Anda di halaman 1dari 13

RETORIKA PRAGMATIK PENGGUNAAN TINDAK TUTUR DALAM DISKUSI SISWA KELAS X SMA NEGERI 4 SINGARAJA oleh Made Ellinawati,

NIM 0712011052 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) fungsi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja dan (2) komposisi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja. Untuk mencapai tujuan itu, penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja. Objek penelitian adalah tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan perekaman, observasi dan wawancara. Perekaman tersebut untuk mendapatkan data fungsi dan komposisi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur siswa. Observasi dan wawancara dilakukan untuk melengkapi data hasil perekaman. Perekaman yang dilakukan memperoleh hasil bahwa fungsi dan komposisi tuturan siswa bervariasi sesuai dengan kebutuhan siswa. Observasi dan wawancara memperoleh hasil bahwa fungsi tindak tutur selalu sejalan dengan fungsi retorika tuturan tersebut. Teknik analisis data melalui prosedur sebagai berikut: (1) pengumpulan data, (2) klasifikasi, dan (3) penyimpulan. Hasil penelitian ini adalah (1) fungsi retorika pragmatik (FRP) tindak direktif dan asertif bervariasi, sesuai dengan peran siswa dalam diskusi kelas (sebagai moderator, penyaji, atau peserta). Hal itu menunjukkan bahwa FRP siswa dalam diskusi kelas mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan peran siswa. (2) Komposisi retorika pragmatik penggunaan (KRPP) tindak tutur siswa cukup bervariasi. Dalam hal ini, KRPP tindak tutur siswa dapat dibedakan atas KRPP tindak tutur direktif dan asertif. Sesuai dengan hasil penelitian tersebut, dapat disampaikan saran sebagai berikut: Guru, siswa dan calon guru, dengan retorika pragmatik penggunaan tindak tutur siswa dalam diskusi, akan lebih mengenal siswa yang aktif dalam proses pembelajaran, kemudian siswa mampu merefleksi diri dan melakukan perbaikan jika terdapat kekurangan dalam retorika pragmatik penggunaan tindak tutur mereka; dan bagi peneliti berikutnya isu mengenai penggunaan

retorika pragmatik yang selama ini luput dari perhatian sangatlah menarik untuk dikaji. Kata kunci: retorika, pragmatik, tindak tutur.

UTILIZE PRAGMATIC RHETORIC OF SPEECH IN DISCUSSION AT FIRST GRADE STUDENTS OF SMA NEGERI 4 SINGARAJA by Made Ellinawati, NIM 0712011052 Major in Education of Language and Indonesian Literature Faculty of Language and Art

ABSTRACT This research aimed at describing (1) the utilize pragmatic rhetoric function of speech in discussion at first grade students of SMA Negeri 4 Singaraja and (2) the composition of utilize pragmatic rhetoric of speech in discussion at first grade students of SMA Negeri 4 Singaraja. The researcher used descriptive qualitative form to get the purposes of the research. The subject of this research were the first grade students of SMA Negeri 4 Singaraja. The object of this research was speech in discussion at first grade students of SMA Negeri 4 Singaraja. The data were collected by using recorder, observation, and interview. The recorder would be used in this research for gathering the data of the function and composition of utilize pragmatic rhetoric of students speech. Observation and interview were carried out to complete the data from recording. The technique of the data analysis used three procedures, they are: (1) data collected, (2) classified, (3) concluded. The results of this research were (1) the pragmatic rhetoric function is not directive and asertive variated with the students duty in the class discussion (as moderator, speaker, or participant). (2) the composition of utilize pragmatic rhetoric of students speech was variated enough. Based on the result of the research itself, it could be suggested that the theacher, student, and applicant of teacher with the untilize pragmatic rhetoric of students speech in discussion would be more effective to know the active student in the teaching and learning process, then the student could be reflected themselve to improved their ability in their untilize pragmatic rhetoric of students speech; and for the future reseracher, the forgotten accidentally issued of

pragmatic rhetoric untilize is very interesting in research. Key words: rhetoric, pragmatic, speech.

