Anda di halaman 1dari 35

LATAR BELAKANG

1. Hasil penilaian Financial Action task Force (FATF) terdapat 6 (enam)


rekomendasi yang berkaitan dengan tugas bank Indonesia dalam
pengaturan tentang prinsip mengenal nasabah, untuk di sempurnakan
lebih lanjut.
2. Ketentuan KYC untuk Bank Umum telah di sesuaikan dengan
rekomendasi FATF menjadi PBI No.11/28/PBI/2009 tanggal 1 juli
2009 tentang penerapan program anti pencucian uangdan pencegahan
pendanaan terorisme bagi bank Umum.
3. BPR sebagai salah satu jenis Bank juga di haruskan comply
rekomendasi FATF
4. Semakin bekembangnya Industri BPR/BPRS disertai dengan
perkembangan produk serta pelayanan BPR/BPRS terutama yang
berbasis teknologi InIormasi maka resiko pemanIaatan BPR/BPRS
dalam pencucian uang dan pendanaan terorisme semakin tinggi.
LATAR BELAKANG... (2)
. Penilaian FATF tersebut berpengaruh pada penilaian terhadap Indonesia sebagai anggota
komite koordinasi Nasioanal serta tekait pula dengan komitmen Bank Indonesia daalm
memenuhi rekomendasi Tim Evaluator APG. Progress penyesuaian program terkait
dengan BPR merupakan salah satu materi yang dilaporkan pada Annual meeting Asia
PaciIic Group on Money Laundering.
6. Apabila peraturan Bank Indonesia tidak segera di sesuaikan sebagaimana yang telah
disepakati dalam the tith Annual meeting Asia PasiIic Group Money Laundering akan
berdampak pada risiko reputasi negara Indonesia terhadap komitmen pemberantasan
pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme yang akan berakibat pada
penempatan negara Indonesia dalam daItar negara yang beresiko tinggi terhadap
pencucian uang (high risk country).
ASAR HUKUM
UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan jo. UU N0.10 Tahun 1998.
UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia jo. UU No. 3 Tahun 2004.
UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan tindak
pidana Pencucian Uang.
UU No.1 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang No.1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme menjadi Undang-undang.
UU N0.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
40 9 Recommendation.
!KK-!KK !ERUBAHAN
1. Judul Ketentuan
2. DeIinisi
3. Empat Pilar Ketentuan APU dan PPT
PengawasanAaktiI Direksi dan Dewan Komisaris
Kebijakan dan Prosedur
Pengendalian Item
Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pelatihan
4. Pelaksanaan Costumer Due Dilligence (CDD)
. Penatausahaan dokumen
6. Pemindahan dana
7. Penutupan hubungan dan penolakan transaksi
8. BeneIicial Owner
9. Area Beresiko Tinggi dan Politically Exposed Person (PEP)
10. CDD Sederhana
11. CDD oleh Pihak Ketiga
12. Pemeliharaan DaItar Teroris
13. Pelaporan
14. Pengenaan Sanksi
1. 1UUL KETENTUAN
!ENERA!AN !RINSI! MENGENAL NASABAH BAGI B!R
!ENERA!AN !RGRAM ANTI !ENCUCIAN UANG AN
!ENCEGAHAN !ENANAAN TERRISME BAGI B!R
AN B!RS
2. EFINISI .... (1)
Pencucian Uang adalah pencucian uang sebagaimana dimaksud dalam Undang-
undang yang mengatur mengenai Tindak Pidana Pencucian Uang.
Pendanaan Terorisme adalah penggunaan harta kekayaan secara langsung atau
tidak langsung untuk kegiatan terorisme sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang yang mengatur mengenai tindak Pidana Pencucian Uang.
Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa BPR/BPRS dan memiliki rekening
pada BPR/BPRS tersebut.
Walk in Customer (WIC) adalah pengguna jasa BPR/BPRS yang tidak memiliki
rekening pada BPR/BPRS tersebut, tidak termasuk pihak yang mendapatkan
perintah atau penugasan dari Nasabah untuk melakukan transaksi atas
kepentingan Nasabah terbut.
