Anda di halaman 1dari 29

1

1udul
Bahaya Penyalahgunaan Pemakaian Kemasan Produk Makanan
2 -strak Rencana Penelitian
Dalam kehidupan masyarakat semakin komplek, hasil produk begitu melimpah, Iaktor
keselamatan bagi para konsumen dalam menikmati hasil produk perlu diperhatikan
seperti produk makan dan minuman. Demi keselamatan dan keamanan bagi
konsumen para produsen dituntut untuk betul betul memperhatikan mutu kemasan
yang dapat memberi perlindungan juga sebagai bagian dari tanggung jawab produsen.
Sebenarnya berbagai jenis dan bentuk kemasan memudahkan makanan dan minuman
didistribusikan karena lebih awet, higienis jika dikemas dengan baik. Konsumen
merasa nyaman dengan tersedianya produk pangan terkemas berbagai bentuk dan
ukuran, disatu sisi kemasan memberikan keuntungan dan disisi lain kemasan juga
perlu diwaspadai karena tidak semua bahan pengemas aman terhadap makanan dan
minuman sehingga harus memenuhi syarat kemasan.
Penelitian ini berusaha untuk menggali data aktual mengenai tingkat pemahaman
masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan pemakaian kemasan produk makanan.
Selain itu banyak regulasi yang brekaitan dengan penyalahgunaan pemakaian
kemasan makanan namun masih dipertanyakan mengenai penegakan hukumnya.
Penelitian ini akan dilakukan di Kota Semarang dengan alasan bahwa Kota Semarang
adalah ibukota Jawa Tengah yang merupakan kota strategis pengembangan usaha
sehingga akan banyak ditemukan para produsen menggunakan kemasan untuk produk
makanan yang mereka jual. Data penelitian dikumpul dengan cara wawancara,
dokumentasi dan observasi langsung di lapangan. Kegiatan wawancara dilakukan
dengan responden kunci yaitu para produsen, pengguna kemasan makanan, Dinas
Kesehatan, dan Pemerintah Kota Semarang. Metode dokumentasi dipergunakan untuk
memperoleh data sekunder dari dokumen tertulis mengenai penggunaan kemasan
makanan di lokasi penelitian. Kegaiatan observasi langsung dilakukan untuk
mengamati dari dekat aktivitas yang dilakukan para produsen dan pengguna kemasan
makanan. Sambil melakukan observasi, peneliti juga membawa fieldnotes yang
dipergunakan untuk mencatat aktivitas produsen dan pengguna kemasan serta
mempergunakan tape recorder untuk merekam hasil wawancara. Hasil penelitian ini
diharapkan memberikan gambaran tentang tingkat pemahaman masyarakat terhadap
bahaya penyalahgunaan pemakaian kemasan untuk produk makanan.
Kata Kunci : Penanggulangan, Kemasan Makanan.


Masalah yang Diteliti
Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional
diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat
bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Pembangunan kesehatan pada dasarnya menyangkut semua segi kehidupan, baik Iisik,
mental, maupun sosial ekonomi. Dalam perkembangan pembangunan kesehatan
selama ini, telah terjadi perubahan orientasi, baik tata nilai maupun pemikiran
terutama mengenai upaya pemecahan masalah di bidang kesehatan yang dipengaruhi
oleh politik, ekonomi, sosial budaya, pertanahan dan keamanan serta ilmu
pengetahuan dan teknologi. Perubahan orientasi tersebut akan mempengaruhi proses
penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Di samping hal tersebut, dalam
pelaksanaan pembangunan kesehatan perlu memperhatikan jumlah penduduk
Indonesia yang besar, yang terdiri dari berbagai suku, adat istiadat, yang menghuni
diribuan pulau yang terpencar-pencar dengan tingkat pendidikan dan sosial yang
beragam.
Cita-cita bangsa Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan adalah
tercapainya derajat yang optimal sebagai perwujudan tercapainya kesejahteraan
umum seperti diamanatkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar Republik
Indonesia 1945, khususnya dalam bidang kesehatan meliputi kesehatan badaniah,
rohaniah, sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit cacat dan
kelemahan. Dalam Pasal 7 Undang-undang Nomor Tahun 199 Tentang
Kesehatan, sangat jelas bahwa pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya
kesehatan yang merata terjangkau oleh masyarakat. Untuk keberhasilan pembangunan
di berbagai bidang khususnya bidang kesehatan, peran serta masyarakat juga
diharapkan kesadarannya demi kesejahteraan akan hidup sehat. Hal ini mempengaruhi
meningkatnya kebutuhan pelayanan dan pemerataan yang mencakup tenaga, sarana,
dan prasarana baik jumlah maupun mutu atau kualitas, jadi diperlukan adanya
pengaturan untuk melindungi pemberi dan penerima pada pelayanan kesehatan.
Dalam rangka memberikan kepastian dan perlindungan hukum untuk meningkatkan,
mengamalkan dan memberi dasar bagi pembangunan kesehatan diperlukan perangkat
hukum kesehatan yang dinamis. Bagi pemberi jasa pelayanan kesehatan makanan dan
minuman hasil produk rumah tangga dalam pembinaan pemerintah, pelaksanaan
hukum diberlakukan secara bertahap, sehingga perangkat hukum dapat menjangkau
untuk masa yang akan datang.


Kehidupan masyarakat yang semakin komplek dan dengan semakin
berkembangnya teknologi diberbagai bidang, dimana hasil produk begitu melimpah,
Iaktor keselamatan bagi para konsumen dalam menikmati hasil produk perlu
diperhatikan seperti produk makan dan minuman. Bagi pemerintah, pangan yang
beredar harus aman, bermutu dan bergizi karena pangan sangat dibutuhkan bagi
pertumbuhan, pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan serta kecerdasan
masyarakat perlu dilindungi dari pangan yang merugikan dan/atau membahayakan
keselamatan. Pangan yang baik sekalipun tidak menjamin kesehatan bagi masyarakat
manakala kemasan dari pangan tersebut membahayakan masyarakat tersebut.
Kemasan merupakan hal yang sepele bagi sebagian masyarakat namun kemasan
merupakan hal penting karena kemasan melindungi produk terhadap berbagai
kemungkinan yang dapat menjadi sebab timbulnya kerusakan produk.
Demi keselamatan dan keamanan bagi konsumen para produsen dituntut untuk
betulbetul memperhatikan mutu kemasan yang dapat memberi perlindungan juga
sebagai bagian dari tanggung jawab produsen. Sebenarnya berbagai jenis dan bentuk
kemasan memudahkan makanan dan minuman didistribusikan karena lebih awet,
higienis jika dikemas dengan baik. Konsumen merasa nyaman dengan tersedianya
produk pangan terkemas berbagai bentuk dan ukuran, disatu sisi kemasan
memberikan keuntungan dan disisi lain kemasan juga perlu diwaspadai karena tidak
semua bahan pengemas aman terhadap makanan dan minuman sehingga harus
memenuhi syarat kemasan. Oleh karena itu Undang Undang No 7 tahun 1996
tentang pangan pada bagian keempat memberikan pengaturan mengenai kemasan
pangan yang harus diperhatikan bagi semua produsen dalam memproduksi makanan
dan minuman sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Pada Juli 1, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan
bahwa residu styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat
menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat
adanya gangguan pada system endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan
kimia karsinogen dalam makanan (
http://www.indonesianegeriku.com/Artikel/supaya-tetap-sehat.html, diakses pada
tanggal 14 Juli 9).
Berbicara mengenai kemasan makanan dan minuman, kita tidak hanya mengacu
pada UU No. 7 Tahun 1996 tetapi juga perlu memperhatikan berbagai peraturan
perundang-undangan yang berlaku lainnya seperti UU No. Tahun 199 Tentang
4

