Anda di halaman 1dari 19

1

$%#

Konstruksi jalan raya pada umumnya menggunakan sistem perkerasan lentur yang terdiri
dari lapis ermukaan, lapis pondasi atas, lapis pondasi bawah dan tanah dasar. Lapisan yang
menerima beban lalulintas pertama kali adalah lapis permukaan. Jenis lapis permukaan yang
sering digunakan adalah Hot Rolled Sheet (HRS). Bahan tambah atau pengisi yang
digunakan pada jenis ini yaitu abu batu. Tetapi melihat keterbatasan ketersediaannya serta
biaya produksi yang relatiI tinggi maka dipilih alternatiI lain yaitu slag nikel yang
merupakan hasil buangan dari proses pengolahan bijih nikel di PT. Aneka Tambang,
Pomalaa. Pemeriksaan terhadap slag nikel dilakukan melalui Mix Design Hot Rolled Sheet
dan Marshall Test. Pengujian dilakukan sebanyak 2 sampel dengan kadar Iiller slag nikel 1
sampai dengan 5 . Dari hasil pemeriksaan Kadar Aspal Optimum yang diperoleh pada
slag nikel 1 adalah 7,550 , 3 adalah 7,35 , sehingga penggunaan kadar slag nikel
pengganti Iiller abu batu maksimal pada kadar 3 .
Kata-kata kunci : HRS, Slag Nikel, Marshall Test, Kadar Aspal Optimum


PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jalan sebagai bagian sistem transportasi darat merupakan salah satu prasyarat
penghubung dalam memperlancar laju pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pengadaan
dan peningkatan arus transportasi bisa direncanakan seeIektiI mungkin dalam arti aman,
lancar, nyaman dan ekonomis guna memperlancar pembangunan dan menghindari kerugian
pada masyarakat.
Lapis permukaan jalan jenis Hot Rolled Sheet (HRS) banyak dan sering digunakan
sebagai lapisan permukaan jalan (Surface Course), sebagai lapis aus, bahan-bahan
penyusunnya mempunyai butiran yang relatiI lebih halus dari jenis campuran aspal lainnya
sehingga penggunaan material halus seperti pasir dan bahan pengisi (Filler) akan lebih
besar daripada agregat kasar. Selama ini bahan pengisi yang digunakan pada campuran
aspal jenis HRS adalah berupa abu batu sebagai hasil olahan mesin pemecah batu (Stone
Crasher).
Namun dari segi ekonomis, harga material abu batu relatiI mahal jika dibandingkan
dengan material lainnya seperti batu pecah dan pasir. Sedangkan Slag Nikel merupakan

2

hasil buangan dari proses peleburan batuan untuk mendapatkan bijih nikel. Hal inilah yang
melatar belakangi dilakukannya penelitian ini dengan melakukan uji laboratorium terhadap
pemanIaatan Slag yang merupakan hasil buangan pabrik nikel yang bisa digunakan sebagai
bahan pengganti abu batu/bahan pengisi (Filler) pada campuran aspal jenis HRS.

B. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hasil laboratorium Slag Nikel untuk
dimanIaatkan sebagai bahan pengisi (Filler) pada campuran aspal jenis Hot Rolled Sheet
(HRS). ManIaat penelitian adalah sebagai salah satu upaya untuk memperoleh suatu
alternatiI baru material bahan pengisi (filler) yang lebih ekonomis.

C. Ruang Lingkup dan Batasan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah uji laboratorium pemanIaatan
Slag Nikel sebagai bahan pengisi (Filler) pada campuran HRS dilaboratorium dengan ruang
lingkup pembahasan yang meliputi : Pemeriksaan terhadap karakteristik Marshall Test; Mix
Design Hot Rolled Sheet (HRS); Marshall Test.

