Anda di halaman 1dari 2

CARA APLIKASI PUPUK NITROGEN DAN PENGARUHNYA PADA TANAMAN TEMBAKAU MADURA Heri Istiana1

embakau madura mempunyai mutu spesifik, sehingga dibutuhkan sebagai bahan rokok kretek oleh pabrik rokok. Adanya kepastian pasar mendorong petani tembakau madura untuk mengusahakannya secara terus-menerus setiap tahun. Kegiatan usaha tani tembakau madura dilakukan pada bulan April sampai Agustus pada lahan sawah, lahan tegal dataran rendah atau lahan tegal dataran tinggi (gunung). Luas areal pertanaman tembakau madura tiap tahun berubah sesuai dengan harga tembakau musim tanam sebelumnya (Mukani et al. 1992). Pada tahun 2000, areal tanam tembakau madura mencapai 60.499 ha dan harga tembakau berkisar antara Rp16.500-Rp22.500/kg. Pada tahun 2001, areal tanamnya meningkat menjadi 71.205 ha sementara harga Rp10.000-Rp23.000/kg, dan pada tahun 2002 luas areal 66.856 ha dan harga Rp10.000-Rp32.000/kg (Mukani et al. 2004). Salah satu komponen teknologi budi daya yang mempengaruhi produksi tembakau adalah pemupukan. Pemupukan merupakan kegiatan pemeliharaan tanaman yang bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah melalui penyediaan hara dalam tanah yang dibutuhkan oleh tanaman. Dalam pemupukan, hal penting yang perIu diperhatikan adalah efisiensi pemupukan. Beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi pemupukan adalah sifat tanah, kebutuhan tanaman, takaran pupuk, serta waktu dan cara pemupukan. Cara pemberian pupuk yang baik mencakup tiga hal, yaitu: (1) efisiensi pemupukan tinggi, (2) tidak menimbulkan kerusakan pada tanaman, dan (3) mudah dikerjakan (Balai Informasi Pertanian Jawa Timur 1986). Areal tanam tembakau madura berada pada berbagai tipe lahan dengan karakter tanah yang berbeda-beda. Agar pemupukan efektif dan efisien maka cara pemupukan harus disesuaikan dengan kondisi lahan, dengan teknologi spesifik lokasi, dan dapat memanfaatkan secara optimal sumber daya alam (Satari 1988 dalam Syam et al. 1989). Oleh karena itu, karakteristik lingkungan yang berbeda akan membutuhkan pengelolaan yang berbeda pula.

Selama kurun waktu 1984-1991, penelitian tembakau madura di lahan tegal dataran rendah, dataran tinggi, dan sawah menggunakan cara pemupukan nitrogen (N) yang sama, yaitu pupuk diberikan dengan ditugal pada umur 7 dan 21 hari setelah tanam (HST). Di sisi lain, petani mempunyai cara tersendiri dalam memberikan pupuk N dan cara ini belum banyak diperhatikan oleh peneliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara aplikasi dan takaran pupuk N (ZA) terhadap produksi rajangan kering tembakau madura.

BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Karangploso Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat pada bulan Juni sampai September 2004. Media yang digunakan adalah tanah yang dimasukkan ke dalam polybag. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor perlakuan dan diulang tiga kali. Faktor yang diuji meliputi cara aplikasi pupuk (tugal, siram, dan diletakkan tanpa tugal) dan takaran pupuk N dari ZA (200, 250, dan 300 kg/ha). Susunan perlakuan percobaan dapat dilihat pada Tabel 1. Pada perlakuan tugal dan diletakkan tanpa tugal, pupuk diberikan dua kali yaitu 1/2 takaran pada umur 7 HST dan 1/2 takaran pada umur 21 HST. Pada perlakuan siram, pupuk diberikan lima kali sejak tanaman berumur 7 HST dengan interval 7 hari.
Tabel 1. Susunan perlakuan percobaan cara aplikasi dan takaran pupuk nitrogen (ZA) terhadap produksi tembakau madura, Kebun Percobaan Karangploso, Balittas, Malang, 2004 Takaran pupuk ZA Cara pemupukan Tugal Tugal Tugal Siram Siram Siram Diletakkan tanpa tugal Diletakkan tanpa tugal Diletakkan tanpa tugal Per tanaman (g) 6,06 7,58 9,09 6,06 7,58 9,09 6,06 7,58 9,09 Per ha (kg) 200 250 300 200 250 300 200 250 300

Teknisi Litkayasa Pelaksana Lanjutan pada Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang 65152, Telp. (0341) 491447, Faks. (0341) 485121

66

Buletin Teknik Pertanian Vol. 12 No. 2, 2007

Bahan yang digunakan adalah tembakau madura varietas Jepon Kenek Hibrida N1, pupuk ZA, SP36, dan ZK. Pupuk dasar yang digunakan adalah SP36 dengan takaran 3,3 g dan ZK 3,3 g/tanaman. Pupuk diberikan pada lubang tanam sebelum tanam. Masing-masing perlakuan terdiri atas 10 polybag dengan satu tanaman pada setiap polybag. Polybag disusun dalam barisan dengan jarak antartanaman 50 cm dan jarak antarbaris 70 cm. Pemangkasan dilakukan setelah 10% populasi bunga pertamanya mekar. Polybag yang digunakan berukuran 25 cm x 50 cm dengan isi 15 kg tanah. Pengamatan dilakukan pada seluruh tanaman. Parameter yang diamati dan dihitung meliputi tinggi tanaman, jumlah daun produksi, produksi daun basah, dan produksi daun kering.