1. Pendahuluan Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional manusia serta menjadi penunjang keberhasilan dalam mempelajari segala bidang kehidupan, baik di sekolah maupun dalam hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, peran pengajaran bahasa di sekolah-sekolah harus dapat membantu seseorang mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan untuk dapat berpartisipasi dalam aktivitas interaksi sosial sehari-hari, termasuk dalam aktivitas atau kegiatan pembelajaran di sekolah itu sendiri. Dalam realitas aktivitas interaksi sosial sehari-hari, ada kalanya seseorang dituntut untuk menata tuturan agar ide atau gagasannya dapat dipahami, diterima, bahkan diikuti orang lain sebagai lawan bicara. Secara bersamaan dengan hal itu, seseorang juga dituntut untuk menata tuturan agar terjalin hubungan sosial yang baik, kerja sama, saling pengertian satu sama lain, dan tercipta kedamaian. Hal itu menunjukkan bahwa interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari, seseorang berupaya memperhatikan dan menggunakan retorika yang oleh Keraf (2009:1) dikatakan sebagai teknik atau seni pemakaian bahasa yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. dan fungsi retorika yang menurut Hill (dalam Sudiana, 2007: 25), adalah untuk (1) memberi informasi kepada orang kebanyakan, (2) meyakinkan, (3) menegakkan kebenaran, dan keadilan dan (4) mempertahankan diri dari ketidakadilan. Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa dalam retorika, ada upaya untuk menata tuturan agar terjalin hubungan sosial yang baik, kerja sama, saling pengertian satu sama lain, dan tercipta kedamaian. Upaya menata tuturan seperti itu menunjukkan bahwa dalam retorika atau seni pemakaian bahasa, penutur berupaya menyampaikan maksud sesuai dengan informasi, ide, dan sebagainya dengan memperhatikan konteks interaksi, yaitu situasi saat itu (formal, tidak terlalu formal, atau informal), lawan bicara, tempat, dan waktu berbicara. Hal itu berarti pula bahwa dalam menggunakan retorika, penutur selalu berupaya memperhatikan faktor-faktor pragmatik sebagaimana dijelaskan dalam KBBI (1993: 177) bahwa pragmatik berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa yang digunakan dalam komunikasi. Retorika atau seni pemakaian bahasa dengan memperhatikan faktor-faktor pragmatik

dapat dikatakan sebagai retorika pragmatik. Terkait dengan hal itu, retorika tekstual pragmatik berkaitan dengan prinsip kerja sama dan retorika interpersonal pragmatik berkaitan dengan prinsip kesantunan (Wijana 1996:56 ). Dalam hal ini, wujud retorika tekstual pragmatik adalah penggunaan tuturan berdasarkan prinsip kerja sama yang pada intinya berkaitan dengan penggunaan tuturan dengan kata-kata bermakna lugas, langsung, dan mudah dipahami agar penggunaan bahasa itu efektif dan efisien sehingga tidak menghabiskan waktu lawan tutur. Sementara itu, wujud retorika interpersonal pragmatik adalah penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip kesopanan untuk menjalin hubungan baik atau harmonis sehingga terhindar dari konflik, terjalin kerja sama, terjalin saling pengertian sehingga komunikasi antara penutur dan mitra tutur dapat tetap berlangsung. Dalam retorika pragmatik atau seni pemakaian bahasa dengan memperhatikan faktorfaktor pragmatis, pemakaian bahasa diwujudkan dengan penggunaan tuturan dalam konteks interaksi. Tuturan yang digunakan partisipan tutur dalam konteks interaksi itu dapat dipandang sebagai tindak tutur. Richard (1995:6) menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan kegiatan bertutur sebagai aktivitas komunikasi, kegiatan bertutur adalah suatu tindakan. Jika kegiatan bertutur dianggap sebagai tindakan, berarti setiap kegiatan bertutur atau kegiatan menggunakan tuturan terjadi tindak tutur. Hakikat tindak tutur itu adalah maksud tuturan sebagai tindakan yang dinyatakan dengan tuturan. Tindak tutur merupakan unit terkecil aktivitas bertutur (percakapan atau wacana) yang terjadi dalam interaksi sosial. Tindak tutur mempunyai fungsi. Fungsi tindak tutur itu tercermin pada maksud tuturan (Leech, 1983:176). Fungsi tindak tutur antara lain, seperti memberikan informasi, memerintah, bertanya, dan sebagainya. Wijana (1986:28) mengisyaratkan bahwa tindak tutur dapat diwujudkan dengan tuturan bermodus deklaratif, interogatif, dan imperatif langsung atau tidak langsung dengan makna literal atau tidak literal. Aktivitas atau kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah pada umumnya berlangsung dalam bentuk diskusi, baik diskusi kelas maupun diskusi kelompok. Hal itu dilakukan guru sesuai dengan tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menghendaki pembelajaran kontekstual. Sebagaimana dikatakan Muslich (2008:49) bahwa berdasarkan pemahaman, karakteristik, dan komponen pembelajaran kontekstual, para ahli membedakan strategi pembelajaran kontekstual menjadi beberapa macam, yaitu antara lain sebagai berikut: (1) pembelajaran berbasis masalah, (2) pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan siswa, (3) pembelajaran melalui aktivitas kelompok, (4) pembelajaran dengan aktivitas belajar mandiri, (5) pembelajaran dengan aktivitas bekerja sama dengan anggota masyarakat, dan pembelajaran dengan menerapkan penilaian autentik.

