Anda di halaman 1dari 10

Teknik Extubasi Menilai cara melepas TT merupakan suatu seni dalam anestesiologi yang berkembang seiring dengan pengalaman.

ini merupakan suatu hal yang sangat penting karena komplikasi extubasi akan meningkat selama proses extubasi dan segera setelah proses extubasi dibandingkan dengan proses intubasi itu sendiri. secara umum, ekstubasi paling baik dilakukan baik ketika pasien berada dalam kondisi terbius dalam maupun ketika pasien mulai sadar. dalam kedua kasus, pemulihan yang adekuat dari obat-obatan neuromuscular block perlu dilakukan sebelum proses extubasi. jika digunakan obat-obatan neuromuscular block, pasien yang menggunakan ventilator mekanik perlu dilakukan penyesuaian dari mesin ventilator sebelum extubasi dilakukan. extubasi selama anestesi taraf rendah (kondisi diantara terbius dalam dan sadar) dihindarkan karena dapat meningkatkan resiko laringospasm. perbedaan diantara ansthesia taraf dalam dan rendah biasanya jelas selama proses suction pharing: reaksi apapun terhadap suction (seperti menahan nafas, batuk) menunjukan anesthesi dalam taraf rendah, ketika tidak terdapat reaksi maka menunjukan anesthesi taraf dalam. hampir sama dengan membuka mata ataupun melakukan gerakan tertentu yang menunjukan bahwa pasien telah sadar. extubasi pada pasien sadar biasanya dihubungkan dengan batuk (bucking) pada TT. reaksi ini meningkatkan heart rate, CVP, tekanan darah arteri, tekanan intracranial, dan tekanan intraocular. extubasi juga dapat menyebabkan pelebaran luka dan pendarahan. adanya tracheal tube pada pasien asma yang mulai sadar sering menyebabkan broncospasm. meskipun kondisi ini dapat dihindari dengan menggunakan premedikasi lidokain 1,5mg/kg intravena 1-2 menit sebelum dilakukan suction dan extubasi, extubasi dalam anesthesia taraf dalam dapat dipilih pada pasien yang tidak dapat mentolerasi efek-efek ini. disisi lain, extubasi dapat dikontraindikasikan pada pasien dengan resiko aspirasi atau pada pasien yang jalan nafasnya sulit untuk dikendalikan setelah pelepasan TT. terlepas dari tracheal tube dilepas ketika pasien dalam anesthesi taraf dalam maupun ketika pasien mulai sadar, faring pasien perlu disuction sebelum extubasi untuk menurunkan resiko aspirasi atau spasm laring. sebagai tambahan, pasien perlu dilakukan ventilasi dengan oksigen 100% sebagai antisipasi adanya kesulitan untuk membuka jalan nafas setelah pelepasan tracheal tube.

sebelum melakukan extubasi, tracheal tube dilepaskan dari plesternya dan cuff di kempiskan. memberikan sedikit tekanan positif pada jalan nafas pada kantung anestesia yang terhubung dengan tracheal tube dapat membantu meniup sekresi-sekresi yang terkumpul pada bagian anterior cuff keluar dari saluran napas ke dalam faring, dimana sekresi-sekresi tersebut dapat di hisap. kapan tube dilepas baik ketika pasien dalam keadaan ekspirasi maupun inspirasi tidak terlalu dipermasalahkan. tube di angkat dengan gerakan tunggal yang halus dan face mask biasanya digunakan untuk memberikan oksigen 100% hingga pasien cukup stabil untuk dipindahkan keruang recovery. pada beberapa institusi, pemberian oksigen dengan face mask tetap dilakukan selama periode transportasi.

Komplikasi laringoskopi & Intubasi Komplikasi dari laringoskopi dan intubasi meliputi hipoksia, hiperkarbia, trauma gigi dan jalan nafas, malpositioning tabung, respon fisiologis untuk instrumentasi saluran napas, atau malfunction tabung. Komplikasi ini dapat terjadi selama laringoskopi dan intubasi, setelah tabung ditempatkan, atau bahkan saat ekstubasi.

