Anda di halaman 1dari 79

Serial Aqidah Islamiyah (1)

DINAMIKA AQIDAH ISLAM

Abdurrahman Al Baghdadi

Press 1997

KATA PENGANTAR Aqidah Islam ialah menyaksikan dan meyakini kalimah laa ilaaha illalah Muhammad Rasulullah yang artinya : Tiada tuhan yang patut disembah dan ditaati selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah . Di atas kesaksian inilah didirikan Islam dengan segala aspeknya, termasuk amal-amal sholeh yang berupa ibadah dan taqarrub ( pendekatan diri kepada Allah swt ) . Bersabda Rasulullah saw : : . tuhan Islam itu dibangun atas lima perkara : Syahadat bahwa tiada

selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, medirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan (ibadah) haji dan berpuasa (shaum di bulan) Ramadhan ( HSR Ahmad, Bukhari, Muslim, Turmidzi dan Nasai ) . Lima perkara di atas merupakan dasar Islam Arkanul Islam . Status- nya sebagai dasar Islam karena lima perkara tersebut mencakup segi aqidah dan amal sholeh yang dilaksanakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Namun, ini bukan berarti bahwa Islam hanya terbatas pada lima pilar/dasar tersebut, yakni pada masalah-masalah aqidah dan ibadah saja; melainkan men- cakup seluruh aspek kehiddupan, seperti muamalaat ( hubungan antara sesama masyarakat dan antara negara dan rakyat ), mathumaat ( makanan dan minuman ), malbusaat ( pakaian dan perhiasan ), uqubaat ( hukuman terhadap pelanggaran dan kejahatan ), bayyinaat ( pembuktian perkara di dalam pengadilan ) dan akhlak ( budi pekerti ) . Atas dasar inilah, maka Aqidah Islam telah menjadi asas bagi segala sesuatu: asas bagi kehidupan individu dan masyarakat, asas bagi negara, asas bagi hukum dan undang-undang, asas bagi partai-partai politik, asas bagi lembaga-lembaga pendidikan (sekolah-sekolah negeri dan swasta ), dan asas bagi sains dan ilmu pengetahuan . Aqidah Islam memang aqidah yang sederhana ( mudah dicernak ), tidak berbelit, lugas dan sesuai dengan fitrah manusia. berbelit, Selain itu aqidah Islam ada-lah aqidah yang agung dan mulia, karena ia berasal dari Allah SWT. yakni dari Wahyu ( Al-Quran dan Hadits mutawatir ). Maka Aqidah Islam telah dibangun diatas bukti-

bukti yang nyata dan hujjah-hujjah yang tak terpatahkan. Oleh Karena itu, seluruh bangsa Arab di masa Nabi telah menganutnya, sehingga jumlahnya mencapai lebih dari sepuluh juta orang. Sekarang jumlah kaum muslimin mencapai 1 1/4 miliar . Setiap muslim mengakui Rasulullah saw sebagai suri teladan yang baik. Di tangannya telah lahir generasi sahabat yang tangguh dalam beraqidah, tangkas, cerdas, terampil dan kuat dalam tangkas, memegang syariat. Merekalah yang telah mewarisi agama ini (Islam) dan menyebarkannya kepada segenap umat manusia. menyebarkannya Shahabat Rasulullah tidak pernah mengarang buku yang khusus membahas tentang aqidah. Sebab, Al Quran sebagai wahyu Allah SWT dan Sunnah Rasul telah menguraikan Aqidah Islamiyah secara mendetail, bahkan mencukupi seluruh kebutuhan Rohani dan peraturan hidup mereka. Al Quran dan Sunnah Rasul sebagai wahyu Allah SWT telah merangsang tumbuhnya putra-putra kaum Muslimin di masa lampau sehingga mereka mampu berijti-had, menggali dan menciptakan sistematika pengkajian Islam dan medote pe-mikiran atau cara pemahaman yang Islami. Ketangguhan umat dalam menghadapi tantangan zaman memang senantiasa teruji, yaitu sampai sejauh mana ia mampu memang menampilkan Islam dalam bentuknya yang tangguh dan tinggi. Generasi terdahulu telah membuktikannya. Tetapi kini....? Bagaimanapun juga Islam harus difahami sebagaimana adanya, yaitu sebagai sebuah sistem kehidupan yang mengatur segala urusan hidup manusia, dengan aqidah Islam sebagai basis bagi berdirinya bangunan umat , masyarakat dan negara . Memang aqidah Islam yang memiliki lebih dari 60 cabang. Ia tentu saja sangat memerlukan kajian lebih lanjut. Oleh karena itu, apa yang tercantum dalam buku ini adalah merupakan fondasi merupakan dasar bagi aqidah Islam yang sesungguhnya telah diketahui oleh setiap Muslim meskipun mereka belum mengetahui dalil-dalilnya. mengetahui Nanti pada kesempatan lain, insya Allaah, akan disusun Allaah, bagian kedua dari "Serial Aqidah Islamiyah" ini, yaitu masalah Islamiyah" "Qadla' dan Qadar". Pada serial-serial selanjutnya akan dibahas berbagai masalah-masalah aqidah lainnya, seperti Al-Qadar ( takdir ) , Al-Qadar Al-Huda Wa ad-Dhalalah ( Pe-tunjuk dan Sesat ), Al-Rizq ( Rizki ), Al-Ajal ( Mati karena habis umur) , dan lain sebagainya dengan uraian yang dapat menjadikan aqidah umat Islam ini kokoh dan dinamis kembali. Hanya kepada Allaah SWT jua kita serahkan segalanya. Baghdadi 1418H Abdurrahman Al1 Rabiul Awal 5 Juli 1997 M

DAFTAR ISI PENGANTAR DAFTAR ISI MUKADIMAH (i) ( ) ( ) ( ) ( )

KRITERIA AQIDAH ISLAMIYAH DINAMIKA AQIDAH iSLAMIYAH

IMAN KEPADA ALLAH SWT FONDASI UTAMA AQIDAH ISLAM ( ) IMAN KEPADA MALAIKAT ( ) ( ) ( ) ( )

IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

IMAN KEPADA KEPADA PARA NABI DAN RASUL IMAN KEPADA AL-WAHYU DAN SYARIAT ISLAM

IMAN KEPADA HARI KIAMAT

MUKADIMAH Tak ada seorangpun yang mengingkari bahwa masalah akidah adalah masalah pokok (asal) dalam Islam. Bahkan dalam semua bentuk " mabda (ideologi) dan agama di dunia, akidah menjadi landasan berfikir, berbuat dan menjalankan segenap aspek menjalankan tingkahlaku manusia. Oleh karena itu tiap bangsa mempunyai akidah yang telah dipilih sebagai anutan, untuk dilaksanakan anutan, sebagaimana yang dikehendaki oleh akidah tersebut. Dialah yang menguasai pikiran dan irodat (kehendak) manusia. Dia pula irodat yang membuat garis pemi-sah bagi jalan pikiran manusia serta mendorong penganutnya agar berusaha, tak perduli apakah akidah itu benar atau salah. Segala usaha dan daya upaya manusia selalu terpaut dengan akidah itu. Karenanya orang yang bekerja atas dasar akidah, maka ia akan bekerja dengan penuh semangat dan sungsungguh-sungguh. Sebaliknya orang yang mengerjakan sesuatu tanpa berdasarkan akidah, maka ia selalu diliputi oleh rasa lemah dan lesu. Pengertian Akidah

Aqidah menurut ketentuan bahasa (Arab) ialah 1): "sesuatu yang dipegang teguh dan ia terhunjam kuat di "sesuatu dalam lubuk jiwa dan tak dapat (mudah) beralih dari padanya". padanya". Menurut istilah ulama, i'tiqad atau akidah ialah: "Iman yang sesuai dengan kenyataan dan ia dikuatkan dengan dalil". dalil". Mengenai keterangan tentang ta'rif akidah ini, Prof. TM. Hasbi Ash Shiddiqy berkata2): "Iman ialah kepercayaan yang kuat, tidak dipengaruhi oleh syak (ragu-ragu) atau wahan (persangkaan yang tidak beralasan) ataupun dzon (persangkaan yang mempunyai alasan kuat). kuat). Tentang keterangan mengenai iman "yang sesuai dengan "yang kenyataan", beliau memberikan penjelasan sebagai berikut 2) : kenyataan", "mengimani sesuatu yang sama sekali tidak benar". benar". Sedangkan keterangan mengenai syarat kedua, yaitu iman "yang "yang dikuatkan dengan dalil", beliau memberikan keterangan: dalil", "ia menjadi pemisah, yang mengikuti orang lain tanpa dalil". mengikuti dalil". mengeluarkan taqlid,

Mengenai dalil akidah, para ulama telah sepakat bahwa keterangan yang berasal dari akal (dalil aqli) yang benar dan (dalil aqli) sesuai dengan kenyataan adalah sesuatu yang dapat melahirkan melahirkan keyakinan dan menciptakn keimanan yang dibutuhkan. Juga mengenai dalil naqli (yang dinukilkan dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasul) adalah sesuatu yang dapat mendatangkan keyakinan dan mengukuhkan akidah, bila dalil tersebut pasti asalnya (qath'i) dan (qath'i) pasti pula dalam berbagai pembuktiannya. Maksud kepastian pembuktiannya. asalnya (cara datangnya) ialah bahwa ketetapan datangnya adalah dari Allah atau dari Rasulullah saw dan tidak ada keraguan sedikitpun terhadapnya. Sedangkan maksud kepastian dalam pembuktian ialah bahwa nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah Rasul menunjukkan makna yang pasti dan ia tidak mungkin menerima "ta'wil" (interpretasi). Oleh karena itu, jika dalil nakli berada dalam ta'wil" kondisi seperti itu, maka ia bisa menghasilkan keyakinan dan dapat dipakai untuk menetapkan akidah 3).

Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa segala bentuk bentuk

kepercayaan yang tidak datang melalui jalan yang pasti, atau yang datang melalui jalan yang pasti tetapi masih meng andung berbagai sangkaan (kemungkinan) dalam keterangannya sehingga menimbulkan perselisihan pendapat antara para ulama, maka ia ulama, merupakan akidah yang tidak diwajibkan oleh agama kepada kita untuk menganutnya. Ia merupakan garis pemisah yang tegas antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang tidak beriman4 ). Persoalan seperti itu banyak ditemukan di dalam kitab-kitab tauhid, di samping akidah-akidah yang telah diwajibkan Allah kepada kita untuk mempercayainya. Kitab-kitab tersebut di samping membicarakan tentang keberadaan Allah dan keesaankeesaanNya, keimanan kepada para Rasul dan hari ke-mudian, ia juga membicarakan berbagai persoalan tentang melihat dzat Allah dengan penglihatan (mata), tambahan sifat-sifat atas dzat-Nya, penanggung dosa besar dan apa yang terjadi di akhir zaman mulai dari permunculan Al-Mahdi, Masih Ad-Dajjal, hingga turunnya Isa Al Masih as. dan lain-lainnya. Dilarang Berijtihad dalam Masalah Aqidah Sejarah Ilmu Tauhid /Kalam, memaparkan bahwa hal ini merupakan persoalan-persoalan yang menyeret manusia untuk meneliti bidang akidahnya, yakni ketika muncul banyak golongan, pendapat dan mazhab di golongan, dalam ilmu kalam. Karena itu, persoalan akidah merupakan arena ijtihad bagi para ulama yang masing-masing bisa mengemukakan pendapatnya dan menampilkan alasan-alasan yang mendasari menampilkan pendapatnya berdasarkan pandangannya, den-gan harapan ia bermuara kepada akidah yang disepakati yang sesuai dengan pandangannya. Dalam masalah ini, kitab-kitab tauhid telah memaparkan apa-apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama tersebut dan apa-apa yang mereka perselisihkan. Ada yang berpendapat bahwa perselisihan pendapat antar golongan ulama Muslim, seperti Mu'tazilah, Jabariyyah, Murji'ah, Mu'tazilah, Jabariyyah, Murji'ah, Ahlus-Sunnah dan lain-lain dalam bidang akidah adalah perbedaan pendapat yang tidak sampai menyesatkan (mengeluar(mengeluarkan dari iman), dan bahwasanya perbedaan pendapat dalam masalah akidah sama dengan perbedaan dalam hal "furu'iyyah" "furu'iyyah" ). 5 Pendapat seperti itu tidak benar. Sebab, syara' tidak menerima ijtihad dalam masalah akidah. Ijtihad di dalam syara' hanya terbatas dalam bidang hukum (syariat). Rasulullah saw Rasulullah

membenarkan ijtihad Sa'ad bin Muadz dan Amr bin Al-Ash, Al-Ash, Muadz bin Jabbal, Abdullah bin Mas'ud. Dalam hal ini, perlu Jabbal, Mas'ud. diperhatikan sabda beliau: "Apabila seorang hakim (qadli) berijtihad (memutuskan perkara) dan ijtihadnya benar maka ia dapat dua pahala. Jika ia memutuskan perkara atas dasar ijtihad tetapi ijtihadnya salah, maka ia dapat satu pahala" (HR Bukhari no. 7352). Dari nash tersebut dapat dipahami, bahwa ijtihad hanyalah hanyalah dalam bidang penentuan hukum (syariat) dan pengadilan . Tidak ada satu nashpun yang menunjukkan adanya ijtihad dalam bidang akidah. Bahkan sebaliknya, dalil-dalil yang qath'i dalam Al-Qur'an melarang ijtihad dalam akidah serta melarang menentukan akidah atas dasar persangkaan, sebagaimana yang akan diterangkan pada bagian berikutnya. Oleh karena itu, Imam Shamsuddin Ar Ramli Asy Syafi'i dalam fatwanya telah melarang ijtihad dalam masalah aqidah. Ketika pada suatu kesempatan kepada beliau diajukan sebuah pertanyaan: "Bolehkah seseorang mujtahid berijtihad dalam masalah-masalah ushluddin (aqidah), padahal dalam masalah tersebut tidak terdapat sebuah nash pun yang menjelaskannya?" Imam Ar Ramli menjawab: "Tidak boleh. Sebab, hal tersebut sama sekali tidak terkait dengan masalah ushuluddin" 6).

Jumhur ulama dalam masalah yang sama dengan di atas, telah menentang pendapat Imam Al Jahizh dan Abdullah Al Anbary yang mem-benarkan ijtihad mujtahidin dalam masalah ushuluddin (akidah) 7) Bertolak dari fakta tersebut, maka orang yang berijtihad dalam berijtihad bidang akidah kalau ia salah maka ia tidak mendapat pahala dan mendapat alasannya tidak diterima. Ia berdosa kalau apa yang dilakukannya salah, dan ia bisa tersesat (keluar dari Islam). Contoh paling populer adalah apa yang dilakukan oleh faham Qadariyyah yang melakukan ijtihad. Mereka mengatakan: "Tidak ada taqdir". Begitu pula mengatakan: taqdir". golongan sesat lainnya yang menolak sifat-sifat Allah atau lainnya golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk (Almenyerupakan (AlMusyabbihah). Kesesatan yang terjadi dan menimpa mereka Musyabbihah). disebabkan karena mereka berusaha berijtihad dalam bidang akidah. Begitu pula dengan masalah "khalqul Qur'an", dzat dan "khalqul Qur'an", dzat sifat Allah , qadla' dan qadar atau yang lain-lain; semua itu Allah telah muncul setelah kaum Muslimin berijtihad dalam aqidah dan setelah mereka mengkaji filsafat-filsafat Yunani, Persia dan Hindu. Mereka mencoba menentukan pendapatnya sendiri. Walaupun

banyak di antara mereka menggunakan nash-nash Al-Qur'an sebagai hujjah dan dalil, tetapi pengambilan nash-nash tersebut dilakukan mereka dengan jalan menta'wilkan sekehendak hati menta'wilkan sekedar untuk memper-kuat pendapatnya sendiri. Persyaratan Dalil-dalil Aqidah Di samping dilarang berijtihad dalam bidang akidah, syara' juga melarang kaum Muslimin menggunakan dalil dzonny dalam pembahasan akidah, misalnya dalil tersebut berasal dari "ayat "ayat mutasyabihat" atau "hadits ahad". Juga telah disepakati bahwa mutasyabihat" "hadits ahad". untuk menentukan hukum akidah wajib memiliki dalil qoth'i, yaitu memiliki dalil yang berasal dari "ayat muhkamat" dan atau "hadits "ayat muhkamat" "hadits mutawatir". mutawatir". Jadi akidah hanya didasarkan pada dalil yang sifatnya "koth'i tsubut" (pasti sumbernya) dan "koth'i dilalah" (pasti tsubut" "koth'i dilalah" (pasti pengertiannya) yang tak dapat dita'wilkan dan difahami dengan arti yang lain. Kesimpulan ini ditinjau dari ayat-ayat Al-Qur'an yang melarang mengikuti dzon (persangkaan) dalam beriman,tanpa dzon adanya sulthan atau "burhan" (bukti yang pasti). Dan ayat-ayat sulthan "burhan" Al-Quran ini adalah "qoth'iyyatuddilalah" (yakni mempunyai arti "qoth'iyyatuddilalah" yang jelas dan pasti). Sedangkan yang menunjukkan bahwa akidah itu hanya dapat diambil dari nash-nash Al-Qur'an dan hadits mutawatir yang pasti sumbernya dan jelas pengertiannya, antara lain adalah sebagai berikut: 1. Allah SWT telah berfirman tentang penolakan orang- orang kafir terhadap iman kepada Hari Kiamat: . "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu ( yang tidak ber-iman kepada kebangkitan dari kubur sesudah mati ). (Dan) karena (kelakuannya itu) mereka akan masuk neraka" (QS Shaad 27). 2. Allah SWT berfirman tentang berhala-berhala kaum Musyrikin Musyrikin seperti Lata, Uzza, Manath: . "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu ada-adakan, (sedangkan) Allah tidak menurunkan sesuatu keterangan apapun untuk (menyem

bah)Nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sang kaansangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawanafsu mereka. Dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka" (QS An-Najm 23). mereka" 3. Terhadap orang-orang Musyrikin yang menamakan malaikat dengan nama perempuan, Allah berfirman : . "Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman "Sesungguhnya kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan tentang hal itu. Mereka mempunyai tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan. Padahal persangkaan itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran" (QS An Najm 27-28). kebenaran" 4. Allah SWT juga melarang mengikuti agama-agama dan keperkepercayaan orang-orang kafir di seluruh dunia berda sarkan firmanNya: firmanNya: . "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang (kafir) yang di muka bumi ini, pastilah mereka menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta ( terhadap Allah )" (QS Al-An'am 116). )" 5. Mengenai perselisihan yang terjadi antara ahli kitab tentang kematian Al Masih, Allah SWT berfirman : . "Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang (pem-bunuhan) Isa, benar-benar ragu tentang (siapa) yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin belaka. bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa" (QS An- Nisaa 157). Isa" Dari uraian tersebut, jelas sekali bahwa semua ayat-ayat yang dikutip di atas terkait erat dengan masalah aqi dah, sekaligus menunjukkan adanya larangan mengikuti sesuatu yang sifatnya dzon dalam masalah akidah. Meskipun sebab-sebab nuzulnya dzon ditujukan kepada orang-orang kafi, tetapi perlu diingat bahwa

makna suatu ayat tidak menjadi sempit karena sebab-sebab turunnya ayat, tetapi pengertiannya harus didasarkan kepada pengertiannya umumnya lafaz, sesuai dengan kaidah syara' yang mengatakan: "Yang menjadi perhatian (dalam masalah hukun /tasyri') adalah umumnya lafadz, bukan kekhususan sebabnya" 8). sebabnya" Seputar Dalil Dzhonny dan Hadits Ahad Makna Dzhon menurut arti bahasa adalah 9): "Keraguan yang timbul di antara dua alternatif, maka tidak ada jalan lain kecuali mempercayai atau menolaknya". menolaknya". Atau juga "Penyebab seseorang menjadi ragu serta Penyebab " mendorongnya untuk memilih alternatif dan itu tidak pasti mendorongnya benarnya". benarnya". Karena itu, dzon adalah sesuatu yang mengandung lebih dari satu kemungkinan, sehingga ada alternatif bagi manusia untuk memilih salah satu diantara yang dianggapnya mendekati mendekati kebenaran. Oleh karena itu sesuatu yang sifatnya dzon, tidak pernah memberikan kepastian. Itulah sebabnya mengapa ia tidak boleh digunakan sebagai dalil atau hujjah dalam masalah akidah, baik hal itu berupa "dzonny tsubuts" maupun "dzonny dilalah". "dzonny tsubuts" "dzonny dilalah". Para ulama ushuluddin menyatakan: "Sesuatu yang mengandung lebih dari kemungkinan, maka tidak sah dipakai sebagai (akidah)". (akidah)". satu dalil

Bagi kaum Muslimin, tak seorangpun ragu bahwa ayat-ayat AlQur'an datangnya dari Allah. Tetapi tidak demikian halnya dengan Sunnah Rasul. Kecuali sunnah mutawatir, sebab hadits ini diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat yang mustahil sepakat berdusta. Oleh karena itu, hadits mutawatir adalah pasti sumbernya dari Rasul saw.Sedangkan sunnah masyhurah (hadits (hadits masyhur) adalah hadits yang tidak sampai derajat mutawatir. masyhur) contoh yang lain tentang hal ini adalah hadits ahad yang diriwayatkan oleh seorang, dua atau lebih dari shahabat, namun ia tidak sampai derajat mutawa tir. Kedua macam hadits tersebut tidak sampai menunjukkan kepastian bahwa sumbernya adalah dari Rasul saw (masih ada unsur keraguan), walaupun menurut ulamakeraguan), ulama madzhab Hanafiyyah, hadits masyhur disebut hadits

mutawatir yang qoth'i tsubut yang tingkatannya dekat keyakinan. tingkatannya Tetapi dalam hal ini, orang yang menolaknya tidaklah dikafirkan10).

