Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KASUS

TRAUMA GINJAL

Oleh:
Taufik Abidin
H1A003048

Dosen pembimbing:
Dr. Suharjendro H, SpBU

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI SMF BEDAH
RSU MATARAM/ FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2008
LAPORAN KASUS

Identitas pasien:
Nama : Tn “S”.
Usia : 45 th.
MRS : 03 oktober 2008
No. RM. : 90 69 62

Keluhan Utama :
Pasien mengeluh keluar darah ketika kencing lebih kurang 2 hari yang lalu.
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien mengeluh kencingnya berdarah sejak 2 hari yang lalu. Warna darah
yang keluar merah kehitaman dan disertai nyeri pinggang sebelah kanan. Darah
yang keluar bersamaan dengan air kencingnya. Riwayat BAB normal.
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas 3 minggu yang lalu dan mengalami
kencing berdarah juga. Pasien pernah menjalani operasi tulang klavikula dextra dan
kruris dextra.
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada.

Pemeriksaan fisik
Vital sign :
• Tekanan darah : 110/70 mmHg.
• Frekuensi nadi : 80 x/menit.
• Frekuensi napas : 20 x/menit.

• Suhu : 37 oC.
Mata : anemis +/+, ikterus -/-.
Pulmo : dbn.
Cor : dbn.
Abdomen : distensi (-), bising usus (+) normal, nyeri ketok +/-.

Pemeriksaan Laboratorium
Darah lengkap
• Hb : 7,7 gr% (14-18).

• Leukosit : 19.800 /mm3 (4.000-11.000).

• Trombosit : 781.000 /mm3 (150.000-400.000).

2
• Hematokrit : 22,1 (25-42).

Urine lengkap
• Berat jenis : 1020
• pH : 5,5
• protein : +3.
• Darah : +3
• Leukosit : 0-2 /lpb.

• Eritrosit : >20 /lpb.

• Epitel : 0-3 /lpb.


• Bakteri : penuh.
• Jamur :-

Kimia darah
• GDS : 154 (<160)
• Kreatinin : 2,3 mg% (0,9-1,3)

Diagnosis
Gross Hematuria

Penatalaksanaan:
• Infus RL 20 tts/menit.
• Cefotaxime 1 gr/ 8 jam IV.
• Kalnex 1 amp/ 8 jam IV.
• Vit K 1 amp/ 8 jam IV.
• Transfusi darah PRC 2 kolf.
• Foley kateter.

Follow Up
Tgl 04-05 oktober 2008.
• Observasi hematuria.
• Transfusi darah PRC 2 kolf.
Tgl. 06 oktober 2008.
Hasil USG:

3
• Renal dextra : Tampak garis ruptur di pole atas mencapai
kaliks >2 cm dengan gambaran hematome ukuran 5,3 cm x 3,4 cm.
• Vesika urinaria : penuh terisi blood clothing.
• Diagnosis : Ruptur pole atas renal dextra grade II dan
penumpukan darah di Vesika urinaria.

4
Hasil laboratorium:
• Hb : 8,8 gr%.

• Leukosit : 10.500 /mm3.

• Trombosit : 496.000 /mm3.

• LED : 74.

Diagnosis
Ruptur renalis dextra grade II-III.

Tgl. 07 oktober 2008


• Terapi lanjut.
• Observasi vital sign.

Tgl 08 oktober 2008


Instruksi:
• Bed rest
• Konservative
• Cefotaxime 1 g/8 jam.
• Kalnex 500 mg/8 jam.
• Ketorolac 1 g/12 jam.

5
• BOF, diet bebas, transfusi 2 kolf WB.

Tgl 09 oktober 2008


• Transfusi 1 kolf WB.
• Cefotaxime 3x1
• Kalnex 3x1
• Antrain 3x1

Tgl 10 oktober 2008


Hasil laboratorium darah lengkap:
Hb : 12,4 gr%

Tgl 14 oktober 2008


• Off DC dan infus.
• Obat oral:
o B complex
o Ciprofolaxine 2x500
o Transamin 3x500
o Asam mefenamat 3x1
• Observasi. Bila stabil, besok sudah boleh pulang.

DISKUSI
Dari anamnesis pasien dapat kita ambil informasi tentang penyebab trauma
yaitu kecelakaan. Kemudian pasien juga memiliki riwayat hematuria juga 3 minggu
yang lalu ketika kecelakaan.
Pemeriksaan penunjang dari laboratorium didapatkan adanya penurunan Hb
sampai 7,7 gr%, eritrosit yang banyak (>20 /lpb), bakteri penuh, trombosit yang
tinggi, lekosit juga meninggi. Sedangkan dari pemeriksaan USG, didapatkan adanya
garis ruptur di pole atas mencapai kaliks >2 cm dengan gambaran hematome ukuran
5,3 cm x 3,4 cm di renal dextra, Vesika urinaria penuh terisi blood clothing, dan
didiagnosis Ruptur pole atas renal dextra grade II dan penumpukan darah di Vesika
urinaria. Pemeriksaan tersebut sudah mendukung adanya perdarahan aktif dari ginjal
yang masih ada akibat kecelakaan.
Untuk pengobatan, dilakukan konservatif dengan pemberian transfusi darah
PRC dan WB, analgesik, antibiotik, dan anti-hemorragik, serta observasi tanda-tanda
vital dan perdarahan.