Perlukaan Jalan Napas Instrumentasi dengan mata laringoskop logam dan penyisipan TT yang kaku sering menyebabkan trauma jaringan saluran napas. Meskipun patahnya gigi adalah penyebab paling umum pada klaim malpraktek anestesi, laringoskopi dan intubasi dapat menyebabkan berbagai komplikasi mulai sakit tenggorokan sampai stenosis trakea. Sebagian besar, disebabkan tekanan eksternal yang berkepanjangan pada struktur saluran napas yang sensitif. Ketika tekanan melebihi tekanan kapiler-arteriol darah (sekitar 30 mm Hg), iskemia jaringan dapat menuju pada terjadinya peradangan, ulserasi, granulasi dan stenosis. Tekanan manset TT untuk menciptakan ventilasi tekanan positif (biasanya minimal 20 mm Hg) mengurangi aliran darah trakea 75% di sekitar situs manset. Tekanan manset lebih lanjut atau hipotensi akibat diinduksi dapat menghilangkan aliran darah mukosa. Croup post intubasi disebabkan oleh edema glottic, laring, atau trakea sangat serius pada anak-anak. Efikasi kortikosteroid (misalnya, deksametason-0.2 mg / kg, sampai maksimum 12 mg) dalam mencegah edema postextubation jalan napas masih kontroversial, namun telah terbukti

manjur dalam anak-anak dengan croup dari penyebab lain. Kelumpuhan pita suara akibat kompresi manset merupakan trauma lain pada nervus laringeus rekuren yang menyebabkan suara serak dan meningkatkan risiko aspirasi. Beberapa komplikasi ini dapat dikurangi dengan menggunakan TT berbentuk anatomis agar sesuai dengan anatomi saluran napas (misalnya, Lindholm Anatomical Tracheal Tube). Insiden suara serak muncul pasca operasi meningkat dengan obesitas, intubasi sulit, dan anestesi durasi lama. Pemakaian pelumas larut air atau gel yang mengandung anestesi ke ujung atau manset TT tidak menurunkan angka kejadian sakit tenggorokan pasca operasi atau suara serak. Tabung kecil (ukuran 6,5 pada wanita dan 7,0 ukuran pada pria) berhubungan dengan keluhan yang lebih sedikit sakit tenggorokan pasca operasi. Pengulangan laringoskopi selama intubasi yang sulit dapat menyebabkan edema periglottic dan ketidakmampuan untuk ventilasi dengan masker, sehingga mengarah pada sesuatu yang mengancam jiwa (Gambar 5-21).

Kesalahan pada Positioning Tabung Trakea Intubasi esofagus yang tidak disengaja dapat menyebabkan bencana. Pencegahan komplikasi ini tergantung pada visualisasi langsung dari ujung TT melewati pita suara, auskultasi paru untuk mendengar adanya bunyi nafas bilateral dan adanya gemericik lambung, ketika ventilasi melalui TT, analisis adanya hembusan gas CO2 (metode yang paling dapat diandalkan), radiografi thorax, atau penggunaan suatu FOB. Meskipun sudah jelas bahwa tabung berada dalam dalam trakea, namun hal tersebut belum menjamin sudah diposisikan dengan benar. Overinsertion biasanya menyebabkan intubasi pada cabang utama bronkus kanan karena kurang membentuk sudut lancip dengan trakea. Petunjuk untuk diagnosis intubasi ini termasuk bunyi nafas bronkial unilateral, hipoksia dengan oksimetri nadi (tidak dapat diandalkan dengan tinggi konsentrasi oksigen inspirasi), ketidakmampuan untuk meraba manset TT pada insisura sternalis saat menekan manset, dan penurunan compliance pada breathing-bag (puncak tekanan inspirasi). Sebaliknya, kedalaman penyisipan yang tidak memadai akan memposisikan manset di laring, dimana hal ini merupakan predisposisi pada pasien untuk terjadinya trauma laring. Kedalaman yang tidak memadai dapat dideteksi dengan meraba manset di atas kartilago tiroid.

Karena tidak ada satu teknik yang dapat melindungi dari semua kemungkinan untuk misplacing TT, pengujian minimal harus mencakup auskultasi dada, kapnografi rutin, dan palpasi manset sesekali. Jika pasien telah terposisi, penempatan tabung harus dikonfirmasikan. Leher ekstensi menyebabkan rotasi lateral yang menyebabkan TT menjauhi carina, sedangkan fleksi leher menyebabkan tabung bergerak menuju carina tersebut.

