Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH TATARAN KOMUNIKASI

Dibuat dalam rangka memenuhi tugas Pengantar Ilmu Komunikasi Dosen Pengampu : Muhammad Zamroni

Disusun oleh : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Titin Fatimah Shoimatuzzakiyah Adib Joko Mahendro Amin Nugroho Nur Ainun Arifin Regalia Zuhri

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA 2011

BAB 1 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Komunikasi merupakan bagian yang tak dapat terpisahkan dalam hidup manusia. Setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik pun manusia senantiasa berkomunikasi. Hal ini menjadi sangat wajar mengingat manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan apa yang terjadi dalam dirinya. Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Tanpa adanya komunikasi, masyarakat tak akan bisa terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak akan bisa mengembangkan komunikasi. Jadi komunikasi jelas tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia ibarat dua sisi keping mata uang logam. Seiring berjalannya waktu, komunikasi itu sendiri juga mengalami perkembangan. Perkembangan di sini bukan hanya dari segi media, pesan yang disampaikan dan reaksi atas pesan yang disampaikan, tetapi juga dari kuantitas orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut, baik itu dari komunikator maupun komunikannya. Hal ini merupakan implikasi dari perkembangan zaman tersebut, karena semakin berkembangnya peradaban manusia, maka semakin berkembang pula ilmu penngetahuan yang diiringi dengan perubahan sosial, sehingga menjadi logis jika ini juga berperngaruh pula pada jumlah orang yang terlibat dalam suatu komunikasi. Pengkategorian bentuk komunikasi berdasarkan kuantitas orang yang terlibat dalam komunikasi itu diistilahkan dengan Tataran Komunikasi. Dengan mempelajari tataran komunikasi, diharapkan kita mampu memahami hubungan antartataran sehingga kita dapat menempatkan dan menyesuaikan diri dalam bentuk komunikasi tertentu.

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN TATARAN KOMUNIKASI Tataran komunikasi adalah penggolongan terjadinya komunikasi berdasarkan banyaknya orang yang terlibat di dalamnya. Dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi karangan Hafied Cangara, istilah lain dari tataran komunikasi adalah tipe komunikasi atau bentuk komunikasi. Menurut Hafied Cangara, seperti halnya definisi komunikasi, klasifikasi tipe atau bentuk komunikasi dikalangan para pakar juga berbeda satu sama lainnya. Klasifikasi itu didasakan atas sudut pandang masing-masing pakar menurut pengalaman dan bidang studinya. Lebih lanjut beliau mengumpulkan beberapa teori tipe/tataran komunikasi dari berbagai sumber. Misalnya, kelompok sarjana Amerika yang menulis buku Human Communication (1980) membagi komunikasi atas lima macam tipe, yakni komunikasi Antarpribadi (Interpersonal Comunication), Komunikasi kelompok kecil (Small Group Communication), Komunikasi Organisasi (Organization Communication), Komunikasi massa (Massa Communication), dan komunikasi public (Public Communication). Joseph A. DeVito seorang profesor komunikasi di City University of New York dalam bukunya Communicology (1982) membagi komunikasi menjadi empat macam, yakni Komunikasi Antarpribadi, Komunikasi Kelompok Kecil, Komunikasi Publik, dan Komunikasi Massa. Beberapa sarjana komunikasi aliran Eropa hanya membagi komunikasi atas dua macam. Yakni Komunikasi Antarpribadi dan Komunikasi Massa. Di Indonesia ada kalangan yang membagi komunikasi menjadi dua macam, yakni Komunikasi massa dan komunikasi sosial. Memerhatikan pandangan para pakar di atas dan beberapa sumber literatur, tataran komunikasi yang akan dibicarakan dalam makalah ini dibagi atas enam macam, yakni komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal communication), komunikasi antarpribadi (interpersonal communication), komunikasi kelompok (group communication), komunikasi organisasi (organization communication), komunikasi publik (public communication), dan komunikasi massa (mass communication).

