P. 1
Tabloid Aviasi Oktober 2011

Tabloid Aviasi Oktober 2011

5.0

|Views: 586|Likes:
Dipublikasikan oleh ian nugroho

More info:

Published by: ian nugroho on Dec 08, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/07/2014

pdf

text

original

AVIASI

A V I A T I O N O F I N D O N E S I A
www.tabloidaviasi.com
Pesona Pasar Terapung
Tak salah jika Banjarmasin, Kalimantan Selatan dijuluki Kota Seribu Sungai. Di sana kita dapat menyaksikan langsung aktivitas jual beli di Pasar Terapung.

Edisi 40 Thn IV - Oktober 2011 Rp 8.000 (Luar Pulau Jawa Rp 9.000)

Delay? Tuntut Hak Anda!
Terhitung bulan November Permenhub No. 77/2011 akan mendenda maskapai penerbangan yang seenaknya menelantarkan penumpang.

A320F (Family)

Airbus terus berinovasi menyempurnakan pesawat-pesawat bikinannya, termasuk teknologinya.

Tokoh Penerbangan

Karena jasanya, Abdulrahman Saleh diabadikan untuk nama bandar udara di Malang, Jawa Timur.

Kebijakan Baru Kargo

Kementerian Perhubungan sudah memastikan kebijakan tentang pengiriman kargo. Namun kebijakan ini dinilai tanpa pengkajian yang matang.

Bandara Mutiara Palu Ganti Nama

Bandara Mutiara berganti nama nama menjadi Said Idrus bin Salim Aljufri. Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola memberikan dukungan.

Keselamatan Pilot

Keselamatan pada pilot dalam menjalankan tugas menjadi perhatian Federation Pilot Indonesia.

Pilot Lion Air “Nyabu” di Udara

Ketergantungan narkoba telah dilakukan sang pilot sejak duduk dibangku SMA. Lion Air kecolongan?

ee Fr Copy

AVIASI menyajikan informasi dan edukasi dunia penerbangan terlengkap. Bagi Anda yang ingin mendapatkan AVIASI secara gratis, silahkan mengunjungi website kami

& Berlangganan

www.tabloidaviasi.com

D ari reDaksi
Penerbit

AVIASI
penumpang mengalami cacat fisik saat terjadi kecelakaan? Mengapa peraturan itu diterbitkan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang kami coba jawab melalui rubrik Liputan utama dengan gaya bahasa yang tetap lugas, cermat dan jenaka. dalam Liputan Khusus, kami turunkan beberapa tulisan tentang aturan baru tata cara pengiriman kargo di Bandar udara Soekarno-Hatta yang tempo hari sempat memunculkan protes. Aturan baru itu ternyata benar-benar diterapkan beberapa hari setelah Lebaran. Seperti apa praktiknya? Silakan simak di rubrik tersebut. Masih banyak informasi menarik dan ringan lainnya di edisi Oktober ini. Semua itu kami hadirkan untuk Anda agar terbang Anda semakin terasa nikmat. *

Trend Media Global
Direktur Utama Venita Pardede Pemimpin Umum Andi Gultom Penasihat Prof. DR. H. K. Martono, SH, L.L.M Capt. Sonny M. Sasono Capt. Hasfrinsyah Hasan Pemimpin Redaksi Andi Gultom Editor Tom Maruli Staf Redaksi Ir. Haryono Jasmen Pasaribu Tjuk Sudarsono Danang Prihantoro, S.Pd Keuangan/Sekretaris Nita Manager Iklan/Sirkulasi Yunita Pardede, S.psi Marketing Antonio Ester Ida Berliana, SE Email: marketing@tabloidaviasi.com Sirkulasi Susanto Desain Grafis Alex HB Anto Website Ian Nugroho Rangga Sidiq Perwakilan Agung (Kota Kinabalu) Sukardiansyah (Balik Papan) Relius Gunawan P (Samarinda) Sonoib (Medan) Kifli (Makassar) Bona (Semarang) Otto (Jogyakarta) Mantang (Palembang) Wuryanto (Surabaya) Haryono N (Bandung) Palang (Ampenan) Alamat Redaksi Jl. Pulau Putri Raya LS No. 31 Kota Modern, Tangerang Telp: 021-68903778, 55780849 Fax: 021-55780849 Email: redaksi@tabloidaviasi.com Wartawan AVIASI tidak diperkenankan menerima atau meminta imbalan dalam bentuk apa pun dari nara sumber. Wartawan Aviasi dilengkapi kartu pengenal atau surat keterangan tugas.

HALO para pembaca yang budiman. Selamat berjumpa kembali bersama AVIASI pada edisi Oktober 2011. Kami berharap pasca-Idul Fitri, Anda semakin bersemangat dalam menjalani kehidupan ini. Tanpa banyak diketahui publik, sebelum Lebaran yang lalu, Menteri Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 77 yang mengatur soal-soal asuransi keterlambatan pesawat, bagasi hilang dan kecelakaan. Peraturan itu tampaknya benar-benar pro-penumpang yang selama ini diabaikan banyak maskapai penerbangan. Persoalannya, sudah siapkah maskapai penerbangan merealisasikan peraturan tersebut? Kompensasi apa saja yang harus diberikan kepada penumpang jika sebuah pesawat terlambat lebih dari empat jam? Bagaimana pula jika bagasi hilang atau

Prof. Dr. H. Priyatna Abdurrasyid,SH,Ph.D

desain sampul: Anto Foto: Tom

Redaksi

Delay? Tuntut Hak Anda!

Liputan utama:

4

11
17 fokus
Mudik Terbang pun Aman Inilah 5 Bandara Terbaik Dunia A320F (Family) The Best Keeps On Getting Better

Prosedur Pengamanan & Pengawalan Tahanan dalam Penerbangan Sipil
Liputan khusus:

hukum & reguLasi:

12

‘Kado’ Lebaran dari Otoritas Bandara

28 cakrawaLa

22 safety

Melindungi Bola Mata Penerbang

18 BANdAr udArA 20 IPTeK

Kesehatan Pilot dalam Penerbangan

29 wISATA NuSANTArA
Pesona Pasar Terapung di Bumi Kalimantan

25 airLines

Kalstar, Go For Kalimantan Beyond

26 bisnis & ekonomi
Tiket Pesawat Online Terus Diminati

30 event BIFA Kembali Pasok Pilot untuk Garuda
34 peristiwa Kelabu Penerbangan di September

Redaksi menerima tulisan atau artikel dan foto yang berkaitan dengan dunia penerbangan. Setiap artikel atau tulisan yang dikirim ke redaksi diketik 2 spasi dan maksimum 3.000 karakter. Alamat pengiriman: redaksi@tabloidaviasi.com

PEMBERITAHUAN untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka kepada instansi yang akan mengundang AVIASI untuk liputan/wawancara, harap undangan ditujukan kepada redaksi AVIASI melalui e-mail ke redaksi@tabloidaviasi.com, maupun Fax no. 021 55780849, atau bisa menghubungi melalui telepon atau SMS ke 081 288 737 747, dan tidak mengundang langsung ke wartawan AVIASI.

4

l ipuTan uTama
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Lion Air Boeing 737-900er. (Foto: Anto)

Delay? Tuntut Hak Anda!
Terhitung bulan November ini, Permenhub No. 77/2011 akan mendenda maskapai penerbangan yang seenaknya menelantarkan nasib Anda sebagai penumpang dan mewajibkan maskapai terkait memberi kompensasi kepada Anda....

T

ANPA diketahui banyak orang, termasuk pengguna jasa transportasi udara, Ke­ menterian Perhubungan pada 8 Agustus 2011 lalu telah mengeluar­ kan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011 yang meng­ atur tentang asuransi keterlambatan, bagasi hilang serta kecelakaan. Namun dari tiga item itu, yang jadi gunjingan banyak orang adalah item tentang keterlambatan. Maklum, de­ lay inilah yang paling banyak dialami para penumpang. Dalam soal yang satu ini, para pe­ numpang memang tidak berdaya ketika sebuah maskapai, karena satu dan lain hal, menunda keberangkatan pesawatnya hingga beberapa jam. Dihadapkan pada kasus ini, para penumpang yang sabar, lazimnya cuma bisa diam, sedangkan yang

tidak sabar, ya ngamuk di bandara dan memukul apa yang bisa dipukul, seperti yang dilakukan para penum­ pang Lion Air awal Juli lalu. Seperti diberitakan banyak media, sekitar 100 orang penumpang maska­ pai penerbangan Lion Air yang akan berangkat dari Bandara Soekarno­ Hatta, Jakarta menuju ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali meng­ amuk di Bandara Soekarno­Hatta. Penyebabnya, penerbangan delay tiga jam dan tak ada penjelasan dari pihak Lion Air. “Kami harusnya berangkat pukul 17.50 WIB, tapi sampai sekarang belum ada keterangan kapan akan diberangkatkan,” ujar salah seorang calon penumpang, Hans Wijaya ke­ pada Detikcom ketika itu. Yang membuat Hans kesal, dia dan penumpang lain tak mendapatkan

penjelasan apa­apa dari pihak Lion. Petugas maskapai itu hanya minta agar para penumpang sabar. Hans mencoba minta kompensasi keter­ lambatan kepada Lion, tapi tak ada jawaban. Belakangan Lion mengeluarkan kompensasi berupa makanan nasi dengan lauk pauk udang satu po­ tong, tahu satu potong dan saus satu sachet. Penumpang yang sempat mengamuk sempat berhenti saat melihat makanan datang. Akhirnya mereka pun berebut makanan, persis seperti kaum fakir miskin berebut uang dari juragan menjelang Lebaran. Dengan keluarnya Permenhub No­ mor 77/2011 itu, maskapai tidak cu­ kup hanya memberikan kompensasi nasi bungkus (kotak). Melakukan ke­ terlambatan lebih dari 4 jam, maska­ pai penerbangan wajib memberikan

ganti rugi Rp 300.000 kepada setiap penumpang. Intinya, Permenhub itu menekan­ kan tanggung jawab pengangkut udara terhadap penumpang, termasuk keterlambatan, bagasi tercatat yang hilang atau rusak, hingga asuransi penumpang yang meninggal, luka­ luka dan cacat tetap. Sedangkan bagasi tercatat yang hilang, maskapai harus memberikan ganti rugi Rp 200 ribu per kilogram, maksimum Rp 4 juta. Sedangkan untuk kargo yang hilang, pengangkut wajib memberikan ganti rugi sebesar Rp 100.000 per kilogram, dan untuk kargo yang rusak wajib diberikan ganti rugi sebesar Rp 50.000 per kilogram. Kalau ada penumpang me­ ninggal, maskapai wajib memberikan ganti rugi Rp 1,25 miliar.(Dni)

AVIASI

l ipuTan uTama
edisi 40 lV - Oktober 2011

5

Maskapai Masih Bisa Berkelit
Walau belum diketok palu pelaksanaannya, maskapai mampu mencari celah atas senjata "Permenhub 77" yang dilayangkan oleh penumpang dimana mulai gerah" atas delay 4 jam....

I ruang tunggu, seorang bapak yang hari itu membawa serta anak­anak dan istrinya tampak resah. Pesawat mas­ kapai swasta yang seharusnya mengantarkannya ke Solo belum ada tanda­tanda akan terbang. Sudah lebih dari dua jam, dia, istri dan kedua anaknya menunggu terbang. Tapi panggilan terbang tak juga datang. Laki­laki itu mulai kesal, juga sang istri. “Wah bagaimana nih, saya sudah hampir tiga jam menunggu, pesawatnya belum datang juga. Jangan­jangan mau dialihkan ke penerbangan lain. Sudah capek, rugi waktu pula,” kata sang istri. Komponen Kompensasi Kompensasi itu oleh negara dianggap belum cukup. Maka negara pun melalui Menteri Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan No­ mor 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara yang ditan­ datangani pada 8 Agustus 2011. Peraturan yang terdiri dari 10 Bab dan 29 Pasal ini diberlakukan tiga bulan sejak tanggal ditetapkan. Dalam Permenhub No­ mor 77 Tahun 2011 Pasal 2 disebutkan pengangkut yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung ja­ wab atas kerugian terhadap keterlambatan angkutan uda­ ra. Pasal 9 menyebutkan ke­ terlambatan angkutan udara sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 terdiri dari, a. Keter­ lambatan penerbangan (flight delayed), b. Tidak terangkutnya penumpang dengan alasan kepasitas pesawat udara (denied boarding passenger) dan c. pembatalan penerbangan (cancelation of flight). Sementara mengenai jum­ lah ganti kerugian termaktub dalam Pasal 10 huruf a, kompensasi dapat diberikan dalam bentuk uang. Jumlah ganti kerugian untuk pe­ numpang atas keterlambatan

D

Sejumlah penumpang yang mengalami delay di Soekarno-Hatta (CGK). (Foto: Tom)

penerbangan lebih dari empat jam diberikan ganti rugi se­ besar Rp 300.000 per penum­ pang. Pasal b menjelaskan, pem­ berian ganti rugi hanya dibe­ rikan sebesar 50 persen dari ketentuan huruf a apabila pengangkut menawarkan tempat tujuan lain yang ter­ dekat dengan tujuan pener­ bangan akhir penumpang (re-routing), dan pengangkut

wajib menyediakan tiket penerbangan lanjutan atau menyediakan transportasi lain sampai ke tempat tujuan apa­ bila ada moda transportasi selain angkutan udara. Celah Bagi Maskapai Namun peraturan itu ru­ panya tetap ada celahnya, misalnya di dalam pasal 13 bahwa pengangkut bisa dibe­ baskan dari tanggung jawab

atas ganti kerugian bilamana keterlambatan tersebut di­ sebabkan oleh faktor cuaca dan atau teknis operasional. Faktor cuaca yang dimaksud antara lain hujan lebat, pe­ tir, badai, kabut, asap, jarak pandang di bawah standar minimal atau kecepatan angin yang melampaui standar yang mengganggu keselamatan penerbangan. Sedangkan faktor teknis

adalah bandar udara untuk keberangkatan dan tujuan tidak dapat digunakan ope­ rasional pesawat udara, ling­ kungan menuju bandara atau landasan terganggu fungsi­ nya, misalnya retak, banjir atau kebakaran. Atau terjadi antrean pesawat udara lepas landas, mendarat, atau lokasi waktu keberangkatan di ban­ dar udara atau keterlambatan pengisian bahan bakar. (Dnn)

Perkembangan Penumpang Angkutan Udara Domestik Juli 2011 Jumlah Penumpang Kumulatif Jumlah Penumpang
Bandara (1) 1. Polonia-Medan 2. Soekarno Hatta-Jakarta 3. Juanda-Surabaya 4. Ngurah Rai-Denpasar 5. Hasanuddin-Makassar 6. Lainnya Total Juni 2011 (000 orang) (2) 242,2 1. 645,0 518,6 279,9 224,3 1.766,6 4.676,6 Juli 2011 (000 orang) (3) 264,4 1.698,8 529,2 322,5 236,6 1.849,8 4.901,3 Perubahan (%) (4) 9,17 3,27 2,04 15,22 5,48 4,71 4,80 Jan-Juli 2010 (000 orang) (5) 1.426,5 8.750,9 3.016,2 1.488,6 1.300,2 7.893,7 23.876,1 Jan-Juli 2011 (000 orang) (6) 1.670,7 10.156,9 3.232,4 1.817,9 1.500,4 11.643,6 30.021,9 Perubahan (%) (7) 17,12 16,07 7,17 22,12 15,40 47,50 25,74

Perkembangan Penumpang Angkutan Udara Internasional Juli 2011 Jumlah Penumpang
Bandara (1) 1. Polonia-Medan 2. Soekarno Hatta-Jakarta 3. Juanda-Surabaya 4. Ngurah Rai-Denpasar 5. Hasanuddin-Makassar 6. Lainnya Total Juni 2011 (000 orang) (2) 60,8 549,5 58,2 262,5 4,3 101,0 1.036,3 Juli 2011 (000 orang) (3) 62,2 498,2 52,7 291,0 4,4 98,1 1.006,6 Perubahan (%) (4) 2,30 -9,34 -9,45 10,86 2,33 -2,87 -2,87

Kumulatif Jumlah Penumpang
Jan-Juli 2010 (000 orang) (5) 322,2 2.655,5 303,8 1.595,7 16,3 485,5 5.379,0 Jan-Juli 2011 (000 orang) (6) 393,7 3.154,4 354,1 1.723,6 20,1 623,5 6.269,4 Perubahan (%) (7) 22,19 18,79 16,56 8,02 23,39 28,43 16,55

sumber: Berita resmi Statistik No. 57/09/Th.XIV, 5 September 2011

6

l ipuTan uTama
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Foto: tribunnews.com

Menteri Perhubungan Freddy Numberi

Ironis, pada kenyataannya, hingga saat ini masih banyak maskapai belum siap menghadapi Peraturan Menteri Perhubungan No 77 Tahun 2011

Inilah Bunyi Jukla
• • • Hilang, musnah atau rusaknya kargo; Keterlambatan angkutan udara; dan Kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.

ILATARBELAKANGI ke­ nyataan itulah Kementerian Perhubungan memberikan waktu tiga bulan dalam rangka so­ sialisasi aturan, baik kepada maskapai maupun penumpang. Maskapai yang sudah memiliki kontrak asuransi, di­ izinkan untuk menyelesaikan kontrak lamanya terlebih dahulu. Berikut bunyi pasal­pasal inti (pen­ ting) dari 10 Bab dan 29 Pasal Per­ menhub No 77/2011 itu:

D
BAB II

Pasal 3

Jenis Tanggung Jawab Pengangkut dan Besaran Kerugian

Pasal 2

Pengangkut yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung jawab atas kerugian terhadap: • Penumpang yang meninggal du­ nia, cacat tetap atau luka­luka; • Hilang atau rusaknya bagasi kabin; • Hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat;

Jumlah ganti kerugian terhadap penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka­luka sebagaima­ na dimaksud dalam Pasal 2 huruf a ditetapkan sebagai berikut: • Penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara karena akibat kecelakaan pesa­ wat udara atau kejadian yang semata­mata ada hubungan­ nya dengan pengangkutan udara diberikan ganti kerugian sebesar Rp 1.250.000.000(satu miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) per penumpang. • Penumpang yang meninggal dunia akibat suatu kejadian yang semata­mata ada hubungannya dengan pengangkutan udara pada saat proses meninggalkan ruang

tunggu bandar udara menuju pe­ sawat udara atau atau pada saat proses turun dari pesawat udara menuju ruang kedatangan di ban­ dar udara tujuan dan/atau ban­ dar udara persinggahan (transit) diberikan ganti kerugian sebesar Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) per penumpang. • Penumpang yang mengalami ca­ cat tetap, meliputi: 1. Penumpang yang dinyatakan cacat tetap total oleh dokter dalam jang­ ka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari kerja sejak terjadinya kecelakaan diberikan ganti keru­ gian sebesar Rp 1.250.000.000 (satu miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) per penumpang; dan 2. Penumpang yang dinyatakan cacat tetap sebagian oleh dokter dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari kerja sejak ter­ jadinya kecelakaan diberikan ganti kerugian sebagaimana termuat da­ lam lampiran yang tidak terpisah­ kan dari Peraturan Menteri ini. • Cacat Tetap Total sebagaimana

dimaksud pada huruf c angka 1 yaitu kehilangan penglihatan total dari 2 (dua) mata yang tidak dapat disembuhkan, atau terputusnya 2 (dua) tangan atau 2 (dua) kaki atau satu tangan dan satu kaki pada atau di atas pergelangan tangan atau kaki, atau kehilangan peng­ lihatan total dari 1 (satu) mata yang tidak dapat disembuhkan dan terputusnya 1 (satu) tangan atau kaki pada atau di atas perge­ langan tangan atau kaki. Penumpang yang mengalami luka­ luka dan harus menjalani perawa­ tan di rumah sakit, klinik atau balai pengobatan sebagai pasien rawat inap dan/atau rawat jalan, akan diberikan ganti kerugian sebesar biaya perawatan yang nyata paling banyak Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) per penumpang.

Pasal 5

1. Jumlah ganti kerugian terhadap penumpang yang mengalami ke­ hilangan, musnah atau rusaknya bagasi tercatat sebagaimana di­

AVIASI

l ipuTan uTama
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

7

ak Sang Menteri
Lion Air Boeing 737-900er, Batavia Air Boeing 737--300 dan Sriwijaya Air Boeing 737-200. (Foto: Tom)

maksud dalam Pasal 2 huruf c ditetapkan sebagai berikut: • Kehilangan bagasi tercatat atau isi bagasi tercatat atau bagasi tercatat musnah diberikan ganti kerugian sebesar Rp 200.000 (dua ratus ribu rupiah) per kg dan paling banyak Rp 4.000.000 (empat juta rupiah) per penumpang; dan • Kerusakan bagasi tercatat, diberi­ kan ganti kerugian sesuai jenisnya bentuk, ukuran dan merk bagasi tercatat. 2. Bagasi tercatat dianggap hilang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila tidak diketemukan da­ lam waktu 14 (empat belas) hari kalender sejak tanggal dan jam kedatangan penumpang di bandar udara tujuan. 3. Pengangkut wajib memberikan uang tunggu kepada penumpang atas bagasi tercatat yang belum ditemukan dan belum dapat di­ nyatakan hilang sebagaimana di­ maksud pada ayat (2) sebesar Rp 200.000 (dua ratus ribu rupiah) per hari paling lama untuk 3 (tiga) hari kalender.

Pasal 7

1. Jumlah ganti kerugian terhadap kargo yang dikirim hilang, musnah atau rusak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d ditetapkan sebagai berikut: • Terhadap hilang atau musnah, pengangkut wajib memberikan ganti kerugian kepada pengirim sebesar Rp 100.000 (seratus ribu rupiah) per kg. • Terhadap rusak sebagian atau se­ luruh sisi kargo atau kargo, peng­ angkut wajib memberikan ganti kerugian kepada pengirim sebesar Rp 50.000 (lima puluh ribu rupi­ ah) per kg. • Apabila pada saat menyerahkan kepada pengangkut, pengirim me­ nyatakan nilai kargo dalam surat muatan udara (airway bill), ganti kerugian yang wajib dibayarkan oleh pengangkut kepada pengirim sebesar nilai kargo yang dinyata­ kan dalam surat muatan udara. 2. Kargo dianggap hilang setelah 14 (empat belas) hari kalender terhi­

tung sejak seharusnya tiba di tem­ pat tujuan.