Dalam diskusi sebagai salah satu aktivitas pembelajaran di kelas, siswa dituntut untuk saling berbagi pendapat. Dalam hal ini, ada siswa yang menyampaikan pendapat, pikiran, gagasan dan ada pula menyanggah, bertanya, dan sebagainya. Dalam konteks itu, siswa sebagai penutur dituntut untuk menggunakan bahasa secara efektif dan efisien serta mempengaruhi atau meyakinkan lawan tutur. Kemudian mereka juga dituntut untuk menggunakan bahasa yang sopan agar tidak menyinggung perasaan lawan tutur. Berdasarkan kenyataan tersebut dapat dikatakan bahwa dalam diskusi kelas, siswa dituntut menggunakan retorika pragmatik dalam penggunaan tindak tutur mereka. Artinya, dalam diskusi kelas, siswa dituntut untuk menggunakan tindak tutur atau menyatakan maksud seperti menyampaikan pendapat, menanggapi, atau bertanya dengan tuturan dalam berbagai bentuk (tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif). Dalam penggunaan tindak tutur tersebut, siswa dituntut untuk memperhatikan prinsip kerja sama yaitu menggunakan katakata bermakna lugas, langsung, dan mudah dipahami agar penggunaan tindak tutur itu efektif dan efisien sehingga tidak menghabiskan waktu lawan tutur. Sementara itu, siswa juga dituntut menggunakan tindak tutur dengan memperhatikan prinsip kesopanan atau kehalusan bahasa untuk menjalin hubungan baik atau harmonis sehingga terhindar dari konflik, terjalin kerja sama, terjalin saling pengertian sehingga komunikasi antara penutur dan mitra tutur dapat tetap berlangsung. Dalam konteks seperti itu, fungsi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dan komposisi yang digunakan siswa untuk membangun retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi kelas dapat bervariasi. Dalam hal ini, retorika pragmatik penggunaan tindak tutur siswa dapat berfungsi untuk memberikan informasi, menyampaikan pendapat, menerima, menolak, menyanggah, dan sebagainya yang dapat sejalan dan tidak sejalan dengan tujuan retorika, yaitu untuk (1) menebalkan kesetiaan terhadap nilai-nilai kebenaran, (2) menciptakan disposisi bertindak atau menciptakan pendapat untuk meyakinkan atau mempengaruhi, dan (3) menuntun orang bertindak. Kemudian hal itu dapat sesuai dan tidak sesuai dengan fungsi retorika yang menurut Hill (dalam Sudiana, 2007: 25) adalah untuk (1) memberi informasi kepada orang kebanyakan, (2) meyakinkan, (3) menegakkan kebenaran dan keadilan, dan (4) mempertahankan diri dari ketidakadilan. Selanjutnya dalam membangun komposisi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi, siswa dapat menggunakan tuturan dalam bentuk deklaratif, interogatif, dan imperatif dengan menggunakan pilihan bahasa dan gaya bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasar kerja sama ataupun kesantunan yang bervariasi. Fenomena fungsi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dan komposisi yang digunakan siswa untuk

