Anda di halaman 1dari 4

Menyongsong Hari kesehatan Jiwa Sedunia ke-18

Hari kesehatan jiwa sedunia diperingati setiap tahun sejak dicanangkan oleh presiden
RI tahun 1993. Adapun tema yang diusung tahun 2011 yaitu meningkatkan prestasi dan
kreatiIitas ODMK ( Orang Dengan Masalah Kesehatan Jiwa) melalui jambore nasional,
dengan mencontoh perkemahan pramuka.
Gangguan kesehatan mental, suatu keadaan dimana tidak adanya keseimbangan antara
pendukung2 kesehatan yaitu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktiI secara sosial dan ekonomi. Dalam hal ini
dititik beratkan pada kualitas hidup yang terdiri dari kesejahteraan dan produktivitas sosial
ekonomi, oleh karena itu kesehatan jiwa harus mendapat perhatian, juga karena kesehatan
jiwa adalah bagian integral dari kesehatan, tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. Pada
era globalisasi dimana terjadi penurunan daya beli masyarakat karena pada umumnya
sebagian besar penghasilan digunakan untuk makan, niscaya masyarakat akan membeli
makanan yang kurang esensi gizi nya. Berbagai gangguan akan muncul, pada korban PHK
akan menimbulkan stress, depressi, dan peningkatan angka bunuh diri.
Hasil Survey Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) tahun 1995 menemukan
bahwa 185 dari 1000 penduduk rumah tangga dewasa menunjukan adanya gejala gangguan
kesehatan mental. Hasil SKMRT tahun 1995 menunjukan juga bahwa gangguan mental
emosional pada usia 15 tahun ke atas adalah 140 orang per 1000 penduduk, dan pada usia 5-
14 tahun, 104 orang per 1000 penduduk.
Data dari 33 RS Jiwa seluruh Indonesia menyebutkan hingga kini jumlah penderita
gangguan kesehatan mental berat mencapai 2,5 juta orang. Kenaikan jumlah penderita
gangguan kesehatan mental terjadi di sejumlah kota besar. Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar)
Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan Depkes tahun 2007 menyebutkan jawa barat
mempunyai prevalensi gangguan mental emosional tertinggi di seluruh Indonesia dengan
kisaran 20, artinya 1 dari 5 orang dewasa mengalami gangguan kesehatan mental. Pada hari
kesehatan jiwa sedunia tanggal 10 Oktober 2008 yang dipusatkan di Bogor daerah Sindang
Barang (Kabupaten Bogor) ditetapkan sebagai daerah Siaga Bina Kesehatan Jiwa. Meskipun
demikian untuk wilayah bogor dan sekitarnya penulis tidak mempunyai data pasti jumlah
penderita gangguan jiwa sebab pada pasien yang dirawat dengan gangguan jiwa umumnya
keluarga penderita merasa malu sehingga penderita dengan gangguan jiwa sering dirawat di
tempat yang jauh dari tempat tinggal asalnya. Penderita yang dirawat di RS. MM Bogor ada
yang berasal dari Bekasi, Karawang, Sukabumi, Cianjur, bahkan ada dari Jawa Tengah.
Menurut data dari WHO ( World Health Organization) masalah gangguan kesehatan jiwa di
seluruh dunia sudah menjadi masalah yang sangat serius dengan adanya konIlik dan krisis
ekonomi berkepanjangan, kondisi seperti itulah yang merupakan salah satu pemicu yang
menimbulkan stress, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan mental lainnya. Masalah
kesehatan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius. WHO
tahun 2001 menyatakan paling tidak ada 1 dari 4 orang di dunia mengalami masalah mental.
WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan
kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan jiwa dapat menimbulkan penderitaan yang mendalam
bagi individu dan beban yang berat bagi keluarga, baik beban mental maupun materi karena
penderita menjadi kronis dan tidak lagi produktiI. Oleh karena itu gangguan jiwa perlu
dikenali dan ditanggulangi sejak dini.
Berbagai upaya kesehatan dilakukan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal bagi masyarakat, diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan
kesehatan (promotiI, pencegahan penyakit (preventiI, penyembuhan penyakit (kuratiI) dan
pemulihan kesehatan (rehabilitatiI) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan. Perlu kegiatan sosialisasi bagi masyarakat umum maupun kelompok
khusus agar meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental diantaranya melalui
peringatan hari kesehatan jiwa yang dilaksanakan setiap tahun. Agar masyarakat menyadari
bahwa kesehatan jiwa adalah bagian integral dari kesehatan, tidak ada kesehatan tanpa
kesehatan jiwa. Kualitas hidup ditentukan oleh status kesehatan mental karena itu harus
mendapat perhatian sebab kesehatan jiwa yang buruk akan mengakibatkan kerugian dan
menambah beban berat bagi keluarga sehingga menurunkan index pembangunan manusia.
Dengan adanya kerja sama antar departemen (Depkes, Depsos, dan Depdagri )
penanganan pasien kronik semakin diperhatikan juga dikembangkan rehabilitasi mental.
Maksudnya untuk meningkatkan Iungsi hidup pasien dengan gangguan jiwa secara optimal
sehingga mereka dapat hidup, belajar dan bekerja di masyarakat. Dalam keterampilan
diberikan kegiatan meliputi kebersihan diri, keagamaan, rekreasi, penggunaaan Iasilitas
umum melakukan olah raga dll keterampilan hidup dengan tujuan untuk memIasilitasi pasien
sehingga mampu melakukan kegiatan harian secara mandiri baik di rumah dan di rumah
sakit.
Dari paparan diatas, meskipun telah tersedia jamkesda (jaminan kesehatan daerah),
askes, atau asuransi yang lain. Mari kita bersama sama menghormati hak mereka yang
menderita gangguan jiwa, mengurangi angka terjadinya gangguan jiwa dengan menjaga
keseimbangan jiwa kita masing masing sehingga kita mampu mencegah masalah masalah dan
gangguan kesehatan khususnya kesehatan jiwa, memelihara dan meningkatkan drajat
kesehatan. Selamat ulang tahun kesehatan jiwa ke-18 mari kita tingkatkan gaya hidup sehat
termasuk sehat jiwa sebab tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa.
Status kesehatan jiwa individu menentukan kualitas hidup maka sudah saatnya
mendapat perhatian khusus sebab dapat menurunkan indeks pembangunan manusia Indonesia
yang dapat menghambat program pemerintah dalam menciptakan sumber daya manusia
Indonesia yang berkualitas.















Bogor, 1 Oktober 2011