Anda di halaman 1dari 11

1. Apa yang dimaksut dengan fermentasi ?

Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Fermentasi ada tiga, yaitu : 1. Fermentasi alkohol Fermentasi alkohol merupakan suatu reaksi pengubahan glukosa menjadi etanol (etil alkohol) dan karbondioksida. Organisme yang berperan yaitu Saccharomyces cerevisiae (ragi) untuk pembuatan tape, roti atau minuman keras. Reaksi Kimia: C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP 2. Fermentasi asam laktat Fermentasi asam laktat adalah respirasi yang terjadi pada sel hewan atau manusia, ketika kebutuhan oksigen tidak tercukupi akibat bekerja terlalu berat Di dalam sel otot asam laktat dapat menyebabkan gejala kram dan kelelahan. Laktat yang terakumulasi sebagai produk limbah dapat menyebabkan otot letih dan nyeri, namun secara perlahan diangkut oleh darah ke hati untuk diubah kembali menjadi piruvat. 3 Fermentasi asam cuka Merupakan suatu contoh fermentasi yang berlangsung dalam keadaan aerob. fermentasi ini dilakukan oleh bakteri asam cuka (acetobacter aceti) dengan substrat etanol. Energi yang dihasilkan 5 kali lebih besar dari energi yang dihasilkan oleh fermentasi alkohol secara anaerob. 2. Apakah fungsi dari

a. Alfa amylase = Alfa-amilase (bahasa Inggris: alpha-amylase, 1,4alpha-D-glucan glucanohydrolase, pancreatic alpha-amylase, amilase, PA) adalah salah satu enzim yang berperan dalam proses degradasi pati, sejenis makromolekul karbohidrat.[1] Struktur molekuler dari enzim ini adalah -1,4-glukanohidrolase.[2] Bersama dengan enzim pendegradasi pati lain, pululanase, -amilase termasuk ke dalam golongan enzim kelas 13 glikosil hidrolase (E.C.3.2.1.1).[2][3] Alpha-amilase ini memiliki beberapa sisi aktif yang dapat mengikat 4 hingga 10 molekul substrat sekaligus. Alfaamilase akan memotong ikatan glikosidik -1,4 pada molekul pati (karbohidrat) sehingga terbentuk molekul-molekul karbohidrat yang lebih pendek.[5] Hasil dari pemotongan enzim ini antara lain maltosa, maltotriosa, dan glukosa.[1] b. Glukoamilase = Glukoamilase (amiloglukosidase) telah diisolasi dari Aspergillus oryzae dan Sacharomycopsis fibuligera. Enzim ini merupakan enzim yang dapat memecah polisakarida (pati, glikogen, dan lain-lain) pada ikatan -1,4 dan -1,6 dan menghasilkan glukosa. Penggunaan enzim glukoamilase sebagai katalisator reaksi-reaksi biologi dalam bidang pangan dan nonpangan telah memberikan manfaat dan keuntungan bagi manusia. Glukoamilase banyak digunakan dalam industri gula cair dan beer (Frazier dan Westhoff, 1988). Glukoamilase akan memotong ikatan alfa-1,4 pada molekul pati.[2] Enzim ini juga dapat memecah ikatan alfa-1,6, tetapi pada frekuensi yang lebih rendah.[2] Hasil utama pemecahannya adalah glukosa, suatu bentuk sederhana dari molekul karbohidrat berjumlah atom C 6 c. Invertase = Enzim Invertase, dikenal sebagai -fructofuranoside fructohydrolase (EC 3.2.1.26), enzim ini mampu menghidrolisis sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa (gula invert). pemanfaatan enzim invertase banyak dilakukan dalam industri makanan dan minuman khususnya pada pengolahan selai, permen, produk gulagula, dan produksi asam laktat dari fermentasi sirup tebu. Invertase juga digunakan untuk memproduksi etanol dari sukrosa sebagai sumber karbon a. Pektin esterase=menghidrolisis gugus metoksil dari molekul pektin menjadi bentuk pektin dg metoksil rendah dan asam poligalakturonat. asam poligalakturonat ini lah yang kemudian berguna dalam pematangan buah yang membuat tekstur keras menjadi lemah.
b. Poligalakturonase=menghidrolisis

ikatan a-1,4 pada poligalakturomat mjd oligogalaktironan dan asam galakturonat.

