Anda di halaman 1dari 28

BAHAN KULIAH HAN BAB I PENDAHULUAN BERBAGAI ISTILAH DAN PENGERTIAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA Ada berbagai istilahdi

dalam penyebutan Hukum Administrasi Negara yangmerupakan terjemahan dari Administratiefrecht yang dikenal di Negara Belanda, Verwaltungsrecht di Jerman, Droit Administratif di Perancis, Administratif Law dinegara Inggris dan Amerika. Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesiadahulumeru pakan bekas jajahan Belanda, sehingga Hukum Administrasi NegaraIndonesia merupak an terjemahan dari Administratiefrecht. Untuk menerjemahkan Administratiefrecht dari Hukum Belanda ini para ahlihokum di Indonesia belum ada kata sepakat. Baru setelah dikeluarkannya UUNo.5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yan g dikeluarkan olehpara ahli. E.Utrecht dalam bukunya Pengantar Hukum Administrasi , mula-mula memakai istilah Hukum Administrasi Negara Indonesia. WF Prins dalam bukunya Inleiding in het administratiefrecht memakai istilah HukumTata Usaha Negara Indonesia. Wirjono Prodjodikoro memakai istilah Hukum Tata Usaha Pemerintah. Prajudi Atmasudirdjo memakai istilahHukum Administrasi Negara. Dalam SK Mendikbud tanggal 30 Desember 1972No.0198/U/1972 tentang Kurikulum Minimal menggunakan istilah Hukum TataPeme rintahan. Rapat staf dosen Fakultas-fakultas Hukum Negri seluruhIndonesia yang d iadakan pada bulan Maret 1973 di Cibulan memakai istilah Hukum Administrasi Negara dengan tidak menutup kemungkinanmenggunakan istilah lain. SK Kurikulum yang tera khir menggunakan istilahHukum Tata Usaha Negara. Pengertian Hukum Administrasi Negara Ada bebrapa ahli yang mencoba membirikan pengertian tentang HukumTata Usaha Neg ara, diantaranya : JHP Bellafroid; Oppenheim; Logemann;E.Utrecht; dan Prajudi At masudirdjo. JHP Bellafroid menyatakan bahwa Hukum Tata Usaha Negara/HukumTata Pemerintahan adalah keseluruh an aturan-aturan tentang cara bagaimanaalat-alat perlengkapan pemerintahan dan b adan-badan kenegaraan sertamajelis-majelis pengadilan khusus yang diserahi penga dilan tata usaha negarahendaknya memenuhi tugasnya. Oppenheim mengemukakan bahwa Hukum Administrasi Negara adalahsuatu gabungan ketentuan-kete ntuan yang mengikat badan-badan yang tinggimaupun rendah apabila badan-badan itu menggunakan wewenang yang telahdiberikan kepadanya oleh HukumTata Negara. Hukum Administrai Negaramenggambarkan negara dalam keadaan bergerak. Logemann mengetengahkan Hukum Pemerintahan/Hukum AdministrasiNegara sebagai seperangkat n orma-norma yang menguji hukum istimewa yangdiadakan untuk memungkinkan para peja bat (Alat Tata Usaha Negara/ Alat Administrasi Negara) melakukan tugas mereka ya ng khusus. Hukum AdministrasiNegara tidak identik/sama dengan hukum yang mengatu

r pekerjaan administrasinegara, karena hukum yang mengatur pekerjaan administras i negara sudahtermasuk dalam Hukum Tata Negara. De La Bascecour Caan menyatakan bahwa Hukum Administrasi Negaraadalah himpunan peraturan-peraturan te rtentu yang menjadi sebab maka negaraberfungsi (bereaksi). Dengan demikian perat uran-peraturan itu mengaturhubungan-hubungan antara warga negara dengan pemerint ahannya. Hukum Administrasi Negara terbagi atas dua bagian, yakni : Pertama, Huk um Administrasi Negara menjadi sebab maka negara berfungsi atau bereaksi; Kedua, Hukum Administrasi Negara mengatur hubungan antara warga negara denganpemerintah . Sir W.Ivor Jenning mengemukakan bahwa Hukum Administrasi Negaraadalah hukum yang berhubungan dengan administrasi negara. Hokum inimenentukan organisasi kekuasaan dan tugas-tugas d ari pejabat-pejabatadministrasi. R. Kranenburg memberikan definisi Hukum Administrasi Negara denganmemperbandingkannya dengan H ukum Tata Negara, meskipun hanya sekedarperlu untuk pembagian tugas. Menurutnya Hukum Administrasi Negara adalahmeliputi hokum yang mengatur susnan dan wewenang khusus dari alatperlengkapan badan-badan seperti kepegawaian (termasuk mengenai pensiun)peraturan wajib militer, pengaturan mengenai pendidikan/pengajaran, per aturanmengenai jaminan sosial, peraturan mengenai perumahan, peraturanperburuhan , peraturan jaminan orang miskin, dan sebagainya. E.Utrecht mengemukakan bahwa Hukum Administrasi Negara/HukumPemerintahan adalah hokum yang menguji hubungan hokum istimewa yang biladiadakan akan memungkinkan para pejaba t administrasi negara melakukantugas mereka yang khusus. Prajudi Atmosudirdjo merumuskan HAN sebagai Hukum yangmengenai Pemerintah beserta aparatnya yang terpen ting yakni AdministrasiNegara selanjutnya dikatakan bahwa hukum administrasi negara mengaturwewenang, tugas, fungsi dan tingkah laku para pejabat Administrasi Nega ra bertujuan untuk menjamin adanya Administrasi Negara yang bonafit, artinyayang te rtib, sopan, berlaku adil dan obyektif, jujur, efisien dan fair. Dinyatakan juga bahwa hukum administrasi negara itu merupakan hukum mengenai Administrasi Negar a dan hokum hasil ciptaan Administrasi Negara, sehinggaHukum Administrasi Negara pada dasarnya dapat dibedakan dalam duaklasifikasi yakni Hukum Administrasi Neg ara heteronom dan Hukum Administrasinegara yang otonom. Hukum Administrasi Negara heteronom bersumberpada UUD, TAP MPR dan UU, hukum ini mengatur seluk beluk organisasi dan fungsi Administrasi Negara (alat tata usaha negara) dan tidak boleh dilawan,dila nggar serta tidak boleh diubah oleh Administrasi Negara. HAN heteronom inimencak up aturan tentang :a. Dasar-dasar dan prinsip umum administrasi negara;b. Organisasi administrasi negara, termasuk juga pengertian dekonsentrasidan desent ralisasi; c. Berbagai aktivitas dari administrasi negara;d. Seluruh sarana administrasi negara; sertae. Badan peradilan administrasiSedangkan Hukum Administrasi Negara Otonom bersumber pada keputusanpemerintah yang bersifat sebagai UU dalam arti yang luas , yurisprudensidanteori. Hukum ini merupakan hokum operasional yang diciptakan o lehpemerintah dan administrasi negara sendiri. Oleh karena itu dapat diubah oleh

pemerintah/administrasi negara (alat tata usaha negara) setiap waktu bila perlut idak melanggar asas kepastian hukum, dan asas kepentingan umum. Prajudi Atmosudirdjo mengemukakan bahwa pemerintah dijalankan olehpenguasa eksekutif beserta aparatny a, sedangkan administrasi negara dijalankanoleh penguasa administrasi beserta ap aratnya. Oleh karena itu Indonesiaberdasarkan ketentuan UUD 1945 kekuasaan eksek utif dan administratif beradadalam satu tangan yakni Presiden, maka pengertian H AN yang luas terdiri ataslima (5) unsure, yaitu :1) HTP : hukum eksekutif atau hokum tata pelaksanaan UU, yangmenyangkut pengendalian peng gunaan kekuasaan public (kekuasaanyang berasal dari kedaulatan rakyat).2) HTUN : hukum mengenai surat menyurat, rahasia dinas dan jabatan,registrasi, kearsipan d an dokumentasi, legalisasi, pelaporan dan statistic,tata cara penyusunan dan pen yimpanan berita acara, pencatatan sipil,pencatatan NTR, publikasi, penerangan da n penerbitan-penerbitannegara. Atau sering dikenal dengan Hukum Birokrasi. 3) Hikum Administrasi Negara dalam arti sempit : hukum tatapengurusan rumah tangga negara baik intern maupun ekstern.4) Hukum Administrasi Pembangunan : mengatur campur tanganpemerintah dalam kehidupan dan penghidupan masyarakat untu k mengarahkan kepada perubahan yang telah direncanakan.5) Hukum Administrasi Lingkungan : mengatur campur tanganpemerintah dalam pengelolaan lingkungan. Sjachran Basah mengemukakan bahwa sebagai inti hakekat Hukum Administrasi Negara adalah : Perta ma, memungkinkan administrasi negara untuk menjalankan fungsinya; Kedua, melindu ngi keluarga terhadap sikap tindak (perbuatan) administrasi negara dan juga meli ndungi administrasi negara itusendiri. Selanjutnya dikatakan bahwa melindungi si kap tindak administrasinegara di satu pihak dan warga negara di lain pihak, pada dasarnya menciptakankepastian hukum yaitu segala sikap tindak administrasi nega ra harus senantiasamemperhatikan batas-batas, baik batas atas maupun bawah. Bata s asas,dimaksudkan taat asas yaitu bahwa sikap tindak administrasi negara dalamm ewujudkan tugas kekuasaannya, di antaranya mengeluarkan keputusan, makaputusan-p utusan itu apabila lebih rendah tidak boleh bertentangan denganperaturanperundan g-undangan yang lebih tinggi. Batas bawah, maksudnyabahwa peraturan yang dibuat tidak boleh melanggar hak dan kewajiban asasiwarga negara. Kesimpulan : dapat dikatakan secara ringkas bahwa yang dimaksudkan denganHukum Administrasi n egara adalah hukum yang mengatur dan mengikat alatadministrasi negara dalam menj alankan wewenang yang menjadi tugasnyaselaku alat administrasi negara dalam mela yani warga negara harus senantiasamemperhatikan kepentingan warga negara. HAN sa ngat penting dan dibutuhkandalam penyelenggaraan kekuasaan negara oleh administr asi negara. Keberadaanhukum administrasi negara berperan mengatur wewenang, tuga s dan fungsiadministrasi negara, disamping itu juga berperan untuk membatasi kek uasaanyang diselenggarakan oleh administrasi negara. PENGERTIAN ALAT ADMINISTRASI NEGARA, PEMERINTAH DAN APARAT PEMERINTAH Victor Sit umorang dalam bukunya Dasar-dasar Hukum AdministrasiNegara meninjau pengertian Administras i Negara/Tata Usaha Negara danPemerintah dari dua (2) segi :a)