Kesehatan, UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, PP No. 8
Tahun 4 Tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan, Keputusan BPOM Tentang
bahan Kemasan Pangan, dan lain sebagainya.
Hukum sebagai kumpulan peraturan atau kaedah mempunyai isi yang bersiIat
umum dan normatiI, umum karena berlaku bagi setiap orang dan normatiI karena
menentukan apa yang seyogyanya dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan atau
harus dilakukan serta menentukan bagimana caranya melaksanakan kepatuhan pada
kaedah-kaedah (Sudikno, : 41).
Berbagai regulasi yang mengenai kemasan makanan dan minuman, dalam
praktek belum dipatuhi oleh para produsen atau pelaku usaha di masyarakat sehingga
hal tersebut sangat merugikan konsumen. Produsen atau pelaku usaha bersaing ketat
untuk meraih konsumen dengan menciptakan berbagai inovasi desain kemasannya
dengan berbagai macam kemasan seperti kertas, plastik, kaleng, alumunium, gelas,
styrofoam dan lain-lain. Guna menjaga kualitas dan keamana produk yang
dikemasknya produsen atau pelaku usaha membutuhkan kemasan produknya yang
dapat memenuhi standar keamaman pangan.
Berdasar pada pengamatan secara langsung terhadap 5 (lima) tetangga dekat
peneliti di mana dalam kehidupan sehari-hari terbukti , baik di depan maupun di meja
makan terdapat minuman air putih dalam botol bekas minuman kemasan dari merek
terkenal maupun merek-merek lain yang sudah dipakai beberapa kali, bahkan sudah
ada yang warnanya mulai kusam. Dari hasil perbincangan kelima tetangga hampir
semua jawabannya bahwa dengan botol bekas kemasan Aqua lebih praktis, tidak
mudah pecah. Mereka tidak menyadari dampak dari botol plastik yang telah dipakai
berkali-kali akan mempengaruhi kesehaan bagi orang yang meminum air dalam botol
tersebut, karena Botol plastik yang dipakai berkali-kali bisa mencemari minuman.
Begitu juga pengamatan terhadap konsumen yang membeli bakmi dengan
dibungkus dalam kemasan streoIorm, mereka mengatakan dengan dibungkus dalam
bentuk kotak, begitu praktis, makanan bisa tahan lama panasnya. Namun mereka tidak
menyadari dampak dari kemasan streoIorm bisa menyebabkan kanker, gagal ginjal
dan mempengaruhi kesehatan lainnya.
Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan yang akan diangkat dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) bagaimana tingkat pemahaman masyarakat
terhadap bahaya penyalahgunaan pemakaian kemasan produk makanan, ).
5

Bagaimana penegakan hukum terhadap pelanggaran penyalahgunaan pemakaian
kemasan pada produk makanan.
Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah selain untuk mengetahui
tingkat pemahaman masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan kemasan produk
makanan juga untuk mengetahui penegakan hukum terhadap penyalahgunaan
kemasan tersebut. Pada akhirnya akan didapat data untuk dapat digunakan banyak
pihak menentukan kebijakan-kebijakn yang berkaitan dengan masalah tersebut di atas.

Kajian Pustaka
Melihat kompleksitas dalam permasalahan sebagaimana tertulis di atas, maka
dalam penelitian ini akan diuraikan landasan teori sebagai berikut :
Regulasi Tentang Kemasan Makanan dan Minuman di Indonesia
Pembangunan dan perkembangan perekonomian umumnya dan khususnya di
bidang perindustrian dan perdagangan nasional telah mengahasilkan berbagai variasi
barang dan/atau jasa yang dapat dikonsumsi. Kondisi yang demikian ini di satu sisi
memberikan manIaat bagi konsumen, karena kebutuhan konsumen akan barang
dan/atau jasa yang diinginkan dapat dipenuhi sesuai dengan keinginan dan
kemampuan konsumen. Di sisi lain, kondisi ini mengakibatkan kedudukan pelaku
usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang dan konsumen berada pada posisi yang
lemah. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu regulasi yang mampu memberikan
perlindungan kepada konsumen.
Salah satu sentral pokok dalam memberikan perlindungan kepada konsumen
adalah peraturan yang mengatur tentang produk makanan, khususnya dalam proses
pembuatannya maupun dalam proses pemasaran produknya. Dalam melakukan
pemasaran suatu produk, kemasan memegang peranan yang penting, dimana kemasan
sebagai wadah produk dan daya tarik produk.
Tetapi dalam kenyataannya tidak semua produsen dalam membuat kemasan
untuk produknya mematuhi segala peraturan yang ada. Regulasi yang ada di
Indonesia yang memberikan dasar hukum bagi kemasan makanan dan minuman yaitu
:
a &ndang-undang Nomor 2 Tahun 2 Tentang Kesehatan
Kemasan makanan dan minuman dalam Undang-undang Nomor Tahun
199 Tentang Kesehatan dibahas dalam beberapa pasal. Pasal yang mengatur
mengenai kemasan makanan dan minuman yaitu Pasal 1 UU No. Tahun 199.
6

Pasal 1 tersebut dalam Bab Keempat mengenai Pengamanan Makanan dan
Minuman. Pasal 1 UU No. Tahun 199 terdiri dari ayat yang akan dibahas
lebih lanjut.
Pasal 1 ayat (1) UU No. tahun 199, menyebutkan bahwa pengaman
makanan dan minuman diselenggarakan untuk melindungi masyarakat dari
makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan mengenai standar dan atau
persyaratan kesehatan. Pengamanan makanan dan minuman dalam Pasal 1
tersebut bertujuan agar masyarakat terhindar dari makanan dan minuman yang
dapat membahayakan kesehatan. Pemerintah berperan dengan menetapkan standar
dan persyaratan kesehatan agar makanan dan minuman yang bersangkutan aman
dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Kepala Seksi SertIikasi dan Layanan Konsumen Balai Besar Pengawasan
Obat dan Makanan (BBPOM), Siti Nuraniah, menyatakan bahwa sebagian besar
bahan kemasan pangan bersentuhan langsung (menempel) dengan pangan, jika
menggunakan bahan yang mengandung racun, dikhawatirkan akan menempel pada
produk pangan sehingga berbahaya bagi kesehatan masyarakat
(http://www.pikiran-rakyat.com, diakses tanggal 14 Juli 9).
Pasal 1 ayat () UU No. Tahun 199 menyebutkan bahwa setiap
makanan dan minuman yang dikemas wajib diberi tanda atau label yang berisi
bahan yang dipakai, komposisi setiap bahan, tanggal, bulan, dan tahun
kadaluwarsa, dan ketentuan lainnya. Ayat tersebut menjelaskan yang dimaksud
dengan makanan dan minuman yang dikemas yaitu makanan dan minuman hasil
produksi perusahaan yang tergolong industri berskala besar dan tidak termasuk
hasil industri kecil atau industri rumah tangga. Dengan demikian industri kecil atau
industri rumah tangga., baik yang menggunakan merek dagang maupun tidak,
belum dikenakan sanksi pidana sebagaimana ditentukan dalam UU No. Tahun
199. Sedangkan pemberian tanda atau label dimaksudkan agar masyarakat
mendapat inIormasi yang benar tentang isi dan asal bahan yang dipakai.
Pada kemasan, konsumen mendapatkan inIormasi tentang bahan baku apa
saja yang digunakan dalam proses produksinya, termasuk bagaimana cara
penggunaan yang tepat sesuai dengan kelompok penggunanya.
Pasal 1 ayat () UU No. Tahun 199 menyebutkan bahwa makanan dan
minuman yang tidak memenuhi ketentuan standar dan atau persyaratan kesehatan
dan atau membahayakan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dilarang
7