TIN1AUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Lapis Permukaan 1alan (Surface Course)
Lapis permukaan (surface course) adalah suatu bagian dari perkerasan jalan yang
terletak paling atas, berIungsi sebagai:
a. Lapis perkerasan penahan beban roda, lapisan mempunyai stabilitas tinggi untuk
menahan beban roda selama masa pelayanan.
b. Lapis kedap air, sehingga air hujan yang jatuh diatasnya tidak meresap kelapisan di
bawahnya dan melemahkan lapisan-lapisan tersebut.
c. Lapis aus (wearing course), lapisan yang langsung menerima gesekan akibat rem
kendaraan sehingga mudah menjadi aus.
d. Lapis yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh
lapisan lain yang mempunyai daya dukung yang lebih jelek.
. ot Rolled Sheet (RS)

3

Hot Rolled Sheet (HRS) atau biasa disebut lapis tipis pada ,58,3 HRS-Base adalah
campuran dengan bahan pembentuk yang terdiri dari aspal, agregat kasar, agregat halus dan
bahan pengisi yang merupakan lapisan penutup dengan gradasi senjang yang dipadatkan
dalam keadaan panas (Zamhari, 1997).
Hal ini dimaksudkan agar penggunaan agregat kasar pada Hot Rolled Sheet (HRS)
berIungsi sebagai bahan tambahan yang dapat meredusi persentase penggunaan aspal, dan
disamping itu pula dapat memberikan nilai stabilitas pada mortarnya.
. Material Pembentuk ot Rolled Sheet (RS)
Bahan-bahan yang diperlukan dalam campuran Hot Rolled Sheet (HRS) ini adalah
terdiri dari:
a. Aspal ;
Aspal keras yang umumnya digunakan sebagi bahan pengikat pada campuran HRS-
Base adalah jenis aspal penetrasi 60/70 produksi Pertamina yang harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
Tabel 2.1 Persyaratan Aspal Keras Penetrasi 60/70
No 1enis Pemerikasaan Sat Metode Pengujian
Persyaratan
Penetrasi
60/70
Min Max
1 Penetrasi (25C, 100 gr, 5 detik;) 0.1 mm SNI 06-2456-1991 60 79
2 Titik Lembek (Ring & Ball) C SNI 06-2434-1991 48 58
3 Titik nyala (Clev. Open Cup) C SNI 06-2433-1991 200 -
4 Daktilitas (25C, 5 cm per menit) Cm SNI 06-2432-1991 100 -
5 Berat jenis (25C) gr /cc SNI 06-2441-1991 1.0 -
6 Kelarutan dalam Triclilor Ethylen berat SNI 06-2438-1991 99 -
7 Penurunan berat (dengan TFOT) berat SNI 06-2440-1991 - 0.8
8 Penetrasi setelah penurunan berat semula SNI 06-2456-1991 54 -
9 Daktilitas setelah penurunan berat semula SNI 06-2432-1991 50 -

Sumber : Buku SpeksiIikasi Standarisasi Jalan dan Jembatan Departemen Pekerjaan
Umum, 2004
b. Agregat
Agregat adalah sekumpulan butir-butir batu pecah, kerikil, pasir atau mineral
lainnya, baik berupa hasil alam maupun hasil buatan. Agregat merupakan bahan

4

utama konstruksi jalan, beton, pondasi jalan kereta api dan sebagainya. Lapis
perkerasan jalan mengandung (90-95) agregat berdasarkan prosentase berat atau
(75-85) agregat berdasarkan prosentase volume.
Tabel 2.2 Persyaratan Agregat Kasar dan Agregat Halus
No 1enis Pengujian Sat.
Agregat Kasar Agregat Halus
Metode Pengujian Syarat
Metode
Pengujian
Syarat
1
Keausan dgn Abrasi
Los Angeles
SNI 03-2417-1991
Max
40
- -
2
Kelekatan terhadap
aspal
SNI 03-2439-1991 ~ 95 - -
3 Berat jenis gr/cc SNI 03-1969-1991 ~ 2,5
SNI 03-
1970-1991
~2.5
4 Lolos Saringan No. 200 SNI 03-4142-1996
Maks.
1
SNI 03-
4428-1997
Maks.
8

Sumber : Buku SpeksiIikasi Standarisasi Jalan dan Jembatan Departemen Pekerjaan
Umum, 2004
c. Bahan Pengisi (Filler) / Slag Nikel Pomalaa
Yang termasuk dalam Iraksi filler adalah mineral yang halus yang lolos
saringan N0. 200 (0,074 mm). Filler yang digunakan pada penelitian ini adalah slag
nikel yang merupakan hasil buangan dari pengolahan pabrik nikel PT. Aneka
Tambang Pomalaa. Filler sebagai bahan tambahan atau pengisi berIungsi untuk
mengeraskan selaput aspal yang menyelimuti partikel-partikel agregat, sehingga
dapat diperoleh kedudukan agregat yang lebih stabil dan
kekakuan adukan mortar dalam campuran.
B. Kerangka Konseptual
1. Karakteristik Campuran ot Rolled Sheet (RS)
Karakteristik campuran yang harus dimiliki oleh campuran Hot Rolled Sheet (HRS
Base) adalah :
a. Stabilitas
b. Durabilitas
c. Fleksibilitas
d. Ketahanan Geser (Skid Resistance)

