Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Dalam kesempatan ini Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, khususnya Bapak Sony selaku dosen Ketetapan Umum Perpajakan yang telah membantu dan membimbing saya dalam menyelesaikan makalah ini. Kami sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

Jakarta, November 2011

PENULIS

DAFTAR ISI Halaman Judul Kata Pengantar............................................................................................. Daftar isi........................................................................................................ Bab I PENDAHULUAN 4 5 5 1 2

1. Latar Belakang.................................................................................. 2. Maksud Dan Tujuan.......................................................................... 3. Metode Penulisan.............................................................................

Bab II

PEMBAHASAN

1. Pemeriksaan 1.1 Pengertian Pemeriksaan................................................................. 1.2 Susunan Pemeriksaan Pajak.......................................................... 1.3 Macam macam pemeriksaan pajak............................................. 1.4 Kerahasiaan dalam Pemeriksaan.................................................. 1.5 Menolak untuk diperiksa................................................................ 1.6 Perubahan Pelaksanaan Pemmeriksaan...................................... 1.7 Tata Cara Pemeriksaan Pajak...................................................... 1.8 Penyegelan...................................................................................

6 6 6 8 8 9 9 11

2. Penelitian
2.1 Pengertian Penelitian...................................................................

12
2

2.2 Produk Hasil Penelitian................................................................

12

3. Penyidikan
3.1 Pengertian Penyidikan................................................................. 3.2 Wewenang Penyidik..................................................................... 3.3 Ketentuan Bagi Petugas Pajak.....................................................

13 14 15

4. Sanksi Pajak
4.1 Sanksi Administrasi....................................................................... 4.2 Sanksi Pidana................................................................................

16 18

Bab III

CONTOH KASUS dan SOLUSI 21 22

1. Contoh kasus.................................................................................. 2. Solusi...............................................................................................

Bab IV

PENUTUP 24 26

KESIMPULAN............................................................................................. Daftar Pustaka.............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Pajak adalah iuran kepada negara yang dapat dipaksakan yang terutang menurut ketentuan perundang-undangan tanpa mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk yang tujuannya untuk digunakan membiayai pengeluaran public sehubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

Prinsip Pemungutan Pajak Menurut teori yang ada bahwa negara berhak memungut pajak dari penduduknya, karena penduduk negara tersebut mempunyai kepentingan kepada negara. Makin besar kepentingan penduduk kepada negara, maka makin besar pula perlindungan negara kepadanya. Sama dengan teori asuransi, teori ini mempunyai kelemahan antara lain tentang fungsi negara untuk melindungi segenap rakyatnya. Negara tidak boleh memilih-milih dalam melindungi penduduknya. Jika misalnya di suatu RT (Rukun Tetangga) terjadi kebakaran, apakah hanya mereka yang sudah bayar pajak yang dibantu dan diselamatkan oleh petugas mobil kebakaran? Di samping itu jika ditinjau dari unsur definisi pajak, maka adanya hubungan langsung atau kontraprestasi (dalam hal ini kepentingan wajib pajak) telah menggugurkan eksistensi pajak itu sendiri.

Pengertian tunggakan pajak Tunggakan pajak merupakan pajak yang terutang ataupun yang belum dibayar kepada negara dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, jumlah hutang pajak yang harus dibayar dalam batas waktu yang telah ditetapkan tercantum dalam surat ketetapan pajak (SKP) dan harus dibayar oleh wajib pajak ataupun penanggung pajak. Dalam pelaksanaannya tidak semua wajib pajak atau penanggung pajak
4

melunasi pajak yang terhutang tepat waktu. Apabila sampai batas waktu yang telah ditentukan hutang pajak tersebut belum juga dilunasi, maka dilakukkan biaya tindakan penagihan dengan pajak. Penagihan atau pajak adalah serangkaian tindakan agar penaggung pajak melunasi utang pajak dan penagihan pajak menegur memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan surat paksa, mengusulkan pencegahan pelaksanaan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual barang yang telah disita. Prosedur penagihan pajak dimulai dari dikeluarkannya Surat Ketetapan Pajak oleh Kantor Pelayanan Pajak. SKP tersebut berdasarkan Surat Pemberitahuan yang disampaikan dan disusun oleh wajib pajak sendiri yang dikenal dengan istilah self assessment system.

2. MAKSUD DAN TUJUAN


Guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Ketetapan Umum Perpajakan Serta dalam penulisan makalah ini saya selaku penulis bisa mendapat pengetahuan tentang ilmu perpajakan tentang bagaimana tata cara pemeriksaan penelitian dan penyidikan pajak yang benar, serta dapat mengetahiu sanksi sanksi apa saja yang akan diterima bagi yang melakukan penyelewengan dalam perpajakan

3. METODE PENULISAN
Dalam penulisan akalah ini saya selaku punulis mengutip isi dari buku perpajakan yang berjudul PERPAJAKA : TEODI DAN KASUS Edisi 5 , yang ditulis oleh Ibu Siti Resmi, dan saya juga mengutip isi dari modul perkuliahan BSI jurusan Akutansi Perpajakan untuk semester 3.

