Anda di halaman 1dari 12

TATA TERTIB SEKOLAH SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI 52 JAKARTA

A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan usia atau tahap seorang siswa mencari jati diri yang dilakukan melalui peniruan diri atau imitasi. Pergaulan remaja yang tanpa arah dan pengawasan terhadap tingkah laku mereka akan mempunyai kecenderungan mengarah pada pergaulan remaja yang negatif. Banyak anggapan dari siswa selama ini bahwa tata tertib sekolah hanya membatasi kebebasan mereka sehingga berakibat pelanggaran terhadap peraturan itu sendiri. Pendidikan moral kepada anak diawali saat mereka berada pada lingkungan keluarga terutama orang tua melalui proses sosialisasi norma dan aturan moral dalam keluarga sendiri serta lingkungan dekat pergaulan sosial anak. Sekolah, sebagai tempat sosialisasi kedua setelah keluarga serta tempat anak ditatapkan kepada kebiasaan dan cara hidup bersama yang lebih luas lingkupnya serta ada kemungkinan berbeda dengan kebiasaan dan cara hidup dalam keluarganya, sehingga berperan besar dalam menumbuhkan kesadaran moral diri anak. Penanaman kebiasaan bersikap dan berbuat baik atau sebaliknya bersikap dan berbuat buruk, pada tahap awal pertumbuhannya, anak dapat sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah tempat ia belajar. Meski tugas dan tanggung jawab utama untuk melakukan pendidikan moral terhadap anak terletak di pundak orang tua dalam lingkungan keluarga tempat anak itu lahir dan dibesarkan, namun itu tidak berarti sekolah tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pendidikan moral khususnya pada tahap pendidikan dasar dan menengah, tempat remaja masih dalam proses pembiasaan diri mengenal dan mematuhi aturan hidup bersama yang berlaku dalam masyarakatnya, berlatih displin, berbuat baik dan mengalami proses pembentukan identitas diri moral mereka, pendidikan moral perlu secara khusus mendapat perhatian para guru dan pendidik di sekolah. Sekolah memegang peran yang sangat penting dalam menanamkan dan menumbuhkan aspek pendidikan moral. Kasus atau pelanggaran tata tertib sekolah tersebut terkait dengan karakteristik siswa seperti perbedaan perbedaan yang dimiliki setiap individu. Kepatuhan terhadap tata tertib sekolah adalah sebuah kesiapan yang harus ditanamkan kepada siswa di sekolah agar mempunyai sikap dan perbuatan sesuai dengan norma norma yang berlaku di masyarakat.

B. Identifikasi Masalah Pendidikan adalah upaya untuk mendewasakan manusia yang memiliki identitas sebagai manusia sebenarnya. Penyimpangan tingkah laku siswa mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Menemukan pendekatan dan strategi itulah diperlukan suatu penelitian yang memadai sehingga dapat memberikan bahan pertimbangan yang diperlukan seperti masih adanya hal hal yang berkaitan dengan tata tertib sekolah yang belum tertangani dengan baik, harus ada paparan tentang sistem pengelolaan tata tertib sekolah yang dijadikan rujukan guna penanganan masalah masalah ketertiban. Ketertiban sekolah sering dijadikan indikasi keberhasilan pembinaan mental dan tingkah laku siswa, latar belakang sosial keluarga dan lingkungan banyak memberikan pengaruh terhadap ketaatan melaksanakan tata tertib sekolah. C. Pembatasan Masalah Berikut ini akan dijelaskan beberapa fokus utama dan indikator yang disajikan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1. Hal hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai media dalam

maksud atau tujuan mencapai pendidikan moral.


2. Tata tertib sekolah dalam penelitian ini dibatasi pada tata tertib yang berlaku bagi

siswa.
3. Tata tertib sekolah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sejumlah aturan yang

ditetapkan sekolah yang harus dipatuhi oleh siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta. D. Perumusan Masalah Kenyataan di sekolah masih ditemui banyak kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Kenyataan tersebut menimbulkan berbagai persoalan dan permasalahan mengenai pelaksanaan pendidikan moral. Sesuai dengan pembatasan masalah diatas maka penelitian ini mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta?


2. Bagaimana kendala kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah

sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta?

