Anda di halaman 1dari 10

ENUMERASI MIKROORGANISME SECARA LANGSUNG ENUMERASI

MIKROORGANISME SECARA TIDAK LANGSUNG


BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Di dalam bidang ilmu mikrobiologi ada suatu hal mendasar yang juga perlu diperhatikan yaitu
analisia kualitatiI terhadap suatu bahan. Suatu analisis ini Sangat penting untuk mengetahui
jumlah mikroorganisme yang ada pada suatu sampel tertentu mengandung banyak
mikroorganisme atau sebaliknya (Ferdiaz, 1992).
Analisis kualitatiI atau biasa disebut dengan enumerasi mikroorganisme dalam hal ini dapat
dilakukan baik dengan perhitungan langsung terhadap suatu sampel yaitu salah satunya dengan
alat bantu mikroskop, maupun dengan cara tidak langsung yaitu dengan beberapa metode
perhitungan (Gobel, 2008).
Dalam percobaan ini akan dibahas secara lebih lanjut mengenai bagaimana cara perhitungan
jumlah sel yang ada di dalam suatu medium yang mana umumnya digunakan untuk uji
mikrobiologi bahan pangan yaitu metode hitung cawan (Total Plate Counts ) dan metode hitung
MPN (Most Probable Number). Sedangkan untuk metode perhitungan secara langsung dapat kita
terapkan pada sampel pengujian salinitaasi lingkungan sehingga dengan demikian diharapkan
kita akan lebih memahami tentang bagaimana prosedur perhitungan yang baik.





I.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Untuk mengetahui perhitungan mikroorganisme dengan metode Standar Plate Count (SPC)
pada medium Nutrien Agar (NA).
2. Untuk mengetahui perhitungan mikroorganisme dengan metode Most Probable Number
(MPN) pada medium Laktosa Broth (LB).
I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 01 April 2009, pukul 14.00- 17.30 WITA dan
bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Istilah pertumbuhan umumnya dipergunakan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya dan
biasanya lebih mengacu pada perubahan di dalam hasil panen sel dan bukanlah dilihat. Dari
pertambahan jumlah individu mikroorganisme tersebut. Suatu proses pertumbuhan menyatakan
pertambahan jumlah atau massa yang melebihi dari yang ada di dalam inokulum asalnya (Volk,
1985).
Sebelum kita dapat mengevaluasi atau menaIsirkan respon pertumbuhan bakteri dalam berbagai
media atau pada kondisi yang berbeda- beda kita harus menyatakan pertumbuhan secara
kualitatiI. Di dalam bidang ilmu mikrobiologi, istilah pertumbuhan ini ditaIsirkan dalam
berbagai cara. Sebagai contoh mungkin dalm suatu perangkat tertentu dari kondisi pembiakan di
nilai sama sebaiknya karena bakteri melakukan pertumbuhan yang relatiI cepat pada stadium
awal, tetapi panen sel total akhirnya belum tentu sebanyak yang di dspat pada perangkat yang
lainnya (Pelczar, 1986).
Tersedia banyak teknik di dalam laboratorium untuk mengukur pertumbuhan bakteri tersebut.
Alat- alat yang ada tersebut berkisar dari peralatan yang masih sederhana seperti sebuah kaca
objek dengan olesan yang diwarnai. Selain itu terdapat pula metode- metode yang lain dalam
pengukuran pertumbuhan bakteri, misalnya dengan metode hitung cawan, pengukuran kekeruhan
dari suatu suspensi, pengukuran dengan menggunakan membran atau Iilter molekuler dan
penentuan berat (Volk, 1985).
Suatu bakteri dapat dihitung secara elektronik yaitu dengan cara memasukkan biakan melalui
lubang yang sangat kecil pada alat penghitung partikel counter. Alat penghitung yang semacam
ini dapat dipakai secara rutin memecah sel darah, namun dapat pula disesuaikan untuk memecah
bakteri (Volk, 1985).
Akan tetapi, bukanlah laju pertumbuhan bakteri yang tepat melainkan ada atau tidaknya
pertumbuhan bakteri yang akan menjadi perhatian. Adapun cara yang dilakukan untuk
menentukannya, yaitu hanyalah dengan melihat biakan. Suatu medium cair akan berubah
menjadi keruh sedangkan medium yang padat paada umumnya akan memperlihatkan
pertumbuhan, baik itu pada permukaan dari medium maupun di dalam medium tersebut
(Hadioetomo, 1996).
