Anda di halaman 1dari 20

TUGAS

FARMAKOLOGI








LIDIA NININGSIH
M.TRI SUSILO
LIMYEMAYASARI
NI NYOMAN KRISDIYANINGSIH
MARDENSI SARTIKA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS WIDYAGAMA MAHAKAM
SAMARINDA
2011




KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas Rahmat-nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul ANTIHIPERTENSI
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk memenuhi
tugas kelompok yang diberikan oleh dosen.
Pembuatan makalah ini disusun sesederhana mungkin sehingga
mudah untuk dipelajari dan dimengerti.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai kekurangan
dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami mohon bagi pembaca
memberikan kritik dan sarannya.


PENYUSUN

Kelompok II






















DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN
1.1PENGERTIAN
1.2HIPERTENSI
1.3FAKTOR PENINGKATAN TD
1.4PENCEGAHAN
1.5TINDAKAN UMUM
1.6PENGOBATAN DAN PEMILIHAN OBAT
1.7PENGGOLONGAN
1.8MEKANISME KERJANYA
1.9EFEK SAMPING

BAB II. PENUTUP
KESIMPULAN





















PENDAHULUAN
BAB I
ANTIHIPERTENSI
PENGERTIAN
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi
peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang
mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90
mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah
yang selalu tinggi adalah salah satu Iaktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal
jantung dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.
Klasifikasi
KlasiIikasi Tekanan Darah Pada Dewasa menurut JNC VII |1|
Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal 120 mmHg (dan) 80 mmHg
Pre-hipertensi 120-139 mmHg (atau) 80-89 mmHg
Stadium 1 140-159 mmHg (atau) 90-99 mmHg
Stadium 2 ~ 160 mmHg (atau) ~ 100 mmHg
O Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau
lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih
dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.

HIPERTENSI
Hipertensi merupakan suatu kelainan, suatu gejala dari gangguan pada mekanisme
regulasi TD yang diuraikan di atas. Penyebabnya diketahui hanya lebih kurang 10
dari semua kasus, antara lain akibat penyakit ginjal dan penciutan aorta / arteri ginjal,
juga akibat tumor di anak-ginjal dengan eIek overproduksi hormon-hormon tertentu
berkhasiat meningkatkan TD (Ieochromcytoma).
Dalam kebanyakan hal penyebabnya tidak diketahui, bentuk umum ini disebut
hipertensi esensial. Faktor keturunan berperan penting pada timbulnya jenis hipertensi
ini. Resiko hipertensi yang tidak diobati adalah besar sekali dan dapat menyebabakan
kerusakan pada a.l. jantung, otak dan mata. TD yang terlampau tinggi menyebabkan
jantung memompa lebih keras, yang akhirnya dapat mengakibatakn gagal-jantung
(decompensatio) dengan rasa sesak dan udema di kaki. Pembuluh juga akan lebih
mengeras guna menahan TD yang meningkat.
Pada umumnya resiko terpenting adalah serangan otak (stroke,beroerte, dengan
kelumpuhan separuh tubuh) akibat pecahnya suatu kapiler dan mungkin juga infark
jantung. Begitu pula cacat pada ginjal dan pembuluh mata, yang dapat

mengakibatkan kemunduran penglihatan. Komplikasi otak dan jantung tersebut sering
bersiIat Iatal, di negara-negara Barat 30 lebih dari seluruh kematian disebabkan oleh
hipertensi.

FAKTOR PENINGKATAN TD
Ada beberapa Iaktor yang dapat meningkatakn TD secara reversibel, antara lain :
a. Garam
Ion natrium mengakibatkan retensi air, sehingga volume darah bertambah dan
menyebabkan daya-tahan pembuluh meningkat. Juga memperkuat eIek vasokonstriksi
noradrenalin. Secara statistis ternyata bahwa pada kelompok penduduk yang
mengkonsumsi terlalu banyak garam terdapat lebih banyak hipertensi daripada orang-
orang yang memakan hanya sedikit garam.
b. Merokok
Nikotin dalam rokok berkhasiat vasokonstriksi dan meningkatkan TD. Merokok
memperkuat eIek buruk dari hipertensi terhadap sistem pembuluh.

c. Pil antihamil
Mengandung hormon wanita estrogen, yang juga bersiIat retensi garam dan air.
Wanita yang peka sebaiknya menerapkan suatu cara pembatasan kelahiran lain.

d. Stress
(ketegangan emosional) dapat meningkatkan TD untuk sementara akibat pelepasan
adrenalin dan noradrenalin (hormon stress), yang bersiIat vasokonsriktiI. TD
meningkat pula pada waktu ketegangan Iisik (pengeluaran tenaga, olahraga). Bila
stress hilang, TD turun lagi.

e. Drop
(liquorice), sejenis gula-gula yang dibuat dari Succus liquiritiae mengandung asam
glizirinat dengan khasiat retensi air pula, yang dapat meningkatkan TD bila dimakan
dalam jumlah besar.