E. Landasan Teori 1. Pengertian Tata Tertib Sekolah (Dekdikbud, 1989:37) tata tertib sekolah adalah aturan atau peraturan yang baik dan merupakan hasil pelaksanaan yang konsisten (tatap azas) dari peraturan yang ada. 2. Tipe Tipe Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib Sekolah Graham (Sanjaya, 2006:272 273) melihat empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu, yaitu:
1. Normativist. Biasanya kepatuhan pada norma norma hukum. Selanjutnya dikatakan

bahwa kepatuhan ini terdapat dalam tiga bentuk, yaitu, (1) Kepatuhan terhadap nilai atau norma itu sendiri; (2) Kepatuhan pada proses tanpa memedulikan normanya sendiri; (3) Kepatuhan pada hasilnya atau tujuan yang diharapkannya dari peraturan tersebut.
2. Integralist, yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan

pertimbangan yang rasional.


3. Fenomenalist, yaitu kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekadar basa basi. 4. Hedonist, yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri.

Selanjutnya dalam sumber yang sama dijelaskan, dari empat faktor ini terdapat lima tipe kepatuhan:

Otoritarian. Suatu kepatuhan tanpa reserve atau kepatuhan yang ikut ikutan. Conformist. Kepatuhan tipe ini mempunyai tiga bentuk, yaitu: (1) conformist directed, yaitu penyesuaian diri terhadap masyarakat atau orang lain; (2) conformist hedonist, yakni kepatuhan yang berorientasi pada untung rugi, dan (3) conformist integral, adalah kepatuhan yang menyesuaikan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan masyarakat.

Compulsive deviant. Kepatuhan yang tidak konsisten. Hedonik psikopatik, yaitu kepatuhan pada kekayaan tanpa memperhitungkan kepentingan orang lain. Supramoralist. Kepatuhan karena keyakinan yang tinggi terhadap nilai nilai moral.

3. Moral

Driyakara mengatakan bahwa moral atau kesusilaan adalah nilai yang sebenarnya bagi manusia. Dengan kata lain moral atau kesusilaan adalah kesempurnaan sebagai manusia atau kesusilaan adalah tuntutan kodrat manusia (Daroeso, 1986:22). Huky (Daroeso, 1986:22) mengatakan kita dapat memahami moral dengan tiga cara:
1. Moral sebagai tingkah laku hidup manusia, yang mendasarkan diri pada kesadaraan,

bahwa ia terikat oleh keharusan untuk mencapai yang baik sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam lingkungannya.
2. Moral sebagai perangkat ide ide tentang tingkah laku hidup, dengan warna dasar

tertentu yang dipegang oleh sekelompok manusia di dalam lingkungan tertentu.


3. Moral adalah ajaran tentang tingkah laku hidup yang baik berdasarkan pandangan

hidup atau agama tertentu. 4. Pengertian Pendidikan Moral (Daryono, 1998:13) mengemukakan bahwa: Pendidikan moral adalah merupakan suatu usaha sadar untuk menanamkan nilai nilai moral pada anak didik sehingga anak bisa bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai nilai moral tersebut. 5. Hubungan Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral Hubungan antara kenyataan hukum atau tata tertib sekolah dan pendidikan moral yang efektif sangat intensif, pada hakikatnya karena hukum itu hanya penglogisan dari nilai nilai moral. Gerakannya dikekang oleh generalisasi dan penentuan kebutuhannya, hukum itu berubah ubah secara lebih langsung sebagai suatu fungsi dari perubahan perubahan moralitas (Johnson, 2006:286). Moral berkaitan dengan disiplin dan kemajuan kualitas perasaan, emosi dan kecenderungan manusia; sedangkan aturan pelaksanaanya merupakan aturan praktis tingkah laku yang tunduk pada sejumlah pertimbangan dan konversi lainnya (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, 1989:211).