BeneIicial Owner adalah setiap orang yang memiliki dana, yang mengendalikan
transaksi nasabah atau WIC, yang memberikan kuasa atas terjadinya suatu
transaksi dan/atau yang melakukan pengendalian melalui badan hukum atau
perjanjian.
2. EFINISI ... (2)
Politically Exposed Person (PEP) adalah orang yang mendapatkan kepercayaan
untuk memiliki kewenangan publik diantaranya adalah Penyelenggara Negara
sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangan-undangan yang mengatur
mengenai Penyelenggara Negara, dan/atau orang yang tercatat sebagai anggota
partai politik yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan dan operasional partai
politik.
Customer Due Dilligence (CDD) adalah kegiatan berupa identiIikasi, veriIikasi,
dan pemantauan yang dilakukan BPR dan BPRS untuk memstikan bahwa
transaksi dilakukan sesuai dengan proIil pengguna jasa bank.
Enhanced Due Dilligence (EDD) adalah CDD dan kegiatan lain yang dilakukan
oleh BPR dan BPRS yang mendalami proIil calon Nasabah, Nasabah dan
BeneIicial Owner yang tergolong berisiko tinggi termasuk PEP terhadap
kemungkinan pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Rekomdasi Financial Action Task Force (Rekomendasi FATF) adalah rekomendasi
standar pencegahan dan pemberantasan pencucian uang dan pendanaan terorisme
yang dikeluarkan oleh FATF.
2. EFINISI ... (3)
Lembaga Negara/Pemerintah adalah lembaga yang memiliki kewenangan di
bidang eksekutiI, yudikatiI, dan legislatiI.
BPR/BPRS Pengirim adalah BPR/BPRS yang mengirimkan perintah pemindahan
dana
BPR/BPRS Penerima adalah BPR/BPRS yang menerima perintah pemindahan
dana.
3. EM!AT !ILAR KETENTUAN
PENGAWASAN AKTIF DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS
KEBIJAKAN DAN PROSEDUR
PENGENDALIAN INTERN
SDM DAN PELATIHAN
!ENGAWASAN AKTIF IREKSI AN EWAN KMISARIS ...(1)
PENGAWASAN AKTIF DIREKSI:
1. Memastikan BPR dan BPRS memiliki kebijakan dan prosedur program APU dan PPT;
2. Mengusulkan kebijakan dan prosedur tertulis program APU dan PPT;
3. Memastikan penerapan program APU dan PPT dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan
prosedur tertulis yang telah ditetapkan;
4. Membentuk Unit Kerja Khusus dan/atau menunjuk pegawai yang bertanggung jawab
terhadap program APU dan PPT terpisah dari unit kerja/pegawai yang mengawasi
penerapannya;
. Memastkan unit kerja /pegawai yang melakukan kebijakan dan prosedur program APU
dan PPT terpisah dari unit kerja/pegawai yang mengawasi penerapannya.
6. Pengawasan atas kepatuhan unit kerja/pegawai dalam menerapkan program APU dan PPT;
7. Memastikan bahwa Kantor Cabang BPR dan BPRS memiliki pegawai yang bertanggung
jawab terhadap program APU dan PPT;
8. Memastikan kebijakan dan prosedur tertulis mengenai program APU dan PPT sejalan
dengan perubahan dan pengembangan produk, jasa dan tekhnologi;
9. Memastikan seluruh pegawai khususnya pegawai terkait dan pegawai baru telah
mendapatkan pengetahuan terkait program APU dan PPT secara berkala.
!EGAWAI AKTIF IREKSI AN EWAN KMISARIS ... (2)
PENGAWASAN AKTIF DEWAN KOMISARIS;
1. Persetujuan atas kebijakan dan prosedur penerapan program APU dan PPT;
2. Pengawasan atas pelaksanaan tanggung jawab Direksi terhadap penerapan program APU
dan PPT.