Tinjauan dari para penganut teori residu yang terkena pengaruh teoriTrias Politi ka (dengan tokoh Van Vollen Hoven), menyatakan bahwaadministrasi negara/tata usa ha negara adalah gabungan jabatan-jabatan,berupa aparat/alat administrasi yang d ibawah pimpinan pemerintahmelaksanakan sebagian pekerjaan pemerintah (tugas peme rintah) berupafungsi administrasi yang tidak ditugaskan kepada badan-badanpengad ilan, badan legislatif dan badan-badan pemerintah daripersekutuan hukum yang leb ih rendah dari persekutuan negara.Persekutuan-persekutuan hukum yang lebih renda h dari negara adalahdaerah yang masin-masing diberi kekuasaan untuk memerintah s endiridaerahnya atas inisiatif sendiri atau berdasarkan suatu delegasi kekuasaan dari pemerintah pusat (dulu dikenal dengan daerah swatantra tingkatI,II,III sert a Daerah Istimewa).b) Tanpa pengaruh teori Trias Politika, dikemukakan oleh AM Donner bahwa Administrasi negara adalah badan yangmelaksanakan/menyelenggarakan tujuan negara. Pendapat ini dikemukakan oleh Donner karena dia meninjau dari segi fungsinegarayakni sebagai penentu tujuan negara. Prajudi Atmosudirdjo mengemukakan ada tiga (3) arti daripada Administrasi Negara, yaitu :1) Sebagai aparatur negara, aparatur pemerintah, atau sebagai institusipolitik;2) Sebagai fungsi atau sebagai aktivitas melayani atau sebagai kegiatan pemerintah ope rasional; dan3) Sebagai proses teknis penyelenggaraan UU. WF Prins membedakan pemerintah dalam arti luas dan pemerintahdalam arti sempit. Pemerinta h dalam arti luas : seluruh kekuasaan yang adadalam suatu negara (legislative, e ksekutif, yudikatif, dan polisionil), jadi identik dengan negara. Pemerintah dal am arti sempit : kekuasaan yang mempunyaitugas khusus, yakni melaksanakan tujuan dari peraturan perundangan(eksekutif). Muchsan menyatakan bahwa aparat pemerintah (dalam arti sempit)adalah para pejabat yang m elaksanakan kekuasaan eksekutif. Di negaraIndonesia berdasarkanketentuan UUD1945 bentuk dari aparat pemerintah dalamarti sempit adalah Presiden sebagai Kepala P emerintahan dengan para Mentrisebagai pembantu Presiden beserta jabatan-jabatan bawahan lainnya. Philipus M.Hadjon dkk mengemukakan bahwa pemerintahan dapatdifahami melalui dua pengertian : di satu p ihak dalam arti fungsi pemerintah (kegiatan memerintah), di lain pihak dalam arti o rganisasi pemerintah (kumpulan dari kesatuan-kesatuan pemerintah). Fungsi dari pe merintah itudapat ditentukan sedikit banyak dengan menempatkannya dalam hubungan dengan fungsi perundang-undangan dan peradilan. Pemerintahan dapatdirumuskan sec ara negatip sebagai segala macam kegiatan penguasa yang tidak dapat disebutkan s ebagai suatu kegiatan perundang-undangan atau peradilan.Perbedaan antaraperundan

g-undangan, peradilan, dan pemerintah inimengingatkan kita pada Trias Politika. Dalam ajaran yang sudah lama ini dianut pandangan tentang adanya suatu pemisahan diantara kekuasaan pembuatundang-undang kehakiman dan pihak pelaksana (eksekutif). Dewasa ini pemerintahan ini tidak sama dengan kekuasaan eksekutif. Banyak jenispemerintahan yang tidak dapat dipandang s ebagai pelaksanaan dari undang-undang seperti pemberian subsidi tertentu, atau t ugas melaksanakan pekerjaanumum. Bagaimanapun di kalangan para ahli hukum admini strasi negara ditahun-tahun akhir ini telah berkembang perhatian yang luas terha dap keputusan-keputusan yang bersifat umum, yakni rencana-rencana, peraturan-per aturankebijaksanaan, juga peraturan pemberian kuasa (wewenang). Tetapi perhatian itu lebih banyak terarah pada suatu pendekatan aturan-aturan yang sah darisudut pandang hukum administrasi, bukan pada suatu pendekatan dari suduthukum politik tata negara. RUANG LINGKUP HUKUM ADMINISTRASI NEGARA Adapun ruang lingkup dari HukumAdministrasi Negara adalah bertalian eratdengan tugas dan wewenang lembaga negara (administrasi negara) baik ditingkat pusat ma upun daerah, perhubungan kekuasaan antar lenbaga negara(administrasi negara), da n antara lembaga negara dengan warga masyarakat(warga negara) serta memberikan j aminan perlindungan hukum kepadakeduanya, yakni kepada warga masyarakat dan admi nistrasi negar itu sendiri.Dalam perkembangan sekarang ini dengan kecenderungan negara turut campurtangan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, maka perana n Hukum Administrasi Negara (HAN) menjadi luas dan kompleks. Kompleksitas ini ak anmembuat luas dan complicated dalam menentukan rumusan ruang lingkup HAN.Secara historis pada awalnya tugas ne gara masih sangat sederhana, yaknisebagai penjaga malam ( natchwachter staad ) yang hanya menjaga ketertiban,keamanan, dan keteraturan serta ketentraman masy arakat. Oleh karenanyanegara hanya sekedar penjaga dan pengatur lalu lintas kehi dupan masyarakatagar tidak terjadi benturan-benturan, baik menyangkut kepentinga n hak dankewajiban, kebebasan dan kemerdekaan, dan atau benturan-benturan dalam kehidupan masyarakat lainnya. Apabila hal itu sudah tercapai, tugas negara telah selesai dan sempurna. Pada suasana yang demikian itu HAN tidak berkembangdan bah kan statis.Keadaan seperti ini tidak akan dijumpai saat ini, baik di Indonesia m aupundi negara-negara belahan dunia lainnya. Dalam batas-batas tertentu (sekecil ,sesederhana dan seotoriter apapun) tidak ada lagi negara yang tidak turut ambil bagian dalam kehidupan warga negaranya. Untuk menghindarkan kemungkinanterjadiny a hal tersebut, maka perlu dibentuk hukum yang mengatur pemberian jaminan dan pe rlindungan bagi warga negara (masyarakat) apabila sewaktu-waktu tindakan adminis trasi negara menimbulkan keraguan pada wargamasyarakat dan bagi administrasi neg ara sendiri. Untuk mewujudkan cita-cita itutepatlah apa yang dikemukakan oleh Sj achran Basah bahwa fungsi hukum secaraklasik perlu ditambah dengan fungsi-fungsi lainnya untuk menciptakan hukumsebagai sarana pembaharuan masyarakat. Oleh kare na itu hukum harus tidak dipandang sebagai kaidah semata-mata, akan tetapi juga sebagai saranapembangunan, yaitu berfungsi sebagai pengarah dan jalan tempat ber pijak kegiatan pembangunan untuk mencapai tujuan kehidupan bernegara. Disamping itu sebagai sarana pembaharuan masyarakat hukum harus juga mampumemberi motivasi cara berpikir masyarakat kearah yang lebih maju, tidak terpaku kepada pemikiran yang konservatif dengan tetap memperhatikan factor-faktor sosiologis, antropolo gis, dan kebudayaan masyarakat. Namun demikianseperti apa yang dikemukakan oleh Mochtar Kusumaatmaja hukum tetap harusmemperhatikan, memelihara dan mempertahank an ketertiban sebagai fungsiklasik dari hukum.Mengenai ruang lingkup yang dipela jari dalam studi Hukum AdministrasiNegara, Prajudi Atmosudirdjo mengemukakan ada enam ruang lingkup yangdipelajari dalam HAN yaitu meliputi :1) Hukumtentang dasar-dasar dan prinsip-prinsip umum dari administrasinegara;2)

Hukum tentang organisasi negara; 3) Hukum tentang aktivitas-aktivitas dari administrasi negara, terutama yangbersifa t yuridis;4) Hukum tentang sarana-sarana dari administrasi negara terutamamengenai kepegawaia n negara dan keuangan negara;5) Hukum administrasi pemerintah daerah dan Wilayah, yang dibagi menjadi:a. Hukum Administrasi Kepegawaian;b. Hukum Administrasi Keuangan;c. Hukum Administrasi Materiil;d. Hukum Administrasi Perusahaan Negara.6) Hukum tentang Peradilan Administrasi Negara. Kusumadi Pudjosewojo , membagi bidang-bidang pokok Hukum Administrasi Negara sebagai berikut :1. Hukum Tata Pemerintahan;2. Hukum Tata Keuangan termasuk Hukum Pajak;3. Hukum Hubungan Luar Negri;4. Hukum Pertahanan dan Keamanan Umum. Walther Burekhardt menyebutkan bidang-bidang pokok bagian dariHukum Administrasi Negara, yaitu :1. Hukum Kepolisian, berisi aturan-aturan hukum yang mengandung normauntuk bertingk ah laku, bersifat larangan/pengingkaran dan mengadakanpembatasan-pembatasan tert entu terhadap kebebasan seseorang gunakepentingan keamanan umum;2. Hukum Perlembagaan, yaitu aturan-aturan hukum yang ditujukan kepadapanguasa untu k menyelenggarakan perkembangan rakyat dan pembangunandalam lapangan kebudayaan, kesenian, Ilmu Pengetahuan, kerohanian dankejasmanian, kemasyarakatan dan lainlain (pendidikan dan pengajaran disekolah-sekolah, perpustakaan, tentang rumah s akit). Dengan meluasnyabidang-bidang kebebasan bergeraknya perseorangan maka pen guasa wajibmengatur hubungan-hubungan hukum individu-individu tersebutberdasarkan tuga snya yakni menyelenggarakan kepentingan umum;3. Hukum Keuangan, yaitu aturan-aturan hukum tentang upaya menyediakanperbekalan gu na melaksanakan tugas-tugas penguasa. Misalnya, aturantentang pajak, bea dan cuk ai, peminjaman uang bagi negara dan lain-lainnya. KEDUDUKAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA DALAM LAPANGANHUKUM Hukum Administrasi Negara merupakan salah satu cabang/bagian dari ilmuhukum yang khusus. HAN merupakan ilmu hukum yang tidak statis, akan tetapiberkembang sesua i dengan perkembangan kebutuhan dalam masyarakat. Didalam ilmu hukum publik, mul a-mula HAN merupakan bagian dari HTN, kuliah-kuliah HAN ditempelkan dalam HTN, a kan tetapi karena timbulnya Welfare State ,negara hukum modern yang mengutamakan kesejahteraan rakyat pada akhirabad 19 da n permulaan abad20 (antara tahun (1946-1948) diadakan pemisahanantara HAN dengan

