Anda di halaman 1dari 13

TU1UAN

Menentukan minimum inhibitory concentration (MIC) suatu sediaan uji terhadap


bakteri gram positiI maupun gram negatiI, dengan menggunakan metode MIC padat
PRINSIP
1. !engenceran
O Memperoleh konsentrasi yang lebih kecil dengan cara menambahkan
pelarutnya. !erubahan konsentrasi suatu zat dikarenakan adanya penambahan
volume.
J
1
N
1
J
2
N
2

2. MIC ( konsentrasi terendah dimana pertumbuhan bakteri terhambat)
O $uatu antibiotik yang berlainan terhadap bakteri tertentu

TEORI
Konsentrasi minimum penghambatan atau lebih dikenal dengan MIC
(Minimum Inhibitory Concentration) adalah konsentrasi terendah dari antibiotik atau
microbial yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba tertentu. Nilai MIC adalah
spesiIik untuk tiap-tiap kombinasi daro antibiotika dan mikroba. MIC dari sebuah
antibiotika terhadap mikroba digunakan untuk mengetahui sentivitas mikroba yang
diuji. $emakin rendah nilai MIC dari sebuah antibiotik, sensitivitas dari bakteri akan
semakin besar. MIC dari sebuah antibiotika terhadap spesies mikroba adalah rata-rata
MIC terhadap seluruh strain dari spesies tersebut. $train dari beberapa spesies
mikroba adalah sangat berbeda dalam hal sensivitasnya. Terdapat dua tipe MIC yaitu
MIC cair (Tube diluting) dan MIC padat. Metode MIC cair berIungsi untuk
mengetahui hasil MIC secara langsung n metode ini menggunakan teknik Tube
Diluting Test. Manakala MIC padat pula berupa metode DiIusi Lempeng Agar. Uji
ini dilakukan pada permukaan medium padat. Mikroba ditumbuhkan pada medium
dan kertas saring yang berbentuk cakram yang telah mengandung mikroba. $etelah
inkubasi diameter zona penghambatan diukur (Ferdiaz. $., 1992).

Minimum inhibitory concentration (MIC), adalah konsentrasi terendah
dariantimikroba yang akan menghambat pertumbuhan dari mikroorganisme
setelahdiinkubasi semalaman. MIC sangat penting dalam diagnosa laboratorium
untuk mengetahui resistensi dari mikroorganisme terhadap antimikroba dan juga
untuk memonitor aktivitas dari senyawa-senyawa antimikroba. $ecara klinis, MIC
tidak hanyadigunakan untuk menentukan jumlah dari antibiotik yang akan diterima
oleh pasientetapi juga tipe dari antibiotik yang digunakan, yang mana dapat
menurunkan resistensimikroba terhadap antimikroba tertentu.( Jawetz,et al. 2004).

!enggunaan antibiotika di Indonesia yang cukup dominan adalah turunan
tetrasiklin, penisilin, kloramIenikol, eritromisin dan streptomisin. $eperti juga di
negara lain, pola penggunaan antibiotika tersebut telah mencapai tingkat yang
berlebihan dan banyak diantaranya digunakan secara tidak tepat. !erkembangan
resistensi kuman terhadap antibiotika sangat dipengaruhi oleh intensitas pemaparan
antibiotika di suatu wilayah, tidak terkendalinya penggunaan antibiotika cenderung
akan meningkatkan resistensi kuman yang semula sensitiI (ReIdanita, 2001).

