Anda di halaman 1dari 7

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN Nilai Kemandirian dan Ilmu Pengetahuan I.

Bebas Nilai Bebas nilai merupakan dua kata yang sarat makna. Kata pertama adalah bebas. Kata bebas menunjukkan aura kemerdekaan, baik dalam bersikap, bertindak atau pun berwawasan. Bebas juga dapat diterjemahkan sebagai lepas dari ketergantungan, baik yang terkait dengan tata nilai atau kelembagaan. Bebas juga dapat disebut tidak terikat, apakah karena ikatan emosi atau pun struktur. Nilai adalah sebuah norma/tatanan/aturan, baik dalam kehidupan sosial, ekonomi maupun budaya. Nilai juga boleh dimaknai sebagai ukuran yang terkait dengan prestasi seseorang, kelompok atau bangsa. Nilai tidak salah juga bila dipersepsikan sebagai sebuah pertanggungjawaban atas apa-apa yang telah diperbuat, baik dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Sebagian orang akan mempersepsikan bebas nilai sebagai non partisan. Boleh juga dimaknai independensi. Tidak salah juga bila ada orang yang mempersepsikannya tidak terikat atau tidak terkooptasi, baik oleh kekuatan atau kekuasaan tertentu. Bebas nilai jelas berada di atas arus dan tidak ikut arus . Bebas nilai juga adalah suasana yang tidak berpihak, tapi berada di garis tengah. Bebas nilai umumnya tetap konsisten dan komit terhadap prinsip kebenaran yang diperuntukan bagi kemaslahatan hidup ummat manusia.

II.

Ilmu bebas nilai Ilmu bebas nilai, maksudnya adalah ilmu itu hanya suatu pengetahuan yang membuat manusia bisa mengetahui segala sesuatu dan bisa bertindak (meskipun itu terbatas) dengan ilmu tersebut. Ilmu dikatakan bebas nilai karena ilmu dinilai baik karena pemakainya baik, sebaliknya ilmu dinilai tidak baik (buruk) karena pemakainya salah menempatkan, meskipun esensinya ilmu itu baik. ilmu bebas nilai dilihat dari dua aspek. Pertama yaitu etika teologis dan yang kedua yaitu ontologis. Kegiatan ilmiah dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang agama, etnis, ideologi, dan bangsa. Kecuali nilai yang bisa mengikat, adalah kebenaran atau hikmah. kebenaran ilmu dalam penempatan yang praktis
0

adalah ilmu harus tunduk kepada nilai-nilai yang bersifat menyeluruh atau universal yaitu mengabdi untuk kebenaran sehingga tidak mungkin ilmu itu tidak bebas nilai.

III.

Nilai kemandirian Kemandirian berasal dari kata mandiri yang berarti dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, tapi menggunakan kekuatan sendiri. Kemandirian diartikan sebagai suatu hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain Manusia sebagai makhluk sosial dalam keseharian harus mengambil keputusan. Keputusan yang benar dan baik tidak lepas dari sikap mandiri. Kemandirian dalam kehidupan menusia merupakan bagian yang penting untuk pengembangan dan pertahanan hidup. Namun,perlu dipahami pula bahwa kemandirian bukan berarti membutuhkan keterlibatan dan peran orang lain perlu mendapat tempat dalam memberikan pertimbangan, tetapi keputusan tetap pada pribadi yang bersangkutan. Manusia mengembangkan kemandirian tidak hanya dengan intrinsik namun juga dengan kemampuan akal budi dan hati nurani. Melalui pendidikanlah pengembangan akal budi dan hati nurani dilaksanakan untuk mendukung pengambilan keputusan yang benar dan baik. Nilai kemandirian juga dapat dilihat sejauh mana orang mempunyai inisiatif untuk suatu pengembangan, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Inisiatif pengembangan untuk mengatasi masalah ataupun mempunyai kemampuan pembaruan. Dengan ungkapan lain, kemandirian juga dapat diukur dari sikap proaktif seseorang menghadapi suatu kenyataan Orang yang bersikap mandiri dapat menentukan sikapnya secara positif untuk membangun kehidupan bersama lebih baik . orang demikian ini sering juga dikatakan orang yang bersikap pro-aktif. Apa yang diyakini untuk kebaikan semua pihak akan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Orang mandiri yang pro-aktif akan mengusahakan kebaikan bagi semua orang dan semua merasa terbatas dan dihargai.

Ada empat komponen dalam kemandirian Bebas, Progresif, dan Ulet Berinisiatif Memiliki pengendalian diri Memiliki kemantapan diri (teguh pendirian dan optimis) dalam menutup masa depan. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kemandirian Faktor Intrinsik Meliputi keturunan dan Kondisi tubuh sejak dilahirkan Faktor Eksternal, Yaitu semua keadaan yang mempengaruhi dari luar dirinya.

IV.

Kaitan Ilmu dengan Nilai-nilai Kehidupan Perkembangan ilmu akan mempengaruhi nilai-nilai kehidupan manusia tergantung dari manusia, karena ilmu dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dalam kebudayaannya. Kemajuan di bidang ilmu

memerlukan kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, karena tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat bersungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Dalam mempelajari ilmu seperti halnya filsafat, ada tiga pendekatan yang berkaitan dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup manusia, yaitu: 1. Pendekatan Ontologis Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Dalam kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia, dan mencampuri permasalahan kehidupan. 2. Pendekatan Epistemologi
2

Epistemologis adalah cabang filsafat yang membahas tentang asal mula, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkinkan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu. Dalam kaitannya dengan moral atau nilai-nilai hidup manusia, dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan. 3. Pendekatan Aksiologi Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam. Untuk itu ilmu yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideologi, atau agama.

