Anda di halaman 1dari 39

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sebagai bangsa dan negara yang berkembang, bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada berbagai macam tantangan dan hambatan dalam mencapai masyarakat yang sehat secara mandiri. Dengan ini diharapkan agar kesempatan begi setiap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal lebih luas lagi (Depkes RI 2007). Definisi sehat menurut World Health Organisation (WHO) adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Sedangkan menurut UU Kesehatan. No.23 Tahun 1992 mengatakan kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (Depkes RI, 2003) Kesehatan merupakan proses yang harus mampu dipertahankan oleh setiap orang, dimana setiap individu harus bisa beradaptasi dengan lingkungan dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang mencakup bio, psiko, sosial dan spiritual bagi setiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat maka tujuan dari proses keperawatan dalam meningkatkan kesehatan, lebih menekankan kepada pencegahan terhadap

berbagai gangguan kesehatan serta meminimalisir proses penularan dari penyakit tertentu dan tidak pula mengabaikan upaya pengobatan dalam proses pemulihan dari penyakit (Doengoes. Dkk. 1998). Penularan penyakit merupakan masalah yang cukup berat dan sering dialami oleh manusia. Dinegara kita penularan penyakit yang disebapkan oleh kuman micobakterium tuberculosis cukup tinggi.

2 TBC diperkirakan telah menyerang sepertiga penduduk dunia dengan 95% penderitanya berada dinegara berkembang dan sebanyak 75% adalah golongan usia produktif. Saat ini jumlah kasus baru (insidensi) dan kasus lama (prevalensi) TBC diseluruh dunia terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain tingginya angka kemiskinan pada mayoritas penduduk dinegara berkembang dan

dibeberapa daerah diperkotaan di negara maju (id.Answer.yahoo.com/question/index). WHO memperkirakan prevalensi TBC diindonesia sebesar 786 per 100.000

penduduk, dengan 44% diantaranya BTA (+) yakni ditemukannya bakteri mycobacterium tuberculosis dalam dahak (sputum) penderita.Indonesia kini diurutan ketiga jumlah penderita TBC terbanyak di dunia dengan 582.000 kasus baru pertahun sekitar 300 pasien TBC meniggal setiap hari (kompas.com/../2004). Di Propinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2006 ditemukan penderita TB paru klinis sebanyak 21.806 jiwa dan diantaranya telah dinyatakan TB paru BTA (+)

sebanyak 2.217 jiwa dan pada tahun 2007 penderita TB paru klinis sebanyak 19.800 jiwa dengan BTA (+) sebanyak 1.954 jiwa. Tahun 2008 penderita TB paru klinis sebanyak 17.791 jiwa dengan BTA (+) sebanyak 1.828 jiwa (profil Dinkes SulTeng. 2006 - 2008). Kasus TBC di Kota Palu diperoleh data pada tahun 2006 penderita TB paru klinis sebanyak 1.469 jiwa dengan BTA (+) sebanyak 217 jiwa. Tahun 2007 penderita TB paru klinis sebanyak 2.471 jiwa dengan BTA (+) sebanyak 216 jiwa pada tahun 2008,

penderita TB paru klinis sebanyak 1.361 jiwa dengan BTA (+) sebanyak159 jiwa (profil Dinkes SulTeng, 2006 2008). Data kasus TBC di RSU. Anutapura Palu, pada tahun 2007 ditemukan 214 jiwa. Penderita usia 5 - 14 tahun sebanyak 2 jiwa, penderita usia 15 - 24 tahun sebanyak 16

3 jiwa, penderita usia 25 - 44 tahun sebanyak 52 jiwa, penderita usia 45 - 64 sebanyak 93 jiwa penderita usia > 65 tahun sebanyak 51 jiwa penderita dengan jenis klamin laki-laki sebanyak 134 jiwa dan wanita sebanyak 80 jiwa. Pada tahun 2008 ditemukan sebanyak 250 jiwa. Penderita usia < 1 tahun sejumlah 1 jiwa, penderita usia 1-4 tahun sejumlah 2 jiwa, penderita usia penderita usia 15 - 24 tahun sejumlah 15 jiwa penderita usia 5 - 14 tahun sejumlah 5 jiwa, 25 - 44 tahun sejumlah 79

jiwa, penderita usia 45 - 64 tahun sejumlah 112 jiwa dan penderita usia > 65 tahun sejumlah 37 jiwa, penderita dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 145 jiwa dan wanita sebanyak 105 jiwa (Rekam medik RSU Anutapura Palu). Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa penderita penyakiti TBC di RSU Anutapura Palu mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai tahun 2008. Dari beberapa teori yang ada bahwa penularan penyakit ini lebih beresiko pada keluarga klien yang selalu kontak langsung dengan klien penderita TBC karena mereka cenderung tidak memperdulikan bahwa penyakit ini sangat mematikan. untuk itu sangat dibutuhkan peran dalam keluarga untuk mencegah tarjadinya penularan tersebut. Berdasarkan masalah yang tertera diatas maka penulis merasa tertarik untuk memilih judul gambaran peran keluarga dalam pencegahan penyakit TBC diruangan pipit RSU Anutapura Palu. B. Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan yang ada maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana gambaran peran keluarga dalam pencegahn penularan penyakit TBC di ruangan pipit RSU Anutapura Palu ?