Resistensi antibiotik adalah kemampuan dari mikroorganisme untuk
menahaneIek dari antibiotik. Terdapat tipe khusus dari resistensi obat. Resistensi
antibiotik secaraalami terbentuk dari seleksi alam melalui pengacakan mutasi, tetapi
resistensi jugaterbentuk untuk tujuan dari pembentukan senjata alami. $ekali sebuah
gen dibangun,bakteri kemudian dapat mengirim inIormasi genetik antar individuoleh
perubahanplasmid. Jika sebuah bakteri membawa beberapa gen resisten, hal tersebut
disebutmultiresisten atau, biasanya, hama super( Jawetz,et al. 2004).
Antibiotika (L. Antilawan, bioshidup) adalah zat-zat kimia yang dihasilkan
oleh Iungi dan bakteri, yang memiliki khasiat yang mematikan atau menghambat
pertumbuhan kuman, sedankan toksisitasnya bagi manusia relatiI kecil. Turunan zat
tersebut, yang dibuat secara semi-sintetis, termasuk kelompok ini; begitu pila
senyawa sintetis dengan khasiat anti bakteri lazimnya disebut antibiotika (ReIdanita,
2001).

Kegiatan antibiotis pertama kalinya ditemukan secara kebetulan oleh
dr.Alexander Fleming (Inggris,1928,penisilin). Tetapi penemuan ini baru
dikembangkan dan digunakan pada permulaan !erang Dunia II di tahun 1941, ketika
obat-obat antibakteri sangat diperlukan untuk menanggulangi eIeksi dari luka-luka
akibat pertempuran.Kemudian, para peneliti di seluruh dunia memperoleh banyak zat
lain dengan khasiat antibiotis. Akan tetapi, berhubung dengan siIat toksisnya bagi
manusia, hanyasebagian kecil saja yang dapat digunakan sebagai obat. Yang
terpenting diantaranya adalah streptomisin(1944), kloramIenikol(1947),
tetrasiklin(1948), eritromisin(1952),riIampisin(1960), bleomisin(1965),
doksorubisin(1969), minosiklin(1972), dantobramisin(1974). (ReIdanita, 2001).

Lazimnya antibiotika dibuat secara mikrobiologi, yaitu Iungi dibiakan dalam tangki-
tangki besar bersama zat-zat gizi khusus. Oksigen atau udara steril disalurkan ke
dalam cairan pembiakan guna mempercepat pertumbuhan Iungi dan meningkatkan
produksi antibiotikumya. $etelah diisolasi dai cairan kultur antbiotikum dimurnikan
dan aktiIitasnya ditentukan.
1. Antibitika sintetis tidak dibuat lagi dengan jalan biosintetis tersebut,
melainkan dengan sintesa kimiawi, misalanya kloramIenikol

2. Antibitika semisintetis, yaitu apabila pada persemaian(culture substrate)
dibubuhi
zat-zat pelopor tertentu, maka zat-zat ini diinkorporasi kedalam antibiotikum
dasarnya. Hasilnya disebut senyawa semisintetis, misalnya penisilin-V
(Aguskrisno,2011).
Cara kerja yang terpenting adalah perintangan sintesa protein, sehingga
kuman musnah atau tidak berkembang lagi, misalanya kloramIenikol, tetrasiklin,
aminoglikosida, makrolida, dan linkomisin. $elain itu beberapa antibiotika bekerja
terhadap dinding sel (penisilin dan seIalosporin) atau membran sel (polimiksin, zat-
zat polyen dan imidazol). Antibiotika tidak aktiI terhadap kebanyaka virus kecil,
mungkin karena virus tidak memiliki proses metabolisme sesungguhnya, melainkan
tergantung seluruhnya dari proses tuan-rumah (Aguskrisno,2011).
!ada umumnya aktivitasnya dinyatakan dengan satuan berat (mg), kecuali zat-
zat yan belum dapat diperoleh 100 murni dan terdiri dari campuran beberapa zat.
Misalnya, polimiksin B, basitrasin, dan nistatin, yang aktivitasnya selalu dinyatakan
dengan $atuan Internasional (I.U.). Begitu pula senyawa kompleks dari penisilin,
yakni prokain-dan bezantin-penisilin.

