Anda di halaman 1dari 18

3.1.4.

Pendidikan Keunggulan sumber daya manusia menjadi faktor mendasar kemajuan suatu bangsa dan tidak semata-mata tergantung pada keunggulan sumber daya alam. Sumber daya manusia yang bermutu dalam pengertian teknis, kemampuan, keahlian, keterampilan, serta nilai-nilai modern lainnya tetap diperlukan dan akan menjadi prasyarat mutlak untuk dapat mencapai keunggulan bangsa di era persaingan global. Pergeseran struktur masyarakat juga memiliki dampak mendasar dan berimplikasi terhadap terjadinya transisi kualifikasi sumber daya manusia suatu gejala universal. Pendidikan sebagai bentuk investasi yang produktif, baikm individu maupun keluarga memandang pendidikan sebagai sarana untuk memasuki lingkungan kerja yang bersifat modern dengan pendapatan yang tinggi. Pemerintah telah merencanakan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun pada tahun 1994. Program ini mewajibkan setiap warga Negara untukbersekolah selama 9 (Sembilan) tahun pada dasar (SD) atau madrasah ibtidaiyah (MI) hingga kelas 9 sekolah menengah pertama (SMP) atau madrasah tsanawiyah (MTs). Perluasan kesempatan belajar pada pendidikan menengah dan pendidikan tinggi juga nampak sangat mengesankan sebagai manfaat langsung dari perluasan pendidikan dasar tersebut. Pada awalnya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan menuntaskan program wajib belajar (wajar) 9 tahun pada pendidikan dasar (SD dan SMP) paling lambat tahun 2009. Namun ternyata target tersebut terancam gagal karena masih banyaknya kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraannya, khusus berkaitan dengan akses pendidikan yang masih relatif rendah, serta mutunya pendidikan, manajemen, proses dan prestasi siswa masih rendah khususnya di daerah-daerah yang belum maju. Meskipun sebagian besar anak sekarang mendaftar di sekoalah, tidak semuanya dapat menyelesaikan pendidikan 9 tahun. Banyak orang tua yang mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah. Alas an klasik yang mereka lontarkan adalah karena tekanan kemiskinan.

Walaupun berbagai pungutan tambahan, biaya pakaian seragam dan buku telah dipenuhi denga adanya BOS (Biaya Operasional Sekolah) beberapa tahun ini, masih ada orang tua yang tega membiarkan anaknya berhenti sekolah sebelum menyelesaikan SLTP. Mereka ingin anak-anak mereka bekerja di rumah atau di tempat kerja (terutama mereka yang bermata pencaharian petani atau pekebun). Di sisi lain, anak-anak dan juga orang tuanya kurang memiliki kesadaran pentingnya ilmu pengetahuan untuk masa depan mereka karena kurangnya wawasan pentingnya pendidikan. Masalah penting yang patut menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Pengajaran adalah kualitas pendidikan, yang erat hubungannya dengan sarana dan prasarana pendidikan antara lain dengan lebih memperhatikan nasib tenaga pengajar khususnya di daerah-daerah terpencil, bangunan-bangunan sekolah yang sudah tua dan kondisinya memperhatinkan, dan fasilitas pendidikan lainnya. Dalam keadaan seperti itu, orang tua dapat langsung menyimpulkan bahwa manfaat yang diperoleh anak-anak dari sekolah relatif sedikit sehingga lebih baik mereka di rumah atau bekerja. Pada bagian selanjutnya dari laporan ini disajikan gambaran sejauh mana pembangunan bidang pendidikan sudah mencapai sasaran. Berbagai indikator sebagai tolak ukur keberhasilan dan pencapaian bidang pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong adalah (1) persentase melek huruf, (2) tingkat pendidkan yang ditamakan, dan (3) rata-rata lamanya sekolah. a. Angka melek huruf Kemampuan melek huruf merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia dalam rangka mempertahankan kehidupannya dan lebih mampu mengatasi permasalahn yang dihadapi dirinya maupun manusia lain di sekitarnya. Begitu pentingnya kemampuan melek huruf bagi kehidupan manusia, sehingga bisa dikatakan bahwa kemampuan melek huruf bagi kehidupan hak bagi setiap manusia dan semua pihak harus