untuk diedarkan, ditarik dari peredaran, dan disita untuk dimusnahkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ayat () tersebut
bermaksud untuk melindungi masyarakat dimana peredaran makanan dan
minuman hasil industri berskala besar dengan menggunakan teknologi maju yang
tidak memenuhi ketentuan standar dan atau persyaratan kesehatan dilarang
peredarannya. Makanan dan minuman yang diproduksi masyarakat seperti industri
rumah tangga adalah pengrajin makanan dan minuman yang masih dalam taraI
pembinaan dan pengawasan perlu diterapkan persyaratan yang menyangkut
kebersihan dan sanitasi agar tidak tercemar kotoran., jasad renik, dan bahan yang
berbahaya. Makanan dan minuman yang diproduksi oleh masyarakat seperti
industri rumah tangga, pengarajin makanan dan minuman, belum dikenakan sanksi
pidana sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang Nomor Tahun 199.
Pemerintah berperan yaitu mengharuskan produsen untuk menarik dari peredaran,
makanan dan minuman yang dilarang serta mengawasi pelaksanaannya.
- &ndang-undang Nomor 7 Tahun Tentang Pangan
UU No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan memberikan banyak pengaturan
mengenai kemasan makanan dan minuman. Pada Pasal 1 Undang-undang tentang
Pangan ini sudah memberikan pengertian mengenai kemasan pangan yaitu bahan
yang digunakan untuk mewadahi dan atau membungkus pangan, baik yang
bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak. Pengertian lain dalam Pasal
ini yang berhubungan dengan kemasan makanan dan minuman yaitu dalam angka
15 mengenai label pangan. Yang dimaksud label pangan dalam Undang-undang ini
yaitu setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan,
kombinasi keduanya, dan atau bentuk lain yang disertakan pada pangan,
dimaksudkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan
pangan.
Memperhatikan pengertian kemasan pangan seperti di atas bahwa kemasan
pangan adalah salah satu bahan yang dapat dipakai atau dipergunakan sebagai
pembukus pangan hal ini minuman dan makanan. Adapun tujuan akhir pemakaian
kemasan tidak lain agar makanan atau minuman yang sehat untuk memenuhi syarat
makanan yang sehat untuk dikonsumsi, disamping itu juga dapat memenuhi unsur
keamanannya.
Undang-undang Pangan ini mengulas kembali mengenai kemasan makanan
dan minuman secara khusus yaitu terdapat dalam Pasal 16 ayat (1), () dan ().
8

Pasal 16 ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang yang memproduksi pangan untuk
diedarkan dilarang menggunakan bahan apapun sebagai kemasan pangan yang
dinyatakan terlarang dan atau yang dapat melepaskan cemaran yang merugikan
atau membahayakan kesehatan manusia.
Pasal 16 ayat (1) jelas mengamanatkan bagi siapa saja yang memproduksi
pangan untuk dipasarkan harus memperhatikan kemasan atas produk pangannya.
Kemasan atau pembungkus bahan pangan dan minuman jangan sampai
menimbulkan pencemaran yang dapat merugikan konsumen dan membahayakan
manusia.Begitu juga ketentuan dalam Pasal 16 ayat ( ) dengan tegas disebutkan
untuk pengemasan makanan dan minuman yang diedarkan harus melalui tata cara
yang dapat menghindarkan terjadinya kerusakan atau pencemaran.
Pasal 16 ayat () Undang-undang Pangan ini menyatakan pengemasan
pangan yang diedarkan dilakukan melalui tata cara yang dapat menghindarkan
terjadinya kerusakan dan pencemaran. Ayat ( ) Pemerintah menetapkan bahan
yang dilarang digunakan sebagai kemasan pangan dan tata cara pengemasan
pangan tertentu yang diperdagangkan.
Oleh karena itu dalam Pasal 16 ayat () pemerintah dengan tegas
memberikan larangan bagi siapa yang memproduksi makanan dan minuman yang
dapat membahayakan kesehatan konsumen dan dapat menimbulkan pencemaran
terhadap hasil produk. Bila diperhatikan ketentuan tentang kemasan pangan yang
ada dalam Pasal 16, disitu tersirat arti pentingnya keberadaan kemasan pangan.
Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang sehari-hari kita
konsumsi. Bagi sebagian besar orang, kemasan makanan hanya sekedar bungkus
makanan dan cenderung dianggap sebagai pelindung makanan. Tidak semua bahan
kemasan makanan itu baik untuk kesehatan, tetapi ada bahaya yang mengancam
kita dari kemasan makanan tersebut yang kadang kurang kita sadari.
Pemerintah melakukan pemeriksaan pada pangan yang akan diedarkan
dengan cara yaitu apabila bahan yang digunakan sebagai kemasan yang belum
diketahui dampaknya bagi kesehatan manusia wajib terlebih dahulu diperiksa
keamananya dan penggunaanya bagi pangan yang diedarkan dilakkan setelah
memperoleh persetujuan pemerintah. Hal tersebut termaktub dalam Pasal 17 UU
Pangan. Lain hal pemerintah juga melarang setiap orang untuk membuka kemasan
akhir pangan untuk dikemas kembali dan diperdagangkan, seperti yang tertera
dalam pasal 18 UU Pangan.
9

Masingmasing jenis bahan pengemas dapat memiliki keunggulan tertentu,
cocok untuk jenis makanan dan minuman tertentu pula. Kemasan makanan dan
minuman keberadaanya harus memenuhi syarat mulai dari aspek higienis,
kesehatan, keamanan bagi konsumen. Oleh karena itu jenis makanan dan minuman
yang akan dikemas dalam plastik, sebelumnya dilakukan pengujian di laboratorium
agar bahan aman untuk digunakan.
Penggunaan kemasan pangan yang diproduksi dari bahan plastik daur ulang
tanpa pemeriksaan pendahuluan di laboratorium dilarang digunakan, karena
dikhwatirkan terjadi migrasi zat kimia beracun yang menempel pada produk
pangan melebihi ambang batas (http://www.pikiran-rakyat.com, diakses tanggal 14
Juli 9)
c &ndang-undang Nomor 8 Tahun Tentang Perlindungan Konsumen
Undang-undang tentang perlindungan konsumen ini dirumuskan dengan
mengacu pada IilosoIis pembangunan nasional, dimana didalam pembangunan
nasional termasuk didalamnya pembangunan hukum yang memberikan
perlindungan terhadap konsumen adalah dalam rangka membangun manusia
Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada IalsaIah negara republik Indonesia
yaitu Pancasila dan undang-undang Dasar 1945.
Asas yang terkandung dalam undang-undang tentang perlindungan
konsumen adalah perlindungan konsumen berasaskan manIaat, keadilan,
keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen serta kepastian hukum.
Disamping itu perlindungan konsumen bertujuan : meningkatkan kualitas barang
dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa,
kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen.
UU Perlindungan Konsumen mengakomodir pula mengenai kemasan
makanan dan minuman yang terangkum dalam Pasal 4 bagian c, Pasal 5 bagian a,
Pasal 7 bagian d, dan Pasal 8 ayat (1) bagian a. Pasal 4 bagian c menyebutkan
bahwa hak dari konsumen yaitu atas inIormasi yang benar, jelas dan jujur
mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. Bagian lain dalam UU
Perlindungan Konsumen yang mengakomodir mengenai kemasan makanan dan
minuman yaitu Pasal 5 bagian a yang menyebutkan bahwa konsumen juga
memiliki kewajiban untuk membaca atau mengikuti petunjuk inIormasi dan
prosedur pemakaian atau pemanIaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan
keselamatan. Dalam hal ini maka konsumen yang tidak mengikuti petunjuk
1