6
Kesimpulan yang didapatkan bahwa pasien mengalami hematuria karena
ruptur renal dextra derajat II-III.
TINJAUAN PUSTAKA
TRAUMA GINJAL
Pendahuluan
Ginjal terletak di rongga retroperitonium dan terlindung oleh otot-otot
punggung di sebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di sebelah
anteriornya. Karena itu cedera ginjal tidak jarang diikuti oleh cedera organ-organ
yang mengitarinya. trauma ginjal merupakan trauma terbanyak pada sistem
urogenital, lebih kurang 10% dari trauma pada abdomen mencederai ginjal.
Abdominal trauma merupakan cedera ke bagian perut. Mungkin tumpul atau
tajam dan mungkin melibatkan kerusakan pada Abdominal organ. Tanda-tanda dan
gejala meliputi nyeri pada perut, kesakitan, kaku, dan lebam dari perut eksternal.
Abdominal trauma menyajikan risiko berat kehilangan darah dan infeksi. Diagnosa
mungkin melibatkan ultrasonography, Computed Tomography, dan Peritoneal lavage,
dan mungkin memerlukan perawatan operasi.
Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai
macam rudapaksa baik tumpul maupun tajam.

Penyebab Trauma
Cedera ginjal dapat terjadi secara (1) langsung akibat benturan yang
mengenai daerah pinggang atau (2) tidak langsung yaitu merupakan cedera
deselerasi akibat pergerakan ginjal secara tiba-tiba di dalam rongga retroperitonium.
Goncangan ginjal di dalam rongga retroperitonium menyebabkan regangan pedikel
ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika intima arteri renalis. Robekan ini akan
memacu terbentuknya bekuan-bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan
trombosis arteri renalis beserta cabang-cabangnya. Cedera ginjal dipermudah jika
sebelumnya sudah ada kelainan pada ginjal, antara lain hidronefrosis, kista ginjal,
atau tumor ginjal.
Ada 3 penyebab utama dari trauma ginjal , yaitu
1. Trauma tajam
2. Trauma iatrogenik
3. Trauma tumpul
Trauma tajam seperti tembakan dan tikaman pada abdomen bagian atas atau
pinggang merupakan 10 – 20 % penyebab trauma pada ginjal di Indonesia.

7
Trauma iatrogenik pada ginjal dapat disebabkan oleh tindakan operasi atau
radiologi intervensi, dimana di dalamnya termasuk retrograde pyelography,
percutaneous nephrostomy, dan percutaneous lithotripsy. Dengan semakin
meningkatnya popularitas dari teknik teknik di atas, insidens trauma iatrogenik
semakin meningkat , tetapi kemudian menurun setelah diperkenalkan ESWL. Biopsi
ginjal juga dapat menyebabkan trauma ginjal .
Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan
lajunya pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian
trauma akibat kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat.
Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung.
Trauma langsung biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja
atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga
mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian
yang menyebabkan pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum.
Kejadian ini dapat menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima
arteri renalis yang menimbulkan trombosis.
Ada beberapa faktor yang turut menyebebkan terjadinya trauma ginjal. Ginjal
yang relatif mobile dapat bergerak mengenai costae atau corpus vertebrae, baik
karena trauma langsung ataupun tidak langsung akibat deselerasi. Kedua, trauma
yang demikian dapat menyebabkan peningkatan tekanan subcortical dan
intracaliceal yang cepat sehingga mengakibatkan terjadinya ruptur. Yang ketiga
adalah keadaan patologis dari ginjal itu sendiri.
Sebagai tambahan, jika base line dari tekanan intrapelvis meningkat maka
kenaikan sedikit saja dari tekanan tersebut sudah dapat menyebabkan terjadinya
trauma ginjal. Hal ini menjelaskan mengapa pada pasien yang yang memiliki
kelainan pada ginjalnya mudah terjadi trauma ginjal.

8
Mekanisme Trauma

Klasifikasi Trauma
Tujuan pengklasifikasian trauma ginjal adalah untuk memberikan pegangan
dalam terapi dan prognosis.
Menurut derajat berat ringannya kerusakan pada ginjal, trauma ginjal
dibedakan menjadi (1) cedera minor, (2) cedera mayor, (3) cedera pada pedikel atau
pembuluh darah ginjal. Sebagian besar (85%) trauma ginjal merupakan cedera

9
minor (derajat I dan II), 15% termasuk cedera mayor (derajat III dan IV), dan 1%
termasuk cedera pedikel ginjal.
Klasifikasi trauma ginjal menurut Sargeant dan Marquadt yang dimodifikasi
oleh Federle :
Derajat Jenis kerusakan
• Kontusio ginjal.