Respon Fisiologis terhadap Instrumentasi Jalan Napas Laringoskopi dan intubasi trakea menyebabkan timbulnya refleks pelindung jalan napas pasien dan diduga dapat menyebabkan hipertensi dan takikardi. Penyisipan sebuah LMA dikaitkan dengan perubahan hemodinamik yang tidak terlalu mencolok. Perubahan-perubahan hemodinamik dapat dikurangi dengan pemberian obat lidokain intravena (1,5 mg / kg) 1-2 menit, remifentanil (1,0 g / kg) 1 menit, alfentanil (10-20 g / kg) 2-3 menit, atau fentanil (0,5-1,0 g / kg) 4-5 menit sebelum laringoskopi. Agen hipotensi, termasuk nitroprusside natrium, nitrogliserin, hydralazine,-bloker, dan calcium channel blockers, juga telah terbukti efektif meredam hipertensi akibat respon transien yang berhubungan dengan laringoskopi dan intubasi. Disritmia khususnya ventrikel jantung, tidak jarang terjadi selama intubasi dan biasanya menunjukkan anestesi yang tidak dalam. Laringospasme adalah kejang spontan dari otot-otot laring yang disebabkan oleh rangsangan terhadap nervus laringeus superior. Laringospasme biasanya dicegah dengan ekstubating saat pasien tertidur lelap atau sepenuhnya terjaga, tetapi bisa tetap terjadi meskipun jarang pada pasien terjaga. Pengobatan laringospasme termasuk ventilasi tekanan positif ringan dengan anestesi bag dan masker dengan menggunakan oksigen 100% atau pemberian lidokain intravena (1-1,5 mg / kg). Jika laringospasme berlanjut dan terjadi hipoksia, suksinilkolin (0,25-1 mg / kg [biasanya rentang dosis yang lebih rendah]) harus diberikan untuk merelaksasi otot-otot laring dan memungkinkan ventilasi terkontrol. Tekanan negatif intratorak yang besar diaman dihasilkan selama laryngospasm dapat mengakibatkan edema paru bahkan pada orang dewasa muda yang sehat. Namun demikian, laringospasme merupakan refleks normal, aspirasi dapat terjadi akibat depresi refleks laring pada intubasi berkepanjangan dan anestesi umum.

Refleks bronkospasme merupakan respon lain pada intubasi dan paling umum terjadi pada pasien dengan riwayat asma. Bronkospasme terkadang dapat menjadi petunjuk pada intubasi bronkial. Efek respon fisiologis lain dari intubasi antara lain peningkatan tekanan intrakranial dan intraokular.

Malfunction Tabung trakea TT tidak selalu berfungsi sebagaimana mestinya. Risiko pengapian tabung polivinil klorida pada lingkungan yang kaya O2/N2O disebutkan dalam Bab 2. Kerusakan katup atau manset yang harus dikeluarkan sebelum penyisipan. Obstruksi TT akibat terpuntir, aspirasi benda asing, atau akibat tebalnya sekresi dalam lumen.

Diskusi kasus : evaluasi dan management seorang gadis 17 tahun akan dilakukan drainase dari submandibular abcess. Apa pertimbangan penting dari anestesi selama evaluasi preoperatif dari seorang pasien dengan abnormalitas dari jalur nafas? induksi anestesi umum yang diikuti dengan laringoskopy direct dan intubasi oral adalah berbahaya, jika bukan tidak mungkin pada beberapa kondisi (Table 5-7). untuk menentukan tehnik intubasi yang optimal, dokter anesthesi harus memiliki riwayat pernafasan dan secara hati-hati memeriksa kepala dan leher pasien. Semua rekam medis anestesi yang mungkin didapatkan perlu untuk di tinjau apakah adanya suatu masalah pada management jalan nafas sebelumnya. Jika deformitas wajah cukup parah untuk menghalangi penempelan kunci masker sehingga ventilasi tekanan positif tidak dapat dilakukan. Lebih jauh, pasien dengan penyakit hypopharingeal yang lebih tergantung pada otot untuk mempertahankan terjaganya saluran napas. Kedua kelompok pasien seharusnya tidak diperbolehkan untuk menjadi apneic untuk alasan apapun-termasuk induksi anestesi, obat penenang, atau otot kelumpuhan-sampai saluran napas mereka adalah diamankan. table 5-7. kondisi yang dihubungkan dengan kesulitan intubasi. jika terdapat keterbatasan abnormal pada tempomandibular joint yang tidak dapat diperbaiki dengan muscle paralisis, pendekatan secara nasal dengan FOB perlu dipertimbangkan. infeksi yang terbatas pada dasar mulut