KloramIenikol diperoleh dari sejenis $treptomyces (1947), tetapi kemudian
dibuat secara sintetis. Antibiotikum broad spectrum ini berkhasiat terhadap hampir
semua kuman Gram-positiI dan sejumlah kuman Gram-negatiI, juga terhadap
spirokhaeta, Chlamydia trachomatis dan Mycoplasma. Tidak aktiI terhadap
kebanyakan suku !seudomonas, !roteus, dan Enterobacter (Tjay & Rahardja, 2003).


Khasiatnya bagi kloramIenikol adalah antibiotika ini bersiIat bakteriostatis
terhadap Enterobacter dan $taphilococcus aureus berdasarkan perintangan sintesa
polipeptida kuman. KloramIenikol bekerja bakterisid terhadap $treptococcus
pneumoniae, Neiss. meningitides,
dan H. inIluenzae. Berhubung reaksi anemia aplastis Iatal, kloramIenikol di negara
Barat sejak tahun 1970-an jarang digunakan lagi per oral untuk terapi manusia.
Dewasa ini hanya dianjurkanpada beberapa inIeksi bila tidak ada kemungkinan lain,
yaitu pada inIeksi tiIus ($almonella thphii) dan meningitidis (khusus akibat
H.inIluenzae), juga pada inIeksi anaerob yang sukar dicapai obat, khususnya abces
otak oleh B. Iragilis. Untuk inIeksi tersebut juga tersedia antibiotika lain yang lebih
aman dengan eIektivitas sama (Tjay &Rahardja, 2003).

$taphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positiI berbentuk bulat
biasanya tersusun dalam bentuk menggerombol yang tidak teratur seperti anggur.
$taphylococcus aureus bertambah dengan cepat pada beberapa tipe media dengan
aktiI melakukan metabolisme, melakukan Iermentasi karbohidrat dan menghasilkan
bermacam-macam pigmen dari warna putih hingga kuning gelap. $taphylococcus
aureus cepat menjadi resisten terhadap beberapa antimikroba. $taphylococcus
tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologi di bawah suasana aerobik atau
mikroaeroIilik. Tumbuh dengan cepat pada temperatur 20 - 35C. Koloni pada media
padat berbentuk bulat, lambat dan mengkilat. $taphylococcus aureus mempunyai 4
karakteristik khusus, yaitu Iaktor virulensi yang menyebabkan penyakit berat pada
normal hast, Iaktor diIIerensiasi yang menyebabkan penyakit yang berbeda pada sisi
atau tempat berbeda, Iaktor persisten bakteri pada lingkungan dan manusia yang
membawa gejala karier, dan Iaktor resistensi terhadap berbagai antibiotik yang
sebelumnya masih eIektiI . $taphylococcus aureus menghasilkan katalase yang
mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen (Ferdiaz. $., 1992).

Antibiotik pada mulanya berupa zat yang dibentuk oleh mikroorganisme yang
dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme lain. $ejak
ditemukan penisilin sampai saat ini sudah beribu antibiotik yang ditemukan dan
hanya sebagian kecil yang dapat dipakai untuk terapeutik. Mekanisme kerja dari
antibiotik ini antara lain menghambat biosintesis dalam dinding sel (misal penisilin),
menaikkan permeabilitas membran sitoplasma (misal seIalosphorin), mengganggu
sintesis protein normal bakteri (tetrasiklin, aminoglikosida). Bakterisid merupakan
antibiotika yang mempengaruhi pembentukan dinding sel atau permeabilitas
membran, sedang bakteriostatik adalah antibiotik yang bekerja pada sintesa protein
(Nester, 1973).


