Anda di halaman 1dari 4

Ekologi Hama dan Penyakit Tumbuhan

Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Penyakit Tumbuhan


Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. Bambang Hadi Sutrisno D. A. A.



Rusmi Sri Wiyati
09/281411/PN/11574
Asisten : 1. Asista Fatma
2. Bahru Rohmah
3. Putri Rahayu
4. Rahman Alboneh

1URUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GAD1AH MADA
YOGYAKARTA
2011






Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Penyakit Tumbuhan

Penyakit merupakan hasil interaksi patogen dengan tanaman yang keberadaannya
juga dipengaruhi oleh Iaktor lingkungan. Dalam teori segitiga penyakit, kedudukan
lingkungan sama pentingnya dengan patogen dan tanaman itu sendiri. Artinya secara
teoritis, Iaktor lingkungan memilki pengaruh yang sama besarnya dengan pengaruh patogen
sendiri untuk mengakibatkan terjadinya penyakit pada tanaman.
Salah satu penanda lingkungan yang sedang banyak dibicarakan saat ini adalah
perubahan iklim dan pemanasan global. Dua hal tersebut diakibatkan oleh banyaknya emisi
gas rumah kaca yang mengangganggu sirkulasi panas matahari secara global. Keadaan ini
disinyalir juga bereIek pada perkembangan penyakit secara global pula.
Menurut Wiyono (2009), terdapat 2 penyakit yang mengalami peningkatan
signiIikan sehubungan dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim. Dua penyakit
tersebut adalah penyakit kresek pada padi oleh patogen Xanthomonas ory:ae pv. ory:ae
dan serangan virus Gemini pada tanaman suku terung-terungan (Solanaceae).
Masih menurut Wiyono (2009), hasil diskusi dengan 45 kelompok tani di 25
kabupaten dan kota di Jawa tahun 2007, menunjukkan bahwa hampir di semua daerah
terjadi peningkatan penyakit kresek pada padi selama lima tahun terakhir. Data Direktorat
Perlindungan Tanaman Pangan Departemen Pertanian juga menunjukkan hal serupa.
Tanaman yang diserang, daunnya menjadi kering dan bobot gabah saat panen turun drastis.
Hebatnya lagi, saat ini penyakit serupa juga ditemukan di pegunungan, seperti di sekitar
Bogor, dan Bumijawa, Tegal. Bakteri ini sangat cocok pada suhu tinggi (suhu optimum
30C), dan menyebar lewat percikan air. Sehingga tidak heran suhu dan curah hujan yang
lebih tinggi memacu perkembangannya. Tamrin Khamidi (petani di Margasari, Tegal) dan
Sukamto (petugas penyuluh lapangan dan juga petani di Bumijawa, Tegal) menyatakan
penyakit ini mengganas dua tahun terakhir. Gabah yang dipanen tahun 2007 walaupun
kelihatan banyak, tetapi bobotnya berkurang 50 persen.
Virus gemini pada tanaman cabai dan tomat merupakan contoh lain yang
Ienomenal. Lima tahun lalu virus ini bukan penyakit penting. Tetapi kini menjadi penyakit
paling merusak hampir di semua sentra cabai dan tomat di Pulau Jawa (seperti Bogor,
Cianjur, Brebes, Wonosobo, Magelang, Klaten, Boyolali, Kulonprogo, Blitar, dan
Tulungagung). Data dari Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura Departemen
Pertanian juga menunjukkan peningkatan serangan dalam tiga tahun terakhir. Penyakit ini
menyebabkan daun menguning dan sedikitnya produksi buah. Epidemi penyakit ini salah
satunya ditentukan oleh dinamika populasi serangga vektor, yaitu kutu kebul (emisia
tabaci). Suhu yang tinggi dan kemarau yang panjang mendukung perkembangan kutu
kebul. Hingga saat ini belum ada penelitian mendalam tentang Iaktor penyebab ledakan
penyakit ini di Indonesia (Wiyono, 2009).
Pengaruh perubahan iklim ternyata dapat pula menurunkan serangan penyakit
meskipun di sisi lain ada penyakit yang justru terstimulasi untuk meningkat. Salah satu
penyakit yang serangannya menurun tersebut ialah penyakit hawar daun tomat oleh
Phytophthora infestans. Sebelumnya penyakit ini merupakan penyakit tomat paling
merusak di dataran tinggi. Penyakit hawar daun tomat lebih berkembang pada kondisi
sejuk, yaitu suhu 1822C, dan lembab. Selain itu, penyakit embun bulu pada bawang
merah dan bawang daun yang disebabkan cendawan Peronospora destructor merupakan
penyakit paling merusak di dataran tinggi pada 1997. Namun, tahun 2007 dan 2008 justru
sangat rendah serangannya. Ini karena suhu rata-rata bumi yang meningkat sehingga
kondisi dataran tinggi pun menjadi lebih hangat(Wiyono, 2009).
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perubahan iklim yang terjadi
di Indonesia cukup berdampak pada perkembangan penyakit, baik menstimulir tingkat
serangan maupun justru menghambat serangan yang berat. Terjadinya peningkatan atau
penurunan serangan penyakit didukung oleh kondisi lingkungan yang berubah. Seperti
dicontohkan pada kasus penyakit kresek yang ditemukan di area pegunungan, maka dapat
disimpulkan bahwa lingkungan pegunungan telah berubah. Perubahan yang terjadi minimal
mendekati keadaan lingkungan pada area yang lebih rendah.
Dalam kajian pengaruh perubahan iklim terhadap penyakit, Iaktor yang sangat
dominan memberi pengaruh adalah Iaktor suhu. Dimana bersamaan dengan perubahan
iklim tersebut terjadi peningkatan suhu global yang menyebabkan kenaikan suhu di
berbagai wilayah. Konsekuensinya yaitu akan terjadi penyebaran patogen yang menyukai
keadaan hangat dan penurunan sebaran patogen yang menyukai keadaan suhu rendah.
Kajian laboratorium sering menunjukkan bahwa patogen penyebab penyakit rentan
pada perubahan suhu yang kecil. Misal pada perbedaan suhu 1-2C sudah dapat
menyebabkan perbedaan kecepatan pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Sementara itu
pada kasus perubahan iklim dan pemanasan global terjadi perubahan suhu yang drastis dan
signiIikan. Hal ini tentunya berdampak lebih besar pada mikroorganisme penyebab
penyakit tersebut. Keadaan ini dapat memungkinkan patogen untuk mengalami perubahan
pula misalnya menghasilkan strain-strain baru yang memiliki siIat yang sama sekali
berbeda.
Sebaran peningkatan suhu juga merangsang penyebaran patogen menjadi lebih luas
antar negara. Seperti pada kasus Huanglongbing yang disinyalir berasal dari daratan China
tropis, saat ini telah merambah wilayah subtropik yang secara teoritis memiliki sebaran
suhu yang lebih rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa suhu di area subtropik tersebut
juga telah mengalami peningkatan. Hal yang merisaukan lainnya misalnya jika iklim benar-
benar mengalami perubahan, maka boleh jadi musim di area subtropikpun berubah. Musim
dingin yang selama ini membantu dalam meredam perkembangan patogen dikhawatirkan
akan berangsur memendek, seperti halnya ketidakjelasan batas musim di Indonesia.

Pustaka
Wiyono, S. 2009. Perubahan Iklim, Pemicu Ledakan Hama dan Penyakit Tanaman. Salam
26 Januari 2009 hal. 22-23.