4 C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan umum Untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam pencegahan penularan penyakit TBC di ruangan pipit RSU Anutapura Palu. 2. a. Tujuan khusus Untuk memperoleh gambaran pengetahuan keluarga tentang penyakit TBC di ruangan pipit RSU Anutapura Palu. b. Untuk memperoleh gambaran pengunaan APD pada keluarga klien TBC di ruangan pipit RSU Anutapura Palu. c. Untuk memperoleh gambaran kedekatan keluarga secara psikologis dalam menghadapi klien dengan penyakit TBC di ruangan pipit RSU Anutapura Palu. D. Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan KTI yang berjudul gambaran peran keluarga dalam pencegahan penyakit TBC diruangan pipit RSU Anutapura Palu yaitu : 1. Untuk pihak rumah sakit Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dalam rangka meningkatkan upaya pencegahan penularan penyakit TBC. 2. Untuk institusi pendidikan Dapat mengembangkan ilmu pengetahuan keperawatan terutama dalam masalah mencegah penularan penyakit TBC. 3. Bagi penulis Diharapkan hal ini dapat menambah wawasan dan memperluas pengetahuan penulis terutama dibidang penyakit TBC

5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum TBC 1. Pengertian a. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang yang disebabkan oleh

mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat berfariasi (Mansjoer A. dkk, 2001). b. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebapkan oleh

mycobakterium tuberculosis.(Lorraine, 2006). c. Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang terutama menyerang parenkim

paru(Brunner and Suddarth, 2002). d. Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh

mycobakterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Mansjoer A,1999). e. Tuberculosis adalah penyakit menular langsung yang disebapakan oleh

kuman micobakterium tuberculosis (Depkes RI, 2000). Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup

6 beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun 2. Manifestasi klinis Gejala umum TB paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam derajat rendah, nyeri dada, dan batuk darah. Pasien TB paru menampakkan gejala klinis atau umum yaitu: a. b. c. d. Tahap asimtomatis. Gejala TB paru yang khas, kemudian stagnasi dan regresi. Ekserbasi yang memburuk. Gejala berulang dan menjadi kronik.

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda: a. b. c. a. Tanda-tanda infiltrate (redup,bronkial,ronhi basah,dll). Tanda-tanda penarikan paru, diafragma,dan mediastinum. Sekret disaluran nafas dan ronkhi. Suara nafas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung dengan bronkus (kapita selekta, 2001). Gejala khusus : a. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak. b. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.

7 c. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah. d. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang. Gejala akibat TB paru adalah batuk produktif yang berkepanjangan (lebih dari 3 minggu), nyeri dada, dan hemoptisis. Gejala sistemik termasuk demam, menggigil, keringat malam kelemahan, hilangnya nafsu makan, dan penurunan berat badan. seseorang yang dicurigai menderita TB harus dianjurkan menjalani pemeriksaan fisik. tes tuberkulin mantoux, foto toraks, dan pemeriksaan bakteriologi atau histologi. tes tuberkulin harus dilakukan pada semua orang yang dicurigai menderita TB klinis aktif, namun nilai tes tersebut dibatasi oleh reaksi negatif palsu, khususnya pada seseorang yang imunosupresi (misal, TB dengan infeksi HIV). seseorang diperkirakan memiliki gejala TB, kususnya batuk produktif yang lama dan hemoptisis harus menjalani foto toraks, walaupun reaksi terhadap tes tuberkulin intrademalnya negatif. 3. a. Klasifikasi Diagnostik TB Paru TB Paru 1) BTA mikroskopis langsung (+) atau biakan (+), kelainan foto toraks

menyokong TB, dan gejalak linis sesuai TB. 2) BTA mikroskopis atau biakan (-), tatapi kelainan rontgen dan klinis perbaikan pada, pengobatan awal TB (initial

sesuai TB dan memberikan

terapi) pasien golongan ini memerlukan pengobatan yang adekuat.

8 b. TB Paru tersangka Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA didapat (paling lambat 3 bulan). pasien dengan BTAmikroskopis langsung (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum lengakap, tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB paru pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai. c. Bekas TB ( tidak sakit) Ada riwayat TB pada pasien dimasa lalu dengan atau tanpa pengobatan atu gambaran rontgen normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan sputum BTA (-) kelompok ini tidak perlu diobati. 4. Penularan Penyakit TBC. a. Cara Penularan. Sumber penularana adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat ter infeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe, saluran napas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak

9 terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidakm enular.Kemungkinan seseorang ter infeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain. meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru. b. Resiko Penularan. Resiko penularan setiap tahun Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan ber fariasi antara 1/2 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun, dimana 50 % penderita adalah BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS.

