Anda di halaman 1dari 18

1

PRESENTASI KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. R
Umur : 19 tahun
Alamat : Jl.Cut Mutia no 21, Gg.Malija
Pekerjaan : Buruh
Suku Bangsa : Jawa
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Menikah

ANAMNESA
Keluhan Utama : Gatal-gatal pada sela-sela jari tangan, kaki,
perut bagian atas dan bokong
Keluhan Tambahan : -
Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak satu bulan yang lalu timbul bintik-bintik kecil, berwarna merah, berisi
cairan bening, sebesar ujung jarum pentul pada sela-sela jari tangan kanan dan kiri,
terasa sangat gatal terutama pada malam hari. Satu minggu kemudian, bintik-bintik
tersebut membesar menjadi sebesar biji jagung dan berisi cairan. Karena rasa gatal
yang mengganggunya, pasien menggaruk-garuk bintik-bintik tersebut sehingga
bintik-bintik tersebut pecah. Dua minggu kemudian keluhan tersebut meluas sampai
ke daerah perut bagian atas dan daerah bokong.
Pasien sudah mengobati keluhannya ke dokter umum di puskesmas serta ke balai
pengobatan diberi obat antibiotik,tablet interhistin dan juga salep ketokonazol.
Keluhan gatal pada malam hari sedikit berkurang namun bintik-bintik pada kulit
belum juga membaik sehingga pasien memutuskan untuk berobat ke RSAM.

2
Pasien mengaku tertular oleh teman lingkungannya yang sering bermain dan
menginap di rumahnya. Selain dirinya, adik dan kakaknya juga tertular dan
merasakan keluhan yang sama.
Pengobatan Yang Pernah Didapat
Tablet Interhistin 3x1, antibiotik dan salep ketokonazol
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga
Kakak dan Adik pasien menderita penyakit seperti ini

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
- Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan
- Kesadaran : Compos Mentis
- Vital sign
Tekanan Darah : Tidak dilakukan
Nadi : 84 x/menit
Respirasi Rate : 20 x/menit
Suhu : AIebris
Gizi : Cukup
- Thorak : Dalam batas normal
- Abdomen : Dalam batas normal
- K G B : Tidak ada pembesaran
Status Dermatologis
1. Lokasi
Regio interdigiti manus, interdigiti pedis, palmaris, abdomen, inguinalis
Inspeksi : Lesi berupa papul, vesikel, pustul berukuran milier multipel

3
dengan krusta halus dan adanya hiperpigmentasi serta terdapat
gambaran erosi

Pemeriksaan Penunjang
O Sarcoptes ( )
O iIa ( )
























4
RESUME

Seorang laki-laki, 19 tahun datang dengan keluhan gatal-gatal terutama pada
malam hari di sela-sela jari tangan, kaki, perut bagian bawah dan daerah paha sejak
kurang lebih satu bulan yang lalu, keluhan tersebut disertai timbul bintik-bintik kecil,
berwarna merah sebesar ujung jarum pentul yang berisi cairan bening di sela- sela jari
tangan. Sekitar setengah bulan yang lalu pasien berobat ke dokter di puskesmas da
balai pengobatan dan diberi antibiotik, tablet interhistin serta salep ketokonazol , tapi
setelah minum obat tersebut keluhan gatal hanya berkurang sedikit namun bintik-
bintik pada kulitnya belum juga membaik setelah 2 minggu pengobatan sehingga
pasien berobat ke RSAM. Dalam keluarga pasien kakak dan adiknya juga menderita
penyakit yang sama. Status generalis dalam batas normal, status dermatologis pada
regio interdigiti manus dextra et sinistra, regio abdomen, regio inguinal dan regio
interdigiti pedis dekstra et sinistra didapatkan papul multiple diskret milier sampai
lentikuler, pustul multiple diskret milier sampai lentikuler serta erosi dan krusta. Tes
manipulasi dan laboratorium tidak dilakukan.
DIAGNOSA BANDING
1. Skabies
2. Akrodermatitis
3. Folikulitis
DIAGNOSA KER1A
Skabies

PENATALAKSANAAN
1. Umum
- Meningkatkan kebersihan perorangan dan lingkungan.
- Menghindari kontak langsung dan tidak langsung dengan orang yang terkena.
- Menjemur alat-alat tidur dan jangan memakai pakaian / handuk bersama-
sama.