3

e. Ketahanan kelelehan (Fatique Resistance)
I. Kemudahan pekerjaan (workability)
Adapun karakteristik campuran HRS-Base berikut persyaratan gradasi diberikan
pada tabel berikut :
Tabel 2.3 Karakteristik Campuran dengan Metode Marshall Untuk HRSBase
Pemeriksaan Satuan Persyaratan
Stabilitas Marshall
Rongga dalam campuran (VITM)
Rongga dalam Agregat (VMM)
Rongga terisi aspal (VFWA)
Kelelehan (Flow)
Marshall Quotient
Kg



mm
kg/mm

Min 800
3,0-6,0
Min 18
Min 685
Min 3
Min 250


Sumber : Buku SpeksiIikasi Standarisasi Jalan dan Jembatan Departemen
Pekerjaan Umum, 2004

Tabel 2.4 Gradasi Campuran HRS
No.
Ukuran Ayakan Berat yang lolos
(HRS-Base)
ASTM (mm)
1 /' 19 100
2 ' 12.5
90-100

3 3/8' 9.5 75-85
4 No.8 2.36 50-72
5 No.16 1.18 -
6 No. 30 0.600 35-60
7 No. 200 0.075 6-12

Sumber : Buku SpeksiIikasi Standarisasi Jalan dan Jembatan Departemen
Pekerjaan Umum, 2004

. Sifat Volumetrik Dari Campuran Beton Aspal Padat
a. Karaktersitik Marshall

6

Karakteristik campuran aspal agregat panas dapat diukur dengan pengujian
Marshall (ASTM D 1559-62T) yang terdiri dari stability, flow dan density void
analysis. Stabilitas dan flow didapat dari hasil pengujian alat Marshall, sedangkan
density void analysis akan menghasilkan parameter-parameter density, Joid in
Mineral Aggregate (JMA), Joid Filled With Asphalt (JFWA), Joid in Total Mix
(JITM).
1) Berat 1enis Agregrat
a) Berat jenis kering (bulk)

sb =
+ ++n

++
n
n

Keterangan:
Gsb Berat jenis kering (bulk) campuran Iraksi agregat (gr/cc)P1,
P2, Pn prosentase Iraksi agregat ()
G1, G2, Gn berat jenis bulk Iraksi agregat (gr/cc)
b) Berat Jenis Semu (apparent spesific gravity)

s =
usb+usu
2

Keterangan:
Gse berat jenis eIektiI total agregat

c) Berat jenis eIektiI (effective spesific gravity)
=

- b
s
+
b
b


Keterangan:
Gmm Berat jenis maksimum campuran (gr/cc), rongga udara nol
Pmm Prosentase berat total campuran aspal (100 )
Pb Kadar aspal, prosentase terhadap berat total campuran
Gse Berat jenis eIektiI agregrat (gr/cc)
Gb Berat jenis aspal (gr/cc)

7

2) Volumetrik Campuran
a) Kepadatan (Density)
Nilai dari mix density dihitung dengan persamaan berikut :

b =

- b


Keterangan:
Gmb Berat Volume benda uji (density) (gr/cc)
WD Berat kering benda uji sebelum direndam air (gram)
WSSD Berat benda uji dalam keadaan SSD (gram)
WSub Berat benda uji dalam air (gram)
b) JMA (Joid in the Mineral Agregate)

H = -
b s
sb


JMA void in the mineral aggregate ()
Gmb berat jenis curah (bulk) campuran (gr/cc)
Gsb berat jenis curah (bulk) campuran Iraksi agregat (gr/cc)
Ps prosentase agregat terhadap campuran ()

c) JITM (Joid In total Mix),
HH =
b



Keterangan:
VIM kadar rongga terhadap campuran ()
Gmb berat volume benda uji (gr/cc)
Gmm berat jenis maksimum teoritis (gr/cc)
d) JFWA (Joids Filled with Asphalt),
= _
H - HH
H