Tentang permasalahan hadits ahad, walaupun ada perbedaan pendapat di kalangan ulama hadits dan ulama ushul fiqih tentang kedudukan hadits ter-sebut. Ulama ahli hadits misalnya, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany, Ibnu Ash-Shalah, Abu Daud AsAl-Asqalany, Ash-Shalah, Sijistani, Ibnu Hazem al-Andalusi, Al-Harits al-Muhasiby dan Sijistani, al-Andalusi, sebagian besar ulama ahli hadits berpendapat bahwa hadits ahad menunjukkan ilmu yang kath'i dan harus diterima di bidang akidah serta harus diamalkan dalam segala bidang. Tetapi jumhur ulama ushul menetapkan bahwa hadits ahad menunjukkan hal yang dzhon (persangkaan), namun demikian ia wajib diamalkan setelah diakui tingkat keshahihannya. Tetapi hadits ahad tidak bisa dipakai dalam bidang aqoid (akidah), karena ia tidak bisa mendatangkan keyakinan. Demikianlah pendapat para ahli ilmu ushul, fiqih dan hadits, yang di antaranya terdapat empat orang Imam yang masyhur, yaitu Imam Malik, Imam Abu Malik, Hanifah, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hambal -Hanifah, Syafi'i, menurut salah satu riwayat dari dua pendapat beliau--. Juga Imam al-Ghazaly, alal-Ghazaly, Asnawy, al-Bazdawy, al-Khatib al-Baghdady, Ibnu Abdis Salam, Asnawy, al-Bazdawy, Salam, An-Nawawy, Ibnu Abdil Barry dari ulama salaf, dan Al-Qasimy, An-Nawawy, Al-Qasimy, Muhammad Abduh, Sayyid Quthub, Dr Mahmud Thahhan, Dr. Abduh, Quthub, Thahhan, Abdullah at-Turki dari ulama khalaf, dan lain-lain. Dalam hal ini kita mengikuti pendapat kedua yang mengatakan bahwa hadits Ahad tidak dapat menghasilkan keyakinan, melainkan hanya persan-gkaan belaka. Imam Al-Bazdlawy mengatakan: "Selama hadits Ahad tidak menghasilkan pengetahuan "Selama yang dapat meyakinkan seseorang, maka ia tidak bisa dijadikan dalil terhadap hal-hal yang bertalian dengan terhadap persoalan akidah. Sebab, masalah akidah haruslah dibina di atas pengetahuan yang betul-betul diyakini. Karena itu, hadits Ahad hanya bisa dijadikan alasan (hujjah) bagi hal-hal yang berhubungan dengan amalan" 11). amalan" Juga Imam Al-Asnawy berkata11): "Pada dasarnya jika riwayat hadits ahad mendatangkan "Pada sesuatu, maka yang dihasilkannya hanya berupa sangkaan. Allah sendiri membolehkan berbagai persangkaan itu, tetapi hanya terbatas dalam masalah amaliah, yakni cabang-

cabang agama (fiqih), bukan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan (ilmu) semata, seperti kaidah-kaidah pokok/dasar agama (ushuluddin) ". Demikianlah kita dapatkan perkataan-perkataan para ahli ilmu kalam dan ushuluddin yang bersepakat mengatakan bahwa hadits Ahad tidak bisa menghasilkan keyakinan. Oleh karena itu, ia tidak bisa ditetapkan sebagai suatu dalil akidah. Atas dasar inilah, para ulama yang ahli di bidang ushuluddin telah menentukan suatu kaidah dasar untuk akidah yaitu: "Bahwasanya akidah itu tidak boleh diterima kecuali dengan dalil yang menunjukkan keyakinan". keyakinan". Kaidah ini diambil berdasarkan dalil yang telah dijelaskan di atas serta berdasarkan pula pada ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan kaum Muslimin untuk menetapkan keimanan mereka hanya dengan keyakinan. Firman Allah: "Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan "Apakah (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maidah 50). yakin?" "(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan "(yaitu) zakat dan mereka yakin adanya negeri akhirat" (QS. Lukman akhirat" 4). "Dan pada penciptaan kamu, dan pada binatang-binatang "Dan melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tandatanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini" (QS. Almeyakini" Jaatsiyah 4). Semua itu menunjukkan bahwa iman yang dituntut oleh Allah adalah iman yang yakin, pembenaran (tashdiq) yang pasti (jazim) (tashdiq) (jazim) dan muncul dari dalil (burhan) yang kath'i. (burhan) Berkenaan dengan itu, Imam Al-Ghazaly berkata12): "Iman adalah suatu pembenaran pasti yang tidak ada "Iman keraguan atau tidak ada perasaan bersalah yang dirasakan oleh penganutnya". penganutnya".

Juga, Imam An-Nasafy berkata13): "(Iman adalah) pembenaran hati yang sampai pada batas "(Iman kepastian dan ketundukan". ketundukan". Sedangkan Syekh Mahmud Syalthout menyatakan14): "Iman adalah i'tiqad/pembenaran yang bersifat pasti dan "Iman sesuai den-gan kenyataan serta ia muncul dari dalil". dalil". Jadi masalah iman bukanlah sekedar pembenaran hati (tashdiqul kalbi), tetapi pembenaran itu harus bersifat pasti berdasarkan dalildalil yang mem-bentuk keyakinan, sehingga tidak ada keraguan sedikitpun (misalnya ada unsur dzhon) dalam iman. Sekitar Masalah Tashdiq dan Itiqad Masalah tashdiq berbeda dengan masalah i'tiqad (iman). Tashdiq adalah sekedar pembenaran, tetapi belum mencapai tingkatan iman. Karenanya, tashdiq dibenarkan berdasarkan dalildalil yang dzhonny yang berupa per- sangkaan belaka, sehingga dzhonny kabar ahad atau kabar masyhur yang shohih namun belum sampai ke tingkat mutawatir, tidak boleh diingkari atau ditolak. Ia bolehboleh saja dipercayai (dibenarkan) sesuai dengan kekuatan kabar (riwayat) haditsnya. Sebab, memang tashdiq itu bertingkat-tingkat; bisa 50 persen, 60 persen, 70 persen, 80 persen atau bahkan 99 persen, tergantung kekuatan keshahihan hadits. Misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Muslim, sanadnya lebih kuat dibandingkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Abu Daud. Demikiam pula Daud. hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah lebih kuat sanadnya dari Al-Hakim. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa iman Al-Hakim. adalah pembenaran seratus persen tanpa ada unsur keraguan sedikiutpun. Tetapi perlu diingat di sini bahwa tidak diterimanya hadits ahad sebagai dalil akidah bukan berarti suatu pengingkaran terhadapnya. Ada kaedah ushul untuk menyatakan hal tersebut: "Tiadanya i'tikad bukan berarti ingkar, tetapi "Tiadanya pembenarannya hanya tidak bersifat jazim (yang pasti) ". Oleh karena itu, khabar ahad yang shahih apalagi yang masyhur, tidak boleh diingkari. Para ulama dalam menganggapi hadits ahad mempunyai empat pendapat15): a. Hadits shohih yang ahad menunjukkan yakin walaupun tidak

diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Ini pendapat Ibnu Thahir AlMaqdisiy. b. Hadits ahad shohih menunjukkan yakin jika hadits tersebut dishohihkan oleh Bukhari dan Muslim atau salah satu dari keduanya. Inilah pendapat Ibnu Ash-Shalah. c. Hadits ahad shohih yang dishohihan oleh Bukhari dan Muslim dan hadits shohih yang masyhur dan atau mursal menurut para imam, semuanya meya-kinkan. Ini pendapat Al-Hafiz Ibnu Hajar. d. Hadits shohih yang ahad tidak menunjukkan yakin. Ia hanya menunjukka dzhon (persangkaan). Yang terakhir ini adalah pendapat jumhur ulama, di antaranya Imam Nawawy, Al-Ghazaliy, Al-Khatib Al-Baghdady, Ibnu Nawawy, Al-Ghazaliy, Al-Baghdady, Abdis Salam, Ibnu Abdil Barri dan lain-lain. Oleh karena itu Salam, orang yang tidak mengi'tikadkan hadits ahad (menjadikannya sebagai akidah) tidak dapat disalahkan apalagi dikafirkan atau dianggap sebagai golongan sesat. Imam Ibnu Hibban mengatakan 16): "Yang menolak hadits masyhur tidak dikafirkan". "Yang dikafirkan". Juga bagi orang-orang yang mengingkari hadits Ahad Juga tidak boleh dikafirkan, tetapi mereka hanya dipandang berdosa 17). berdosa Demikanlah, aqidah Islam adalah aqidah yang tinggi dan mulia. Ia dibangun di atas landasan dan bukti-bukti yang jelas dan pasti kebenarannya, tak mampu dipatahkan oleh manusia manapun. Aqidah semacam ini akan menjadikan kaum Muslimin tegak di atas dasar keyakinan, menjadi umat yang tinggi derajatnya, mulia dan selamat dari perpecahan. Sebaliknya tatkala aqidah Islam dibangun di atas dasar keraguan atau bercampur dengan unsur keraguan, maka umat Islam pasti mengalami banyak perselisihan dan perpecahan. Apalagi jika persoalan aqidah ini kemudian dijadikan lapangan ijtihad. Padahal ijtihad hanyalah terjadi dalam lapangan hukum syari'at, yang memungkinkan terjadinya perbedaan, karena memang ada dalil-dalil dzonny yang mengandung beberapa penafsiran. Ijtihad mengandung alternatif, tetapi tidak ada alternatif dalam aqidah. Akibat perang pemikiran dan kebudayaan (al-ghazwul fikri dan (al-ghazwul al-ghawu as- tsaqafiy) yang dilancarkan Barat terhadap Islam tsaqafiy) dan kaum Muslimin, memang berdampak besar yang menyebabkan

tergelincirnya pemikiran kaum Muslimin serta memudarnya nilainilai aqidah dalam diri dan kehidupan kita, di samping terkoyakkoyaknya negeri Muslim menjadi serpihan dan jauh dari persatuan Islam. Berbagai faham, misalnya faham kapitalis, sosialis, komunis, atheis, sinkritisme dan lain-lain, disertai sarana dan kekuatan materi yang lebih dari cukup, mereka menghantam keyakinan umat dari segenap penjuru. Mereka taburkan virus-virus kekufuran dan kemurtadan di tengan umat Islam. Belum lagi serangan yang datang dari kaum orientalis dan generasi pelanjut mereka yang muncul dari kalangan putra-putri kaum Muslimin sendiri, secara sadar atau tidak. Kumpulan dari mereka ini telah berhasil meragukan keyakinan kaum Muslimin tentang aqidah dan syariat Islam dengan cara merendahkan dan mencampuradukan konsep-konsep Islam dengan konsep-konsep kufur. Dengan cara demikian, mereka menghantam keyakinan umat Islam, misalnya dari celah-celah sifat Allah, malaikat, relevansi Al-Qur'an, keteladanan Muhammad saw, kadla dan kadar, rezeki, kemampuan syariat Islam untuk memecahkan persoalan hidup. Maka sudah saatnya umat Islam mencoba mengangkat mutiara Islam dari lumpur kehinaannya seraya menggosok sisa lumpur yang menyelimutinya. Sudah saatnya umat ini mewarisi sikap-sikap generasi terdahulu, para sahabat, tabi'in dan generasi sesudahnya, sebagai upaya memahami Al-Islam. Keberanian dan usaha memahami suatu kebenaran adalah langkah awal persatuan dan kemenangan umat. Tetapi keberanian yang dimaksudkan adalah berani dalam berpendapat, bersikap serta senantiasa berdiri di atas dasar dalil atau hujjah dan kejujuran. Semoga Allah SWT membimbing kita ke jalan yang lurus. Amin. ----------------------------------------------------------------------------1) Lihat kamus Al-Mujam Al-Wasith jilid 2, halaman 614 Al-Mujam 2) Lihat "Sejarah dan Pengantar Tauhid", halaman 52. "Sejarah Tauhid", 3) Lihat "Islam sebagai Aqidah dan Syari'ah" oleh Syaikh al-Azhar Mahmud Syalthout,halaman "Islam Syari'ah" 84. 4) Ibid, halaman 86 5) Perbedaan cabang yang umumnya dalam bidang hukum-hukum fiqih. 6) Lihat Ibnu Hajar Al Haitsami, "Al fatawa" Jilid IV, halaman 379-380. 7) Lihat "Asy-Syaamil fii Ushuluddin", oleh Imam Al-Haramain, Halaman 3. Al-Haramain, 8) Lihat As-Sailul Jarrar Imam Syaukani, Jil.4 hal.529 As-Sailul 9) Lihat buku "Al-Adl Dloodl" oleh Muhammad bin Al-Qosim Al-Anbary "Al-Adl Dloodl" 10) Lihat kitab "Ushulul Tasyri' Al-Islamy" oleh Ali Hasbullah, halaman 35-40. "Ushulul Al-Islamy" 11) Lihat buku "Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits", oleh Prof.Dr. T.M Hasby Ash-Shiddiqy, Jilid I, "Pokok-Pokok Hadits", halaman 100-102; kitab "Al-Ba'itsul Hatsits", Ahmad Syakir, halaman 33-34; kitab "Al-Ba'itsul Hatsits", "Tadribul Raawy" oleh Imam As-Suyuthy, Jilid I, halaman 105-106; kitab "Al-Ahkam fii Tadribul Raawy" "Al-Ahkam Ushulil Ahkam" oleh Al-Aamidy, Jilid I, halaman 322, 332 dan 339; kitab "Ushulul Ahkam" "Ushulul Hadits" oleh Dr. Muhammad Ajaj Al-Khatib, halaman 302-303; dan buku "Islam sebagai Hadits" "Islam Aqidah dan Syariat" (terjemahan) oleh Mahmud Syalthout, halaman 93-95. Syariat" 12) Lihat kitab "Iljamul 'Awam 'An Ilmil Kalam" oleh Imam Al-Ghazaly, hal. 112. 13) Lihat kitab "Al-Aqoid Nasafiyah" oleh Iman An-Nasafy, hal. 27-43. 14) Lihat buku "Islam sebagai akidah dan Syariat" oleh Mahmud Syalthout, halaman 56. 15) Lihat buku "Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits", oleh Prof Dr TM Hasby ash-Shiddiqy,Jilid I, "Pokok-pokok Hadits",

16) 17)

halaman 100 dan 135. Ibid Halaman 102-103. Ibid Halaman 102-103.

kriteria AQIDAH ISLAMIYAH Apakah Akidah Islam Itu ? Akidah Islamiyah adalah : iman kepada Allah, para iman malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, hari akhir; kitab-kitabNya, Aqidah inilah yang terkenal di kalangan kaum musli-min dengan sebutan arkanul iman . Namun setelah munculnya banyak iman perdebatan di kalangan ulama ahli kalam tentang qadho dan qadho qadar maka sejak itu akidah Islamiyah telah menjadi enam bagian yaitu; iman kepada Allah, para malai-katNya, kitabkitabNya, para rasulNya, hari akhir; juga kepada qadlo dan kitabNya, qadar baik buruknya dari Allah SWT. SWT. Adapun mengenai dalil-dalil akidah, maka adakalanya dalil bersifat aqli dan ada-kalanya bersifat naqli, tergantung aqli naqli, tergantung perkara yang diimani. Kriteria dalil adalah seba-gai berikut : a) Jika yang diimani itu masih dalam jangkauan panca indera, maka dalil kei-manannya bersifat aqli. bersifat b) Jika yang diamni berada di luar jangkauan panca indera, indera, maka ia harus di-dasarkan pada dalil naqli. di-dasarkan Namun perlu diingat bahwa penentuan suatu dalil naqli juga diingat ditetapkan dengan jalan aqli. Artinya, penentuan dalil tersebut dilakukan melalui penyelidikan untuk me-nentukan mana yang dilakukan boleh dan mana yang tidak untuk dapat dijadikan sebagai dalil naqli. Oleh karena itu, semua dalil tentang akidah pada dasarnya disandarkan pada metode aqliyah. Dalam hubungan ini, Imam Syafi'i berkata1): "Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma'rifat mukallaf kepada Allah Ta'ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma'rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma'rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indera, dan ini merupakan suatu keharusan. Hal seperti itu merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin". Peranan akal dalam masalah keimanan

Akal manusia mampu membuktikan sesuatu yang berada di luar jangkauannya jika ada sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk atasnya, seperti perkataan seorang Badui (suku bangsa atasnya, pengembara di Tanah Arab) tatkala ditanyakan kepadanya"Denditanyakan kepadanya"Dengan apa engkau mengenal Rabbmu?" Jawabnya: "Tahi Onta itu menunjukkan adanya onta dan bekas tapak tapak kaki menunjuk-kan ada orang yang berjalan. Bukankah gugusan bintang yang ada di langit dan ombak yang bergelombang di laut menunjukkan adanya Sang Pencipta Yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa. Kuasa. Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Qur'an adalah bukti eksistensiAllah eksistensiAllah (tentang adanya sang pencipta) dengan cara mengajak manusia memperhatikan mahluk-mahlukNya. Sebab, kalau akal diajak untuk mencari dzatNya, maka tentu saja akal tidak mampu menmenjangkauNya, meskipun dapat menjankui ciptaan-ciptaanNya, seperti firmanNya : * * "Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar "Sesungguhnya terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) bertebaran terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang (kekuasaan meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-nya dengan air hujan itu bumi (tanah) sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal " (QS Al Jaatsiyat 35). Karena keterbatasan akal dalam berfikir, Islam melarang manusia untuk berfikir langsung tentang dzat Allah. Sebab, manumanusia mempunyai kecenderungan (bila ia hanya menduga-duga tanpa memiliki acuan kepastian) menyerupakan Allah SWT dengan suatu dengan mahluk. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda 2) : "Berfikirlah kamu tentang mahluk Allah tetapi janganlah "Berfikirlah

kamu pikirkan tentang Dzat Allah itu sendiri. Sebab, kamu tidak akan sanggup mengira-ngira tentang hakikatNya yang sebenarnya" . sebenarnya" Akal manusia yang terbatas tidak akan mampu membuat gambaran tentang Dzat Allah yang sebenarnya; bagaimana Allah melihat, mendengar, berbicara, bersemayam di atas arsy-Nya dan seterusnya. Sebab, dzat Allah bukanlah materi yang bisa diukur atau dianalisa. Ia tak dapat dianalogkan pada suatu bentuk materi dianalisa. apapun, semisal manusia, atau mahluk aneh yang bertangan bertangan sepuluh dan sebagainya. Kita hanya percaya dengan sifat-sifat Allah yang dikabarkanNya dikabarkanNya melalui al-wahyu. Apabila kita menghadapi suatu ayat/hadits yang menceritakan tentang (usaha) menyerupakan Allah dengan makhmakhluk, maka kita tidak boleh mencoba-coba membahas ayat-ayat /ha/hadits tersebut atau menta'wilkannya,ia lebih baik kita serahkan kepada Allah, karena ia memang berada di luar jangkauan akal. Itulah sikap yang dipegang oleh para sahabat, tabi'in dan ulama salaf. Imam Ibnul Qoyyim berkata2): "Para sahabat berbeda pendapat dalam beberapa "Para masalah. Padahal mereka itu adalah umat yang dijamin Padahal sempurna imannya. Tetapi, alhamdulillah, mereka tidak imannya. pernah terlibat bertentangan paham satu sama lain dalam menghadapi masalah-masalah Asma Allah, perbuatanperbuatanperbuatan Allah, sifat-sifatNya. Me-reka menetapkan apa sifat-sifatNya. yang diutarakan Al-Qur'an dengan suara bulat. Mereka tidak menta'wilkannya, juga mereka tidak memalingkan menta'wilkannya, pengertiannya". pengertiannya". Ketika Imam Malik3) ditanyakan tentang maknanya Istiwa' Allah (bersema-yamNya) di atas Arsy ? beliau lama tertunduk (bersema-yamNya) dan bahkan mengeluarkan keringat. Setelah itu Imam Malik mengangkat kepala lalu berkata: "Persemayaman itu bukan sesuatu yang tidak diketahui. Juga, kaifiyat (cara)nya bukanlah hal yang dapat dimengerti. Sedangkan mengimaninya adalah wajib, tetapi menanyakan hal tersebut adalah bid'ah". Inilah jalan yang ditempuh oleh imam Muhammadd bin Idris Asy-Syafi'iy, Muhammad Abdul Hasan Asy-Syaibani, Ahmad Asy-Syafi'iy, Asy-Syaibani, bin Hanbal, dan lain-lain. Hanbal,