HTN. HAN berkembang dengan pesat, kemudian HAN diakuimerupakan bagian tersendir i dari hukum publik dan sebagian ada pada hukumprivat. Philipus M. Hadjon dkk mengemukakan bahwa hukum administrasimateriil terletak diantara hukum privat dan hukum pidana (publik). Hukumpidana berisi norma-norma yang begitu penting (esen sial) bagi kehidupanmasyarakat sehingga penegakan norma-norma tersebut tidak dis erahkan padapihak partikelir tetapi harus dilakukan oleh penguasa. Hukum privat berisinorma-norma yang penegakannya dapat diserahkan pada pihak partikelir.Diant ara bidang hukum itu terletak hukum administrasi. Oleh karenanya HANdapat dikata kan sebagai hukum antara. HUBUNGAN ANTARA HUKUM ADMINISTRASI NEGARA DAN HUKUMTATA NEGARA Ada dua golongan pendapat mengenai hubungan antara HAN denganHTN. Golongan per tama, menyatakan ada perbedaan yuridis prinsipiil antaraHAN dengan HTN. Golongan kedua menyatakan tidak ada perbedaan yuridisprinsipiil antara HAN dengan HTN. P ara ahli yang berpendapat bahwa adaperbedaan yuridis prinsipiil antara HAN dan H TN adalah Oppenheim, Van Vollenhoven dan Logeman. Sedangkan pendapat kedua yang menyatakan tidak ada perbedaan yuridis prinsipiil antara HAN dan HTN diikuti ole h Kranenburg,Prins, dan Prajudi Atmosudirdjo. Oppenheim, menyatakan bahwa yang dipersoalkan HTN adalah negaradalam keadaan berhenti sedan gkan HAN adalah peraturan-peraturan hukummengenai negara dalam keadaan bergerak. HTN merupakan kumpulanperaturan-peraturan hukum yang membentuk alat-alat perlen gkapan negara danmemberikan kepadanya wewenang yang membagi-bagikan tugas pekerj aan daripemerintah modern antara bebeeapa alat perlengkapan negara di tingkat ti nggidan tingkat rendah. Sedangkan HAN adalah sekumpulan peraturan-peraturanhukum yang mengikat alat-alat perlengkapan yang tinggi maupun yang rendahdalam menggu nakan wewenangnya yang telah diberikan/ditetapkan dalam HTN. Van Vollenhoven menyatakan bahwa yang termasuk di dalam HAN,adalah semua peraturan hukum nasiona l sesudah dikurang HTN materiil, hukumperdata materiil dan hukum pidana materiil . Hubungan antara HTN dengan HAN,yaitu bahwa badan-badan kenegaraan memperoleh w ewenang dari HTN danbadan-badan kenegaraan itu menggunakan wewenangnya harus ber dasarkanatau sesuai dengan HAN. Logeman mengemukakan bahwa HTN merupakan suatu pelajarantentang kompetensi, sedangkan HA N/HTP merupakan suatu pelajaran tentangperhubungan-perhubungan hukum istimewa. M enurutnya HTN mempelajari :a. Jabatan-jabatan apa yang ada dalam susunan suatu n egara;b. Siapa yang mengadakan jabatan tersebut; c. Dengan cara bagaimana jabatan-jabatan itu ditempati oleh pejabat;d. Fungsi/la pangan kerja dari jabatan-jabatan itu;e. Kekuasaan hukum dari jabatan-jabatan it u;f. Hubungan antara masing-masing jabatan;g. Dalam batas-batas manakah organ-or gan kenegaraan dapat melakukantugasnya.Sedangkan yang dipelajari dalam HAN/HTP y aitu sifat, bentuk dan akibat hukumyang timbul karena perbuatan hukum istimewa y ang dilakukan oleh parapejabat dalam menjalankan tugasnya. Kranenburg, Prins dan Prajudi Atmosudirdjo menyatakan bahwaantara HAN dengan HTN tidak ada perbedaan yuridis prinsipiil, pe rbedaan yangada hanya pada titik berat/fokus pembahasan. HTN fokusnya adalah huk umrangka dasar dari negara sebagai keseluruhan, sedangkan HAN fokusnyamerupakan bagian khusus dari HTN. Kranenburg menyatakan bahwa kalau di dalam praktek ada perbedaan,hanya karena untuk mencapa i kemanfaatan dalam penyelidikan. Menurutnyayang digolongkan dalam HTN adalah pe raturan-peraturan yang mengaturstruktur umum dari suatu pemerintahan negara, mis alnya UUD dan UU organic(UU yang mengatur daerah-daerah otonom), HAN berisi UU d an peraturan-peraturan khusus misalnya : hukum kepegawaian. Prins mengemukakan bahwa HTN mempelajari hal-hal yang fundamentalyang merupakan dasardasar dari negara dan langsung menyangkut tiap-tiapwarga negara, sedangkan HAN m

enitikberatkan pada hal-hal yang teknis saja,yang hanya penting bagi para spesia lis. Disendirikannya HAN dari HTN tidak karena adanya perbedaan tugas antara HTN dan HAN, akan tetapi karena sudahsedemikian berkembangnya HAN, sehingga memerlu kan perhatian tersendiribukan sebagai tambahan/sampiran HTN saja. Prajudi Atmosudirdjo menyatakan bahwa perbedaan HTN dan HANhanya terletak pada titik berat dalam pemb ahasan. Di dalam mempelajari HTNfokus perhatian ada pada konstitusi negara sebag ai keseluruhan, sedangkan di dalam HAN fokus atau titik berat perhatian kita secara khas kepada administrasin egara. Hubungan antara HAN dengan HTN mirip dengan hubungan antaraHukum Dagang d engan Hukum Perdata, di mana Hukum Dagang merupakanspesialisasi dari Hukum Perik atan di dalam Hukum Perdata. HAN merupakanspesialisasi belaka pada salah satu ba gian dari HTN, sehingga asas-asas dankaidah-kaidah dari HTN yang bersangkutan de ngan administrasi negara berlakupula bagi HAN. Buku Sumber : Muchsan, SH, 1982, Pengantar Hukum Administrasi Negara , Liberty, Yogyakarta; Muchsan, SH, 1981, Peradilan Administrasi Negara , Liberty, Yogyakarta; Phillipus M. Hadjon dkk, 1993, Pengantar Hukum AdministrasiIndonesia , Gadjah Mada University Press, Yogyakarta; Prajudi Atmosudirdjo, Prof. Dr. Mr., 1983, Hukum AdministrasiNegara , Ghalia Indonesia, Jakarta; SF Marbun dkk, 2001, Dimensi-Dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara , UII Press , Yogyakarta; Utrecht, E, 1986, Pengantar Hukum Administrasi Negara , PustakaTinta Mas, Surabaya: Victor Situmorang, SH, 1988, Dasar-Dasar HukumAdministrasiNegara , Bina Aksara, Jakarta.BAB II SUMBER-SUMBER HUKUM ADMINISTRASI NEGARA DAN SUBYEK HUKUM ADMINISTRASI NEGARA SUMBER HUKUM MATERIIL HAKUM ADMINISTRASI NAGARA

Dimaksudkan dengan sumber hukum adalah segala sesuatu yang dapatmenimbulkan atur an hukum serta tempat diketemukannya hukum. Sumberhukum materiil Hukum Administr asi Negara adalah meliputi faktor-faktor yangikut mempengaruhi isi/materi dari a turan-aturan hukum. Faktor-faktor tersebutantara lain :1) Sejarah/historis :a) U U dan system hukum tertulis yang berlaku pada masa lampau di suatutempat;b) Doku men-dokumen; surat-surat serta keterangan lain dari masa lampau.UU dan system hu kum tertulis yang berlaku pada masa lampau lebihpenting bila dibandingkan dengan dokumen serta surat-surat danketerangan lain pada masa lampau sebab UU dan syst em hukum tertulisitulah yang merupakan hukum yang betul-betul. Sedangkan dokumen , surat-surat dan keterangan lain hanya bersifat mengenalkan hukum yang berlakup ada masa lampau.2) Sosiologis/AntropologisMenyoroti lembaga-lembaga sosial sehin gga dapat diketahui apa yangdirasakan sebagai hukum oleh lembaga-lembaga itu. Be rdasarkanpengetahuan dari lembaga-lembaga sosial itu dapat dibuat materi hukumya ng sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat.Dengan kata lain secara sosiologis, sumber hukum adalah faktor-faktor dalammasyarakat yang ikut m enentukan materi hukum positif. Antara lain :pandangan ekonomis, agamis dan psik ologis.4) Filosofis Ada 2 faktor penting yang dapat menjadi sumber hukum secara filosofis :a) Karena hukum itu dimaksudkan antara lain untuk menciptakan keadilanmaka hal-hal yang secara filosofis dianggap adil dijadikan pula sebagaisumber hukum materiil; b) Faktor-faktor yang mendorong orang tunduk pada hukum. Oleh karenahukum diciptaka n untuk ditaati maka seluruh faktor yang dapatmendukung seseorang taat pada huku m harus diperhatikan dalampembuatan aturan hukum positif, di antaranya adalah fa ktor kekuasaanpenguasa dan kesadaran hukum masyarakat. SUMBER HUKUM FORMIL HUKUM ADMINISTRASI NEGARA Sumber hukum formil adalah sumber hukum materiil yang sudah dibentuk melalui pro ses-proses tertentu, sehingga sumber hukum tadi menjadi berlakuumum dan ditaati berlakunya oleh umum. Ada beberapa sumber hukum formilHukum Administrasi Negara :a) Undang-undang (dalam arti luas);b) Kebiasaan/praktek Alat Tata Usaha Negara;c) Yurisprudensi;d) Doktrin/pendapat para ahli;e) Traktat. Undang-Undang Undang-undang yang dimaksudkan sebagai sumber hukum formil HANadalah Undang-unda ng dalam arti materiil atau UU dalam arti yang luas. Buys menyatakan bahwa yang dimaksud dengan UU dalam arti materiil adalah setiapkeputu san pemerintah yang berdasarkan materinya mengikat langsung setiappenduduk pada suatu daerah. Dengan demikian yang dimaksud dengan UUdalam arti materiil adalah semua peraturan perundang-undangan dari tingkatyang tinggi sampai tingkat yang r endah yang isinya mengikat setiap penduduk.Di Indonesia yang dimaksudkan dengan UU dalam arti materiil atau UU dalamarti yang luas meliputi semua peraturan peru ndang-undangan yang tertuangdalam TAP MPRS No.XX/MPRS/1966 sebagaimana telah dis empurnakan dengan TAP MPR No.II Tahun 2000 mengenai Sumber Hukum dan Tata UrutanPeraturan Perundan g-Undangan, yaitu :1.

UUD 1945;2. Ketetapan MPR;3. UU;4. Peraturan Pemerintah pengganti UU (Perpu);5. Peraturan Pemerintah;6. Keputusan Presidan;7. Peraturan Daerah;8. Dan peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya.Mengenai perundang-undangan ini, pem erintah mengeluarkan UU No.10 Tahun2004 yang mengatur tentang tata urutan perund ang-undangan di Indonesia. Adapun yang dimaksudkan dengan UU dalam arti sempit a tau UU dalamarti fomil adalah setiap keputusan pemerintah yang merupakan UU dise babkanoleh cara terjadinya, jadi dilihat dari segi bentuk. Di Indonesia yang dim aksudkandengan UU dalam arti formil adalah semua keputusan pemerintah yangditeta pkan oleh presiden dengan persetujuan wakil-wakil rakyat. Kebiasaan/Praktek Administrasi Negara Alat Administrasi Negara mempunyai tugas melaksanakan apa yangmenjadi tujuan Un dang-undang dan menyelenggarakan kepentingan umum. Didalam rangka melaksanakan t ugasnya alat Administrasi Negara menghasilkanatau mengeluarkan keputusan-keputus an/ketetapan-ketetapan gunamenyelesaikan suatu masalah konkrit yang terjadi berd asarkan peraturan hukum(Undang-undang dalam arti yang luas atau Undang-undang da lam arti materiil)yang abstrak sifatnya. Keputusan-keputusan alat Administrasi N egara ini seringdikenal dengan istilah beschikking atau UU Peradilan Tata Usaha Negaramenyebutnya dengan istilah Keputusan Tata Usa ha Negara. Di dalammengeluarkan keputusan-keputusan/ketetapan-ketetapan inilah t imbul praktek administrasi negara yang melahirkan Hukum Administrasi Negara kebi asaan atauHAN yang tidak tertulis. Sebagai sumber hukum formil, sering terjadi praktek administrasi negaraberdiri s endiri di samping Undang-undang sebagai sumber hukum formil HAN.Bahkan tidak jar ang terjadi praktek administrasi negara ini dapatmengesampingkan peraturan perun dang-undangan yang telah ada. Hal initerutama terjadi pada suatu negara yang sed ang berkembang dan membangunseperti Indonesia, karena sangat dibutuhkan suatu ge rak cepat dan lincah darialat Administrasi Negara untuk mensukseskan tujuan pemb angunan. Kita sadaribahwa sering kali terjadi pembangunan lebih cepat dari pada lajunya peraturanperundang-undangan yang dibuat olah pemerintah, sehingga kadang -kadanguntuk menyelesaikan masalah konkrit peraturan perundang-undangannya belum ada. Ataupun kalau ada peraturan tersebut sudah tidak sesuai denganperkembangan zaman. Untuk mengatasi keadaan yang demikian ini makakepada alat Administrasi Ne gara diberikan suatu kebebasan bertindak yangsering kita kenal dengan asas freies ermessen atau pouvoir discretionnaire, yaitukebebasan untuk bertindak dengan tidak berdasarkan pada peraturanperundangundangan. Alat Administrasi Negara melaksanakan tugas dan fungsinya berlandaskan pada praktek administrasi negara atau sering dikenal dengan hukum kebiasaanyang telah dilakukan dalam praktek administrasi negara tanpa berdasarkanperaturan per undang-undangan yang telah ada, karena mungkin juga peraturan-peraturan itu suda h ketinggalan zaman sehingga tidak cocok lagi dengankeadaan, situasi dan kondisi pada saat pengambilan keputusan. Oleh karena itudasar dari pengambilan keputusa n untuk menyelesaikan masalah konkrit yangharus dilakukan oleh alat Administrasi Negara yang terdahulu, yang tugas danfungsinya sama. Dengan demikian akhirnya t