Keterangan:

8

VFWA rongga terisi aspal ()
VMA kadar rongga terhadap agregat campuran ()

3) Karakteristik arshall (arshall Properties)
a. Stabilitas (kg) :
Stabilitas merupakan kemampuan lapis perkerasan untuk menahan
beban lalulintas tanpa mengalami perubahan tetap seperti gelombang,
alur maupun bleeding.

obos = n Kors o bno
Keterangan:
n (pembacaan arloji stabilitas x kalibrasi provingring) (kg)

b. Kelelehan (Flow), mm
Flow adalah besarnya deIormasi vertikal yang terjadi mulai saat awal
pembebanan sampai kondisi kestabilan menurun.
c. Marshall Quotient (MQ), kg/mm
Marshall quotient merupakan hasil bagi antara stabilitas dan flow
yang menunjukkan pendekatan tingkat kekakuan atau nilai Ileksibilitas
campuran.
H =
nIu stubItus
nIu kcIcIchun pIusts


Keterangan:
MQ Marshall Quotient (kg/mm)

d. Desain Campuran dengan Metode Marshall
Metode Marshall adalah metode yang umum digunakan dalam
prosedur pengujian campuran agregat aspal.





9

METODE PENELITIAN
A. Pengujian Bahan Susun
Pemeriksaan karakteristik bahan, yang akan digunakan dilakukan berupa pemeriksaan
terhadap siIat Iisik material bahan susun campuran, yaitu terhadap agregat dan aspal.
Cara pemeriksaan agregat kasar, agregat halus dan aspal seperti pada Tabel 3.1 sampai
dengan Tabel 3.3 berikut :
Tabel 3.1 Prosedur Pengujian Bahan Agregat Kasar
No. Jenis Pekerjaan
Standar
Syarat Satuan
Bina Marga
1 Abrasi dengan mesin Los Angeles SNI 03-3407-1994 Max. 40
2 Kelekatan terhadap aspal SNI 03-2439-1991 ~95
3 Berat jenis semu PB 0202-76 ~2,5 gr/cc

Sumber : Buku SpeksiIikasi Standarisasi Jalan dan Jembatan Departemen Pekerjaan
Umum, 2004
Tabel 3.2 Prosedur Pengujian Bahan Agregat Halus
No. 1enis Pekerjaan
Standar
Syarat Satuan
Bina Marga
1 Berat jenis SNI 03-1970-1991 ~ 2,5 gr/cc
2 Penyerapan (absorbsi) PB 0203 76 3
3 Sand Equivalent PB 0202 76 ~ 50
Sumber : Buku SpeksiIikasi Standarisasi Jalan dan Jembatan Departemen Pekerjaan
Umum, 2004
B. Perancangan Benda Uji dan Pengujian Marshall
Perancangan benda uji dan pengujian Marshall berutujuan untuk mencari kadar filler
dan kadar aspal optimum Slag Nikel.
Tabel 3.3 SpesiIikasi Gradasi Campuran HRS-BASE
Ukuran Ayakan
Spesifikasi HRS Target
ASTM (mm)
/' 19 100 100,00
' 12,5 90-100 95,00
3/8' 9,5 75-85 82,50
No. 8 2,36 50-72 40,00
No. 16 1,18
No. 30 0,600 35-60 32,00
No. 200 0,075 6-12 5,50

10

Sumber : Buku SpeksiIikasi Standarisasi Jalan dan Jembatan Departemen Pekerjaan
Umum, 2004


GraIik Bahan Susun Campuran Hot Rolled Sheet (HRS).

C. Pengamatan
Data-data yang diperoleh dari pengumpulan data tahap ini adalah sebagai berikut :
a. Tebal benda uji (cm)
b. Berat benda kering/sebelum direndam (gram)
c. Berat benda uji dalam air (gram)
d. Berat benda uji dalam keadaan jenuh air/SSD (gram)
e. Pembacaan arloji stabilitas (lbs)
I. Pembacaan arloji kelelehan atau Ilow (mm)