biasanya tidak menghalangi intubasi nasal. jika terdapat keterlibatan hipofaring hingga tulang hyoid, bagaimanapun juga, pendekatan translaringeal apapun akan sangat sulit untuk dilakukan. tanda lain adanya suatu penyulit dalam laryngoscopy termasuk pembatasan ekstensi dari leher (<35o), jarak antara ujung mandibula pasien dengan tulang hyoid kurang dari 7 cm, jarak sternomental kurang dari 12,5 cm dengan kepala berada dalam posisi ekstesi penuh dan mulut tertutup, dan uvula sulit terlihat selama pasien menjulurkan lidah secara sukarela (gambar 5-22). Harus ditekankan bahwa karena tidak ada teknik pemeriksaan yang sangat mudah dan tanda-tanda saluran napas yang sulit mungkin sulit untuk dinilai, ahli anestesi harus selalu siap untuk kesulitan yang tak terduga. Figure 5-22 A: klasifikasi Mallampati untuk pembukaan oral. B: grade visualisasi laring. suatu penyulit intubasi orothracheal (grade III atau IV) dapat diprediksi dengan ketidakmampuan melihat beberapa struktur faring (class III atau IV) selama pemeriksaan preoperatif pada pasien yang duduk. (Reproduced, with permission, from Mallampati SR: Clinical signs to predict difficult tracheal intubation [hypothesis]. Can Anaesth Soc J 1983;30:316.) Anestesi perlu mengevaluasi pasien jika terdapat tanda-tanda obstruksi jalan napas (misalnya, retraksi dada, stridor) dan hipoksia (agitasi, kegelisahan, kecemasan, kelesuan). Pneumonia aspirasi lebih mungkin jika pasien baru saja makan atau jika nanah dari abses mengalir ke dalam mulut. Dalam kedua kasus, teknik yang dapat mengikis refleks laring (misalnya, anestesi topikal) harus dihindari. Trauma atau penyakit serviks merupakan faktor yang harus dievaluasi sebelum laringoskopi direct. Arthritis serviks atau fusi serviks sebelumnya dapat menjadi penyulit untuk kepala yang akan diposisikan ke dalam posisi mengendus, pasien ini adalah kandidat untuk dilakukan bronkoskopi untuk mengamankan jalan napas seperti yang dibahas sebelumnya. Trauma pasien dengan leher yang tidak stabil atau leher belum "dibersihkan" juga merupakan kandidat bronkoskopi untuk intubasi trakea. , Atau jika laringoskopi direct disukai dan individu-individu terampil dalam manajemen jalan nafas, seseorang dapat menahan kepala dan leher dalam posisi tetap dan dua lainnya dapat ventilasi dan intubasi pasien (Gambar 5-23). (gambar 5-23) Teknik untuk manajemen saluran nafas pasien dengan suspek cedera sumsum tulang belakang. Satu orang memegang kepalanya dengan kuat dan pasien berada pada sebuah papan punggung, penyangga leher ditinggalkan sendirian jika di tempat, memastikan bahwa baik kepala atau leher tidak bergerak dengan laringoskopi direct. Orang kedua melakukan tekanan krikoid dan yang ketiga melakukan laringoskopi direct dan intubasi. Dalam kasus yang sedang dibahas, pemeriksaan fisik mengungkapkan adanya edema wajah yang

luas sehingga membatasi rentang gerak mandibula. Pengepasan masker tampaknya tidak terganggu, namun. Radiografi lateral kepala dan leher menunjukkan bahwa infeksi telah menyebar di laring. Frank-pus dapat diamati dalam mulut.