indakan atau praktek alat Administrasi Negara terdahulu itu dijadikan sumber huk um bagi tindakan alat Administrasi Negara yang lain. Namun perlu diketahui bahwa keputusan alat Administrasi terdahulu (praktek administrasi negara) yang dapat dijadikansumber hukum formil HAN adalah keputusan yang sudah mempunyai kekuatanh ukum yang tetap.

Peraturan : dibuat untuk menyelesaikan hal-hal yang bersifat abstrak yang belum diketahui sebelumnya dan bersifat umum, dan yangmungkin akan terjadi. Sebagai co ntoh : peraturan (Keputusan) yangmengatur tentang syarat-syarat yang harus dipen uhi oleh pelamarPNS. Di sana tidak bisa disebut satu persatu calon pelamar,melai nkan diperuntukkan bagi semua calon pelamar sebagai PNS,sehingga dikatakan berla ku umum dan bersifat abstrak karena belumdiketahui siapa sajakah nama-nama orang yang berniat melamarsebagai PNS. Akan tetapi perlu diingat bahwa walaupun satu peraturan itu dibuatuntuk menyelesaikan hal-hal yang masih abstrak, tetapi serin gkali perkarakonkrit yang terjadi sebelumnya menjadi sebab maka itu dikeluarkan. Kadang-kadang perbedaan antara keputusan dengan peraturan itutidak jelas, karena produk hukum Alat Tata Usaha Negara yang kita kenaldengan peraturan ini juga be ntuk formalnya merupakan keputusan tapi isinyabersifat mengatur. Apalagi dalam s uatu peraturan yang sifatnya einmalig , yaitusuatu peraturan yang dibuat untuk menyelesaikan suatu perkara konkrit dan setelah penyelesaian itu terlaksana kemudian peraturan itu berhenti berlakutanpa dicabut. Juga perlu diketahui bahwa untuk membedakan apakah suatukeputusan itu merupakan peraturan atau keputusan dalam arti beschikking Philipus M.Hadjon dkk menyatakan bahwa pada umumnya Badan-Badan TUNseperti haln ya departemen, lembaga pemerintah non departemen, pemdatingkat I dan II (sekaran g dengan berlakunya UU No.22 Tahun 1999sebagaimana teleh diubah dengan UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah didaerah disebut dengan pemda Propinsi dan pemda K abupaten/Kota)menetapkan bentuk tertentu yang membedakan keputusan TUN dalam art ibeschikking dengan keputusan yang merupakan peraturan. Keputusan yangmerupakan beschikking disebut dengan judul SK (Surat Keputusan) misalnya :SK Menteri, SK G ubernur dan lain sebagainya. Sedangkan keputusan yang merupakan peraturan yang bersifat umum disebut dengan Keputusan, misalKeputusan Menteri.Di dalam UU Peratun (Pasal 2 huruf a) bentuk hukum peraturan ini dikenal dengan istilah Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yangbersifa t umum.Di samping membuat keputusan dan peraturan Alat Administrasi Negara juga mengeluarkan produk hukum yang dikenal dengan sebutan pseudowetgeving atau peraturan-peraturan kebijakan yang sering juga dikenal dengannama peraturan perundang-undangan semu. Hal ini dilakukan oleh Alat TataUsaha Negara untuk men empuh berbagai langkah kebijaksanaan tertentu.Produk ini tidak terlepas dari kai tan penggunaan asas freies ermessen .Bentuknya bisa berujud Pedoman, Surat Edaran yang mengumumkan kebijakantertentu . Suatu peraturan kebijakan pada hakekatnya merupakan produk dariperbuatan Alat Tata Usaha Negara yang bertujuan menampakkankebijaksanaan/kebebasan bertindak ( freies ermessen ) secara tertulis, namuntanpa disertai kewenangan untuk membuat peraturan dari s i pembuat kebijakantersebut. Sebetulnya Alat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan pseudowetgeving tersebut tidak berhak membuat peraturan, akan tetapi karena adahal-hal konkrit y ang mendesak untuk segera diselesaikan maka lalu dibuat suatukebijaksanaan. Perb edaan antara pseudo wetgeving , yaitu : -

pseudo wetgeiving tidak mengikat secara langsung namunmempunyai relevansi hukum, sedangkan peratur an mengikat secarahukum; pseudo wetgeiving tidak mempunyai sansi yang tegas hanyamempunyai sanksi moral, sedangkan peratura n umumnyamempunyai sanksi tegas; pseudo wetgeiving apabila ada keadaan-keadaan khusus yangmendesak umumnya bisa disimpangi; sedangk an peraturanumumnya tidak bisa disimpangi. Selain itu Alat Administrasi Negara juga sering mengeluarkan produk yangnamanya het plan (rencana) yang dijumpai pada pelbagai bidang kegiatanpemerintahan. Misalnya peng aturan rencana tata ruang kota, rencanaperuntukan tanah, RAPBN, RAPBD dan lain s ebagainya. Rencanamerupakan keseluruhan tindakan yang saling berkaitan dari Alat Administrasi Negara untuk mengupayakan terlaksananya keadaan tertentuyang terti b/teratur. Suatu rencana menunjukkan kebijaksanaan apa yangakan dijalankan oleh Alat Administrasi Negara pada suatu lapangantertentu.Di dalam HAN, yang penting hanya rencana-rencana yangmempunyai kekuatan hukum. Rencana ini dapat dikaitkan dengan stelselperajinan. Ada beberapa rencana pembangunan yang secara langsungbe rakibat hukumbagi warga negara atau badan hukum perdata. Sebagaicontoh : rencana tata rung kota, rencana-rencana detail perkotaan yangdibuat berdasarkan SVO dan SVV mengikat warga kota untuk membangunsecara tidak menyimpang dari pola gambar petunjuk peta-petapengukuran dan petunjuk rencana-rencana detail perkotaan meng ingattiap penyimpangan daripadanya dapat mengakibatkan bangunan yangbersangkutan dibongkar.Perencanaan sebagai tindakan administrasi negara harusmemperhatikan h al-hal yang dikemukakan oleh Bimtoro Tjokroamidjojo,sebagai berikut :a. berorentasikan untuk mencapai tujuan. Tujuan itu dapat bersifatekonomi, politik, sosial budaya, idiologis dan bahkan kombinasi dariberbagai hal tersebut;b. berorientasi pada pelaksanaannya;c. perspektif waktu. Untuk mencapai tujuan tertentu bisa sajadilakukan secara berta hap;d. perencanaan harus merupakan suatu kegiatan kontinyu dan terusmenerus. SYARAT-SYARAT AGAR KEPUTUSAN/KETETAPAN MENJADI SAH Suatu Keputusan/Ketetapan administrasi negara dikatakan sah apabilakeputusan tad i memenuhi syarat untuk diterima menjadi bagian dari ketertibanhukum. Supaya kep utusan AN itu dapat menjadi bagian dari ketertiban hukummaka pembuatannya harus memperhatikan ketentuan-ketentuan HTN dan HAN.Ketentuan dalam HTN menyangkut ten tang kompetensi dan tujuan, sedangkanketentuan dalam HAN menyangkut procedure da lam pembuatan keputusan.Syarat yang harus dipenuhi di dalam pembuatan keputusan AAN (VanderPot), yaitu :a) Dibuat oleh alat yang berwenang/berkuasa;b) Dalam kehendak alat yang berkuasa tidak boleh ada kekurangan yuridis;c) Bentuk keputusan dan tata cara pembuatannya harus sesuai denganperaturan dasarny a;d)

Isi dan tujuan keputusan harus sesuai debngan isi dan tujuan dariperaturan yang menjadi dasarpembuatan keputusan tersebut. Apabila suatu keputusan Admiistrasi N egara dibuat dengan tidak mengindahkan syarat-syarat sahnya suatu keputusan dapa t mengakibatkankeputusan tadi menjadi tidak sah, artinya keputusan tersebut tida k dapatditerima menjadi bagian dari ketertiban hukum. Akan tetapi keputusan yang dibuat dengan tidak mengindahkan syarat sahnya suatu keputusan (keputusanyang me ngandung kekurangan) belum tentu menjadi tidak sah. Karena sahtidaknya suatu kep utusan tergantung pada berat ringannya kekurangan syarattersebut. Bila kekuranga n syarat itu syarat yang esensial (penting) makakeputusan tadi menjadi tidak sah . Akan tetapi kalau kekurangan itu bukanmerupakan syarat yang esensial maka kepu tusan tadi tetap sah. Keputusan/Ketetapan AN harus dibuat oleh alat yangberwenang/berkuasa. Berwenang/berkuasa atau tidaknya Alat Administrasi Negara yangmembuat keputusan ditentukan oleh kategori sebagai berikut :a. Kompetensi/ratione materi: pokok yang menjadi obyek keputusan/ketetapan harus ma suk kompetensi Alat AdministrasiNegara yang membuatnya;b. Batas lingkungan wilayah/ratione loci: tempat/wilayah berlakunyasuatu keputusan; c. Batas wilayah/ratione temporis: jangka waktu berlakunya suatukeputusan;d. Quorum : jumlah anggota yang harus hadir agar keputusan yangdibuat sah. Akan tet api belum tentu keputusan/ketetapan AAN yang dibuat dengantidak mengindahkan kat egori-kategori tersebut menjadi tidak sah. Sah tidaknyasuatu keputusan tadi masi h tergantung pada besarnya obyek yang diatur dalamkeputusan. Sehingga akhirnya y ang dapat menilai sah tidaknya suatu keputusanadalah Alat AN yang lebih tinggi a tau Peradilan Tata Usaha Negara, itupun harusdilihat secara kasuistik.Dalam hal berkuasa/berwenang atau tidaknya Alat AN yang mengeluarkanKeputusan AN terlihat dengan jelas, maka keputusan bisa menjadi batalmutlak/batal dan pembatalannya bisa berlaku surut. Artinya seluruh akibatdari keputusan tadi batal sama sekali dan tuntutan pembatalan bisa dilakukanoleh semua orang. Ajaran kebatalan ini dianalogikan dari hukum perdata. Disamping batalmutlak ada lagi p erbuatan yang bisa batal nisbi artinya permintaan pembatalandari perbuatan itu hanya bisa dituntut oleh orang-o rang tertentu. Juga adakeputusan yang bisa menjadi batal karena hukum, maksudnya bahwa akibatdari keputusan itu untuk sebagian atau seluruhnya bagi huk um dianggap tidak pernah ada tanpa diperlukan suatu pembatalan oleh hakim atau a tasan dari Alat AN yang mengeluarkan keputusan. Apabila Alat AN yang mengeluarkan keputusan di dalam menduduki jabatannya terny ata tidak legal (sah), maka dapat diselesaikan dengan ajaran functionare defait , yaitu doktrin/ajaran yang menyatakan bahwa dalam keadaanmemaksa/istimewa/darur at Alat AN tidak legal atau pengangkatannyamengandung kekurangan (sebagai contoh pengangkatan presiden Habibie olehpresiden Suharto sewaktu presiden Suharto dit untut oleh mahasiswa untuk meletakkan jabatannya), apabila masyarakat umum mener imanya sebagai suatu Alat AN yang legal, maka perbuatan-perbuatan yang dilakukan nya ataukeputusan yang dikeluarkannya adalah sah. Akan tetapi apabila masyarakat tidak menerimanya maka keputusan yang dikeluarkannya tidak sah.Dengan ada keput usan/ketetapan sah dan ada keputusan/ketetapan yangtidak sah. Suatu keputusan/ke tetapan dikatakan tidak sah apabilakeputusan/ketetapan tadi tidak mengandung kek urangan yang esensial ataudapat dikatakan bahwa keputusan adalah sah apabila sud ah diterima sebagaibagian dari ketertiban hukum. Sedangkan keputusan/ketetapan d ianggap tidak sah apabila keputusan tadi mengandung kekurangan yang esensial seh