Kerusakan akidah umat Islam akibat pilsafat Yunani Ini berbeda dengan sikap dan pendapat ulama khalaf (Ulama Mutakhirin), terutama ahli ilmu kalam (Mutakallimin). Mereka tidak menjalani cara yang ditempuh oleh ulama salaf. Mereka tidak puas dengan cara berfikir demikian. Oleh karena itu, mereka lalu menta'wilkan Al-Wahyu yang termasuk dalam kategori mutasyabihat sesuai dengan kehendak akal dan i'tikad yang tujuannya untuk mensucikan Allah dan sifat-sifatNya secara tidak layak. Mereka juga menggunakan pula dalil aqli yang ber-dasarkan menggunakan ilmu mantiq untuk, misalnya, membahas bergeraknya Allah, membahas diamNya, turunNya ke langit, atau hubungan antara sifat dengan Dzat Allah dan lain-lain. Meskipum ulama khalaf menempuh jalan yang tidak sesuai de ngan apa yang telah ditentukan Al-Qur'an, tetapi mereka tetap beriman kepada Islam dan tetap bertolak dari dalil-dalil syara'. Berbeda halnya dengan jalan yang ditempuh oleh para pilosof dan kaum Muslimin yang memandang dan fisafat Yunani sebagai tolok ukur /titik tolak akidah. Mereka telah mencoba menggunakan akal untuk memecahkan permasalahan yang pernah dialami oleh para pilosof pilosof Yunani terdahulu, tanpa kembali kepada ketentuan Al-Wahyu. Mulailah mereka melontarkan kembali masalah-masalah klasik, seseperti Wihdatul Wujud (panteisme), keadilan Allah, takdir (keputusanNya), dan keterbatasan ilmu Allah, atau pembahasan bahwa iblis tidak akan kekal dalam neraka dan seterusnya. Pendapat-pendapat mereka (ahli ilmu kalam dan pilosof muslim) inilah yang telah meragukan umat terhadap beberapa hal yang berinilah berkaitan dengan masalah akidah, bahkan berhasil pula menyesatkan kaitan dan mengeluarkan sebagian kaum Muslimin dari Islam. Oleh karena itu akidah Islam perlu dijauhkan dari ilmu Mantiq atau filsafat agar tidak membahayakan akidah umat. Dengan menggaris bawahi bahwa sumber akidah hanyalah Al-Qur'an dan hadits-hadits mutawatir. -------------------------------------------------------------------1) Lihat buku "Fiqhul Akbar" oleh Imam Syafi'i. 2) Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu'im dalam kitab "Al-Hidayah"; sifatnya marfu, sanadnya "Al-Hidayah"; dhoif tetapi isinya shahih, bisa diterima . 2) Lihat buku "I'laamul Muuraqqiin" jilid I, halaman 55. 3) Lihat kitab "Fathul Barri" Jilid XII, halaman 9l5. "Fathul Barri"

dinamika Aqidah Islamiyah Islam adalah jalan hidup yang sempurna. Islam merupakan

pandangan hidup yang menentukan tingkah laku kaum muslimin dalam kehidupan sehari-hari. Agar kaum muslimin menyadari betapa pentingnya keterikatan dengan hukum syara', cenderung hidup hanya untuk Islam, dan berjuang demi menyebarluaskan Islam -- sebagai satu risalah yang universal -- ke seluruh penjuru dunia; maka harus dibangkitkan pada diri mereka semangat merealisasikan Islam dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan mengikatkan diri pada hukum syara'. Rasa rindu untuk hidup di mengikatkan bawah naungan Islam sangat diperlukan. Demikian pula rasa takut terhadap azab Allah yang akan menimpa mereka apabila tidak menerapkan Islam dan tidak terikat dengan hukum-hukumnya. Bangkitnya semangat tersebut hanya dapat terwujud dengan membangkitkan aqidah Islam dan menancapkannya kembali dalam diri kaum muslimin. Apalagi cahaya aqidah tersebut telah meredup dari hati kaum muslimin. Bahkan tidak lagi berpengaruh dalam kehidupan mereka, dan tidak mampu lagi menyalakan semangat untuk mengikat-kan diri dengan hukum syara'. Aqidah kaum muslimin saat ini sesungguhnya benar-benar telah kehilangan gambaran tentang hari kiamat. Hati mereka tidak lagi tergetar akan azab Allah atau merasa takut terhadap api neraka jahanam. Mereka juga telah kehilangan rasa rindu kepada surga, berikut keni'matan akhirat yang hakiki. Bagi mereka, keni'matan-keni'-matan surga yang abadi itu -- yang tak pernah dilihat oleh mata manusia dan belum per-nah didengar oleh telinga -- sudah tidak lagi menarik. Akibatnya, kaum muslimin tidak lagi menarik. mencita-citakan keridlaan Allah SWT sebagai nilai hidup yang tertinggi. Mereka mengalihkan perhatiannya kepada dunia dengan segala perhiasannya, terutama harta, kedudukan, kekuasaan, rasa cinta kepada isteri-isteri dan anak-anak.Mereka telah men-jadikan kebutuhan materi sebagai satu-satunya nilai hidup yang dikejarkejar. Pan-dangan mereka tidak lagi mengarah ke langit tetapi telah terfokus kepada dunia. Kondisi aqidah yang lemah ini telah menyebabkan berbagai bencana terus menerus menimpa diri kaum muslimin saat ini, mulai dari lepasnya keterikatan terhadap hukum-hukum Islam, ketidakberdayaan menghadapi hukum-hukum kufur yang berasal dari Barat, termasuk dominasi negara adikuasa atas negeri-negeri mereka yang telah memperalat penguasa mereka dan merampas harta kekayaan mereka; hingga mereka menerima berbagai kehinaan dan kenistaan, hidup dalam suasana ketakutan dan kepasrahan, serta sibuk mengejar kesenangan duniawi dengan melupakan Allah SWT. Oleh karena itu untuk menyelesaikan seluruh problematika tersebut, mau tidak mau aqidah kaum muslimin harus dibangkitkan, seraya dimantapkan dan dihidupkan kembali.Manakala aqidah aqliyah pada diri mereka telah berfungsi

kembali, maka sungguh semangat mereka akan kembali bangkit. Kaum muslimin akan kembali kepada Allah dan terikat pada syariatNya. Mereka akan disiplin dalam melaksanakan perintahperintahNya dan menjauhi apa yang dilarangNya. Kaum muslimin akan melepaskan semua undang-undang thaghut (kufur) dan bahkan menumpas kepemimpinan penguasa mereka yang menentang Allah dan Rasul-Nya tanpa takut lagi akan rizki atau nyawanya sekalipun. Sebab mereka (kaum mus-limin) telah beriman bahwa rizki dan hidup berada di tangan Allah SWT semata, bukan berada di tangan makhluknya. Kerinduan mereka terhadap syurga dan segala keni'ma-tan yang ada di dalamnya akhirnya akan mampu mengalahkan kecintaan mereka terhadap kesenangan duniawi. Ketakutan mereka terhadap azab jahanam juga akan mengatasi rasa takut mereka terhadap para penguasa kufur dengan segala ancaman serta kekejamannya. Dari sini jelaslah bahwa lemahnya keterikatan terhadap hukum syara' dalam hubungan individu dan masyrakat merupakan akibat dari lemahnya semangat aqidah akliyah yang ada pada diri kaum muslimin. Sebab, keterikatan terhadap hukum syara' merupakan buah dari iman. Jadi, apabila semangat iman ini makin kuat maka semangat keterikatan itu akan semakin kuat pula. Sebaliknya, apabila semangat iman itu makin lemah maka apabila keterikatannya pun akan menurun. Demikian pula harus dipahami bahwasanya meskipun tugas yang paling penting yang dibebankan pada pundak pengemban da'wah --yang berjuang untuk mengembali-kan pelaksanaan hukum-hukum Allah SWT-- adalah mencurahkan tenaganya untuk menjelaskan betapa pentingnya nilai keterikatan terhadap hukumhukum syariat yang berhubungan dengan nilai-nilai dasar bagi kehidupan, juga berusaha mewujudkan kesadaran umum pada diri berusaha kaum muslimin terhadap nilai-nilai dasar kehidupan menyangkut hubungan antar individu masyarakat, antara mereka dengan negara atau antara mereka dengan negara dan bangsa lain; namun sesungguhnya hal yang paling penting lagi ialah bahwa mereka sesungguhnya harus memahami bagaimana cara menjelaskan pentingnya keterikatan terhadap hukum-hukum syariat dan upaya-upaya yang dapat mewujudkan kesadaran umum di tengah-tengah umat terhadap pentingnya keterikatan dengan hukum-hukum syara' tersebut. Semua ini tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan menanamkan aqidah aqliyah, memberikan gambaran detailnya, serta menancapkan ide-ide yang tercantum dalam Al Quran dalam tercantum jiwa kaum muslimin. Karena sesungguhnya yang mendorong mendorong melaksana-kan syariat dan terikat dengan hukum-hukumnya adalah hasil dari gambaran detail aqidah tersebut serta sejauh mana tertanamnya dalam jiwa umat. Dengan demikian kaum muslimin akan takut terhadap ancaman azab neraka manakala

mereka menyim-pang dari syariat Islam. Mereka akan mengharap surga yang penuh ni'mat pada saat mengikuti syariat dan terikat dengan hukum-hukumnya. Pada saat itulah akan nampak keterikatan terhadap hukum-hukum syariat dalam perilaku individu perilaku maupun dalam berinteraksi dengan masyarakat. Oleh karena itu, bukan tanpa disengaja apabila Al Quran selama tiga belas tahun di Makkah selalu memfokuskan aqidah dan menanamkan ide-idenya, sehingga masya-rakat sudah terbiasa mendengar ayat-ayat Al Quran yang diturunkan di siang maupun diturunkan malam hari, senantiasa membicarakan masalah aqidah dan ideidenya. Pada periode Madinah, meskipun perhatian Al Quran terfokus pada penerapan hukum-hukum syariat, namun ayat-ayat yang diturunkan selalu mengingatkan kaum muslimin terhadap mengingatkan aqidah dan mengkaitkan hukum-hukum yang diturunkan tersebut diturunkan dengan iman. Hal ini disebabkan karena aqidah memiliki kedudukan paling tinggi dalam mewujudkan semangat dalam diri orang-orang yang beriman untuk melaksanakan perintah dan menerapkan hukumnya. Oleh karena itu, agar kita dapat membuahkan hasil dalam mem-bangkitkan dan menggerakkan umat, juga agar mem-bangkitkan kita apat menghidupkan kembali seman-gat ddan kerinduan umat terhadap pelaksanaan hukum-hukum Islam, di bawah naungan sistem khilafah Islam, maka mau tidak mau harus meneladani cara yang ditempuh Al Quran Al-Karim dalam hal ini. Berikut ini ditunjukkan beberapa ayyat sebagai contoh tentang cara Al Quran yang berkaitan dengan hal ini: . "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan berikan, sepenuhnya " (An Nisa: 65). . "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-kitab niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah beriman " (Ali Imran: 100) "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan

kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu beruntung " (Ali Imran: 200) "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama-mu dengan jalan yang batil " (An Nisa: 29) "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya." RasulNya." (Al Mujadilah: 22) Ayat-ayat seperti ini, dan ratusan yang lainnya serta ratusan hadits yang mulia, ketika menjelaskan sesuatu ide, hukum, pemecahan, perintah atau larangan sesung-guhnya selalu dikaitkan larangan dengan aqidah dan semangat iman, serta memberi dorongan untuk melaksanakan dan mengingatkan terhadap apa yang diinginkan diinginkan oleh ayat. Demikianlah jalan yang digunakan oleh Al Quran ketika menjadikan masyarakat menerima aqidah, memiliki sikap komitmen dan mengikatkan diri pada hukum-hukumnya. Jadi, pengaruh rasa takut terhadap Allah SWT, takut terhadap azab kubur dan kedahsyatan hari kiamat, pedihnya siksa neraka jahanam; lalu kerinduan akan surga berikut keni'matannya yang kekal di dalamnya dari hal-hal yang diinginkan oleh setiap jiwa, diinginkan termasuk hal-hal yang indah dilihat mata, istana-istana yang sangat indah berikut bidadari yang cantik-cantik dan gadis-gadis yang segar-segar; semua ini menjadikan manusia mengalihkan pandangannya ke langit dari yang semula sibuk mencari kesenangan duniawi. Semua ini dapat memalingkan mereka memalingkan kepada hal-hal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan kepada surganya serta menjauhkan dirinya dari azab neraka. Dari sinilah kaum muslimin bertolak untuk mengikatkan diri kepada hukum-hukum Allah, bertarung melawan ide-ide kufur yang bertarung sudah merajalela berikut para penguasa thaghut yang bertindak sebagai musuh-musuh Islam. Kaum muslimin akan siap melakukan perjuangan politik melawan setiap pemerintahan thaghut dan mau berjuang secara sungguh-sungguh untuk menumpas sistem pemerintahan kufur dan melepaskan diri dari dominasi mereka serta mengembalikan pelaksanaan hukum-hukum yang diturunkan diturunkan Allah SWT.

Oleh karena itu, adalah suatu keharusan untuk menghidupkan kembali aqidah Islam pada jiwa kaum muslimin, agar dapat mendorong komitmen mereka dan terikat dengan hukum-hukum syariat serta bersegera merubah keadaan mereka, melenyapkan kekuatan negara-negara kafir berikut perundangundangan dan sistemnya. sistemnya. Untuk membangkitkan semangat aqidah dibutuhkan penjelasan tentang mafhum / persepsi atau ajaran pokok dalam aqidah Islam, kemudian menanamkannya ke dalam jiwa individu kaum muslimin. Ajaran mendasar ini merupakan suatu ajaran yang terpen-ting dan paling berpengaruh dibandingkan dengan yang lainnya. Karena kepentingan inilah para Nabi dan para Rasul diutus. Termasuk dalam pokok ajaran tersebut; dijanjikannya kehidupan yang abadi di akhirat di surga maupun di neraka, penciptaan jin dan manusia untuk suatu tujuan tertentu, pembalasan amal perbuatan manusia dan azab/siksaan, serta adanya kewajiban mengemban da'wah/risalah Islam dll. Mafhum/ persepsi yang dimaksud di sini ialah mafhum 'ubudiyyah (penghambaan diri kepada Allah SWT) yang lahir dari mafhum uluhiyyah (ketuhanan). Allah SWT berfirman: "(Dan) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu " (Adz Dzariyaat: 56) Jadi, yang dimaksud dalam kalimat syahadat pertama, laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), adalah tidak ada yang patut disembah kecuali Allah sebab lafadz ilaah menurut pengertian bahasa dan syara' adalah : yang patut disembah. Jadi kalimat laa ilaaha baik menurut ketentuan bahasa ataupun syara' artinya adalah la ma'buuda (tidak ada yang patut isembah). Dan tatkala seorang muslim bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah, sesungguhnya dia telah mengesakan Allah dalam penghambaan maupun dalam pensucian, serta menafikan secara pasti penghambaan terhadap selain Allah. Oleh karena itu persaksian seorang muslim meng-haruskan ia untuk hanya beribadah kepada Allah saja, juga mengharuskan ia membatasi ibadahnya hanya kepada Allah semata, tidak kepada yang lain. Apabila seorang muslim telah memahami persepsi ini, maka akan menjadikannya sangat berhati-hati dalam segala hal yang menjadikannya berkaitan dengan pengaturan urusan kehi-dupannya, maupun yang menyangkut problematikanya; sehingga ia akan menolak untuk mentaati selain Allah, karena ia tidak beribadah kepada selain Allah; juga karena setiap sesuatu yang dituntut untuk ditaatinya selain Allah atau mengajak orang-orang mengikuti selain petunjuk yang berasal dari Allah; atau menjalankan hukum selain dari apa

yang diturunkan Allah, semuanya termasuk dalam kategori termasuk thaghut yang harus ditentang dan diingkari, bahkan diperang sampai lenyap dari permukaan bumi ini sehingga yang ada hanya syariat Allah semata. Oleh karena itu yang menunjukkan adanya 'ubudiyyah (penghambaan diri) kepada Allah itu adalah terikat secara sungguhsungguh dengan hukum-hukum Allah, mengesakanNya dalam tasyri' (pembuatan hukum) juga dalam ketaatan, ketundukan dan (pembuatan pasrah terhadap segala yang diperintahkanNya atau yang diladilarangNya. Sebab keterikatan kepada hukum-hukum syara' adalah hasil yang pasti dari keimanan dilihat dari segi mafhum ketuhanan, yang juga merupakan buah/hasil dari penghambaan diri kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan keberatan dalam hati mereka terhada putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya " (An Nisa: 65). Melalaikan keterikatan terhadap hukum-hukum syara' adalah giliran yang pasti setelah melalaikan mafhum ketuhanan, sebagai akibat dari melupakannya, jarang dipikirkan atau karena pemahamannya telah berubah. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilaksanakan dari selain syariat/perintah Allah, sesungguhnya merupakan ketundukan dan penyerahan diri untuk mau diatur dengan hukumhukum thaghut, yang kaum muslimin diperintahkan untuk mengingkari-nya. Jadi siapa saja yang ingin membuat hukum, apapun kedudukannnya -- apakah dia sebagai penguasa maupun kedudukannnya aparatnya -- sesungguhnya ia merupakan thaghut yang ingin merupakan menjadikan dirinya sebagai Tuhan selain Allah. Allah SWT berfirman: . "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan beriman kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan setan diperintahkan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya " (An Nisa: 60)

"Mereka (Bani Israil) telah menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah " (At Taubah: 31) Rasulullah telah menjelaskan arti ayat ini sebagai mana tercantum dalam haditsnya "Sesungguhnya mereka telah haditsnya "Sesungguhnya mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan menghalalkan apa yang diharamkannya lalu kaumnya mengikuti mereka, maka itulah bentuk ibadah mereka kepada para pendeta dan rahib itu." (HR. Tirmidzi no. 3095) itu." Sesungguhnya pengaruh mafhum ketuhanan pada diri kaum muslimin akan dapat mengembalikan posisi dan semangat aqidah Islam sebagai aqidah ruhiyyah (ritual) dan aqidah siyasiyyah (political). Jadi, bukan sekedar aqidah ruhiyah semata, karena pada ruhiyah hakekatnya aqidah ini mampu memancarkan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam yang sangat dibutuhkan manusia dalam mengatur kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat, serta mendorong kaum muslimin untuk terikat dengan hukum-hukum Allah, melaksanakan perintah-perintahNya, menjauhi laranganlarangan-Nya, dan melenyapkan setiap undang-undang dan penpenguasa thaghut.

MALAIKAT Dalil-Dalil Keimanan terhadap Malaikat Dalil iman kepada malaikat adalah berdasarkan dalil nakli. Sebab, akal tidak pernah mampu menjangkau eksistensi malaikat. Dalil syara' tentang adanya malaikat adalah ayat-ayat Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, di antaranya adalah firman Allah SWT: "Allah telah terangkan bahwasanya tidak ada Ilah selain Dia, Yang menegakkan keadilan dan (disaksikan) oleh para malaikat dan ahli-ahli ilmu. Tidak ada Ilah selain dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana" (QS. Ali 'Imran 180). "Bukanlah kebajikan (namanya hanya) dengan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan sesungguknya kebajikan adalah beiman kepada Allah, hari kemudian, malaikat, kitab-kitab (Allah), dan nabinabi" (QS. Al-Baqarah 177). "Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah (sungguh-

sungguh) kepada Allah dan RasulNya dan (kepada) kitab sungguh) yang Dia turunkan kepada RasulNya, serts kitab yang ALlah turunkan turunkan sebelumnya. (Ketahuilah bahwa) siapa saja kafir terhadap Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasulrasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya" (QS. An-Nisaa' 136). Malaikat dan Asal Usul Kejadiannya Malaikat diciptakan Allah sebelum diciptakannya jin, manusia dan alam semesta. Oleh karena itu tidak perlu heran jika iman kepada malaikat diletakkan pada peringkat pertama setelah iman kepada Allah. Adapun asal kejadian mereka, sesungguhnya Al-Qur'an tidak menjelaskannya. Hanyasanya ia dijelaskan dalam sebuah hadits yang dirwayatkan oleh Imam Muslim bahwa malaikat itu dijadikan dari cahaya (nur), tanpa menerangkan bagaimana karakteristik (bentuk) cahaya (nur) tersebut. Oleh karena itu, dzat malaikat yang sebe narnya tidak mungkin dapat dijangkau akal, karena ia berada di luar jangkauan panca indera dan akal manusia. Tetapi wujudnya pasti, yang menurut penjelasan Al-Qur'an, mereka berada di langit dan di bumi dan saling berpindah tempat di antara keduanya. Tugas-Tugas Malaikat Al-Qur'an dan Sunnah Rasul telah menunjukkan berbagai tugas malaikat yang bekerja menuruti perintah dan siidzin Allah untuk mengatur apa yang ada di langit dan bumi serta apa yang ada dan terjadi di antara keduanya. Misalnya ada yang ditugaskan untuk mengatur peredaran matahari, bulan dan bintang, mengatur peredaran awan dan turunnya hujan, mengatur terjadinya proses peredaran terbentuknya janin di dalam rahim. Ada pula yang ditugaskan untuk terbentuknya menjaga dan mengawasi setiap manusia, menghitung dan menulisi amal usaha manusia. Ada pula yang ditugaskan untuk mencabut nyawa, bertugas di jahanam dan jannah, dan tugas-tugas lainnya. Jadi, para malaikat adalah tentara Allah yang paling banyak dari malaikat segi kuantitas dan paling banyak dari segi tugas-tugasnya. Inilah tentara yang paling agung. Sebab, merekalah yang mengatur alam semesta dengan idzin, kehendak dan perintahNya1). Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah2): Tugas-tugas itulah yang diceritakan oleh Imam Ibnu Qayyim

Al-Jauziyah tentang tugas-tugas para malaikat. Beliau berkata: "Allah telah mewakilkan para malaikat untuk mengatur langit dan bumi. Mereka (para malaikat itu) bekerja dengan seidzin dan atas perintah Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT di dalam AlQur'an kadang menyebutkan bahwa pengaturan tersebut diserahkan kepada malaikat, seperti FirmanNya: "Demi para malaikat yang mengatur urusan alam (ini)" (QS. An-Nazi'aat 5).

"Atau, terkadang tugas-tugas pengaturan seperti itu dikaitkan dikaitkan (tersangkut nyata) terhadap Allah, seperti firmanNya: "Sesungguhnya Rabbmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia bersemayam di atas A'rasy untuk mengatur segala urusan" (QS. Yunus 3). "Juga perhatikan firmanNya yang lain: "Katakanlah: 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah pendengaran yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: 'Allah'. Maka, katakanlah: 'Mengapa kalian tidak bertakwa (kepadaNya)?" (QS. Yunus 31). (kepadaNya)?" "Jadi, Allahlah pengatur alam ini dengan perintah (idzin) dan kehendakNya, sedangkan malaikat mengatur alam ini hanya menmenjalankan atau melaksanakan perintah saja. Ini sama halnya dengan menyebutkan malaikat yang mematikan; malaikat tersebut hanya bertugas mencabut nyawa atas perintah Allah SWT. Perhatikan FirFirman Allah SWT: "Sehingga bila datang kematian pada salah seorang di antaramu, lalu utusan-utusan Kami mewafatkannya, antaramu, sedangkan para utusan (malaikat Kami) itu tidak (pernah) lengah" (QS. Al-An'aam 61). "Atau, terkadang disebutkan Al-Qur'an bahwa Allahlah yang mematikan makhluknya, seperti firmanNya:

"Allahlah yang mewafatkan kematiannya" (QS. Az-Zumar 42). Ibnu Qayyim lebih lanjut menjelaskan:

jiwa

ketika datang

"Sesungguhnya para malaikat yang bertugas dengan idzin Allah untuk mengatur urusan manusia sejak terjadinya proses pembuahan di dalam kandungan, sampai matinya manusia. Merekalah yang ditugaskan untuk memproses dan ditugaskan mengembangkannya tahap demi tahap sampai kepada bentuk manusia yang sempurna. Mereka jugalah yang menjaga ketika janin itu masih berada dalam tiga lapisan (Chorion, alantoin, dan amnion) di dalam kandungan. Mereka yang (Chorion, mencatat rezekinya, amal, ajal, sengsara, bahagia dan mengikuti mencatat manusia dalam setiap keadaan, serta mencatat perkataan dan perperbuatannya. Mereka melindunginya sewaktu manusia hidup dan mencabut nyawanya serta menghantarkan nyawa itu kembali mencabut kepada Allah yang menciptakannya. Juga Ibnu Qayyim berkata: "Kitabullah dan sunnah menyebutkan jenis malaikat yang ditu gaskan mengatur urusan makhluk-makhluk yang diciptakan. Allah telah menugaskan sebagian malaikatNya untuk mengatur gununggunung (meletuskan atau memunculkannya), sedangkan sebagian lainnya ada yang ditugaskan untuk membawa awan dan lainnya menurunkan hujan. Adapula yang ditugaskan untuk mengatur semua proses yang terjadi di dalam rahim, dari pencampuran air mani dengan sel telur ....." "Ada yang ditugaskan mengatur peredaran tata surya....." Jadi malaikat adalah tentara Allah yang paling agung. Beliau menyebutkan ayatayat Al-Qur'an mengenai hal ini (Baca QS. Al-Mursalat 1-5; An-Naazi'at 1-5; Ash-Shaffat 1-3)3). Tingkatan Tugas dan Wewenang di antara Malaikat Mengenai tingkatan tugas dan wewenangnya, Al-Qur'an menye butkannya para malaikat tersebut sebagai berikut: 1. Jibril (Jibrail). Malaikat ini adalah pimpinan umum dan sangat terkemuka di antara mereka. Dia sebagai utusan Allah kepada seluruh nabi dan rasul untuk menyampaikan Al-Wahyu dan petunjuk lainnya.