mendukung serta mengupayakan agar setiap manusia dapat memenuhi hak tesebut. Orang dewasa yang berada di sekitar anak, merupakan salah satu pihak yang sangat relevan dalam menunjang kemampuan melek huruf anak. Dengan kesadaran akan pentingnya kemampuan melek huruf anak. Dengan kesadaran akan pentingnya kemampuan melek huruf dan tingkat kemampuan melek huruf yang memadai dari orang tua, orang tua dapat lebih mampu memfasilitasi perkembangan anak dalam mengahdapi tugas-tugas di sekolah dan permasalahan lain dalam kehidupan anak di kemudian hari. Secara makro, pemerintah mempunyai peran penting dalam memfasilitasi penduduknya untuk memperoleh pendidikan yang memadai agar dapat membaca dan menulis. Indikator ini paling umum digunakan untuk mengambarkan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan wawasan pengetahuan masyarakat amat pengaruhi oleh kemampuan membaca dan menulis. Keterampilan baca tulis ini dibuthkan utnuk mempelajari dan menguasai keterampilan lainnya. Dengan kemampuan membaca dan menulis akan sangat meningkatkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan maupun pelayanan yang lebih baik. Kerena itu indikator ini tidak hanya digunakan untuk menggambarkan keberhasilan pembangunan bidang pendidikan tetapi juga sebagai indeks keberhasilan pembangunan secara umum. Tabel 3.5 menyajikan gambaran angka melek huruf di Kabupaten Parigi Moutong. Proporsi penduduk yang berumur 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin termasuk huruf lainnya (penduduk yang tidak buta huruf) di Kabupaten Parigi Moutong pada tahun 2009 adalah sebesar 93.68 persen, sedangkan untuk Propinsi Sulawesi Tengah sebesar 95.78 persen. Ini berarti bahwa posisi Kabupaten Parigi Moutong masih lebih rendah dari rata-rata Propinsi Sulawesi Tengah. Jika dibandingkan denga tahun 2008, angka melek huruf di Kabupaten Parigi Moutong (93.55 persen) dan Propinsi Sulawesi Tengah (95,68

persen) menunjukkan peningkatan, walau dengan persentase yang kecil karena semakin mendekati angka seratus persen. Tabel 3.5 Persentase Angka Melek Huruf Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Kabupaten Parigi Moutong dan Propinsi Sulawesi Tengah Tahun 2008-2009 Daerah Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah b. Tingkat Pendidikan yang Ditamakan Tingkat pendidkan yang ditamakan merupakan salah satu indikator dampak yang menggambarkan tingkat pendidikan yang dicapai (ditamakan) penduduk umur 10 tahun ke atas yang pernah sekolah. Secara umum penduduk Kabupaten Parigi Moutong dilihat dari tingkat pendidikannya masih relatif rendah, dengan persentase tertinggi pendidikan yang ditamakan SD yaitu sebesar 34.95 persen. Bahkan masih ditambah lagi dengan persentase yang tidak menyelesaikan pendidikan SD mencapai 37.11 persen. Angka ini menunjukkan bahwa kemampuan sumber daya manusia di wilayah ini belum memenuhi standar pendidikan dasar 9 tahun. Dari informasi Tabel 3.6 terlihat bahwa pendidikan yang ditamakan penduduk Kabupaten Parigi Moutong tagun 2009 sebagian besar tamat SD, sementara jenjang pendidikan yang semakin tinggi mempunyai persentase semakin kecil. Rendahnya proporsi penduduk yang tamat diploma dan perguruan tinggi sebabkan: (1). Biaya pendidikan yang relatif tinggi menurut masyarakat bawah, (2). Sarana pendidikan tinggi dan universitas terbuka yang masih terbatas. (3). Peran pemerintah masih ditujukan pada pendidikan dasar. 2008 93.55 95.68 2008 93.68 95.78