Pasal 9

Keterlambatan angkutan udara se­ bagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e terdiri dari: • Keterlambatan penerbangan (flight delayed); • Tidak terangkutnya penumpang dengan alasan kapasitas pesawat udara (denied boarding passenger); dan • Pembatalan penerbangan (cancelation of flight). Jumlah ganti kerugian untuk pen­ umpang atas keterlambatan pener­ bangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a ditetapkan sebagai berikut: • Keterlambatan lebih dari 4 (em­ pat) jam diberikan ganti rugi sebe­ sar Rp 300.000 (tiga ratus ribu ru­ piah) per penumpang; • Diberikan ganti kerugian sebesar 50% (lima puluh persen) dari ke­

Pasal 10

tentuan huruf a apabila pengang­ kut menawarkan tempat tujuan lain yang terdekat dengan tujuan penerbangan akhir penumpang (re­routing), dan pengangkut wajib menyediakan tiket pener­ bangan lanjutan atau menyedia­ kan transportasi lain sampai ke tempat tujuan apabila tidak ada moda transportasi selain angkut­ an udara; • Dalam hal dialihkan kepada pe­ nerbangan berikutnya atau pener­ bangan milik Badan Usaha Niaga Berjadwal lain, penumpang dibe­ baskan dari biaya tambahan, ter­ masuk peningkatan kelas pelayan­ an (up grading class) atau apabila terjadi penurunan kelas atau sub kelas pelayanan, maka terhadap penumpang wajib diberikan sisa uang kelebihan dari tiket yang di­ beli. Peraturan Menteri Perhubungan itu juga mengatur mengenai besaran ganti kerugian cacat tetap sebagian. Cacat Tetap Sebagian Besaran Ganti Kerugian. • Satu mata Rp 150.000.000. • Kehilangan pendengaran Rp 150.000.000. • Ibu jari tangan kanan­tiap satu ruas Rp 125.000.000­Rp 65.000.000. • Jari telunjuk kanan­tiap satu ruas Rp 100.000.000­Rp 50.000.000. • Jari telunjuk kiri­tiap satu ruas Rp 125.000.000­Rp 25.000.000. • Jari kelingking kanan­tiap satu ruas Rp 62.500.000­Rp 20.000.000. • Jari kelingking kiri­tiap satu ruas Rp 35.000.000­Rp 11.500.000. • Jari tengah atau jari manis­tiap satu ruas Rp 50.000.000­Rp 16.500.000. • Jari tengah/jari manis kiri­tiap satu ruas Rp 40.000.000­Rp 13.000.000. (Dni/Dnn)

8

l ipuTan uTama
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Batavia Air Boeing 73-7-300 dan Lion Air Boeing 737-900er. (Foto: Tom)

Efek Domino Delay
Menelisik sisi lain dari sebuah keterlambatan, tak hanya penumpang meringis, bahkan maskapai kelas kakap pun "menangis" tiap kali penundaan itu terjadi....
ANYAK penumpang yang menyangka, pesawat terlambat ka­ rena ada unsur kesengajaan, padahal ”siapa sih yang mau terlambat. Kita juga merasa­ kan dampaknya, kok,” kata seorang pilot senior kepada AVIASI di Jakarta belum lama ini. Namun sejak Permenhub No 77 Tahun 2011 diwa­ canakan, penumpang kini mulai kritis. Jika ada pesawat yang akan dinaiki katakanlah terlambat 10 menit, mereka langsung mengaitkan dengan Permenhub 77 tersebut. Para penumpang kini sangat mahfum bahwa ter­ lambat sebagaimana diatur dalam peraturan baru itu adalah: • Tidak terangkutnya pe­ numpang dengan alasan kapasitas pesawat udara (denied boarding pas­ sanger). • Pembatalan penerbangan (cancellation of flight). Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No­ mor 25 Tahun 2008 (lama), kompensasi wajib disediakan maskapai penerbangan. Me­ skipun kompensasinya cuma berupa makanan yang harus

B

diberikan kepada penum­ pang, dampaknya tetap tidak mengenakkan, sebab mas­ kapai harus menyiapkan dana cadangan, apalagi jika ada kasus pembatalan pesawat di mana maskapai harus menye­ diakan penginapan buat para penumpangnya. Begitu pesawat dinyatakan terlambat, maka maskapai dianggap sebagai pihak yang paling bersalah. Padahal, ya itu tadi, begitu pesawat terlambat, berbagai risiko harus ditanggung maskapai. Katakanlah pada suatu hari ada lima pesawat saja yang delay, maskapai harus men­ cari 1.000 paket makanan. Ini jelas bukan hal mudah. Be­ lum lagi, harus mencari 1.000 kamar hotel jika pesawat di­ tunda terbang. Sejak Permenhub No 77/2011 disosialisasikan, AVIASI sempat mencatat ada beberapa maskapai yang ba­ kal kena sanksi berdasarkan peraturan tersebut. Beberapa pekan lalu mas­ kapai Batavia Air terbebas dari ancaman denda Rp 300 ribu/penumpang (karena pe­ raturan baru belum berlaku) akibat keterlambatan terbang (delay) selama empat jam di

Bandara Abdul Saleh, Ma­ lang. Kendati demikian, Ba­ tavia Air tidak bisa lepas dari pemberian kompensasi delay sesuai aturan sebagaimana masih diatur dalam Peraturan Menhub No 25/2008. Seperti diberitakan Malang Post, insiden pecah ban me­ nimpa pesawat milik Batavia Air dan menyebabkan ra­ tusan penumpang terlantar. Pesawat terbang milik Batavia Air dengan nomor pener­ bangan Y6 243 itu pecah main wheel seusai mendarat di landasan. Delay pesawat Batavia juru­ san Malang–Jakarta itu total mencapai empat jam. Se­ harusnya pesawat berangkat pukul 12.20, namun akibat ban kemps, pesawat baru take off pukul 16.30. Jika aturan baru dari Kementerian Per­ hubungan berlaku, maka per satu penumpang, maskapai itu bisa kena Rp 300 ribu. Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan LNI 675 dari Tarakan dengan tujuan Balikpapan Senin (19/9) hampir saja gagal terbang setelah membatalkan take off dua kali di Bandara Ju­ wata Tarakan. Pesawat molor 6 jam. Pesawat seharusnya

berangkat pukul 12.45 Wita tertunda hingga pukul 18.00 Wita. Pelaksana Harian Kepala Bandara Juwata Tarakan Joni M Rikani menjelaskan, pesawat yang awalnya sudah berjalan di setengah runway untuk bersiap­siap take off ini mengalami kerusakan lampu auto spead break se­ hingga harus kembali lagi ke apron untuk diperbaiki. Akibatnya, tidak hanya penumpang yang diturunkan tetapi juga semua bagasi milik penumpang diturunkan un­ tuk mengantisipasi pesawat batal terbang dan ditunda hingga keesokan harinya. Tetapi ternyata sebagian besar penumpang memilih untuk membatalkan pener­ bangan dan menunggu pe­ nerbangan selanjutnya. Salah seorang penumpang M Arifin mengaku kecewa dengan pihak Lion Air yang ternyata tidak memberitahu­ kan ada kerusakan. Sedang­ kan saat pesawat tiba­tiba kembali, penumpang hanya diminta untuk turun dan menunggu kembali. “Kita hanya diminta untuk turun saja, lalu naik lagi setelah itu ini disuruh nunggu lagi, ini

sudah sampai tiga jam lebih. Kita bahkan tidak dikasih makan atau minum. Kami sempat panik tadi,” ujar Arifin yang membawa serta anaknya berumur dua tahun. Seperti yang dilansir dalam bandarudara.com, Luther Palongan salah satu dosen Universitas Borneo juga mengaku kecewa dengan pihak Lion Air. Pasalnya, saat ditanya ada apa sehingga menunda penerbangan, pihak Lion Air hanya menjawab ada perbaikan sebentar saja. “Kalau disuruh menunggu selama ini, lebih baik saya naik penerbangan yang lain. Tapi ini sudah menunggu lama sampai penerbangan pesawat terakhir belum juga berangkat. Malah kita tidak diberi makan dan minum lagi,” kata Luther yang akh­ irnya membatalkan pener­ bangan menggunakan Lion Air. Lion selamat tak memberi­ kan ganti rugi Rp 300.000 per penumpang, sebab Permen­ hub Nomor 77/2011 belum berlaku. Setelah peraturan itu berlaku? Jangan­jangan penumpang juga tetap diabai­ kan.(Dnn)

AVIASI

l ipuTan uTama
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

9

Peraturan Lebih Ketat,

Maskapai Siap?
Peraturan Menteri Perhubungan No 77/2011 itu pastinya lumayan menohok maskapai yang selama ini mengabaikan kepentingan konsumen. Tapi Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengatakan, tidak ada maskapai yang menolak pemberlakuan ganti rugi kepada penumpang jika terjadi keterlambatan penerbangan.
ASKAPAI­maskapai itu di­ sebut Freddy menerima ketentuan baru tersebut. Pa­ salnya, menurut sang menteri, mereka sudah berkomitmen untuk memberi­ kan pelayanan sebaik mungkin kepada masyarakat. Freddy menyadari jika peraturan baru itu diberlakukan sekarang juga, pasti banyak maskapai yang kelim­ pungan. Karena itulah Permenhub No 77/2011 itu sementara disosialisasikan dulu setelah ditandatangani minggu pertama Agustus lalu. Setelah masa sosialisasi rampung, ya mau tidak mau, Permenhub itu harus segera direalisasikan. Bahkan, pemerin­ tah pun berencana terus memperketat aturan di sektor perhubungan dalam kaitannya dengan pelayanan kepada para penumpang. ”Ke depan malah akan kami ting­ katkan alertness­nya. Kalau dia (penum­ pang) naik apa pun moda transporta­ sinya, kalau enggak ada toilet, enggak ada tisu atau apa pun, perusahaan itu akan kena pinalti beberapa persen. Tiket penumpang diganti rugi. Kalau harganya semula Rp 500.000 jadi Rp 300.000,” kata Freddy yang berharap peraturan soal ini dapat terlaksana se­ cara tuntas pada tahun 2013, atau pa­ ling lambat 2014 . Direktur Jenderal Perhubungan Uda­ ra Kemenhub Herry Bakti S Gumay menegaskan, dalam peraturan tersebut maskapai bertanggung jawab terhadap kerugian atas enam hal pokok, yakni penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, dan luka­luka; hilang atau rusaknya bagasi kabin; hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat; hilang, musnah, atau rusaknya kargo; keter­ lambatan angkutan udara; serta keru­ gian yang diderita pihak ketiga. Ketentuan baru ini, menurut Herry, mewajibkan maskapai penerbangan untuk mengganti rugi tunai atas keter­ lambatan pesawat, ganti rugi korban meninggal dan cacat total,serta peng­ gantian kerusakan dan kehilangan ba­ gasi dan kargo. Pasal 10 Permenhub misalnya, me­ wajibkan maskapai untuk membayar ganti rugi tunai atas keterlambatan pe­ sawat lebih dari empat jam Rp 300.000. Dalam Permenhub No 77/2011 dise­ butkan, jumlah ganti rugi penumpang yang meninggal dunia di dalam pesa­ wat udara karena kecelakaan diberikan Rp 1,25 miliar. Jumlah yang sama juga diberikan kepada orang yang cacat te­ tap menurut ketentuan dokter dalam

M

jangka waktu paling lambat 60 hari. Sanksi sebagaimana diatur dalam Per­ mehbub itu sepertinya “galak banget”. Benarkah? Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Edward Alexander Silooy mengatakan, besaran atas san­ tunan korban meninggal dan cacat tetap akibat kecelakaan pesawat udara ini sebenarnya wajar­wajar saja, sesuai dengan konvensi Montreal 1999. Bahkan, masih menurut Silooy, “Kita sebenarnya sudah ketinggalan dengan negara­negara lain. Singapore Airlines sudah menerapkan ganti rugi dengan besaran 100.000 dolar AS (Rp 900 juta) sejak 2000. Mereka sudah mera­ tifikasi aturan.” Namun pihak maskapai tampaknya masih menawar. Sekjen Indonesia Na­ tional Air Carriers Association (INA­ CA) Tengku Burhanuddin meminta agar Permenhub No 77/2011 diber­ lakukan enam bulan setelah disosia­ lisasikan oleh pemerintah. Alasannya untuk mempersiapkan maskapai ber­ negosiasi dengan perusahaan asuransi. Tengku mengungkapkan, asuransi keterlambatan penerbangan merupa­ kan satu­satunya kewajiban asuransi de­ lay di dunia. “Ketentuan ini hanya ada di Indonesia. Tetapi, kenapa semuanya harus diganti dengan uang. Toh, ada kewajiban maskapai misalnya harus memberi makanan dan penginapan,” ungkap dia. Maskapai mau tidak mau memang harus bekerjasama dengan perusahaan asuransi untuk memberikan jaminan kepada penumpang sebagaimana dia­ tur dalam Permenhub baru tersebut. Soal beginianlah yang membuat seju­ mlah maskapai pusing. Syafril Nasution, President & CEO Indonesia Air Transport menilai ada tumpang tindih dalam Permenhub No­ mor 77 tersebut, terutama berkaitan dengan kompensasi keterlambatan pe­ sawat sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No 25 Tahun 2008, sebab di peraturan ini juga diatur kompensasi. Dia terus terang bereberatan jika regulator menunjuk secara sepihak konsorsium asuransi. Syafril meminta agar operator diberi kebebasan dalam menunjuk perusahaan asuransi. Jika memang benar peraturan gres itu akan diberlakukan November ta­ hun ini dan di lapangan ada maskapai yang melanggar, apa kebijakan yang dilakukan INACA? Syafril Nasution menjelaskan bahwa INACA hanya

suatu asosiasi yang tidak mempunyai kekuatan untuk mengatur operasional setiap operator/maskapai dan INACA hanya bisa mengimbau para anggota­ nya untuk mematuhi setiap peraturan pemerintah. Namun INACA juga pasti memperhatikan kepentingan ang­ gotanya, sehingga setiap ada keputus­ an pemerintah yang baru, maka lang­ sung dikaji serta memberikan masuk­ an kepada pemerintah dampak dari peraturan tersebut terhadap operator/ maskapai. Namun di kalangan maskapai, pera­ turan baru itu juga ditanggapi secara berbeda. Corporate Communica­ tion Manager PT Indonesia AirAsia, Audrey Progastama Petriny menyam­ but baik pengesahan regulasi tersebut. “Jika memang menjadi sebuah ke­

wajiban bagi maskapai, kami berharap dapat menunjuk perusahaan asuransi yang kompetitif,” ujarnya. Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menyatakan siap menaati meski­ pun hingga kini pihaknya belum menge­ tahui secara rinci butir­butir ketetapan dari regulasi tersebut. ”Jika memang sudah menjadi kewajiban, pasti kita akan memenuhinya,” katanya. Pelaku industri penerbangan boleh saja mengaku belum tahu atau kebe­ ratan dengan ketentuan baru tersebut, namun Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengingatkan yang paling penting adalah esensi dari aturan tersebut, yaitu untuk melindungi konsumen agar maskapai tidak sering­ sering terlambat terbang. (Dnn/Dni)

10

l ipuTan khusus
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

‘Kado’ Lebaran dari Otoritas Bandara
Otoritas Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta akhirnya tetap memberikan “kado” Lebaran sejak 4 September lalu. Di saat masyarakat masih asyik mudik dan sebagian kembali ke Jakarta, pengelola bandara kelas internasional itu memberlakukan aturan baru tentang pemeriksaan barang dan kargo udara.

ERAPA bulan lalu, kebijakan itu tak urung sempat membuat resah para pemain kargo di bandara, karena pelayanan pengiriman kargo melambat, tapi biayanya meni­ nggi. Serikat Penerbit Surat kabar (SPS) yang berkepentingan dengan kargo setiap hari anggotanya me­ ngirim paket surat kabar ke daerah melayangkan protes. Pemberlakuan tersebut juga dis­ ambut protes dan boikot dari pengu­ saha ekspedisi yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspres In­ donesia (Asperindo). Akibatnya, ak­ tivitas penanganan kargo di Bandara Soekarno­Hatta lumpuh total. Ujung­ujungnya penerapakan ke­ bijakan tentang pemeriksaan kargo ditunda setelah Lebaran. Dan begitu Lebaran telah berlalu beberapa hari, kebijakan atau ketentuan baru pun benar­benar diberlakukan. Sebagaimana pernah diberitakan AVIASI, aturan baru itu mewajibkan pemeriksaan barang dan kargo dilaku­ kan pihak­pihak berbadan hukum se­ suai sistem regulated agent (RA). Para pelaku usaha sebelumnya menolak penerapan aturan tersebut. Mereka khawatir aturan itu membuat pemeriksaan barang lebih lambat karena harus diperiksa satu per satu melalui sinar X. Selain itu, biaya pun naik tajam, dari Rp 60/kg menjadi Rp 200/kg­Rp 650/kg. Kepala Otoritas Bandara Soekarno­ Hatta Adi Kandrio menegaskan pe­ nerapan aturan baru tersebut untuk meningkatkan keamanan dan kesela­ matan penerbangan. “Karena itu, se­ tiap barang yang akan dikirim ke luar daerah harus diperiksa satu per satu melalui X­ray,” tegasnya. Apalagi, menurut Adi, pengiriman barang via kargo keberangkatannya berbarengan dengan penumpang sipil. “Inilah yang harus dipahami ber­ sama,” kata Adi. Tanggal 4 September AVIASI me­ nyempatkan memantau suasana pe­ ngiriman kargo di Bandara Soekarno­ Hatta. Namun tidak terjadi penum­ pukan barang. Hal itu dimungkinkan, sebab jumlah pengiriman masih kecil. Lonjakan pengiriman barang terlihat

B

MASkargo A330-200 Freighter sedang menurunkan kargo di Soekarno-Hatta. (Foto: Anto)

keesokan harinya. Namun Juru Bi­ cara Kementerian Perhubungan Bam­ bang Ervan memastikan tidak akan terjadi kelambanan dalam pelayanan inspeksi kargo di Bandara Soekarno­ Hatta dengan operasional RA. Pasal­ nya, menurut dia, ada enam agen yang beroperasi. Keenam perusahaan itu adalah PT Duta Angkasa Prima Kargo, PT Fa­ jar Anugerah Semesta, PT Ghita Avia Trans, PT Angkasa Pura II, PT Biro­ tika Semesta, dan PT Pajajaran Global Service. Namun, jumlah agen tersebut be­ lum menyamai jumlah operator yang melayani pemeriksaan barang, sebe­ lum sistem regulated agent diterapkan. Ketika itu, pemeriksaan dilakukan de­ lapan operator. Bambang menegaskan, kebijakan regulated agent merupakan bagian dari aturan keamanan penerbangan in­ ternasional. Apabila tidak mengikuti, pengiriman barang dari Indonesia bisa terkena larangan kirim.

Tetap Ditolak

Tapi para pelaku usaha kembali menolak aturan baru pengiriman kar­ go. “Kami beserta Kadin dan asosiasi lainnya yang bergerak di bidang jasa pengiriman barang menolak pember­ lakuan RA. Selain sangat merugikan para pengusaha jasa pengiriman, ting­ kat keamanan dan keselamatan pener­ bangannya pun belum bisa dijamin,” kata Direktur PT RAS Cargo Nusan­ tara Hari Sugandhi di Tangerang. Karena itu, kata dia kepada war­ tawan, bila pihak Otoritas Bandara memaksakan diri untuk memberlaku­ kan kebijakan tersebut, pihaknya siap melakukan aksi lebih besar daripada yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Hari menambahkan, pihaknya menolak sistem RA karena selain pe­ meriksaan barang yang akan dikirim lebih lamban, karena harus diperiksa satu per satu melalui sinar x, biaya pengirimannya pun naik tajam dari Rp60/kg menjadi Rp1.200/kg.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Asmono Wikan memprediksi bakal terjadi chaos di kargo Bandara Soeka­ rno­Hatta terkait kengototan pemer­ intah memberlakukan ketentuan ten­ tang pemeriksaan barang kargo dan pos oleh agen pemeriksa itu. Sebelumnya sejumlah anggota SPS telah mengirimkan pesan singkat yang isinya akan memboikot pengiriman. Ia khawatir bandara kembali lumpuh seperti yang pernah terjadi 4 Juli lalu. Puncak boikot diprediksi terjadi Senin (5/9) lalu karena para penerbit majalah yang memiliki tonase lebih berat dan tidak memiliki sistem cetak jarak jauh. Menurut Asmono, pemerintah se­ harusnya menerima rekomendasi ha­ sil pertemuan di Menara Kadin, 25 Agustus 2011. Termasuk penundaan aturan itu hingga Maret 2012 dan pe­ nyesuaian tarif kargo dari Rp 60/kg menjadi Rp 100/kg.(Dni)

AVIASI

l ipuTan khusus
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

11

Kegiatan kargo di Bandara Soekarno-Hatta. (Foto: Anto)

Kebijakan Baru Kargo
Kementerian Perhubungan sudah memastikan kebijakan tentang pengiriman kargo. Namun kebijakan ini dinilai tanpa pengkajian yang matang

K

AMAR Dagang dan Industri (Kadin) In­ donesia disebut­sebut bakal menuntut Kementerian Perhubungan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atas kerugian yang diderita pengusaha akibat pember­ lakuan regulated agent (RA) sejak Sabtu (4/9). Wakil Ketua Umum Kadin untuk Bidang Kebijakan Pub­ lik, Fiskal, Moneter, dan Per­ pajakan Haryadi Sukamdani waktu itu mengungkapkan, sudah terjadi penumpuk­ an barang sehari setelah RA diberlakukan. Hal yang sama disampaikan Ketua Umum Asosiasi Peru­ sahaan Jasa Ekspres Indone­ sia (Asperindo) Muhammad Kadrial. “Kami akan klaim kerugian kepada pemerintah. Kebijakan ini tanpa pengka­ jian matang,” katanya. Untuk itu, Kadin sudah berkonsultasi dengan penasi­

hat hukum dan tengah mem­ persiapkan data pendukung serta masih menghitung keru­ gian. Korban keterlambatan pada hari itu antara lain PT Pos In­ donesia. Benda pos domes­ tik yang tertahan di RA pada Senin (5/9) malam mencapai 25 ton. Hal itu mengakibat­ kan pengiriman barang mela­ lui 49 penerbangan ke 31 kota tujuan tertunda. Pemberlakuan RA mela­ lui peraturan SKEP/225/ IV/2011 tersebut terbukti selain membutuhkan waktu pemeriksaan yang lebih lama karena harus dilakukan di luar lingkungan bandara, ongkos pengiriman barang juga lebih mahal, dari Rp 60/kg menjadi Rp 473/kg. Kepala Cabang PT Angkasa Pura II Bandara Soekarno­ Hatta, Sudaryanto, mengata­ kan keterlambatan terjadi aki­ bat masa transisi. “Lama­lama

juga akan terbiasa,” ujarnya. Dia menambahkan, kebijakan itu harus diberlakukan untuk menjamin keamanan dan ke­ selamatan penerbangan. Apa pun yang terjadi, lam­ bannya proses pengiriman barang melalui kargo dengan sistem regulated agent atau agen inspeksi harus diakhiri. Caranya ialah dengan melaku­ kan seluruh proses pemerik­ saan barang di Terminal Ban­ dara Soekarno­Hatta. Juru bicara para pengusaha jasa pengiriman barang, Hari Sugiadhi mengungkapkan sistem pengiriman RA yang diberlakukan sejak hari itu memang sangat lamban. Se­ bab untuk bisa sampai ke Ter­ minal Kargo Bandara Soeka­ rno­Hatta, barang yang akan dikirim harus dua kali turun naik. Pertama, di pemeriksaan X­ray Rawa Bokor, Jakarta Barat, atau Cikarang, Bekasi, dan kedua di Terminal Kargo

Proses pengankutan barang di terminal kargo bandara. (Foto: Anto)

Bandara Soekarno­Hatta. “Kami sangat mendukung peningkatan keamanan pe­ nerbangan yang dilakukan. Na­ mun, kami keberatan dengan sistem proses pengirimannya. Karena selain lamban, juga tidak efektif. Jadi, lebih baik seperti sistem semula yang bisa diperiksa dan dikirimkan langsung di Ter minal Kargo,”

kata Direktur PT Rush Cargo Nusantara itu. Apabila proses pemeriksaan barangnya dilakukan di termi­ nal bandara, kata Hari, tentu para pengusaha mendukung mengingat yang dibutuhkan pengusaha ekspedisi ialah ke­ cepatan barang sampai tujuan. (Dni)

12

h ukum & regulasi
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Prosedur Pengamanan & Pengawalan Tahanan

dalam Penerbangan Sipil
Oleh Tjuk Sudarsono Instruktur Transportasi udara & Praktisi Penerbangan

Pemulangan M. Nazaruddin dengan pesawat carter banyak menuai pro dan kontra. Apakah hal ini sudah sesuai dengan regulasi penerbangan yang ada?

