Anda di halaman 1dari 18

PBL Skenario 1

Gwendry R
1102010115
Dehidrasi
1. Memahami larutan dan cairan
Larutan
Larutan adalah campuran homogen (komposisinya sama), serba sama (ukuran partikelnya),
tidak ada bidang batas antara zat pelarut dengan zat terlarut (tidak dapat dibedakan secara
langsung antara zat pelarut dengan zat terlarut), partikel- partikel penyusunnya berukuran
sama (baik ion, atom, maupun molekul) dari dua zat atau lebih. Dalam larutan Iase cair,
pelarutnya (solvent) adalah cairan, dan zat yang terlarut di dalamnya disebut zat terlarut
(solute), bisa berwujud padat, cair, atau gas. Dengan demikian, larutan pelarut (solvent)
zat terlarut (solute). Khusus untuk larutan cair, maka pelarutnya adalah volume terbesar.
Larutan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
O Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute (zat terlarut) kurang dari yang
diperlukan untuk membuat larutan jenuh. Atau dengan kata lain, larutan yang partikel-
partikelnya tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi (masih bisa melarutkan zat).
Larutan tak jenuh terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion Ksp berarti larutan
belum jenuh ( masih dapat larut).

O Larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang larut dan
mengadakan kesetimbangn dengan solut padatnya. Atau dengan kata lain, larutan yang
partikel- partikelnya tepat habis bereaksi dengan pereaksi (zat dengan konsentrasi
maksimal). Larutan jenuh terjadi apabila bila hasil konsentrasi ion Ksp berarti larutan
tepat jenuh.

O Larutan sangat jenuh (kelewat jenuh) yaitu suatu larutan yang mengandung lebih banyak
solute daripada yang diperlukan untuk larutan jenuh. Atau dengan kata lain, larutan yang
tidak dapat lagi melarutkan zat terlarut sehingga terjadi endapan. Larutan sangat jenuh
terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion ~ Ksp berarti larutan lewat jenuh
(mengendap).
Berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut, larutan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
O Larutan pekat yaitu larutan yang mengandung relatiI lebih banyak solute dibanding
solvent.
O Larutan encer yaitu larutan yang relatiI lebih sedikit solute dibanding solvent.

Cairan
%ubuh manusia sebagian besar terbentuk dari cairan dengan prosentase hampir 75 dari total
berat badan. Cairan ini terdistribusi sedemikian rupa sehingga mengisi hampir di setiap
rongga yang ada pada tubuh manusia. Cairan (Air) adalah senyawa esensial untuk semua
makhluk hidup dan mempunyai karakteristik Iisiologik:
O edia utama pada reaksi intrasel.
O Diperlukan oleh sel untuk mempertahankan kehidupan. Hampir semua reaksi biokimia
terjadi dalam media air, sehingga air merupakan pelarut untuk kehidupan.
O edia transpor pada sistem sirkulasi, ruang disekitar sel (intravaskular, interstisium) dan
intrasel.
O empunyai panas jenis, panas penguapan, dan daya hantar panas tinggi sehingga
berperan penting dalam pengaturan suhu tubuh.

Komposisi tubuh manusia dewasa :
O zat padat : 40 BB
O zat cair : 60 BB (zat cair bayi : 75 BB)




Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu:

O Cairan intraseluler (40 BB)
cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh.
O Cairan ekstraseluler (20 BB)
cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu:

4 Cairan intravaskuler (5 BB)


cairan di dalam sistem vaskuler. Plasma darah pada dasarnya adalah larutan air
yang mengandung albumin, Iibrinogen, immunoglobin, hormon, berbegai jenis
garam dan protein.
volume sel darah merah 3 BB
volume darah 8 BB
4 Cairan interstitial (15 BB)
cairan yang terletak diantara sel
4 Cairan transeluler (1-2 BB)
cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi
saluran cerna.