Malaikat ini sangat perkasa, punya kekuatan yang luar biasa. Dengan sekejap mata, ia dapat mengarungi angkasa yang mahamahaluas hingga "Sidratul Muntaha" (berada di langit ke tujuh) sampai kembali ke bumi ketika memimpin dan menuntun perjalanan isra' mi'raj nabi Muhammad saw. Ia juga mempunyai kedudukan yang kuat di sisi Allah dan mendapat tempat mulia di sana. Malaikat ini dipatuhi oleh bawahannya, pemimpin yang bijaksana dan sangat dipercaya Allah SWT..cw9 SWT..cw9 "Sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang memiliki 'Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya" (QS. At-Takwir 19-21). 2. Mikail. Inilah malaikat yang diserahi tugas mengatur pembagian rereki rereki semua mahluk di seluruh alam. Tugasnya diterangkan dalan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi4) dengan sanad yang hasan:

"Ketika Rasulullah bertanya kepada Jibril, apa tugas malaikat Mikail? Jibril menjawab:(Iaditugaskanuntuk malaikat mengatur) tumbuh-tumbuhan dan hujan". 3. Isrofil. Malaikat ini ditugaskan untuk meniup sangkakala (ashshur). Ia senantiasa meletakkan mulutnya pada tempat peniupan sangsangkakala, sebagai tindakan berjaga kalau-kalau mendadak ada perintah dari Allah. Beginilah contoh kepatuhan para malaikat malaikat kepada Allah. Entah berapa juta tahun keadaannya seperti demikian, namun ia tetap setia kepada tugasnya. Ia sedikitpun sedikitpun tidak lelah, bosan, jemu atau sejenisnya. Peniupan sangkakala itu sangkakala dilakukan dua kali, seperti yang diceritakan dalam ayat Al-Qur'an: "Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa saja yang berada di langit dan bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)" (QS. Az-Zumar 68). 4) Lihat buku "Syu'abul Iman" oleh Thabrani dan Baihaqi.

4. Izrail. Malaikat ini bertugas mencabut nyawa (roh) makhluk hidup (bila telah tiba ajalnya), tidak terlambat sesaatpun. Tugas ini telah ditegaskan dalan Al Qur'an: "Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu. Kemudian hanya kepada Rabbmu kamu pasti dikembalikan" (QS. As-Sajadah 11). Dijelaskan pula bahwa malaikat ini mempunyai bawahan (pem(pembantu) yang setia, patuh dan ta'at kepadanya, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur'an: "Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya, dan diutusNya kepadamu malaikatmalaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikatmalaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya" (QS. Al-An'aam 61). 5. Dua Macam Malaikat Penunggu Manusia (Raqib dan Atid). Inilah dua malaikat yang senantiasa setia mendampingi manusia manusia pada posisi kanan dan kiri. Keduanya bertugas menulis segala sesuatu yang dilakukan manusia. Malaikat sebelah kanan menulis segala perbuatan baik. Sedangkan yang kiri menulis segala perbuatan buruk, yaitu yang melanggar batas-batas ketentuan agama (syara'). Bila ia berniat melakukan yang baik, maka niatnya itu dihitung (dicatat) sebagai satu amal kebaikan, walaupun belum terlaksana. Juga apabila ia melakukan maksiat; bila ia tidak bertaubat, selama sehari semalam, maka akan perbuatannya itu dicatat pada buku harian dan akan diangkat (dihapus) jika ia bertaubat dalam jangka waktu tersebut. Malaikat-malaikat tersebut dijelaskan tugasnya di dalam Al-Qur'an: tugasnya "(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang perbuatannya, lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu melainkan

hadir" (QS. Qaaf 17-18). 6. Malaikat-Malaikat di Jannah. Mereka bertugas mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan jannah. Malaikat-malaikat ini banyak jumlahnya dan tak perlu diceritakan panjang lebar. "Sedang malaikat masuk ketempat-tempat mereka (ahli jannah) dari semua pintu (untuk melayani mereka)" (QS. ArRa'd 23). 7. Malaikat-Malaikat di Jahanam. Mereka bertugas mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan dan untuk jahanam. Mereka disebut juga malaikat "Za"Zabaniyah". Sikap mereka digambarkan dalam firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api jahanam yang bahan bakarnya adalah keluargamu manusia dan batu (berhala); penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu diperintahkanNya mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS. At-Tahrim 6). Jumlah dan Kekeliruan Manusia terhadap Wujud Malaikat Pada hakekatnya malaikat itu jumlahnya sangat banyak, tidak ada yang mengetahui jumlahnya. Allah berfirman: "Dan tidak Kami jadikan penjaga jahanam itu melainkan dari malaikat. Dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan menjadi cobaan bagi orang-orang melainkan kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengapenyakit (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini dikehendaki sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah, Allah sebagai perumpamaan?" membiarkan sesat orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk

kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang dikehendaki-Nya. tahu tentara Tuhanmu melainkan dia sendiri. Dan jahanan melainkan saqar itu tiada lain adalah peringatan bagi manusia" (QS. AlMuddatstsir 31). Dalam ayat ini disebut bahwa mereka adalah tentara Allah, yaitu bertindak sebagai pelaksana tugas dan memiliki kekuatan dahsyat. Mereka bukanlah anak-anak Allah atau gadis-gadis Allah seperti apa yang dipercayai oleh sebagaian bangsa Arab dahulu. Bahkan ada yang mengatakan bahwa mereka itu Ilah. Allah telah membantah pandangan mereka dengan tegas: "Malaikat-malaikat itu menjawab: 'Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin. Kebanyakan dari mereka beriman kepada jin itu" (QS. Saba' 41). "Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang hambahamba Allah Yang Mahapemurah itu dianggap perempuan. Apa mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? menyaksikan Kelak pasti dituliskan (bohongnya) kesaksian mereka dan mereka pasti dimintai pertanggungjawaban" (QS. Azpertanggungjawaban" Zukhruf 19). Seluruh malaikat, mempunyai sikap dan sifat yang hormat dan mulia. Di antara sifat-sifat itu adalah mereka senantiasa patuh, takut dan taat kepada Allah, menghindarkan diri dari tergelincir ke menghindarkan jurang kemaksiatan, serta selalu bertasbih siang malam terus kemaksiatan, menerus. Iman kepada malaikat sangat berpengaruh besar dan dahsyat dalam diri manusia. Misalnya ditinjau dari segi hubungan mereka dengan manusia, yaitu sejak manusia lahir sampai mati; merekalah yang menolong dan melindunginya, menyelamatkannya dari godaan syaithan, mencatat amal perbuatannya, memintakan ampunan pada Allah atas dosa-dosa manusia yang beriman. Juga dari segi lain, sifat-sifat malaikat yang dicontohkan manusia sebagai makhluk lemah, tetapi para malaikat itu selalu patuh dan taat kepada Allah, takut kepadaNya, beribadah dan bertasbih serta senantiasa berdzikir kepada Allah. -----------------------------------------------------1) Kata-kata yang digarisbawahi adalah usaha untuk
2)

menghindari kesalahfahaman dalam menafsirkan seolah-olah malaikatlah yang mengatur segala sesuatunya.

Lihat kitab "Ikhsyatullahfan min Masya'idil Asy-Syaithan" oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jauziyah, Jilid II, halaman 125-128, 130-132.

3)

Lihat buku "Makhluk-Makhluk Halus Menurut Al-Qura'n" oleh HM. Ali Usman, bagian "Macam-Macam Malaikat dan Tugasnya", halaman 38-49.

KITABULLAH Seorang muslim beriman dan percaya kepada semua yang dituditurunkan dan diwahyukan oleh Allah SWT, berupa kitab dan apa yang difirmankanNya kepada beberapa rasul berupa shuhuf (lembaran). Kitab-kitab besar yang berasal dari firman Allah SWT seluruhnya seluruhnya berjumlah empat kitab suci, yakni Al-Qur'an yang diturunkan diturunkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw; At-Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa As; Az-Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud As; dan Injil diturunkan kepada hamba Allah dan rasulNya, Isa As. Sementara itu, firman Allah SWT dalam bentuk lain, yakni berupa lembaran-lembaran, adalah misalnya apa yang diberikan Allah kepada nabi Ibrahim as. kepada Di antara kitab tersebut, hanya Al-Qur'anlah yang dipelihara oleh Allah SWT dan sekaligus berfungsi sebagai penghapus syariatsyariat nabi dan rasul sebelumnya. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an. Dan sesungguhnya, Kami benar-benar memeliharanya" (QS. Alsesungguhnya, Hijr 9). "Dan Kami telah turunkan Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang turun sebelumnya) dan sebagai standard terhadap kitab-kitab tersebut. Maka, putuskanlah perkara mereka menurut (Al-Qur'an) yang diturunkan Allah dan diturunkan janganlah kamu mengikuti hawanafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran (Al-Qur'an) yang telah datang kepadamu" (QS. Al-Maidah 48). Beriman kepada kitab-kitab Allah mempunyai sandaran yang berasal dari pemahaman dalil akli dan nakli. Adapun mengenai penjelasan dalil dalil tersebut, maka Al-Qur'an adalah kitab yang berbeda dengan kitab-kitab lainnya. Al-Qur'an adalah suatu kenyakenyataan yang bisa dijangkau panca-indra dan akal, dapat difikirkan dijangkau atau dibuktikan. Tidak demikian halnya dengan kitab-kitab samawi lainnya yang tidak bisa dibuktikan berasal dari Allah. Sebab, kitab-kitab tersebut tidak mengandung mukjizat yang bisa dijangkau akal manu sia pada

setiap masa. Juga, Nabi yang membawanya tidak menjadikannya menjadikannya (Taurat atau Injil) sebagai bukti tentang kenabiannya. Walaupun demikian, kita wajib mempercayainya bahwa kitab-kitab tersebut pernah diwahyukan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul terdahulu, terdahulu, baik yang diberitakan dalam Al-Qur'an maupun yang tidak diberitakan. Dalil yang menunjukkan tentang hal ini adalah dalil nakli, yakni berdasarkan (ditunjukkan) oleh Al-Qur'an dan hadits rasul yang pasti, seperti Firman Allah: "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada Kitab-kitab yang Allah telah turunkan kepada RasulNya, serta kitab yang turunkan Allah telah turunkan sebelumnya. Siapa saja yang kafir sebelumnya. kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasulrasulNya dan hari kiamat, maka sesungguhnya orang tersebut telah sesat sejauh-jauhnya" (QS. An-Nisaa' 136). "Kitab (Al-Qur'an) ini, tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertakwa" (QS. Al-Baqarah 2). "Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang kepadanya beriman. Semua mereka telah beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya. (Mereka itu berkata): 'Kami tidak membeda-bedakan di antara rasul-rasulNya'. Dan mereka mengatakan: 'Kami dengar dan kami ta'ati'. (Dan mereka berdoa): 'Ampunilah kami, ya Rabbi kami, dan kepada Engkaulah tempat kami kembali" (QS. Al-Baqarah 285). "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian. Tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikatmalaikat, kitab-kitab, nabi-nabi ..." (QS. Al-Baqarah 177). Adapun dalil akli yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an telah diwahyukan Allah SWT kepada nabi dan rasulNya, Muhammad saw, melalui malikat Jibril as, adalah berdasarkan bukti dari segi ketinggian bahasanya (Al-Qur'an) dan isi yang dikandungnya. Kedua hal ini telah menunjukkan suatu mukjizat yang amat menakjubkan dan besar. Bahkan untuk itu, Rasulullah saw telah menantang kaum Quraisy dan orang-orang Arab seluruhnya untuk menandingi Al-Qur'an. Sebab, beliau yakin bahwa kitab tersebut adalah sebagai satu-satunya mukjizat terbesar sekaligus bukti

kenaabiannya sebagai utusan Allah. Beliau tidak perlu lagi sebagai memperlihatkan mukjizat lainnya, walaupun orang-orang Quraisy meminta bukti (mukjizat) selain Al-Qur'an itu. Peristiwa itu diabadikan di dalam Al-Qur'an dalam surat Al-Ankabut 50-51: "Dan orang-orang kafir Makkah berkata: 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat (benda lainnya) diturunkan dari RabbNya?'. Katakanlah (Hai Muhammad): RabbNya?'. 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku ini hanya seorang pemberi peringatan yang nyata" (QS. Al-Ankabut 50-51). Ayat ini secara jelas menerangkan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat bagi Rasulullah saw. Karena itu, cukuplah sudah Al-Qur'an itu sebagai bukti tentang kenabian dan kebenaran dakwah Rasulullah saw. Setiap orang yang memiliki pengetahuan walaupun sedikit tentang bahasa dan sastra Arab dengan seluk beluknya, akan menemukan bahwa Al-Qur'an merupakan bentuk ungkapan bahasa menemukan yang istimewa dan belum pernah ada orang-orang Arab yang istimewa mengungkapkan perkataan seperti itu, baik sebelum turunnya AlQur'an maupun sesudahnya. Kehebatan Al-Qir'an dengan segala aspeknya telah menyebabkan mereka "tersungkur" mengakuinya, dan bantahan apapun menjadi patah dihadapan tantangan tegasnya. Tantangan tersebut telah menyebabkan mereka terdorong untuk mencoba berbicara atau membuat seperti Al-Qur'an. Tetapi yang terjadi, ternyata sungguh mengherankan; untuk meniru apalagi mengubah mengherankan; dalam gaya bahasa Al-Qur'anpun mereka tidak mampu, padahal mereka adalah orang-orang Arab yang terkenal fasih dibidang sastra, berbicara (syair, puisi dan lain-lainnya). Tetapi, memang sudah sepatutnyalah mereka kalah dan mengakui kebenaran Muhammad saw, sebagaimana tercantum dalam firmanNya: "Sesungguhnya, Kami tahu bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkanmu, (tetapi janganlah bersedih) karena mereka sebenarnya bukan mendustakanmu, akan sebenarnya tetapi orang-orang dzalim itu telah mengingkari ayat-ayat Allah" (QS. Al-An'aam 33). Juga hal itu tercatat dalam sejarah dakwah Islam bagaimana kekalahan mereka dihadapan Al-Qur'an. Kekalahan itu telah disepadisepakati oleh ahli sejarah secara meyakinkan, bahwa orang-orang Arab telah gagal meniru, yaitu mereka tidak mampu menelurkan satu perkataanpun yang senilai dengan Al-Qur'an, meskipun Al-Qur'an telah menantang mereka. Kenyataan itu diabadikan dan dinyatakan

Al-Qur'an sendiri:

"Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, pasti mereka tidak dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun seluruh dari mereka membantunya" (QS. Al-Israa' 88). Berdasarkan kepastian yang meyakinkan di atas bahwa kaum Quraisy dan bangsa Arab secara keseluruhan tidak mampu membuat satu ayatpun yang serupa dengan Al-Qur'an, yakinlah kita bahwa Al-Qur'an terbukti berasal dari Allah dan ia merupakan kalamullah Yang Mahakuasa. Keyakinan dan bukti seperti itu menyebabkan orang-orang tidak bisa sembarangan mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah perkataan perkataan Muhammad saw, walaupun Muhammad saw adalah orang Arab. Sebab, bila orang Arab sendiri tidak mampu menandingi Al-Qur'an, maka Rasulullahpun sama tidak mampunya dan sama-sama orang Arab juga. Lebih daripada itu, bagaimana mungkin Al-Qur'an diciptakan oleh Muhammad, padahal ia nabi yang buta huruf (ummi), sedangkan Al-Qur'an mengandung khabar masa depan dan sains teknologi yang baru diungkapkan manusia pada abad ini? Juga, bagaimana mungkin ia dikarang oleh Muhammad saw, sedangkan dia sering menunggu datangnya Al-Wahyu jika menghadapi suatu persoalan? datangnya Dalam masalah ini Imam Syafi'iy berkata1): "Mukjizat Nabi kita Muhammad saw itu amat banyak yang tak mungkin dapat dihimpun seluruhnya oleh buku ringkas ini. Yang penting kami kemukakan di sini adalah tentang AlQur'an. Al-Qur'an merupakan mukjizat paling tinggi yang tidak bisa dipungkiri atau diselewengkan oleh siapapun. Aldipungkiri Qur'an merupakan mukjizat yang paling besar di antara mukjizat mukjizat-mukjizat nabi Muhammad lainnya dan yang paling ampuh untuk menaklukkan orang-orang yang ingkar terhadap kenabian beliau. Pernyataan seperti ini kita temukan dalam firman Allah sendiri. Al-Qur'an memiliki sajak yang berbeda dengan syair-syair yang ada, berbeda dengan isi pidato-pidato, ucapan-ucapan dan karangankarangan yang tertulis manapun. Ia menantang semua manapun. orang dengan mengatakan: "Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin

berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, pasti mereka tidak dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun seluruh dari mereka membantunya" (QS. Al-Israa' 88). "Kemudian tantangan itu semakin tegas dengan mengatakan: "Maka, datangkanlah satu surat saja yang serupa dengannya". Ternyata mereka tidak sanggup menjawab tantangan tersebut, sekalipun bahasa yang dipergunakan oleh AlQur'an adalah bahasa mereka. Padahal tantangan itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan menentangnya, atau dengan mengeluarkan harta dan menyerahkan jiwa. Tetapi hingga kini belum muncul satupun tandingannya, walaupun sebuah surat yang paling pendek sekalipun. Padahal jumlah kaum kafir yang memusuhi Islam demikian banyaknya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat dan kenabian Muhammad saw". saw". Kitab suci yang jelas ini dan merupakan wahyu Allah, telah mampu mengadakan revolusi mental dan sosial serta mengubah pemikiran manusia selama empat belas abad. Ia juga telah pemikiran mengubah wajah sejarah manusia dan membangun suatu umat yang lemah menjadi perkasa, menerangi mereka dari jalan sesat ke jalan lurus dan menyatupadukan barisan yang tadinya cerai berai. Dengan karunia Allah dan petunjuk Al-Qur'an, terwujudlah kesatuan umat di bawah undang-undang yang meletakkan hukum serta menegakkan keadilan di muka bumi ini. Ia juga menjadi pandu bagi umat dan menjadi misi universal sebagai puncak mahkota keagungan. Kiranya sudah banyak diketahui bahwa Al-Qur'an menunjukkan aqidah yang benar, membina keluhuran budi dan menjelaskan prinsip hukum sosial dalam kemasyarakatan dan pemerintahan serta prinsip hukum perdata dan pidana, juga ibadah-ibadah lainnya. Dengan petunjuk itu, nabi Muhammad saw telah membangkitkan taraf pemikiran bangsa Arab yang tadinya tenggelam dan terpecah belah dalam fanatisme jahiliyah, mendarah daging dalam kebodohan, buta huruf dan hidup dalam budaya berhala yang nista, ke arah penghidupan yang gilang gemilang. Beliau dapat menyembuhkan, mempersatukan mereka dengan mengajarkan Al-Qur'an dan perkataan-perkataan yang penuh hikmah. Ajaran-ajaran yang tercantum di dalam Al-Qur'an dan umat yang telah menerimanya sebagai ajaran kehidupan, ternyata telah mampu mengangkat umat lain, baik yang masih terbelakang

maupun yang telah maju peradabannya. Padahal kalau ditilik dari sejarahnya, dahulunya masih banyak yang buta huruf, tidak sejarahnya, berilmu dan juga tidak pernah belajar dari bangsa lain. Cukuplah bukti bahwa mukjizat Al-Qur'an telah mampu menyemenyebabkan orang menjadi beriman. Bangsa yang buta huruf telah menjadi bangsa yang berilmu dan mampu memimpin dunia. menjadi Bangsa Arab maupun Ajam (non Arab) yang tadinya hidup dalam kegelapan jahiliyah, menjadi bangsa beradab dan berkebudayaan jahiliyah, tinggi. Tidaklah mengherankan bahwa kemajuan umat masa Tidaklah lampau disegala bidang ilmu dan budaya, disebabkan karena AlQur'an telah menunjukkan bermacam ilmu, seperti astronomi, menunjukkan bermacam sejarah, syariat, strategi perang, politik dan lain-lain. Semua itu secara jelas membuktikan bahwa Al-Qur'an absolut kebenarannya sebagai wahyu Allah. Pengakuan akan kebenaran Al-Qur'an juga dicetuskan para cendikiawan barat dari berbagai disiplin ilmu. Sebagian besar dari mereka telah tunduk dan mengakui bahwa Al-Qur'an adalah kitab adalah suci (Al-Wahyu) yang bersumber dari Allah, apalagi setelah terbukti di dalamnya terdapat banyak ayat yang membuktikan berbagai membuktikan berbagai penemuan baru pada abad mutakhir kini dan sebelumnya2). sebelumnya ------------------------------------------------1) Lihat buku "Fiqhul Akbar", halaman 59-60. Akbar",

2) Lihat buku "Qur'an, Taurat, Injil dan ilmu-ilmu" oleh Moris Puk

Nabi Dan Rasul Pengantar Seorang Muslim beriman dan percaya bahwa Allah SWT telah memilih di antara umat manusia sejumlah nabi dan rasul sebagai utusanNya kepada umat manusia untuk menyampaikan syariat agama Allah. Juga Allah SWT mengutus para nabi dan rasul untuk menyelamatkan manusia dari perselisihan tentang dasar kehidupan mereka dan untuk mengajak manusia kepada kebenaran, yaitu agama yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah SWT mengutus para nabi dan rasul untuk membawa khabar gembira kepada umat manusia tentang kenikmatan abadi yang telah Allah sediakan untuk mereka bila beriman kepada Allah dan RasulNya, dan meperingatkan mereka tentang akibat kekufuran (syirik), serta memberikan teladan pada tingkah laku yang baik dan mulia bagi umat manusia, antara lain dalam bentuk ibadah yang benar, akhlak yang terpuji dan istikomah (berpegang teguh) terhadap ajaran Allah SWT.

