Anda di halaman 1dari 3

KEAMANAN SELAT MALAKA

Dari 13 selat paling strategis dan bernilai komersial sangat tinggi di dunia,
ternyata selat Malaka termasuk jalur pelayaran terpenting, yang bisa di sejajarkan dengan
Terusen Suez atau Terusan Panama. Selat Malaka menjadi urat nadi strategis bagi lalu
lintas pelayaran dan perdagangan dunia sehingga memicu desakan beberapa Negara yang
berkepentingan untuk memaksa Indonesia membuka alur laut kepulauan Indonesia
(ALKI) dari barat ke timur
Selain itu, adanya sejumlah kerawanan dan bahkan ancaman yang saat ini sedang
dan masih akan dihadapi Indonesia terutama dalam pengamanan Selat Malaka antara lain
masalah keamanan, terorisme, sengketa batas laut dan penyelundupan senjata.
. Tingginya tindak kejahatan dilaut seperti perompakan dan pembajakan walaupun
intesitasnya menurun dari tahun ketahun ( tahun 2006 mencapai 61 kasus, sedangkan
tahun 2007 mencapai 41 kasus) namun menunjukan bahwa masih ada celah bagi penjahat
untuk melaksanakan aksinya dan masih ada kelemahan dalam postur Kerjasama
Malsindo, sehingga hal ini harus terus dikaji dan disempurnakan guna menjamin
keselamatan kapal yang melintasi selat Malaka.

Kerjasama pengamanan Selat Malaka pada Negara-negara pantai yakni Thailand,


Singapura, Malaysia dan Indonesia, yang digunakan untuk pelayaran internasional sudah
dirumuskan dengan munculnya Protap MIST, namun karena padatnya lalu lintas
komersial melewati selat ini menyebabkan banyaknya Negara lain merasa turut
berkepentingan mengamankan selat ini demi kepentingan politik dan ekonomi nya.
Selat Malaka menjadi selat yang amat strategis, sebagai urat nadi perekonomian
yang menghubungkan samudera Hindia dan samudera Pasifik, tercatat tidak kurang dari
50.000 kapal bisnis termasuk tanker dengan muatan lebih dari 11 juta barel minyak
perhari melintasi selat ini, sehingga sekaligus merupakan idola bagi kegiatan perompakan
dilaut, peluang kegiatan illegal lainnya seperti penyelundupan senjata dan terorisme.
Meningkatnya kekuatan ekonomi, politik dan pertahanan-keamanan sejumlah
negara di berbagai kawasan, seperti China, Jepang dan India menyebabkan kepadatan
lalu-lintas laut di sepanjang selat Malaka menjadi bertambah, dengan demikian perlu
ditingkatkan pengamanan maupun penambahan frekuensi patroli guna meminimalisir
kegiatan kriminal dilaut.
Komitmen Negara-negara pantai dalam mengamankan selat ini masih dirasa
belum optimal mengingat keterbatasan kekuatan dan armada pengawal sepanjang 1500
mil laut selat Malaka. Sehingga Negara Negara besar seperti Amerika , China dan India
terus berusaha terlibat dalam pengamanan Selat Malaka ini. Dalam konteks ini,
Singapore memang berkeinginan menghadirkan sekutunya AS dengan pola PSI
(Proliferation Security Initiative) dalam upaya peningkatan pengamanan di Selat Malaka.
Sebagai Negara berdaulat yang tidak mau dicampuri urusan teritorinya oleh
kehadiran militer asing maka Negara-negara pantai sepakat tidak akan menghadirkan
militer asing namun hanya mau menerima bantuan dalam bentuk “Capacity building”
berupa alat peralatan, training dan sarana penunjang lainnya.
Upaya membentuk hubungan bilateral yang saling menguntungkan dan
kesepakatan bersama “Trilateral State” Malaysia , Indonesia dan Singapura melalui
kegiatan Malsindo dan “Eye in the Sky” perlu dikedepankan, dan diformulasikan
“Standard Operation Procedure” guna kelancaran dalam pelaksanaan kegiatan patroli di
Laut maupun udara sehingga memudahkan bagi pelaksana teknis dilapangan apabila
dijumpai suatu permasalahan.

Melihat situasi Keamanan di Selat Malaka diatas maka Pemerintah Indonesia


harus konsisten dalam menjalankan politik luar negerinya sesuai dengan amanat
Pembukaan UUD 1945 untuk ikut aktif menjaga perdamaian dunia yang berdasarkan
perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan demikian apapun alasannya kita tetap
berusaha menolak kehadiran pasukan asing dalam pengamanan Selat Malaka, walaupun
Singapore berkeinginan menghadirkan sekutunya AS. Kehadiran Amerika akan
membahayakan integritas bangsa dan sekali Amerika hadir maka akan sulit untuk
mengusirnya.
Sedangkan Negara-negara yang berkepentingan dengan Selat Malaka seperti
Jepang, China, AS, India maupun Australia dapat membantu upaya peningkatan
kemampuan pengamanan selat dengan memberikan “Capacity building” berupa sarana
dan prasarana maupun pelatihan bagi satuan pengamanan Negara-negara pantai tersebut
tanpa harus menghadirkan pasukannya di sepanjang selat.
Pelaksanaan pengamanan dengan Patroli terkoordinasi dan tidak dalam format
patroli bersama sehingga akan sangat efektif dan tidak memerlukan satu komando
pelaksanaan. dr Letkol RM Napitupulu, SE, MM