10 c. Riwayat Terjadinya Tuberkulosis Infeksi Primer : Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di Paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuma TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4 - 6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persisten atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.

Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB). Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi

11 yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura. 5. Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis : Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut : a. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas. b. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial. c. Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru. d. Pneumotoraks spontan kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. e. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya f. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit. Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik. 6. Penatalaksanaan 1. Obat Anti TB (OAT) OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga.tujuan pemberian Oat antara lain :

12 a. membuat konfersi sputum BTA (+) menjadi (-) secepat mungkin

melalui kegiatan bakterisid. b. Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan

dengan kegiatan sterilisas. c. Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan

daya tahan imunologis. Jenis dan dosis obat : 1) Isoniazid (H)

Dikenal dengan INH, bersifat bekterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan.obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang.Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg bb,lanjutkan dengan dosis 10 mg/kg BB. 2) Rifampisin (R)

Bersifat bakterisit, dapat membunuh kuman semi dormant (persisten) yang tidak dapat dibunuh oleh isoniazid. Dosis diberikan sama untuk pengobatan harian maupun lanjutan 3 kali seminggu 10 mg/kg BB. 3) Pirazinamid (Z)

Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB sedangkan lanjutan 3 kali seminggu dengan dosis 35 mg/kg BB. 4) Streptomycine (S)

13 Bersifat bakterisid, dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg bb sedangkan untuk pengobatan lanjutan 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama. Penderita berumur sampai dengan 60 tahun atau lebih diberikan 0,30 gr/hari. 5) Etambutol (E)

Bersifat bakteriostatik, dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB. 2. Maka Pengobatan TB dilakukan melalui 2 fase, yaitu : a. Fase awal intensif, dengan kegiatan bakterisid untuk

memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat. b. Fase lanjutan melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan

jangka pendek atau kegiatan bakteriostatikpada pengobatan konvensional. (Mansur A, 2001). 3. Pencegahan dan pengendalian Program-program kesehatan masyarakat sengaja dirancang untuk deteksi dan pengobatan kasus dan sumber infeksi secara dini. Menurut hukum, semua orang dengan TB tingkat 3 atau tingkat 5 harus dilaporkan kedepartemen kesehatan. penapisan kelompok beresiko, tinggi adalah tugas penting departemen kesehatan lokal. Tujuan mendeteksi dini seseorang dengan infeksi TB adalah untuk mengidentifikasi siapa saja yang akan

memperoleh keuntungan dari terapi pencegahan untuk menghentikan perkembangan TB yang aktif secara klinis. Program pencegahan ini memberikan keuntungan tidak saja untuk seseorang yang telah terinfeksi namun juga untuk masyarakat pada umumnya. karena itu, penduduk yang

14 sangat beresiko terkena TB harus dapat diidentifikasi dan prioritas untuk menentukan program terapi obat harus menjelaskan resiko versus manfaat terapi. Eradikasi TB meliputi penggabungan kemoterapi yang efektif, identifikasi kontak dan kasus serta tindak lanjut yang tepat. Dalam penanganan pada pasien atau yang beresiko tinggi terinfeksi penyakit TB. B.Tinjauan Umum Tentang Keluarga 1. Pengertian Menurut WHO (1969) keluarga adalah anggota rumah tangga yang paling berhubungan melalui pertalian darah. Menurut selvicion G. Bailon dan Afacelis Magloya (1989), keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang bergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan/pernikahan dan mereka hidupdalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain , dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaannya. Menurut Depkes RI (1998), Keluarga adalh unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. 2. Struktur Keluarga a. Menurut macam Struktur keluarga terdiri dari macam-macam, diantaranya adalah : 1) Patrilineal Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.

15 2) Matrilineal Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi, dimana hubungan iitu disusun melalui jalur garis Ibu. 3) Matrilokal Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri. 4) Patrilokal Adalah sepasang sumi istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami. 5) Keluarga kawinan Adalah hubungan suami istri sebagaidasar bagi pmbinaan keluarga dan bebrapasanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri (Nasrul effendi,1998 ). b. Ciri-ciri struktur masyarakat

1) Terorganisasi Saling berhubungan, saling ketrgantungan antara anggota keluarga 2) Ada keterbatasan Setiapanggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing. 3) Ada perbedaan dan kekhususan Setiapanggota keluarga mempunyai peran dan fungsinya masing-masing.