Tabel 3.6 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamakan dan Status Pendidikan Kabupaten Parigi Moutong dan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun2009 Staus Pendidikan Tidak/Belum Pernah Sekolah Tidak/Belum Tamat SD SD SLTP SMTA AKADEMI/DIPLOMA UNIVERSITAS c. Rata-rata Lama Sekolah Secara umum tingkat pendidikan penduduk dapat dilihat dari rata-rata lama sekolah (mean years of scooling), yang merupakan indikator kualitas sumber daya manusia, yang menunjukkan sampai pada jenjang pendidikan apa tingkat pendidikan penduduk dewasa. Makin meningkatkannya kualitas sumber daya manusia secara agregat. Rata-rata lama sekolah Kabupaten parigi Moutong sebesar 7.10 persen tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk di Kabupaten Parigi Moutong secara rata-rata belum dapat menyelesaikan wajib belajar 9 tahun, seperti juga diungkapkan dalam sub bab sebelumnya, bahwa tingkat pendidikan tertinggi yang ditamakan sebagian besar pendudk sekolah SD. Angka ini lebih rendah dibandingkan Provinsi Sulawesi Tengah yang mencapai 7.81 persen pada tahun 2008 dan 7.89 persen pada tahun 2009. Tabel 3.7 Rata-rata Lama Sekolah Pendududk Berumur 5 Tahun Ke Atas Kabupaten Parigi Moutong dn Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2008-2009 Kabupaten Parigi Moutong 5.15 31.96 34.95 14.73 11.46 1.20 0.55 Provinsi Sulawesi Tengah 3.49 21.81 33.05 18.21 18.12 2.04 3.28

Daerah Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah 3.1.5. Kesehatan

2008 7.02 7.82

2008 7.10 7.89

Kesehatan merupakan indikator penting karena merupakan salah satu ukuran yang dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk. Pembagunan di dibidang kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam rangka tercapainya hidup yang sehat. Tema sentral pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia kearah peningkatan kecerdasan dan produktivitas kerja. Salah satu upaya yang mempunyai dampak cukup penting terhadap peningkatan kualitas sumber manuusia adalah upaya peningkatan gizi masyarakat karena merupakan faktor yang menentukan kualitas hidup dan produktivitas kerja. Masalah kesehatan merupakan salah satu masalah yang dihadapi penduduk

Kabupaten Parigi Moutong, sebagaimana kabupaten lainnya. Walaupun penghasilan yang terpikirkan pada tahun 2009 sekitar Rp 14.61 juta perkapita seharusnya mampu membiayai kebutuhan akan jasa kesehatan dasar, namun perhatikan jika melihat dari data-data tentang kesehatan. Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dapat dilihat antara lain dari tiga aspek. Ketiga aspek tersebut ialah status kesehatan, akses pada fasilitas kesehatan dan ketersediaan fasilitas kesehatan. a. Status Kesehatan Status kesehatan menggambarkan derajat kesehatan masyarakat sebagai hasil upaya pembangunan bidang kesehatan. Indikator yang dapat digunakan ialah persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan. Tabel berikut menunjukkan bahwa pada tahun 2009, penduduk Kabupaten Parigi Moutong yang mengalami keluhan kesehatan adalah sebesar 45.43 persen. Tingginya persentase keluhan kesehatan ini disebabkan konsep keluhan kesehatan yang disarankan responden, tampa memperhatikan apakah keluhan teresebut

mengganggu aktivitas sehari-hari atau tidak. Jika dirinci menurut jenis kelamin, penduduk laki-laki yang mengalami keluhan kesehatan sebesar 44.50 persen dan perempuan sebesar 46.40 persen. Keluhan kesehatan bisa berdampak negative penurunan produktivitas kerja. Jika dibandingkan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan di kabupaten Parigi Moutong lebih besar baik penduduk lak-laki maupun perempuan. Tabel 3.8 Persentase Penduduk yang Mengalami keluhan kesehatan Menurut Jenis Kelamin Kabupaten Parigi Moutong Dan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2009 Daerah Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah Laki-laki 44.50 36.93 Perempuan 46.40 38.31 Laki-laki + Perempuan 45.43 37.61

