Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN PENENTUAN GOLONGAN DARAH

WAKTU PRAKTIKUM ASISTENSI

: Rabu, 16 Oktober 2011 : Drs. H.M. Saikhu Akhmad Husen, M.Kes.

Kelas D1 Anggota kelompok 1. 2. 3. 4. 5. Nur Afidatul Maulidiyah Ratih Kuspriyadani Evi Kustiningtyas Virna Dwi Risnawanti Kartika Primasari : (080914016) (080914023) (080914031) (080914034) (080914110)

Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga 2011

PRAKTIKUM VI PENENTUAN GOLONGAN DARAH

I.

TUJUAN Mempelajari dan memahami golongan darahnya dan reaksi aglutinasinya.

II. DASAR TEORI Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:

Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau Onegatif.

Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif

Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal.

Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.

Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama Onegatif. Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam sistem ABO pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor. Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan golongan darah O). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O. Kemudian Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih kolega dari Landsteiner menemukan golongan darah AB pada tahun 1901. Pada golongan darah AB, kedua antigen A dan B ditemukan secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak ditemukan antibodi. Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rh-. Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih

dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B. Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh (D) yang mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat mempengaruhi janin pada saat kehamilan. (Anonim. 2010) Golongan darah dikelompokkan menjadi 4, yaitu; A, B, O, dan AB. Penetapan penggolongan darah didasarkan pada ada tidaknya antigen sel darah merah A dan B. Individu-individu dengan golongan darah A mempunyai antigen A yang terdapat pada sel darah merah, individu dengan golongan darah B mempunyai antigen B, dan individu dengan golongan darah O tidak mempunyai kedua antigen tersebut. Berikut adalah tabel hubungan golongan darah dan antigennya.(Mayhoneys. 2008) III. ALAT DAN BAHAN Alat :

a. Mikrosokop cahaya b. Objek glass c. Tusuk jarum kayu / tusuk gigi d. Jarum franke e. Kapas Bahan : a. Alkohol 70 % b. Kertas tissue c. Serum Anti A d. Serum Anti B e. Serum Anti AB f. Pipet tetes

IV. CARA KERJA 1. Menyediakan gelas objek yang bersih, bersihkan ujung jari telunjuk dengan alcohol 70 % dan menusukkan dengan jarum lanset. 2. Menetesi tetesan darah I dengan anti serum A dan tetesan darah yang ke II dengan anti serum B, mencampurkan dengan ujung tusuk gigi dan digoyang-goyang. 3. Mengamati hasilnya, terjadi aglutinasi pada tetes darah yang ada dan tetapkan golongan darah. 4. Mengulangi langkah diatas, tetapi dengan menggunakan anti serum A dan anti B.

V. HASIL PENGAMATAN No Nama Serum Anti A Tidak menggumpal Tidak menggumpal Tidak menggumpal Serum Anti B Tidak menggumpal Serum Anti AB Tidak menggumpal Kesimpulan

Tama

Ana

Menggumpal Menggumpal B

Ella

Tidak menggumpal

Tidak menggumpal

Hari

Menggumpal Tidak menggumpal Menggumpal Tidak menggumpal

Menggumpal A

Novia

Menggumpal A

6 7

Syamsul Rizki

Menggumpal Menggumpal Menggumpal AB Tidak menggumpal Menggumpal Menggumpal B

Riandisyah

Menggumpal Tidak menggumpal Menggumpal Tidak menggumpal

Menggumpal A

Aswind

Menggumpal A

10

Ratih K.

Tidak menggumpal Tidak menggumpal Tidak menggumpal Tidak menggumpal Tidak menggumpal

Menggumpal Menggumpal B

11

Mayang

Menggumpal Menggumpal B

12

Nurul I.

Menggumpal Menggumpal B

13

Mita

Tidak menggumpal

Tidak menggumpal

14

Nur Fadila

Menggumpal Menggumpal B

15

Hendra

Menggumpal Tidak menggumpal

Menggumpal A

No. 1.

Keterangan Golongan darah A

Gambar

2.

Golongan darah B

3.

Golongan Darah AB

4.

Golongan Darah O

5.

Serum Anti A

6.

Serum Anti B

7.

