Anda di halaman 1dari 7

Sekilas Kode Etik Jurnalistik Oleh AMIN R.

ISKANDAR BEBERAPAKALI Jakob Oetama mengatakan, wartawan itu seniman sekaligus intelektual1. Seniman memiliki unsur keindahan. Intelektual memiliki unsur kebenaran. Jika dipadukan, wartawan merupakan profesi yang mengemukakan kebenaran dengan cara indah: baik keindahan tulisan, gambar (foto), maupun keindahan tata letak media massa. Seniman dan intelektual memiliki kecenderungan yang sama: idealis sekaligus kritis yang dibarengi dengan kejujuran dan keadilan; demi manusia dan kemanusiaan. Dari sana berkembang ke ranah politik, sosial, budaya, agama, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sastra, dan bidang lainnya. Karena itu, wartawan tidak cukup memiliki kecerdasan dan skill menulis yang bagus, tetapi juga diperlukan spesialisasi. Keduanya bangga jika produknya original, bukan tiruan. Intelektual boleh salah, asal tidak berbohong. Tapi wartawan tidak boleh berbohong dan tidak boleh salah. Jika ada kesalahan, maka hukum ralat menjadi mutlak. Wartawan adalah profesi kekaryaan. Tapi bukan Golongan Karya. Yang diperdagangkannya adalah produk, bukan menjual harga diri. Kian bermutu produknya akan kian mahal harga seorang wartawan. Bagi saya, kejujuran dan keadilan demi kemanusiaan itu lah kode etik fundamental bagi wartawan. Sebab secara pengertian, kode etik merupakan pola aturan; tata cara; tanda; pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan (berprilaku dan berprofesi). Senada dengan apa yang disampaikan oleh Gibson dan Mitchel (1995) bahwa suatu kode etik menggambarkan nilai-nilai profesional suatu profesi yang diterjemahkan dalam standar prilaku anggotanya. Secara kelembagaan (pers), ruang keberlakuan kode etik sangatlah terbatas. Sebab hanya berlaku bagi kelompok atau lembaga tertentu. Butir-butir kode etik disusun, difahami, dan ditaati bersama. Kode etik satu lembaga niscaya berbeda dengan lembaga lainnya. Contoh kode etik jurnalistik adalah yang disusun oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Aliansi Jurnalistik
1 Baca St. Sularto. Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama; 2001.

Independent (AJI)2. Masing-masing memiliki butir yang berbeda, sekalipun prinsipnya sama. Kode etik jurnalistik cukup panjang, paling tidak untuk membuat sibuk para wartawan dalam menghafalnya. Tapi yang terpenting bukan panjang pendeknya butir kode etik dan bagaimana cara menghafalnya, melainkan bagaimana itu bisa dilaksanakan. Bila tidak sepakat dengan PWI/AJI, Majalah Suaka sejatinya memiliki kode etiknya sendiri. Lantas, patuhilah oleh seluruh crew!!. Kode etik jurnalistik yang paling banyak diperbincangkan adalah perihal menerima amplop (uang) atau bingkisan dari nara sumber. Sebab butir itu yang paling krusial. Sampai-sampai media massa menyediakan ruang untuk menyantumkan larangan menerima amplop. Faktanya? masih kerap dijumpai tidak seperti itu. Pada tahun 2009, Wakil Presiden kala itu, M. Jusuf Kalla, melemparkan argumen: wartawan boleh menerima uang dari nara sumber, asal jangan meminta3. Alasannya, M. Jusuf Kalla melihat banyaknya wartawan yang kesejahteraannya masih jauh dari standar. Tapi, kode etik selalu milik suatu lembaga yang membuatnya, bukan penguasa. Dan, sekali lagi, wartawan sejati tidak akan pernah menjual harga dirinya(?). Banyak wartawan yang marah pada wartawan tanpa surat kabar yang, pekerjaannya meminta uang bahkan kadang memeras nara sumber. Memang pantas marah sebab telah mencemari citra seluruh wartawan. Namun dari segi kode etik, apakah mereka melanggar kode etik? Jawabannya bisa jadi tidak. Memang begitulah pola aturan; tata cara; tanda; pedoman etis profesi dan prilaku wartawan tanpa surat kabar. Bahkan, mereka memiliki energi lebih untuk mengejar target. Seakan-akan memiliki semboyan, pantang pulang sebelum mendapat uang. Lagi pula, lembaga pers mana yang berwenang memecat mereka? Lantas, untuk apa keberadaan kode etik itu? Mengacu pada Biggs dan Blocher (1986), ada tiga fungsi kode etik. Pertama, melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah. Poin ini sangat penting sebab wartawan sejati bukan budak penguasa, bukan penjilat yang gemarnya menguntit pantat pejabat. Kedua, mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu
2 Baca lampiran. 3 Disampaikan dalam salah satu acara seminar di Jakarta.

