Anda di halaman 1dari 16

Cleh

landy l M
20030400073
kelompok uM 32k
< Pemeriksaan sistem sensorik bersifat subjektif,
tergantung px, diusahakan px tenang, perhatian
terpusat pada pemeriksa.
< Pada awal pemeriksaan ditanyakan apa ada
keluhan mengenai sensibilitasnya; jenis,
intensitas, lokasinya.
ila pasien gelisah/kesadaran menurun,
pemeriksaan nyeri masih bisa dilakukan, tapi rasa
raba dan suhu ditunda dulu pemeriksaannya.
bila px mengeluhkan ada gangguan sensibilitas,
periksa mulai dari daerah yg mengalami gangguan
ke daerah normal, dan sebaliknya, titik temu ke 2
nya merupakan batas kelainannya.
1. NYER
< Memakai jarum tumpul , cara memegang seperti
memegang pensil
< Tusukan cukup keras untuk menimbulkan rasa
nyeri, bukan rasa sentuh/raba.
< Periksa seluruh tubuh, bagian yang simetris
dibandingkan dan tusukan yg dilakukan harus sama
kuat.
< Tanyakan pada px apakah merasa nyeri/ tidak.
RANGSANGAN NYER RANGSANGAN SUHU
< Memakai 2 tabung reaksi yg diisi air es(1020
0
C)
untuk rasa dingin dan air panas (400
0
C)
< Kalau <
0
C/ > 0
0
C dapat menimbulkan rasa nyeri.
< adan, bagian proksimal ekstrimitas kurang peka
terhadap rasa dingin dibanding bagian distalnya.
< Periksa seluruh tubuh, bagian yang simetris
dibandingkan, usahakan dalam kondisi yg sama (mis:
sama2 baru dibuka dari bajunya), mata pasien ditutup.
< Tanyakan pada px apakah merasakan panas/ dingin.
< Raba halus/ringan
< dengan segumpal kapas,lakukan sentuhan secara
ringan, jangan menggores.
< Mata px ditutup, dan px harus memberitahu
pemeriksa setiap kali merasakan sentuhan ringan.
1. GERAKPOSS
< Pasien menutup mata,seluruh tubuhnya rileks.
Yang diperiksa jari2 tangan/ kaki.
< Pemeriksa memegang jari px di sisi lateral,tapi
jangan sampai menyentuh jari2 px yg lainnya,
kemudian jari px digerakkan ke atas/ ke bawah.
< Sebelum dimulai px diberi contoh dulu.
< Px dilarang menggerakkan jari2nya secara aktif
selama pemeriksaan.
< Px disuruh mengatakan ya bila merasakan gerakan,
kemudian disuruh mengatakan ke arah mana/ posisi
jarinya (atas/bawah). Gerakan terkecil yg masih
dapat dirasakan orang noramal ialah 2
0
/1mm.
< engan garpu tala (frek 128 Hz)
digetarkan lalu letakkan kaki garpu tala
ke ibu jari kaki/ maleolus/ tibia/ SAS/ sakrum/
sternum/klavikula/proc. Styloideus radius, ulna/proc.
Spinosus vertebra/jari2.
< Tanyakan apakah px merasakan getaran, bila ya,
kemudian suruh px mengatakan kapan sudah tidak
merasakan getaran lagi.
< ila sudah tidak merasa getaran lagi, garpu tala
dipindahkan ke pergelangan/sternum/klavikula/
bandingkan dengan jari2 pemeriksa.
< iperiksa dengan menekankan jari/ benda tumpul
pada kulit atau memencet otot tendon dan serabut
saraf (jangan terlalu kuat nyeri)
< Pasien menutup mata, memberitahu lokasi
penekanan yang dirasakan.
4. NYER ALAM
< iperiksa dengan menekan otot, tendon/ serabut
saraf yg terletak dekat permukaan, dan juga
dengan memencet testis/ biji mata.
< Px mungkin mengeluh nyeri, mules/ kembung.
< Nyeri viseral ini biasanya difus, batas tidak tegas
sehingga sulit dinilai
< Perasaan yg mempunyai sifat diskriminatif dan 3
dimensi
1. AROGNOSS
< Mengenal berat benda yang dipegang/ membedakan
berat benda.
< Px diminta membandingkan berat benda yg ada di
telapak tangannya. Mis:karet dengan besi/ 2 benda
dengan ukuran dan bentuk sama, terbuat dari bahan yg
sama, tapi salah 1 diberi pemberat di dalamnya (co:
timbal)
< Mengetahui apakah ditusuk dengan 1/ 2 jarum pada saat yg
sama.
< Alatnya bisa jangka weber, gordonholmes, 2 jarum tumpul.
< Tusuk bagian badan secara bersamaan dengan 2 jarum.
< andingkan bagian badan yg simetris.
< Jarak terkecil yg masih dirasakan sebagai 2 tusukan
berbeda2 pada bagian tubuh. Mis:
lidah 1mm
ujung jari 24mm
telapak tangan 812mm
punggung tangan 2030mm
punggung 400mm
lengan atas, paha mm
lengan bawah, tungkai 40mm
jari kaki 38mm
< Mengenal bentuk benda dengan cara meraba,
tanpa melihat.
< Pasien menutup mata, pada tangannya diberikan
benda (kubus,segitiga, bola,dll), kemudian suruh
px menyebutkan bentukan apa yg dipegangnya.
< Atau px diberikan benda sederhana (mis: kancing,
kunci, pensil,dll), suruh px mengenali benda apa
yg dipegangnya.
< Mengenal huruf/angka yang ditulis pada kulit,
mata ditutup.
< Pemeriksa menggores tangan penderita menulis
huruf/ angka, jangan menggores huruf atau angka
dengan goresan yg terlalu kecil dan terlalu cepat,
sehingga pasien tidak bisa mengenalinya.
< Suruh px menyebutkan huruf/ angka apa yg
digoreskan di kulitnya.
. TOPOGNOSA
< Kemampuan melokalisasi tempat dari rasa raba.
< Pada saat yg sama, di sisi tubuh yang sepadan
(mis: betis kanan & kiri), kita beri rangsangan
dengan jarum tumpul.
< Tanyakan ke px bagian mana yg dirasakan.
< ila px hanya merasakan 1 sisi saja sensory
extinction positif.
< Tanyakan ke px ada berapa kakinya, telinga,
tangan, dst.
< Pada px dengan loss of body image ia menjawab
1 saja bukan 2. Pada px seperti ini terdapat
neglect pengabaian terhadap salah 1 sisi
tubuhnya, tidak merasa mempunyai sisi tubuh yg
diabaikan.