Komunikasi Intrapribadi Komunikasi Interpribadi Komunikasi Kelompok Komunikasi Publik Komunikasi Kelompok Komunikasi Massa
Gambar 1. Tataran Komunikasi

B. KOMUNIKASI INTRAPRIBADI (INTRAPERSONAL COMMUNICATION) Komunikasi intrapribadi adalah proses

komunikasi yang terjadi di dalam diri individu, atau dengan kata lain proses berkomunikasi dengan diri sendiri. Terjadinya proses komunikasi di sini karena adanya seseorang yang memberi arti terhadap suatu objek yang diamatinya atau terbetik dalam

pikirannya. Objek dalam hal ini bisa saja dalm bentuk benda, kejadian alam, peristiwa, pengalaman, fakta yang mengandung arti bagi manusia, baik yang terjadi diluar maupun di dalam diri seseorang. Objek yang diamati mengalamai proses perkembangan dalam pikiran manusia setelah mendapat rangsangan dari pancaindra yang dimilikinya. Hasil kerja dari proses pikiran tadi setelah dievaluasi pada gilirannya akan memberi pengaruh pada pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang. Dalam proses pengambilan keputusan, sering kali seseorang dihadapkan pada pilihan Ya atau Tidak. Keadaan semacam ini membawa seseorang pada situasi berkomunikasi dangan diri sendiri, terutama dalam mempertimbangkan untung rugunya suatu keputusan yang akan diambil. Cara ini, hanya bisa dilakukan dengan metode komunikasi intrapersonal. Komunikasi tipe ini merupakan komunikasi paling awal dan mendasar dari tataran komunikasi yang lain.

C. KOMUNIKASI ANTARPRIBADI (INTERPERSONAL COMMUNICATION) Komunikasi antarpribadi dapat

terjadi dalam konteks satu komunikator dengan satu komunikan (komunikasi

diadik: dua orang) atau satu komunikator dengan triadik: dua komunikan (komunikasi

tiga orang). Lebih dari tiga orang biasanya dianggap

komunikasi kelompok.

Komunikasi antarpribadi dapat berlangsung secara tatap muka atau menggunakan media komunikasi antarpribadi (nonmedia massa), seperti telepon. Dalam komunikasi

antarpribadi, pesan dikirim dan diterima secara simultan dan spontan, relatif kurang terstruktur, demikian pula halnya dengan umpan balik yang dapat diterima dengan segera. Dalam tataran antarpribadi, komunikasi berlangsung secara sirkuler, peran komunikator dan komunikan terus dipertukarkan, karenanya dikatakan bahwa kedudukan komunikator dan komunikan relatif setara. Proses ini lazim disebut dialog, walaupun dalam konteks tertentu dapat juga terjadi monolog, hanya satu pihak yang mendominasi percakapan. Dalam komunikasi antarpribadi, komunikator dapat

mempengaruhi langsung tingkah laku (efek konatif) dari komunikannya, memanfaatkan pesan verbal dan nonverbal, serta segera merubah atau menyesuaikan pesannya apabila didapat umpan balik negatif.

D. KOMUNIKASI KELOMPOK ( GROUP COMMUNICATION) Apabila jumlah pelaku komunikasi lebih dari tiga orang, cenderung dianggap komunikasi kelompok kecil atau lazim disebut komunikasi kelompok saja. Sedangkan komunikasi kelompok besar biasa disebut sebagai komunikasi publik. Dalam komunikasi kelompok, komunikator relatif mengenal komunikan, dan demikian juga antarkomunikan. Bentuk komunikasi kelompok kecil misalnya adalah pertemuan, rapat, dan lain-lain. Komunikasi kelompok kecil pasti melibatkan komunikasi antarpribadi, sehingga teori komunikasi antarpribadi juga berlaku di sini. Umpan balik dapat diterima dengan segera, menentukan penyampaian pesan berikutnya. Namun, pesan relatif lebih terstruktur daripada komunikasi antarpribadi, bersifat formal maupun informal. Komunikasi kelompok sering kita temui dalam keluarga, tetangga, teman dan kerabat, atau kelompok diskusi. Komunikasi kelompok dapat terjadi di dalam kelompok dan juga antarkelompok.