Penetapan jumlah bakteri di dalam suatu populasi bakteri mungkin saja akan mengalami
hambatan. Hal ini karena tidak semua sel yang ada di dalam suatu biakan itu mampu untuk hidup
secara trus- menerus. Jadi dalam perhitungan ini maka yang dianggap sebagai sel hidup adalah
sel yang membentuk koloni di dalam medium biakan atau dapat juga digunakan bakteri yang
mampu membentuk suspensi di dalam medium biakan. Sel- sel yang mampu hidup terus adalah
yang dihitung dengan berbagai metode untuk menetapkan jumlah selnya. Pada jumlah total sel,
maka ikut dihitung semua sel yang tampak atau yang dapat dihitung dengan cara yang lainnya,
sehingga dengan demikian sel-sel mati dan cacat akan ikut terhitung (Indra, 2008).
Untuk menentukan jumlah bakteri yang ada di dalam suatu medium maka dapat digunakan
beberapa cara sebagai berikut (Lay, 1994):
Jumlah bakteri secara keseluruhan (total cell counts). Pada cara ini di hitung semua bakteri
yang ada di dalam suatu medium biakan baik yang hidup maupun yang mati.
Jumlah bakteri8 yang hidup (Viable count). Cara ini hanya menggambarkan jumlah sel yang
hidup saja, sehingga lebih tepat jika dibandingkan dengan cara yang pertama tadi.
Koloni yang tumbuh di dalam suatu medium itu tidaklah selalu berasal dari satu sel
mikroorganisme, karena beberapa mikroorganisme tertentu cenderung untuk berkelompok atau
berabtai. Bila ditumbuhkan pada suatu medium dengan lingkungan yang sesuai, maka kelompok
bakteri ini hanya akan menghasilkan satu koloni saja. Berdasarkan hal tersebut sering kali
digunakan istilah Colony Forming Units (CFU) yang digunakan untuk perhitungan jumlah
mikroorganisme hidup (Dwidjoseputro, 1996).
Dalam perhitungan jumlah mikroorganisme ini seringkali digunakan pengenceran. Di dalam
laboratorium, pengenceran di lakukan dengan botol pengenceran seperti lazimnya pada SPC,
namun dapat pula menggunakan tabung reaksi. Pada pengenceran dengan menggunakan botol
cairan terlebih dahulu dikocok dengan baik sehingga kelompok sel dapat terpisah. Pengenceran
sel dapat membantu untuk memperoleh perhitungan jumlah mikroorganisme yang benar. Namun
pengenceran yang terlalu tinggi akan menghasilkan lempengan agar dengan jumlah koloni yang
umumnya relatiI rendah (Hadioetomo, !996).
Pada metode perhitungan cawan dilakukan pengenceran yang bertingkat yang mana ditujukan
untuk membentuk konsentrasi dari suatu suspensi bakteri. Sampel yang telah di encerkan ini di
hitung ke dalam cawan baru kemudian di tuang ke mediumnya (metode tuang). Kemudian
setelah diinkubasi selama 24- 48 jam, amati koloni yang tumbuh dan koloni yanng diamati
hanyalah koloni yang berjumlah 30- 300 koloni (Gobel, 2008).
Adapun prinsip dari metode hitung cawan ini adalah jika sel jasad renik yang masih hidup
ditumbuhkan pada suatu medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan berkembang biak dan
membentuk koloni yang dapat di lihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa menggunakan
alat bantu seperti mikroskop dan sebagainya. Metode hittung cawan ini merupakan cara yang
paling sensitiI untuk menentukan jumlah jassad renik karena beberapa hal yaitu (Ferdiaz, 1992):
Hanya sel yang masih hidup yang dihitung
Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung sekaligus
Dapat digunakan untuk mengisolasi dan identiIikasi jasad renik karena koloni yang terbentuk
mungkin berasal dari suatu jassad renik yang mempunyai penampakan yang spesiIik.