profesi. Poin ini juga penting demi menjaga sinergitas kerja suatu lembaga pers. Ketiga, melindungi para praktisi dari kesalahan suatu profesi. Poin ini lebih pada individu. Saya kira, wartawan tau apa profesinya. Singkatnya, kode etik jurnalistik penting untuk melindungi nama baik wartawan (secara individu) dan pers (secara lembaga). Wartawan dan pers tidak bisa dipisahkan. Segelintir wartawan membuat ulah akan merusak citra lembaga pers secara keseluruhan. Begitupun sebaliknya, kebijakan pers yang tidak jujur akan merusak citra seluruh wartawan yang bekerja di dalamnya. Alhasil, bagi para calon wartawan, ingatlah bahwa bangsa ini sedang sangat merindukan orang-orang jujur, kritis, idealis, dan mencintai keindahan. Jika tulisan ini tidak sepenuhnya mengobati dahaga Anda akan ilmu, maka teguklah buku-buku teori Kode Etik Jurnalistik dengan sungguh-sungguh!!! Lampiran 1 Kode Etik Jurnalistik Versi PWI PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya salah satu perwujudan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sebagaimana diamanatkan oleh pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Oleh sebab itu kemerdekaan pers wajib dihormati oleh semua pihak. Mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara berdasarkan atas hukum, seluruh wartawan Indonesia menjunjung tinggi konstitusi dan menegakkan kemerdekaan pers yang bertanggung jawab, mematuhi norma-norma profesi kewartawanan, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memperjuangkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial berdasarkan Pancasila. Maka atas dasar itu, demi tegaknya harkat, martabat, integritas, dan mutu kewartawanan Indonesia serta bertumpu pada kepercayaan masyarakat, dengan ini Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) menetapkan Kode Etik Jurnalistik yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh wartawan Indonesia.

BAB I KEPRIBADIAN DAN INTEGRITAS Pasal 1 Wartawan Indonesia beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila, taat kepada undang-undang Dasar Negara RI, kesatria, menjunjung harkat, martabat manusia dan lingkungannya, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan negara serta terpercaya dalam mengemban profesinya. Pasal 2 Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan atau keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh undang-undang. Pasal 3 Wartawan Indonesia pantang menyiarkan karya jurnallistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang menyesatkan memutar balikkan fakta, bersifat fitnah, cabul serta sensasional. Pasal 4 Wartawan Indonesia menolak imbalan mempengaruhi obyektivitas pemberitaan.

yang

dapat

BAB II CARA PEMBERITAAN DAN MENYATAKAN PENDAPAT Pasal 5 Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dari kecepatan serta tidak mencampur adukkan fakta dan opini sendiri. Karya jurnalistik berisi interpretasi dan opini wartawan, agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya. Pasal 6 Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang merugikan nama baik seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum.