V.

Arti ilmu bagi kemandirian Ilmu memiliki nilai intrinsik, sementara di luar itu terdapat nilai-nilai lain yang mempengaruhinya. Ilmu tidak dapat menghindari nilai dari luar karena tidak akan dikenal sebagai ilmu pengetahuan apabila hanya berdiri sendiri dan sibuk dengan nilainya sendiri. Dengan kata lain ilmu bukan hanya untuk kepentingan ilmu sendiri tetapi ilmu juga untuk kepentingan lainnya, sehingga tidak dapat diabaikan kalau ilmu terikat dengan lainnya seperti nilai. Salah satu nilai yang tidak dapat diabaikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan adalah nilai kemandirian.
3

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, bahwa manusia untuk dapat menjadi lebih mandiri harus memiliki akal budi dan hati nurani yang lebih dari sebelumnya. Untuk dapat mengembangkan akal budi dan hati nurani, dapat dilakukan melalui proses pendidikan. Dalam pendidikan akan diperoleh ilmu-ilmu yang dapat membuat manusia menjadi berkembang dan mengalami proses humanisasi, sehingga dapat mengambil berbagai keputusan dengan baik, dan menjadi lebih mandiri.

VI.

Pengembangan ilmu yang mempertimbangkan nilai kemandirian Ilmu pengetahuan yang ada saat ini merupakan hasil dari akumulasi pengetahuan yang terjadi dengan pertumbuhan, pergantian dan penyerapan teori. Kemunculan teori baru yang menguatkan teori lama akan memperkuat citra sains normal. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan selalu berkembang. Ilmu dapat berkembang dengan pesat menunjukkan adanya proses yang tidak terpisahkan dalam perkembangannya dengan nilai-nilai hidup. Walaupun ada anggapan bahwa ilmu harus bebas nilai, yaitu dalam setiap kegiatan ilmiah selalu didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Anggapan itu menyatakan bahwa ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri, yaitu ilmu harus bebas dari pengandaian, pengaruh campur tangan politis, ideologi, agama dan budaya, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin, dan pertimbangan etis menghambat kemajuan ilmu. ilmu bebas nilai dan harus menjadi nilai yang relevan, dan dalam aktifitasnya terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai hidup harus diimplikasikan oleh bagian-bagian praktis ilmu jika praktiknya mengandung tujuan yang rasional. Dapat dipahami bahwa mengingat di satu pihak objektifitas merupakan ciri mutlak ilmu, sedang dilain pihak subjek yang mengembangkan ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.

Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan

selalu dipengaruhi dengan

berbagai nilai-nilai yang ada. Karena ilmu itu bebas nilai. Salah satu nilai yang mempengaruhi pengembangan ilmu adalah nilai kemandirian. Nilai kemandirian mempengaruhi pengembangan ilmu. Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwa kemandirian dapat dilihat dari segi pengambilan keputusan, mengatasi masalah, dan kemampuan bersikap proaktif. Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan tidak dapat dilakukan tanpa nilai kemandirian. Karena dengan adanya nilai kemandirian, muncullah banyak gagasan-gagasan baru, metode-metode baru dalam mengatasi berbagai

permasalahan, eksperimen baru (trial and error), dan pengambilan kesimpulan dari berbagai gagasan yang muncul selama ini. Begitulah ilmu pengetahuan berkembang. Secara konkrit, misalnya dalam ilmu kefarmasian. Adanya sikap proaktif dari para peneliti atau ilmuwan untuk melakukan eksperimen tertentu, merupakan salah satu bentuk nilai kemandirian manusia dalam pengembangan ilmu kefarmasian. Selain itu, misalnya apoteker yang bekerja dalam industri berusaha untuk merancang dan mengembangkan formula atau metode baru dalam produksi suatu sediaan obat. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk nilai kemandirian yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011, Perkembangan Ilmu pengetahuan, http://id.shvoong.com/humanities /philosophy/1787020-perkembangan-ilmu-pengetahuan/#ixzz1cHcmXO00, diakses tanggal 20 Oktober 2011 Anonim, 2011, Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1872677filsafat-ilmu-sebuah-pengantar-populer/#ixzz1cHfDobbb, diakses tanggal 20 Oktober 2011 Anonim, 2011, http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1872677-filsafat-ilmusebuah-pengantar-populer/#ixzz1cHgEzi8X, diakses tanggal 20 Oktober 2011 Anonim, 2011, Sociology guide, http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair= en|id&u=http://www.sociologyguide.com/research-methods%26statistics/sociologyvalue-free-science.php, diakses tanggal 21 Oktober 2011 Anonim, 2011, http://id.wikipedia.org/wiki/Thomas_Hobbes, diakses tanggal 24 Oktober 2011 Anonim, 2011http://filsafat.kompasiana.com/2011/03/21/filsafat/, diakses tanggal 24 Oktober 2011 Anonim, 2011http://dutamanggala.blogspot.com/2009/07/kemandirian-psikologi-darifilsafat.html, diakses tanggal 24 Oktober 2011 Anonim, 2011http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/2137957-kepemimpinannasional-kedaulatan-dan-kemandirian/ , diakses tanggal 24 Oktober 2011