inIormasi tidak dapat menyalahkan produsen manakala inIormasi yang diberikan
produsen telah sedemikian jelas. Selanjutnya dalam Pasal 7 bagian d UU
Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa pelaku usaha wajib menjamin mutu
barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan
ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku. Lebih lanjut lagi dalam
Pasal 8 ayat (1) bagian a menyatakan bahwa pelaku usaha dilarang memproduksi
dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak
sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
d Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 200 Tentang Keamanan, Mutu, dan
Gizi Pangan
Bagian Kelima PP No. 8 tahun 4 mengenai kemasan pangan mengatur
bahwa setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang
menggunakan bahan apapun sebagai kemasan pangan dan/atau yang dapat
melepaskan cemaran yang merugikan atau membahayakan kesehatan manusia.
Ketentuan ini diatur lebih lanjut dalam Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19 dan Pasal .
Mengacu pada ketentuan PP No. 8 Tahun 4 bahwa sebenarnya kemasan
makanan dan minuman yang beredar di masyarakat harus menggunakan bahan
yang tidak membahayakan kesehatan masyarakat, oleh karena itu maka suatu
kemasan yang baik harus memenuhi syarat yaitu :
a. Kemasan tidak toksik dan beresidu terhadap makanan dan minuman.
b. Kemasan harus mampu menjaga bentuk, rasa, kehigienisan dan nilai gizi
c. Senyawa bahan toksik kemasan tidak boleh bermigrasi kedalam bahan pangan
terkemas.
d. Bentuk, ukuran dan jenis kemasan memberikan eIektiIitas.
e. Bahan kemasan tidak mencemari lingkungan hidup.
Secara ringkas syarat kemasan harus mampu melindungi pangan secara Iisik,
kimia, dan biologis. Pada prinsipnya ada tiga alasan untuk melakukan pengemasan
makanan dan minuman yaitu : (1) kemasan memenuhi syarat keamanan dan
kemanIaatan, kemasan melindungi produk dalam perjalannya dari produsen ke
konsumen, () kemasan dapat melaksanakan program pemasaran, melalui kemasan
identiIikasi produkmenjadi lebih eIektiI dan merupakan satu-satunya cara
perusahaan membedakan produknya, () kemasan merupakan suatu cara untuk
meningkatkan laba perusahaan.
11



e Peraturan Menteri Kesehatan
Beberapa Keputusan Menteri Kesehatan yang memayungi mengenai
kemasan makanan dan minuman yaitu salah satunya adalah Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 94/menkes/sk/vii/ Tentang Pedoman Persyaratan Hygiene
Sanitasi Makanan Jajanan, Pasal 9 menyatakan :
(1) Makanan jajanan yang dijajakan harus dalam keadaan terbungkus dan atau
tertutup.
() Pembungkus yang digunakan dan atau tutup makanan jajanan harus dalam
keadaan bersih dan tidak mencemari makanan.
() Pembungkus sebagaimana dimaksud pada ayat () dilarang ditiup.
Pasal 1 Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 94/menkes/sk/vii/
Tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan, menyatakan:
(1) Makanan jajanan yang diangkut, harus dalam keadaan tertutup atau terbungkus
dan dalam wadah yang bersih.
() Makanan jajanan yang diangkut harus dalam wadah yang terpisah dengan
bahan mentah sehinggga terlindung dari pencemaran.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 9 / Menkes / Per / XII / 76
tentang Produksi dan peredaran Pangan Pasal I butir 1 wadah adalah barang yang
dipakai untuk mewadahi atau membungkus makanan langsung dengan isi.
Sedangkan dalam Pasal I butir yang dimaksud dengan pembungkus adalah
barang yang digunakan untuk membungkus makanan yang tidak berhubungan
langsung dengan isi. Ketentuan mengenai wadah itu sendiri terakomodir dalam
Pasal 1 yaitu : wadah makanan harus dapat melindungi dan mempertahankan
mutu isinya, wadah juga harus dibuat dari bahan yang tidak melepaskan zat yang
dapat mengganggu kesehatan.
Sebuah kemasan mempunyai Iungsi yang paling mendasar secara Iisik
sebagai sebuah wadah dan pelindung dari produk yang ada di dalamnya. Sebagai
sebuah wadah dan pelindung, maka secara Iisik, sebuah kemasan harus andal
terhadap benturan, tekanan, temperatur, air, debu, dan lain-lain. Tidak hanya andal
bagi produk di dalamnya, sebuah kemasan juga harus direncanakan dengan
mempertimbangkan penempatan dan penyimpanannya terutama dalam jumlah
banyak.
1

1 Keputusan BPOM Tentang Bahan Kemasan Pangan
Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan Nomor :
1415/B/Sk/Iv/91 Tentang Tanda Khusus Pewarna Makanan, memberikan
pengertian mengenai kemasan yaitu barang yang dipakai untuk mewadahi atau
membungkus makanan yang berhubungan langsung dengan isi, termasuk
penutupnya.
Pasal 1 Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik
Indonesia Nomor : Hk./5.1.569 Tentang Kriteria Dan Tata Laksana Penilaian
Produk Pangan, memberikan pengertian mengenai label pangan yaitu setiap
keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi
keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam,
ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan. Keputusan ini tidak
memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kemasan makanan dan minuman.
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia
Nomor : Hk .5.55.6497 Tentang Bahan Kemasan Pangan, memberikan
pengertian untuk istilah-istilah dibawah ini :
1. Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan/atau
membungkus pangan baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak.
. Kemasan bahan alami adalah kemasan yang diperoleh dari tumbuhan atau hewan
tanpa mengalami proses dan tidak mengalami perubahan siIat atau karakteristik
dasarnya.
. Plastik adalah senyawa makromolekul organik yang diperoleh dengan cara
polimerisasi, polikondensasi, poliadisi, atau proses serupa lainnya dari monomer atau
oligomer atau dengan perubahan kimiawi makromolekul alami.
4. Keramik adalah barang yang dibuat dari campuran bahan anorganik yang umumnya
terbuat dari tanah liat atau mengandung silikat kadar tinggi dan ke dalamnya dapat
ditambahkan bahan organik melalui proses pembakaran.
5. Gelas adalah campuran pasir dengan soda abu (serbuk mineral/pasir putih dengan titik
leleh rendah) batu kapur dan pecahan atau limbah atau gelas yang didaur ulang.
6. Karet adalah polimer alami yang jika ditarik atau ditekan dan dilepas akan kembali ke
bentuk semula.
7. Elastomer adalah karet sintetis yang jika ditarik atau ditekan dan dilepas akan kembali
ke bentuk semula.
1