Serum Anti AB

VI. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini kita menentukan golongan darah pada manusia. Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya. Seseorang akan memiliki golongan darah A, bila sel darah merahnya memiliki antigen A dan plasma darahnya memiliki aglutinin (anti-B). Seseorang akan bergolongan darah B, bila sel darah merahnya memiliki antigen B dan plasma darahnya memiliki aglutinin (anti-A). Kemudian, orang akan bergolongan darah AB, jika sel darah merahnya memiliki antigen A dan B, tetapi dalam plasma darahnya tidak memiliki aglutinin dan . Sementara, orang akan bergolongan darah O atau 0, bila sel darah merahnya tidak memiliki antigen A dan B, hanya dalam plasma darahnya memiliki aglutinin dan aglutinin . Apabila sel darah merah seseorang mengandung aglutinogen A dan serum darahnya membuat aglutinin , maka orang tersebut mempunyai golongan darah A. Sebaliknya, apabila sel darah merah seseorang mengandung aglutinogen B dan serum darahnya membuat aglutinin , maka orang tersebut dikategorikan golongan darah B.

Kemudian, apabila sel darah merah seseorang mengandung aglutinogen A dan B, sementara serum darah tidak dapat membuat aglutinin maupun , maka orang tersebut mempunyai golongan darah AB. Sebaliknya, bila sel darah merah seseorang tidak mengandung aglutinogen A dan B, sementara serum darahnya dapat membuat aglutinin dan , maka orang tersebut mempunyai golongan darah O atau 0. Berdasarkan sifat tersebut kita dapat menentukan golongan darah dengan mudah. Pada praktikum ini penentuan golongan darah manusia dilakukan secara manual, yaitu dengan cara metode slide (metode sel) dengan menggunakan antiserum A yang berwarna biru, antiserum B berwarna kuning, dan antiserum AB yang tidak berwarna atau bening. Pertama-tama kita mengambil darah propadus dengan menggunakan jarum lanset kemudian sample darah di letakkan di gelas obyek dan kemudian di tetesi dengan antiserum A, antiserum B, dan antiserum AB lalu diaduk dengan menggunakan tusuk gigi. Jika darah yang ditetesi antiserum A, antiserum B, dan antiserum AB tidak menggumpal, maka termasuk golongan darah O. Namun darah yang ditetesi anti-serum A tidak menggumpal dan darah yang ditetesi anti serum B dan AB menggumpal maka golongan darahnya adalah B. Jika darah yang ditetesi anti serum B tidak menggumpal, dan darah yang ditetesi oleh anti serum A dan AB menggumpal, maka golongan darahnya adalah A. Darah yang ditetesi anti serum A, antiserum B,dan antiserum AB menggumpal maka golongan darahnya adalah AB. Fungsi dari anti serum A dan antiserum B adalah sebagai pendeteksi darah yang kita uji, antiserum A dan antiserum B akan membuat darah menggumpal atau tidak. Berdasarkan hasil pengamatan dari data kelas, didapatkan 6 orang mahasiswa memiliki golongan darah B, 5 mahasiswa memiliki golongan darah A, yang memiliki golongan darah O sebanyak 3 orang, dan golongan darah AB sebanyak 1 orang.

VII. KESIMPULAN Seseorang akan memiliki golongan darah A, bila sel darah merahnya memiliki antigen A dan plasma darahnya memiliki aglutinin (anti-B). Seseorang akan bergolongan darah B, bila sel darah merahnya memiliki antigen B dan plasma darahnya memiliki aglutinin (anti-A). Seseorang akan bergolongan darah AB, jika sel darah merahnya memiliki antigen A dan B, tetapi dalam plasma darahnya tidak memiliki aglutinin dan . Seseorang akan bergolongan darah O atau 0, bila sel darah merahnya tidak memiliki antigen A dan B, hanya dalam plasma darahnya memiliki aglutinin dan aglutinin . Jika darah yang ditetesi antiserum A, antiserum B, dan antiserum AB tidak menggumpal, maka termasuk golongan darah O. Jika darah yang ditetesi anti-serum A tidak menggumpal dan darah yang ditetesi anti serum B dan AB menggumpal maka golongan darahnya adalah B. Jika darah yang ditetesi anti serum B tidak menggumpal, dan darah yang ditetesi oleh anti serum A dan AB menggumpal, maka golongan darahnya adalah A. Jika darah yang ditetesi anti serum A,B,dan AB menggumpal maka golongan darahnya adalah AB. VIII. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2000. http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0069%20Bio%202-6c.htm. Diakses 16 November 2000. Anonim. 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_darah. diakses tanggal 21 Oktober 2011: 12.31. Anonim. 2011. http://biologi.blogsome.com/2011/08/15/penentuan-golongan-darah/. Dikases tanggal 15 Agustus 2011. Sari. 2011. http://dunianyasari.blogspot.com/2011/04/praktikum-penentuan-golongandarah.html. dikases tanggal 27 April 2011.