Health and safety .
Nasional ke Il lkatan Ahli Farmakologi Indonesia, J akarta, De- ILO, Geneva, 1972.

Cermin Dunia Kedoktcran No. I3. 1978 33


PENCEGAHAN & PENGOBATAN

DEFICIENCY VITAMIN A

dr. R. Rachmad
Bagian Ilmu Gizi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta.

PENDAHULUAN. di tiap propinsi berada diatas kriteria WHO untuk menetap-


Salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian kan adanya masalah deficiency vitamin A.
di Indonesia adalah deficiency vitamin A. Masalah ini sudah Deficiency vitamin A sering ditemukan bersama-sama
dikenal lama; terutama pada anak-anak 1 — 5 tahun dan sam- KKP (Kurang Kalori Protein). OOMEN (1954) menemukan
pai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat bahwa penderita KKP menunjukkan juga tanda-tanda de-
di Indonesia. ficiency vitamin A, POEY (1957) menemukan 49% sedang
SALIM (I958) menyatakan bahwa penyebab utama kebuta- KARYADI (1968) menyatakan hampir seluruh penderita defi-
an di Indonesia adalah deficiency vitamin A. Hal ini diperkuat ciency vitamin A yang mengunjungi Klinik Gizi di Bogor me-
oleh penelitian TEN DOESCHATE (1968) di Surabaya dan se- nunjukkan tanda-tanda KKP.
kitarnya, ia mendapatkan bahwa kebutaan pada hampir sete- FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DEFICIENCY VITAMIN A.
ngah dari 675 anak dibawah I7 tahun disebabkan karena defi- Terjadinya deficiency vitamin A berkaitan dengan ber-
ciency vitamin A. bagai faktor dalam hubungan yang komplex seperti halnya de-
Di Jakarta diantara 118.631 pengunjung poliklinik Bagian ngan masalah KKP. Makanan yang rendah dalam vitamin A
Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM selama satu tahun (Su- biasanya juga rendah dalam protein, lemak dan hubungannya
tedjo dkk. 1968) ditemukan 5,56 % penderita deficiency vi- antar hal-hal ini merupakan faktor penting dalam terjadinya
tamin A. Observasi selama 10 tahun dari 1957 - I966 (Teng deficiency vitamin A. Selanjutnya deficiency vitamin A dan
1968) , menunjukkan bahwa 21% diantara pasien pengunjung protein mengurangi resistensi tubuh terhadap infeksi dengan
Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung yang berumur 0 — 6 akibat terjadinya suatu "Circulus vitiosus" antara infeksi dan
tahun adalah penderita Xerophthalmia. kekurangan gizi. Konsumsi vitamin A yang rendah selalu
Dari hasil-hasil survey lain ditemukan prevalensi defi- dilaporkan pada penyelidikan-penyelidikan deficiency vi-
ciency vitamin A pada anak-anak prasekolah diberbagai tamin A.
tempat sebagai berikut : Pada percobaan binatang dan manusia diperoleh beberapa
Pondok Pinang, Jakarta 13,9%(SAROSO dkk. 1972); Desa Ke petunjuk hubungan antara protein & vitamin A dan untuk me-
bon Klapa, Bogor 27,6% (KARYADI dkk. 1972), Cibatok, mudahkan dapat kita simpulkan sebagai berikut :
Bogor 17,6% (KARYADI dkk. I974), di kota Salatiga 4,3%
(1)• Protein dari diet sehari-hari mempengaruhi absorpsi,
dan di 5 Desa Kabupaten Semarang 5,2% (TARWOTJO dkk.
transportdan penimbunan vitamin A ke hati dan mobi-
1975). Atas dasar kadar vitamin A dalam serum di 5 Kabupa-
lisasi vitamin A dari hati.
ten di JATIM dengan kriteria 10 ug/100 ml sebagai "defi-
ciency " dan 10-19 ug/ 100 ml sebagai"rendah " (KA R Y A D I, (2). Deficiency vitamin A dan keadaan KKP biasanya ter-
1976) didapatkan serum vitamin A deficien pada bayi yang jadi bersama-sama.
masih menyusu (dibawah satu tahun) 7,7-35, 7%, paling tinggi (3). Protein dalam diet diperlukan untuk memobilisasi ca-
pada umur 1 — 3 tahun (11,5 — 30,3%) dan keadaan lebih dangan vitamin A dari hati ke aliran darah.
baik sesudah 4 tahun sekalipun jumlah anak dengan nilai
"
deficien " masih cukup tinggi. FUNGSI VITAMIN A.
Hasil penelitian di daerah Sumatra Utara (KUSNI dkk.) Vitamin merupakan "body regulators " dan berhubungan
menunjukkan bahwa masalah deficiency vitamin A (menurut erat dengan proses-proses metabolisme. Secara umum fungsi
kriteria WHO 1976) di daerah itu masih merupakan masalah tersebut dapat kita bagi dua (i) Yang berhubungan dengan
kesehatan masyarakat. Beberapa angka sementara hasil pene- penglihatan dan (ii) Yang tidak berhubungan dengan peng-
litian Team penanggulangan Kebutaan menunjukkan preva - lihatan.
lensi Xerosis conyuntiva dipelbagai desa di Sumatra Utara q Yang berhubungan dengan penglihatan.WALD mengurai-
bervariasi dari 0 — 8,4% kan, bahwa Rods yang ada di retina sensitif terhadap cahaya
Pada umumnya prevalensi Xerosis Cornea yang masihaktif dengan intensitas yang rendah, sedang Cones untuk cahaya