Pesawat Gulfstream G550 yang pernah di carter untuk pemulangan Nazaruddin. (Foto: Istimewa)

berskala internasional maupun yang berskala nasional dapat kita pahami butir­butir pokok tata cara pengaman­ an pengawalan tahanan dalam pener­ bangan sipil sebagai berikut: • Penumpang dengan status tahanan tidak dapat diangkut dalam pener­ bangan sipil, kecuali dikawal oleh sedikitnya 1 (satu) atau 2 (dua) orang petugas yang berwenang, dan hanya diijinkan ada 1 (satu) ERBAGAI komentar yang orang tahanan yang membahaya­ disampaikan oleh para ”pakar” kan dalam setiap penerbangan dalam bidangnya masing­ma­ dengan dikawal sedikitnya oleh 2 sing secara tendensius masih menyoal (dua) orang petugas; sekitar efisiensi (waktu dan biaya). • Institusi yang akan membawa Konon biaya pemulangan itu jumlah­ penumpang tahanan dalam pe­ nya cukup mencengangkan. nerbangan wajib melaporkan ke­ Mengapa pemerintah memilih berangkatannya kepada pengang­ menggunakan penerbangan carter? kut 3 (tiga) jam sebelum waktu Sesuai dengan tatanan ”Hukum & keberangkatan; Regulasi”, dalam penerbangan sipil te­ • Penumpang tahanan dan para lah diatur ketentuan bagaimana ”Tata pengawalnya harus boarding lebih Cara Pengamanan Pengawalan Tahan­ awal sebelum penumpang lainnya an Dalam Penerbangan Sipil”. naik ke pesawat udara. Regulasi terkait pengamanan penga­ • Penumpang tahanan dan pe­ walan tahanan ini secara internasional ngawalnya duduk di kursi paling termuat dalam ICAO ANNEX 17, akhir (belakang) namun kursi Document 8973 Chapter 4 ”Preven­ yang tidak memiliki akses lang­ tive Security Measures” butir 4.4 sung dengan pintu keluar; ”Special Category Passengers”. • Penumpang tahanan duduk deng­ Pada regulasi internasional ini diba­ an diapit oleh pengawal masing­ has secara khusus tentang ”Potentially masing pada kursi disebelah kiri Disruptive Passengers”, ”persons in dan kanannya; custody” dengan contoh : ”person • Penumpang tahanan yang mem­ under arrest or convicted criminals bahayakan dapat diborgol antar under escort”. tangan dengan tangan, dan tidak Secara nasional pemerintah juga te­ diizinkan diborgol antara tangan lah menerbitkan regulasi melalui Pera­ dengan bagian dari pesawat udara turan Direktur Jenderal perhubungan (kursi atau bagian badan pesawat Udara Nomor: SKEP/100/VII/2003 udara lainnya); tentang Petunjuk Teknis Penanganan • Para pengawal tidak diperkenan­ Penumpang Pesawat Udara Sipil Yang kan membawa sendiri senjata Membawa Senjata Api Beserta Peluru tajam & senjata api, korek api, dan Tata Cara Pengamanan Peng­ cairan merica, gas air mata serta awalan Tahanan Dalam Penerbangan benda yang dapat dikategorikan Sipil. sebagai “dangerous item” (benda­ Dari regulasi yang ada, baik yang

B

benda sebagaimana tersebut wa­ jib dititipkan kepada pengangkut sebagai “security item” dan be­ berapa jenis sebagai “dangerous goods”); • Awak kabin tidak diperkenankan memberikan makanan dan atau minuman yang berpotensi da­ pat memabukkan, mengganggu / menghilangkan kesadaran; • Perlengkapan makan/minum un­ tuk penumpang tahanan bukan berbahan dasar metal/logam; • Pengawalan bagi tahanan yang membahayakan harus dilakukan secara intensif selama penerbang­ an, termasuk ketika penumpang tahanan harus ke kamar kecil (lavatory); • Penumpang tahanan beserta pengawalnya turun dari pesawat udara paling akhir, setelah seluruh penumpang lainnya turun. Dari pokok­pokok ketentuan di atas dapatlah kita pahami mengapa peme­ rintah lebih memilih menggunakan penerbangan carter (angkutan udara niaga tidak berjadwal), dapat kita bayangkan betapa bila kasus penjem­ putan Nazaruddin tersebut menggu­ nakan angkutan udara niaga berjadwal, maka banyak sekali regulasi yang harus diikuti, apalagi ketika pesawat udara harus beberapa kali melakukan tran­ sit, baik untuk keperluan pengisian ba­ han bakar maupun untuk kepentingan lainnya selama ground time. Prosedur ini bisa menjadi tambah beragam apabila penerbangan harus ditempuh dengan berganti pesawat udara ketika transit, pada kondisi se­ perti ini waktu tempuh penerbangan pun semakin panjang dan melelah­ kan. Dampak langsung yang akan ter­ jadi pada penumpang lainnya bila menggunakan angkutan udara niaga

berjadwal adalah rasa tidak nyaman (in-convenience) dan rasa waswas, apa­ bila mereka mengetahui bahwa dalam penerbangan yang sama terdapat pe­ numpang dengan status tahanan (ter­ lebih bila tahanan tersebut termasuk dalam kategori membahayakan). Tentang besarnya biaya yang harus dikeluarkan pemerintah, itu adalah sebuah konsekuensi ketika pemerintah menentukan pilihan menggunakan angkutan udara niaga tidak berjadwal (charter flight) pesawat udara jenis ter­ tentu untuk jarak tertentu pula. Bagi saya, pilihan menggunakan penerbangan khusus dalam penjem­ putan Nazaruddin (yang statusnya su­ dah termasuk dalam kategori “prisoner passengers”) dari sudut pandang hukum dan regulasi di bidang penerbangan sipil sudahlah tepat. Satu hal yang perlu dipahami bah­ wa walaupun penjemputan tersebut menggunakan penerbangan khusus (charter flight), maka pihak pencar­ terpun terikat dengan regulasi yang ketat seperti misalnya: tidak boleh seenaknya melakukan hal­hal yang dapat membahayakan keamanan & keselamatan penerbangan, karena selama penerbangan, kapten pen­ erbang (Pilot In Command / PIC) memiliki kewenangan dan tanggung jawab penuh terhadap keamanan dan keselamatan pesawat udara dengan seluruh muatannya, sebagaimana te­ lah diatur melalui beberapa konvensi inter asional yang telah diratifikasi n kedalam Undang­Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1976. Semoga tulisan ini dapat mem­ berikan tambahan wawasan tentang bagaimana seharusnya pengaman­ an dan pengawalan tahanan dalam penerbangan sipil itu dilakukan meng­ gunakan angkutan udara niaga pada penerbangan lintas negara. (*)

AVIASI

l inTas beriTa
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

13

BP Migas Gandeng GMF

Tangani Perawatan Gas Turbine Engine

Pilot Lion Air “Nyabu” di Udara

T GMF AeroAsia menjalin kerjasama dengan BP Migas untuk perawatan gas turbine engine yang digunakan oleh Kontrak­ tor Kontrak Kerja Sama (KKS) dalam kegiatan hulu migas. Kesepakatan kerja sama ini ditanda­ tangani Direktur Utama GMF Richard Budihadianto dan I. Widjonarko se­ laku Deputi Umum Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi di Jakarta pada 21 September 2011 lalu. “Kerja sama ini merupakan bentuk kepercayaan terhadap kemam­ puan GMF menangani gas turbine engine,” kata Richard Budihadianto. Dalam kerja sama ini, GMF men­ dapat kesempatan meningkatkan perannya dalam menangani perawat­ an, perbaikan, overhaul, dan pengu­ jian gas turbine engine yang diguna­ kan Kontraktor KKS dalam kegiatan usaha hulu migas. Selain itu, GMF juga mendapat ke­ sempatan dalam kegiatan pengadaan barang/jasa oleh Kontraktor KKS yang berkaitan dengan pekerjaan pe­ rawatan gas turbine engine, baik se­ cara utuh maupun komponennya se­ suai kemampuan GMF. Menurut Richard Budihadianto,

P

perawatan gas turbine engine merupa­ kan salah satu bidang yang telah diku­ asai GMF selain kemampuan utama­ nya dalam perawatan pesawat. Pera­ watan gas turbine engine ini dijalankan oleh unit khusus yang dibentuk untuk menangani bisnis perawatan non­pe­ sawat. Keterlibatan GMF dalam bisnis ini karena gas turbine engine memiliki beberapa kesamaan dengan engine pe­ sawat. “Kemampuan inilah yang kami optimalkan dengan masuk ke pasar perawatan non­pesawat,” katanya. Sejak masuk ke bisnis perawatan gas turbine engine beberapa tahun lalu, tingkat kepercayaan customer terhadap GMF terus meningkat. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah customer dan beragam pe­ rawatan gas turbine engine yang diker­ jakan oleh GMF. “Selain perusahaan pertambangan, customer kami untuk perawatan gas turbine engine juga dari perusahaan listrik,” katanya. Beberapa perusahaan yang pernah menjadi customer GMF untuk bidang ini antara lain PT Pertamina, PT In­ donesia Power, PLN Nusa Tenggara Barat, PT Sinar Mas, PLTG Tarakan, PT Capital Turbine Indonesia, dan lain­lain. (*)

AUHI narkoba! Demikian slo­ gan yang sering kita dengar. Namun himbauan ini tidak dipedulikan oleh seorang pilot. Tanpa berpikir panjang, juru kemudi ini nekat “nyabu” di udara tanpa peduli bahwa ia sedang menerbang­ kan pesawat yang membawa ratusan penumpang. Adalah Moh Nasri, seorang pi­ lot maskapai penerbangan Lion Air, yang didakwa sebagai pemakai narkoba jenis shabu dan pil ekstasi oleh Pengadilan Negeri Tangerang, Selasa (27/9/2011). Dalam ket­ erangannya dia mengaku nyabu di udara. Ternyata, Moh Nasri adalah pecandu shabu dan pil ekstasi. “Dia mengaku sehari nyabu 2 kali dan terkadang dilakukan di saat bertugas di udara,”jelas seorang saksi yang bertugas di RS Ketergantungan Obat, Cibubur. Rupanya, ketergan­ tungan akan obat­obatan terlarang ini telah dilakukan terdakwa sejak duduk dibangku SMA. Jaksa penuntut umum Sukanto, SH, mengatakan terdakwa ditangkap

J

petugas saat pesta shabu­shabu ber­ sama rekannya bernama Imron dan Husni Thamrin co pilot, di aparte­ men Modern Golf Kota Tangerang di lantai 6 kamar no.7. Saat penggrebekan terjadi, petu­ gas menemukan pil ektasi di saku baju serta shabu­shabu yang disim­ pan di dasinya. Menurut terdakwa, ia mengakui pil ekstasi tersebut miliknya yang sempat dikantonginya saat terbang ke Surabaya. Sedangkan untuk barang bukti shabu ia meng­ aku tidak tahu kenapa bisa ada di dasinya. Masih menurut Nasri, ketika akan menerbangkan pesawat ke Surabaya, ia ditelepon Husni Thamrin (co pilot) agar mengambil pil ekstasi melalui Lidyawati (salah seorang ter­ dakwa lainnya) di Alfamart Ngelasari yang berlokasi di belakang Bandara Internasional Soekarno Hatta. Menurut keterangan Carlania Lusi, saksi ahli dalam persidangan itu, yang juga seorang Psikiater ini, bah­ wa ia pernah memeriksa terdakwa Moh Nasri saat diperiksa Polisi. (*)

MASkargo Layani Jakarta-Malaysia
MASkargo anak perusahaan Malaysia Airlines (MH) adalah maskapai kargo pertama yang menerima pesawat A330-200 Freighter.

D

ENGAN armada baru terse­ but MASkargo mengadakan innaugural flight pertama ke Bandara Soekarno­Hatta Jakarta (CGK). Upacara kedatangan pesawat terbaru tersebut berlangsung pada Rabu, 21 September 2011 di Terminal Kargo CGK, disambut hangat Mohd Yunus Idris selaku SVP Global Sales & Government Affairs MASkargo. Pesawat A330­200 Freighter ini merupakan pesawat kargo modern, dilengkapi Pratt Whitne PW4170 en­

gine dengan daya muat 70 ton. Alasan penggunaan A330­200 Freighter ini, menurut Yunus Idris, karena hemat bahan bakar. Oleh se­ bab itulah MASkargo mampu bereks­ pansi dengan membangun kapasitas dan jaringan pasar domestik hingga internasional dengan biaya efisien. A330­200 Freighter diharapkan akan memperkuat kinerja perusahaan, se­ hingga MASkargo memperoleh ke­ untungan dari investasi ini. “Kami in­ gin menunjukkan pentingnya Jakarta

Innaugural Flight MASkargo A330-200 Freighter di Soekarno-Hatta. (Foto: Anto)

bagi kami,” kata Idris menjelaskan latar belakang mengapa MASkargo melayani Jakarta. Menurut Evana, Managing Direk­ tur (GSA) MASkargo Jakarta, Jakarta dipilih untuk penerbangan perdana langsung dari Kuala Lumpur Inter­ national Airport karena pangsa pasar

dan pertumbuhan ekonomi di Indo­ nesia, khususnya Jakarta sangat pesat. Dalam penerbangan perdana hari itu MASkargo membawa kargo dari Kuala Lumpur (KUL) 61 ton, dan ba­ lik ke KUL tanggal 22 September lalu 2011 dari Jakarta membawa 60 ton kargo. (Dnn)

14

l inTas beriTa
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI Pelecehan Pramugara
EMPO hari diberitakan se­ orang pilot sebuah maskapai penerbangan di Hongkong dipecat karena melakukan perbuatan tidak sopan dengan seorang pramu­ gari. Peristiwa seperti itu – dengan versi yang berbeda – juga terjadi di udara saat pesawat Airbus A340­600 Virgin Atlantic Airways (VS) terbang dari Johannesburg (JNB), Afrika Selatan menuju Bandara Heathrow, London (LHR), Inggris. Apa yang terjadi? Peristiwa kali ini adalah kasus pelecehan seksual. Yang menarik, si korban bukan pramugari (perempuan), tapi pramugara (laki­

Tewas Tersedak Daging

di Pesawat

ENIKMATI servis di pesawat seperti menyantap hidangan memang nikmat, tetapi sang pelahap harus tetap hati­hati. Pengalaman buruk dialami Vanessa Preechakul. Dia harus menyaksikan dengan ngeri saat pacarnya Robert Ripping­ ale tersedak sampai tewas sewaktu makan daging sapi di atas pesawat Jetstar (JQ) dari Singapura (SIN) ke Auckland (AKL) Selandia Baru. Apa mau dikata Vanessa membuat keputusan patah hati untuk duduk di samping mayat selama sembilan jam karena tidak bisa menghadapi sendi­ rian di pesawat. Sekitar satu setengah jam dari rencana penerbangan selama 11 jam, awak kabin melayani hidangan makan malam berupa daging sapi atau ayam untuk penumpang. Seperti yang dilansir dalam ban­ daraonline.com saat itu, dia duduk bersebelahan sambil berciuman, ber­ pegangan tangan dan beberapa menit berikutnya sang pacar tersedak. Vanessa Preechaku yang berusia 27 tahun itu bertemu Robert Rip­ pingale, 31, di Singapura tempat ia tinggal dan bekerja selama tiga tahun. Mereka berdua merencanakan perjalanan untuk mengunjungi tanah kelahirannya di New Zaeland untuk mengejutkan orang tuanya pada hari ulang tahun ke­50 mereka.

M

T

di Atas Pesawat
laki), sedangkan pelakunya adalah seorang pengajar bernama Katherine Goldberg. Dalam penerbangan itu, Goldberg kedapatan meraba­raba bagian sen­ sitif seorang pramugara. Golderg melakukan aksi itu setelah perempuan berusia 25 tahun ini menenggak se­ gelas wiski. Seperti dilansir Dailymail baru­baru ini, perbuatan tak sopan Goldberg tak hanya sampai di situ. Di dalam pe­ sawat, dia juga mabuk berat gara­gara wiski yang ditenggaknya. Kasus begituan sudah sering ter­ jadi dalam dunia penerbangan. Ini se­ bagian kecil di antaranya:

No.
Saat itu Rippingale memilih untuk makan daging sapi dan saat menon­ ton film tiba-tiba Preechakul melihat Rippingale gemetar, tapi Preechakul tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. “Saya pikir dia tertawa sangat keras saat melihat film. Lalu aku menatap wajahnya dan air matanya mengalir dan ia tidak bisa berbicara. Bibirnya berubah ungu,” kata Preechakul. Rippingale dibawa ke dapur di mana tim medis berusaha untuk me­ nyelamatkan hidupnya. Tetapi setelah melakukan CPR, tim medis meminta maaf kepada Preechakul, meskipun telah melakukan segala cara untuk penyelamatan tetapi pacarnya dinya­ takan meninggal.(Dnn)

Kasus
Seorang pramugari bernama, Dennie Vieve Villareal Dayoc, 25 ta­ hun, kaget dan marah ketika seorang penumpang berinisial, ARM berbuat tak sepantasnya di dalam pesawat. Korban pelecehan seksual di atas pesawat Etihad Airlines (EY) tujuan Abudabi (AUH)­ Jakarta (CGK) ini melaporkan pelaku ke Polres Bandara Soekarno­Hatta. Pelecehan tersebut terjadi sekitar pukul 07.00 WIB. Di dalam pe­ nerbangan tersebut Dennie Vieve Villareal Dayoc sedang melayani penumpang. Ramesh Advani dijatuhi hukuman satu tahun penjara dan denda sebe­ sar 10.000 dolar AS atau Rp 85,5 juta. Pasalnya pria asal New Jersey itu, meraba­raba seorang wanita yang sedang tidur berselimut di kursi sebelahnya. Advani mengaku bersalah telah menjulurkan tangannya ke celana perempuan yang tak diketahui identitasnya tersebut. Peristiwa itu terjadi dalam pesawat Continental Airlines (CO) dari Hongkong (HKG) ke Newark (EWR) di New Jersey pada Mei 2010. Dua saksi, yang duduk di baris belakang kursi Advani, melihat keja­ dian tersebut dan mencoba menghentikan perbuatannya. (Dnn)

1.

2.