Untuk metode MPN (Most probable number) digunakan medium cair dalam wadah berupa
tabung reaksi, perhitungan di lakukan bwerdasarkan jumlah tabung yang positiI yaitu tabung
yang mengalami perubahan pada mediumnya baik itu berupa perubahan warna atau terbentuknya
gelembung gas pada dasar tabung durham. Pada metode perhitungan MPN ini digunakan bentuk
tiga seri pengenceran, yang pertama 10 ', 10 , dan 10 . Kemudian dari hasil perubahan tersebut
dicari nilai MPNnya pada tabel nilai MPN, dan untuk jumlah bakterinya maka digunakan rumus
(Gobel, 2008):
Bakteri nilai MPN x 1/pengenceran tengah
Selain dengan cara tidak langsung seperti yang telah dijelaskan di atas, perhitungan jumlah
mikroorganisme di dalm suatu medium dapat juga dilakukan secara langsung, dimana dengan
metode ini jumlah mikroorganisme tersebut dapat ditentukan langsung dengan menggunakn alat
bantu berupa mikroskop, Colony counter dan hemasitometer. Adapun keuntungan penggunaan
hemasitometer adalah penggunaannya yang tidak memakan waktu banyak dan juga biaya.
Sedangkan kelemahan dari penggunaan hemasitometer adalah tidak dapat membedakan antara
sel hidup dan sel mati, kesulitan dalam perhitungan bakteri yang berukuran kecil karena tidak
dapat dibantu dengan minyak imersi, hanya dapat dibantu dengan tween 80 (bahan anti gumpal
(Gobel, 2008).


BAB III
METODE KERJA
III. 1 Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu : Timbangan Ohaus, Sendok tanduk ,Tabung
reaksi,Tabung durham, Rak tabung,Spoit,Botol
pengencer,Bunsen,Erlenmeyer,AutoklaI,Enkas,Cawanpetri,Inkubator, Batang
pengaduk,Penangas
III.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu : Tanah,Alumunium Ioil,Aquadest steril,Kertas
label,Alkohol 70 ,Korek api,Tissu roll,Medium LB (Laktosa Broth),Medium NA (NUtrien
Agar)
III.3 Prosedur Kerja
A. Metode MPN (Most Probable Number)
1. Menyiapkan 9 tabung reaksi yang berisi medium Laktosa Broth (LB), kemudian member label
untuk masing-masing pengenceran dan menyiapkan 3 buah tabug reaksi pada setiap
pengenceran.
2. Membuat pengenceran susprnsi bakteri yang berasal dari suspense tanah hingga pengenceran
10-7.
3. Memasukkan masimg-masing seri pengenceran 10-1, 10-2 dan 10-3 sebanyak 1 mL kedalam
tabung yang berisi medium Laktosa Broth.
C selama 24-484. Menginkubasi pada suhu 37 jam dan mengamati perubahan yang terjadi.
5. Mencatat dan menghitung MPN (Most Probable Number).
B. Metode SPC (Standar Plate Count).
1. Menyediakan 3 capet steril.
2. Membuat pengenceran suspensi bakteri yang berasal dari suspense tanah hingga pengenceran
10-7.
3. Menanam suspensi tanah dengan metode tuang kedalam capet steril mulai dari pengenceran
10-5, 10-6 dan 10-7.
4. Menginkubasi semua cawan pada C selama 24-48 jam.suhu 37
5. Mengamati dan menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada setiap pengenceran dan hitung
SPC dari koloni tersebut.

A. Metode MPN (Most Probable Number).
Pada percobaan ini menggunakan sampel berupa suspense tanah untuk mengetahui adanya
mikroba / bakteri yang ditandai dengan terbentuknya gas, perubahan warna dan terbentuknya
endapan. Digunakan tabung durham untuk menampung gas hasil Iermentasi mikroorganisme
dari bakteri coliIorm. Pengenceran yang digunakan yaitu 10-1. 10-2 dan 10-3 . Dari hasil
pengamatan diperoleh semua tabung ditumbuhi mikroorganisme karena memiliki tanda-tanda
diantaranya terdapat perubahan warna yakni dari agak hijau menjadi kuning, tabung durham
melayang akibat dihasilkannya gas dan terdapat 2,4 3 24,00 dan jumlah sel bakteri 3endapan.