5
- Merebus pakaian, handuk, sprei dan selimut.
- Mengobati orang terdekat (anggota keluarga yang lain yang serumah) bila
ada yang menderita keluhan yang sama
- Mengobati orang terdekat (teman main) bila ada yang menderita keluhan
yang sama
-
2. Khusus
a. Sistemik : Antihistamin : Cetirizine 3 x 1 tablet
Antibiotik : Amoksisilin 500 mg 3 x 1 tablet
b. Topikal : Scabimite cream (Permetrin 5 ) Diolesi 1 kali ke
seluruh tubuh dibiarkan selama 10 jam, kemudian
dibilas, bila belum sembuh diulangi setelah satu minggu.
PROGNOSA
O "uo ad vitam : Ad bonam
O "uo ad Iunctionam : ad bonam
O "uo ad sanationam : dubia ad bonam














6
Analisa Kasus

1. Apakah penegakan diagnosa pada kasus ini sudah tepat?
Jawab :
Diagnosa pada pasien ini ditegakkan diagnosis skabies berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan Iisik serta pemeriksaan lab melalui kerokan kulit .
Dari anamnesa didapatkan keluhan gatal-gatal terutama pada malam hari pada sela-
sela jari tangan, kaki, perut bagian atas dan daerah inguinal, yang disertai bintik-
bintik sebesar ujung jarum pentul yang berisi cairan bening yang. Terdapat anggota
keluarga pasien yang juga menderita penyakit seperti ini yakni adik dan kakaknya,
serta teman sepermainan, Pasien mengaku pertama kali terserang dari temannya yang
sering main dan menginap di rumahnya dan pasien mengaku seluruh teman-teman
nya juga mengalami keluhan yang sama.
Pada pemeriksaan Iisik didapatkan papul dan pustule multiple diskret milier sampai
lentikuler, juga ditemukan erosi, eksoriasi, terdapat juga beberapa kanalikuli pada
interdigiti manus dekstra et sinistra.
Diagnosis skabies dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal. Pada
kasus ini ditemukan 3 dari 4 tanda cardinal yaitu :
1. Pruritos nocturna
2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok.
3. Adanya kanalikuli pada Interdigiti manus dextra et sinistra berwarna putih
keabu-abuan berkelok-kelok.
2. Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat?
Jawab:
Penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat yaitu terdiri dari penatalaksanaan
secara umum dan khusus.
O Secara umum pasien dianjurkan untuk meningkatkan kebersihan
perorangan dan lingkungan, tidak memakai pakaian dan handuk secara
bersama-sama karena dapat menularkan ke anggota keluarga yang lain.

7
O Pengobatan secara khusus yaitu dengan diberikan secara sistemik dan
topikal. Pengobatan sistemik diberikan antibiotik dan antipruritus.
Pemberian antibiotik dimaksudkan untuk pengobatan inIeksi sekunder
karena pada pemeriksaan Iisik ditemukan adanya pustul multiple, erosi
dan eksoriasi yang diakibatkan oleh garukan. Antipruritus diberikan
sebagai terapi simptomatis untuk mengurangi keluhan gatal-gatal yang
terutama timbul pada malam hari sehingga pasien dapat beristirahat dan
tidak terus menerus menggaruk-garuk. Untuk pengobatan topikal
diberikan krim Permetrin 5 karena eIektiI pada semua stadium tungau,
mudah digunakan dan kurang toksik bila dibandingkan dengan gameksan,
aplikasinya hanya sekali. Pada kasus ini seluruh anggota keluarga yang
terkena juga harus diobati karena dapat menularkan kembali kepada
penderita yang sudah sembuh.

3. Apa penyebab timbulnya keluhan ini?
Jawab :
Pada kasus ini keluhan timbul dikarenakan aktivitas parasit dalam berbagai stadium
yang menimbulak eIek nyeri dan gatal.