Indikator lain yang menunjukkan status kesehatan penduduk ialah rata-rata lamanya sakit (yang diukur dalam satuan hari). Rata-rata lama sakit (RLS) adalah rata-rata hari yang dijalani oleh penduduk yang menderita sakit atau perbandingan antara jumlah orang hari penduduk mengalami sakit dengan jumlah penduduk sakit. Semakin lama penduduk mengalami sakit semakin buruk status kesehatan penduduk tersebut, dan sebaliknya. Hasil sensunas tahun 2009 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang lamanya sakit kurang dari 4 hari di Kabupaten Parigi Moutong lebih kecil dari pada Provinsi Sulawesi Tengah, namun untuk lama gangguan di atas 4 hari terjadi sebaliknya. Hal ini memberikan informasi bahwa penaganan kesehatan rata-rata Provinsi Sulawesi Tengah. Tabel 3.9 Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Kesehatan Menurut Lamanya Merasa Terganggu dalam Sebulan Kabupaten Parigi Moutong dan provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2009 Lamanya Merasa Kabupaten Parigi Provinsi Sulawesi Tengah Terganggu (Hari) Moutong <4 66.54 73.16 4-7 22.59 17.78

8 - 14 15 - 21 22 - 30 b. Akses pada Fasilitas Kesehatan

5.72 2.36 2.79

4.88 1.70 2.49

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masayarakat terutama penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan dasar. Beberapa sasaran yang akan dicapai antara lain: Perilaku hidup sehat Lingkungan sehat Upaya kesehatan dengan jangkauan dan cakupan pelayanan yang memadai Peningkatan derajat kesehatan

Untuk mencapai sasaran tersebut, dilakukan beberapa kebajikan sebagai berikut:

Peningkatan

pemerataan

dan

keterjangkauan

pelayanan

kesehatan,

melalui

pembanguna, perbaikan dan pengadaan peralatan di Puskesmas dan jaringannya terutama di daerah bencana dan daerah tertinggala serta mengembangkan jaminan kesehatan bagi penduduk miskin dengan adanya pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas dan rumah sakit. Peningkatan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan wabah, melalui pencegahan dan penanggulanagan faktor resiko, peningkatan imunisasi, peningkatan penanganan epidemiologi atau wabah termasuk flu burung. Penaganan masalah gizi kurang dan gizi buruk pada ibu hamil, bayi dan anak balita, melalui peningkatan pendidikan gizi, penaggulangan kurang energy protein (KEP), anemia gizi besi, akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A, dan kekurangan zat gizi mikro lainnya.

Peningkatan ketersediaan obat dan pengawasan obat, makanan dan ketahanan pangan, melalui peningkatan ketersediaan obat generik, pengawasan ketahanan pangan dan

bahan berbahaya, peningkatan pengawasan narkotika, psikotropika, zat adiktif (NAPZA). Salah satu ukuran yang mengindasikan keberhasilan pembangunan kesehatan adalah akses terhadap tenaga medis. Pengukuran yang lazim digunakan adalah penolong balita pada waktu lahir, yang berkaitan dengan tingkat kesehatan ibu dan anak. Persalinan di Kabupaten Parigi Moutong paling banyak ditangani oleh bidang, hingga mencapai 50.32 persen. Persalinan yang memenuhi standar seharusnya ditangani oleh tenaga medis. Jika ditolak, 55.48 persen. Persalinan di kabupaten Parigi Moutong telah ditangani tenaga medis. Namun, hal yang perlu mendapat perhatian adalah masih banyak persalinan yang ditangani dukun, mencapai 32.46 persen dari jumlah kelahiran. Pola yang sama terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa derajat kesehatan dan akses terhadap pelayanan kesehatan secara rata-rata di Provinsi Sulawesi Tengah masih belum memenuhi target. Tabel 3.10 Persentase Balita Menurut Penolong Waktu Lahir Kabupaten Parigi Moutong dan Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2009 Penolong Waktu Lahir Dokter Bidang Tenaga Medis Lain Dukun Famili Lainnya Kabupaten Parigi Moutong 4.47 50.32 0.69 32.46 12.06 Provinsi Sulawesi Tengah 8.60 50.23 3.64 33.63 3.74 0.16