membangun retorika pragmatik penggunaan tindak tutur siswa dalam diskusi kelas tersebut menarik untuk diselidiki. Pemilihan SMA Negeri 4 Singaraja sebagai latar penelitian karena sekolah tersebut merupakan sekolah unggulan dan tergolong sekolah favorit di Kabupaten Buleleng. Dengan predikat yang disandangnya, sekolah tersebut sudah tentu mempunyai program yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Hal itu berarti pula bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran berbagai bidang studi termasuk bahasa Indonesia telah diupayakan semaksimal mungkin sesuai dengan tuntutan KTSP yang berlaku di sekolah-sekolah saat ini. Kemudian siswa yang ada di sekolah tersebut dapat dikatakan mempunyai kemampuan di atas kemampuan siswa sekolah-sekolah yang lain. Dan lebih penting lagi, bahwa di sekolah tersebut, pembelajaran dilakukan melalui diskusi, baik diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Dengan kondisi dan situasi latar seperti itu, peneliti memungkinkan untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam menjawab permasalahan penelitian yang dilakukan. Sesuai dengan latar belakang yang telah disampaikan, terdapat dua masalah yang dijawab dalam penelitian ini, yaitu mengenai fungsi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur, dan komposisi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja. Tujuannya tiada lain adalah untuk mendeskripsikan fungsi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam; dan untuk mendeskripsikan komposisi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja. Penelitian ini bermanfaat bagi Bagi guru, karena penelitian ini memberikan sumbangan pengetahuan tentang cara-cara berbicara yang baik dan efektif untuk memengaruhi mitra tutur dalam berdiskusi. Penelitian ini juga berguna bagi siswa. Siswa mendapatkan masukan bahwa retorika pragmatik penggunaan tindak tutur sangat penting diterapkan dalam diskusi kelas khususnya dan dalam pembelajaran umumnya. Bagi peneliti berikutnya yang ingin mengkaji mengenai retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan, pedoman, informasi, atau bahan bandingan terhadap penelitian yang dilakukan. Bagi sekolah penelitian ini juga dapat dijadikan pedoman oleh sekolah untuk membiasakan penggunaan retorika dan pragmatik saat berbicara dalam percakapan ataupun diskusi di kelas. Dengan becermin pada hal tersebut, pihak sekolah setidaknya dapat memutuskan penggunaan bahasa yang patut ditiru oleh siswa. 2. Metode Penelitian Penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian deskriptif. Penelitian ini bertujuan

mendeskripsikan fenomena yang berkaitan erat dengan retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi siswa. Data penelitian yang diperoleh disajikan secara kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah (Moleong, 2007: 6). Dengan demikian, dalam rancangan penelitian ini, peneliti menyajikan atau mendeskripsikan fenomena yang dialami subjek penelitian (siswa), tepatnya mengenai retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X. Dalam penelitian ini, data yang dikaji berupa percakapan guru yang berkaitan erat dengan retorika pragmatik dalam diskusi di kelas. Oleh sebab itu, subjek dalam penelitian ini terdiri atas siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja. Objek penelitian ini, yaitu fungsi dan komposisi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi siswa. Data penelitian ini ada dua jenis, yaitu: fungsi tuturan siswa yang mengandung retorika pragmatik dan komposisi tuturan dalam retorika pragmatik tersebut. Data pertama dan kedua diperoleh melalui alat bantu yang berupa tape recorder. Data yang telah diperoleh melalui tape recorder disempurnakan lagi dengan metode observasi dan wawancara dengan alat bantu yang berupa pedoman wawancara dan lembar catatan lapangan. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri karena data harus dikumpulkan, diseleksi, dan ditafsirkan. Data dianalisis dengan menggunakan model analisis deskriptif kualitatif melalui prosedur sebagai berikut: (1) reduksi data, (2) klasifikasi dan deskripsi data, dan (3) penyimpulan data. Dalam reduksi data, peneliti terlebih dahulu mengumpulkan data melalui rekaman, observasi, dan wawancara. Data mengenai penataan tuturan diperoleh dengan menggunakan tape recorder, kemudian ditranskripsikan. Setelah seluruh hasil rekaman ditranskripsikan, data diidentifikasi dan dipilih data-data percakapan yang mengandung retorika pragmatik. Selanjutnya, data yang terkumpul diberi kode untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis data. Pengkodean dalam tiap-tiap data tersebut terdiri atas kode tindak tutur siswa (TS), retorika pragmatik (RP), kode fungsi tindak tutur (informasi,meminta,bertanya), kode bentuk tuturan (deklaratif, interogatif, imperatif), rekaman (R), kelas (K), dan kode data ke-n (1,2dst). Contoh pengkodean data percakapan, yaitu TS/RP/Info/D/R1/Kx2/1 yang artinya data percakapan itu dari tidak tutur siswa, retorika pragmatik, fungsinya memberikan informasi,berbentuk tuturan deklaratif,pada rekaman pertama, kelas X2 dan merupakan data pertama.