Keseimbangan Gibbs-Donnan
Keseimbangan cairan intrasel dan ekstrasel yang timbul akibat peran membran sel. Protein
suatu molekul besar bermuatan negatiI dan partikel aktiI yang berperan mempertahankan
tekanan osmotik. Protein ini tidak berpindah, sehingga mempengaruhi ion mempertahankan
netralitas elektron (muatan positiI dan negatiI) sebanding dengan keseimbangan tekanan
osmotik dikedua sisi membran. Pergerakan muatan pada ion menyebabkan perbedaan
konsentrasi ion dan mempengaruhi pergerakan cairan melalui membran kedalam dan keluar
sel.




2. Memahami keseimbangan cairan tubuh


Konsep dasar pengaturan cairan dan elektrolit:
1. ekanisme homeostasis yang memantau dan mengatur komposisi cairan tubuh peka
terhadap perubahan dalam cairan ekstraseluler.
2. %idak ada reseptor secara langsung memantau keseimbangan cairan, reseptor dapat
memantau volume dan konsentrasi osmotik plasma.
3. Perbedaan tekanan osmotik dapat disebabkan oleh transpor aktiI garam dan diikuti
transpor pasiI air.
4. Air dan elektrolit dalam tubuh meningkat bila yg masuk lebih banyak daripada yang
keluar.

Homeostasis Elektrolit
empengaruhi keseimbangan cairan dan Iungsi sel. Natrium dan kalium merupakan kation
penting yang mempengaruhi tekanan osmotik cairan ekstraseluler dan intraselular yang
langsung berhubungan dengan Iungsi selular.

Homeostasis Natrium
erupakan kation dominan pada ECF. Lebih dari 90 tekanan osmotik di cairan ekstrasel
ditentukan oleh garam natrium, khususnya NaCl dan NaHCO
3
sehingga perubahan tekanan
osmotik pada ECF menggambarkan perubahan konsentrasi natrium. Kadar natrium dalam
keadaan normal 136-142 mEq/L.

Pengaturan keseimbangan air dalam tubuh dipengaruhi oleh dua sistem regulasi, yaitu:
O Regulasi osmotik
AktiIitasnya dipicu oleh tinggi rendahnya osmolalitas plasma. Sensor regulasi osmotik
terletak di hipotalamus (Supra Optic Neuron/SON, Nukleus Paraventrikuler dan Organum
Vasculosum Laminae %erminalis/OVL%) serta pusat rasa haus di hipotalamus. Hasil
akhirnya terjadi atau tidaknya reabsorpsi air di duktus koligentes.

O Regulasi volume
AktiIitasnya dipengaruhi oleh volume arteri eIektiI atau tekanan arteri. Sensor regulasi
volume terletak di otot atrium dan ventrikel, sinus karotis dan arteri aIeren glomerulus.
Hasil akhirnya terjadi atau tidaknya ekskresi atau retensi natrium di duktus koligentes.



Homeostasis Kalium
Kalium berIungsi dalam sintesis protein, kontraksi otot, konduksi saraI, pengeluaran hormon,
transpor cairan, perkembangan janin. Kalium kation dalam jumlah sangat besar dalam tubuh
sekitar 98 berada di ICF. Dalam keadaan normal kadar kalium 3,5 5 mEq/L. Untuk
menjaga kestabilan kalium diperlukan keseimbangan elektrokemikal yaitu keseimbangan
antara kemampuan muatan negatiI dalam sel untuk mengikat kalium dan kekuatan kimiawi
yang mendorong kalium keluar sel. Pengeluaran kalium diatur oleh aktiIitas mekanisme
pompa ion sepanjang bagian distal neIron dan collecting tube, saat berlangsung reabsorpsi
natrium ditubulus ginjal terjadi pertukaran dengan kalium yang berada di jaringan
peritubular. Kecepatan sekresi tergantung pada beberapa Iaktor, antara lain:
O Perubahan konsentrasi kalium di ECF
O Perubahan pH
enurunnya pH ECF akan diikuti penurunan pH jaringan peritubular, sekresi ion
hidrogen meningkat karena bertukar dengan natrium. Akibatnya sekresi kalium
berkurang.
O Aldosteron
Respon yang timbul berupa peningkatan reabsorpsi natrium dari cairan Iiltrat glomerulus,
menyebabkan konsentrasi kalium meningkat dan untuk menormalkan kembali dibutuhkan
peran pompa Na

, K

, A%P-ase yang diaktiIkan oleh aldosteron yang disekresikan oleh


korteks adrenal yang diaktiIkan oleh angiotensin II.