16 3. Fungsi keluarga

Menurut freidman, 1998 adalah : a. Fungsi efektif fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu

Adalah

mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikologis anggota keluarga. b. Fungsi sosialisasi dan tempat beroialisasi

Adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan dengan orang lain diluar rumah. c. Fungsi reprioduksi

Adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga. d. Fungsi ekonomi

Yaitu keluarga berfungsi unuk memenuhi kebutuhan keluarga secara eionomi dan tempat unuk mengembangkan kemampuan inividu meningkatkan penghasilan unutuk memenuhi kebutuhan keluarga. e. Fungsi keperawatan/memelihara kesehatan

Yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan . 4. Tugas keluarga Dalam sebuah keluarga ada beberapa tugas dasar didalamnya terdapat delapan tugas pokok sebagai berikut : a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya b. Memelihara sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga

17 c. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing d. Sosialisasi antar anggota keluarganya e. Pengaturan jumlah anggotakeluarga f. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga g. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas h. Membangkitkan dorongan dan semangat pada para anggota keluarga (Nasrul effendi, 1998). Sedangkan tugas keluarga dibidang kesehatan ada lima yaitu : a. b. c. d. e. Mengenal masalah kesehatan keluarga . Memutuskan tindakan kesehatan yang yepat bagi keluarga. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga (Suprajitno, 2004). Tinjauan Umum Tantang Pengetahuan Pengetahuan adalah sesuatu yang terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga sehingga mendapatkan hasil (Notoatmojo, 2003) sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia,2003 pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui (Kamus besar Bahasa Indoonesia, 2003 ) prilaku yang didasari oleh ilmu pengetahuan diharapkan akan lebih baik jika dibandingkan dengan prilaku yang tidak

18 didasari oleh pengetahuan tetapi meningkatnya pengetahuan tidak selalu menyebabkan perubahan prilaku (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan sebagai berikut : 1) Tahu (Know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya . 2) Memahami (Comprehensio ) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. 3) Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari. 4) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen. 5) Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 6) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi yaitu kemampuaan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek (Notoatmojo, 2003). Menurut teori Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo, (2003) bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan dan tradisi sebagai faktor predisposisi disamping Tahu

19 faktor pendukung seperti lingkungan fisik, prasarana dan faktor pendorong yaitu sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lainnya.Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari objek penelitian atau responden. Data yang bersifat kualitatif digambarkan dengan kata-kata, sedangkan data yang bersifat kuantitatif berwujud angka-angka, hasil perhitungan atau pengukuran, dapat diproses dengan cara dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh persentase, setelah dipersentasekan lalu ditafsirkan kedalam kalimat yang bersifat kualitatif. a. Kategori baik yaitu menjawab benar 76 % 100 % dari yang diharapkan b. Kategori cukup yaitu menjawab benar 56 % 75 % dari yang diharapkan

c. Kategori kurang yaitu menjawab benar dibawah 56 % dari yang diharapkan. NANDA (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kurang pengetahuan (deficient knowledge) terdiri dari kurang terpapar informasi, kurang daya ingat/hapalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi (Nanda, 2005). Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan/knowledge seseorang di tentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut: a. Keterpaparan terhadap informasi b. Daya ingat c. Interpretasi informasi d. Kognitif e. Minat belajar dan Kefamiliaran akan sumber informasi.

20

C.

Tinjauan Umum Alat Perlindungan Diri ( APD )

Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai kebutuhan untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya (id.wikipedia.org/wiki/Alat_pelindung_diri). Dewasa ini pelayanan kesehatan setiap hari dihadapkan kepada tugas yang berat untuk bekerja dengan aman dalam lingkungan yang membahayakan. Kini, resiko pekerjaan yang umum dihadapi oleh petugas pelayanan kesehatan adalah kontak dengan darah dan cairan tubuh lainnya sewaktu perawatan rutin pasien (Gerson dan Vlavov, 1992). Sebagai penolong perawat akan dengan mudah terpapar dengan jasad renik maupun cairan tubuh seseorang yang memungkinkan penolong dapat tertular oleh penyakit. Prinsip utama dalam Menghadapi darah, cairan tubuh atau droplet dari penderita adalah Darah dan semua cairan tubuh sebagai media penularan penyakit. Selain perawat keluarga juga tidak lepas dari hal tersebut sehingga mereka juga perlu menggunakan APD karena keluarga selalu

melakukan kontak langsung saat menjaga atau menjenguk kerabatnya yang sedang sakit. Beberapa penyakit yang dapat menular diantaranya adalah Hepatitis, TBC,

HIV/AIDS. Disamping itu APD juga berfungsi untuk mencegah penolong mengalami luka dalam melakukan tugasnya. Jenis APD : 1. Sarung tangan Lateks, Jangan menggunakan sarung tangan yang terbuat dari kain saja karena cairan dapat merembes. Bila akan melakukan tindakan lainnya yang memerlukan sarung tangan kerja, maka sebaiknya sarung tangan lateks dipakai terlebih dahulu.