Data yang dikumpulkan melalui lembar catatan lapangan dan lembar wawancara (terlampir), dalam hal ini peneliti melakukan observasi sambil melakukan perekaman. Lembar wawancara digunakan untuk menanyakan hal-hal yang perlu diketahui terkait dengan retorika pragmatik penggunaan tindak tutur siswa dalam diskusi. Hasil observasi dalam lembar catatan lapangan tersebut selanjutnya dicocokkan dengan transkrip data untuk lebih meyakinkan peneliti mengenai data yang diperoleh dalam lembar catatan lapangan. Setelah dilakukan kegiatan di atas, peneliti menganalisis keseluruhan data berdasarkan pedoman yang digunakan dan mengklasifikasikan data sesuai dengan masalah penelitian. Selanjutnya data disajikan dan disimpulkan. 3. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian ini mencakup dua hal, yaitu (1) fungsi retorika pragmatik dan (2) komposisi retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja. Hal tersebut diuraikan di bawah ini. a. Fungsi Retorika Pragmatik Penggunaan Tindak Tutur Fungsi retorika pragmatik tindak tutur adalah fungsi tindak tutur yang sejalan dengan fungsi retorika yaitu untuk mempengaruhi lawan tutur agar pesan yang disampaikannya dapat diterima. Secara khusus, fungsi retorika pragmatik tindak tutur dapat berupa fungsi direktif dan asertif yang sejalan dengan fungsi retorika, yaitu: (1) memberi informasi kepada orang kebanyakan, (2) meyakinkan, (3) mempertahankan diri dari ketidakadilan, dan (4) menegakkan kebenaran dan keadilan. Misalnya, dalam konteks pertuturan dalam konteks interaksi yang sedang berlangsung, tuturan yang disampaikan penutur terhadap lawan tutur dapat mempunyai fungsi direktif yang secara pragmatik digunakan untuk meminta lawan tutur melakukan sesuatu. Fungsi tersebut sesuai dengan fungsi retorika yaitu memperengaruhi lawan tutur untuk memberi informasi. b. Komposisi Retorika Pragmatik Penggunaan Tindak Tutur Komposisi retorika pragmatik sangat bergantung pada fungsi retorika pragmatik yang dinyatakannya. Dalam hal ini, sesuai dengan fungsi tindak tutur yang dinyatakannya, komposisi retorika pragmatik penggunaan (KRPP) tindak tutur diwujudkan dengan bentuk tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif. Bentuk-bentuk tuturan tersebut dapat menggunakan pilihan bahasa berupa kata yang jelas, tepat, menarik (kata-kata yang langsung menyentuh diri mitra tutur, kata-kata berona, kata-kata tindak (action words)). Bentuk-bentuk tuturan tersebut dapat menggunakan pilihan bahasa berupa bahasa figuratif, seperti gaya