F. Pembahasan

1. Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Saraan Pendidikan Moral Di Sekolah

Menengah kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu siswa di dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, keterampilan sekaligus kepribadiannya secara utuh. Situasi moral adalah situasi di mana siswa akan memilih dan menentukan tingkah lakunya berdasar serangkaian alternatif tingkah laku. Tata tertib sekolah di samping sebagai aturan hukum yang diterapkan di sekolah, dari hasil penelitian dapat digunakan sebagai salah satu sarana pendidikan moral. Tata tertib sekolah mengatur tingkah laku siswa di sekolah, otomatis tata tertib sekolah adalah sebagai suatu norma. Norma selalu terkait dengan aspek moral jadi merupakan salah satu moral yang harus dimiliki oleh siswa semisal norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Diungkapkan Ibu Siti Bulqis, Guru Koordinator Bimbingan Konseling Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta bahwa tata tertib sekolah disusun berdasarkan kaidah kaidah hukum formal dan norma norma sosial maupun norma agama (wawancara: 30 Nov 2011). Sebenarnya hakikat pendidikan moral adalah bagaimana mengajarkan pada siswa tentang moral sendiri. Pemberian moral tersebut substansinya pada penekanan nilai nilai kehidupan yang dihargai oleh masyarakat yang melembaga melalui norma norma, baik norma agama, norma hukum maupun norma sosial. Nilai nilai kehidupan adalah norma norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun. Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu diperlukan, dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik perlu dihindari. Tata tertib sekolah menjadi efektif karena setiap pelanggaran tata tertib sekolah mengandung sanksi. Tata tertib sekolah memiliki sifat memaksa yang di dalamnya memuat tugas dan kewajiban, larangan larangan serta sanksi. Tata tertib sekolah yang baik adalah yang mampu dilaksanakan, kriterianya membatasi atau mengikat semua siswa secara keseluruhan, tidak hanya sekedar takut pada aturan tapi membuat siswa sadar, tidak hanya larangan tapi menyadarkan anak terhadap peraturan. Mampu menyadari pentingnya tata tertib sekolah sendiri, siswa mampu melakukan tata tertib sekolah sesuai dengan kesadaran pribadi masing masing, siswa menjadi butuh atau kebutuhan/kebiasaan dalam diri siswa. Sumber acuan moral antara lain dapat berasal dari agama, adat istiadat, hukum positif dan kodrat manusia. Pendidikan moral juga mengajarkan antara lain disiplin, otonomi diri dan interaksi dengan lingkungan. Pada prinsipnya pendidikan moral merupakan tanggung jawab setiap elemen sekolah. Karena kondisi sekolah yang kondusif akan mendukung terciptanya moral siswa yang baik. Hendaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran (baik guru, pegawai, buku, peraturan dan alat alat) dapat

membawa siswa kepada pembinaan mental yang sehat, moral yang tinggi dan pengembangan bakat, sehingga siswa dapat lega dan tenang dalam pertumbuhan dan jiwanya tidak goncang. Kegoncangan jiwa dapat meyebabkan mudah terpengaruh oleh tingkah laku yang kurang baik. Tata tertib sekolah adalah ketentuan yang mengikat yang bertujuan untuk menjamin terselenggaranya proses pendidikan yang baik. Tata tertib sekolah menjadi efektif karena setiap pelanggarannya mengandung sanksi yang bersifat memaksa. Pendidikan moral adalah upaya untuk memberi motivasi, memberi keteladanan, memberi nilai nilai tentang kaidah kaidah/norma norma baik norma agama, norma hukum formal, norma sosial yang semuanya ditujukan untuk membangun moral siswa. Tata tertib sekolah disusun berdasarkan kaidah kaidah hukum formal dan norma norma sosial maupun agama, seperti dilarang minum minuman keras, berjudi. Impelementasi pendidikan moral tercermin pada pelaksanaan tata tertib sekolah. Nilai nilai pendidikan moral terdapat pada tingkat ketertiban siswa dalam lingkungan sekolah. Isi pendidikan moral pada tata tertib sekolah terdapat pada setiap poin yang diatur dalam tata tertib sekolah seperti. Di lingkungan sekolah mengalami bertemunya berbagai macam tingkah laku siswa. Masyarakat menginginkan adanya nilai nilai yang stabil dihargai atau dengan kata lain nilai nilai yang diharapkan dan sesuai dengan masyarakat. Mengharapkan kestabilan beberapa tingkah laku dan kebiasaan yang telah ada di masyarakat seperti berpakaian rapi, berbicara dengan sopan dan hormat pada Guru. Sehingga diperlukan adanya pedoman dalam bertingkah laku terhadap nilai nilai masyarkat mengenai apa yang dilarang atau diperbolehkan. Tata tertib sekolah merupakan salah satu diantara pendidikan moral yang bersifat pencegahan atau preventif diungkapkan oleh Ibu Siti Bulqis, Guru koordinator Bimbingan Konseling Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta .....tata tertib sekolah bisa dijadikan sarana pendidikan moral sebagai alat pencegahan atau preventif..... (wawancara: 30 Nov 2011). Sebagai sarana pendidikan moral adalah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Alat pendidikan yang preventif ialah alat alat pendidikan yang bersifat pencegahan yaitu untuk mencegah masuknya pengaruh pengaruh buruk dari luar ke dalam diri siswa. Alat pendidikan preventif diartikan sebagai jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik. Sistem Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta merupakan hasil dari penggalian antara unsur unsur