8. Kertas adalah bahan dalam bentuk lembaran koheren atau jaringan yang dibuat
dengan diposisi serat tumbuhan, mineral, hewan atau sintetis, atau campurannya,
dengan atau tanpa penambahan bahan lain.
9. Karton adalah istilah umum untuk jenis kertas tertentu yang mempunyai kekakuan
relatiItinggi.
1. Paduan logam adalah bahan logam, homogen pada skala makroskopik, terdiri dari dua
atau lebih unsur yang bergabung sedemikian rupa sehingga bahan tersebut tidak
mudah dipisahkan secara mekanis.
11. SeloIan adalah lembaran tipis yang diperoleh dari selulosa murni, berasal dari kayu
atau katun yang tidak dapat didaur ulang.
1. Bahan tambahan adalah bahan yang sengaja ditambahkan ke dalam bahan dasar
dengan maksud untuk mempengaruhi siIat, warna dan/atau bentuk kemasan.
1. Plastik daur ulang adalah plastik yang diproses ulang berasal dari limbah satu jenis
atau lebih plastik, berpotensi tinggi untuk melepaskan migran ke dalam pangan
sehingga berisiko terhadap kesehatan.
Pada dasarnya Peraturan ini mengatur mengenai bahan yang dilarang digunakan dan
bahan yang diizinkan sebagai kemasan yang bersentuhan langsung dengan pangan.
Beberapa jenis bahan kemasan pangan, yaitu plastik, gelas, elastomer, kertas, karton,
paduan logam, dan seloIan. Bahan kemasan pangan terdiri atas bahn yang dilarang dan
diizinkan untuk digunakan.
Bahan yang dilarang untuk dasar plastik dalam bentuk pewarna (alkanet, antimon
merah, rodamin B, kristal ungu, dan lainnya), penstamil, (garam timbal, kadmium, dan
lainnya, pemplastik, pengisi (contoh : asbes), adesiI (contoh : eter). Untuk tinta yang
tercetak langsung pada kemasan, pewarna yang dilarang diantaranya biru victoria, rodamin
B, pelarut, dan penstabil.
Ketentuan mengenai zat pewarna yang dinyatakan bahan berbahaya tercantum
dalam Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen
Kesehatan RI No :86/c/sk/ii/9 Tentang Perubahan lampiran peraturan menteri
kesehatan Nomor : 9/menkes/per/v/85 Tentang Zat warna tertentu yang
dinyatakan sebagai bahan berbahaya.
2 Implementasi Dari Regulasi Tentang Kemasan Makanan dan Minuman di
Indonesia
ungsi hukum telah banyak diketahui oleh umum, ini adalah Iungsi hukum
sebagai mekanisme pengendalian sosial. Mekanisme pengendalian soaial merupakan
suatu proses yang telah direncanakan lebih dahulu dan bertujuan untuk menganjurkan,
mengajak, menyuruh atau bahkan memaksa anggota-anggota masyarakat agar supaya
14

mematuhi norma-norma hukum atau tata tertib hukum yang sedang berlaku.(
Hendrojo, 5 : 7).
Berbicara tentang hukum, maka ia bukanlah suatu hal yang statis, hukum dari
waktu ke waktu senantiasa mengalami perkembangan. Hal ini merupakan suatu
konsekuensi logis dikarenakan pertumbuhan perkembangan hukum itu sendiri
dipengaruhi oleh beberapa Iaktor. Hukum yang ada sekarang ini tidak muncul secara
tiba-tiba begitu saja, melainkan merupakan hasil dari suatu perkembangan sendiri.
Maka yang dimaksudkan adalah bahwa terdapat hubungan yang erat dan timbal balik
antara hukum dengan masyarakat. Hal tersebut memang seharusnya terjadi demikian
karena bagimanapun juga keberadaan hukum terutama ada di masyarakat.
Persoalan-persoalan tentang hukum dalam masyarakat pada saat ini tidak lagi
merupakan persoalan tentang legalitas Iormal, tentang penaIsiran serta penerapan
pasal-pasal peraturan perundang-undangan secara semestinya, melainkan bergerak ke
arah penggunaan hukum sebagai sarana untuk membentuk kehidupan yang baru
tersebut atau sesuai dengan kondisi saat ini.
Selain aspek normatiI, hukum juga punya sisi yaitu dalam realitanya. Yang
dimaksud dengan hukum dalam realitanya adalah bukan kenyataan dalam bentuk
pasal-pasal di dalam berbagai peraturan-perundang-undangan, melainkan
sebagaimana hukum itu dijalankan sehari-hari. Bila demikian, seseorang perlu
mencoba untuk mengamati dan mempelajari hukum dalam realitanya. Dengan
demikian orang tersebut harus keluar dari batas peraturan hukum dan mengamati
praktik hukum atau hukum sebagaimana dijalankan oleh orang-orang dalam
masyarakat.
Regulasi yang telah melandasi kemasan makan dan minuman yang telah
dijelaskan di atas merupakan dasar hukum yang memayungi perihal kemasan
makanan dan minuman. Regulasi yang ada tersebut dalam masyarakat yang dikenal
sebagai suatu bentuk hukum diimplementasikan sedemikian rupa agar menjadi
patokan dalam bertindak dalam masyarakat.
Secara praktik dalam masyarakat, kemasan makanan dan minuman digunakan
oleh masyarakat baik produsen maupun konsumen dengan berbagai jenis dan bentuk
kemasan dengan tujuan untuk memudahkan pendistribusian dan mengawetkan
makanan dan minuman dalam kemasan. Kemasan yang beredar di masyarakat
bermacammacam bahan dari yang paling sederhana mulai dari kertas sampai paling
15

modern yaitu polivinil. Dewasa ini secara garis besar bahan kemasan terdapat lima
macam yaitu : kertas, gelas, plastik,logam dan kaleng.
Berdasar pada pengamatan secara langsung terhadap 5 responden dimana dalam
kehidupan sehari-hari terbukti, baik di depan maupun di meja makan terdapat
minuman air putih dalam botol bekas minuman kemasan dari merek Aqua maupun
merek-merek lain yang sudah dipakai beberapa kali, bahkan sudah ada yang warnanya
mulai kusam. Responden menyatakan bahwa botol bekas kemasan air mineral lebih
praktis, tidak mudah pecah. Mereka tidak menyadari dampak dari botol plastik yang
telah dipakai berkali-kali akan mempengaruhi kesehatan bagi orang yang meminum
air dalam botol tersebut, karena Botol plastik yang dipakai berkali-kali bisa
mencemari minuman. Begitu juga pengamatan terhadap konsumen yang membeli
bakmi dengan dibungkus dalam kemasan streoIorm, mereka mengatakan dengan
dibungkus dalam bentuk kotak, begitu praktis, makanan bisa tahan lama panasnya.
Namun mereka tidak menyadari dampak dari kemasan streoIorm bisa menyebabkan
kanker, gagal ginjal dan mempengaruhi kesehatan lainnya.
Sayang melihat kemasan air meineral yang masih bagus, setelah isinya habis,
Lita (9) mengisi ulang botol tersebut untuk bekal minum kedua anaknya. Biasanya
botol plastik tersebut dipergunakan sampai kemasan botolnya terlihat baret dan
penyok-penyok. Setelah itu, Lita akan membeli air mineral baru untuk kemudian disi
ulang.( http://www.suarakarya-online.com/news.html?id5955, diakses tanggal 1
Juli 9).
Hasil yang dapat disimpulkan bahwa masyarakat belum memahami secara utuh
regulasi yang telah dikeluarkan pemerintah mengenai kemasan makanan dan
minuman, karena masih saja ada masyarakat yang melakukan penggunaan kemasan
makanan dan minuman secara tidak baik. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya
pengetahuan masyarakat akan arti pentingnya penggunaan kemasan makanan dan
minuman atau kurangnya sosialisasi pemerintah kepada masyarakat mengenai
regulasi yang ada atau masyarakat sendiri yang kurang peduli akan pentingnya
penggunaan kemasan makanan dan minuman yang baik.
Penerapan Sanksi Hukum Terhadap Pelanggaran Kemasan Makanan dan
Minuman
Kemasan adalah suatu wadah yang digunakan untuk memberikan perlindungan
bagi produk yang ada di dalamnya. Tetpi tidak semua bahan kemasan itu baik untuk
kesehatan, ada bahaya yang mengancam kita dari kemasan makanan dan minuman
16