Pengertian nabi dan rasul Walupun tugas nabi dan rasul adalah sama dari segi tugas pemyampaian wahyu, tetapi mempunyai pengertian yang berbeda dan berarti. Memang kebanyakan ulama berpendapat bahwa nabi atau rasul adalah orang yang menerima wahyu dari Allah untuk dilaksanakan terutama untuk dirinya sendiri, kemudian jika ia diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu itu untuk manusia, maka ia disebut rasul. Tetapi jika tidak diberikan tugas demikian, maka ia disebut nabi. Pendapat ini terasa ganjil terdengar. Sebab, mungkinkah seorang nabi tidak diberikan tugas kepadanya untuk menyammenyampaikan wahyu kepada umat manusia. Apakah nabi hanya diutus Allah untuk melaksanakan agama Allah untuk dirinya sendiri. Betul, bahwa nabi dan rasul, keduanya menerima wahyu dari Allah. Tetapi ada perbedaan makna yang sangat berarti dan prinsipil. Arti nabi adalah orang yang diwahyukan kepadanya sya riat rasul sebelumnya dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat itu kepada suatu kaum tertentu. Contoh untuk itu adalah nabi-nabi Bani Israil yang diutus dan bertugas di antara nabi Musa dan nabi Isa. Sedangkan rasul adalah orang yang diwahyukan kepadanya suatu syari'at baru untuk disampaikan kepada kaumnya sendiri. disampaikan Secara singkat dapatlah disebutkan bahwa rasul adalah orang yang disebutkan diperintahkan untuk menyampaikan syari'atnya sendiri, sedangkan nabi diperintahkan untuk menyampaikan syari'at rasul yang lain diperintahkan (rasul sebelumnya)1). sebelumnya) Allah SWT berfirman : "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak pula seorang nabi....." (QS. Al-Hajj 52). Imam Baidlawi menafsirkan ayat itu sebagai berikut2): "Rasul adalah orang yang diutus Allah dengan syari'at yang baru untuk menyeru manusia kepadaNya. Sedangkan nabi adalah orang yang diutus Allah untuk menetapkan (menjalankan) syariat rasul-rasul sebelumnya". (menjalankan) Dengan batasan yang jelas ini, maka dapatlah dikatakan bahwa nabi Musa adalah nabi sekaligus rasul. Tetapi nabi Harun adalah nabi, bukan rasul. Sebab, ia tidak diberikan syari'at yang baru. Sayyidina Muhammad saw adalah nabi dan rasul. Namun yang paling istimewa pada diri beliau adalah kenabian dan kerasulannya

diutus untuk seluruh umat manusia. Seorang muslim tidak hanya wajib percaya kepada nabi Muhammad saw, malainkan ia juga wajib percaya kepada semua nabi dan rasul sebagaimana firman Allah SWT: "Katakanlah (kepada orang-orang Mukmin): 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'kub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabinabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNy" (QS. Al-Baqarah 136). Jumlah Nabi dan Rasul serta Keluasan Ajaran Risalahnya Secara global (umum) kita diwajibkan Iman kepada para nabi dan rasul. Artinya kita wajib percaya bahwa Allah telah mengutus sejumlah nabi dan rasul sebelum Muhammad saw. Juga, kita tidak perlu mengetahui berapa jumlah mereka seluruhnya, siapa namaseluruhnya, nama mereka dan di mana mereka bertugas. Memang dalam suatu hadits riwayat Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya, dikatakan bahwa jumlah nabi ada lebih kurang 124000 orang, dan jumlah rasul ada 315 orang. Tetapi riwariwayat tersebut adalah bukan riwayat hadits muttawatir. Karena itu tidaklah kuat untuk dijadikan pegangan dalam bidang akidah. Sebab, akidah tidak boleh berlandaskan dalil-dalil yang dzonny (yang belum pasti kebenarannya, seperti hadits ahad). Tetapi ia hendak harus berdasarkan dalil-dalil yang kath'y3). Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberpa rasul sebelum kamu. Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu" (QS. Al-Mukmin 78). kepadamu" Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa Allah hanya memperkenalkan sebagian dari para nabi dan rasulNya. Al-Qur'an hanya menerangkan (menceritakan) sebanyak 25 nabi dan rasul saja. Mereka itulah yang wajib kita ketahui satu persatu, wajib pula persatu, kita percayai kenabian dan kerasulannya. Semua nabi dan rasul sebelum Muhammad diutus Allah untuk suatu

bangsa tertentu (baik satu atau beberapa generasi dari suatu generasi bangsa tertentu) dan untuk suatu periode tertentu. Daerah atau tertentu. wilayah missi dakwah dari seorang nabi serta masa berlaku syari'atnyapun juga terbatas sampai datangnya rasul datangnya penggantinya. Semua nabi dan rasul, risalah dakwah mereka terbatas dan bersifat lokal, kecuali risalah dakwah nabi Muhammad saw yang bersifat universal. Tentang keuniversalan risalah nabi Muhammad saw, Allah SWT telah menegaskan sendiri dalam AlQur'an pada beberapa ayat dan surat, antara lain: "Dan Kami tidak mengutusmu melainkan bagi umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Tetapi kebanyakan manusia pemberi tidak (mau) mengetahui" (QS. Saba' 28). mengetahui" Dan Rasulullah saw menegaskan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jabir ra: "Nabi-nabi terdahulu diutus diperuntukkan bagi kaumnya sendiri (khusus). Sedangkan aku telah diutus untuk seluruh umat manusia". Awal dari para nabi adalah Adam as dan akhir para nabi adalah Muhammad saw. Kenabian Adam as dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya: "Kamudian Adam menerima beberapa kalimat dari RabbNya. Maka, Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat lagi Mahasayang. Kami Mahapenerima berfirman: 'Turunlah kamu dari Jannah itu. Kemudian jika datang petunjukKu, maka siapa saja yang mengikuti petunjukKu, pastilah tidak ada kekhawatiran atas mereka, kekhawatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS. Al-Baqaarah 3738). Serta sabda Rasulullah saw: "Aku adalah penghulu anak Adam, nanti, dihari kiamat, (tetapi) tidak ada kebanggaan pada diriku. Dan ditanganku ada panji-panji pujian, (tetapi) tidak ada kebanggaan di sini. Tidak seorang nabipun, baik ia nabi Adam As atau nabi yang lain, maka mereka berada di bawah panji-panjiku" (HR. Turmudzi). Adapun kenabian Muhammad saw, dapat dibuktikan dengan

mukjizat yang abadi, yaitu Al-Qur'an. Ia adalah Kalamullah, yang telah membungkam orang-orang kafir, terdiam tak mampu menandingi atau medatangkan satu surat saja semisal Al-Qur'an. Hal itu menjadi dalil yang yakin bahwa Muhammad saw adalah seorang nabi dan rasul. Sebab, suatu mukjizat hanya diberikan Allah kepada para nabi dan rasul. Allah SWT berfirman: "Dan jika kalian (tetap) meragukan Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad saw), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an dan ajaklah penolong-penolong selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar" (QS. Al-Baqarah 23). 23).

Nabi Muhammad saw adalah Penutup Nabi dan Rasul Di samping kita percaya kepada kenabian dan kerasulan Muhammad saw, kita wajib percaya pula bahwa nabi Muhammad saw adalah "khatamunnabiyyin" (penutup para nabi). Di kalangan kalangan umat Islam sejak sahabat hingga kini, bahkan sampai akhir jaman nanti wajib mentaati konsensus bahwa nabi dan rasul penutup (akhir) adalah Muhammad saw, sehingga tidak lagi nabi dan rasul sesudahnya sampai kiamat. Konsensus umat Islam mengenai hal ini adalah berdasarkan: 1. Firman Allah SWT: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Mahatahu segala sesuatu" (QS. Al-Ahzab 40). Dalam ayat ini jelas bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul. Karena itu tidak akan ada nabi sesudah nya, apalagi rasul. Sebab, tingkatan rasul lebih tinggi dari tingkatan nabi 4) 2. Hadits Mutawatir: a. Hadits nabi mutawatir yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal dari Anas bin Malik, ia berkata: Malik, "Sesungguhnya risalah kenabian itu telah habis. Maka, tidak ada nabi dan rasul sesudahku". sesudahku".

b. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ahmad Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Abi Hurairah: Hurairah: "Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat sebelumku sebuah rumah; diperindah dan diperbagusnya (serta diselesaikan segala sesuatunya) kecuali tempat (yang disiapkan) untuk sebuah batu bata di sudut rumah itu. untuk Orang-orang yang mengelilingi rumah itu mengaguminya, mengaguminya, tetapi bertanya: "Mengapa engkau belum memasang batu bertanya: bata itu?' Nabipun berkata: 'Sayalah batu bata (terakhir) itu, dan sayalah penutup para nabi". Dalam dua hadits di atas dijelaskan bahwa kenabian dan kerasulan itu telah terputus sama sekali. Dengan demikian anggapan Faham Qadiyani yang mengatakan bahwa sesudah Rasulullah saw masih ada nabi adalah jelas keliru (sesat) dan tidak Rasulullah berdasarkan pengertian bahasa Arab dan syara'. Pemahaman Pemahaman Qadiyani tentang kalimat "Khatamunnabiyyin" adalah cap (stempel) untuk nabi-nabi sebelumnya adalah sangat keliru. Sebab, pengertian kalimat ini menurut bahasa Arab adalah "Nabi penghabisan (terakhir)". (terakhir)". Jamaluddin Muhammad Al-Anshary5), seorang ahli bahasa Arab yang paling terkenal dengan kamus "Lisanul Arab" ia mengatakan bahwa kata "khatam" mempunyai arti yang sama dengan kata "khatim" dan "khitam". Ia menulis sebagai berikut: "khitam".

"Khitam dari suatu kaum serta khatim dan khatamnya adalah penghabisan dari mereka. Dan Muhammad saw adalah khatim (penghabisan/akhir) dari segala nabi. Khatim dan khatam adalah di antara nama (yang diberikan kepada) diberikan nabi Muhammad saw di dalam Al-Qur'an. Disebutkan di dalam Al-Qur'an bahwa Muhammad saw adalah 'khatimannabiyyin', yakni penghabisan nabi (penutup) segala nabi". nabi". Selanjutnya Jamaluddin Muhammad Al-ANshari mengatakan: "Merujuk kepada Al-Qur'an dan hadits mutawatir di atas, kalau ada orang yang mengatakan masih akan ada nabi setelah Muhammad saw, maka mereka telah sesat dan kafir. Oleh karena itu, orang(-orang) yang mengklaim dirinya sebagai nabi maka orang itu telah sesat (menyimpang) dari akidah Islam yang jelas-jelas menegaskan bahwa nabi Muhammad saw adalah penutup para nabi dengan nash penutup

yang kath'i tsubut dan kath'i dilalah". Mengenai orang-orang yang mengklaim dirinya nabi sesu dah Muhammad, jauh-jauh hari Rasulullah saw telah memberitakannya memberitakannya dalam sebuah hadits dan diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abi Hurairah6):

"Tidak akan terjadi kiamat kecuali akan keluar (muncul) tukang-tukang bohong (para penipu) kira-kira 30 orang. Semuanya mengaku dirinya sebagai rasul Allah". Semuanya Termasuk para penipu yang disinyalir Rasulullah saw itu, adalah Mirza Ghulam Ahmad. Orang ini mengklaim dirinya sebagai nabi sesudah Muhammad saw. Ia mengada-ada syariat baru dan menyatakan bahwa ia menerima wahyu serta mengarang kitab yang disebutnya sebagai wahyu Allah7). -----------------------------------------------------------1) 2) 3) 4) Lihat buku "Fiqhul Akbar", halaman 42. Akbar", Lihat Tafsir Imam Baidlawi "Anwaruttandzim", Jilid IV, halaman 57. "Anwaruttandzim", Lihat buku "Studi Islam" oleh Drs Masyfuk Zuhdi, jilid I, halaman 66.

Lihat "Tafsir Ibnu Katsir" Juz V, halaman 470 dan buku "Studi Islam" Jilid I: "Bab Akidah", Akidah", oleh Masyfuk Zuhdi. 5) Lihat Jamaluddin Muhammad Al-Anshari dalam kamus "Lisanul Arab" Juz XV, Halaman 55. Cetakan Mesir, 1300 Hijriyah. 6) 7) Lihat kitab "Jami' Al-Ushul fie Ahadits fie Rasul" oleh Ibnu Atsir Al-Jasrir, Juz X, halaman 390.

Untuk lebih jelas, baca "Ahmadiyah dalam Persoalan" oleh Fawzy Sa'ied Thaha, dan buku "Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah", oleh Abdullah Hasan Al-Hadar. Juga, Sejarah", lihat buku "Koreksi Total Terhadap Ahmadiyah", Drs. Hamka Haq Al Badry. Ahmadiyah",

HARI KIAMAT Seorang muslim beriman dan percaya bahwa kehidupan di dunia ini akan habis dan mempunyai batas waktu berakhirnya, kemudian akan berganti dengan kehidupan kedua di alam akhirat. "Ilahmu adalah Ilah yang satu. Maka, bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Akhirat, adalah mereka

yang hatinya ingkar (akan keesaan Allah dan Hari Kiamat) sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang sombong" (Q.S. An-Nahl 22). Pada saat dan hari itu, Allah yang Mahakuasa akan membangmembangkitkan segenap makhluk ciptaanNya. Semua akan dikumpulkan untuk menghadap mahkamah pengadilan Allah yang Mahatinggi. Setiap orang diperhitungkan amal perbuatannya. Orang yang taat dan shaleh, pasti menerima pahala kebahagiaan dalam kehidupan jannah yang penuh kenikmatan abadi. Sedangkan orang-orang yang maksiat kepada Allah, pasti merasakan siksa yang pedih di dalam jahannam. Bukti-bukti adanya Hari Kiamat adalah berasal wahyu (ayatayat) Allah dan hadits rasul. Dasar pemahamannya adalah berdasarkan dalil nakli, bukan dalil akli. Sebab, Hari Kiamat adalah berdasarkan sesuatu yang tidak terjangkau panca indera manusia. Oleh karena itu, akal tidak mampu menemukannya dengan pasti berdasarkan usaha penginderaan terhadap sesuatu. Tanpa adanya berita tentang Hari Kiamat dari Al-Wahyu, maka manusia tidak mengetahui apakah ada atau tidak hari kebangkitan sesudah mati, untuk apa ada hari kebangkitan itu, juga apakah masih ada atau tidak kehidupan sesudah mati, serta bagaimana bentuk kehidupan sesudah sesudah mati itu? Dalil-dalil nakli yang menjelaskan tentang Hari Kiamat tersebut di antaranya adalah: "Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian. Demi Tuhanku, kalian benar-benar pasti dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'. Hal demikian adalah mudah bagi Allah" (Q.S. At Taghaabun 7). Hadits ketika jibril mengajarkan kepada Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dari Umar bin Khattab: "Ketika Jibril menanyakan kepada Rasulullah tentang iman, maka Rasulullah menjawab: 'Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, juga kepada Hari Kiamat. Dan hendaklah engkau beriman kepada Qadla-Qadar yang baik dan buruk (dari Allah)". Iman kepada Hari Kiamat adalah iman kepada hari berbangkit, yaitu waktu berakhirnya seluruh kehidupan makhluk di alam semesta yang fana ini, kemudian Allah pasti menghidupkan kembali semua makhluk yang telah mati, membangkithidupkan

tulang belulang yang telah hancur, mengembalikan jasad yang telah menjadi tanah sebagaimana asalnya, dan mengembalikan ruh sebagaimana pada jasad seperti sedia kala.

Keadaan Manusia Ketika Berbangkit Ada yang mempersoalkan kebangkitan manusia dari kubur, apaapakah ia bersifat materi ataukah immateri (spiritual). Menurut faham Ahlussunnah, yang dihidupkan kembali (bangkit) dari kubur adalah badan (wadag) yang telah menjadi tanah (membusuk) ditinggalkan oleh nyawanya (roh) dahulu ketika (membusuk) manusia hidup di bumi. Keterangan ini berdasarkan firman Allah: "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya. Ia katakan: 'Siapa pula yang sanggup menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh itu?' Katakanlah: 'Ia akan dihidupkan oleh Ilah yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Mahatahu tentang segala makhluk" (QS. Yasin 78-79). Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Madjah dari Jabir ra: ra: "Setiap hamba akan dibangkitkan menurut keadaan ketika ia mati (di dunia)". Menurut Maulana Muhammad Ali (seorang tokoh Ahmadiyah 1)), yang dibangkitkan dari kubur itu bukanlah badan manusia ketika ia ditinggalkan oleh nyawanya, melainkan badan baru dan berbeda sama sekali dengan yang terdahulu. Ia merujuk kepada keadaan langit dan bumi pada hari akhir nanti, bahwa ia bukanlah bumi dan langit dunia yang dahulu. Ayat-ayat Al-Qur'an yang dijadikan sandarannya adalah surat Ibrahim 48, Al-Israa' 99, dan Al-Waqi'ah 58-62. Ketiga ayat pada surat, menurut takwilnya, menunjukkan bahwa pada hari akhir bumi langit dan manusia diganti dengan yang lain, tetapi serupa dengan bentuk terdahulu dalam kondisi yang berbeda pula dengan kondisi di dunia. Dengan kata lain menurut Maulana Muhammad Ali, nyawa seseorang nanti tidak kembali kepada badannya yang lama (di dunia) tetapi akan masuk kepada badan baru di akhirat2). akhirat Pendapat tersebut tidak dapat diterima. Sebab, ia berten tangan dengan nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah Rasul yang menjelaskan menjelaskan

bahwa yang akan dibangkitkan dari alam kubur adalah nyawa manusia dari badan yang dahulunya hidup di dunia, bukan badan lainnya. Al-Qur'an menyatakan hal tersebut, misalnya dalam surat Ibrahim 48-50, Al Kahfi 48, dan An-Nisa 24, serta Sunnah Rasul: "Sesungguhnya (ahli jahanam) kepadanya akan ditumpahkan air yang sangat mendidih ke atas kepala mereka, sampai-sampai itu menghancurkan tubuh bagian dalam mereka dan mengeluarkan segala organ bagian dalam. Setelah itu (tubuh rusak tersebut) diciptakan kembali (untuk selanjutnya menerima siksaan yang berulang-ulang" (HR. Ahmad, Tirmidzi, Al-Hakim dari Abi Hurairah. Lihat "Kanzul Ummal", oleh Al-Burhan Furi, pada hadits nomor 39515). Seluruh ayat tersebut menunjukkan bahwa semua manusia berberkumpul di Padang Mahsyar dengan keadaan dan bentuk yang sama seperti ketika ia hidup di dunia. Sedangkan ayat-ayat yang dijadikan dasar bagi Maulana Muhammad Ali tidaklah dapat dijadikan dijadikan dasar yang benar, terutama surat Ibrahim ayat 48: "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke Hadirat Allah Yang Mahaesa lagi Maha Perkasa" (QS. Ibrahim 48). Ayat ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menunjukkan ada nya perubahan bentuk manusia pada Hari Kiamat. Dalam ayat tersebut tersebut hanya bumi dan langit saja yang berubah, sedangkan manusia tidak berubah sama sekali. Begitu pula dasar yang diambilnya dalam surat Al-Isra'ayat 99: "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allahlah pencipta langit dan bumi adalah kuasa (pula) pencipta menciptakan yang serupa dengan mereka, dan (Dia) telah (pula) menetapkan waktu tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka, orang-orang yang dzalim itu tidak menghendaki selain kekafiran (belaka)" (QS. Al-Isra' 99). Bagi Allah, tidaklah sukar menciptakan langit dan bumi yang baru, apalagi manusia dalam bentuk terdahulu ketika ia mati. Sedangkan dasar surat Al-Waqi'ah 58-62; ayat ini bukanlah menjemenjelaskan penggantian bentuk badan manusia di akherat, tetapi ayat tersebut menjelaskan kekuasaan Allah untuk menggantikan

manusia di dunia (mengganti suatu bangsa yang melanggar perintah Allah dengan bangsa yang patuh terhadap perintah Allah). Waktu Hari Kiamat Manusia selalu bertanya kapankah terjadinya Hari Kiamat. Jawabannya: hanya Allah yang tahu dengan pasti dan tepat, kapan terjadinya. Firman Allah SWT: "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: 'Bilakah terjadinya?Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan terjadinya?Katakanlah: tentang kiamat itu ada pada sisi Rabbku. Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di (huru-haranya langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu ada di sisi Allah'. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS. Al A'raaf 187). Tanda-tanda Hari Kiamat Hadist-hadits Rasulullah saw yang bersumber pada wahyu Allah tidak pernah menerangkan dengan pasti kapan terjadinya Hari KiaKiamat. Namun tanda-tanda Hari Kiamat tersebut telah dikemukakan secara banyak dan rinci, antara lain: Banyaknya mode pakaian telanjang. Jumlah orang beriman sedisedikit. Zina dan minuman memabukkan serta kejahatankejahatan lain merajalela. Perhiasan masjid yang berlebihan dan suara hiruk-pikuk lebih sering terdengar di Masjid. Penyalahgunaan jabatan. Perpecahan umat Islam /negerijabatan. negeri Islam akibat fitnah oleh musuh-musuh Islam. Kehancuran pemerintah Khilafah Islamiyah dan akan kembali jaya dan berkuasa Khilafah dikemudiann hari sehingga kaum Muslimin menguasai pusat kekuasaan Katholik Nasrani di Roma dan tersebarnya Islam ke seluruh dunia. Peperangan antara umat Islam dengan Yahudi yang berakhir dengan kemenangan di fihak kaum muslimin. Munculnya Dajjal di tengah umat Islam untuk menyesatkan manusia. Munculnya Muhammad Al-Mahdi di bumi untuk menegakkan keadilan dan kekuasaan umat Islam. Turunnya Nabi Isa as untuk meluruskan ajaran Nasrani (ajaran Trinitas, yakni

menuhankan Nabi Isa), mengislamkan orang Nasrani, menhancurkan salib-salib, menegakkan kebenaran dan keadilan menegakkan berdasarkan syariat Islam, membunuh Dajjal, kemudian beliau kawin lalu meninggal dan dikuburkan dekat makam Rasulullah saw. munculnya Daabbah (binatang ajaib) yang dapat berbicara kepada manusia untuk menunjukkan kepalsuan dan ketidakbenaran ajaran semua agama selain Islam, serta memperingatkan orang-orang memperi yang tidak percaya dengan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah). Matahari akan terbit dari arah barat dan itu terjadi setelah Nabi Isa wafat; pada saat itulah pintu taubat tertutup. Munculnya Ya'juj dan Ma'juj (dua bangsa dari sebelah Timur) menyerang kaum muslimin bagaikan air bah, tetapi peperangan itu akan berakhir dengan kehancuran tentara Ya'juj dan Ma'juj oleh Allah dengan kemenangan di fihak kaum Muslimin (ini terjadi pada masa Nabi Isa masih hidup). kemu dian Allah akan mengirimkan kabut tipis yang menyebabkan kematian seluruh kaum muslimin dan tinggallah orang-orang kafir (jahat). Terjadi gempa bumi di Timur /Barat dan seluruh Jazirah Arab, disertai munculnya api di daerah Yaman, sehingga orangorang berlari ke arah Syam dan di sini mereka mati setelah ditiup sangkakala. Pada saat itulah Kiamat yang sesungguhnya terjadi. sangkakala. Nasib Manusia pada Hari Kiamat Al-Qur'an menerangkan bahwa Hari Kiamat terjadi setelah ditiupnya sangkakala pertama oleh Malaikat Isrofil. Pada saat ini, semua makhluk binasa kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiupkan sangkakala untuk kedua kalinya agar semua makhluk berdiri dan menuju Padang Mahsyar untuk perhitungan amalnya. Firman Allah SWT: "Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah apa yang ada di langit dan bumi kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)" (QS. Az-Zumar 68). Orang-orang atheisme telah meragukan Hari Kiamat setelah tergambar dalam otaknya bagaimana kesulitan yang akan dihadapi Allah ketika akan menghitung amal perbuatan manusia yang begitu banyak. Sikap ini tumbuh karena mereka tidak berfikir bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi tanpa merasa lelah sedikitpun. Firman Allah SWT:

"Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan" (QS. Qaaf 38). Allah Mahatahu berapa jumlah tetes hujan yang jatuh ke bumi, serta tidak satu lembar daunpun yang jatuh ke tanah melainkan diketahuiNya (QS. Al-An'aam 59). Sedangkan manusia telah terbukti tidak sanggup menghitung tetes hujan yang turun ke bumi, berapa jumlah butir pasir di sepanjang pantai dunia, serta berapa jumlah bayi yang lahir ke dunia sejak dahulu sampai sekarang. Semua jumlah bilangan yang banyak itu hanya Allah SWT saja yang sanggup menghitungnya. Sebab, Dia Yang Mahatahu, Mahakuasa dan Mahakaya. Dia tahu jumlah makhluk sebelum diciptakan sesuatu diciptakan. Apakah adanya hisab menjadi sesuatu yang menyusahkan baginya, misalnya untuk menghitung semua amal manusia ketika hidup; kejahatannya dan keburukan yang pernah dikerjakan. Segala gerak yang dilakukan mamusia mulai dari mata, mulut, hidung, telinga, kaki, tangan dan segala sifat jasmani dan rohani (hati), semuanya mendapat penilaian dari Allah dan akan dibalas. Pada hari hisab, segala sesuatu akan disaksikan oleh Allah SWT, para Rasul dan Nabi, para Malaikat, seluruh manusia, bina tang dan semua makhluk, sejak nabi Adam hingga makhluk terakhir. Ia juga akan disaksikan oleh ayah-ibunya, neneknya dan kawan-kawannya. Allah SWT berfirman : "Bacalah kitabmu sendiri yang pada hari itu cukuplah menjadi saksi" (QS. Al-Isra' 14). "Pada hari itu semua berita akan bercerita sendiri" (QS. Al-Zalzalah 4). Orang-orang yang beriman kepada Allah, tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, maka ia pasti diampuni dosa-dosaNya. Sebab, Allah mengampuni semua dosa manusia kecuali dosa syirik. "Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sesungguhnya Allah dirinya membersihkan siapa saja yang dikehendakiNya dan mereka dikehendakiNya tidak dianiaya sedikitpun" (QS.An-Nisaa'48). "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (menyekutukan Dia). Dan Dia mengampuni dosa selain syirik (menyekutukan itu bagi siapa saja yang dikehendakiNya. Siapa saja yang

menyekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia tersesat sejauh-jauhnya" (QS. An-Nisaa' 116). "(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan-kesalahan kecil. perbuatan Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. (Karena) (Karena) Dialah yang Mahatahu siapa yang bertaqwa" (QS. An-Najm 32). Adapun orang-orang kafir yang menyekutukan-Nya, maka mereka termasuk orang-orang berdosa. Mereka tidak diampuni dosa-dosanya, sesuai dengan firman Allah SWT: "Dan tidaklah mereka tahu bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman" (QS. Az-Zumar 53). Betapa mudahnya seseorang terlepas dari api jahanam, sesuai dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Adiy: Bukhari Adiy: "Jauhkan dirimu dari api jahanam walaupun dengan bersedekah sebiji korma. Dan jika tidak mendapatkannya, maka cukuplah dengan perkataan yang baik". Kedzaliman antar manusia di dunia merupakan dosa yang tidak terhindarkan. Namun, ia akan diadili dengan seadil-adilnya. Mereka Mereka yang merampas harta orang lain, mencuri, memperkosa, membunuh, menganiaya. Mereka yang mengetahui di kanan kirinya banyak orang miskin, tersiksa dan memerlukan bantuan tetapi ia membiarkannya. Mereka yang bekerja tidak benar ketika bergaul, berpolitik, maupun berdagang. Mereka yang berdosa besar maupun maupun kecil, berjual beli secara bathil, membuka aurat di depan umum dan berteriak-teriak di jalanan, mengomel, berbisik, mengukur dan menimbang secara curang, hubungan antara majikan dengan buruh yang buruk, serta berbagai persoalan keluarga. Semua bentuk perbuatan itu pasti diadili. Ketika itu tidak ada partai dan golongan, kebangsaan, kesukuan. Semua hal kebangsaan, diketahui Allah.

Segala caci maki, tuduhan yang semena-mena tanpa bukti, menyakiti orang lain, bergunjing, mengkritik dengan maksud buruk, kata-kata yang keluar tanpa makna, menyia-nyiakan waktu, berhuberhutang tetapi tidak mau membayar, berjudi dan berzina, serta 1001 macam persoalan kehidupan manusia, semua pasti diadili dan mendapat hukuman Allah pada Kahri Kiamat. Rasulullah saw mendapat bersabda yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tarmidzi dari Abu Hurairah: Hurairah: "Tahukah engkau siapakah orang-orang miskin itu? Mereka adalah umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan shalat, shaum, zakatnya, tetapi mereka telah mencaci maki, menuduh seseorang tanpa bukti, sehingga semua perbuatannya itu menyebabkannya ia telah menghilangkan kebaikannya. Kemudian ia ditenggelamkan ke dalam jahanam". Orang-orang yang jumlah dosanya lebih banyak daripada amal kebajikannya, maka mereka pasti disiksa dalam api jahanam. SeSedangkan orang-orang yang jumlah amal kebajikannnya lebih banyak daripada amal kejahatannya, maka mereka akan mendapat balasan kenikmatan di Hari Kiamat. Tetapi akan berbeda terhadap orang-orang yang jumlah amal kebajikan seimbang dengan amal bejahatan, maka mereka akan ditangguhkan, tidak dimasukkan ke dalam jannah atau jahanam. Mereka akan ditempatkan di suatu lokasi yang disebut Al-Araaf, sampai batas waktu yang tidak disebut ditentukan. Dari tempat ini, mereka dapat menyaksikan bagaimana pedihnnya siksa jahanam dan bagaimana pula kenikmatan yang diperoleh oleh penghuni jannah. Namun, penghuni Al-Araaf ini penghuni suatu waktu pasti dimasukkan Allah ke dalam jannah. (QS Al Araaf dimasukkan 46-47). "Dan di antara keduanya (penghuni jannah dan jahanam), ada batas (Al-A'raaf). Dan di atas Al-A'raaf itu ada orangorang yang mengenal masing-masing kedua golongan itu dengan ciri-ciri (kenikmatan yang) mereka (peroleh). Dan (kenikmatan mereka berseru (kepada) warga jannah: 'Salaamun 'alaikum'. Mereka belum boleh memasukinya, padahal memasukinya, mereka ingin (sekali) segera (masuk ke dalamnya). Dan (masuk dalamnya). apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni penghuni jahanam, maka mereka berkata: 'Ya Rabbi kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang yang dzalim itu'" (QS Al-A'raaf 46-47). Kenikmatan Jannah Kehidupan di dalam jannah adalah abadi, penuh kesenangan

dan kenikmatan. Allah SWT berfirman: "Masukilah jannah itu dengan aman. Itulah hari kekekalan" (QS Qaaf 34). Penghuni jannah akan bertemu dengan ayah, suami, istri, para famili, dan para cucunya yang beramal shalih dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Para malaikat akan masuk dari kegembiraan segala penjuru dengan menyampaikan salam. "(yaitu) jannah 'Adn, tempat mukim mereka, bersama orang-orang shalih dari para bapak, istri dan anak cucu mereka. Sementara itu, para malaikat masuk ke tempat mereka. Sementara mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): 'Sejahtera atas kalian seluruhnya karena kesabaran kalian' (Salaamun seluruhnya 'alaikum bimaa shabartum). Maka, alangkah baiknya tempat shabartum). terakhir itu" (QS Ar Raad 23-24). Tentang sifat-sifat jannah, Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah: Hurairah: "Siapa saja yang masuk jannah, maka ia pasti merasakan senang dan tidak pernah putusasa. Ia berpakaian yang tidak senang lepas, masa remaja yang tidak pernah pudar, matanya melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya, telinganya mendengar sesuatu yang tidak pernah didengar sebelumnya, dan hati manusia tidak pernah menghayalkan sesuatu hal yang ada sebelumnya". Pada waktu itu manusia akan melihat Rabbinya, yang dinyata kan Rasulullah saw sebagai bentuk yang Mahaindah. Juga di dalam jannah berlimpah buah-buahan yang tidak putus-putusnya dan tidak pernah terhalang. "Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak dilarang mengambilnya" (QS AlWaaqi'ah 32-33). Siksaan Jahanam Tentang siksaan terhadap orang kafir dan dzalim di dalam jahanam, Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api jahanam yang bahan bakarnya adalah

(tubuh) manusia dan bebatuan; penjaganya para malaikat yang kasar, keras, (dan) tidak (pernah) membantah kepada Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka diperintahkanNya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS AtTahriim 6). Sedang kedudukan orang-orang munafik, mereka berada di kerak jahanam yang paling bawah. "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (tempat mereka) berada pada tingkatan yang paling bawah dari jahanam, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka" (QS. An-Nisaa' 145). Allah SWT juga mengingatkan kepada manusia bahwa siksa jahanam amatlah pedih. jahanam "Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, maka kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam jahanam. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain (baru) supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana" (QS An-Nisaa' 56). Adzab Jahanam adalah Siksaan Fisik Kenikmatan Jannah adalah Kesenangan Sempurna Siksaan jahanam adalah abadi dan kekal. Siksaan di jahanam maupun kenikmatan di jannah merupakam akibat perbuatan manusia di dunia. Semua itu dirasakan secara fisik, bukan secara roh. Tentang pendapat bahwa kenikmatan maupun siksaan pada kedua tempat tersebut dirasakan manusia dalam bentuk roh, maka dirasakan pernyataan tersebut terbantah dengan memperhatikan firman Allah pernyataan SWT: "Ketika (itu) belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret. (Kemudian mereka dimasukkan) ke dalam air yang sangat panas, lalu mereka dibakar di dalam api (yang menyala-nyala)" (QS. Al-Mukmin menyala-nyala)" 71-72). "Pada hari itu dipanaskan emas perak di dalam jahanam, lalu lelehan (emas dan perak) itu (dipakai) untuk membakar dahi, lambung dan punggung mereka. Kepada mereka lambung

(dikatakan): 'Inilah harta benda yang engkau simpan untuk dirimu sendiri. Maka, rasakanlah sekarang (siksaan akibat rasakanlah dari) tabunganmu itu" (QS At-Taubah 35). "Sekali-kali tidak. Sesungguhnya jahanam itu api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala" (QS Albergejolak, Ma"aarij 15-16). "(Bagi mereka adalah) jannah 'adn. Mereka masuk ke dalamnya. Di dalamnya, mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang yang terbuat dari emas, dan mutiara, serta pakaian mereka di sana adalah sutra" (QS Faathir 33). Bagaimana mungkin siksaan yang disebutkan pada ayat-ayat AlQur'an tersebut bentuknya adalah siksaan yang bersifat ruh. BahBahkan, patut pula diketahui bahwa kehidupan akhir tesebut mempunyai persamaan dengan kehidupan dunia, yaitu adanya perasaan, pengertian, kepuasaan dan adanya makhluk (hewan dan pengertian, tumbuhan) yang akan menemani kehidupan manusia di jannah. Allah SWT berfirman: "Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini" (QS AthThuur 22). Rasulullah saw bersabda: "Ahli jannah makan dan minum di dalam jannah tetapi mereka tidak buang air besar, tidak buang ingus dan tidak kencing" (HR. Muslim dari Jabir ra). Dari Nu'man bin Basyir ra, ia berkata: "Aku telah mendengar Rasulallah SAW berkata: "Seringan-ringannya siksa pada Hari Kiamat ialah orang yang padanya diletakkan dua bara api di bawah tumitnya yang mampu mendidihkan otaknya. Pada saat itu ia merasa bahwa tidak seorangpun yang lebih berat siksaan yang seorangpun diterimanya dibandingkan dengan orang lain. Padahal sesungguhnya itulah siksa seringan-ringannya" (HR. Bukhari Muslim). Dampak Iman Kepada Hari Kiamat Iman pada Hari Kiamat akan mampu mendorong setiap mukmin

untuk berfikir sebelum melakukan sebuah tindakan. Sebab ia yakin bahwa semua amal perbuatannya akan dimintai pertangungjawabannya dan ia akan menerima balasannya, baik atau buruk sesuai dengan perbuatannya itu. Allah SWT berfirman: "Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, maka pasti ia melihat (balasan)nya, dan siapapun yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, juga pasti ia melihat (balasan)nya" (QS Al-Zalzalah 7-8). Karena itu iman kepada hari akhir mempunyai dampak positif bagi kehidupan seseorang, yakni 3): a. Senantiasa menjaga diri untuk selalu taat kepada Allah SWT dan senantiasa mengharapkan pahala pada Hari Kiamat. Ia akan berusaha menjauhi segala laranganNya karena takut siksaan kelak di kemudian hari. b.Menghibur dan mendorong agar bershabar bagi mukmin bahwa kebahagian (kesenangan, kesejahteraan) yang belum diperolehnya diperolehnya di dunia akan diterimanya di kemudian hari. Catatan Amal Perbuatan Manusia pada Hari Kiamat Iman kepada Hari Kiamat membawa konsekuensi yang logis untuk iman juga kepada adanya catatan amal perbuatan manusia. Setiap manusia akan menerimanya pada Hari Pembalasan itu. Allah SWT berfirman: "Dan setiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada perbuatannya lehernya. Dan kami berikan kepadanya pada Hari Kiamat sebuah kitab (catatan amal perbuatan) yang dijumpainya terbuka: 'Bacalah kitabmu. Maka, Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab'" (QS Al-Israa' 13-14). Al-Qur'an menjelaskan bahwa orang-orang mukmin akan diberikan catatan amal perbuatan mereka melalui tangan kanannya dari depan, sedangkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar akan menerimanya melalui tangan kanannya tetapi dari belakang. Hal itu akan berbeda terhadap orang-orang kafir. Mereka pasti menerima catatan amal perbuatannya melalui tangan kirinya. Allah SWT berfirman: "Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab (amal perbuatan)nya dari sebelah kanannya, maka dia

berkata: 'Ambilah. Bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa aku pasti menemui hisab terhadap diriku'. Maka, orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi dalam jannah yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan): 'Makan dan minumlah dengan sesukamu sebagai balasan terhadap amal perbuatan yang telah engengkau kerjakan pada hari-hari yang lalu. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: diberikan 'Wahai, alangkah baiknya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak tahu apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala-galanya. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaanku'. (Allah berfirman): 'Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Masukan dia ke dalam lehernya. api jahanam yang menyala-nyala itu. Juga, belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (Sebab), sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Mahabesar, dan juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka, tiada seorang temanpun baginya pada hari itu di sana, dan tidak ada makanan sedikitpun (baginya) selain darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya selain orang-orang yang berdosa" (QS. Al-Haaqqah 19-37). "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak: 'Celaka aku!'. Dan ia pasti masuk ke dalam api yang menyala-nyala (jahanam). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa Sesungguhnya sekali-kali ia tidak kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian. Sebeliknya) yang benar adalah Rabbinya selalu Rabbinya melihatnya" (QS. Al-Insyiqaaq 10-15).

Penutup Demikianlah pokok pembahasan iman kepada Hari Kiamat. Orang-orang yang beriman kepada adanya Hari Pembalasan akan selalu ingat kepada setiap perbuatan yang akan dilakukannya. Pada setiap langkahnya, ia akan berfikir apakah perbuatannya telah sesuai dengan perintah Allah SWT, ataukah perbuatannya justru telah melangggar laranganNya. Bagi kaum Muslimin, iman kepada Hari Kiamat sesungguhnya akan berdampak kuat bagi setiap amal perbuatannya. Bagi mereka

yang iman, maka mereka pasti akan berlomba-lomba menjalankan semua perintah Allah berupa syariat yang telah diturunkan kepada RasulNya, Muhammad saw, yaitu Syariat Islam. Hari Kiamat adalah suatu hari yang pasti datang. Sesungguh nya siksaan maupun kenikmatan yang diterima setiap manusia adalah akibat logis dari seluruh amal perbuatannya selama ia hidup di dunia. ------------------------------------------------------------------

1) Istilah "Ahmadiyah" tidak cocok untuk aliran agama ini. Ia lebih cocok dengan nama "Qadiyani" atau "Ghulamiyah". Lihat Dr. Fuad Mohd. Fachruddin, "Sejarah "Ghulamiyah". Perkembangan Pemikiran Islam: Khawarij - Syi'ah - Mu'tazilah - Murji'ah - Ahlussunnah Waljama'ah - Baha'i - Ahmadiyah", Jakarta (CV. Yasaguna), 1989. Halaman 129. 2) Lihat Maulana Muhammad Ali dalam "The Religion of Islam", Pakistan 1950 Islam", (p.281-283) 3) Lihat buku "Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah" oleh Muhammad Shahih AlUthaimin, terjemahan Moeslim Abdul Ma'ani, Bina Ilmu, 1985 hal 89). Uthaimin, terjemahan

QADLA DAN QADAR

Pengantar Seorang Muslim wajib beriman dan percaya kepada qadla dan qadar. Sebab, masalah ini telah dimasukkan ke dalam bagian dari rukum iman keenam. Menurut sebagian ulama ushuluddin, masalah ini telah mereka gabungkan dengan pembahasan masalah takdir. Iman kepada takdir adalah sesuatu yang wajib bagi setiap Muslim. Sebab, iman kepada takdir mempunyai sandaran nashnash Al-Qur'an yang pasti (kath'i) serta dijelaskan oleh Rasulullah saw yang diambil dari sunnahnya. Berbeda dengan iman kepada qadla dan qadar. Ia bukanlah timbul dari nash-nash syara'. Bahkan kalau kita mengkaji bukubuku hadits, maka tidak akan ditemukan masalah ini. Kita hanya menemukan pembahasan masalah takdir (Al-Qadar). Dalam shahih Bukhari, misalnya, ada bagian (kitab) khusus yang membahas tenten1). Hal sama akan kita temukan pada shahih tang masalah takdir ini Muslim2). Juga, seorang peneliti dan pengkaji hadits, maka ia akan menemukan hal sama. Tetapi ia tidak akan menemukan pembahas an masalah qadla dan qadar. Di dalam Al-Qur'anpun tidak terdapat istilah qadla dan qadar yang digabungkan itu. Kata qadla dan qadar hanya ditemukan terpisah-pisah 3). Tidak adanya istilah gabungan qadla dan qadar di dalam AlQur'an dan hadits disebabkan memang masalah ini baru muncul pada masa tabi'in (setelah masa sahabat). Ia muncul pada akhir abad pertama hijriyah (awal abad kedua hijriyah). Asal Mula Munculnya Istilah Qadla dan Qadar Akhir abad kedua adalah masa-masa suburnya penaklukan yang dilakukan oleh khilafah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia. Hal-hal baru mulai ditemukan, termasuk usaha-usaha menerjemahkan faham-faham di luar Islam, semisal filsafat (Yunani). Kaum Muslimin Muslimin mulai mengkaji filsafat Yunani. Ia pada awalnya hanya semacam kebutuhan untuk menjawab tantangan dari orang-orang Nasrani. Filsafat ini dipakai sebagai alat untuk berdebat dengan mereka setelah dari fihak Nasrani terlebih dahulu telah mempelajarinya untuk mempertahankan akidah mereka. Misalnya, mereka telah menggunakan logika (manthik) sebagai sesuatu yang penting untuk menggunakan membantu mereka dalam berfikir, berdialok maupun berdebat. membantu Kaum Muslimin tergerak hatinya untuk mendalami filsafat Yunani untuk membantah masalah-masalah yang dilontarkan fihak Nasrani dalam bidang "kebebasan bertindak" (free will). will). Di dalam filsafat Yunani ternyata terdapat dua golongan besar yang mengartikan makna kebebasan bertindak ini 4). Ada golongan golongan

"Epikure", suatu faham yang mengartikan kebebasan tersebut "Epikure", secara mutlak (serba boleh); dan ada golongan "Skeptisme atau "Stoaisma", suatu faham yang mengartikan bahwa tidak ada "Stoaisma", kebebasan (serba menyerah). Golongan terakhir ini akhirnya sering kebebasan disebut golongan "Fatalisme". disebut "Fatalisme". Setelah tentara kaum Muslimin selesai melakukan berbagai penaklukan (di Asia dan Afrika), barulah mereka mempunyai waktu luang untuk berfikir. Dengan tenang mereka mulai mengkaji berbaberbagai masalah baru yang timbul. Ketika itulah (akhir abad pertama atau memasuki abad kedua hijriyah) muncul permasalahan qadla dan qadar5). Masalah ini telah lama menjadi bahan pembahasan filosof Yunani. Ia juga telah menjadi pemahaman dan dikutip oleh kalangan Nasrani dari sekte Surianis 6). Bahkan masalah ini juga telah lama menjadi pembahasan dari kalangan Zarasustra7). Faham Qadariyah (Muktazilah) Kemunculan Berbagai Faham di dalam ajaran Islam sulit untuk dihindari ketika Islam telah menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, kemunculan segolongan dari kaum Muslimin yang berpendapat bahwa manusia itu bebas berkehendak atau berkehendak terlepas dari takdir Allah SWT adalah salah satu akibat terlepas persinggungan Islam dengan budaya setempat. Golongan ini mengatakan bahwa manusia bebas berkehendak. Dengan kata lain, mengatakan manusia manusia mampu berusaha sendiri. Itulah sebabnya akhirnya golongan ini disebut dengan "Qadariyah" 8).