kebutuhan siswa dan sekolah. Tata tertib sekolah sangat perlu diadakan sebagai aturan yang harus diikuti oleh mereka dengan penuh kesadaran, bukan karena tekanan atau paksaan. Tata tertib sekolah tidak dapat ditentukan oleh kepala sekolah sendiri, atau bahkan oleh dinas pendidikan semata-mata. Tata tertib sekolah pada hakikatnya dibuat dari, oleh, dan untuk warga sekolah. Kalaupun konsep tata tertib sekolah itu telah dibuat oleh kepala sekolah atau dinas pendidikan, maka konsep itu harus mendapatkan persetujuan dari semua pemangku kepentingan di sekolah. Komite Sekolah akan lebih baik jika dimintai pendapatnya tentang tata tertib sekolah tersebut. Guru dan siswa harus dimintai pendapatnya tentang tata tertib tersebut. Orangtua pun harus memperoleh penjelasan secara terbuka tentang tata tertib sekolah itu. Pemberian sanksi pelanggaran tata tertib sekolah berdasarkan poin angka (credit poin) maksudnya setiap pelanggaran tata tertib sekolah akan diberikan poin atau bobot angka yang menunjukan kesalahan yang diperbuat. Poin atau bobot angka ini nantinya akan ditotal menjadi laporan pada tiap akhir tahun pelajaran. Bagi siswa yang telah masuk ata melebihi bobot angka tersebut akan dikenai sanksi sesuai dengan yang telah diatur dalam tata tertib sekolah. Sanksi akan diberikan sesuai dengan derajat kesalahan yang telah ditentukan dalam tata tertib sekolah. Penyusunan tata tertib sekolah dilakukan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dengan staf dipimpin oleh Kepala Sekolah dengan menerima masukan masukan dari berbagai elemen sekolah seperti Guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah (PKNS), Guru Agama dan Guru Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling. Tata tertib sekolah yang baik adalah memberikan jaminan menimbulkan suasana yang kondusif sehingga mendukung penyelenggaraan pendidikan. Penggunaan tata tertib sekolah diharapkan dapat mengembangkan pola sikap dan tingkah laku yang lebih disiplin dan produktif dari siswa. Dengan tata tertib sekolah tersebut, siswa memiliki pedoman dan acuan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam melaksanakan kebijakan, program, dan kegiatan sekolah. Tata tertib sekolah sangat penting sebagai aturan yang harus dipatuhi oleh peserta didik. Tata tertib sekolah apa saja yang harus dibuat itu sudah barang tentu amat ditentukan oleh kepentingan sekolah. Penegakan tata tertib sekolah dengan menggunakan langkah langkah berupa pemasangan di ruang ruang belajar atau tempat yang strategis sehingga siswa dapat melihat dan membaca, sosialisasi tata tertib sekolah melalui kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) dan pada saat upacara, pekan tata tertib sekolah, pengontrolan siswa setiap hari, sidak/pemeriksaan mendadak ke kelas kelas, bekerjasama dengan kepolisian jika terjadi pelanggaran berat. Siswa yang menaati tata tertib