inggatidak dapat diterima menjadi bagian dari ketertiban hukum. Dalam Kehendak Alat AN yang Berkuasa Tidak Boleh Ada Kekurangan Yuridis Kekurangan yuridis di dalam pembuatan keputusan/ketetapan bisa terjadi kerena:a) Dwaling = salah kirab) Dwang = paksaanc) Bedrog = tipuanKekurangan yuridis ini dianalogikan dari lapangan hukum privat (p erdata). Didalam hukum perdata perbuatan yang dibuat berdasarkan dwaling, dwang danbedrog dapat dibatalkan dan tidak menjadi batal secara mutlak, artinyaperbuatan itu dianggap ada sampai ada pembatalan oleh hakim atau olehpejabat yang berwenang. Akan tetapi di dalam HAN kekurangan yuridis berdasarkan salah kira (dwaling) hanya akan mempengaruhi berlakunya suatukeputus an AN dalam hal salah kira tersebut bertentengan dengan UU ataubertentangan kead aan nyata, misalnya mengenai pokok maksud, kualitas orang.Sebagai contoh : keput usan yang dikeluarkan adalah ijin untuk mengimport 200mobil Hyundai akan tetapi ternyata yang datang 2000 mobil. Penerimaanpegawai yang dipanggil adalah Amin se orang insinyur Kimia, ternyata yangdatang adalah Amin sarjana pendidikan Kimia. Kepututsan yang dibuatberdasarkan salah kira ini pada umumnya dapat dimintakan a gar ditinjau kembaliatau dapat dibatalkan.Keputusan yang dibuat berdasarkan paks aan dapat dibatalkan bahkanpaksaan keras dapat menjadi sebab keputusan tadi bata l demi hukum.Keputusan/ketetapan yang dibuat dengan menggunakan tipuan, sebagai contoh:seorang pengusaha HPH meminta ijin untuk menebang hutan yang di dalamnyat erdapat lebih kurang 20000 pohon jati dan oleh instansi pemberi ijin HPHdikabulk an. Ternyata sebenarnya di dalam hutan tersebut terdapat lebih kurang200000 poho n jati. Di sini bayangkan palsu bagi instansi yang mengeluarkanHPH tentang suatu hal yang akan dimuat dalam keputusan. Tipuan ini dapatmempengaruhi berlakunya k eputusan apabila bertentangan dengankeadaan/kejadian nyata. Bentuk dan Tata Cara Pembuatan Keputusan Harus Sesuai denganPeraturan Dasarnya. Bentuk Keputusan :a) Lisan;b) TertulisKeputusan dapat dibuat secara lisan apabila :1) Tidak membawa akibat yang kekal dan tidak begitu penting didalam HAN;2) Bilamana oleh Alat AN yang mengeluarkan keputusan dikehendakiakibat yang timbul dengan segera. Mengenai bentuk keputusan/ketetapan yang dibuat secara tertulis adabermacam-maca m karena dibuat oleh bermacam-macam alat administrasinegara, bisa alat administr asi di lingkungan pemerintahan dalam arti sempit(eksekutif) bisa juga alat admin istrasi negara dilingkungan pemerintahan dalamarti yang luas. Sebagai contoh UU yang isinya memuat penetapan (UU yangbersifat formil saja tapi materinya tidak m engikat seluruh penduduk), KeputusanPresidan, Keputusan Menteri. Ada peraturan d asar yang memuat secara tegas ketentuan tentangbentuk suatu keputusan. Akan teta pi ada kalanya peraturan dasar daripembuatan keputusan tidak menyebutkan bentuk yang harus diberikan padasuatu keputusan yang akan dikeluarkan. Dalam hal ini pe nyelesaiannya: dengancara melihat praktek administrasi negara yang terdahulu dan juga melihatpentingnya soal yang akan diselesaikan/diselenggarakan oleh keputus an TUNtersebut untuk menentukan bentuk mana yang harus dipakai.Mengenai akibat h ukum dari suatu keputusan yang tidak mengindahkanaturan mengeai bentuk keputusan , Utrecht menyatakan bahwa hal itu harusdilihat apakah kekurangan tersebut essential atau

tidak! Karena suatu keputusandengan bentuk yang salah belum tentu mengurangi sah /tidaknya suatukeputusan. Kranenburg-Vegting mengemukakan bahwa akibat keputusanyang dibuat dengan tidak mengindahkan bentuk hanya batal, bilamanakekurangan yang dinyatakan itu mungkin menjadi sebab maka i si keputusantersebut lain/berbeda dari yang dimaksud atau keputusan tadi menimbu lkankerugian.Cara pembuatan dan cara menjalankan/melaksanakan suatu keputusanbis a juga mempengaruhi berlakunya suatu keputusan. Isi dan Tujuan keputusan harus Sesuai dengan Isi dan Tujuan dariPeraturan yang M enjadi Dasarnya Ada kalanya isi dan tujuan dari suatu keputusan tidak sesuai denganperaturan yan g menjadi dasar dari dikeluarkannya keputusan. Kranenburg- Vegting menyatakan ke putusan yang demikian ini dapat dibentuk :a) tidak ada alasan, yakni suatu peristiwa yang mendasari pembuatankeputusan sepert i yang tertera dalam peraturan dasarnya tidak ada, ataudapat dikatakan tidak ada peristiwa yang mendasari dikeluarkannyakeputusan/ketetapan;b) salah alasan, yakni alasan yang disebutkan sebetulnya untuk keputusan/ketetapan yang lain;c) alasan-alasan yang dikemukakan tidakdapat dipakai atau alasan yangdibuat kurang tepat;d) detournement de pouvoir , sering dikenal dengan istilah penyalahgunaanwewenang, yakni penggunaan wewenan g untuk tujuan lain dari maksuddiberikannya wewenang tersebut. Detournement de pouvoir sering terjadi sebagai akibat dari suatu freiesermessen yang disalahgunakan.Suat u perbuatan Alat TUN yang merugikan individu dapat dibatalkanberdasarkan dua (2) macam alasan, yakni bertentangan dengan hukum danbertentangan dengan kepentinga n umum. Pembatalan perbuatan Alat TUN/ANyang bertentangan dengan hukum dapat dim intakan pembatalan melaluipengadilan/hakim. Pembatalan alat TUN/AN yang bertenta ngan dengankepentingan umum tidak bisa dimintakan pembatalan lewat pengadilan, k arenaberdasarkan ajaran Trias Politica penilaian mengenai bertentangan tidaknyad engan kepentingan umum itu merupakan wewenang dari pihak eksekutif,sehingga yang berhak menilai juga eksekutif, fihak yudikatif tidak bolehmencampuri wewenang e ksekutif. Oleh karena pertimbangan bertentanangantidaknya perbuatan AAN dengan k epentingan umum itu merupakankebijaksanaan, maka yang bisa menilai adalah AAN ya ng lebih tinggi. Sekarangini berdasarkan ketentuan UU Peratun perbuatan AAN yang masuk dalam klasifikasi detournement de pouvoir bisa dibawa ke Peratun karena perbuatan detournement de pouvoir masuk klasifikasi bertentangan dengan hukum. Kekuatan Hukum Suatu Keputusan/Ketetapan Apabila suatu keputusan sudah sah atau dianggap sah, maka keputusantadi mempuny ai kekuatan hukum, artinya keputusan itu dapat mempengaruhipergaulan hukum. Keku atan hukum suatu keputusan dapat berwujud kekuatanhukum formil dan kekuatan huku m materiil.Suatu keputusan dikatakan mempunyai kekuatan hukum formil, apabilakep utusan tadi sudah tidak bisa dibantah lagi oleh suatu alat hukum biasa. Alathuku m biasa yaitu suatu alat hukum yang hanya dapat digunakan dalam suatu jangka wak tu tertentu untuk mengadakan banding terhadap suatu keputusan.Sebagai contoh : suatu keputusan harus disetujui atau dimintakan banding padaatasan sebelum mulai diberlakukan. Maka sejak keputusan itudikuatkan atau disetujui oleh atasan,kepu