34 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


dengan intensitas yang tinggi dan untuk menangkap cahaya X 1 B : Bitot's spot with conyunctival xerosis
berwarna. X2 : Corneal xerosis
Pigment yang sensitif terhadap cahaya dari Rods disebut se- X 3 A : Corneal ulceration with xerosis
bagai Rhodopsin , yang merupakan kombinasi dari Retinal al X 3 B : Keratomalacia
dan protein opsin.
XN : Night blindness
Peranan vitaminA pada proces penglihatan. XF : Xerophthalmia fundus
XS : Comeal scars
Rhodopsin (11-cis) XB : Bitot's spot
Klasifikasi diatas telah digunakan oleh WHO:
'Cahaya
Lumi-rhodopsin (all-trans) Keterangan.
(1). Tanda-tanda diatas lebih merupakan discriptive dari
kelainan dan bukan diagnostik: Semua tanda-tanda yang
gelap Meta-rhodopsin (all- terlihat pada pemeriksaan dicatat:
trans)
(2). Secara umum dapat dilihat bahwa beratnya tingkat ke-
lainan terdapat pada klasifikasi yang ada di dalam ko-
Cahaya
tak:
retinal isomerase (3).. Klasifikasi diatas dapat dipakai baik pada field survey
11—cis-Retinal+ opsin all-trans-Retinal + opsin maupun pada penderita di Rumah Sakit/Poliklinik:
NADH + H+ gelap (4). Pada tabulasi tanda kelainan hanya ditulis satu saja dan
NAD lkohol NADH + H+ ditulis yang paling berat:
NAD alkohol
dehydrogenase dehydrogenase (5). Hanya Bitot's spot dengan xerosis conyunctive biasa-
nya pada anak 0 — 5 tahun merupakan gejala defi-
11-cis-Retinal all-trans-Retinal
ciency vitamin A:
(6). Tanda-tanda yang ditulis diluar kotak, sering berhubung-
Perubahan dari rhodopsin ke retinene terjadi pada proses
an dengan gejala deficiency vitamin A dan sebaiknya di-
penglihatan: Disini mungkin rhodopsin hanya salah satu dari
struktur protein yang akan menjadi stabil setelah dikombina- tulis terpisah:
si dengan vitamin A: Kriteria untuk menentukan apakah Xerophthalmia dan defi-
qEffect lain dari vitamin A: Pada penglihatan yang ber- ciency vitamin A secara nyata merupakan problem Public
pengaruh secara tidak langsung ialah pada epithel cornea & Health adalah sebagai berikut :
conyunctiva: Pada keadaan deficiency, epithel menjadi kering (1): X1B 2:0 %
dan terjadi keratinisasi seperti tampak pada gambaran Xero- (2). X2 + X3A + X3B 0:01 %
phthalmia: (3): XS 0:1 %
(4): Plasma vitamin A kurang dari 10 ug/100 ml
KLASSIFIKASI DEFICIENCY VITAMIN A PADA MATA: 5%: >=
Untuk mengklasifikasi derajat berat ringannya dan untuk PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
melihat prognosanya, TEN DOESCHATE membagi kelainan- Usaha-usaha untuk mencari pemecahan masalah vitamin A
kelainan deficiency vitamin A pada mata sebagai berikut : sudah dilakukan berbagai pihak dengan cara-cara pendekatan
yang berbeda-beda, seperti :
X o : Hemeralopia
X 1 : Hemeralopia/conyunctivae Xerosis/Bitot spots (1). Dengan memberikan minyak kelapa sawit ± 4 cc sehari
X2: Xerosis cornea pada anak-anak Balita; terlihat bahwa frequensi defi-
X 3 : Keratomalacia ciency vitamin A menurun dan serum vitamin A me-
X 4 : Staphyloma, phthisis bulbi. ningkat dengan nyata:
(2). Sejak diperkenalkan pemberian massive oral dose vi-
X 3 dan X 4 berbentuk kelainan irreversible meskipun diberi tamin A pada tahun 1970, maka di Indonesia juga telah
pengobatan dengan massive dose vitamin A: dilakukan percobaan-percobaan pemberian massive oral
X o s/d X 2 masih merupakan kelainan yang reversible dan dose vitamin A per oral dan dapat disimpulkan bahwa
memberi respons baik dengan penambahan vita- pemberian 200.000 I.U. massive oral dose vitamin A
min A. dalam bentuk oil emulsion dua kali dalam satu tahun
pada anak Balita atau 300.000 I.U. sekali dalam satu
Pada Report of the international vitamin A consultative
tahun dapat memberikan perlindungan terhadap ke-
group (IVACG) Maret 1976 di Haiti, kelainan Xerophthalmia
mungkinan deficiency vitamin A dan juga dapat meng-
dibagi sebagai berikut :
hilangkan gejala deficiency vitamin A.
X 1 A : Conyunctival xerosis Penelitian program evaluasi pemberian 'massive

CerminDunia Kedokteran No: 13: 1978 35


dose " terhadap efektivitas dan penilaian sistim pe-
layanannya telah dilakukan oleh TARWOTJO dkk.
1975.
Kemungkinan pe manfaatan Karotin, dengan pemberian
makanan yang banyak mengandung Karotin atau pem-
berian vitamin A melalui garam konsumsi.
Semua cara tersebut diatas memberikan harapan
untuk pemecahan problem deficiency vitamin A dike-
mudian hari dan memerlukan penelitian lebih lanjutun-
tuk pelaksanaan secara luas. Karotin ternyata tidak
seefektif vitamin A. Pemberian vitamin A pada garam
konsumsi menunjukkan bahwa selain kadar vitamin
A dalam serum meningkat dengan nyata, juga kadar Hb
meningkat. Bagaimana hubungan vitamin A dengan pe-
ningkatan Hb., masih belum dapat diterangkan secara
tegas dengan pengetahuan yang ada.
Diseases of the Liver and Biliary System.
KEPUSTAKAAN Ditulis oieh Sheila Sherlock.
Edisi ke V, tahun 1975.
1. DOWLING J E, G WALD : Vitamin A deficiency and night Diterbitkan oleh Blackweil Scientific Publication, Oxford,
blindness. Proc Natl Acad Sc, U S 44 : 648, 1958. London. Edisi Asia diterbitkan oieh Igaku Shoin Ltd . Tokyo,
2. KARYADI D et al : Prevention of vitamine A deficiency by Japan.
bianual administration of oral massive dose of vitamin A emulsi-
on. Presented at II Asian Congress of Nutrition , Jan 12-17,
Manila, 1973. Dr. Sheila Sherlock adalah seorang ahli dalam penyakit hati
yang terkenal dalam dunia kedokteran dan memiliki juga ba-
3. KARJATI SRI, J A KUSIN, C De WITH : Geographical distri-
nyak pengagum diantara kalangan dokter spesialis di Indonesia.
bution and prevalence of nutritional deseases in East Java,
Indonesia. Univ Airiangga School of Med. Prev Health Service Edisi Asia ini bersampul tebal (hard cover) dan terdiri dari
Surabaya • Royal Tropical Inst. Amstredam, 1976. 820 halaman yang dicetak di atas kertas tebal dan mengkilat.
Illustrasi-illustrasi di dalamnya cukup bagus dengan beberapa
4. KUSIN J A, H S R PARLINDUNGAN SINAGA and A M MAR-
diantaranya berwarna.
PAUNG : Xerophthalmia in North Sumatra. Trop Geogr Med
29 : 41, 1977. Cara penyajiannya menarik dan ditulis dalam bahasa Inggeris
yang cukup enak dibaca.
5. MUHILAL and DARWIN KARYADI : Study on the availabili-
ty of vegetables carotenes and preformed vitamin A in pree Dimulai dengan anatomi hati dan cara-cara pemeriksaan
school children. IVACMeeting, Geneva, 1977.
yang mutakhir seperti hepatic scinti-scanning serta teknik/
indikasi/interpretasi biopsi jarum jaringan hati. Disusul oleh
6. OEY KOEN LIAN : Efforts toward preventing blindness in
perobahan-perobahan biokimia penyakit hati. Setelah ini baru
Indonesia. MKI : 12 : 72, 1963.
dilakukan pembahasan bagian kliniknya.
7. SALIM I: Masalah kebutaan dan penyakit mata di Indonesia.
Penulis resensi ini berpendapat bahwa semua atau hampir
Pidato Pengukuhan Guru Dasar. Jakarta, 1958.
semua kelainan/gangguan hati dapat ditemukan dalam buku ini,
8. SUTEDJO, K ROHTIATMO and SUDIYANTO : Morbidity dari hepatic cellular failure, portal hypertension sampai
in outpatients attending the department of child health. Medical metabolic diseases dan tumor-tumor hati.
school University of Indonesia, Jakarta. Paed Indon 8 : 235-
Beberapa bab diantaranya yang menarik sekali ialah:
250, 1968.
hepatitis virus, drugs and the liver dan nutritional liver
9. SWAMINATHAN M C, SUSHELA T D, THIMMAYANA B V S: diseases.
Field prophylactic trial with a single anual oral dose of vitamin
Tidak mengherankan bahwa buku ini telah mengalami ce-
A. Am J Clin Nutr 23 : 109, 1970.
tak ulang sebanyak lima kali antara tahun I955 dan I975 serta
10. TARWOTJO IG et al : An evaluation of the vitamin A deficien- telah diterbitkan pula dalam bahasa-bahasa Spanyol, Jerman,
cy prevention pilot project in Indonesia 1973•1975. AFOB Portugis, Yunani, Jepang dan Itali.
Inc Report, 1975.
Kepada teman-teman sejawat dan mahasiswa-mahasiswa
11. TEN DOSSCHATE J : Causes of blindness in and around Suraba- kedokteran yang hendak memperdalam pengetahuan dalam
ya, East Java. Indonesia. Thesis. 1968. kelainan/gangguan hati, kami anjurkan untuk membaca buku
12. TENG KHOEN HIN : Some observations on Xerophthalmia
ini.
during the last decades 1957-1966. Proc Kongr Nas PERDAMI Untuk keterangan lebih lanjut dipersilahkan menghubungi:
I, 1968. KALMAN BOOK SER VICE, P. O. Box 3105/Jkt.