Kemunculan faham Qadariyah yang dikembangkan oleh Washil bin Atha' sesungguhnya tidak lain karena reaksi dari penyebaran faham jabariyah yang mempunyai pemahaman bertolak belakang dengan Qadariyah. Ulama pada waktu bersikap keras, mengecam Qadariyah. dan menentang faham ini, karena golongan ini telah mengajak orang-orang lain untuk pasrah tanpa mau berusaha. Sebagai berusaha. jawaban atas golongan ini, timbul reaksi yang menyebabkan munculnya golongan menyebabkan 9). Golongan ini dalam ucapan-ucapannya, senantiasa "Muktazilah" "Muktazilah" menyebutkan bahwa manusia bebas untuk melakukan sesuatu menyebutkan tindakan apapun tanpa terikat kehendak kepada Allah. Mereka menolak pengaturan untuk segala sesuatunya sesuai dengan takdir sesuatunya (Al-Qadar) maupun dalam ketetapan Allah 10). Secara garis besar, Muktazilah berpendapat bahwa manu sia memiliki kehendak (iradlah), kekuatan, kekuasaan (kudrat, power) dan kebebasan (huriyah, freedom) untuk berbuat atau tidak

berbuat serta terlepas dari kehendak, kekuasaan dan takdir Allah. Karena itu, menurut faham ini, wajar dan adil apabila manusia harus bertanggungjawab atas semua perbuatannya 11). Golongan

ini memandang bahwa manusia sesungguhnya menciptakan segala memandang perbuatannya dengan ikhtiar dan kudratnya sendiri serta berdasarkan kehendaknya sendiri. Manusia itu "mukhtar" (bebas kehendaknya "mukhtar" memilih dan menentukan). Jika ia mau, maka ia kerjakan; jika tidak, menentukan). kerjakan; maka ia tinggalkan. Iradlat dan kudratNya tidak turut campur dalam tinggalkan. perbuatan manusia 12). Inilah faham indeterminasi (Qadariyah atau faham free will) dari filsafat Yunani yang merasuk ke pemikiran dunia Islam yang menyebabkan banyaknya orang yang terselewengkan, ha nyut oleh fikiran melayang yang akhirnya jatuh ke jurang kesesatan, bahkan pemikiran ini telah mengganggu kesesatan, persatuan umat13) Golongan ini mengemukakan beberapa alasan,

antara lain14): Pertama, perbuatan manusia terdiri dari dua gerak, yaitu gerak Pertama, ikhtiariyah dan idlthiariyah. Karena itu, tidaklah sama antara gerak memukul (sengaja) dengan tangan gemetar karena ketakutan; atau ketakutan; gerak naik ke puncak menara tidaklah sama dengan gerak orang yang jatuh dari puncak menara. Sebab, gerak pertama pada dua contoh di atas adalah atas kudrat (kehendak)nya sendiri, sedangkan gerak kedua adalah bukan atas kehendak sendiri. Kedua, pelaksanaan hukum syar'i (taklif syar'i), pahala dan Kedua, siksa terkait dengan iradlat dan kudrat. Orang yang tidak mempu nyai keduanya, ia bebas dari taklif syar'i. Orang yang tidak sanggup melaksanakan sebagian pekerjaannya, tentulah tugasnya hanya apa yang sanggup dikerjakannya. Itulah sebabnya mengapa orang gila tidak terbebani hukum. Orang kafir diharamkan naik haji, atau yang tidak sanggup shalat berdiri dapat melakukannya dengan duduk. Ketiga, andaikan semua perbuatan manusia terjadi atas iradlat Ketiga, iradlat dan kudratNya, maka semua perbuatan tersebut dapat disandarkan disandarkan (baik buruknya) kepada Allah, maka perbuatan-perbuatan seperti seperti shalat, shaum, dusta, mencuri dan seterusnya. (Ini tidak mungkin), mungkin), Mahasuci Allah dari hal yang demikian. Untuk mendukung pendapat mereka, Muktazilah gemar menakwilkan ayat-ayat Al-Qur'an 15). Ayat-ayat Al-Qur'an yang menakwilkan sering dikutip adalah ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia dikutip mendapat balasan atas perbuatannya, misalnya:

"Seseorang tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yakni (aneka nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan" (QS. As-Sajadah 17).

Mereka berdalih bahwa sekiranya perbuatan manusia itu berasal berasal dari Allah, maka mengapa ada balasan dari Allah atas perbuatan perbuatan manusia. Oleh karena itu, maka perbuatan manusia haruslah karena datang (berasal) dari manusia. Argumentasi seperti ini mereka ambil dari firman Allah: "Dan katakanlah: 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu. Maka, siapa saja yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. Dan siapa saja yang ingin (kafir), biarlah ia kafir ..." (QS. AlKahfi 29). Ayat tersebut mereka takwilkan sebagai isyarat kebebasan: mau percaya atau tidak. Argumentasi mereka adalah kalau perbuatan manusia bukan atas kehendak manusia, maka buat apa ayat itu dinuzulkan 16). Sebab, manusia dalam hal ini bukanlah robot

(benda mati) yang tanpa daya. Ia mempunyai gerak dan kemampuan untuk menentukan kehidupannya di dunia ini. Sebab, kehidupannya ada perintah agama untuk melakukannya dan ada pula larangannya. Semua itu harus dilakukan oleh manusia yang sadar, dewasa, bertanggungjawab serta serius. Pada posisi yang demikian, maka Allah memberikan kudratNya secara penuh kepada manusia, kudratNya kepada keinginan untuk memilih dan otak untuk berfikir. Kepada mereka juga diutus para rasul sebagai contoh (teladan) dalam berbuat dalam bidang batas-batas wajib, sunnnah, haram, makruh dan seterusnya 17).

Alasan seperti ini, menurut mereka, bukanlah menyamakan sifat manusia dengan sifat Allah, atau, menyekutukan Allah dalam kekuasaanNya. Tetapi ada ujian bagi manusia dalam melakukan perintahNya: siapa yang patuh menghindar dari laranganperintahNya: laranganNya dan siapa pula manusia yang melakukan hal sebaliknya. Oleh karena itu, Allah memberikan kudratNya kepada manusia untuk menentukan (terserah) apa yang ingin dilakukannya, tetapi dengan kudratNya itu pula manusia bertanggungjawab terhadap setiap perbuatnnya. Manusia itu mandiri dan bertanggungjawab penuh setelah dewasa pada saat ia beriman dan melakukan rukun-rukun iman. Pada saat itu ia dibolehkan menggunakan akalnya untuk berfikir dan memanfamemanfaatkannya. Sebelum dewasa, ia tidak terbebani apa-apa bila bersabersalah ketika menggunakan akalnya. Dalam perkembangannya, faham ini telah dirangkul erat-erat oleh ahli fikir Barat yang ingin menyesatkan kaum Muslimin dengan cara melepaskan mereka dari imannya seraya membawa ke dunia akal yang seluas samudera yang tidak berpantai. Padahal Islam telah

memulai risalahnya dengan penanaman iman dan beriman kepada enam rukun Islam yang dimulai dengan iman kepada Allah dan RasulNya. Inilah ikatan yang mengekang manusia dalam menggunakan akalnya, yaitu segala sesuatu telah diberikan batas, dari garis halal dan haramnya. Dengan cara ini, maka manusia tidak akan tergelincir ataupun menyingkir18).

Muktazilah adalah golongan yang bergerak dalam tiga fung si19): agama-filsafat-politik. Nama lain Muktazilah adalah Qadariyah, Qadariyah, Adliyah, atau menyebut dirinya "Ahlul Adli wat-Tauhid" (penganut faham keadilan dan keesaan Ilah). Nama ini muncul karena mereka karena memberikan hak bagi setiap orang untuk menerima atau mengabaikan eksistensi dari sifat-sifat Allah. Tidak ada paksaan dari Allah dan manusia memiliki kekuasaan (kudrat) untuk meletakmeletakkan pilihannya dalam hidup ini. Inilah keadilan itu, karena manusia manusia tidak dipaksa untuk melakukan sesuatu, bahkan manusia diberikan diberikan kebebasan. Mereka berpendapat bahwa akal diperlukan untuk mengetahui yang baik dan buruk sekalipun standard nilai tersebut ditentukan oleh syariatNya. Sebab menurut mereka, nilai tersebut timbul karena disebabkan ada sesuatu yang menyebabkan ia baik atau buruk. Pada saat itulah akal diperlukan untuk mengetahui mana yang baik dan mana pula yang buruk. Faham Jabariyah Faham ini sangat bertolak belakang dengan faham sebelumnya. Mengenai kemunculannya, ada yang berpendapat bahwa faham jabariyah muncul sebelum adanya Muktazilah20). Tetapi Imam jabariyah

Sa'duddin At-Taftazany berpendapat sebaliknya 21). Namun perbedaan ini tidaklah terlalu penting. Sebab, fokus masalah yang tidaklah ingin dibahas adalah bagaimana bentuk pemikiran yang muncul di sekitar masalah Qadla dan Qadar. Orang pertama yang memelopori faham "Jabariyah" adalah memelopori 22). Ia berkata bahwa manusia itu tidak Jahmu bin Sofwan manusia memiliki kekuasaan untuk memilih. Ia harus pasrah. Ia tidak kekuasaan mengerjakan sesuatu selain apa yang telah ditentukan, dan bahwa Allah telah menakdirkan amal perbuatan manusia yang harus menakdirkan dikerjakan. Juga Allah telah menciptakan amal perbuatan untuk manusia yang sama halnya dengan penciptaan terhadap bendabenda. Ia tidak ubahnya seperti air yang mengalir, angin yang berhembus, batu yang jatuh (tertarik gaya gravitasi). Keadaan (tertarik seperti tidak ada bedanya dengan perbuatan manusia yang semuanya telah diciptakan oleh Allah (berupa gerak dan (berupa perasaannya). Manusia melakukan sesuatu apapun sesuai dengan Manusia apa yang telah ditetapkan oleh Allah (ia hanya berfungsi sebagai ditetapkan

alat, tidak lebih dari itu). Sering kita menyebutkan pohon berbuah, air mengalir, mataha ri terbit, awan menurunkan hujan, tanah menumbuhkan tetanaman. Atau dikatakan pula bahwa seseorang (Muhammad, misalnya) menulis, hakim menjatuhkan vonis, si Anu taat tetapi di Ini melakukan maksiat. Semua keadaan dan perbuatan di atas masuk dalam pembahasan yang sama dengan sebelumnya, yaitu situasi pembahasan dan kondisi tersebut hanyalah sebatas obyek. Oleh karena itu, pahala dan siksa, amal perbuatan tidak lain adalah hasil dari paksaan. Allah telah menakdirkan terhadap diri seseorang suatu amal perbuatan, misalnya kebaikan, agar orang tersebut mendapat pahala, dan begitu juga kalau Allah telah menakdirkan seseorang begitu yang lain untuk melakukan amal perbuatan maksiat, maka orang tersebut telah ditakdirkan akan mendapat siksa. ditakdirkan Imam Sa'duddin At-Taftazany23) menyebutkan bahwa golongan ini berpendapat bahwa manusia sekali-kali tidak menguasai dirinya dalam setiap perbuatan, apakah baik atau jahat. Ia tidak bedanya dengan benda-benda beku yang tidak bernyawa di alam semesta ini. Manusia bukan subyek, melaikan hanya sebagai obyek (kehendak dari luar). Dengan kata lain, manusia dipaksa oleh kekuatan dari luar dirinya, yakni atas kehendak dan kekuasaan Allah. Ia tidak mempunyai kebebasan berkehendak (la hurriyyatul mempunyai iradlah, non-freewill) dan tidak memiliki kekuasaan untuk berbuat sesuatu".

Faham Ahlussunnah Wal Jama'ah Mohammad Fuad Fachruddin 24) mengatakan bahwa kemunculan dua faham di atas, mendorong kalangan ulama Ahlussunnah, seperti Abul Hasan A-Asy'ari dan Mansur Alseperti 25) memberikan jawaban untuk membela akidah umat Maturidy Islam agar tidak tersesat oleh faham Muktazilah (Qadariyah) maupun oleh Jabariyah. Walaupun di kalangan Ahlussunnah Wal Jama'ah terbagi dua golongan, tetapi mereka sepakat bahwa manusia mempunya (diberi) kebebasan berkehendak, berkuasa dan berpengetahuan (knowledge), tetapi hanya sampai ujung tertentu (ada batasnya /dibatasi). Faham ini berpendapat bahwa pada diri manusia ada kehendak berbuat dan ada khasiat yang melahirkan berbuat perbuatan. Semua itu diciptakan Allah SWT tatkala seseorang diciptakan memulai melakukan suatu aktifitas26). Jadi ketika seseorang aktifitas berbuat maksiat atau perbuatan terpuji, maka ketika itulah Allah menciptakan perbuatan tersebut. Kesimpulan itu diambil dari beberapa ayat Al-Qur'an, antara lain:

"Mereka itulah penghuni jannah. Mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan" (QS. Al-Ahqaf 14). "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari diusahakannya kejahatan) yang dikerjakannya" (QS. Al-Baqarah 286). dikerjakannya" "Dan katakanlah: 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu. Maka, siapa saja yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. Dan siapa saja yang ingin (kafir), biarlah ia kafir ..." (QS. AlKahfi 29). Dalam pembahasan ayat-ayat ini, faham ini memunculkan sifat Mahaadil (keadilan) Allah. Mereka mengangkat sifat ini seolah-olah ia dapat dijangkau oleh akal. Mereka mengkaitkan sifat Maha adil itu dengan dosa dan pahala, atau, siksa dan kenikmatan, yang erat kaitannya dengan perbuatan. Sebab, pembahasan qadla dan qadar yang sesungguhnya berasal dari filsafat (Yunani) tidak lain adalah apakah manusia bebas melakukan perbuatannya sendiri (bebas memilih) atau dipaksa27). Bagaimana Menyikapi Berbagai Faham Ini Demikianlah, ulama "terpecah" ke dalam tiga (3) golongan besar ketika mereka membahas amal perbuatan manusia yang dikaitkan dengan asas taklif, pahala dan siksa. Terjadinya dikaitkan golongan-golongan tersebut disebabkan karena (pertama) ulama (pertama) tersebut menakwilkan beberapa nash ayat Al-Qur'an tentang perbuatan manusia yang menurut mereka ada dan atas kekuasaan manusia manusia. (Kedua), juga ada nash dari ayat Al-Qur'an yang menurut (Kedua), mereka menunjukkan bahwa perbuatan manusia tergantung kepada kehendak Allah. Golongan pertama adalah dari kalangan Golongan Muktazilah, sedangkan golongan kedua adalah dari kalangan golongan Jabariyah. Namun ada golongan yang berada di tengah-tengah kedua golongan tersebut, yaitu dari kalangan Ahlussunnah 28). kalangan ------------------------------------------------------1) Lihat "Shahih Bukhari" pada hadits nomor 6594-6620. 2) Lihat "Shahih Muslim" pada hadits nomor 2643-2664.

3) Lihat"Indeks Al-Qur'an" oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi, tentang Al-Qadar, Lihat"Indeks

halaman 536-537 dan tentang Al-Qadla halaman 546-547. 4) Lihat "Ikhtisar Filsafat Barat" oleh A. Hanafi, halaman 17; Kamus "Teori dan Aliran dalam Filsafat" oleh Drs. Mudhofir, halaman 25 dan 85; dan kitab "Tarikh Al-Falsafah Al-Yunaniyah" oleh Yusuf Karam, halaman 252-253. 5) Lihat kitab "Fajrul Islam" oleh Ahmad Amin, halaman 283-303. 6) Sekte Kristen ini tinggal di sekitar wilayah Suriah. 7) Golongan penyembah api. Mereka percaya bahwa api adalah sumber yang menghidupi manusia. 8) Opcit., Ahmad Amin. 9) Opcit. Ahmad Amin. Sebagian orang menyebut mereka dengan golongan "Qadariyah". Selain itu, golongan ini mempunyai kebiasaan berdebat. Mereka "Qadariyah". juga sering disebut "Mutakalimin", yaitu orang-orang yang mengutamakan "Mutakalimin", debat dalam bidang agama (Theologische Dialektika). (Theologische Dialektika).

10) Opcit. Ahmad Amin.

11) Lihat kitab "Al-Aqaid An-Nasyafiyah" oleh At-Taftazany, halaman 46-47.

12) Lihat buku "Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid /Kalam" oleh TM. Hasbi AshShiddieqy, halaman 115-126. 13) Lihat buku "Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam" oleh Mohd. Fuad Fachruddin, halaman 158-174. 14) Opcit., TM. Hasbi Ash-Shiddieqy. 15) Opcit. Mohd. Fuad Fachruddin.

16) Lihat buku "Teologi Islam" oleh Prof. Dr. Harun Nasution, halaman 106. 17) Opcit. Mohd. Fuad Fachruddin. 18) Opcit. Mohd. Fuad Fachruddin. 19) Opcit. Mohd. Fuad Fachruddin. 20) Opcit. Ahmad Amin. 21) Opcit. At-Taftazany.

22) Golongan ini juga dikenal sebagai golongan "Jahmiyah" yang menisbahkan Jahmu bin Sofwan. 23) Opcit. At-Taftazany. 24) Opcit. Mohd. Fuad Fachruddin. 25) Dari nama ulama Ahlussunnah ini, muncul golongan "Asy'ariyah" dan "Maturidiyah". "Maturidiyah". 26) Muhammad Abbas Aula, "Ceramah dan Sari Ceramah Qadla dan Qadar" dalam 27) Opcit., Muhammad Abbas Aula.

Forum Silaturrahim Mantan Lembaga Dakwah Kampus (3 September 1989 di Kampus Universitas Ibnu Khaldun - Bogor.

28) Lihat Imam Ibnu Hazm, "Al-Fishal fil Milal wal Nihal" Jilid III, halaman 51-164.

TAQDIR Pengantar Masalah takdir sesungguhnya adalah suatu topik pembahasan yang umumnya telah usang. Ia telah ada sejak manusia lahir ke dunia dan mempertanyakan keberadaan dan fungsi hidupnya. Masalah ini menjadi ramai dibicarakan ketika kaum Muslimin diwakili para Ahli Ilmu Kalam (para Mutakalimin) sedang seru berdebat dengan filsafat Yunani. Filsafat ini mulai merasuk ke dalam tubuh umat Islam sejak berlangsungnya penaklukan daerahdaerah pada abad kedua Hijriyah. Ciri khas filsafat Yunani yang lebih mementingkan logika dan rasio, kebebasan dan pesta pora, justru dipakai sebaagai senjata debat oleh para Mutakalimin dalam menghadapi dan menjawab pertanyaan yang muncul di seputar alam, kehidupan manusia dan Tuhan. Para Mutakalimin tidak memakai atau merujuk kepada pemahaman syara'. Inilah penyebab mengapa kekeliruan itu sampai berlangsung sampai kini. Para Mutakalimin memang berhasil memukul balik, tetapi justru senjata mereka kini balik memukul kaum Muslimin karena kekeliruan mereka memahami masalah ini seperti pemahaman yang diajarkan Rasulullah saw kepada para Sahabat, Tabi'in, Tabi' Taaabi'in serta ulama khalaf. Di bawah ini akan diuraikan secara detil permasalahan tersebut agar kaum Muslimin benar-benar memahami seperti pemahaman salaf dan khalaf. Apakah Takdir Itu Seorang Muslim beriman dan percaya bahwa semua kejadian di dunia ini telah diketahui oleh Allah SWT tuliskan di dalam Lauh Mahfudz (Kitab Induk dan sebagai gambaran luasnya Ilmu Allah SWT). Tidak ada suatu apapun, baik di langit maupun bumi, melainkan telah ditakdirkan (tercatat) pada sisi Allah SWT. Inilah pengertian sederhana dari takdir yang telah dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah SAW. Pada penelusuran yang lebih dalam lagi, maka sesungguhnya akan ditemukan suatu kesimpulan akhir bahwa takdir adalah catatan paripurna segala sesuatunya. Segala hal, apakah benda, makhluk, manusia dan amal perbuatannya, semuanya telah tercatat di Lauh Mahfudz. Bahkan sesungguhnya, apapun kejadian yang terjadi di alam penciptaan ini telah diketahui oleh Allah SWT jauh sebelum segala sesuatunya berlangsung di alam ini. Seorang Muslim wajib percaya kepada takdir. Sebab, masalah takdir adalah termasuk rukun Iman yang enam. Masuknya takdir ke

dalam masalah keimanan adalah berdasarkan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khathab. Ketika itu Jibril datang kepada Nabi saw untuk mengajarkan AlIslam. Ia bertanya: Coba engkau ceritakan apa itu iman. Nabi saw menjawab: "Iman itu adalah percaya kepada adanya Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para Rasul-Nya, Hari Kiamat dan percaya kepada takdir baik dan buruknya (dri Allah SWT)." Seseorang yang tidak percaya kepada takdir, maka imannya sumbing (cacat). Bahkan, hal tersebut dapat menyebabkan seseorang keluar dari Islam (kafir). Sebab, masalah takdir tercantum dalam nash-nash Al-Qur'an yang qath'i (jpasti dan diperintahkan) agar diimani. Cobalah simak firman Allah SWT : "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya" (QS. Al-Qamar 49). Dalam menafsirkan ayat ini, Iman Suyuthi berkata 1) : "Kepercayaan yang dipegang oleh Ahlussunnah Waljama'ah adalah bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu. Artinya, Dia telah mengetahui ukuran, kondisi, peraturan, waktunya, jauh sebelum segala sesuatu itu terjadi. Kemudian Allah mengadakan sesuatu yang telah ada dalam takdir-Nya bahwa sesuatu itu akan dijadikan. Bahkan, dijadikannya sesuatu itu sesuai dengan ilmuNya. Olah karena itu, tidak ada suatu kejadian di langit dan bumi kecuali seluruhnyaaaaaaa muncul dari Ilmu, Qudrat (Kemampuan) dan Iradhat (kehendak) Allah SWT". Pada masa periode Tabi'in telah muncul pernyataan dari seseorang yang bernama Ma'bad Al-Juhany. Orang ini hidup di Basrah (Irak). Ia adalah orang pertama dalam sejarah Islam yang mengingkari adanya takdir. Pernyataan ini mendorong dua orang tabi'in, yaitu Yahya bin Ya'mar dan Humaidi bin Abdirrahman, berangkat ke Tanah Suci untuk mencari salah seorang sahabat (di Makkah atau Madinah). Mereka ingin menanyakan hukum penolalan Ma'bad terhadap takdir. Dua orang ini akhirnya bertemu dengan seorang sahabat, yaitu Abdullah bin Umar bin Khattab. Yahya bin Ya'mar bertanya 2) : "Hai Abu Adirrahman, kdi negeri kami ada orang-orang yang pandai mengkaji Al-Qur'an dan mendalam dalam keilmuannya. Mereka mengatakan bahwa tidak ada takdir Allah SWT. Semua yang terjadi tanpa takdir dan tidak ilmu Allah tentang yang terjadi itu sebelumnya".