tusan itu mempunyaikekuatan hukum formil; apabila ditentukan banding dalam jangka waktu tertentu, tetapi jangka waktu untu k banding tidak digunakan dan waktu bandingsudah terlampaui, maka sejak lampau w aktu banding itu keputusanmempunyai kekuatan hukum formil; apabila tidak memerlukan persetujuan dari atasan, maka sejak dikeluarkan keputus an itu telah mempunyai kekuatan hukum formil; apabila harus banding dan permohonan banding ditolak, maka sejak penolakan bandi ng keputusan tadi mempunyai kekuatan hukumformil.Kekuatan hukum formil dapat dib antah dengan alat hukum luar biasa, karenaalat hukum luar biasa tidak terikat ol eh jangka waktu tertentu untuk memohonbanding, yaitu apabila dalam hal nyata-nya ta keputusan tadi mengandungkekurangan yuridis yang dapat membahayakan ketertiba n umum atau keputusan tadi tidak lagi sesuai dengan keadaan nyata. Di dalam hal ini instansi tertinggi yang berhak membatalkannya. AAN atau instansi pembuat keputusan juga dapatmemban tah dengan kekuatan hukum formil, dalam hal dikemudian hari ternyatadiketahui ba hwa keputusan itu mengandung kekurangan yang esensial. Akantetapi apabila keputu san/ketetapan tidak mengandung kekurangan yang esensialalat administrasi yang me mbuatnya tidak dapat membantah/menarik kembali.Hal ini untuk menjaga kepastian h ukum dari keputusan/ketetapan tadi.Dengan demikian perbedaan antara alat hukum b iasa dan alat hukum luarbiasa, yakni alat hukum biasa terikat oleh jangka waktu tertentu untuk membantah berlakunya suatu keputusan/ketetapan. Sedangkan alat hu kum luarbiasa tidak terikat oleh jangka waktu tertentu dalam membantah berlakuny asuatu keputusan/ketetapan.Ketentuan hukum materiil yakni pengaruh yang dapat di timbulkan karenaisi atau materi keputusan tersebut. Suatu keputusan dikatakan me mpunyaikekuatan hukum materiil, apabila keputusan tadi sudah tidak dapat dibanta h lagioleh AAN yang membuatnya, sehingga suatu keputusan yang sudah mempunyaikek uatan hukum materiil dapat mempengaruhi pergaulan hukum, olehkarenanya dapat dit erima pula sebagai bagian dari ketertiban hukum.Pada dasarnya, karena keputusan/ ketetapan itu adalah merupakanperbuatan hukum sepihak (bersegi satu) maka keputu san itu dapat ditarik kembali oleh alat administrasi yang membuatnya tanpa memer lukan persetujuandari pihak yang dikenai keputusan. Akan tetapi untuk menjaga ke pastian hukum,apabila tidak sangat perlu dan tidak mengandung kekurangan makakep utusan/ketetapan tidak dapat ditarik kembali.Prins mengemukakan ada enam (6) asa s yang harus diperhatikan olehalat administrasi negara dalam menarik kembali sua tu keputusan/ketetapan yangtelah dikeluarkan, yakni :1. suatu keputusan/ketetapan yang dibuat karena yang berkepentinganmenggunakan tipu an, dapat ditiadakan sejak semula; 2. keputusan yang isinya belumdiberitahukan padayang bersangkutanmaksudnya pihak ad ministrable atau pihak yang dikenai keputusan;3. suatu keputusan yang diberikan kepada pihak administrable dengansyarat-syarat te rtentu tapi administrable tidak memenuhi syarat-syarat yangditentukan;4. suatu keputusan yang bermanfaat bagi administrable tidak boleh ditarik kembali s etelah jangka waktu tertentu terlewati;5. tidak diperbolehkan kembali menarik keputusan yang akan membawakerugian yang leb ih besar bagi administrable dibandingkan dengan kerugianyang diderita negara;6.

menarik kembali/mengubah suatu keputusan harus diadakan menurutacara/formalitei seperti yang ditentukan dalam peraturan dasar dari pembuatankeputusan tersebut. MACAM-MACAM KEPUTUSAN/KETETAPAN ADMINISTRASI NEGARA Keputusan/Ketetapan Positif Keputusan/ketetapan yang demikian ini adalah suatu keputusan yangmenimbulkan kea daan hukum baru bagi pihak yang dikenai keputusan. Akibat-akibat yang timbul den gan dikeluarkannya keputusan/ketetapan positif dapatdiklasifikasikan menjadi lim a (5) golongan, yaitu :1. Keputusan/ketetapan yang melahirkan keadaan hukum baru bagi pihak yang dikenai k eputusan. Contoh : Keputusan pemberian Izin UsahaPerdagangan;2. Keputusan/ketetapan yang mengakui keadaan hukum baru bagi obyek tertentu. Contoh : keputusan mengenai perubahan status PerguruanTinggi di dalam akreditasi dari B ke A;3. Keputusan/ketetapan yang menyebabkan berdirinya atau bubarnya suatubadan hukum. Contoh keputusan Menteri Kehakiman dan HAM yangmenyetujui AD dari sebuah PT sehi ngga menjadi badan hukum; 4. Keputusan/ketetapan yang memberikan hak-hak baru kepada pihak yangdikenai keputu san/ketetapan. Contoh : pemberian SK pengangkatan PNS;5. Keputusan/ketetapan yang membebankan kewajiban baru kepada pihak yang dikenai ke putusan/ketetapan. Contoh : Keputusan mengenaipenetapan wajib pajak; Keputusan/Ketetapan Negatif Yaitu suatu keputusan/ketetapan yang tidak merubah keadaan hukumtertentu yang t elah ada bagi pihak administrable . Keputusan negative dapatberupa pernyataan : Tidak berkuasa/tidak berhak; Tidak diterima; Penolakan. Keputusan Deklaratour Yaitu suatu keputusan yang menyatakan hukum, mengakui suatu hak yang sudah ada , menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat diberikan haknyakarena sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Keputusan iniadalah hasil perbuatan AAN un tuk melaksanakan ketentuan UU ke dalamperistiwa konkrit. Keputusan deklaratour i ni sering juga disebut hukum inconcreeto, yaitu hukum yang mengatur hal yang nyata , hanya berlaku padaorang-orang tertentu/menyebut seseorang saja yakni yang nama nya tercantumdalam keputusan. Sebagai contoh : di dalam HO, ditentukan barangsia pa yangakan mendirikan bangunan untuk industri dan diperkirakan akan mengganggul ingkungan sekitarnya dalam radius 200m, diharuskan untuk memperoleh ijinHO. Pak Salim yang akan mendirikan pabrik tobong gamping meminta ijin HO,kemudian oleh a parat yang berwenang dikeluarkan keputusan mengenai ijin HOuntuk mendirikan pabr ik tobong gamping untuk Pak Salim. Keputusan inimerupakan keputusan deklaratour. Keputusan Konstitutif Yaitu suatu keputusan yang melahirkan keadaan hukum baru bagi pihak yang diber i keputusan, sering disebut dengan keputusan yang membuat hukum. Keputusan ini pada umumnya dikeluarkan dengan menggunakan kebijaksanaanyang dipu nyai oleh AAN (Freis Ermessen) dan tidak terlalu terikat pada peraturanPerundang an-undangan.

Keputusan Kilat W.F Pins menyebutkan ada 4 jenis keputusan ini, yaitu: Keputusan yang bermaksud merubah teks/redaksi keputusan yan lama; Keputusan negatif. Keputusan semacam ini tidak merupakan halanganbagi AAN untuk mengeluarkan keputusan lagi bila keadaan telah berubah; Keputusan yang menarik kembali atau membatalkan keputusan lama.Keputusan ini tid ak merupakan rintangan bagi AAN untuk membuatkeputusan serupa dengan keputusan y ang ditarik kembali/dibatalkan; Keputusan yang mengandung pernyataan bahwa sesuatu bolehdilaksanakan. Keputusan Tetap Yaitu suatu keputusan yang masa berlakunya untuk waktu sampaidiadakan perubahan /penarikan kembali. Keputusan Intern Yaitu suatu keputusan yang hanya berlaku untuk menyelenggarakanhubungan-hubunga n ke dalam lingkungan AAN sendiri. Keputusan Ekstern Yaitu suatu keputusan yang dibuat untuk menyelenggarakan hubungan-hubungan anta ra alat administrasi yang membuatnya danganswasta/administrable atau anatara dua /lebih AAN. Dispensasi Yaitu suatu keputusan yang meniadakan berlakunya peraturanperundang-undangan un tuk suatu persoalan istimewa. Tujuan dari penerbitandispensasi adalah agar seseo rang dapat melakukan suatu perbuatan hukumdengan menyimpang dari syarat-syarat y ang telah ditentukan dalam UU. Ijin Yaitu keputusan yang isinya memperbolehkan suatu perbuatan yang padaumumnya dila rang oleh peraturan perundang-undangan, akan tetapi masihdiperkenankan asal saja diadakan seperti yang ditentukan untuk masing-masinghal yang konkrit. Sebagai c ontoh : ada suatu peraturan yang menyatakandilarang mendirikan bangunan tanpa ij in. Kemudian ada seseorang yang akanmendirikan lalu minta keputusan/ijin untuk m endirikan bangunan. Keputusanyang dikeluarkan aparat ini dinamakan ijin. Lisensi Adalah suatu keputusan yang isinya merupakan ijin untuk menjalankansuatu perusa haan. Konsesi Yaitu suatu keputusan yang isinya merupakan ijin bagi pihak swasta untuk menyel enggarakan hal-hal yang penting bagi umum. Buku Sumber : Faried Ali, Drs, SH, Msc, 1996, Hukum Tata Pemerintahan dan Proses Legislatif Indonesia , Raja Grafindo Persada, Jakarta; Ibrahim R, SH, M.H, 1997, Prospek BUMN dan Kepentingan Umum ,Citra Aditya Bakti, Bandung; -

Marbun, SF, dkk, 2001, Dimensi-Dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara, UII Press, Yogyakarta; Marbun, SF, 1988, Peradilan Tata Usaha Negara , Liberty, Yogyakarta; Muchsan, SH, 1981, Peradilan Administrasi Negara, Liberty , Yogyakarta; Philipus M. Hadjon, et al, 1993, Pengantar Hukum AdministrasiIndonesia , Gadjah Mada University Press, Yogyakarta; Prajudi Atmosudirdjo, Prof., Dr, Mr, 1983, Hukum AdministrasiNegara , Ghalia Indonesia, Jakarta; Utrecht, E, 1986, Pengantar Hukum Administrasi Negara , PustakaTinta Mas, Surabaya; Victor Situmorang, SH, 1989, Dasar-dasar Hukum AdministrasiNegara , Bina Aksara, Jakarta;BAB IV ASAS-ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK Alat admini strasi negara adalah merupakan subyek hukum di dalam HAN.Sebagai subyek hukum di dalam HAN yang mempunyai tugas dan wewenanguntuk menyelenggarakan kepentingan u mum. Di dalam melakukan tindakanuntuk menyelenggarakan kepentingan umum ini AAN harus mengindahkan asas-asas yang berlaku di dalam HAN. Asas-asas ini sering dik enal dengan sebutanasas-asas umum pemerintah yang baik. Tindakan AAN yang didasa rkan padaasas-asas umum pemerintahan yang baik ini dalam lapangan HAN sangatdipe rlukan, mengingat kekuasaan negara mempunyai wewenang yang istimewadi dalam rang ka penyelenggaraan kesejahteraan dan kepentingan umum sangatluas. Apalagi Indone sia sebagai negara hukum yang berorientasi pada negara kesejahteraan (Welfare State), intensitas campur tangan negara dalamkehidupan ma syarakat semakin berkembang, sehingga peranan HAN semakindominant dan penting. D i dalam menjalankan tugas dan fungsinya ini denganasas kebebasan bertindak ( freies ermessen ) yang dipunyainya seringkali terjadiperbuatan AAN yang menyimpang dari hukum ya ng berlaku yang tendensinyabisa mengakibatkan kerugian pada warga masyarakat. De ngan demikiankebutuhan terhadap perlindungan hukum pun semakin diperlukan. Perli ndunganhukum itu tidak saja diperlukan untuk warga negara dari tindakan-tindakan AAN,akan tetapi juga diperlukan oleh AAN, akan tetapi juga diperlukan oleh AANd alam menjalankan tugasnya.Untuk mengingatkan perlindungan hukum yang lebih baik bagi wargamasyarakat maka tindakan-tindakan AAN, diperlukan perangkat hukum seba gaitolok ukurnya. Hukum yang dimaksud di sini adalah hukum yang tertulis yangber bentuk ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan maupun hukumyang tidak t