Diperoleh MPN sebesar 10. Dapat disimpulkan bahwa bakteri masih hidup apabila konsentrasi
pengenceran tergolong tinggi. Fungsi dari media Laktosa Broth yaitu untuk mengetahui adanya
bakteri coliIorm.
B. Metode SPC (Standar Plate Count).
Pada percobaan ini menggunakan pengenceran 10-5, 10-6 dan 10-7 dan. Digunakan cawan petri
untuk menumbuhkan mikroba. Dari hasil pengamatan diperoleh pada cawan petri 10-5 terdapat 6
koloni bakteri yang tumbuh sedangkan pada cawan petri 10-6 dan 10-7 tidak ditumbuhi bakteri.
Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi pengenceran yang terlalu tinggi menyebabkan bakteri
yang tumbuh hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali.



BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan dapat disimpulkan bahwa :
1. Standar Plate count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam
suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan
lingkungan yang sesuai.
2. MPN didasarkan pada metode statistik (teori kemungkinan).
3. Nilai SPC yang 10-5, sedangkan nilai MPNdiperoleh berdasarkan percobaan yaitu 6,0
24,00.3yang diperoleh yaitu
V.2 Saran
Saran untuk laboratorium agar percobaan berikutnya keanekaragaman bakteri yang digunakan
dapat bertambah lagi sehingga hasil yang diperoleh dapat bervariasi serta Iasilitas lebih ditambah
lagi.







DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, S., 1992, Mikrobiologi Pangan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Ferdias, S., 1992, Mikrobiologi Pangan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Gobel, Risco, B., dkk., 2008, Mikrobiologi Umum Dalam Praktek, Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Hadioetomo, R., 1990, Mikrobiologi Dasar-Dasar Dalam Praktek, Gramedia, Jakarta.
Indra., 2008, http//ekmon-saurus/bab-5-MorIologi-mikroba/.htm . diakses pada tanggal 08 maret
2009, Makassar.
Lay, B., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja GraIindo Persada, Jakarta.
Pelczar, Michael, J., 1986, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Volk, dan Wheeler., 1993, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Erlangga, Jakarta.
ENUMERASI MIKROORGANISME SECARA LANGSUNG ENUMERASI
MIKROORGANISME SECARA TIDAK LANGSUNG
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Di dalam bidang ilmu mikrobiologi ada suatu hal mendasar yang juga perlu diperhatikan yaitu
analisia kualitatiI terhadap suatu bahan. Suatu analisis ini Sangat penting untuk mengetahui
jumlah mikroorganisme yang ada pada suatu sampel tertentu mengandung banyak
mikroorganisme atau sebaliknya (Ferdiaz, 1992).
Analisis kualitatiI atau biasa disebut dengan enumerasi mikroorganisme dalam hal ini dapat
dilakukan baik dengan perhitungan langsung terhadap suatu sampel yaitu salah satunya dengan
alat bantu mikroskop, maupun dengan cara tidak langsung yaitu dengan beberapa metode
perhitungan (Gobel, 2008).
Dalam percobaan ini akan dibahas secara lebih lanjut mengenai bagaimana cara perhitungan
jumlah sel yang ada di dalam suatu medium yang mana umumnya digunakan untuk uji
mikrobiologi bahan pangan yaitu metode hitung cawan (Total Plate Counts ) dan metode hitung
MPN (Most Probable Number). Sedangkan untuk metode perhitungan secara langsung dapat kita
terapkan pada sampel pengujian salinitaasi lingkungan sehingga dengan demikian diharapkan
kita akan lebih memahami tentang bagaimana prosedur perhitungan yang baik.





I.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Untuk mengetahui perhitungan mikroorganisme dengan metode Standar Plate Count (SPC)
pada medium Nutrien Agar (NA).
2. Untuk mengetahui perhitungan mikroorganisme dengan metode Most Probable Number
(MPN) pada medium Laktosa Broth (LB).
I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 01 April 2009, pukul 14.00- 17.30 WITA dan
bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Istilah pertumbuhan umumnya dipergunakan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya dan
biasanya lebih mengacu pada perubahan di dalam hasil panen sel dan bukanlah dilihat. Dari
pertambahan jumlah individu mikroorganisme tersebut. Suatu proses pertumbuhan menyatakan
pertambahan jumlah atau massa yang melebihi dari yang ada di dalam inokulum asalnya (Volk,
1985).