3. Bagaimanakah mendeteksi penyakit hepatitis B dengan cara ELISA ( imunologi)?

Virus Hepatitis B (HVB), termasuk Hepadnavirus, berukuran 42-nm double stranded DNA virus dengan terdiri dari nucleocapsid core (HBc Ag) berukuran 27 mm, dikelilingi oleh lapisan lipoprotein di bagian luarnya yang berisi antigen permukaan (HBsAg). HBsAg adalah antigen heterogen dengan suatu common antigen yang disebut a, dan dua pasang antigen yang mutually exclusive yaitu antigen d, y, dan w (termasuk beberapa subdeterminan) dan r, yang menghasilkan 4 subtipe utama: adw, ayw, adr dan ayr. Apabila seseorang terinfeksi virus hepatitis B akut maka tubuh akan memberikan tanggapan kekebalan (immune response). tubuh mampu memberikan tanggapan adekuat terhadap Virus Hpatitis B (VHB), akan terjadi 4 stadium siklus VHB, yaitu fase replikasi (stadium 1 dan 2) dan fase integratif (stadium 3 dan 4). Pada fase replikasi kadar HBsAg, DNA VHB, HBeAg, AST dan ALT serum akan meningkat, sedangkan kadar anti-HBs dan anti HBe masih negatif. Pada fase integratif (khususnya stadium 4) keadaan sebaliknya terjadi, HBsAg, DNA VHB, HBeAg dan ALT/AST menjadi negatif/normal, sedangkan antibodi terhadap antigen yaitu : anti HBs dan anti HBe menjadi positif (serokonversi). Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) adalah suatu teknik biokimia yang terutama digunakan dalam bidang imunologi untuk mendeteksi kehadiran antibodi atau antigen dalam suatu sampel. ELISA telah digunakan sebagai alat diagnostik dalam bidang medis, patologi tumbuhan, dan juga berbagai bidang industri. Dalam pengertian sederhana, sejumlah antigen yang tidak dikenal ditempelkan pada suatu permukaan, kemudian antibodi spesifik dicucikan pada permukaan tersebut, sehingga akan berikatan dengan antigennya. Antibodi ini terikat dengan suatu enzim, dan pada tahap terakhir, ditambahkan substansi yang dapat diubah oleh enzim menjadi sinyal yang dapat dideteksi. Dalam ELISA fluoresensi, saat cahaya dengan panjang gelombang tertentu disinarkan pada suatu sampel, kompleks antigen/antibodi akan berfluoresensi sehingga jumlah antigen pada sampel dapat disimpulkan berdasarkan besarnya fluoresensi. ELISA dapat mengevaluasi kehadiran antigen dan antibodI dalam suatu sampel, karenanya merupakan metode yang sangat berguna untuk mendeterminasi konsentrasi antibodi dalam serum (seperti dalam tes HIV), dan juga untuk mendeteksi kehadiran antigen. Pada Metode ELISA, hepatitis B dideteksi dengan pemeriksaan serologis (IgG dan IgM) untuk mengetahui adanya antigen S virus

hepatitis B (HBs Ag) dan untuk mengetahui antibody terhadap S virus hepatitis B (Anti HBs) Jika pada pemeriksaan selama lebih dari 6 bulan berturut-turut pasien memiliki HBsAg positif, maka pasien dikategorikan penderita Hepatitis kronik. Dan jika muncul antibody HBs, maka artinya pasien sedang dalam masa penyembuhan. 4. Bagaimanakah mndeteksi penyakit dengan cara
a. hibridisasi DNA, merupakan metode yang diikuti Assay dot blot dan

flouresensi atau khemiluminesense. Hibridisasi DNA menggunakan probe (pelacak) berlabel radioaktif (biasanya adalah P-32), sehingaa tepat dan akurat untuk mengetahui identifikasi pathogen, bahkan dapat digunakan untuk menentukan tipe atau strain bakteri atau pathogen yang diidentifikasi.
b. PCR Polymerase Chain Reaction. Tes reaksi berantai polimerase