tanpa kita sadari. Kemasan makanan dan minuman yang tidak baik dapat berdampak
bagi kesehatan kita.
Dibawah ini merupakan beberapa macam/jenis kemasan makanan dan minuman
yang mengandung zat berbahaya dan memiliki dampak bagi kesehatan:
(http://www.organisasi.org,Waspada emasan Pembungkus Makanan dan Minuman
Beracun Mengandung Zat Berbahaya Bagi esehatan, diakses tanggal 9 juli 9).
a. Pembungkus Kertas Non Makanan
Kertas pembungkus yang kontak langsung dengan makanan tidak didesain khusus
untuk makanan sehingga mengandung zat berbahaya seperti timbal, karbon, dan
lain sebagainya. Timbal dapat mudah berpindah ke makanan jika terkena minyak,
dan panas yang mampu menyebabkan pucat dan kelumpuhan.
b. Pembungkus StyroIoam
Bungkus yang umumnya berwarna putih dan kaku ini sering dijadikan kotak
bungkus luar makanan. Kegunaan yang mudah, praktis, enak dipandang, murah,
anti bocor, tahan suhu panas dan dingin, ternyata memiliki dampak dan eIek bagi
lingkungan serta tubuh manusia. Bahayanya yaitu jika makanan tersebut kontak
langsung dengan lapisan streoIoam maka lapisan streoIoam tersebut akan
mencairkan banyak residu streoIoam yang bisa menyebabkan endocrine distrupter
akibat zat karsinogen yang beracun. Sealin itu bahan streoIoam bersiIat tahan lama
yang tidak akan terurai secara alamiah dalam waktu puluhan tahun atau mungkin
ratusan tahun. Jika dibakar, maka racun yang menguap ke udara jika terhirup akan
menetap di dalam tubuh serta dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.
c. Plastik Air Minum Dalam Kemasan
Botol air minum dalam kemasan dengan bahan Polyethylene Terephthalate atau
PET mengandung zat karsinogen yang dapat membahayakan kesehatan tubuh
manusia apabila terminum bersama minuman. Kemasan PET hanya aman
digunakan beberapa kali saja, dengan suhu normal, tanpa dicuci-cuci, tidak terkena
sinar matahari.
d. Hasil Daur Ulang Plastik Bekas
Barang-barang yang terbuat dari plastik bekas dapat menimbulkan berbagai
penyakit yang merugikan kesehatan kita.
e. Bahan Melamin
Berdasarkan uji klinis terdapat sebagian merek produk melamin di Indonesia
mengandung racun Iormaldehid atau Iormalin.Racun tersebut adalah merupakan
17

hasil polimerisasi yang tidak sempurna sehingga menghasilkan residu Iormaldehid
yang menempel pada barang-barang tersebut. Apabila residu itu ikut nimbrung
masalah kesehatan seperti kanker dan penyakit lain yang sangat berbahaya.
Dampak yang lain bila kemasan dari bahan Kertas atau koran bekas dan
kususnya tinta akan mengandung logam berat dan struktur kertas adalah bubur kertas
( selulosa ) akan terjadi migrasi kimia berbahaya yang menyebabkan keracunan atau
akumulasi bahan toksik lama kelamaan terjadi mutasi genetik dan akan
mengakibatkan kanker. Kemasan dari logam, logam akan bereaksi dengan asam dan
logam akan larut, dampaknya akan menurunkan kualitas bahan pangan atau minuman
yang bersiIat asam. Kemasan dari kaleng dan tertutup, lama kelamaan akan terjadi
tempat berkembangbiaknya kuman yang bersiIat anaerob yaitu Clostridium perIringen
pd akhirnya terjadi keracunan.
Ada beberapa jenis bahan toksik yang dapat mempengaruhi terhadap kesehatan
a. Polivinil Klorida mutasi genetic ( kanker ), disIungsi hati, bronchitis, tukak
lambung.
b. Polietilen Aldehid aliIatik menyebabkan kanker
c. talat gg pertumbuhan dan reproduksi
d. omaldehid ( ormalin ) Iritasi bronchial, muntah, depresi SSP
e. Bahan logan : Timbal ( Pb ), Kromium ( Cr ), Nekel, Kadmium ( Cd ), merkuri (
Hg ) kerusakan SSP, Gagal ginjal dan Karsinogen.
Kemasan makanan dan minuman yang tidak baik tersebut banyak menyebabkan
bahaya bagi kesehatan kita. Oleh karena itu setiap regulasi yang dikelurkan oleh
pemerintah selalu menetapkan sanksi-sanksi bagi para pelaku yang dapat
menyebabkan orang lain dirugikan.
Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa hukum merupakan suatu institusi yang
dipakai oleh masyarakat, maka itu berarti bahwa masyarakat juga menentukan sendiri
bagaimana hukum itu mereka terima, Iahami, dan jalankan (Satjipto, 4 : 18).
Beberapa sanksi yang diterapkan terhadap penggunaan kemasan makanan dan
minuman yang tidak baik dan merugikan kesehatan orang lain yaitu :
a K&HP (Pasal 20 dan Pasal 8
Kitab Undang-undang Hukum Pidana secara tegas menyatakan sanksi dalam Pasal
4 dan Pasal 86. Sanksi yang diterapkan dalam KUHP merupakan ancaman
pidana. Pasal 4 KUHP menyebutkan bahwa siapapun yang menjual,
menawarkan, menyerahkan atau membagi-bagikan barang, yang diketahui bahwa
18

membahayakan nyawa atau kesehatan orang, padahal siIat berbahayanya itu tidak
diberitahukan, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Tetapi
jika perbuatan tersebut meyebabkan matinya orang, yang bersalah dikenakan
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling
lama dua puluh tahun.
Sedangkan dalam Pasal 86 KUHP menyebutkan bahwa : siapapun yang menjual,
menawarkan, atau menyerahkan barang, makanan, minuman atau obat-obatan yang
diketahui bahwa itu palsu, dan menyembunyikan hal itu, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun. Sedangkan jika bahan makanan, minuman atau
obat-obatan itu palsu, jika nilainya atau Iaedahnya menjadi kurang karena sudah
dicampur dengan sesuatu bahan lain.
- &ndang-undang Nomor 2 Tahun 2 Tentang Kesehatan
UU Kesehatan tak luput memberikan sanksi terkait dalam masalah kemasan
makanan dan minuman yaitu Pasal 8 ayat (4) dimana siapapun dengan sengaja
mengedarkan makanan dan atau minuman yang tidak memenuhi standar dan atau
persyaratan dan atau membahayakan kesehatan dipidana dengan pidana penjara
paling lama 15 (lima belas) tahun atau pidana denda paling banyak Rp
.., (tiga ratus juta rupiah). Pasal 84 ayat (1) siapapun yang
mengedarkan makanan dan atau minuman yang dikemas tanpa mencantumkan
tanda atau lebel dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan
atau pidana denda paling banyal Rp 15.., (lima belas juta rupiah).
c &ndang-undang Nomor 7 Tahun Tentang Pangan
Para produsen makanan dan minuman bila ternyata telah melakukan pelanggaran
mengenai bahan kemasan makanan dan minuman menurut Undang Undang No 7
tahun 1996 tentang pangan dapat dikenakan sanksi. Siapapun dengan sengaja
menggunakan bahan yang dilarang digunakan sebagai kemasan pangan dan atau
bahan apapun yang dapat melepaskan cemaran yang merugikan atau
membahayakan kesehatan manusia Dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
( lima ) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 6.. ( enam ratus juta
rupiah ). Sanksi lain yaitu siapapun karena kelalaiannya menggunakan bahan yang
dilarang digunakan sebagai kemasan pangan dan atau bahan apapun yang dapat
melepaskan cemaran yang merugikan atau membahayakan kesehatan dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 tahun dan atau denda paling banyak seratus
dua puluh juta rupiah. Siapapun yang menggunakan suatu bahan sebagai kemasan
19

pangan untuk diedarkan secara bertentangan atau membuka kemasan akhir pangan
untuk dikemas kembali dan memperdagangkannya dipidana dengan pidana penjara
paling lama tahaun dan atau denda paling banyak tiga ratus enam puluh juta
rupiah. Siapapun yang tidak melaksanakan tata cara pengemasan pangan meskipun
telah diperingatkan secara tertulis oleh pemerintah, dipidana dengan pidana penjara
paling lama empat tahun dan atau denda paling banyak empat ratus delapan puluh
juta rupiah.
Desain dan Metode Penelitian
Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis
empiris. Penggunaan metode ini terkait dengan spesiIikasi yang hendak di ungkap
oleh peneliti. Di dalam mencari data penelitian yuridis empiris ini bertitik tolak
dari data primer. Di mana data primer ini diperoleh melalui wawancara maupun
pengamatan. Selain data primer penelitian yuridis empiris juga didukung oleh
data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan guna
mendapatkan landasan teori berupa pendapat atau tulisan-tulisan para ahli dan
data yang diperoleh melalui naskah resmi yang ada.
. SpesiIikasi Penelitian
SpesiIikasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman
masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan pemakaian kemasan produk
makanan.
. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di kota Semarang dengan dasar pertimbangan bahwa Kota
Semarang adalah ibukota Jawa Tengah yang merupakan kota perdagangan Jawa
Tengah.
4. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling
yaitu pengambilan sample dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan kriteria
yang telah ditentukan dan selalu mendasarkan diri pada inIormasi dan
pengetahuan yang telah diperoleh atau dicek dengan ciri-ciri khusus suatu
populasi (Ronny Hanitijo, 199 : 116). Sample yang akan digunakan adalah
beberapa produsen dan masyarakat pengguna kemasan makanan minuman.