36 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


HUMOR

ILMU KEDOKTERAN

JABATAN YANG DIRANGKAP DISANA BINGUNG................................DISINI BINGUNG

Kakak saya adalah seorang dokter yang me- Pada suatu pagi saya dipanggil ke sebuah desa. Kebiasaan di desa,
megang sebuah poliklinik sosial di kotanya. orang sakit dikerubungi orang banyak, ingin tahu!
Suatu sore, dia pergi ke polikliniknya walau- Saya datang dengan gaya tersendiri, diikuti orang yang memanggil,
pun merasa tidak enak badan. sambil menjinjing tas saya. Ketika saya masuk, orang-orang menyibak. Mereka
Seorang pasien telah diperiksa dan diberi tentunya penuh harapan karena sang penolong sudah datang.
obat, giliran pasien berikutnya. Tiba-tiba ........... Kemudian saya tanya-tanya sebentar kepada istri si sakit. Sesudah
serangan kolik menyerang sehingga dia tak tanya j awab selesai saya mengatakan: "Bu, bapak ini lumpuh separuh. "
berdaya, sambil mengaduh kesakitan dia me- Sesudah tensimeter saya pasang, stetoskop-pun diletakkan ditelinga. Tiba-
megangi perutnya. Pasien-pasien menjadi ribut tiba.......................... aduuuuuuuhh!!! Suasana mengagetkan. Sambil memegang
dan berusaha menolong. Dia ditidurkan di tem- telinga, saya lari pontang-panting. Orang-orang jadi kebingungan, karena
pat tidur yang biasa dipakai untuk memeriksa yang pontang-panting justru pak dokter yang kesakitan.
pasien, sedang para pasien sibuk menggosok- — "Ada apa pak, ada apa dok . . . . ???
gosok badannya dengan minyak gosok, mencari + "Ambiikan itu aikohol, masukkan ke teiinga ini! perintah saya.
kan air panas untuk kompres hangat dan lain- Setelah beberapa saat barulah saya kembali tenang, muka merah padam dan
lain. badan keringatan.
Setelah rasa sakit reda dia minta air untuk + "Ah, sial . . . sial . . . , itu lho . . . . stetoskop saya disarangi serangga, lalu
minum obat. Pasien-pasien tak bisa pulang, masuk ketelinga. (Begitulah stetoskop yang tergantung lama ada bahayanya,
karena turun hujan lebat ..................................... jadi sarang serangga!).
Melihat "penolongnya " menunggu hujan lebat Sesudah kembali kerumah, saya meminta bantuan istri saya untuk me-
reda, kakakku tak sampai hati untuk mem- ngeluarkan serangga yang masih bersarang di telinga ..........................................
biarkan begitu saja, sehingga dengan masih
memegangi perut dia sekarang bertugas lagi dr Nyoman Sumartha
jadi dokter dan ganti memeriksa pasien-pasien Bajera,Tabanan, Bali.
yang tadi menjadi "dokter"-nya .........................
Ternyata salah seorang "dokter"-nya adalah
penderita decompensatio cordis, untung bukan Jawaban Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran
myocard infarct . . . . !!!!!!!!
1. A 3. A,B 2. A, B, C. 4. B
dr M M B Sunarti
Bagian parasitologi F K-U S M 5. D 6. D 7. B 8. B
Saia

Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978 37


Catatan singkat
Methotrexate merupakan sitostatik yang cukup Berbagai jenis obat dapat menimbulkan ketuli-
banyak dipakai dalam klinik, harganyapun cukup an, antara lain salicylate. Malah akhir-akhir ini
tinggi. Beberapa peneliti berusaha untuk menda- banyak antibiotika golongan aminoglycoside juga
patkan biay4 pengobatan yang lebih rendah tanpa mempunyai efek samping tersebut diatas.
menurunkan efeknya. C DIA M O N D dalam surveynya melaporkan pa-
Ternyata pemakaian probenecid pada pemberi- da tahun 1973 dijumpai 0,3% dari 11 526 pende-
an methotrexate memperlambat eliminasi metho- rita yang berobat mendapat ketulian akibat
trexate, dalam 24 jam kadar serum adalah empat obat-obat yang diberikan. Dari jenis obat-obat
kali lebih tinggi dari pada penderita yang tidak di- penyebab ketulian tersebut didapatkan : aminogly-
beri probenecid. coside ( 13 per 1000 ) Aspirin ( 11 per 1000 )
Dikatakan bahwaefek inhibitor dari probenecid ; Ethacrynic acid (7 per 1000) dan Quinidine (3
pada ekskresi methotrexate di tubuli ginjal ini per 1000). Diingatkan juga bahwa banyak tetes
dapat dipakai untuk memperkecil dosis metho- telinga yang memakai antibiotika golongan ami-
trexate yang dipakai sehingga dapat menurunkan noglycoside. Karena pemakaian tetes telinga da-
biaya pengobatan. pat mencapai telinga bagian dalam, kemungkinan
ketulian melalui jalan ini juga perlu dipikirkan.
British Med Journal 1 1097, 1978.