BAB II PEMBAHASAN

1. PEMERIKSAAN
1.1

PENGERTIAN PEMERIKSAAN
Pemeriksa Pajak adalah petugas pajak atau yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak dan telah mendapat pendidikan tehnis yang cukup atau memiliki ketrampilan sebagai pemeriksa pajak. Kewajiban Pemeriksa pajak antara lain : bekerja dengan jujur, bertanggungjawab, penuh pengertian, sopan, obyektif dan wajib menghindarkan diri dari perbuatan tercela.

1.2

SUSUNAN PEMERIKSAAN PAJAK


Pemeriksaan pajak dilakukan melalui sebuah tim pemeriksa pajak, dengan susunan pelaksana pemeriksa pajak seperti berikut : 1. Seorang Supervisor 2. Seorang Ketua Tim 3. Seorang anggota atau lebih

1.3

MACAM MACAM PEMERIKSAAN PAJAK


1. Pemeriksaan pajak berdasarkan tempat pelaksanaannya. a. Pemeriksaan lapangan adalah pemeriksaan yang dilakukan di tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas WP, tempat tinggal WP atau di tempat lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak meliputi satu, beberapa, atau seluruh jenis pajak, untuk tahun berjalan dan atau tahun-tahun sebelumnya. Pemeriksaan lapangan dapat dilakukan dlm bentuk : Pemeriksaan lengkap
6

Pemeriksaan sederhana lapangan

b. Pemeriksaan kantor adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap WP di kantor UP3 yang meliputi satu jenis pajak tertentu pada tahun berjalan dan atau tahuntahun sebelumnya yg dapat dilaksanakan dengan cara : Pemeriksaan Sederhana Kantor adalah pemeriksaan yg dilakukan dgn mengirimkan surat panggilan kepada WP untuk datang ke Knator Direktorat Jenderal Pajak dan meminjamkan buku buku, catatan dan dokumen-dokumen. Pemeriksaan dengan Korespondensi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan surat menyurat, secara tertulis, antara pemeriksa pajak dan WP melalui pos atau jasa pengiriman lainnya dengan bukti pengiriman dan tidak ada kontak langsung dengan WP. 2. Pemeriksaan Pajak berdasarkan periodenya a. Pelaksanaan rutin adalah adalah pemeriksaan pajak yang dilakukan sebagai bentuk pelayanan pajak dan juga karena WP tidak melaksanakan kewajiban perpajakan dengan benar. b. Pelaksanaan khusus adalah adalah pemeriksaan pajak yang dilakukan berdasarkan data yang dapat berupa seperti berikut : bukti, Informasi, Laporan dan Pengaduan. 3. Pemeriksaan Pajak berdasarkan Tujuannya a. Pemeriksaan Bukti Permulaan, Bukti permulaan adalah keadaan, perbuatan dan atau bukti berupa keterangan, tulisan, atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara ( pasal 1 huruf 26 UU KUP ) Pemeriksaan bukti permulaan adalah pemeriksaan yg dilakukan utk

mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana dibidang perpajakan b. Pemeriksaan Tujuan Lain adalah pemeriksaan yg dilakukan dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan selain untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan WP, dan dengan demikian pada prinsipnya tidak dimaksudkan untuk menerbitkan SKP atau STP, dan hrs dilakukan melalui pemeriksaan sederhana. Pemeriksaan untuk tujuan lain dapat dilaksanakan lebih dahulu sambil menunggu lembar Penugasan pemeriksaan (LP2) yang akan diterbitkan/dilimpahkan melalui sistem tertentu oleh Direktur. P4 & SP3 utk tujuan lain hrs diterbitkan paling lambat 3 hari sejak tgl surat penugasan/instruksi pemeriksaan. Pemeriksaan untuk tujuan lain hrs diselesaikan dalam jangka waktu 4 minggu sejak surat pemberitahuan pemeriksaan disampaikan

1.4

KERAHASIAAN DALAM PEMERIKSAAN


Aturan kerahasiaan untuk mengungkapkan pembukuan, pencatatan atau dokumen yang dimiliki oleh WP kepada pemeriksa pajak ditiadakan sehingga WP tidak mempunyai alasan lagi untuk tidak menyampaikan buku, catatan atau dokumen guna pemeriksaan pajak.