!EGAWAI AKTIF IREKSI AN EWAN KMISARIS ... (3)
UNIT KERJA KHUSUS;
BPR dan BPRS wajib membentuk unit kerja khusus dan /atau menunjuk pegawai BPR dan
BPRS yang bertanggung jawab atas penerapan program APU dan PPT.
Unit kerja khusus atau pegawai BPR dan BPRS bertanggung jawab kepada Direktur.
Pegawai di unit kerja khusus atau pegawai yang bertanggung jawab atas penerapan program
APU dan PPT memiliki kemampuan yang memadai dan memiliki kewenangan untuk
mengakses seluruh data Nasabah dan inIormasi lainya yang terkait.
Dalam hal BPR dan BPRS tidak dapat membentuk unit kerja khusus atau menunjuk pegawai
yang bertanggung jawab atas penerapan program APU dan PPT maka Iungsi dimaksud
dilaksanakan oleh salah satu anggota Direksi.
KEBI1AKAN AN !RSEUR
BPR dan BPRS wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis yang paling kurang
mencakup:
1. Pelaksanaan CDD, yang terdiri dari:
a. Permintaan inIormasi dan dokumen;
b. VeriIikasi dokumen; dan
c. Pengkinian dan pemantauan.
2. Penatausahaan dokumen
3. Pemindahan dana
4. Penutupan hubungan dan penolakan sanksi
. Ketentuan mengenai BeneIicial Owner
6. Ketentuan mengenai area berisiko tinggi dan PEP
7. Pelaksanaan CDD yang lebih sederhana
8. Pelaksanaan CDD oleh pihak ketiga
KEBI1AKAN AN !RSEUR ...(2)
Kebijakan dan Prosedur tertulis wajib :
1. Dituangkan ke dalam Pedoman Pelaksanaan Program APU dan PPT
2. Mendapat persetujuan dari Dewan Komisaris
3. Diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan
Pedoman Pelaksanaan Program APU dan PPT mengacu pada Pedoman Setandar
Penerapan Program APU dan PPT yang diterapkan dalam Surat Edaran Bank
Indonesia.
Kebijakan dan Prosedur harus mempertimbangkan Iaktor teknologi inIormasi yang
berpotensi disalahgunakan oleh pelaku pencucian uang atau pendanaan terorisme,
antara lain : pembukaan rekening atau transaksi melalui pos, Iax, telepon atau ATM.
!ENGENALIAN INTERN
BPR dan BPRS wajib memiliki sistem pengendalian item yang eIektiI.
Dalam hal BPR dan BPRS tidak memiliki Satuan Kerja Audit Internal (SKAI), BPR
dan BPRS menunjuk pejabat (pegawai, direksi, komisaris) yang melaksanakan
Iungsi pengendalian intern dalam rangka memastikan eIektivitas penerapan program
APU dan PPT.
Pelaksanaan sistem pengendalian intern yang eIektiI antara lain dibuktikan dengan :
a. Adanya batasan wewenang dan tanggung jawab yang jelas untuk unit kerja atau
pegawai yang terkait dengan penerapan program APU dan PPT;
b. Adanya pemisahan Iungsi antara pelaksana penerapan program PAU dan APU
dengan pegawai yang ditunjuk untuk mengawasi eIektivitas penerapan program
tersebut; dan
c. Dilakukannya Pemantauan terhadap eIektivitas peleksanaan program APU dan
PPT oleh satuan kerja audit intern/pegawai yang ditunjuk untuk melakukan
Iungsi pengawasan.
SDM DAN PELATIHAN
BPR dan BPRS wajib :
Melalulan piosedui penyaiingan (scieening) dalam iangla peneiimaan pegawai baiu, uniul
mencegal BPR dan BPRS digunalan sebagai media aiau iujuan pencucian uang aiau pendanaan
ieioiisme yang melibailan pilal iniein BPR]BPRS.
Menyelenggaialan pelaiilan mengenai piogiam APU dan PPT, aniaia lain dengan caia :
In louse iiaining
Knowledge slaiing,
Melalulan pembelajaian dengan menggunalan saiana e-leaining.
