Anda di halaman 1dari 8

VEKTOR LALAT

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode observasi langsung serta


metode perghitungan kepadatan lalat di Puskesmas Dago. Lalat merupakan spesies yang
berperan dalam masalah kesehatan masyarakat, yaitu sebagai vektor penularan penyakit
saluran pencernaan seperti: kolera, typhus, disentri, dan lain lain.

1. $&RVEY KEPADATAN LALAT

&ntuk menghitung kepadatan lalat di Puskesmas Dago, penulis menggunakan
metode scudder fly grill. &ntuk mengukur fly-dencity scudder fly grill diletakkan di
tempat yang ingin diketahui kepadatannya.
Pada saat pengukuran, penulis mengukur kepadatan lalat di dua tempat yaitu
ruang tunggu depan dan ruang tunggu samping. Pertimbangan pemilihan kedua tempat
tersebut karena kedua tempat tersebut dekat dengan habitat lalat (dekat tempat sampah,
pepohonan, serta ceceran makanan bekas dagangan). Scudder Ily grill diletakkan di atas
lantai dengan waktu pengukuran tiap 30 detik. Setiap 30 detik dihitung lalat yang hinggap
di atas scudder Ily grill. Penulis melakukan pengukuran sepuluh kali tiap tempat
pengukuran. Berikut rincian pengukurannya,


Gambar tempat pengukuran (kiri : ruang tunggu depan, kanan : ruang tunggu samping)



Gambar Denah Puskesmas Dago

a. DATA PENGAMATAN
Berikut data pengamatan yang didapat dari hasil pengukuran :



b. HA$L PENG&K&RAN
Dari hasil pengukuran didapat :
O ndeks lalat Ruang tunggu Depan adalah 9,4
O ndeks lalat Ruang tunggu Samping adalah 4,1

&ntuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya indeks lalat di Puskesmas Dago, maka indeks lalat
dibandingkan dengan standar yang ada.
Digunakan dua standar, yaitu :
O Standar Singapura
O Standar ndonesia

$9andar $ngapura
Dari standar tersebut, penulis menggunakan standar restaurant kitchen yaitu 2. Standar
restaurant kitchen dianggap dapat mewakili standar puskesmas karena sudah seharusnya baik
lingkungan pestaurant kitchen maupun lingkungan puskesmas memiliki sanitasi yang baik dan
higienis.




%abel Standar untuk Singapura

Puskesmas dago tidak memenuhi baku mutu indeks lalat baik untuk ruang tunggu depan
maupun untuk ruang tunggu samping. ndeks lalat ruang tunggu depan yaitu 9,4 lebih besar dari
standar yaitu 2. Begitu pula dengan indeks lalat ruang tunggu samping yaitu 4,1 lebih besar dari
standar yaitu 2.

$9andar ndonesa
Standar ndonesia memiliki nilai yang tidak terlalu ketat bila dibandingkan dengan
standar Singapura. &ntuk standar ndonesia, batas maksimal indeks lalat yang diperbolehkan
adalah 20. Apabila lebih dari nilai 20 maka perlu diadakan tindak pemberantasan.

Menurut standar yang berlaku di ndonesia, kedua tempat pengukuran memenuhi
standar indeks lalat (masih di bawah nilai 20). Sehingga tidak diperlukan pemberantasan lalat.

2. HABTAT LALAT

Puskesmas dago memiliki beberapa tempat yang berpotensi menjadi habitat lalat, antara
lain :
O %anaman-tanaman di area puskesmas
%anaman-tanaman di area puskesmas dapat dijadikan tempat hidup. &mumnya lalat suka
beristirahat pada pohon-pohon dan tanaman, terutama di siang hari.
O %empat sampah terbuka yang tidak terurus
%empat sampah yang terbuka dapat berpotensi untuk mengundang lalat untuk berkumpul
di daerah tersebut bahkan sebagai tempat berkembang biak. Seperti yang kita ketahui
bahwa lalat senang hinggap pada sampah. Hal ini bisa menjadi berbahaya karena agen
penyakit dari sampah dapat dipindahkan oleh vector lalat ke makanan di area puskesmas
yang berpotensi terjadinya penyakit.
O %empat sampah di ruang tunggu yang sampahnya berceceran
Apabila kebersihan tempat sampah tersebut tidak dijaga, maka cecran sampah tersebut
bisa menjadi peluang untuk lalat untuk hinggap pada sampah lalu memindahkan agen
penyakit dari sampah tersebut ke makanan di area puskesmas.
O Sisa- sisa makanan dari pedagang di depan puskesmas
Sisa-sisa makanan yang tidak bersih dapat mengundang lalat untuk hinggap dan
berkumpul di daerah tersebut bahkan untuk tempat berkembang biak. Hal ini tidak baik
terutama kaitannya dengan penyebaran penyakit.