TransNusa jadi Operator Berjadwal
Fokker 50 TransNusa Aviation Mandiri. (Foto: dok. TransNusa)

Maskapai dengan kode IATA: TNU ini siap melebarkan sayapnya dengan memperkuat pasar di wilayah Nusa Tenggara yang didukung armada F-50, siap angkut 1.000.000 penumpang dalam 2 tahun ke depan...
RANSNUSA Aviation Mandiri atau yang lebih dikenal dengan TransNusa, maskapai yang berdiri dari wilayah Nusa Tenggara secara resmi pada 19 Agustus 2011 lalu mendapatkan Air Operator Certificate (AOC) No 121-048 serta Surat Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal (SIUAU/NB) No 023 tanggal 18 April 2011. Dengan begitu TransNusa resmi menjadi maskapai penerbangan ber­ jadwal serta sebagai operator pesa­

T

wat terbang. Untuk saat ini TrnsNusa berkantor pusat di Jalan Palapa No 7 Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dalam siaran persnya yang dike­ luarkan akhir Agustus lalu, maskapai ini menjelaskan saat ini armada pe­ sawat yang dioperasikan 3 (tiga) unit Fokker 50 dengan base operasi di Kupang, Bali dan Lombok serta me­ layani lebih dari 30 penerbangan se­ tiap hari di daerah Nusa Tenggara dan Bali yang meliputi Kupang (KOE), Ende (ENE), Maumere (MOF), Alor

(ARD), Tambolaka (TMC), Bajawa (BJW), Ruteng (RTG), Labuanbajo (LBJ), Waingapu (WGP), Denpasar (DPS), Mataram (AMI), Sumbawa (LYK) dan Bima (BMU). Sebagai maskapai yang beroperasi di wilayah pariwisata dan pangan, TransNusa optimis untuk menarget­ kan mengangkut 1.000.000 penum­ pang per tahun dalam waktu 2 tahun ke depan, papar Juvi Jodjana President Director/CEO. TransNusa ke depan akan menam­

bah jumlah armadanya menjadi 5 Fokker 50 sampai dengan akhir tahun 2011 dan menjadi 10 pada akhir tahun 2012. Termasuk penambahan armada pesawat dengan kapasitas 12­20 pe­ numpang untuk melayani penerbang­ an antarkabupaten/kota di wilayah Nusa Tenggara. Selain menjajaki untuk rute antara koridor ekonomi 5 dengan koridor ekonomi terdekatnya, Trans­ Nusa juga menjajaki pengembangan rute internasional ke Dili (DIL) dan Darwin (DRW). (Dnn)

AVIASI

l inTas beriTa
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

15

Pekerja Darat Qantas

Mogok Kerja

A

KSI demo kembali melanda maskapai penerbangan Austra­ lia, Qantas (QF). Para kar­ yawan darat yang tergabung dalam Serikat Pekerja Trans­ portasi melakukan mogok kerja dan berefek kepada lebih 6.000 penumpang Qantas. Mogok kerja itu tentu me­ rusak jadwal penerbangan domestik di Australia. Ribuan calon penumpang Selasa (20/9) lalu terlantar, karena 28 penerbangan dibatalkan, masing­masing 11 penerbang­ an dari Sydney (SYD), 10 dari Melbourne, 4 dari Bris­ bane (BNE), 2 dari Canberra (CBR), dan satu penerbangan

dari Adelaide (ADL). Se­ banyak 27 penerbangan lain­ nya ditunda. “Kami terus bernegosiasi dengan Serikat Pekerja Trans­ portasi sejak Mei, dan berse­ dia untuk menawarkan ke­ naikan gaji yang masuk akal. Kami berharap Serikat Peker­ ja Transportasi tetap berada di meja perundingan, bukan melakukan aksi mogok,” ucap Wirth, pejabat Qantas. Transport Workers Union menyerukan pemogokan se­ lama empat jam di seluruh bandara utama Australia pada saat jam sibuk. Serikat buruh meminta kenaikan upah seki­ tar lima persen setiap tahun

Sejumlah pesawat Qantas sedang parkir. (Foto: Istimewa)

dalam perjanjian tiga tahun. Serikat Pekerja Transportasi mewakili karyawan di bagian bagasi dan katering. Ketegangan meningkat antara Qantas dan serikat

pekerja pada bulan lalu setelah maskapai penerbangan terse­ but mengumumkan rencana restrukturisasi dengan fokus pada Asia, sehingga diperkira­ kan sekitar seribu karyawan

bakal kehilangan pekerjaan. Para pilot dan teknisi yang bekerja di Qantas juga terlibat dalam aksi mogok tersebut. (Dnn)

Cathay Pacific Jakarta dan Surabaya

Nepal Airlines Boeing 757-2F8C 9AB (Foto: Ken Megan)

Pindah Lokasi

K C
Pemotongan tumpeng oleh CeO Cathay Pacific. (Foto: dok Cathay Pacific)

Batal Terbang Gara-Gara Tikus
nesia diidentikkan dengan koruptor. Juru bicara maskapai KC Raju me­ ngatakan si mouse diyakini telah naik pesawat di bandara Katmandu mela­ lui truk katering makanan. Dia mengatakan hewan itu melesat keluar dari dapur ke bagian bela­ kang pesawat, di mana tikus tersebut sempat diketahui oleh beberapa penumpang yang telah naik pesawat. Para awak kabin masih terus mencari tikus dan kemudian memutuskan untuk membatalkan penerbangan dan melakukan pencarian yang lebih menyeluruh rupanya tikus lebih lihai masuk ke pesawat dibanding teroris. (Dnn)

ATHAY Pacific Airways (CX) membuka kantor barunya di Jakarta (CGK) dan Surabaya (SUB). Kantor di Jakarta pindah dari 26 lantai ke lantai 18 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jl Sudirman, sementara yang di Surabaya pindah dari Graha Bumi Modern ke Plaza BRI Jl Jenderal Basuki Rachmat. Kantor­kantor baru ini diharapkan memberikan kenyamanan lebih bagi para penumpang dan staf di Jakarta dan Surabaya, dengan luas ruangan dan counter pelanggan yang lebih efektif dari sebelumnya. Hadir dalam acara peresemian kantor baru tersebut Director Sales and Marketing Cathay Pacific, Rupert Hogg dan General Manager South East Asia Cathay Pacific, Wilson

Yam. Cathay Pacific Country Manager Indonesia, Rob Bradshaw menga­ takan: “Kami sangat senang dapat memperkenalkan kantor baru kami di Jakarta dan Surabaya. Hal ini akan memungkinkan kami untuk men­ jalankan kegiatan operasional yang lebih baik dan menawarkan kenya­ manan lebih bagi pelanggan dan staf kami di Jakarta dan Surabaya. Ini sejalan dengan komitmen kami untuk menjadi maskapai penerbangan ter­ baik yang melayani Indonesia.” Cathay Pacific telah hadir di In­ donesia selama lebih dari 40 tahun. Layanan tambahan ini menandai sebuah tonggak penting dari komit­ men Cathay di Jakarta serta Indonesia secara keseluruhan. (Dnn)

ABAR bahwa burung bisa membatalkan atau menga­ caukan jadwal penerbangan sudah biasa. Tapi kalau tikus? Ternyata binatang mengerat nan menjijikkan itu bisa mengacaukan suasana nyaman penerbangan. Di Katmandu Nepal (KTM), seorang pramugari Nepal Airlines (RA) melihat seekor tikus di dapur sebuah Boeing 757. gara­gara sang tikus membuat Nepal Airlines mem­ batalkan penerbangan ke Bangkok (BKK). Ujung­ujungnya penumpang dievakuasi dan pesawat diderek ke hangar. Beramai­ramai petugas mem­ buru si tikus, binatang yang di Indo­

Kasus tikus yang mengganggu penerbangan, sebelumnya juga terjadi di beberapa maskapai yaitu:
Maskapai
(QF)

(DL)

(AC)

Kasus Lima anak tikus ditemukan di tempat penyimpanan peralatan medis hari Selasa (31/5), rute penerbangan dari Sydney (SYD)­ Brisbane (BNE) April lalu, tim pengawas kesehatan menemukan “banyak sekali” kotoran tikus di dekat tempat penyimpanan makanan dan minuman Februari 2010, ratusan penumpang pesawat terpaksa turun dari pesawat Air Canada rute Ottawa (YOW)­ London (LHR) setelah seekor tikus besar ditemukan di kabin.

16

l inTas beriTa
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Bandara Emalamo Lumpuh,

Warga Blokir Runway

Matahora Siap Didarati

Boeing 737

Bandara Udara di Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) terus berbenah diri, antara lain menambah panjang landasan pacu 350 meter, sehingga total menjadi 2.350 meter.

Bandar udara emalamo (SQN) di Kepulauan Sula. (Foto: Istimewa)

Beberapa bandar udara di Indonesia ternyata menyimpan masalah, terutama berkaitan dengan lahan. Satu di antaranya adalah Bandara Emalamo Sanana (SQN) di Kepulauan Sula, Maluku Utara.
ERTENGAHAN bulan lalu, kawasan bandara itu diblokir warga yang mengaku sebagai pemilik lahan. Sebuah pesawat pun gagal mendarat, karena dihadang massa dan dilempari batu. Pesawat Nusantara Buana Air ga­ gal mendarat di sana setelah dihadang warga dan dilempari batu. Pesawat yang ditumpangi Bupati Kepulauan Sula, Ahmad Hidayat dan Kasat Bri­ mob Polda Maluku Utara, AKBP M Sukur II, akhirnya berputar­putar di atas bandara dan kembali terbang, se­ bab landasan pacu dikuasai warga. Warga memblokir jalan dengan menguasai landasan pacu. Mereka memasang barikade kayu serta benda­ benda lainnya untuk menghadang agar semua pesawat ke Sula tidak mendarat di bandara tersebut. Upaya aparat keamanan menghalau warga tak berhasil. Warga dan aparat malah adu mulut, karena warga meno­

P

S

express Air dornier 328-100 (Foto: Istimewa)

lak meninggalkan bandara. Aksi warga dipicu tuntutan pemba­ yaran ganti rugi lahan, yang tak kun­ jung dibayarkan pemerintah setem­ pat. Blokir bandara bukan pertama kali terjadi, dan berbagai pertemuan selalu tak membuahkan hasil. Peran bupati mengatasi persoalan tersebut diduga kurang maksimal, sebab bupati jarang berada di wilayahnya. Kepala Dinas Perhubungan Kep­ sul, Irwan Mansur ketika dihubungi dari Ternate mengatakan, warga tidak lagi memblokir Bandara Emalamo, se­ hingga sejak Minggu (11/9) bandara itu sudah difungsikan kembali. Warga mengakhiri aksi blokirnya terhadap bandara perintis itu setelah proses dialog antara warga dengan Pemkab Kepsul yang dimediasi tim dari Pemprov Malut berhasil menca­ pai kesepakatan. (Dnn)

Akitivitas Pemblokiran Bandara Emalamo
No. 1. 2. 3 4 15 Februari 2011 5 12 Maret 2011 6 7 9 September 2011 27 Agustus 2011 Waktu 8 Februari 2010 18 Desember 2010 8 Januari 2011 Keterangan Warga Sanana terpaksa memblokir bandara dengan memasang batang kayu dan batu di landas pacu Bandara. Warga memblokir bandara dan mendirikan tenda di landasan pacu Bandara Emalamo Tiga pekan diblokir warga, aktivitas Bandara Emalamo lumpuh Warga menuntut ganti rugi tanah, ratusan warga Maluku Utara kembali memblokir Bandara Emalamo Sanana. Bandara Emalamo di Kota Sanana di Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara (Malut) diblokir warga yang menuntut ganti rugi atas tanah warga Bandara diblokir, pemkab diminta menuntaskan tuntutan warga. Warga memblokir landasan pacu. Pesawat Nusantara Buana Air gagal mendarat yang membawa Bupati Sula.

IAPA yang tidak kenal Wakato­ bi. Belakangan daerah ini sering disebut­sebut di media, sebab memiliki objek wisata (pemandangan laut) yang sangat mempesona. Saat ini akses termudah ke Waka­ tobi adalah melalui udara. Tapi ya itu tadi, landasan pacu Bandara Ma­ tahora pendek, cuma 2.000 meter, sehingga tidak bisa didarati pesawat berbadan lebar dan panjang. Dilatarbelakangi kenyataan itulah pihak pengelola bandara merasa perlu memperpanjang landasan menjadi 2.350 meter. Hugua, Bupati Wakatobi menjelaskan selain menambah pan­ jang landasan, ketebalan aspal ban­ dara juga ditambah 7,5 cm, sehingga total tebal aspal bandara menjadi 15 cm sama seperti bandara Haluoleo Kendari (KDI) yang saat ini sudah bisa didarati pesawat jenis Boeing 737 atau sejenisnya. Sang bupati menjelaskan, penam­ bahan panjang landasan pacu meru­ pakan upaya Pemerintah Kabupaten Wakatobi mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan di Wakatobi. “Kita harapkan, setelah diperpanjang, Bandara Matahora da­ pat didarati pesawat berbadan lebar dan jumlah kunjungan wisatawan di

Wakatobi dapat meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat,” kata Hu­ gua. Rute­rute baru dari dan ke Waka­ tobi juga akan dibuka untuk memak­ simalkan pemanfaatan Matahora, sehingga dapat mendorong percepa­ tan pertumbuhan ekonomi Wakatobi khususnya dan ekonomi Sultra pada umumnya. Untuk keperluan ini, Hugua men­ jelaskan pihaknya telah merintis jalur menerbangan Alor, Flores­Wakatobi dan Wakatobi­Raja Ampat serta Wakatobi­Manado. Bandara Matahora yang mulai beroperasi tahun 2009 telah mem­ berikan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wakatobi yang cukup sig­ nifikan, yakni sudah mencapai 13% tahun 2010 lalu. Sebelumnya per­ tumbuhan ekonomi Wakatobi hanya sekitar 7,8% per tahun. Sejak Bandara Matahora dioperasi­ kan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik ke Wakatobi meningkat tajam. Jika sebe­ lumnya setiap tahun rata­rata hanya dikunjungi 3.000 hingga 5.000 orang per tahun, saat ini jumlah kunjungan wisatawan sudah mencapai 15.000 hingga 20.000 orang. Wow. (Dnn)

SELURUH MANAJEMEN AVIASI TURUT BERDUKACITA ATAS MENINGGALNYA:

Pilot Dave Coots (Australia), dan Copilot Thomas Munk (Slovakia)
dalam kecelakaan pesawat Susi Air Cessna Grand Caravan C208B PK-VVe di desa Saminage, distrik Pasema, Kabupaten Yahukimo, Papua pada Jumat 9 September 2011 pukul 12:20 wIT Semoga dedikasi yang telah diberikan di dunia penerbangan dapat terus menggelorakan para profesional dirgantara Indonesia.

AVIASI

f Okus
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

17

Mudik Terbang pun Aman
Bandar udara Internasional Juanda Surabaya (SuB). (Foto: dok. AP I)

Lebaran telah berlalu, para pemudik yang memanfaatkan jasa transportasi udara terus naik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bukti bahwa pesawat udara tetap menarik sebagai fasilitas pulang kampung.

J

UMLAH penumpang pada H­7 hingga H­4 Lebaran yang dipantau di 24 bandara di Indonesia tahun ini sebesar 559.425 orang, Itu berarti naik 82.880 orang dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 476.545 orang. Pada H­7 jumlah penumpang men­ capai 140.279 orang, naik 23,75 per­ sen dibandingkan tahun lalu sejumlah 113.356 orang. Sementara pada H­6 jumlah penumpang sebanyak 149.685 orang, naik 25,7 persen dibanding­ kan tahun lalu yang hanya berjumlah 119.015 orang. Pada H­5 jumlah penumpang naik 14,2 persen dibandingkan tahun lalu dari 126.449 menjadi 144.404 pen­ umpang. Sedangkan pada H­4 jumlah penumpang sebanyak 125.057 orang, naik 6,23 persen dibandingkan tahun lalu berjumlah 117.725 orang. Secara umum persiapan dan pelak­ sanaan angkutan Lebaran melalui udara tahun ini berjalan dengan baik. Sampai sebegitu jauh berdasarkan pengamatan AVIASI, tidak ada hal­hal yang mengganggu kenyamanan dan keamanan penumpang. Kecelakaan pesawat pun tidak ada. Maka beralasan jika para pemudik lewat udara meng­ ungkapkan “alhamdulillah” dengan fakta­fakta ini. Semua itu dimungkinkan, sebab jajaran Kementerian Perhubungan, khususnya Ditjen Perhubungan te­ lah melakukan antisipasi. Berkali­kali Dirjen Perhubungan Udara memberi­ kan pengarahan kepada para pelaku industri penerbangan. Posko Angkutan Udara Lebaran Tahun 2011 Direktorat Jenderal Per­ hubungan Udara mencatat arahan Direktur Jenderal Perhubungan Udara dalam rangka persiapan Angkutan Lebaran Tahun 2011 (1432 H) itu di antaranya adalah: 1. Utamakan keselamatan penerbang­ an.

2. Cek kembali dan pastikan kesiap­ an armada, crew dalam meng­ hadapi angkutan Lebaran 2011. 3. Masing­masing operator pener­ bangan agar segera menyampai­ kan rencana operasi pada masa Lebaran 2011 termasuk rencana penambahan kapasitas maupun extra flight kepada Direktur Jen­ deral Perhubungan Udara. 4. Masing­masing operator pe­ nerbangan agar membuat posko Angkutan Lebaran dan menugas­ kan personel siaga 24 jam untuk mempermudah koordinasi. 5. Operator Penerbangan agar mem­ berlakukan tarif sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 26 tahun 2010 dan Keputusan Men­ teri Perhubungan Nomor 11 ta­ hun 2006. 6. Operator Penerbangan agar memberlakukan sistem reservasi serta pengaturan transfer/transit penumpang dengan efektif dan efisien. 7. Operator Penerbangan diharus­ kan meminimalisasi delay yang diakibatkan oleh faktor­faktor lain selain cuaca serta memberitahu­ kan secara cepat kepada para pe­ numpang apabila terdapat keter­ lambatan disertai estimasi jadwal terbarunya. 8. Operator Penerbangan diharus­ kan mematuhi ketentuan kompen­ sasi keterlambatan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan 25 Tahun 2008 dan segera mengambil langkah pe­ mecahan masalah apabila terjadi keterlambatan dalam waktu yang lama. 9. Operator Penerbangan diharus­ kan menyediakan akun Twitter se­ bagai media sarana informasi yang cepat bagi pengguna jasa. 10. Penyelenggara bandar udara di­

minta mengoptimalkan sistem keamanan bandar udara dan sistem keamanan penerbangan; memaksimalkan penggunaan peralatan yang tersedia di bandar

udara, termasuk pemindai X­Ray dan Ceck in Counter dengan ber­ koordinasi dengan pihak maska­ pai. (Dni/Dnn)

Perbandingan Angkutan Udara Dalam Negeri Berikut ini adalah rekapitulasi perbandingan angkutan udara dalam negeri (domestik) periode tahun lalu dan tahun sekarang pada 24 Bandara yang dipantau.
KEDATANGAN KEBERANGKATAN JENIS PENERBANGAN PESAWAT PENUMPANG PESAWAT PENUMPANG Berjadwal 16.439 2.025.897 16.492 2.108.987 2010 Tambahan 408 40.670 443 41.514 Lain ­ lain 167 3.050 163 6.093 Total 17.014 2.069.617 17.098 2.156.594 Berjadwal 19.646 2.348.959 19.742 2.462.731 Tambahan 324 42.527 329 40.338 2011 Lain ­ lain 117 3.601 121 5.583 Total 20.087 2.395.087 20.192 2.508.652

3.000.000 2.400.000 2.069.617 1.800.000 1.200.000 600.000 2.396.556 2.156.594 2.511.017

0

Kedatangan Penumpang Tahun 2010

Keberangkatan Penumpang Tahun 2011

Sumber : Posko Angkutan Lebaran 1432H dirjen Perhubungan udara

18

b anDar uDara
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Inilah 5 Bandara Terbaik Dunia
Aviasi pada edisi lalu telah menurunkan 10 bandara terburuk di dunia dan celakanya Bandara Soekarno Hatta ada di dalamnya, kini AVIASI mengungkap lima bandara terbaik dunia 2011 versi Skytrax.

U

NTUK Anda ketahui, Skytrax adalah pe­ rusahaan konsultan Britania Raya yang melakukan riset mengenai maskapai pener­ bangan dan bandar udara dunia setiap tahunannya. Kelima bandara terbaik kelas dunia itu adalah:

Hong Kong International Airport

Bandar Udara Internasional Changi Singapura (SIN) adalah bandara internasional yang melayani Singapura. Bandara ini terletak di daerah Changi di bagian ujung timur pulau Singapura dan merupakan salah satu fasilitas penerbangan terbaik di Asia dan dunia. Bandara ini dikelola oleh Otoritas Penerbang­ an Sipil Singapura (CAAS). Bandara Changi juga merupakan pangkalan Si­ ngapore Airlines (SQ), SilkAir (MI), Valuair (VF), dan Tiger Airways (TR). Pada tahun 2004, jumlah penumpang di Changi sebanyak 30,4 juta orang dan kargo yang dilayani sebesar 1,78 juta ton.

Bandara Munich (MUC) terletak 28,5 km timur laut Munich, Jerman, dan merupakan pusat kegiatan penerbangan untuk Lufthansa (LH) dan mitra peru­ sahaan penerbangan Star Alliance. Munich Airport adalah bandara tersibuk kedua di Jerman dalam hal lalu lintas penumpang setelah Bandara Frankfurt

Beijing Capital International Airport

Incheon International Airport

Hong Kong International Airport adalah bandara internasional yang melayani daerah Hong Kong, Republik Rakyat Cina dengan kode IATA HKG dan kode ICAO VHHH. Nama lain dari bandara ini adalah Bandara Chek Lap Kok. Bandara ini terletak di pulau Chek Lap Kok dan sejak dibuka pada tahun 1998 menjadi salah satu pusat transit yang penting di dunia karena posisinya yang strategis. Bandara berkapasitas sebesar 45 juta penumpang dengan 3 juta ton kargo dan setelah landas pacu kedua dibuka pada Mei 1999, kapasitas meningkat menjadi 87 juta penumpang dan 9 juta ton kargo. Bandara yang menjadi pusat operasi Cathay Pa­ cific (CX), Dragonair (KA), Air Hong Kong (LD), CR Airways (HX), dan Hong Kong Express (UO) ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai ban­ dara terbaik dari majalah Skytrax selama lima tahun berturut­turut (2001­2005). Saat ini terdapat 2 buah landas pacu dengan panjang 3.800 meter dan selebar 60 meter. Nama landasan tersebut adalah 07L/25R dan 07R/25L yang berarti bisa juga dibedakan se­ bagai landasan utara dan selatan.

Bandar Udara Internasional Incheon (ICH) ada­ lah bandar udara terbesar di Korea Selatan dan me­ rupakan salah satu yang terbesar di Asia. Bandara ini menggantikan Bandara Internasional Gimpo yang sekarang distatuskan sebagai bandara domes­ tik kecuali penerbangan international ke Bandara Internasional Haneda (HND) di Tokyo, Jepang dan Bandara Internasional Hongqiao (SHA) di Shang­ hai, RRC. Berdasarkan survei Global Traveller, bandara ini merupakan yang terbaik di dunia selama tiga tahun berturut­turut sejak tahun 2006, 2007 dan 2008. Berperan sebagai bandara penghubung untuk ka­ wasan Asia Timur, terdapat 63 maskapai penerbang­ an yang melayani penerbangan ke bandara ini.