(PCR) merupakan teknik deteksi berbasis asam nukleat (DNA dan RNA) yang dapat mendeteksi keberadaan materi genetik HIV di dalam tubuh manusia.[17] Tes ini sering pula dikenal sebagai tes beban virus atau tes amplifikasi asam nukleat (HIV NAAT).[16] PCR DNA biasa merupakan metode kualitatif yang hanya bisa mendeteksi ada atau tidaknya DNA virus.[18] Sedangkan, untuk deteksi RNA virus dapat dilakukan dengan metode real-time PCR yang merupakan metode kuantitatif.[18] Deteksi asam nukleat ini dapat mendeteksi keberadaan HIV pada 11-16 hari sejak awal infeksi terjadi.[8] Tes ini biasanya digunakan untuk mendeteksi HIV pada bayi yang baru lahir, namun jarang digunakan pada individu dewasa karena biaya tes PCR yang mahal dan tingkat kesulitan mengelola dan menafsirkan hasil tes ini lebih tinggi bila dibandingkan tes lainnya
c. Restriction endonuclease analysis. Pada dasarnya, penamaan enzim

restriksi diambil dari nama bakteri yang menghasilkan enzim tersebut. Seperti contohnya enzim EcoRI yang memiliki pola. Oleh karena itu, REA ini dapat digunakan untuk mendeteksi suatu penyakit dengan cara mengumpulkan fragmen DNA dan mengamati potongan-potongan DNA tersebut, karena setiap bakterii yang menghasilkan enzim restriksi berbeda akan menghasilkan fragmen yang berbeda.

d. RAPD (random amplified polymorphic DNA). Amplifikasi Acak

Polimorfisme DNA merupakan satu jenis penanda molekular yang banyak dipakai dalam penelitian dan diagnostik biologi molekular. Penanda ini lebih dikenal sebagai RAPD (biasa dipanggil rapid), singkatan dari Random Amplification of Polymorphic DNA.[1] Sebagai penanda genetik, RAPD dikenal sebagai penanda yang relatif murah dan tidak memerlukan keterampilan teknis yang tinggi.[1] Penanda ini bersifat dominan, dalam arti, ia dapat membedakan kelas genotipe resesif dari kelas-kelas genotipe yang lain.[1] RAPD memerlukan teknik PCR dan elektroforesis gel dalam penerapannya. RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) merupakan metode perbanyakan genom yang paling sering digunakan karena sangat mudah dan membutuhkan jumlah DNA genom yang tidak terlalu banyak.[3] Metode dasarnya hampir sama seperti PCR, tetapi fragmen genom yang diperbanyak bersifat acak dengan satu atau banyak primer pada arbitrary sequence (sekuens tidak tentu).[4] Polimorfisme yang terjadi antara individual atau strain dikenali melalui perbedaan pada fragmen DNA yang diperbanyak oleh primer yang tersedia.[4] Dalam bekerja, RAPD memerlukan pasangan primer, biasanya berukuran antara 8-mer hingga 12-mer (lihat oligo), karena menggunakan teknik PCR. Setiap pasangan primer akan menghasilkan sejumlah pita (band) yang akan tampak pada hasil elektroforesis gel.[5] Pasangan primer yang dipilih (bisa sudah diketahui atau dipilih beberapa secara acak) diberikan pada sampel-sampel DNA (disebut DNA templat) yang sudah dipersiapkan, selanjutnya PCR dijalankan.[3] Sewaktu proses PCR, primer akan menempel pada urutan-urutan basa yang komplemen pada DNA templat.[3] Di akhir PCR akan terdapat sejumlah besar fragmen-fragmen pendek DNA hasil amplifikasi.[3] Apabila terdapat delesi untuk suatu lokasi templat, akan terjadi polimorfisme.[3] Dengan elektroforesis gel, akan terlihat pita yang terputus-putus apabila terdapat polimorfisme (oleh karena itu bersifat dominan). Metode ini dapat mendeteksi penyakit berdasarkan prinsip kerjanya diatas, yang mana saat adanya penyakit yang ditunjukkan oleh DNA yang diamati, maka akan terlihat adanya delesi.
e. DNA fingerprinting. Pengujian DNA adalah suatu teknik biologi