1.5

MENOLAK DIPERIKSA
WP yang menolak untuk diperiksa harus menandatangani surat pernyataan penolakan surat pemeriksaan, pernyataan dan apabila WP menolak maka menandatangani penolakan pemeriksaan

pemeriksa pajak harus membuat dan menandatangani Berita Acara Penolakan Pemeriksaan Pajak.

1.6

PERUBAHAN PELAKSANAAN PEMERIKSAAN


Apabila karena sesuatu hal susunan tim pemeriksa pajak perlu diubah, Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Pajak ( UP3) tidak perlu mengganti Surat Perintah Pemeriksaan Pajak ( SP3), tetapi cukup dengan menerbitkan Surat Tugas kepada pemeriksa pajak yang ditunjuk, dan surat tugas tersebut harus diperlihatkan kepada WP.

1.7

TATA CARA PEMERIKSAAN PAJAK


1. UP3 menerbitkan SP3 2. Pemberitahuan Pemeriksaan 3. Peminjaman Berkas 4. Pemeriksa menunjukkan identitas pada WP 5. Peminjaman buku, catatan dan dokumen pada WP 6. Permintaan bukti pihak lain yang terkait 7. Pemberitahuan hasil pemeriksaan 8. Pembahasan tanggapan 9. Pembahasan akhir 10. Pembuatan laporan pemeriksaan pajak 11. Penerbitan ketetapan pajak 12. Pengembalian buku, catatan dan dokumen WP Direktorat jendral pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dan tujuan lain, antara lain : 1. Pemberian NPWP secara jabatan 2. Penghapusan NPWP 3. Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan pengusaha kena pajak 4. Wajib pajak mengajukan keberatan

5. Pengumpulan

bahan

guna

penyusutan

norma

penghitungan

penghasilan netto 6. Penyocokan data dan atau keterangan 7. Penentuan WP berlokasi didaerah terpencil 8. Penentuan satu atau lebih tempat perutang PPN 9. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak 10. Penentuan saat mulai berproduksi sehubungan dengan fasilitas perpajakan 11. Pemenuhan permintaan informasi dari negara mitra perjanjian penghindaran pajak berganda

Hal hal yang perlu diperhatikan dalam rangka pemeriksaan adalah : 1. Pemeriksaan dapat dilakukan dikantor (pemeriksaan kantor) atau di tempat wajib pajak (pemeriksaan lapangan) yang ruang lingkup pemeriksaannya dapat meliputi satu jenis pajak, atau seluruh jenis pajak, baik tahun tahun yang lalu atau tahun berjalan 2. Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap wajib pajak termasuk terhadap instansi pemerintah dan badan lain sebagai pemungut pajak atau pemotong pajak 3. Pelaksanaan pemeriksaan dalam rangka menguji pemenuhan

kewajiban perpajakan WP dilakukan dengan menelusuri kebenaran surat pemberitahuan, pembukuan atau pencatatan. Dan pemenuhan kewajiban perpajakan lainnya dibandingkan dengan keadaan atau kegiatan usaha sebenarnyadari WP 4. Petugas pemeriksaan harus memiliki tanda pengenal pemeriksa dan dilengkapi dengan surat perintahpemeriksaan serta memperlihatkannya kepada WP yang di periksa

10

5. WP yang di periksa : a. Memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan dokumen yang menjadi dasarnya, dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh kegiatan usaha pekerjaan bebas WP atau objek pajak yang terutang pajak b. Memberikan kesempatan untuk memasiki tempat atau guna

ruanganyang dipandang perlu kelamcaran pemeriksaan

dan memberi bantuan

c. Memberikan keterangan lain yang diperlukan baik secara tertulis ataupun lisan 6. Buku catatan, dokumen, data, informasi, dan keterangan lain yang diminta oleh oemeriksa dalam rangka pemeriksaan, wajib di penuhi oleh WP paling lama 1 bulan sejak permintaan disampaikan. Terhadap WP badan yang pernyataan pendaftaran emisi sahamnya telah dinyatakan efektif oleh badan pengawas pasar modal dan menyampaikan surat pemberitahuan dengan dilampiri laporan keuangna yang telah diaudit oleh akuntan public dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, yang surat pemberitahuan WP menyatakan lebih bayar atau terpilih untuk diperiksa berdasarkan analis risiko, dapat dilakukan pemeriksaan melalui pemeriksaan kantor.