21 2. Kacamata Pelindung, Berguna untuk melindungi mata dari percikan darah maupun mencegah cedera akibat benturan atau kelilipan pada mata saat melakukan pertolongan 3. Baju pelindung, Penggunaannya kurang popular di Indonesia, gunanya adalah untuk mencegah merembesnya cairan tubuh penderita melalui baju penolong. 4. Masker Penolong, Sangat berguna untuk mencegah penularan penyakit melalui udara 5. Masker Rususitasi, Diperlukan bila akan melakukan tindakan Resusitasi Jantung dan paru, mencegah penularan penyakit melalui udara. 6. Helm, Dipakai bila akan bekerja di tempat yang rawan akan jatuhnya benda dari atas, misalnya dalam bangunan runtuh dan sebagainya. APD yang digunakan dalam mencegah penularan penyakit TBC lebih mengarah pada penggunaan masker. Masker harus cukup besar untuk menutup untuk hidung, muka bagian bawah, rahang dan semua rambut muka. Masker dipakai untuk menahan cipratan yang keluar dari mulut atau hidung pasien saat bercerita, batuk, atau bersin. Masker terbuat dari berbagai bahan, antara kain katun ringan, kasa, kertas sampai bahan sintetis, yang beberapa diantaranya tahan terhadap cairan (Chen dan Welleke, 1992). Apa bila keluarga pasien saat menjaga atau menjenguk tidak menggunakan APD yang tepat maka penularan penyakit akan sangat mudah terjadi. D. Tinjauan Umum Tentang Psikologis Psikologis berasal dari bahasa yunani kuno psyche = jiwa dan logos = kata. Dalam arti bebas Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental itu secara

22 langsung karena sifatnya yang abstrak,tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya,sehingga psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Definisi lain dari psikologi adalah: 1. Psikologi adala ilmu mengenai kehidupan mental (the science of mental life) 2. Psikologi adalah ilmu mengenai pikiran (the science of mind) 3. Psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku (the science of behavior) Namun secara lebih spesifik, psikologi lebih banyak dikaitkan dengan kehidupan organisme manusia. Dalam hubungan ini psikologi didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha memahami prilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagaimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan (Gleitman,1987). Secara psikoloigis keluarga merupan orang yang paling dibutuhkan oleh pasien hal ini disebabkan karena sudah terjalin rasa kasih sayang, kebersamaan, serta cinta kasih dalam dinamika kekeluargaan tersebut. Terkadang dengan perasaan, seseorang tidak lagi memikirkan dampak yang akan ditimbulkan melalui kontak langsung dengan penderita sehingga hal ini perlu mendapat perhatian. Sebaiknya seorang keluarga atau penjaga pasien harus mampu menggunakan pikiran tentang aspek yang akan dihadapi kedepan nanti terutama tingkah laku saat kontak dengan pasien. Penularan sering terjadi didalam ruang lingkup yang sama contohnya penyakit akan lebih mudah menular pada orang yang sering kontak langsung dengan penderita dari pada orang yang jarang bertemu dengan penderita. Dengan alasan psikologis penularan

23 penyakit bukanlah hal yang berarti dibandingkan dengan aspek kebersamaan antar keluarga (Blogspot.com). BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPRASIONAL

A. Kerangka konsep Kerangka konsep pada penelitian ini adalah : Variabel Independen variabel Dependen

Pengetahuan Pengetahuan

Penggunaan APD Penggunaan APD

penularan penyakit TBC Pencegahan Penularan penyakit TBC

Aspek Psikologis (Kedekatan Aspek psikologi keluarga)

B. Definisi Operasional Pencegahan Penularan Penyakit TBC Adalah proses yang dilakukan oleh keluarga untuk menghambat pindahnya kuman TBC kepada orang lain. 2. Pengetahuan

24 Adalah hal-hal yang dipahami dan dimengerti oleh keluarga penderita, tentang penyakit TBC dan cara penularannya. Alat ukur Cara ukur Skala ukur Hasil ukur : kuesioner : pengisian kuesioner : ordinal : baik bila responden menjawab > median (> 8) kurang baik bila responden menjawab median (< 8). Penggunaan alat pelindung diri Yaitu satu atau lebih alat yang digunakan oleh pihak keluarga klien untuk mencegah dan meminimalisir resiko penularan penyakit TBC yaitu masker dan baju pelindung. Alat ukur Cara ukur Skala ukur Hasil ukur : lembar observasi : observasi langsung : nominal : - menggunakan - tidak menggunakan 4. Aspek psikologis keluarga Adalah suatu perasaan yang dimiliki oleh individu yang membuat mereka menjadi lebih dekat antara satu sama lain sehingga penularan penyakit tidak dapat dihindarkan.. <

25 Alat ukur Cara ukur Skala ukur Hasil ukur : lembar wawancara : wawancara : nominal : dekat bila responden menjawab dengan skor > median (> 3). Tidak dekat bila responden menjawab dengan skor < median (<3)

26

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu menggambarkan hasil pengkajian terhadap variabel yang diteliti. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian

penelitian ini dilaksanakan diruangan pipit Rumah Sakit Umum Anutapura Palu. 2. Waktu penelitian

penelitian dilaksanakan pada tanggal 26 bulan Agustus 2009. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang diteliti (nursalam, 2000). Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga pasien TBC yang dirawat diruangan Pipit RSU Anutapura Palu pada tanggal 26 agustus sampai tanggal 30 agustus. 2. Sampel

27 Sampel dalam penelitian ini adalah keluarga pasien TBC yang dirawat di ruangan Pipit RSU Anutapura Palu. Cara pengambilan sampel yaitu dengan cara purposive sampling, dengan kriteria : 1. Inklusi : keluarga pasien TBC yang berada ditempat penelitian. 2. Eksklusi : D. Manajemen Data 1. Pengumpulan data Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi,dan pengisian kuesioner 2. Jenis data a. Data primer Keluarga pasien TBC yang bersedia menjadi responden. Keluarga pasien dengan usia > 12 tahun. Keluarga pasien yang mampu membaca dan menulis.