5. Metode Pengambilan Data
Dalam pengambilan data penulis mengambil teknik-teknik sebagai berikut :
a. Interview / wawancara
Wawancara yang digunakan dalan penelitian ini adalah wawancara
berstruktur, yaitu dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tertulis,
terlebih dulu membuat pedoman wawancara sebagai pedoman akan tetapi
unsur kebebasan masih dipertahankan, sehingga kewajaran masih dicapai
secara maksimal untuk memperoleh data secara mendalam. Dengan
dimungkinkan adanya variasi-variasi pertanyaan yang disesuaikan dengan
situasi dan kondisi ketika wawancara dilakukan. Tujuannya adalah untuk
memperoleh keterangan yang rinci dan mendalam mengenal pandangan
responden dan memperoleh inIormasi mengenai suatu peristiwa, situasi dan
keadaan tertentu. Wawancara dilakukan kepada produsen dan pengguna
kemasan makanan.
b. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan ini dipergunakan untuk mencari konsepsi-konsepsi, teori-
teori, pendapat-pendapat ataupun penemuan-penemuan yang berhubungan erat
dengan permasalahan yang diteliti.
6. Validitas dan Teknik Analisis Data
Untuk menjamin validitas data yang diperoleh dalam penelitian ini, maka data
yang terkumpul akan dicek kebenarannya melalui metode trianggulasi (
Nasution, 1998 : 115 ; Moleong, 199 : 178 ; Miles dan Huberman, 199 : 44).
Metode trianggulasi ini digunakan dengan tujuan untuk membandingkan data
yang sama dari sumber yang berbeda atau dalam waktu yang berbeda dari sumber
yang sama. Dengan cara demikian apabila diperoleh dua atau lebih sumber
menyatakan hal yang sama, maka kebenaran data tersebut dapat
dipertanggungjawabkan.
Data penelitian yang telah terkumpul diolah dan dianalisis dengan menggunakan
teknik analisis kualitatiI yang langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Reduksi data
1

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan dan transIormasi data kasar yang ada dalam
catatan yang diperoleh dilapangan
. Penyajian (display) data
Penyajian data berupa sekumpulan inIormasi yang telah tersusun yang
memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan
. Penarikan kesimpulan dan veriIikasi
Kesimpulan merupakan langkah akhir dalam analisis data. Penarikan
kesimpulan didasarkan pada reduksi data. ( Nasution, 1988:19; Miles dan
Huberman, 199 :16 )
Kegiatan analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara interaktiI bersama-
sama dalam aktivitas pengumpulan data. Proses analisis ini mengikuti siklus,
peneliti dituntut untuk bergerak bolak-balik selama pengumpulan data diantara
kegiatan reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan dan veriIikasi. Model
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :








Sumber : Matthew B. Miles & A. Michael Huberman, 1988)

uaran Penelitian
Luaran yang dapat dhasilkan dalam penelitian ini adalah :
a. Memiliki data base tentang tingkat pemahaman masyarakat terhadap bahaya
penyalahgunaan penggunaan kemasan makanan serta penegakan hukumnya.
b. Hasil penelitian ini akan dimuat jurnal nasional yang terakreditasi.
Pengumpulan
Data
data data
Penyajian
Data
Reduksi
Data
Kesimpulan-
Kesimpulan:
Penarikan/VeriIikasi


c. Dihasilkannya buku ajar yang membahas tentang bahaya kemasan makanan dan
penegakan hukum penyalahgunaan pemakaian kemasan makanan.

7 1adwal Penelitian

NO
1ENIS KEGITN B&N
2 7 8
1 Persiapan
1. Penyusunan dan Perbaikan
Proposal
. Penyusunan dan Perbaikan
Instrumen
. Perizinan













Pelaksanaan
a. Pengumpulan Data
b. Pengolahan dan Analisis
Data







Penyusunan Laporan
a. Penyusunan dan Perbaikan
Laporan Sementara
b. Seminar
c. Penyusunan Laporan Akhir











8 Organisasi Pelitian
1. Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap dan Gelar : Dewi Sulistianingsih,S.H.M.H.
b. Golongan/pangkat/NIP : IIIb/Penata Muda Tk I/186
c. Jabatan ungsional : Lektor
d. Jabatan Struktural : -
e. akultas/Prog. Studi : akultas Hukum / Ilmu Hukum
I. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang


g. Bidang Keahlian : Hukum Perdata
h. Waktu untuk penelitian : 8 jam perminggu
. Anggota Peneliti 1
a. Nama Lengkap dan Gelar : Drs. Sugito,S.H.M.H.
b. Golongan/pangkat/NIP : IV b/Pembina Utama Muda/1595
c. Jabatan ungsional : Lektor Kepala
d. Jabatan Struktural : Ketua Bagian Perdata
e. akultas/Prog. Studi : akultas Hukum / Ilmu Hukum
I. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang
g. Bidang Keahlian : Hukum Perdata
h. Waktu untuk penelitian : 6 jam perminggu
. Anggota Peneliti II
a. Nama Lengkap dan Gelar : Pujiono,S.H.M.H.
b. Golongan/pangkat/NIP : IIIc/Penata/174
c. Jabatan ungsional : Lektor
d. Jabatan Struktural : -
e. akultas/Prog. Studi : akultas Hukum / Ilmu Hukum
I. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang
g. Bidang Keahlian : Hukum Dagang
h. Waktu untuk penelitian : 6 jam perminggu
. Tenaga Pembantu (mahasiswa) :
a. Nama Lengkap : RoIin Mawan Purba
b.NIM : 454717
c. Semester : 4 (empat)
d. akultas/Prog. Studi : akultas Hukum / Ilmu Hukum
e. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang
I. Waktu untuk penelitian : 6 jam perminggu

Rencana Biaya
No. PeIaksana Orang
Satuan
(Rp.)
VoI. JumIah (Rp)
I Honorarium:
1
Ketua Pelaksana 1 155.000 12 1.860.000
2
Anggota 2 120.000 8 1.920.000
3
Tenaga Pembantu 1 70.000 6 420.000
4

JumIah I 4.200.000

II Bahan

1
Pulpen 30 2.000 1 60.000
2
Kertas A4 10 35.000 4 1.400.000
3
Block Note 30 10.000 1 300.000
4
CD 30 2.500 1 75.000
5
Tinta Printer Black 4 19.500 4 312.000
6
Tinta Printer Color 2 22.000 2 88.000



JumIah II 2.235.000
III
PeraIatan :
1
Alat perekam (Walkman) 1 350.000 1 350.000



JumIah III 350.000

IV Akomodasi

1
Konsumsi 4 15.000 24 1.440.000
2
Perjalanan 4 30.000 24 2.880.000

JumIah IV 4.320.000

V Penggandaan Laporan dan Seminar

1
Penggandaan Laporan 1 816.000 1 816.000
2
Seminar 1 390.000 1 390.000

JumIah V 1.206.000


VI Lain-Iain

1
Dokumentasi 1 174.000 1 174.000
2
Diskusi Pembuatan nstrumen 1 680.000 1 680.000
3
Penggandaan nstrumen 1 365.000 1 365.000
4 Diskusi Pembuatan Laporan Sementara 1 470.000 1 470.000
JumIah VI 1.689.000
JumIah KeseIuruhan I, II, III, IV, V, VI 14.000.000

0 ampiran-ampiran
1. DaItar Pustaka
. DaItar Riwayat Hidup Ketua dan Anggota Penelitian.