1.8

PENYEGELAN
Adalah tindakan menempelkan kertas segel pada tempat atau ruangan yang diduga digunakan untuk menyimpan dokumen, uang, barang dan atau benda-benda lain yang dapar memberi petunjuk tentang kegiatan usaha atau pekerjaan bebas WP yang diperiksa dengan tujuan agar tidak dipindahtangankan, dihilangkan, dimusnahkan,diubah, dirusak, ditukar atau dipalsukan. Penyegelan dilakukan apabila :

11

1. WP atau kuasanya tidak memberi kesempatan kepada pemeriksa pajak untuk memasuki tempat atau ruangan yang dipandang perlu, termasuk pengolahan data elektronik atau menolak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. 2. WP atau kuasanya tidak memberi kesempatan kepada pemeriksa pajak untuk memasuki tempat penyimpanan catatan-catatan, bukubuku dan dokumen-dokumen yang diselenggarakan oleh perusahaan penyimpanan arsip atau dokumen atau menolak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan 3. WP atau kuasanya tidak berada di tempat pada saat dilakukan pemeriksaan dan pegawai WP yang diminta untuk mewakili WP menolak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan 4. Pemeriksa pajak memerlukan upaya pengamanan dokumen sebelum pemeriksaan ditunda

2. PENELITIAN

2.1

PENGERTIAN PENELITIAN
Adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian Surat Pemberitahuan dan lampiranlampirannya termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan dan penghitungannya. Penelitian dilakukan oleh petugas pajak antara lain terhadap : 1. Kelengkapan dan kebenaran hitungan atas SPT tahunan dan SPT masa yang akan diterima oleh Direktorat Jenderal pajak 2. Ketepatan waktu dan kebenaran jumlah pembayaran pajak atas SPT tahunan maupun masa yangs udah diterima oleh Direktorat Jenderal Pajak.

12

2.2

PRODUK HASIL PENELITIAN


Produk hukum dari penelitian adalah berupa Surat Tagihan Pajak baik atas pokok pajak maupun sanksi denda,bunga ataupun kenaikan.

3. PENYIDIKAN

3.1

PENGERTIAN PENYIDIKAN
Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana dibidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya. Penyidikan pidana dibidang perpajakan hanya dapat dilakukan oleh pejabat pegawai negri sipil tertentu dilingkungan direktorat jendral pajak yang diberi wewenang khusus sebaga penyidik tindak pidana dibidang perpajakan. DIMULAINYA PENYIDIKAN PAJAK Penyidik memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.

PENGHENTIAN PENYIDIKAN PAJAK Penyidikan terhadap wajib pajak dihentikan oleh penyidik apabila dari hasil penyidikan : 1. Tidak terdapat cukup bukti

13

2. Peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana di bidang perpajakan 3. Peristiwanya telah kadaluwarsa 4. Tersangka meninggal dunia

KEWAJIBAN PEMBERIAN DATA Setiap instansi pemerintah, lembaga, assosiasi dan pihak lain wajib memberikan data dan informasi berkaitan dgn perpajakan kepada Dirjen Pajak seperti dat APBN/APBD, pemenang proyek, exspatriate dan data lain yang diperlukan Dirjen Pajak.

3.2

WEWENANG PENYIDIK
1. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan yang berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan agar keterangan laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas 2. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana dibidang perpajakan. 3. Meminta keterangan bahkan bukti dari OP atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindakan pidana di bidang perpajakan. 4. Memeriksa buku, catatan dan dokumen lain berkenaan dengan tindakan pidana di bidang perpajakan 5. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti

pembukuan, pencatatan dan dokumen lain serta melakukan oenyitaan terhadap bahan bukti tersebut 6. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyelidikan tindak pidana di bidang perpajakan
14

7. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorng meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan atau dokumen yang dibawa 8. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindakan pidana di bidang perpajakan 9. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi 10. Menghentikan penyidikan 11. Melakukan tidakan lain yang perlu dilakukan untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.

Tindakan pidana dibidang perpajakan dapat berupa kealpaan atau kesengajaan yang dilakukan oleh WP. Kealpaan adalah WP alpa tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melapirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Kealpaan dapat diartikan tidak sengaja, lalai, tidak hati hati, atau kurang mengindahkan kewajibannya. Kriteria kesengajaan adalah : 1. Tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan NPWP atau NPPKP 2. Tidak menyampaikan SPT 3. Menyampaikan SPT dan atau keterangan yang isinya tidak lengkap atau tidak benar 4. Menolak untuk dilakukannya pemeriksaan 5. Memperlihatkan pembukuan, catatan, atau dokumen lain yang palsu

15

6. Tidak lainya

menyelenggarakan

pembukuan

atau

pencatatan,

tidak

memperlihatkan atau meminjamkan buku, catatan atau dokumen

7. Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara

3.3

KETENTUAN BAGI PETUGAS PAJAK


Ketentuan perpajakan yang berkaitan dengan pegawai pajak diatur sebagai berikut. 1. Pegawai pajak yang karena kelalaiannya atau sengaja menghitung atau menetapkan pajak tidak sesuai dengan ketentuan UU perpajakan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan. 2. Pegawai pajak yang dalam melakukan tugasnya dengan sengaja bertindak diluar kewenangannya internal departemen keuangan yang diatur dalam ketentuan yang berwenang melakukan peraturan perundang undangan perpajakan dapat diadukan ke unit pemeriksaan dan investigasi dan apabila terbukti melakukannya dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peratudan perundang undangan 3. Pegawai pajak yang dalam tugasnya terbukti melakukan pemerasan dan pengancaman kepada WP agar menguntungkan dirinya sendiri secara malawan hukum diancam dengan pidana sebagaimana dimaksut dalam Pasal 368 Kitab Undang Undang Hukum Pidana. 4. Pegawai pajak yang dengan maksut menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu, untuk membayar atau menerima pembayaran atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri, diancam dengan pidana sebagaimana dimaksut dalam
16