sekolah dapat dikatakan mempunyai moral yang baik karena mempunyai kesadaran diri akan arti penting tingkah laku yang diperlihatkan pada pelaksanaan di sekolah. Bentuk Bentuk Pelanggaran Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta adalah bersifat ringan, sedang dan berat. Kategori ringan yaitu bentuk penegakan tata tertib sekolah untuk kasus atau pelanggaran tersebut adalah ditegur atau dinasehati dengan pembinaan secara insidental. Bentuk pelanggaran yang bersifat sedang adalah terbukti membuat/menggunakan surat keterangan ijin tidak dari orang tua/wali, sengaja melanggar aturan kebersihan corat coret tembok dan bangku, terbukti membawa rokok dan merokok, ancaman terhadap Guru/Karyawan. Bentuk pelanggaran yang bersifat berat antara lain bermain judi di sekolah, melakukan tindakan asusila di lingkungan sekolah, berkelahi dengan teman sekolah, mengambil barang milik sekolah atau orang lain tanpa seijin pemilik, mencemarkan nama baik Guru, Karyawan maupun sekolah, terlibat perkara yang ditangani oleh Kepolisian, berkelahi dengan siswa sekolah lain sehingga melibatkan nama sekolah dan penganiayaan terhadap Guru dan Karyawan. Sanksi dilaksanakan sekolah dalam rangka komformitas dan kontrol. Sanksi adalah tanggungan berupa tindakan, hukuman dan sebagainya memaksa orang, untuk menepati janji atau menaati apa apa yang telah ditentukan. Sanksi digunakan untuk menghukum perbuatan/tingkah laku dianggap tidak sesuai dengan norma. Sanksi yang diberikan kepada siswa yang melanggar tata tertib sekolah terdapat sanksi yang tertulis dan sanksi yang tidak tertulis, namun penggunaanya dengan memperhatikan sifat mendidik bagi siswa antara lain tugas membersihkan kelas, kamar mandi dan taman kelas. Sanksi akademis yaitu teguran lisan, pembinaan, dikeluarkan dari kelas, memanggil orang tua dengan Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling. Faktor Faktor Penyebab Pelanggaran Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta adalah karena dua faktor utama yaitu faktor bawaan (internal) siswa dan faktor lingkungan (eksternal) siswa. Yang termasuk dalam lingkungan internal adalah faktor yang berhubungan dengan potensi bawaan siswa itu sendiri, seperti faktor intelegensi. Sedangkan yang termasuk dalam lingkungan eksternal adalah seperti faktor pendidik, materi pendidikan, alat dan metode pendidikan, serta sistem komunikasi antara pendidik dan siswa. Lingkungan sosial budaya, paling tidak ada akan terdapat lingkungan tempat tinggal, kondisi status sosial ekonomi keluarga, lingkungan teman sebaya, keutuhan keluarga, keharmonisan keluarga dan interaksinya dengan lingkungan masyarakat secara umum.

Faktor yang bersifat internal pada diri siswa yaitu terjadi karena siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempunyai kecenderungan siswa tidak terikat pada aturan dan mencoba coba untuk melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Faktor yang kedua adalah faktor eksternal artinya bahwa tingkah laku siswa yang tidak sesuai dengan tata tertib sekolah terjadi karena unsur lingkungan di luar diri siswa terbagi lagi menjadi 3 kategori yaitu yang pertama kondisi sosial ekonomi orang tua siswa yaitu secara umum siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta mempunyai kondisi sosial hubungan dalam keluarga yang kurang nyaman. Seperti yang disampaikan oleh Romadhon siswa kelas 12 (dua belas) melakukan pelanggaran karena di rumah orang tua kurang memperhatikan sehingga ke sekolah ingin hiburan (wawancara: 6 Des 2011). Selain itu, dari segi ekonomi termasuk ke dalam kategori menengah ke bawah. Kondisi ekonomi keluarga dapat diketahui melalui home visit oleh Guru Bimbingan Konseling (BK) didapatkan bahwa siswa yang sering melakukan pelanggaran tata tertib sekolah kecenderungan mempunyai kondisi ekonomi yang lemah. Kondisi ekonomi keluarga turut mempengaruhi pergaulan siswa, siswa cenderung tidak merasa nyaman di rumah. Hal ini disebabkan oleh kondisi rumah yang tidak nyaman untuk ditempati, sehingga siswa cenderung mencari hiburan di luar rumah. Pergaulan dengan lingkungan luar mempunyai dampak pada sikap dan tingkah laku sehari hari. Faktor yang lain adalah keadaan keluarga mengenai hubungan antar keluarga, ketidakcocokan dengan keinginan siswa dengan program keahlian yang dipilih. Solusi dari pihak sekolah adalah dengan memberikan beasiswa melalui BAZIS sekolah yang dikumpulkan setiap hari Jumat. Suatu faktor yang cukup berpengaruh terhadap tingkah laku siswa di sekolah adalah hubungan orang tua dan anak di rumah. Siswa yang berasal dari keluarga yang konsisten dan mempunyai kebiasaan yang teratur memperlihatkan tingkah laku baik di sekolah. Sebaliknya siswa yang berasal dari keluarga yang sulit menanamkan kebiasan teratur di rumah memperlihatkan tingkah laku yang jelek di sekolah. Siswa yang kurang mempunyai bimbingan yang serasi, jarang bertemu dengan orang tua karena sibuk bekerja, menunjukan tingkah laku yang kurang baik. Orang tua yang mengajarkan norma norma dan di sekolah Guru Guru juga mengajarkan norma norma pula maka apabila norma yang diterima siswa di sekolah adalah merupakan kelanjutan dari atau sama dengan yang diperoleh siswa di lingkungan keluarga berdampak pola hubungan keluarga dan sekolah akan selaras dan serasi. Jika sebaliknya antara di sekolah dan di rumah bertentangan atau tidak sejalan maka akan menimbulkan