ertulis. Di dalam hukum yang tidak tertulis, asas-asas umum yangbaik memegang pe ranan yang sangat penting. Dengan mengindahkan asas inidimungkinkan tidak terjad inya penyalahgunaan wewenang, jabatan ataukekuasaan atau seringkali dikenal deng an istilah detournement de pouvoir. Di Nederland pada tahun 1950 oleh Panitia De Monchy telah dibuat suatulaporan me ngenai asas-asas umum pemerintah yang baik yang dinegara Belandayang dikenal den gan istilah Algemene Beginselen van Behoorlifk Bestuur (ABBB).Ketentuan-ketentua n dalam asas-asas umum pemerintahan yang baik ini dapatdijadikan dasar untuk min ta banding terhadap keputusan-keputusan yang telahdiambil oleh badan-badan pemer intahan. Dengan demikian asas-asas umumpemerintahan yang baik dapat digunakan se bagai landasan banding dan ataudasar pengujian terhadap suatu keputusan/ketetapa n administrasi negara. Setiap AAN dalam menjalankan tugas dan fungsinya, terutam a dalam pelaksanaan asasfrieies ermessen harus senantiasa memperhatikan asas-asa s umumpemerintahan yang baik, walaupun ABBB ini merupakan norma-norma maupunatur an-aturan hukum yang tidak tertulis. Asas-asas umum pemerintahan yang baik (ABBB) yang telah memperolehtempat yang la yak dalam peraturan perundang-undangan dan yurisprudensi diNeederland dan dikemb angkanoleh teori ilmu hukum yang diakui oleh Prof.Kuntjoro Purbopranoto antara l ain tiga belas (13) asas, yakni :1. Asas kepastian hukum ( principle of legal security );2. Asas keseimbangan ( principle of proportionality );3. Asas kesamaan dalam mengambil keputusan ( principle of equality );4. Asas bertindak cermat ( principle of carefulness );5. Asas motifasi untuk setiap keputusan ( principle of motivation );6. Asas jangan mencampuradukkan kewenangan ( principle of non misure of competence );7. Asas permainan yang layak ( principle of fair play );8. Asas keadilan atau kewajaran ( principle of reasonableness or prohibitionof arbritariness );9. Asas menanggapi pengharapan yang wajar ( principle of meeting raisedexpectation );10. Asas meniadakan akibat-akibat suatu keputusan yang batal ( principle of undoing the consequences of annulled decicion

);11. Asas perlindungan atas pandangan hidup ( principle of protecting thepersonal way of life );12. Asas kebijaksanaan ( sapientia );13. Asas penyelenggaraan kepentingan umum ( principle of public servis ). Asas-asas tersebut berpangkal tolak dari teori-teori hukum danyurisprudensi s erta norma-norma yang hidup dalam masyarakat. Untuk ituberlakunya asas-asas umum pemerintahan yang baik ini di Indonesia harusdiselesaikan dengan falsafah Panca sila dan UUD 1945, dan juga tampaknya UUPeratun sudah mengakuinya dengan mencant umkan dalam rumusan ketentuanpasal 53 ayat 2 UU Peratun beserta penjelasannya ya kni mengenai alasan-alasanpengajuan gugatan ke Peratun yang sekaligus dipakai se bagai dasar pengujian oleh hakim untuk memutuskan sengketa administrasi negrara dengan wargamasyarakat atau badan hukum perdata. Asas Kepastian Hukum Asas ini menghendaki agar di dalam mengeluarkan keputusan ataumembuat suatu pen etapan apabila telah memenuhi syarat baik formil maupunmateriil tidak berlaku su rut dan tidak dicabut kembali, karena hal itu dapatmengakibatkan ketidakpercayaa n warga masyarakat terhadap AAN. Sehinggasuatu keputusan/ketetapan yang dikeluar kan oleh AAN, yang di dalam UUPeratun dikenal dengan istilah KTUN harus mengandu ng kepastian dandikeluarkan tidak untuk dicabut kembali, bahkan sekalipun keputu san itumengandung kekurangan. Oleh karena itu pada asasnya setiap KTUN harusdian ggap benar menurut hukum dan karenanya dapat dilaksanakan demikepastian hukum se lama belum dibuktikan sebaliknya sehingga akhirnyadinyatakan bersifat melawan hu kum oleh PTUN.Dalam suatu surat keputusan sering disertai clausula yang berbunyi apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam surat keputusan ini,m aka surat keputusan ini akan ditinjau kembali sebagaimana mestinya. Seharusnya de mi kepastian hukum suatu surat keputusan yang telah dikeluarkanbukan untuk ditar ik kembali. Menurut SF Marbun clausula yang dimuat dalamsuatu keputusan tersebut adalah mubadzir dan berlebihan, peninjauan kembalibaru dapat dilaksanakan apabi la ada pihak yang menggugat dan pengadilanmemutuskan untuk mencabut setelah dila kukan pengujian oleh hakim. Namunmenurut Prins , seperti telah dikemukakan di dalam bahasan mengenai kekuatanhukum suatu keputu san, apabila UU tidak dengan tegas melarang penarikankembali keputusan tersebut, maka penarikan baru dapat dilakukan setelahmempertimbangkan enam (6) asas pada BAB III dalam pembahasan mengenaiKekuatan Hukum Suatu Keputusan. Asas Keseimbangan Asas ini bertitik tolak dari ajaran keseimbangan antara hak dan kewajibanyang pa da hakekatnya menghendaki terciptanya keadilan menuju kepadakehidupan yang damai . Wiarda mengemukakan bahwa di dalam penerapanasas keseimbangan ini harus diperhatikan du a (2) syarat, yaitu :1. Adanya keseimbangan antara kepentingan yang dibina oleh aparaturpemerintah/nega ra dengan kepentingan yang dilanggar;2. Adanya keseimbangan antara sesuatu persoalan dengan penyelesaianpersoalan-perso alan yang sama.Syarat-syarat di atas memberikan pengertian bahwa dilapangan huku madministrasi negara perlu diciptakan keseimbangan kepentingan aparaturpemerinta

h/negara dalam penyelenggaraan tugas-tugasnya dengan kepentinganpihak administra ble yang menanggung akibat hukum yang ditimbulkan olehperbuatan aparatur pemerin tah/negara baik dalam bentuk kerja sama(perbuatan dua pihak) maupun akibat tinda kan hukum sepihak. Contoh konkrit didalam hukum kepegawaian, seharusnya tindakan -tindakan disiplin yangdijatuhkan oleh atasan terhadap kesalahan dan kelalaian p egawai bawahannyaharuslah seimbang, oleh karenanya antara kesalahan yang dilakuk an denganhukuman disiplin yang dijatuhkan harus ada keseimbangan. Asas Kesamaan Dalam Mengambil Keputusan Asas ini menghendaki bahwa terhadap kasus yang sama atau fakta-faktayang sama s ebaiknya diambil tindakan-tindakan yang sama pula, atau dengankata lain tidak bo leh ada diskriminasi (pandang bulu) dalam mengambilkeputusan. Pelaksanaan asas i ni di Indonesia juga harus dikaitkan denganketentuan Pasal 27 UUD 1945.Perlu kit a ketahui ingat juga bahwa keputusan/ketetapan itu oleh alatadministrasi negara dibuat untuk menyelesaikan hal-hal konkrit yang sifatnyakasuistik. Namun demikia n apabila alat administrasi negara akan membuat ataumengeluarkan keputusan/ketet apan yang kasusnya sama atau hampir sama, semestinya keputusan/ketetapan yang dikeluarkan hendaknya janganbertentangan sif atnya. Asas Bertindak Cermat Asas ini ketelitian dari aparatur pemerintah/negara di dalam melakukansuatu per buatan, terutama di dalam melakukan perbuatan hukum karenaperbuatan hukum ini se lalu menimbulkan akibat hukum bak itu berupa hak maupun kewajiban bagi dirinya s endiri sebagai subyek hukum maupun pihak lainyakni pihak administrable. Oleh kar enanya pemerintah senantiasa diharapkanbertindak dengan hati-hati agar tidak men imbulkan kerugian pada wargamasyarakat. Asas Motivasi Asas ini menghendaki bahwa dalam setiap keputusan/ketetapan yangdibuat dan dike luarkan oleh alat administrasi negara haruslah mempunyaimotivasi/alasan yang cuk up sebagai dasar pertimbangan yang dimuat padabagian konsideran dari sebuah kepu tusan yang dikeluarkan. Motivasi atau alasanyang dipakai sebagai dasar pertimban gan dikeluarkannya sebuahkeputusan/ketetapan hendaknya benar dan jelas. Oleh kar ena itu adanya asasmotivasi ini diharapkan dapat membuat pihak yang dikenai kepu tusan(administrable) memperoleh pengertian yang cukup dan jelas atas keputusanya ng dijatuhkan kepadanya. Dengan demikian apabila pihak administrablemerasa tidak puas terhadap keputusan yang dijatuhkan kepadanya, ia dapatmengajukan banding a tau membawa masalahnya ke peradilan administrasinegara guna mencari dan memperol eh keadilan. Asas Larangan Untuk Mencampuradukkan Kewenangan atauPenyalahgunaan Wewenang ( Detournement De Pouvoir/Exes DePouvoir ) Asas ini memberikan petunjuk bahwa pejabat pemerintah atau alatadministrasi nega ra tidak boleh bertindak atas sesuatu yang bukan merupakanwewenangnya atau menja di wewenang pejabat atau badan lain. Dengandemikian apabila suatu instansi pemer intah atau pejabat pemerintah atau alatadministrasi negara diberi kekuasaan untu k memberikan keputusan tentangsuatu kasus (masalah konkrit), maka keputusan yang dibuat tidak bolehdigunakan untuk maksud-maksud lain terkecuali untuk maksud da n tujuan yangberhubungan dengan diberikannya kekuasaan/wewenang tersebut. Detournement De Pouvoir ini dapat juga timbul karena asas kebebasan bertindak (freis ermessen) yang dipu nyai oleh alat administrasi negara dalam menjalankantugas dan fungsinya. Asas Permainan Yang Layak Asas memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada rakyat untuk mencari kebe naran dan keadilan sebelum aparatur negara/pemerintahmengambil suatu keputusan a tau menjatuhkan suatu ketetapan. Apabila asas iniditerapkan dalam kepegawaian mi salnya dalam penjatuhan disiplin, makaseorang pegawai negeri sipil yang akan dij atuhi hukuman disiplin seharusnyasebelum hukuman disiplin dujatuhkan ia diberi k esempatan untuk membela diriterlebih dahulu. Asas Keadilan dan Kewajaran