Pasal 12 UU No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan perubahannya Pegawai pajak tidak dapat situntut, baik secara perdata atau pidana dalam melaksanakan tugasnya didasarkan pada itikad baik sesuai dengan keuntungan peraturan perundang undangan perpajakan.

4. SANKSI PAJAK

4.1

SANKSI ADMINISTRASI
Sanksi administrasi sehubungan dengan surat ketetapan pajak dan surat tagihan pajak

Berkaitan dengan denda :


NO 1 Pasal 7 ayat 1 SPT tidak disampaikan a. SPT Masa PPn b. SPT Masa lainnya c. SPT Tahunan PPh WP Badan d. SPT Tahunan PPh WP OP 2 3 8 ayat 3 14 ayat 4 pembetulan sendiri dan belum disidik a. Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP tidak membuat faktur pajak b. Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP, tidak mengisi faktur pajak secara lengkap c. PKP melaporkan faktur pajak tidak sesuai masa penerbitan faktur pajak 4 5 14 ayat 5 25 ayat 9 PKP gagal berproduksi telah diberikan pengembalian pajak masukan keberatan ditolak atau dikabulkan sebagian 2 % dari dasar pengenaan pajak 50% dari jumlah pajak berdasarka keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan ke beratan 6 27 ayat 5d permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian 100% dari jumlah pajak berdasarkan putusan banding dikurangi pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan 2 % dari dasar pengenaan pajak a. Rp 500.000 b. Rp 100.000 c. Rp 1.000.000 d. RP 100.000 150% dari jumlah pajak yang belum dibayar Masalah Sanksi

17

Yang Berkaitan Dengan Bunga


NO. 1 Pasal 8 ayat 2 Masalah pembetulan SPT tahunan dalam 2 thn Sanksi 2% perbulan dari jumlah pajak yang kurang bayar dihitung sejak jatuh tempo pembayaran s/d tanggal pembayaran 2 9 ayat 2a keterlambatan pembayaran pajak masa 2% perbulan dari jumlah pajak yang terutang dihitung sejak jatuh tempo pembayaran s/d tanggal pembayaran 3 9 ayat 2b keterlambatan pembayaran pajak tahunan 2% perbulan dari jumlah pajak yang terutang dihitung mulai batas waktu penyampaian SPT tahunan s/d tanggal pembayaran 4 13 ayat 2 SKPKB karena pajak yang terutang kurang atau tidak bayar dan penerbitan NPWP dan pengukuhan PKP secara jabatan 5 13 ayat 5 SKPKB diterbitkan setelah lewat waktu 5 thn karena adanya tindak pidana 6 14 ayat 3 a. PPh tahunan berjalan tidak/kurang bayar b. SPT kurang bayar 7 15 ayat 4 SKPKB diterbitkan setelah lewat waktu 5 thn karena adanya tindak pidana 8 19 ayat 1 SKPKB/T,SK pembetulan, SK keberatan, putu san banding yang menyebabkan kurang bayar terlambat bayar 9 19 ayat 2 mengangsur atau menunda pembayaran 2% perbulan dari jumlah pajak tidak/kurang dibayar dihitung dari tanggal jatuh tempo s/d tanggal peluna san atau diterbitkannya surat tagihan paksa 2% perbulan dari jumlah pajak yang masih harus diba yar dihitung dari tanggal jatuh tempo s/d tanggal di terbitkannya STP 10 19 ayat 3 kekurangan pajak akibat penundaan SPPT 2% perbulan dari kekurangan pembayaran pajak, dihi tung dari batas akhir penyampaian SPT s/d tanggal di bayarnya kekurangan tersebut 2% perbulan dari jumlah pajak tidak/kurang dibayar , maks 24 bln 48% dari jumlah pajak yang tidak atau kurang bayar 48% dari jumlah pajak yang tidak atau kurang bayar 2% perbulan dari jumlah kurang dibayar , maks 24 bln