molekular yang dipakai untuk kepentingan pengujian forensik terhadap materi uji berdasarkan profil DNA-nya. Teknik ini dikenal

pula sebagai penyidikan DNA, penyidikjarian genetik (genetic fingerprinting, sering disingkat sidik jari DNA), DNA profiling, atau semacamnya. Dalam bidang hukum, materi uji hampir pasti adalah ekstrak dari tubuh manusia, misalnya dalam penentuan orang tua atau penyelidikan pemerkosaan/pembunuhan. Namun demikian, penerapan teknik ini juga dipakai untuk hewan maupun tumbuhan, misalnya dalam menentukan kemurnian suatu galur atau kultivar, atau dalam menguji masuknya materi genetik tertentu (misalnya dalam mendeteksi materi transgenik) ke dalam populasi/bahan makanan. Pengujian DNA memanfaatkan profil DNA, yaitu sehimpunan data yang menggambarkan susunan DNA yang dianggap khas untuk individu yang menjadi sampelnya. Dalam pengujian DNA, hanya sebagian kecil berkas DNA yang dipakai untuk pengujian. Karena sifat DNA yang khas dan dan pola migrasinya yang berbeda anatar individu makan metode dapat pula mendeteksi adanya penyakit dengan memperhatikan profil DNA yang diamati.

5. Bagaimanakah

mendeteksi malaria dengan metode diagnosis molekuler (bukan cara konvensional misalnya pengecatan) ?

Pemeriksaan mikroskopik dari film darah Diagnosis yang paling ekonomi, disukai, dan dapat diandalkan malaria adalah pemeriksaan mikroskopis dari film darah karena masing-masing dari spesies parasit empat besar telah memberikan karakteristik yang berbeda. Dua jenis apus darah secara tradisional digunakan. Film tipis yang mirip dengan film darah yang biasa dan memungkinkan identifikasi spesies parasit karena penampilan adalah yang terbaik diawetkan dalam persiapan ini. Film tebal memungkinkan microscopist untuk layar lebih besar volume darah dan sekitar sebelas kali lebih sensitif dibandingkan dengan film tipis, sehingga mengambil tingkat rendah infeksi lebih mudah pada film tebal, tetapi penampilan parasit jauh lebih menyimpang dan karenanya membedakan antara spesies yang berbeda dapat jauh lebih sulit. Dengan pro dan kontra dari pap kedua tebal dan tipis dipertimbangkan, sangat penting untuk memanfaatkan kedua Pap ketika mencoba untuk membuat diagnosis definitif. Dari film tebal, sebuah microscopist berpengalaman dapat mendeteksi tingkat parasit (atau parasitemia) turun ke level 0,0000001% dari sel darah merah. Diagnosis spesies dapat sulit karena trophozoites awal ("bentuk cincin") dari semua empat spesies terlihat sama dan tidak pernah