ALAT DAN BAHAN
,9
1. Mortir dan stamper
2. Tabung reaksi besar (2)
3. Rak tabung
4. Cawan petri (3)


5. Volume pipet beukuran
1 ml dan 10 ml
6. Labu ukur 100 ml
7. Labu ukur 25 ml


8. Ose dan lampu spiritus


9. Inkubator

O ,,3
1. $ediaan uji
(KloramIenikol)
2. $uspensi bakteri Gram
negatiI ( coli, $
aureus,)
3. Nutrient Agar (NA)
4. !elarut sediaan uji
(etanol)
5. Air suling

PROSEDUR
RiIampisin digerus terlebih dahulu kemudian dimasukkan dalam labu
ukur dan dilarutkan dalam pelarutnya. Kemudian ditambah dengan aquadest sampai
tanda batas labu ukur 100ml. Kemudian direncanakan pengenceran dan tiap tabung
dihitung konsentrasi masing-masing pengenceran dalam tabung besar dan cawan-
cawan petri yang diinginkan. $elanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat larutan
antibiotik dan air suling steril pertama disiapkan sebuah tabung reaksi besar,
kemudian tabung diisi dengan 3 ml sampel antibiotik yang telah dilarutkan dalam
labu ukur dan 2 ml aquadet steril. Dikocok. $etelah itu Disiapkan 3 buah cawan
petri. !ermukaan cawan kemudian dibagi 3 dua bidang sama besar, dan diberi label
nama bakteri yang akan digunakan pada setiap area. Bakteri yang digunakan adalah
$taphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan scherichia coli. Masing-masing
pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan-cawan petri sebanyak 1
ml, dan kemudian ditambahkan ke dalamnya 19 ml NA/Nutrient Agar yang bersuhu
40-50
o
C. Cawan petri tersebut kemudian digoyangkan perlahan agar campuran
tercampur rata. Dan akhirnya didiamkan hingga membeku. Masing-masing bakteri
digoreskan pada area yang terpisah dengan menggunakan ose. Kontrol positiI dibuat
terdiri dari 20 ml NA dan satu ose bakteri dari setiap bakteri. $emua tabung reaksi
diinkubasi pada suhu 37
o
C selama 18-24 jam. Diamati hasil pertumbuhan bakteri dari
koloni-koloni yang tampak . Kemudian bandingkan morIorlogi koloni-koloni tersebut
dengan kontrol positiI. MICnya ditentukan. MIC-nya terletak pada cawan petri
terakhir yang tidak tampak koloni bakteri.
DATA PENGAMATAN
!engenceran ReIampisin tabung besar 1 :


V
1
N
1
V
2
N
2

3.1000 V
2
.600 g
V
2


V
2
5
Konsentrasi Tabung 1:
Aquadest yang digunakan 2 ml
Antibiotik RiIampisin yang digunakan 3 ml

30 g
Konsentrasi Tabung 2:
Aquadest yang digunakan 1 ml
Antibiotik RiIampisin yang digunakan 1 ml

15 g
Konsentrasi Tabung 3:
Aquadest yang digunakan 1 ml
Antibiotik RiIampisin yang digunakan 1 ml

7.5 g




JENI$ BAKTERI CAWAN !ETRI
1 2 3
$taphylococcus aureus - - -
Bacillus subtilis - - -
scherichia coli -
Keterangan :
(-) : tidak ada pertumbuhan
() : ada pertumbuhan
1. MIC untuk Bacillus subtilis ialah 7.5 g
2. MIC untuk scherichia coli ialah 30 g
3. MIC untuk $taphylococcus aureus ialah 7.5 g