Berkaitan dengan kenaikan


NO. 1 2 Pasal 8 ayat 5 13 ayat 3 Masalah pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT setelah lewat 2 thn sebelum terbitnya SKP a. SKPKB karena SPT tidak disanpaikan sebagaimana disebut dalam surat teguran b. PPN/PPnBM tdak seharusnya dikompensasi atau seharusnya dikenai tarif 0% Sanksi 50% dari pajak yang kurang bayar 50% dari PPh yang tidak/kurang di bayar dalam setahun 100% dari PPh yang tidak/kurang dipotong, tidak/kurang dipungut,

18

c. Kewajiban pembukuan dan pemeriksaan tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pa jak yang terutang 3 13A tidak menyamoaikan SPT atau menyamoaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar yang dilakukan karena kealpaan dan pertama kali kekurangan pajak padaSKPKB SKPKB yang terbit dilakukan pengambilan pandahuluan kelebihan pajak bagi WP dengan kriteria tertentu SKPKB yang terbit setelah dilakukan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak bagi WP dengan persya ratan tertentu

tidak/kurang disetor dan dipotong atau dipungut tetapi tidak/kurang disetor; atau 100% dari PPn dan PPnBM yang tidak/kurang bayar 200% dari jumlah pajak yang kurang bayar yang ditetapkan melalui penerbitan SKPKB 100% dari jumlah kekurangan pajak 100% dari jumlah kekurangan pajak 100% dari jumlah kekurangan pajak

4 5 6

15 ayat 2 17C ayat 5 17D ayat 5

4.2

SANKSI PIDANA
Sanksi pelanggaran pidana perundang sehubungan undangan dengan perpajakan pelanggaranterhadap khususnya dalam

Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan


NO. 1 Pasal 38 ayat 1 Masalah setiap orang yang karena kealpaannya : a. Tidak menyampaikan surat pemberitahuan b. Menyampaikan surat pemberitahuan tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut bukan yang pertama kali setiap orang yang dengan sengaja : a. Tidak mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP b. Menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau PKP c. Tidak menyampaikan surat pemberitahuan d. Menyampaikan surat pemberitahuan dan atau keterangan yang yang isinya tidak benar atau tidak lengkap e. Menolak untuk melakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksut dalam pasal 29 f. Memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah olah benar. g. Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia tidak memperlihatkan atau meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lain h. Tidak menyimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termaksut hasil pengelolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi online di indonesia sebagaimana dimaksut dalam pasal 28 ayat 11 i. Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara seseorang melakukan lagi tindakan pidana di bidang perpajakan belum lewat satu tahun terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindakan atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak Sanksi pidana kurungan min. 3 bln maks. 1 thn atau denda min 1 x jumlah pajak terutang maks. 2 x jumlah pajak terutang yang tidak/kurang bayar

39 ayat 1

pidana penjara min. 6 bln dan maks. 6 thn tidak denda min. 2 x jumlah pajak terutang yang dibayar dan maks. 4 x jumlah pajak t terutang yang tidak atau kurang bayar

39 ayat 2

pidana pada no. 1 tsb akan ditambahkan 1 kali menjadi 2 kali sanksi pidana pidana penjara min. 6 bln maks. 2 thn dan den da paling sedikit 2 kali jumlah restitusi yang di mohonkan dan atau kompensasi atau pengkre ditan yang dilakukan dan maks.

39 ayat 3

19

4 kali jumlah restitusi yang di mohonkan dan atau kompen sasi atau pengkreditan yang 5 39 A setiap orang yang dengan sengaja : a. Menerbitkan dan atau menggunakan faktur pajak bukti pemungutanpa jak bukti pemotongan pajak dan atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya b. Menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sbg PKP pejabat yang karna kealpaannya tidak memenuhi kewajiban merahasia kan segala sesuatu yang diketahui atau yang diberitahukan kepadanya o/ WP dalam rangka jabatan / pekerjaannya untuk menjalankan ketentu an perundang undangan perpajakan, atas pengaduan orang yangkeraha siaannya dilanggar pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kawajiban merahasiakan segala sesuatu yang diketahui atau yang diberitahukan kepadanya o/ WP dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk menjalankan ketentu an perundang undangan perpajakan, atas pengaduan orang yang kerahasiaannya dilanggar setiap rang yang wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta oleh direktur jendral pajak pada saat melakukan pemeriksaan pajak, penagihan pajak atau penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan, tetapi dengan sengaja tidak memberi keterangan atau buktii, atau bukti yang ti dak benar setiap orang yang dengan sengaja menghalangi atau mempersulit Penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan setiap orang yagn dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban merahasiakan segala sesuatu yang diketahui atau yang diberitahukan kepadanya o/ WP dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk menjalankan ketentu an perundang undangan perpajakan setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan tidak terpenuhinya kewa jiban pejabat dan pihak lain dan merahasiakan sesuatu yang diketahui atau diberitahukan oleh WP dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang undangan perpajakan setiap orang yang dengan sengaja tidak memberikan data dan informasi yang diminta oleh direktur jendral pajak dalam menghimpun data dan informasi untuk kepentingan penerimaan negara setiap orang yang dengan sengaja menyalahgunakan data san informasi perpajakan sehingga menimbulkan kerugian bagi negara dilakukan pidana penjara min. 2 thn maks 4 thn dan den damin 2 kali maks. 6 kali jumlah pajak dalam faktur pajak bukti pemungutan pajak bukti pe motongan pajak dan atau bukti setoran pajak pidana kurungan maks. 1 thn dan denda maks. Rp. 25.000.000