C DIAMOND Adverse Drug React Bull 69:244,1978

Diagnosa dini dari tumor cerebri merupakan hal


penting yang dapat membantu pengobatan pende-
Pada klinik rheumatologi di Brisbane, Austrlia
rita dengan tumor cerebri.
telah dilakukan penelitian pemakaian aspirin yang
Oleh sebab itu pada penderita-penderita dengan dibandingkan dengan pemakaian aspirin dengan
tanda peninggian tekanan intra cranial atau kelain kombinasi phenacetin dalam bentuk APC terhadap
an neurologik focal yang progresif perlu diteliti se- efek samping yang terjadi pada penderita dengan
cara lebih cermat, agar pengobatan oleh ahli bedah rheumatoid arthirts.
saraf dapat mencapai hasil yang lebih baik untuk IAN FERGUSON et al mendapatkan pada pema
penderita. Tetapi perlu diingat bahwa kenaikan
kaian aspirin dalam bentuk kombinasi dengan phe-
tekanan intra cranial tidak selalu disebabkan oleh
nacetin (APC) yang lebih dari satu kg aspirin,di-
tumor cerebri. Beberapa casus anak karena keracu- temukan adanya hubunganyangbermakna dengan
nan Pb, nalidixic acid, tetracyclin pada bayi atau terjadinya renal papilary necrosis (RPN). Tetapi
gejala withdrawal pada pemakaian kortikoteroid pada penderita yang memakai aspirin saja sesudah
juga dapat menimbulkan hal tersebut Kadang- ka jumlah yang sama (satu Kg) RPN tidak terjadi.
dang sebab dari kenaikan tekanan intra cranial yang Analysa perbandingan juga dilakukan di New Zea-
benigne baru dapat ditemukan sesudah dilakukan land dan didapatkan terjadinya RPN sekitar 10,6%
pemeriksaan yang cermat. pada pemakai aspirin yang dikombinasi dengan
Epilepsy dan gejala-gejala lain yang menyebab- phenacetin dalam bentuk APC sesudah pemakaian
kan timbulnya kecurigaan akan kemungkinan ada- lebih dari satu Kg. Dan hanya 0,3% bila hanya
nya peninggian tekanan intra cranial tentunya aspirin saja yang dipakai tanpa kombinasi.
sangat membantu menegakan diagnosa. Juga pen- Dikatakan sebaiknya pemakaian phenacetin ha-
ting meneliti adanya kelainan visus serta kelainan rus benar-benar dibatasi mengingat efek samping
pendengaran yang bersifat unilateral. yang mungkin timbul.

BRYAN ASHWORTH Practitioner 221 : 59 65, 1978 I AN FERGUSON et al. Med J Austr 1 : 950 — 954, 1977

38 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ???
Jawaban dapat dilihat pada halaman 37

1. Seorang ibu datang dengan keluhan anaknya panas (39,4 0 ) 5. Seorang penderita ulkus peptikum yang diobati dengan
sejak dua hari yang lalu, pada pemeriksaan tidak ditemukan antasida, terserang sinusitis. Antibiotika yang dipakai untuk
gejala-gejala fisik lain. Cara yang paling mudah dan efektif mengobati sinusitis yang diderita adalah tetracyclin. Sesudah
untuk mengetahui bahwa anak tersebut menderita infeksi tiga hari, pemeriksaan mikrobiologis ternyata tidak me-
virus atau bukan adalah dengan : nunjukan adanya perbaikan. Tindakan yang perlu diambil
(A) Memberikan antipiretika, bila penyebab panas adalah adalah :
infeksi virus maka dalam satu jam suhu tubuh akan (A) Mengganti tetracyclin dengan cephalosporin
menjadi normal kembali dan keadaan anak akan (B) Menambahkan cephalosporin selain pemberian
menjadi biasa kembali. tetracyclin
(B) Dilakukan pemeriksaan darah rutin lengkap. (C) Pemberian tetracyclin intra muskulus.
(C) Dilakukan pemeriksaan serologis terhadap virus. (D) Perlu dipastikan bahwa penderita tidak memakai
(D) Semuanya benar. antasida
men- dua jam sebelum dan dua jam sesudah
(E) Semuanya salah. lan tetracyclin.
(E) Bukan salah satu diatas.
2. Obat mana dari yang tertera di bawah ini dapat menimbul-
6. Herpes zoster dapat menimbulkan kelainan pada cornea
kan febris yang persistent ?
berupa :
(A) Quinidine
(A) Keratitis supervisialis yang cepat menyembuh.
(B) Methyldopa
(B) Keratitis supervisialis yang kronik.
(C) Decongestant
(C) Keratitis profunda yang cepat menyembuh.
(D) Kortikosteroid
(D) Keratitis profunda yang kronik dan dapat bertahan
(E) Semua yang tersebut diatas beberapa minggu setelah kelainan kulit sembuh.
3. Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan sebagai pemeriksaan (E) Bukan salah satu diatas.
pendahuluan pada penderita dengan panas yang 7. Gejala paralyse pada penderita meningitis disebabkan oleh :
tidak diketahui sebabnya ?
(A) Timbulnya suatu keadaan encephalopathia.
(A) Hitung jumlah leucosit
(B) Proses peradangan menyangkut nervi craniales pada
(B) Hitung jenis dasar otak.
(C) Pemeriksaan ASTO (C) Karena peninggian tekanan intra kranial.
(D) Pemeriksaan creatinin darah (D) Panas yang tinggi menimbulkan gangguan keseimbang-
(E) Bukan salah satu yang tersebut diatas an cairan dan elektrolit.
(E) Bukan salah satu diatas.
4. Seorang penderita datang dengan pembesaran kelenjar
lymphe disertai tanda-tanda peradangan lokal yang ringan, & Pada gonoblennorrhea neonatorum dikenal tiga stadium
setelah diberikan antibiotika follow up apa yang perlu di- yaitu :
lakukan ? (A) Stadium infiltrasi ; stadium infasi dan stadium pe-
(A) Pemeriksaan laboratorium lengkap nyembuhan.
(B) Satu sampai dua minggu kemudian dilakukan evaluasi (B) Stadium infiltrasi ; stadium blennorrhea dan stadium
apakah kelenjar tersebut tetap sama besar, mengecil penyembuhan.
atau semakin besar, bila perlu dilakukan biopsy un- (C) Stadium blennorrhea ; stadium infiltrasi dan stadium
tuk pemeriksaan PA. penyembuhan.
(C) Langsung dilakukan biopsy untuk pemeriksaan PA. (D) Stadium irirtasi ; stadium infiltrasi dan stadium pe-
(D) Bukan salah satu diatas nyembuhan.
(E) Semua yang tersebut diatas (E) Bukan salah satu diatas.

Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978 41


PENGALAMAN PRAKTEK
PENGALAMAN PENGOBATAN TUBERCULOSIS PARU Kelompok—1 : Terdiri dari 110 penderlta.

dr Tjubianto Waktu 3 bulan 6 bulan 9 bulan 12 bulan


Biro Konsultasi Penyakit Paru Kebayoran Penilatan
Jakarta.
Pengobatan ber- 49 (44,5%) 47 (42,7%) 38 (34,5%) 41 (37,2%)
hasil sputum
Pengobatan penderita TBC paru berbeda di dalam pengobat- (+) menjadi
an masal dan praktek partikulir. Faktor-faktor yang me- (—)
nentukan dalam pengobatan masal :
Pengobatan 19 (17,3%) 12 (10,9%) 14 (12,7%) 8(7,3%)
• Harga obat sebaiknya serendah mungkin dengan efek tidak ber-
terapi sebesar mungkin dan efek samping seminimal hasil sputum
mungkin. tetap (+)
• Tempat-tempat pengobatan untuk penderita TBC
Defaulter 42 (38,1%) 51 (46,4%) 58 (52,7%) 61 (55,4%)
paru yang biasanya tergolong dalam golongan sosio
ekonomi rendah, sebaiknya terletak dekat rumah pen-
derita. Kelompok 11 : Terdiri darl 89 penderita yang berobat selama 12 bu-
lan. Penilaian ditakukan setelah enam dan 12 bulan.
Sebaliknya pada praktek partikulir, dimana seorang dok-
ter hanya berhadapan dengan satu penderita (individual treat-
Waktu penilalan 6 bulan 12 bulan
ment), maka obat-obat dapat disesuaikan dengan kemampu-
an penderita. Pengobatan berhasll 76 (85,4%) 77 (86,5%)
Cara pengobatan masal di Biro Konsultasi Penyakit Paru Sputum (+)
Kebayoran adalah sebagai berikut : menjadl (—)
• Satu bulan intensif initial treatment, tiap hari penderita Pengobatan tldak 13 (14,6%) 12 (13,5%)
diberikan satu gram Streptomycin, 400 mg INH dan 10 mg berhasii Sputum
vitamin B 6 . tetap (+)
• Sebelas bulan biweekly treatment, dua kali seminggu pen-
derita diberi satu gram Streptomycin, 700 mg INH dan 10 Streptomycin INH dan vitamin B 6 selama enam bulan sebaik-
mg vitamin B 6 . nya dipikirkan untuk diobati dengan obat-obat sekunder seper-
• Satu tahun penderita diberikan INH saja, dengan dosis ti rifampicin, ethambutol, prothionamide, thiocetazone dan
400 mg sehari. Supervised treatment, dimana obat yang PAS, dengan kombinasi dua atau tiga macam obat ini.
diberikan harus ditelan di tempat pengobatan. Di Jakarta sedang dilakukan percobaan pengobatan de-
• Untuk pengobatan tidak dipungut bayaran. ngan rifampicin dan ethambutol sebagai pengobatan sekun-
• Pemeriksaan sputum hanya dilakukan dengan direct sme- der.
ar. Karena defaulter rate masih sangat tinggi, sebaiknya juga
• Hanya penderita dengan sputum positif yang mendapat dicari cara untuk mengurangi hal ini, misalnya :
pengobatan.
• dengan mengikut sertakan semua puskesmas kelurahan
Dari cara pengobatan seperti tersebut diatas, didapatkan hasil dalam Tuberculosis control program.
seperti yang terlihat pada tabel kelompok I dan II. • dengan kunjungan ke rumah-rumah penderita.
Dari hasil-hasil yang tersebut pada tabelkami bersimpulkan Bila biaya untuk Tuberculosis Control Program memung-
bahwa : kinkan, maka penderita-penderita dengan sputum (—) diberi
(1) Defaulter rate sangat tinggi. (defaulter = penderita juga pengobatan dengan cuma-cuma, sebab penderita-pende-
yang mendapat pengobatan kurang dari 80% rita ini selalu mempunyai kemungkinan untuk menjadi positif
dari yang seharusnya). kembali.
(2) Dengan cara pengobatan seperti diatas, tidak ada
perbedaan antara enam bulan pengobatan dengan Pengalaman merupakan guru yang terbaik ! Oleh sebab
12 bulan. itu bila sejawat mempunyai pengalaman yang baik un-
tuk diketahui oleh sejawat-sejawat lain, silahkan se-
Pada saat ini sedang dilakukan percobaan dengan Strep- jawat kirimkan kepada kami untuk dimuat dalam
tomycin - INH dan vitamin B 6 selama enam bulan, kemudian ruang ini.
INH saja selama tiga bulan dengan memperhatikan relaps rate. Redaksi.
Penderita-penderita dengan sputum (+) sesudah pengobatan

42 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


ABSTRAK-ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA TEST FUNGSI HEPAR DENGAN KELAINAN HEPAR

Dalam klinik hampir selalu dimintakan pemeriksaan test fungsi hepar untuk melihat
kelainan fungsi hepar sekaligus untuk menegakkan diagnosa kelainan pathologik hepar.
Akan tetapi test-test ini tidak dapat mengukur secara quantitative besarnya kelainan
fungsi hepar tersebut.
H E PATOLOGI Hal tersebut dibuktikan oleh GALAMBOS dan W ILLS yang meneliti 242 penderi-
ta obesitas terhadap empat pemeriksaan fungsi hepar yang biasa dilakukan diikuti
dengan biopsy hepar. Pemeriksaan fungsi hepar yang dipakai adalah SGOT, alka-
line phosphatase, bilirubin dan albumin.
GALAMBOS dan WILLS mendapatkan bahwa 60—89% dari penderita dengan
kelainan biopsy hepar mempunyai satu atau lebih test fungsi hepar yang abnormal.
Makin berat kelainan test fungsi hepar juga didapatkan kelainan biopsy yang lebih
berat. Tetapi dari seluruh penderita didapatkan 12% pemeriksaan fungsi hepar yang
normal dengan hasil biopsy yang abnormal.

GALAMBOS & WILLS, Gastroenterology 74 : 1191 — 1195, 1978.

PERBANDINGAN BEBERAPA CARA PENGOBATAN TBC

Oleh East African & British Medical Research Council telah dilakukan perbanding-
an pengobatan tbc dalam lima cara pemberian selama empat bulan. Cara pemberian
dan obat-obat yang diberikan adalah sebagai berikut :
1. Streptomycin, INH, rifampicin dan pyrazinamide diberikan setiap hari se-
lama delapan minggu kemudian diteruskan dengan INH, rifampicin dan pyra-
zinamide setiap hari untuk sembilan minggu.
II. Seperti I selama delapan minggu kemudian diteruskan dengan INH dan rifam-
picin setiap hari selama sembilan minggu.
III. Seperti I untuk delapan minggu diikuti INH dan pyrazinamide tiap hari
PULMONOLOGI selama sembilan minggu.
IV. Keempat jenis obat diberikan selama delapan minggu kemudian diteruskan
dengan INH saja selama sembilan minggu.
V. INH, rifampicin dan pyrazinamide tiap hari selama delapan minggu diterus-
kan dengan INH saja tiap hari selama sembilan minggu.
Dosis obat yang diberikan adalah :
• Streptomycin lg/hari.
• INH 300 mg/hari.
• Rifampicin 450 mg/hari untuk penderita dengan berat badan < 50 kg dan
600 mg/hari untuk penderita dengan berat badan > 50 kg.
• Pyrazinamide diberikan 1,5 g/hari untuk penderita dengan berat badan
< 50 kg serta dan 2 g/hari untuk penderita dengan berat badan > 50 kg.
Dari cara-cara yang tersebut diatas dimana rifampicin diberikan terus menerus
selama empat bulan, didapatkan relaps bakteriologik sebesar 8% dalam enaln bulan
pertama sesudah pengobatan dihentikan. Tetapi pada tiga cara pemberian yang lain
dimana rifampicin diberikan hanya dalam waktu dua bulan dijumpai relaps bakterio-
logik sebesar 24 — 34%. Tidak dijumpai adanya efek yang nyata pada penambahan
pyrazinamide dalam pengobatan terhadap relaps bakteriologik..
Penghentian pemberian streptomycin pada dua bulan pertama pengobatan menun-
jukan terjadinya penurunan efek bakterisid dari chemotherapy yang dipakai, tetapi
perbedaannya dikatakan kurang bermakna.

Lancet II : 334 -- 338, 1978.

Cermin Dunia Kcdokteran No. 13. 1978 43


ANTIBIOTIKA vs BATUK PILEK
Dalam praktek sehari-hari sering kita menghadapi anak-anak dengan infeksi saluran
pernafasan bagian atas, dengan gejala batuk pilek dan panas. Pada keadaan tersebut
sering timbul keraguan dalam penggunaan antibiotika. Keadaan ini juga menimbul-
kan kebingungan pada para orang tua, lebih-lebih bila disertai dengan panas dan me-
nurunnya nafsu makan.
SALIN SK Y mengadakan penelitian pada 30 anak yang berumur antara satu sampai
sepuluh tahun dengan infeksi saluran pernafasan bagian atas. Ke 30 anak tersebut
dibagi dalam dua kelompok. Kelompok I hanya diberikan campuran tripolidone,
pseudoephedrin dan codein sebagai pengobatan symtomatik, sedang kelompok II
diberikan erythromycin. Para orang tua diminta membantu mencatat keadaan anak
ANTIBIOTIKA selama lima hari.
Sesudah lima hari SA L IN S KY mendapatkan bahwa pada kelompok anak yang
diberikan antibiotika terjadi dua komplikasi, satu anak menderita otitis media dan
satu anak menderita infeksi saluran pernafasan bagian bawah disertai bronchospasme.
Pada kelompok nonantibiotika dijumpai tiga komplikasi, dua anak menderita otitis
media dan satu anak menderita infeksi saluran pernafasan bagian bawah.
Gejala panas menghilang sesudah 2,2 hari pada kelompok antibiotika sedang pada
kelompok nonantibiotika adalah 3,5 hari.
Dari 30 anak-anak tersebut dijumpai empat biakan hapusan tenggorok yang positif
terhadap beta hemolityc Streptococcus, dua dari masing-masing kelompok.
SALINSKY berkesimpulan bahwa pemberian antibiotika dapat memperingan gejala
tetapi tidak dapat secara mutlak mencegah komplikasi.
Clinical Trial J 15 (3): 76 — 81, 1978.

ARTERIOPORTAL FISTULA AKIBAT CHOLANGIOGRAPHY/BIOPSY HATI

Pemeriksaan biopsy jarum pada hepar, percutaneus transhepatic cholangiography


dan catheterisasi transhepatic dari saluran empedu intra hepatic atau vena porta se-
makin sering dilakukan akhir-akhir ini.
Cara-cara pemeriksaan tersebut sangat membantu dalam menegakan diagnosa
kelainan hati dan saluran empedu. Akan tetapi tindakan-tindakan tersebut diatas
juga mempunyai resiko antara lain terjadinya arterioportal fistula.
HEPATOLOGI KUNIO OKUDA et al meneliti penderita-penderita yang telah mengalami pemerik-
saan tersebut diatas. Satu bulan sesudah tindakan dilakukan, OKUDA melakukan
hepatic arteriogram. Ia menemukan terjadinya fistula arterioportal pada lima (5,4%)
dari 93 penderita sesudah biopsy hati ; tiga (3,8%) dari 79 penderita sesudah per-
cutaneus transhepatic cholangiography dan tujuh (26,2%) dari 26 penderita sesudah
catheterisasi saluran empedu intra hepatic.
Fistula yang terjadi tidak terlalu besar dan umumnya tertutup terhadap porta
hepatis. Dalam observasi ternyata fistula tersebut dapat menutup secara spontan
sesudah beberapa bulan.
K OKUDA Gastroenterology 74 : 1204—1207, 1978.

PENGARUH BROMOACETYLCHOLINE PADA NEUROBLASTOMA


Neuroblastoma merupakan tumor yang sering terjadi pada anak-anak dan dewasa,
penyakit ini mempunyai prognosa yang buruk. Suatu penelitian yang cukup menarik
telah dilakukan oleh C Y CHIOU di University of Florida.
C Y CHIOU melakukan penelitian pada tikus-tikus yang telah diinokulasi dengan
ONCOLOGI neuroblastoma, dengan memberikan 30 mg/kg Bromoacetylcholine intra tumor satu
sampai tiga kali sehari dan Bromoacetat 12 mg/kg intra tumor dua kali sehari. la men-
dapatkan bahwa hidup tikus-tikus percobaan tersebut dapat diperpanjang sampai
200 %. Dikatakan mungkin efek cytolytic dari Bromoacetylcholine dan Bromoacetat
pada neuroblastoma dapat merupakan titik terang terhadap pengobatan penderita
dengan neuroblastoma.

C Y. CHIOU. J of Pharm Sciences 67 (3): 331 — 33, 1978.

44 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978


UNIVERSITARIA

SYMPOSIUM ALERGI DAN IMUNOLOGI PENYAKIT sitivitas dari paru akibat antigen yang terinhalasi.
SALURAN PERNAFASAN q dr Rasjid mengetengahkan data-data penderita yang
dirawat dibagian paru Rumah Sakit Persahabatan dan sampai
Pada tanggal 17 Juli 1978 di Rumah Sakit Pusat Per- tahun 1977 seberapa jauh faktor-faktor alergi dan imunologi
tamina, Jakarta telah berlangsung Symposium Alergi dan Imu- berperan dalam penyakit-penyakit paru tidak dapat diterang-
nologi Penyakit Saluran Pernafasan. Symposium yang di kan lebih lanjut, karena memang tidak pernah diselidiki ke-
selenggarakan oleh Pengurus Besar Perhimpunan Alergi dan arah itu.
Imunologi Indonesia (P B PERALMUNI ) ini diikuti oleh ku-
rang lebih 300 peserta berasal dari Jakarta, Bandung, Semarang q dr Jan Susilo mengetengahkan beberapa kasus yang kli-
nik diduga suatu tumor paru, sesudah operasi ternyata ke-
Yogyakarta dan Surabaya.
lainan disebabkan oleh jamur. Ia mengingatkan perlu juga
Pada symposium ini dibahas tujuh kertas kerja dimana
dipikirkan kemungkinan infeksi jamur pada kelainan paru yang
sebagian besar (empat kertas kerja) dibawakan oleh Prof
Pepys, seorang ahli dalam bidang alergi dan imunologi dari dijumpai dalam praktek sehari-hari, walaupun frekwensinya
Inggris yang sudah mempunyai reputasi internasional. Dalam tidak begitu besar.
symposium ini Prof Pepys memberikan sebagian besar dari
inti judul symposium sedang beberapa pembicara dari Jakarta SEMINAR KORTIKOSTEROID
menambahkan data-data yang ada untuk memberikan gam- 26 Juli 1978
baran dari keadaan di tanah air kita. Di sini secara khusus di
bahas aspek alergi dan imunologi dari penyakit paru. Hal-hal Kortikosteroid merupakan sejenis obat dengan lapangan
yang dibahas antara lain : penggunaan yang luas sekali; dari dermatologi sampai pada pen
q dr Karnen, Kepala Sub Bagian Alergi dan Imunologi cangkokan ginjal. Tak mengherankan bahwa jumlah peminat
FKUI-RSCM mengatakan bahwa sejak dibukanya Sub Bagian yang hendak mengikuti Seminar Kortikosteroid jauh melebihi
Alergi dan Imunologi tahun 1974 sampai akhir tahun 1977 angka yang telah diperkirakan (200 orang). Dengan berbagai
rata-rata diterima 800 penderita baru per tahun. Jumlah ini cara pembatasan masih terdaftar juga sekitar 300 orang.
merupakan angka pengunjung baru tertinggi kedua sesudah Pada umumnya mereka terdiri dari dokter-dokter yang berada
Sub Bagian Kardiologi. Sedangkan selama periode tersebut di Jakarta dan wilayah-wilayah sekitarnya.
diatas tercatat sekitar 12.000 sampai 15.000 pengunjung yang Seminar yang diselenggarakan di istana Ballroom, Hotel
mendapat pengobatan di Sub Bagian yang sama. Jumlah ini Sari Pacific Jakarta, hanya berlangsung satu hari; dari jam
merupakan Jumlah pengunjung poliklinik tertinggi dari semua 9.00 sampai jam 14.00 dengan waktu istirahat untuk minum
Sub Bagian yang ada di bawah Bagian Ilmu Penyakit Dalam. kopi/teh dan makan siang.
Dari penelitiannya, dr Karnen mendapatkan bahwa 25% Acara ilmiah dimulai dengan pembahasan dasar farma-
dari mahasiswa FKUI tingkat III tahun 1976-1977 dan 1977- kologi kortikosteroid yang dilanjutkan dengan penggunaannya
1978 menderita penyakit alergi. Dimana 50% dari mahasiswa diberbagai bidang dalam klinik seperti ilmu Penyakit Telinga
penderita asma tersebut menunjukkan test kulit yang positif Hidung dan Tenggorokan, Penyakit Mata, Penyakit Kulit,
terhadap debu rumah. Sedang 60% dari mahasiswa penderita Penyakit Dalam, Pediatri dan yang tak kalah penting yaitu
rhinitis juga menunjukkan hasil test kulit yang positif ter- penggunaan kortikosteroid yang kurang tepat atau salah.
hadap bahan yang sama. Acara ilmiah berlangsung dengan lancar dan cukup
Dikatakan bahwa penyakit saluran pernafasan merupakan menarik untuk para pendengar yang terbukti dari jumlah
penyakit yang sering dijumpai dalam praktek sehari-hari. dan jenis pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan.
Mengingat penyakit tersebut mempunyai banyak aspek, baik Beberapa kekurangan yang kiranya perlu mendapat per-
imunologik maupun nonimunologik maka pengelolaannya hatian panitia penyelenggara ialah : kurang besarnya slide-pro-
perlu dilakukan dengan sebaik-baiknya agar penderita tidak jector untuk ruang sidang yang cukup luas dan pelaksanaan
masuk ke dalam keadaan yang kronik dengan fungsi paru yang makan siang yang seharusnya dapat ditingkatkan. q OLH
irreversible.
KONGRES NASIONAL KE-X DAN KONGRES IL-
q Prof Pepys banyak membicarakan aspek-aspek alergi MIAH KE-111 IKATAN SARJANA FARMASI INDO-
dan imunologi berbagai penyakit paru antara lain : Imuno-
pathologi dari asma; Imunopathologi dari aspergilus paru; NESIA
Imunologi klinik dari penyakit alergi pada saluran pernafasan
yang disebabkan oleh asap atau uap dan debu serta bahan- Pada tanggal 17 — 20 Juli 1978 di Yogyakarta telah ber-
bahan kimia. Juga ia membahas tentang Reaksi hypersen - langsung Kongres Nasional ke-X dan Kongres Ilmiah Farmasi

Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978 45


ke-III Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Kongres yang dihadiri kup mengundang banyak peminat. Sampai-sampai perlu di-
oleh kurang lebih 600 peserta ini dibuka oleh Menteri Kesehat- buat pemberitahuan dibeberapa surat kabar, serta ratusan
an, Dr Suwardjono Surjaningrat bertempat di gedung Purna- peminat terpaksa ditolak karena kapasitas ruangan tidak me-
budaya, Kompleks Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. madai. Tercatat kurang lebih 600 peminat yang mendaftar
Tema kongres nasional_kali ini adalah: "Menghadapi tan- untuk dapat mengikuti symposium tetapi berhubung tempat
tangan dan perkembangan farmasi dimasa datang. " Sedang yang terbatas hanya 400 peserta yang dapat ditampung.
Kongres Ilmiahnya bertema: "Meningkatkan stabilitas obat Para peserta datang dari seluruh pelosok tanah air antara
sebagai salah satu unsur dari quality drugs. lain Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra,
Bali, NTT, NTB, Sulawesi, dan irian Jaya. Demikian melim-
pahnya peserta sehingga untuk setiap kali istirahat diperlukan
waktu cukup lama baru suasana dapat tenang kembali. Umum-
nya atau hampir sebagian besar para peserta adalah dokter-
dokter umum yang bekerja di Puskesmas daerah (± 60%,
berdasarkan questionair yang diadakan oleh Panitia. — Red).
Pada Symposium ini dibicarakan 37 kertas kerja; dua dari
Jakarta dan selebihnya 35 kertas kerja dibawakan oleh pembi-
cara dari Surabaya. Masalah yang dibicarakan semuanya ber-
kisar antara keadaan yang serba darurat seperti : Tindakan
darurat pada keracunan akut, Penangulangan kegagalan ginjal
mendadak, Keracunan pada anak, Gawat bayi, Resusitasi pada
bayi, Trauma capitis, Tracheotomi untuk mengeluarkan ben-
da asing dalam trachea dan bronkhus, resusitasi cardiopulmo-
Pembukaan Kongres ISFI ke X nair dan sebagainya.
Acara kongres. Meliputi sidang pleno yang diadakan untuk Beberapa hal yang dapat kami ketengahkan :
membentuk Presidium, sidang Komisi dan sidang ilmiah. q Berdasarkan data-data yang berhasil dikumpulkan di Ru-
Dalam sidang pleno dan sidang komisi telah dibahas struktur mah Sakit seluruh Jakarta, dari tahun 1971—1976 ternyata
dan kedudukan organisasi Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia prevalensi keracunan akut adalah 0,26—0,4% dari semua pen-
(ISFI) pada saat sekarang. Juga telah dicetuskan gagasan- derita yang dirawat. Sedang jenis keracunan yang sering di-
gagasan baru yang menyangkut bidang tugas, peranan, hak dan jumpai adalah : hypnotik sedatif, minyak tanah, analgesik-
kewajiban tenaga sarjana farmasi, khususnya dalam rangka antipiretik dan pestisida. Dan keracunan makanan yang ter-
menghadapi tantangan dan perkembangan dunia farmasi di sering ialah karena jengkol. Case fatality rate berkisar antara
masa mendatang. 2,6 — 7,57%. Juga dibicarakan tindakan-tindakan yang perlu
Dalam sidang ilmiah telah dibahas 69 kertas kerja yang dalam menolong penderita.
sebelumnya didahului oleh suatu symposium mengenai stabi- q Pada kegagalan ginjal mendadak, pengobatan konservatif
litas obat. Dimana pemrasaran terdiri dari ahli-ahli dari dalam yang dilakukan secara tepat dan dini masih merupakan tindak-
dan luar negri. Masalah-masalah yang dibahas antara lain : an yang memuaskan. Dialisa peritoneal dan hemodialisa mem-
• Stabilitas obat dalam hubungan dengan distribusi. buka kemungkinan yang lebih baik pada pengobatan kegagalan
• Stabilitas obat pada kondisi daerah tropik. ginjal mendadak. Dikatakan oleh pembicara bahwa sering tin-
• Hubungan antara stabilitas dan bioavailabilitas. dakan yang tidak tepat membuat hasil menjadi lebih jelek.
• Penggunaan test yang dipercepat untuk menetapkan sta- Juga dikatakan bahwa setiap dokter umum seyogyanya dapat
bilitas obat. menangg ulangi keadaan ini.
q Penangulangan dan pengelolaan kasus darurat akibat kece-
• Stabilitas obat-obat tradisionil.
lakaan yang terbanyak adalah kasus bedah. Semakin hari ka-
• Aspek-aspek farmakologi dan biokimia dalam hubungan-
sus-kasus seperti ini semakin meningkat, sehingga semakin
nya dengan stabilitas obat.
sering melibatkan dokter-dokter diperipheri. Jadi mau tidak
• Aspek struktur dan sifat kimia dalam hubungannya dengan
mau dokter di daerah harus bertindak sebagai pos terdepan.
stabilitas obat.
Kesan yang dapat disampaikan adalah: secara umum Pani- q Keracunan anak sering terjadi pada umur satu sampai em-
tia telah menyelenggarakan Kongres ini dengan cukup ber- pat tahun, laki-laki lebih banyak dari wanita. Bahan yang se-
hasil. Semoga kongres-kongres berikutnya dapat lebih sukses ring diminum adalah : bahan rumah tangga yang toksik, obat-
12 q o.w. obatan dan makanan yang tercemar. Dikatakan pengobatan
symtomatik dan suportif memegang peranan yang besar da-
lam menanggulangi keadaan
SYMPOSIUM ILMU KEDOKTERAN DARURAT q Tracheotomi untuk mengeluarkan benda asing dalam
trachea dan bronkhus merupakan tindakan yang dapat meno-
Pada tanggal 14—15 September 1978, di Surabaya telah long penderita dengan aspirasi benda asing dalam trachea
berlangsung Symposium Ilmu Kedokteran Darurat. Sympo- serta bronkhus, terutama di peripheri dimana fasilitas serta
sium yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Univer- ketrampilan untuk tindakan bronkhoskopi masih belum mung-
sitas Airlangga bekerja sama. dengan P T Kalbe Farma ini cu- Bersambung ke halaman.............. 7

46 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978