konflik pada diri siswa. Konflik tersebut akan berakibat siswa mempunyai kecenderungan untuk melakukan penyimpangan atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Faktor sekolah turut serta memberikan penyebab siswa melakukan pelanggaran tata tertib sekolah yaitu ketetapan dari Kepala Sekolah yang menginstruksikan kepada Guru agar penanganan terhadap kasus atau pelanggaran tata tertib sekolah diserahkan pada Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan yang membentuk STP2K (Satuan Tugas Pembinaan dan Penegakan Kedisiplinan) yang dibantu oleh Bimbingan Konseling (BK). Semestinya semua komponen di sekolah tutur bertanggung jawab terhadap pemberian moral yang baik terutama Guru mata pelajaran. Guru baik secara formal maupun informal memberitahu tentang tata tertib sekolah dan sanksi sanksi yang akan didapatkan siswa bila melanggar tata tertib sekolah. Faktor yang lain adalah adanya stigma dari siswa, bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta memiliki citra sebagai salah satu sekolah yang sering tawuran. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta mempunyai sejarah negatif berupa image akan tawuran sehingga berdampak sampai sekarang persepsi itu masih melekat. Namun mulai tahun 2007 ke bawah atau sejak 3 (tiga) tahun terakhir tawuran tersebut sudah tidak ada lagi. Tawuran tersebut cenderung untuk berkurang karena disebabkan beberapa hal antara lain sudah berkurangnya aktivitas praktikum yang dilakukan di luar sekolah, adanya sanksi yang tegas dari sekolah bagi yang melakukan tawuran dikeluarkan dari sekolah, kerjasama dengan pihak Kepolisian dalam penanganan kasus atau pelanggaran tersebut.
2. Kendala Kendala Penegakan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan

Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta Unsur kendala kendala yang dihadapi dalam penegakan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta yaitu Guru dalam penegakan tata tertib sekolah kurang bisa seirama dalam penegakan tata tertib sekolah. Tergantung dari individu Guru masing masing ada Guru yang konsisten dan ada Guru yang kadang kadang konsisten dan adapula yang tidak peduli sama sekali terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Kurang konsisten dari Guru menyebabkan siswa tidak menghargai teguran dari Guru. Tidak semua Guru melakukan penegakan tata tertib sekolah/lemahnya monitoring karena yang bertugas hanya BP/BK dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. Kendala kendala yang lain adalah adanya beberapa siswa yang memang sudah mempunyai potensi untuk melanggar tata tertib sekolah, faktor kegiatan praktik masih ada yang di luar yaitu bengkel Balai Latihan Pendidikan Teknik sehingga kurang kontrol