8
SKABIES
A. DEFINISI
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh inIestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. (andoko, R, 2001).
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak Iaktor yang
menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: sosial ekonomi yang rendah, higiene yang
buruk, hubungan seksual yang siIatnya promiskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan
dermograIik serta ekologik. Penyakit ini dapat dimasukkan dalam P..S. (Penyakit akibat
ubungan Seksual). (aandoko, R, 2001).
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabei, yang
termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan
mikroskop atau bersiIat mikroskopis.
Penyakit Scabies sering disebut kutu badan. Penyakit ini juga mudah menular dari manusia ke
manusia , dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Scabies mudah menyebar baik secara langsung
melalui sentuhan langsung dengan penderita maupun secara tak langsung melalui baju, seprai,
handuk, bantal, air, atau sisir yang pernah digunakan penderita dan belum dibersihkan dan masih
terdapat tungau Sarcoptesnya.
Scabies menyebabkan rasa gatal pada bagian kulit seperti sela-sela jari, siku, selangkangan.
Scabies identik dengan penyakit anak pondok. penyebabnya adalah kondisi kebersihan yang
kurang terjaga, sanitasi yang buruk, kurang gizi, dan kondisi ruangan terlalu lembab dan kurang
mendapat sinar matahari secara langsung. Penyakit kulit scabies menular dengan cepat pada suatu
komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam pengobatannya harus dilakukan secara serentak
dan menyeluruh pada semua orang dan lingkungan pada komunitas yang terserang scabies, karena
apabila dilakukan pengobatan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit
scabies.
B. EPIDEMIOLOGI
Skabies ditemukan disemua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Dibeberapa negara
yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6 - 27 populasi umum dan cenderung
tinggi pada anak-anak serta remaja. (Sungkar, S, 1995).
Ada dugaan bahwa setiap sikius 30 tahun terjadi epidemi scabies. Banyak Iactor yang
menunjang perkembangan penyakit ini antara lain social ekonomi yang rendah, hygiene yang
buruk, hubungan seksual yang siIatnya promiskuitas (ganti-ganti pasangan), kesalahan diagnosis
dan perkembangan demograIi serta ekologi. Selain itu Iaktor penularannya bisa melalui tidur
bersama dalam satu tempat tidur, lewat pakaian, perlengkapan tidur atau benda-benda lainnya.
Cara penularan (tranmisi):
1. Kontak langsung misal berjabat tangan, tidur bersama dan kontak seksual.

9
2. Kontak tak langsung misalnya melalui pakaian, handuk, sprei, bantal dan lain-lainnya.
Penularannya biasanya melalui sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang-
kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei var. animalis yang kadang-kadang
menulari manusia, terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaannya
misalnya anjing. (Adhi Djuanda. 2007: 120)
Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang
kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei var. animalis yang
kadang kadang dapat menulari manusia terutama pada mereka yang banyak
memelihara binatang peliharaan, misalnya anjing.
Etiologi
Sarcoptes scabiei termasuk Iilum rthropoda, kelas rachinida, ordo ckarima,
super Iamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Selain
itu terdapat S.scabiei yang lain, misalnya pada kambing dan babi.
Secara morIologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung
dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotar dan tidak
bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330 450 mikron x 250 350
mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200 240 mikron x 150 200
mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai
alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut,
sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan
keempat berakhir dengan alat perekat.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Sedtelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi
di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang kadang masih dapat hidup beberapa
hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Tungau betina yang telah dibuahi
menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 mm sehari dan
sambil meletakkana telurnya 2 atau 4 butir sehari samapai mencapai jumlah 40 atau
50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup dalam sebulan lamanya. Telur akan

10
menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang
kaki. Larva ini dapat tinggal di terowongan, tetapi dapat juga diluar. Setelah 2-3 hari
larva akan menjadi nimIa yang mempunyai 2 bentuk, jantan danbetina, dengan 4
pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa
memerlukan waktu antara 8 12 hari.

Gambar 1. Sarcoptes Scabiei
Patogenesis
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi
terhadap sekreta dan ekskreta tunau yang memerlukan waktu kira kira sebulan
setelah inIestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan
ditemukannya papul, vesikel, urtikari dan lain lain. Dengan garukan dapat timbul
erosi, ekskoriasi, krusta dan inIeksi sekunder.
Gejala Klinis
Ciri khas dari skabies adalah gatal-gatal hebat, yang biasanya semakin memburuk
pada malam hari.

Lubang tungau tampak sebagai garis bergelombang dengan panjang sampai 2,5 cm,
kadang pada ujungnya terdapat beruntusan kecil.

11

Lubang/terowongan tungau dan gatal-gatal paling sering ditemukan dan dirasakan di
sela-sela jari tangan, pada pergelangan tangan, sikut, ketiak, di sekitar puting
payudara wanita, alat kelamin pria (penis dan kantung zakar), di sepanjang garis ikat
pinggang dan bokong bagian bawah.
InIeksi jarang mengenai wajah, kecuali pada anak-anak dimana lesinya muncul
sebagai lepuhan berisi air.
Lama-lama terowongan ini sulit untuk dilihat karena tertutup oleh peradangan yang
terjadi akibat penggarukan.