PEMBAHASAN

!ercobaan ini menguji Minimum Inhibitor Concentracy (MIC) dari antibiotik
RiIampisin terhadap bakteri $taphylococcus aureus, dan schericia coli dan Bacillus
$ubtilis. MIC adalah konsentrasi terkecil zat antimikroba yang masih mempunyai
daya hambat atau mulai bekerja pada mikroorganisme tertentu atau dengan kata lain
konsentrasi terendah antibiotik untuk membunuh bakteri di dalam cawan petri atau in
vitro.
$ediaan yang akan diuji, dalam hal ini riIampisin. Dalam melarutkan pada labu ukur,
harus diperhatikan ketepatan dalam menambahkan air sampai tanda batas, jika pelarut
melebihi tanda batas maka konsentrasi riIampisin akan berkurang. Begitu juga
sebaliknya jika pelarut yang ditambahkan kurang dari tanda batas,konsentrasi
riIampisin akan lebih besar dari yang diperhitungkan.
$ebelum memulai praktikum, dilakukan perencanaan pengenceran dan perhitungan
konsentrasi. Hal ini dilakukan untuk mempermudah penentuan nilai MIC dari
antibiotik yang pada percobaan ini adalah kloramIenikol. !ertama-tama dilakukan
pengenceran sesuai dengan perhitungan. $etelah dilakukan pengenceran pada tabung,
dilakukan pembagian pada permukaan dasar cawan petri menjadi 3 area sama besar.
$etiap area ini diberi label nama bakteri untuk mempermudah dalam pengamatan.
!ada penggunaan cawan petri, jangan dibiarkan dalam kondisi terbuka, agar isi cawan
tidak terkontaminasi oleh udara luar.
Kemudian setiap tabung reaksi kecil yang telah dilakukan pengenceran, yaitu dengan
konsentrasi 30g, 15 g, dan 7.5 g, diambil 1 ml dan dimasukkan ke dalam cawan
petri. !roses ini dilakukan dalam keadaan aseptis, untuk menghindari kontaminasi
dari udara luar. Lalu ditambah dengan 19 ml Nutrien agar cair bersuhu 40-50 C.
Nutrien agar harus tetap dalam suhu tersebut, karena jika dibawah suhu tersebut,
nutrien agar akan membeku dan tidak bisa dituang. !ada saat penuangan, juga harus
dilakukan dalam keadaan aseptis. $etelah ditambahkan nutrien agar, cawan petri
tersebut segera digoyang perlahan pada permukaan yang datar, untuk mencegah
nutrien agar membeku lebih dulu sebelum bercampur sempurna dengan antibiotik.
$etelah itu, didiamkan hingga membeku. Medium ini harus tercampur sempurna, agar
pertumbuhan pada bakteri yang dapat tumbuh dapat tersebar merata. Hal ini juga
untuk memastikan bahwa larutan riIampisin itu bergerak ke seluruh sudut cawan petri
secara homogen.
$etelah nutrien agar membeku, masing-masing bakteri digoreskan pada area yang
telah diberi label sesuai dengan nama bakterinya. !engocokan harus dilakukan
sebelum sampel dituangkan ke dalam cawan petri agar sampel tersebar merata dan
konsentrasinya sesuai. $elain itu, percobaan harus dilakukan secara aseptis yaitu
bekerja dekat api, hal ini bertujuan agar bakteri uji yang digunakan tidak
terkontaminasi dengan bakteri yang lain. !enggoresan harus dilakukan secara hati-
hati, supaya medium padat tidak rusak, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan
bakteri yang dapat tumbuh. $etelah itu, cawan petri ini diinkubasi pada suhu 37 C
selama 18-24 jam. !roses inkubasi dilakukan untuk menciptakan suasana ideal dalam
proses pembiakan bakteri sehingga proses dapat berlangsung maksimal. Waktu 18-24
jam ditentukan karena pada rentang waktu tersebut bakteri berada pada Iase
perkembangbiakan optimal atau Iase logaritma.
$etelah diinkubasi, dilakukan pengamatan terhadap pertumbuhan bakteri dalam
cawan petri. !ada bagian yang ditanam oleh bakteri $taphylococcus aureua,
memberikan hasil yang negatiI pada ketiga-tiga cawan petri. Hal ini menunjukkan
bahwa berbagai konsentrasi antibiotik dapat menghambat pertumbuhan bakteri.
Begitu juga dengan bakteri Bacillus subtilis dimana hasil uji kali ini menunjukkan
tiada pertumbuhan bakteri di ketiga-tiga cawan petri. Hal ini memungkin bahawa
konsentrasi terkecil riIampisin untuk membunuh kedua-dua jenis kuman ini adalah
lebih kecil dari 7.5g.
!ertumbuhan bakteri coli dapat dilihat pada cawan petri yang kedua dan yang
ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa pada kosentrasi 30g, bakteri E.Coli tidak
mampu berkembang biak.
MIC padat mempunyai kelebihan dibandingkan dengan MIC cair. !ada MIC padat,
satu sampel antibiotik dapat mengidentiIikasi sekaligus lebih dari satu bakteri,
sedangkan pada MIC cair tidak bisa demikian yaitu satu antibiotik digunakan untuk
satu bakteri. MIC terletak pada cawan petri bening terakhir atau sebelum cawan petri
ditumbuhi bakteri pertama. !roses ini dilakukan dalam keadaan aseptis.
Tetapi terdapat juga beberapa kesalahan yang mungkin dilakukan
didalam metode mic padat kali ini. Antaranya adalah, jalan kerja terlalu aseptis. Jalan
kerja terlalu aseptis, akan menyebabkan terjadinya kematian bakteri apabila ose yang
digunakan tidak dianginkan terlebih dahulu dan digunakan didalam keadaan yang
panas dimana suhunya mampu membunuh bakteri. Jalan keja yang tidak aseptis juga
akan menyebabkan kontaminasi. Kontaminasi dapat dilihat pada pertumbuhan bakteri
yang terjadi pada media selain dari garisan zig zag yang dilakukan. Hal ini mungkin
terjadi apabila praktikan tidak berhati-hati dalam melakukan perpindahan bakteri dari
tabung uji ke cawan petri.