mungkin untuk mendiagnosa spesies berdasarkan bentuk cincin tunggal, identifikasi spesies selalu didasarkan pada beberapa trophozoites. Tes lapangan Di daerah di mana mikroskop tidak tersedia, atau di mana staf laboratorium tidak berpengalaman di diagnosis malaria, ada tes deteksi antigen yang hanya membutuhkan setetes darah. Tes immunochromatographic (juga disebut: Malaria Tes Diagnostik Cepat, Antigen-Capture Assay atau "dipsticks") telah dikembangkan, didistribusikan dan fieldtested. Tes ini menggunakan jari-tongkat atau darah vena, tes menyelesaikan membutuhkan total 15-20 menit, dan laboratorium tidak diperlukan. Ambang deteksi oleh tes diagnostik cepat adalah di kisaran 100 parasit / ml darah dibandingkan dengan 5 dengan mikroskop film tebal. Tes pertama diagnostik cepat yang menggunakan''P. falciparum glutamat dehidrogenase''sebagai antigen. PGluDH segera digantikan oleh''''dehidrogenase laktat P.falciparum, sebuah kDa 33 oxidoreductase 1.1.1.27. Ini adalah enzim terakhir dari jalur glikolisis, penting untuk generasi ATP dan salah satu enzim yang paling banyak diungkapkan oleh P.falciparum''''. PLDH tidak bertahan di dalam darah tetapi membersihkan sekitar waktu yang sama seperti parasit setelah pengobatan berhasil. Kurangnya ketekunan antigen setelah perawatan membuat tes pLDH berguna dalam memprediksi kegagalan pengobatan. Dalam hal ini, pLDH mirip dengan pGluDH. Alat tes Optimal-TI dapat membedakan antara''P. falciparum''dan''P. vivax''karena perbedaan antigen antara isoenzim pLDH mereka. Optimal-TI dipercaya akan mendeteksi''P. falciparum''turun ke 0,01% parasitemia dan spesies lainnya turun ke 0,1%. Paracheck-Pf akan mendeteksi parasitemias turun ke 0,002% tetapi tidak akan membedakan antara falciparum dan non-falciparum malaria. Asam nukleat parasit yang terdeteksi menggunakan polymerase chain reaction. Teknik ini lebih akurat daripada mikroskop. Namun, mahal, dan membutuhkan laboratorium khusus. Selain itu, tingkat parasitemia yang tidak selalu korelatif dengan perkembangan penyakit, khususnya ketika parasit mampu mematuhi dinding pembuluh darah. Oleh karena itu lebih sensitif, alat berteknologi rendah diagnosis perlu dikembangkan dalam rangka untuk mendeteksi tingkat rendah parasitemia di lapangan. a. Tes Serologi Tes serologi mulai diperkenalkan tahun 1962 dengan memakai tehnik indirec fluorecent antibody test. Tes ini berguna mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostik

sebab antibodi baru terjadi setelah beberapa hari parasitemia. manfaat tes serologi terutama untuk penelitian epidemologi atau alat uji saring donor darah. Titer > 1 : 200 dianggap sebagai infeksi baru; dan test > 1 : 20 dinyatakan positip. Metode-metode tes serologi antara lain indirect haemagglutination test, immuno-precipitation techniques, ELISA tes, radio-immunoassay. b. Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) Pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan teknologi amplifikasi DNA, waktu dipakai cukup cepat dan sensivitas maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat memberikan hasil positif. tes ini baru dipakai sebagai sarana penelitian dan belum untuk pemeriksaan rutin. 6. Apakah kelemahan dan keuntungan deteksi penyakit dengan motede imunologi (antibody)? Keuntungan : a. Uji yang dilakukan cepat dan mudah sehingga dapat dikembangkan ke tahap selanjutnya b. Berguna untuk individual maupun skrining pada populasi Kelemahan: a. Tidak mampu membedakan sebelum dan sesudah terkena infeksi b. Tidak mampu membedakan morfologi parasite yang mirip c. Mahal untuk dikembangkan

7. Apakah kelemahan dan keuntungan deteksi penyakit dengan metode

enzim ? Keuntungan: a. Tekniknya mudah dan sederhana b. Dapat dilakukan dengan jumlah enzim yang banyak c. Dapat melakukan uji sampel secara bersamaan d. Dapat membedakan parasite yang memiliki morfologi yang mirip

Kelemahan: a. Diperlukan jaringan spesifik untuk analisa b. Teknik tidak cepat, dapat memerlukan waktu beberapa hari c. Terkadang terdapat keslaahan diagnosis d. Teknik pengerjaan sederhana namun peralatannya mahal 8. Apakah keuntungan dan kelebihan deteksi penyakit dengan metode asam nukleat ? Keuntungan: a. Genomik DNA cenderung konstan, memeiliki urutan DNA yang unik b. Sangat sensitive, diperlukan biopsy kecil c. Probe (pelacak) dapat dirancang secara fleksibel, spesifik untuk mendeteksi spesies parasite tunggal, tetapi kurang spesifik untuk mendeteksi sekelompok parasite Kelemahan: a. Mahal, terutama PCR b. Memerlukan radioaktivitas c. PCR dapat gagal, terkontaminasi dan hasil posotif palsu. d. DNA probe tidak dapat membedakan antara parasite yang hidup dan mati.
9. Apakah yang dimaksut dengan southernblock, northern block?