Changi International Airport

Munich Airport

(FRA), dan juga bandara tersibuk ketujuh di Eropa. Beijing Capital International Airport (PEK) ada­ lah bandara internasional utama yang melayani Beijing, Cina. Terletak 32 km timur laut dari pusat kota Beijing. Bandara ini dimiliki dan dioperasikan oleh Beijing Capital International Airport Company Limited. Bandara Beijing telah dengan cepat naik dalam peringkat bandara tersibuk di dunia dalam dekade terakhir. Bandara ni telah menjadi bandara tersibuk di Asia dalam hal lalu lintas penumpang. Beijing Ca­ pital International Airport adalah pusat utama untuk maskapai Air China (CA), yang terbang ke sekitar 120 tujuan penerbangan (tidak termasuk kargo) dari Beijing. Hainan (HU) dan China Southern Airlines (CZ) juga menggunakan bandara ini sebagai pusat mereka. Bandara ini pada tahun 2009, pernah mendapat­ kan penghargaan sebagai bandara terbaik berdasar­ kan kepuasan, termasuk faktor­faktor seperti ke­ bersihan, kecepatan keamanan/imigrasi, kejelasan tanda­tanda, penanganan bagasi, dan lain­lain. Un­ tuk mengakomodasi volume lalu lintas barang yang tumbuh di bandara ini, Beijing Capital menambah­ kan terminal ke 3­nya pada tahun 2008. Terminal bandara ini adalah yang terbesar kedua di dunia setelah Terminal 3 Bandara Internasional Dubai. (Dnn)

AVIASI

b anDar uDara
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

19

Bandara Mutiara Palu Ganti Nama
Bandar Udara Mutiara Palu (PLW) (Foto. panoramio.com)

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menyatakan setuju dan mendukung perubahan nama Bandara Mutiara Palu (PLW) menjadi Bandara Said Idrus bin Salim Aljufri.

S

AID Idrus bin Salim Aljufri telah mengabdi untuk kepen­ tingan umat Islam di Nusantara, khususnya di bagian timur Indonesia sekitar 40 tahun. Untuk menghargai jasa Habib Said Idrus bin Salim Aljufri, Pemerintah Kota Palu dalam waktu dekat akan mengganti nama Bandara Mutiara Palu menjadi Bandara SIS Aljufri. Pemerintah Sulawesi Tengah juga telah mengusulkan agar Habib Said Idrus bin Salim Aljufri menjadi pahlawan nasional karena jasa­jasanya mencerdaskan masyarakat dan mem­ bebaskan dari cengkraman Kolonial Belanda. “Saya setuju perubahan nama ban­ dara Mutiara Palu, tetapi perubahan nama bandara itu ada mekanismenya. Sampai hari ini saya juga belum per­ nah dapat aturannya,” kata Longki di hadapan jamaah Haul Sis Aljufri ke­ 43 di Komplek Alkhairaat Pusat Palu, Minggu. Longki mengatakan, nama Bandara Mutiara Palu sudah ada sejak Orde Lama dan diberikan oleh mantan Presiden Soekarno saat mendarat di Palu. Hal tersebut juga ditekankan oleh walikota Palu Rusdi Mastura juga berharap nama Bandara Mutiara Palu menjadi Bandara Sis Aljuri karena wacana ini juga sudah pernah dike­ mukakan tahun lalu. (*)

Daftar Nama Bandara yang Diganti

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Bandar udara Lama Bandar Udara Tembagapura, Timika Bandar Udara Padang Kemiling, Bengkulu Bandar Udara Kijang, Tanjung Pinang Bandar Udara Bubung, Luwuk Bandar Udara Silampari,Musirawas Sumatera Selatan Bandar Udara Mau Hau, Waingapu Bandar Udara Lalos, Tolitoli Bandar Udara Tampa Padang, Mamuju Bandar Udara Waioti, Maumere Bandar Udara Wolter Monginsidi

Keterangan 22 Januari 2001, tentang Penggantian Nama Bandar Udara Tembagapura Menjadi Bandar Udara Moses Kilangin. 14 November 2001 peresmian bandar udara baru. 2 April 2008 peresmian bandar udara baru 20 April 2008 berganti nama baru. 20 April 2009, Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengusulkan agar nama, diganti, dengan nama tokoh­tokoh nasional 27 Maret 2009 Bandar Udara Mau Hau di Waingapu, Sumba Timur berganti nama. 15 Mei 2009, Perubahan nama bandara tersebut, ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Tolitoli No 09 tahun 2009 8 Februari 2010, 2010Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mencari nama yang tepat untuk mengganti nama Bandar Udara Tampa Padang, Mamuju, Sulawesi Barat. 4 Januari 2010 diusulkan menjadi nama bandara Frans Seda oleh Gubernur NTT. 13 Februari 2010 peresmian bandara baru.

Bandar Udara Baru Mozes Kilangin (TIM) Fatmawati Soekarno (BKS) Raja Haji Fisabilillah (TNJ) Bandar Udara Syukuran Aminuddin Amin (LUW) ­ Bandar Udara Umbu Mehang Kunda (WGP) Bandar Udara Sultan Bantilan (TLI) Nama yang diusulkan pejuang Ammana Wewang, Ahmad Kirang, Ibu Agung alias Andi Depu (MJU) Bandar Udara Frans Seda (MOF) Bandar Udara Haluoleo (KDI)

9.

10. 11.

20

i pTek
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

A320F (Family)
The Best Keeps On Getting Better
Airbus terus berinovasi menyempurnakan pesawatpesawat bikinannya, termasuk teknologinya
Airbus A320neo (Foto: dok. Airbus)

A

IRBUS terus berinovasi me­ nyempurnakan pesawat­pe­ sawat bikinannya, termasuk teknologinya, satu di antaranya ada­ lah jet A320F (Family). Sesuai dengan namanya, A320F bersaudara dengan A318, A319, A320 dan A321). Airbus mengklaim, itulah pesawat­ pesawat hebat mereka. Buktinya, pe­ sanan atas pesawat itu terus mengalir. Pada akhir Januari lalu misalnya, ter­ catat 4.552 unit pesawat A320 Family telah terjual, selebihnya (4.467) masih aktif terbang. Kabarnya masih ada 2.400­an pesawat jenis itu yang masih dalam pesanan. Disebut­sebut, A320 Family menjadi pesawat penumpang jet ko­ mersial yang paling cepat terjual ber­ dasarkan catatan tahun 2005 hingga 2007, dan menjadi penjualan terbaik pesawat generasi tunggal. Airbus A320 Family merupakan pesawat bersayap tunggal dengan sayap jenis low­wing dengan model ekor konvensional menggunakan sebuah ekor tunggal dan rudder. Pesawat­pesawat ini memiliki tiga set roda pendarat yang dapat dilipat dan ditenagai oleh dua mesin turbofan yang terpasang di sayap. Dibandingkan dengan pesawat penumpang komersial lainnya di kelasnya, A320 memiliki kabin satu lantai yang lebih lebar deng­ an diameter luar 1.555 inci (39.5 m), dibandingkan dengan 148 inci (3.8 m) pada Boeing 737 dan 1.316 inci (33.4 m) pada Boeing 717, dan memiliki ruang bagasi atas yang lebih besar, bersama dengan teknologi flyby­wire. Pesawat ini memiliki sebuah ruang kargo yang dilengkapi dengan pintu besar untuk membantu proses bong­ kar muat kargo yang cukup besar. A320 memiliki sebuah ECAM (Elec­ tronic Centralised Aircraft Monitor/ Monitor Pesawat Elektronik Ter­ pusat) yang memberikan informasi kepada awak pesawat mengenai se­ mua sistem di dalam pesawat. Deng­ an pengecualian versi paling awal dari A320, sebagian besar sistem dapat

ditingkatkan ke dalam standard avi­ onik paling akhir, membuat pesawat tetap berkembang meski telah ber­ operasi selama dua dekade. Guna menyempurnakan pesawat tersebut, sang produsen juga terus berinvestasi dalam perbaikan di selu­ ruh lini produk, termasuk pengem­ bangan pilihan mesin baru A320neo, perangkat tambahan untuk aerodina­ mis, kabin penumpang diperluas di kelasnya, dan badan pesawat diper­ panjang. Perbaikan ini akan memberikan penghematan bahan bakar 15 persen dan jarak penerbangan tambahan 500 mil laut (950 kilometer), serta mampu membawa dua ton muatan lebih pada kisaran tertentu. Mengapa banyak maskapai pen­ erbangan dunia memakai A320 seri baru? Berikut informasi yang diper­ oleh AVIASI: 1. Memiliki lebih dari 95 persen kesamaan badan pesawat dengan model yang ada, memungkinkan untuk masuk mulus ke seri yang sudah ada (armada A320 family). 2. Pesawat jet komersial pertama yang menggabungkan fly-bykawat kontrol penerbangan. Memuat lebih banyak penum­ pang dan barang, sehingga bisa menunjang bisnis kargo. 3. Kabin lebih lapang, sehingga membuat nyaman penumpang. Boarding pun lebih cepat. Ba­ gasi juga lebih luas, sehingga gampang meletakkan tas atau bawaan. 4. Layout kursi penumpang juga lebih tertata lebih rapi, sehingga semakin membuat penumpang lebih nyaman terbang. 5. Layanan andal di seluruh dunia telah membuktikan manfaat yang signifikan melalui kesamaan, ke­ selamatan penerbangan mening­ kat, mengurangi beban kerja pi­ lot, pengurangan bagian mekanis, dan real­time monitoring semua sistem pesawat. 6. Penghematan bahan bakar A320neo diterjemahkan ke da­

lam beberapa 3.600 ton lebih sedikit CO2 per pesawat per tahun. Selain itu, A320neo akan memberikan pengurangan dua digit dalam emisi NOx dan me­ ngurangi kebisingan mesin. 7. Sebanyak 3,5 persen penghemat­ an konsumsi bahan bakar secara keseluruhan pada sektor­sektor rute panjang untuk pesawat A320, sementara juga mening­ katkan kinerja lepas landas dan meningkatkan muatan oleh 500 kg. 8. Mengakomodasi 150 penumpang dalam susunan dua­kelas yang khas, dan sampai 180 dengan ke­ padatan tempat duduk. A319­pe­ sawat yang lebih pendek memiliki kapasitas 124 penumpang dalam konfigurasi dua-kelas, dan sampai 156 penumpang. 9. Teknologi canggih pada navigasi untuk mendukung operasi ar­ mada yang ada di seluruh dunia, termasuk kemampuan Required Navigation Performance (RNP). 10. Untuk in-flight service, awak kabin dapat melakukan pekerjaan mereka lebih efisien dan mem­ berikan layanan yang lebih baik kepada penumpang. Pesawat A320 Family banyak digu­ nakan di sejumlah Negara di Eropa, Amerika dan Asia. Di Indonesia,

nesia AirAsia per 10 February 2011 punya 16 Airbus A320­200. 3. Citilink: Citilink telah meng­ operasikan pesawat Airbus A320. Hingga 2013 Citilink tetap akan

mengadakan 5 unit Airbus A320 se­ tiap tahun. Namun pesawat tersebut berstatus sewa. Sementara pada 2014 akan datang pesawat yang dibeli se­ tiap tahun dengan jumlah lima unit hingga 2018 atau 25 unit.

maska­ pai yang menggunakan pesawat kelu­ arga A320 itu adalah: 1. Mandala (RI): Perusahaan ini mengoperasikan 10 jenis pesawat Airbus A320 dengan kapasitas kursi 180 dan pesawat A319 dengan kapa­ sitas 144 kursi per 16 Januari 2009. Mandala memesan 30 unit Airbus senilai US$ 1,8 miliar. 2. AirAsia (QZ): Armada Indo­ 4. Batavia (Y6): Maskapai ini punya Airbus A319 sebanyak 2 unit dengan seat 156 untuk rute domestik dan internasional. Airbus A320­200 sebanyak 7 pesawat dengan seat 180 untuk rute domestik dan internasion­ al 2 pesawat. (Dnn)

AVIASI
Tokoh Penerbangan

i pTek
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

21

Kiprah Tanpa Batas Seorang Abdulrahman Saleh
Karena jasanya, Abdulrahman Saleh diabadikan untuk nama bandar udara di Malang, Jawa Timur.

A

BDULRAHMAN SALEH dilahirkan pada 1 Juli 1909 di Jakarta. Pada masa mu­ danya, ia bersekolah di HIS (Sekolah rakyat berbahasa Belanda atau Hol­ landsch Inlandsche School), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau kini SLTP, AMS (Algemene Middelbare School) kini SMU, dan kemudian diteruskan ke STOVIA (School Tot Opleiding van Inland­ sche Artsen). Sebelum menyelesaikan studinya di sana, ia meneruskan studinya di GHS (Geneeskundige Hoge School), seko­ lah tinggi dalam bidang kesehatan atau kedokteran. Kiprah sebagai prajurit penerbang dimulai ketika dirinya yang sudah

pernah mendapat brevet terbang sebelumnya, belajar kembali me­ nerbangkan pesawat Cureng dengan Adisutjipto sebagai instrukturnya. Setelah menemani Adisutjipto se­ bagai instruktur penerbang, tak lama Abdulrahman Saleh aktif memberi­ kan fondasi awal Tentara Republik Indonesia (TRI) Angkatan Udara. Di angkatan udaralah, Abdulrah­ man Saleh bersama dengan prajurit penerbang lainnya berupaya me­ negakkan sendi pertahanan udara negeri ini. Salah satu usahanya adalah dengan menjalin hubungan dengan negara lain. Oleh karena itu, pemerin­ tah memberikan tugas kepada Adis­ utjipto dan Abdulrahman Saleh untuk mencari bantuan luar negeri.

Biju Patnaik, seorang dermawan In­ dia bersedia meminjamkan pesawat­ nya, Dakota VT­CLA. Dengan pesa­ wat pinjaman tersebut, dari Singapura ke Yogyakarta, Abdulrahman Saleh membawa obat­obatan sumbangan Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Tanggal 29 Juli 1947, ketika pesa­ wat berencana kembali ke Yogyakarta melalui Singapura, harian Malayan Times memberitakan bahwa pener­ bangan Dakota VT­CLA sudah me­ ngantongi izin pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P­40 Kitty­Hawk Be­ landa dari arah utara. Pesawat kehi­ langan keseimbangan dan menyam­

bar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian dan ak­ hirnya terbakar. Sejak saat itu Indonesia kehilangan pejuang dan dokter tangguh seperti Abdulrahman Saleh. Namun seman­ gat juang negeri ini tak pernah pudar. Masih banyak generasi muda yang akan meneruskan perjuangannya di bidang dirgantara. Abulrahman Saleh dimakamkan di Yogyakarta dan ia diangkat menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasar­ kan Surat Keputusan Presiden Re­ publik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, tanggal 9 Nopember 1974. Selain diabadikan sebagai nama bandara, namanya juga dipakai untuk piala bergilir ajang Kompetisi Kedok­ teran dan Biologi Umum (Medical and General Biology Competition). Mengharapkan semua lulusan Akademi Angkatan Udara dapat mencontoh keteladanan dan mampu mencapai kualitas seorang perwira seperti Abdulrahman Saleh, para taruna AAU dipanggil dengan nama Karbol. Hal ini pertama kali diusul­ kan oleh Letkol Saleh Basarah setelah dia mengunjungi United States Air Force Academy di Colorado Springs, Amerika Serikat.(Dnn)

22

s afeTy
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Kesehatan para pilot merupakan faktor utama dalam keselamatan penerbangan sipil. Untuk itu FPI punya kepedulian yang tinggi terhadap hal tersebut.

Kesehatan Pilot dalam Penerbangan J

nya para dokter Hatpen, yang dapat menditeksi kondisi sejarah kesehatan para pilot asing, sebelum aktif sebagai penerbang di Indonesia,” sarannya. FPI mengakui hingga kini belum memiliki data atau track record kesehat­ an para pilot Indonesia, apalagi pilot asing. Karenanya, FPI ingin mengeta­ hui kondisi kesehatan para pilot di In­ donesia dalam dua tahun terakhir ini, apakah terjadi trend kesehatan pener­ AKARTA ­ Federation Pilot In­ bang yang signifikan? donesia (FPI) punya kepedulian “Juga bagaimana penanganan yang tinggi, memperhatikan secara paling efektif dalam menanggulangi serius terhadap masalah kesehatan masalah kesehatan penerbang agar penerbang serta menindaklanjuti la­ perusahaan penerbangan menda­ poran individu­individu pilot tentang patkan kinerja yang optimum dari kondisi kesehatannya. Mengingat, aktivitas para pilotnya. Bahkan dari kesehatan para pilot merupakan fak­ sisi pilotnya mendapatkan kesehatan tor utama yang penting dalam ke­ yang berkesinambungan,” tambahnya. selamatan setiap penerbangan sipil. Ir. Diding Sunardi, Direktur Kelaikan “Karena aktivitas pilot sekarang ini Udara dan Pengoperasian Pesawat grafiknya semakin meningkat, seiring Udara Kemenhub menyarankan FPI dengan frekuensi penerbangan yang harus berperan aktif untuk memantau sangat tinggi, sehingga sangat rentan kesehatan penerbang, prosedur pe­ terhadap masalah kesehatannya,” ung­ nerbangan dan meningkatkan disiplin kap President FPI Capt. Hasfrinsyah para pilotnya, termasuk safety. Hs pada diskusi dan dengar penda­ “Untuk itu, FPI hendaknya mem­ pat FPI dengan para Dokter Balai buat laporan atau masukan secara Kesehatan Penerbangan (HATPEN) berkala untuk disampaikan kepada Kementrian Perhubungan serta para DKPPU, bilamana ada yang memung­ dokter perusahaan maskapai yang kinkan untuk ditindaklanjuti oleh DK­ mana acara ini dibuka oleh Capt. M. PPU,” sarannya sambil menambahkan Ali Nahdi selaku Ketua Pelaksana, kegiatan diskusi kesehatan yang dige­ di Hotel Sriwijaya Jakarta, Selasa lar FPI seperti ini sangat penting un­ (13/9/2011). tuk dunia penerbangan kita. Dikatakan, FPI melihat bahwa se­ Tengku Burhanuddin, sekjen IN­ tiap perusahaan penerbangan berusa­ ACA mengakui kemajuan dunia pe­ ha terus memaksimalkan waktu kerja nerbangan sangat pesat. Rata­rata para pilot, meski masih dalam koridor penambahan pesawat yang dilakukan batasan normal limit. perusahaan penerbangan di Indonesia Dengan kemajuan teknologi serta sekitar 30­40 pesawat per tahun. Ini bertambahnya pesawat yang begitu menandakan kemajuan ekonomi In­ cepat, berdampak langsung terhadap donesia yang meningkat. Sayangnya, aktifitas dunia penerbangan. Kon­ tidak dibarengi dengan pengembang­ disi ini, jelas sangat berpengaruh an total SDM pilotnya. terhadap kesehatan pilot, jelasnya. “Kini kita sudah memasuki era li­ Selain itu, banyaknya pilot asing yang bralisasi, yang sudah diakui dengan bergabung di Indonesia, terutama kurangnya pilot. Bahkan kemungkin­ yang harus menerbangi daerah Remote, an terjadi kondisi fatique bagi para Mountaning Area, dimana para pilot pilot. Ini jelas sangat berbahaya di da­ asing tersebut secara mutlak harus lam misi penerbangannya,” tegasnya memperoleh tranning yang memadai, serius. serta kesehatan fisik maupun psikologi Karena itu, kata Burhanuddin, ke yang mumpuni. “Mungkin ada baik­ depannya perlu diperjuangkan bersa­