Tehnik mana yang lebih diindikasikan? Intubasi oral dan hidung rutin telah dijelaskan untuk pasien yang dibius. Kedua tehnik ini juga dapat dilakukan pada pasien sadar. Apakah pasien terjaga atau tertidur atau apakah intubasi harus oral atau hidung, dapat dilakukan dengan laringoskopi yang kaku, visualisasi serat optik, atau "blind" teknik. Jadi, setidaknya ada 12 metode translaryngeal intubasi (misalnya, sadar / hidung / serat optik) yang mungkin dengan TT. Teknik alternatif dengan menggunakan LMA, pendekatan trachlite atau retrograd, atau Combitube yang tersedia, dan trakeostomi atau cricothyrotomy dapat menjadi metode lifesaving dalam mempertahankan jalan napas. Intubasi mungkin sulit pada pasien ini, bagaimanapun, ada nanah yang mengalir ke dalam mulut, dan mungkin ventilasi tekanan positif tidak dapat dilakukan. Induksi anestesi harus ditunda sampai setelah jalan napas telah diamankan. Lokasi abses submandibula mendukung pilihan pendekatan lewat hidung dan mungkin menyingkirkan penggunaan laringoskopi kaku. Oleh karena itu, alternatifnya adalah intubasi sadar / hidung / serat optik dan intubasi sadar / hidung / blind technique. Keputusan akhir tergantung pada ketersediaan FOB dan pengalaman personil dalam penggunaannya. Terlepas dari alternatif mana yang dipilih, suatu tindakan trakeostomi darurat mungkin diperlukan. Oleh karena itu, tim yang berpengalaman termasuk dokter bedah harus dalam ruang operasi, semua peralatan yang diperlukan harus tersedia dan terbuka, dan leher harus diliputi dan ditutupi. Obat premedikasi apa yang tepat untuk pasien ini? Setiap keadaan kehilangan kesadaran atau gangguan refleks jalan napas dapat menyebabkan obstruksi jalan napas atau aspirasi. Glycopyrrolate akan menjadi pilihan yang baik untuk premedikasi karena meminimalkan sekresi saluran napas atas tanpa melintasi penghalang darahotak (lihat Bab 11). Obat penenang paraenteral harus dititrasi sangat hati-hati atau dihindari sepenuhnya. Persiapan psikologis pasien, termasuk menjelaskan setiap langkah direncanakan dalam mengamankan jalan napas, dapat meningkatkan kerjasama pasien. Pengelolaan pasien dengan resiko aspirasi adalah subjek dari diskusi kasus yang disajikan dalam Bab 15. Jelaskan tentang "blind" nasotracheal intubation Suatu Tracheal Tube dilumasi dengan jelly lidokain dan ditekuk selama beberapa menit untuk membesar-besarkan kelengkungan nya (Gambar 524). Kepala pasien harus ditempatkan pada posisi mengendus. Setelah persiapan dari hidung, ujung TT secara lembut dimasukan ke hidung pada bidang tegak lurus ke wajah. Gerakan udara melalui tabung harus terus dirasakan, didengar, atau dipantau oleh kapnografi. Tabung secara bertahap dimasukan selama inspirasi. Jika respirasi pasien terus berlangsung tetapi

tidak ada aliran udara dideteksi melalui tabung, ujung telah melewati glotis dan sedang berada dalam esofagus. Dalam hal ini, tabung harus ditarik dan maju lagi. nafas yang tertahan dan batuk merupakan tanda jarak terdekat dengan laring; masuknya tabung harus dilanjutkan pada tiap inspirasi. gambar 5-24 Sebuah tabung trakea dibengkokkan untuk membesar-besarkan lengkungannya sehingga dapat melewati anterior menuju ke laring selama blind nasal intubation. Jika tabung tidak mudah masuk trakea, beberapa manuver dapat meningkatkan keberhasilannya. Ekstensi kepala juga akan memandu tabung lebih ke anterior, sedangkan rotasi kepala akan menggerakan ujung tabung ke lateral. Tekanan laring atau krikoid berguna untuk dapat mengubah hubungan antara ujung tube dan glottis. Pengembangan manset TT di hipofaring juga dapat memaksa ujung tube ke anterior. jika tube tetap masuk ke esophagus, penjuluran lidah volunter akan menghambat proses menelan dan mungkin dapat mendorong lidah dan tube ke anterior. Setelah intubasi dikonfirmasi, induksi intravena mungkin dapat dilanjutkan. Pada akhir prosedur, pasien harus benar-benar sadar, dengan refleks pelindung saluran napas utuh, sebelum ekstubasi dilakukan. Peralatan yang diperlukan dan personil harus tersedia untuk intubation ulang yang tak terduga. Nerve block apa yang dapat membantu selama intubasi dengan pasien sadar? nervus lingual dan beberapa cabang faring dari nervus glossopharingeus yang memberikan sensasi ke sepertiga posterior lidah dan orofaring mudah diblokir oleh injeksi bilateral 2 mL anestesi lokal ke dalam dasar lengkungan palatoglossal (juga dikenal sebagai pilar anterior tonsil) dengan jarum 25gauge untuk tulang belakang (Gambar 5-25). gambar 5-25 Blok saraf. Sementara lidah ditarik ke lateral dengan pisau lidah, dasar lengkungan palatoglossal diinfiltrasi dengan anestesi lokal untuk blok cabang lingual dan faring dari nervus glossopharingeus. Perhatikan bahwa cabangcabang nervus lingual glossopharingeus tidak sama dengan nervus lingualis, yang merupakan cabang dari saraf trigeminal.