Sebelum kita dapat mengevaluasi atau menaIsirkan respon pertumbuhan bakteri dalam berbagai
media atau pada kondisi yang berbeda- beda kita harus menyatakan pertumbuhan secara
kualitatiI. Di dalam bidang ilmu mikrobiologi, istilah pertumbuhan ini ditaIsirkan dalam
berbagai cara. Sebagai contoh mungkin dalm suatu perangkat tertentu dari kondisi pembiakan di
nilai sama sebaiknya karena bakteri melakukan pertumbuhan yang relatiI cepat pada stadium
awal, tetapi panen sel total akhirnya belum tentu sebanyak yang di dspat pada perangkat yang
lainnya (Pelczar, 1986).
Tersedia banyak teknik di dalam laboratorium untuk mengukur pertumbuhan bakteri tersebut.
Alat- alat yang ada tersebut berkisar dari peralatan yang masih sederhana seperti sebuah kaca
objek dengan olesan yang diwarnai. Selain itu terdapat pula metode- metode yang lain dalam
pengukuran pertumbuhan bakteri, misalnya dengan metode hitung cawan, pengukuran kekeruhan
dari suatu suspensi, pengukuran dengan menggunakan membran atau Iilter molekuler dan
penentuan berat (Volk, 1985).
Suatu bakteri dapat dihitung secara elektronik yaitu dengan cara memasukkan biakan melalui
lubang yang sangat kecil pada alat penghitung partikel counter. Alat penghitung yang semacam
ini dapat dipakai secara rutin memecah sel darah, namun dapat pula disesuaikan untuk memecah
bakteri (Volk, 1985).
Akan tetapi, bukanlah laju pertumbuhan bakteri yang tepat melainkan ada atau tidaknya
pertumbuhan bakteri yang akan menjadi perhatian. Adapun cara yang dilakukan untuk
menentukannya, yaitu hanyalah dengan melihat biakan. Suatu medium cair akan berubah
menjadi keruh sedangkan medium yang padat paada umumnya akan memperlihatkan
pertumbuhan, baik itu pada permukaan dari medium maupun di dalam medium tersebut
(Hadioetomo, 1996).
Penetapan jumlah bakteri di dalam suatu populasi bakteri mungkin saja akan mengalami
hambatan. Hal ini karena tidak semua sel yang ada di dalam suatu biakan itu mampu untuk hidup
secara trus- menerus. Jadi dalam perhitungan ini maka yang dianggap sebagai sel hidup adalah
sel yang membentuk koloni di dalam medium biakan atau dapat juga digunakan bakteri yang
mampu membentuk suspensi di dalam medium biakan. Sel- sel yang mampu hidup terus adalah
yang dihitung dengan berbagai metode untuk menetapkan jumlah selnya. Pada jumlah total sel,
maka ikut dihitung semua sel yang tampak atau yang dapat dihitung dengan cara yang lainnya,
sehingga dengan demikian sel-sel mati dan cacat akan ikut terhitung (Indra, 2008).
Untuk menentukan jumlah bakteri yang ada di dalam suatu medium maka dapat digunakan
beberapa cara sebagai berikut (Lay, 1994):
Jumlah bakteri secara keseluruhan (total cell counts). Pada cara ini di hitung semua bakteri
yang ada di dalam suatu medium biakan baik yang hidup maupun yang mati.
Jumlah bakteri8 yang hidup (Viable count). Cara ini hanya menggambarkan jumlah sel yang
hidup saja, sehingga lebih tepat jika dibandingkan dengan cara yang pertama tadi.
Koloni yang tumbuh di dalam suatu medium itu tidaklah selalu berasal dari satu sel
mikroorganisme, karena beberapa mikroorganisme tertentu cenderung untuk berkelompok atau
berabtai. Bila ditumbuhkan pada suatu medium dengan lingkungan yang sesuai, maka kelompok
bakteri ini hanya akan menghasilkan satu koloni saja. Berdasarkan hal tersebut sering kali
digunakan istilah Colony Forming Units (CFU) yang digunakan untuk perhitungan jumlah
mikroorganisme hidup (Dwidjoseputro, 1996).