12

Ada 4 tanda kardinal :
1. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan
karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam
sebuah keluarga. Biasanya seluruh anggota keluarga terkena inIeksi. Begitu
pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar
tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal
keadaan hiposensitisasi, yang sekuruh anggota keluarga terkena. Walaupun
mengalami inIestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita bersiIat
sebagai pembawa (carrier).
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok
kelok, rata rata panjang 1 cm, pada ujung terowong itu ditemukan papul atau
vesikel. Jika timbul inIeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorI (pustul,
ekskoriasi dan lain lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat
dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela sela jari tangan, prgelangan
tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola

13
mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut
bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut. Skabies
kadang kadang tampak dalam bentuk bervariasi seperti laporan Parish, LC dkk yang
menemukan hanya erupsi pruritik tidak spesiIik pada orang tua dan lemah di suatu
rumah rawatan. Sehubungan dengan ini perlu waspada dengan berbagai bentuk
khusus (nonklasik) skabies seperti (Orkin, 1977; Orkin 1986) :
1. Skabies pada orang bersih, bentuk ini ditandai dengan gejala minimal
dan terowongan sukar ditemukan. Walaupun demikian pada penderita ini
pada beberapa tempat predileksi dapat terkena. Mungkin tungau hilang
dengan mandi berulang ulang.
2. Skabies inkognito, timbul karena salah diagnosis dan diobati dengan
kortikostreroid terutama dengan derivat yang terIluorinisasi. Gejala dan tanda
klinis membaik tetapi inIestasi dan kemungkinan penularan tetap ada.
Seringkali menimbukan gejala klinis yang tidak biasa, distribuis atipik, lesi
yang meluas dan Kadang kadang menyerupai penyakit lain.
3. Skabies nodularis, dengan lesi nodus coklat kemerahan yang gatalpada
daerah tertutup terutama ginatis laki laki, inguinal dan aksila. Tungau jarang
ditemukan pada nodus dan penyakit ini jarang dikenal menyebabkan salah
diagnosis untuk jangka lama dan disangka hosticytosis X dan limIoma.
Gambaran histopatologis mirip gambaran limIoma (terutama penyakit
odgkin) dan gigitan arthropoda. Pembantu diagnostik dalam hal ini ialah
adanya lesi yang bersamaan atau lesi khas. Selain itu disokong juga oleh
distribusi, gambaran morIologi dan histopatologi nodus. Nodus dapat
bertahan beberapa bulan hingga beberapa tahun meskipun telah diberikan
obat anti skabies. Peningkatan IgE dalma plasma dapat dijumoai pada
penderita skabies nodularis.

14
4. Skabies pada bayi dan anak. Salah diagnosis sering terjadi pada kasus
ini karena tidak adanya kecurigaan pada penyakit ini. Seringkali sudah adanya
eksematisasi yang mengaburkan gejalanaya dan distribuis lesi yang tidak khas
termasuk kepala, leer, telapak tangan dan telapak kaki. Lesi sering berupa
vesikule, bulae, disertai lesi sekunder akibat gatukan. Penyakitini
mengakibatkan kurang suka makan dan penurunan berat badab pada bayi.
5. Skabies DishidrosiIorm (DyshydosiIorm Scabies)
Jenis scabies ini ditandai dengan adanya les berupa kelompok vesikel dan
pastel pada tangan dan kaki yang sering berulang dan tiap kali sembuh dengan
antiskabies topikal. Tidak dapat ditemukan tungau pada lesi dan jenis
penyakit ini ternyata dapat sembuh sendiri secara bertahap yaitu dalam
beberapa bulan sampai lebih dari satu tahun. Penyakit ini umumya dijumpai
pada anak anak yang diadopsi di negara negara Asia (Vietnam dan
Korea).
6. Skabies yang ditularkan oleh hewan
Di Amerika sumber utam skabies dari hewan adakah anjing. Kelainan ini
berbeda dari skabies manusia, transmisi lebih mudah, pola distribuis berbeda
yaitu di sela jari dan genitalia externa tidak dikenal, tidak dijumpai
terowongan dan masa inkubasi lebih pendek. Tetapi kelainan ini bersiIat
sementara (4-8 minggu) karena tungau skabies hewan tidakdapat melanjutkan
siklusnya pada manusia.
7. Skabies Krustosa (S. Norwegia)
Bentuk ini ditandai oleh lesi yang khas, eritematosa dengan krusta tabal dan
daerah hiperkeratotik pada kulit kepala yang berambut, telinga, situ, lutut,
telapak kaki dan tangan serta bokong disertai skuama. Dapat disertai distroIi
kuku dan menjadi generalisata. Pruritos tidak menonjol dan bentuk ini