11

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Hasil pemeriksaan agregat
Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Agregat Kasar
No. 1enis Pekerjaan Satuan Spek Hasil
1 Abrasi 40 26,980
2 Kelekatan Terhadap Aspal ~ 95 98,000
3 Berat Jenis Curah gr/cc ~ 2,5 2,670
4 Berat Jenis Semu gr/cc ~ 2,5 2,720
5 Penyerapan (absorbsi) 3 0,630

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Agregat Halus
No. Jenis Pekerjaan Satuan Spek Hasil
1 Berat Jenis Curah Gr/cc ~2,5 2,671
2 Berat Jenis Semu Gr/cc ~2,5 2,868
3 Penyerapan (absorbs) 3 2,564

Tabel 4.3 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Filler Debu Batu dan Slag Nikel
No. 1enis Pekerjaan Satuan Spek Hasil
1 Berat Jenis Semu
- Debu batu
- Slag Nikel
gr/cc



~2,5
-

2,721
2,970
2 Lolos Saringan # 200 65-100 100,00

2. Hasil Pemeriksaan Aspal
Tabel 4.4 Hasil Pemeriksaan Aspal Penetrasi 60/70
No. Jenis Pekerjaan Satuan SpesiIikasi Hasil
1 Penetrasi (25C; 5 detik) 0,1 mm 60 79 62,8
2 Titik Lembek (Ring & Ball) C 48-58 48,25
3 Titik Nyala (Clev. Open Cup) C _ 200 337
4 Daktilitas cm _ 100 ~100
5 Kehilangan Berat (163C;5) _ 0,8 0,0156
6 Penetrasi setelah kehilangan awal _ 54 82,8
7 Berat jenis aspal gr/cc _ 1 1,029
Dari semuanya dapat disimpulkan bahwa hasil pemerikasaan agregat kasar, halus,
filler dan aspal telah memenuhi spesiIikasi Kimpraswil 2004.


12

B. Pembahasan
1. Sifat Fisik Agregat
Hasil pemeriksaan kualitas agregat kasar, agregat halus dan bahan pengisi
(filler) menunjukkan bahwa karakteristik batuan telah memenuhi persyaratan
spesiIikasi Kimpraswil 2004, seperti pada Tabel 4.1 sampai dengan Tabel 4.3.
Pengujian terhadap tingkat keausan dengan alat Los Angeles untuk
menentukan ketahanan agregat kasar terhadap pengaruh beban lalulintas. Agregat
dalam campuran panas agregat-aspal merupakan komponen utama yang mendukung
beban sehingga diperlukan agregat yang tahan terhadap gesekan dan tekanan roda
kendaraan di lapis perkerasan. Hasil penelitian dilaboratorium menunjukkan nilai
26,98 , lebih rendah dari persyaratan maksimum 40 .
2. Sifat Fisik Aspal
Aspal yang digunakan dalam campuran panas agregat-aspal adalah aspal
Penetrasi 60/70 ex pertamina. Pengujian penetrasi aspal bertujuan untuk mengetahui
tingkat kekerasan aspal, semakin kecil angka penetrasi semakin keras aspal tersebut
dan semakin besar kohesi yang terjadi. Hasil pemeriksaan penetrasi aspal adalah
sebesar 62,8 (0,1 mm), yang menunjukkan bahwa aspal tersebut termasuk aspal
keras penetrasi 60/70, sehingga memenuhi persyaratan yang diinginkan antara 60
79 (0,1 mm).
Pemeriksaan titik lembek (softening point) bertujuan untuk mengetahui
kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur, aspal akan menjadi lembek apabila
temperaturnya meningkat. Nilai titik lembek hasil pemeriksaan adalah 48,25C dan
nilai tersebut masih memenuhi spesiIikasi yaitu (48 58)C.
Aspal adalah bahan termoplastis, apabila dipanaskan akan mencair dan apabila
dipanaskan pada temperatur yang tinggi aspal tersebut akan terbakar dan rusak.
Pemeriksaan titik nyala (flash points) berguna untuk menentukan batas suhu yang
aman dalam proses pemanasan. Hasil periksaan titik nyala aspal adalah 337C dan
menunjukkan nilai yang lebih besar dari persyaratan minimum sebesar 200C.
Pemeriksaan kehilangan berat aspal (loss on heating), untuk mengetahui
pengurangan berat aspal akibat pemanasan, penelitian ini kehilangan berat pada suhu
163C. Sebagaimana diketahui aspal merupakan senyawa hydrocarbon yang sangat
kompleks dan apabila

