Anda di halaman 1dari 10

BAB 1 TINJAUAN MEDIS

1.1 Tinjauan Medis 1.1.1 Definisi Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Barbara C. Long,1995). Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat. (Brunner dan Sudarta,1999 : 1220). Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO). Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat peningkatan kadar glukosa darah yang disebabkan oleh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2002). 1.1.2 Etiologi 1. IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus) disebabkan oleh destruksi sel pulau langerhans akibat proses autoimun 2. NIDDM ( Non Insulin Dependent Diabetes Melitus) disebabkan kegagalan relative sel dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati 1.1.3 Klasifikasi 1. 2. 3. lainnya 4. Diabetes mellitus gestasional (GDM) Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM) Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM) Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom

15

1.5 Manifestasi klinik Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim. Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah : 1. Katarak 2. Glaukoma 3. Retinopati 4. Gatal seluruh badan 5. Pruritus Vulvae 6. Infeksi bakteri kulit 7. Infeksi jamur di kulit 8. Dermatopati 9. Neuropati perifer 10. Neuropati visceral 11. Amiotropi 12. Ulkus Neurotropik 13. Penyakit ginjal 14. Penyakit pembuluh darah perifer 15. Penyakit koroner 16. Penyakit pembuluh darah otak 17. Hipertensi Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut. Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak 15

ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak. Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas. 1.6 Pemeriksaan Penunjang 1. Glukosa darah sewaktu Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl) Bukan DM Belum pasti DM. Kadar glukosa darah sewaktu - Plasma vena - Darah kapiler 2. Kadar glukosa darah puasa - Plasma vena - Darah kapiler 3. Tes toleransi glukosa Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan: 1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L) 2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L) 3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl 1.7 Penatalaksanaan Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : 1. Diet 2. Latihan 3. Pemantauan 4. Terapi (jika diperlukan) 5. Pendidikan 3.1 KOMPLIKASI AKUT 1) Hipoglikemia

15

Hipoglikemia ( kadar glukosa darah yang dibawah normal ) terjadi kalau kadar glukosa darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl ( 2,7 hingga 3,3 mmol/L ). Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Hipoglikemia dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari. Kejadian ini bisa di jumpai sebelum makan. Khususnya jika waktu makan tertunda atau bila pasien lupa makan cemilan. Hipoglikemia ringan Pada hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar. Hipoglikemia sedang Pada hipoglikemia sedang penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, patirasa di daerah bibir serta lidah, bicara pelo 2) Ketoasidosis 3) Koma hiperosmolar non ketotik 2. Kronis pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak 2) Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil 3) Neuropati diabetic 4) Rentan infeksi 5) Kaki diabetik

1) Makroangiopati, mengenai pembuluh darah jantung, pembuluh darah besar,

15

BAB 2 TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN


2.1 Tinjauan Asuhan Keperawatan 1.2.1 Data Dasar Pengkajian Klien 1. Gejala Tanda Aktivitas / Istirahat : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan tidur/istirahat : Takikardia dan tachipnea pada saat istirahat atau aktivitas, letargi, disorientasi, koma, penurunan kekuatan otot 2. Integritas Ego Gejala : Stress, tergantung orang lain, masalah finansial Tanda : kecemasan, peka rangsang 3. Eliminasi Gejala : Poliuria, nokturia, disuria, ISK baru/berulang, nyeri tekan abdomen, diare Tanda : Urine encer pucat, kuning; poliuria (dapat menjadi oliguria), urine berkabut, bau bususk (infeksi) abdomen keras, terdapat ascites, Bising usus lemah/menurun; hiperaktif (diare) 4. Makanan/cairan Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan lebih dari beberapa hari/minggu, haus, Tanda : Kulit kering bersisik, turgor jelek, kekakuan/distensi abdomen, muntah, pembesaran thiroid, bau halitosis (manis) atau bau buah (napas aseton) 5. Neurosensori Gejala Tanda : Pusing/pening, sakit kepala, kesemuatan, kebas, kelemahan pada otot, parastesia, gangguan pengglihatan : disorientasi, mengantuk, letargi, stupor/koma (tahap lanjut) gangguan memori (bau, masa lalu, kacau mental), refleks tendon dalam menurun, kejang 6. Nyeri/Kenyamanan Gejala : Abdomen tegang/nyeri Tanda : wajah meringis dan palpitasi, tampak sagnat berhati-hati 7. Pernafasan Gejala : Merasa kurang oksigen, batuk dengan atau tanpa sputum purulen Tanda : Pernafasan cepat, batuk dengan/tanpa sputum 8. Keamanan 15

Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit Tanda : Demam, diaforesis, kulit rusak, menurunnya rentang gerak, parastesia/paralisis otot, termasuk otot pernafasan (jika kadar kalium menurun tajam) 9. Seksualitas Gejala : Kebas vagina, impotensi pada pria, kesulitan orgasme pada wanita 1.2.2 Rencana Asuhan Keperawatan Diagnosa I : Gangguan pemenuhan nutrisi ( kurang dari ) kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi Kriteria hasil : 1. Pasien mematuhi dietnya. 2. Kadar gula darah dalam batas normal. 3. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia. Rencana Tindakan : 1. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan. Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat. 2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan. Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia. 3. Timbang berat badan setiap seminggu sekali. Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ). 4. Identifikasi perubahan pola makan. Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan. 5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik. Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi. Diagnosa II : Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan diuresis osmotik atau kehilangan cairan berlebihan Tujuan Keperawatan : Kekurangan volume cairan teratasi. Kriteria Hasil : Menunjukan hidrasi yang adekuat ditandai oleh : 15

1. TD : Sistole 110 130 mmHg & Diatole 80 90 mmHg. 2. Nadi 3. Suhu : 70 80 x/mnt. : 36C 37,5C.

4. RR : 16 20 x/mnt 5. Turgor kulit elastis dan mukosa lembab 6. Tidak ada ekspresi lemah atau lelah 7. Intake output seimbang. Rencana Tindakan : 1. Observasi tanda-tanda vital setiap 4 8 jam. Rasional : Untuk menunjukkan hidrasi yang adekuat 2. Observasi turgor kulit, kelembaban dan kondisi selaput mukosa. Rasional : Untuk mengetahui derajat hidrasi 3. Ukur intake output tiap hari. Rasional : Untuk memonitor Keseimbangan volume cairan 4. Berikan cairan sekurang-kurangnya 2500 ml atau sesuai program medik dan jika tidak ada kontraindikasi. Rasional : Untuk mempertahankan hidrasi 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan infus sesuai indiksi. Rasional : Untuk mencegah dehidrasi Diagnosa III : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa. Tujuan Keperawatan : Integritas kulit tetap terjaga. Kriteria Hasil : 1. Tidak timbul luka dan ruam pada kulit. 2. Ulserasi kering. 3. Kebersihan kulit tetap terjaga. Rencana Tindakan : 1. Anjurkan pasien untuk melakukan mobilisasi Rasional : Meningkatkan aliran darah keseluruh tubuh 2. Ubah posisi tiap 4 jam Rasional : Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah 3. Lakukan perawatan pada kulit yang luka atau iritasi Rasional : Mencegah kerusakan yang lebih parah pada kulit 4. Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma Rasional : Mempertahankan keutuhan kulit 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotik. Rasional : mencegah kerusakan kulit yang lebih parah