Pengaturan ginjal
Pada ginjal normal, mekanisme homeostasis cairan tubuh terjadi melalui empat mekanisme
yaitu :
O Filtrasi plasma di glomerulus
O Reabsorpsi selektiI oleh tubulus ginjal untuk material yang diperlukan dalam
mempertahankan homeostasis, terutama millieu interior.
O Sekresi substansi tertentu oleh tubulus yang berasal dari darah ke lumen tubulus agar
diekskresikan bersama urin
O Sekresi ion H

dan produksi amonia yang berIungsi untuk mempertahankan pH darah.


ginjal memerlukan energi untuk proses reabsorpsi dan sekresi dan keperluan oksigen untuk
menghasilkan energi ini meliputi 10 dari konsumsi oksigen basal.
Hormon yg mengendalikan keseimbangan cairan dan elektrolit:
O Anti Diuretik Hormon (ADH) atau Arginin Vasopresin (AVP)
Jika terjadi perubahan 2 tekanan osmolaritas menyebabkan osmoreseptor/hipotalamus
melalui hipoIisis posterior mensekresikan ADH bekerja untuk merangsang pusat haus dan
mengurangi reabsorpsi air di tubulus distal dan duktus koligentes neIron ginjal.

O Aldosteron
Pada keadaan konsentrasi ion kalium dalam plasma menurun atau ion natrium dalam
plasma meningkat, menyebabkan cortext adrenal akan mensekresikan hormon aldosteron
yang berperan dalam pada sel tubulus distal untuk menurunkan permeabilitas membran
sel agar menyerap kembali natrium. Sekresi aldosteron diaktiIkan oleh angiotensin II
yang dihasilkan di ginjal oleh sistem renin angiotensin. Bila terjadi penurunan volume
ECF, volume dan tekanan darah berkurang. Hal ini menyebabkan rangsangan pada sistem
renin angiotensin timbul respon berupa pengurangan produksi urine dan rangsangan haus.

O Atrial Natriuretic Peptide (ANP)
Saat terjadi peningkatan volume plasma/tekanan darah akan diikuti oleh peningkatan
venous return yang akan meregang dinding atrium, oleh karena itu reseptor pada dinding
atrium kanan merangsang pelepasan ANP yang menimbulkan blokade sekresi aldosteron
dan diikuti peningkatan sekresi natrium dan air melalui urin. Peningkatan tekanan darah
dideteksi oleh barosereptor disinus karotis dan arkus aorta yang mengirim impulsnya ke
pusat kardioinhibitor dan menimbulkan penurunan tekanan darah. Hormon ini bekerja
sebagai diuresis dan natriuresis.

3. Memahami gangguan keseimbangan cairan tubuh



Kelebihan dan kehilangan cairan, pada keadaan normal konsentrasi Na (130 mEq/l) jika
terjadi hiponatremia akan menyebabkan tubuh overhidrasi dan sebalikanya jika terjadi
hypernatremia akan menyebabkan dehidrasi.

Gangguan volume
O Hipovolemia
Suatu keadaan dengan volume cairan tubuh berkurang menyebabkan hipoperIusi jaringan.
Hipovolemia dapat terjadi pada dua keadaan yaitu:
4 Deplesi volume
Keadaan dimana ECF berkurang, kekurangan air dan natrium terjadi dalam
jumlah yang sebanding, misalnya melalui
saluran cerna seperti muntah dan diare
pendarahan
melalui pipa naso-gastrik
ginjal (penggunaan diuretik, diuresis osmotik, salt wasting nephropathy,
hipoaldosteronisme)
kulit
saluran naIas (insensible water losses, keringat, luka bakar)
sekuestrasi cairan (obstruksi usus, trauma, Iraktur, pankreatitis akut)