Yaitu data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara, observasi dan pengisian kuesioner pada keluarga klien penderita TBC yang dirawat diruangan pipit RSU anutapura palu. b. Data sekunder

Yaitu data yang diperoleh dari departemen kesehatan propinsi sulteng dan hasil rekam medikRSU Anutapura Palu. 3. Pengolahan data a. Editing yaitu memeriksa kembali data-data yang telah dikumpulkan apakah ada kesalahan atau tidak

28 b. Coding yaitu pemberian kode pada jawaban yang bersifat kategori. c. Tabulating penyusunan atau perhitungan data berdasarkan feriabel yang diteliti. d. Cleaning yaitu membersihkan data dengan melihat variabel yang digunakan apakah data-datanya sudah benar atau belum. e. Describing yaitu menggambarkan atau menjelaskan data yang sudah dikumpulkan. 4. Analisa data Analisa data menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk persentase, dengan menggunakan rumus (Sudjana,N.1991). f P = x 100% n keterangan : P : proporsi f : frekuensi n : sampel 5. Penyajian data Data diolah dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel.

29

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Keadaan Geografis Rumah Sakit Umum Anutapura Palu berlokasi di Jalan Kangkung No.1 Palu Kecamatan Palu Barat menempati lahan seluas 27.775 m, dengan luas bangunan hingga saat ini seluas 10.691,44 m. (profil RSU Anutapura Palu, 2008). 2. Keadaan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Anutapura Palu merupakan Rumah Sakit Tipe B dan sebagai rumah sakit rujukan bagi fasilitas kesehatan yang menjadi milik Pemerintah Kota Palu. Pada tahun 2005, Rumah Sakit Umum Anutapura Palu mendapatkan pengakuan (Akreditasi Penuh atas lima pelayanan dasar Rumah Sakit). Sasaran pelayanan yang terdiri dari : Pelayanan rawat jalan melayani 12 Poliklinik, sarana pelayanan rawat inap dengan kapasitas 192 tempat tidur (TT) dan 6 penunjang medis,(Profil RSU Anutapura Palu, 2008). 3. Ketenagaan Rumah sakit Ketenagaan Rumah Sakit Umum Anutapura Palu berjumlah 622 pegawai, dengan kualifikasi sebagai berikut :

30 a. Tenaga medis = 52 orang b. Tenaga perawat = 358 orang c. Tenaga farmasi = 20 orang d. Tenaga gizi = 5 orang e. Tenaga non medis teknisi medis = 33 orang f. Tenaga non medis sanitasi = 19 orang g. Tenaga non medis kesehatan masyarakat = 38 orang h. Tenaga non kesehatan = 105 orang (Profil RSU Anutapura Palu, 2008). 4. Visi terwujudnya pelayanan kesehatan yang prima dan terjangkau tahun 2010 5. Misi a. refresentatif. b. Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional, ramah dan beretika serta bertanggung jawab. c. Meningkatkan dan mengembangkan sumberdaya manusia Rumah Sakit melalui pendidikan dan pelatihan. d. Menjadi Rumah Sakit rujukan untuk semua instansi kesehatan yang ada dikota palu dan sekitarnya. 6. Motto senyum dan ramah Artinya : Dalam keramah tamahan dan senyum membawa andil dalam penyembuhan. B. Hasil Penelitian Menyediakan sarana dan prasarana rumah sakit yang

31 1. Analisa univariat Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 26 sampai tanggal 30 agustus 2009 penelitian ini menggambarkan tentang pengetahuan, penggunaan APD, dan aspek psikologis sebagai variabel independend sedangkan variabel dependendnya adalah pencegahan penularan penyakit TBC. Pengetahuan Pengetahuan responden tentang pencegahan penularan penyakit TBC ditemukan jawaban dari responden dimana dikatakan baik jika responden mendapat skor lebih dari atau sama dengan median (> 8) dari jawaban yang diajukan dan dikatakan kurang baik jika responden hanya mendapatkan skor kurang dari median (< 8 )dari jawaban pertanyaan yang diajukan. Tabel 5.1 Distribusi pengetahuan responden tentang pencegahan penularan penyakit TBC diruangan pipit RSU Anutapura Palu. No 1 2 Pengetahuan Baik Jumlah 33 3 36 Presentase (%) 91,7 % 8,3 % 100 %

Kurang baik total Sumber : data primer 2009

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa responden yang mengetahui tentang pencegahan penularan penyakit TBC yang dilihat dari kuesioner yang terdiri dari pengertian, tanda dan gejala, komplikasi yang berpengetahuan baik sebanyak 33 responden ( 91,7 % ) sedangkan yang berpengetahuan kurang baik sebanyak 3 responden ( 8,3 % ).

