Anda di halaman 1dari 5

TUGAS PESTISIDA DAN TEKNIK APLIKASI

Mekanisme Membunuh Nematode Entomophatogenik Pada


Serangga Hama












Oleh :

Pratiwi Noviayanti H0708137
Puspita Wahyuningsih H0708138




AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011

MEKANISME MEMBUNUH NEMATODE ENTOMOPHATOGENIK
PADA SERANGGA HAMA
Senyawa kimia sintetik sampai saat ini selalu diandalkan untuk
mengendalikan serangga hama tumbuhan di Indonesia. Pengaruh penggunaan
insektisida sintetik yang tidak berjadwal serta kurang tepat akan banyak
menimbulkan dampak negatiI yang sangat merugikan, antara lain: ketahanan
serangga hama (resistensi), peledakan serangga hama sekunder (resurjensi),
matinya musuh alami, mencemari air minum, merusak lingkungan dan
membahayakan manusia. Dengan semakin meningkatnya kesadaran manusia akan
kualitas lingkungan hidup yang tinggi, maka pengendalian serangga hama yang
bertumpu pada penggunaan pestisida harus ditekan sekecil-kecilnya atau tidak
sama sekali, karena akan menimbulkan masalah-masalah yang negatiI, seperti
yang telah diuraikan diatas. Pengendalian hayati di dalam konsep dasar
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) memegang peranan yang sangat penting.
AlternatiI pengendalian hama yang aman bagi lingkungan dan dapat
menekan residu kimia pada produk pertanian adalah dengan memanIaatkan agens
hayati seperti nematoda entomopatogen. Nematoda entomopatogen merupakan
parasit yang potensial bagi serangga-serangga yang hidup di dalam tanah atau di
atas permukaan tanah. Nematoda entomopatogen sangat berpotensi sebagai agens
hayati karena bergerak secara aktiI mencari inang dan persisten. Patogen
serangga dari golongan nematoda ada dua genus yang telah dikenal yaitu
Steinernema dan Heterorhabditis.
Kedua genus tersebut memiliki beberapa keunggulan sebagai agensia
pengendalian biologi serangga hama dibandingkan dengan musuh alami lain,
yaitu daya bunuhnya sangat cepat, kisaran inangnya luas, aktiI mencari inang
sehingga eIektiI untuk mengendalikan serangga dalam jaringan, tidak
menimbulkan resistensi, dan mudah diperbanyak. Nematoda Steinernema spp.
memiliki kisaran inang yang cukup luas, tetapi aman bagi vertebrata dan jasad
bukan sasaran lainnya, dapat diproduksi secara masal baik dalam media in vitro
maupun in vivo dengan biaya yang relatiI murah, dapat diaplikasikan dengan
mudah, serta kompatibel dengan agens pengendali hayati lain. Pada kondisi
laboratorium yang optimal Steinernema spp. dapat menginIeksi 200 spesies
serangga dari ordo Coleoptera, Lepidoptera, Hymenoptera, Diptera, Orthoptera
dan Isoptera.
Mekanisme Patogenisitas
ekanisme patogenisitas nematoda entomopatogen terjadi melalui
simbiosis dengan bakteri patogen enorhabdus untuk Steinernema dan
Photorhabdus untuk Heterorhabditis. enorhabdus terdiri dari lima spesies, yaitu
. nemathophilus, . bovienii, . poinarii, . beddingii, dan . faponica dan
Photorhabdus hanya memilki satu spesies, yaitu P. luminescens. InIeksi dilakukan
oleh stadium larva instar III atau juvenil inIektiI (JI) terjadi melalui mulut, anus,
spirakel atau penetrasi langsung membran intersegmental integumen yang lunak.
Setelah mencapai haemocoel serangga, bakteri simbion yang dibawa akan
dilepaskan kedalam haemolim untuk berkembangbiak dan memproduksi toksin
yang mematikan. Dua Iaktor ini yang menyebabkan nematoda entomopatogen
mempunyai daya bunuh yang sangat cepat. Serangga yang terinIeksi dapat mati
dalam waktu 24-72 jam setelah inIeksi. Senyawa antimikroba ini mampu
menghasilkan lingkungan yang sesuai untuk reproduksi nematoda dan bakteri
simbionnya sehingga mampu menurunkan dan mengeliminasi populasi
mikroorganisme lain yang berkompetisi mendapatkan sumber makanan di dalam
serangga mati. Keadaan demikian memungkinkan nematoda entomopatogen
menyelesaikan siklus perkembangannya dan meminimalkan terjadinya
pembusukan serangga inangnya. Faktor penentu patogenisitas nematoda
entomopatogen terletak pada bakteri mutualistiknya yaitu dengan diproduksinya