4 Dehidrasi
Keadaan dimana volume air berkurang tanpa disertai berkurangnya elektrolit
(natrium) atau berkurangnya air jauh melebihi berkurangnya natrium di ECF,
mengakibatkan peningkatkan natrium dalam ECF sehingga ICF masuk ke ECF
(volume ICF berkurang). 40 cairan hilang dari ECF dan 60 dari ICF.
Dehidrasi dapat terjadi akibat keluarnya air melalui keringat, penguapan kulit,
saluran cerna, diabetes insipidus sentral atau neIrogenik (mengeluarkan urine
melebihi 3 L per hari), diuresis osmotik, kejang hebat, melakukan latihan berat,
dan pemberian cairan natrium hipertonik berlebihan.

Secara klinis perbedaan hal diatas terletak pada kadar natrium dalam plasma, pada
keadaan deplesi volume kadar natrium plasma normal sedangkan pada keadaan dehidrasi
terjadi hipernatremia. Hipovolemia ringan ditandai dengan gejala rasa haus dan lemas,
bila hipovolemia semakin berat ditandai dengan tekanan darah menurun bahkan
menyebabkan syok.

O Euvolemia (Normovolemia)
Kondisi ini menjelaskan kadar natrium yang normal disertai peningkatan jumlah air
tubuh. Kondisi ini dijumpai pada:
O Sekresi ADH menurun
Osmolalitas normal (pada pemberian inIus larutan iso-osmotik yang tidak
mengandung natrium)
O Sekresi ADH meningkat
a) Osmolalitas rendah pada SIADH
b) Osmolalitas rendah pada hiperglikemia dan pemberian mannitol

O Hipervolemia
Suatu keadaan dimana terjadi peningkatan volume cairan ekstrasel khususnya
intrvaskular (volume overload) melebihi kemampuan tubuh mengeluarkan air melalui
ginjal, saluran cerna dan kulit.
O Edema
Keadaan dengan akumulasi cairan di jaringan interstisium secara berlebihan
akibat penambahan volume yang melebihi kapasitas penyerapan pembuluh limIe.

Dehidrasi
Dehidrasi adalah berkurangnya cairan tubuh total, diklasiIikasikan sebagai berikut :
O Hipertonik
Hilangnya air lebih banyak dari natrium, ditandai dengan tingginya kadar natrium
serum (lebih dari 145 mmol/liter) dan peningkatan osmolalitas eIektiI serum (lebih
dari 285 mosmol/liter).
O Isotonik
Hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama, ditandai dengan normalnya kadar
natrium serum (135-145 mmol/liter) dan osmolalitas eIektiI serum (270-285
mosmol/liter).
O Hipotonik
Hilangnya natrium lebih banyak daripada air, ditandai dengan rendahnya kadar
natrium serum (kurang dari 135 mmol/liter) dan osmolalitas eIektiI serum (kurang
dari 270 mosmol/liter.
Klasifikasi Dehidrasi
Berdasarkan klasiIikasi dehidrasi WHO, maka dehidrasi dibagi tiga menjadi dehidrasi ringan,
sedang, atau berat.
1. Dehidrasi Ringan
%idak ada keluhan atau gejala yang mencolok. %andanya anak terlihat agak lesu, haus, dan
agak rewel.
2. Dehidrasi Sedang
%andanya ditemukan 2 gejala atau lebih gejala berikut:
O Gelisah, cengeng
O Kehausan
O ata cekung
O Kulit keriput, misalnya kita cubit kulit dinding perut, kulit tidak segera kembali ke
posisi semula.
3. Dehidrasi berat
%andanya ditemukan 2 atau lebih gejala berikut:
O Berak cair terus-menerus
O untah terus-menerus
O Kesadaran menurun, lemas luar biasa dan terus mengantuk
O %idak bisa minum, tidak mau makan
O ata cekung, bibir kering dan biru
O Cubitan kulit baru kembali setelah lebih dari 2 detik
O %idak kencing 6 jam atau lebih/Irekuensi buang air kecil berkurang/kurang dari 6
popok/hari.
O Kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi

4. Memahami gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh (Natrium, Kalium)





Gangguan Status Natrium
O Hiponatremia
Kelebihan cairan relatiI yang terjadi bila :
1. Jumlah asupan cairan melebihi ekskresi
2. Ketidakmampuan menekan sekresi ADH misalnya kehilangan cairan melalui saluran
cerna, gagal jantung, sirosis hati, pada SIADH (Syndrome oI Inappropriate ADH-
secretion).
Berdasarkan prinsip diatas maka etiologi hiponatremia dapat dibagi atas :
O Hiponatremia ADH meningkat
Akibat deplesi volume sirkulasi eIektiI seperti muntah, diare, pendarahan, jumlah urin
meningkat, gagal jantung, sirosis hati, SIADH, insuIisiensi adrenal dan hipotiroid
O Hiponatremia ADH tertekan Iisiologik
Pada polidipsia primer dan gagal ginjal terjadi ekskresi cairan lebih rendah dibanding
asupan cairan sehingga menimbulkan respon Iisiologik yang menekan sekresi ADH
dari hipotalamus sehingga ekskresi urin meningkat karena saluran air dibagian apikal
duktus koligentes berkurang (osmolalitas urin rendah)


O Hiponatremia osmolalitas plasma normal atau tinggi


Pada pemberian cairan iso-osmotik yang tidak mengandung natrium ke dalam cairan
ekstrasel (hiponatremia osmolalitas plasma normal). %ingginya osmolalitas plasma
pada keadaan hiperglikemia atau pemberian mannitol intravena menyebabkan ICF
berdiIusi ke ECF.
Hiponatremia terbagi menjadi dua yaitu :
O Akut
Kejadian hiponatremia berlangsung cepat kurang dari 48 jam, terjadi gejala berat
seperti penurunan kesadaran dan kejang. Hal ini akibat edema sel otak, air ekstrasel
masuk ke intrasel yang osmolalitasnya lebih tinggi. Disebut juga hiponatremia
simptomatik atau berat
O Kronik
Kejadian hiponatremia berlangsung lambat lebih dari 48 jam, gejala yang timbul
hanya ringan seperti lemas atau mengantuk. Pada keadaan ini tidak ada urgensi
melakukan koreksi konsentrasi natrium, terapi dilakukan dengan pemberian larutan
garam isotonik, disebut juga hiponatremia asimptomatik.

Isonatremia
Suatu keadaan patoIisiologis yang tidak menyebabkan gangguan pada kadar natrium didalam
plasma. Keadaan ini dijumpai pada :
1. %urunnya kadar Na

tubuh total diikuti oleh berkurangnya air tubuh total dalam jumlah
seimbang. %erjadi karena pemberian diuretik jangka panjang (kronik) atau pada beberapa
kondisi seperti muntah, diare, pendarahan, dan third space sequestration.
2. Kondisi normal
3. Peningkatan Na

tubuh total diimbangi oleh peningkatan air tubuh total, terjadi pada
pemberian natrium isotonik berlebihan (hipervolemia).

Hipernatremia
Keadaan dengan deIisit cairan relatiI. Jarang terjadi, umunya disebabkan resusitasi cairan
menggunakan larutan NaCl 0.9 (kadar natrium 154 mEq/L) dalam jumlah besar, dapat
dijumpai pada kasus dehidrasi besa dengan gangguan rasa haus (misal pada kondisi
kesadaran terganggu atau retradasi mental). Hipernatremia terjadi akibat :
1. DeIisit cairan tubuh akibat ekskresi air melebihi ekskresi natrium atau asupan air kurang.
isalnya pada keringat, osmotik diare akibat pemberian laktulosa atau sorbitol, diabetes

insipidus sentral/neIrogenik, diuresis osmotik akibat glukosa atau mannitol, gangguan


pusat rasa haus akibat tumor atau gangguan vaskular.
2. Penambahan natrium melebihi jumlah cairan tubuh, misalnya koreksi bikarbonat
berlebihan pada asidosis metabolik.
3. asuknya air tanpa elektrolit kedalam sel. isalnya pada olahraga berat, asam laktat
dalam sel meningkat sehingga osmolalitas sel meningkat dan air dari ekstrasel masuk ke
intrasel. Biasanya kadar natrium akan kembali normal dalam 5-15 menit setelah istirahat.