32

b.

Penggunaan APD Tabel 5.2 Distribusi reponden dalam penggunaan APD diruangan pipit RSU Anutapura Palu

No Alat pelindung diri (APD) 1 Menggunakan Tidak menggunakan total Sumber : data primer 2009 2

Jumlah _ 36 36

Presentase (%) _ 100 % 100 %

Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa tidak ada responden yang menggunakan APD saat menjenguk klien TBC. c. Aspek psikologis Tabel 5.3 Distribusi aspek psikologis responden diruangan pipit RSU Anutapura Palu No 1 2 Psikologis Dekat Jumlah 21 15 36 Presentase (%) 58,3 % 41,7 % 100 %

Tidak dekat total Sumber : data primer 2009

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa responden yang dekat dengan penderita sebanyak 21responden (58,3 %) sedangkan yang tidakdekat dengan penderita sebanyak 15 responden (41,7 % ).

33 C. Pembahasan

1. Pengetahuan tentang pencegahan penularan penyakit TBC Dari hasil penelitian tentang pencegahan penularan penyakit TBC yang dilakukan diruangan pipit RSU Anutapura Palu didapatkan gambaran pengetahuan responden terhadap pencegahan penularan TBC sebanyak 33 responden (91,7 %) yang berpengetahuan baik sedangkan 3 responden (8,3%) berpengetahuan kurang baik. Hasil ini merupakan hasil dari kuesioner yang pertanyaannya terdiri dari pengertian, tanda dan gejala, komplikasi cara penularan pengobatan dan pencegahan penularan TBC. Pengetahuan responden ini tidak hanya didapatkan dari pengisian koesioner, tetapi juga melalui wawancara langsung kepada responden. Dari beberapa sampel yang diwawancarai berkomentar bahwa mereka mengetahui tentang penyakit TBC yaitu penyakit yang menyerang paru-paru dengan tanda dan gejala batuk dan harus mendapatkan pengobatan selama 6 bulan dan penularannya dapat dicegah dengan memgunakan masker. Pengetahuan merupakan kemampuan responden itu sendiri dalam memahami konsep TBC makin tinggi pengetahuan responden tersebut maka makin mudah pula untuk menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki (kuncoro ningrat, 1997). Hal ini diharapkan akan berpengaruh pada tindakan dan prilakau yang berhubungan dengan usaha pencegahan penularan penyakit TBC. Tetapi kenyataan berbeda dengan yang diharapkan pihak keluarga sebenarnya sudah mengetahui tentang penyakit TBC akan tetapi pengetahuannya itu tidak dibarengi dengan prilaku mereka saat berinteraksi dengan penderita.

34 Prilaku yang didasari oleh ilmu pengetahuan diharapkan akan lebih baik jika dibandingkan dengan prilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan tetapi meningkatnya pengetahuan tidak selalu menyebabkan perubahan prilaku (notoatmodjo, 2007). Pengetahuan tentang kesehatan sangatlah penting yang harus dimiliki oleh setiap orang sebelum suatu tindakan kesehatan pribadi dilakukan. Namun tindakan kesehatan yang diharapkan tidak akan terjadi kecuali dari dalam diri sendiri mau untuk memotifasi diri dalam bertindak atas dasar pengetahuan yang dimiliki (Surianti, 2007) 2. Penggunaan APD Dalam usaha pencegahan penularan penyakit TBC dari 36 responden tidak ada yang menggunakan APD saat menjenguk klien.Tidak adanya keluarga yang menggunakan APD saat menjenguk klien menurut peneliti disebabkan karena faktor kebiasaan, ekonomi, dan kurangnya kesadaran keluarga tantang pentingnya penggunaan APD dalam mencegah penularan penyakit hal ini sesuai dengan teori Notoatmodjo yang mengatakan meskipun kesadaran dan pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang kesehatan, namun praktik tentang kesehatan atau prilaku hidup sehat masih rendah disebabkan karena sarana dan prasarana yang tidak mendukung. Jika hal ini dibiarkan terus menerus maka tidak menutup kemungkinan penularan penyakit TBC akan terus meningkat sehingga penderita pun akan bertambah banyak sedangkan kita ketahui bahwa APD adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai kebutuhan untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang sekelilingnya dengan menggunakan APD yang tepat diharapkan penularan penyakit TBC dapat di minimalisir (id.wikipedia.APD) APD yang digunakan minimal adalah masker. Masker dipakai untuk menahan cipratan yang keluar dari mulut atau hidung pasien saat bercerita, batuk,