E. KOMUNIKASI PUBLIK (PUBLIC COMMUNICATION)

Komunikasi komunikasi komunikasi pidato,

publik

biasa

disebut kolektif, speaking,

komunikasi public

retorika,

komunikasi khalayak (audience communication). Adapun namanya, komunikasi public

menunjukkan suatu proses komunikasi dimana pesan-pesan disampaikan oleh pembicara dalam situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar. Komunikasi public memiliki ciri komunikasi interpersonal (pribadi), karena berlangsung secara tatap muka, tetapi terdapat beberapa perbedaan yang cukup mendasar, sehingga memiliki ciri masing-masing. Dalam komunikasi publik penyampaian pesan berlangsung secara kontinu. Dapat diidentifikasikan siapa yang berbicara (sumber) dan siapa pendengarnya. Interaksi antara sumber dan penerima sangat terbatas, sehingga tanggapan balik juga terbatas. Hal ini disebabkan karena waktu yang digunakan sangat terbatas, dan jumlah khalayak relatif besar. Sumber sering kali tidak dapat mengidentifikasikan satu-per satu pendengarnya. Ciri lain yang dimiliki komunikasi publik bahwa pesan yang disampaikan itu tidak berlangsung secara spontanitas, tetapi terencana dan dipersiapkan lebih awal. Tipe komunikasi publik biasanya ditemui dalam berbagai aktivitas seperti kuliah umum, khotbah, rapat akbar, pengarahan, ceramah, dan semacamnya. Sebelum radio jadikan sebagai sumber informasi, komunikasi publik banyak sekali digunakan untuk penyampaian informasi di lapangan terbuka. Namun, sekarang komunikasi publik kembali banyak dilakukan terutama menjelang pemilu dengan pengerahan massa sebanyak-banyaknya. Komunikasi publik seperti ini makin banyak menarik perhatian dan minat pengunjung jika disertai dengan pertunjukkan artis dan ceramah kiai kondang yang khusus didatangkan untuk menggalang massa.

F. KOMUNIKASI ORGANISASI Komunikasi organisasi terjadi di dalam organisasi maupun antarorganisasi, bersifat formal maupun informal. Semakin formal sifatnya, semakin terstruktur pesan yang disampaikan. Komunikasi formal adalah komunikasi menurut struktur organisasi: komunikasi ke atas, ke bawah, maupun horizontal. Sedangkan komunikasi informal adalah yang terjadi di luar struktur organisasi. Karenanya, komunikasi organisasi melibatkan
6

komunikasi kelompok, komunikasi antarpribadi, komunikasi intrapribadi, dan terkadang komunikasi publik juga muncul di dalamnya.

G. KOMUNIKASI MASSA (MASS COMMUNICATION) Terdapat berbagai macam pendapat tentang pengertian tentang komunikasi

massa. Ada yang menilai dari segmen khalayaknya, dari segi medianya dan ada pula dari sifat pesannya. Komunikasi massa dapat

didefinisikan sebagai proses komunikasi yang berlangsung di mana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi, surat kabar, dan film. Dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi sebelumnya, komunkasi massa memiliki ciri-ciri tersendiri. Sifat pesannya terbuka dengan khalayak yang variatif, baik dari segi usia, agama, suku, pekerjaan, maupun dari segi kebutuhan. Ciri lain yang dimiliki komunikasi massa, ialah sumber dan penerima dihubungkan oleh saluran yang telah di proses secara mekanik. Sumber juga merupakan suatu lembaga dan institusi yang terdiri dari banyak orang, misalnya reporter, penyiar, editor, teknisi, dan sebagainya. Oleh karena itu, proses penyampaian pesannya lebih formal, terencana, (dipersiapkan lebih awal), terkendali oleh redaktur dan lebih rumit, dengan kata lain melembaga. Pesan komunikasi massa berlangsung satu arah dan tenggapan baliknya lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Akan tetapi, dengan perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, khusunya media massa elektronik seperti radio dan televisi, maka umpan balik dari khalayak bisa dilakukan dengan cepat kepada penyiar, misalnya melalui program interaktif. Selain itu, sifat penyebaran pesan melalui media massa berlangsung begitu cepat, serempak dan luas.

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa masing-masing tataran saling berhubungan. Hubungan tersebut ialah tataran/bentuk komunikasi paling atas mempengaruhi tataran komunikasi di bawahnya, baik itu dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini mempengaruhi keberhasilan kita dalam suatu komunikasi. Jika komunikasi intrapribadi itu gagal, maka akan gagal pula komunikasi antarpribadi. Begitu juga jika komunikasi antarpribadi pun juga gagal, maka akan gagal pula komunikasi kelompok dan jika komunikasi kelompok itu gagal maka akan gagal pula komunikasi publik, begitu seterusnya. Jadi keberhasilan kita berkomunikasi dalam suatu tataran itu tergantung bagaimana kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri terkait dengan ucapan atau tindakan kita dalam berkomunikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Cangara, Hafied. 2010. Pengantar Ilmu Komunikasi. Modul Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi Universitas PGRI NTT