• Minor laserasi korteks dan medulla


tanpa gangguan pada sistem
pelviocalices.
Grade I
• Hematom minor dari subcapsular
atau perinefron (kadang kadang).
 75 – 80 % dari keseluruhan trauma
ginjal.
− Laserasi parenkim yang
berhubungan dengan tubulus
kolektivus sehingga terjadi
extravasasi urine.
− Sering terjadi hematom perinefron.
Grade II
 Luka yang terjadi biasanya
dalam dan meluas sampai ke
medulla.
 10 – 15 % dari keseluruhan
trauma ginjal.
− Laserasi ginjal sampai pada medulla
ginjal, mungkin terdapat trombosis
arteri segmentalis.
Grade III − Trauma pada vaskularisasi pedikel
ginjal
 5 % dari keseluruhan
trauma ginjal
− Laserasi sampai mengenai kalikes
ginjal.
Grade IV
− Laserasi dari pelvis renal

Grade V − Avulsi pedikel ginjal, mungkin terjadi


trombosis arteri renalis.

10
− Ginjal terbelah (shattered).

Ilustrasi Klasifikasi Trauma Ginjal

Diagnosis
Kecurigaan terhadap adanya cedera ginjal jika terdapat:
1. Trauma di daerah pinggang, punggung, dada sebelah bawah, dan perut
bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah
itu.
2. Hematuria.
3. Fraktur costa sebelah bawah (T8-T12) atau fraktur prosesus spinosus
vertebra.
4. Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang.
5. Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan
lalu lintas.
Gambaran klinis yang ditunjukkan oleh pasien trauma ginjal sangat bervariasi
tergantung pada derajat trauma dan ada atau tidaknya trauma pada organ lain yang
menyertainya. Perlu ditanyakan mekanisme cedera untuk memperkirakan luas
kerusakan yang terjadi.
Pada trauma derajat ringan mungkin hanya didapatkan nyeri di daerah
pinggang, terlihat jejas berupa ekimosis, dan terdapat hematuria makroskopik

11
ataupun mikroskopik. Pada trauma mayor atau ruptur pedikel seringkali pasien
dating dalam keadaan syok berat dan terdapat hematom di daerah pinggang yang
makin lama makin membesar. Dalam keadaan ini mungkin pasien tidak sempat
menjalani pemeriksaan PIV karena usaha untuk memperbaiki hemodinamik
seringkali tidak membuahkan hasil akibat perdarahan yang keluar dari ginjal cukup
deras. Untuk itu perlu segera dilakukan eksplorasi laparotomi untuk menghentikan
perdarahan.

Pencitraan
Jenis pencitraan yang diperiksa tergantung pada keadaan klinis dan fasilitas
yang dimiliki oleh klinik yang bersangkutan. Pemeriksaan dimulai dari IVP guna
menilai tingkat kerusakan ginjal dan melihat keadaan ginjal kontralateral.
IVP dilakukan jika diduga ada (1) luka tusuk atau luka tembak yang mengenai
ginjal, (2) cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria
makroskopik, dan (3) cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria
mikroskopik dengan disertai syok.
Pemeriksaan USG juga dapat dilakukan untuk menemukan adanya kontusio
parenkim ginjal atau hematoma subkapsuler dan dapat pula diperlihatkan adanya
robekan kapsul ginjal.
CT scan dapat menunjukkan adanya robekan jaringan ginjal, ekstravasasi
kontras yang luas, dan adanya nekrosis jaringan ginjal serta mendeteksi adanya
trauma pada organ lain.

Komplikasi
Jika tidak mendapatkan perawatan yang cepat dan tepat, trauma mayor dan
trauma pedikel sering menimbulkan perdarahan yang hebat dan berakhir dengan
kematian. Selain itu kebocoran system kaliks dapat menimbulkan ekstravasasi urine
hingga menimbulkan urinoma, abses perirenal, urosepsis, dan kadang menimbulkan
fistula renokutan. Dikemudian hari pasca cedera ginjal dapat menimbulkan penyulit
berupa hipertensi, hidronefrosis, urolitiasis, atau pielonefritis kronis.

Penatalaksanaan
Pada setiap trauma tajam yang diduga mengenai ginjal harus dipikirkan untuk
melakukan tindakan eksplorasi, tetapi pada trauma tumpul, sebagian besar tidak
memerlukan operasi. Terapi pada trauma ginjal adalah:
1. Konservatif

12
Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. Dilakukan
observasi tanda-tanda vital, kemungkinan adanya penambahan massa di
pinggang, adanya pembesaran lingkaran perut, penurunan kadar
haemoglobin darah, dan perubahan warna urine.
Jika selama tindakan konservatif terdapat tanda-tanda perdarahan
atau kebocoran urine yang menimbulkan infeksi, harus segera dilakukan
tindakan operasi.
2. Operasi
Operasi ditujukan pada trauma ginjal mayor dengan tujuan untuk
segera menghentikan perdarahan. Indikasi eksplorasi ginjal, yaitu syok yang
tidak teratasi dan syok berulang. Selanjutnya perlu dilakukan debridement,
reparasi ginjal atau tidak jarang harus dilakukan nefrektomi parsial bahkan
nefrektomi total karena kerusakan ginjal yang sangat berat.

13