13

dipanaskan pada suhu yang tinggi akan terjadi penguapan, yaitu unsure hydrogen
diikat oleh oksigen dari udara dan akhirnya aspal akan mengalami penurunan berat.
Hasil dari pemeriksaan kehilangan berat aspal sebesar 0,0156 terhadap berat
semula dan lebih kecil dari persyaratan maksimum 0,8 terhadap berat semula.
Pemeriksaan daktilitas (ductility) dilakukan untuk mengetahui keliatan aspal
yang mengambarkan Ileksibilitas dan kemampuan perkerasan aspal mengikuti
perubahan bentuk akibat deIormasi plastis serta tidak terjadi kerusakan. Hasil
pemeriksaan daktilitas yaitu lebih besar dari 100 cm dan memenuhi persyaratan
minimal sebesar 100 cm untuk aspal penetrasi 60/70.
Aspal setelah dipanaskan akan mengalami penurunan berat akibat penguapan unsur
hydrogen dalam senyawa hydrocarbon yang diikat oleh unsur oksigen dari udara,
sehingga aspal kemudian menjadi bertambah keras (hardening) dari kondisi semula.
Hal ini ditunjukkan dengan pengujian penetrasi setelah kehilangan berat akibat
pemanasan, besar kecilnya perbedaan nilai penetrasi menggambarkan kualitas aspal
tersebut. Makin besar perbedaan antara angka penetrasi awal dengan
angka penetrasi setelah kehilangan berat kualitas aspal semakin buruk, ikatan
menjadi rapuh sehingga mudah retak bila dibebani. Hasil pemeriksaan penetrasi
setelah kehilangan berat 82,8 lebih besar dari persyaratan minimum 54
penetrasi semula. Berat jenis aspal digunakan untuk merancang campuran antara
agregat dan aspal. Hasil pemeriksaan berat jenis aspal sebesar 1,029 gr/cc dan nilai
lebih besar dari persyaratan minimum 1,00 gr/cc. Pada kejadian khusus, berat jenis
aspal lebih kecil dari 1,00 gr/cc, maka aspal tersbut termasuk jenis aspal yang
disebut dengan air blown asphalt yaitu kepekaan aspal terhadap perubahan
temperatur agak berkurang.

C. Hasil pengujian Marshall campuran agregat-aspal dengan variasi kadar filler slag
nikel dan kadar aspal.
Hasil pengujian Marshall dengan variasi kadar filler dan variasi kadar aspal untuk
filler slag nikel, dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Sementara data selengkapnya dapat
dilihat pada lampiran.

Tabel 4.5 Pengujian Marshall campuran agregat aspal dengan kadar filler slag nikel 1

14


Kadar Filter Slag Nikel 1
No.
Karakteristik
Marshall
SpeksiIikasi
Bina Marga
Kadar Aspal ()
6,00 6,50 7,00 7,50 8,00
1 Stability (kg) _ 800 973,44 1.092,00 1.131,00 973,44 848,64
2 VMA () _ 17 19,71 19,52 19,41 19,30 18,46
3 VFWA () _ 68 55,77 61,79 67,64 73,52 83,44
4 VITM () 3 6 8,72 7,46 6,28 5,11 3,06
5 Flow (mm) _ 3 4,30 3,00 3,25 3,10 3,50
6 MQ (kg/mm) _ 250 226,38 364,00 348,00 314,01 242,47

Tabel 4.6 Pengujian Marshall campuran agregat aspal dengan kadar filler slag nikel 3

Kadar Filter Slag Nikel 3
No.
Karakteristik
Marshall
SpeksiIikasi
Bina Marga
Kadar Aspal ()
6,00 6,50 7,00 7,50 8,00
1 Stability (kg) _ 800 803,71 960,96 1.053,31 1.013,38 948,48
2 VMA () _ 17 19,18 18,10 18,01 18,14 18,44
3 VFWA () _ 68 57,78 67,89 74,24 79,45 83,64
4 VITM () 3 6 8,10 5,81 4,64 3,73 3,02
5 Flow (mm) _ 3 3,00 3,30 3,50 3,50 3,20
6 MQ (kg/mm) _ 250 267,96 291,20 300,95 289,54 296,40


Tabel 4.7 Pengujian Marshall campuran agregat aspal dengan kadar filler slag nikel 5