Gangguan keseimbangan kalium
Kadar normal kalium dalam plasma berkisar 3.5 5 mEq/L, bila terjadi keadaan
hiperkalemia dan hipokalemia akan berakibat Iatal listrik jantung yang menyebabkan
gangguan berupa penurunan potensial trans-membran sel.
Hipokalemia
Kadar kalium dalam plasma kurang dari 3.5 mEq/L
Penyebab hipokalemia:
1. Asupan kalium kurang
2. Pengeluaran kalium berlebihan
3. Kalium masuk kedalam sel



Hiperkalemia
Kadar kalium dalam plasma lebih dari 5 mEq/L, dalam keadaan normal jarang terjadi
hiperkalemia karena adanya adaptasi tubuh.
Penyebab hiperkalemia:
1. Keluarnya kalium dari intrasel ke ekstrasel
2. Berkurangnya ekskresi kalium melalui ginjal


5. Memahami etika minum dalam Islam

Berupaya untuk mencari makanan yang halal. Alloh Shallallaahu alaihi wa Sallam berIirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara ri:ki yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu". (Al-Baqarah: 172).
Hendaklah makan dan minum yang kamu lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada
Allah, agar kamu mendapat pahala dari makan dan minummu itu.
Hendaklah kamu puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-
kali mencelanya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menuturkan:
"Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan.
Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan". (uttaIaq'alaih).
Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur. Rasululloh
Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; "Aku tidak makan sedangkan aku menyandar". (HR.
al-Bukhari). Dan di dalam haditsnya, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: "Rasululloh
Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang dua tempat makan, yaitu duduk di mefa tempat
minum khamar dan makan sambil menyungkur". (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-
Albani).
%idak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak. Di dalam
hadits HudzaiIah dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah
bersabda: ". dan fanganlah kamu minum dengan menggunakan befana terbuat dari emas
dan perak, dan fangan pula kamu makan dengan piring yang terbuat darinya, karena
keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak".
(uttaIaq'alaih).
Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan
Alhamdulillah. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila seorang
diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Alloh Subhanahu wa Taala dan fika lupa
menyebut nama Alloh Subhanahu wa Taala pada awalnya maka hendaknya mengatakan .
Bismillahi awwalihi wa akhirihi". (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani). Adapun
meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam
bersabda: "Sesungguhnya Alloh sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan
suatu makanan ia memufi-Nya dan apabila minum minuman ia pun memufi-Nya". (HR.
uslim).
Hendaknya makan dengan tangan kanan dan dimulai dari yang ada di depanmu. Rasulllah
Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah: "Wahai anak, sebutlah
nama Alloh dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu."
(uttaIaq'alaih).

Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari
Ka`ab bin alik dari ayahnya, ia menuturkan: "Adalah Rasululloh Shallallaahu alaihi wa
Sallam makan dengan tiga fari dan ia menfilatinya sebelum mengelapnya". (HR. uslim).
Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor darinya
lalu memakannya. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila suapan
makan seorang kamu fatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor,
lalu makanlah ia dan fangan membiarkannya untuk syetan". (HR. uslim).
%idak meniup makan yang masih panas atau bernaIas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas
menuturkan "Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang bernafas pada
befana minuman atau meniupnya". (HR. At-%urmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).
%idak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasululloh Shallallaahu alaihi wa
Sallam bersabda: "Tiada tempat yang yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang
daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap safa untuk menegakkan tulang
punggungnya, fikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-
mannya dan sepertiga lagi untuk bernafas". (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Hendaknya pemilik makanan (tuan rumah) tidak melihat ke muka orang-orang yang sedang
makan, namun seharusnya ia menundukkan pandangan matanya, karena hal tersebut dapat
menyakiti perasaan mereka dan membuat mereka menjadi malu.
Hendaknya kamu tidak memulai makan atau minum sedangkan di dalam majlis ada orang
yang lebih berhak memulai, baik kerena ia lebih tua atau mempunyai kedudukan, karena hal
tersebut bertentangan dengan etika.
Jangan sekali-kali kamu melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa jijik, seperti
mengirapkan tangan di bejana, atau kamu mendekatkan kepalamu kepada tempat makanan di
saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang mengandung makna kotor dan menjijik-
kan.
Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata,
"Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir befana wadah air." (HR. Al
Bukhari)
Disunnatkan minum sambil duduk, kecuali jika udzur, karena di dalam hadits Anas
disebutkan "Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum
sambil berdiri". (HR. uslim).

Dehidrasi terjadi jika cairan yang dikeluarkan oleh tubuh melebihi cairan yang masuk.
Namun karena mekanisme yang terdapat pada tubuh manusia sudah sangat unik dan dinamis
maka tidak setiap kehilangan cairan akan menyebabkan tubuh dehidrasi.
Dalam kondisi normal, kehilangan cairan dapat terjadi saat kita :
O BernaIas
O Kondisi cuaca sekitar
O Berkeringat
O Buang air kecil dan buang air besar.

Sehingga setiap hari kita harus minum cukup air guna mengganti cairan yang hilang saat
aktiIitas normal tersebut. Untungnya, tubuh mempunyai mekanisme unik bila kekurangan
cairan. Rasa haus akan serta merta muncul bila keseimbangan cairan dalam tubuh mulai
terganggu. %ubuh akan menghasilkan hormon ADH guna mengurangi produksi kencing oleh
ginjal. %ujuan akhir dari mekanisme ini adalah mengurangi sebanyak mungkin kehilangan
cairan saat keseimbangan cairan tubuh terganggu.

Apakah yang menyebabkan dehidrasi?
Dehidari terjadi bila kehilangan cairan sangat besar sementara pemasukan cairan sangat
kurang. Beberapa kondisi yang seringa menyebabkan dehidrasi antara lain :
O Diare. Diare merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan kehilangan cairan
dalam jumlah besar. Di seluruh dunia, 4 juta anak anak mati setiap tahun karena
dehidrasi akibat diare.
O Muntah. untah sering menyebabkan dehidrasi karena sangat sulit untuk
menggantikan cairan yang keluar dengan cara minum.
O Berkeringat. %ubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Kondisi lingkungan
yang panas akan menyebabkan tubuh berusaha mengatur suhu tubuh dengan
mengeluarkan keringat. Bila keadaan ini berlangsung lama sementara pemasukan cairan
kurang maka tubuh dapat jatuh ke dalam kondisi dehidrasi.
O Diabetes. Peningkatan kadar gula darah pada penderita diabetes atau kencing manis
akan menyebabkan banyak gula dan air yang dikeluarkan melalui kencing sehingga
penderita diabetes akan mengeluh kebelakang untuk pipis.
O Luka Bakar. Penderita luka bakar dapat mengalami dehidrasi akibat keluarnya cairan
berlebihan pada pada kulit yang rusak oleh luka bakar.
O Kesulitan minum. Orang yang mengalami kesulitan minum oleh karena suatu sebab
rentan untuk jatuh ke kondisi dehidrasi.

Apakah gejala dan tanda dehidrasi?
Respon awal tubuh terhadap dehidrasi antara lain :
1. Rasa haus untuk meningkatkan pemasukan cairan yang diikuti dengan
2. Penurunan produksi kencing untuk mengurangi seminimal mungkin cairan yang keluar.
Air seni akan tampak lebih pekat dan berwarna gelap.