contohny

aparasit

yang

Hibridisasi Southern (southernblot) adalah proses perpasangan antara DNA yang menjadi sasaran dan DNA pelacak. Hibridisasi southern biasa digunakan untuk melacak adanya DNA yang sesuai dengan pelacak, misalnya untuk mengetahui integrasi transgen di dalam organisme transgenik. Berdasarkan prinsipnya, hibridisasi southern dapat dibagi ke dalam 4 tahap, yaitu : (1) fiksasi DNA di membran (nitroselulosa atau nilon); (2) pelabelan pelacak; (3) prehibridisasi dan hibridisasi; dan (4) deteksi hasil hibridisasi. Fiksasi DNA di membran dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu (1)

penetesan DNA (dot blot) langsung di membran; (2) fiksasi DNA bakteri replika (plasmid rekombinan) di membran; (3) fiksasi DNA fage rekombinan dari satu replika plak di membran; dan (4) transfer DNA dari gel agarose (yang sebelumnya telah dimigrasikan dengan elektroforesis) ke membran. Membran yang dipergunakan untuk memfiksasi DNA biasanya menggunakan membran nilon karena lebih kuat daripada membran nitroselulosa. Dot blot dan hibridisasi terhadap DNA replika hanya dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan DNA tetapi tidak dapat mengetahui ukurannya. Sebaliknya, hibridisasi southern terhadap DNA yang difiksasi ke membran dengan cara transfer melalui metode southern (southern blotting) dapat diketahui ukuran DNA targetnya Northernblot digunakan untuk mempelajari pola ekspresi dari jenis tertentu molekul RNA sebagai perbandingan relatif antara set sampel yang berbeda dari RNA. Ini pada dasarnya adalah kombinasi dari denaturasi RNA elektroforesis gel, dan sebuah noda. Dalam proses ini RNA dipisahkan berdasarkan ukuran dan kemudian ditransfer ke membran yang kemudian diperiksa dengan pelengkap berlabel urutan kepentingan. Hasilnya dapat digambarkan melalui berbagai cara tergantung pada label yang digunakan, namun hasil yang paling dalam penyataan band yang mewakili ukuran RNA terdeteksi dalam sampel. Intensitas band-band ini berkaitan dengan jumlah RNA target dalam sampel yang dianalisis. Prosedur ini umumnya digunakan untuk mempelajari kapan dan berapa banyak ekspresi gen yang terjadi dengan mengukur berapa banyak bahwa RNA hadir dalam sampel yang berbeda. Ini adalah salah satu alat yang paling dasar untuk menentukan pada waktu apa, dan dalam kondisi apa, gen-gen tertentu yang dinyatakan dalam jaringan hidup. 10. Bagaimanakah westernblock? mendeteksi penyakit dengan metode

Blot Western adalah sebuah metode untuk mendeteksi protein pada sampel jaringan. Imunoblot menggunakan elektroforesis gel untuk memisahkan protein asli atau perubahan oleh jarak polipeptida atau oleh struktur 3-D protein. Protein tersebut dikirim ke membran, di mana mereka dideteksi menggunakan antibodi untuk menargetkan protein.

Antibodi terhadap protein yang paling dapat dibuat dengan menyuntikkan sejumlah kecil protein menjadi binatang seperti mouse, kelinci, domba, atau keledainya (antibodi poliklonal) atau diproduksi dalam kultur sel (antibodi monoklonal). Antibodi ini dapat digunakan untuk berbagai teknik analisis dan preparative. Pada Blot Western protein pertama kali dipisahkan oleh ukuran, dalam gel tipis terjepit di antara dua pelat kaca dalam teknik yang dikenal sebagai SDS-PAGE (natrium sulfat dodesil poliakrilamida elektroforesis gel). Protein dalam gel kemudian ditransfer ke PVDF, nitroselulosa, membran nilon atau dukungan lainnya. Membran ini kemudian bisa dideteksi dengan solusi antibodi. Antibodi yang secara khusus mengikat protein yang menarik kemudian dapat divisualisasikan oleh berbagai teknik, termasuk produk berwarna, chemiluminescence, atau autoradiografi. Seringkali, antibodi diberi label dengan enzim. Ketika substrat chemiluminescent terkena enzim itu memungkinkan deteksi adanya penyakit yang ditunjukkan oleh jumlah antibodi. Menggunakan teknik western blotting memungkinkan tidak hanya deteksi tetapi juga analisis kuantitatif.