AVIASI
ma tentang keberadaan sekaligus ke­ sehatan para pilot. Mengingat, selama 2 tahun terakhir ini kurangnya SDM Pilot di Indonesia, akibat kondisi pe­ nurunan kesehatan para pilot. “Juga minimnya pilot, sangat memung­ kinkan bagi perusahaan penerbangan untuk memaksimalkan jam kerja para pilotnya, seperti yang dikatakan FPI sebelumnya,” katanya. Diingatkan, konsentrasi daerah ker­ ja para pilot di Indonesia sangat ber­ variasi, mulai penerbangan internasi­ onal, domestik, regular, aircharter hing ga penerbangan pedalaman, daerah pengunungan juga helikopter, yang membutuhkan kesehatan pener­ bang yang sangat prima. “Tentunya, perusahaan jangan menitikberatkan kesehatan saja, tapi kesejahteraan pilot juga harus diperhatikan. Mengingat resiko mereka bekerja sangat tinggi,” tambahnya. dr. Thamrin Ambudi, menge­ mukakan para pilot sebelum medical check up hendaknya berkomunikasi lebih dulu dengan dokter, yang me­ nanganinya saat medex. Mengingat, setiap medex yang menghasilkan data bagus, belum tentu seminggu kemu­ dian pilot itu tidak kena masalah ke­ sehatannya. Terkait Fatique, tambah dr. Thamrin, belum bisa diukur secara tepat dan se­ dang menuju ke arah pengukuran itu. FRMS (Fatique Risk Management System) adalah suatu kondisi fisiologis yang mempengaruhi performa men­ tal dan fisik seseorang, sehingga menurunkan kemampuan bekerja. Kondisi ini dipengaruhi oleh sleep loss, extended wake fullness, workload (mental dan fisik), circadian fase yang terbang melewati zona waktu dan dapat menyebabkan berkurangan­ nya kemampuan mental dan fisik, berkurangnya kewaspadaan seseorang. Malah dapat menyebabkan human error karena berkurangnya kecakap­ an, kewaspadaan sehingga mem­ pengaruhi keselamatan penerbangan. Memang tujuan akhir dari pemerik­ saan kesehatan atas awak pesawat ada­ lah keselamatan penerbangan. Karena itu, yang harus sehat tidak saja pilot, cabin crew, tapi juga mereka yang ber­ tugas di ground handling mendapat layanan kesehatan, harapnya. Hal senada diungkapkan dr Amir bahwa fatique dapat menyebabkan pelanggaran safety. Saat mengalami kondisi itu, hendaknya para pilot jangan memaksakan kehendak untuk menerbangkan pesawat. “Jadi lan­ taran tidak enak dengan perusahaan, pilot memaksakan diri untuk ter­ bang. Ini yang tidak benar,” paparnya. Menurutnya, data menunjukkan trend kesehatan pilot selama dua tahun belakangan ini, mengalami penurunan. Mengingat, saat ini ba­ nyak pilot yang berusia dibawah 45 tahun mengalami permasalahan kesehatan jantung, trigresida, koles­ teral, hingga gula darah yang tinggi, bahkan sampai ke tingkat kanker. Dalam mengatasi masalah ini, lanjut dr. Amir, pilot harus jujur, berterus terang tentang track record kesehatan pribadinya selama 6 bulan terakhir sebelum medical. “Sekecil apapun yang ada dalam kesehatan tubuh pilot, wajib dikomunikasikan kepada para dokter Hatpen saat medical check,” sarannya. dr. Eddy menilai treadmill merupa­ kan suatu keharusan bagi para pilot, karena pilot itu medical class one. Bagi seseorang mengalami gangguan jan­ tung, setelah dilakukan pemasang­ an ring harus digrounded 6 bulan. Ini dikarenakan untuk memonitor kemungkinan terjadinya penyempitan kembali pada pembuluh darah atau dibagian lainnya. “Pasca 6 bulan selanjutnya, perlu diadakan medical check kembali. Jika dalam medical check up nya dinya­ takan bagus, selanjutnya akan diten­ tukan keputusan jadwal terbangnya kembali,” tandasnya. Perlu diketahui, treadmill adalah execise electro cardiogram dengan mem­ beri beban pada jantung, sehingga dapat terlihat ketidakseimbangan an­ tara O2 supply dan O2 demand, yang akan menyebabkan hasil test treadmill positif, dan menandakan adanya pe­ nyempitan pembuluh darah koroner. Dikatakan, penyakit jantung koroner disebabkan oleh faktor yang tidak bisa diubah seperti; genetik, usia, jenis ke­ lamin , dan faktor yang dapat dirubah adalah tekanan darah, gula darah, ka­ dar lemak darah, obesitas, rokok serta emosi. Juga makanan, seperti fastfood yang banyak negatifnya. Dr. Ichwan menambahkan masa­ lah fatique banyak faktornya. Namun untuk detilnya harus dilakukan test, diantaranya pemeriksaan darah. Bah­ kan tidak menutup kemungkinan dari dokter perusahaan akan memberikan rest, jika pilot itu secara visual dan pe­ meriksaan awal memungkinkan untuk diliburkan. Jadi faktor fatique itu banyak sekali berkaitan dengan kondisi dari kesehat­ an kejiwaan psikologi aspek termasuk lama waktu kerjanya, situasi lingkung­ an perusahaannya, kondisi area ter­ bangnya. “Hingga saat ini dengan adanya FRMS yang baru, akan dihi­ tung untuk mendapat suatu ketentuan batas fatique dari sesorang,” katanya. Hal itu juga diungkapkan Dr. Nuri­ na, yang menambahkan masalah ke­ sehatan penerbang yang dikatakan fa­ tique tidak dominan dari satu sumber pekerjaannya, juga bisa didapat dari lingkungan sosial dan lingkungan ke­ luarganya. “Namun, pada dasarnya kami sangat memperhatikan kondisi kesehatan para pilot kami, bahkan keluarganya. Karena itu, kami harapkan para pe­ nerbang jujur dalam menyampaikan laporan kesehatannya. Dan hanya yang bersangkutan, yang dapat me­ ngatasi permasalahan fatique terse­ but,” tambahnya. Dr. Abrian dari PT Pelita Air Ser­ vices mengharap dan menghargai ika ada pilot yang mau melapor masalah fatiqeu dan keterganguan kesehatan­ nya. “Kami akan melindungi keluhan pilot. Dan berusaha membela pilot dengan bernegoisasi pada perusaha­ an. Untuk tersebut, sekali lagi mohon

s afeTy
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

23

agar ada laporan dan keterusterangan kondisi dari pilot itu sendiri.” papar­ nya. Harapan Hatpen hendaknya para pilot dapat benar­benar menjaga kesehatannya. Mengingat, pener­ bang adalah aset yang mahal, tidak mudah dicetak juga sangat mem­ butuhkan biaya yang tinggi, sehing­ ga perlu bahkan wajib untuk dilin­ dungi dalam masalah kesehatannya. Karena itu, yang harus bertanggung jawab terkait kesehatan penerbang adalah dirinya sendiri dan ditunjang sepenuhnya oleh perusahaan maupun dinas kesehatan.

Acara ini, dihadiri Ir. Diding Sunardi (Direktur DKUPPU), Capt. Avirianto (Kasubdit DKUPPU), Tengku Bur­ hanuddin (Sekjen INACA), dr Eddy (Ketua Balai Kesehatan Penerbangan) dr. Thamrin Ambudi, Flight Surgeon Balai Kesehatan Penerbangan Indo­ nesia, dr Amir (Balai Kesehatan Pe­ nerbangan), dr Ichwan Z (Direktur Garuda Sentra Medika), dr Nurina (Garuda Indonesia), dr Abrian (Pelita Air Service), Staf para Dokter dari Balai Kesehatan Penerbangan Perwa­ kilan dari Asosiasi (IPPAS, APHI, APM, APG, FKPS) juga Badan Pe­ ngurus FPI. (*)

24

s afeTy
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Makanan dan Minuman Sehat dalam Penerbangan
Pelayanan meal service harus bersih, sehat dan bebas dari kontaminasi zat yang membahayakan. Jika tidak, maka akan berdampak langsung terhadap gangguan kesehatan penumpang dan crew.
DA penerbangan yang memberikan pelaya­ nan makanan dan minuman (meal service), namun ada pula penerbangan yang karena menerapkan pola penerbangan ”low cost carrier” tidak memberikan pelayanan makanan dan minum­ an (no meal service). Hal itu sesuai dengan kebijakan pemerintah bah­ wa bagi operator penerbangan yang menerapkan pola low cost carrier, pelayanan yang mungkin bisa dikurangi/dipangkas adalah dengan tidak membe­ rikan pelayanan makanan dan minuman, sedang­ kan pelayanan yang ada hubungannya dengan ke­ amanan dan keselamatan penerbangan tidak boleh dikurangi. Dengan kata lain untuk urusan yang satu ini (keamanan dan keselamatan), pemerintah tidak ada kompromi dan tidak akan memberikan toleransi. Layanan makanan dan minuman (meal service) dalam penerbangan merupakan bagian dari se­ rangkaian pelayanan kepada penumpang yang se­ cara teknis, baik mulai dari pengolahan (dari bahan mentah) sampai dengan penghidangannya diatur melalui regulasi pemerintah. Pelayanan meal service yang tidak sehat akan ber­ dampak langsung terhadap gangguan kesehatan penumpang dan crew, yang muaranya berdampak pada gangguan kinerja personel pesawat udara, khususnya ”pilot” dan atau ”copilot”. Beberapa operator penerbangan tetap membe­ rikan pelayanan makanan dan minuman (untuk penumpang dan personel pesawat udara) sebagai bagian dari exelence service, sesuai dengan jarak tem­ puh dan kebijakan masing­masing perusahaan.

A

sak, mencuci piring, gelas, sendok, garpu dan lain­lain; • Memiliki alat/sarana angkut ke pesawat udara; Penjamah makanan (foodhandler) dan petugas pelayanan harus bekerja berdasarkan peratur­ an kesehatan, dan memenuhi syarat­syarat kebersihan dan kesehatan; 3. Persyaratan penanganan makanan dan minuman dalam pesawat udara: • Kebersihan selalu terjaga dan terpelihara; • Jangka waktu penghidangan makanan me­ nurut jenis dan sifatnya harus tidak boleh terlampaui; Tersedia fasilitas cuci tangan (air panas, sabun dan handuk/lap bersih); • Pramugari/pramugara diharuskan mencuci tangan sebelum melakukan penyajian/penghi­ dangan; • Makanan yang mudah membusuk harus di­ simpan pada suhu 10º C atau kurang dari 10° C; Makanan dingin (cool food) disimpan dalam food module, dilengkapi dry ice dan diper­ tahankan pada suhu 4°C; • Atas pertimbangan keamanan, keselamatan, dan kesehatan serta untuk tindak pencegahan terhadap keracunan makanan, pelayanan ma­ kan khusus untuk Captain Pilot dan Copilot

harus dibedakan dalam hal pilihan menu dan waktu makan; Pada bandar udara di mana tersedia ”catering service”, seluruh peralatan yang terpakai, sisa makanan dan kotoran bekas ha­ rus diturunkan dan diganti dengan satu unit perlengkapan komplit yang baru. 4. Ancaman tersebarnya penyakit melalui ma­ kanan bisa disebabkan oleh: Racun Kuman, Infeksi Bakteri, Parasit Cacing, Racun Kimia, Racun Nabati, Racun Hewani, Keanehan Indi­ vidual (alergi), Kontaminasi Radioaktif; 5. Pengawasan dan pengendalian lingkungan (wasdanil): Harus dilakukan inventarisasi tentang berapa jumlah perusahaan jasa boga/catering (penyedia makanan dan minuman) di bandara yang telah memiliki ijin berdasarkan peraturan menteri kesehatan, juga dilakukan inventarisasi tentang sumber makanan dan minuman yang dihidangkan di tiap perusahaan penerbangan, mengingat akhir­akhir ini ada beberapa pener­ bangan yang memberikan meal service namun tidak jelas dari mana sumber cateringnya, (kardus pembungkus makanan dan minuman hanya bertuliskan nama perusahaaan pener­ bangan). (Tjuk Sudarsono)

Ketentuan

Ketentuan tentang penyediaan makanan dan minuman yang bersih dan sehat dalam pener­ bangan diatur melalui Keputusan Menteri Kese­ hatan Nomor 715/Menkes/SK/V/2003 tentang ”Persyaratan Hygiene Jasaboga” di mana jasaboga untuk melayani penerbangan termasuk dalam jasa­ boga golongan C, yaitu ”Jasaboga yang melayani kebutuhan untuk alat angkutan umum internasio­ nal dan pesawat udara.” Regulasi­regulasi lainnya juga saling melengkapi, mengikat dan tidak bertentangan, serta penting untuk kita ketahui antara lain: 1. Ketentuan Umum: Penyediaan makanan dan minuman harus bersih, sehat dan bebas dari kontaminasi zat yang membahayakan: • Bercita rasa, indah bentuk, lezat dan bergizi (estetis bisnis); Bebas dari pengotoran dan pencemaran; • Bebas dari kemungkinan penularan penyakit, seperti (saluran pencernaan dan keracunan makanan); 2. Fasilitas dan personel yang standar dan ber­ sertifikat (secara kualitas dan kuantitas) harus dimiliki oleh perusahaan jasa boga/ catering penerbangan: • Bangunan untuk jasa boga penerbangan harus memenuhi standar kebersihan dan kesehatan; • Tersedia tempat penyimpanan makanan (ter­ masuk refrigerator); Tersedia tempat mema­

S

Agar Pilot tidak Muntah-Muntah
ling tidak 1 (satu) bulan sekali: • Pengamatan terhadap kese­ suaian persyaratan sanitasi; • Survei terhadap kebersihan dan penyakit pada foodworker (pekerja makanan); • Pengukuran fisik ling­ kungan; Pemeriksaan kesehatan peker­ ja makanan dilakukan terhadap calon pekerja dan pekerja yang sudah lama: • Ujian Kesehatan Baru (UKB) bagi calon pekerja; • Ujian Kesehatan Periodik (UKP) 6 bulan atau 1 tahun sekali bagi petugas yang su­ dah lama bekerja; Hal yang juga sangat esensial adalah memberikan pendidikan dan pelatihan terhadap seluruh petugas yang terkait dengan pe­ layanan penyediaan makanan dan minuman dalam pener­ bangan (perusahaan jasa boga & perusahaan angkutan udara). Pemeriksaan mutu terhadap contoh makanan harus dilaku­ kan secara berkesinambungan dan terencana serta dilakukan secara random (acak) terhadap: • Makanan mudah rusak (perisable); • Kandungan protein tinggi; • Tanda­tanda proses pem­ busukan (bau & lendir); • Perubahan bentuk warna; Perlu diwaspadai ketika ada ke­ bijakan internal operator pener­ bangan tentang pemberian ma­ kan khususnya kepada ”personel penerbangan” dilakukan di luar ketentuan di atas, misalnya ma­ kanan dibeli dari sumber (rumah makan/restoran) yang tidak/be­ lum memiliki izin Menteri Kese­ hatan. Tulisan ini sekadar ingin mengajak semua komunitas penerbangan merenung, be­ tapa meal service memiliki peran yang sesungguhnya sangat vital dalam penerbangan. Makanan dan minuman yang tidak bersih dan tidak sehat (dari mana pun sumbernya), akan berdampak langsung terhadap kinerja per­ sonel pesawat udara dalam ope­ rasi penerbangan. (*)

EJARAH dalam pener­ bangan telah membukti­ kan betapa sebuah pener­ bangan terpaksa harus melaku­ kan pendaratan darurat karena sang kapten mengalami muntah­ muntah oleh sebab keracunan makanan. Kita pasti tidak mengharap­ kan akan terjadi kasus di mana penumpang dan awak pesawat udara mendapatkan gangguan kesehatan karena keracunan makanan oleh sebab sumber makanan dan minuman yang dikonsumsi tidak dapat di per­ tanggung jawabkan dari aspek kesehatan. Inventarisasi dan pengawas­ an dilakukan terhadap ”tingkat mutu” (grading) berdasar kon­ disi hygiene dan sanitasi sumber pengolah makanan:

Grade A = Baik sekali, Grade B = Baik, Grade C = Cukup (memenuhi Syarat).

Pemeriksaan berkala setempat harus dilakukan terhadap peru­ sahaan penyedia jasa boga, pa­

AVIASI

a irlines
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

25

Kalstar, Go For Kalimantan Beyond
Kalstar Aviation Boeing 737-500 PK-KSM. (Foto: dnn)

Dengan konsep yang berbeda dari maskapai penerbangan lainnya, Kalstar mengajak pelanggannya mengenal lebih dekat semua potensi yang ada di Pulau Borneo.

Konsep layanan ini mencakup Ka­ limantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, di mana masing­masing daerah memiliki ragam yang berbeda­beda dan ada daya tarik tersendiri. Kalstar Aviation sebagai perusa­ haan penerbangan swasta Indonesia, telah mengonsep, menjelaskan dan mengidentifikasikan interaksi “Go For Kalimantan Beyond” dengan “tamu yang dihormati”, dimulai dari pre­journey, pre-flight, in-flight, post-flight, hingga post­journey, dan menyusun layanan yang tepat demi memuaskan “tamu­ tamunya”. Konsep baru Go For Kalimantan Beyond ini diharapkan mampu mencer­ minkan kehangatan, sehingga tamu yang sudah terbang dengan Kalstar ingin terbang lagi dengan Kalstar. Saat

ini Kalstar dominasi warna oranye, memberikan suasana “hangat”, baik di interior pesawat, logo pesawat mau­ pun seragam pramugari. Seragam pramugari batik rok pan­ jang. Mengenakan pakaian ini, pramu­ gari tampak prima dan elegan, dan memudahkan bergerak saat situasi tertentu, “Ini menggambarkan bahwa Kalstar lebih bisa bersaing, menarik,” ujar Rifni. Kata­kata (informasi) buat para penumpang pun ditulis secara unik dan khas Kalstar, meskipun tidak sesuai dengan kaidah berbahasa yang seharusnya. Kata­kata seperti “easy booking” ditulis berdasarkan bunyinya, “izy buking!” “Easy payment” ditulis izy peimen! Cabin yang clean ditulis kebin yang klin! (Dnn)

USINESS Development Kalstar Aviation, Muhammad Rifni menjelaskan, sebagai pe­ rusahaan yang bergerak di bidang jasa pelayanan penerbangan, maka Kalstar Aviation sangat memahami penting­ nya kualitas pelayanan kepada “tamu­ nya”, tanpa terkecuali tanpa meman­ dang status. Prioritas seperti ini pada dasarnya selaras, serasi dan seimbang dengan citra perusahaan, yaitu selalu menempatkan “tamu” sebagai pusat perhatian. Untuk itu, demi menempatkan pe­ rusahaan di kancah persaingan bisnis penerbangan dan pelayanan “tamu yang dihormati”, maka Kalstar Avi­ ation berkomitmen menciptakan kon­ sep “Go For Kalimantan Beyond”. Kalstar optimis dengan pengenalan konsep “Go For Kalimantan Beyond”, perusahaan ini akan mempunyai ciri khas yang lain daripada yang lain, se­ hingga dapat meningkatkan citra Ka­ limantan, khususnya di Indonesia dan ke depan dapat merambah tingkat re­ gional, bahkan international. Muhammad Rifni menjelaskan, Kal­ star Aviation besar di Kalimantan. Se­ belum menggunakan pesawat Boeing, Kalstar eksis di bumi Borneo dengan pesawat ATR 42­300 dan telah men­ cakup semua daerah di Kalimantan. Jadi konsep ini tetap membawa Kali­ mantan, di mana Kalstar dapat mem­ bawa sentuhan “tamu” hingga berte­ mu dengan orang utan.

B

Muhammad rifni, Business and development Kalstar Aviation (KP). (Foto: Anto)

Menurut Rifni, Kalstar terbang ke Kalimantan, karena pihaknya me­ mang akan mengenalkan ke masyara­ kat luas Indonesia dan international bahwa masih banyak potensi Kali­ mantan yang belum dikelola. Hutan Kalimantan merupakan habitat alami bagi hewan, seperti orang utan, gajah borneo, badak borneo, landak, rusa, tapir dan beberapa spesies yang teran­ cam punah. Karena kekayaan alamnya, wilayah Kalimantan Indonesia merupakan sa­ lah satu dari enam koridor ekonomi yang dicanangkan pemerintah Repu­ blik Indonesia di mana Kalimantan ditetapkan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lum­ bung energi nasional di Indonesia. “Dengan demikian dengan Kalstar Aviation ke Kalimantan, maka orang akan mengenal Kalimantan lebih da­ lam, bukan dari cerita saja atau dari media cetak, bahkan elektronik se­ perti televisi dan internet. Dengan demikian investor­investor menjadi lebih fokus dan tertarik menanamkan modal untuk pengembangan potensi daerah di Kalimantan,” jelas Rifni. Tahun 2011 merupakan tahun in­ vestasi baru bagi maskapai dengan tagline “fly smart with us” ini. Hal ter­ sebut ditandai dengan penambahan armada, pembukaan rute baru, dan peningkatan brand image melalui penerapan konsep layanan Go For Kalimantan Beyond.

26

b isnis & ekOnOmi
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Citilink New Livery Boeing 737-300. (Foto: Tom)

Tiket Pesawat Online Terus Diminati
Pesan tiket pesawat secara online bukan lagi hal yang baru. Dengan terus berinovasi dalam transaksi tiket secara online ini, belum lama ini terjalin kerjasama antara Citilink dengan Permata Bank.

K

ERJASAMA itu juga didu­ kung PT Jati Piranti Solu­ sindo (Jatis Group) yang bertindak sebagai switching company atau perusahaan IT yang membangun sistem pada Citilink untuk transaksi secara online. Penandatanganan kerjasama terse­ but Agustus lalu berlangsung di Jakarta. Pihak yang menandatangani kerjasama itu adalah Direktur Keuan­ gan Garuda yang juga Vice President Citilink Elisa Lumbantoruan, Direk­ tur Retail Banking Permata Bank Lauren Sulistiawati dan CE0 Jatis Group Jusuf Sjariffudin. Menurut Elisa, sistem itu dibuat merupakan salah satu cara men­ capai simplicity pelayanan untuk penerbangan Low Cost Carrier (LCC) Citilink dengan inovasi untuk kemajuan melalui connectivity inter­ net serta electronic payment. Melalui kerjasama tersebut calon penumpang dan agen Citilink dapat melakukan pembayaran tiket secara langsung dan seketika (online real time) melalui 640 ATM Permata, juga melalui Permata Mini ATM (EMA), PermataNet dan PermataMobile. Selain itu transaksi juga dapat mela­ lui lebih dari 37.000 jaringan ATM Bersama, ATM Prima, ALTO, ATM VisaPlus, Visa Electron dan MC. “Kita sudah launch sejak 19 Juni, dan perkembangannya cukup pesat, sekitar 150 transaksi telah dilakukan” kata Lauren. Ini adalah inovasi terbaru Garuda untuk unit usaha Citilink dalam hal pembayaran secara online sebagai alternatif cara pembayaran. Selama ini pembayaran secara online sudah dapat dilakukan menggunakan kartu kredit serta internet banking. Sebagai bagian dari program pe­ remajaan armada yang dilaksanakan

mulai bulan Agustus lalu, Citilink mendatangkan lima pesawat A320 baru secara berturut­turut setiap bulannya dengan security deposit (jaminan pendatangan pesawat) setiap pesawat sebesar US$ 750.000. Garuda sendiri terus berupaya memberikan servis sebaik mungkin kepada para pelanggannya. Dalam su­ asana Lebaran tempo hari misalnya, Garuda menambah 99 extra flight dengan rute­rute Jakarta­Denpasar (36 flight) Jakarta-Singapura (30 flight), Jakarta-Padang (17 flight) Jakarta-Yogyakarta (8 flight) serta Denpasar-Surabaya (8 flight). Jumlah tambahan seat yang disiap­ kan melalui penerbangan ekstra ter­ sebut adalah sebanyak 24.930 kursi. Penambahan dilakukan di samping peningkatan seat dari penerbangan regular pada mudik Lebaran H­7 dan H+7 yang telah meningkat sebanyak 176.442 kursi dibanding periode sama tahun 2010. Hitung­hitung pada Lebaran lalu, Garuda menambah 25 persen dari kapasitas seat yang ada. Total seat yang ditambah meningkat 176.442 seat dibandingkan tahun lalu. Menurut Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar, pada Juli lalu Garuda berhasil membukukan laba operasi Rp 466 miliar serta laba bersih sebe­ sar Rp 320 miliar. Laba usaha Garuda pada Juli tahun 2011 meningkat se­ besar 42,6 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 188,4 mi­ liar. Hingga bulan Juli 2011 Garuda membukukan keuntungan bersih se­ besar Rp 133,4 miliar. Selain itu pada Juli 2011 lalu Garuda meraih revenue sebesar Rp 2,45 triliun, meningkat 40 persen dibanding periode yang sama sebesar Rp 1,74 triliun.(Dni)

SQ Tambah Frekuensi Penerbangan

S

Singapore Airlines Boeing 777-300er. (Foto: Tom)

INGAPORE Airlines (SIA) resmi menambah frekuensi pe­ nerbangan rute Singapura­Ja­ karta menjadi 8 kali sehari, terhitung mulai Kamis 15 September 2011. Jadwal penerbangan tambahan ini akan membuat para pelanggan memi­ liki lebih banyak pilihan saat melaku­ kan perjalanan rute Singapura­Jakarta. Singapore Airlines juga memperkenal­ kan kabin baru pesawat Boeing 777­ 300R untuk rute Singapura­Jakarta dengan nomor penerbangan SQ952/ SQ955 dan SQ956/SQ957. Boeing 777­300ER dengan kabin baru itu memiliki konfigurasi tiga kelas, yakni kelas utama (first class) yang terdiri dari delapan kursi, kelas bisnis (business class) sebanyak 50 kursi, dan kelas ekonomi (economy class) sebanyak 226 kursi. Total penerbangan yang dioperasi­ kan SQ sampai saat ini adalah 77 penerbangan mingguan ke Indonesia. Dengan tambahan jadwal penerbang­

an ini, para pelanggan akan memi­ liki lebih banyak pilihan saat mereka melakukan perjalanan pada rute Sin­ gapura­Jakarta. Selain itu, penambah­ an ini juga akan menyediakan lebih banyak pilihan koneksi di Singapura untuk penerbangan domestik Indo­ nesia. SilkAir, anak perusahaan Singapore Airlines, juga mengoperasikan 53 penerbangan per minggu ke delapan destinasi atau kota di Indonesia, yaitu Balikpapan, Lombok, Manado, Me­ dan, Palembang, Solo, Pekanbaru, dan Surabaya. Mulai tanggal 11 Oktober 2011, Silk Air akan membuka rute penerbangan baru Singapura­Bandung dan rute sebaliknya tiga kali dalam seming­ gu. “Kami mengoperasikan pesawat dengan seat yang lebih nyaman. Baik untuk first class, business class, maupun economy class,” kata David Lau, pejabat SQ di Jakarta. (Dnn)

AVIASI

b isnis & ekOnOmi
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

27

Setelah Berlebaran,

Giliran Siap Berhaji

Lamanya sebuah penerbangan akan membuat jenuh para penumpang. Ini pula yang akan dirasakan calon jamaah yang baru pertama kali melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.