I. Hormon pria dan kortikosteroida
Berkhasiat retensi air. Setelah penggunaan hormon ini atau pil antihamil dihentikan,
atau pemakaian garam sangat dikurangi, pada umumnya TD menurun dan menjadi
normal kembali.



g. Kehamilan
Yang terkenal adalah kenaikan TD yang dapat terjadi selama kehamilan.
Mekanisme hipertensi ini serupa dengan proses di ginjal; bila uterus direnggangkan
terlampau banyak (oleh janin) dan menerima kurang darah, maka dilepaskannya zat-
zat yang meningkatkan TD.

PENCEGAHAN
Meskipun Iaktor keturunan memegang peranan penting , namun cara dan pola hidup
sanagn esensiil dalam menjauhi hipertensi. Misalnya, makan berlebihan dengan terlalu
banyak lemak serta garam (dan gula), terlampau sedikit gerak badan dan merokok,
dapat mendorong terjadinya hipertensi.
Kontrol teratur. Mengingat hipertensi sering kali tidak memberikan gejala dan
hebatnya resiko untuk jangka panjang (bila tidak ditangani), maka perlu sekali untuk
mengenali penyakit 'tersembunyi ini sedini mungkin.
Maka itu dianjurkan pengontrolan TD berkala, misalnya setiap 1 atau 2 tahun sekali,
terlebih-lebih pula bagi mereka diatas usia 45 tahun atau yang memiliki orang tua atau
saudara yang menderita hipertensi.
Dari data klinis ternyata bahwa terapi penurunan TD dapat mengurangi insidensi
stroke dengan 35-40; inIark jantung dengan 20-25 ; gagal jantung dengan ~50.

TINDAKAN UMUM
Penderita dengan TD tinggi tanpa ada sebab-sebab organis yang jelas dapat
menerapkan sendiri sejumlah aturan hidup untuk menurunkan tensinya. Pola hidup
yang baik juga meningkatkan eIektiIitas obat-obat antihipertensi dan mengurangi
resiko PJP.

a. Menguruskan badan
Berat badan berlebihan (kegemukan) menyebabkan bertambahnya volume-darah
dan perluasan sistem sirkulasi. Bila bobot extra dihilangkan TD dapat turun kurang
lebih 0,7 / 0,5 mm Hg setiap kilo penurunan. Dianjurkan BMI antara 18,5-24,9 kg/m2.

b. Mengurangi garam dalam diet
Dahulu dianggap sebagai tindakan umum terpenting berdasarkan perkiraan berikut.
Bila kadar Na di Iiltrat glomeruli rendah, maka lebih banyak air akan dikeluarkan untuk
menormalisasi kadar garam dalam darah. Akibat pengeluaran extra air tersebut, TD akan
turun. Tetapi dalam praktek ternyata mengurangi konsumsi garam sulit sekali
direalisasikan. Setiap hari umumnya kita makan lebih dari 10 g garam dan lebih dari

separuhnya terdapat dalam berbagai makanan (iakn asin, sayur, daging, snack dan
sebagainya). Pengurangan setiap gram garam sehari dapat bereIek penurunan tensi 1 mm
Hg. Maka untuk mencapai penurunan TD yang nyata, konsumsi garam harus dibatasi
sampai 6 g sehari. Hal ini sulit sekali.

c. Membatsi kolesterol
Berguna untuk membatasi resiko atherosclerosis. Dengan mengurangi /
menghindari asupan lemak jenuh (saturated dan total Iat). Konsumsi serat-setar nabati
hendaknya justru diperbanyak, karena telah terbukti bahwa serat tersebut dalm
makanan dapat membantu menurunkan TD. Diketahui pula bahwa orang-orang
vegetarir, yakni yang pantang daging dan makan banyak sayur dan buah-buahan (yang
mengandung banyak serat), rata-rata memiliki tensi yang lebih rendah dari pada orang
biasa`.

d. Berhenti merokok
Tembakau mengandung nikotin yang memperkuat kerja jantung dan menciutkan
arteri kecil hingga sirkulasi darah berkurang dan TD meningkat. Lagipula
karbonmonoksida (CO) dalam asap mengikat hemoglobin lebih kuat dan lebih cepat
dari pada oksigen, sehingga penyerapan oksigen diparu-paru sangat dikurangi. Selain
itu t e r dalam asap bersiIat karsinogen dan pada jangka panjang dapat merusak
dinding pembuluh dengan eIek atherosklerosis. Karena itu pasien hipertensi
menunjukkan resiko kematian yang meningkat akibat inIark jantung. Berhubung
banyaknya eIek buruk, semua tindakan ini jauh lebih penting daripada tindakan-
tindakan berikut.

e. Membatasi minum kopi
Sampai maksimal 3 cangkir sehari. KoIein dalam kopi berkhasiat menciutkan
pembuluh yang secara akut dapat meningkatkan TD dengan terjadinya gangguan ritme
(sementara). Kopi tubruk ternyata dapat meningkatkan kolesterol darah akibat
kandungan lemak jenuhnya. Kopi ekstra/larut tanpa lemak tidak memperlihatkan eIek
buruk ini. Minum lebih dari 5 cangkir sehari meningkatkan resiko inIark sampai 70,
terutama pada wanita dengan angina pectoris atau hipertensi. Pada jangka lama minum
terlalu banyak kopi juga mengakibatkan meningkatnya LDL.