Dalam perhitungan jumlah mikroorganisme ini seringkali digunakan pengenceran. Di dalam
laboratorium, pengenceran di lakukan dengan botol pengenceran seperti lazimnya pada SPC,
namun dapat pula menggunakan tabung reaksi. Pada pengenceran dengan menggunakan botol
cairan terlebih dahulu dikocok dengan baik sehingga kelompok sel dapat terpisah. Pengenceran
sel dapat membantu untuk memperoleh perhitungan jumlah mikroorganisme yang benar. Namun
pengenceran yang terlalu tinggi akan menghasilkan lempengan agar dengan jumlah koloni yang
umumnya relatiI rendah (Hadioetomo, !996).
Pada metode perhitungan cawan dilakukan pengenceran yang bertingkat yang mana ditujukan
untuk membentuk konsentrasi dari suatu suspensi bakteri. Sampel yang telah di encerkan ini di
hitung ke dalam cawan baru kemudian di tuang ke mediumnya (metode tuang). Kemudian
setelah diinkubasi selama 24- 48 jam, amati koloni yang tumbuh dan koloni yanng diamati
hanyalah koloni yang berjumlah 30- 300 koloni (Gobel, 2008).
Adapun prinsip dari metode hitung cawan ini adalah jika sel jasad renik yang masih hidup
ditumbuhkan pada suatu medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan berkembang biak dan
membentuk koloni yang dapat di lihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa menggunakan
alat bantu seperti mikroskop dan sebagainya. Metode hittung cawan ini merupakan cara yang
paling sensitiI untuk menentukan jumlah jassad renik karena beberapa hal yaitu (Ferdiaz, 1992):
Hanya sel yang masih hidup yang dihitung
Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung sekaligus
Dapat digunakan untuk mengisolasi dan identiIikasi jasad renik karena koloni yang terbentuk
mungkin berasal dari suatu jassad renik yang mempunyai penampakan yang spesiIik.
Untuk metode MPN (Most probable number) digunakan medium cair dalam wadah berupa
tabung reaksi, perhitungan di lakukan bwerdasarkan jumlah tabung yang positiI yaitu tabung
yang mengalami perubahan pada mediumnya baik itu berupa perubahan warna atau terbentuknya
gelembung gas pada dasar tabung durham. Pada metode perhitungan MPN ini digunakan bentuk
tiga seri pengenceran, yang pertama 10 ', 10 , dan 10 . Kemudian dari hasil perubahan tersebut
dicari nilai MPNnya pada tabel nilai MPN, dan untuk jumlah bakterinya maka digunakan rumus
(Gobel, 2008):
Bakteri nilai MPN x 1/pengenceran tengah
Selain dengan cara tidak langsung seperti yang telah dijelaskan di atas, perhitungan jumlah
mikroorganisme di dalm suatu medium dapat juga dilakukan secara langsung, dimana dengan
metode ini jumlah mikroorganisme tersebut dapat ditentukan langsung dengan menggunakn alat
bantu berupa mikroskop, Colony counter dan hemasitometer. Adapun keuntungan penggunaan
hemasitometer adalah penggunaannya yang tidak memakan waktu banyak dan juga biaya.
Sedangkan kelemahan dari penggunaan hemasitometer adalah tidak dapat membedakan antara
sel hidup dan sel mati, kesulitan dalam perhitungan bakteri yang berukuran kecil karena tidak
dapat dibantu dengan minyak imersi, hanya dapat dibantu dengan tween 80 (bahan anti gumpal
(Gobel, 2008).


BAB III
METODE KERJA
III. 1 Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu : Timbangan Ohaus, Sendok tanduk ,Tabung
reaksi,Tabung durham, Rak tabung,Spoit,Botol
pengencer,Bunsen,Erlenmeyer,AutoklaI,Enkas,Cawanpetri,Inkubator, Batang
pengaduk,Penangas
III.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu : Tanah,Alumunium Ioil,Aquadest steril,Kertas
label,Alkohol 70 ,Korek api,Tissu roll,Medium LB (Laktosa Broth),Medium NA (NUtrien
Agar)
III.3 Prosedur Kerja
A. Metode MPN (Most Probable Number)
1. Menyiapkan 9 tabung reaksi yang berisi medium Laktosa Broth (LB), kemudian member label
untuk masing-masing pengenceran dan menyiapkan 3 buah tabug reaksi pada setiap
pengenceran.