Prinsip dalam asas ini menyatakan bahwa bertindak secara sewenang-wenang atau ti dak layak dilarang. Oleh karena itu alat administrasinegara/aparatur negara/apar atur pemerintah dalam mengambilkeputusan/ketetapan tidak boleh melampoi batas ke adilan dan kewajaran apabilaada AAN yang bertindak bertentangan dengan asas ini maka keputusannyadapat dibatalkan dengan alasan tindakannya dilakukan dengan sew enang-wenang. Dengan demikian asas ini menuntut ditegakkannya aturan hukum agart idak terjadi kesewenang-wenangan. Asas Menanggapi Pengharapan Yang Wajar Asas ini mendorong alat administrasi negara dalam melakukanperbuatannya terutam a perbuatan yang menimbulkan akibat hukum selalumemperhatikan harapan-harapan ya ng timbul dalam masyarakat atau pihak administrabel. Asas ini di Nederland telah diberlakukan dengan ketentuan bahwatindakan-tindakan yang dilakukan alat admini strasi negara hendaknyamenimbulkan harapan-harapan pada warga masyarakat. Apabil a aparatpemerintah yang ada yang bertindak bertentangan dengan asas ini, makakep utusan yang dikeluarkan dapat dibatalkan. Asas Meniadakan Akibat-akibat Suatu Keputusan Yang Batal Asas ini menghendaki bahwa apabila ada suatu keputusan yangdibatalkan oleh lemb aga banding ataupun oleh pengadilan, maka akibat darisuatu keputusan/ketetapan y ang batal tadi harus ditiadakan. Oleh karenanyaasas ini menghendaki alat adminis trasi negara/aparatur pemerintah agar didalam melakukan perbuatan hukum yang dil akukannya apabila dibatalkan dalaminstansi banding maupun dibatalkan oleh pengad ilan yang berwenang, ia harusmenerima resiko untuk mengembalikan hak-hak dari pi hak yang dirugikan olehperbuatannya. Asas Perlindungan Atas Pandangan Hidup Asas ini menghendaki agar warga masyarakat mempunyai hak ataskehidupan pribadin ya dan alat administrasi negara/aparatur negara/aparaturpemerintah dalam menjala nkan tugasnya harus menghormati dan melindungihak-hak tersebut. Di Indonesia pel aksanaan hak atas pandangan hidup ini harusdisesuaikan dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945 beserta peraturanperundang-undangan lainnya. Asas Kebijaksanaan Maksud dari asas ini, yakni bahwa alat administrasi negara dalam segalatindakann ya harus senantiasa berpandangan luas dan dapat memandang jauh kedepan serta dap at menghubungkan tindakan-tindakan yang dilakukan dalampelaksanaan tugasnya itu dengan gejala-gejala yang ada di dalam masyarakat. Alat administrasi negara juga harus dapat memperhitungkan segala akibat daritindakannya itu dari hal-hal yang akan muncul di kemudian hari. Asas ini perlu,apalagi di negara-negara yang seda ng membangun seperti Indonesia, karenadengan asas kebijaksanaan ini alat adminis trasi negara akan dapat berbuatsecara cepat dan tepat dengan tidak melanggar asa s-asas umum pemerintahanyang baik lainnya. Asas Penyelenggara Kepentingan Umum Penyelenggaraan kepentingan umum adalah merupakan tugas yangpaling pentig dari a lat administrasi negara/aparatur pemerintah. Kepentinganumum meliputi seluruh ke pentingan nasional dalam arti kepentingan bangsa,negara dan masyarakat. Maksud d ari asas ini yaitu bahwa segala tindakan alatadministrasi negara harus dilakukan berdasarkan kepentingan umum. Olehkarena itu didalam menjalankan tugas dan wewe nangnya, alat administrasinegara harus mendahulukan kepentingan umum diatas kepe ntingan pribadi dangolongan.Di Nederland berlekunya asas-asas umum pemerintahan yang baik tersebut telah diakui eksistensinya dalam peraturan perundang-undangan . Asasyang telah mendapat tempat yang jelas ini antara lain:a. Asas kesamaan di dalam mengambil keputusan;b. Asas menanggapi pengharapan yang wajar;c. Asas kepastian hukum;d.

Asas kecermatan;e. Asas motivasi; danf. Asas larangan de tournement de povoir. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan ketentuan UU No. 5 Tahun 1986tentang Peratun khususnya pasal 53 ayat 2, dasar pengujian oleh pengadilanterhadap keputusan/ke tetapan administrasi negara (KTUN) yang digugat adalah:a. Bertentangan dengan peraturan perundang-undanganb. Dibuat dengan menggunakan de tournement de povoir; danc. Dibuat dengan sewenang-wenang.Namun demikian, harus kita ingat bahwa di dalam UU yang mengaturtentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman, dinyatakan bahwapengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili suatu perkaray ang diajukan dengan dalih bahwa hukumnya tidak ada atau hukumnya kurang jelas, s ehingga seorang hakim wajib memeriksa dan mengadili setiap perkarayang diajukan kepadanya. Di dalam memeriksa dan mengadili perkara yangdiajukan kepadanya, seor ang hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajibmenggali, mengikuti dan memaha mi nilai-nilai hukum yang hidup dalammasyarakat.Di samping itu ada suatu yurispr udensi Pengadilan TUN Surabaya No.03/TUN/1991/PTUN/SBY, yang menjadikan asas-asa s umum pemerintahan yangbaik sebagai dasar pengujian oleh hakim. Di dalam Juklak Mahkamah Agung RItanggal 24 Maret 1992 No. 052/Td/TUN/III/92 dinyatakan bahwa d alam hal ini,hakim mempertimbangkan adanya asas-asas umum pemerintahan yang baik sebagai alasan pembatalan, maka hal tersebut tidak perlu dimasukkan dalamdiktum putusan, melainkan cukup dalam pertimbangan putusan denganmenyebutkan asas mana dari asas-asas umum pemerintahan yang baik yangdilanggar dan akhirnya harus men gacu pada ketentuan pasal 53 ayat 2 Peratun. Buku Sumber: Faried Ali, Drs, SH, Msc, 1996, Hukum Tata Pemerintahan dan Proses Legislatif Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta; Marbun, SF, dkk, 2001, Dimensi-Dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara, UII Press, Yogyakarta; Marbun, SF,1988, Peradilan Tata Usaha Negara, Liberty, Yogyakarta; Muchsan, 1982, Pengantar Hukum Administrasi Negara, Liberty, Yogyakarta; Philipus, M. Hadjon, et al, 1993, Pengantar Hukum AdministrasiIndonesia,

Gadjahmada University Pess, Yogyakarta; Prajudi Atmosudirdjo, Prof. Dr,1983, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta; BAB V PERADILAN TATA USAHA NEGARA BAHAN KULIAH HAN Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document Report this document? Please tell us reason(s) for reporting this document Spam or junk Porn adult content Hateful or offensive If you are the copyright owner of this document and want to report it, please fo llow these directions to submit a copyright infringement notice. Report Cancel This is a private document. Info and Rating Reads: 2,069 Uploaded: 11/02/2011 Category: Uncategorized. Rated: Copyright: Attribution Non-commercial Attribution_noncommercial Follow Dani Caw Dani Caw Sections show allcollapse prev * * * * * * * * * * * * * * * * * *

next

BAB I PENDAHULUAN Tata Usaha Negara Indonesia. Wirjono Prodjodikoro memakai istilah Hukum Tata Usaha Pemerintah. Prajudi Atmasudirdjo memakai istilah Pengertian Hukum Administrasi Negara 3) Hikum Administrasi Negara dalam arti sempit : hukum tata 4) Hukum Administrasi Pembangunan : mengatur campur tangan 5) Hukum Administrasi Lingkungan : mengatur campur tangan PENGERTIAN ALAT ADMINISTRASI NEGARA, PEMERINTAH DAN APARAT PEMERINTAH RUANG LINGKUP HUKUM ADMINISTRASI NEGARA KEDUDUKAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA DALAM LAPANGAN HUKUM HUBUNGAN ANTARA HUKUM ADMINISTRASI NEGARA DAN HUKUM TATA NEGARA Kranenburg, Prins dan Prajudi Atmosudirdjo menyatakan bahwa Buku Sumber : SUMBER HUKUM MATERIIL HAKUM ADMINISTRASI NAGARA SUMBER HUKUM FORMIL HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Undang-Undang Kebiasaan/Praktek Administrasi Negara Yurisprudensi Doktrin/Pendapat para ahli HAN SUBYEK HUKUM ADMINISTRASI NEGARA Pegawai Negri Jabatan Jawatan, Dinas dan BUMN/BUMD Daerah-daerah Swapraja dan Swatantra (Daerah Kabupaten/Kota dan Provinsi) Negara BAB III BENTUK-BENTUK HUKUM PERBUATAN ADMINISTRASI NEGARA PENGERTIAN PERBUATAN ALAT ADMINISTRASI NEGARA Substansi dari perbuatan alat administrasi negara adalah tiap-tiap MACAM-MACAM PERBUATAN ALAT ADMINISTRASI NEGARA KEPUTUSAN/KETETAPAN ADMINISTRASI NEGARA SYARAT-SYARAT AGAR KEPUTUSAN/KETETAPAN MENJADI SAH Keputusan/Ketetapan AN harus dibuat oleh alat yang Dalam Kehendak Alat AN yang Berkuasa Tidak Boleh Ada Kekurangan Yuridis Bentuk dan Tata Cara Pembuatan Keputusan Harus Sesuai dengan Peraturan Dasarnya Isi dan Tujuan keputusan harus Sesuai dengan Isi dan Tujuan dari Kekuatan Hukum Suatu Keputusan/Ketetapan MACAM-MACAM KEPUTUSAN/KETETAPAN ADMINISTRASI NEGARA Keputusan/Ketetapan Positif Keputusan/Ketetapan Negatif Keputusan Deklaratour Keputusan Konstitutif Keputusan Kilat Keputusan Tetap Keputusan Intern Keputusan Ekstern Dispensasi Lisensi Konsesi Asas Kepastian Hukum Asas Kesamaan Dalam Mengambil Keputusan Asas Bertindak Cermat Asas Motivasi Asas Larangan Untuk Mencampuradukkan Kewenangan atau Asas Permainan Yang Layak Asas Keadilan dan Kewajaran Asas Menanggapi Pengharapan Yang Wajar Asas Meniadakan Akibat-akibat Suatu Keputusan Yang Batal Asas Perlindungan Atas Pandangan Hidup Asas Penyelenggara Kepentingan Umum Buku Sumber:

Share & Embed Related Documents PreviousNext 1. p. p. p. 2. p.

p. p. 3. p. p. p. 4. p. p. p. 5. p. p. p. 6. p. p. p. 7. p. More from this user PreviousNext 1. 57 p. Recent Readcasters Mahfouz Bae Ya Add a Comment Submit Characters: 400 Print this document High Quality Open the downloaded document, and select print from the file menu (PDF reader re quired). Download and Print You Must be Logged in to Download a Document Use your Facebook login and see what your friends are reading and sharing. Other login options Login with FacebookSpinner_mac_white Signup I don't have a Facebook account email address (required) create username (required) password (required) Send me the Scribd Newsletter, and occasional account related communicat ions. Sign Up Privacy policy Spinner_mac_white You will receive email notifications regarding your account activity. You can ma nage these notifications in your account settings. We promise to respect your pr ivacy. Why Sign up? Discover and connect with people of similar interests. Publish your documents quickly and easily. Share your reading interests on Scribd and social sites. Social-icons

Already have a Scribd account? email address or username password Log In Spinner_mac_white Trouble logging in? Login Successful Now bringing you back... Spinner_large_mac_white Back to Login Reset your password Please enter your email address below to reset your password. We will send you a n email with instructions on how to continue. Email address: You need to provide a login for this account as well. Login: Submit Upload a Document Search Documents * * * * * * * * * * * * * * * * * Follow Us! scribd.com/scribd twitter.com/scribd facebook.com/scribd About Press Blog Partners Scribd 101 Web Stuff Support FAQ Developers / API Jobs Terms Copyright Privacy

Copyright 2011 Scribd Inc. Language: English Choose the language in which you want to experience Scribd: * English * Espaol * Portugus (Brasil) scribd. scribd. scribd. scribd. scribd. scribd. scribd. scribd. scribd.