. PELAKSANAAN CDD ...(i)
CDD dilalulan pada saai:
melalulan lubungan usala dengan calon Nasabal
melalulan lubungan usala dengan WIC
ieidapai leiaguan aias lebenaian infoimasi yang dibeiilan olel Nasabal, peneiima
luasa, dan]aiau Beneficial Ownei
yang dimalsud ieidapai leiaguan aias lebenaian infoimasi adalal ieidapai leiaguan aias
daia yang ada aiau peiubalan piofil Nasabal yang beisifai signifilan.
ieidapai iiansalsi leuangan yang iidal wajai yang diduga ieilaii dengan pencucian uang
dan]aiau pendanaan ieioiisme yang dimalsud dengan iiansalsi leuangan yang iidal
waiai aniaia lain ieidapai jumlal nominal iiansalsi ieiieniu dan peninglaian nilai
iiansalsi yang siginifilan.
Pelalsanaan CDD ieidiii daii
a. Peiminiaan infoimasi dan dolumen,
b. Veiifilasi dolumen, dan
c. Penglinian dan pemaniauan.
4. !ELAKSANAAN C...(2)
BPR dan BPRS wajib:
meminta inIormasi calon Nasabah dan WIC, identitas calon Nasabah dibuktikan dengan
keberadaan dokumen pendukung
meneliti kebenaran dokumen pendukung identitas calon Nasabah
melakukan pertemuan langsung/tatap muka dengan calon Nasabah pada awal
melakukan hubungan usaha
Dalam hal pertemuan langsung/tatap muka dengan Calon Nasabah tidak dapat dilakukan
pada awal hubungan usaha, maka pertemuan dapat dilakukan di kemudian hari sepanjang
memenuhi ketentuan sebagai berikut:
calon Nasabah tergolong beresiko rendah; atau
dokumen pendukung yang memuat identitas telah dilegalisir oleh pihak yang
berwenang.
BPR dan BPRS dilarang untuk membuka atau memelihara rekening anonim atau rekening
yang menggunakan nama IiktiI.
BPR dan BPRS memberikan perhatian khusus terhadap transaksi atau hubungan usaha
dengan Nasabah yang kegiatan usahanya terkait dengan negara yg belum memadai dalam
melaksanakan rekomendasi FATF.
!ERMINTAAN INFRMASI AN KUMEN
BPR dan BPRS wajib :
mengidentiIikasi dan mengklasiIikasikan calon Nasabah, Nasabah dan BeneIicial
Ownerbe dalam kelompok perorangan, perusahaan atau lainnya.
meminta inIormasi kepada calon Nasabah dan WIC yang disertai dengan dokumen
pendukung.
VERIFIKASI KUMEN...(1)
BPR dan BPRS wajib melakukan veriIikasi dokumen pendukung serta memastikan
bahwa data tersebut adalah data yang benar dan terkini.
BPR dan BPRS dapat melakukan wawancara dengan calon Nasabah untuk meneliti
dan meyakini kebenaran dokumen.
Apabila terdapat keraguan, BPR dan BPRS wajib meminta kepada calon Nasabah
untuk memberikan dokumen identitas lainnya atau dokumen pendukung yang
dikeluarkan oleh pihak yang berwenang untuk memastikan kebenaran identitas calon
Nasabah
BPR dan BPRS wajib menyelesaikan proses veriIikasi identitas terhadap:
1. Calon Nasabah dan BeneIicial Ownenebe\um melakukan hubungan usaha dengan
calon Nasabah
2. WIC dan BeneIicial Ownersebeium melakukan transaksi
VERIFIKASI KUMEN... (2)
Dalam kondisi tertentu, BPR/BPRS dapat melakukan hubungan usaha sebelum
proses veriIikasi selesai.