bahasa pleonasme, gaya bahasa personifikasi, dan sebagainya. Dengan pilihan bahasa tersebut, KRPP tindak tutur siswa dapat menekankan prinsip kerja sama yaitu menggunakan kata-kata yang lugas dan langsung sehingga mudah dipahami lawan bicara dan bisa juga menekankan prinsip kesantunan yaitu menggunakan kata-kata yang terkesan halus atau santun agar terjalin hubungan harmonis atau hubungan baik. Hal itu dilakukan agar bahasanya efektif, dapat menarik perhatian, meyakinkan, dan mempengaruhi mitra tutur sesuai dengan konteks interaksi yang sedang berlangsung. Dengan demikian penggunaan bahasa dapat mengemban fungsi retorika, yaitu: (1) memberi informasi kepada orang kebanyakan, (2) meyakinkan, (3) mempertahankan diri dari ketidakadilan, dan (4) menegakkan kebenaran dan keadilan. Sejalan dengan uraian di atas, KRPP tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja dapat berupa KRPP direktif dan asertif yang dikaji dalam penelitian ini. KRPP tindak tutur tersebut diwujudkan dengan bentuk-bentuk tuturan tersendiri, yaitu tuturan deklaratif, interogatif, atau imperatif. Sesuai dengan tindak tutur atau fungsi tindak yang dinyatakannya, tuturan-tururan tersebut dapat menggunakan pilihan bahasa yang menekankan prinsip kerja sama dan juga menekankan prinsip kesantunan. Hal itu terkait dengan penggunaan bahasa yang efektif atau dapat menarik perhatian, meyakinkan, dan mempengaruhi mitra tutur sesuai dengan konteks interaksi yang sedang berlangsung. Kemudian penggunaan bahasa itu terkait pula fungsi retorika yang diembannya, yaitu: (1) memberi informasi kepada orang kebanyakan, (2) meyakinkan, (3) mempertahankan diri dari ketidakadilan, dan (4) menegakkan kebenaran dan keadilan. c. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi retorika pragmatik (FRP) tindak direktif dan asertif bervariasi. FRP tindak tutur tersebut dinyatakan siswa sesuai dengan perannya dalam diskusi kelas yaitu sebagai moderator, penyaji, atau peserta. Fungsi retorika pragmatik tindak direktif yang dinyatakan moderator meliputi fungsi meminta, bertanya, mengizinkan. Fungsi retorika pragmatik tindak direktif yang dinyatakan penyaji, yaitu untuk meminta, bertanya, memerintah. Kemudian fungsi retorika pragmatik tindak direktif yang dinyatakan peserta, yaitu untuk meminta, bertanya, dan memerintah. Fungsi retorika pragmatik tindak asertif moderator, yaitu untuk menginformasikan, dan menerima. Fungsi retorika pragmatik tindak asertif penyaji, yaitu untuk menginformasikan, mengemukakan pendapat, dan menolak. Fungsi retorika pragmatik tindak asertif peserta, yaitu untuk mengemukakan pendapat, menerima, dan menolak. Penggunaan

fungsi direktif dan asertif itu terkait dengan fungsi (umum) retorika, yaitu untuk (1) memberi informasi kepada orang kebanyakan, (2) meyakinkan, (3) menegakkan kebenaran dan keadilan, dan (4) mempertahankan diri dari ketidakadilan. FRP tindak tutur siswa dalam diskusi kelas sebagaimana diuraikan di atas bervarisi. Bervariasinya fungsi itu disebabkan oleh kebutuhan partisipan tutur, yaitu yang berperan sebagai moderator, penyaji, dan peserta dalam konteks diskusi di kelas saat pembelajaran berlangsung. Fungsi tindak tutur tersebut pada prinsipnya sejalan dengan fungsi retorika. Hal itu menunjukkan bahwa FRP tindak tutur siswa dalam diskusi kelas mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan peran mereka masing-masing dalam diskusi tersebut. Hal itu sesuai dengan yang dikatakan Brown dan Yule (1986:12) bahwa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa pada berbagai latar, pelaku tutur pada umumnya menggunakan bahasa sesuai dengan norma sosial yang mereka sepakati dan berkembang sesuai dengan dinamika suasana dalam komunikasi tersebut. Kemudian temuan penelitian di atas juga menunjukkan adanya FRP siswa dalam diskusi kelas yang pada prinsipnya sejalan dengan fungsi retorika. Keberadaan hal itu menunjukkan bahwa fungsi pragmatik yang dinyatakan dalam diskusi kelas, sejalan dengan fungsi retorika pada umumnya sebagaimana diungkapkan oleh Hill (dalam Sudiana, 2007: 25) bahwa fungsi retorika adalah untuk (1) memberi informasi kepada orang kebanyakan, (2) meyakinkan, (3) menegakkan kebenaran dan keadilan, dan (4) mempertahankan diri dari ketidakadilan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa komposisi retorika pragmatik penggunaan (KRPP) tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja berupa KRPP direktif dan asertif yang dikaji dalam penelitian ini. KRPP tindak tutur tersebut diwujudkan dengan bentuk-bentuk tuturan tersendiri, yaitu tuturan deklaratif, interogatif, atau imperatif. Sesuai dengan tindak tutur atau fungsi tindak tutur yang dinyatakannya, tuturantururan tersebut dapat menggunakan pilihan bahasa yang menekankan prinsip kerja sama dan juga menekankan prinsip kesantunan. Dalam hal ini, KRPP tindak direktif meminta dan mengizinkan dinyatakan moderator dengan tuturan imperatif langsung. KRPP tindak direktif memerintah dinyatakan penyaji dengan tuturan imperatif langsung. KRPP tindak direktif meminta, bertanya, memerintah dinyatakan peserta dengan tuturan menggunakan imperatif langsung, dan bertanya menggunakan interogatif langsung. KRPP meminta dapat juga berupa tuturan direktif tidak langsung. KRPP tindak asertif moderator menginformasikan, dan menerima dinyatakan moderator dengan tuturan deklaratif langsung. KRPP tindak asertif menginformasikan, mengemukakan pendapat, serta menolak yang dinyatakan peserta dan