15

Diagnosa IV : Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu anggota tubuhnya secar positif. Kriteria Hasil : 1. Pasien mau berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan. Tanpa rasa malu dan rendah diri. 2. Pasien yakin akan kemampuan yang dimiliki. Rencana tindakan : 1. Kaji perasaan/persepsi pasien tentang perubahan gambaran diri berhubungan dengan keadaan anggota tubuhnya yang kurang berfungsi secara normal. Rasional : Mengetahui adanya rasa negatif pasien terhadap dirinya. 2. Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien. Rasional : Memudahkan dalm menggali permasalahan pasien. 3. Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien. Rasional : Pasien akan merasa dirinya di hargai. 4. Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Rasional : dapat meningkatkan kemampuan dalam mengadakan hubungan dengan orang lain dan menghilangkan perasaan terisolasi. 5. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan. Rasional : Untuk mendapatkan dukungan dalam proses berkabung yang normal. 6. Beri dorongan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan hargai pemecahan masalah yang konstruktif dari pasien. Rasional : Untuk meningkatkan perilaku yang adiktif dari pasien. Diagnosa V : Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang dalam waktu 2x 24 jam Kriteria hasil : 1. 2. Pasien mengatakan nyeri berkurang/ hilang Pasien rileks Rencana Tindakan : 1. Observasi tingkat nyeri Rasional : Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien dan menentukan tindakan 2. Ajari tehnik relaksasi Rasional : Untuk menurunkan ketegangan otot rangka yang dapat menurunkan intensitas nyeri 3. Ajari teknik distraksi 15 selanjutnya

Rasional : Mengalihkan perhatian untuk mengurangi nyeri 4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgesik Rasional : Analgesik menghambat transmisi otak pada titik lain didalam lintasan nyeri Diagnosa VI : Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis) berhubungan dengan tinggi kadar gula darah. Tujuan : Tidak terjadi penyebaran infeksi (sepsis). Kriteria Hasil : 1. Tanda-tanda infeksi tidak ada. 2. Tanda-tanda vital dalam batas normal ( S : 36 37,50C ) 3. Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal. Rencana tindakan : Kaji adanya tanda-tanda penyebaran infeksi pada luka. Rasional : Pengkajian yang tepat tentang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat membantu menentukan tindakan selanjutnya. 2. Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri selama perawatan. Rasional : Kebersihan diri yang baik merupakan salah satu cara untuk mencegah infeksi kuman. Lakukan perawatan luka secara aseptik. Rasional : untuk mencegah kontaminasi luka dan penyebaran infeksi. Anjurkan pada pasien agar menaati diet, latihan fisik, pengobatan yang ditetapkan. Rasional : Diet yang tepat, latihan fisik yang cukup dapat meningkatkan daya tahan tubuh, pengobatan yang tepat, mempercepat penyembuhan sehingga memperkecil kemungkinan terjadi penyebaran infeksi. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotika dan insulin. Rasional : Antibiotika dapat menbunuh kuman, pemberian insulin akan menurunkan kadar gula dalam darah sehingga proses penyembuhan.

15

DAFTAR PUSTAKA Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Media Aesculapius: Fakultas Kedokteran UI Simon, Sumanto,. 2003. Noeplasma Sistem Hematopoietik: Leukemia. Jakarta: Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta. Moss, P.A.H, Pettit, J.E, Hoffbrand, A.V.2005. Kapita Selekta Hematologi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Thompson, R.B., Proctor, S.J., 1984. A short Textbook of Haematology, 6th edn, Pitman, Tunbridge Wells. Gunz, F.W., et al. 1978. Thirteen cases of leukemia in a family: J Natl Cancer Inst 60:1234 Milham, S Jr.1972. Leukemia and multiple myeloma in farmers.:Am J Epidemiol 94:307 Weinstein, H.J., et al. 1980. Treatmen of acute myelogenous leukemia in children and adult: N Engl J Med 303:473 Carbon, P.T., et al.: Symposium (Ann Arbor: Staging in Hodgkins disease.Cancer Res 31:1707-1971 Price, S.A., Wilson, L.M., Gralnick., 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis, Proses-Proses Penyakit. 271-80 Anonim. 2005. Klasifikasi Leukemia. http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php? id=&iddtl=39&idktg=19&idobat=&UID=20071202140427202.173.18.162. Anonim. 2007. Leukemia. http://id.wikipedia.org./wiki/leukimia

15