blok saraf laring superio bilateral dan blok saraf transtracheal akan membius saluran napas dibawah epiglotis (Gambar 5-26). Tulang hyoid ditemukan, dan 3 mL lidokain 2% diinfiltrasikan 1 cm di bawah setiap kornu besar di mana cabang internal saraf laring superior menembus membran thyrohyoid. gambar 5-26 blok saraf laring superior dan blok saraf transtracheal Sebuah blok transtracheal dilakukan dengan mengidentifikasi dan menembus membran krikotiroid ketia leher diekstensikan. Setelah konfirmasi posisi intratrakeal dengan aspirasi udara, 4 mL lidokain 4% disuntikkan ke dalam trakea pada akhir ekspirasi. Sebuah napas dalam dan batuk segera muncul setelah penyuntikan mendistribusikan obat bius ke seluruh trakea. Meskipun blok ini dapat memungkinkan pasien yang sadar untuk mentolerir intubasi secara lebih baik, mereka juga menghambat refleks batuk, menekan refleks menelan, dan dapat menyebabkan aspirasi. Anestesi topikal faring dapat menimbulkan obstruksi sementara dari hilangnya refleks regulasi saluran napas pada tingkat glottis.

Karena pasien ini memiliki peningktan resiko aspirasi, anestesi lokal lebih baik dibatasi pada bagian hidung. Empat persen kokain tidak memiliki keunggulan dibandingkan dengan campuran lidokain 4% dan 0,25% fenilefrin dan dapat menyebabkan efek samping kardiovaskular. Dosis maksimum yang aman anestesi lokal harus dihitung-dan tidak terlampaui (lihat Bab 14). Bius lokal diterapkan pada mukosa hidung dengan ujung kapas aplikato sampai nasal tube airway yang telah dilumasi dengan jelly lidokain dapat ditempatkan ke dalam naris dengan ketidaknyamanan yang minimal. Kenapa perlu untuk dipersiapkan tracheostomy emergency? Laryngospasm selalu merupakan kemungkinan komplikasi intubasi pada pasien nonparalyzed bahkan jika pasien tetap sadar. Laryngospasm dapat membuat ventilasi tekanan positif dengan masker tidak dapat dilakukan. Jika succinylcholine diberikan untuk memecahkan spasm, relaksasi otot-otot faring akibat dari pemberian obat dapat menyebabkan obstruksi jalan napas bagian atas dan kemudian menyebabkan ketidakmampuan melakukan ventilasi. Dalam situasi ini, tracheostomy darurat dapat menyelamatkan nyawa.

Tehnik alternatif apa yang mungkin dapat berguna? Strategi lain yang mungkin termasuk aliran balik dari kawat pemandu panjang atau kateter epidural melalui jarum yang dimasukkan melintasi membran krikotiroid. Kateter dipandu cephalad ke dalam faring dan keluar melalui hidung atau mulut. TT melewati kateter, yang ditarik setelah tabung telah memasuki laring. Variasi dari teknik ini meliputi memasukan kawat retrograde melalui suction port dari FOB fleksibel atau lumen dari stilet reintubation yang telah dimuat dengan TT. Poros tebal ini membantu TT beradaptasi dengan tikungan ke laring secara lebih mudah. Jelas bahwa, susunan yang luas dari peralatan saluran napas khusus harus ada dan harus siap tersedia untuk manajemen saluran udara sulit (Tabel 5-8). Kemungkinan lain adalah cricothyrotomy, yang digambarkan dalam Bab 47. Salah satu dari teknik ini akan sulit pada pasien yang dijelaskan dalam kasus ini karena pembengkakan dan distorsi anatomi leher yang dapat menyertai abses submandibula.
Table 58. Suggested Contents of the Portable Storage Unit for Difficult Airway Management.1,2