ESIMPULAN
Minimum inhibitory concentration (MIC) suatu sediaan uji terhadap bakteri gram
positiI maupun gram negatiI, telah Berjaya ditentukan dengan menggunakan metode
MIC padat

DAFTAR PUSTAA
Jawetz, et al . 2004.Medical Microbiology. Twenty-Third Edition. $an
Fransisco : McGraw-Hill

Ferdiaz, $., 1992, Mikrobiologi !angan, Gramedia !ustaka Utama, Jakarta.
Tjay, Tan Hoan, K. Rahardja. 2002. Obat-obat !enting Khasiat, !enggunaan,
dan EIek eIek $ampingnya. Jakarta :!T Gramedia.

Nester,E.W.,C.E.Roberts & B.J.McCarthy. 1973.Microbiology Molecules,
Microbes, and Man.United $tate America:!ear sall halt,Rinehart and Winston,Inc.

Aguskrlsno 2011 8eslsLensl mlkroorganlsme Lerhadap anLlbloLlk
hLLp//aguskrlsnoblogwordpresscom/2011/01/14/reslsLenslmlkroorganlsmeLerhadap
anLlbloLlk/ (dlakses pada 1 Aprll 2011)

ReIdanita, 2001. !ola Kepekaan Kuman Terhadap Antibiotika di Ruang
rawat Intensif Rumah $akit. hLLp//eLdeprlnLsumsacld/7689/2/k100030036pdf
(dlakses pada 1 Aprll 2011)

LACkAN AknIk kAk1IkUM MIkkC8ICLCGI DASAk
IAkUL1AS IAkMASI
UNIVLkSI1AS ADIADIAkAN

LNLN1UAN MIC ADA1





NAMA/N!M : 1. $ITI FARHAIN AMIR 260110093021
2. $ITI ZULAICHA MARZUKI 260110093022
3. $YARI!AH ADIBAH $YED ABDULLAH 260110093023
HARI/JAM : KHAMI$/10.00-12.00
KELOM!OK : 5
TANGGAL !RAKTIKUM : 24 MARET 2011
TANGGAL MA$UK !RAKTIKUM : 31 MARET 2011