I. Membatasi minum alkohol
Sampai 2-3 konsumsi (bir,anggur) sehari. Alkohol memiliki banyak khasiat, antara
lain vasodilatasi, peningkatan HDL-kolesterol, Iibrinolitis dan mengurangi

kecondongan beku darah. Tetapi minum lebih dari 40 g sehari untuk jangka waktu
panjang dapat meningkatkan tensi diastolis sampai 0,5 mm per 10 g alkohol.

g. Cukup istirahat dan tidur
Adalah penting, karena selama periode itu TD menurun. Juga mengurangi sterss
dan latihan relaksasi mental (yoga, maditasi transendental, chi kung, bioIeedback)
ternyata bergunasekali untuk menurunkan TD.

h. Gerak badan
Yang cukup bertenaga. Walaupun TD meningkat pada waktu mengeluarkan tenaga
akut, namun olah raga secara teratur dapat menurukan TD yang tinggi, karena saraI
parasimpatik akan menjadi relatiI lebih aktiI daripada sistem simpatik dengan antara
lain kerja vasokontruksinya .

PENGOBATAN DAN PEMILIHAN OBAT
Penanganan dasar hipertensi terdiri dari penanggulangan overwight (bila ada )
dengan diet, pembatasan garam serta peningkatan aktiIitas Iisik. Selain tindakan umum
itu, pada hipertensi lebih berat perlu ditambahkan obat-obat hipertensi untuk
menormalkan TD.

Pengobatan
pada instansi pertama ditujukan pada penurunan TD, tetapi tujuan akhir adalah untuk
menghindarkan komplikasi lambat, memperbaiki kualitas dan memperpanjang hidup.
Hal ini dapat dicapai dengan jalan prevensi eIek buruk jangka panjang, seperti inIark
otak (stroke), gangguan aterosklerotis dan hipertroIi jantung, yang akhirnya dapat
menimbulkan aritmia dan dekompensasi.
Pengobatan dengan antihipertensiva harus selalu dimulai dengan dosis rendah agar
TD jangan menurun terlalu drastis dengan mendadak. Kemudian setiap 1-2 minggu
dosis berangsur-angsur dinaikkan sampai tercapai eIek yang diinginkan. Begitu pula
penghentian terapi harus secara berangsur-angsur pula.
Antihhipertensiva hanya menghilangkan gejala TD tinggi dan tidak penyebabnya.
Maka obat pada hakikatnya harus diminum seumur hidup, tetapi setelah berapa waktu
dosis pemeliharaan pada umumnya dapat diturunkan.

Pemilihan obat
Untuk penanganan hipertensi rekombinasi WHO menganjurkan lima
jenis obat dengan daya hipotensiI dan eIektivitas kurang lebih sama yaitu,

deuretika tiazia, beta-blockers, antagonis-Ca, ACE-inhibitors dan ATII-
reseptorblockers. EIek melindungi dari semua obat ini terletak pada daya kerja
penurunan TD dan tidak pada siIat-siIat lain dari obat-obat tersebut. Maka
pilihan (jenis) obat terutama tergantung dari penyakit-penyakit tambahan yang
sering kali menyertai hipertensi.
Terapi kombinasi kini dianggap maha penting dan ternyata sangat eIektiI,
karena dengan dosis masing-masing obat yang lebih rendah juga eIek
sampingnya berkurang. Lagipula kesetiaan terapi ditingkatkan bila suatu
sediaan mengandung kombinasi dari 2 atau 3 obat yang hanya harus diminum
satu kali seharinya. Dianjurkan untuk langsung dimulai dengan kombinasi dua
obat pada penderita dengan TD lebih tinggi dari nilai/tujuan 140/90 mmHg.
Hipertensi tunggal
Kini banyak ahli sependapat bahwa diuretika atau betablockers, atau
kombinasinya merupakan pilihan pertama. Dari banyak studi ternyata bahw a
pada jangka panjang hanya kedua kelompok obat ini dapat menurunkan angka
penyakit dan angka kematian
Hipertensi dengan diabetes
Kombinasi diatas memiliki kendala karena dapat menurunkan resistensi
insulin.
Krisis hipertensi
Bercirikan kenaikan mendadak dari tensi dengan gejala dari enceIalopati
akut (sakit kepala hebat, gangguan kesadaran, serangana epilepsi).
Pengobatannya dapat dilakukan sebaiknya dengan injeksi intravena antara lain
niIedipin, enalapril, labetolol, Ientolamin (alIa-blocker) dan ketanserin
(ketansin), suatu antagonis-serotonin dari reseptor-5HT.