namun sejak tahun 2002 sekolah sudah membuat bengkel sendiri mudah dalam pengawasan siswa sehingga sekolah bisa mengawasi. Kendala kendala yang dihadapi oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral terdiri dari dua unsur kendala yaitu bersifat internal dan eksternal. Kendala yang bersifat internal adalah kurang konsistennya petugas maupun Guru di dalam melaksanakan kontrol terhadap tingkah laku siswa yang melakukan pelanggaran. Kendala yang bersifat eksternal adalah diakibatkan oleh faktor luar dari sekolah seperti siswa yang dipukul terlebih dahulu oleh siswa sekolah lain. Pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa dari hasil pengamatan mengalami penurunan dari kuantitas terutama tawuran antara sekolah. Penyebabnya adalah tindakan dari sekolah yang tegas untuk mengeluarkan siswa yang bermasalah dari sekolah. Kendala kendala tersebut secara umum akan mencakup dari fasilitas yang dimiliki sekolah, personil yang menangani kebutuhan siswa dan implementasi tujuan pendidikan moral melalui tata tertib sekolah yang kadang kurang tepat disampaikan oleh Guru. Akibat yang ditimbulkan adalah rasa ketidakpercayaan yang dialami oleh siswa dalam melalui tahap tahap perkembangan moral. G. Kesimpulan Pendidikan moral pada intinya adalah mengajarkan dan melatih siswa terhadap kesadaran moral. Pendidikan moral selain diajarkan melalui bentuk formal dalam mata pelajaran juga dapat diberikan melalui bentuk bentuk lain seperti adanya tata tertib sekolah. Pendidikan moral yang diajarkan dan dilatihkan tersebut disesuaikan dengan nilai nilai identitas masyarakat atau nilai nilai moral seperti nilai religiositas, nilai sosialitas, nilai gender, nilai keadilan, nilai demokrasi, nilai kejujuran, nilai kemandirian, nilai daya juang, nilai tanggung jawab dan nilai penghargaan terhadap lingkungan alam. Dari hasil penelitian dan pembahasan didapatkan simpulan yaitu:
1. Nilai nilai moral tersebut harus dilembagakan melalui norma norma/kaidah

kaidah dalam lingkungan sekolah yang disesuaikan dengan masyarakat. Tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral yang mempunyai fungsi pencegahan atau preventif bagi tingkah laku siswa agar tidak melanggar atau menyimpang dari moral masyarakat. Sanksi bagi siswa yang melanggar adalah bersifat mendidik siswa terutama untuk menanamkan pendidikan moral.

2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang menggunakan sistem credit poin yaitu setiap pelanggaran tata tertib sekolah mendapatkan poin tertentu. Penggunaan credit poin dengan mempertimbangkan segi tahap tahap perkembangan siswa dan sanksi yang mendidik. Faktor faktor penyebab siswa melanggar tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 52 Jakarta adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal dari diri siswa adalah potensi bawaan siswa itu sendiri, seperti faktor intelegensi, bakat maupun dorongan instrinsiknya atau motif. Faktor eksternal adalah lingkungan sosial budaya, paling tidak ada akan terdapat lingkungan tempat tinggal, kondisi status sosial ekonomi keluarga, lingkungan teman sebaya (peer group), keutuhan keluarga, keharmonisan keluarga dan interaksinya dengan lingkungan masyarakat secara umum.
3. Kendala kendala utama yang dihadapi sekolah adalah kurang konsistennya Guru

dalam menegakan tata tertib sekolah meliputi dari tidak secara komperehensif hanya dilakukan oleh Guru yang masih peduli terhadap moral siswa dan adanya pengaruh dari pergaulan siswa yang kurang baik. Kurangnya pengawasan dari Guru menyebabkan siswa banyak yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Upaya upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah adalah bersifat preventif, kuratif dan represif. H. Saran Saran yang merupakan masukan yang dapat disampaikan berkaitan penelitian ini adalah:
1. Kepala Sekolah hendaknya terus berkomitmen dan lebih intensif mengadakan

penegakan kedisiplinan siswa serta fasilitas pendukung dalam upaya menekan tingkat pelanggaran siswa terhadap tata tertib sekolah.
2. Guru hendaknya terus melakukan kontrol terhadap pelanggaran tata tertib sekolah dan

meningkatkan kebersamaan guna membina kedisiplinan siswa.


3. Siswa hendaknya dengan penuh kesadaran diri untuk mematuhi tata tertib sekolah. 4. Orang tua hendaknya ikut serta melakukan pembinaan moral anaknya agar patuh dan

taat terhadap tata tertib sekolah.