Jika kondisi awal ini tidak tertanggulangi maka tubuh akan masuk ke kondisi selanjutnya
yaitu :
1. ulut kering.
2. Berkurangnya air mata.
3. Berkurangnya keringat.
4. Kekakuan otot.
5. ual dan muntah.
6. Kepala terasa ringan terutama saat berdiri.
Selanjutnya tubuh dapat jatuh ke kondisi dehidrasi berat yang gejalanya berupa gelisah dan
lemah lalu koma dan kegagalan multi organ. Bila ini terjadi maka akan sangat sulit untuk
menyembuhkan dan dapat berakibat Iatal.
agaimana mengobati dehidrasi?
Prinsip utama pengobatan dehidrasi adalah penggantian cairan. Penggantian cairan ini dapat
berupa banyak minum, bila minum gagal maka dilakukan pemasukan cairan melalui inIus.
%api yang utama disini adalah penggantian cairan sedapat mungkin dari minuman. Keputusan
menggunakan cairan inIus sangat terggantung dari kondisi pasien berdasarkan pemeriksaan
dokter. Keberhasilan penanganan dehidrasi dapat dilihat dari produksi kencing. Penggunaan
obat obatan diperlukan untuk mengobati penyakit penyakit yang merupakan penyebab dari
dehidrasi seperti diare, muntah dan lain lain.

Dapatkah saya mengatasi dehidrasi di rumah?
Dehidrasi dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Dehidrasi sangat mudah dikenali saat
awal kejadian sehingga makin cepat dilakukan koreksi maka akan semakin baik hasil yang
didapatkan. Koreksi yang paling cepat tentu dapat dilakukan di rumah.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan di rumah untuk mencegah terjadinya dehidrasi antara
lain :
O Penderita diare dan muntah muntah dapat diberikan pengobatan awal untuk mencegah
kehilangan cairan yang lebih lanjut. Obat obatan ini terutama untuk mengurangi gejala
yang terjadi.
O Obat penurun panas, dapat diberikan untuk menurunkan suhu tubuh.
O Penderita diberikan minum sebanyak mungkin dengan cara bertahap namun
Irekuensinya ditingkatkan.
Jika dengan tindakan diatas, gejala dehidrasi tidak membaik atau bertambah buruk, segeralah
menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Dapatkan dehidrasi dicegah?
Dehidrasi dapat dicegah dengan melakukan beberapa upaya berikut :
O Lingkungan. Dehidrasi yang disebabkan oleh Iaktor lingkungan sangat mungkin untuk
dilakukan pencegahan. Jika memungkinkan, aturlah jadual kegiatan atau aktiIitas Iisik

yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Jangan melakukan aktiIitas berlebihan pada
siang hari.
O Olahraga. Orang yang berolah raga pada kondisi cuaca yang panas harus minum lebih
banyak cairan.
O Umur. Umur muda dan tua sama beresikonya untuk mengalami dehidrasi.
Dehidrasi bukan kondisi yang tidak dapat dicegah namun bila terjadi dan tertangani dengan
baik maka kondisi yang tidak diinginkan bisa dihindari.

Daftar Pustaka

Bagian Fisiologi UNSOED. (2010). Keseimbangan Cairan. UNSOED. Jakarta

Blog Doctor. (2009). Dehidrasi.
http://www.blogdokter.net/2009/06/20/dehidrasi/

FKUI. (2008). Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam-Basa. FKUI. Jakarta

Islamic Center. (2010). Etika Makan dan Minum.
http://www.dzikir.org/index.php?optioncomcontent&viewarticle&id58:etika-makan-
minum&catid40:etika-dalam-islam&Itemid63

Juliantara, Ketut. (2009). Kimia Larutan.
http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/18/kimia-larutan-kimia-dasar/

edicastore. (2009). Diagnosa Diare dan Klasifikasi Dehidrasi.
http://medicastore.com/diare/diagnosadiare.htm

Ngiten.(2010). Tanda Tubuh Dehidrasi atau Kekurangan Cairan.
http://www.ngiten.co.cc/tanda-tubuh-dehidrasi-atau-kekurangan-cairan.html