penyaji dengan bentuk berupa tuturan deklaratif langsung. KRPP tindak tutur siswa dalam diskusi di kelas tersebut dinyatakan dengan memperhatikan prinsip kerja sama agar pesan yang disampaikan dapat dengan segera diterima lawan tutur; dan juga memperhatikan prinsip kesantunan agar tidak menyinggung perasaan lawan tutur. KRPP tindak tutur yang tidak santun hanya terbatas. Hal itu timbul karena adanya upaya siswa yang saling mempertahankan pendapat. KRPP tersebut menggambarkan upaya mempengaruhi mitra tutur sesuai dengan konteks interaksi yang sedang berlangsung dalam diskusi di kelas. Hal itu sejalan dengan fungsi retorika yang diemban KRPP tersebut. KRPP tindak tutur direktif dan asertif siswa dalam diskusi kelas sebagaimana diuraikan di atas cukup bervariasi. KRPP tindak tutur yang bervariasi itu dinyatakan siswa sesuai dengan tindak tutur atau fungsi tindak tutur yang dalam diskusi kelas. Misalnya, KRPP tindak direktif meminta, bertanya, memerintah dinyatakan peserta dengan menggunakan tuturan imperatif langsung, dan bertanya menggunakan interogatif langsung; dan KRPP tindak asertif moderator menginformasikan, dan menerima dinyatakan moderator dengan tuturan deklaratif langsung. Hal itu menunjukkan bahwa KRPP tindak tutur siswa selalu dinyatakan sesuai dengan fungsi dan kebutuhan partisipan tutur sebagaimana yang dikatakan Wijana (1986:28) bahwa tindak tutur dapat diwujudkan dengan tuturan bermodus deklaratif, interogatif, dan imperatif langsung atau tidak langsung dengan makna literal atau tidak literal. KRPP tindak tutur siswa juga dinyatakan dengan memperhatikan prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan. Hal itu sesuai juga dengan yang dikatakan oleh Leech (1995:15-16) bahwa prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan pada umumnya beroperasi secara bersamasama, dan berbeda dalam kebudayaan-kebudayaan dan masyarakat bahasa berbeda, dalam situasi sosial berbeda, kelas sosial berbeda, dan sebagainya. Adanya kenyataan seperti itu menunjukkan bahwa dalam diskusi kelas, penggunaan KRPP tindak tutur tidak hanya memperhatikan prinsip kerjasama yaitu prinsip penggunaan bahasa dengan menggunakan tuturan langsung, lugas, dan jelas agar mudah dipahami lawan tutur, tetapi juga memperhatikan prinsip kesantunan, yaitu prinsip penggunaan tuturan yang halus atau sopan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hasil yang diperoleh tadi didukung oleh hasil penelitian Mardana (2009) yang menyatakan bahwa komposisi retorika yang dilakukan oleh dalang Cenk Blonk juga memerhatikan; (1) pemilihan ragam bahasa; (2) pemilihan materi bahasa; (3) penataan materi bahasa; (4) pemilihan gaya berbahasa; dan (5) pemanfaatan sor singgih. 4. Penutup