Kesehatan ibu dan anak mempunyai peranan penting dalam mendukung kesehatan keluarga. Kesehatan ibu dan anak adalah pangkal kesehatan dan kesejahteraan bangsa. Ibu sehat akan melahirkan anak yang sehat, menuju keluarga sehta dan bahagia, Negara kuat. Selama 6 bulan pertama, bayi perlu mendapat ASI esklusif, artinya pemberian ASI tampa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air the, air putih, maupun makan lain seperti pisang, bubur, biscuit, bubur nasi, tim, dan lain-lain. Angka morbiditas (angka terkena

penyakit) dan mortalitas (angka kematian) bayi yang mendapat ASI esklusif jauh lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI campuaran dengan susu formula dan juga bayi yang tidak mendapatkan ASI sama sekali. ASI mengandung zat antibody yang berasal dari ibu untuk memberikan daya tahan tambahan pada tubuh balita. Selain itu

pemberian ASI esklusif akan mengurangi biaya rumah tangga untuk membeli susu formula dan juga menghemat biaya pearawatan karena bayi yang tidak diberi ASI esklusif tidak sering sakit. Tabel 3.11 Persentase Balita yang Pernah Disusui Menurut Lamanya Disusui Kabupaten Parigi Moutong dan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2009 Lamanya Disusui Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah (Bulan) 15 9.30 11.87 6 11 17.60 16.26 12 17 25.85 23.15 18 23 14.98 16.38 24 + 32.28 32.33 Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan bayi-bayi di Kabupaten parigi Moutong khususnya dan provinsi Sulawesi Tengah pada umumnya, telah mendapat ASI sebagai bahan makanan. Masalah yang muncul adalah asupan gizi yang terkandung dalam ASI, yang menyangkut kesehatan dan makanan ibu yang menyusui. Petugas kesehatan di daerah perlu memberikan penyuluhan untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan ibu hamil dan menyusui karena menyangkut masa depan anak-anak mereka, dan selanjutnya akan berpengaruh dalam menghasilakan sumber daya manusia yang handal. 3.2.1 Indeks Harapan Hidup Dimensi dasar peluang umur panjang dan sehat di ukur dengan angka harapan hidup (Eo) pad saat lahir. Penghitungan angka ini diperoleh dari data ALH (angka lahir hidup) dan AMH (angka masih hidup). Pada tahun 2008 usia harapan hidup di Kabupaten Parigi

Moutong adalah 64.53 tahun, lebih rendah dari Provinsi Sulawesi Tengah yang mencapai 66.10 tahun. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan sebesar 0.31 tahun usia harapan hidup, lebih tinggi dari Provinsi Sulawesi Tengah (0.25 tahun). Angka yang cukup mengembirakan sebab usaha memperpanjang umur hidup waktu 1 tahun bukan hanya kerja keras dalam tahun tersebut melainkan usaha yang bersikenambungan dari tahun ke tahun. Angka harapan hidup sebesar 64.84 pada tahun 2009 di Kabupaten Parigi Moutong menghasilkan indeks harapan hidup sebesar 66.40. nilai ini lebih rendah dari Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 68.92 dan menunjukkan bahwa secara realtif pembangunan kesehatan di Provinsi Sulawesi Tengah lebih maju dibandingkan dengan Kabupaten Parigi Moutong Tabel 3.20 Angka Harapan Hidup dan Indeks Harapan Hidup Kabupaten Parigi Moutong dan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2009 Angka Harapan Hidup 2008 Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah 64.53 66.10 2009 64.84 66.35 Indeks Harapan Hidup 2008 65.88 68.50 2009 66.40 68.92

Daerah

Jika dilihat dari klasifikasi komponen indeks harapan hidup yang dicapai, Kabupaten Parigi Moutong (66.40), sebagimana Provinsi Sulawesi Tengah (68.17), telah mencapai kategori sedang. Hasil dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas sumber daya manusia adalah terletak pada keadaan kesehatnnya sendiri. Rendahnya kondisi kesehatan (gizi dan kalori) akan menghasilkan pekerja-pekerja yang kurang produktif dengan mental yang kurang bagus sehingga menyebabkan produktivitas rendah dan tingkat output yang dicapai tidak optimal. Dengan demikian aspek kesehatan dapat mempengaruhi terhadap pertumbuhan ekonomi, misalnya perbaikan kesehatan seseorang dapat menyebabkan peningkatan dalampartisipasi tenaga kerja.

