Anda di halaman 1dari 14

TEORI SOSIOLOGI AGAMA

Subjudul : SOSIALISASI AGAMA (Intisari dari buku Handbook of the Sociology of Religion (2003), Edited by Michele Dillon University of New Hampshire, Cambridge University Press) oleh : Dr. H. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.
1. Sosialisasi agama adalah proses interaktif antar-kelompok sosial

yang mempengaruhi keyakinan dan pemahaman keagamaan individu. Orang-orang berinteraksi dengan berbagai kelompok sosial yang berbeda, dengan orang-orang, organisasi, dan preferensi agama. Preferensi ini membantu menginformasikan komitmen terhadap organisasi keagamaan.
2. Individu mempunyai pengaruh terhadap sosialisasi pengalaman dan

pemahaman keagamaan untuk meningkatkan iman dan religiositas (keberagamaan) masyarakat. Sebaliknya, individu juga memiliki hak yang cukup untuk menolak sosialisasi preferensi agama. 3. Sosialisasi tentang preferensi agama jelas penting, terutama dalam interaksi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, serta interaksi antara individu dengan organisasi. PREFERENSI AGAMA, DINAMIKA, DAN PILIHAN
1. John McCarthy dan Mayer Zald (1977) memberikan definisi gerakan

sosial yang dapat dengan mudah diintegrasikan untuk mempelajari agama: preferensi sosial dapat mengetahui struktur gerakan untuk perubahan.
2. Sherkat Darren mengatakan bahwa struktur gerakan perubahan dapat

memobilisasi organisasi-organisasi gerakan sosial, seperti studi kontemporer dalam sosiologi agama.

3. Gerakan agama memiliki karakter khas - setidaknya beberapa

manfaat yang muncul adalah penjelasan tentang supranatural (salah satu ajaran agama) yang menghasilkan nilai bagi mereka yang percaya terhadap agama.
4. Manusia menemukan penjelasan tentang arti kehidupan - dan bahkan

lebih banyak hal kecil sangat berharga bagi kehidupan antarmanusia. Dalam hal ini, manusia bersedia untuk saling membantu dengan manusia lain, misalnya membantu waktu, uang, atau sumber daya lain.
5. Makna hidup bagi manusia sangat berharga jika antara manusia satu

dengan manusia yang lain terbangun sikap saling percaya.


6. Sosialisasi agama adalah proses individu-individu untuk memegang

preferensi agama. Untuk memahami perkembangan agama pada tingkat individu-individu, kita harus mengetahui bagaimana preferensi terbentuk dan bagaimana mereka berubah. Terutama, pandangan tentang preferensi agama tidak menyamakan mereka dengan pilihan afiliasi keagamaan. 7. Preferensi agama adalah penjelasan supranatural yang menjelaskan tentang tujuan, arti, dan asal usul kehidupan. Preferensi ini akan membantu pilihan manusia di bidang agama - memotivasi ketaatan beragama, partisipasi agama publik, dan afiliasi dengan organisasi keagamaan. 8. Perkembangan dan dinamika preferensi berkaitan dengan bagaimana pilihan manusia dipengaruhi oleh preferensi dan faktor sosial lainnya. Dalam membuat pilihan agama, preferensi agama tidak satusatunya faktor yang diperhitungkan. Pengambilan keputusan agama juga dipengaruhi oleh tekanan sosial, imbalan nonreligius, dan ketiadaan rasa hormat. 9. Preferensi agama berbicara tentang tanggapan terhadap pengalaman individu atau pengaruh sosial. Misalnya, mengetahui perjalanan hidup seseorang dalam menyebarluaskan keyakinan agama dan halhal yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan tertentu. 10.Orang tua, teman, pasangan, dan rekan-rekan dinilai sumber informasi tentang kehidupan kolektif. Jaringan ikatan sosial penting

dibangun untuk menghasilkan perubahan dalam preferensi dan persahabatan sosial.