Gambar tanaman di samping puskesmas



Gambar tempat sampah depan tanpa penutup


Gambar tempat sampah di ruang tunggu


Gambar gerobak makanan di depan puskesmas


. PENGENDALAN VEKTOR LALAT
Berdasarkan data di atas, bisa dikatakan bahwa Puskesmas Dago berpotensi terkena dampak
akibat aktivitas vector lalat. &ntuk mengantisipasi masalah hal tersebut, diperlukan upaya
pengendalian-pengendalian yang terpadu agar vector lalat agar tidak membahayakan kesehatan
khususnya bagi kesehatan pasien, pekerja puskesmas, serta pedagang dan penduduk sekitar.

Pengendalan $ecara Bolog
Pengendalian secara biologi dirasa kurang eIektiI, karena sulit untuk menemukan predator alami
dari vektor ini.

Pengendalan $ecara K2a
Pengendalian jenis ini dilakukan apabila terjadi kejadian luar biasa seperti wabah penyakit yang
disebakan oleh lalat seperti diare atau disentri. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan
dengan beberapa alternative antara lain dengan penyemprotan insektisida di lingkungan
Puskesmas Dago ketika terjadi wabah.ataupun untuk pencegahan dapat dilakukan penyemprotan
dua kali dalam setahun.



Pengendalan $ecara Lngkugan
Merupakan pengendalian yang dirasa paling eIektiI bagi Puskesmas Dago. AlternatiI
pengendaliannya antara lain :
O Pemberian tutup untuk tempat sampah yang masih terbuka di halaman Puskesmas Dago
O Menyediakan tempat sampah yang lebih agar tidak ada lagi sampah yang berceceran
akibat tempat sampah yang ada kelebihan volume sampah.
O Pembersihan secara rutin lingkungan puskesmas terutama dari ceceran makanan
pedagang di depan puskesmas.

Pengendalan Lan-lan
Merupakan pengendalian alternative yang bisa dijadikan pilihan untuk pengendalian vector lalat.
AlternatiI pengendalian antara lain :
O Relokasi pedagang makanan yang terdapat di sekitar puskesmas
O Mengadakan penyuluhan kepada para pedagang dan penduduk di sekitar puskesmas
O Penggunaan bait/ perangkap untuk lalat apabila dirasa kepadatan lalat cukup mengganggu

KESMP&LAN
1. Kondisi eksisting lingkungan Puskesmas Dago tidak terlalu baik, hal ini disebabkan oleh
a. Kondisi sanitasi yang kurang memadai
b. Banyaknya genangan air
c. Masih banyak terdapat sampah
2. Penyakit yang disebabkan oleh vektor yang terdapat di puskesmas tersebut antara lain
diare, disentri, dan demam yang tidak diketahui penyebabnya
3. ndeks Lalat yang didapat dari pengamatan vektor penyakit di puskesmas tersebut sebesar
4,1 di ruang tunggu samping dan 9,4 di ruang tunggu depan. Keduai indeks tersebut telah
sesuai dengan standar yang berlaku di ndonesia (indeks maksimum 20) tetapi tidak
sesuai dengan standar yang berlaku di Singapura (indeks maksimum 2).
4. Pengendalian vektor yang lebih cocok untuk puskesmas tersebut berupa pengendalian
secara lingkungan seperti pemberian tutup untuk tempat sampah, penambahan jumlah
tempat sampah dan pembersihan secara rutin area puskesmas.