Berdasarkan masalah yang yang diajukan, hasil kajian terhadap retorika pragmatik penggunaan tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja dapat disimpulkan sebagai berikut. Fungsi retorika pragmatik (FRP) tindak direktif dan asertif bervariasi sesuai dengan peran siswa dalam diskusi kelas yaitu sebagai moderator, penyaji, atau peserta. Fungsi retorika pragmatik tindak direktif yang dinyatakan moderator meliputi fungsi meminta, bertanya, mengizinkan. Fungsi retorika pragmatik tindak direktif yang dinyatakan penyaji dan peserta, yaitu untuk meminta, bertanya, memerintah. Fungsi retorika pragmatik tindak asertif moderator, yaitu untuk menginformasikan, dan menerima. Fungsi retorika pragmatik tindak asertif penyaji, yaitu untuk menginformasikan, mengemukakan pendapat, dan menolak. Fungsi retorika pragmatik tindak asertif peserta, yaitu untuk mengemukakan pendapat, menerima, dan menolak. Hal itu sejalan dengan fungsi retorika yang diembannya. Komposisi retorika pragmatik penggunaan (KRPP) tindak tutur dalam diskusi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja diwujudkan dengan tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif. Dalam hal ini, KRPP tindak tutur siswa dapat dibedakan atas KRPP tindak tutur direktif dan asertif. KRPP tindak direktif dinyatakan moderator, penyaji, peserta dengan tuturan imperatif, interogatif langsung. KRPP meminta dapat juga berupa tuturan direktif tidak langsung. KRPP tindak asertif moderator menginformasikan, dan menerima dinyatakan dengan tuturan deklaratif langsung. KRPP tindak asertif menginformasikan, mengemukakan pendapat, serta menolak yang dinyatakan peserta dan penyaji dengan bentuk berupa tuturan deklaratif langsung. KRPP tindak tutur siswa dalam diskusi di kelas tersebut dinyatakan dengan memperhatikan prinsip kerja sama dan juga memperhatikan prinsip kesantunan agar tidak menyinggung perasaan lawan tutur. Kalaupun ada yang tidak santun hanya terbatas yang timbul karena adanya situasi saling mempertahankan pendapat. Berdasarkan simpulan-simpulan di atas, peneliti perlu menyampaikan beberapa saran kepada para ahli diharapkan dapat menciptakan teori baru terkait retorika pragmatik tentang penggunaan bahasa dalam pembelajaran di kelas. Teori-teori tersebut tentu sangat bermanfaat bagi guru untuk dijadikan masukan dalam menjalankan profesi mereka terutama dalam menyusun pedoman dan melaksanakan diskusi dalam pembelajaran di kelas. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan oleh siswa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan hasil penelitian ini, siswa mendapatkan masukan bahwa retorika pragmatik penggunaan tindak tutur sangat penting diterapkan dalam diskusi kelas khususnya dan dalam pembelajaran umumnya. Selain itu hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh peneliti berikutnya yang ingin mengkaji retorika pragmatik penggunaan

tindak tutur. Dalam hal ini, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan, pedoman, informasi, atau bahan bandingan terhadap penelitian yang mereka lakukan. 5. Daftar Pustaka Abdilah,Pius dkk. 2007. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Arkola. Keraf,Gorys. 2009. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi. Leech Geoffry.1996. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Diterjemahkan oleh MDD Oka. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Mardana, I Wayan. 2009. Retorika Ragam Tutur Dalang Nardayana, Pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blonk (Kajian pada Lakon Kumbakarna Lina). Penelitian (tidak diterbitkan). Denpasar: Institus Seni Indonesia. Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Sudiana, I Nyoman. 2007. Retorika Bertutur Efektif. Sidoarjo: AP Asri Press. Sumarsono. 2007. Pragmatik. Buku Ajar (tidak diterbitkan). Singaraja: Undiksha. Wijana, I Dewa Pt. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI