Anda di halaman 1dari 14

Rancang Bangun Silabus Bahasa Dengan Pendekatan Komunikatif Oleh : E. Ardinal, MA I.

Pendahuluan Rancang bangun silabus bahasa merupakan salah satu aspek dari penyelenggaraan program bahasa yang berhubungan dengan upayaupaya penyediaan dan pengadaan pedoman atau panduan bagi guru untuk melaksanakan pengajaran dan pembelajaran bahasa, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, supaya tujuan yang telah ditetapkan dapat terwujud. Dalam kerangka KTSP saat ini penyusunan silabus diserahkan kepada para guru dengan acuan GBPP yang telah ditetapkan dari pusat. Hal ini, di satu sisi menuntut pemahaman para guru secara benar dan mendalam terhadap berbagai aspek pengajaran bahasa, dan pada sisi lain memerlukan GBPP yang fleksibel agar tersedia ruang bagi para guru untuk mengembangkan silabus yang sesuai dengan kondisi dan relevan dengan kebutuhan.[1] Kesesuaian silabus bahasa dengan metode pengajaran dan pembelajaran bahasa dapat terwujud melalui suatu proses yang disebut dengan pengembangan silabus. Salah satu upaya pengembangan silabus yang dapat dilakukan adalah pemahaman terhadap pendekatan yang mungkin dapat diterapkan. Secara umum pendekatan dalam pengembangan silabus bahasa dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan sudut pandang yang berbeda, seperti berdasarkan bagaimana materi pelajaran dipilih dan diurut, waktu penyusunan; keterlibatan siswa dalam penyusunan silabus, dan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan keberagaman sudut pandang itulah silabus dirancang dan dirumuskan, di antaranya adalah rancang bangun silabus dengan

pendekatan komunikatif yang akan menjadi sentral bahasan kami dalam makalah ini. II. Selayang Pandang; Silabus dan Beberapa Pendekatan Rancang Bangun Silabus Terkait pengertian silabus, Rodgers dalam bukunya mengatakan a syllabus is a more detailed and operational statement of teaching and learning elements which translates the philosophy of the curriculum into a series of planned steps leading towards more narrowly defined objectives at each level."[2] Yaitu, Silabus merupakan keterangan dan penjelasan yang lebih rinci dan operasional mengenai berbagai unsur pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menerjemahkan dan mewujudkan apa yang terkandung dalam kurikulum ke dalam bentuk langkah-langkah untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus sesuai dengan tingkatan siswa. Dengan demikian Silabus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kurikulum. Silabus bahasa harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat mencerminkan ciri dan karakteristik pendekatannya. Apabila metode komunikatif yang akan digunakan, maka silabus bahasa yang dikembangkan adalah silabus bahasa komunikatif atau jika metode yang digunakan adalah situasional, maka silabus bahasa yang harus diterapkan adalah silabus bahasa situasional. Dengan kata lain, silabus bahasa harus linear dengan metode yang digunakan. Kesesuaian silabus bahasa dengan metode pengajaran dan pembelajaran bahasa dapat terwujud melalui suatu proses yang disebut dengan pengembangan silabus. Salah satu upaya pengembangan silabus yang dapat dilakukan adalah pemahaman terhadap pendekatan yang mungkin dapat diterapkan. Secara umum pendekatan dalam pengembangan silabus bahasa dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan sudut pandang yang berbeda, seperti berdasarkan bagaimana materi

pelajaran dipilih dan diurut, waktu penyusunan; keterlibatan siswa dalam penyusunan silabus, dan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan bagaimana materi pelajaran dipilih dan diurut, terdapat dua pendekatan, yaitu sintetik dan analitik. Pendekatan sintetik mengarah pada proses pemilihan dan pengurutan materi pelajaran berdasarkan pandangan yang menganggap bahwa bahasa itu terdiri dari beberapa komponen yang dapat dipelajari secara terpisah dan tahap demi tahap. Wilkins mengatakan A synthetic language teaching strategy is one in which the different parts of language are taught separately and step by step so that acquisition is a process of gradual accumulation of parts until the whole structure of language has been built up.[3] Dalam pandangan ini, kemampuan berbahasa dipandang sebagai akumulasi penguasaan seluruh komponen bahasa yang telah dipelajari seseorang secara bertahap yang biasanya terjadi pada tingkat akhir dari program bahasa yang diikuti siswa. Sesuai dengan pandangan di atas, pengembangan silabus bahasa harus dimulai dengan kajian yang mendalam terhadap seluruh komponen dan keterampilan berbahasa, sehinga dapat ditentukan komponen bahasa mana yang lebih sederhana, lebih kompleks, dan komponen mana yang menjadi prasyarat bagi komponen bahasa lainnya. Berdasarkan hasil kajian tersebut juga dapat ditentukan materi-materi pelajaran bahasa yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa; dan pengorganisasian materi-materi tersebut sesuai dengan tingkat kesulitannya, dimana materi-materi pelajaran yang mudah dan sederhana diberikan lebih awal daripada materi-materi pelajaran yang lebih sulit dan kompleks. Adapun silabus bahasa yang dikembangkan berdasarkan pendekatan sintetik antara lain adalah silabus gramatikal, leksikal, dan silabus struktural lainnya. Berbeda dengan pandangan sintetik, pendekatan analitik lebih mengarah

pada suatu proses pemilihan dan pengurutan materi pelajaran berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dan kemampuan berbahasa yang dapat memenuhi tujuan tersebut. Bahasa tidak lagi dipandang berdasarkan unsur-unsur linguistiknya secara terpisah, tetapi dilihat bagaimana bahasa itu digunakan untuk menyampaikan maksud dan tujuan seseorang kepada orang lain. Wilkins, mengatakan Analytic syllabuses are organized in terms of the purposes for which people are learning language and the kinds of language performace that are necessary to meet those purposes.[4] Sesuai dengan pandangan tersebut, materi pelajaran dalam silabus bahasa harus disusun berdasarkan tujuan-tujuan atau alasan untuk apa seseorang menggunakan bahasa. Secara tegas, Nunan mengatakan bahwa materi pelajaran harus dikembangkan berdasarkan tujuan-tujuan komunikatif untuk apa bahasa itu digunakan agar dalam kegiatan belajar, bahasa harus selalu disajikan sesuai dengan konteks penggunaannya, sehingga makna atau tujuan komunikatif yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara jelas, baik melalui bahasa lisan maupun tulis. Berdasarkan beberapa pendangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan atau strategi analitik cenderung menghasilkan silabus bahasa komunikatif dengan berbagai variasinya; sedangkan strategi sintetik cenderung melahirkan silabus bahasa struktural dengan berbagai variasinya. Selain berdasarkan sudut pandang bagaimana materi pelajaran diseleksi dan digradasi, silabus bahasa dapat juga dikembangkan berdasarkan waktu pelaksanaanya. Dalam hal ini, terdapat dua pendekatan atau strategi yang saling bertolak belakang, yaitu pendekatan apriori dan posteori. Pendekatan apriori mengacu pada proses pengembangan silabus bahasa dimana seleksi dan gradasi materi pelajaran, termasuk komponenkomponen silabus lainnya, dilakukan sebelum suatu program bahasa dilaksanakan.

Berbeda dengan pendekatan apriori, pendekatan posteori merupakan proses pengembangan silabus bahasa dimana organisasi materi pelajaran dan komponen silabus lainnya dilakukan setelah suatu program bahasa selesai dilakukan. Pengembangan silabus bahasa berdasarkan pendekatan ini menuntut kecerdasasan dan kreativitas yang tinggi dari seorang guru. Guru harus dapat mengantisipasi materi-materi pelajaran yang harus diberikan kepada siswa setelah selesai mengajarkan materi lain, baik berdasarkan tingkat kesulitan maupun kebutuhan berbahasa siswa. Selain itu, guru juga dituntut untuk selalu mencatat seluruh materi pelajaran yang telah diberikan kepada siswa untuk mempermudah penyusunan kembali seluruh materi pelajaran menjadi silabus bahasa. Sudut pandang lain yang mendasari pengembangan silabus bahasa adalah sasaran yang ingin dicapai. Dalam hal ini, silabus bahasa dapat dikembangkan berdasarkan pendekatan berorientasi pada produk (productoriented approach) dan pendekatan berorientasi pada proses (process-oriented approach). Pendekatan berorientasi pada produk merupakan proses pengembangan silabus bahasa di mana seleksi dan gradasi materi pelajaran dilakukan berdasarkan apa yang harus dikuasai siswa setelah mengikuti program bahasa. Berbeda dengan pendekatan yang berorientasi pada produk, pendekatan yang berorientasi pada proses merupakan pengembangan silabus bahasa yang menempatkan bagaimana proses pengajaran dan pembelajaran dilakukan sebagai pijakan dalam seleksi dan gradasi materi pelajaran. Proses, dipahami sebagai seluruh aktivitas belajar yang dikembangkan guru untuk membantu siswa menguasai materi pelajaran. Berdasarkan dua pandangan di atas, tampak sangat jelas bahwa silabus bahasa yang dibangun di atas landasan pendekatan berbasis proses, menempatkan aktivitas belajar pada posisi yang sangat strategis. Oleh

karena itu, para pengembang silabus bahasa dituntut untuk memilih bentuk-bentuk kegiatan belajar mana yang sesuai dengan materi pelajaran yang harus dikuasai siswa. Pemilihan bentuk kegiatan belajar juga harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan berbahasa siswa. Bermain peran, umpamanya, lebih cocok untuk diterapkan pada pengembangan kemampuan berbicara siswa yang sudah memiliki latar belakang bahasa sasaran yang relatif lebih baik. Drill lebih sesuai untuk pengembangan penguasaan gramatika bahasa sasaran (al-lughah al-hadaf) pada seluruh tingkat program bahasa. Dengan mengkaji bentuk-bentuk kegiatan belajar yang ada, dan kesesuaiannya dengan materi pelajaran dan tingkat kemampuan berbahasa siswa, guru bahasa atau pengembang silabus bahasa dapat membangun silabus bahasa sesuai dengan program bahasa yang akan dijalankan. Adapun silabus bahasa yang didasari oleh pendekatan ini antara lain adalah silabus berbasis tugas dan silabus prosedural. Pendekatan terakhir dalam pengembangan silabus bahasa adalah pendekatan berbasis bidang kajian (subject matter-based approach). Pendekatan ini menempatkan bidang ilmu atau kajian sebagai dasar dalam seleksi dan gradasi materi pelajaran. Tidak semua materi pelajaran diberikan kepada siswa, tetapi hanya materi yang benar-benar relevan dan dibutuhkan siswa dalam bidang kajian yang sedang digelutinya. III. Silabus Bahasa dengan Pendekatan Komunikatif Akhir-akhir ini, tampaknya orientasi belajar bahasa mulai mengalami pergeseran, dari belajar bahasa sebagai alat pengetahuan kepada belajar bahasa sebagai sarana komunikasi. Konsekwensi logis pergeseran orientasi ini menuntut para pemerhati bahasa memfokuskan pembelajaran bahasa pada kecakapan atau keahlian berkomunikasi dari pada pembelajaran bahasa yang berkutat pada penguasaan struktur belaka. Pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif dianggap

lebih relevan dengan fungsi bahasa itu sendiri yakni untuk komunikasi antar sesama, dengan kata lain bahwa pengembangan pembelajaran bahasa seyogianya diarahkan untuk kemampuan berbahasa peserta didik secara aktif. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang memandang bahasa lebih tepat dilihat sebagai sesuatu yang berkenaan dengan apa yang dapat dilakukan atau ditindakkan dengan bahasa (fungsi) atau berkenaan dengan makna apa yang dapat diungkapkan melalui bahasa. [5] Dengan perkataan lain, kita menggunakan bahasa untuk meminta maaf, menyapa, membujuk, menasehati, memuji, atau untuk mengungkapkan makna tertentu, tetapi tidak untuk membeberkan kategori-kategori gramatikal yang ditemukan oleh para ahli bahasa. Hal ini juga didukung oleh Sumardi, bahwa pendekatan komunikatif disusun atas dasar fungsi dan kebutuhan pembelajar, dengan harapan pembelajar dapat menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya dan bukan komunikasi yang dibuat-buat.[6]

Sementara menurut Savignon sebagaimana dikutip oleh Parera bahwa pendekatan komunikatif yaitu pemberian aktifitas penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah-kaidah tata bahasa, atau pembelajaran bahasa yang dimulai dari struktur permukaan tata bahasa ke makna (from surface gramatical structure to meaning).[7] Pendekatan ini berorientasi penuh pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi antar sesama. Fungsi-fungsi bahasa yang dimaksudkan dalam pendekatan komunikatif tidak lain tujuan pembelajarannya adalah untuk mengembangkan kompetensi komunikatif ( ) pembelajar. Konsep kemampuan komunikatif pertama kali dimunculkan sekitar 30-an tahun yang lalu oleh Dell Hymes, seorang pakar sosiolinguistik, sebagai respon terhadap keterbatasan konsep kompetensi dan performansi model bahasa Chomsky.[8] Konsep Hymes ini juga kemudian lebih jauh dikembangkan

oleh Canale dan Swain ditahun 1980-an. Kegiatan komunikasi bahasa asing termasuk bahasa Arab memiliki kategori tertentu dalam kerangka pendekatan komunikatif. Littlewood mengkategorikan prosedur metodologis pembelajaran bahasa ke dalam dua kategori yang masing-masing kategori memiliki dua sub kategori sebagaimana dikutip Parera yaitu: 1) kegiatan prakomunikasi: (i) kegiatan struktural, (ii) kegiatan kuasikomunikasi, 2) kegiatan komunikasi: (i) komunikasi fungsional, (ii) interaksi sosial.[9] Penjenjangan komunikasi seperti dikemukakan Littlewood di atas, menempatkan pembelajaran yang bermakna dan mengaitkan pembelajaran kebahasaan atau kegiatan struktural dan kegiatan komunikasi dalam kelas antar sesama peserta atau sesuai dengan buku. Inilah yang dikatakan sebagai kegiatan prakomunikasi. Sedangkan penjenjangan komunikasi sudah mulai beranjak dari kegiatan dalam kelas ke kegiatan komunikasi yang real dan makin lama makin mendekati masyarakat pemakai bahasa. Kemudian lahirlah kegiatan interaksi sosial. Kegiatan komunikasi yang terjadi secara natural dalam interaksi sosial semacam itu dapat dikatakan sebagai gambaran aplikasi pendekatan komunikatif yang berhasil dan realistis karena penggunaan bahasa sesuai fungsinya yakni komunikasi yang sebenarnya. Pendekatan komunikatif mengajarkan bagaimana seseorang memiliki kompetensi komunikatif agar bisa menggunakan bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi sesama. Penetapan fungsi itu tentunya juga akan berpengaruh terhadap pemilihan dan pengurutan materi pelajaran, dimana pentahapan fungsi-fungsi komunikatif dilakukan setelah tujuan pembelajaran ditetapkan; barulah kemudian diikuti oleh penetapan materi bahasa yang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam berkomunikasi. Dengan demikian dapat dipahami jika dalam rancang bangun silabus

menggunakan pendekatan komunikatif, maka dalam banyak aspek akan ditemukan silabus tersebut menekankan pada pencapaian fungsi kebahasaan, yaitu kemampuan dalam berkomunikasi. IV. Model Silabus Komunikatif Ada banyak model silabus komunikatif yang telah dikembangkan hingga saat ini, sebut saja misalnya, model silabus komunikatif tingkat ambang, silabus bahasa Inggris SMA Kurikulum 1984, silabus bahasa Arab SMA Kurikulum 1994, silabus alternatif Nuril Huda, dsb.[10] Dari model silabus yang ada kami mencoba memuat dua model, model silabus komunikatif tingkat ambang dan silabus bahasa Arab SMA Kurikulum 1994, dengan harapan dapat memberikan gambaran utuh bagaimana sesungguhnya model silabus komunikatif itu. 1. Silabus Komunikatif Tingkat Ambang Silabus ini disusun oleh Jan A. Van Ek (1997). Yang dimaksud dengan "tingkat ambang" adalah "tingkat keterampilan berbahasa minimal yang harus dikuasai oleh seseorang untuk dapat hidup selayaknya di negeri yang penduduknya menggunakan bahasa target sebagai alat komunikasi sehari-hari" Struktur silabus tingkat ambang terdiri dari penjelasan dan pemberian daftar mengenai: 1) fungsi bahasa, meliputi fungsi-fungsi umum bahasa: menyampaikan dan mencari informasi, mengungkapkan dan memahami sikap intelektual, mengungkapkan dan memahami sikap emosional, mengungkapkan dan memahami sikap moral, mengusahakan agar sesuatu hal dikerjakan, dan bergaul sebagai anggota masyarakat. Keenam fungsi umum tersebut dijabarkan dalam silabus sesuai dengan kebutuhan tingkat ambang.

2) Nosi dan ranah bahasa, meliputi: identifikasi pribadi, rumah dan rumah tangga, hidup dalam rumah tangga, pendidikan dan karir, waktu senggang dan hiburan, perjalanan, hubungan dengan orang lain, kesehatan dan kesejahteraan, berbelanja, makanan dan minuman, bahasa asing, dan cuaca. 3) Kegiatan berbahasa, diarahkan kepada pencapaian keterampilan: berbicara, menyimak, membaca, dan menulis. 4) Tingkat keterampilan yang diperlukan, berisi keterangan tentang tingkat keterampilan para pelajar. Kriterianya ialah terjadinya komunikasi secara efisien dan wajar. 2. Silabus Bahasa Arab SMU-1994/MA-1996 Silabus ini menggunakan model yang disebut "model ragam fleksibel" yang diorientasikan kepada kompetensi komunikatif, dengan karakteristik sebagai berikut: 1) Silabus memuat komponen-komponen: tujuan, tema, dan sub tema, keterampilan fungsional, contoh ungkapan komunikatif, kosa kata, dan kegiatan proses belajar mengajar. 2) Tujuan dirumuskan untuk setiap catur wulan, dan bertumpu pada keterampilan berbahasa. 3) Tema dijadikan dasar pengembangan bahan proses belajar mengajar 4) Fleksibilitas model silabus ini terletak pada keluwesan urutan tema, keterampilan fungsional dan contoh ungkapan komunikatifnya. 5) Struktur tidak dicantumkan secara tertulis agar tidak dijadikan fokus dalam proses belajar mengajar. Secara tersirat, struktur dapat ditemukan

dalam keterampilan fungsional dan ungkapan komunikatifnya. V. Kesimpulan Pendekatan komunikatif adalah pendekatan yang memandang bahasa sebagai sebuah gejala sosial yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar individu dalam masyarakat dengan berbagai konteks yang melingkupinya. Pendekatan ini lebih menekankan pada fungsi dan makna sekaligus dalam berbahasa, dan bukan terfokus pada tata bahasa yang seringkali tidak terkait dengan makna yang mau diungkapkan. Pendekatan ini mengajarkan bagaimana seseorang memiliki kompetensi komunikatif agar bisa menggunakan bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi sesama. Sebuah silabus bahasa yang dirancang dan dikembangkan dengan pendekatan komunikatif akan menghasilkan silabus komunikatif, yang dalam banyak aspek akan selalu menekankan pada bagaimana seseorang bisa memiliki kompetensi komunikatif. DAFTAR KEPUSTAKAAN BSNP (Badan Standar nasional Pendidikan), Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan dasar dan Menengah, (Jakarta, 2006) Effendy, Ahmad Fuad, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2005) Ibrahim al-Sayyid, Shabriy, Ilmu al-Lughah al-Ijtima'iy mafhumuhu wa qadayaha, (Iskandariyah: Dar al-Ma'rifah al-Jami'iyyah, 1995) Jack C. Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods in Language Teaching (Cambridge: CUP, 1986)

Nunan, David, Syllabus Design (Oxford: Oxford University Press, 1988) S. Rodgers, Theodore, Syllabus Design, Curriculum Development, and Policy Determination, The Second Language Curriculum, Ed. Robert Keith Johnson (Cambridge: CUP, 1989) Parera, Jose Daniel, Linguistik Edukasional, (Jakarta: Penerbit Airlangga, 1997) Subyakto Nababan, Sri Utari, Metodologi Pengajaran Bahasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993) Sumardi, Mulyanto, Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996) Thuaimah, Rusydi Ahmad, Almarji' fi Talm al-Lughah al-Arabiyah li alNathiqin bi Lughat Ukhra, (Makkah al-Mukarramah: Jamiat Umm al-Qura) Wilkins, D.A., Notional Syllabuses (London: Oxford University Press, 1976)

[1] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2005), hal. 60 [2] Theodore S. Rodgers, Syllabus Design, Curriculum Development, and Policy Determination, The Second Language Curriculum, Ed. Robert Keith Johnson (Cambridge: CUP, 1989), h. 26. Bandingkan dengan pengertian Silabus menurut BNSP : "Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup SK (standar kompetensi), KD (kompetensi Dasar), materi pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar". Baca BSNP (Badan Standar nasional Pendidikan), Panduan

Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan dasar dan Menengah, (Jakarta, 2006), hal. 2-3 [3] D.A. Wilkins, Notional Syllabuses (London: Oxford University Press, 1976), h. 2. [4] David Nunan, Syllabus Design (Oxford: Oxford University Press, 1988), hal. 28. [5] Terkait dengan fungsi bahasa di atas. Ibnu Jinni, seorang linguis Arab klasik, sebagaimana dikutip oleh Shabriy Ibrahim al-Sayyid menyatakan: " . ." Bandingkan dengan fungsi bahasa menurut Sapir Worf, seorang linguis barat kontemporer, yang juga dikutip Ibrahim : " .... " Lihat Shabriy Ibrahim al-Sayyid, Ilmu al-Lughah al-Ijtima'iy mafhumuhu wa qadayaha, (Iskandariyah: Dar al-Ma'rifah al-Jami'iyyah, 1995), hal. 3 [6] Mulyanto Sumardi, Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hal. 12-13 [7] Jose Daniel Parera, Linguistik Edukasional, (Jakarta: Penerbit Airlangga, 1997) hal. 76. [8] Chomsky berpandangan bahwa kemampuan berbahasa ada dua, kompetensi dan performansi; Kompetensi ( )/adalah kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur, menggambarkan pengetahuan tentang system bahasa yang sempurna (sistem kalimat, sistem kata, bunyi, dan makna) sedangkan performansi ( )adalah ujaran-ujaran

yang bisa didengar dan dibaca, merupakan tuturan seseorang apa adanya, tanpa dibuat-buat. Performansi bisa saja tidak sempurna, maka tata bahasa hendaknya memberikan kompetensi dan bukan performansi. Chomsky lebih melihat bahasa sebagai gejala psikoliguistik sedangkan Hymes melihat bahasa tidak hanya gejala psikolinguistik namun juga sosiolinguistik. Lihat Jack C. Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods, hal. 69. Lihat juga Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, hal. 56 [9] Jose Daniel Parera, Linguistik Edukasional, hal. 78. Menurut Nababan, Aktifitas-aktifitas prakomunikatif ialah aktifitas-aktifitas yang belum dapat dinamakan komunikatif benar-benar, karena belum ada unsur yang diperlukan agar suatu komunikasi itu disebut wajar dan alamiah, yakni tidak adanya kekosongan informasi information gap. Aktififitas-aktifitas prakomunikatif bisa berupa: a) Teknik dialog, b) Dialog dengan gambar, c) Dialog terpimpin, d) Dramatisasi suatu tindakan, e) Penggunaan gambar orang yang mencerminkan profesinya, f) Teknik tanya jawab, g) Menyelesaikan kalimat, paragraf atau cerita pendek. Sedangkan aktifitas komunikatif dapat berupa a) Penyajian percakapan seperti dalam CLL (Community Language Learning: Belajar bahasa secara berkelompok/bersama), b) Pemberian tugas kepada para pelajar, c) Fomula-formula sosial dan dialog-dialog, d) Tugas-tugas yang berorientasi kepada masyarakat, e) Aktifitas-aktifitas yang bertujuan untuk memecahkan problem-problem yang ada. Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran Bahasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993) hal. 175-178. [10] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, hal. 62-65