Garuda Indonesia Boeing 747 yang akan menerbangkan jamaah haji di Bandar udara Soekarno-Hatta. (Foto: Anto)

UKAN tidak mungkin banyak jemaah haji yang berhaji ke Arab sekaligus merupakan pengalaman pertama ke luar negeri, pengalaman pertama lama mening­ galkan keluarga, bahkan pengalaman pertama naik pesawat terbang. Perjalanan dengan pesawat ke Tanah Suci membutuhkan waktu cukup lama. Jika lancar, sekitar sem­ bilan jam dari Jakarta. Untuk jamaah gelombang pertama, tidak semua penerbangan langsung ke Madinah. Jemaah dari embarkasi Jakarta dan Medan akan langsung mendarat di bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis (MED) Madinah. Embarkasi lainnya akan mendarat di bandara King Abdul Azis Jeddah (JED), lalu melanjutkan perjalanan darat yang ditempuh dalam waktu 4­5 jam. Untuk gelombang kedua, semua mendarat di JED, kemudian menuju Mekkah. Pesawat yang digunakan untuk penerbangan haji adalah pesawat berbadan lebar, mulai dari A330 yang berkapasitas 325 kursi hingga B747 yang berkapasitas 455 kursi. Sebagian jemaah diangkut oleh Garuda Indo­ nesia (GA) dan sebagian lain oleh Saudi Arabian Airlines (SV). Semua penerbangan dengan Saudi Arabian Airlines untuk gelombang pertama akan langsung mendarat di Madinah. Sebagian pesawat ada juga

B

yang transit di Abu Dhabi (AUH) atau Dubai (DXB). Di sini pesawat transit selama beberapa jam untuk mengisi bahan bakar. Sejumlah jemaah ONH Plus bahkan harus menginap semalam di Dubai, baik berangkat maupun pulang. Berikut informasi yang perlu dike­ tahui para calon jemaah: 1. Sebelum berangkat, jemaah hen­ daknya sudah tahu di mana pesa­ wat akan mendarat atau transit. Bagi jemaah gelombang kedua, atau ONH Plus yang langsung menuju Mekkah, kain ihram wajib dimasukkan ke dalam tas tentengan. Jangan masukkan ke dalam koper besar karena ih­ ram sudah harus dipakai ketika pesawat melewati miqat (sekitar Yalamlam). Biasanya satu jam sebelum sampai batas miqat, awak pesawat mengumumkan agar calon jamaah haji memper­ siapkan diri untuk berihram. 2. Banyak pula jamaah haji gelom­ bang kedua sudah memakai kain ihramnya saat masih berada di bandara embarkasi. Ini baik dilakukan untuk menghindari kesulitan berganti pakaian di atas pesawat. 3. Bagi jemaah yang transit, kain ihram bisa dipakai dari hotel bila menginap, atau di bandara bila tak menginap. Namun ada

pula jemaah yang baru memakai keran warna merah untuk air pakaian ihramnya setelah men­ panas. Untuk menyiram kotoran darat di bandara KAA Jeddah. di lubang kloset lakukan den­ Untuk jemaah gelombang perta­ gan menekan tombol bertanda ma, atau ONH Plus yang ke Ma­ flush. Untuk membuang air dari dinah dulu, pakaian ihram cukup bejana penampungan air ko­ disimpan di koper besar, karena tor tekan tombol di antara dua belum akan dipakai di perjalanan. keran. Kertas tisu yang tersedia 4. Jemaah yang kurang sehat, atau untuk membersikan sisa kotoran menderita sakit tertentu dian­ di anggota badan. Buang tisu ke jurkan untuk melapor kepada tempat yang telah disediakan. dokter rombongan. Bagi jemaah 6. Waktu yang panjang di pesawat yang dalam keadaan flu atau pilek bisa digunakan untuk beristi­ sebaiknya banyak mengunyah rahat, memantapkan tata cara permen saat mengudara atau ibadah haji atau memperbanyak mendarat. Keluhan yang sering zikir. Jika pegal jemaah bisa dialami jemaah yang sedang flu melakukan senam kecil dengan adalah rasa sakit yang sangat di jalan melepas sandal lalu mem­ kepala dan telinga. Pendengaran utar­mutar kaki ke kiri, kanan, pun jadi terganggu. Sebelum atas, dan bawah. Gerakan yang berangkat jemaah juga perlu sama juga bisa dilakukan ter­ mempelajari tata cara tayamum. hadap tangan dan kepala. Jumlah toilet di pesawat terbatas, 7. Terbang sekian jauh dan lama sementara pesawat penuh dengan tentu menimbulkan kesulitan, jemaah. Persediaan air pun terba­ terutama bagi yang belum pernah tas, tak mungkin jika semua ingin naik pesawat. Sebaiknya jemaah berwudhu dengan air. tak perlu sungkan­sungkan untuk 5. Jika menggunakan toilet pintu meminta tolong atau bertanya dibuka dari luar dengan cara kepada awak kabin jika menemui mendorong. Sedangkan dari kesulitan. Sejumlah penerbangan dalam dibuka dengan cara me­ terutama Garuda menyediakan narik. Mengunci pintu dilakukan pramugari yang bisa berbahasa dengan cara menggeser kunci daerah sesuai dengan asal je­ ke arah kiri. Untuk mengguna­ maah. Dengan begitu jemaah kan air dingin tekan keran air yang tak bisa berbahasa Indone­ bertanda warna biru. Sedangkan sia tetap bisa berkomunikasi.(*)

28

c akrawala
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Kesehatan

Melindungi Bola Mata Penerbang
Dr Wendri Wildiartoni Pattiawira Pelupessy, OHP, AME Praktisi Kesehatan Kerja & Kesehatan Dirgantara

Saat ini telah terjadi peningkatan sebesar 30% mengenai pembatasan terhadap kondisi penglihatan pada para penerbang sipil

AMPAK umum yang terjadi pada proses pertambahan usia adalah peningkatan prevalensi gangguan penglihatan. Saat ini telah terjadi peningkatan sebesar 30% mengenai pembatasan terhadap kondisi penglihatan pada para pe­ nerbang sipil sejak tahun 1976 hingga tahun 1996. Untuk penerbang sipil, rekomen­ dasi jenis alat Bantu penglihatan se­ ringkali ditentukan dari jenis kegiatan penerbangan yang dilakukan. Bebera­ pa contoh berikut adalah: • Penerbang pesawat akrobatik dianjurkan untuk menggunakan kontak lensa lembut. • Operator pesawat pertanian da­ pat terpapar pestisida berbahaya. Lensa kontak lembut yang dapat menyerap bahan kimia ke dalam matriksnya menjadi kontrain­ dikasi dalam penggunaannya. Pelindung mata yang memadai direkomendasikan untuk opera­ tor tersebut. • Peralatan pelindung mata hen­ daknya direkomendasikan untuk seluruh penerbang monocular di mana mereka dapat mengalami trauma bola mata akibat benda yang beterbangan dalam kokpit saat turbulensi atau manuver ak­ robatik. • Penggunaan lensa kontak “Mon­ ovision” tidak direkomendasikan untuk penerbangan karena dapat mengurangi lapang pandang penglihatan. Penerbang dengan penyakit Presbiopia (mata tua)

D

Kompleksitas instrumentasi di kokpit dan kewaspadaan terhadap lalu lintas penerbangan membutuhkan kesehatan mata pilot yang prima. (Foto: Tom)

yang menggunakan lensa kontak harus disesuaikan dengan lensa untuk penglihatan jauh dan juga diresepkan kacamata untuk peng­ lihatan dekat. Lensa kontak berwarna trans­ lusen atau opak dapat mempeng­ aruhi penglihatan tepi seorang pilot, khususnya saat sore dan malam hari dan dianjurkan untuk tidak dipergunakan. Seorang pilot seringkali terpapar dengan pantulan cahaya dalam penerbangannya dan penggunaan alat pelindung pantulan cahaya sangat direkomendasikan. Kacamata polarisasi menghasil­ kan sensasi guratan pada plastik atau kaca pesawat yang me­ ngakibatkan terjadinya distorsi dan kelelahan penglihatan. Sisi pelipis dari bingkai kacamata tebal dapat merobek segel makser oksigen dan mengganggu alat komunikasi. Bingkai kacamata ka­ wat yang tebal dapat mempeng­ aruhi lapang tepi penglihatan. Posisi duduk memiliki pengaruh dominan pada ketinggian kaca­ mata ganda. Sangat disarankan untuk mengatur ketinggian kaca­ mata ganda tersebut agar seorang pilot dapat melihat instrumen panel kokpit di hadapannya tanpa terganggu dengan lensa pengliha­ tan jarak jauh. Untuk menetapkan posisi kacamata yang tepat, se­ orang pilot hendaknya menandai ketinggian lensanya dengan pensil lilin saat duduk di dalam kokpit.

Seorang pilot dengan presbiopia yang menerbangkan berbagai tipe pesawat memerlukan pengaturan kacamata yang berbeda untuk setiap jenis pesawat. Kacamata ganda ukuran kecil (ST­25) diperkenankan untuk penglihatan tepi jarak jauh di sekitar kacamata ganda tersebut. Namun untuk pesawat canggih dengan yang susunan instrumen yang lebih luas, penggunaan kaca­ mata ganda tipe lebar (executive bifocal) dapat dianjurkan. Untuk pilot penderita presbiopia yang memandang instrumen kok­ pit di atas lapang penglihatannya, lensa khusus direkomendasikan seperti Varilux “Overview” atau double “D” segment lens. Jenis double “D” segment dengan pemisah standar (13 mm) antar segmen dapat menurunkan lapang penglihatan sang pener­ bang. Namun lensa khusus deng­ an pemisah yang lebih lebar (20 mm) dapat memberikan solusi yang praktis. Sebagian besar pilot mengatur posisi duduk mereka ke arah depan saat lepas landas dan mendarat dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan peng­ lihatan luar. Dalam penerbangan, para penerbang seringkali me­ mindahkan kursinya ke arah bela­ kang untuk memberi kenyaman­ an kepada punggung dan kedua tungkai. Oleh karena itu, posisi pilot akan berada kurang lebih 30

inchi dari panel instrumen dan berada 20­36 inchi dari papan navigasi. Lensa untuk penglihatan dekat dan penglihatan menengah hendaknya dipertimbangkan saat penulisan resep bagi para pilot ini. Perubahan jenis lensa akan me­ mengaruhi penglihatan tepi dan kedalaman persepsi penglihatan. Seorang penerbang hendaknya diberitahukan bahwa lensa baru dapat mengaburkan pandangan dan menghilangkan titik­titik penglihatan (misalkan lapang pandang akan tampak miring, ob­ jek terlihat lebih besar atau lebih kecil dari ukuran seharusnya) saat melakukan manuver penerbang­ an. Lampu berwarna merah pada kokpit harus dihindari karena dapat mengurangi kemampuan akomodasi lensa dan menyebab­ kan papan dan peta navigasi tidak dapat dibaca. (*)

Dr. Pelupessy and Associates memberikan layanan Medical Escort/Evacuation untuk pasien rujukan/repatriasi domestik maupun internasional dengan pesawat komersial/pribadi, Medical Home Care, Home Sampling, Klinik Imunisasi Anak-Dewasa, Klinik Stop Merokok, dan Konseling Kesehatan Keluarga. Silakan menghubungi kami via telepon di +6281322701326 / +6285222291818 atau via BlackBerry Messenger di 23095FCF / 20FFC6C0.

AVIASI

w isaTa nusanTara
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

29

Pesona Pasar Terapung di Bumi Kalimantan
Tak salah jika Banjarmasin, Kalimantan Selatan dijuluki Kota Seribu Sungai. Di sana kita dapat menyaksikan langsung aktivitas jual beli di Pasar Terapung.
ATUSAN sungai menjadi jalur transportasi penting hingga sekarang. Tempat wisa­ ta pun bertumpu pada sungai, seperti pasar terapung Muara Kuin. Saat matahari terbit, kunjungilah pasar ini. Pantulan cahaya pagi hari menghiasi di antara transaksi sayur­mayur dan hasil kebun dari kampung­kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak­anak sungainya. Banjarmasin yang dijuluki kota seribu sungai ini merupakan sebuah kota kepulauan, sebab terdiri dari sedikitnya 25 buah pulau kecil (delta) yang merupakan bagian­bagian kota yang dipisahkan oleh sungai­sungai, di antaranya pulau Tatas, pulau Ke­ layan, pulau Rantauan Keliling, pulau Insan dan lain­lain. Yang menjadi daya pikat tersendiri bagi Banjarmasin adalah pasar tera­ pung, pasar yang merupakan tempat di mana Anda akan menyaksikan atau beraktivitas langsung di pasar sungai menggunakan perahu. Pasar terapung ini berlokasi di Ban­ jarmasin tepatnya di persimpangan Sungai Kuin dan Sungai Barito. Pasar terapung di Banjarmasin merupakan refleksi budaya orang Banjar yang te­ lah berlangsung sejak dulu kala. Dinas Pariwisata Kalimantan Se­ latan dan Dinas Kebudayaan Pari­ wisata Pemuda dan Olahraga Kota Banjarmasin menggelar Festival Pasar Terapung pada 25­28 September lalu di Jalan Sudirman dan Sungai Mar­ tapura, Kota Banjarmasin. Festival tersebut bertepatan dengan Hari Jadi Kota Banjarmasin ke 485. Di Festival Budaya Pasar Terapung terdapat puluhan, bahkan ratusan pedagang Pasar Terapung di Sungai Martapura, tepatnya di depan Kan­ tor Gubernur Kalsel. Kita juga dapat

R

menikmati panorama pasar terapung beserta kehidupan masyarakatnya yang tinggal di sepanjang tepian su­ ngai dengan suasana pedesaan khas Banjar. Rasakan suasana jual beli di atas sungai khas pasar terapung dan berinteraksi dengan para penjualnya. Festival Pasar Terapung dimeriah­ kan berbagai kegiatan seperti parade jongkong hias, pameran kerajinan suku Banjar, lomba balap perahu, fes­ tival kuliner Kalimantan, serta lomba foto kampung Banjar tempo dulu. Pasar Terapung Muara Kuin meru­ pakan salah satu pasar terapung di Banjarmasin yang masih bertahan. Pamor pasar terapung ini sempat merosot karena kehadiran jalanan di Banjarmasin, Banjar, dan Barito Kuala. Pedagang lebih memilih me­ naiki sepeda atau motor untuk ber­ dagang. Mereka juga lebih memilih membeli langsung di pasar induk daripada mendatangi pasar terapung. Keistimewaan di pasar ini adalah masih seringnya terjadi transaksi bar­ ter di antara para pedagang berperahu yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk. Para pedagang wanita (dukuh) yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Jika berkunjung ke pasar ini, Anda juga dapat menyaksikan lebih dari 250 jukung (perahu kayu kecil). Se­ hari­hari perahu tersebut digunakan pedagang pasar terapung di Sungai Barito dan Lok Baintan Sungai Mar­ tapura. Selain itu, ada pula puluhan kapal wisata dan kapal tanglung memadati Sungai Martapura. Saat malam menjelang Anda juga akan menyaksikan keindahan perahu hias dan tanglong.

Festival Pasar Terapung menampil­ kan aneka budaya dan eksotisme pasar terapung yang unik. Setiap ta­ hunnya festival ini mampu menyedot

puluhan ribu warga dari berbagai penjuru kota, termasuk wisatawan luar daerah dan mancanegara.(Dnn)

Suasana Festival Pasar Terapung dalam rangka HuT Banjarmasin ke 485. (Foto: Internet)

30

e VenT
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

BIFA Kembali Pasok Pilot untuk Garuda
pilot pertahunnya, Garuda Indonesia bekerjasama dengan BIFA dan STPI Curug. BIFA telah berhasil mendidik sebanyak empat angkatan dengan jumlah sekitar 100 pilot di mana ang­ katan pertama diterima Garuda pada Maret 2010. Para pilot angkatan pertama dan kedua telah bekerja menerbangkan pesawat­pesawat Garuda sebagai First Officer (FO), sementara angkatan ketiga masih menjalani pendidikan typerating di “Garuda Indonesia Training Center (GITC)”. Saat ini sebanyak 75 siswa pilot Garuda yang terbagi dalam tiga angkatan (angkatan 5, 6, 7) sedang menjalani pendidikan di BIFA. Pilot­pilot yang baru tamat tersebut nantinya akan menggantikan posisi pilot­pilot asing yang direkrut Garuda selama setahun dalam periode brid­ ging menunggu para calon pilot sele­ sai pendidikan. Para pilot asing yang bekerja di Garuda saat ini berjumlah sebanyak 34 orang dan akan selesai kontraknya hingga akhir tahun 2011 ini. Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar mengatakan bahwa kerjasama dengan BIFA ini sangat membantu pencapaian program eks­ pansi Garuda Indonesia khususnya dalam pemenuhan kebutuhan akan para penerbang. “Saat ini Garuda Indonesia sedang mendidik sekitar 200 para penerbang pada berbagai sekolah penerbang di Indonesia un­ tuk memenuhi kebutuhan akan pilot dalam masa bridging hingga akhir tahun,” kata Emir. Chairman BIFA, Robby Djohan mengatakan bahwa kerjasama pelatih­ an para penerbang dengan Garuda Indonesia telah berjalan kurang lebih selama dua tahun dan telah menghasilkan kurang lebih 100 pilot. “Kami dari BIFA sangat bangga telah menjadi bagian dari program trans­ formasi Garuda Indonesia, khususnya dalam mendukung Garuda Indonesia dalam merealisasikan visinya menjadi menjadi perusahaan penerbangan yang semakin kompetitif melalui pro­ gram qyantum leap,” tambah Robby Djohan. BIFA merupakan sekolah pe­ nerbang berstandar internasional yang menawarkan pendidikan untuk berkarir di bidang industry aviasi sebagai penerbang. Melalui program pendidikan di BIFA para murid berkesempatan untuk mendapatkan sertifikat Commercial Pilot License (CPL) dengan standar tinggi. (*)

ARUDA Indonesia kembali menerima 23 pilot dari seko­ lah penerbang Bali Interna­ tional Flight Academy (BIFA) untuk memenuhi kebutuhan pilot sejalan dengan mulai tibanya pesawat­pe­ sawat baru Garuda. Pilot ­ pilot yang baru diwisuda tersebut merupakan pilot Garuda angkatan keempat yang mendapatkan pendidikan di BIFA. Acara wisuda dan penyerahan para pilot tersebut dilakukan oleh Robby Djohan, Chair­ man BIFA kepada Emirsyah Satar, Direktur Utama Garuda Indonesia, di Financial Hall, Graha Niaga, Jakarta.