Perbaikan, bahkan dapat menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk produktif sehingga pada akhirnya meningkatkan partisipasi angkatan kerja. Semua itu dapat berpengaruh terhadap meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Bertolak dari pandangan di era ini yang melihat pembangunan manusia tidak hanya dari pertumbuhan ekonomi, komponen kesehatan perlu dipahami sebagai output selain sebagai input dari naiknya pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Parigi Moutong relatif tinggi (mencapai 7.59 persen pada tahun 2009), penambahan biaya yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi tersebut dapat dialokasikan lebih besar lagi untuk perbaikan taraf kesehatan masyarakat. 3.2.2 Indeks Pendidikan Indeks pendidikan dihitung dari dua komponen yaitu angka melek huruf (Literacy Rate/Lit) dan rata-rata lama sekolah (Mean Years of scooling/MYS). Angka melek huruf Kabupaten Parigi Moutong adalah 93.68 persen tahun 2009, meningkat dari tahun 2008 (93.55 persen). Ini berarti masih ada 6.32 persen penduduk berumur 10 tahun ke atas yang tidak dapat membaca dan menulis. Sedangkan utnuk Provinsi Sulawesi Tengah, angka melek huruf adalah mencapai 95.78 persen, artinya jumlah penduduk di Provinsi Sulawesi Tengah yang tidak dapat membaca dan menulis hanya 4.22 persen. Komponen penyusun indeks pendidikan berikutnya adalah rata-rata lama sekolah. Angka ini merupakan kombinasi variable pendidikan yang terdiri dari angka partisipasi sekolah (APS), jenjang pendidikan yang pernah di duduki, kelas yang sedang dijalani dan jenjang pendidikan yang ditamakan. Pada tabel 3.21 terlihat bahwa rata-rata lama sekolah di Kabupaten Parigi Moutong pada tahun2009 adalah7.10 tahun. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan Provinsi Sulawesi Tengah yang mencapai 7.89 tahun. Walaupun demikian, kedua-duanya masih tertinggal dalam memenuhi target wajib belajar 9 tahun.

Kedua komponen tersebut dihitung indeksnya, mengahasilkan kedua melek huruf sebesar 93.68 dan indeks rata-rata lama sekolah sebesar 47.31 di Kabupaten Parigi Maoutong pada tahun 2009. Selanjutnya, sesuai bobot masing-masing, dihitung indeks pendidikan, yaitu sebesar 78.22. indeks pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong lebih rendah dibandingkan Provinsi Sulawesi Tengah (81.38). Tabel 3.21 Indeks Pendidikan dan Penyusun Kabupaten Parigi Moutong dan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2009 Indikator Angka Melek Huruf Rata-rata Lama Sekolah Indeks Melek Huruf Indeks Lama Sekolah Indeks Pendidikan Kabupaten Parigi Moutong 2008 93.55 7.02 93.55 46.80 77.97 2009 93.68 7.10 93.68 47.31 78.22 Provinsi Sulawesi Tengah 2008 2009 95.68 95.78 7.81 7.89 95.68 95.78 52.07 52.60 81.14 81.38

Jika dilihat dari klarifikasi komponen indeks pendidikan, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pembagunan pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong sudah berada pada kategori tinggi (antara lain 78.10 86.98), seperti halnya dengan Provinsi Sulawesi Tengah. Perkembangan pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong cukup menunjukkan kemajuan yang berate, walaupun masih diperlukan kerja keras untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain di Provinsi Sulawesi Tengah. Budaya mengutamakan pendidikan perlu dipupuk dengan kesadaran untuk menyekolahkan anak-anak usia sekolah. 3.2.3. Indeks daya Beli Komponen PPP (Purcashing Power Parity) atau dikenal sebagai komponen kemampuan daya beli atau standar layak hidup dalam laporan ini diukur dengan indikator rata-rata konsumsi riil perkapita yang disesuiakan. UNDP menggunakan indikator PBD perkapita riil yang telah disesuaikan(adjusted real GDP percapita) karena tidak tersedia indikator lain yang lebih baik untuk keperluan perbandingan antar wilayah.