35 atau bersin. Masker terbuat dari berbagai bahan ,antara kain katun ringan, kasa, kertas sampai bahan sintetis yang beberapa diantaranya tahan terhadap cairan (Chen dan Welleke,1992). 3. Aspek Psikologis Berdasarkan penelitian yang dilakukan, responden yang dekat dengan klien sebanyak 21 responden (58,3%) dan responden yang kurang dekat dengan klien sebanyak 15 responden (41,7), hasil ini didapatkan dari jawaban koesioner yang diajukan sedangkan dari pertanyaan yang sistemnya sebagai penguat dari kuisioner beberapa dari responden menjawab senang tanpa beban saat menjaga klien. Dekat atau tidaknya pihak keluarga dengan klien itu tergantung seberapa sering mereka berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Semakin dekat seseorang yang sehat dengan orang yang sakit maka semakin besar pula resiko terjadinya penularan penyakit pada orang yang sehat tersebut (blogspot.com). Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar keluarga klien dekat dengan klien karena kebanyakan dari mereka adalah istri, anak dan saudara dimana diantara mereka masih terjalin rasa kasih dan sayang yang masih begitu erat dari dalam jiwa masing-masing. Dari keadaan tersebut membuat mereka sangat beresiko sekali tertular dari penyakit yang diderita oleh keluarganya sehingga hal ini harus menjadi renungan untuk pihak keluarga dalam mengontrol emosi dan prilaku saat berinteraksi dengan klien demi kepentingan bersama.

36 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulkan sebagai berikut : 1. Pengetahuan keluarga pasien TBC yang dirawat diruangan pipit RSU Anutapura dalam pencegahan penularan penyakit TBC yang berkategori baik sebanyak 33 responden (91,7%) dan yang berpengetahuan kurang baik sebanyak 3 responden (8,3%). 2. Keluarga pasien TBC yang dirawat di ruangan pipit RSU Anutapura Palu yang menggunakan APD saat berinteraksi dengan klien tidak ada atau keseluruhan total responden tidak menggunakan APD saat berinteraksi dengan klien. 3. Keluarga pasien TBC yang dirawat diruangan pipit RSU Anutapura Palu yang memiliki hubungan dekat dengan klien sebanyak 21 responden (58,3%) dan yang memiliki hubungan kurang dekat dengan klien sebanyak dengan klien sebanyak 15 responden (41,7). B. Saran

Setelah melaksanakan penelitian ini penulis memberikan saran-saran sebagai berikut: 1. Untuk Rumah Sakit Agar para petugas kesehatan selalu memberikan pengarahan kepada keluarga klien agar menggunakan APD saat berinteraksi dengan klien sehingga penularan dapat dicegah. 2. Untuk institusi pendidikan Agar menambah referensi tentang TBC dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan penyuluhan tentang penyakit TBC.

37

3. Untuk peneliti lain Agar bisa melakukan penelitian dan menggunakan analisa statistik untuk mencari hubungan atau pengaruh dari variabel-variabel yang telah diteliti maupun variabel yang lain.

38

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth, Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol. I E. 18, Jakarta EGC, 2002. Chen dan Melleke, Pencegahan Infeksi di Rumah Sakit, Jakarta, 1992. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah, Profil Dinas Kesehatan, 2006-2008. Doengoes E. Marlyn, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 4, Jakarta : EGC, 2002. Dr.Tcandra Yoga A. Dkk, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, II cetakan pertama : Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2006. Gerson dan Vavlov, Pencegahan Infeksi di Rumah Sakit, Jakarta, 1992. Linda T. Dkk, Panduan Pencegahan Infeksi untuk fasilitas Pelayanan Kesehatan sumber daya terbatas. Jakarta, 2004. Mansjoer A. Dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Edisi 3, Jakarta : Media Aesculapius, 1998. Notoatmodjo, Metodologi Peneliti Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta : 2003. Notoatmodjo, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka Cipta, Jakarta : 2007. Price A. S dan Wilson, Patofisiologi Konsep klinis Proses-proses Penyakit, Edisi 2 Jakarta : EGC, 1991. RSU Anutapura, Rekam Medik RSU Anutapura, 2007-2008 Setiawan A, Alat Pelindung Diri, http://id.wikipedia.org/wki, 2008 Soejati, Sunanti 2, Konsep Sehat, Sakit dan Penyakit dalam kontek social budaya, http://www.penkes.com.artikel, 2007. Suprajitno, Asuhan Keperawatan Keluarga, Jakarta EGC, 2004 dengan Edisi

39 Surianti, Efektivitas Intervensi Keperawatan dalam mengatasi pola napas tidak efektif pada pasien TBC, Palu, 2007. Tambayong Jan, Patofisiologi untuk Keperawatan, Jakarta : EGC, 2000. Waspadji S. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2, Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2001. ________________, Prefalensi TBC di dunia, http://www.intermezzo.health.com, 2009 ________________, Insiden Penyakit TBC dunia, http://www.answer.com, 2008 ________________, Konsep Sehat Badan dan Jiwa, http://www.blokspot.com ________________, Tinjauan Konsep Psikologis, http://www.kompas.com ________________, http://wikipediaapd.org.id