Abdullah bin Umar menjawab pertanyaan itu : "Kalau kalian bertemu dengan orang tersebut, katakanlah kepadanya bahwa saya berlepas diri dari mereka dan mereka lepas dari diriku". Kemudian Abdullah bin Umar bersumpah bahwa andaikan orang-orang tersebut menafkahkan emasnya setinggi bukit Uhud, maka Allah SWT tidak akan menerima (pemberian)nya itu, kecuali kalau mereka percaya kepada takdir Allah SWT. Dalam mensyarahkan hadits tersebut, Imam Nawawi berkata 3) : "Nampaklah pada hadits tersebut bahwa Ibnu Umar telah mengkafirkan kaum Qadariyah yang tidak mau percaya kepada takdir. Tetapi Qadli 'Iyadl memberikan komentar bahwa pengingkaran itu telah dilakukan pertama kali oleh kaum Qadariyah. Mereka telah mengingkari ilmu Allah dengan seluruh kejadian yang berlangsung. Jadi, orang yang mempunyai i'tikad demikian memang kafir". Dalam menafkirkan (mengkafirkan) orang-orang yang mengingkari adanya takdir, Rasulullah saw telah memberikan isyarat tentang hal ini dalam suatu haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Hudzaifah 4) : Bagi setiap umat akan muncul segolongan manusia yang berperilaku seperti Majusi. Orang-orang Majusi mengatakan bahwa tidak ada takdir. Jika salah seorang di antara mereka ada yang meninggal, janganlah dijenguk. (Sebab) mereka itu adalah (sama dengan) golongan Dajjal. Memang pantas ketentuan tersebut, yaitu menghubungkan perilaku mereka yang mirip dengan Dajjal, adalah ketentuan yang hak (benar) dari Allah SWT". KH Siradjuddin Abbas 5) berkata : "Di antara kaum Qadariah ada yang mengatakan bahwa seluruh kejadian adalah ciptaan manusia. Tidak ada takdir Allah terlebih dahulu. Namun ada yang mengatakan bahwa seluruh pekerjaan yang buruk adalah ciptaan (berasal dari) manusia, dan pekerjaan baik adalah ciptaan Alaah SWT. Memang dalam agama Majusi, ada kepercayaan bahwa ada Tuhan yang menciptakan pekerjaan yang baik dan yang terang, serta ada puls Tuhan yang menciptakan yang buruk dan gelap". Kepercayaan semacam ini bantah dalam Al-Qur'an : "Di mana saja kamu berada, kematian akan menemuimu kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Dan jika mereka memperoleh kebaikan, maka mereka berkata : 'Ini adalah dari sisi Allah'. Dan apabila

mereka ditimpa suatu bencana, maka mereka berkata :'Ini (berasal) dari sisi kamu (Muhammad)'. Katakanlah (kepada mereka ): 'Semuanya (berasal) dari sisi Allah'. Maka, mengapakah orang-orang (munafik) itu tidak pernah mau memahami pembicaraan (nasehat, pelajaran) sedikitpun?" (QS. An-Nisaa' 78). Kini telah jelaaas bagi kita bahwa takdir itu, baik dan buruknya, seluruhnya dari Allah. Pengertian buruk dan baik itu adalah bahasa dan pengertian manusai, tetapi bagi Allah SWT sama saja nilainya. Dai berkehendak apa saja yang disukaiNya sebagaimana firmannya: "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya" (QS. Alburuuj). Takdir dalam Pengertian Bahasa Takdir dalam pengertian bahasa mempunyai arti yang banyak, yakni: 1. Menakdirkan sesuatu, yaitu;merencanakan. 2. Menakdirkan sesuatu dengan sesuatu, yaitu: mengukur dan menjadikannya sesuai dengan ukuran tertentu atau menyamakannya dengan sesuatu. 3. Menakdirka sesuatu dengan menakdiran tertentu, yaitu menentukan (menetapkan ) waktu untuk melaksanakannya. 4. Menakdirkan sesuatu, membesarkan atau mengagungkan sesuatu. 5. Menakdirkan sesuatu, yaitu menyempitkan. 6. Menakdirkan dalam arti: menghitung. 7. Menakdirkan sesuatu sebagai batas terakhir. 8, Menakdirkan sesuatu untuk memutuskan dan menetapkan. Berdasarkan hal di atas, maka kata Al-Qadar mempunyai banyak arti. Al-Qur'an sendiri telah menggunakan kata Al-Qadar dengan beberapa arti, antara lain diartikan sebagai "ketentuan untuk menentukan", seperti besar kecil, panjang pendek umur manusia. Perhatikan firman Allah SWT; "Kami telah menentukan kematian di antara kamu, dan "Kami Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan " (QS. Al-Waqi'ah 60). Diartikan juga 'membagi'. Perhatikan firman Allah SWT: "Dan tiada sesuatupun melainkan pada sisi Kami ada khazanahnya. Dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan ukuran tertentu" (QS. Al-Hijr 21). Arti lainnya adalah "menjadikan" (bulan beredar pada garis edarnya, mengkondisikan sesuatu pada situasi tetentu). Perhatikan firman Allah SWT:

"Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah"Dan manzilahnya senhingga (ketika sampai ke manzilah terakhir, ia) kembali menjadi tandan yang tua" (QS. Yaasiin 39). "Yang kepunyaanNya kerajaan langit dan bumi. Dan Dia "Yang tidak mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagiNya dalam (wilayah) kekuasaanNYa. Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu. Dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya serapirapinya' (QS. Al-Furqon 2). Kata Al-Qadar dalam Al-Qur'an juga diartikan "ketetapan nasib " sesuai dengan ilmu Allah yang pasti terjadi (seperti membinasakan kaum pembangkang : Nabi Nuh dengan banjir besar, Nabi Luth dan keluarganya kecuali istrinya dari tertubur hidup-hidup ketika bumi dibalik). Perhatikan firman Allah SWT: "Dan Kami jadikan bumi memancarkan mataair-mataair. Maka, bertemulah seluruh air itu untuk suatu urusan yang telah ditetapkan "(QS. Al-Qamar 12). "Kecuali isterinya, Kami telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama orang-orang kafir lainnya)" (QS. Al-Hijr 60). Masih banyak lagi arti secara bahasa yang diberikan Al-Qur'an untuk Al-Qadar. Tetapi iman kepada takdir tidak dapat dikaitkan dengan pengertian bahasa yang diambil pengertiannya dari ayat Al-Qur'an tersebut, kecuali terhadap ayat-ayat yang menggunakan kata AlQadar dengan makna yang diwajibkan Allah agar kaum Muslimin beriman kepadaNya, misalnya ayat-ayat yang menjelaskan tentang takdir Allah terhadap segala sesuatu yang diciptakannya termasuk amal usaha manusia yang bersifat memilih dan menentukan. Artinya Allah telah mengetahui apa yang akan dikerjakan manusia sebelum ia diciptakan. Dia juga mengetahui ketetapan nasib seseorang di dunia dan di akhirat (apakah ia berbahagia ataukah celaka; apakah ia akan kaya atau miskin; ataukah tercapai citacitanya atau gagal; apakah ia hidup dengan umur panjang atau singkat; apakah ia nikah dan punya anak atau tidak, dan berapa jumlah dan jenis kelamin anaknya; dan seterusnya), termasuk pula apakah ia pada hari akhirat akan dapat selamat masuk jannah atau celaka ataukah binasa dan masuk jahanam. Nasib manusia di samping telah diketahui Allah, juga Dia telah menetapkannya sesuai dengan ilmuNya yang azali dan pasti (tidak berubah). Sedangkan amal perbuatan manusia walaupun Allah telah mengetahui secara rinci segala sesuatunya, termasuk sesuatu yang disembunyikan di dalam hati atau suatu rencana sebelum ia

melakukan atau mengambil keputusan, dan Dia juga telah tahu akibat perbuatan yang dilakukan manusia itu, tetapi sifat Mahatahu Allah yang termaktub di dalam ilmu Allah yang mulian itu adalah kekhususan Allah yang tidak mungkin dijangkau oleh akal manusia. Oleh karena itu walaupun kita beriman kepada takdir (ilmu) Allah itu, janganlah kita mencampuradukkan antara iman kepada takdir itu dengan amal perbuatan. Rasulullah saw telah melarang para sahabat untuk mencampuradukkan antara pemahaman takdir dengan amal yang menyebabkan manusia tidak mau berusaha. Telah diriwayatkan dalam shahih Muslim dari Ali bin Abi Thalib 5) : "Rasulullah saw suatu hari duduk-duduk (bersama-sama para sahabatnya). Di tangan beliau ada sepotong kayu. Kemudian dengan kayu itu beliau menggores-gores (tanah). Kemudian Nabi saw mengangkat kepala dan berkata : 'Setiap kalian yang bernyawa sudah ditetapkan tempatnya di jannah dan di jahanam'. Para sahabat (terkejut, lalu) bertanya : 'Kalau begitu, ya Rasulullah, apa gunanya kita beramal? Apakah tidak lebih baik kita tawakal saja? (kepada takdir)'. Beliau lalu menjawab : 'Jangan! Tetaplah beramal. Sebab, setiap orang akan dimudahkan Allah jalan yang telah ditentukan baginya'. Kemudian Nabi saw membaca surat AlLail : 'Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (jannah), maka Kami kelak menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bbakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami menyiapkan baginya (jalan) yang sukar" (QS> A;-Lail 5-10). Dalam memahami hadits ini Imam Nawawi berkata 6) : "Bahwa hadits tersebut menunjukkan adanya larangn untuk meninggalkan amal perbuatan atau bertawakal saja terhadap takdir yang telah ditentukan. Tetapi amal perbutatan dan beban hukum yang telah ditentukan syara' kepada manusia wajib untuk dikerjakan. Setiap orang akan dimudahkan baginya tentang apa yang telah ditentukan baginya tanpa manusia mampu memilih jalan lain. Siapa saja yang ditakdirkan berbahagia, maka ia dimudahkan untuk melakukan amal perbuatan ke arah tersebut. Tetapi bagi yang telah ditakdirkan celaka, maka dimudahkan baginya untuk melakukan amal perbuatan ke arah tersebut pula". Dalam riwayat hadits tersebut para sahabat telah salah faham sehingga terjadi pencampuradukan antara iman kepada takdir dengan amal perbuatan. Mereka mengartikan ada segolongan manusia yang telah ditakdirkan celaka atau bahagia, sehingga

mereka berkata : "Apakah tidak lebih baik kami bertawakal saja kepada takdir (seperti yang tercantum dalam Lauh Mahfudz / telah diketahui Allah?" Tetapi Rasulullah saw menjelaskan kesalahfahaman itu seraya melarang mereka bertawakal (secara sempit) dan memerintahkan agar mereka selalu berusaha, dengan menjelaskan : "Kalian itu telah diciptakan oleh Allah SWT untuk berusaha. Ada di antara kalian mendapatkan kebahagiaan di akhirat dan masuk ke dalam golongan yang berbahagia (Ahlul Jannah), maka Allah SWT memudahkannya orang tersebut. Tetapi ada orang yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Kiamat. Allah SWT memberikan kebebasan berkehendak, memilih dan memutuskan sesuatu. Tetapi orang tersebut lebih senang memilih jalan celaka, misalnya dengan berbuat kefasikan, kemaksiatan. Semua kemaksiatan itu tidak ada paksaan atau dipengaruhi Allah SWT untuk menyesatkan mereka. Allah SWT memudahkan jalan tersebut. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW telah mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah SWT Surat Al-Lail ayat 5-10 yang menunjukkan bahwa : "Orang yang menafkahkan uangnya di jalan Allah SWT tanpa berhitung untung rugi, dan orang bertaqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan dan menegakkan syariatNya di bumi ini serta percaya kepada adanya balasan jannah (sebagai tempat mukum bagi orang-orang mukmin), maka baginya dimudahkan jalan tersebut dengan mendapatkan taufik dan pertolongan Allah SWT agar mereka selalu mengikuti jalan yang benar itu. Berbeda dengan orang-orang kikir yang tidak mau menafkan hartanya di jalan Allah SWT, tidak beriman dan beribadah kepada Allah SWT, juga tidak percaya adanya jannah pada Hari Kiamat, maka dimudahkan baginya kepada jalan yang sesat itu, bahkan Allah SWT menambahkan kesesatan mereka sebagai balasan yang adil. Sebab, mereka telah memilih jalan kekufuran dan kesesatan itu". Takdir dalam Pengertian Syara' Qadar atau takdir dalam pengertian syara' terbagi atas emapt pengertian yang berurutan, yaitu 6) : 1. Takdir dalam pengertian ilmu Allah SWT yang azali terhadap segala sesuatu sebelum sesuatu itu diciptakan. 2. Takdir dalam pengertian ketetapan di Lauh Mahfudz. 3. Takdir dalam pengertian ketetapan (masyi'ah dan iradlah) dalam menetapkan sesuatu sebelum diciptakan (iradlah). 4. Takdir yang ditetapkan secara periodik. 5. Takdir dengan pengertian ketetapan terhadap sesuatu sesudah terjadi peristiwa atau setelah menciptakan suatu cipt ciptaan.

1. Ilmu Allah SWT yang Azali Ilmu Allah SWT yang azali ini telah dijelaskan (disampaikan) oleh para rasul dan nabi Allah SWT sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad SAW. Ia juga telah disampaikan oleh para sahabat dan tabi'in sesudahnya kecuali orang-orang yang mengikuti jejak golongan Majusi (Qadariyah). Para ulama Ushuluddin baik dari kalangan salaf atau khalaf 7) telah sepakat bahwa Allah SWT Mahatahu tentang apa yang terjadi di dunia dan akhirat. Dia Mahatahu atas segala sesuatu. Tiada suatu apapun yang tesembunyi baginya. Karena itu, siapa saja yang ingkar dan tidak mengakui adanya ilmu Allah maka ia telah kafir. Na'udzubillahimindzalika. Takdir yang demikian (yaitu takdir dalam pengertian ilmu Allah SWT yang azali) tidak dapat berubah dan tidak dapat diubah oleh siapapun. Inilah yang dimanakan takdir yang pasti (Qadla Mubran). Pehatikan firman Allah SWT : Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekalikali tidak menganiaya hamba-hambaKu(QS. Qaaf 29). 2. Takdir di Lauh Mahfudz Mengenai takdir yang tertulis di Lauh Mahfudz, sesungguhnya menunjukkan tentang ilmu Allah yang telah ditetapkan. Tentang hal ini, para ahli tafsir mengambil dua pengertian. Pertama, diartikan sebagai papan tulis yang terpelihara dan tercatat di dalamnya segala ketetapan dan ketentuan,termasuk di dalmnya amal perbuatan manusia serta hasilnya. Kedua, diartikan sebagai ilmu Allah yang Mahaluas dan azali. Golongan kedua ini tidak mengakui pengertian Lauh Mahfudz dalam arti lahir (eksplisit, yaitu papan tulis), tetapi mereka mengambil pengertiannya dari makna implisit. Melihat kedua pendapat di atas, maka pendapat pertamalah yang lebih kuat. Sebab, pendapat pertama tersebut diperkuat oleh hadits shahih. Di antaranya hadits tersebut adalah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. Beliau berkata.: "Aku telah mendengar Rasulullah SAW berkata :'Takdir "Aku untuk setiap makhluk ini telah ditetapkan Allah SWT 50 ribu tahun sebelum dijadikan langit dan bumi. Ketika itu Arsy Allah SWT ada di atas air" 8) PENUTUP AQIDAH ISLAMIYAH Demikianlah lima pokok keimanan (Arkanul Iman) yang wajib (Arkanul Iman) diimani oleh setiap muslim, yaitu iman kepada Allah SWT, para

MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan Hari KIamat. Seseorang tidak dikatakan muslim jika ia tidak beriman kepada lima perkara tersebut. Allah SWT berfirman : "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan para RasulNya dan kepada kitab yang diturunkan Allah kepada RasulNya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Siapa saja yang kafir kepada Allah, kepada para malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, para RasulNya dan Hari Kiamat, maka orang itu telah sesat sejauh-jauhnya" (QS. An-Nisaa' 136). Kelima perkara itu telah tercantum dalam Al-Qur'an dan Hadits dengan nash-nash yang tegas untuk setiap perkara secara terperinci1), baik sebutan maupun pembahasannya ism maupu musammaanya). Allah SWT berfirman: "Dialah, Allah SWT, yang memiliki segala yang di langit dan bumi. Dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir, karena siksaan yang sangat pedih (pasti diterima oleh mereka)" siksaan (QS. Ibrahim 2). "Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahatinggi; Mahabijaksana" (QS. An-Nahl 60). "Maka karena itu, serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu. Dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka, dan katakan: 'Aku mengikuti beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allahlah Rabbi kami dan Rabbi kamu. Bagi kami amal-amal kami, dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu. (Sebab), Allah mengumpulkan kita semua, dan kepadaNyalah (tempat kita) kembali'" (QS Asy-Syuura 15). "Segala puji bagi Allah, pencipta langit dan bumi. Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, berbagai masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaanNya apa yang dikehendakinya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu" (QS Faathir 1). "Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya. Mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang membawa

cukup), lalu Kami memberikan balasan terhadap orangbalasan orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban berkewajiban menolong orang-orang yang beriman" (QS Ar-Ruum 47). Selain lima perkara tersebut, tidak ditemukan nash tegas/ yang kath'i mengenai dasar atau asas keimanan, selain arkanul iman tersebut. Karenanya, ulama Ushuluddin berpendapat bahwa Arkanul Iman itu berjumlah lima saja (khamsah). Memang ada suatu riwayat yang menyebutkan tentang iman kepada Al-Qadar dari hadits malaikat Jibril 2), yang disebutkan sebakepada sebagai tambahan bagi Arkanul Iman, yaitu: "Dan engkau percaya (iman) kepada taqdir, baik dan buruknya dari Allah SWT".

Tetapi makna Al-Qadar di sini adalah membicarakan tentang "Ilmu Allah", yang sesungguhnya masuk dalam pembahasan Allah", perkara iman kepada Allah. Sebab, masalah tersebut merupakan salah satu sifat Allah. Lagipula hal tersebut merupakan khabar ahad yang tidak dapat memberi suatu kepastian. Walaupun demikian bukan berarti khabar ahad itu kita tolak dalam segala perkara. Ia tetap kita pakai sebagai peneguh iman. Hanya saja Al-Qur'an telah menyebutkan secara kath'iy tentang pokok-pokok keimanan menyebutkan tersebut hanya lima perkara saja, tidak lebih dari itu. "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kabaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah kebaktian orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabimalaikat-malaikat, nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir miskin, (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat; dan orang-orang shalat, yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang bershabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam kesempitan, peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa" (QS. Al-Baqarah 177). Adapun tentang iman kepada qodlo dan qodar baik dan buruknya dari Allah itu telah dipahami oleh para sahabat tanpa menimbulkan perselisihan. Pembahasan hal tersebut baru muncul kemudian, pada awal abad kedua Hijriyah setelah kaum Muslimin menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani. Namun, maknanya bukanlah baru3).

Masalah qodlo dan qodar dalam perjalanan sejarahnya telah menimbulkan perbedaan pendapat di antara ulama ilmu kalam

(para mutakallimin) dan ulama ilmu ushul dalam pemahamannya. Sesungguhnya tidak ditemukan adanya nash-nash kath'iy untuk Sesungguhnya menentukannya sebagai masalah pokok keimanan, tetapi makna yang dikandungnya (yang dibahas para ahli ilmu kalam) adalah termasuk dalam perkara aqidah, sehingga wajib mengimaninya berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh akidah (yang dijelaskan ditunjukkan oleh akidah). Sesungguhnya persoalan ini telah lama menimbulkan kerancuan dalam pemahaman, bahkan tidak jarang menimbulkan sikap apatis atau pertanyaan yang bukan-bukan (bid'ah). Oleh karena itu, perlu kiranya dibahas lebih mendalam dalam bab tersendiri. --------------------------------------------------------------------------1) Perhatikan hadits "Shahih Bukhari" nomor hadits: 7392; 7429; 3535; 4981; 3244 dan 3265. 2) Hadits ini adalah khabar ahad. Mengenai khabar ahad, sudah sejak awal telah menjadi diperselisikan. Namun kebanyakan ulama salaf dan khalaf (jumhur ulama) menolak khabar ahad khabar dijadikan dalil bagi pembahasan akidah. Namun demikian, kan dijadi khabar ahad tidak ditolak keberadaannya. Ia tetap dipakai keberadaannya. sebagai peneguh keimanan. 3) Lihat buku "Musyayyaroh fil 'Aqoid Al-Munji'ah fil Akhirah", Akhirah", karangan Al-Kairal bin Al-Hammam, halaman 78.