Kadar Filter Slag Nikel 5
No.
Karakteristik
Marshall
SpeksiIikasi
Bina Marga
Kadar Aspal ()
6,00 6,50 7,00 7,50 8,00
1 Stability (kg) _ 800 914,00 1.100,19 1.105,03 1.056,67 918,84
2 VMA () _ 17 16,43 15,81 15,83 16,15 16,58
3 VFWA () _ 68 69,93 79,98 86,56 91,09 94,64
4 VITM () 3 6 4,94 3,17 2,13 1,44 0,89
5 Flow (mm) _ 3 4,20 4,30 4,80 5,10 5,50
6 MQ (kg/mm) _ 250 217,62 255,86 230,21 207,19 167,06


13

D. Penentuan Kadar Aspal Optimum pada Campuran RS-Base dengan Filler Slag
Nikel.
Hasil pengujian Marshall, rentang kadar aspal campuran dan rekapitulasi kadar filler
slag nikel yang memenuhi spesiIikasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Sementara data
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.8 Kadar Aspal Optimum Campuran pada Kadar Filler Slag Nikel 1 .

No. Karakteristik Marshall SpeksiIikasi
BM 2004
Kadar Aspal ()
6,00 6,50 7,00 7,50 8,00
1 Stability (kg) _ 800
2 VMA () _ 17
3 VFWA () _ 68
4 VITM () 3 6
5 Flow (mm) _ 3
6 MQ (kg/mm) _ 250


Rentang Kadar Aspal (7,37,8)/2 KAO (7,37,8)/2
7,55 7,55

Tabel 4.9 Kadar Aspal Optimum Campuran pada Kadar Filler Slag Nikel 3
No. Karakteristik Marshall SpeksiIikasi
BM 2004
Kadar Aspal ()
6,00 6,50 7,00 7,50 8,00
1 Stability (kg) _ 800
2 VMA () _ 17
3 VFWA () _ 68
4 VITM () 3 6
5 Flow (mm) _ 3
6 MQ (kg/mm) _ 250

Rentang Kadar Aspal (6,78,0)/2 KAO (6,78,0)/2
7,35 7,35
67 733 80
73 733 78

16

Tabel 4.10 Kadar Aspal Optimum Campuran pada Kadar Filler Slag Nikel 5
No. Karakteristik Marshall SpeksiIikasi BM
2004
`
6,00 6,50 7,00 7,50 8,00
1 Stability (kg) _ 800
2 VMA () _ 17
3 VFWA () _ 68
4 VITM () 3 6
5 Flow (mm) _ 3
6 MQ (kg/mm) _ 250

Dari graIik di atas menunjukkan bahwa penggunaan slag nikel sebagai dalam filler
pengganti pada campuran HRS-Base dibatasi sampai 5 saja. Hal ini dikarenakan, semakin
tinggi kadar filler slag nikel maka kadar aspal optimum akan bergeser kekiri dan bertambah
besar dengan rentang semakin kecil.




















17

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan diatas, maka
diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Slag nikel yang berasal dari PT. Aneka Tambang, Pomalaa dapat digunakan sebagai
bahan pengisi (filler) dengan kadar aspal optimum 7,35 pada slag nikel 3 .
2. Penggunaan kadar filler Slag Nikel sebagai pengganti filler debu batu pada kadar 3 .
3. Untuk kadar filler diatas kadar 3 cenderung menjauh karena hasil pemeriksaan VMA
tidak memenuhi spesiIikasi.

B. Saran
1. Karena pengujian yang dilakukan adalah pengujian terhadap penggunaan slag nikel
sebagai bahan pengisi filler maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk
mengetahui apakah slag nikel juga dapat digunakan sebagai agregat kasar maupun
agregat halus pada campuran Hot Rolled Sheet (HRS).
2. Untuk memperkecil Iaktor kesalahan pada saat pencampuran benda uji, maka material
benda uji harus sesuai dengan porsi dalam mix design karena perbedaan kadar campuran
yang tercampur dalam benda uji sangat berpengaruh pada nilai bacaan pada marshall
test. Oleh karena itu dibutuhkan ketelitian yang cukup tinggi dalam proses pencampuran
benda uji untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
3. Perlu dilakukan penelitian pengaruh peningkatan suhu pencampuran terhadap
karakteristik campuran HRS dengan slag nikel.
4. Untuk mendapatkan campuran Hot Rolled Sheet (HRS) yang lebih ekonomis, maka
agregat kasar dan agregat halus dapat diganti dengan material lain yang telah memenuhi
spesiIikasi.