41 ayat 1

41 ayat 2

pidana kurungan maks. 2 thn dan denda maks.Rp. 50.000.000

41A

pidana kurungan maks. 1 thn dan denda Maks. Rp. 25.000.000

9 10

41B 41C ayat 1

pidana penjara maks. 3 thn dan denda maks. Rp. 75.000.000 pidana kurungan maks. 1 thn dan denda maks. Rp. 1.000.000.000

11

41C ayat 2

pidana kurung paling lama 10 bulan dan denda maks. Rp. 800.000.000

12

41C ayat 3

pidana kurung paling lama 10 bulan dan denda maks. Rp. 800.000.000 pidana kurungan maks. 1 thn dan denda maks. Rp. 500.000.000

13

41C ayat 4

20

BAB III CONTOH KASUS DAN SOLUSI

1.1

CONTOH KASUS Contoh kasus penunggakan pajak pada kelompok

perusahaan Bakrie:
Saturday, 12 December 2009 JAKARTA-Di tengah adanya ketegangan hubungan antara Menkeu Sri Mulyani dan Aburizal Bakrie, Dirjen Pajak menemukan dugaan pidana pajak di tiga perusahaan kelompok Bakrie. Tak tanggung-tanggung, dugaan penyelewengan pajak lebih dari Rp2 triliun. Menurut Dirjen Pajak Mochamad Tjiptardjo, pengungkapan kasus ini sama sekali tidak terkait perseteruan antara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan bekas Menteri Koordinator Kesejahteraan Sosial, Aburizal Bakrie, dalam kasus Bank Century. Kami profesional di sini, pisahkan dengan politik. Saya masuk duluan lho menangani wajib pajak ini. Saya masuk duluan sebelum masalah ribut-ribut. Cuma saya aja orang baik, selama ini enggak ngomong-ngomong, diam-diam. Lha, wong tidak ditanya, kata Tjiptardjo usai solat Jumat di kantornya, Jumat (11/12). Dia memastikan tak ada perintah khusus dari Menteri Keuangan dalam menangani kasus pajak Grup Bakrie. Jadi DJP (Direktorat Jenderal Pajak) itu bukan alat politik. DJP itu bekerja secara profesional melaksanakan undang-undang, katanya. Seperti diketahui, Direktorat Jenderal Pajak mengungkapkan penelusuran dugaan pidana pajak tiga
21

perusahaan tambang batubara di bawah payung bisnis Grup Bakrie senilai kurang lebih Rp 2 triliun. Tiga perusahaan tambang itu antara lain PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resources Tbk., (BR) dan PT Aruitmin Indonesia. Ketiganya diduga melanggar pasal 39 Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan atau terindikasi tak melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan secara benar. Tekniknya bermacam-macam, intinya tidak melaporkan penjualan sebenarnya, biayanya. Itu kan modusnya, kata Tjiptardjo. Hingga saat ini Direktorat telah menetapkan status penyidikan pada kasus pajak KPC sejak Maret 2009. Pada kasus Bumi, Direktorat baru menerbitkan Surat Perintah Penyidikan dan segera akan melayangkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan kepada Kejaksaan Agung. Adapun terhadap kasus Arutmin, Direktorat baru melakukan pemeriksaan bukti permulaan. Sumber di Direktorat Jenderal Pajak mengungkapkan total kewajiban pajak tiga perusahaan tambang milik Grup Bakrie yang kini sedang dalam penelusuran tim penyidik mencapai Rp 2,1 triliun. Sumber juga memaparkan, PT Kaltim Prima Coal diduga kurang membayar pajak Rp 1,5 triliun, PT Bumi Resources Tbk sebesar Rp 376 miliar, dan PT Arutmin Indonesia sebesar US$ 30,9 juta atau ekuivalen kurang lebih Rp 300 miliar. Hingga 30 November 2009, Direktorat Pajak telah menerima pembayaran pajak dari KPC sebesar Rp 800 miliar dan dari Arutmin sebesaR US$ 27,5 juta atau sekitar Rp 250 miliar.