5



DTR P&STK


Buku

Hendrojono, 5, Sosiologi Hukum (Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum),
Surabaya : PT. Dieta Persada

Satjipto Rahardjo, 4, $osiolgi Hukum . Perkembangan Metode dan Pilihan Masalah`
Surakarta : Penerbit Muhammadiyah University Press

Sudikno Mertokusumo, , Mengenal Hukum ($uatu Pengantar), Yogyakarta : Penerbit
Liberty

Peraturan Perundang-undangan

Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 94/menkes/sk/vii/ Tentang Pedoman Persyaratan
Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 9 / Menkes / Per / XII / 76 tentang Produksi dan
peredaran Pangan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor : HK .5.55.6497 Tentang Bahan Kemasan Pangan

Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan Nomor : 1415/B/Sk/Iv/91
Tentang Tanda Khusus Pewarna Makanan

Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor :
Hk./5.1.569 Tentang Kriteria Dan Tata Laksana Penilaian Produk Pangan

Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI No
:86/c/sk/ii/9 Tentang Perubahan lampiran peraturan menteri kesehatan Nomor :
9/menkes/per/v/85 Tentang Zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan
berbahaya.

We-site

http://www.indonesianegeriku.com/Artikel/supaya-tetap-sehat.html, diakses tanggal 14 Juli
9

http://www.organisasi.org,Waspada emasan Pembungkus Makanan dan Minuman Beracun
Mengandung Zat Berbahaya Bagi esehatan, diakses tanggal 9 juli 9

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id5955, diakses tanggal 1 Juli 9

http://www.pikiran-rakyat.com, diakses tanggal 14 Juli 9

6



PERSONI PENEITI

Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : Dewi Sulistianingsih, S.H.M.H.
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. NIP : 19811511
d. Disiplin Ilmu : Ilmu Hukum
e. Pangkat / Golongan : Penata Muda / III a
I. Jabatan ungsional : Asisten Ahli
g. akultas : Hukum
h. Penelitian yang pernah dilakukan :
O Bentuk Perjanjian Pemondokan di Kelurahan Sampangan Kecamatan
Gajahmungkur Kota Semarang. (Tahun 6).
O Bentuk Perjanjian Pemondokan di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati
Kota Semarang (Tahun 6).
O Persepsi Masyarakat Desa Terhadap Tindak Pidana Terorisme (Studi Pada
Masyarakat Desa Jatirogo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak). (Tahun
6).
O Demonstrasi AlternatiI Respons Pilihan Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan
(Agen oI Chance). Tahun 7.
O Kawin Kontrak : Latar Belakang, Keabsahan Hukum dan Dampaknya (Studi
Kasus di kabupaten Jepara). Tahun 7.
O Latar Belakang Timbulnya Pembajakan Hak Cipta dibidang Musik dalam
ormat Kaset dan Upaya Penanggulangannya di Kota Semarang. Tahun 7.
O Implementasi UU No. 19 Tahun terhadap Perlindungan Batik Semarang
Sebagai Warisan Budaya. Tahun 8.
O Latar Belakang Penggunaan SoItware Komputer Bajakan Oleh Pelaku Usaha
Rental Komputer Dan Warnet Di Kota Semarang Serta Upaya
Penanggulangannya. Tahun 8.
Semarang, 11 Nopember 9.

7

Dewi Sulistianingsih, S.H.M.H.

2 nggota Peneliti I
a. Nama Lengkap : Drs. Sugito,S.H.M.H.
b. Jenis Kelamin : Laki-laki
c. NIP : 194785197611
d. Disiplin Ilmu : Hukum Perdata-Dagang
e. Pangkat / Golongan : Pembina Tk. I / IV b
I. Jabatan ungsional : Lektor Kepala
g. akultas : Hukum
h. Jurusan : Ilmu Hukum
i. Penelitian yang pernah dilakukan :
- Bentuk Perjanjian Pemondokan di Kelurahan Sampangan Kecamatan
Gajahmungkur Kota Semarang. (Tahun 6).
- Implementasi UU No. 19 Tahun terhadap Perlindungan Batik Semarang
Sebagai Warisan Budaya. Tahun 8.
- Latar Belakang Penggunaan SoItware Komputer Bajakan Oleh Pelaku Usaha
Rental Komputer Dan Warnet Di Kota Semarang Serta Upaya
Penanggulangannya. 8.



Semarang, 11 Nopember 9.




Drs. Sugito, S.H.M.H.







.
8



nggota Peneliti II
a. Nama Lengkap : Pujiono, S.H.,M.H.
b. Jenis Kelamin : Laki-laki
c. NIP : 19684519981
d. Disiplin Ilmu : Ilmu Hukum
e. Pangkat / Golongan : Penata / III c
I. Jabatan ungsional : Lektor
g. akultas : Hukum
h. Penelitian yang pernah dilakukan :
O Bentuk Perjanjian Pemondokan di Kelurahan Sampangan Kecamatan
Gajahmungkur Kota Semarang. (Tahun 6).
O Bentuk Perjanjian Pemondokan di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati
Kota Semarang (Tahun 6).
O Kesejahteraan Anak Jalanan di Kota Semarang (Studi Tentang Ekonomi Sosial
dan Hukum). (Tahun 6).
O Kawin Kontrak : Latar Belakang, Keabsahan Hukum dan Dampaknya (Studi
Kasus di kabupaten Jepara). Tahun 7.
O Latar Belakang Timbulnya Pembajakan Hak Cipta dibidang Musik dalam
ormat Kaset dan Upaya Penanggulangannya di Kota Semarang. Tahun 7.
O Implementasi UU No. 19 Tahun terhadap Perlindungan Batik Semarang
Sebagai Warisan Budaya. Tahun 8.
O Latar Belakang Penggunaan SoItware Komputer Bajakan Oleh Pelaku Usaha
Rental Komputer Dan Warnet Di Kota Semarang Serta Upaya
Penanggulangannya. Tahun 8.
O Eksekusi terhadap hak tanggungan (suatu kajian terhadap pelaksanaan eksekusi
menurut UU No. 4 tahun 1996) Di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang.
Tahun 8.
Semarang, 11 Nopember 9.


Pujiono, S.H.,M.H
9



BIODT MHSISW


1. Nama Lengkap : RoIin Mawan Purba
. Nama Panggilan : RoIin
. Tempat Tanggal Lahir : Marubun, 9 Juli 1988
4. Alamat : Banaran Raya, RT 6 RW 4 Sekaran Gunungpati
Semarang
5. Pekerjaan : Mahasiswa H UNNES
6. NIM : 454717
7. akultas / Program studi : Hukum / Ilmu Hukum
8. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang
9. Jenis Kelamin : Laki-laki
1. Agama : Protestan
11. Nama Orang Tua : J. Purba
1. Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta
1. Pendidikan
SD Inpres 94171 Marubun
SMP Sw Cinta Rakyat Pematangsiantar
SMA Sw Teladan Pematangsiantar


Semarang, 11 Nopember 9.



RoIin Mawan Purba