11. Preferensi religius umumnya diperkuat melalui pengalaman religius

yang sifatnya rutin. Pilihan agama sering mendorong preferensi adaptif seseorang dalam menjalankan keberagamaannya. 12.Orang-orang merasa senang dan dekat dengan penjelasan agama. Mereka menemukan nilai, penghargaan, dan perlindungan dari agama. Preferensi adaptif individu berkembang fluktuatif dalam merespon pengaruh sosial.
13. Dari

perspektif sumber daya manusia, pengalaman religius membangun individu manusia menjadi religius. Modal manusia beragama adalah memproduksi nilai agama dalam pengaturan kolektif. Oleh karena itu, manusia memiliki modal dan kemampuan untuk mengubah dan menghasilkan nilai-nilai agama. membangun lintasan keyakinan agama dan perilaku sosial. Kedua teori ini secara eksklusif mengembangkan dinamika keagamaan.

14. Teori preferensi adaptif dan teori modal memimpin manusia untuk

15. Preferensi adaptif mempromosikan perubahan, bukan reproduksi

sentimen. Adapun preferensi counteradaptive terjadi ketika orang menegaskan dirinya dari masyarakat kolektif. Oleh karena itu, orang kadang-kadang condong ke ekspresi keagamaan yang bervariasi.
16. Orang mungkin akan dipaksa atau terbujuk untuk mencoba hal baru

dalam beragama. Ajaran agama jelas terlihat dalam proses pendidikan di sekolah keagamaan, misalnya, para siswa lebih cenderung memilih ajaran ortodoks dengan setia, walaupun secara bersamaan mereka dipaksa untuk menganut ideologi sekuler. PENGARUH SOSIAL PADA PILIHAN INDIVIDU
1. Preferensi agama bukan hanya motivasi untuk membuat pilihan

agama. Seperti semua keputusan tentang konsumsi budaya, pilihan agama memiliki konsekuensi sosial, dan karena itu pengambilan keputusan keagamaan mungkin didominasi oleh pengaruh sosial.

2. Pengaruh sosial tidak boleh disamakan dengan sosialisasi. Jika kita mendefinisikan sosialisasi sebagai pengaruh pada preferensi, maka itu artinya pengaruh sosial memberikan penjelasan bagi dinamika agama. 3. Amartya Sen (1973,1993) mengidentifikasi tiga jenis pengaruh sosial pada pilihan agama: (a) simpati/antipati, (b) memberikan contoh, dan (c) sanksi.
4. Orang sering berpartisipasi dalam kelompok-kelompok agama yang

menimbulkan simpati terhadap perasaan orang lain, meskipun orang lain itu tidak mendapat keuntungan dari kegiatan kolektifnya. 5. Orang kadang-kadang berpartisipasi dalam kelompok-kelompok agama bukan karena keinginan kolektif, tetapi sebaliknya untuk memusuhi orang lain sehingga menimbulkan antipati. 6. Mengamalkan ajaran agama dapat mencegah orang dari hukuman seperti isolasi sosial, ketidakamanan ekonomi, dan penindasan dengan kekerasan. Pentingnya penghargaan sosial dan sanksi menunjukkan bahwa preferensi pribadi tidak menentukan tindakan religius. 7. Pengaruh sosial tidak hanya melalui sosialisasi untuk mengubah preferensi dan kevakuman sosial. Hubungan sosial yang baik akan mempengaruhi perkembangan dan dinamika preferensi.
8. Komitmen

agama berfungsi tidak hanya preferensi yang disosialisasikan, tetapi juga menyangkut faktor intrinsik individu dan hak untuk memilih agama. Selanjutnya, pengaruh sosial tidak ada hubungannya dengan pemahaman terhadap preferensi agama.

AGEN PENGARUH
1. Orang tua dan keluarga, dalam perspektif budaya dan sejarah, adalah

sumber utama informasi tentang kekuatan supranatural. 2. Orang tua dan kerabat mengajarkan pemahaman anak tentang hal-hal supranatural, dan ini merupakan sumber informasi yangmemiliki keunggulan temporal dan afektif - yang keduanya penting untuk mempengaruhi preferensi. Akan tetapi, anehnya banyak studi dalam

sosiologi agama berpendapat bahwa orang tua memiliki pengaruh komitmen agama yang terbatas pada anak-anak.
3. Studi ini diterima umum yang diasumsikan bahwa telah tumbuh