Vang dimaksud dengan kondisi tertentu:
1. Kelengkapan dokumen tidak dapat dipenuhi pada saat hubungan usaha
Y
akan
dilakukan misalnya karena dokumen masih dalam proses pengurusan
2. Apabila tingkat risiko calon nasabah tergolong rendah
Batas waktu proses veriIikasi untuk kondisi tertentu yaitu:
1. Nasabah perorangan 14 hari kerja setelah dilakukannya hubungan usaha
2. Nasabah perusahaan 90 hari kerja setelah dilakukannya hubungan usaha
!ENGHINAAN AN !EMANTAUAN... (1)
BPR dan BPRS wajib melakukan pengbinian data terhadap inIormasi dan dokumen Nasabah
serta menatausahabannya.
Pengbinian data terhadap inIormasi dan dobumen Nasabah termasuh didalamnya adalah
pengbinian data terhadap nasabah yang telah melabuban hubungan usaha sebelum PBI ini
diterbitban.
BPR dan BPRS wajib melabuban
1. pemantauan secara berbesinambungan untub mengidentiIihasi besesuaian antara transabsi
Nasabah dengan proIil Nasabah dan menatausahakan dobumen.
2. analisis terhadap seluruh transabsi yang tidab sesuai dengan proIil Nasabah.
BPR dan BPRS dapat meminta inIormasi tentang latar belabang dan tujuan transabsi
terhadap transabsi yang tidab sesuai dengan proIil Nasabah, dengan memperhatiban
betentuan anti tipping-cII (betentuan untub merahasiaban Nasabah yang aban dilaporban
bepada PPATK).
!ENGKINIAN AN !EMANTAUAN... (3)
BPR dan BPRS wajib memilibi sistem pencatatan yang dapat mengidentiIibasi,
menganalisa, memantau dan menyediaban laporan secara eIebtiI mengenai barabteristib
transabsi yang dilabuban oleh Nasabah dan wajib memelihara proIil Nasabah.
Sistem pencatatan yang dimilibi harus dapat memungbinban BPR dan BPRS untub
menelusuri setiap transabsi apabila diperluban, baib untub beperluan intern dan/atau
Banb Indonesia, maupun dalam baitannya dengan basus peradilan.
BPR/BPRS Penerima wajib memastiban belengbapan inIormasi Nasabah pengirim dan
WIC pengirim
BPR dan BPRS wajib memelihara proIil Nasabah paling hurang meliputi inIormasi
mengenai:
1. peberjaan atau bidang usaha;
2. jumlah penghasilan;
3. rekening lain yang dimilibi, apabila ada;
4. aktivitas transabsi normal; dan
. tujuan pembubaan rekening.
5. !ENATAUSAHAAN KUMEN
BPR dan BPRS wajib menatausahakan:
dokumen yang terkait dengan data Nasabah atau WIC dengan jangka waktu paling
kurang (lima) tahun sejak:
1. berakhirnya hubungan usaha atau transaksi dengan Nasabah atau WIC; atau
2. ditemukannya ketidaksesuaian transaksi dengan tujuan ekonomis dan/atau tujuan
usaha.
dokumen Nasabah atau WIC yang terkait dengan transaksi keuangan dengan jangka
waktu sebagaimana diatur dalam UU tentang Dokumen Perusahaan.
Dokumen yang terkait sebagaimana dimaksud diatas, paling kurang mencakup:
1. identitas Nasabah atau WIC; dan
2. inIormasi transaksi yang antara lain meliputi jenis mata uang dan jumlah uang yang
digunakan, tanggal perintah transaksi, asal dan tujuan transaksi, serta nomor rekening
yang terkait dengan transaksi.
Dokumen dapat ditatausahakan dalam bentuk asli, salinan, electronic Iorm, microIilm, atau
dokumen yang berdasarkan undang-undang yang berlaku dapat digunakan sebagai alat bukti.
6. !EMINAHAN ANA
BPR dan BPRS Pengirim
BPR dan BPRS Penerima
Dalam hal inIormasi tersebut tidak dipenuhi, BPR dan BPRS dengan menggunakan
pendekatan berdasarkan risiko dapat :
1. Menolak untuk melaksanakan pemindahan dana;
2. Membatalkan transaksi pemindahan dana; dan/atau
3. Mengakhiri hubungan usaha dengan Nasabah.
Bila terdapat pemindahan dana yang mencurigakan, BPR dan BPRS wajib melaporkan
pemindahan dana tersebut sebagai LTKM kepada PPATK.
1. Memperoleh inIormasi dan mengidentiIikasi
serta veriIikasi Nasabah & WIC pengirim
2. Mendokumentasikan seluruh transaksi
Memastikan kelengkapan inIormasi Nasabah dan
WIC Pengirim
7. !ENUTU!AN HUBUNGAN USAHA ATAU !ENLAKAN
TRANSAKSI
BPR dan BPRS wajib menolak melakukan hubungan usaha dengan calon Nasabah dan/atau
melaksanakan transaksi dengan WIC, apabila calon Nasabah/WIC:
tidak memenuhi permintaan inIormasi dan dokumen pendukung yang dibutuhkan
menggunakan identitas dan/atau memberikan inIormasi yang tidak benar
BPR dan BPRS dapat menolak transaksi, membatalkan transaksi dan/atau menutup
hubungan usaha Nasabah apabila:
tidak memenuhi permintaan inIormasi dan dokumen pendukung yang dibutuhkan
menggunakan Identitas dan/atau memberikan InIormasi yang tidak benar
BPR/BPRS ragu terhadap kebenaran InIormasi Nasabah
penggunaan rekening tidak sesuai dengan proIil Nasabah
8. BENEFICIAL WNER
BPR dan BPRS wajib memastikan apakah calon Nasabah atau WIC mewakili BeneIidal
OwnerurItuh membuka hubungan usaha atau melakukan transaksi.
Dalam hal calon Nasabah atau WIC mewakili BeneIicial Owner uritiik membuka hubungan
usaha atau melakukan transaksi, BPR dan BPRS wajib melakukan prosedur CDD terhadap
BeneIicia/ Owner sebagaimana dilakukan terhadap calon Nasabah atau WIC.
Dalam hal BPR dan BPRS meragukan atau tidak dapat meyakini identitas BeneIicial Owner,
BPR dan BPRS wajib menolak untuk melakukan hubungan usaha atau transaksi dengan calon
Nasabah atau WIC.
Kewajiban penyampaian dokumen dan/atau inIormasi identitas pemilik atau pengendali akhir
BeneIicial Owner tidak berlaku bagi BeneIicial Owner berupa:
a. Lembaga Negara/Pemerintah; atau
b. perusahaan yang terdaItar di Bursa EIek.
9. !LITICALLY EX!SE !ERSN (!E!) AN AREA BERISIK
TINGGI
BPR dan BPRS wajib meneliti adanya calon Nasabah, Nasabah dan BO yang memenuhi
kriteria berisiko tinggi atau PEP.
Penetapan penggolongan berisiko tinggi dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan
PPATK yang mengatur mengenai pedoman identiIikasi produk, nasabah, usaha, dan negara
berisiko tinggi bagi penyedia jasa keuangan dan pedoman mengenai identiIikasi transaksi
keuangan mencurigakan terkait ~ pendanaan terorisme bagi penyedia jasa keuangan.
Jika calon Nasabah diketahui tergolong PEP maka BPR dan BPRS wajib melakukan EDD
pada awal melakukan hubungan usaha.
Nasabah dan BeneIicial Owner yang memenuhi kriteria berisiko tinggi atau PEP dibuat
dalam daItar tersendiri.
Pembuatan daItar tersendiri ditujukan untuk memudahkan identiIikasi dan pemantauan.
10. C VANG LEBIH SEERHANA
BPR dan BPRS dapat menerapkan prosedur CDD yang lebih sederhana dari prosedur CDD
terhadap calon Nasabah yang tingkat risikonya rendah dan memenuhi kriteria:
tujuan pembukaan rekening untuk pembayaran gaji
rekening berupa tabungan wajib terkait dengan pemberian kredit/pembiayaan dari
BPR/BPRS yang sama
nasabah berupa perusahaan publik yang tunduk pada peraturan tentang kewajiban untuk
mengungkapkan kinerjanya
nilai transaksi awal pembukaan rekening dibawah Rpl.OOO.OOO (satu juta rupiah)
BPR dan BPRS wajib membuat dan menyimpan daItar Nasabah yang mendapat perlakuan
CDD yang lebih sederhana.
Prosedur CDD yang lebih sederhana tidak berlaku apabila terdapat dugaan terjadi transaksi
Pencucian Uang dan/atau Pendanaan Terorisme dan berlaku ketentuan CDD.
11. !ELAKSANAAN C LEH !IHAK KETIGA
BPR dan BPRS dapat menggunakan hasil CDD yang telah dilakukan oleh pihak ketiga
terhadap calon Nasabahnya yang telah menjadi Nasabah pada pihak ketiga tersebut.
Hasil CDD yang telah dilakukan pihak ketiga dapat digunakan, apabila pihak ketiga:
memiliki prosedur CDD sesuai dengan ketentuan yang berlaku
memiliki kerja sama dengan BPR/BPRS dalam bentuk kesepakatan tertulis;
tunduk pada pengawasan dari otoritas berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku
bersedia memenuhi permintaan inIormasi dan salinan dokumen pendukung yang
dibutuhkan
BPR dan BPRS wajib memastikan kecukupan identiIikasi dan veriIikasi atas hasil CDD yang
telah dilakukan oleh pihak ketiga.
BPR dan BPRS yang menggunakan hasil CDD dari pihak ketiga, bertanggung jawab untuk
melaksanakan penatausahaan dokumen.
12. !ELA!RAN
BPR dan BPRS wajib menyampaikan:
Pedoman Pelaksanaan Program APU & PPT dan setiap perubahan Pedoman Pelaksanaan
Program APU dan PPT kepada Bank Indonesia.
Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan, Laporan Transaksi Keuangan Tunai, dan
laporan lain kepada PPATK.
Kewajiban BPR dan BPRS untuk melaporkan Transaksi Keuangan Mencurigakan berlaku
untuk transaksi yang diduga terkait dengan kegiatan terorisme atau pendanaan terorisme.
!ENGENAAN SANKSI... (1)
BPR dan BPRS yang terlambat menyampaikan Pedoman Program APU dan PPT dan/atau
perubahannya dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp0.000,00 (lima puluh ribu)
per hari keterlambatan per laporan dan paling banyak sebesar Rpl.000.000,00 (satu juta
rupiah).
BPR/BPRS yang terlambat menyampaikan Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan
dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar RpSO.000,00 (lima puluh ribu) per hari
keterlambatan per laporan dan paling banyak sebesar Rpl.000.000,00 (satu juta rupiah).
BPR/BPRS yang belum menyampaikan Pedoman Program APU dan PPT dan/atau
perubahannya dalam waktu lebih 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian
dikenakan sanksi berupa teguran tertulis dan kewajiban membayar sebesar Rp3.000.000,00
(tiga juta rupiah).
BPR/BPRS yang belum menyampaikan Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan dalam
waktu lebih 1 (satu) bulan sejak ditemukan pada saat pemeriksaaan dikenakan sanksi berupa
teguran tertulis dan kewajiban membayar sebesar Rp.3.000.000,00 (tiga juta rupiah).
!ENGENAAN SANKSI... (2)
BPR/BPRS yang tidak melaksanakan ketentuan ini dan ketentuan pelaksanaan terkait lainnya
dapat dikenakan sanksi administratiI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang
Nomor 10 Tahun 1998 dan Pasal 8 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah, antara lain berupa:
teguran tertulis;
penurunan tingkat kesehatan Bank;
pembekuan kegiatan usaha tertentu;
pemberhentian pengurus Bank; dan/atau
pencantuman anggota pengurus, pegawai Bank, dan/atau pemegang saham dalam daItar
pihak-pihak yang mendapat predikat tidak lulus dalam penilaian kemampuan dan kepatutan
atau dalam catatan administrasi Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank
Indonesia yang berlaku.