Tabel 3.22 Indikator dan Indeks Daya Beli Kabupaten Parigi Moutong dan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2009 Daerah Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah Indikator Daya Beli (Rp 000) 2008 2009 617.86 621.79 622.35 627.40 Indeks Daya Beli 2008 2009 59.59 60.50 60.63 61.80

Sampai dengan tahun 2009 kemampuan daya beli penduduk Kabupaten Parigi Moutong sudah cukup tinggi dibandingkan kabupaten-kabupaten lainnya. Namun jika dibandingkan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, angka masih lebih rendag dan penambahanya lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah-wilayah tertentu di Provinsi Sulawesi Tengah mengalami peningkatan yang cukup pesat dan tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah. Peningkatan ekonomi yang cukup pesat tersebut dibarengi dengan

percepatan yang lebih tinggi sehingga kemampuan daya beli Kabupaten Parigi Moutong pada tahun 2009 tertinggal lagi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 3.2.4. Indeks Pembangunan Manusia Tanggung jawab mengelolah pembanguna secara bertahap diserahkan kepada daerah masing-masing, apalgi sejak adanya desentralisasi yang dikumandangkan dan ditetapkan undang-undang nomor 32 tahun 2008 yang merupakan penyempurnaan undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah. Pemerintah pusat memerlukan suatau ukuran nasional untuk membantu pemerintah daerah mengetahui pemberdayaan pembangunan manusia di daeranya, yaitu indeks pembangunan manusia (IPM). Ukuran ini digunakan sebagai salah satu indikator yang menghitung kemampuan pembangunan manusia di setiap wilayah, sekaligus sebagai pembanding kemajuan pembangunan manusia wilayah lainnya.

IPM dapat memberikan beberapa petunjuk. Kesenjangan antara indeks terkini dan 100 (angka maksimum IPM) mencerminkan kekurangan pembanguna manusia (jarak yang perlu tempuh oleh setiap daerah). Perbandingan selama beberapa waktu akan memperlihatkan kemajuan atau kurangnya kemajuan suatu daerah tertentu. Antara daerah juga dapat dibandingkan dan diberi peringkat. Dengan demikian IPM dapat berfungsi sebagai pegangan untuk alokasi sumber daya (Formula yang sekarang ada untuk dana alokasi umu dari pusat pemasukan IPM sebagai salag satu indikatornya). Namun, penggunaan IPM untuk tujuatujuan-tujuan tersebut perlu dilakukan secara hati-hati. Jika kekurangan dalam suatu daerah dua kali lebih besar daripada daerah lainnya, maka pembangunan di daerah pertama tidak dengan sendirinya harus dua kali lebih besar daripada daerah kedua. Implikasi IPM pada anggaran haruslah didasarkan pada pertimbangan yang lebih teliti dan lebih lanjut. Oleh karena itu pelimpahan sumber daya didasarkan atas pengelompokan daerah-daerah menjadi empat kategori seperti telah dibahas pada bab II. Penempatan suatu daerah tersebut,

walaupun masih harus dilengkapi dengan informasi lainnya, contonhnya apakah daerah tersebut masih berada di pedalaman, berapa besar jumlah penduduk, dan bagaimana keadaan infrastrukturnya, sebagai indikator untuk mengukur tingkat kemajuan suatu daerah. Secara teknis, IPM merupakan indeks yang mengukur pencapaian pembangunan keseluruhan suatu daerah, yang dipresentasikan oleh tiga dimensi, yaitu umur panjang dan sehat, pengetahuan dan kualitas hidup yang layak. Gambar 3.4 menunjukkan hubungan antara masukan dan keluaran dalam pembentukan kualitas manusia (Ascobat Gani, 1984). Kualitas berkolerasi dengan kualitas individu dan output. Nilai IPM Kabupaten Parigi Moutong mengalami kenaikan dan berada pada klasifikasi kesejahteraan menengah ke atas pada tahun 2009 (nilai IPM antara 65 80). Jika dibandingkan dengan IPM Provinsi Sulawesi Tengah, pembangunan manusia di Kabupaten Parigi Moutong masih tertinggal walau sudah berada pada kalisifikasi yang sama. Begitu juga