sebuah generasi yang menghargai perbedaan dalam nilai dan komitmen. Akan tetapi, di sisi lain telah terjadi juga kesenjangan generasi yang berubah secara radikal dalam pemahaman keagamaan mereka. ORANG TUA DAN ANAK 1. Penelitian tentang peran orang tua terhadap anak-anak telah menunjukkan bahwa pengaruh orang tua mendominasi keyakinan agama dan perjalanan hidup anak-anaknya.
2. Studi sistematis pengaruh orang tua pada preferensi agama anak-

anak dimulai pada 1937 oleh Newcomb dan Svehla. Hasil penelitian mereka membuktikan bahwa ibu memiliki andil 34 persen dalam menjelaskan agama terhadap anak laki-lakinya, sedangkan pemahaman agama Ibu terhadap anak perempuannya mencapai 48 persen. 3. Banyak penelitian telah menyimpulkan bahwa orang tua memiliki pengaruh besar pada keyakinan agama dan perilaku anak-anak. Secara umum, penelitian ini mengasumsikan bahwa pengaruh orang tua dibatasi dengan periode awal dari kehidupan dan tentu saja bahwa kristalisasi keyakinan dicapai dalam siklus hidup awal.
4. Kemudian peneliti meminjam model pembelajaran seumur hidup

yang menyelidiki bagaimana orang tua memberikan pengaruh terusmenerus terhadap anak-anaknya selama hidup. Orang tua membantu membentuk hubungan sosial lainnya, dan ini tindakan sosialisasi seumur hidup. Peristiwa yang terjadi dalam kehidupan membuat orang tua lebih berpengaruh dalam mencari hikmah tentang bagaimana membesarkan anak-anak mereka dan bagaimana menghadapi kehidupan yang keras. 5. Dalam tindakan sosialisasi, orang tua cenderung berfokus pada afiliasi keagamaan dan partisipasi anak-anak dalam kehidupan sosialnya.

6. Myers (1996) mengatakan bahwa keyakinan agama dan partisipasi sosial merupakan indikator untuk membangun religiositas suatu masyarakat. Strategi ini menghasilkan kesimpulan umum yang menyebutkan bahwa ada hubungan antara pemahaman agama dengan partisipasi agama.
7. Dalam studi Sandomirsky telah ditunjukkan bahwa solidaritas antara

orang tua dan perasaan kedekatan antara orang tua dan anak-anak mempengaruhi proses sosialisasi. Pertama, para peneliti telah menunjukkan bahwa ketika orang tua memiliki afiliasi agama berbeda, anak-anak tidak mengikuti afiliasi keagamaan orang tua, dan mereka lebih cenderung untuk beralih afiliasi agama mereka atau menjadi murtad. Kedua, menurut Nelsen 1981, adanya perselisihan orang tua dalam keluarga telah merendahkan religiositas anak laki-laki. 8. Ketika orang tua memiliki nilai-nilai agama yang berbeda, maka terjadilah persaingan antara orang tua dengan anak-anak dalam hal pengamalan ajaran agama. 9. Menurut Collins (1993), kedekatan anak terhadap orang tua akan membangun rasa simpati di antara kedua belah pihak. Ikatan emosional juga dapat melahirkan interkasi dan pemahaman yang mendalam antara orang tua dan anak-anak. 10.Glass (1986) merumuskan teori tentang bagaimana faktor dependensi antara orang tua dan anak yang menyebabkan anak-anak dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai orang tua, terutama dalam perjalanan kehidupan mereka. Sebaliknya, orang tua juga tergantung pada anak-anaknya terutama tentang informasi-informasi penting dalam kehidupan sosial mereka. 11.Besarnya pengaruh timbal balik antara orang tua dan anak-anak melebihi tingkat pengaruh faktor-faktor lain seperti tingkat pendidikan, dinamika keluarga prokreasi (misalnya, perkawinan, perceraian, dan pengasuhan), dan pengaruh kelompok keagamaan.
12. Orang tua memiliki pengaruh yang lebih pada keyakinan anak-anak

di awal perjalanan hidup (sebelum dewasa), sementara anak-anak kemudian mempengaruhi orang tua mereka sebagai orang dewasa.

Namun, ketika anak-anak mencapai usia tiga puluhan, orang tua sekali lagi menjadi lebih berpengaruh. 13.Kemudian dalam perjalanan hidup, orang tua menarik anak-anak dewasa kembali ke arah keyakinan keagamaan yang lebih konservatif. Pola yang sama mungkin dapat dilihat pada Revolusi Iran, yaitu kehidupan keagamaan anak-anak muda dipimpin oleh orang tua mereka dan kerabat lain dalam memilih keyakinan Islam tertentu (aliran Syiah). 14.Revolusi Iran (yang terkenal radikal) dalam perjalanan sejarahnya telah menemukan kenyataan sosial bahwa masyarakat cenderung lebih memilih moderatisme dalam kehidupan keagamaan dan sosial mereka sehingga hal ini berpengaruh terhadap pendidikan keagamaan anak-anak. PENGARUH PASANGAN
1. Menurut Lazerwitz (1998), ikatan perkawinan merupakan sumber

penting terhadap pengaruh afiliasi keagamaan. Pasangan yang religius memiliki pengaruh lebih besar terhadap perubahan wawasan keagamaan.
2. Perkawinan ini juga terkait dengan dasar preferensi agama, yaitu

seseorang yang menganut nilai keagamaan tertentu tidak akan menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Hal ini memberi pengaruh terhadap pasangan dalam pilihan nilai-nilai keagamaan 3. Menurut McCutcheon (1988), ketika orang memiliki preferensi agama yang kuat, dia tidak mungkin memilih pasangan yang berbeda agama, tetapi bagi mereka yang memiliki preferensi agama yang lemah, lebih mungkin untuk menikahi pasangannya yang berbeda agama. 4. Menurut Darnell dan Sherkat 1997, orang memilih teman-teman dan pasangan sesuai dengan preferensi, sedangkan yang lain cenderung memperkuat keinginan yang ada daripada membangkitkan yang baru. Dalam konteks ini, preferensi berfungsi mengonsolidasikan hubungan sosial di berbagai bidang kehidupan sosial.

5. Preferensi individu mendorong kelompok-kelompok sosial untuk mengembangkan hubungan keluarga, pekerjaan, lingkungan, atau gerakan sosial.
6. Menurut Lawler (1993), makrostrukturalisme mendominasi kerangka

kerja yang jelas dalam teori pertukaran sosial. Teori ini berbicara tentang konsepsi minimalis dalam memahami motivasi pelaku dan membantu mengidentifikasi struktur untuk mengetahui pengaruh jaringan pada individu, dan pengaruh individu pada jaringan. PENELITIAN KELUARGA DAN SOSIALISASI 1. Pada akhir abad kedua puluh terlihat sebuah kebingungan di bidang penelitian sosiologis, yaitu berupa kendala data yang berkaitan dengan hubungan pengaruh keluarga terhadap komitmen pada keyakinan agama dan sebaliknya. 2. Secara teoretis, saudara memberikan pengaruh yang berkelanjutan pada preferensi dan pilihan agama. 3. Salah satu tugas penting ke depan bagi sosiolog agama adalah mulai menguji pengaruh keluarga besar, dan pengaruh timbal balik dalam keluarga selama hidup.
4. Keluarga tidak hanya menginformasikan keyakinan agama dan

pemahaman individu, mereka juga menyediakan konteks sosial primer tentang pilihan agama yang dibuatnya.
5. Dalam konteks hubungan struktural sering terjadi tumpang tindih

antara simpati dang sanksi; antara motivasi dan partisipasi agama, serta antara afiliasi agama dan keluarga. 6. Ikatan keluarga dan pilihan agama mendorong keluarga untuk memberi perhatian yang lebih besar ke bidang agama. Ukuran kepercayaan seseorang dan partisipasinya dalam bidang agama tidak bisa dijadikan alat untuk mengidentifikasi pengaruh sosial. DENOMINASI

1. Di bagian akhir abad kedua puluh, menjadi modis bagi ulama untuk

mengklaim bahwa perbedaan-perbedaan keagamaan sedang menurun. Artinya, pengaruh kelompok keagamaan melemah dan denominasi tidak lagi penting. 2. Menurut Finke dan Stark (1992), di satu sisi, selalu ada variasi dari kepercayaan dan komitmen masyarakat dalam denominasi - sebagian karena proses internal yang mengarah pada dominasi organisasi dan kelompok elit. Pada sisi yang lain, terjadi pembentukan gerakan sektarian yang berusaha untuk membangun kembali ketegangan dengan masyarakat yang lebih luas.
3. Meskipun bervarisi, denominasi tetap berjalan untuk mentransmisi-

kan skema agama, dan mereka membantu menentukan masyarakat lokal untuk pilihan kelompok agama. Denominasi merupakan sebagian besar sumber daya agama, dan bahkan banyak disebutsebut sebagai "nonkelompok keagamaan". Artinya, denominasi itu berkaitan dengan anggota masyarakat yang tidak memilih kelompok agama tertentu. 4. Menurut Harrison dan Lazerwitz (1982), denominasi mempengaruhi orang melalui orientasi tertentu terhadap kepercayaan orang dan tindakan keagamaannya.
5. Menurut Stark dan Bainbridge (1985), konflik dalam denominasi

sering didorong oleh literatur keagamaan yang bertentangan dengan preferensi massa. Sementara denominasi dapat mempengaruhi kaum awam. Pengaruh elit dibatasi oleh lembaga individu dan jamaah', sedangkan aksi kolektif dari individu dan jamaah dilakukan melalui gerakan sektarian. 6. Menurut Sherkat dan Ellison (1999), denominasi juga menyediakan konteks khusus untuk kegiatan kolektif, sehingga memudahkan unruk mempengaruhi kelompok agama. Melalui pengaturan kolektif, individu datang untuk mengidentifikasi dengan pemahaman tertentu dan komitmen untuk memegang identitas-identitas keagamaan sebagai sumber daya kognitif. 7. Dalam denominasi akan ada dijajah oleh berbagai identitas (Dillon 1999a), tetapi umum diketahui bahwa masing-masing memiliki pemahaman tentang tema-tema keagamaan yang khas.

8. Agama memiliki identitas keagamaan yang tidak lagi menonjol karena batas-batas antara kelompok agama telah berkurang ke titik yang relevan. 9. Menurut Wuthnow (1988) dan Hunter (1991), ada perbedaan status keagamaan, distribusi regional, dan identitas etnis. Perbedaan demografi diduga mempengaruhi sistem kepercayaan dari denominasi - dan ulama telah menegaskan bahwa keyakinan agama sekarang lebih bervariasi. 10.Wuthnow (1993:156) berpendapat, "Selama setengah abad terakhir, denominasionalisme telah menurun secara serius modus utama identifikasi dalam agama Amerika. Indikasi penurunan ini meliputi peningkatan dan interdenominasi antaragama, toleransi tinggi lintas agama. 11.Menurut Sullins (1993) dan Sherkat (2001), sesungguhnya kebanyakan orang tetap dalam denominasi; tidak ada bukti bahwa tingkat mobilitas agama meningkat dari waktu ke waktu di tingkat usia masyarakat (kohort). 12.Data survai umum sosial menunjukkan bahwa 45 persen orang Amerika menikah dengan seseorang dari latar belakang iman yang sama. Artinya, sisanya menikah dengan pasangan yang berbeda iman (agama).
13. Menurut Hoffmann dan Miller (1998), dalam hal keyakinan yang

berbeda, sejumlah studi menunjukkan bahwa kepercayaan dan praktek keagamaan pasangan itu berbeda secara substansial di seluruh kelompok keagamaan. Denominasi keyakinan keagamaan pasangan memiliki dampak konsekuensi yang besar pada pilihan agama masa depan tentang partisipasi dan afiliasi keagamaan. 14.Dalam studi keluarga, pengaruh kelompok keagamaan cenderung mengabaikan perbedaan antara efek keyakinan dan pemahaman agama dengan pengaruh sosial.
15. Kelompok agama menyediakan konteks sosial untuk anggotanya,

misalnya memberi hadiah untuk yang berprestasi dan menjatuhkan

10

hukuman bagi yang melanggar. Hal ini secara signifikan dapat memotivasi partisipasi agama di kalangan kelompoknya.
16. Menurut Harrison dan Lazerwitz (1982), jaringan persahabatan,

hubungan kerja, jaringan lingkungan, dan hubungan kekerabatan dapat mengonsolidasikan kongregasi religius. Dalam konteks ini, afiliasi kelompok keagamaan adalah sebuah pilihan, perbedaan antara preferensi dan pilihan ini terutama penting untuk studi sistematis pengaruh denominasi.

PENGARUH PENDIDIKAN
1. Para sarjana telah lama percaya bahwa pendidikan akan mengusir

mitos dan takhayul yang berkambang dalam masyarakat, tetapi yang lebih berbahaya adalah pendidikan akan menghilangkan peran agama dalam kehidupan sosial. Para sarjana sekuler berpendapat bahwa penelitian ilmiah akan mengalahkan ajaran agama karena ajaran agama sering dituduh tidak masuk akal. 2. Teori sekularisasi agama secara dominan menjelaskan tentang perubahan agama. Menurut perspektif ini, pencapaian pendidikan dan kualitas penalaran pendidikan sangat penting untuk mengusir mitos dan takhayul, dan mengganti agama dengan penjelasan ilmiah.
3. Teori

sekularisasi agama menurut Stark dan Finke (2000) menyebutkan bahwa agama tetap penting walaupun perannya cenderung menurun. Salah satu alasan utama teori ini adalah bahwa dalam ilmu dan pendidikan tidak ada penjelasan tentang supranatural, sedangkan dalam agama ada kepercayaan tentang supranatural.

4. lmu tidak akan pernah membuktikan bahwa tidak ada Tuhan, surga tidak ada, atau tidak ada neraka. Oleh karena itu, pengaruh pendidikan pada preferensi agama bukan dari orientasi budaya yang dibina di lembaga pendidikan yang dominan. Akan tetapi, pendidikan sekuler mendorong sanksi agama dari keyakinan agama untuk memiliki komitmen pada preferensi agama.

11

5. Menurut Darnell dan Sherkat (1997), preferensi agama dan

organisasi keagamaan bisa mengcounter sekularisasi agama yang melanda tokoh-tokoh individu dan jauh dari mengcounter pendidikan anti-agama yang dikembangkan oleh sejumlah lembaga pendidikan. Transposisi dari nilai-nilai agama ke dalam bidang pendidikan dapat mencegah pendidikan sekuler.
6. Pemisahan preferensi (pemahaman agama) dari pilihan (komitmen

agama) membantu memahami bagaimana pendidikan dapat mempengaruhi faktor-faktor agama. Pendidikan sekuler di lembaga pendidikan dasar dan lembaga pendidikan menengah pada umumnya tidak bermusuhan terhadap agama, tetapi dalam pendidikan tinggi, sentimen antiagama sudah bersifat umum, dan ortodoksi agama dilihat secara negatif. 7. Di Amerika Serikat menurut Stark dan Finke (2000), dalam preferensi agama dan pilihan pendidik terbukti bahwa selama beberapa dekade, para dosen universitas, para ilmuwan (fisikawan, matematikawan, ahli biologi, insinyur, dan seterusnya) cenderung mengekspresikan keyakinan agama ortodoks dan mempertahankan afiliasi keagamaan tertentu. 8. Ini bukti kompatibilitas akal dan iman di negara maju dan sekuler. Para profesor di perguruan tinggi dari ilmu humaniora dan ilmu sosial jauh lebih rentan terhadap ateisme, dan mereka kurang memiliki komitmen terhadap organisasi keagamaan. Menurut mereka, penelitian dan penemuan ilmiah tidak mungkin disandingkan dengan iman (agama) apalagi menggantikannya.
9. Menurut

Hunsberger (1985) dan Johnson (1997), tidak mengherankan jika penelitian sistematis telah menemukan bahwa pencapaian pendidikan mengurangi preferensi bagi agama ortodoks, dan sekaligus mempromosikan ateisme. Menariknya, Johnson (1997) menemukan bahwa pengaruh pendidikan pada keyakinan agama cukup positif dan pendidikan juga memiliki dampak positif pada kepercayaan dalam kehidupan setelah kematian. positif pada komitmen agama. Dalam setiap kasus, hal ini menunjukkan bagaimana agama mengcounter pengaruh pendidikan negatif dan pengaruh pendidikan sekuler. Secara umum, Stolzenberg

10. Cornwall (1989) menunjukkan bahwa pendidikan memiliki dampak

12

(1995) menunjukkan bahwa pendidikan memiliki dampak positif terhadap ketaatan seseorang terhadap ajaran agamanya.
11. Menurut Wilson dan Musick (1997), temuan ini mencerminkan

kenyataan bahwa lebih banyak responden berpendidikan lebih mampu mempertahankan afiliasi dengan berbagai organisasi keagamaan. Memang hubungan antara pencapaian pendidikan dan pemahaman agama tidak searah.
12. Kelompok agama dengan sistem kepercayaan yang kuat mengakui

kekuatan korosif pendidikan sekuler dan berusaha untuk melindungi anggotanya dari kekuatan-kekuatan sosial. Di Barat, umat Katolik telah berhasil memenuhi tantangan hegemoni Protestan dengan membentuk lembaga pendidikan mereka sendiri. Memang, di Amerika Serikat, pendidikan Katolik dikembangkan dalam upaya terbuka untuk melawan pengaruh masyarakat yang didominasi oleh Protestan. 13.Menurut Sherkat dan Darnell (1999), pendidikan publik menjadi lebih sekuler dan lebih terbuka untuk menunjukkan anti-agama. Aktivis agama telah memperingatkan orang tua terhadap perangkap pendidikan di perguruan tinggi Orang muda yang memiliki keyakinan agama konservatif menghindari pendidikan di perguruan tinggi karena cenderung mengajarkan teori-teori anti-agama.
14. Hubungan antara pendidikan dan preferensi agama adalah penting

untuk para sosiolog agama. Pertumbuhan dramatis sekolah swasta Protestan dan meningkatnya popularitas home schooling di Ammerika Serikat dapat berdampak besar pada preferensi agama konservatif dan organisasi keagamaan yang sektarian. 15.Lembaga-lembaga agama dapat menangkal dampak dari pendidikan sekuler pada generasi umat masa depan. RETROSPEKSI DAN PROSPEK 1. Karya yang paling berpengaruh dalam sosiologi agama adalah fokus pada tema besar transformasi makrokultural, yaitu mekanisme untuk mengelola dinamika agama secara inheren pada tingkat individu. Perubahan agama hanya akan terjadi jika proporsi besar individu

13

mengubah preferensi mereka untuk ajaran-ajaran agama dan mengubah pilihan agama mereka. 2. Tindakan ideologis terstruktur harus dipertahankan melalui proses sosialisasi dan pengaruh (Zald 2000). Untuk memahami hal ini, kita harus fokus pada keluarga, ikatan keagamaan, jaringan persahabatan, kekerabatan, dan pengaruh lembaga lainnya seperti pendidikan. Ini adalah ranah bahasan sosialisasi agama. 3. Ada pertanyaan penting lainnya yang belum terjawab. Pertama, keluarga tetap menjadi pengaruh utama pada preferensi dan pilihan agama. Keluarga menanamkan preferensi dan komitmen beragama, dan cenderung memperkuat preferensi dan pilihan agamnya itu. Denominasi agama memiliki dampak konsekuensial pada preferensi dan dinamika agama. 4. Sementara pendidikan sekuler melemahkan iman agama tradisional. Individu agama dan lembaga pendidikan agama memberi pengaruh terhadap iklim akademis dan pendidikan sekuler yang bermusuhan terhadap agama.
5. Kita

mengetahui sedikit-banyak tentang bagaimana dampak perceraian dan pilihan agama bagi seseorang, tetapi kita sangat sedikit mengetahui tentang bagaimana peristiwa perceraian dapat mengubah selera agama. Mungkin yang lebih penting, tidak ada studi serius tentang bagaimana memahami kematian dan penyakit serius berdampak terhadap keinginan memilih agama. Studi menangani isu-isu ini hubungan antara penuaan, transisi kehidupan, pemahaman dan komitmen terhadap agama. agama dapat menjelaskan perbedaan individu dalam religiositas (keberagamaan). Perspektif semacam ini mungkin menjadi alat yang berharga untuk menjelaskan masalah seksualitas dan perbedaan gender dalam komitmen keagamaan.

6. Ada proposisi menarik yang menyebutkan bahwa model sosialisasi

14