18

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 1974, Road and Paving Materials, Paving Management Technology, Annual
Book oI ASTM Standart, Washington.
Anonymous, 1997, Mix Design Methods of Asphalt Concrete and Other Hot Mix Types,
Manual Series No. 2 (MS-2), Sixth Edition, Aspal Institute, Lexington, Kentucky.
Anonymous, 2001, Construction of Hot Mix Asphalt Pavements, Manual Series No. 22
(MS-22), Second Edition, Aspal Institute, Lexington, Kenctucky.
Anonymous, 2004, Buku SpesiIikasi Standarisasi Jalan dan Jembatan Departemen
Pekerjaan Umum.
Edward, Ridway B., Samuel J., 1999, PemanIaatan Hasil Buangan Nikel (Slag Nikel)
Sebagai Material Pada Lapis Permukaan Jalan Jenis ATB (Asphalt Treated Base),
Jurnal Mimbar Akademik Lemlit Edisi XI ISSN 0853-5361.
Hermanto D, Purwadi, A., Dachlan, T., 1988, Teknologi Perkerasan Campuran Beraspal
Untuk Jalan Dep. PU. Badan Penelitian dan Pengembangan PU.
Indrasurya B. Mochtar , Ir, MSc. , PhD. , 2000, Peninfauan Kembali Falsafah Perancangan
Perkerasan Jalan di Indonesia, Simposium 4, FSTPT, Denpasar, Bali.
Kurniadji, Yamin, R.A., 2000, Pemanfaatan Bahan Lokal Sub Standar untuk Konstruksi
Perkerasan Jalan. Puslitbang Prasarana Transportasi, KonIerensi Nasional Teknik
Jalan (KNTJ) Ke-6, Jakarta.
Maymun R. A., Zainul. A., Zainul. A.M., 2004,. Kajian Laboratorium PemanIaatan Agregat
Slag Baja Sebagai Komponen Campuran Aspal Beton Dengan Variasi Filler (Abu
Slag, Abu Batu Dan Abu Marmer), Simposium ke-7 FSTPT, Parahyangan,
Bandung.
Priyo P., 2001, Penggunaan Limbah Abu (Marmer, Terbang, Sawit) Sebagai Bahan Pengisi
Pada Campuran Lataston, Simposium Ke-4 FSTPT, Udayana Bali.
Sentosa, L, 2000, Kinerfa Laboratorium Campuran Hot Rolled Asphalt dengan Abu Sawit
sebagai Filler, Simposium 4, FSTPT, Denpasar, Bali
Sukirman, Silvia, 1992, Perkerasan Lentur Jalan Raya, Nova, Bandung
Totomiharjo, S., neng Riba, 2001, Pemanfaatan Kombinasi Ampas Ekstrak Asbuton Dan
Kapur Padaman Sebagai Filler Pengganti Pada Campuran Beton Aspal Terhadap
Karakteristik Campuran Berdasarkan Ufi Marshall, Simposium 4, FSTPT,
Denpasar, Bali.

19

Totomiharjo. S., 1999, Beton Aspal dengan Bahan Pengisi Ekstrak Asbuton, Forum Teknik,
Jilid 3, No.1 Meret 1999, FT UGM, Yogyakarta.
Totomiharjo. S., 1999, Rancangan Campuran Kerfa Model Superpave (Studi Kasus . SMA
0/11 dengan bahan pengisi ekstrak asbuton), Simposium II FSTPT, ITS, Surabaya.
Whiteoak, D., 1990, The Shell Bitumen Handbook, Shell Bitumen UK, East Molesey,
Surrey.
Yamin, R.A., 2002, Kinerfa Campuran Beraspal Panas di Indonesia, Pelatihan Teknis
Mutu Konstruksi dan Lingkungan, Puslitbang Prasarana Transportasi, Pontianak.
Zamhari, K., Sterling, A.B., dan Toole, T., 1997, Penyempurnaan Spesifikasi Campuran
Aspal Panas, KonIerensi Regional Teknik Jalan (KRTJ-5), Yogyakarta, Indonesia.