PEMBAHASAN

1.2

SOLUSI
1. Jika permasalahan penunggakan pajak Group Bakrie ini

ingin dihentikan dan dapat terselesaikan dengan cepat, Group Bakrie


22

harus membayar kewajiban lima kali lipat dari total tunggakan atau 500% dari total hutangnya atau asetnya disita. Setelah melunasi tunggakan pajak tersebut, masih ada prosedur lain yang harus ditempuh Group Bakrie, mereka harus mengajukan permohonan ke Menkeu kemudian dari Menkeu ke Kejagung untuk meminta penghentian penyidikan. Sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 130/PMK.03/2009 tentang Tata Cara Penghentian Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan untuk kepentingan penerimaan Negara.
2.

Memeriksa pihak pihak terkait dalam kasus ini baik dari

pihak Group Bakrie maupun dari pihak Direktorat Jenderal Pajak.

23

BAB IV KESIMPULAN

Pajak

merupakan

suatu

kewajiban

yang

harus

dibayarkan

penduduk kepada negara. Penduduk yang seharusnya ikut serta membangun negara dari pajak yang disetorkannya, tetapi terkadang malah merugikan negara sendiri dengan tidak membayar pajak maupun melakukan segala cara untuk menekan pajak yang seharusnya dibayarkan. Penyelewengan pajak maupun hutang pajak pun terjadi. Menagih hutang pajak selalu menjadi masalah yang serius. Salah satunya contoh kasus di atas yang terjadi pada perusahaan group Bakrie. Dalam kasus tersebut disebutkan bahwa tiga perusahaan tambang batubara di bawah payung bisnis Grup Bakrie antara lain PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resources Tbk., (BR) dan PT Aruitmin Indonesia telah melanggar pasal 39 Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan atau terindikasi tak melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan secara benar . Ditjen Pajak Depkeu tengah memeriksa dugaan tunggakan pajak senilai Rp 2,1 triliun pada tahun buku 2007 dari tiga perusahaan tersebut. BR diduga menunggak senilai Rp 376 miliar, sedangkan dua anak perusahaannya yakni KPC sebesar Rp l,5 triliun dan Arutmin sebesar Rp 300 miliar. Kasus ini terungkap pada laporan tahunan target penerimaan pajak 2009 yang meleset dan langsung menyorot ke dugaan tunggakan pajak tiga perusahaan tambang milik Grup Bakrie tersebut. Komisi VII DPR RI diam-diam melihat ada celah untuk menagih tunggakan pajak Bakrie. Anggota Komisi VII DPR meminta pemerintah segera menyelesaikan kewajiban tiga perusahaan Bakrie tersebut, sehingga
24

kasus tersebut dapat diselesaikan secepatnya dan tidak hanya menguap seperti kasus lainnya. Selain itu menurut Komisi VII DPR, Grup Bakrie juga harus tetap diberi kesempatan membayar secara mencicil, jika pembayaran tunai tidak dimungkinkan. Yang paling penting, mereka bayar utang pajaknya. Pemerintah sebenarnya bisa menyelesaikan terlebih dahulu tunggakan pajak yang sudah masuk tindak pidana. Kalau mereka tidak mau terkena pidana, maka bisa membayar denda yang besarnya empat kali lipat nilai tunggakkannya atau asetnya disita. Pemeriksaan terhadap Kaltim Prima dan Bumi Resources sudah memasuki tahap penyidikan. Sedangkan Arutmin masih dalam tahap pemeriksaan bukti permulaan. Dari jumlah tunggakan itu, Bakrie sudah menyetor dana sekitar Rp 1 triliun. Hal ini tidak akan terjadi apabila Group Bakrie dan oknum Ditjen Pajak dapat bekerja sama dalam pengelolaan pajak sesuai dengan ketetapan yang berlaku. Dampak-dampak yang terjadi dalam kasus tersebut : Dampak Positif : Pemerintah dan masyarakat dapat mengetahui ketidakberesan dalam pemungutan pajak yang selama ini terjadi. Membersihkan oknum-oknum Ditjen Pajak yang tidak berkompeten dan bertanggungjawab terhadap Memberikan kesadaran kepada wajib pajak untuk taat dalam membayar pajak. Dampak Negatif Dengan adanya penyelewengan dan hutang pajak tentunya dapat mengurangi penerimaan negara dari sektor perpajakan, sehingga menghambat pembangunan infrastuktur. Penyelesaian masalah dari segi hukum terlalu berbelit-belit, sehingga masalah tersebut tidak dapat diatasi secara cepat. Memperburuk citra dan kinerja pemerintah khususnya pada Ditjen Pajak. Menghambat penyusunan RAPBN.

25

DAFTAR PUSTAKA

www. Google.com http://imahido-rochimawati.blogspot.com/2010/11/kasus-penyelewengan-pajak.html Siti Resmi.2009. Perpajakan : Teori dan Kasus Edisi 5.Jakarta: Salemba Empat

26

27