2. Membuat pengenceran susprnsi bakteri yang berasal dari suspense tanah hingga pengenceran
10-7.
3. Memasukkan masimg-masing seri pengenceran 10-1, 10-2 dan 10-3 sebanyak 1 mL kedalam
tabung yang berisi medium Laktosa Broth.
C selama 24-484. Menginkubasi pada suhu 37 jam dan mengamati perubahan yang terjadi.
5. Mencatat dan menghitung MPN (Most Probable Number).
B. Metode SPC (Standar Plate Count).
1. Menyediakan 3 capet steril.
2. Membuat pengenceran suspensi bakteri yang berasal dari suspense tanah hingga pengenceran
10-7.
3. Menanam suspensi tanah dengan metode tuang kedalam capet steril mulai dari pengenceran
10-5, 10-6 dan 10-7.
4. Menginkubasi semua cawan pada C selama 24-48 jam.suhu 37
5. Mengamati dan menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada setiap pengenceran dan hitung
SPC dari koloni tersebut.

A. Metode MPN (Most Probable Number).
Pada percobaan ini menggunakan sampel berupa suspense tanah untuk mengetahui adanya
mikroba / bakteri yang ditandai dengan terbentuknya gas, perubahan warna dan terbentuknya
endapan. Digunakan tabung durham untuk menampung gas hasil Iermentasi mikroorganisme
dari bakteri coliIorm. Pengenceran yang digunakan yaitu 10-1. 10-2 dan 10-3 . Dari hasil
pengamatan diperoleh semua tabung ditumbuhi mikroorganisme karena memiliki tanda-tanda
diantaranya terdapat perubahan warna yakni dari agak hijau menjadi kuning, tabung durham
melayang akibat dihasilkannya gas dan terdapat 2,4 3 24,00 dan jumlah sel bakteri 3endapan.
Diperoleh MPN sebesar 10. Dapat disimpulkan bahwa bakteri masih hidup apabila konsentrasi
pengenceran tergolong tinggi. Fungsi dari media Laktosa Broth yaitu untuk mengetahui adanya
bakteri coliIorm.
B. Metode SPC (Standar Plate Count).
Pada percobaan ini menggunakan pengenceran 10-5, 10-6 dan 10-7 dan. Digunakan cawan petri
untuk menumbuhkan mikroba. Dari hasil pengamatan diperoleh pada cawan petri 10-5 terdapat 6
koloni bakteri yang tumbuh sedangkan pada cawan petri 10-6 dan 10-7 tidak ditumbuhi bakteri.
Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi pengenceran yang terlalu tinggi menyebabkan bakteri
yang tumbuh hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali.



BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan dapat disimpulkan bahwa :
1. Standar Plate count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam
suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan
lingkungan yang sesuai.
2. MPN didasarkan pada metode statistik (teori kemungkinan).
3. Nilai SPC yang 10-5, sedangkan nilai MPNdiperoleh berdasarkan percobaan yaitu 6,0
24,00.3yang diperoleh yaitu
V.2 Saran
Saran untuk laboratorium agar percobaan berikutnya keanekaragaman bakteri yang digunakan
dapat bertambah lagi sehingga hasil yang diperoleh dapat bervariasi serta Iasilitas lebih ditambah
lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, S., 1992, Mikrobiologi Pangan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Ferdias, S., 1992, Mikrobiologi Pangan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Gobel, Risco, B., dkk., 2008, Mikrobiologi Umum Dalam Praktek, Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Hadioetomo, R., 1990, Mikrobiologi Dasar-Dasar Dalam Praktek, Gramedia, Jakarta.
Indra., 2008, http//ekmon-saurus/bab-5-MorIologi-mikroba/.htm . diakses pada tanggal 08 maret
2009, Makassar.
Lay, B., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja GraIindo Persada, Jakarta.
Pelczar, Michael, J., 1986, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Volk, dan Wheeler., 1993, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Erlangga, Jakarta.