PENGGOLONGAN
Obat-obat yang dewasa ini digunakan untuk terapi hipertensi dapat dibagi
dalam beberapa kelompok, yang berturut-turut akan dibicarakan lebih mendetail
dibawah ini.
1. Diuretika
2. AlIa-receptor blockers
3. Beta-receptor blockers
4. Obat-obat SSP
5. Antagonis kalsium
6. Penghambat ACE dan
7. Vasodilator

8. AT-II-reeceptor blockers (antagonis-AT-II)

MEKANISME KER1ANYA

Obat hipetensi pelbagai macam dan cara kerjanya dapat dibagi dalam
beberapa jenis , yakni :

Meningkatkan pengeluaran air dari tubuh: deuretika
Memperlambat kerja jantung : beta blockers
Memperlebar pembuluh : vasodilator langsung
Menstimulasi SSP : agonis alIa-2 sentral seperti klonidin dan mexonidin,
metildopa, guanIasin dan reserpin
Mengurangi pengaruh SSO terhadap jantung dan pembuluh, yakni
AlIa-1-blockers derivat quinazolin
AlIa-1 dan -2-blockers Ientolamin;
Beta-blockers propranolol, atenolol, metoprolol, pindolol, bisoprolol, timolol
dll;
AlIa/beta-blockers labetolol dan carvedilol.

EFEK SAMPING

&2u2. Praktis semua antihipertensiva menimbulkan eIek samping umum,
seperti hidung mampat (akibat vasodilatasi mukosa) dan mulut kering, bradycardia
(kecuali vasodilator langsung: justru tachycardia), rasa letih dan lesu, gangguan
penglihatan dan lambung usus (mual, diare), adakalanya impotensi (terutama obat-obat
sentral). EIek- eIek ini sering kali bersiIat sementara yang hilang dalam waktu 1-2
minggu. Dapat dikurangi atau dihindarkan dengan cara peningkatan lambat laun,
artinya dimulai dengan dosis rendah yang berangsur-angsur dinaikan. Dengan
demikian penurunan TD mendadak dapat dihindarkan. Begitu pula obat sebaiknya
diminum setelah makan agar kadar obat dalam plasma jangan mendadak mencapai
puncak tinggi (dengan akibat hipotensi kuat). Penghentian terapi pun tidak boleh
secara mendadak, melainkan berangsur-angsur untuk mencegah bahaya meningkatnya
TD dengan kuat (rebound eIIect).
Khusus. Lebih serius adalah sejumlah besar eIek samping khusus, antara lain :

Hipotensi ortostatis (OH), yakni turunnya TD lebih kuat bila tubuh tegak (
ortho, Lat). Daripada dalam keadaan berbaring. Prevalensinya pada lansia berkisar

antara 5 sampai 60 (Drugs Aging, 2005;22:55-68). Dapat terjadi karena terutama
simpatolitika, antidepresiva trisiklik, penghambat MAO, antipsikotika, obat anti-
parkinson dan obat kardiovaskuler (nitrat, antihipertensiva).
Depresi, terutama pada obat yang bekerja sentral, khususnya reserpin dan
metildopa, juga pada beta-blockers yang bersiIat lipoIil, antara lain propranolol,
alprenolol dan metoprolol.
Retensi garam dan air, dengan bertambahnya berat badan atau terjadinya udema,
antara lain antagonis-Ca, reserpin, metildopa dan hidralazin. EIek samping ini
dapat diatasi dengan kombinasi bersma suatu diuretikum.
Penurunan ratio HDL : LDL. Sejumlah obat mempengaruhi metabolisme lipida
secara buruk, yakni menurunkan kadar kolesterol-HDL plasma yang dianggap
sebagai Iaktor-pelindung terhadap penyakit jantung-pembuluh (PJP). Atau, juga
meningkatkan kolesterol-LDL yang dianggap sebagai Iaktor resiko bagi PJP. SiIat
ini telah dipastikan pada diuretika (kelompok thiazida dan klortalidon) dan pada
beta-blockers, khususnya obat-obat yang tak kardioselektiI atau tak memiliki ISA.

Hipertensi pada kehamilan
Terdiri dari : hipertensi esensial kronik, preeklamsi-eklamsia, hipertensi kronik
dengan eklamsia. Hipertensi esensial kronik yaitu hipertensi yang telah ada sebelum
hamil atau telah terdiagnosis sebelum kehamilan ke-20. Tujuan terapi : mengurangi
komplikasi akibat hipertensi tanpa merugikan Ietusnya.
Preeklamsia adalah kondisi khas kehamilan yang terjadi setelah 20 minggu,
ditandai perIusi buruk pada banyak organ. Tekanan darah meningkat disertai proteinuria
dan edema, serta kadang-kadang gangguan koagulasi dan gangguan Iungsi hati.
Preeklamsia bisa berkembang cepat menjadi Iese konvulsiI yang disebut eklamsia.
Pemberian antihipertensi berorientasi pada keselamatan ibu, karena tidak jelas apakah
penurunan tekanan darah akan menguntungkan Ietus. Diuretik harus dihindari karena
akan memperburuk perIusi organ. Bila kelahiran akan terjadi, diberi antihipertensi
parenteral dengan hidralazin intravena.
Pada prinsipnya, pengobatan hipertensi dilakukan secara bertahap, dimulai dari
modiIikasi pola hidup ( menurunkan kegemukan, latihan Iisik/aerobik secara teratur,
mengurangi makan garam, makan vit. K, Ca dan Mg yang cukup, tidak minum alkohol
dan merokok ), baru kalau respon kurang dilakukan terapi Iarmakologik ( dengan obat ).
Gejala Hipertensi
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala :
sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak naIas, gelisah, pandangan menjadi kabur
yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. Kadang

penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma
karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati ipertensif, yang
memerlukan penanganan segera.

Penyebab Hipertensi
1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui
penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 dari seluruh hipertensi).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari
adanya penyakit lain.
Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan
pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan
meningkatnya tekanan darah. Pada sekitar 5-10 penderita hipertensi, penyebabnya
adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau
pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1. Penyakit Ginjal Stenosis arteri renalis, PieloneIritis, GlomeruloneIritis, Tumor-
tumor ginjal, Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan), Trauma pada ginjal
(luka yang mengenai ginjal), Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
2. Kelainan Hormonal : Hiperaldosteronisme, Sindroma Cushing,
Feokro:mositoma
3. Obat-obatan : Pil KB, Kortikosteroid, Siklosporin, Eritropoietin,
Kokain,Penyalahgunaan alcohol, Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya : Koartasio aorta, Preeklamsi pada kehamilan, Porfiria
inter2iten akut, Keracunan timbal akut.
Obat tradisional yang dapat digunakan sebagai anti hipertensi, misalnya : murbei, daun
cincau hijau, seladri (tidak boleh lebih 1-10 gr per hari, karena dapat menyebabkan
penurunan tekanan darah secara drastis), bawang putih (tidak boleh lebih dari 3-5 siung
sehari), Rosela , daun misai kucing, minuman serai. teh serai yang kering atau serai
basah(Iresh) diminum 3 kali sehari. Dalam seminggu dapat Nampak penurunan tekanan
darah tinggi

Angina pektoris
Angina pektoris atau disebut juga
Angin Duduk adalah penyakit jantung
iskemik dideIinisikan sebagai
berkurangnya pasokan oksigen dan
menurunnya aliran darah ke dalam

miokardium. Gangguan tersebut bisa karena suplai oksigen yang turun (adanya
aterosklerosis koroner atau spasme arteria koroner) atau kebutuhan oksigen yang
meningkat. Sebagai
maniIestasi keadaan tersebut akan timbul Angina pektoris yang pada akhirnya dapat
berkembang menjadi inIark miokard. Angina pektoris dibagi menjadi 3 jenis yaitu
Angina klasik (stabil), Angina varian, dan Angina tidak stabil.
Angina klasik biasanya terjadi saat pasien melakukan aktivitas Iisik.
Sedangkan Angina varian biasa terjadi saat istirahat dan biasa terjadi di pagi hari.
Angina tidak stabil tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya, dapat terjadi saat istirahat
dan bisa terjadi saat melakukan kegiatan Iisik. Obat antiangina terdiri dari berbagai
macam golongan. Pilihan terapi pengobatan antiangina meliputi golongan nitrat, beta
bloker, dan Ca channel antagonis

Penyakit Gagal Ginjal
Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu penyakit
dimana Iungsi organ ginjal mengalami penurunan
hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh,
menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh
seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi
urine.
Penyebab Gagal Ginjal
Terjadinya gagal ginjal disebabkan oleh beberapa
penyakit serius yang didedrita oleh tubuh yang mana
secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan
organ ginjal. Adapun beberapa penyakit yang sering
kali berdampak kerusakan ginjal diantaranya :
O Penyakit tekanan darah tinggi (Hypertension)
O Penyakit Diabetes Mellitus (Diabetes Mellitus)
O Adanya sumbatan pada saluran kemih (batu, tumor, penyempitan/striktur)
O Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik
O Menderita penyakit kanker (cancer)
O Kelainan ginjal, dimana terjadi perkembangan banyak kista pada organ ginjal itu
sendiri (polycystic kidney disease)
O Rusaknya sel penyaring pada ginjal baik akibat peradangan oleh inIeksi atau
dampak dari penyakit darah tinggi. Istilah kedokterannya disebut sebagai
glomerulonephritis.

Angiotensin
Angiotensin (bahasa Inggris: angiotensin, pertensin, angiotonin) adalah
sebuah dipsogen dan hormon oligopeptida di dalam serum darah yang menyebabkan
pembuluh darah mengkerut hingga menyebabkan kenaikan tekanan darah. Angiotensin
merupakan stimulan bagi sekresi aldosteron dari adrenal korteks, dan merupakan bagian
dari sistem RAA (renin-angiotensin-aldosteron). Prekursor angiotensin adalah
angiotensinogen yang disekresi oleh hati.
Renin
Renin (bahasa Inggris: renin, angiotensinogenase) adalah enzim yang disekresi
oleh ginjal yang berperan dalam lintasan metabolisme sistem RAA (Renin-Angiotensin-
Aldosteron) yang mengendalikan tekanan darah dan kadar air dalam tubuh dengan
mengatur volume ekstraselular dari plasma darah, cairan tubuh, cairan limIatik dan
vasokonstriksi arteri.
Anti Angina
O Antiangina adalah obat untuk angina pectoris (ketidak seimbangan antara
permintaan (demand) dan penyediaan (supply) oksigen pada salah satu bagian
jantung
O Penyebab angina:
O Kebutuhan O2 meningkat exercise berlebihan
O Penyediaan O2 menurun sumbatan vaskuler
Cara kerja Antiangina:
O Menurunkan kebutuhan jantung akan oksigen dengan jalan menurunkan
kerjanya. (penyekat reseptor beta)
O Melebarkan pembuluh darah koroner memperlancar aliran darah (vasodilator)
O Kombinasi keduanya
Obat Antiangina:
1. Nitrat organik
2. Beta bloker
3. Calsium antagonis
Farmakodinamik
O Dilatasi pembuluh darah dapat menyebabkan hipotensi sinkop
O Relaksasi otot polos nitrat organik membentuk NO menstimulasi
guanilat siklase kadar siklik-GMP meningkat relaksasi otot polos
(vasodilatasi)
O Menghilangkan nyeri dada bukan disebabkan vasodilatasi, tetapi karena
menurunya kerja jantung


O Pada dosis tinggi dan pemberian cepat venodilatasi dan dilatasi arteriole
periIer tekanan sistol dan diastol menurun , curah jantung menurun dan
Irekuensi jantung meningkat (takikardi)
O EIek hipotensi terutama pada posisi berdiri karena semakin banyak darah
yang menggumpul di vena curah darah jantung menurun.
O Menurunya kerja jantung akibat eIek dilatasi pembuluh darah sistemik
penurunan aliran darah balik ke jantung
O Nitrovasodilator menimbulkan relaksasi pada hampir semua otot polos: bronkus,
saluran empedu, cerna, tetapi eIeknya sekilas tidak digunakan di klinik
Farmakokinetik
O Metabolisme nitrat organik terjadi di hati
O Kadar puncak 4 menit setelah pemberian sublingual
O Ekskresi sebagian besar lewat ginjal
Efek Samping obat : sakit kepala, hipotensi, meningkatnya daerah ischaemia
Indikasi :
1. Angina pectoris
2. Gagal jantung kongestiI
3. InIark jantung

OBAT ANTI HIPERTENSI

A-B Vask 5 mg;10mg
KOMPOSISI
A-B VaskR5 : Tiap tablet mengandung Amlodipine besylate
6,934 mg setara dengan amiodipine 5 mg.
A-B VaskR 10 : Tiap tablet mengandung Amlodipine besylate
13,868 mg setara dengan amlodipine 10 mg
CARA KER1A OBAT
Farmakologi :
Amlodipine adalah inhibitor inIluks kalsium (slow channel blocker atau
antagonis ion kalsium), yaitu menghambat inIluks ion-ion kalsium transmembran ke
dalam jantung dan otot polos Mekanisme kerja antihipertensi amiodipine dikarenakan
adanya eIek relaksasi secara langsung pada otot polos vaskular, sedangkan mekanisme
yang tepat untuk menghilangkan angina belum sepenuhnya diketahui.
Farmakokinetika :
Setelah pemberian dosis terapeutik secara oral, amiodipine diabsorpsi dengan
baik dan kadar puncak dalam plasma tercapai setelah 6 - 12 jam Volume distribusi

amlodipine kira-kira 21 liter/kg Waktu paruh eliminasi plasma terminal adalah
sekitar 35 - 50 jam dan konsisten pada pemberian dosis sekali sehari Kadar mantap
dalam plasma tercapai 7 - 8 hari setelah pemberian secara terus menerus sehari sekali
Sebanyak 97,5 amlodipine dalam sirkulasi terikat dengan protein plasma Amlodipine
sebagian besar dimetabolisme di hati menjadi metabolit inaktiI, di ekskresi di urin 10
dalam bentuk tidak berubah dan 60 sebagai metabolit Pada penderita hipertensi,
pemberian dosis sehari sekali memberikan penurunan tekanan darah yang signiIikan
secara klinis baik pada posisi terlentang maupun berdiri setelah interval waktu 24 jam.
Karena mula kerja yang lambat maka tidak terjadi hipotensi akut setelah pemberian
amlodipine pada penderita angina .Pemberian dosis sekali sehari meningkatkan waktu
exercise dan menurunkan Irekuensi serangan angina dan konsumsi tablet nitrogliserin.
Amlodipine tidak mempengaruhi eIek metabolisme atau perubahan-perubahan lipid
(lemak) dalam plasma.
INDIKASI
Amlodipine diindikasikan untuk pengobatan hipertensi dan digunakan dalam
bentuk tunggal untuk mengontrol tekanan darah pada sebagian besar penderita
Penderita-penderita yang tidak cukup terkontrol bila hanya menggunakan obat
antihipertensi tunggal, dapat lebih menguntungkan bila pemberian amlodipine
dikombinasi dengan diuretik tiazid, inhibitor adrenoreceptor, atau inhibitor anglotensin-
converting enzym. Amlodipine diindikasikan untuk pengobatan iskemia miokardial
yang disebabkan obstruksi Iixed (angina stabil) dan atau vasospasme/vasokonstriksi
(Prinzmetal's atau angina varian) dari pembuluh darah koroner Amlodipine dapat
digunakan sebagai gambaran klinik yang menunjukkan suatu kemungkinan komponen
vasospastik / vasokonstriktiI tetapi belum nampak adanya vasospasme /vasokonstriksi.
Amlodipine dapat digunakan dalam bentuk tunggal (monoterapi) atau dikombinasi
dengan obat-obat antiangina lain, terutama pada penderita angina yang sukar
disembuhkan dengan nitrat dan atau dengan p-blocker pada dosis adequat /dosis yang
memadai
KONTRA INDIKASI
Amlodipine dikontraindikasikan pada penderita yang sensitiI terhadap
dihidropiridin.
EFEK SAMPING
O Amlodipine ditoleransi dengan baik Pada penelitian klinik dengan control
plasebo yang mencakup penderita dengan hipertensi dan angina, eIek samping
yang umum terjadi adalah sakit kepala, edema, somnolen, palpitasi, nyeri
abdomen, lelah, mual, Ilushing, dan pusing-pusing Tidak ada kelainankelainan
tes laboratorium yang signiIikan secara klinis yang berkaitan dengan amiodipine

O EIek samping lain yang sedikit ditemukan pada pengalaman klinis adalah
pruritus, rash, dispnea, astenia, kram otot, hiperplasia gingiva, dispepsia dan
yang jarang ditemukan eritema multiIorme, Seperti pada calcium channel
Mockers, eIek samping lain jarang dilaporkan dan tidak bisa dibedakan dari
gejala penyakit penyebabnya: inIark miokard, aritmia (termasuk takikardi
ventrikular dan Iibrilasi atrium) dan nyeri dada.

PERINGATAN DAN PERHATIAN
Penggunaan pada penderita gagal qinjal
Amlodipine sebagian besar dimetabolisme menjadi metabolit inaktiI, dan 10
diekskresikan dalam bentuk utuh melalui urin Perubahan-perubahan kadar amiodipine
dalam plasma tidak ada korelasi dengan derajat kegagalan ginjal. Dosis normal
amiodipine dapat digunakan pada penderita tersebut namun amlodipine tidak dapat
didialisis.
Penggunaan pada penderita gagal Iunqsi hepar
Waktu paruh amiodipine menjadi lebih panjang pada penderita gagal Iungsi hepar,
oleh karena itu perlu perhatian khusus pada penggunaannya. Dosis rekomendasi belum
ada yang pasti.
Penggunaan pada ibu hamil dan menyusui.
Keamanan penggunaan amlodipine pada ibu hamil dan menyusui belum dibuktikan
/diteliti. I Amiodipine tidak menunjukkan toksik pada penelitian reproduktiI pada
binatang yang diberi I dosis 50 kali (dosis maksimum yang direkomendasikan pada
manusia), eIek yang timbul yaitu hanya memperpanjang parturisi dan kerja pada tikus
percobaan. Berdasarkan hal tersebut di atas, penggunaan pada ibu hamil dan menyusui
hanya direkomendasikan bila tidak ada alternatiI lain yang lebih aman dan bila
penyakitnya itu sendiri membawa risiko yang besar pada ibu dan anak.
Penggunaan pada penderita lanjut usia.
Waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi plasma puncak amiodipine
sama, baik pada orang tua maupun orang muda. Klirens amlodipine akan menurun
dengan peningkatan AUC dan eliminasi waktu paruh penderita lanjut usia, karena
mudah ditoleransi dengan baik Oleh karena itu, dosis normal dapat direkomendasikan
pada penderita lanjut usia.
INTERAKSI OBAT
Amlodipine aman diberikan bersama-sama dengan diuretik tiazid, $ blocker,
inhibitor angiotensin-converting enzym, long-acting nitrat, nitrogliserin sublingual,obat-
obat I antiinIlamasi non-steroid, antibiotika, dan obat hipoglikemik oral. Pada penelitian
khusus I disebutkan bahwa pemberian amlodipine bersama-sama digoksin tidak

mengubah kadar digoksin dalam serum dan klirens renal digoksin pada
sukarelawan normal. Pemberian bersama-sama dengan simetidin tidak mengubah
Iarmakokinetika amiodipine. Data in-vitro I dari penelitian pada plasma manusia
menyebutkan bahwa amiodipine tidak mempunyai eIek pada ikatan protein dengan
obat-obat yang diuji (digoksin, Ienitoin, warIarin, atau indometasin).
OVERDOSIS
Walaupun tidak ada penelitian yang menyebutkan tentang overdosis amlodipine,
tetapi dari data yang ada menunjukkan bahwa overdosis dapat
menyebabkan vasodilatasi periIer yang berlebihan dengan tanda selanjutnya berupa
hipotensi sistemik yang lebih lama. Hipotensi yang signiIikan secara klinik karena
overdosis amlodipine memerlukan dukungan kardiovaskuler aktiI termasuk pemantauan
jantung dan Iungsi pernaIasan,peninggian anggota badan, dan perhatian terhadap
volume cairan sirkulasi dan pengeluaran urin. Bahan vasokonstriktor dapat membantu
memulihkan tegangan vaskular dan tekanan darah,diberikan bila tidak ada
kontraindikasi terhadap penggunaannya. Karena amlodipine sebagian besar terikat
dengan protein, dialisis tidak menguntungkan / tidak direkomendasikan. Pada beberapa
kasus, pencucian / kuras lambung dapat membantu menurunkan laju absorpsi
amlodipine.
KEMASAN
A-BVask R 5 : Kotak, 3 blister 10 tablet
No. Reg. DKL0813313810A1
A-B Vask R 10 : Kotak, 3 blister 10 tablet
No Reg. DKL0813313810B1
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
Simpan di tempat(15:25C) dan kering
PT. LAPI LABORATORIES
CIKANDE INDONESIA

FISIOLOGI
Untuk hipertensi : Dosis lazim adalah 5 mg amiodipine satu kali sehari, dapat
ditingkatkan sampai dosis maksimum 10 mg tergantung respons penderita secara
individual dan berat penyakit. Bayi, penderita yang lemah (Iragile), penderita
lanjut usia atau penderita dengan gagal Iungsi hati dapat dimulai dengan dosis
2,5 mg amiodipine satu kali sehari dan dosis ini dapat digunakan ketika
amiodipine ditambah dengan terapi anti hipertensi lain Sebagian besar penderita
hipertensi dengan dosis pemakaian 5 mg setiap hari tidak perlu peningkatan
dosis Bagi mereka yang memerlukan dosis lebih tinggi, amlodipine dapat

ditingkatkan menjadi 7,5 mg setiap hari dengan dosis maksimum 10 mg setiap
hari. Dosis yang dianjurkan untuk chronic stable atau angina vasospastik adalah
5-10 mg, dan dosis yang rendah untuk penderita lanjut usia dan penderita gagal
Iungsi hati,
Tidak diperlukan penyesuaian dosis bila digunakan bersamaan dengan diuretic
tiazid, p-bloker, dan angiotensin converting enzyme inhibitors.
Untuk anak-anak : Sampai saat ini penggunaan amlodipine untuk anak-anak
tidak pernah dilaporkan / belum pernah diberikan pada anak-anak.

EFEK SAMPING
Amlodipine ditoleransi dengan baik Pada penelitian klinik dengan kontrol
placebo yang mencakup penderita dengan hipertensi dan angina, eIek samping
yang umum terjadi adalah sakit kepala, edema, somnolen, palpitasi, nyeri
abdomen, lelah, mual, Ilushing, dan pusing-pusing Tidak ada kelainan-kelainan
tes laboratorium yang signiIikan secara klinis yang berkaitan dengan amiodipine
EIek samping lain yang sedikit ditemukan pada pengalaman klinis adalah
pruritus,rash, dispnea, astenia, kram otot, hiperplasia gingiva, dispepsia dan
yang jarang ditemukan eritema multiIorme, Seperti pada calcium channel
Mockers, eIek samping lain jarang dilaporkan dan tidak bisa dibedakan dari
gejala penyakit penyebabnya: inIark miokard, ' aritmia (termasuk takikardi
ventrikular dan Iibrilasi atrium) dan nyeri dada.












DAFTAR PUSTAKA
eglin, Jallerand, 2005, Pedo2an Obat &ntuk Perawat, Jakarta, EGC
Ganiswarna, 1995, Far2akologi dan Terapi, Jakarta, FK&
Kee, Hayes, 1996, Far2akologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta,
EGC
http.//dr-suparyanto.blogspot.co2/2010/04/obat-kardiovaskuler.ht2l
rs .Tan Hoan Tfay KK,2007,Obat-obat Penting,Jakarta,PT Gra2edia