G

Garuda Indonesia Boeing 747 dan Boeing 737-800NG. (Foto: Tom)

Seluruh pilot angkatan keempat tersebut telah siap bergabung dengan Garuda Indonesia setelah menempuh waktu pendidikan serta pelatihan penerbangan selama satu tahun un­ tuk meraih sertifikasi Private Pilot Licence (PPL), Commercial Pilot License (CPL) dan Instrument Rat­ ing. Selanjutnya mereka akan menda­ patkan pendidikan lanjutan selama enam bulan lagi untuk mendapatkan pendidikan typerating agar qualified dalam menerbangkan jenis pesawat yang akan mereka terbangi nantinya. Untuk mengisi kebutuhan akan 200

Melukis Pesawat Pengundang Minat
sepak bola kesayangan. Gam­ barnya pun sangat cerah serta terang menjadikannya lebih jelas dipandang mata dari ke­ jauhan maupun ketinggian. Salah satu hal yang dilaku­ kan maskapai untuk me­ narik perhatian para calon penumpang dalam memilih maskapai adalah berhias diri dengan mengubah cat dan penampilan pesawat yang bi­ asanya standar atau konven­ sional menjadi sangat eksotik serta trendi disesuaikan seg­ mentasi pasar yang mereka bidik. (Dnn)

J

IKA Anda bepergian bersama dengan anak­ anak Anda, dipastikan anak­anak Anda akan ber­ sukacita naik pesawat yang berhiaskan gambar­gambar kartun seperti foto­foto di halaman ini. Selama ini jarang ada pesa­

wat bergambar kartun. Yang ada hanya logo maskapai atau tagline saat sebuah negara tempat di mana maskapai tersebut berada sedang melakukan promosi wisata, seperti “Visit Indonesia Year.” Kini banyak maskapai pe­

nerbangan dunia memiliki trik tersendiri untuk menarik dan menjadikan pelanggan­ nya merasa nyaman dalam penerbangan, di antaranya memasang gambar para se­ lebriti, atau tokoh kartun. Bahkan ada pula maskapai yang memasang para atlet

AVIASI

e VenT
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

31

STPI Kembali Lahirkan SDM Andal
SELAMAT Segenap civitas akademika Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah diwisuda oleh Menteri Perhubungan RI Bapak Freddy Numberi pada Kamis tanggal 22 September 2011

S

EKOLAH Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug kembali menghasilkan praktisi­praktisi andal profesional di dunia dirgantara. Para lulusan pendidikan dirgantara itu pada 22 September lalu diwisuda da­ lam sebuah upacara. Sejak itu maka para wisudawan su­ dah benar­benar siap menggeluti dunia penerbangan yang penuh dengan tan­ tangan sekaligus peluang. Selama ini STPI Curug dikenal sebagai lembaga pendidikan yang telah menghasilkan SDM andal dan profesional di dunia kedirgantaraan, terutama pilot. STPI merupakan salah satu per­ guruan tinggi kedinasan yang berada di bawah Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. STPI Curug ter­

letak di Kecamatan Legok Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. STPI Curug memiliki tugas dan fungsi mendidik putra putri terbaik bangsa Indonesia untuk menjadi sumber daya manusia perhubungan yang ahli dan terampil di bidang pe­ nerbangan, yang diakui secara nasion­ al maupun internasional. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya STPI Curug memiliki 4 (empat) jurusan pendidikan, yaitu Jurusan Penerbang, Jurusan Teknik Penerbangan, Jurusan Keselamatan Penerbangan dan Jurusan Manajemen Penerbangan. Setiap jurusan pendidik­ an terbagi dalam beberapa program studi sesuai dengan minat dan bakat peserta pendidikan dan pelatihan.

Kurikulum dan silabus pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh STPI Curug mangacu pada standar nasional (Kementerian Pendidikan Nasional RI) dan internasional (In­ ternational Civil Aviation Organiza­ tion = ICAO), sehingga setiap lulusan STPI Curug mampu untuk bersaing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Program diklat yang dilaksanakan oleh Sekolah Tinggi Penerbangan In­ donesia adalah program pendidikan profesional, yaitu memberikan kesiap­ an penerapan keahlian profesional dalam bidang yang berkaitan dengan penerbangan. Dalam melaksana­ kan program diklat tersebut, STPI di bawah Kementerian Pendidikan Na­

sional sebagai pembina akademik dan Kementerian Perhubungan sebagai pembina teknis fungsional. Lulusan STPI kesemuanya telah terserap di berbagai sektor khusus­ nya penerbangan, baik di perusahaan penerbangan Indonesia Garuda Indo­ nesia, Lion, Batavia dan maskapai luar negeri, perusahaan BUMN seperti PT Persero Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II, sebagai Auditor dan Inspek­ tor di Kementerian Perhubungan RI, serta perusahaan penerbangan lain­ nya. Untuk Informasi lebih lanjut, sila­ kan buka websitenya di www.stpicu­ rug.ac.id. (*)

Visi
Menghasilkan lulusan yang diakui secara nasional dan internasional untuk menuju pusat keunggulan (Centre of Excellence) yang berstandar internasional

Misi
Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan serta penelitian teknologi terapan di bidang penerbangan dalam rangka mencerdaskan bangsa dengan menciptakan sumber daya manusia penerbangan yang memiliki iman dan taqwa, berkualitas internasional, mampu, bersaing, mandiri dan profesional

Tujuan
Membentuk manusia penerbangan Indonesia yang ahli dan terampil dalam bidangnya, memiliki sikap sesuai Lima Citra Manusia Perhubungan, memiliki jiwa korsa yang tinggi, berbudi pekerti luhur, memiliki kesadaran bertanggungjawab dalam pengembangan dunia penerbangan dan mewujudkan keselamatan penerbangan serta siap memangku jabatan negara atau jabatan dalam organisasi penerbangan

32

e VenT
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Ajang Dirgantara Akbar Digelar
rought river Fly-in dan Airshow dengan menghadirkan pesawat Canard. (Foto: dok. roughtriver.com)

Gelaran khusus yang sengaja dihadirkan penyelenggara di Georgia, sebagai bentuk kepedulian pada dunia penerbangan.

VENT ini merupakan acara khusus yang sebgaja diha­ dirkan oleh penyelenggara di Georgia, sebagai bentuk kepedulian tentang terbang atau menerbang­ kan pesawat. Acara ini juga digelar sekaligus untuk para pencinta dunia dirgantara untuk menikmati akhir pe­ kan dengan kegiatan penerbangan di Thomasville, Georgia. Thomasville Airshow ini diadakan oleh Thomasville Aviation Club sejak tahun 1975. Kegiatan kedirgantaraan tersebut mencakup atraksi udara, drop candy, kontes spot landing, naik pesawat terbang statis, dan pameran mesin antik untuk menambah koleksi memorabilia udara. Tahun ini Thomasville menggelar dengan dua pesawat Lockheed 12A mirip dengan pesawat Amelia Ear­ hart saat hilang pada tahun 1937. Joe Shepherd yang bakal mengemudikan jenis Lockheed 12A ini seperti yang dimainkan dalam film “Amelia”. Penggemar penerbangan khusus acara 44 tahun Thomasville Fly­In ini berasal dari Georgia, Florida, dan Alabama yang tahun­tahun sebelum­ nya menghadiri acara ini baik sebagai praktisi penerbangan maupun pehobi dunia penerbangan. Thomasville Aviation Club Presi­ dent Irv NeSmith mengatakan tujuan acara ini adalah untuk membawa pecinta pesawat dan penerbangan bersama­sama, tidak peduli di mana mereka tinggal, dan dari mana asal­

E

nya dan apa profesinya, karena dunia penerbangan ini menarik dan tidak membosankan. Salah satu peserta yang antusias untuk mengikuti acara ini adalah pilot Merle Lilly asal Florida. Dia menga­ takan sangat tertarik denan Thomas­ ville ini, karena “Banyak pesawat ter­ bang, mereka memiliki model­model yang unik yang sudah dimodifikasi, apalagi untuk tahun ini cuaca yang sangat bagus dan bersahabat, sehing­ ga akan lebih banyak lagi pendatang yang tampil dalam acara ini. Panitia pergelaran itu beralamat di sini: THOMASVILLE AVIATION CLUB Thomasville AVIATION CLUB Irv NeSmith, President Irv Nesmith, Presiden 1 A. Sherrod Road 1 A. Sherrod Jalan Coolidge, GA. Coolidge, GA. 31738 31738

Spektakuler

Selain Thomasville, kegiatan serupa juga digelar di Kentucky. Sebuah atraksi penerbangan yang spektakuler dan penuh tantangan akan berlang­ sung dalam acara Canard Fly­In di Sungai Rough State Park di Kentucky. Pertemuan dunia penerbangan ini dianggap sebagai pertemuan terbesar pesawat Canard di dunia. Tahun ini ada sekitar 68 pesawat dan lebih dari 165 pengunjung termasuk beberapa utusan khusus dari negara lain di pe­ kan Canard Fly­in yang diterbangkan

langsung dari New Mexico. Selain itu peserta non­penerbang yang datang paling jauh berasal dari Australia. Canard Fly­In merupakan salah satu usaha Asosiasi Amerika Tengah yang paling sukses di Air Terjun Rough State Park di Kentucky setiap musim gugur. Rough Canard Fly­In telah menjadi acara tahunan sejak 1986. Central America Association adalah organisasi pembangunan dan persa­ tuan dari jenis pesawat di Amerika, bahkan hingga seluruh dunia, salah satunya adalah komunitas pesawat Canard. Sampai sejauh ini Rough River Canard Fly­In memiliki anggota sangat banyak, termasuk sekitar 1.000 penggemar Canard. Untuk perencanaan, organisasi, dan hosting

ditangani oleh Sam, Phila Chambers, Dave dan Betsy Russell. Mereka telah melakukan pekerjaan yang benar­ benar indah untuk menciptakan dan mengumpulkan penggemar pesawat Canard. Bonanzas dari Michigan mengata­ kan, ”beberapa teman kami datang menemui kami dan menceritakan pengalaman terbang dengan pesawat Canard di tahun sebelumnya.” Canard Fly­in mengundang secara terbuka bagi siapa pun yang punya hoby dengan dunia penerbangan, khususnya pesawat Canard. Setahun sekali ajang ini digelar. Dalam event ini para pecinta dirgantara bisa saling tukar pesawat, bahkan hingga jual beli pesawat. (Dnn)

AVIASI

m ereka
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

33

Rusmala Putri

Sebel Jika Pesawat Delay
ENGGAPAI mimpi tidak selamanya mudah. Setidaknya itu­ lah yang dialami atau dirasakan Rusmala Pu­ tri, pramugari Merpati Nusantara Airlines. Profesi pramugari yang dibayangkannya adalah perempuan can­ tik yang bisa naik pesa­ wat dan terbang ke sana kemari mengelilingi nu­ santara. “Dengan bek­ erja sebagai awak kabin, saya bisa jalan­jalan mengunjungi seluruh daerah,” katanya.

M

Sambil bekerja, Mala – begitu panggilan akrab Rusmala ­­ berniat un­ tuk mengurangi beban orang tua. Oleh sebab itulah selepas SMA, Mala tidak melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, karena biayanya pasti tinggi. Mala pun memu­ tuskan untuk segera mandiri dan men­ jadi pramugari. Dia lalu sekolah ke FAA Ga­ ruda Indonesia Train­ ing Center angkatan 21. Lulus dari sekolah ini, dia mencoba untuk

melamar ke hampir se­ luruh maskapai, tapi be­ lum satu pun yang me­ manggilnya. Tapi Mala tak menyerah. Ia sabar menunggu. “Saya beru­ saha terus, dan Merpati yang akhirnya menerima saya,” paparnya. Gadis asal Denpasar ini masuk Merpati Nu­ santara tahun 2009. Se­ telah dua tahun? Menu­ rut dia, menjadi pra­ mugari itu lebih banyak sukanya daripada du­ kanya. “Saya mendapat pengalaman baru, tam­ bah banyak teman, buka

wawasan, terutama soal pengetahuan wilayah timur Indonesia.” Yang nggak enak, kata Mala, jauh dari keluarga dan “sebel jika kena delay he…he…he,” ka­ tanya. Namun sebagai se­ orang pramugari, “Saya memiliki komitmen untuk menjunjung tinggi pekerjaan sebagai seorang duta pener­ bangan, dengan mem­ berikan pelayanan yang terbaik dan meingkat­ kan mutu safety,” begitu tekad Mala. (Dnn)

Arief Angkasa Nurcahyo Kang Tangerang yang Jadi Pramugara
Membaca nama tengahnya, sosok pria yang satu ini cocok dengan pekerjaan yang digeluti sekarang, yaitu menjadi seorang pramugara. Rupanya sang ayah tidak sia-sia memberikan nama “Angkasa” di tengah Arief dan Nurcahyo.

S

ANG ayah adalah lulusan STPI Curug. Karenanya begitu Arief lahir, sang ayah sengaja menam­ bahkan “Angkasa”. Buah rupanya jatuh tidak jauh dari pohonnya. Arief meniti karier sebagai pramu­ gara sejak Juni 2010. Dia angkatan pertama pramugara di Lion Air. Sebelum memulai kariernya sebagai pramugara, Arief adalah staf CRO (Customer Relation Officer) selama

kurang lebih 1 tahun 8 bulan. Sebe­ lum kerja di CRO Lion Air, Arief juga pernah menjadi juara pertama pemilihan Kang dan Nong Kota Tangerang dan juara dua Kang dan Nong Provinsi Banten. Bekal ilmu pengetahuan pariwisata yang digelutinya dulu selama menjadi Kang Tangerang bisa menjadi bahan pertimbangan ketika ia mendaftar sebagai pramugara. Menjadi pramugara sendiri menu­ rut dia adalah pekerjaan yang penuh keikhlasan dan ibadah. Keikhlasan waktu bekerja yang tidak menentu, keikhlasan jauh dari keluarga, keikhlasan tidak dapat hadir dalam moment special. Tentang pekerjaannya sendiri, Arief merasa sangat enjoy bekerja di maskapai yang mempunyai logo singa ini. Ditemui AVIASI di waktu seng­ gangnya Arief mengaku cinta dengan pekerjaannya.

Pria kelahiran Tangerang 15 Mei 1990 ini saat ini mempunyai 3 rat­ ing, yaitu MD 80 Series, B 737­900 ER dan B 747–400. “Alhamdulilah Lion Air telah membawaku ter­ bang dari Sabang sampai Merauke dan yang paling berkesan adalah di saat mendapat jadwal terbang ke Jeddah, karena saya bisa mengeksplorasi kuliner yang ada di Jeddah dan alham­ dulilah bisa meng­ injakkan kaki di tanah suci,” ujarnya. (Lutfi)

34

p erisTiwa
edisi 40 Thn lV - Oktober 2011

AVIASI

Kelabu Penerbangan di September
tiwa yang terjadi Rabu 7 September 2011 itu sebagai masa tergelap dalam sejarah hoki es. Pesawat jet Yakovlev Yak­42 yang membawa tim hoki es Lokomotiv jatuh di sungai Volga, Rusia setelah lepas landas pada Rabu 7 September 2011. Pesawat penumpang Yakov­ lev 42, RA­42434 dengan rute Yaro­ slavl­Tunoshna Airport (IAR) (IAR/ UUDL), Russia tujuan Minsk­1 In­ ternational Airport (MHP) (MHP/ UMMM), Belarus, hancur ketika jatuh sekitar 2 km dari landasan pacu Ban­ dara Yaroslavl (IAR), Rusia. Kecelakaan tersebut menewaskan 43 orang termasuk 36 anggota tim hoki Lokomotiv dan 11 pemain serta pelatih asing. Dua orang selamat da­ lam keadaan terluka parah. Di Twit­ ter, warga Rusia saling bertukar pe­ san mengenai musibah yang ditandai sebagai hari berkabung untuk dunia hoki es tersebut. Sejumlah laporan menyebutkan pe­ sawat meledak tidak lama setelah lepas landas dari sebuah bandara di kota Yaroslav sekitar 250 km timur laut Moskow.
Pesawat jet Yakovlev Yak-42 yang jatuh di sungai Volga. (Foto: Internet)

Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat 9 September 2011 sekitar pukul 12.04 WITA, akibat mengalami pecah ban bagian kanan. Akibatnya, pihak Angkara Pura I menutup sementara Bandara El Tari II Kupang. Penutupan bandara itu juga menyebabkan pesawat Garuda dan Batavia Air dari Denpasar, Bali, ke Kupang harus kembali (diver) ke Bali. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. 5. Pesawat RENO Air Show Jatuh: Sebuah kecelakaan pesawat terjadi dalam pameran dirgantara di Reno, Nevada, Amerika Serikat, Kamis, 15 September 2011 waktu se­ tempat. Akibat kecelakaan tersebut, sembilan orang tewas dan 50 orang lainnya luka. Pesawat tersebut nyaris jatuh di lokasi yang terdapat banyak orang. Peristiwa nahas ini terjadi ketika pesawat P­51 Mustang yang dikenda­ likan Jimmy Leeward, 74 tahun, kehi­ langan kendali ketika sedang melaku­ kan atraksi. Jimmy kerap menjadi pilot pengganti (stunt pilot) dalam film-film Hollywood. Dia tewas di tempat ke­ jadian. Seperti yang dilansir dalam visi­ trenotahoe.com, juru bicara Dewan Keamanan Transportasi Nasional Terry Williams membantah penye­ lenggara acara bahwa tragedi ini ter­ jadi karena ada masalah mesin di pe­ sawat itu. Menurut dia, terlalu dini menyimpulkan kecelakaan ini. Dewan Keamanan Transportasi Nasional te­ ngah menyelidiki peristiwa ini. 6. Giliran di Virginia Barat: Pe­ taka udara kembali terjadi di Amerika Serikat. Sebuah pesawat mengalami kecelakaan dalam sebuah demonstrasi di Virginia Barat. Satu­satunya korban adalah sang pilot, yang tewas dalam insiden itu. Dilansir dari laman CNN pada Sab­ tu 17 September 2011, penyebab in­ siden yang terjadi pada sebuah atraksi udara tahunan itu masih belum jelas. Pilot yang nahas tersebut sedang me­ nerbangkan pesawat jenis T­28. Menurut seorang saksi mata ber­ nama Jennifer Clark yang mengambil foto­foto kejadian, pesawat tersebut menghempas tanah lalu terbakar, se­ hingga asap membumbung tinggi ke udara. “Kami melihat kilatan cahaya yang diikuti suara ledakan. Menakutkan sekali. Terdengar suara orang­orang yang terkejut, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Mereka hanya bisa diam dan menyaksikan apa yang terjadi,” ujarnya. Kecelakaan pesawat di West Vir­ ginia ini seolah menambah panjang rangkaian kecelakaan yang terjadi di Amerika Serikat. Sehari sebelumnya, terjadi sebuah kecelakaan pesawat di Reno, Nevada.(Dnn/Dni)

September tampaknya menjadi bulan kelabu bagi dunia penerbangan. Banyak kasus kecelakaan pesawat di belahan dunia, termasuk Indonesia.
EBIH dari 10 tahun lalu, masyarakat dunia tentunya masih ingat betul dengan ka­ sus kecelakaan pesawat yang sengaja ditabrakkan oleh teroris ke gedung/ menara kembar di New York, Amer­ ika Serikat yang menyebabkan ribuan orang tewas. Yang hancur bukan hanya pesawat, tapi juga gedung pencakar langit. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan Tragedi 11 September. Pada bulan September lalu, dari berbagai sumber, AVIASI mencatat sejumlah kecelakaan udara yang juga menimbulkan korban jiwa dalam jum­ lah yang tidak sedikit.

2. Delapan Tewas: Sebuah pesa­ wat Aerocon milik sebuah maska­ pai Bolivia 6 September lalu jatuh di negara itu. Delapan orang tewas da­ lam kecelakaan tersebut. Pesawat yang mengangkut 7 penumpang dan 2 kru itu menghilang dari radar usai lepas landas dari Kota Santa Cruz, Bolivia timur menuju Trinidad. Diperkirakan pesawat mengalami masalah saat ter­ bang melalui kabut asap tebal yang di­ akibatkan pembakaran hutan. Ajaib! Dalam peristiwa itu seorang 1. CASA AU Chili Jatuh: Pesawat penumpang ditemukan selamat be­ CASA 212 milik Angkatan Udara berapa hari kemudian. Untuk berta­ Chili jatuh di Pulau Robinson Crusoe han hidup, dia terpaksa meminum air di wilayah Pasifik saat mencoba untuk kencingnya sendiri. Pria berumur 38 tahun itu merupa­ mendarat, 3 September lalu. Kecela­ kaan ini menewaskan 21 orang. Belum kan satu­satunya korban yang selamat diketahui penyebab pasti kecelakaan dalam musibah tersebut. Dia ditemu­ pesawat tersebut. Namun diduga an­ kan tiga hari setelah kecelakaan pesa­ gin kencang berperan dalam musibah wat. Vidal ditemukan di tepi sungai seki­ tersebut. Menteri Pertahanan Chili Andres Allamand mengatakan, pesa­ tar 200 meter dari lokasi jatuhnya pe­ wat tersebut telah dua kali mencoba sawat di hutan Amazon. untuk mendarat sebelum kontak radio 3. Rusia Berduka: Masyarakat Ru­ terputus. Di antara penumpang terdapat pe­ sia dan dunia hoki es negara itu ber­ nyiar televisi terkenal Felipe Camiroa­ duka atas kematian 36 pemain dan kru ga dan juru kamera yang pergi untuk tim hoki Lokomotiv Yaroslavl dalam mengunjungi pulau Juan Fernandez. sebuah kecelakaan pesawat. Juara hoki Keduanya akan membuat program es dunia Rene Fasel menyebut peris­

L

tentang rekonstrusi di pulau itu sete­ lah dilanda gempa dan tsunami tahun lalu.

4. Susi Air: Pada Jumat 9 Septem­ ber, pesawat Susi Air jenis Caravan C 208 B pk­VVE juga jatuh di bumi Pap­ ua. Pesawat berangkat dari Wamena ke Kenyem wilayah Pegunungan Papua. Pesawat jatuh di Distrik Pasema Ka­ bupaten Yahukimo. Pesawat yang dipiloti Dave Cootes warga Australia dan Copilot, Thomas Munk, asal Salovakia jatuh saat meng­ angkut BBM dan sejumlah barang lainnya. Juru Bicara Polda Papua, Kombes Wachyono mengatakan, pesawat dari Wamena menuju Kenyam mengang­ kut BBM Solar dan barang campuran. “Ada empat drum solar dan sejumlah barang campuran lain yang diangkut, dan tidak ada penumpang. Total berat barang 1,159 kg,” katanya. Dugaan sementara, pesawat jatuh akibat cuaca. Harap maklum, sebab cuaca di Pegunungan Papua cukup ekstrem dan kerap berubah­ubah da­ lam hitungan menit. “Inilah kemung­ kinan penyebab kecelakaan,” papar Wachyono. Karena kondisi cuaca di lokasi jatuh­ nya pesawat juga cukup ekstrem, pros­ es evakuasi terhadap pilot dan cipilot saat itu belum bisa dilakukan. Semen­ tara pemilik Susi Air, Susi Pudjiastuti ketika dikonfirmasi membenarkan pesawatnya telah jatuh di Yahukimo. “Pesawat berangkat dari Wamena menuju Kenyam mengangkut sejum­ lah bahan pokok, dan kemudian jatuh di Pasema,karena cuaca yang saat itu cukup esktrem,” ujarnya. Menurut dia, kondisi pesawat saat ditemukan dari udara sudah hancur. Hari itu merupakan hari nahas buat Susi, sebab pesawat Susi Air dari Kisar, Maluku, dengan tujuan Kupang juga tergelincir di Bandara El Tari Kupang,

G

R

A

N

D

T

E

M

B

A

G

A

H

O

T

E

L

Breakfast, Restaurant, Meeting Room, Lounge, Live Music, Bectun, Karaoke, Internet Wi-Fi, Laundry, Parking

JL. Yos Sudarso No. 133 Timika-Papua, Tel : (0901) 321284, 322629 Fax : (0901) 322394, 321284

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->