toksin intraseluler dan ekstraseluler yang dihasilkan bakteri dalam waktu 24-48
jam.
Patogenesitas enorhabdus spp. bergantung pada kemampuan masuknya
nematoda ke haemocoel serangga inang, juga kemampuan dari bakteri itu sendiri
untuk memperbanyak diri di haemolympa serta kemampuannya untuk melawan
mekanisme pertahanan serangga inang. Serangga mempunyai ketahanan internal
yang berupa senyawa kimia anti bakteri. Senyawa ini menyebabkan terjadinya
pengkapsulan nematoda di dalam haemocoel, apabila nematoda tidak berhasil
melawan ketahanan serangga inang. Apabila nematoda berhasil menghancurkan
senyawa anti bakteri yang diproduksi oleh serangga, maka nematoda akan berhasil
mencapai haemocoel, dapat berkembang menjadi dewasa dan bereproduksi di
dalam haemocoel. Senyawa anti bakteri akan dihancurkan oleh enzim
ekstraseluler yang dilepaskan oleh nematoda bersamaan dengan saat nematoda
melakukan penetrasi ke dalam haemocoel serangga.
Hubungan simbiosis antara nematoda Steinernema carpocapsae dengan
bakteri enorhabdus nematophilus menunjukkan dua peranan bakteri yaitu
sebagai bakteri simbion di dalam tubuh nematoda entomopatogen dan sebagai
patogen bagi serangga inang. Beberapa keuntungan dari simbiosis tersebut adalah
bakteri dapat mematikan serangga inang dengan cepat, menyediakan nutrisi yang
cocok, dan membuat lingkungan yang cocok bagi perkembangan dan reproduksi
nematoda. Bakteri simbion mampu memproduksi senyawa antimikroba seperti
antibiotik, bakteriosin, dan Iages yang dapat menghambat perkembangan
mikroorganisme sekunder yang ada di dalam tubuh serangga inang. Selama
perbanyakan nematoda, cadangan makanan di dalam bangkai serangga menurun
sampai terbentuk dauer fuvenil, kemudian bakteri disimpan kembali oleh dauer
fuvenil.
Gejala dan tanda serangga yang terinIeksi nematoda dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu eIek internal, eksternal dan perilaku. Gejala umum yang terjadi
adalah serangga akan berhenti bergerak dan makan, lalu terjadi perubahan warna.
Kematian serangga akan terjadi secara septisemia dalam waktu beberapa jam
sampai tiga hari tergantung temperatur dan spesies nematoda.
Contoh: Nematoda Steinernematidae mampu mengendalikan Galleria
mellonella, Spodoptera exigua dan Agrotis ipsilon dengan tingkat kematian inang
100 dan menekan populasi Ostrinia nubilalis sebesar 72-100. Kepadatan
populasi 250 JI/ml, S. carpocapsae dapat menyebabkan mortalitas C. borealis
sebesar 48. S. anomali pada kepadatan 200400 JI/ml dapat menyebabkan
mortalitas Anomala dubia sebesar 2460. Steinernema spp. pada kepadatan
populasi 800 JI/ml dengan media tanah pasir dalam cawan petri dapat
menyebabkan mortalitas larva Spodoptera litura instar ke-3 sebesar 100. Pada
instar ke-3 larva S. litura masih memiliki kulit tipis dan lunak serta aktiI bergerak
mencari makan. Hal ini sangat mendukung terhadap proses penetrasi nematode
Steinernema spp. ke dalam tubuh larva. nematoda Steinernema spp. Dalam
menyerang inang bersiIat pasiI, diam dan menunggu inang sampai berada di
dekatnya.





































DAFTAR PUSTAKA
Sulistyanto, D. 2009. Agensia Hayati Nematoda Entomopatogen sebagai
Pengendali Serangga Hama dalam Bidang Pertanian.
http.//rapidshare.com/files/193183277/DIKTATKULIAHPASCAUNE
J2008.doc.html. Diakses tanggal 29 September 2011.
Nasahi, C. 2010. Peran ikroba dalam Pertanian Organik.
http.//libang.bantenprov.go.id/. Diakses tanggal 29 September 2011.
Uhan. 2005. BioeIikasi Nematoda Entomopatogen Steinernema spp. Isolat
Lembang terhadap Larva Crocidolomia pavonana (F) Pada Tanaman
Kubis di Rumahkaca. J. Hort. 15(2):109-115.
Nugrohorini 2007. Uji Toksisitas Nematoda Steinernema sp. (Isolat Tulungagung)
pada Hama Tanaman Sawi (Brassica funcea) di Laboratorium. J. Pertanian
Mapeta. 10(1): 1-6.
Widianingsih, W., N. Asiyah dan I. R. Ridhayat. 2009. Nematoda Entomopatogen
Sebagai Komponen Manafemen Dalam Pertanian Organik. PK-GT.
IPB. Bogor.