Pasal 7 Wartawan Indonesia dalam memberitakan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran hukum atau proses peradilan harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, jujur, dan penyajian yang berimbang. Pasal 8 Wartawan Indonesia dalam memberitakan kejahatan susila (asusila) tidak merugikan pihak korban. BAB III SUMBER BERITA Wartawan Indonesia menempuh cara yang sopan dan terhormat untuk memperoleh bahan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) dan selalu menyatakan identitasnya kepada sumber berita. Pasal 10 Wartawan Indonesia dengan kesadaran sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap pemberitaan yang kemudian ternyata tidak akurat, dan memberi kesempatan hak jawab secara proporsional kepada sumber atau obyek berita. Pasal 11 Wartawan Indonesia meneliti kebenaran bahan berita dan memperhatikan kredibilitas serta kompetensi sumber berita. Pasal 12 Wartawan Indonesia tidak melakukan tindakan plagiat, tidak mengutip karya jurnalistik tanpa menyebut sumbernya. Pasal 13 Wartawan Indonesia harus menyebut sumber berita, kecuali atas permintaan yang bersangkutan untuk tidak disebut nama dan identitasnya sepanjang menyangkut fakta dan data bukan opini. Apabila nama dan identitas sumber berita tidak disebutkan, segala tanggung jawab ada pada wartawan yang bersangkutan. Pasal 14 Wartawan Indonesia menghormati ketentuan embargo, bahan latar belakang, dan tidak menyiarkan informasi yang oleh

sumber berita tidak dimaksudkan sebagai bahan berita serta tidak menyiarkan keterangan "off the record". BAB IV KEKUATAN KODE ETIK JURNALISTIK Pasal 15 Wartawan Indonesia harus dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Jurnalistik PWI (KEJ-PWI) dalam melaksanakan profesinya. Pasal 16 Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahawa penaatan Kode Etik Jurnalistik ini terutama berada pada hati nurani masing-masing. Pasal 17 Wartawan Indonesia mengakui bahwa pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran Kode Etik Jurnalistik ini adalah sepenuhnya hak organisasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan dilaksanakan oleh Dewan Kehormatan PWI. Tidak satu pihak pun di luar PWI yang dapat mengambil tindakan terhadap wartawan Indonesia dan atau medianya berdasarkan pasal-pasal dalam Kode Etik Jurnalistik ini.

Lampiran 2 Kode Etik Wartawan Versi AJI Wartawan menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Wartawan senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar. Wartawan memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya. Wartawan hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya. Wartawan tidak menyembunyikan informasi penting yang perlu

diketahui masyarakat. Wartawan menggunakan cara-cara yang etis untuk memperoleh berita, foto dan dokumen. Wartawan menghormati hak nara sumber untuk memberi informasi latar belakang, off the record, dan embargo. Wartawan segera meralat setiap pemberitaan yang diketahuinya tidak akurat. Wartawan menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas korban kejahatan seksual, dan pelaku tindak pidana di bawah umur. Wartawan menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, politik, cacat/sakit jasmani, cacat/sakit mental atau latar belakang sosial lainnya. Wartawan menghormati privasi, kecuali hal-hal itu bisa merugikan masyarakat. Wartawan tidak menyajikan berita dengan mengumbar kecabulan, kekejaman kekerasan fisik dan seksual. Wartawan tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk mencari keuntungan pribadi. Wartawan tidak dibenarkan menerima sogokan. (Catatan: yang dimaksud dengan sogokan adalah semua bentuk pemberian berupa uang, barang dan atau fasilitas lain, yang secara langsung atau tidak langsung, dapat mempengaruhi wartawan dalam membuat kerja jurnalistik.) Wartawan tidak dibenarkan menjiplak. Wartawan menghindari fitnah dan pencemaran nama baik. Wartawan menghindari setiap campur tangan pihak-pihak lain yang menghambat pelaksanaan prinsip-prinsip di atas. Kasus-kasus yang berhubungan dengan kode etik akan diselesaikan oleh Majelis Kode Etik.