yang terjadi dengan mayoritas kabupaten-kabupaten lainnya. Nilai IPM wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah yang berada di atas IPM Sulawesi Tengah Secara umum hanya 2 wilayah, yaitu kota Palu dan Kabupaten Banggai. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan manusia di wilayah ini masih perlu mendapat perhatian khusus karena realtif terpusat di wilayah-wilayah tertentu. Tabel 3.23 Indeks pembangunan Manusia Dan Komponen Penyusunnya Kabupaten Parigi Moutong dan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2008-2009 Kabupaten Parigi Moutong 2008 Indeks Kesehatan Indeks Pendidikan Indeks Daya Beli IPM 65.88 77.97 59.59 67.81 2009 66.40 78.22 60.50 68.37 Provinsi Sulawesi Tengah 2008 68.50 81.14 60.63 70.09 2009 68.92 81.38 61.80 70.70

Indikator

Provinsi Sulawesi Tengah dengan nilai IPM sebesar 70.70 pada tahun 2009 menduduki peringkat ke-22 di Indonesia seperti halnya tahun sebelumnya (dengan nilai IPM 70.09). jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong menempati urutan ke- 8, dengan nilai IPM sebesar 68.37, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dengan nilai IPM 67.81. peningkatan tertinggi dicapai oleh Kota Palu dengan nilai IPM sebesar 75.99 dan yang paling terbelakang dalam hal pembangunan manusia sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu Kabupaten Banggai Kepulauan (dengan nilai IPM 67.21).

Tabel 3.24 Perbandingan IPM Kabupaten/Kota se- Sulawesi Tengah Tahun 2008-2009 Kabupaten/Kota Banggai Kepulauan Banggai Morowali Poso Donggala Toli-Toli Buol Parigi Moutong Tojo Una-una Sigi Palu 2008 IPM 66.59 70.21 69.75 68.98 68.73 67.62 68.84 67.81 67.81 66.90 75.67 Peringkat 11 2 3 4 6 9 5 7 8 10 1 IPM 67.21 70.87 70.46 69.62 69.40 68.18 69.45 68.37 68.38 67.22 75.99 2009 Pringkat 11 2 3 4 6 9 5 7 8 10 1

Angka IPM suatu daerah memperlihatkan jarak yang harus ditempuh shortfall untuk mencapai nilai maksimum. Dengan demikian, analisis IPM sangat mempertimbangkan laju atau percepatan kemajuan suatu daerah apabila dibandingkan dengan daerah lainnya. Naik atau turunnya peringkat suatu daerah akan sangat dipengaruhi kemajuan daerah lainnya. Persentase percepatan pembangunan manusia suatu daerah untuk mencapai angkaIPM ideal disebut reduksi sortffal. Keberhasilan pemerintah dalam upaya meningkatakan pembangunan manusia pada suatu kurung waktu tidak sekedar dilihat dari posisi nilai IPM-nya, tetapi dapat dilihat dari reduksi shortfall pada kurung waktu tersebut. Pencapaian reduksi shortfall Kabupaten Parigi Moutong pada tahun 2008 2009 sebesar 2.03. Tantangan pemerintah daerah kedepan adalah bagaiman memperkecil ketertinggalan dari nilai referensi IPM yang ditunjukkan dengan adanya reduksi shortfall. Semakin besar persentase reduksi shortfall,

semakin cepat ketertinggalan yang diposisikan dengan daerah lainnya dapat dikejar dan selanjutnya semakin cepat pula nilai IPM mendekati nilai yang ideal