15
walaupun jarana tetapi sangat menular bahkan bersentuhan sepintas karena
populasi tungau sangat tinggi. Bentuk ini dijumpai pada penderita dengan
deIisiensi imunologik, keterbelakangan mental dan kelemahan Iisik.
Pengobatan immunosupresiI dapat merubah bentuk bentuk skabies menjadi
bentuk krustosa.
8. Skabies yang ditularkan melalui hubungan seksual
Skabies ini sering ditemukan bersama penyakit hubungan seksual yang lain
seperti gonore, siIilis, pedikulosis pubis, herpes genitales dan lainnya. Apabila
ada skabies di daerah genital perla dicari kemungkinan penyakit hubungan
seksual yang lain, dimulai pemeriksaan biakan untuk gonore dan pemeriksaan
serologi untuk siIilis.
Pembantu Diagnosis
Cara menemukan tungau :
1. Carilah mula mula terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat
papul atau vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas sebuah kaca
obyek, lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop
cahaya.
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar
yertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
3. Dengan membuat biopsi irisan. Caranya : lesi dijepit dengan 2 jati
kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop
cahaya.
4. Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan .E.
Diagnosis Banding

16
Ada pendapat yang mengatakan penyakit skabies ini merupakan the great immitator
karena dapat menyerupai banyak penyakit kulit lain dengan keluhan gatal. Sebagai
diagnosis Bandung aialah prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis dan lain-lain.
Pengobatan
Syarat obat yang ideal adalah :
1. arus eIektiI terhadap semua stadium tungau.
2. arus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik
3. Tidak berbau atau kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian.
4. Mudah diperoleh dan harganya murah.
Cara pengobatannya adalah seluruh anggota keluarga harus diobati (termasuk
penderita yang hiposensitisasi)
Jenis obat topikal :
1. Belerang endap (sulIur presipitatum) dengan kadar 4-20 dalam bentuk salep
atau krim. Preparat ini karena tidak eIektiI terhadap stadsium telur, maka
penggunaanya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangan yang lain ialah berbau
dan mengotori pakaian dan kadang kadang menimbulkan iritasi. Dapat dipakai
pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
2. Emulsi benzyl benzoas (20-25), eIektiI terhadap semua stadium, diberikan
setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering menimbulkan
iritasi dan kadang kadang makin gatal setelah dipakai.
3. Gamma Benzena eksa Klorida (gameksan gammexane) kadarnya 1 dalam
krim atau losio, termasuk obat pilihan karena eIektiI terhadap semua stadium,
mudah digunakan dan jarang menimbulkan ritasi.

17
Obat ini tidak dianjurkan pada anak dibawah 6 tahun dan wanita hamil, karena
toksik pada susunan saraI pusat. Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih
ada gejala diulangi seminggu kemudian.
4. Krotamiton 10 dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan mempunyai
dua eIek sebagai antiskabies dan antigatal; harus dijauhkan dari mata, mulut dan
uretra.
5. Permetrin dengan kadar 5 dalam krim, kurang toksik dibandingkan gameksan,
eIektiIitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum
sembuh diulangi setelah seminggu. Tisak dianjurkan pada bayi di baeah umur 2
bulan.












18
Daftar Pustaka


1. andoko, Ronny P. Penyakit Parasit ewani. Dalam : Djuanda A, Djuanda S,
amzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit Kulit Kelamin. Edisi III. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI; hal. 93-100
2. WolI K, Richard allan J. Fitzpatrick Color Atlas & Synopsis Clinical
Dermatology Sixth Edition. Newyork; McGraw ill;
3. Mansjoer A, Suprophaita, Wardhani, Wahyu Ika, dkk. Editor. Kapita Selekta
Kedokteran Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Media Aesculapius; 2000. hal. 110-112
4. www.medicastore.com. Skabies; 2011
5. www.google.com. Scabies images; 2011
6. Sjamsudin, Udin dan Dewoto, edi R. istamin dan Alergi. Dalam:
Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Jakarta; Gaya Baru;1997. hal. 252-254.