Tabel 3. Pengaruh cara aplikasi pupuk terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, serta bobot daun basah dan daun kering tembakau madura, Kebun Percobaan Karangploso, Balittas, Malang, 2004 Cara aplikasi Tinggi tanaman (cm) Tugal Siram Diletakkan tanpa tugal 66,43 69,03 66,67 Jumlah daun 10,74 11,47 10,47 Bobot daun basah/pohon (g) 162 159,42 160,80 Bobot daun kering/pohon (g) 22,72 22,09 22,58

HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi tanaman dan jumlah daun merupakan parameter pertumbuhan yang mendukung produksi secara tidak langsung. Pengaruh takaran pupuk N dan cara aplikasinya terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, serta bobot daun basah dan daun kering disajikan pada Tabel 2 dan 3. Data pada Tabel 2 dan 3 memperlihatkan bahwa takaran dan cara aplikasi pupuk N tidak berpengaruh pada tinggi tanaman dan jumlah daun. Takaran dan cara aplikasi pupuk tidak berpengaruh pada jumlah daun karena jumlah daun merupakan faktor genetik. Ini sejalan dengan hasil penelitian Rachman dan Murdiyati (1987) yang menyebutkan bahwa peningkatan takaran pupuk N dari 30 kg menjadi 90 kg/ha tidak menunjukkan perbedaan nyata pada jumlah daun dan tinggi tanaman. Peningkatan takaran pupuk ZA dari 200 kg menjadi 250 kg/ha berpengaruh nyata terhadap bobot daun basah dan kering. Namun, setelah takaran ditingkatkan menjadi 300 kg/ ha, hasilnya tidak berbeda dengan takaran 250 kg/ha. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian McKee (1978) dalam Rachman dan Murdiyati (1987) yang mengemukakan bahwa pemberian pupuk N pada takaran tertentu dapat meningkatkan produksi krosok berbagai tipe tembakau. Selanjutnya, Rachman dan
Tabel 2. Pengaruh takaran pupuk terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, serta bobot daun basah dan daun kering tembakau madura, Kebun Percobaan Karangploso, Balittas, Malang, 2004 Takaran pupuk ZA (kg/ha) 200 250 300 Tinggi tanaman (cm) 67,98 67,22 66,93 Jumlah daun 11,16 10,98 10,94 Bobot daun basah/pohon (g) 151,64 166,87 163,71 Bobot daun kering/pohon (g) 20,84 22,73 22,58

Murdiyati (1987) menyatakan bahwa peningkatan takaran ZA dari 150 kg menjadi 225 kg/ha tidak mempengaruhi produksi daun basah. Namun, setelah takarannya ditingkatkan menjadi 250 dan 300 kg ZA/ha bobot daun kering per pohon meningkat.

KESIMPULAN DAN SARAN Cara aplikasi pupuk N tidak berpengaruh terhadap jumlah daun, tinggi tanaman, serta bobot daun basah dan daun kering. Peningkatan takaran pupuk N dari 200 kg/ha ke 250 kg ZA/ha dan 300 kg ZA/ha berpengaruh pada pe-ningkatan bobot daun basah dan kering. Disarankan agar petani memberikan pupuk N secara spesifik lokasi dan memperhatikan efisiensinya.

DAFTAR PUSTAKA
Balai Informasi Pertanian Jawa Timur. 1986. Pemupukan Berimbang. Balai Informasi Pertanian Jawa Timur, Surabaya. 25 hlm. Mukani, S.H. Isdijoso, J. Hartono, dan S. Yulaika. 1992. Faktorfaktor yang mempengaruhi harga tembakau madura dan temanggung. Laporan Penelitian Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat, Malang. 12 hlm. Mukani, A.S. Murdiyati, dan Suwarno. 2004. Keragaan agribisnis tembakau lokal. Diskusi Panel Revitalisasi Sistem Agribisnis Tembakau Bahan Baku Rokok. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. hlm. 21-32. Rachman, A. dan A.S. Murdiyati. 1987. Pengaruh dosis pupuk N dan P terhadap produksi dan mutu tembakau madura pada tanah Aluvial. Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat 2(1-2): 1-9. Syam, M., M. Ismunadji, dan A. Wardoyo. 1989. Risalah Simposium II Penelitian Tanaman Pangan. Ciloto 21-23 Maret 1989. Buku 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. 254 hlm.

Buletin Teknik Pertanian Vol. 12 No. 2, 2007

67